ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DIABETES MELLITUS (DM) DALAM KONTEKS KELUARGA DI RUMAH 11/09/11
TUJUAN PEMBELAJARAN Tujuan pembelajaran umum : Setelah mengikuti sesi pembelajaran, peserta mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan DM dalam konteks keluarga di rumah 11/09/11
lanjutan Tujuan pembelajaran khusus : Setelah mengikuti sesi pembelajaran, peserta  mampu: Menggambarkan pengetahuan dasar DM Melakukan tahapan asuhan keperawatan klien dengan DM Melakukan terapi keperawatan pada klien DM 11/09/11
POKOK BAHASAN (PB) PB 1:  PENGETAHUAN DASAR DM PB 2:  TAHAPAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DM PB 3: TERAPI KEPERAWATAN PADA KLIEN DM 11/09/11
BAHAN BELAJAR Modul asuhan keperawatan klien dengan DM Kasus asuhan keperawatan klien dengan DM Lembar Kerja Terapi Diet DM Pedoman Pengobatan Tardisional dari Direktorat Obat Tradisinal Dirjen POM, Jakarta  11/09/11
METODE PELATIHAN Ceramah  Penugasan : pembahasan kasus Praktik lapangan 11/09/11
PB 2:  TAHAPAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DM  Sub pokok bahasan: Pengkajian dan Diagnosis Keperawatan Perencanaan, Pelaksanaan, dan Evaluasi 11/09/11
DATA EPIDEMIOLOGI 11/09/11
Prevalensi  DM  di Daerah Perkotaan  Menurut Provinsi (usia  ≥15 tahun) Provinsi Prevalensi ( % ) Provinsi Prevalensi ( % ) NAD Sumatera Utara Sumatera Barat  Riau  Jambi  Sumatera Selatan  Bengkulu  Lampung  Bangka Belitung  Kepulauan Riau  DKI Jakarta  Jawa Barat  Jawa Tengah  DI Yogyakarta Jawa Timur Banten  Bali  INDONESIA =5,7 8,5 5,3 4,1 10,4 5,2 3,4 3,0 6,2 8,6 3,3 6,6 4,2 7,8 5,4 6,8 5,3 3,0 NTB  NTT  Kalimantan Barat  Kalteng Kalsel  Kalimantan Timur  Sulawesi Utara Sulawesi Tengah  Sulawesi Selatan  Sultra Gorontalo Sulawesi Barat  Maluku  Maluku Utara Papua Barat  Papua 4,1 1,8 11,1 3,2 5,0 6,0 8,1 4,5 4,6 3,8 7,7 3,7 4,8 11,1 5,5 1,7
Prevalensi  TGT  di Daerah Perkotaan  Menurut Provinsi (usia  ≥15 tahun) Provinsi Prevalensi ( % ) Provinsi Prevalensi ( % ) NAD Sumatera Utara Sumatera Barat  Riau  Jambi  Sumatera Selatan  Bengkulu  Lampung  Bangka Belitung  Kepulauan Riau  DKI Jakarta  Jawa Barat  Jawa Tengah  DI Yogyakarta Jawa Timur Banten  Bali  INDONESIA =10,2 12,0 11,3 8,9 6,6 4,0 7,3 6,6 6,3 8,2 6,5 12,3 7,8 13,1 8,4 11,6 10,3 9,1  NTB  NTT  Kalimantan Barat  Kalteng Kalsel  Kalimantan Timur  Sulawesi Utara Sulawesi Tengah  Sulawesi Selatan  Sultra Gorontalo Sulawesi Barat  Maluku  Maluku Utara Papua Barat  Papua 5,4 4,9 12,3 8,2 14,7 10,2 17,3 9,1 10,5 8,0 7,7 17,6 10,3 9,9 21,8 6,7
Prevalensi  DM di Daerah Perkotaan Menurut Karakteristik Responden Sumber: Risesdas, 2007  Karakteristik TGT - DM ( % ) Karakteristik TGT - DM ( % ) Kelompok umur Pekerjaan 15-24 5,3  0,6 Tidak sekolah 12,6  6,9 25-34 6,9  1,8 Sekolah 6,5  1,00 35-44 11,5  5,0 Ibu RT 11,7  7,0 45-54 12,8  10,5 Pegawai 10,6  5,9 55-64 15,3  13,5 Wiraswasta 9,9  5,9 65-74 17,8  14,0 Petani/nelayan/ buruh 6,0  2,8 75+ 21,7  12,5 Lainnya 10,3  9,0 Jenis kelamin Laki-laki 8,7  4,9 Perempuan 11,5  6,4 0 Pendidikan Tidak sekolah  13,9  8,9 0 Tidak tamat SD 12,3  8,0 0 Tamat SD 10,4  5,5 0 Tamat SMP 9,6  4,4 Tamat SMA Tamat PT 8,9  4,9 9,8  5,6
Prevalensi Faktor Risiko DM  di Indonesia Sumber: Riskesdas, 2007  *Daerah perkotaan Faktor Risiko Prevalensi (%) KET Obesitas umum  (8,8% BB lebih, 10,3% obesitas) 19,1 Penduduk ≥15 Th Obesitas sentral  (Laki-laki: LP=Linkar perut >90cm, Perempuan: LP>80cm)   18,8 Penduduk ≥15 Th Kurang aktivitas fisik 48,2 Penduduk ≥10 Th Hipertensi Sering makan makanan manis Kurang sayur buah Toleransi Gula Terganggu* 31,7 65,2 93,6 10,2 Penduduk ≥ 18 Th  Penduduk ≥10 Th  Penduduk ≥10 Th Penduduk ≥15 Th  Perokok setiap hari 23,7 Penduduk ≥10 Th
PENCEGAHAN  TERHADAP FAKTOR RESIKO 1.  G izi tidak seimbang  SUSENAS 2004 :  11% REMAJA OBESITAS. 99% MASYARAKAT  KURANG KONSUMSI SAYUR & BUAH
PB 1:  PENGETAHUAN   DASAR   DM Sub pokok bahasan: Pengertian   DM Tanda   dan Gejala DM Patofisiologi DM 11/09/11
PB 3:    TERAPI KEPERAWATAN PADA KLIEN DM  Sub pokok bahasan: Terapi inti keperawatan pada klien DM Terapi penunjang keperawatan pada klien DM 11/09/11
Diabetes Melitus (DM)  a dalah kumpulan gejala akibat peningkatan kadar gula darah (glukosa) akibat kekurangan hormon insulin baik absolut maupun relatif.  Diabetisi=Penyandang DM PENGERTIAN
Diagnosis DM ditegakkan bila :  Keluhan khas :   G ula darah (GD) sewaktu ≥200 mg/dL, atau GD puasa  (2 jam PP)  ≥126 mg/dL. Keluhan tidak khas :  GD sewaktu ≥200 mg/dL, atau GD puasa ≥126 mg/dL, pada 2 kali pemeriksaan dengan waktu yang berbeda Bila hasil pemeriksaan meragukan  dapat dilakukan pemeriksaan Tes Toleransi Glucose Oral (TTGO). DIAGNOSIS DM
