POJOK TEORI 1
Sandra Petronio
COMMUNICATION PRIVACY MANAGEMENT THEORY
(TEORI PENGELOLAAN PRIVASI KOMUNIKASI)
Oleh Antar Venus
After all, everybody has secrets and there are some things
that nobody knows about you but only you, right?
Halle Berry
Waktu itu tahun 2005, sekitar bulan September hari selasa pagi tiba-tiba istri saya
berteriak kegirangan di ruang tamu. Ia mendapatkan pemberitahuan menjadi pemenang
pertama undian Philips dan mendapat hadiah grand prize sebuah mobil Avanza.
Alhamdulillah kami serempak berucap syukur kepada Tuhan. Masih terasa betapa
gembiranya suasana saat itu. Terlebih tetangga juga turut nimbrung meyakinkan bahwa
surat itu benar. Dalam pemberitahuan itu dikatakan agar hadiah diambil pada hari rabu
paling lambat pukul 12 siang. Praktis waktu yang tersisa tidak sampai 24 jam. Sementara
uang pajak undian sebesar 25 persen harus ditransfer sesegera mungkin agar undian dapat
langsung dieksekusi.
Di tengah kegembiraan itu, ternyata pada sore harinya datang lagi pemberitahuan
serupa.Kali ini untuk anak saya. Surat itu sama persis dengan yang diterima istri saya tadi
pagi. Keaslian surat tampak dari cap dan tandatangan petugas kepolisian, notaris, petugas
Departemen Sosial dan nama penandatangan pemberitahuan resmi tersebut. Bahkan
nama-nama petugas yang tercantum dan menandatangani surat tersebut persis sama.
Diterimanya surat kedua tersebut kontan menyadarkan kami bahwa itu merupakan upaya
penipuan.
POJOK TEORI 2
Istri saya betul-betul marah saat itu. Bukan karena hadiahnya tidak jadi diterima,
tapi karena informasi tentang dirinya yang semata untuk dibagikan dengan panitia
undian ternyata dibocorkan kepada orang lain yang bermaksud jahat. Disengaja atau tidak
perbuatan panitia undian philips sudah salah ujarnya. Menurut pendapatnya data pribadi
para peserta undian tersebut seharusnya dimusnahkan atau dibakar setelah proses
pengundian usai dilakukan. Dengan begitu tidak akan jatuh kepada pihak lain yang tidak
berhak.
Cerita teman saya lain lagi. Dia merasa temannya yang telah dititipi ‘curhat’nya
yang sangat pribadi ternyata bercerita pada dua orang teman lain yang justru dikeluhkan
dalam curhat tersebut. Hal itu betul-betul menyakitkan hatinya. Selama satu minggu Ia
kemudian mengurung diri di dalam kamar, merasa tidak nyaman dan terpukul. Dia
merasa dihianati oleh orang yang Dia anggap dekat. Teman yang seharusnya ikut
menjaga rahasia tersebut, yang seharusnya turut menjaga harga dirinya ternyata tidak bisa
menjaga amanat. Belakangan diketahui bahwa temannya itu memperoleh keuntungan
pribadi dari pembocoran rahasia itu. Sejak itu berakhirlah hubungan persahabatan
mereka. Ternyata ketidakmampuan menjaga rahasia orang lain itu betul-betul berefek
buruk pada hubungan diantara mereka.
Kedua cerita diatas menarik perhatian saya karena beberapa alasan. Pertama
selama kita hidup, kita selalu akan berurusan dengan informasi yang bersifat pribadi.
Informasi ini mungkin sangat kita rahasiakan atau setidaknya bila kita ingin membaginya
kita hanya melakukannya dengan orang-orang tertentu yang kita percayai. Kedua, Kita
juga sering menyaksikan bahkan mengalami sendiri tindakan berbagi informasi pribadi
bersama orang lain yang kita percayai. Kepada mereka yang mendapat limpahan
informasi pribadi tersebut—apalagi bila sangat rahasia—kita mengharapkan agar yang
bersangkutan turut menjaga kerahasiaan tersebut dan tidak membaginya kepada orang
lain tanpa ijin kita. Kita ingin tetap memiliki kontrol atas informasi yang kita ceritak
kepada pihak lain tersebut untuk kenyamanan diri kita. Ketiga, kita juga tidak jarang
menyaksikan adanya orang yang bersikap tidak amanah, yang menceritakan kembali
informasi pribadi yang dia peroleh kepada pihak lain yang akhirnya menimbuklkan
ketidaknyamanan pada orang yang mencurahkan informasi tersebut. ketika amanat untuk
POJOK TEORI 3
menjaga rahasia itu dilanggar kita juga melihat munculnya ketegangan diantara individu
yang berbagi informasi tersebut.
Ketegangan hubungan akibat pembocoran informasi pribadi ini menjadi
pengalaman dan cerita sehari-hari di sekitar kita. Kita bahkan menyaksikan efek dari
pembocoran rahasia itu bukan hanya menimbulkan ketidakpercayaan pada orang yang
dititipi rahasia, tapi bisa sampai pada perusakan hubungan bahkan konflik fisik yang
saling menghancurkan. Lalu bagaimana kita bisa memahami fenomena ini secara ilmiah?
Sandra Petronio seorang peneliti yang sangat dihormati di bidang riset
komunikasi privasi, kerahasiaan, dan pengungkapan (disclosure) menawarkan kepada
kita sebuah teori yang solid yang dapat menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek
yang terkait dengan perilaku pengelolaan informasi pribadi tersebut. Teori yang oleh
Petronio dinamai Communication Privacy Management (CPM) theory ini menjelaskan
lima prisnsip yang menjadi keyakinan dasar tindakan pengelolaan komunikasi yang
terkait dengan pengungkapan (revealing) atau penyembunyian (concealing) informasi
pribadi atau informasi yang bersifat rahasia.
Teori Petronio ini secara luas diakui oleh komunitas ilmuwan komunikasi
sebagai terobosan di bidang penelitian tentang fenomena penggungkapan dan
pengelolaan rahasia pribadi. Bahkan Bukunya yang memuat secara lengkap tentang teori
ini, Boundaries of Privacy: Dialectics of Disclosure memenangi penghargaan Gerald R.
Miller Award dari National Communications Association tahun 2003 dan juga
memperoleh penghargaan IARR Book Award dari the International Association for
Relationship Research tahun 2004.
Kisah awal yang melatarbelakangi ketertarikan Petronio terhadap teori ini adalah
ketidakpuasannya atas jawaban teori Self-Disclosure yang dikemukakan Sydney Jourad
tentang aturan yang terkait dengan pengungkapan informasi pribadi/rahasia (Petronio
dalam Littlejohn & Foss, 2009:797). Menurut teori Jourad-- yang malang melintang di
jagad pemikiran komunikasi sepanjang tahun 1960-an hingga 1980-an-- pengungkapan
diri (tentang infomasi yang dimiliki sendiri) merupakan aspek yang penting untuk
membangun hubungan yang semakin sehat dan semakin dekat. Juga menurut self-
disclosure semakin kita membuka diri kepada orang lain maka semakin orang lain akan
paham tentang kita yang berujung pada semakin baiknya kualitas hubungan kita dengan
POJOK TEORI 4
orang lain. Jadi menurut teori ini ada hubungan langsung antara pengungkapan diri
dengan kualitas hubungan yang terbangun di antara pihak yang terlibat.
Pada kenyataanya fakta di lapangan menunjukkan situasi yang tidak sesederhana
itu. Menurut Petronio pengungkapan harus memperhatikan apakah informasi yang
disampaikan bersifat pribadi atau publik. Pengungkapan juga seharusnya
mempertimbangkan dialektika antara tindakan ingin ‘mengatakan’ yang berarti
menjadikan suatu informasi menjadi milik publik dan ‘menyembunyikan’ yang
menempatkan informasi tersebut tetap milik pribadi.
Berdasarkan pengamatan Petronio juga ternyata pengungkapan diri tidak selalu
memiliki kaitan dengan pengembangan hubungan dengan orang lain, apalagi menjadikan
sebuah hubungan semakin akrab. Lebih jauh Petronio juga mempertanyakan apakah
informasi pribadi/rahasia yang diungkapkan hanya mencakup informasi yang dimiliki
sendiri ataukah juga mencakup informasi yang dimiliki bersama orang lain. Seringkali
sesuatu yang dikatakan rahasia sebenarnya telah menjadi rahasia sedikit orang artinya
informasi itu sudah dibagi dengan orang-orang yang dipercayai. Fakta ini
memperlihatkan bahwa pengelolaan informasi pribadi yang bersifat rahasia menjadi lebih
kompleks.
