Ca Colon 
Pricilia Donna Esperansa Sea 
2012-060-106
Pendahuluan 
• Ca Colon adalah salah satu keganasan yang paling sering 
menyerang sistem gastrointesitanal 
• Penyakit multifaktorial yang melibatkan faktor genetik, 
lingkungan (termasuk diet) dan proses inflamasi dari saluran 
pencernaan. 
www.webpathology.com
Penderita kanker kolon biasanya memiliki gejala: 
• Anemia 
• Pendarahan rektum 
• Sakit perut 
• Perubahan pola BAB 
• Obstruksi Intestinal bahkan perforasi
Pada pemeriksaaan fisik dapat dijumpai: 
• Awal penyakit: tidak khas (fatigue, kehilangan berat badan) 
atau asimptomatik 
• Pada kasus lebih parahditemukan : Abdominal tenderness, 
macroscopic rectal bleeding, palpable abdominal mass, 
hepatomegaly, ascites
Patogenesis 
• Ca Colon merupakan penyakit yang cukup kompleks. Biasanya Ca 
Colon sering dihubungkan dengan lesi pramalignan (adenoma ) yang 
menjadi keganasan carcinoma. Gabungan dari faktor molekular dan 
genetik dapat menyebabkan transformasi dari adenoma polip menjadi 
keganasan. (hiperplasia-metaplasia-displasia dan tumor) 
• Diawali dengan mutasi APC (adenomatous polyposis gene) yang 
umumnya ditemui pada orang-orang dengan FAP (familial 
adenomatous polyposis). APC mengkode protein yang penting untuk 
aktivasi onkogen c-myc dan cyclin d1 yang menyebabkan progresi 
menjadi keganasan. Mutasi APC ini sering dijumpai pada kanker 
colorectal.
• DNA metilasi yang abnormal juga dapat menyebabkan 
TSG menjadi tidak aktif atau mengaktifkan onkogen 
tertentu. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan dan 
berkembang menjadi keganasan. 
• Onkogen KRAS, kromosom 18 yang kehilangan 
heterozigot menyebabkan inaktivasi dari SMAD4 (DPC4) 
dan DCC (deleted in colon cancer) tumor supresor gene. 
Delesi kromosom 17p dan mutasinya dapat 
mempengaruhi TSG p53 dalam mengapoptosis.
• Kanker kolorektal juga dikarakteristikan dengan DNA 
mismatch repair. Fenotip ini biasanya dihubungakan 
dengan mutasi gen seperti MSH2,MLH1, dan PMS2. 
Mutasi mutasi ini disebut high frequency microsatellite 
instability (H-MSI), yang bisa dideteksi lewat 
immunocytochemistry assay. H-MSI merupakan petanda 
dari hereditary nonpolyposis colon cancer syndrome 
(HNPCC, Lynch syndrome) yang juga turut berperan 
dalam sebagian besar kegansan kolon.
Diagnosis 
Laboratorium 
• Complete blood count 
• Chemistries and liver function tests 
• Serum carcinoembryonic antigen 
Radio imaging: 
• Chest radiography 
• Chest computed tomography 
• Abdominal barium study 
http://on-line.ucol.ac.nz/mt211/Digestive.htm
• Abdominal/pelvic CT 
• Contrast ultrasonography of the abdomen and liver 
• Abdominal/pelvic MRI 
• Positron emission tomography, including fusion PET-CT scan 
Prosedur lain: 
• Colonoscopy 
• Sigmoidoscopy 
• Biopsy of suspicious lesions 
• Double-contrast barium enema
Tatalaksana 
http://www.aafp.org/afp/1999/06 
01/p3083.html
Terapi 
• Operasi menjadi satu-satunya modalitas kuratif untuk 
kanker kolon (stage I – III). Operasi reseseksi juga menjadi 
pilihan untuk pasien dengan metastasis yang terbatas di 
liver atau paru paru (stage IV), tetapi reseksi untuk 
pasien tanpa obstruksi dengan stage IV masih 
diperdebatkan perlu atau tidaknya. 
• Kemoterapi adjuvant menjadi standar pasien stage III. 
Penggunaan untuk pasien stage II masih kontroversial.
• Terapi radiasi juga dibatasi untuk pasien paliatif dengan 
metastasis terbatas pada tulang atau otak. 
• Kemoterapi daripada operasi menjadi standar 
manajemen untuk pasien kanker colorectal yang sudah 
metastasis.
Stage 
Primary Tumor 
(T) 
Regional Lymph 
Node (N) 
Remote 
Metastasis (M) 
Stage 0 Carcinoma in 
situ (Tis) 
N0 M0 
Stage I Tumor may 
invade 
submucosa (T1) 
or muscularis 
propria (T2) 
N0 M0 
Stage II Tumor invades 
muscularis (T3) 
or adjacent 
organs or 
structures (T4) 
N0 M0 
Stage IIA T3 N0 M0 
Stage IIB T4a N0 M0 
Stage IIC T4b N0 M0 
Stage IIIA T1-4 N1-2 M0 
Stage IIIB T1-4 N1-2 M0 
Stage IIIC T3-4 N1-2 M0 
Stage IVA T1-4 N1-3 M1a 
Stage IVB T1-4 N1-3 M1b
Terapi lain serain operasi: 
• Cryotherapy 
• Radiofrequency ablation 
• Hepatic arterial infusion of chemotherapeutic agents 
Regimen yang digunakan untuk kemoterapi adjuvan antara lain 
• 5-Fluorouracil (5-FU) 
• Capecitabine 
• Tegafur 
• Oxaliplatin 
• Irinotecan 
• Kombinasi obat-obatan (eg, capecitabine or 5-FU with 
oxaliplatin, 5-FU with leucovorin and oxaliplatin)
Daftar Pustaka 
• http://emedicine.medscape.com/article/277496-overview 
• Fox, Lombard, Lam. Gastroenterology, 2’nd edition. Toronto: 
Mosby; 2004.

