Ariani Nuradilah
210110130174
Manajemen Komunikasi B
Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD
Dosen Pembina:
Dr. Antar Venus, M.A.Comm
Meria Oktaviany, S.Sos, M.Ilkom
Melvin Lawrence De Fleur (lahir pada 27 April
1923 di Portland, Oregon) adalah seorang
profesor dan sarjana dalam bidang
komunikasi dan Psikologi Sosial. Pada 1954,
University of Washington memberi beliau gelar
Ph.D dalam bidang Psikologi Sosial untuk studi
percobaannya. Dia mengajar untuk banyak
universitas sejak 1954 sampai sekarang. Saat ini
beliau berprofesi sebagai Profesor dan kepala
di Departemen komunikasi dan Periklanan
serta Hubungan Masyarakat di University of
Boston.
Individu yang masuk dalam kategori sosial
tertentu/sama akan cenderung memiliki
perilaku atau sikap yang kurang lebih
sama terhadap rangsangan-rangsangan
tertentu. Pesan-pesan yang disampaikan
media massa cenderung ditanggapi sama
oleh individu yang termasuk dalam
kelompok sosial tertentu. Penggolongan
sosial ini berdasarkan usia, jenis kelamin,
suku bangsa, pendidikan, ekonomi, agama
dsb.
Asumsi dasar dari teori
kategori sosial ialah teori
sosiologis yang
menyatakan bahwa
masyarakat modern
sifatnya heterogen.
Penduduk yang memiliki
sejumlah ciri yang sama
akan mempunyai pola
hidup tradisional yang
sama.
Pesan-pesan yang
disampaikan media massa
ditangkap individu sesuai
dengan karakteristik dan
kebutuhan personal individu.
Efek komunikasi pada individu
akan beragam walaupun
individu menerima pesan yang
sama. Terdapat faktor
psikologis dalam menerima
pesan yang disampaikan
media massa. (Teori Individual)
Anggota-anggota
dari suatu golongan
tertentu akan
memilih komunikasi
yang kira-kira sama,
dan
menanggapinya
dengan cara yang
hampir sama pula.
(Teori Kategori
Sosial)
Dengan adanya
penggolongan sosial
munculah media
massa yang sifatnya
special atau khusus
yang diperuntukan
bagi kalangan
tertentu, dengan
mengambil
segmentasi/pangsa
pasar tertentu.
Begitu juga di media
elektronik disajikan acara-
acara tertentu yang memang
diperuntukan bagi kalangan
tertentu dengan
memprogramkannya sesuai
dengan waktu dan segmen
khalayaknya
DeFleur juga menegaskan
bahwa teori ini konsisten
dengan dan tampaknya
berasal dari sosiologi umum
mengenai massa. Ia juga
mengutip formula Lasswell,
menurutnya perpaduan dari
kedua teori dengan variable
– variable situasional terkait.
Menurut Lasswell cara tepat
menjelaskan kegiatan
komunikasi ialah menjawab
pertanyaan “ Who Says What
In Which Channel To Whom
With What Effect “ atau Siapa
Mengatakan Apa Kepada
Siapa Dengan Efek Apa.
Teori kategori sosial merupakan
permulaan yang lebih bersifat
penjelasan daripada pembahasan,
tetapi sejauh dapat digunakan sebagai
landasan untuk prediksi kasar dan
sebagai pedoman untuk penelitian. Teori
ini dapat berfungsi sebagai teori
sederhana untuk studi media massa.
Orang Lombok, Dompu, Sumbawa, Jawa
dll, berpindah penduduk ke sesuatu daerah
misalnya ke Sulawesi. Mereka kumpul di
suatu daerah membentuk suatu penduduk
sehingga banyak perpaduan budaya akan
tetapi lama-kelamaan perpaduan budaya
mereka tersebut akan membentuk suatu
budaya, norma yang baru sehingga
mereka menjadi suatu kesatuan, dan
seragam atau sama dalam
menerima/merespon terpaan dari media,
baik itu media elektronis atau media cetak.
Timbul suatu keseragaman
dalam suatu masyarakat
meskipun masyarakat
tersebut bersifat heterogen.
Teori ini mengajarkan bahwa
meski perbedaan dalam
suatu masyarakat yang
banyak sekali, baik itu dari
segi budaya, suku, bangsa,
ras, ataupun agama, dan lain-
lain..
..namun disetiap
perbedaan itu masih ada
suatu kesamaan baik itu
berupa usia, seks, jenis
kelamin, penghasilan, dan
sebagainya dalam
merespon
rangsangan/pesan dari
media massa, baik itu
media elektronik maupun
media cetak ataupun
perangsang-perangsang
yang lainnya.