Petronio sebagai pengagas teori ini juga menegaskan bahwa pengungkapan diri
tampaknya juga tidak selalu baik dan berakibat positif dalam menumbuhkan rasa
kedekatan atau rasa saling percaya. Hal ini bisa terjadi karena variabel yang
mempengaruhi kemanfaatan pengungkapan tidak hanya terkait isi ungkapan tapi juga
mencakup kesediaan yang menerima pengungkapan (confidant), persepsi penerima
ungkapan, derajat ekspektasi, latar dan situasi tempat pengungkapan, kepercayaan,
kedekatan hubungan diantara pihak yang terlibat, hingga aspek budaya. Pokoknya tidak
kurang dari dua puluh pertanyaan/gagasan yang muncul di benak Petronio ketika
mengupas fenomena pengungkapan informasi pribadi dari sudut pandang self-disclosure.
Bertolak dari pertanyaan dan gagasan inilah Petronio kemudian secara perlahan tapi pasti
mengembangkan teori pengelolaan privasi komunikasi yang kerangka awalnya dipinjam
dari konsep Altman (1975) tentang garis batas (boundary) yang digunakan manusia
ketika berbicara tentang ruang pribadi (personal space), teritori dan kerumunan.
POJOK TEORI 5
Kini Teori CPM telah memiliki basis teoritis yang solid dan semakin luas
digunakan dalam ranah penelitian komunikasi. Untuk sampai pada kematangan teoritik
ini Petronio melewati jalan yang tidak mudah dan harus senantiasa siap menjawab kritik
dan tantangan yang disampaikan berbagai peneliti komunikasi yang terkadang sangat
menyederhanakan masalah bahkan menganggap remeh daya guna dan daya gugah
(heuristik) teori ini dalam mengembangkan riset dibidang komunikasi. Untuk sampai
pada titik ini Petronio juga membutuhkan waktu hampir dua puluh tahun. Dimulai dari
gagasan awal teori ini dan mengumpulkan bukti-bukti empirisnya sepanjang dasawarsa
1980-an, lalu menuliskannya secara lengkap dalam buku ‘Balancing the secrets of
private disclosures” yang terbit tahun 2000, hingga akhirnya melengkapi pembahasan
tentang kelima prinsip teorinya dalam buku Boundaries of Privacy: Dialectics of
Disclosure yang terbit dua tahun kemudian.
ESENSI TEORI
Tiga kata yang digunakan Petronio untuk menamai teorinya yakni Management,
Communication, dan Privacy tidaklah memiliki pengertian yang sangat khusus. Kata
Privacy (privasi) yang menjadi inti dari teori ini diartikan sebagai the feeling that one has
the right to own private information, atau perasaan bahwa seseorang memiliki hak atas
informasi yang mereka miliki. Kata Management sendiri diartikan sebagai cara
mengendalikan yang menyiratkan adanya kemampuan manusia mengelola perilaku
komunikasinya sendiri. Sedangkan kata Communication diartikan sebagai tindakan
berbagi informasi dengan orang lain. Dengan demikian secara sederhana yang dimaksud
dengan Communication Privacy Management adalah cara orang-orang mengendalikan
informasi (pribadi) yang mereka miliki.
Dalam buku Boundaries of Privacy: Dialectics of Disclosure (2002) Petronio
menjelaskan lebih lanjut bahwa Teori Communication Privacy Management (selanjutnya
disingkat CPM) merupakan kerangka untuk memahami bagaimana orang mengambil
keputusan untuk mengungkapkan atau tetap menyimpan informasi pribadi milik mereka
ketika membangun hubungan dengan orang lain. Jadi teori ini memfokuskan analisisnya
pada bagaimana cara orang mengelola informasi pribadi yang mereka miliki pada saat
POJOK TEORI 6
berinteraksi dengan orang lain. Menurut teori ini berbagai informasi pribadi yang kita
miliki tidak selalu atau selamanya kita pegang sendiri. Kita juga merasakan adanya
dorongan untuk membaginya dengan orang lain (Petrionio & Serewicz, 2007).
Pertanyaan yang muncul kemudian, informasi seperti apa yang masuk kategori pribadi
tersebut? Bagaimana kita menetapkan garis batas (boundaries) antara informasi pribadi
dan informasi publik? Kepada siapa kita mau membaginya? Seberapa banyak? apabila
kita membagi informasi tersebut dengan orang lain, apa kewajiban yang kita harapkan
dari orang yang mendapat bocoran informasi tersebut? Lalu, Apa efek yang timbul bila
kewajiban atau amanat itu dilanggar? Inilah pertanyaan awal yang diajukan petronio
ketika meneliti fenomena pengungkapan informasi pribadi.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan selama hampir dua puluh tahun,
Petronio (Whaley & Samter, 2007) kemudian menjelaskan bahwa perilaku komunikasi
manusia dalam mengendalikan informasi pribadi yang dimiliki dapat dijelaskan melalui
lima prinsip atau asumsi teoritis (theoritical assumptions) dan tiga proses pengelolaan
aturan (rule management process). Kelima asumsi teoritis tersebut meliputi (1) informasi
pribadi merupakan isi dari pengungkapan, (2) terdapat metafora ‘garis batas’ yang
memisahkan antara yang pribadi dan publik, (3) orang berkehendak mengendalikan
informasi pribadi tersebut karena informasi itu miliknya dan membukanya kepada pihak
lain akan membuat Ia berada dalam situasi riskan (vulnerable), (4) orang menggunakan
sistem berdasarkan aturan pribadi untuk mengelola informasi pribadi tersebut dalam
interaksi, dan terakhir (5) apabila kordinasi aturan pribadi gagal dilakukan maka akan
terjadi dialektika ketegangan hubungan diantara pihak yang terlibat.
Dalam prinsip pertama yang menyatakan informasi pribadi merupakan inti dari
pengungkapan (the heart of disclosure), teori ini menunjukkan perbedaanya dengan teori-
teori pengungkapan (disclosure) lainnya yang mempersamakan pengungkapan dengan
kedekatan hubungan atau menyatakan bahwa pengungkapan hanya terkait dengan
tindakan berbagi informasi tentang diri sendiri semata sebagaimana dinyatakan oleh self-
disclosure Theory (Petronio dalam Whaley dan Shamter, 2007).
Menurut prinsip pertama ini informasi pribadi diartikan sebagai informasi yang
tidak bisa diakses oleh orang lain. Dalam beberapa kasus informasi ini berkaitan dengan
diri sendiri seperti penyakit yang diidap seseorang, jumlah hutang yang dipunyai, atau
POJOK TEORI 7
sekadar status pernikahan seseorang. Pada kasus lain informasi itu bisa jadi bukan hanya
milik anda sendiri, tapi juga dimiliki bersama dengan keluarga anda, sahabat anda, rekan
kerja, kelompok pertemanan, atau bahkan organisasi yang anda masuki. Informasi
tentang kesehatan anda misalnya, mungkin bukan hanya milik anda dan dokter yang
memeriksa, tapi juga bisa jadi diketahui oleh anggota keluarga lainnya. Akan tetapi hal
itu tetap informasi rahasia keluarga yang tertutup bagi orang luar. Perasaan cinta
terpendam seorang remaja mungkin juga dibagi kepada temannya, tapi ini tetap menjadi
rahasia pribadi meskipun dimiliki bersama orang lain. Jadi berbeda dengan teori self-
disclosure yang menyatakan bahwa informasi pribadi hanya mencakup informasi yang
dimiliki seseorang saja, Teori CPM menegaskan bahwa informasi pribadi adalah
informasi apa saja yang tertutup bagi akses orang lain diluar orang-orang yang
dipercayai untuk turut memegang informasi pribadi atau rahasia tersebut.
