ANATOMI, FISIOLOGI,
PATOFISIOLOGI, PF
FARING
01
ANATOMI
Batas-batas :
Depan : Nares posterior (choanae)
Belakang : Vertebrae servikal
Atas : Basis kranii
Bawah : Palatum mole
Lateral : Dinding medial leher
Nasopharynx (Epipharynx)
1
2
3
4
5 Bangunan :
1. Ostium Pharyngeum tubae
2. Torus tubarius
3. Adenoid (tonsilla pharyngea)
4. Recessus pharynx (Fossa rossenmuleri)
5. Isthmus nasopharynx
Oropharynx (Mesopharynx)
6
Batas-batas :
Depan : Cavum Oris dengan arcus palatopharynx dan uvula
Belakang : Vertebra servikal 2 dan 3
Atas : Palatum Mole
Bawah : Tepi atas epiglottis
Lateral : Dinding medial leher
Bangunan :
1. Tonsila palatina
2. Fossa supra tonsilaris
3. Tonsila lingualis
Laryngopharynx (Hipopharynx)
7
Batas-batas :
Depan : Laring
Atas : Orofaring (Tepi atas epiglotis)
Belakang : Vertebra servikal 3,4,5,6
Bawah : Esofagus
Bangunan :
1. Laring (Depan)
2. Fossa (sinus) piriformis
3. Valekula
RING OF WALDEYER
Otot – Otot Pharynx
9
10
Otot – Otot Pharynx
11
12
Vaskularisasi
Pharynx
13
Innervasi Pharynx
14
02
FISIOLOGI
MENELAN
FUNGSI FARING
Respiratorik
jalan napas
Digestivus 
jalan masuk
makanan
Artikulasi 
fungsi
pengucapan
fonem
Proteksi 
(cincin
waldeyer)
PROSES
MENELAN
03
PATOLOGI
Faringitis
Akut
Viral
Bakterial
Fungal
Gonorea
Kronik
Hiperplastik
Atrofi
Spesifik
Tuberkulosis
Luetika
FARINGITIS AKUT
1. Faringitis viral
• Virus influenza
• Coxsachievirus
• Adenovirus
• Cytomegalovirus
• Ebv
• Hiv-1
• Rinovirus
Infeksi Virus
• Demam disertai rinorea
• Mual
• Nyeri tenggorokan
• Sulit menelan
• Faring dan tonsil hiperemis
Gejala
Terapi
• Istirahat
• Minur air cukup
• Kumur dengan air hangat
Non-Medikamentosa
• Symptomatik
Analgetik antipiretik (paracetamol 10-15 mg/kgbb/hari 3-4x/hr)
• Causatik
Antivirus metisoprinol (Isoprenosin)
•Dewasa ; 60-100 mg/kgbb 4-6x/hr)
•Anak ; 50 mg/kgBB 4-6x/hr
Medikamentosa
2. Faringitis Bakterial
Bakteri banyak menyerang anak usia sekolah, orang dewasa
Dewasa (15%), anak (30%)
Infeksi Grup A Streptokokus β Hemolitikus
• Nyeri kepala hebat
• Muntah
• Kadang-kadang disertai demam dengan suhu tinggi
• Jarang disertai batuk
Anamnesa
• Tonsil membesar
• Faring dan tonsil hiperemis
• Terdapat eksudat di permukaanya
• Timbul bercak petechiae pada palatum dan faring
• Kelenjar limfe leher anterior membesar, kenyal, dan nyeri pada
penekanan
Pemeriksaan fisik
Terapi
• Kumur dengan air hangat atau antiseptik
Non Medikamentosa
• Antibiotik
Penicilin G Banzatin 50.000 U/kgBB.. IM dosis tunggal
Amoksilin 50 mg/kgBB dosis dibagi 3x sehari selama 10 hari dan pada dewasa 3 x 500 mg selama
6-10 hari 50 mg/kgbb
Eritromisin 4x500 mg/hari
• Kortikosteroid
Dexamethasone 8-16mg, IM, 1 kali (dewasa) dan 0,08-0,3 mg/kgBB, IM, 1 kali (anak)
• Analgetik
Asam Mafenamat 3x500 mg/hari
Ibuprofen 200-400 mg (3-4x/hari)
Medikamentosa
3. FARINGITIS FUNGAL