TTGO Kadar glukosa darah (GD) 2 jam sesudah pembebanan glukosa oral 75 gram (300 kalori) <140  mg/dL   : Tidak DM 140-199  mg/dL : Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) >200 mg/dL : DM DIAGNOSIS DM
DM tipe 1: Penyakit gangguan metabolik yang ditandai kenaikan kadar gula darah (GD) akibat kerusakan sel beta pankreas yang menyebabakan produksi insulin tidak ada sama sekali  DM tipe 2: Penyakit gangguan metabolik yang ditandai kenaikan kadar GD akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan/atau fungsi insulin (resistensi insulin)  TIPE DM
DM tipe lain: Penyakit gangguan metabolik yang ditandai kenaikan kadar GD akibat defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang, sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM.  DM tipe gestasional Penyakit gangguan metabolik yang ditandai kenaikan kadar GD pada wanita hamil, biasanya terjadi pada usia >24 minggu masa kehamilan, dan setelah melahirkan kadar GD normal kembali. DIABETES MELLITUS
Gejala khas DM antara lain poliuria (sering buang air kecil), polidipsi (banyak minum), polifagia (banyak makan), dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas.  Gejala tidak khas DM, antara lain kesemutan, gatal di daerah kemaluan, keputihan, infeksi yang sulit sembuh, bisul yang hilang timbul, penglihatan kabur, cepat lelah, mudah mengantuk, gangguan ereksi, dan lain-lain. GEJALA DM
lanjutan Tanda   dan Gejala DM Bervariasi diantaranya minum lebih banyak (polidipsia), buang air kecil lebih sering (poliuria), lemas, ataupun berat badan yang menurun (Ilmu Penyakit Dalam, 1996). Gejala lanjut adalah penurunan berat badan secara drastis, keletihan, kelemahan, kesemutan pada tangan dan kaki, kulit kering, perubahan penglihatan, luka sulit sembuh, dan sering muncul infeksi (Brunner & Suddart, dalam Smetlzer & Bare 2000.
Berdasarkan hasil penelitian Framingham: Satu dari dua orang penderita DM akan mengalami kerusakan pembuluh darah dan peningkatan risiko serangan jantung.  Target pengobatan pada pasien dengan DM adalah kadar HbA1C  < 6, kadar gula darah puasa <110mg/dL, atau gula darah 2 jam PP <135 mg/dL.  PENGOBATAN
FAKTOR RISIKO Faktor Risiko DM yang Tidak Dapat Dimodifikasi Ras/etnik Umur Riwayat keluarga dengan DM Riwayat melahirkan bayi dengan BB >4000 gram Riwayat melahirkan bayi dengan BBLR (<2500 gram)
FAKTOR RISIKO Faktor Risiko DM yang Dapat Dimodifikasi Obesitas umum (BB Lebih dan obesitas)  Obesitas abdominal/sentral Kurang aktivitas fisik Hipertensi Dislipidemia Diet tidak seimbang dengan tinggi gula dan rendah serat Riwayat Toleransi Gula Terganggu (TGT)  Merokok
“  KEGEMUKAN & OBESITAS” Compiled Design by Dr. Iskandar.MSc Body Mass Index (BMI):   BB (kg) : TB (m) x TB(m)  Kegemukan  > 25 -  < 30 , Obesitas > 30   Iza-20
FAKTOR RISIKO Obesitas   Suatu keadaan yang disebabkan oleh multifaktorial yang terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan dan penggunaan kalori, sehingga timbul akumulasi jaringan lemak yang berlebihan dan dapat mengganggu kesehatan. Kriteria mengacu pada IMT  IMT: 18,5-24,9 Kg/m 2 (normal), 25-27 (BB lebih), >27(obesitas)   Obesitas sentral Akumulasi jaringan lemak yang berlebihan pada daerah abdominal, yang ditetapkan melalui pengukuran lingkar perut. (Laki-laki >90 cm, Perempuan >80 cm)
FAKTOR RISIKO Aktivitas fisik Setiap gerakan tubuh dengan tujuan meningkatkan dan mengeluarkan tenaga dan energi, yang biasa dilakukan atau aktivitas sehari-hari sesuai profesi atau pekerjaan .  Olahraga: Aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur yang memanfaatkan gerakan tubuh yang berulang untuk mencapai kebugaran
Hipertensi Peningkatan Tekanan Darah Sistemik atau G angguan  S istem  P eredaran  D arah yang  M enyebabkan  K enaikan  T ekanan  D arah  Diatas N ilai  N ormal  ( >140/90 mmHg )   FAKTOR RISIKO
FAKTOR RISIKO Dislipidemia   (m etabolisme lemak yang abnormal) Nilai kolesterol total, LDL. HDL, dan trigliserida menurut National Cholesterol Education Program Adult Panel III (tahun 2001) dan petunjuk praktis penatalaksanaan dislipidemia oleh PERKENI  (Perhimpunan Endokrinologi Indonesia
