METODOLOGI STUDI ISLAM

1. MSI merupakan salah satu komponen
   mata kuliah dasar umum (MKDU) yang
   harus diikuti oleh semua mahasiswa di
   setiap fakultas dan jurusan dalam
   lingkungan Perguruan Tinggi Islam
   dengan bobot 2 SKS, dan diberikan pada
   semester pertama. Mata Kuliah ini mulai
   diberikan pada tahun 1997 dengan SK
   Menag. No 383 yang merupakan
   pengembangan       dari  mata     kuliah
   DIRASAH ISLAMIYAH.
   MSI merupakan mata kuliah yang penting (urgen) untuk
    diberikan pada mahasiswa dalam rangka :
    a. Memberikan bekal metodologis, yaitu kemampuan memilih
       dan menerapkan metode yang dianggap tepat, cepat
       serta efektif dan        efesien dalam menempuh          studi
       Islam sekaligus menjadi dasar dalam mempelajari mata
       kuliah lainnya yang    terkait dengan mata kuliah keislaman.
    b. Diharapkan dengan bantuan metodologi akan mendapatkan
       pengetahuan yang komprehensif tentang Islam             dalam
       berbagai aspeknya baik yang terdapat pada sumber ajaran,
       Islam sebagai interpretasi          ulama dan        ilmuwan
       Muslim, historis dan aktualisasinya.
    c. Menjawab permasalahan terkait dengan masih lemahnya
       penguasaan       metodologi     umat Islam yang berakibat
       amat variatif dan parsialnya         pemahaman umat Islam
       terhadap ajaran Islam.
    d. Untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman terhadap
       Islam maupun diluar Islam yang selama ini seringkali
       dilakukan oleh para orientalis Barat
Metodologi Studi Islam
 Metodologi terdiri dari : Metode dan Logos. Metode berasal dari
  bahasa Yunani, Metha (sepanjang/melewati, hodos (jalan/cara). Jadi
  Metode adalah suatu ilmu tentang cara atau langkah-langkah yang
  ditempuh dalam suatu disiplin tertentu untuk mencapai tujuan
  tertentu. Sedangkan logos berarti ilmu. M. Santra Praja mengartikan
  metode : ilmu cara menyampaikan sesuatu kepada orang lain . JS.
  Badudu dan Sutan M. Zaini metode disebut dengan pengajaran atau
  penelitian. Dalam    bahasa arab disitilahkan dengan Thariqah,
  manhaj dan Wasilah (Nata, )

 Dalam Kamus Bahasa Indonesia metodologi diartikan suatu untuk
  mengungkapkan cara yang paling cepat dan tepat dalam melakukan
  sesuatu atau dengan kata lain cara kerja yang bersistem untuk
  memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan
  yang ditentukan.
 Metode menurut istilah adalah ajaran yang
  memberi uraian, penjelasan, dan penentuan
  nilai. Hugo F. Reading mengatakan metode
  adalah kelogisan penelitian ilmiah, sistem
  tentang prosedur dan teknik riset (Hugo dalam
  Yatimi, 2006 :147)

 Metode adalah suatu ilmu yang memberi
  pengajaran tentang sistem dan langkah yang
  harus ditempuh dalam mencapai suatu
  penyelidikan     keilmuan.   Dalam      berbagai
  penelitian ilmiah, langkah-langkha pasti harus
  ditempuh agar kelogisan penelitian ilmiah benar-
  benar nyata dan dapat dipercaya semua
  masyarakat. (M. Yatimi Abdullah, 2006 :147)
 Abraham Kaflan metodologi adalah pengkajian
  (study), mengenal penggambaran (deskripsi),
  penjelasan (eksplanasi) dan pembenaran
  (justifikasi) sehingga melahirkan generalisasi
  (penyimpulan). Dengan kata lain cara atau
  prosedur yang ditempuh dalam memecahkan
  suatu masalah (mulai menemukan fakta hingga
  sampai pada penyimpulan)

 Dalam   penggunaannya   Abraham   Kafflan
  membedakan metodologi dalam empat macam
  penggunaan :
1. Teknik-teknik atau prosedur yang digunakan
   dalam ilmu pengetahuan (science) atau
   dalam konteks penelitian seperti survey,
   statistik, interview, analisis fakta dll.
2. Basa-basi (honorific) menerangkan “apa itu
   metode pengetahuan yang digunakan”, tanpa
   penjelasan lebih lanjut (konsep yang belum
   jelas)
3. Epistimologi (teori pengetahuan) atau terkait
   dengan cara mendapatkan pengetahuan.
4. Metode, teknik-teknik umum yang digunakan
   dalam berbagai ilmu pengetahuan.
Mengapa diperlukan
metodologi dalam studi
Islam?
1. Sebagaimana gagasan awal lahirnya MSI
   untuk mengupayakan cara yang cepat dan
   tepat dalam mempelajari Islam karena pada
   mata kuliah sebelumnya tidak banyak memuat
   tentang metodologi
2. Untuk    menampilkan     kembali     sejumlah
   hasanah dan intelektual dari masa lalu hingga
   sekarang’
3. Karena keilmuan selalu berkembang seiring
   dengan perkembangan pemikiran, peradaban
   dan kebudayaan yang berkembang.
4.   Luasnya ruang lingkup ajaran Islam, (material dan spiritual,
     transenden dan imanent) jasmani dan rohani, kongkrit dan
     abstrak) sehingga dengan mengunakan metodologi yang
     benar diharapkan dapat menghasilkan kesimpulan yang tepat
     dan benar tentang Islam.

5.   Mukti Ali mengatakan bahwa salah satu penyebab
     kemunduran umat Islam karena metodologi dan pendekatan
     yang digunakan selama ini masih pincang. Ahli ilmu
     pengetahuan spt orientalis mendekati Islam hanya dengan
     menggunakan kacamata ilmiah, akibatnya penelitian yang
     dilakukan belum menyeluruh, mereka tidak mengerti Islam
     secara utuh, yang mereka ketahuan ttg ISlam hanya
     eksternalistis (bagian luarnya). Sementara itu para ulama
     sudah terbiasa memahami ajaran ISlam secara doktrin dan
     dogmatis, akibatnya penafsiran tersebut sulit diterapkan di
     tengah-tengah kehidupan masyarakat yang modern dan
     semakin global.
Metodologi Studi Islam
1.   Pengertian Studi Islam (Dirasah Islamiah/Islamic Studies)
     adalah usaha sadar, sistematis dan metodologis untuk
     mempelajari (mengetahui, memahami dan membahas
     secara mendalam) hal-hal yang berkaitan dengan Islam baik
     yang berhubungan dengan normativitasnya, historisitasnya
     maupun aktualisasi secara nyata dalam kehidupan sehari-
     hari sepanjang sejarah kehidupan manusia (Muhaimin)
2.   Pengertian Metodologi Studi Islam adalah suatu
     ilmu yang memuat/berisi prosedur atau langkah-langkah
     yang ditempuh dalam mempelajari Islam, secara tepat cepat,
     efektif dan efesien dari mulai menemukan fakta sampai
     melakukan generalisasi baik Islam sebagai sumber ajaran,
     Islam sebagai pemahaman, sebagai pengalaman (historis).
Siapa yang            mempelajari
Islam ?
Usaha mempelajari Islam tidak hanya dilakukan
oleh orang Islam tetapi juga para orientalis
Barat. Mempelajari Islam bagi orang Islam
dengan Para orientalis memiliki perbedaan
dalam tujuan. Orang Islam mempelajari Islam
untuk dijadikan keyakinan dan sebagai pedoman
atau petunjuk hidup, sedangkan bagi para
orientalis tujuannya ada yang hanya sekedar
untuk ilmu pengetahuan, dan ada juga yang
memiliki tujuan politik.
Beberapa komentar
Orientalis ttg hadis
 Alois Sprenger, misionaris Jerman: hadis adalah kumpulan cerita
  bohong tapi menarik.
 Wiliam Muir, orintalis Inggris, dalam literatur hadis, nama Nabi
  Muhamamd sengaja dicatut untuk menutupi kebohongan dan
  keganjilan, 4000 hadis yang dianggap sahih oleh Imam bukhari
  separohnya harus ditolak.
 Goldziher, (orientalis paling mengerti ttg Islam) sebagian besar
  hadis tidak dapat dijamin keasliannya dan tidak dapat dijadikan
  sumber informasi sejarah awal Islam, ia hanya merupakan reflektif
  interaksi dan konplik pelbagai aliran dan kecenderungan dikalangan
  masyarakat Muslim pada periode kematangan, ketimbang sebagai
  dokomen sejarah awal perkembangan Islam. Dalam arti hadis
  merupakan produk bikinan masyarakat Islam beberapa abad
  setelah Nabi wapat.
 David Samuel. Meragukan otentisitas hadis
  dengan alasan, 1) karena tidak ada bukti
  yang menunjukan bahwa hadis telah
  dicatat sejak zaman Nabi, dan kedua
  lemahnya ingatan para perawinya.
 Joseph Schacht, tidak ada hadis yang
  benar-benar berasal dari Nabi, kalau pun
  ada dan bisa dibuktikan, jumlahnya amat
  sedikit. Hadis baru muncul pada abad ke 2
  H, dan beredar luas pada zaman Syafi’i
  abad ke-3 H. Hadis dalam Kutubus Sittah
  tidak dapat dijamin keasliannya.
 Goethe-seorang filosuf asal Jerman berkata : ”Bagaimana juga saya
  membaca al-Qur’an itu, pertama ia menggerakan saya pada setiap
  waktu dengan kesegaran dan dengan cepat menganjurkan pendirian
  hati serta keheranan yang akhirnya ia mendorong saya kepada
  pengetahuan agama. Al-Qur’an mempunyai susunan kata yang
  molek dan indah, isi dan tujuannya mengandung sesuatu pedoman.
  Ia adalah kemuliaan yang maha tinggi. Demikianlah al-Qur’an akan
  berjalan terus dan bekerja disepanjang masa dengan pengaruh
  yang amat kuat serta gagah dan teguh.