Pertumbuhan Candida di mukosa
rongga mulut dan faring
Gejala dan tanda:
Nyeri tenggorok
Nyeri menelan
Mukosa faring hiperemis
Tampak plak putih pada orofaring
Terapi:
• Nistatin Suspensi Oral (Drop)
: 100.000 IU/ml Dosis :
100.000 – 400.000 2 kali/hari
• Analgetik
4. Faringitis gonorea
Hanya terjadi pada pasien
yang melakukan kontak
orogenital
Terapi :
• Sefalosporin generasi ke-3
• Cefriaxon 1 gram (IM)
FARINGITIS KRONIK
• Rinitis kronik
• Sinusitis
• Iritasi kronik
Rokok
Alkohol
Inhalasi uap
Debu
• Pasien yang bernafas melalui mulut
Faktor Presdiposisi
Faringitis Kronik
Hiperplastik
Terjadi perubahan mukosa dinding
posterior faring
Gejala :
- Mengganjal
•- Tenggorokan kering
•- Gatal
•- Batuk berdahak
Pemeriksaan : Tampak mukosa dinding
posterior tidak rata bergranular
Faringitis Kronik
Atrofi
Sering timbul bersamaan dengan rinitis
atrofi
Gejala :
- Tenggorokan terasa kering dan tebal
- Mulut berbau
Pemeriksaan : Mukosa faring ditutupi oleh
lendir yang kental dan bila diangkat
tampak mukosa kering
FARINGITIS SPESIFIK
1. Faringitis Luetika Etiologi : Treponema palidum
Stadium primer • Terpadat pada lidah, palatum mole, tonsil & dinding posterior
faring berbentuk bercak keputihan.
Stadium sekunder • Eritema pada dinding faring yang menjalar ke arah
laring
Stadium tersier
• Terdapat guma
• Predileksi : tonsil dan palatum
2. Faringitis tuberkulosis
Proses sekunder dari TB paru
Gejala
• Keadaan umum pasien buruk : anoreksia dan odinofagia
• Nyeri hebat ditenggorok
• Nyeri ditelinga atau otalgia
• Pembesaran KGB servikal
Diagnosis
• Pemeriksaan sputum BTA
• Biopsi jaringan yang terinfeksi
Terapi
• Sesuai terapi TB
OAT Kategori 1
• Pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis.
• Pasien TB paru terdiagnosis klinis
• Pasien TB ekstra paru
OAT
OAT Kategori 2
• Pasien kambuh
• Pasien gagal pada pengobatan dengan paduan OAT kategori 1 sebelumnya
• Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-up)
RIWAYAT PENGOBATAN SEBELUMNYA
KASUS BARU
Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah pernah menelan
OAT kurang dari satu bulan (28 hari).
KASUS KAMBUH (RELAPS)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah
dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil
pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif.
KASUS DEFAULTED ATAU DROP OUT
Adalah pasien yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa
pengobatannya selesai.
KASUS GAGAL
• Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada akhir
bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan)
• Adalah pasien dengan hasil BTA negatif gambaran radiologik positif menjadi BTA positif pada
akhir bulan ke-2 pengobatan
KASUS KRONIK / PERSISTEN
Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai pengobatan ulang
kategori 2 dengan pengawasan yang baik.