Dalam kerangka teori CPM hal-hal yang termasuk informasi pribadi juga sangat
bervariasi mulai dari umur anda, status pernikahan, jumlah anak, pendidikan, hobi,
pilihan dalam pemilu, sikap terhadap petisi yang dilakukan dikampus, peristiwa
memalukan yang anda saksikan, penilaian kita tentang perbuatan seseorang, kehilafan
yang pernah kita lakukan, pekerjaan seseorang yang harus dirahasiakan, penyakit yang
kita idap, atau apa saja informasi yang kita miliki yang tidak ingin kita bagi dengan orang
lain. Dalam kerangka asumsi teoritis ini juga dijelaskan bahwa kepemilikan terhadap
informasi pribadi tersebut kemudian memunculkan keyakinan bahwa mereka memiliki
hak untuk mengontrol akses orang lain terhadap informasi pribadi yang dimiliki. Jadi
apabila anda terdeksi tertular penyakit tuberculosis misalnya, yang menurut anda sangat
memalukan, maka anda dapat memutuskan untuk menyimpan informasi itu hanya untuk
anda, tanpa perlu membaginya dengan orang lain.
Prinsip kedua dari teori ini menjelaskan bahwa terdapat metafora ‘garis batas’
yang memisahkan antara yang pribadi dan publik. Dalam kenyataan sehari-hari kita
sangat sering melihat orang membuat pagar untuk membatasi halaman miliknya (wilayah
pribadi) dengan jalan di depan rumah (wilayah publik). Bila batas ini berupa pagar besi
maka lewat celah pagar orang mungkin masih bisa melihat kedalam halaman, namun bila
batas itu berupa tembok maka orang akan sulit memandang ke dalam. Dengan cara yang
sama, orang juga membuat batas (boundaries) untuk informasi yang mereka anggap
POJOK TEORI 8
bersifat pribadi. Orang bisa memiliki batas yang luas yang berarti banyak informasi
pribadi yang disimpannya, Atau garis batas yang sempit yang mengartikan hanya sedikit
informasi yang mereka miliki sendiri. Garis batas itu juga berbeda dalam hal daya
tembusnya (permeability), dalam konteks ini dapat dikatakan bahwa orang menggunakan
standar yang berbeda dalam mengatur informasi yang mengalir ke dalam atau keluar dari
garis batas pribadi.
Menurut Petronia anak-anak umumnya memiliki garis batas yang kecil dan sangat
mudah ditembus. Orang tua biasanya memiliki akses yang sangat besar terhadap
informasi pribadi mereka. Di sisi lain, para remaja lebih memiliki kemampuan untuk
menjaga informasi pribadi dari akses orang tua. Para remaja ini umumnya lebih baik dari
anak-anak dalam mengendalikan informasi pribadi mereka, itu sebabnya mereka
memiliki garis batas yang lebih luas dan agak sedikit sukar ditembus. Proses yang
menunjukkan kecenderungan remaja untuk mulai membatasi informasi pribadi dari pihak
lain ini disebut sebagai proses ‘deindividuasi’ yang menunjukkan semakin besarnya
otonomi mereka dalam mengelola informasi pribadi. Semakin dewasa seseorang maka
semakin besar otonomiterhadap informasi pribadinya. Perubahan luas garis batas pribadi
ini menunjukkan bahwa garis batas tersebut dapat berubah seiring berjalannya waktu.
Perumpamaan garis batas pribadi yang digunakan dalam teori ini juga
menunjukkan rentang kendali atas informasi pribadi yang dimiliki. Oleh karena orang
mempercayai bahwa mereka memiliki hak untuk mengendalikan garis batas sekitar
informasi pribadi mereka, maka cara mereka mengendalikan batas tersebut adalah dengan
menerapkan aturan pribadi kepada siapa, dan berapa banyak informasi yang dapat
dikemukakan. Aturan pribadi ini seringkali terkait dengan aspek budaya, motivasi,
perkiraan resiko, kebutuhan situasional, dan gender. Mereka juga memiliki karakteristik
perubahan. Itu sebabnya ketika sepasang suami istri bercerai maka mereka tidak lagi
menggunakan aturan pribadi yang sama seperti ketika mereka masih terikat tali
pernikahan.
Prinsip selanjutnya dari teori ini menyatakan bahwa orang berkehendak
mengendalikan informasi pribadi tersebut karena informasi itu milik mereka dan
membukanya kepada pihak lain akan membuat mereka berada dalam situasi riskan
(vulnerable). Prinsip ini juga menegaskan bahwa ketika seseorang (owner)
POJOK TEORI 9
mengungkapkan informasi pribadi dengan seseorang maka orang tersebut akan juga
menjadi pemilik infomasi (co-owner). Oleh karena alasan ini maka seseorang yang
mendapatkan limpahan informasi tersebut harus turut menjaga kerahasiaan dan
kemungkinan informasi tersebut diakses oleh pihak ketiga. Misalnya bila seseorang
kakak bercerita kepada adiknya bahwa ia gagal dalam ujian semester dan harus
mengulang tahun depan, si adik yang dipercayai memegang informasi tersebut akan tahu
bahwa kakaknya akan sangat malu bila ia menceritakan hal tersebut kepada anggota
keluarga lainnya. Dalam konteks ini seseorang akan mengalami beberapa dilema.....
Prinsip keempat menyatakan bahwa orang menggunakan sistem berdasarkan
aturan pribadi untuk mengelola informasi pribadi dalam interaksi. Menurut prinsip ini
begitu seseorang melakukan pengungkapan, maka untuk memastikan bahwa garis batas
informasi pribadi tersebut dilakukan secara selaras dan sesuai cara yang diharapkan dari
akses pihak ketiga, diperlukan kordinasi aturan pribadi di antara kedua pihak. Dalam
kaitan ini CPM menjelaskan terdapat tiga jenis kordinasi yang dapat dilakukan yakni (1)
Kordinasi aturan pribadi antara pemilik informasi awal (owner) dan orang yang diberi
informasi (co-owner) tentang siapa lagi yang boleh tahu informasi ini, (2) mereka
berkordinasi tentang aturan seberapa banyak informasi yang dapat diberikan kepada
oranglain, dan terakhir (3) mereka berkordinasi aturan kepemilikan, maksudnya seberapa
besar orang yang dipercayai memegang informasi itu memiliki hak untuk mengelola
informasi pribadi tersebut.
Prinsip terakhir menyatakan bahwa apabila kordinasi aturan pribadi gagal
dilakukan maka akan terjadi dialektika ketegangan hubungan diantara pihak yang terlibat.
Prinsip secara gamblang mengatakan bahwa bila orang gagal menepati komitmen untuk
mengelola informasi tersebut berdasarkan aturan pribadi yang telah dibuat, maka
ketegangan akan muncul diantara pihak yang terlibat. Ketegangan yang muncul tersebut
dapat mengarah pada hadirnya ketidak percayaan kepada orang yang dibagi informasi
pribadi (co-owner) hingga perusakan hubungan. Konsekuensi lain dari ketegangan
tersebut juga dapat memunculkan situsi dilematis yang menurut Petronio dapat meliputi
tiga jenis dilema yakni (1) confidant dilemma, yang terkait dengan kondisi penerima
informasi, (2) accidenntal dilemma dimana informasi pribadi yang diterima tidak sengaja
membuat seseorang akhirnya menelusuri lebih jauh hal-hal yang terkaita informasi
POJOK TEORI 10
tersebut. Terakhir adalah illicit dilemma, yang terjadi ketika seseorang memata-matai
atau mencari-cari suatu informasi pribadi tiba-tiba mereka mendapatkan informasi yang
menempatkan mereka dalam posisi yang sulit.
Di samping kelima asumsi di atas, Petronio melalui penelitian yang Ia lakukan
bersama Reeder, Hecht, dan Monts Ros–Mendoza tahun 1996, menambah lima konsep
penting yang terkait dengan proses dan perilaku pengungkapan. Kelima konsep tersebut
meliputi; tacit permision, selected the ciscumstancies, incremental disclosure, target
characteristics dan anticipated reactions.
Konsep tacit permision merujuk pada ada-tidaknya indikasi yang menunjukkan
bahwa pihak penerima curhat bersedeia menerima informasi pribadi tersebut. Tanda
tandanya dapat berupa pernyataan peduli pada p[emilik informasi, seperti ungkapan “
kamu ada apa?... Kok lesu amat? Atau sekadar mengatakan ‘saya peduli sama kamu,
tidak usah takut bicara dengan saya, pokoknya dijamin rahasia ini akan tertutup rapat’.
Jadi semua ungkapan yang mengindikasikan bahwa kita bersedia menampung curahan
informasi pribadi baik secara verbal maupun nonverbal merupakan tanda tacit
permission.