 Seorang kritikus non muslim bernama Siir William Muyer yang
  menerangkan tentang kerendahan hati dan kesederhanaan
  rasulullah antara lain katanya : Kesederhanaan adalah merupakan
  ilustrasi (gambaran) seluruh kehidupan Muhammad. Perasaan dan
  sopan santun adalah termasuk sifatnya yang sangat menonjol dalam
  pergaulan terhadap pengikutnya yang paling rendah. Sifat-sifat yang
  melekat pada dirinya mampu menarik orang yang ada
  disekelilingnya.
Mengapa Islam penting
untuk dipelajari ?
1.   Sebagai tanggung jawab moral dan konsekwensi manusia yang
     mengakui dan meyakini Islam sebagai agamanya. (attaubah : 122,
     albaqarah : 208, Ali Imran : 85, Al-an’am : 125, Ali Imran : 102, Yunus :
     25, Azzumar : 22)
2.   Islam    dihadapkan     dengan       perkembangan       kemajuan     ilmu
     pengetahuan dan teknologi dengan berbagai dampak yang
     ditimbulkannya.
3.   Islam membawa missi sebagai rahmatan lil’alamin dan diyakini
     sebagai agama yang memiliki ajaran yang universal dan lengkap.
     Harun Nasution mengatakan bahwa Islam memiliki multi aspek.
4.   Abudin Nata, kehadiran Islam sebagi agama diyakini menjamin
     terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan bathin :
     ISlam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif,
     menghargai akal mellaui pengembangan ilmu penget. Dan
     pengembangan iptek, seimbang dalam memenuhi kebutuhan material
     dna spiritual, mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu,
     bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, kemitraan,
     anti feodalistik, cinta kebersihan, mengutamakan persaudaraan,
     mementingkan ahklak dan sebagainya.
4.   Harun Nasution, Fakta menunjukan bahwa pemahaman
     umat Islam terhadap ajaran Islam amat variatif , situasi
     keberagamaan di Indonesia cenderung menampilkan
     kondisi keberagamaan yang legalistik formal, sehingga
     terkesan lebih mementingkan bentuk daripada isi,
     akibatnya agama kurang dipahami sebagai seperangkat
     aturan moral dan etika yang membebaskan umat dari
     kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan, posisi
     umat Islam masih berada pada posisi marginal dan
     problematis.
5.   Masdar F, Mas’udi : Sebagian umat Islam di Indonesia
     masih mengabaikan sistem nilai dan etika dalam
     kehidupan. Survey Global Corruption Indec International
     (1999/2000) dan ICW, Indo terkurop di Asia dan no. 3 di
     dunia. Tahun 2003, hasil survey Transparance
     Internasional peringkat 6 dari 133 negara.
6. Terjadinya konflik dan gesekan-gesekan antar
   umat beragama dan tantangan dari pihak-pihak
   tertentu yang tidak menginginkan Islam
   berkembang di muka bumi.
7. Untuk menjadikan Islam sebagai agama yang
   fungsional baik yang berkenaan dengan fungsi
   edukatif, yakni upaya transper nilai dan norma
   agama,       fungsi    salfatif   (penyelamatan,
   kedamaian,       ketenangan),    fungsi    sosial
   (pengawasan/kontrol sosial), fungsi integratif
   (integrasi sosial), fungsi pembatasan (limitasi)
   dan pengkondisian terhadap tindakan atau
   prilaku individu dan masyarakat.
Tujuan Studi Islam
 Mempelajari secara mendalam ttg apa hakikat agama
  Islam (agama firah/tauhid) dan bagaimana posisinya
  dan hubungannya dengan agama lain dalam kehidupan
  budaya manusia.
 Mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran
  agama Islam dan bagaimana aktualisasinya sepanjang
  sejarah kehidupan manusia
 Mempelajari secara mendalam tentang isi-isi pokok
  ajaran Islam dan penjabaran serta operasionalisasinya
  dalam perkembangan budaya dan peradaban umat
  Islam.
 Mempelajari secara mendalam prinsif-prinsif dan
  nilai dasar serta bagaimana realisasinya dalam
  membimbing        dan      mengontrol     serta
  mengarahkan perkembangan budaya dan
  peradaban manusia terlebih di zaman modern
  sekarang ini.
 Dengan     tujuan   diatas   diharapkan    juga
  bermanfaat       bagi      peningkatan      dan
  pengembangan kurikulum pendidikan Islam
  dalam usaha transpormasi kehidupan sosial
  budaya serta agama umat Islam sekarang dan
  akan datang.
PENDEKATAN STUDI
ISLAM
 Pendekatan “approach, artinya cara pandangan atau
  paradigma terhadap sesuatu.
   JENIS-JENIS PENDEKATAN STUDI ISLAM
                                          Holistik
                     Teologi Normatif
                       Sosiologis
                      Sosial -Budaya
                      Antropologis
                          Sejarah
                         Filsafat
                        Psikologis
BEBERAPA PENDEKATAN
STUDI ISLAM.
   Pendekatan atau dalam bahasa Inggris disitilahkan dengan “approach, artinya cara
    pandangan atau paradigma terhadap sesuatu (Nata, 1997 : 28). Yang dimaksud
    dengan pendekatan dalam konteks studi Islam adalah cara pandadang atau
    paradigma dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami
    agama.
   Beberapa Pendekatan dalam Memahami Agama.
    1.   Pendekatan Teologi Normatif
         Pendekatan teologi dalam memahami agama adalah diartikan sebagai
         upaya memahami agama dengan menggunakan empiris dari suatu
         keagamaan dianggap paling benar. Pendekatan yang menekankan
         bentuk-bentuk formal simbol-simbol keagamaan, sehingga memandang
         orang lain keliru, kafir, sesat dan murtad demikian juga sebaliknya.
         Antara satu aliran dengan aliran lain tidak terbuka dilaog dan saling
         menghargai. Pendekatan teologi dalam memahami agama cendrung
         bersikap tertutup dan dengan pendekatan ini agama cendrung hanya
         merupakan keyakinan dan pembentukan sikap keras dan napak
         asosial.
Pendekatan teologi dalam memahami
agama cenderung menggunakan cara
berfikir deduktif, cara berfikir yang
berawal dari keyakinan yang diyakini
benar dan mutlak adanya krn ajaran
berasal dari Tuhan sudah pasti benar,
sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi.
Pendekatan      normatif   yaitu  suatu
pendekatan yang memandang agama
dari segi ajarannya yang pokok dan asli
dari Tuhan yang didalamnya belum
terdapat penalaran pemikiran manusia.
2. Pendekatan Sosiologis,
      Sosiologis adalah ilmu kemasyarakatan, ilmu
  yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan
  dengan masyarakat atau sifat masyarakat. Atau ilmu
  yang      menggambarkan         tentang     keadaan
  masyarakatnya lengkap dengan struktur, lapisan, serta
  berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan.
  Pentingnya sosiologis digunakan sebagai salah satu
  pendekatan dalam memahami Islam, karena banyak
  bidang kajian agama yang baru dapat dipahami
  dengan menggunakan bantuan ilmu sosial. Melalui
  pendekatan sosiologi agama dapat dipahami dengan
  mudah, karena agama itu sendiri diturunkan untuk
  kepentingan masyarakat.
Mengapa Pendekatan Sosiologis
              Perlu?
Jalaluddin Rahmat : Islam Alternatif
  Proporsi terbesar dalam al-quran adalah bicara tentang
   kemasyarakatan/sosial. 100 : 1
  Terkait dengan ibadah yg melibatkan org banyak penghargaan
   lebih besar dari yg dikerjakan sendiri. 27 :1
  Pelaggaran hak Allah, penyelesaiannya dengan manusia.
  Bila bersamaan antara hak Allah dengan keinginan
   bermuamalah, maka hak Allah bisa ditunda dan dikurangi.
  Seseorang yang bekerja untuk menyantuni seorang janda dan
   anak yatim, maka seolah-olah dia puasa dan sholat lail secara
   terus menerus. (Hadis)
  Alasan lain krn Agama diturunkan sesuai dengan setting sosial
   masyarakatnya.
3.   Pendekatan Sosial-Budaya
     Budaya adalah pikir dan akal budi. Budaya adalah segala
     sesuatu yang dilakukan oleh manusia sebagai hasil pemikiran
     dan akal budi. Atau hasil kegiatan dan penciptaan batin manusia
     baik dalam bentuk keseniaan, adat istiadat. Kebudayaan yang
     demikian selanjutnya dapat digunakan untuk memahami agama
     yang terdapat pada data empirisnya atau agama yang tampil
     dalam bentuk formal di masyarakat. Agama yang tampil tersebut
     berkaitan dengan kebudyaan yang berkembang di masyarakat
     tempat agama tersebut berkembang.

4.   Pendekatan Antropologi
     Antropologi adalah ilmu tentang manusia khususnya ttg asal
     usul, aneka warna bentuk        fisik, perkembangannya, jenis
     (bangsanya) adat istiadat dan kepercayaan masa lampau.
     Pendekatan antropologi dalam memahami agama adalah dapat
     diartikan sebagai salah satu upaya dalam memahami agama
     dengan melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan
     berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini juga
     akan dapat dilihat hubungan agama dengan berbagai masalah
     kehidupan manusia.
5. Pendekatan Sejarah
  Historis   merupakan      suatu    ilmu  yang
  didalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan
  memperhatikan unsur tempat, waktu, objek,
  latar belakang peristiwa tersebut. Pendekatan
  kesejarahan ini sangat penting            dan
  dibutuhkan dalam memahami agama, karena
  agama itu sendiri turun dari situasi yang
  kongkrit dan berhubungan dengan kondisi
  sosial kemasyarakatan. Seorang yang ingin
  memahami Alquran secara benar misalnya, ia
  harus mempelajari turunnya Alquran atau
  kejadian yang mengiring turunnya Alquran
6.   Pendekatan Filsafat
              Filsafat dapat diartikan sebagai aktivitas berpikir murni
     atau kegiatan akal dalam usaha memahami secara mendalam
     segala sesuatu. Berfikir secara filosofis dapat digunakan dalam
     emmahami agama terkait dengan hikmah, hakikat atau inti dari
     ajaran agama sehingga melalaui pendekatan ini seseorang tidak
     akan terjebak pada pengamalan ajaran agama yang bersifat
     formalistik, sementara nilai-nilai spiritual yang terkandung
     didalamnya tidak mereka rasakan.

7.   Pendekatan Psikologi
              Dalam Islam banyak dijumpai istilah-istilah yang
     menggambarkan sikap bathin, mislanya beriman dan bertakwa,
     orang shaleh, baik dan jujur. Semua itu adalah gejala-gejala
     kejiwaan yang terkait dengan agama.Dengan bantuan ilmu jiwa
     seseorang dapat      mengetahui tingkat keberagamaan yang
     dihayati, dipahami dan diamalkan seseorang.
     Pendekatan yang dilakukan dalam membangun psikologi Islam
     yang pernah dipraktikan oleh para psikolog Muslim terdahulu
     meliputi 3 aspek :
1. Aspek      skriptualistis,  yaitu     pendekatan
   pengkajian Islam yang didasarkan atas teks-
   teks Al-Qur’an dan Hadis secara literal
2. Aspek filosofis, pendekatan pengkajian
   psikologi Islam yang didasarkan atas prosedur
   berfikir spekulatif, yang mencakup berfikir
   yang sistimatis, radikal dan universal yang
   ditopang oleh kakuatan akal.
3. Pendekatan sufistik tasawuf, pendekatan
   pengkajian psikologi Islam yang didasarkan
   pada prosedur intuitif, ilham, cita rasa (Zauq).
METODE MEMAHAMI
   AGAMA ISLAM
A.    Metode Perbandingan (Komparasi) dari Ali Syari’ati
      dengan langkah :
     1.   Mengenal Allah dan membandingkan dengan persembahan
          agama lain
     2.   Mempelajari kitab Al-qur’an dan membandingkan dengan
          kitab samawi lainnya/yang dikatakan kitab samawi
     3.   Mempelajari kepribadian rasulullah dan membandingkan
          dengan tokoh-tokoh besar pada agama lain
     4.   Mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan mambanding
          dengan tokoh agama atau pemikiran agama lain.
B. Metode Tipologi dari Mukti Ali, yaitu usaha
   untuk mengklasifikasi topik atau tema-
   tema     tertentu  dari    ajaran      Islam
   dibandingkan dengan tipe atau tema
   tertentu yang sama pada agama lain,
   yakni :
  1.   Aspek ketuhanan berikut ciri-cirinya
  2.   Aspek kenabian;
  3.   Aspek Kitab suci,
  4.   Aspek     situasi/setting  sosial    sewaktu
       kemunculan pembawa agama/Nabi
C. Menurut Amin Abdullah, untuk melihat Islam
  sebagai sebuah ilmu dapat digunakan
  pendekatan ilmiah dengan cirinya : rasional,
  empiris dan obyektif. Untuk melihat Islam
  sebagai    agama      dapat       digunakan
  metode/pendekatan normatif teologis.

D. Mukti Ali, untuk melihat Islam sebagai agama
  dapat      digunakan      metode     doktriner,
  sedangkan melihat islam sebagai sebuah
  disiplin ilmu dengan menggunakan metode
  ilmiah. Metode ini selanjutnya disebutnya
  sebagai metode sintesis.
E. Menurut Nasruddin Razaq cara untuk
   memahami Islam dapat dilakukan dengan
   cara :
  1. Mempelajari sumber asli ajaran Islam
     (Al_qur’an dan Hadis) tidak dari berbagai buku-
     buku klasik.
  2. Islam harus dipelajari secara komprehensif dan
     integral sebagai satu kesatuan.
  3. Islam dipelajari melalui studi kepustakaan.
  4. Islam dipelajari dari ketentuan normatif ajaran
     Islam     selanjutnya    dikorelasikan   dengan
     kenyatan historis dan sosiologis yang ada
     dimasyarakat (Melihat idealitas ajaran Islam
     dan realitas yang dipahami/dilakukan umatnya.
F. Metode Filologi yaitu metode penelitian yang
  mempelajari dan meneliti naskah-naskah
  lama untuk mengerti apa yang           ada di
  dalamnya,     sehingga     dimengerti    latar
  belakang kebudayan masyarakat melahirkan
  naskah-naskah tersebut. Nabilah Lubis
  menyebutnya dengan tahqiq yakni penelitian
  yang cermat tentang suatu karya seseorang
  ttg kebenaran pengarangnya, isi karangan
  apa sesuai dengan mazhabnya, tingkat
  kebenaran     materinya,    kebenaran     dan
  ketelitian dalil yang digunakan serta
  memberikan penjelasan yang dianggap perlu.
G.Metode Hermeunetika, yaitu metode
   menginterpretasi sebuah teks dalam
   rangka untuk menemukan hubungan
   pemikiran yang diteliti dengan gejala
   sosial yang ada.
H.Metode Filsafat (berpikir mendalam).
J. Metode       Holistik     (menyeluruh-
   menggunakan multi pendekatan)
K. Metode Memahami Islam menurut Versi Depag :
   1.    Metode diakronis atau sosio historis, metode belajar islam
        yg menonjolkan aspek sejarah, dengan melihat suatu
   kenyataan yg          mempunyai hubungan dengan waktu,
   tempat, budaya, lingkungan dimana kepercayaan dan
   budaya itu muncul.
   2.    Metode singkronis analitik, metode memahami Islam yg
        memberikan        kemampuan analisis teoritik, yg
   menekankan telaah kritik dan aplikatif       praktis.
   3.    Metode problem solving, mengajak pemeluknya untuk
   melatih              menghadapi berbagai masalah dari cabang
        suatu ilmu pengetahuan dengan sulosinya.
   4. Metode empiris, mempelajari Islam melalui proses realisasi,
        aktualisasi     dan internalisasi norma dan kaidah Islam
        dalam suatu interaksi sosial.
   5.    Metode deduktif, yaitu menyusun kaidah-kaidah secara
   logis dan filosofis dan kaidah tersebut diaplikasikan dalam
   menentukan masalah            yang dihadapi. Metode ini
   berguna bagi istimbath hukum.
ISLAM DAN STUDI
 AGAMA
1.   PERLUKAN ISLAM DITELITI DENGAN MENGGUNAKAN
     INTERDISIPLINER ? : 2 (DUA) KELOMPOK YAKNI YANG PRO
     DAN KONTRA. KENAPA ?
2.   Alasan yang kontra beralasan karena akan merusak akidah para
     mahasiswa, dan meninggalkan pendekatan konvensional , agama
     sudah mapan dan wahyu dari Allah yang mutlak benar, Dieropa
     juga menolak dengan alasan ilmu dan nilai, ilmu dengan agama
     (kepercayaan) tidak bisa disingkronkan.
3.   Yang pro beralasan, karena dengan menggunakan berbagai
     pendekatan, akan sangat membantu dalam memahami ajaran
     islam, dan dengan melakukan kajian terhadap ISlam, bukan
     mempertanya/meragukan kebenaran Islam.
4.   Atho Mudzhar dan Mukti Ali tahun 1970-an mengatakan boleh
     diteliti.
5.   Jika boleh, wilayah-wilayah apa yang memungkinkan untuk
     diteliti ?
BENTUK GEJALA AGAMA YANG
DAPAT DITELITI
   NASKAH/SKRIPTURE KEAGAMAAN DAN SIMBOL KEAGAMAAN

   TOKOH DAN PEMELUK AGAMA (SIKAP, PRILAKU, PENGHAYATAN
    DAN PEMIKIRAN KEAGAMAAN) CONT. PERANAN ELIT AGAMA DALAM
    MEMBANGUN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI KOTA P.RAYA.