Terkadang masyarakat
bisa saja melupakan
apa yang sebenarnya
yang ada pada dirinya
(maksudnya di sini
seperti budaya suku
dan yang lainnya),
karena teori ini
membahas tentang
keseragaman suatu
masyarakat meski
masyarakat tersebut
heterogen.
Karena dengan
keseragaman tersebut
maka suatu masyarakat
akan mengikuti aturan,
norma, budaya baru dan
yang lainnya dari
keseragaman yang telah
tercipta tersebut.
• Dr. Antar Venus, M.A.Comm
• Pakar Komunikasi yang terobsesi membumikan ilmu
komunikasi.
• Sebagai pengampu mata kuliah teori-teori Komunikasi di
Universitas Padjadjaran, Dosen ini menyebarkan
motto'Learning communication theories in practical way”.
• Lahir di Serang, Banten, 2 Juni 1968.
• Ia merampungkan pendidikan S1-nya pada jurusan
Manajemen Komunikasi Fikom Unpad tahun 1992. Beliau
mendapat beasiswa ASTAS untuk menempuh Program S2
Communication Studies di Macquarie University Sydney-
Australia(1998).
• Ia menyelesaikan program S3 ilmu komunikasi di Program
Pascasarjana Unpad. Sebagai akademisi sekaligus peneliti, ia
kerap berpartisipasi dalam berbagai
seminar/simposium/pelatihan ataupun lokakarya di bidang
ilmu yang digelutinya, baik sebagai pembicara maupun
peserta.
• Dan memiliki motto hidup
“Vivir con miedo es como vivir a medias” artinya
“Hidup dalam ketakutan adalah setengah hidup”
PROFIL
DOSEN
Ariani Nuradilah lahir di Bandung, 5
Juni 1995. saat ini sedang menempuh
pendidikan S1 di Fakultas Ilmu
Komunikasi UNPAD jurusan
Manajemen Komunikasi semester 2.
Saya meminati bidang komunikasi
karena tertarik pada dunia media
massa khususnya televisi. Saya juga
tertarik pada bidang perencanaan
media. Pengalaman belajar teori
komunikasi pada semester ini
membuat saya lebih memahami
fenomena-fenomena komunikasi di
kehidupan sehari-hari. Terutama
tentang teori Social Category yang
saya presentasikan. Teori tersebut
merupakan salah satu teori media
massa, bidang yang saya minati. Saya
merasa belum puas dan masih ingin
mencari tahu lagi lebih dalam agar
PROFIL
PENULIS
agussetiaman.wordpress.com
syakiramburadul.wordpress.com
idnetku.com
www.balitbangdiklat.kemenag.go.id
Social categories

Social categories

  • 1.
    Ariani Nuradilah 210110130174 Manajemen KomunikasiB Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD Dosen Pembina: Dr. Antar Venus, M.A.Comm Meria Oktaviany, S.Sos, M.Ilkom
  • 2.
    Melvin Lawrence DeFleur (lahir pada 27 April 1923 di Portland, Oregon) adalah seorang profesor dan sarjana dalam bidang komunikasi dan Psikologi Sosial. Pada 1954, University of Washington memberi beliau gelar Ph.D dalam bidang Psikologi Sosial untuk studi percobaannya. Dia mengajar untuk banyak universitas sejak 1954 sampai sekarang. Saat ini beliau berprofesi sebagai Profesor dan kepala di Departemen komunikasi dan Periklanan serta Hubungan Masyarakat di University of Boston.
  • 4.
    Individu yang masukdalam kategori sosial tertentu/sama akan cenderung memiliki perilaku atau sikap yang kurang lebih sama terhadap rangsangan-rangsangan tertentu. Pesan-pesan yang disampaikan media massa cenderung ditanggapi sama oleh individu yang termasuk dalam kelompok sosial tertentu. Penggolongan sosial ini berdasarkan usia, jenis kelamin, suku bangsa, pendidikan, ekonomi, agama dsb.
  • 5.
    Asumsi dasar dariteori kategori sosial ialah teori sosiologis yang menyatakan bahwa masyarakat modern sifatnya heterogen. Penduduk yang memiliki sejumlah ciri yang sama akan mempunyai pola hidup tradisional yang sama.
  • 7.
    Pesan-pesan yang disampaikan mediamassa ditangkap individu sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan personal individu. Efek komunikasi pada individu akan beragam walaupun individu menerima pesan yang sama. Terdapat faktor psikologis dalam menerima pesan yang disampaikan media massa. (Teori Individual)
  • 8.
    Anggota-anggota dari suatu golongan tertentuakan memilih komunikasi yang kira-kira sama, dan menanggapinya dengan cara yang hampir sama pula. (Teori Kategori Sosial)
  • 9.