EFEK SAMPING OAT
Akut
• Viral
• Bakteri
Membranosa
• Difteri
• Angina plaut vincent
Kronik
• Akibat rangsangan yang
menahun dr rokok
• Beberapa jenis makanan,
higiene mulut buruk,
pengaruh cuaca,
kelelahan fisik &
pengobatan tonsilitis
akut yang inadekuat
TONSILITIS Peradangan tonsila palatina
TONSILITIS AKUT
• EBV (tersering)
• Hemofilus influenza
• Coxschakie virus
Etiologi
• Menyerupai gejala common cold yang disertai rasa
nyeri tenggorok
• Tampak luka-luka kecil pada palatum dan tonsil
yang sangat nyeri
Gejala
• Istirahat, minum cukup
• Analgetika :
Paracetamol 10-15 mg/kgbb
• Antivirus (jika gejala berat)
Lamivudin 150 mg p.o, 300 mg p.o
Terapi
TONSILITIS VIRAL
Etiologi
Grup A
Streptokokus
β hemolitikus
Pneumokokus
Streptokokus
viridan
Streptokokus
pyogenes
TONSILITIS BAKTERIAL
Tonsilitis lakunaris
( bercak-bercak detritus
menjadi satu, membentuk
alur-alur )
Tonsilitis folikularis
(Tonsilitis akut dengan
detritus yang jelas)
Kumpulan leukosit, bakteri
yang mati, dan epitel yang
terlepas  mengisi kriptus
tonsil dan tampak sebagai
bercak kuning
GEJALA KLINIS
• Nyeri tenggorok
• Nyeri waktu menelan
• Demam tinggi
• Malaise
• Nyeri sendi
• Tidak nafsu makan
• Rasa nyeri di telinga (otalgia)
PEMERIKSAAN FISIK
• Tonsil membengkak, hiperemis, dan terdapat
detritus berbentuk folikel, lakuna, atau tertutup
oleh membran semu
• Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri
tekan
• Antibiotik spektrum luas (Penisilin, Eritromisin)
 Penisilin G Benzatin 50 mg/kgBB, Eritromisin 4x500 mg/hari
• Antipiretik
 Paracetamol 10-15 mg/kgBB
• Obat kumur yang mengandung desinfektan
 Betadin kumur 1%, selama 30 detik, tiap 3-4 jam
TERAPI
Corynebacterium diphteriae
Tersering pada anak berusia
kurang dari 10 tahun, frekuensi
tertinggi pada usia 2-5 tahun
TONSILITIS DIFTERI
Corynebacterium 
berkembang biak
pada mukosa
saluran nafas
Eksotoksin  diserap
membrane mukosa dan
menimbulkan peradangan
dan penghancuran epitel
saluran nafas nekrosis
Leukosit menginfiltrasi
daerah nekrosis  patchy
exudate  stadium lanjut 
fibrous exudate  bentuk
pseudomembran (sulit
dilepas dan mudah berdarah
Pseudomembran 
menyebabkan
edema jaringan
dibawahnya 
obstruksi saluran
nafas  kematian
Toksin dapat
menyebar ke seluruh
tubuh
PATOFISIOLOGI
GEJALA & TANDA
GEJALA UMUM
• Demam subfebris
• Nyeri kepala
• Penurunan nafsu makan
• Badan lemah
• Nadi lambat
• Nyeri menelan
GEJALA LOKAL
• Tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor  makin
lama makin meluas dan bersatu bentuk membran semu 
dapat meluas dan menyumbat saluran napas
• Membran mudah berdarah jika diangkat
• Kelenjar limfe leher membengkak  bull
neck/burgemeester’s hals
• Anti Difteri Serum (ADS) 20.000-100.000 unit
• Antibiotika  penicillin atau eritromisin
Penisilin prokain 50.000-100.000 kgbb/hri slm 7-10 hri
Eritromisin 25-50 mg/kgBB, dlm 3 dosis slm 14 hari
• Kortikosteroid 1,2 mg/kgBB/hari
• Antipiretik : Paracetamol 10-15 mg/kgbb
Terapi
Etiologi:
• Bakteri spirochaeta/treponema krn kurangnya higiene mulut, def. vit C.
Gejala :
• Demam tinggi, sakit kepala, ggn pencernaan, nyeri dimulut, hipersalivasi, gigi & gusi
mudah berdarah.