Ca Colon

  • 1.
    Ca Colon PriciliaDonna Esperansa Sea 2012-060-106
  • 2.
    Pendahuluan • CaColon adalah salah satu keganasan yang paling sering menyerang sistem gastrointesitanal • Penyakit multifaktorial yang melibatkan faktor genetik, lingkungan (termasuk diet) dan proses inflamasi dari saluran pencernaan. www.webpathology.com
  • 3.
    Penderita kanker kolonbiasanya memiliki gejala: • Anemia • Pendarahan rektum • Sakit perut • Perubahan pola BAB • Obstruksi Intestinal bahkan perforasi
  • 4.
    Pada pemeriksaaan fisikdapat dijumpai: • Awal penyakit: tidak khas (fatigue, kehilangan berat badan) atau asimptomatik • Pada kasus lebih parahditemukan : Abdominal tenderness, macroscopic rectal bleeding, palpable abdominal mass, hepatomegaly, ascites
  • 5.
    Patogenesis • CaColon merupakan penyakit yang cukup kompleks. Biasanya Ca Colon sering dihubungkan dengan lesi pramalignan (adenoma ) yang menjadi keganasan carcinoma. Gabungan dari faktor molekular dan genetik dapat menyebabkan transformasi dari adenoma polip menjadi keganasan. (hiperplasia-metaplasia-displasia dan tumor) • Diawali dengan mutasi APC (adenomatous polyposis gene) yang umumnya ditemui pada orang-orang dengan FAP (familial adenomatous polyposis). APC mengkode protein yang penting untuk aktivasi onkogen c-myc dan cyclin d1 yang menyebabkan progresi menjadi keganasan. Mutasi APC ini sering dijumpai pada kanker colorectal.
  • 6.
    • DNA metilasiyang abnormal juga dapat menyebabkan TSG menjadi tidak aktif atau mengaktifkan onkogen tertentu. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan dan berkembang menjadi keganasan. • Onkogen KRAS, kromosom 18 yang kehilangan heterozigot menyebabkan inaktivasi dari SMAD4 (DPC4) dan DCC (deleted in colon cancer) tumor supresor gene. Delesi kromosom 17p dan mutasinya dapat mempengaruhi TSG p53 dalam mengapoptosis.
  • 7.
    • Kanker kolorektaljuga dikarakteristikan dengan DNA mismatch repair. Fenotip ini biasanya dihubungakan dengan mutasi gen seperti MSH2,MLH1, dan PMS2. Mutasi mutasi ini disebut high frequency microsatellite instability (H-MSI), yang bisa dideteksi lewat immunocytochemistry assay. H-MSI merupakan petanda dari hereditary nonpolyposis colon cancer syndrome (HNPCC, Lynch syndrome) yang juga turut berperan dalam sebagian besar kegansan kolon.
  • 8.
    Diagnosis Laboratorium •Complete blood count • Chemistries and liver function tests • Serum carcinoembryonic antigen Radio imaging: • Chest radiography • Chest computed tomography • Abdominal barium study http://on-line.ucol.ac.nz/mt211/Digestive.htm
  • 9.
    • Abdominal/pelvic CT • Contrast ultrasonography of the abdomen and liver • Abdominal/pelvic MRI • Positron emission tomography, including fusion PET-CT scan Prosedur lain: • Colonoscopy • Sigmoidoscopy • Biopsy of suspicious lesions • Double-contrast barium enema
  • 10.
  • 11.
    Terapi • Operasimenjadi satu-satunya modalitas kuratif untuk kanker kolon (stage I – III). Operasi reseseksi juga menjadi pilihan untuk pasien dengan metastasis yang terbatas di liver atau paru paru (stage IV), tetapi reseksi untuk pasien tanpa obstruksi dengan stage IV masih diperdebatkan perlu atau tidaknya. • Kemoterapi adjuvant menjadi standar pasien stage III. Penggunaan untuk pasien stage II masih kontroversial.
  • 12.
    • Terapi radiasijuga dibatasi untuk pasien paliatif dengan metastasis terbatas pada tulang atau otak. • Kemoterapi daripada operasi menjadi standar manajemen untuk pasien kanker colorectal yang sudah metastasis.
  • 13.
    Stage Primary Tumor (T) Regional Lymph Node (N) Remote Metastasis (M) Stage 0 Carcinoma in situ (Tis) N0 M0 Stage I Tumor may invade submucosa (T1) or muscularis propria (T2) N0 M0 Stage II Tumor invades muscularis (T3) or adjacent organs or structures (T4) N0 M0 Stage IIA T3 N0 M0 Stage IIB T4a N0 M0 Stage IIC T4b N0 M0 Stage IIIA T1-4 N1-2 M0 Stage IIIB T1-4 N1-2 M0 Stage IIIC T3-4 N1-2 M0 Stage IVA T1-4 N1-3 M1a Stage IVB T1-4 N1-3 M1b
  • 14.
    Terapi lain serainoperasi: • Cryotherapy • Radiofrequency ablation • Hepatic arterial infusion of chemotherapeutic agents Regimen yang digunakan untuk kemoterapi adjuvan antara lain • 5-Fluorouracil (5-FU) • Capecitabine • Tegafur • Oxaliplatin • Irinotecan • Kombinasi obat-obatan (eg, capecitabine or 5-FU with oxaliplatin, 5-FU with leucovorin and oxaliplatin)
  • 15.
    Daftar Pustaka •http://emedicine.medscape.com/article/277496-overview • Fox, Lombard, Lam. Gastroenterology, 2’nd edition. Toronto: Mosby; 2004.