   RITUS, LEMBAGA DAN IBADAT KEAGAMAAN (SHOLAT, ZAKAT DAN
    HAJI) CONTOH : PENGARUH PEMBERIAN ZAKAT DALAM MENGATASI
    KEMISKINAN UMAT DI ……………………

   ALAT-ALAT KEAGAMAAN (MASJID, KA’BAH, LONCENG, GEREJA, KUIL,
    BEDUK, DLL) CONTOH : MASJID DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
    ISLAM (STUDI TENTANG IMPLEMENTASI FUNGSI SOSIAL MASJID DI
    KOTA PALANGKA RAYA)

   ORGANISASI KEAGAMAAN TEMPAT PARA PENGANUT AGAMA
    BERKUMPUL SEPERTI MUI, BKPRMI, DMI, NU, MUHAMMADIYAH,
    HIZBUT TAHRIR, LDII DLL. CONTOH : PERANAN BKPRMI DALAM
    MENGATASI BUTA HURUF AL-QUR’AN DI KOTA P.RAYA.
Islam sebagai gejala budaya
                         (Fisik dan Non Fisik)


                       Islam sebagai gejala sosial
                   (Interaksi sosial/Pengaruh agama
    Wilayah
Penelitian Agama        Islam sebagai wahyu
                      (Ulumul Qur’an dan Hadis)



                        Islam produk sejarah
                    Teologi/Khulafah Ar-Rasyidin/
                    Sejarah Perkembangan Islam
   Konsep metode pendidikan menurut Al-Qur’an (Telaah atas surat alnahl ayat 125)
   Konsep materi pendidikan menurut alqur’an
   (telaah atas surat Luqman ayat 10 -15 dst)
   Gender dalam perspektif Al-Qur’an
   Tujuan pendidikan menurut Al-Qur’an
   Syair Fatawa Kiyamat (Karya…….)
   Teori kepemimpinan dalam al-Qur’an)
   Korelasi antara pelaksanaan ritual keagamaan terhadap sikap sosial (Studi pada
    masyarakat Kereng Pangi)
   Korelasi pemahaman keagamaan terhadap etos kerja (Studi pada masyarakat Dayak
    Muslim Bakumpai desa Tumbang Samba)
   Konsep kurikulum pendidikan menurut imam Al-Ghazali
   Pendidikan Akhlak menurut Athiyah Al-Abrasyi.
   Korelasi antara pemberian zakat terhadap pengentasan kemiskinan (Studi terhadap
    para muzakiki dan mustahik zakat di kelurahan puntun Palangka Raya)
   Problemtika Pengelolaan Zakat di Keluarhan Puntun Palangka Raya.
   Nilai-Nilai Pendidikan Pada upacara Bahantar Jujuran (Studi Pada masyarakat
    Banjarmasin di Kota Palangka Raya)
   Nilai-nilai pendidikan pada upacara tasmiyah dan akikah (Studi Pada masyarakat…..)
   Motivasi Ziarah Ke Makam Wali (Studi Pada Masyarakat …….)
   Korelasi antara mengikuti pengajian pada majlis taklim terhadap peningkatan amaliyah
    keagamaan.
   Optimalisasi Fungsi Pendidikan Masjid di Desa Basarang)
Wilayah Penelitian
Agama
  Islam sebagai gejala budaya (fisik maupun non fisik)
  Islam sebagai gejala sosial (hubungan timbal balik
   antara agama dan masyarakat atau pengaruh agama
   terhadap      tingkah    laku     masyarakat/pengaruh
   masyarakat terhadap pemikiran keagamaan)
  Islam sebagai wahyu (Persoalan terkait dengan Al-
   Qur’an/terkait dengan ulumul Qur’an dan Hadis)
  Islam produk sejarah (Terkait dengan Teologi Islam,
   Khilafah Ar-Rasyidin, sejarah pertumbuhan dan
   perkembangan agama dan umat Islam)
PETA STUDI ISLAM
 PADA ZAMAN AWAL, STUDI ISLAM DILAKUKAN DI MASJID
  (RASULULLAH MENGAJARKAN AGAMA DI MULAI DARI MASJID
  DEMIKIAN JUGA MENGEMBANGKAN MASYARAKAT ISLAM)
 MUHAMMAD YUNUS, MENGKLASIFIKASI PUSAT STUDI ISLAM
  DALAM 3 PERIODE :
   1.  ZAMAN KLASIK : MEKAH-MADINAH, (HIJAZ) KUFFAH,
  BASHRAH, (BAGDAD)       DAMASKUS-(SYIRIA)- PALESTINA
  (SYAM)     DAN MESIR). Di MAKAH      DI      MOTORI OLEH
  MU’ADZ BIN JABAL, DI     MADINAH     OLEH ABU      BAKAR,
      UMAR DAN      USMAN, DI    KUFFAH        OLEH ALI BIN
  ABI THALIB DAN       ABDULLAH BIN         MAS’UD,   DI
  BASHRAH OLEH ABU MUSA         AL    ASY’ARI DAN ANAS BIN
  MALIK     DAN     DI     DAMASKUS    OLEH ABU DARDA
  DAN        UBADAH,      DI    MESIR OLEH ABDULLAH
  BIN AMR BIN ASH.
2. ZAMAN PERTENGAHAN (BAGDAD         DGN BAIT
 ALHIKMAH OLEH ALMAKMUN PUTRA HARUN AR-
 RASYID,(BANI ABBASYIAH 813-833 M), MADRASAH
 NIDZAMIYAH OLEH NIZAM AL MULK, DI MESIR
 DENGAN UNIV. AL -AZHAR       OLEH FATIMIYAH
 (SYIAH)/ UBAIDILLAH JAUHAR AL KATIB AL SIKILI,
 SYIAH. ABDUL AZIS MENDIRIKAN DARUL
 HIKMAH (PUSAT KAJIAN) 1005 M DAN
 SPANYOL     DENGAN UNIV. CORDOVA OLEH
 ABDUL RAHMAN III (BANI UMAYYAH - 929-961 M)
 SEKITAR ABAD KE 9 DAN KE 10 DAN DISINILAH
 BANYAK LAHIR PARA FILOSOF MUSLIM.
3. ZAMAN MODERN (ZAMAN SEKARANG BAIK DIDUNIA TIMUR                  MAUPUN
    DUNIA BARAT)

   DI TEHERAN (IRAN) ADA UNIVERSITAS THEHERAN DENGAN FAKULTAS KULIYYAH
    ILAHIYYAH (FAKULTAS AGAMA), ADA PERPUSTAKAAN KHUSUS YG MENYIMPAN NASKAH-
    NASKAH KONO/KLASIK DALAM BAHASA PERSIA

   UNIVERSITAS IMAM SHADIQ, BELAJAR TTG ISLAM DAN ILMU UMUM

   DI ARAB SAUDI ADA UNIVERSITAS UMMUL QORA’

   DI SYIRIA (UNIVERSITAS DAMASKUS) ADA FAKULTAS SYARI’AH YG DIDALAMNYA ADA
    FAKULTAS USHULUDDIN, TASAWUF, TAFSIR DAN SEJENISNYA, DISAMPING MEMILIKI
    FAKULTAS UMUM

   DI MESIR ADA UNIVERSITAS AL-AZHAR (DIBAWAH TAHUN 1961 MASIH MENGEMBANGKAN
    ILMU AGAMA TP SETELAH 1961 SUDAH MEMBUKA FAKULTAS UMUM

   DI MALAYSIA ADA UNIVERSITAS ISLAM INTERNASIONAL MALAYSIA DENGAN PROGRAM
    STUDI ISLAM FAKULTAS KEWAHYUAN DAN ILMU KEMANUSIAAN

   DI INDIA ADA UNIVERSITAS ALIGARCH UNIVERSITY YANG MEMBAGI STUDI ISLAM
    MENJADI 2 : A) MENGENAI ISLAM SEBAGAI DOKTRIN (FAKULTAS USHULUDDIN, MAZHAB
    SYIAH DAN SUNNI) DAN B) ISLAM SEBAGAI SEJARAH PADA FAKULTAS HUMANIORA .
Pusat Studi Islam di
Barat
 Universitas Chicago studi Islam menekankan pada : pemikiran
  Islam, bahasa Arab, naskah klasik dan bahasa Islam non Arab
  (Turki, Urdo, Persia dll)
 Di Amerika studi Islam umumnya menekankan pada Sejarah Islam,
  Bahasa Islam selain Arab, Sastra dan Ilmu Sosial.
 Di Ucla studi Islam : 4, yakni 1) Doktrin dan sejarah Islam dan
  sejarah pemikiran Islam ; 2) Bahasa Arab, teks-teks klasik mengenai
  sejarah dan hukum; 3) Bahasa non Arab muslim; 4) Ilmu-ilmu sosial
  Islam
 Di London studi Islam di gabung dalam fakultas Studi Ketimuran dan
  Afrika salah satu prodinya adalah masyarakat dan budaya Islam
 Di Kanada, menitik beratkan pada : 1) kajian budaya dan peradaban
  Islam dari zaman Nabi hingga kontemporer; 2) Ajaran Islam dan
  masyarakat Islam di seluruh dunia; 3) mempelajari bahasa Muslim.
 Di Belanda belakangan lebih menekankan kajian Islam di Indonesia
  dan daerah-daerah tertentu.
Pusat Studi Islam di
Barat
 Di Jerman terutama setelah perang dunia II studi Islam dilakukan : a)
    Di Jerman terutama setelah perang dunia II studi Islam dilakukan : a)
    Institut Perguruan Tinggi; b) Studi ketimuran secara umum, c) koleksi
    perpustakaan dan d) Institusi dan organisasi diluar perguruan Tinggi.
    Berdasarkan laporan Dewan Ilmu Pengetahuan Jerman bulan
    November 1960 merekomendasikan berdirinya 32 lembaga baru bagi
    studi ISlam meskipun tahun 1972 dari 21 lembaga kajian ketimuran
    yang didirikan hanya 3 yang terkait dengan lembaga studi ISlam.
    Program terkait dengan studi ISlam berada pada fakultas filsafat
    meliputi budaya dan sejaran orang Islam. Program studi ISlam
    meliputi program dasar selama 4 semester ( 2 tahun) dan program
    utama juga selam 4 semester (2 tahun) untuk program magister (MA)
    dan program doktoral selama 2 tahun.
   Di Perancis,
   Di Inggris,
   Di Rusia,
   Di Indonesia dilaksanakan di UIN, IAIN, STAIN dan Perguruan Tinggi
    Islam Swasta.
PENELITIAN AGAMA
                  DAN MODEL-

                    MODELNYA dan obyektif utk
    Penelitian (research) adalah upaya sistematis
    mempelajari suatu masalah dan menemukan prinsif-prinsif
    umum atau upaya pengumpulan informasi yg bertujuan
    menambah pengetahuan. Pengt. mns tumbuh dan berkembang
    berdasarkan kajian–kajian sehingga melahirkan penemuan-
    penemuan, shg ia siap merevisi pengetahuan masa lalu melalui
    penemuan baru.
   PENELITIAN ADALAH UPAYA MENEMUKAN JAWABAN ATAS
    SEJUMLAH MASALAH BERDASARKAN DATA-DATA YG
    TERKUMPUL. PENELITIAN MENUNTUT KEPADA PELAKU-
    PELAKUNYA AGAR PROSES PENELITIAN YG DILAKUKAN ITU
    BERSIFAT ILMIAH YAKNI SISTEMATIS, TERKONTROL,
    BERSIFAT EMPIRIS (BUKAN SPIKULATIF) DAN HARUS KRITIS
    DALAM PENGANALISAAN DATA-DATANYA SEHUBUNGAN DGN
    DALIL-DALIL HIPOTESIS YG MENJADI PENDORONG MENGAPA
    PENELITIAN DILAKUKAN (Nata, MSI, 1998, 119)
 TUJUAN       PENELITIAN      ADALAH    UNTUK
  MENEMUKAN JAWABAN TERHADAP SUATU
  PERSOALAN          /     MASALAH      MELALUI
  PENERAPAN PROSEDUR ILMIAH.
 Penelitian dipandang sebagai kegiatan ilmiah ?
  Krn menggunakan metode keilmuan, yakni gab.
  Antara pendekatan rasional (logis/akal) dan
  empiris. Met. Pendekatan empiris merupakan
  kerangka      pengujian    dalam    memastikan
  kebenaran.
 Metode ilmiah adalah       usaha untuk mencari
  jawaban ttg fakta-fakta.
Kriteria metode ilmiah
 menurut Moh. Nazir :