Pemeriksaan :
• Mukosa mulut dan faring hiperemis, tampak memebran putih keabuan di atas tonsil,
uvula, dinding faring, gusi seta prosessus alveolaris, kel. submandibular memebesar
Terapi :
• Perbaiki higiene mulut
• Antibiotik spektrum luas (Penisilin G Benzatin 50 mg/kgBB,
• Eritromisin 4x500 mg) selama satu minggu
• Vit B kompleks (1-2x/hari) dan Vit C (200-600 mg/hari)
ANGINA PLAUT VINCENT
(STOMATITIS ULCERO MEMBRANOSA)
TONSILITIS KRONIK
Faktor predisposisi:
• Rangsang yang menahun dari rokok
• Makanan
• higiene mulut yang buruk
• kelelahan fisik
• Pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat
Tanda :
• Tonsil membesar
• Permukaan tidak rata
• Kriptus melebar berisi detritus
Gejala :
• Rasa mengganjal di tenggorok
• Kering
• Nafas berbau
T0: tonsil dalam fossa tonsil atau telah diangkat
T1: besarnya ¼ arkus anterior –uvula
T2: besarnya ½ arkus anterior –uvula
T3: besarnya ¾ arkus anterior –uvula
T4: besarnya mencapai uvula atau lebih
BESARNYA TONSIL
• Operasi pengangkatan seluruh tonsil palatina.
Tonsilektomi
• Pengangkatan tonsil palatina dan jaringan limfoid di
nasofaring yang dikenal sebagai adenoid atau tonsil
faringeal.
Tonsiloadenoidektomi
TONSILEKTOMI
• Massa yang terletak pada dinding
posterior nasofaring, termasuk dalam
cicin waldeyer
Adenoid
• Adenoid akan membesar pada anak
usia 3 tahun dan mengecil dan hilang
sama sekali pada usia 14 tahun
Fisiologis
ADENOID HIPERTROFI
Sumbatan
Koana Tuba eustachius
Hipertrofi adenoid
Infeksi saluran nafas atas berulang
Pasien bernafas
melalui mulut
Fascies
adenoid
Sumbatan tuba
eustachius
Otitis media
akut berulang
Otitis media
kronik
PATOGENESIS
• Dengan kuretase memakai adenotom
Adenoidektomi
• Perdarahan
• Kerusakan dinding belakang faring
Komplikasi
TERAPI
ABSES PERITONSIL
Infeksi akut yang diikuti dengan terkumpulnya pus
pada jaringan ikat longgar antara m.konstriktor faring
dengan tonsil pada fossa tonsil.
DIAGNOSIS
TATALAKSANA
ANTIBIOTIK INTRAVENA
• Ampicillin/sulbactam 4 x 3 gram
• Penicillin G 4 x 10 juta unit + Metronidazole 4 x 500 mg
ANTIBIOTIK ORAL
• Amoxicillin/Clavulanic acid 2 x 875 mg
• Penicillin VK 4 X 500 mg + Metronidazole 4 x 500 mg
• Clindamycin 2 x 600 mg / 4 x 300 mg
KARSINOMA NASOFARING
Karsinoma Nasofaring (KNF)  karsinoma yang muncul pada daerah nasofaring
(area di atas tenggorok dan di belakang hidung), yang menunjukkan bukti adanya
diferensiasi skuamosa mikroskopik ringan atau ultrastruktur.
Peradangan kronis di nasofaring
Infeksi virus Epstein-Barr
Ikan asin dan nitrosamine  dalam ikan asin
terdapat nitrosamine  meningkatkan resiko
terjadinya ca nasofaring
Sosial ekonomi, lingkungan, dan kebiasaan hidup
 udara yang penuh asap dan rokok
kontak dengan bahan karsinogenik
ETIOLOGI
MANIFESTASI KLINIS
Gejala nasofaring : Epistaksis ringan, sumbatan di hidung
Gejala telinga : Tumor dekat dengan muara tuba eustachius (Fossa Rosenmulleri)  tinnitus, otalgia
Gejala mata : Diplopia
Gejala saraf : Dekat dengan rongga tengkorak
• Foramen laserum : Saraf otak ke III, IV,VI, dan dapat pula V  Diplopia, neuralgia trigeminal
• Foramen jugulare : Saraf otak ke IX, X, XI, dan XII  Sindrom Jackson
• Gejala metastasis/gejala di leher : Benjolan di leher
PEMERIKSAAN FARING
Keluhan umum :
• Nyeri tenggorok
• Nyeri menelan
• Rasa banyak dahak
• Sulit menelan
• Rasa ada yang menyumbat atau mengganjal
INSPEKSI : Rongga mulut, keadaan bibir, mukosa rongga mulut, lidah dan
gerakan lidah, dinding posterior faring, kelenjar limfe, uvula, arkus faring, tonsil,
mukosa gigi dan gigi geligi
PALPASI : Palpasi curiga adanya tumor, sendi temporomandibular ketika buka
mulut.