Ketika tacit permission tampak hadir, pemilik informasi mungkin akan mencari
tempat atau latar yang memungkinkan yang bersangkutan dapat menciptakan semacam
pintu masuk untuk berbagi informasi pribadi, perilaku yang tampak dalam kaitan ini
misalnya seperti mengajak nonton televisi berdua atau sekadar mengajak ‘ngobrol’ di
ruangan yang sepi yang memungkinkan komunikasi pengungkapan terjalin. Upaya ini
disebut dengan istilah selected the ciscumstancies,
Konsep ketiga incremental disclosure (pengungkapan bertahap) menunjukkan
bahwa komunikasi pengungkapan terjadi secara bertahap. Pemilik informasi tidak akan
mengungkap semua informasi pribadi secara langsung sekaligus, tapi akan melihat reaksi
dan umpan balik yang diberikan oleh penerima informasi pribadi (co-owner). Terkait erat
dengan pengungkapan bertahap adalah konsep target characteristics yakni ciri-ciri orang
yang akan menerima pengungkapan informasi pribadi, apakah orang tersebut dapat
dipercaya atau apakah target penerima informasi (co-owner) tersebut memiliki
kemampuan untuk memahami permasalahan yang akan dinyatakan.
POJOK TEORI 11
Terakhir adalah konsep anticipated reactions. Disini para pengungkap akan
melihat kemungkinanan reaksi yang akan timbul bila pengungkapan dilakukan.Bila
berdasarkan antisipasi itu reaksi yang akan timbul bersifat negatif, maka Ia akan
mempertimbangkan apakah pengungkapan perlu dilakukan atau kemungkinan besar
bahkan mencari target penerima informasi pribadi lain yang dapat memberikan tanggapan
atau reaksi lebih positif.
Meskipun konsep-konsep ini diperoleh dari hasil penelitian tentang fenomena
pengungkapan dalam pelecehan seksual di kalanagan anak-anak, namun daya aplikasi
konsep ini tampaknya bersifat umum, sehingga dapat digunakan sebagai bagian dari
konsep-konsep pokok dalam teori pengelolaan privasi komunikasi@
APLIKASI DAN PERKEMBANGAN TEORI
Menyadari bahwa manusia bukan hanya memiliki dorongan untuk menyimpan
(menyembunyikan) informasi tapi juga dorongan untuk berbagi informasi pribadi kepada
orang lain, saya melihat bersarnya potensi teori ini untuk diterapkan secara praktis dalam
tindakan komunikasi sehari-hari. Melalui perilaku komunikasi yang terbuka, mau
mendengar, empatik, siap membantu, berorientasi pada pemecahan masalah, tidak
menghakimi, dan mampu menjaga rahasia maka semua orang tua, semua sahabat, semua
petugas bimbingan konseling, semua dokter bahkan semua orang yang peduli pada
masalah orang lain dapat menjadi co-owner dalam pemilikan informasi pribadi yang
umumnya rahasia. Terungkapnya informasi yang bersifat pribadi dan rahasia ini akan
membantu kita mengidentifikasi dan memetakan masalah yang dihadapi orang-orang
disekitar kita. Dengan begitu tindakan preventif bahkan kuratif untuk menyelesaikan
maslah secara tepat dapat dilakukan tanpa harus menunggu persoalan menjadi lebih
serius, lebih merugikan dan berkembang tanpa kendali. tanpa harus menghakimi orang
yang melakukan pengungkapan.
POJOK TEORI 12
Kebutuhan orang melakukan pengungkapan tampaknya sangat besar. Terlenih
bila pengungkapan tersebut tanpa disertai penghakiman pada pelaku pengungkapan.
Kenyataan ini dapat dilihat misalnya dengan populernya istulah ‘curhat’ (mencurahkan
isi hati). Semua saluran yang dibangun untuk kepentingan curhat ini juga tampaknya
tidak pernah sepi pengunjung, mulai dari surat pembaca hingga saluran internet. Bahkan
untuk rubrik konsultasi di surat kabar yang membutuhkan keterampilan menulispun tetap
dipenuhi oleh surat-surat yang berisi ungkapan masalah atau rahasia pribadi pembaca. Di
kampus kita juga melihat ruang bimbingan konseling yang dikelola dengan serius dan
kredibel di mata pengunjungnya tetap dipenuhi oleh mahasiwa yang ingin melakukan
konsultasi masalah akademis dan non akademis. Demikian juga pada keluarga yang
menghidupkan fungsi komunikasi di dalamnya, selalu dipenuhi cerita anak-anak yang
secara bebas mengungkapkan isi hati mereka termasuk peristiwa rahasia yang mereka
alami. Pendeknya kita memiliki kebutuhan akan ruang berbagi untuk masalah atau
informasi pribadi yang kita miliki. Jadi peluang untuk menerapkan teori ini sangat
terbuka lebar, dan akan sangat membantu memecahkan berbagai masalah pribadi yang
dihadapi setiap orang.
Petronio sendiri menggunakan teknik-teknik yang dikembangkan dalam teori
CPM untukmembantu menangani pengalaman traumatik anak-anak yang mengalmi
pelecehan seksual, sementara Metzger menggunakan teori ini untuk membuat aturan
komunikasi berkaitan dengan informasi yang boleh dan tidak boleh dibuka dalam trasaksi
electronic commerce.
Dalam aplikasi di bidang penelitian, penggunaan teori CPM tampaknya semakin
populer. Bila pada awalnya teori ini hanya digunakan untuk meneliti pengungkapan
informasi pribadi dalam konteks hubungan antarpribadi yang sangat dekat seperti
keluarga dan persahabatan, maka memasuki dasawarsa 1990-an penerapan teori ini sudah
melebar hingga memasuki fenomena pengungkapan informasi pribadi berupa kesalahan
penanganan medis yang dilakukan dokter, pengungkapan informasi HIV, pengungkapan
melalui saluran radio dan komunikasi kelompok, melalui situs jejaring sosial dan
POJOK TEORI 13
webloging, isu-isu privasi dibidang perdagangan via elektronik (e-commerce) ,
bimbingan konseling dan pelanggaran seksual.
Beberapa penelitian yang dilakukan dengan menggunakan teori ini diantaranya
adalah penelitian tentang pelecehan seksual yang dilakukan Petronio Hecht, dan Monts
Ros–Mendoza tahun 1996, Miriam J Metzger dari Department of Communication,
University of California, Santa Barbara (2007) yang meneliti tentang Communication
Privacy Management in Electronic Commerce
, penelitian Yep tahun 2000 tentang Disclosure of HIV infection in interpersoinal
relationship, penelitian Sargent (2003) yang mengkaji fenomena Nonverbal boundary
coordination, dan penelitian Afifi (2003) tentang “feeling caught” in step families:
managing boundary turbulance through appropriate communication privacy. Hingga
saat ini diperkiran telah dilakukan lebih dari seratus penelitian yang menggunakan teori
ini diseluruh dunia.
Meski popularitas dan minat menggunakan teori ini untuk meneliti fenomena
komunikasi diberbagai negara semakin tinggi, di Indonesia sendiri sejauh yang saya
amati, hingga saat ini belum ada satupun penelitian yang menggunakan teori ini sebagai
kerangka teoritisnya. Dengan semakin meluasnya penggunaan teori ini maka diharapkan
dalam waktu satu-dua tahun ke depan mulai ada kelompok ilmuwan komunikasi yang
tertarik menggunakan teori ini, sehingga dapat ditemukan fakta yang menggambarkan
fenomena pengungkapan informasi pribadi dan pengelolaan garis batas privasi dalam
konteks budaya indonesia@.
POJOK TEORI 14
Daftar Rujukan
Afifi, T.D. (2003) “Feeling caught” in step families: managing boundary turbulance
through appropriate communication privacy.Journal of Social and Personal reelationship.
20.729-755.
Miriam J Metzger (2007) Communication Privacy Management in Electronic Commerce.
November 2, 2007 from http://pewinternet.org/reports/toc.asp?Report=19
Altman, I., & Taylor, D. A. (1973). Social Penetration: The Development of
Interpersonal Relationships. New York: Holt, Rinehart, & Winston.
Petronio, S. (2002). Boundaries of Privacy: Dialectics of Disclosure. Albany, NY: State
University of New York Press.
Petronio, S. (2007). Privacy Mangement Theory, dalam Encyclopedia of Communication
theory, Littlejohn & Karen A, Foss. LA: Sage Publication.