1.Berdasarkan fakta.
2.Bebas dari prasangka.(Bukan menduga)
3.Menggunakan prinsif-prinsif analisis.
4.Menggunakan hipotesis.
5.Menggunakan ukuran obyektif.
6.Menggunakan teknik kuantitatif.
Langkah yg ditempuh
dalam metode ilmiah :
1.   Memilih dan mendefinisikan masalah,
2.   Survey terhadap data yg tersedia
3.   Memformulasikan hipotesis
4.   Membangun kerangka analisis serta alat-alat
     dalam menguji hipotesis
5.   Mengumpulkan data primer
6.   Mengolah, menganalisis dan membuat
     interpretasi
7.   Membuat generalisasi atau kesimpulan
8.   Membuat laporan
Pengabsahan data:
 Pengabsahan data : ialah upaya yang
  dilakukan untuk mencek data guna
  mejamin bahwa data yang kita kumpulkan
  memang benar-benar terjadi menurut
  Moeleong dilakukan dengan teknik
  triangulasi    :   Sumber,     Metode,
  Penyelidikan dan Teori:
    Triangulasi dengan sumber dapat dilakukan
     dengan cara :
1.   Membanding data hasil pengamatan dengan
     hasil wawancara
2.   Memabnding apa yang dikatakan orang di depan
     umum dengan apa yang dikatakan secara
     pribadi.
3.   Membanding apa yang dikatakan orang tentang
     situasi penelitian dengan apa yang dikatakan
     sepanjang waktu.
4.   Membanding perspektif seseorang dengan
     berbagai pendapat orang.
5.   Membanding hasil wawancara dengan isi suatu
     dokumentasi
 Triangulasi dengan metode, dilakukan dengan
  jalan :
1. Mengecek derajat kepercayaan penemuan hasil
  enelitian dengan beberapa teknik pengumpulan
  data.
2. Mengecek derajat kepercayaan beberapa sumber
  data dengan metode yang sama.
 Triangulasi dengan Penyidik yakni dengan jalan
  memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya
  untuk kepercayaan data atau dengan cara
  membandingkan hasil pekerjaan seorang analis
  dengan analis lainnya.
 Triangulasi dengan teori, yaitu
   membandingkan dengan teori-teori,
   penjelasan dari para ahli/pakar
   dibidangnya sebagai penjelas
   pembanding.
 Analisis Data (Kualitatif) versi Miles dan
   Hubberman :
1. Collection Data
2. Reduction Data
3. Display Data atau penyajian
4. Conclusion atau penarikan kesimpulan.
 Analisis data kuantitatif :
1. Editing, memeriksa kembali data yang
   diperoleh untuk meyakinkan apakah data sudah
   terkumpul secara lengkap.
2. Coding, melakukan pengelompokan data
   berdasarkan jenis data dan memberikan kode
   tertentu.
3. Tabulating, menyusun tabel-tabel untuk tiap-
   tiap data dan menghitungnya dalam frekwensi
   sehingga tersusun data secara nyata.
4. Analizing, membuat analisa sebagi dasar
   penarikan kesimpulan yang dibuat dalam
   bentuk uraian dan penafsiran.
Agama sebagai objek
penelitian
 Agama sebagai obyek kajian tlh lama menjadi perdebatan karena
  agama sesuatu yg transendent. Agamawan                  cenderung
  berkeyakinan bahwa agama memiliki kebenaran mutlak sehingga
  tidak perlu diteliti
 Pada dasarnya agama menjadi dua kelompok ajaran. Pertama
  ajaran yg diwahyukan Tuhan melalui Rasul-Nya yg terdapat
  dalam kitab suci. Ajaran dlm kitab suci tersebut memerlukan
  penjelasan ttg arti dan pelaksanaannya. Penjelasan oleh pemuka
  agama/pakar agama membentuk ajaran agama kedua (Harun
  nasution dalam Pardi Suparlan)
 Ajaran dasar agama krn merupakan wahyu dari Tuhan bersifat
  absolut, mutlak benar, kekal, tidak berubah dan tidak bisa diubah,
  sedangkan penjelasan ahli agama terhadap ajaran dasar agama
  krn merupakan penjelasan dan hasil pemikiran, tidak absolut, tdk
  mutlak dan tdk kekal. Bentuk ajaran agama kedua ini bersifat
  relatif, nisbi, berubah dan dapat diubah sesuai dgn perkembangan
  zaman.
 Para ilmuan beranggapan bahwa agama merupakan objek kajian
  atau penelitian.
Perbedaan Agama             dan
Keagamaan
    Agama                   Keagamaan
• Kebenaran Absolut     • Kebenaran Relatif
• Bersifat Ilahiyah     • Bersifat Basyariyah
• Berada diluar Nalar   • Bersifat Humanis
• Bersifat Ruhani       • Bersifat Lahiriyah
• Konsep                • Tataran
  Doktrin/Ritual          Praktis/Phraxis
• Single Interpretasi   • Multi Interpretasi
• Teks                  • Konteks
Penelitian Agama (research on
relegion) dan Keagamaan
( relegius research ).
 Penelitian agama bukanlah meneliti hakikat agama dalam arti
  wahyu, melainkan meneliti manusia yg menghayati, meyakini
  dan memperoleh pengaruh agama dalam arti penelitian agama
  bukan meneliti kebenaran teologi atau filosofi tetapi bagaimana
  agama itu ada dalam kebudayaan dan sistem sosial
  berdasarkan fakta atau realitas sosio-kultural.
 M. Atho Mudzhar mengutif pendapat Middleton (guru besar
  antropologi di New York University mengemukakan bahwa
  penelitian agama (research on relegion) berbeda dengan
  penelitian keagamaan (relegius research). Penelitian agama
  lebih mengutamakan pada materi agama, sehingga sasarannya
  terletak pada 3 elemen pokok, yakni ritus, mitos dan magik.
  Sedangkan penelitian keagamaan lebih mengutamakan pada
  agama sebagai sistem atau sistem keagamaan (relegius
  system)
 Menurut Middleton penelitian agama Islam adalah penelitian yg
  obyeknya adalah substansi agama Islam : kalam, fiqh, akhlak
  dan tasawuf. Sedangkan Penelitian keagamaan Islam adalah
  penelitian yg obyeknya adalah agama sebagai produk interaksi
  sosial.
Typologi Keagamaan
(Komarudin Hidayat)
 Ekslusivisme, yakni pandangan bahwa ajarannya yang
  paling benar hanyalah agama yang dipeluknya. Agama
  lain sesat dan wajib dikikis, atau pemeluknya
  dikonversi karena, baik agama maupun pemeluknya,
  dinilai terkutuk dalam pandangan Tuhan.
 Inklusivisme, yakni pandangan bahwa agama yang
  diluar yang dipeluknya juga terdapat kebenaran,
  meskipun tidak seutuh dan sesempurna agama yang
  dianutnya, (3) Pluralisme, yakni secara teologis
  pluralitas agama dipandang sebagai suatu realitas,
  masing-masing berdiri sejajar sehingga semangat
  missionaris atau dakwah diangap tidak relevan;
 (4)Eklektivisme,       yakni     sikap
  keberagaamaan yang berusaha memilih
  dan mempertemukan berbagai segi
  ajaran agama yang dipandang baik dan
  cocok untuk dirinya sehingga format
  akhir dari sebuah agama menjadi
  semacam mozaik yang bersifat eklektika,
  (5) Universalisme, yakni pandangan
  bahwa pada dasarnya semua agama
  satu dan sama. Hanya karena faktor
  historis-antropologis agama kemudian
  tampil dalam format plural.
   Penelitian   agama     yg   sasarannya     adalah    doktrin,  pintu  bagi
    pengembangannya metodologi penelitian tersendiri sudah terbuka bahkan
    sudah dirintis seperti adanya ilmu ushul fiqh dan filsafat hukum islam sbg
    metode istimbath hukum dan ilmu musthalah hadis utuk menilai akurasi
    hadis.

   Untuk penelitian keagamaan yg sasarannya agama sebagai gejala sosial
    cukup meminjam metodologi penelitian sosial yg telah ada.
   Middleton, Penelitian agama Islam adalah penelitian yang obyeknya
    substansi agama ISlam : Kalam, fikh, akhlak dan tasawuf. Sedangkan
    penelitian keagamaan Islam adalah obykenya agama sebagai produk
    interaksi sosial. (Keduannya menjadi obyek kajian agama)
   Menurut Juhaya S. Praja ada penelitian agama dan penelitian hidup
    keagamaan
   Menurut Juhaya S. Praja (guru besar fil. Hukum Islam IAIN Sunan Gunung
    Jati Bandung) penelitian agama adalah penelitian ttg asal usul agama,
    pemikiran dan pemahaman penganut ajaran agama thp ajaran yg terkandung
    didalamnya. Dengan demikian terdapat 2 bidang penelitian agama :
    1.   Penelitian ttg sumber ajaran agama yg telah melahirkan disiplin ilmu tafsir dan
         ilmu hadis
    2.   Pemikiran dan pemahaman terhadap ajaran yg dikandung dalam sumber ajaran
         agama itu, yakni ushul fiqh yg merupakan metodologi ilmu agama. Penelitian
         dalam bidang ini melahirkan filsafat Islam, ilmu kalam, tasawuf dan fiqh.
    Penelitian ttg hidup keagamaan adalah penelitian ttg praktik
     ajaran agama yg dilakukan oleh manusia baik secara individual
     maupun kelompok yg meliputi :

    1.   Prilaku individu dlm hubungannya dgn masyarakat yg didasarkan
         atas agama yg dianutnya
    2.   Prilaku masyarakat atau suatu komunitas, baik prilaku politik,
         budaya maupun alinnya yg mendefinisikan dirinya sebagai
         penganut suatu agama.
    3.   Ajaran agama yg membentuk pranata sosial, corak prilaku, dan
         budaya masyarakat beragama.

    Menurut Ahmad Syafi’i Mufid terkait dgn penelitian agama yg
     berkenaan dgn pemikiran atau gagasan, maka metode yg tepat
     adalah seperti filsafat, Visiologi. Bila berkaitan dengan
     sikap/prilaku maka yg tepat digunakan adalah ilmu-ilmu sosial
     seperti sosiologi, antropologi dan psikologi. Bila terkait
     dengan benda keagamaan, maka metode arkeologi atau
     metode ilmu naturan yang relevan tepat digunakan.
PETA PENELITIAN
AGAMA


                          Wahyu/Agama              Bukan Objek Penl.




 Wjd.Penget./Pemikir   Sikap dan Tindakan mns   Benda Suci/keramat


                           Obyek Penelitian


 Filsafat/Kebudayaan     Ilmu Sosial/Sejarah    Sains/Antropologi/Ark.
 Yang masuk pada wilayah budaya atau filsafat :
  Pemikiran ahli filsafat, ahli kalam, ahli hukum
  (fiqh) dan para sufi.
 Agama yang diturunkan dan terwujud dalam
  bentuk produk interaksi sosial dan sejarah:
  bentuk, sikap dan tindakan manusia seperti :
  Hubungan kiyai-santri di pesantren, hub. Ulama
  dan umara dalam olitik, interaksi kiayi dan
  masyarakat, guru dan jamaah pengajian.
 Agama yang diturunkan dan terwujud dalam
  bentuk benda-benda suci atau keramat seperti
  bangunan majid bernilai historis tinggi, bangunan
  candi, bangunan ka’bah dll. Ini merupakan wilayah
  kajian antropologi dan arkeologi.
Telaah Konstruksi
 Teori Penelitian Agama
 Konstruksi adalah cara membuat/menyusun bangunan
  (jembatan dan sebagainya) atau susunan atau hubungan kata
  di kalimat atau dikelompok kata (KBBI)

 Teori adalah pendapat yg dikemukakan sebagai suatu
  keterangan mengenai suatu peristiwa (kejadian) dan berarti
  asas-asas dan hukum-hukum umum yg menjadi dasar suatu
  kesenian atau ilmu pengetahuan. Teori juga berarti pendapat,
  cara-cara atau aturan untuk melakukan sesuatu (KBBI)

 Dalam konteks ilmu penelitian teori adalah merupakan
  pernyataan mengenai sebab akibat atau mengenai adanya
  suatu hubungan positif antara gejala yang diteliti dari satu atau
  beberapa faktor tertentu dalam masyarakat. Misalnya meneliti
  ttg gejala bunuh diri kita sudah mengetahui ttg teori integrasi
  atau kohesi sosial dari emile Durkheim (seorang sosiologi
  Perancis) yg mengatakan bahwa ada hubungan positif antara
  lemahnya dan kuatnya integrasi sosial dan gejala bunuh diri.
 Konstruksi teori adalah susunan atau
  bangunan dari suatu pendapat asas-
  asas, hukum-hukum mengenai sesuatu
  yg antara satu dengan lainnya saling
  berkaitan sehingga membentuk suatu
  bangunan (Teori itu sendiri)
 Telaah konstruksi penelitian agama
  adalah suatu upaya untuk mempelajari
  dan menguraikan kaidah-kaidah dan
  dimensi ilmiah ttg ajaran agama Islam
  secara ilmiah.
KASUS BUNUH DIRI
   MENGAPA ORG MELAKUKAN BUNUH DIRI ?
   BEBERAPA ALASAN ORG MELAKUKAN BUNUH DIRI :

    1. DITINGGAL SUAMI
    2. KARENA FAKTOR EKONOMI
    3. BROKEN HOME
    4. MERASA TERASING/KEKECEWAAAN DENGAN
       LINGKUNGAN
    5. DLL