ANAMNESIS
PEMERIKSAAN FARING
& RONGGA MULUT
ALAT-ALAT PEMERIKSAAN FARING
TERIMA
KASIH

Anatomi Faring.pptx

  • 1.
  • 3.
  • 5.
    Batas-batas : Depan :Nares posterior (choanae) Belakang : Vertebrae servikal Atas : Basis kranii Bawah : Palatum mole Lateral : Dinding medial leher Nasopharynx (Epipharynx) 1 2 3 4 5 Bangunan : 1. Ostium Pharyngeum tubae 2. Torus tubarius 3. Adenoid (tonsilla pharyngea) 4. Recessus pharynx (Fossa rossenmuleri) 5. Isthmus nasopharynx
  • 6.
    Oropharynx (Mesopharynx) 6 Batas-batas : Depan: Cavum Oris dengan arcus palatopharynx dan uvula Belakang : Vertebra servikal 2 dan 3 Atas : Palatum Mole Bawah : Tepi atas epiglottis Lateral : Dinding medial leher Bangunan : 1. Tonsila palatina 2. Fossa supra tonsilaris 3. Tonsila lingualis
  • 7.
    Laryngopharynx (Hipopharynx) 7 Batas-batas : Depan: Laring Atas : Orofaring (Tepi atas epiglotis) Belakang : Vertebra servikal 3,4,5,6 Bawah : Esofagus Bangunan : 1. Laring (Depan) 2. Fossa (sinus) piriformis 3. Valekula
  • 8.
  • 9.
    Otot – OtotPharynx 9
  • 10.
  • 11.
    Otot – OtotPharynx 11
  • 12.
  • 13.
  • 14.
  • 15.
  • 16.
    FUNGSI FARING Respiratorik jalan napas Digestivus jalan masuk makanan Artikulasi  fungsi pengucapan fonem Proteksi  (cincin waldeyer)
  • 17.
  • 19.
  • 20.
  • 21.
    FARINGITIS AKUT 1. Faringitisviral • Virus influenza • Coxsachievirus • Adenovirus • Cytomegalovirus • Ebv • Hiv-1 • Rinovirus Infeksi Virus • Demam disertai rinorea • Mual • Nyeri tenggorokan • Sulit menelan • Faring dan tonsil hiperemis Gejala
  • 22.
    Terapi • Istirahat • Minurair cukup • Kumur dengan air hangat Non-Medikamentosa • Symptomatik Analgetik antipiretik (paracetamol 10-15 mg/kgbb/hari 3-4x/hr) • Causatik Antivirus metisoprinol (Isoprenosin) •Dewasa ; 60-100 mg/kgbb 4-6x/hr) •Anak ; 50 mg/kgBB 4-6x/hr Medikamentosa
  • 23.
    2. Faringitis Bakterial Bakteribanyak menyerang anak usia sekolah, orang dewasa Dewasa (15%), anak (30%) Infeksi Grup A Streptokokus β Hemolitikus
  • 25.
    • Nyeri kepalahebat • Muntah • Kadang-kadang disertai demam dengan suhu tinggi • Jarang disertai batuk Anamnesa • Tonsil membesar • Faring dan tonsil hiperemis • Terdapat eksudat di permukaanya • Timbul bercak petechiae pada palatum dan faring • Kelenjar limfe leher anterior membesar, kenyal, dan nyeri pada penekanan Pemeriksaan fisik
  • 26.
    Terapi • Kumur denganair hangat atau antiseptik Non Medikamentosa • Antibiotik Penicilin G Banzatin 50.000 U/kgBB.. IM dosis tunggal Amoksilin 50 mg/kgBB dosis dibagi 3x sehari selama 10 hari dan pada dewasa 3 x 500 mg selama 6-10 hari 50 mg/kgbb Eritromisin 4x500 mg/hari • Kortikosteroid Dexamethasone 8-16mg, IM, 1 kali (dewasa) dan 0,08-0,3 mg/kgBB, IM, 1 kali (anak) • Analgetik Asam Mafenamat 3x500 mg/hari Ibuprofen 200-400 mg (3-4x/hari) Medikamentosa
  • 27.