Catatan Untuk menurunkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, maka nilai kolesterol total plasma harus <190 mg/dL dan Low Density Lipoprotein (LDL) <115 mg/dL.  Pada pasien dengan DM atau pasien asimptomatik dengan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, maka target kadar kolesterol total darah harus <175 mg/dL dan LDL <100 mg/dL.  Kadar High Density Lipoprotein (HDL) <40 mg/dL pada laiki-laki dan <45 mg/dL pada perempuan, serta kadar trigliserida puasa >150 mg/dL akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. (PERKI, 2009) FAKTOR RISIKO Dislipidemia
~ GD 2 jam PP= 110-125 mg/dL ~ TTGO:  GD=140-199  mg/dL Toleransi Glukosa Terganggu=TGT/Pre Diabetik
lanjutan Komplikasi : mata, ginjal, jantung, pembuluh darah kaki, dan syaraf. Glukosa adalah bahan energi utama untuk otak. Kekurangan glukosa sebagaimana kekurangan oksigen, akan menimbulkan gangguan fungsi otak, kerusakan jaringan, atau mungkin kematian jika kekurangan tersebut berlangsung dalam waktu lama.
KOMPLIKASI DIABETES
Tips Atasi  Faktor – faktor Risiko Kendalikan Berat Badan Kendalikan Dislipidemia Hindari asap rokok & stop merokok Aktivitas Fisik  Teratur & Terukur Kendalikan Hipertensi Kendalikan Gula Darah & DM Berhenti Konsumsi Alkohol & Narkoba Kendalikan Stress Kendalikan BB  Capai BMI <  25 Diet rendah gula & lemak Stop merokok  Hindari area berasap rokok Diet Rendah lemak Jenuh Lemak Trans & Cholesterol   Total Cholesterol,  LDL Chol & TG darah HDL Cholesterol  Aktifitas Fisik Minimal  30 mnt/hr intensitas sedang lakukan tiap hari  Olahraga ikuti FITT Berhenti Alkohol Berhenti Narkoba Ikuti Program Rehabilitasi Diet Rendah Kalori  Minum Obat  Anti Diabetes (OAD)  Suntik Insulin Diet Rendah Garam  Minum Obat Anti Hipertensi Rileksasi  Meditasi/ Yoga  Rekreasi Cukup istirahat  Bersihkan Caries Gigi  Obati infeksi lain Pantau kadar CRP  Atasi Peradangan Diet Sehat & Gizi Seimbang Kurangi gula sederhana  Banyak Sayur & Buah,  Tinggi Serat Kendalikan Kekentalan Darah Encerkan Darah  Anti Agregasi  Penurun Fibrinogen Donor Darah Konsumsi Food Suplemen Alami Anti Oxidants A,C,E, Se Omega 3 &  Double-X   Asam Folat & Garlic Plasmin (Trombolytic) Compiled Design by Dr. Iskandar.MSc Iza-70
PB 2:  TAHAPAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DM  Pengkajian dan Diagnosis Keperawatan Pengkajian faktor fisik yang mempengaruhi kemampuan untuk mempelajari atau menampilkan keterampilan perawatan diri Keterbatasan penglihatan Keterbatasan dalam koordinasi motorik Keterbatasan neurologis/persyarafan 11/09/11
lanjutan Pengkajian faktor sosial yang mempengaruhi penatalaksanaan diabetes dan perencanaan pendidikan kesehatan, meliputi: Kemampuan baca tulis Kemampuan sumber keuangan atau jaminan kesehatan Kepemilikan dukungan keluarga Kebiasaan sehari-hari Pengkajian status emosional, meliputi: Observasi penampilan secara umum  Perhatian dan kekhawatiran tentang diabetes  Kemampuan koping
lanjutan Diagnosis yang umum terjadi pada klien dengan DM diantaranya: Risiko terjadinya kekurangan volume cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan pemasukan dan pengeluaran cairan Perubahan nutrisi: kurang atau lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakseimbangan pemasukan Gangguan perfusi jaringan ferifer berhubungan dengan menurunya sensitifitas Kecemasan berhubungan dengan kekhawatiran ketidakmampuan menangani DM  Keterbatasan dalam melakukan perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
lanjutan Perencanaan, Pelaksanaan, dan Evaluasi Dx :  Risiko terjadinya kekurangan volume cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan pemasukan dan pengeluaran cairan Tujuan Umum Mencapai/mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Tujuan khusus: Mempertahankan keseimbangan pemasukan dan pengeluaran Mempertahankan kelembaban mukosa (mulut dan bibir) dan kulit Mempertahankan turgor kulit Tidak terjadi tanda-tanda dehidrasi: tachicardi dan hipotensi ortostatik
lanjutan Rencana Intervensi: Anjurkan untuk minum sesuai kebutuhan (minimal 50 cc per kg brat badan) jika tidak ada komplikasi Minta klien/keluarga untuk mencatat pemasukan segera setelah minum Minta klien/keluarga untuk mencatat  jumlah urin yang dikeluarkan saat BAK Bersama klien dan keluarga mengukur pemasukan dan pengeluaran cairan per hari, dan membandingkanya untuk mengidentifikasi adanya tanda-tanda dehidrasi
lanjutan Mengukur tanda-tanda vital, khususnya nadi dan tekanan darah untuk mengidentifikasi tanda-tanda dehidrasi Minta klien/keluarga untuk segera melapor pada perawat jika ditemukan tanda-tanda dehidrasi, yaitu denyut nadi lebih cepat dan adanya keluhan berkunang-kunang/pusing  ketika berubah posisi dari duduk ke berdiri.