    TEORI YG DIBANGUN (KONSTRUKSI TEORITISNYA ADALAH
    BAHWA ADA HUBUNGAN POSITIF ANTARA KASUS BUNUH
    DIRI DENGAN INTEGRASI/KOHESI SOSIAL (TEORI SIFATNYA
    RELATIF DAN SELALU BERKEMBANG SEHINGGA ADA TESA,
    ANTI TESA, DAN SINTESA)
ISI - ISI UMUM SEBUAH PROPOSAL
     (RANCANGAN) PENELITIAN
1.     JUdul
2.     Harus ada latar belakang
3.     Rumusan Masalah
4.     Tujuan penelitian dan Manfaat penelitian
5.     Penelitian terdahulu
6.     Landasan Teori/Kajian Pustaka
7.     Hipotesis (jika penelitian kuantitatif)
8.     Konsep dan pengukuran (jika bentuknya kuantitatif)
9.     Kerangka Pikir dan Pertanyaan Penelitian (jika Kualitatif) Jika perlu
10.    Metode Peneitian
      -    Waktu dan Tempat
      -    Pendekatan yang digunakan
      -    Subyek dan Obyek penelitian
      -    Metode pengumpulan data
      -    Teknik Analisis data
      Bahan Rujukan.
      Terkait dengan Proposal bg Mahasiswa STAIN dapat dicermati lebih lanjut
           dalam pedoman penelitian
Metode Hermeneutika dan Fenomenologis
 Hermeunetik pada mulanya meruju kepada nama Yunani Kuno,
  Hermes, yang tugasnya menyampaikan berita dari Sang Maha Dewa
  yang dialamatkan kepada manusia. Menurut Hossein Nasr yang dikutif
  oleh Komarudin Hidayat , Hermes tak lain adalah Nabi Idris AS yang
  disebutkan dalam Al-qur'an (Hidayat; 1996 ; 125). Sementara menurut
  legenda yang beredar di kalangan pesantren pekerjaan Nabi Idris
  adalah sebagai tukang tenun. Jika propesi sebagai tukang tenun di
  kaitkan dengan mitos Yunani tentang peran Dewa Hermes, ternyata
  terdapat korelasi positif.. Kata kerja "memintal" padanannya dalam
  bahasa Latin adalah tegere, , sedang produknya disebut textus atau
  text, yang merupakan isu sentral dalam kajian hermeunetika. Jadi kata
  hermeunetik yang diambil dari peran hermes sebuah ilmu atau seni
  menginterpretasikan sebuah teks. Metode hermeunetik dimaksudkan
  untuk menemukan hubungan pemikiran yang diteliti
  dengan gejala-gejala sosial yang ada. Sedangkan jika yang
  dicari hubungan-hubungan pemikiran tersebut dengan kondisi-kondisi
  sosial yang ada sebelum dan sesudah pemikiran tersebut muncul,
  maka yang dipergunakan adalah metode fenomenologi. (Shodikin,
  2002 : 34).
 Dalam metode hermeunetik, ada tiga hal yang perlu diperhatikan
  yaitu, dunia pengarang, dunia teks dan dunia pembaca. Menurut
  Noerhadi ada langkah yang diikuti dalam melakukan penelitian
  hermeunetik. Langkah-langkah tersebut antara lain :
 a. Telaah hakikat teks.
  Dunia teks diperlakukan sebagai suatu yang mandiri dilepaskan
  dalam pengarangnya , waktu penciptaannya, dan konteks budayanya.
  Oleh karena itu wujud teks adalah tulisan dan yang ditulis adalah
  bahasa, maka yang menjadi pusat perhatiannya adalah hakikat
  bahasa. Tujuannya adalah mengerti apa yang dsampaikan 'dengan
  cara menginterpretasi teks atau bahasa".
 b. Proses apresiasi.
  Pembaca yang melakukan penelitian melakukan proses apresiasi
  terhadap dunia teks dengan kemampuan "menyelami" dunia
  pengarang masa lalu kemudian diaktualisasikan kedalam dunia
  pembaca masa sekarang;
 c. Proses interpretasi
  Peneliti menerka dan menginterpretasikan arti yang tampak dalam
  teks, dan mencoba mengerti apa yang tidak tampak dibelakang teks
  seperti geografis, budaya dan bahkan spiritual pengarangnya. (Anwar,
  1999 : 10)