    3. FARINGITIS FUNGAL PertumbuhanCandida di mukosa rongga mulut dan faring Gejala dan tanda: Nyeri tenggorok Nyeri menelan Mukosa faring hiperemis Tampak plak putih pada orofaring Terapi: • Nistatin Suspensi Oral (Drop) : 100.000 IU/ml Dosis : 100.000 – 400.000 2 kali/hari • Analgetik
  • 28.
    4. Faringitis gonorea Hanyaterjadi pada pasien yang melakukan kontak orogenital Terapi : • Sefalosporin generasi ke-3 • Cefriaxon 1 gram (IM)
  • 29.
    FARINGITIS KRONIK • Rinitiskronik • Sinusitis • Iritasi kronik Rokok Alkohol Inhalasi uap Debu • Pasien yang bernafas melalui mulut Faktor Presdiposisi
  • 30.
    Faringitis Kronik Hiperplastik Terjadi perubahanmukosa dinding posterior faring Gejala : - Mengganjal •- Tenggorokan kering •- Gatal •- Batuk berdahak Pemeriksaan : Tampak mukosa dinding posterior tidak rata bergranular Faringitis Kronik Atrofi Sering timbul bersamaan dengan rinitis atrofi Gejala : - Tenggorokan terasa kering dan tebal - Mulut berbau Pemeriksaan : Mukosa faring ditutupi oleh lendir yang kental dan bila diangkat tampak mukosa kering
  • 31.
    FARINGITIS SPESIFIK 1. FaringitisLuetika Etiologi : Treponema palidum Stadium primer • Terpadat pada lidah, palatum mole, tonsil & dinding posterior faring berbentuk bercak keputihan. Stadium sekunder • Eritema pada dinding faring yang menjalar ke arah laring Stadium tersier • Terdapat guma • Predileksi : tonsil dan palatum
  • 32.
    2. Faringitis tuberkulosis Prosessekunder dari TB paru Gejala • Keadaan umum pasien buruk : anoreksia dan odinofagia • Nyeri hebat ditenggorok • Nyeri ditelinga atau otalgia • Pembesaran KGB servikal Diagnosis • Pemeriksaan sputum BTA • Biopsi jaringan yang terinfeksi Terapi • Sesuai terapi TB
  • 33.
    OAT Kategori 1 •Pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis. • Pasien TB paru terdiagnosis klinis • Pasien TB ekstra paru OAT OAT Kategori 2 • Pasien kambuh • Pasien gagal pada pengobatan dengan paduan OAT kategori 1 sebelumnya • Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-up)
  • 34.
    RIWAYAT PENGOBATAN SEBELUMNYA KASUSBARU Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (28 hari). KASUS KAMBUH (RELAPS) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif. KASUS DEFAULTED ATAU DROP OUT Adalah pasien yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.
  • 35.
    KASUS GAGAL • Adalahpasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) • Adalah pasien dengan hasil BTA negatif gambaran radiologik positif menjadi BTA positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan KASUS KRONIK / PERSISTEN Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai pengobatan ulang kategori 2 dengan pengawasan yang baik.
  • 38.
  • 39.
    Akut • Viral • Bakteri Membranosa •Difteri • Angina plaut vincent Kronik • Akibat rangsangan yang menahun dr rokok • Beberapa jenis makanan, higiene mulut buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik & pengobatan tonsilitis akut yang inadekuat TONSILITIS Peradangan tonsila palatina
  • 40.
  • 41.
    • EBV (tersering) •Hemofilus influenza • Coxschakie virus Etiologi • Menyerupai gejala common cold yang disertai rasa nyeri tenggorok • Tampak luka-luka kecil pada palatum dan tonsil yang sangat nyeri Gejala • Istirahat, minum cukup • Analgetika : Paracetamol 10-15 mg/kgbb • Antivirus (jika gejala berat) Lamivudin 150 mg p.o, 300 mg p.o Terapi TONSILITIS VIRAL
  • 42.