Whaley, B, Bryan & Wendy Samter, (2007). Expalining Communication. Mahwah New
jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers
West, R., L., & Turner, L. H. (2004). Introducing Communication Theory: Analysis and
Application (2nd
ed.). Boston: McGraw-Hill.
White, T. B. (2004). Consumer disclosure and disclosure avoidance: A motivational
framework. Journal of Consumer Psychology, 14 (1&2), 41-51.

Artikel CPM (Communication Privacy Management)

  • 1.
    POJOK TEORI 1 SandraPetronio COMMUNICATION PRIVACY MANAGEMENT THEORY (TEORI PENGELOLAAN PRIVASI KOMUNIKASI) Oleh Antar Venus After all, everybody has secrets and there are some things that nobody knows about you but only you, right? Halle Berry Waktu itu tahun 2005, sekitar bulan September hari selasa pagi tiba-tiba istri saya berteriak kegirangan di ruang tamu. Ia mendapatkan pemberitahuan menjadi pemenang pertama undian Philips dan mendapat hadiah grand prize sebuah mobil Avanza. Alhamdulillah kami serempak berucap syukur kepada Tuhan. Masih terasa betapa gembiranya suasana saat itu. Terlebih tetangga juga turut nimbrung meyakinkan bahwa surat itu benar. Dalam pemberitahuan itu dikatakan agar hadiah diambil pada hari rabu paling lambat pukul 12 siang. Praktis waktu yang tersisa tidak sampai 24 jam. Sementara uang pajak undian sebesar 25 persen harus ditransfer sesegera mungkin agar undian dapat langsung dieksekusi. Di tengah kegembiraan itu, ternyata pada sore harinya datang lagi pemberitahuan serupa.Kali ini untuk anak saya. Surat itu sama persis dengan yang diterima istri saya tadi pagi. Keaslian surat tampak dari cap dan tandatangan petugas kepolisian, notaris, petugas Departemen Sosial dan nama penandatangan pemberitahuan resmi tersebut. Bahkan nama-nama petugas yang tercantum dan menandatangani surat tersebut persis sama. Diterimanya surat kedua tersebut kontan menyadarkan kami bahwa itu merupakan upaya penipuan.
  • 2.
    POJOK TEORI 2 Istrisaya betul-betul marah saat itu. Bukan karena hadiahnya tidak jadi diterima, tapi karena informasi tentang dirinya yang semata untuk dibagikan dengan panitia undian ternyata dibocorkan kepada orang lain yang bermaksud jahat. Disengaja atau tidak perbuatan panitia undian philips sudah salah ujarnya. Menurut pendapatnya data pribadi para peserta undian tersebut seharusnya dimusnahkan atau dibakar setelah proses pengundian usai dilakukan. Dengan begitu tidak akan jatuh kepada pihak lain yang tidak berhak. Cerita teman saya lain lagi. Dia merasa temannya yang telah dititipi ‘curhat’nya yang sangat pribadi ternyata bercerita pada dua orang teman lain yang justru dikeluhkan dalam curhat tersebut. Hal itu betul-betul menyakitkan hatinya. Selama satu minggu Ia kemudian mengurung diri di dalam kamar, merasa tidak nyaman dan terpukul. Dia merasa dihianati oleh orang yang Dia anggap dekat. Teman yang seharusnya ikut menjaga rahasia tersebut, yang seharusnya turut menjaga harga dirinya ternyata tidak bisa menjaga amanat. Belakangan diketahui bahwa temannya itu memperoleh keuntungan pribadi dari pembocoran rahasia itu. Sejak itu berakhirlah hubungan persahabatan mereka. Ternyata ketidakmampuan menjaga rahasia orang lain itu betul-betul berefek buruk pada hubungan diantara mereka. Kedua cerita diatas menarik perhatian saya karena beberapa alasan. Pertama selama kita hidup, kita selalu akan berurusan dengan informasi yang bersifat pribadi. Informasi ini mungkin sangat kita rahasiakan atau setidaknya bila kita ingin membaginya kita hanya melakukannya dengan orang-orang tertentu yang kita percayai. Kedua, Kita juga sering menyaksikan bahkan mengalami sendiri tindakan berbagi informasi pribadi bersama orang lain yang kita percayai. Kepada mereka yang mendapat limpahan informasi pribadi tersebut—apalagi bila sangat rahasia—kita mengharapkan agar yang bersangkutan turut menjaga kerahasiaan tersebut dan tidak membaginya kepada orang lain tanpa ijin kita. Kita ingin tetap memiliki kontrol atas informasi yang kita ceritak kepada pihak lain tersebut untuk kenyamanan diri kita. Ketiga, kita juga tidak jarang menyaksikan adanya orang yang bersikap tidak amanah, yang menceritakan kembali informasi pribadi yang dia peroleh kepada pihak lain yang akhirnya menimbuklkan ketidaknyamanan pada orang yang mencurahkan informasi tersebut. ketika amanat untuk
  • 3.
    POJOK TEORI 3 menjagarahasia itu dilanggar kita juga melihat munculnya ketegangan diantara individu yang berbagi informasi tersebut. Ketegangan hubungan akibat pembocoran informasi pribadi ini menjadi pengalaman dan cerita sehari-hari di sekitar kita. Kita bahkan menyaksikan efek dari pembocoran rahasia itu bukan hanya menimbulkan ketidakpercayaan pada orang yang dititipi rahasia, tapi bisa sampai pada perusakan hubungan bahkan konflik fisik yang saling menghancurkan. Lalu bagaimana kita bisa memahami fenomena ini secara ilmiah? Sandra Petronio seorang peneliti yang sangat dihormati di bidang riset komunikasi privasi, kerahasiaan, dan pengungkapan (disclosure) menawarkan kepada kita sebuah teori yang solid yang dapat menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek yang terkait dengan perilaku pengelolaan informasi pribadi tersebut. Teori yang oleh Petronio dinamai Communication Privacy Management (CPM) theory ini menjelaskan lima prisnsip yang menjadi keyakinan dasar tindakan pengelolaan komunikasi yang terkait dengan pengungkapan (revealing) atau penyembunyian (concealing) informasi pribadi atau informasi yang bersifat rahasia. Teori Petronio ini secara luas diakui oleh komunitas ilmuwan komunikasi sebagai terobosan di bidang penelitian tentang fenomena penggungkapan dan pengelolaan rahasia pribadi. Bahkan Bukunya yang memuat secara lengkap tentang teori ini, Boundaries of Privacy: Dialectics of Disclosure memenangi penghargaan Gerald R. Miller Award dari National Communications Association tahun 2003 dan juga memperoleh penghargaan IARR Book Award dari the International Association for Relationship Research tahun 2004. Kisah awal yang melatarbelakangi ketertarikan Petronio terhadap teori ini adalah ketidakpuasannya atas jawaban teori Self-Disclosure yang dikemukakan Sydney Jourad tentang aturan yang terkait dengan pengungkapan informasi pribadi/rahasia (Petronio dalam Littlejohn & Foss, 2009:797). Menurut teori Jourad-- yang malang melintang di jagad pemikiran komunikasi sepanjang tahun 1960-an hingga 1980-an-- pengungkapan diri (tentang infomasi yang dimiliki sendiri) merupakan aspek yang penting untuk membangun hubungan yang semakin sehat dan semakin dekat. Juga menurut self- disclosure semakin kita membuka diri kepada orang lain maka semakin orang lain akan paham tentang kita yang berujung pada semakin baiknya kualitas hubungan kita dengan
  • 4.