Metode studi islam

  • 2.
    METODOLOGI STUDI ISLAM 1.MSI merupakan salah satu komponen mata kuliah dasar umum (MKDU) yang harus diikuti oleh semua mahasiswa di setiap fakultas dan jurusan dalam lingkungan Perguruan Tinggi Islam dengan bobot 2 SKS, dan diberikan pada semester pertama. Mata Kuliah ini mulai diberikan pada tahun 1997 dengan SK Menag. No 383 yang merupakan pengembangan dari mata kuliah DIRASAH ISLAMIYAH.
  • 3.
    MSI merupakan mata kuliah yang penting (urgen) untuk diberikan pada mahasiswa dalam rangka : a. Memberikan bekal metodologis, yaitu kemampuan memilih dan menerapkan metode yang dianggap tepat, cepat serta efektif dan efesien dalam menempuh studi Islam sekaligus menjadi dasar dalam mempelajari mata kuliah lainnya yang terkait dengan mata kuliah keislaman. b. Diharapkan dengan bantuan metodologi akan mendapatkan pengetahuan yang komprehensif tentang Islam dalam berbagai aspeknya baik yang terdapat pada sumber ajaran, Islam sebagai interpretasi ulama dan ilmuwan Muslim, historis dan aktualisasinya. c. Menjawab permasalahan terkait dengan masih lemahnya penguasaan metodologi umat Islam yang berakibat amat variatif dan parsialnya pemahaman umat Islam terhadap ajaran Islam. d. Untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman terhadap Islam maupun diluar Islam yang selama ini seringkali dilakukan oleh para orientalis Barat
  • 4.
    Metodologi Studi Islam Metodologi terdiri dari : Metode dan Logos. Metode berasal dari bahasa Yunani, Metha (sepanjang/melewati, hodos (jalan/cara). Jadi Metode adalah suatu ilmu tentang cara atau langkah-langkah yang ditempuh dalam suatu disiplin tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan logos berarti ilmu. M. Santra Praja mengartikan metode : ilmu cara menyampaikan sesuatu kepada orang lain . JS. Badudu dan Sutan M. Zaini metode disebut dengan pengajaran atau penelitian. Dalam bahasa arab disitilahkan dengan Thariqah, manhaj dan Wasilah (Nata, )  Dalam Kamus Bahasa Indonesia metodologi diartikan suatu untuk mengungkapkan cara yang paling cepat dan tepat dalam melakukan sesuatu atau dengan kata lain cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan yang ditentukan.
  • 5.
     Metode menurutistilah adalah ajaran yang memberi uraian, penjelasan, dan penentuan nilai. Hugo F. Reading mengatakan metode adalah kelogisan penelitian ilmiah, sistem tentang prosedur dan teknik riset (Hugo dalam Yatimi, 2006 :147)  Metode adalah suatu ilmu yang memberi pengajaran tentang sistem dan langkah yang harus ditempuh dalam mencapai suatu penyelidikan keilmuan. Dalam berbagai penelitian ilmiah, langkah-langkha pasti harus ditempuh agar kelogisan penelitian ilmiah benar- benar nyata dan dapat dipercaya semua masyarakat. (M. Yatimi Abdullah, 2006 :147)
  • 6.
     Abraham Kaflanmetodologi adalah pengkajian (study), mengenal penggambaran (deskripsi), penjelasan (eksplanasi) dan pembenaran (justifikasi) sehingga melahirkan generalisasi (penyimpulan). Dengan kata lain cara atau prosedur yang ditempuh dalam memecahkan suatu masalah (mulai menemukan fakta hingga sampai pada penyimpulan)  Dalam penggunaannya Abraham Kafflan membedakan metodologi dalam empat macam penggunaan :
  • 7.
    1. Teknik-teknik atauprosedur yang digunakan dalam ilmu pengetahuan (science) atau dalam konteks penelitian seperti survey, statistik, interview, analisis fakta dll. 2. Basa-basi (honorific) menerangkan “apa itu metode pengetahuan yang digunakan”, tanpa penjelasan lebih lanjut (konsep yang belum jelas) 3. Epistimologi (teori pengetahuan) atau terkait dengan cara mendapatkan pengetahuan. 4. Metode, teknik-teknik umum yang digunakan dalam berbagai ilmu pengetahuan.
  • 8.
    Mengapa diperlukan metodologi dalamstudi Islam? 1. Sebagaimana gagasan awal lahirnya MSI untuk mengupayakan cara yang cepat dan tepat dalam mempelajari Islam karena pada mata kuliah sebelumnya tidak banyak memuat tentang metodologi 2. Untuk menampilkan kembali sejumlah hasanah dan intelektual dari masa lalu hingga sekarang’ 3. Karena keilmuan selalu berkembang seiring dengan perkembangan pemikiran, peradaban dan kebudayaan yang berkembang.
  • 9.
    4. Luasnya ruang lingkup ajaran Islam, (material dan spiritual, transenden dan imanent) jasmani dan rohani, kongkrit dan abstrak) sehingga dengan mengunakan metodologi yang benar diharapkan dapat menghasilkan kesimpulan yang tepat dan benar tentang Islam. 5. Mukti Ali mengatakan bahwa salah satu penyebab kemunduran umat Islam karena metodologi dan pendekatan yang digunakan selama ini masih pincang. Ahli ilmu pengetahuan spt orientalis mendekati Islam hanya dengan menggunakan kacamata ilmiah, akibatnya penelitian yang dilakukan belum menyeluruh, mereka tidak mengerti Islam secara utuh, yang mereka ketahuan ttg ISlam hanya eksternalistis (bagian luarnya). Sementara itu para ulama sudah terbiasa memahami ajaran ISlam secara doktrin dan dogmatis, akibatnya penafsiran tersebut sulit diterapkan di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang modern dan semakin global.
  • 10.
    Metodologi Studi Islam 1. Pengertian Studi Islam (Dirasah Islamiah/Islamic Studies) adalah usaha sadar, sistematis dan metodologis untuk mempelajari (mengetahui, memahami dan membahas secara mendalam) hal-hal yang berkaitan dengan Islam baik yang berhubungan dengan normativitasnya, historisitasnya maupun aktualisasi secara nyata dalam kehidupan sehari- hari sepanjang sejarah kehidupan manusia (Muhaimin) 2. Pengertian Metodologi Studi Islam adalah suatu ilmu yang memuat/berisi prosedur atau langkah-langkah yang ditempuh dalam mempelajari Islam, secara tepat cepat, efektif dan efesien dari mulai menemukan fakta sampai melakukan generalisasi baik Islam sebagai sumber ajaran, Islam sebagai pemahaman, sebagai pengalaman (historis).
  • 11.
    Siapa yang mempelajari Islam ? Usaha mempelajari Islam tidak hanya dilakukan oleh orang Islam tetapi juga para orientalis Barat. Mempelajari Islam bagi orang Islam dengan Para orientalis memiliki perbedaan dalam tujuan. Orang Islam mempelajari Islam untuk dijadikan keyakinan dan sebagai pedoman atau petunjuk hidup, sedangkan bagi para orientalis tujuannya ada yang hanya sekedar untuk ilmu pengetahuan, dan ada juga yang memiliki tujuan politik.
  • 12.
    Beberapa komentar Orientalis ttghadis  Alois Sprenger, misionaris Jerman: hadis adalah kumpulan cerita bohong tapi menarik.  Wiliam Muir, orintalis Inggris, dalam literatur hadis, nama Nabi Muhamamd sengaja dicatut untuk menutupi kebohongan dan keganjilan, 4000 hadis yang dianggap sahih oleh Imam bukhari separohnya harus ditolak.  Goldziher, (orientalis paling mengerti ttg Islam) sebagian besar hadis tidak dapat dijamin keasliannya dan tidak dapat dijadikan sumber informasi sejarah awal Islam, ia hanya merupakan reflektif interaksi dan konplik pelbagai aliran dan kecenderungan dikalangan masyarakat Muslim pada periode kematangan, ketimbang sebagai dokomen sejarah awal perkembangan Islam. Dalam arti hadis merupakan produk bikinan masyarakat Islam beberapa abad setelah Nabi wapat.
  • 13.
     David Samuel.Meragukan otentisitas hadis dengan alasan, 1) karena tidak ada bukti yang menunjukan bahwa hadis telah dicatat sejak zaman Nabi, dan kedua lemahnya ingatan para perawinya.  Joseph Schacht, tidak ada hadis yang benar-benar berasal dari Nabi, kalau pun ada dan bisa dibuktikan, jumlahnya amat sedikit. Hadis baru muncul pada abad ke 2 H, dan beredar luas pada zaman Syafi’i abad ke-3 H. Hadis dalam Kutubus Sittah tidak dapat dijamin keasliannya.
  • 14.
     Goethe-seorang filosufasal Jerman berkata : ”Bagaimana juga saya membaca al-Qur’an itu, pertama ia menggerakan saya pada setiap waktu dengan kesegaran dan dengan cepat menganjurkan pendirian hati serta keheranan yang akhirnya ia mendorong saya kepada pengetahuan agama. Al-Qur’an mempunyai susunan kata yang molek dan indah, isi dan tujuannya mengandung sesuatu pedoman. Ia adalah kemuliaan yang maha tinggi. Demikianlah al-Qur’an akan berjalan terus dan bekerja disepanjang masa dengan pengaruh yang amat kuat serta gagah dan teguh.  Seorang kritikus non muslim bernama Siir William Muyer yang menerangkan tentang kerendahan hati dan kesederhanaan rasulullah antara lain katanya : Kesederhanaan adalah merupakan ilustrasi (gambaran) seluruh kehidupan Muhammad. Perasaan dan sopan santun adalah termasuk sifatnya yang sangat menonjol dalam pergaulan terhadap pengikutnya yang paling rendah. Sifat-sifat yang melekat pada dirinya mampu menarik orang yang ada disekelilingnya.
  • 15.
    Mengapa Islam penting untukdipelajari ? 1. Sebagai tanggung jawab moral dan konsekwensi manusia yang mengakui dan meyakini Islam sebagai agamanya. (attaubah : 122, albaqarah : 208, Ali Imran : 85, Al-an’am : 125, Ali Imran : 102, Yunus : 25, Azzumar : 22) 2. Islam dihadapkan dengan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berbagai dampak yang ditimbulkannya. 3. Islam membawa missi sebagai rahmatan lil’alamin dan diyakini sebagai agama yang memiliki ajaran yang universal dan lengkap. Harun Nasution mengatakan bahwa Islam memiliki multi aspek. 4. Abudin Nata, kehadiran Islam sebagi agama diyakini menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan bathin : ISlam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal mellaui pengembangan ilmu penget. Dan pengembangan iptek, seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dna spiritual, mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, kemitraan, anti feodalistik, cinta kebersihan, mengutamakan persaudaraan, mementingkan ahklak dan sebagainya.
  • 16.
    4. Harun Nasution, Fakta menunjukan bahwa pemahaman umat Islam terhadap ajaran Islam amat variatif , situasi keberagamaan di Indonesia cenderung menampilkan kondisi keberagamaan yang legalistik formal, sehingga terkesan lebih mementingkan bentuk daripada isi, akibatnya agama kurang dipahami sebagai seperangkat aturan moral dan etika yang membebaskan umat dari kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan, posisi umat Islam masih berada pada posisi marginal dan problematis. 5. Masdar F, Mas’udi : Sebagian umat Islam di Indonesia masih mengabaikan sistem nilai dan etika dalam kehidupan. Survey Global Corruption Indec International (1999/2000) dan ICW, Indo terkurop di Asia dan no. 3 di dunia. Tahun 2003, hasil survey Transparance Internasional peringkat 6 dari 133 negara.
  • 17.
    6. Terjadinya konflikdan gesekan-gesekan antar umat beragama dan tantangan dari pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan Islam berkembang di muka bumi. 7. Untuk menjadikan Islam sebagai agama yang fungsional baik yang berkenaan dengan fungsi edukatif, yakni upaya transper nilai dan norma agama, fungsi salfatif (penyelamatan, kedamaian, ketenangan), fungsi sosial (pengawasan/kontrol sosial), fungsi integratif (integrasi sosial), fungsi pembatasan (limitasi) dan pengkondisian terhadap tindakan atau prilaku individu dan masyarakat.
  • 18.
    Tujuan Studi Islam Mempelajari secara mendalam ttg apa hakikat agama Islam (agama firah/tauhid) dan bagaimana posisinya dan hubungannya dengan agama lain dalam kehidupan budaya manusia.  Mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran agama Islam dan bagaimana aktualisasinya sepanjang sejarah kehidupan manusia  Mempelajari secara mendalam tentang isi-isi pokok ajaran Islam dan penjabaran serta operasionalisasinya dalam perkembangan budaya dan peradaban umat Islam.
  • 19.
     Mempelajari secaramendalam prinsif-prinsif dan nilai dasar serta bagaimana realisasinya dalam membimbing dan mengontrol serta mengarahkan perkembangan budaya dan peradaban manusia terlebih di zaman modern sekarang ini.  Dengan tujuan diatas diharapkan juga bermanfaat bagi peningkatan dan pengembangan kurikulum pendidikan Islam dalam usaha transpormasi kehidupan sosial budaya serta agama umat Islam sekarang dan akan datang.
  • 20.
    PENDEKATAN STUDI ISLAM  Pendekatan“approach, artinya cara pandangan atau paradigma terhadap sesuatu. JENIS-JENIS PENDEKATAN STUDI ISLAM Holistik Teologi Normatif Sosiologis Sosial -Budaya Antropologis Sejarah Filsafat Psikologis
  • 21.
    BEBERAPA PENDEKATAN STUDI ISLAM.  Pendekatan atau dalam bahasa Inggris disitilahkan dengan “approach, artinya cara pandangan atau paradigma terhadap sesuatu (Nata, 1997 : 28). Yang dimaksud dengan pendekatan dalam konteks studi Islam adalah cara pandadang atau paradigma dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama.  Beberapa Pendekatan dalam Memahami Agama. 1. Pendekatan Teologi Normatif Pendekatan teologi dalam memahami agama adalah diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan empiris dari suatu keagamaan dianggap paling benar. Pendekatan yang menekankan bentuk-bentuk formal simbol-simbol keagamaan, sehingga memandang orang lain keliru, kafir, sesat dan murtad demikian juga sebaliknya. Antara satu aliran dengan aliran lain tidak terbuka dilaog dan saling menghargai. Pendekatan teologi dalam memahami agama cendrung bersikap tertutup dan dengan pendekatan ini agama cendrung hanya merupakan keyakinan dan pembentukan sikap keras dan napak asosial.
  • 22.
    Pendekatan teologi dalammemahami agama cenderung menggunakan cara berfikir deduktif, cara berfikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini benar dan mutlak adanya krn ajaran berasal dari Tuhan sudah pasti benar, sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi. Pendekatan normatif yaitu suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Tuhan yang didalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia.
  • 23.
    2. Pendekatan Sosiologis, Sosiologis adalah ilmu kemasyarakatan, ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat atau sifat masyarakat. Atau ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakatnya lengkap dengan struktur, lapisan, serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan. Pentingnya sosiologis digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami Islam, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami dengan menggunakan bantuan ilmu sosial. Melalui pendekatan sosiologi agama dapat dipahami dengan mudah, karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan masyarakat.
  • 24.