lanjutan Pelaksanaan Libatkan klien dan keluarga dalam melaksanakan rencana intervensi Buat tabel pemasukan dan pengeluaran cairan untuk memastikan keluarga mencatat dalam format tersebut Minta keluarga untuk membuat kesimpulan dari hasil pencatatan terhadap pemasukan dan pengeluaran cairan Diskusikan dengan klien dan keluarga rencana tindak lanjut berdasarkan hasil kesimpulan pemasukan dan pengeluaran cairan
lanjutan Penilaian Jumlah cairan yang diminum mendekati sama dengan jumlah urin yang dikeluarkan  Mukosa (mulut dan bibir) dan kulit dalam keadaan lembab Turgor kulit baik Tanda-tanda vital dalam batas normal
PB 3:    TERAPI KEPERAWATAN PADA KLIEN DM  Terapi inti keperawatan pada klien DM Diet Olah raga Perawatan luka kotor 11/09/11
lanjutan Terapi penunjang keperawatan pada klien DM terapi modalitas sarana penyembuhan yang  diterapkan pada klien dengan DM, dgn tanpa disadari dpt menimbulkan respons tubuh berupa energi sehingga mendapatkan efek penyembuhan (Starkey, 2004).   terapi komplementer   menangani penyebab penyakit serta memacu tubuh sendiri untuk menyembuhkan penyakit yang dideita (Sustarini, Alam, & Hadibroto, 2005).
TERIMA KASIH
LEMBAR KERJA I Harapan Saya Dalam Sesi Ini : ( Tuliskan apa yang saudara harapkan dari sesi pembelajaran ini ) 11/09/11
LEMBAR KERJA 2   Panduan Diskusi Kelompok Bagi kelas menjadi 6 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 peserta yang merupakan campuran dari beberapa institusi tempat kerja peserta. Masing-masing kelompok menunjuk ketua, sekretaris, dan penyaji. Lakukan diskusi kelompok untuk menyelesaikan masalah sesuai kasus dalam waktu 1 jpl (45 menit). Kasus 1 dibahas oleh kelompok 1 dan 2, kasus 2 dibahas oleh kelompok 3 dan 4, dan kasus 3 oleh kelompok 5 dan 6. 11/09/11
lanjutan Pilih 3 kelompok untuk menyajikan hasil diskusi dalam kegiatan presentasi dalam bentuk panel, 3 kelompok lain menjadi penyanggah untuk kasus yang sama.  Kelompok mempresentasikan hasil diskusi dalam waktu 15 menit termasuk kegiatan tanya jawab.  11/09/11
lanjutan Kasus 1 Bapak M, usia 55 tahun, tinggal bersama dengan istri dan anak menantu. Sejak 3 bulan yang lalu, Bapak M merasa sering mengalami cepat lapar, sering haus, dan sering kencing. Bapak M merasa gelisah memikirkan apa penyakitnya yang dideritanya,  merasa berdebar dan was-was jika memikirkan gejala yang dirasakan. Selama ini tidak melakukan perawatan khusus untuk mengatasi masalahnya karena bapak M merasa ini penyakit orang yang sudah tua. 11/09/11
lanjutan Kasus 2 Ibu S, usia 45 tahun, mengeluh sering pusing dan sakit kepala. Akhir-akhir ini badanya sering merasa lemas dan cepat capek sehingga malas melakukan aktifitas termasuk merawat dirinya sendiri. Pola makan tidak ada perubahan, sementara ibu S sering merasa haus.   11/09/11
lanjutan Kasus 3 Bapak D, usia 40 tahun, adalah seorang pembuat tempe dengan cara tradisional. Kedua kaki Bapak D merasakan kebal. Kegiatan bapak D kebanyakan menggunakan kaki, dan cenderung tidak menggunakan alas kaki karena harus kontak langsung dengan bahan kacang kedelai ketika proses pengolahan tempe. Terdapat luka kecil di sela-sela kelingking dari kedua kakinya. 11/09/11
lanjutan Tugas dalam kelompok: Rumuskan diagnosa keperawatan sesuai kasus Buat rencana keperawatan yang terdiri dari tujuan umum, tujuan khusus,  rencana tindakan, dan kriteria evaluasi Presentasikan  11/09/11
LEMBAR KERJA 3   Panduan Praktik Lapangan Setiap peserta pelatihan, diberikan waktu untuk melakukan praktik asuhan keperawatan di wilayah tertentu yang ditentukan oleh panitia. Dalam kegiatan praktik lapangan, setiap peserta yang mendapatkan kesempatan untuk melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan DM, tugas peserta adalah: Melakukan pengkajian keperawatan sesuai kasus klien dengan DM 11/09/11
lanjutan Melakukan pemeriksaan fisik yang berkaitan dengan keluhan utama klien DM Menyusun perencanaan keperawatan sesuai data yang teridentifikasi pada klien DM Melakukan implementasi terhadap diagnosa keperawatan utama yang teridentifikasi dari klien DM 11/09/11
lanjutan Mengevaluasi implementasi keperawatan sesuai rencana intervensi untuk klien DM Mendokumentasikan asuhan keperawatan yang dilakkan pada klien DM Mendesiminisaikan hasil asuhan keperawatan sesuai jadwal yang ditentukan  11/09/11
Terima kasih . . . Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Askep dm

  • 1.