    Dengan adanya penggolongan sosial munculahmedia massa yang sifatnya special atau khusus yang diperuntukan bagi kalangan tertentu, dengan mengambil segmentasi/pangsa pasar tertentu.
  • 10.
    Begitu juga dimedia elektronik disajikan acara- acara tertentu yang memang diperuntukan bagi kalangan tertentu dengan memprogramkannya sesuai dengan waktu dan segmen khalayaknya
  • 11.
    DeFleur juga menegaskan bahwateori ini konsisten dengan dan tampaknya berasal dari sosiologi umum mengenai massa. Ia juga mengutip formula Lasswell, menurutnya perpaduan dari kedua teori dengan variable – variable situasional terkait. Menurut Lasswell cara tepat menjelaskan kegiatan komunikasi ialah menjawab pertanyaan “ Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect “ atau Siapa Mengatakan Apa Kepada Siapa Dengan Efek Apa.
  • 12.
    Teori kategori sosialmerupakan permulaan yang lebih bersifat penjelasan daripada pembahasan, tetapi sejauh dapat digunakan sebagai landasan untuk prediksi kasar dan sebagai pedoman untuk penelitian. Teori ini dapat berfungsi sebagai teori sederhana untuk studi media massa.
  • 13.
    Orang Lombok, Dompu,Sumbawa, Jawa dll, berpindah penduduk ke sesuatu daerah misalnya ke Sulawesi. Mereka kumpul di suatu daerah membentuk suatu penduduk sehingga banyak perpaduan budaya akan tetapi lama-kelamaan perpaduan budaya mereka tersebut akan membentuk suatu budaya, norma yang baru sehingga mereka menjadi suatu kesatuan, dan seragam atau sama dalam menerima/merespon terpaan dari media, baik itu media elektronis atau media cetak.
  • 15.
    Timbul suatu keseragaman dalamsuatu masyarakat meskipun masyarakat tersebut bersifat heterogen. Teori ini mengajarkan bahwa meski perbedaan dalam suatu masyarakat yang banyak sekali, baik itu dari segi budaya, suku, bangsa, ras, ataupun agama, dan lain- lain..
  • 16.
    ..namun disetiap perbedaan itumasih ada suatu kesamaan baik itu berupa usia, seks, jenis kelamin, penghasilan, dan sebagainya dalam merespon rangsangan/pesan dari media massa, baik itu media elektronik maupun media cetak ataupun perangsang-perangsang yang lainnya.
  • 17.
    Terkadang masyarakat bisa sajamelupakan apa yang sebenarnya yang ada pada dirinya (maksudnya di sini seperti budaya suku dan yang lainnya), karena teori ini membahas tentang keseragaman suatu masyarakat meski masyarakat tersebut heterogen.
  • 18.
    Karena dengan keseragaman tersebut makasuatu masyarakat akan mengikuti aturan, norma, budaya baru dan yang lainnya dari keseragaman yang telah tercipta tersebut.
  • 19.
    • Dr. AntarVenus, M.A.Comm • Pakar Komunikasi yang terobsesi membumikan ilmu komunikasi. • Sebagai pengampu mata kuliah teori-teori Komunikasi di Universitas Padjadjaran, Dosen ini menyebarkan motto'Learning communication theories in practical way”. • Lahir di Serang, Banten, 2 Juni 1968. • Ia merampungkan pendidikan S1-nya pada jurusan Manajemen Komunikasi Fikom Unpad tahun 1992. Beliau mendapat beasiswa ASTAS untuk menempuh Program S2 Communication Studies di Macquarie University Sydney- Australia(1998). • Ia menyelesaikan program S3 ilmu komunikasi di Program Pascasarjana Unpad. Sebagai akademisi sekaligus peneliti, ia kerap berpartisipasi dalam berbagai seminar/simposium/pelatihan ataupun lokakarya di bidang ilmu yang digelutinya, baik sebagai pembicara maupun peserta. • Dan memiliki motto hidup “Vivir con miedo es como vivir a medias” artinya “Hidup dalam ketakutan adalah setengah hidup” PROFIL DOSEN
  • 20.
    Ariani Nuradilah lahirdi Bandung, 5 Juni 1995. saat ini sedang menempuh pendidikan S1 di Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD jurusan Manajemen Komunikasi semester 2. Saya meminati bidang komunikasi karena tertarik pada dunia media massa khususnya televisi. Saya juga tertarik pada bidang perencanaan media. Pengalaman belajar teori komunikasi pada semester ini membuat saya lebih memahami fenomena-fenomena komunikasi di kehidupan sehari-hari. Terutama tentang teori Social Category yang saya presentasikan. Teori tersebut merupakan salah satu teori media massa, bidang yang saya minati. Saya merasa belum puas dan masih ingin mencari tahu lagi lebih dalam agar PROFIL PENULIS
  • 21.