  • 43.
    Tonsilitis lakunaris ( bercak-bercakdetritus menjadi satu, membentuk alur-alur ) Tonsilitis folikularis (Tonsilitis akut dengan detritus yang jelas) Kumpulan leukosit, bakteri yang mati, dan epitel yang terlepas  mengisi kriptus tonsil dan tampak sebagai bercak kuning
  • 44.
    GEJALA KLINIS • Nyeritenggorok • Nyeri waktu menelan • Demam tinggi • Malaise • Nyeri sendi • Tidak nafsu makan • Rasa nyeri di telinga (otalgia) PEMERIKSAAN FISIK • Tonsil membengkak, hiperemis, dan terdapat detritus berbentuk folikel, lakuna, atau tertutup oleh membran semu • Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan
  • 45.
    • Antibiotik spektrumluas (Penisilin, Eritromisin)  Penisilin G Benzatin 50 mg/kgBB, Eritromisin 4x500 mg/hari • Antipiretik  Paracetamol 10-15 mg/kgBB • Obat kumur yang mengandung desinfektan  Betadin kumur 1%, selama 30 detik, tiap 3-4 jam TERAPI
  • 47.
    Corynebacterium diphteriae Tersering padaanak berusia kurang dari 10 tahun, frekuensi tertinggi pada usia 2-5 tahun TONSILITIS DIFTERI
  • 48.
    Corynebacterium  berkembang biak padamukosa saluran nafas Eksotoksin  diserap membrane mukosa dan menimbulkan peradangan dan penghancuran epitel saluran nafas nekrosis Leukosit menginfiltrasi daerah nekrosis  patchy exudate  stadium lanjut  fibrous exudate  bentuk pseudomembran (sulit dilepas dan mudah berdarah Pseudomembran  menyebabkan edema jaringan dibawahnya  obstruksi saluran nafas  kematian Toksin dapat menyebar ke seluruh tubuh PATOFISIOLOGI
  • 49.
    GEJALA & TANDA GEJALAUMUM • Demam subfebris • Nyeri kepala • Penurunan nafsu makan • Badan lemah • Nadi lambat • Nyeri menelan GEJALA LOKAL • Tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor  makin lama makin meluas dan bersatu bentuk membran semu  dapat meluas dan menyumbat saluran napas • Membran mudah berdarah jika diangkat • Kelenjar limfe leher membengkak  bull neck/burgemeester’s hals
  • 50.
    • Anti DifteriSerum (ADS) 20.000-100.000 unit • Antibiotika  penicillin atau eritromisin Penisilin prokain 50.000-100.000 kgbb/hri slm 7-10 hri Eritromisin 25-50 mg/kgBB, dlm 3 dosis slm 14 hari • Kortikosteroid 1,2 mg/kgBB/hari • Antipiretik : Paracetamol 10-15 mg/kgbb Terapi
  • 51.
    Etiologi: • Bakteri spirochaeta/treponemakrn kurangnya higiene mulut, def. vit C. Gejala : • Demam tinggi, sakit kepala, ggn pencernaan, nyeri dimulut, hipersalivasi, gigi & gusi mudah berdarah. Pemeriksaan : • Mukosa mulut dan faring hiperemis, tampak memebran putih keabuan di atas tonsil, uvula, dinding faring, gusi seta prosessus alveolaris, kel. submandibular memebesar Terapi : • Perbaiki higiene mulut • Antibiotik spektrum luas (Penisilin G Benzatin 50 mg/kgBB, • Eritromisin 4x500 mg) selama satu minggu • Vit B kompleks (1-2x/hari) dan Vit C (200-600 mg/hari) ANGINA PLAUT VINCENT (STOMATITIS ULCERO MEMBRANOSA)
  • 52.
    TONSILITIS KRONIK Faktor predisposisi: •Rangsang yang menahun dari rokok • Makanan • higiene mulut yang buruk • kelelahan fisik • Pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat Tanda : • Tonsil membesar • Permukaan tidak rata • Kriptus melebar berisi detritus Gejala : • Rasa mengganjal di tenggorok • Kering • Nafas berbau
  • 53.