    ASUHAN KEPERAWATAN KLIENDENGAN DIABETES MELLITUS (DM) DALAM KONTEKS KELUARGA DI RUMAH 11/09/11
  • 2.
    TUJUAN PEMBELAJARAN Tujuanpembelajaran umum : Setelah mengikuti sesi pembelajaran, peserta mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan DM dalam konteks keluarga di rumah 11/09/11
  • 3.
    lanjutan Tujuan pembelajarankhusus : Setelah mengikuti sesi pembelajaran, peserta mampu: Menggambarkan pengetahuan dasar DM Melakukan tahapan asuhan keperawatan klien dengan DM Melakukan terapi keperawatan pada klien DM 11/09/11
  • 4.
    POKOK BAHASAN (PB)PB 1: PENGETAHUAN DASAR DM PB 2: TAHAPAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DM PB 3: TERAPI KEPERAWATAN PADA KLIEN DM 11/09/11
  • 5.
    BAHAN BELAJAR Modulasuhan keperawatan klien dengan DM Kasus asuhan keperawatan klien dengan DM Lembar Kerja Terapi Diet DM Pedoman Pengobatan Tardisional dari Direktorat Obat Tradisinal Dirjen POM, Jakarta 11/09/11
  • 6.
    METODE PELATIHAN Ceramah Penugasan : pembahasan kasus Praktik lapangan 11/09/11
  • 7.
    PB 2: TAHAPAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DM Sub pokok bahasan: Pengkajian dan Diagnosis Keperawatan Perencanaan, Pelaksanaan, dan Evaluasi 11/09/11
  • 8.
  • 9.
    Prevalensi DM di Daerah Perkotaan Menurut Provinsi (usia ≥15 tahun) Provinsi Prevalensi ( % ) Provinsi Prevalensi ( % ) NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali INDONESIA =5,7 8,5 5,3 4,1 10,4 5,2 3,4 3,0 6,2 8,6 3,3 6,6 4,2 7,8 5,4 6,8 5,3 3,0 NTB NTT Kalimantan Barat Kalteng Kalsel Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sultra Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 4,1 1,8 11,1 3,2 5,0 6,0 8,1 4,5 4,6 3,8 7,7 3,7 4,8 11,1 5,5 1,7
  • 10.
    Prevalensi TGT di Daerah Perkotaan Menurut Provinsi (usia ≥15 tahun) Provinsi Prevalensi ( % ) Provinsi Prevalensi ( % ) NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali INDONESIA =10,2 12,0 11,3 8,9 6,6 4,0 7,3 6,6 6,3 8,2 6,5 12,3 7,8 13,1 8,4 11,6 10,3 9,1 NTB NTT Kalimantan Barat Kalteng Kalsel Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sultra Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 5,4 4,9 12,3 8,2 14,7 10,2 17,3 9,1 10,5 8,0 7,7 17,6 10,3 9,9 21,8 6,7
  • 11.
    Prevalensi DMdi Daerah Perkotaan Menurut Karakteristik Responden Sumber: Risesdas, 2007 Karakteristik TGT - DM ( % ) Karakteristik TGT - DM ( % ) Kelompok umur Pekerjaan 15-24 5,3 0,6 Tidak sekolah 12,6 6,9 25-34 6,9 1,8 Sekolah 6,5 1,00 35-44 11,5 5,0 Ibu RT 11,7 7,0 45-54 12,8 10,5 Pegawai 10,6 5,9 55-64 15,3 13,5 Wiraswasta 9,9 5,9 65-74 17,8 14,0 Petani/nelayan/ buruh 6,0 2,8 75+ 21,7 12,5 Lainnya 10,3 9,0 Jenis kelamin Laki-laki 8,7 4,9 Perempuan 11,5 6,4 0 Pendidikan Tidak sekolah 13,9 8,9 0 Tidak tamat SD 12,3 8,0 0 Tamat SD 10,4 5,5 0 Tamat SMP 9,6 4,4 Tamat SMA Tamat PT 8,9 4,9 9,8 5,6
  • 12.
    Prevalensi Faktor RisikoDM di Indonesia Sumber: Riskesdas, 2007 *Daerah perkotaan Faktor Risiko Prevalensi (%) KET Obesitas umum (8,8% BB lebih, 10,3% obesitas) 19,1 Penduduk ≥15 Th Obesitas sentral (Laki-laki: LP=Linkar perut >90cm, Perempuan: LP>80cm) 18,8 Penduduk ≥15 Th Kurang aktivitas fisik 48,2 Penduduk ≥10 Th Hipertensi Sering makan makanan manis Kurang sayur buah Toleransi Gula Terganggu* 31,7 65,2 93,6 10,2 Penduduk ≥ 18 Th Penduduk ≥10 Th Penduduk ≥10 Th Penduduk ≥15 Th Perokok setiap hari 23,7 Penduduk ≥10 Th
  • 13.
    PENCEGAHAN TERHADAPFAKTOR RESIKO 1. G izi tidak seimbang SUSENAS 2004 : 11% REMAJA OBESITAS. 99% MASYARAKAT KURANG KONSUMSI SAYUR & BUAH
  • 14.
    PB 1: PENGETAHUAN DASAR DM Sub pokok bahasan: Pengertian DM Tanda dan Gejala DM Patofisiologi DM 11/09/11
  • 15.
    PB 3: TERAPI KEPERAWATAN PADA KLIEN DM Sub pokok bahasan: Terapi inti keperawatan pada klien DM Terapi penunjang keperawatan pada klien DM 11/09/11
  • 16.