    POJOK TEORI 4 oranglain. Jadi menurut teori ini ada hubungan langsung antara pengungkapan diri dengan kualitas hubungan yang terbangun di antara pihak yang terlibat. Pada kenyataanya fakta di lapangan menunjukkan situasi yang tidak sesederhana itu. Menurut Petronio pengungkapan harus memperhatikan apakah informasi yang disampaikan bersifat pribadi atau publik. Pengungkapan juga seharusnya mempertimbangkan dialektika antara tindakan ingin ‘mengatakan’ yang berarti menjadikan suatu informasi menjadi milik publik dan ‘menyembunyikan’ yang menempatkan informasi tersebut tetap milik pribadi. Berdasarkan pengamatan Petronio juga ternyata pengungkapan diri tidak selalu memiliki kaitan dengan pengembangan hubungan dengan orang lain, apalagi menjadikan sebuah hubungan semakin akrab. Lebih jauh Petronio juga mempertanyakan apakah informasi pribadi/rahasia yang diungkapkan hanya mencakup informasi yang dimiliki sendiri ataukah juga mencakup informasi yang dimiliki bersama orang lain. Seringkali sesuatu yang dikatakan rahasia sebenarnya telah menjadi rahasia sedikit orang artinya informasi itu sudah dibagi dengan orang-orang yang dipercayai. Fakta ini memperlihatkan bahwa pengelolaan informasi pribadi yang bersifat rahasia menjadi lebih kompleks. Petronio sebagai pengagas teori ini juga menegaskan bahwa pengungkapan diri tampaknya juga tidak selalu baik dan berakibat positif dalam menumbuhkan rasa kedekatan atau rasa saling percaya. Hal ini bisa terjadi karena variabel yang mempengaruhi kemanfaatan pengungkapan tidak hanya terkait isi ungkapan tapi juga mencakup kesediaan yang menerima pengungkapan (confidant), persepsi penerima ungkapan, derajat ekspektasi, latar dan situasi tempat pengungkapan, kepercayaan, kedekatan hubungan diantara pihak yang terlibat, hingga aspek budaya. Pokoknya tidak kurang dari dua puluh pertanyaan/gagasan yang muncul di benak Petronio ketika mengupas fenomena pengungkapan informasi pribadi dari sudut pandang self-disclosure. Bertolak dari pertanyaan dan gagasan inilah Petronio kemudian secara perlahan tapi pasti mengembangkan teori pengelolaan privasi komunikasi yang kerangka awalnya dipinjam dari konsep Altman (1975) tentang garis batas (boundary) yang digunakan manusia ketika berbicara tentang ruang pribadi (personal space), teritori dan kerumunan.
  • 5.
    POJOK TEORI 5 KiniTeori CPM telah memiliki basis teoritis yang solid dan semakin luas digunakan dalam ranah penelitian komunikasi. Untuk sampai pada kematangan teoritik ini Petronio melewati jalan yang tidak mudah dan harus senantiasa siap menjawab kritik dan tantangan yang disampaikan berbagai peneliti komunikasi yang terkadang sangat menyederhanakan masalah bahkan menganggap remeh daya guna dan daya gugah (heuristik) teori ini dalam mengembangkan riset dibidang komunikasi. Untuk sampai pada titik ini Petronio juga membutuhkan waktu hampir dua puluh tahun. Dimulai dari gagasan awal teori ini dan mengumpulkan bukti-bukti empirisnya sepanjang dasawarsa 1980-an, lalu menuliskannya secara lengkap dalam buku ‘Balancing the secrets of private disclosures” yang terbit tahun 2000, hingga akhirnya melengkapi pembahasan tentang kelima prinsip teorinya dalam buku Boundaries of Privacy: Dialectics of Disclosure yang terbit dua tahun kemudian. ESENSI TEORI Tiga kata yang digunakan Petronio untuk menamai teorinya yakni Management, Communication, dan Privacy tidaklah memiliki pengertian yang sangat khusus. Kata Privacy (privasi) yang menjadi inti dari teori ini diartikan sebagai the feeling that one has the right to own private information, atau perasaan bahwa seseorang memiliki hak atas informasi yang mereka miliki. Kata Management sendiri diartikan sebagai cara mengendalikan yang menyiratkan adanya kemampuan manusia mengelola perilaku komunikasinya sendiri. Sedangkan kata Communication diartikan sebagai tindakan berbagi informasi dengan orang lain. Dengan demikian secara sederhana yang dimaksud dengan Communication Privacy Management adalah cara orang-orang mengendalikan informasi (pribadi) yang mereka miliki. Dalam buku Boundaries of Privacy: Dialectics of Disclosure (2002) Petronio menjelaskan lebih lanjut bahwa Teori Communication Privacy Management (selanjutnya disingkat CPM) merupakan kerangka untuk memahami bagaimana orang mengambil keputusan untuk mengungkapkan atau tetap menyimpan informasi pribadi milik mereka ketika membangun hubungan dengan orang lain. Jadi teori ini memfokuskan analisisnya pada bagaimana cara orang mengelola informasi pribadi yang mereka miliki pada saat
  • 6.
    POJOK TEORI 6 berinteraksidengan orang lain. Menurut teori ini berbagai informasi pribadi yang kita miliki tidak selalu atau selamanya kita pegang sendiri. Kita juga merasakan adanya dorongan untuk membaginya dengan orang lain (Petrionio & Serewicz, 2007). Pertanyaan yang muncul kemudian, informasi seperti apa yang masuk kategori pribadi tersebut? Bagaimana kita menetapkan garis batas (boundaries) antara informasi pribadi dan informasi publik? Kepada siapa kita mau membaginya? Seberapa banyak? apabila kita membagi informasi tersebut dengan orang lain, apa kewajiban yang kita harapkan dari orang yang mendapat bocoran informasi tersebut? Lalu, Apa efek yang timbul bila kewajiban atau amanat itu dilanggar? Inilah pertanyaan awal yang diajukan petronio ketika meneliti fenomena pengungkapan informasi pribadi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan selama hampir dua puluh tahun, Petronio (Whaley & Samter, 2007) kemudian menjelaskan bahwa perilaku komunikasi manusia dalam mengendalikan informasi pribadi yang dimiliki dapat dijelaskan melalui lima prinsip atau asumsi teoritis (theoritical assumptions) dan tiga proses pengelolaan aturan (rule management process). Kelima asumsi teoritis tersebut meliputi (1) informasi pribadi merupakan isi dari pengungkapan, (2) terdapat metafora ‘garis batas’ yang memisahkan antara yang pribadi dan publik, (3) orang berkehendak mengendalikan informasi pribadi tersebut karena informasi itu miliknya dan membukanya kepada pihak lain akan membuat Ia berada dalam situasi riskan (vulnerable), (4) orang menggunakan sistem berdasarkan aturan pribadi untuk mengelola informasi pribadi tersebut dalam interaksi, dan terakhir (5) apabila kordinasi aturan pribadi gagal dilakukan maka akan terjadi dialektika ketegangan hubungan diantara pihak yang terlibat. Dalam prinsip pertama yang menyatakan informasi pribadi merupakan inti dari pengungkapan (the heart of disclosure), teori ini menunjukkan perbedaanya dengan teori- teori pengungkapan (disclosure) lainnya yang mempersamakan pengungkapan dengan kedekatan hubungan atau menyatakan bahwa pengungkapan hanya terkait dengan tindakan berbagi informasi tentang diri sendiri semata sebagaimana dinyatakan oleh self- disclosure Theory (Petronio dalam Whaley dan Shamter, 2007). Menurut prinsip pertama ini informasi pribadi diartikan sebagai informasi yang tidak bisa diakses oleh orang lain. Dalam beberapa kasus informasi ini berkaitan dengan diri sendiri seperti penyakit yang diidap seseorang, jumlah hutang yang dipunyai, atau
  • 7.
    POJOK TEORI 7 sekadarstatus pernikahan seseorang. Pada kasus lain informasi itu bisa jadi bukan hanya milik anda sendiri, tapi juga dimiliki bersama dengan keluarga anda, sahabat anda, rekan kerja, kelompok pertemanan, atau bahkan organisasi yang anda masuki. Informasi tentang kesehatan anda misalnya, mungkin bukan hanya milik anda dan dokter yang memeriksa, tapi juga bisa jadi diketahui oleh anggota keluarga lainnya. Akan tetapi hal itu tetap informasi rahasia keluarga yang tertutup bagi orang luar. Perasaan cinta terpendam seorang remaja mungkin juga dibagi kepada temannya, tapi ini tetap menjadi rahasia pribadi meskipun dimiliki bersama orang lain. Jadi berbeda dengan teori self- disclosure yang menyatakan bahwa informasi pribadi hanya mencakup informasi yang dimiliki seseorang saja, Teori CPM menegaskan bahwa informasi pribadi adalah informasi apa saja yang tertutup bagi akses orang lain diluar orang-orang yang dipercayai untuk turut memegang informasi pribadi atau rahasia tersebut. Dalam kerangka teori CPM hal-hal yang termasuk informasi pribadi juga sangat bervariasi mulai dari umur anda, status pernikahan, jumlah anak, pendidikan, hobi, pilihan dalam pemilu, sikap terhadap petisi yang dilakukan dikampus, peristiwa memalukan yang anda saksikan, penilaian kita tentang perbuatan seseorang, kehilafan yang pernah kita lakukan, pekerjaan seseorang yang harus dirahasiakan, penyakit yang kita idap, atau apa saja informasi yang kita miliki yang tidak ingin kita bagi dengan orang lain. Dalam kerangka asumsi teoritis ini juga dijelaskan bahwa kepemilikan terhadap informasi pribadi tersebut kemudian memunculkan keyakinan bahwa mereka memiliki hak untuk mengontrol akses orang lain terhadap informasi pribadi yang dimiliki. Jadi apabila anda terdeksi tertular penyakit tuberculosis misalnya, yang menurut anda sangat memalukan, maka anda dapat memutuskan untuk menyimpan informasi itu hanya untuk anda, tanpa perlu membaginya dengan orang lain. Prinsip kedua dari teori ini menjelaskan bahwa terdapat metafora ‘garis batas’ yang memisahkan antara yang pribadi dan publik. Dalam kenyataan sehari-hari kita sangat sering melihat orang membuat pagar untuk membatasi halaman miliknya (wilayah pribadi) dengan jalan di depan rumah (wilayah publik). Bila batas ini berupa pagar besi maka lewat celah pagar orang mungkin masih bisa melihat kedalam halaman, namun bila batas itu berupa tembok maka orang akan sulit memandang ke dalam. Dengan cara yang sama, orang juga membuat batas (boundaries) untuk informasi yang mereka anggap
  • 8.