    T0: tonsil dalamfossa tonsil atau telah diangkat T1: besarnya ¼ arkus anterior –uvula T2: besarnya ½ arkus anterior –uvula T3: besarnya ¾ arkus anterior –uvula T4: besarnya mencapai uvula atau lebih BESARNYA TONSIL
  • 54.
    • Operasi pengangkatanseluruh tonsil palatina. Tonsilektomi • Pengangkatan tonsil palatina dan jaringan limfoid di nasofaring yang dikenal sebagai adenoid atau tonsil faringeal. Tonsiloadenoidektomi TONSILEKTOMI
  • 56.
    • Massa yangterletak pada dinding posterior nasofaring, termasuk dalam cicin waldeyer Adenoid • Adenoid akan membesar pada anak usia 3 tahun dan mengecil dan hilang sama sekali pada usia 14 tahun Fisiologis ADENOID HIPERTROFI
  • 57.
    Sumbatan Koana Tuba eustachius Hipertrofiadenoid Infeksi saluran nafas atas berulang Pasien bernafas melalui mulut Fascies adenoid Sumbatan tuba eustachius Otitis media akut berulang Otitis media kronik PATOGENESIS
  • 58.
    • Dengan kuretasememakai adenotom Adenoidektomi • Perdarahan • Kerusakan dinding belakang faring Komplikasi TERAPI
  • 59.
    ABSES PERITONSIL Infeksi akutyang diikuti dengan terkumpulnya pus pada jaringan ikat longgar antara m.konstriktor faring dengan tonsil pada fossa tonsil.
  • 60.
  • 61.
    TATALAKSANA ANTIBIOTIK INTRAVENA • Ampicillin/sulbactam4 x 3 gram • Penicillin G 4 x 10 juta unit + Metronidazole 4 x 500 mg ANTIBIOTIK ORAL • Amoxicillin/Clavulanic acid 2 x 875 mg • Penicillin VK 4 X 500 mg + Metronidazole 4 x 500 mg • Clindamycin 2 x 600 mg / 4 x 300 mg
  • 62.
    KARSINOMA NASOFARING Karsinoma Nasofaring(KNF)  karsinoma yang muncul pada daerah nasofaring (area di atas tenggorok dan di belakang hidung), yang menunjukkan bukti adanya diferensiasi skuamosa mikroskopik ringan atau ultrastruktur.
  • 63.
    Peradangan kronis dinasofaring Infeksi virus Epstein-Barr Ikan asin dan nitrosamine  dalam ikan asin terdapat nitrosamine  meningkatkan resiko terjadinya ca nasofaring Sosial ekonomi, lingkungan, dan kebiasaan hidup  udara yang penuh asap dan rokok kontak dengan bahan karsinogenik ETIOLOGI
  • 64.
    MANIFESTASI KLINIS Gejala nasofaring: Epistaksis ringan, sumbatan di hidung Gejala telinga : Tumor dekat dengan muara tuba eustachius (Fossa Rosenmulleri)  tinnitus, otalgia Gejala mata : Diplopia Gejala saraf : Dekat dengan rongga tengkorak • Foramen laserum : Saraf otak ke III, IV,VI, dan dapat pula V  Diplopia, neuralgia trigeminal • Foramen jugulare : Saraf otak ke IX, X, XI, dan XII  Sindrom Jackson • Gejala metastasis/gejala di leher : Benjolan di leher
  • 68.
    PEMERIKSAAN FARING Keluhan umum: • Nyeri tenggorok • Nyeri menelan • Rasa banyak dahak • Sulit menelan • Rasa ada yang menyumbat atau mengganjal INSPEKSI : Rongga mulut, keadaan bibir, mukosa rongga mulut, lidah dan gerakan lidah, dinding posterior faring, kelenjar limfe, uvula, arkus faring, tonsil, mukosa gigi dan gigi geligi PALPASI : Palpasi curiga adanya tumor, sendi temporomandibular ketika buka mulut. ANAMNESIS PEMERIKSAAN FARING & RONGGA MULUT
  • 69.
  • 70.