    Diabetes Melitus (DM) a dalah kumpulan gejala akibat peningkatan kadar gula darah (glukosa) akibat kekurangan hormon insulin baik absolut maupun relatif. Diabetisi=Penyandang DM PENGERTIAN
  • 17.
    Diagnosis DM ditegakkanbila : Keluhan khas : G ula darah (GD) sewaktu ≥200 mg/dL, atau GD puasa (2 jam PP) ≥126 mg/dL. Keluhan tidak khas : GD sewaktu ≥200 mg/dL, atau GD puasa ≥126 mg/dL, pada 2 kali pemeriksaan dengan waktu yang berbeda Bila hasil pemeriksaan meragukan dapat dilakukan pemeriksaan Tes Toleransi Glucose Oral (TTGO). DIAGNOSIS DM
  • 18.
    TTGO Kadar glukosadarah (GD) 2 jam sesudah pembebanan glukosa oral 75 gram (300 kalori) <140 mg/dL : Tidak DM 140-199 mg/dL : Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) >200 mg/dL : DM DIAGNOSIS DM
  • 19.
    DM tipe 1:Penyakit gangguan metabolik yang ditandai kenaikan kadar gula darah (GD) akibat kerusakan sel beta pankreas yang menyebabakan produksi insulin tidak ada sama sekali DM tipe 2: Penyakit gangguan metabolik yang ditandai kenaikan kadar GD akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan/atau fungsi insulin (resistensi insulin) TIPE DM
  • 20.
    DM tipe lain:Penyakit gangguan metabolik yang ditandai kenaikan kadar GD akibat defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang, sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM. DM tipe gestasional Penyakit gangguan metabolik yang ditandai kenaikan kadar GD pada wanita hamil, biasanya terjadi pada usia >24 minggu masa kehamilan, dan setelah melahirkan kadar GD normal kembali. DIABETES MELLITUS
  • 21.
    Gejala khas DMantara lain poliuria (sering buang air kecil), polidipsi (banyak minum), polifagia (banyak makan), dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas. Gejala tidak khas DM, antara lain kesemutan, gatal di daerah kemaluan, keputihan, infeksi yang sulit sembuh, bisul yang hilang timbul, penglihatan kabur, cepat lelah, mudah mengantuk, gangguan ereksi, dan lain-lain. GEJALA DM
  • 22.
    lanjutan Tanda dan Gejala DM Bervariasi diantaranya minum lebih banyak (polidipsia), buang air kecil lebih sering (poliuria), lemas, ataupun berat badan yang menurun (Ilmu Penyakit Dalam, 1996). Gejala lanjut adalah penurunan berat badan secara drastis, keletihan, kelemahan, kesemutan pada tangan dan kaki, kulit kering, perubahan penglihatan, luka sulit sembuh, dan sering muncul infeksi (Brunner & Suddart, dalam Smetlzer & Bare 2000.
  • 23.
    Berdasarkan hasil penelitianFramingham: Satu dari dua orang penderita DM akan mengalami kerusakan pembuluh darah dan peningkatan risiko serangan jantung. Target pengobatan pada pasien dengan DM adalah kadar HbA1C < 6, kadar gula darah puasa <110mg/dL, atau gula darah 2 jam PP <135 mg/dL. PENGOBATAN
  • 24.
    FAKTOR RISIKO FaktorRisiko DM yang Tidak Dapat Dimodifikasi Ras/etnik Umur Riwayat keluarga dengan DM Riwayat melahirkan bayi dengan BB >4000 gram Riwayat melahirkan bayi dengan BBLR (<2500 gram)
  • 25.
    FAKTOR RISIKO FaktorRisiko DM yang Dapat Dimodifikasi Obesitas umum (BB Lebih dan obesitas) Obesitas abdominal/sentral Kurang aktivitas fisik Hipertensi Dislipidemia Diet tidak seimbang dengan tinggi gula dan rendah serat Riwayat Toleransi Gula Terganggu (TGT) Merokok
  • 26.
    “ KEGEMUKAN& OBESITAS” Compiled Design by Dr. Iskandar.MSc Body Mass Index (BMI): BB (kg) : TB (m) x TB(m) Kegemukan > 25 - < 30 , Obesitas > 30 Iza-20
  • 27.
    FAKTOR RISIKO Obesitas Suatu keadaan yang disebabkan oleh multifaktorial yang terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan dan penggunaan kalori, sehingga timbul akumulasi jaringan lemak yang berlebihan dan dapat mengganggu kesehatan. Kriteria mengacu pada IMT IMT: 18,5-24,9 Kg/m 2 (normal), 25-27 (BB lebih), >27(obesitas) Obesitas sentral Akumulasi jaringan lemak yang berlebihan pada daerah abdominal, yang ditetapkan melalui pengukuran lingkar perut. (Laki-laki >90 cm, Perempuan >80 cm)
  • 28.
    FAKTOR RISIKO Aktivitasfisik Setiap gerakan tubuh dengan tujuan meningkatkan dan mengeluarkan tenaga dan energi, yang biasa dilakukan atau aktivitas sehari-hari sesuai profesi atau pekerjaan . Olahraga: Aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur yang memanfaatkan gerakan tubuh yang berulang untuk mencapai kebugaran
  • 29.
    Hipertensi Peningkatan TekananDarah Sistemik atau G angguan S istem P eredaran D arah yang M enyebabkan K enaikan T ekanan D arah Diatas N ilai N ormal ( >140/90 mmHg ) FAKTOR RISIKO
  • 30.
    FAKTOR RISIKO Dislipidemia (m etabolisme lemak yang abnormal) Nilai kolesterol total, LDL. HDL, dan trigliserida menurut National Cholesterol Education Program Adult Panel III (tahun 2001) dan petunjuk praktis penatalaksanaan dislipidemia oleh PERKENI (Perhimpunan Endokrinologi Indonesia
  • 31.