    Mengapa Pendekatan Sosiologis Perlu? Jalaluddin Rahmat : Islam Alternatif  Proporsi terbesar dalam al-quran adalah bicara tentang kemasyarakatan/sosial. 100 : 1  Terkait dengan ibadah yg melibatkan org banyak penghargaan lebih besar dari yg dikerjakan sendiri. 27 :1  Pelaggaran hak Allah, penyelesaiannya dengan manusia.  Bila bersamaan antara hak Allah dengan keinginan bermuamalah, maka hak Allah bisa ditunda dan dikurangi.  Seseorang yang bekerja untuk menyantuni seorang janda dan anak yatim, maka seolah-olah dia puasa dan sholat lail secara terus menerus. (Hadis)  Alasan lain krn Agama diturunkan sesuai dengan setting sosial masyarakatnya.
  • 25.
    3. Pendekatan Sosial-Budaya Budaya adalah pikir dan akal budi. Budaya adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia sebagai hasil pemikiran dan akal budi. Atau hasil kegiatan dan penciptaan batin manusia baik dalam bentuk keseniaan, adat istiadat. Kebudayaan yang demikian selanjutnya dapat digunakan untuk memahami agama yang terdapat pada data empirisnya atau agama yang tampil dalam bentuk formal di masyarakat. Agama yang tampil tersebut berkaitan dengan kebudyaan yang berkembang di masyarakat tempat agama tersebut berkembang. 4. Pendekatan Antropologi Antropologi adalah ilmu tentang manusia khususnya ttg asal usul, aneka warna bentuk fisik, perkembangannya, jenis (bangsanya) adat istiadat dan kepercayaan masa lampau. Pendekatan antropologi dalam memahami agama adalah dapat diartikan sebagai salah satu upaya dalam memahami agama dengan melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini juga akan dapat dilihat hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia.
  • 26.
    5. Pendekatan Sejarah Historis merupakan suatu ilmu yang didalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang peristiwa tersebut. Pendekatan kesejarahan ini sangat penting dan dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dari situasi yang kongkrit dan berhubungan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Seorang yang ingin memahami Alquran secara benar misalnya, ia harus mempelajari turunnya Alquran atau kejadian yang mengiring turunnya Alquran
  • 27.
    6. Pendekatan Filsafat Filsafat dapat diartikan sebagai aktivitas berpikir murni atau kegiatan akal dalam usaha memahami secara mendalam segala sesuatu. Berfikir secara filosofis dapat digunakan dalam emmahami agama terkait dengan hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama sehingga melalaui pendekatan ini seseorang tidak akan terjebak pada pengamalan ajaran agama yang bersifat formalistik, sementara nilai-nilai spiritual yang terkandung didalamnya tidak mereka rasakan. 7. Pendekatan Psikologi Dalam Islam banyak dijumpai istilah-istilah yang menggambarkan sikap bathin, mislanya beriman dan bertakwa, orang shaleh, baik dan jujur. Semua itu adalah gejala-gejala kejiwaan yang terkait dengan agama.Dengan bantuan ilmu jiwa seseorang dapat mengetahui tingkat keberagamaan yang dihayati, dipahami dan diamalkan seseorang. Pendekatan yang dilakukan dalam membangun psikologi Islam yang pernah dipraktikan oleh para psikolog Muslim terdahulu meliputi 3 aspek :
  • 28.
    1. Aspek skriptualistis, yaitu pendekatan pengkajian Islam yang didasarkan atas teks- teks Al-Qur’an dan Hadis secara literal 2. Aspek filosofis, pendekatan pengkajian psikologi Islam yang didasarkan atas prosedur berfikir spekulatif, yang mencakup berfikir yang sistimatis, radikal dan universal yang ditopang oleh kakuatan akal. 3. Pendekatan sufistik tasawuf, pendekatan pengkajian psikologi Islam yang didasarkan pada prosedur intuitif, ilham, cita rasa (Zauq).
  • 29.
    METODE MEMAHAMI AGAMA ISLAM A. Metode Perbandingan (Komparasi) dari Ali Syari’ati dengan langkah : 1. Mengenal Allah dan membandingkan dengan persembahan agama lain 2. Mempelajari kitab Al-qur’an dan membandingkan dengan kitab samawi lainnya/yang dikatakan kitab samawi 3. Mempelajari kepribadian rasulullah dan membandingkan dengan tokoh-tokoh besar pada agama lain 4. Mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan mambanding dengan tokoh agama atau pemikiran agama lain.
  • 30.
    B. Metode Tipologidari Mukti Ali, yaitu usaha untuk mengklasifikasi topik atau tema- tema tertentu dari ajaran Islam dibandingkan dengan tipe atau tema tertentu yang sama pada agama lain, yakni : 1. Aspek ketuhanan berikut ciri-cirinya 2. Aspek kenabian; 3. Aspek Kitab suci, 4. Aspek situasi/setting sosial sewaktu kemunculan pembawa agama/Nabi
  • 31.
    C. Menurut AminAbdullah, untuk melihat Islam sebagai sebuah ilmu dapat digunakan pendekatan ilmiah dengan cirinya : rasional, empiris dan obyektif. Untuk melihat Islam sebagai agama dapat digunakan metode/pendekatan normatif teologis. D. Mukti Ali, untuk melihat Islam sebagai agama dapat digunakan metode doktriner, sedangkan melihat islam sebagai sebuah disiplin ilmu dengan menggunakan metode ilmiah. Metode ini selanjutnya disebutnya sebagai metode sintesis.
  • 32.
    E. Menurut NasruddinRazaq cara untuk memahami Islam dapat dilakukan dengan cara : 1. Mempelajari sumber asli ajaran Islam (Al_qur’an dan Hadis) tidak dari berbagai buku- buku klasik. 2. Islam harus dipelajari secara komprehensif dan integral sebagai satu kesatuan. 3. Islam dipelajari melalui studi kepustakaan. 4. Islam dipelajari dari ketentuan normatif ajaran Islam selanjutnya dikorelasikan dengan kenyatan historis dan sosiologis yang ada dimasyarakat (Melihat idealitas ajaran Islam dan realitas yang dipahami/dilakukan umatnya.
  • 33.
    F. Metode Filologiyaitu metode penelitian yang mempelajari dan meneliti naskah-naskah lama untuk mengerti apa yang ada di dalamnya, sehingga dimengerti latar belakang kebudayan masyarakat melahirkan naskah-naskah tersebut. Nabilah Lubis menyebutnya dengan tahqiq yakni penelitian yang cermat tentang suatu karya seseorang ttg kebenaran pengarangnya, isi karangan apa sesuai dengan mazhabnya, tingkat kebenaran materinya, kebenaran dan ketelitian dalil yang digunakan serta memberikan penjelasan yang dianggap perlu.
  • 34.
    G.Metode Hermeunetika, yaitumetode menginterpretasi sebuah teks dalam rangka untuk menemukan hubungan pemikiran yang diteliti dengan gejala sosial yang ada. H.Metode Filsafat (berpikir mendalam). J. Metode Holistik (menyeluruh- menggunakan multi pendekatan)
  • 35.
    K. Metode MemahamiIslam menurut Versi Depag : 1. Metode diakronis atau sosio historis, metode belajar islam yg menonjolkan aspek sejarah, dengan melihat suatu kenyataan yg mempunyai hubungan dengan waktu, tempat, budaya, lingkungan dimana kepercayaan dan budaya itu muncul. 2. Metode singkronis analitik, metode memahami Islam yg memberikan kemampuan analisis teoritik, yg menekankan telaah kritik dan aplikatif praktis. 3. Metode problem solving, mengajak pemeluknya untuk melatih menghadapi berbagai masalah dari cabang suatu ilmu pengetahuan dengan sulosinya. 4. Metode empiris, mempelajari Islam melalui proses realisasi, aktualisasi dan internalisasi norma dan kaidah Islam dalam suatu interaksi sosial. 5. Metode deduktif, yaitu menyusun kaidah-kaidah secara logis dan filosofis dan kaidah tersebut diaplikasikan dalam menentukan masalah yang dihadapi. Metode ini berguna bagi istimbath hukum.
  • 36.
    ISLAM DAN STUDI AGAMA 1. PERLUKAN ISLAM DITELITI DENGAN MENGGUNAKAN INTERDISIPLINER ? : 2 (DUA) KELOMPOK YAKNI YANG PRO DAN KONTRA. KENAPA ? 2. Alasan yang kontra beralasan karena akan merusak akidah para mahasiswa, dan meninggalkan pendekatan konvensional , agama sudah mapan dan wahyu dari Allah yang mutlak benar, Dieropa juga menolak dengan alasan ilmu dan nilai, ilmu dengan agama (kepercayaan) tidak bisa disingkronkan. 3. Yang pro beralasan, karena dengan menggunakan berbagai pendekatan, akan sangat membantu dalam memahami ajaran islam, dan dengan melakukan kajian terhadap ISlam, bukan mempertanya/meragukan kebenaran Islam. 4. Atho Mudzhar dan Mukti Ali tahun 1970-an mengatakan boleh diteliti. 5. Jika boleh, wilayah-wilayah apa yang memungkinkan untuk diteliti ?
  • 37.
    BENTUK GEJALA AGAMAYANG DAPAT DITELITI  NASKAH/SKRIPTURE KEAGAMAAN DAN SIMBOL KEAGAMAAN  TOKOH DAN PEMELUK AGAMA (SIKAP, PRILAKU, PENGHAYATAN DAN PEMIKIRAN KEAGAMAAN) CONT. PERANAN ELIT AGAMA DALAM MEMBANGUN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI KOTA P.RAYA.  RITUS, LEMBAGA DAN IBADAT KEAGAMAAN (SHOLAT, ZAKAT DAN HAJI) CONTOH : PENGARUH PEMBERIAN ZAKAT DALAM MENGATASI KEMISKINAN UMAT DI ……………………  ALAT-ALAT KEAGAMAAN (MASJID, KA’BAH, LONCENG, GEREJA, KUIL, BEDUK, DLL) CONTOH : MASJID DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM (STUDI TENTANG IMPLEMENTASI FUNGSI SOSIAL MASJID DI KOTA PALANGKA RAYA)  ORGANISASI KEAGAMAAN TEMPAT PARA PENGANUT AGAMA BERKUMPUL SEPERTI MUI, BKPRMI, DMI, NU, MUHAMMADIYAH, HIZBUT TAHRIR, LDII DLL. CONTOH : PERANAN BKPRMI DALAM MENGATASI BUTA HURUF AL-QUR’AN DI KOTA P.RAYA.
  • 38.
    Islam sebagai gejalabudaya (Fisik dan Non Fisik) Islam sebagai gejala sosial (Interaksi sosial/Pengaruh agama Wilayah Penelitian Agama Islam sebagai wahyu (Ulumul Qur’an dan Hadis) Islam produk sejarah Teologi/Khulafah Ar-Rasyidin/ Sejarah Perkembangan Islam
  • 39.
    Konsep metode pendidikan menurut Al-Qur’an (Telaah atas surat alnahl ayat 125)  Konsep materi pendidikan menurut alqur’an  (telaah atas surat Luqman ayat 10 -15 dst)  Gender dalam perspektif Al-Qur’an  Tujuan pendidikan menurut Al-Qur’an  Syair Fatawa Kiyamat (Karya…….)  Teori kepemimpinan dalam al-Qur’an)  Korelasi antara pelaksanaan ritual keagamaan terhadap sikap sosial (Studi pada masyarakat Kereng Pangi)  Korelasi pemahaman keagamaan terhadap etos kerja (Studi pada masyarakat Dayak Muslim Bakumpai desa Tumbang Samba)  Konsep kurikulum pendidikan menurut imam Al-Ghazali  Pendidikan Akhlak menurut Athiyah Al-Abrasyi.  Korelasi antara pemberian zakat terhadap pengentasan kemiskinan (Studi terhadap para muzakiki dan mustahik zakat di kelurahan puntun Palangka Raya)  Problemtika Pengelolaan Zakat di Keluarhan Puntun Palangka Raya.  Nilai-Nilai Pendidikan Pada upacara Bahantar Jujuran (Studi Pada masyarakat Banjarmasin di Kota Palangka Raya)  Nilai-nilai pendidikan pada upacara tasmiyah dan akikah (Studi Pada masyarakat…..)  Motivasi Ziarah Ke Makam Wali (Studi Pada Masyarakat …….)  Korelasi antara mengikuti pengajian pada majlis taklim terhadap peningkatan amaliyah keagamaan.  Optimalisasi Fungsi Pendidikan Masjid di Desa Basarang)
  • 40.
    Wilayah Penelitian Agama Islam sebagai gejala budaya (fisik maupun non fisik)  Islam sebagai gejala sosial (hubungan timbal balik antara agama dan masyarakat atau pengaruh agama terhadap tingkah laku masyarakat/pengaruh masyarakat terhadap pemikiran keagamaan)  Islam sebagai wahyu (Persoalan terkait dengan Al- Qur’an/terkait dengan ulumul Qur’an dan Hadis)  Islam produk sejarah (Terkait dengan Teologi Islam, Khilafah Ar-Rasyidin, sejarah pertumbuhan dan perkembangan agama dan umat Islam)
  • 41.
    PETA STUDI ISLAM PADA ZAMAN AWAL, STUDI ISLAM DILAKUKAN DI MASJID (RASULULLAH MENGAJARKAN AGAMA DI MULAI DARI MASJID DEMIKIAN JUGA MENGEMBANGKAN MASYARAKAT ISLAM)  MUHAMMAD YUNUS, MENGKLASIFIKASI PUSAT STUDI ISLAM DALAM 3 PERIODE : 1. ZAMAN KLASIK : MEKAH-MADINAH, (HIJAZ) KUFFAH, BASHRAH, (BAGDAD) DAMASKUS-(SYIRIA)- PALESTINA (SYAM) DAN MESIR). Di MAKAH DI MOTORI OLEH MU’ADZ BIN JABAL, DI MADINAH OLEH ABU BAKAR, UMAR DAN USMAN, DI KUFFAH OLEH ALI BIN ABI THALIB DAN ABDULLAH BIN MAS’UD, DI BASHRAH OLEH ABU MUSA AL ASY’ARI DAN ANAS BIN MALIK DAN DI DAMASKUS OLEH ABU DARDA DAN UBADAH, DI MESIR OLEH ABDULLAH BIN AMR BIN ASH.
  • 42.
    2. ZAMAN PERTENGAHAN(BAGDAD DGN BAIT ALHIKMAH OLEH ALMAKMUN PUTRA HARUN AR- RASYID,(BANI ABBASYIAH 813-833 M), MADRASAH NIDZAMIYAH OLEH NIZAM AL MULK, DI MESIR DENGAN UNIV. AL -AZHAR OLEH FATIMIYAH (SYIAH)/ UBAIDILLAH JAUHAR AL KATIB AL SIKILI, SYIAH. ABDUL AZIS MENDIRIKAN DARUL HIKMAH (PUSAT KAJIAN) 1005 M DAN SPANYOL DENGAN UNIV. CORDOVA OLEH ABDUL RAHMAN III (BANI UMAYYAH - 929-961 M) SEKITAR ABAD KE 9 DAN KE 10 DAN DISINILAH BANYAK LAHIR PARA FILOSOF MUSLIM.
  • 43.
    3. ZAMAN MODERN(ZAMAN SEKARANG BAIK DIDUNIA TIMUR MAUPUN DUNIA BARAT)  DI TEHERAN (IRAN) ADA UNIVERSITAS THEHERAN DENGAN FAKULTAS KULIYYAH ILAHIYYAH (FAKULTAS AGAMA), ADA PERPUSTAKAAN KHUSUS YG MENYIMPAN NASKAH- NASKAH KONO/KLASIK DALAM BAHASA PERSIA  UNIVERSITAS IMAM SHADIQ, BELAJAR TTG ISLAM DAN ILMU UMUM  DI ARAB SAUDI ADA UNIVERSITAS UMMUL QORA’  DI SYIRIA (UNIVERSITAS DAMASKUS) ADA FAKULTAS SYARI’AH YG DIDALAMNYA ADA FAKULTAS USHULUDDIN, TASAWUF, TAFSIR DAN SEJENISNYA, DISAMPING MEMILIKI FAKULTAS UMUM  DI MESIR ADA UNIVERSITAS AL-AZHAR (DIBAWAH TAHUN 1961 MASIH MENGEMBANGKAN ILMU AGAMA TP SETELAH 1961 SUDAH MEMBUKA FAKULTAS UMUM  DI MALAYSIA ADA UNIVERSITAS ISLAM INTERNASIONAL MALAYSIA DENGAN PROGRAM STUDI ISLAM FAKULTAS KEWAHYUAN DAN ILMU KEMANUSIAAN  DI INDIA ADA UNIVERSITAS ALIGARCH UNIVERSITY YANG MEMBAGI STUDI ISLAM MENJADI 2 : A) MENGENAI ISLAM SEBAGAI DOKTRIN (FAKULTAS USHULUDDIN, MAZHAB SYIAH DAN SUNNI) DAN B) ISLAM SEBAGAI SEJARAH PADA FAKULTAS HUMANIORA .
  • 44.
    Pusat Studi Islamdi Barat  Universitas Chicago studi Islam menekankan pada : pemikiran Islam, bahasa Arab, naskah klasik dan bahasa Islam non Arab (Turki, Urdo, Persia dll)  Di Amerika studi Islam umumnya menekankan pada Sejarah Islam, Bahasa Islam selain Arab, Sastra dan Ilmu Sosial.  Di Ucla studi Islam : 4, yakni 1) Doktrin dan sejarah Islam dan sejarah pemikiran Islam ; 2) Bahasa Arab, teks-teks klasik mengenai sejarah dan hukum; 3) Bahasa non Arab muslim; 4) Ilmu-ilmu sosial Islam  Di London studi Islam di gabung dalam fakultas Studi Ketimuran dan Afrika salah satu prodinya adalah masyarakat dan budaya Islam  Di Kanada, menitik beratkan pada : 1) kajian budaya dan peradaban Islam dari zaman Nabi hingga kontemporer; 2) Ajaran Islam dan masyarakat Islam di seluruh dunia; 3) mempelajari bahasa Muslim.  Di Belanda belakangan lebih menekankan kajian Islam di Indonesia dan daerah-daerah tertentu.
  • 45.
    Pusat Studi Islamdi Barat  Di Jerman terutama setelah perang dunia II studi Islam dilakukan : a) Di Jerman terutama setelah perang dunia II studi Islam dilakukan : a) Institut Perguruan Tinggi; b) Studi ketimuran secara umum, c) koleksi perpustakaan dan d) Institusi dan organisasi diluar perguruan Tinggi. Berdasarkan laporan Dewan Ilmu Pengetahuan Jerman bulan November 1960 merekomendasikan berdirinya 32 lembaga baru bagi studi ISlam meskipun tahun 1972 dari 21 lembaga kajian ketimuran yang didirikan hanya 3 yang terkait dengan lembaga studi ISlam. Program terkait dengan studi ISlam berada pada fakultas filsafat meliputi budaya dan sejaran orang Islam. Program studi ISlam meliputi program dasar selama 4 semester ( 2 tahun) dan program utama juga selam 4 semester (2 tahun) untuk program magister (MA) dan program doktoral selama 2 tahun.  Di Perancis,  Di Inggris,  Di Rusia,  Di Indonesia dilaksanakan di UIN, IAIN, STAIN dan Perguruan Tinggi Islam Swasta.