    POJOK TEORI 8 bersifatpribadi. Orang bisa memiliki batas yang luas yang berarti banyak informasi pribadi yang disimpannya, Atau garis batas yang sempit yang mengartikan hanya sedikit informasi yang mereka miliki sendiri. Garis batas itu juga berbeda dalam hal daya tembusnya (permeability), dalam konteks ini dapat dikatakan bahwa orang menggunakan standar yang berbeda dalam mengatur informasi yang mengalir ke dalam atau keluar dari garis batas pribadi. Menurut Petronia anak-anak umumnya memiliki garis batas yang kecil dan sangat mudah ditembus. Orang tua biasanya memiliki akses yang sangat besar terhadap informasi pribadi mereka. Di sisi lain, para remaja lebih memiliki kemampuan untuk menjaga informasi pribadi dari akses orang tua. Para remaja ini umumnya lebih baik dari anak-anak dalam mengendalikan informasi pribadi mereka, itu sebabnya mereka memiliki garis batas yang lebih luas dan agak sedikit sukar ditembus. Proses yang menunjukkan kecenderungan remaja untuk mulai membatasi informasi pribadi dari pihak lain ini disebut sebagai proses ‘deindividuasi’ yang menunjukkan semakin besarnya otonomi mereka dalam mengelola informasi pribadi. Semakin dewasa seseorang maka semakin besar otonomiterhadap informasi pribadinya. Perubahan luas garis batas pribadi ini menunjukkan bahwa garis batas tersebut dapat berubah seiring berjalannya waktu. Perumpamaan garis batas pribadi yang digunakan dalam teori ini juga menunjukkan rentang kendali atas informasi pribadi yang dimiliki. Oleh karena orang mempercayai bahwa mereka memiliki hak untuk mengendalikan garis batas sekitar informasi pribadi mereka, maka cara mereka mengendalikan batas tersebut adalah dengan menerapkan aturan pribadi kepada siapa, dan berapa banyak informasi yang dapat dikemukakan. Aturan pribadi ini seringkali terkait dengan aspek budaya, motivasi, perkiraan resiko, kebutuhan situasional, dan gender. Mereka juga memiliki karakteristik perubahan. Itu sebabnya ketika sepasang suami istri bercerai maka mereka tidak lagi menggunakan aturan pribadi yang sama seperti ketika mereka masih terikat tali pernikahan. Prinsip selanjutnya dari teori ini menyatakan bahwa orang berkehendak mengendalikan informasi pribadi tersebut karena informasi itu milik mereka dan membukanya kepada pihak lain akan membuat mereka berada dalam situasi riskan (vulnerable). Prinsip ini juga menegaskan bahwa ketika seseorang (owner)
  • 9.
    POJOK TEORI 9 mengungkapkaninformasi pribadi dengan seseorang maka orang tersebut akan juga menjadi pemilik infomasi (co-owner). Oleh karena alasan ini maka seseorang yang mendapatkan limpahan informasi tersebut harus turut menjaga kerahasiaan dan kemungkinan informasi tersebut diakses oleh pihak ketiga. Misalnya bila seseorang kakak bercerita kepada adiknya bahwa ia gagal dalam ujian semester dan harus mengulang tahun depan, si adik yang dipercayai memegang informasi tersebut akan tahu bahwa kakaknya akan sangat malu bila ia menceritakan hal tersebut kepada anggota keluarga lainnya. Dalam konteks ini seseorang akan mengalami beberapa dilema..... Prinsip keempat menyatakan bahwa orang menggunakan sistem berdasarkan aturan pribadi untuk mengelola informasi pribadi dalam interaksi. Menurut prinsip ini begitu seseorang melakukan pengungkapan, maka untuk memastikan bahwa garis batas informasi pribadi tersebut dilakukan secara selaras dan sesuai cara yang diharapkan dari akses pihak ketiga, diperlukan kordinasi aturan pribadi di antara kedua pihak. Dalam kaitan ini CPM menjelaskan terdapat tiga jenis kordinasi yang dapat dilakukan yakni (1) Kordinasi aturan pribadi antara pemilik informasi awal (owner) dan orang yang diberi informasi (co-owner) tentang siapa lagi yang boleh tahu informasi ini, (2) mereka berkordinasi tentang aturan seberapa banyak informasi yang dapat diberikan kepada oranglain, dan terakhir (3) mereka berkordinasi aturan kepemilikan, maksudnya seberapa besar orang yang dipercayai memegang informasi itu memiliki hak untuk mengelola informasi pribadi tersebut. Prinsip terakhir menyatakan bahwa apabila kordinasi aturan pribadi gagal dilakukan maka akan terjadi dialektika ketegangan hubungan diantara pihak yang terlibat. Prinsip secara gamblang mengatakan bahwa bila orang gagal menepati komitmen untuk mengelola informasi tersebut berdasarkan aturan pribadi yang telah dibuat, maka ketegangan akan muncul diantara pihak yang terlibat. Ketegangan yang muncul tersebut dapat mengarah pada hadirnya ketidak percayaan kepada orang yang dibagi informasi pribadi (co-owner) hingga perusakan hubungan. Konsekuensi lain dari ketegangan tersebut juga dapat memunculkan situsi dilematis yang menurut Petronio dapat meliputi tiga jenis dilema yakni (1) confidant dilemma, yang terkait dengan kondisi penerima informasi, (2) accidenntal dilemma dimana informasi pribadi yang diterima tidak sengaja membuat seseorang akhirnya menelusuri lebih jauh hal-hal yang terkaita informasi
  • 10.
    POJOK TEORI 10 tersebut.Terakhir adalah illicit dilemma, yang terjadi ketika seseorang memata-matai atau mencari-cari suatu informasi pribadi tiba-tiba mereka mendapatkan informasi yang menempatkan mereka dalam posisi yang sulit. Di samping kelima asumsi di atas, Petronio melalui penelitian yang Ia lakukan bersama Reeder, Hecht, dan Monts Ros–Mendoza tahun 1996, menambah lima konsep penting yang terkait dengan proses dan perilaku pengungkapan. Kelima konsep tersebut meliputi; tacit permision, selected the ciscumstancies, incremental disclosure, target characteristics dan anticipated reactions. Konsep tacit permision merujuk pada ada-tidaknya indikasi yang menunjukkan bahwa pihak penerima curhat bersedeia menerima informasi pribadi tersebut. Tanda tandanya dapat berupa pernyataan peduli pada p[emilik informasi, seperti ungkapan “ kamu ada apa?... Kok lesu amat? Atau sekadar mengatakan ‘saya peduli sama kamu, tidak usah takut bicara dengan saya, pokoknya dijamin rahasia ini akan tertutup rapat’. Jadi semua ungkapan yang mengindikasikan bahwa kita bersedia menampung curahan informasi pribadi baik secara verbal maupun nonverbal merupakan tanda tacit permission. Ketika tacit permission tampak hadir, pemilik informasi mungkin akan mencari tempat atau latar yang memungkinkan yang bersangkutan dapat menciptakan semacam pintu masuk untuk berbagi informasi pribadi, perilaku yang tampak dalam kaitan ini misalnya seperti mengajak nonton televisi berdua atau sekadar mengajak ‘ngobrol’ di ruangan yang sepi yang memungkinkan komunikasi pengungkapan terjalin. Upaya ini disebut dengan istilah selected the ciscumstancies, Konsep ketiga incremental disclosure (pengungkapan bertahap) menunjukkan bahwa komunikasi pengungkapan terjadi secara bertahap. Pemilik informasi tidak akan mengungkap semua informasi pribadi secara langsung sekaligus, tapi akan melihat reaksi dan umpan balik yang diberikan oleh penerima informasi pribadi (co-owner). Terkait erat dengan pengungkapan bertahap adalah konsep target characteristics yakni ciri-ciri orang yang akan menerima pengungkapan informasi pribadi, apakah orang tersebut dapat dipercaya atau apakah target penerima informasi (co-owner) tersebut memiliki kemampuan untuk memahami permasalahan yang akan dinyatakan.