    Catatan Untuk menurunkanrisiko penyakit jantung dan pembuluh darah, maka nilai kolesterol total plasma harus <190 mg/dL dan Low Density Lipoprotein (LDL) <115 mg/dL. Pada pasien dengan DM atau pasien asimptomatik dengan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, maka target kadar kolesterol total darah harus <175 mg/dL dan LDL <100 mg/dL. Kadar High Density Lipoprotein (HDL) <40 mg/dL pada laiki-laki dan <45 mg/dL pada perempuan, serta kadar trigliserida puasa >150 mg/dL akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. (PERKI, 2009) FAKTOR RISIKO Dislipidemia
  • 32.
    ~ GD 2jam PP= 110-125 mg/dL ~ TTGO: GD=140-199 mg/dL Toleransi Glukosa Terganggu=TGT/Pre Diabetik
  • 33.
    lanjutan Komplikasi :mata, ginjal, jantung, pembuluh darah kaki, dan syaraf. Glukosa adalah bahan energi utama untuk otak. Kekurangan glukosa sebagaimana kekurangan oksigen, akan menimbulkan gangguan fungsi otak, kerusakan jaringan, atau mungkin kematian jika kekurangan tersebut berlangsung dalam waktu lama.
  • 34.
  • 35.
    Tips Atasi Faktor – faktor Risiko Kendalikan Berat Badan Kendalikan Dislipidemia Hindari asap rokok & stop merokok Aktivitas Fisik Teratur & Terukur Kendalikan Hipertensi Kendalikan Gula Darah & DM Berhenti Konsumsi Alkohol & Narkoba Kendalikan Stress Kendalikan BB Capai BMI < 25 Diet rendah gula & lemak Stop merokok Hindari area berasap rokok Diet Rendah lemak Jenuh Lemak Trans & Cholesterol Total Cholesterol, LDL Chol & TG darah HDL Cholesterol Aktifitas Fisik Minimal 30 mnt/hr intensitas sedang lakukan tiap hari Olahraga ikuti FITT Berhenti Alkohol Berhenti Narkoba Ikuti Program Rehabilitasi Diet Rendah Kalori Minum Obat Anti Diabetes (OAD) Suntik Insulin Diet Rendah Garam Minum Obat Anti Hipertensi Rileksasi Meditasi/ Yoga Rekreasi Cukup istirahat Bersihkan Caries Gigi Obati infeksi lain Pantau kadar CRP Atasi Peradangan Diet Sehat & Gizi Seimbang Kurangi gula sederhana Banyak Sayur & Buah, Tinggi Serat Kendalikan Kekentalan Darah Encerkan Darah Anti Agregasi Penurun Fibrinogen Donor Darah Konsumsi Food Suplemen Alami Anti Oxidants A,C,E, Se Omega 3 & Double-X Asam Folat & Garlic Plasmin (Trombolytic) Compiled Design by Dr. Iskandar.MSc Iza-70
  • 36.
    PB 2: TAHAPAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DM Pengkajian dan Diagnosis Keperawatan Pengkajian faktor fisik yang mempengaruhi kemampuan untuk mempelajari atau menampilkan keterampilan perawatan diri Keterbatasan penglihatan Keterbatasan dalam koordinasi motorik Keterbatasan neurologis/persyarafan 11/09/11
  • 37.
    lanjutan Pengkajian faktorsosial yang mempengaruhi penatalaksanaan diabetes dan perencanaan pendidikan kesehatan, meliputi: Kemampuan baca tulis Kemampuan sumber keuangan atau jaminan kesehatan Kepemilikan dukungan keluarga Kebiasaan sehari-hari Pengkajian status emosional, meliputi: Observasi penampilan secara umum Perhatian dan kekhawatiran tentang diabetes Kemampuan koping
  • 38.
    lanjutan Diagnosis yangumum terjadi pada klien dengan DM diantaranya: Risiko terjadinya kekurangan volume cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan pemasukan dan pengeluaran cairan Perubahan nutrisi: kurang atau lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakseimbangan pemasukan Gangguan perfusi jaringan ferifer berhubungan dengan menurunya sensitifitas Kecemasan berhubungan dengan kekhawatiran ketidakmampuan menangani DM Keterbatasan dalam melakukan perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
  • 39.
    lanjutan Perencanaan, Pelaksanaan,dan Evaluasi Dx : Risiko terjadinya kekurangan volume cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan pemasukan dan pengeluaran cairan Tujuan Umum Mencapai/mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Tujuan khusus: Mempertahankan keseimbangan pemasukan dan pengeluaran Mempertahankan kelembaban mukosa (mulut dan bibir) dan kulit Mempertahankan turgor kulit Tidak terjadi tanda-tanda dehidrasi: tachicardi dan hipotensi ortostatik
  • 40.
    lanjutan Rencana Intervensi:Anjurkan untuk minum sesuai kebutuhan (minimal 50 cc per kg brat badan) jika tidak ada komplikasi Minta klien/keluarga untuk mencatat pemasukan segera setelah minum Minta klien/keluarga untuk mencatat jumlah urin yang dikeluarkan saat BAK Bersama klien dan keluarga mengukur pemasukan dan pengeluaran cairan per hari, dan membandingkanya untuk mengidentifikasi adanya tanda-tanda dehidrasi
  • 41.
    lanjutan Mengukur tanda-tandavital, khususnya nadi dan tekanan darah untuk mengidentifikasi tanda-tanda dehidrasi Minta klien/keluarga untuk segera melapor pada perawat jika ditemukan tanda-tanda dehidrasi, yaitu denyut nadi lebih cepat dan adanya keluhan berkunang-kunang/pusing ketika berubah posisi dari duduk ke berdiri.