  • 11.
    POJOK TEORI 11 Terakhiradalah konsep anticipated reactions. Disini para pengungkap akan melihat kemungkinanan reaksi yang akan timbul bila pengungkapan dilakukan.Bila berdasarkan antisipasi itu reaksi yang akan timbul bersifat negatif, maka Ia akan mempertimbangkan apakah pengungkapan perlu dilakukan atau kemungkinan besar bahkan mencari target penerima informasi pribadi lain yang dapat memberikan tanggapan atau reaksi lebih positif. Meskipun konsep-konsep ini diperoleh dari hasil penelitian tentang fenomena pengungkapan dalam pelecehan seksual di kalanagan anak-anak, namun daya aplikasi konsep ini tampaknya bersifat umum, sehingga dapat digunakan sebagai bagian dari konsep-konsep pokok dalam teori pengelolaan privasi komunikasi@ APLIKASI DAN PERKEMBANGAN TEORI Menyadari bahwa manusia bukan hanya memiliki dorongan untuk menyimpan (menyembunyikan) informasi tapi juga dorongan untuk berbagi informasi pribadi kepada orang lain, saya melihat bersarnya potensi teori ini untuk diterapkan secara praktis dalam tindakan komunikasi sehari-hari. Melalui perilaku komunikasi yang terbuka, mau mendengar, empatik, siap membantu, berorientasi pada pemecahan masalah, tidak menghakimi, dan mampu menjaga rahasia maka semua orang tua, semua sahabat, semua petugas bimbingan konseling, semua dokter bahkan semua orang yang peduli pada masalah orang lain dapat menjadi co-owner dalam pemilikan informasi pribadi yang umumnya rahasia. Terungkapnya informasi yang bersifat pribadi dan rahasia ini akan membantu kita mengidentifikasi dan memetakan masalah yang dihadapi orang-orang disekitar kita. Dengan begitu tindakan preventif bahkan kuratif untuk menyelesaikan maslah secara tepat dapat dilakukan tanpa harus menunggu persoalan menjadi lebih serius, lebih merugikan dan berkembang tanpa kendali. tanpa harus menghakimi orang yang melakukan pengungkapan.
  • 12.
    POJOK TEORI 12 Kebutuhanorang melakukan pengungkapan tampaknya sangat besar. Terlenih bila pengungkapan tersebut tanpa disertai penghakiman pada pelaku pengungkapan. Kenyataan ini dapat dilihat misalnya dengan populernya istulah ‘curhat’ (mencurahkan isi hati). Semua saluran yang dibangun untuk kepentingan curhat ini juga tampaknya tidak pernah sepi pengunjung, mulai dari surat pembaca hingga saluran internet. Bahkan untuk rubrik konsultasi di surat kabar yang membutuhkan keterampilan menulispun tetap dipenuhi oleh surat-surat yang berisi ungkapan masalah atau rahasia pribadi pembaca. Di kampus kita juga melihat ruang bimbingan konseling yang dikelola dengan serius dan kredibel di mata pengunjungnya tetap dipenuhi oleh mahasiwa yang ingin melakukan konsultasi masalah akademis dan non akademis. Demikian juga pada keluarga yang menghidupkan fungsi komunikasi di dalamnya, selalu dipenuhi cerita anak-anak yang secara bebas mengungkapkan isi hati mereka termasuk peristiwa rahasia yang mereka alami. Pendeknya kita memiliki kebutuhan akan ruang berbagi untuk masalah atau informasi pribadi yang kita miliki. Jadi peluang untuk menerapkan teori ini sangat terbuka lebar, dan akan sangat membantu memecahkan berbagai masalah pribadi yang dihadapi setiap orang. Petronio sendiri menggunakan teknik-teknik yang dikembangkan dalam teori CPM untukmembantu menangani pengalaman traumatik anak-anak yang mengalmi pelecehan seksual, sementara Metzger menggunakan teori ini untuk membuat aturan komunikasi berkaitan dengan informasi yang boleh dan tidak boleh dibuka dalam trasaksi electronic commerce. Dalam aplikasi di bidang penelitian, penggunaan teori CPM tampaknya semakin populer. Bila pada awalnya teori ini hanya digunakan untuk meneliti pengungkapan informasi pribadi dalam konteks hubungan antarpribadi yang sangat dekat seperti keluarga dan persahabatan, maka memasuki dasawarsa 1990-an penerapan teori ini sudah melebar hingga memasuki fenomena pengungkapan informasi pribadi berupa kesalahan penanganan medis yang dilakukan dokter, pengungkapan informasi HIV, pengungkapan melalui saluran radio dan komunikasi kelompok, melalui situs jejaring sosial dan
  • 13.
    POJOK TEORI 13 webloging,isu-isu privasi dibidang perdagangan via elektronik (e-commerce) , bimbingan konseling dan pelanggaran seksual. Beberapa penelitian yang dilakukan dengan menggunakan teori ini diantaranya adalah penelitian tentang pelecehan seksual yang dilakukan Petronio Hecht, dan Monts Ros–Mendoza tahun 1996, Miriam J Metzger dari Department of Communication, University of California, Santa Barbara (2007) yang meneliti tentang Communication Privacy Management in Electronic Commerce , penelitian Yep tahun 2000 tentang Disclosure of HIV infection in interpersoinal relationship, penelitian Sargent (2003) yang mengkaji fenomena Nonverbal boundary coordination, dan penelitian Afifi (2003) tentang “feeling caught” in step families: managing boundary turbulance through appropriate communication privacy. Hingga saat ini diperkiran telah dilakukan lebih dari seratus penelitian yang menggunakan teori ini diseluruh dunia. Meski popularitas dan minat menggunakan teori ini untuk meneliti fenomena komunikasi diberbagai negara semakin tinggi, di Indonesia sendiri sejauh yang saya amati, hingga saat ini belum ada satupun penelitian yang menggunakan teori ini sebagai kerangka teoritisnya. Dengan semakin meluasnya penggunaan teori ini maka diharapkan dalam waktu satu-dua tahun ke depan mulai ada kelompok ilmuwan komunikasi yang tertarik menggunakan teori ini, sehingga dapat ditemukan fakta yang menggambarkan fenomena pengungkapan informasi pribadi dan pengelolaan garis batas privasi dalam konteks budaya indonesia@.
  • 14.
    POJOK TEORI 14 DaftarRujukan Afifi, T.D. (2003) “Feeling caught” in step families: managing boundary turbulance through appropriate communication privacy.Journal of Social and Personal reelationship. 20.729-755. Miriam J Metzger (2007) Communication Privacy Management in Electronic Commerce. November 2, 2007 from http://pewinternet.org/reports/toc.asp?Report=19 Altman, I., & Taylor, D. A. (1973). Social Penetration: The Development of Interpersonal Relationships. New York: Holt, Rinehart, & Winston. Petronio, S. (2002). Boundaries of Privacy: Dialectics of Disclosure. Albany, NY: State University of New York Press. Petronio, S. (2007). Privacy Mangement Theory, dalam Encyclopedia of Communication theory, Littlejohn & Karen A, Foss. LA: Sage Publication. Whaley, B, Bryan & Wendy Samter, (2007). Expalining Communication. Mahwah New jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers West, R., L., & Turner, L. H. (2004). Introducing Communication Theory: Analysis and Application (2nd ed.). Boston: McGraw-Hill. White, T. B. (2004). Consumer disclosure and disclosure avoidance: A motivational framework. Journal of Consumer Psychology, 14 (1&2), 41-51.