  • 42.
    lanjutan Pelaksanaan Libatkanklien dan keluarga dalam melaksanakan rencana intervensi Buat tabel pemasukan dan pengeluaran cairan untuk memastikan keluarga mencatat dalam format tersebut Minta keluarga untuk membuat kesimpulan dari hasil pencatatan terhadap pemasukan dan pengeluaran cairan Diskusikan dengan klien dan keluarga rencana tindak lanjut berdasarkan hasil kesimpulan pemasukan dan pengeluaran cairan
  • 43.
    lanjutan Penilaian Jumlahcairan yang diminum mendekati sama dengan jumlah urin yang dikeluarkan Mukosa (mulut dan bibir) dan kulit dalam keadaan lembab Turgor kulit baik Tanda-tanda vital dalam batas normal
  • 44.
    PB 3: TERAPI KEPERAWATAN PADA KLIEN DM Terapi inti keperawatan pada klien DM Diet Olah raga Perawatan luka kotor 11/09/11
  • 45.
    lanjutan Terapi penunjangkeperawatan pada klien DM terapi modalitas sarana penyembuhan yang diterapkan pada klien dengan DM, dgn tanpa disadari dpt menimbulkan respons tubuh berupa energi sehingga mendapatkan efek penyembuhan (Starkey, 2004). terapi komplementer menangani penyebab penyakit serta memacu tubuh sendiri untuk menyembuhkan penyakit yang dideita (Sustarini, Alam, & Hadibroto, 2005).
  • 46.
  • 47.
    LEMBAR KERJA IHarapan Saya Dalam Sesi Ini : ( Tuliskan apa yang saudara harapkan dari sesi pembelajaran ini ) 11/09/11
  • 48.
    LEMBAR KERJA 2 Panduan Diskusi Kelompok Bagi kelas menjadi 6 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 peserta yang merupakan campuran dari beberapa institusi tempat kerja peserta. Masing-masing kelompok menunjuk ketua, sekretaris, dan penyaji. Lakukan diskusi kelompok untuk menyelesaikan masalah sesuai kasus dalam waktu 1 jpl (45 menit). Kasus 1 dibahas oleh kelompok 1 dan 2, kasus 2 dibahas oleh kelompok 3 dan 4, dan kasus 3 oleh kelompok 5 dan 6. 11/09/11
  • 49.
    lanjutan Pilih 3kelompok untuk menyajikan hasil diskusi dalam kegiatan presentasi dalam bentuk panel, 3 kelompok lain menjadi penyanggah untuk kasus yang sama. Kelompok mempresentasikan hasil diskusi dalam waktu 15 menit termasuk kegiatan tanya jawab. 11/09/11
  • 50.
    lanjutan Kasus 1Bapak M, usia 55 tahun, tinggal bersama dengan istri dan anak menantu. Sejak 3 bulan yang lalu, Bapak M merasa sering mengalami cepat lapar, sering haus, dan sering kencing. Bapak M merasa gelisah memikirkan apa penyakitnya yang dideritanya, merasa berdebar dan was-was jika memikirkan gejala yang dirasakan. Selama ini tidak melakukan perawatan khusus untuk mengatasi masalahnya karena bapak M merasa ini penyakit orang yang sudah tua. 11/09/11
  • 51.
    lanjutan Kasus 2Ibu S, usia 45 tahun, mengeluh sering pusing dan sakit kepala. Akhir-akhir ini badanya sering merasa lemas dan cepat capek sehingga malas melakukan aktifitas termasuk merawat dirinya sendiri. Pola makan tidak ada perubahan, sementara ibu S sering merasa haus. 11/09/11
  • 52.
    lanjutan Kasus 3Bapak D, usia 40 tahun, adalah seorang pembuat tempe dengan cara tradisional. Kedua kaki Bapak D merasakan kebal. Kegiatan bapak D kebanyakan menggunakan kaki, dan cenderung tidak menggunakan alas kaki karena harus kontak langsung dengan bahan kacang kedelai ketika proses pengolahan tempe. Terdapat luka kecil di sela-sela kelingking dari kedua kakinya. 11/09/11
  • 53.
    lanjutan Tugas dalamkelompok: Rumuskan diagnosa keperawatan sesuai kasus Buat rencana keperawatan yang terdiri dari tujuan umum, tujuan khusus, rencana tindakan, dan kriteria evaluasi Presentasikan 11/09/11
  • 54.
    LEMBAR KERJA 3 Panduan Praktik Lapangan Setiap peserta pelatihan, diberikan waktu untuk melakukan praktik asuhan keperawatan di wilayah tertentu yang ditentukan oleh panitia. Dalam kegiatan praktik lapangan, setiap peserta yang mendapatkan kesempatan untuk melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan DM, tugas peserta adalah: Melakukan pengkajian keperawatan sesuai kasus klien dengan DM 11/09/11
  • 55.
    lanjutan Melakukan pemeriksaanfisik yang berkaitan dengan keluhan utama klien DM Menyusun perencanaan keperawatan sesuai data yang teridentifikasi pada klien DM Melakukan implementasi terhadap diagnosa keperawatan utama yang teridentifikasi dari klien DM 11/09/11
  • 56.
    lanjutan Mengevaluasi implementasikeperawatan sesuai rencana intervensi untuk klien DM Mendokumentasikan asuhan keperawatan yang dilakkan pada klien DM Mendesiminisaikan hasil asuhan keperawatan sesuai jadwal yang ditentukan 11/09/11
  • 57.
    Terima kasih .. . Wassalamu'alaikum Wr. Wb.