  • 46.
    PENELITIAN AGAMA DAN MODEL-  MODELNYA dan obyektif utk Penelitian (research) adalah upaya sistematis mempelajari suatu masalah dan menemukan prinsif-prinsif umum atau upaya pengumpulan informasi yg bertujuan menambah pengetahuan. Pengt. mns tumbuh dan berkembang berdasarkan kajian–kajian sehingga melahirkan penemuan- penemuan, shg ia siap merevisi pengetahuan masa lalu melalui penemuan baru.  PENELITIAN ADALAH UPAYA MENEMUKAN JAWABAN ATAS SEJUMLAH MASALAH BERDASARKAN DATA-DATA YG TERKUMPUL. PENELITIAN MENUNTUT KEPADA PELAKU- PELAKUNYA AGAR PROSES PENELITIAN YG DILAKUKAN ITU BERSIFAT ILMIAH YAKNI SISTEMATIS, TERKONTROL, BERSIFAT EMPIRIS (BUKAN SPIKULATIF) DAN HARUS KRITIS DALAM PENGANALISAAN DATA-DATANYA SEHUBUNGAN DGN DALIL-DALIL HIPOTESIS YG MENJADI PENDORONG MENGAPA PENELITIAN DILAKUKAN (Nata, MSI, 1998, 119)
  • 47.
     TUJUAN PENELITIAN ADALAH UNTUK MENEMUKAN JAWABAN TERHADAP SUATU PERSOALAN / MASALAH MELALUI PENERAPAN PROSEDUR ILMIAH.  Penelitian dipandang sebagai kegiatan ilmiah ? Krn menggunakan metode keilmuan, yakni gab. Antara pendekatan rasional (logis/akal) dan empiris. Met. Pendekatan empiris merupakan kerangka pengujian dalam memastikan kebenaran.  Metode ilmiah adalah usaha untuk mencari jawaban ttg fakta-fakta.
  • 48.
    Kriteria metode ilmiah menurut Moh. Nazir : 1.Berdasarkan fakta. 2.Bebas dari prasangka.(Bukan menduga) 3.Menggunakan prinsif-prinsif analisis. 4.Menggunakan hipotesis. 5.Menggunakan ukuran obyektif. 6.Menggunakan teknik kuantitatif.
  • 49.
    Langkah yg ditempuh dalammetode ilmiah : 1. Memilih dan mendefinisikan masalah, 2. Survey terhadap data yg tersedia 3. Memformulasikan hipotesis 4. Membangun kerangka analisis serta alat-alat dalam menguji hipotesis 5. Mengumpulkan data primer 6. Mengolah, menganalisis dan membuat interpretasi 7. Membuat generalisasi atau kesimpulan 8. Membuat laporan
  • 50.
    Pengabsahan data:  Pengabsahandata : ialah upaya yang dilakukan untuk mencek data guna mejamin bahwa data yang kita kumpulkan memang benar-benar terjadi menurut Moeleong dilakukan dengan teknik triangulasi : Sumber, Metode, Penyelidikan dan Teori:
  • 51.
    Triangulasi dengan sumber dapat dilakukan dengan cara : 1. Membanding data hasil pengamatan dengan hasil wawancara 2. Memabnding apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi. 3. Membanding apa yang dikatakan orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu. 4. Membanding perspektif seseorang dengan berbagai pendapat orang. 5. Membanding hasil wawancara dengan isi suatu dokumentasi
  • 52.
     Triangulasi denganmetode, dilakukan dengan jalan : 1. Mengecek derajat kepercayaan penemuan hasil enelitian dengan beberapa teknik pengumpulan data. 2. Mengecek derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.  Triangulasi dengan Penyidik yakni dengan jalan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk kepercayaan data atau dengan cara membandingkan hasil pekerjaan seorang analis dengan analis lainnya.
  • 53.
     Triangulasi denganteori, yaitu membandingkan dengan teori-teori, penjelasan dari para ahli/pakar dibidangnya sebagai penjelas pembanding.  Analisis Data (Kualitatif) versi Miles dan Hubberman : 1. Collection Data 2. Reduction Data 3. Display Data atau penyajian 4. Conclusion atau penarikan kesimpulan.
  • 54.
     Analisis datakuantitatif : 1. Editing, memeriksa kembali data yang diperoleh untuk meyakinkan apakah data sudah terkumpul secara lengkap. 2. Coding, melakukan pengelompokan data berdasarkan jenis data dan memberikan kode tertentu. 3. Tabulating, menyusun tabel-tabel untuk tiap- tiap data dan menghitungnya dalam frekwensi sehingga tersusun data secara nyata. 4. Analizing, membuat analisa sebagi dasar penarikan kesimpulan yang dibuat dalam bentuk uraian dan penafsiran.
  • 55.
    Agama sebagai objek penelitian Agama sebagai obyek kajian tlh lama menjadi perdebatan karena agama sesuatu yg transendent. Agamawan cenderung berkeyakinan bahwa agama memiliki kebenaran mutlak sehingga tidak perlu diteliti  Pada dasarnya agama menjadi dua kelompok ajaran. Pertama ajaran yg diwahyukan Tuhan melalui Rasul-Nya yg terdapat dalam kitab suci. Ajaran dlm kitab suci tersebut memerlukan penjelasan ttg arti dan pelaksanaannya. Penjelasan oleh pemuka agama/pakar agama membentuk ajaran agama kedua (Harun nasution dalam Pardi Suparlan)  Ajaran dasar agama krn merupakan wahyu dari Tuhan bersifat absolut, mutlak benar, kekal, tidak berubah dan tidak bisa diubah, sedangkan penjelasan ahli agama terhadap ajaran dasar agama krn merupakan penjelasan dan hasil pemikiran, tidak absolut, tdk mutlak dan tdk kekal. Bentuk ajaran agama kedua ini bersifat relatif, nisbi, berubah dan dapat diubah sesuai dgn perkembangan zaman.  Para ilmuan beranggapan bahwa agama merupakan objek kajian atau penelitian.
  • 56.
    Perbedaan Agama dan Keagamaan Agama Keagamaan • Kebenaran Absolut • Kebenaran Relatif • Bersifat Ilahiyah • Bersifat Basyariyah • Berada diluar Nalar • Bersifat Humanis • Bersifat Ruhani • Bersifat Lahiriyah • Konsep • Tataran Doktrin/Ritual Praktis/Phraxis • Single Interpretasi • Multi Interpretasi • Teks • Konteks
  • 57.
    Penelitian Agama (researchon relegion) dan Keagamaan ( relegius research ).  Penelitian agama bukanlah meneliti hakikat agama dalam arti wahyu, melainkan meneliti manusia yg menghayati, meyakini dan memperoleh pengaruh agama dalam arti penelitian agama bukan meneliti kebenaran teologi atau filosofi tetapi bagaimana agama itu ada dalam kebudayaan dan sistem sosial berdasarkan fakta atau realitas sosio-kultural.  M. Atho Mudzhar mengutif pendapat Middleton (guru besar antropologi di New York University mengemukakan bahwa penelitian agama (research on relegion) berbeda dengan penelitian keagamaan (relegius research). Penelitian agama lebih mengutamakan pada materi agama, sehingga sasarannya terletak pada 3 elemen pokok, yakni ritus, mitos dan magik. Sedangkan penelitian keagamaan lebih mengutamakan pada agama sebagai sistem atau sistem keagamaan (relegius system)  Menurut Middleton penelitian agama Islam adalah penelitian yg obyeknya adalah substansi agama Islam : kalam, fiqh, akhlak dan tasawuf. Sedangkan Penelitian keagamaan Islam adalah penelitian yg obyeknya adalah agama sebagai produk interaksi sosial.
  • 58.
    Typologi Keagamaan (Komarudin Hidayat) Ekslusivisme, yakni pandangan bahwa ajarannya yang paling benar hanyalah agama yang dipeluknya. Agama lain sesat dan wajib dikikis, atau pemeluknya dikonversi karena, baik agama maupun pemeluknya, dinilai terkutuk dalam pandangan Tuhan.  Inklusivisme, yakni pandangan bahwa agama yang diluar yang dipeluknya juga terdapat kebenaran, meskipun tidak seutuh dan sesempurna agama yang dianutnya, (3) Pluralisme, yakni secara teologis pluralitas agama dipandang sebagai suatu realitas, masing-masing berdiri sejajar sehingga semangat missionaris atau dakwah diangap tidak relevan;
  • 59.
     (4)Eklektivisme, yakni sikap keberagaamaan yang berusaha memilih dan mempertemukan berbagai segi ajaran agama yang dipandang baik dan cocok untuk dirinya sehingga format akhir dari sebuah agama menjadi semacam mozaik yang bersifat eklektika, (5) Universalisme, yakni pandangan bahwa pada dasarnya semua agama satu dan sama. Hanya karena faktor historis-antropologis agama kemudian tampil dalam format plural.
  • 60.
    Penelitian agama yg sasarannya adalah doktrin, pintu bagi pengembangannya metodologi penelitian tersendiri sudah terbuka bahkan sudah dirintis seperti adanya ilmu ushul fiqh dan filsafat hukum islam sbg metode istimbath hukum dan ilmu musthalah hadis utuk menilai akurasi hadis.  Untuk penelitian keagamaan yg sasarannya agama sebagai gejala sosial cukup meminjam metodologi penelitian sosial yg telah ada.  Middleton, Penelitian agama Islam adalah penelitian yang obyeknya substansi agama ISlam : Kalam, fikh, akhlak dan tasawuf. Sedangkan penelitian keagamaan Islam adalah obykenya agama sebagai produk interaksi sosial. (Keduannya menjadi obyek kajian agama)  Menurut Juhaya S. Praja ada penelitian agama dan penelitian hidup keagamaan  Menurut Juhaya S. Praja (guru besar fil. Hukum Islam IAIN Sunan Gunung Jati Bandung) penelitian agama adalah penelitian ttg asal usul agama, pemikiran dan pemahaman penganut ajaran agama thp ajaran yg terkandung didalamnya. Dengan demikian terdapat 2 bidang penelitian agama : 1. Penelitian ttg sumber ajaran agama yg telah melahirkan disiplin ilmu tafsir dan ilmu hadis 2. Pemikiran dan pemahaman terhadap ajaran yg dikandung dalam sumber ajaran agama itu, yakni ushul fiqh yg merupakan metodologi ilmu agama. Penelitian dalam bidang ini melahirkan filsafat Islam, ilmu kalam, tasawuf dan fiqh.
  • 61.
    Penelitian ttg hidup keagamaan adalah penelitian ttg praktik ajaran agama yg dilakukan oleh manusia baik secara individual maupun kelompok yg meliputi : 1. Prilaku individu dlm hubungannya dgn masyarakat yg didasarkan atas agama yg dianutnya 2. Prilaku masyarakat atau suatu komunitas, baik prilaku politik, budaya maupun alinnya yg mendefinisikan dirinya sebagai penganut suatu agama. 3. Ajaran agama yg membentuk pranata sosial, corak prilaku, dan budaya masyarakat beragama.  Menurut Ahmad Syafi’i Mufid terkait dgn penelitian agama yg berkenaan dgn pemikiran atau gagasan, maka metode yg tepat adalah seperti filsafat, Visiologi. Bila berkaitan dengan sikap/prilaku maka yg tepat digunakan adalah ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi dan psikologi. Bila terkait dengan benda keagamaan, maka metode arkeologi atau metode ilmu naturan yang relevan tepat digunakan.
  • 62.
    PETA PENELITIAN AGAMA Wahyu/Agama Bukan Objek Penl. Wjd.Penget./Pemikir Sikap dan Tindakan mns Benda Suci/keramat Obyek Penelitian Filsafat/Kebudayaan Ilmu Sosial/Sejarah Sains/Antropologi/Ark.
  • 63.
     Yang masukpada wilayah budaya atau filsafat : Pemikiran ahli filsafat, ahli kalam, ahli hukum (fiqh) dan para sufi.  Agama yang diturunkan dan terwujud dalam bentuk produk interaksi sosial dan sejarah: bentuk, sikap dan tindakan manusia seperti : Hubungan kiyai-santri di pesantren, hub. Ulama dan umara dalam olitik, interaksi kiayi dan masyarakat, guru dan jamaah pengajian.  Agama yang diturunkan dan terwujud dalam bentuk benda-benda suci atau keramat seperti bangunan majid bernilai historis tinggi, bangunan candi, bangunan ka’bah dll. Ini merupakan wilayah kajian antropologi dan arkeologi.
  • 64.
    Telaah Konstruksi TeoriPenelitian Agama  Konstruksi adalah cara membuat/menyusun bangunan (jembatan dan sebagainya) atau susunan atau hubungan kata di kalimat atau dikelompok kata (KBBI)  Teori adalah pendapat yg dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai suatu peristiwa (kejadian) dan berarti asas-asas dan hukum-hukum umum yg menjadi dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan. Teori juga berarti pendapat, cara-cara atau aturan untuk melakukan sesuatu (KBBI)  Dalam konteks ilmu penelitian teori adalah merupakan pernyataan mengenai sebab akibat atau mengenai adanya suatu hubungan positif antara gejala yang diteliti dari satu atau beberapa faktor tertentu dalam masyarakat. Misalnya meneliti ttg gejala bunuh diri kita sudah mengetahui ttg teori integrasi atau kohesi sosial dari emile Durkheim (seorang sosiologi Perancis) yg mengatakan bahwa ada hubungan positif antara lemahnya dan kuatnya integrasi sosial dan gejala bunuh diri.
  • 65.
     Konstruksi teoriadalah susunan atau bangunan dari suatu pendapat asas- asas, hukum-hukum mengenai sesuatu yg antara satu dengan lainnya saling berkaitan sehingga membentuk suatu bangunan (Teori itu sendiri)  Telaah konstruksi penelitian agama adalah suatu upaya untuk mempelajari dan menguraikan kaidah-kaidah dan dimensi ilmiah ttg ajaran agama Islam secara ilmiah.
  • 66.
    KASUS BUNUH DIRI  MENGAPA ORG MELAKUKAN BUNUH DIRI ?  BEBERAPA ALASAN ORG MELAKUKAN BUNUH DIRI : 1. DITINGGAL SUAMI 2. KARENA FAKTOR EKONOMI 3. BROKEN HOME 4. MERASA TERASING/KEKECEWAAAN DENGAN LINGKUNGAN 5. DLL TEORI YG DIBANGUN (KONSTRUKSI TEORITISNYA ADALAH BAHWA ADA HUBUNGAN POSITIF ANTARA KASUS BUNUH DIRI DENGAN INTEGRASI/KOHESI SOSIAL (TEORI SIFATNYA RELATIF DAN SELALU BERKEMBANG SEHINGGA ADA TESA, ANTI TESA, DAN SINTESA)
  • 67.
    ISI - ISIUMUM SEBUAH PROPOSAL (RANCANGAN) PENELITIAN 1. JUdul 2. Harus ada latar belakang 3. Rumusan Masalah 4. Tujuan penelitian dan Manfaat penelitian 5. Penelitian terdahulu 6. Landasan Teori/Kajian Pustaka 7. Hipotesis (jika penelitian kuantitatif) 8. Konsep dan pengukuran (jika bentuknya kuantitatif) 9. Kerangka Pikir dan Pertanyaan Penelitian (jika Kualitatif) Jika perlu 10. Metode Peneitian - Waktu dan Tempat - Pendekatan yang digunakan - Subyek dan Obyek penelitian - Metode pengumpulan data - Teknik Analisis data Bahan Rujukan. Terkait dengan Proposal bg Mahasiswa STAIN dapat dicermati lebih lanjut dalam pedoman penelitian
  • 68.
    Metode Hermeneutika danFenomenologis  Hermeunetik pada mulanya meruju kepada nama Yunani Kuno, Hermes, yang tugasnya menyampaikan berita dari Sang Maha Dewa yang dialamatkan kepada manusia. Menurut Hossein Nasr yang dikutif oleh Komarudin Hidayat , Hermes tak lain adalah Nabi Idris AS yang disebutkan dalam Al-qur'an (Hidayat; 1996 ; 125). Sementara menurut legenda yang beredar di kalangan pesantren pekerjaan Nabi Idris adalah sebagai tukang tenun. Jika propesi sebagai tukang tenun di kaitkan dengan mitos Yunani tentang peran Dewa Hermes, ternyata terdapat korelasi positif.. Kata kerja "memintal" padanannya dalam bahasa Latin adalah tegere, , sedang produknya disebut textus atau text, yang merupakan isu sentral dalam kajian hermeunetika. Jadi kata hermeunetik yang diambil dari peran hermes sebuah ilmu atau seni menginterpretasikan sebuah teks. Metode hermeunetik dimaksudkan untuk menemukan hubungan pemikiran yang diteliti dengan gejala-gejala sosial yang ada. Sedangkan jika yang dicari hubungan-hubungan pemikiran tersebut dengan kondisi-kondisi sosial yang ada sebelum dan sesudah pemikiran tersebut muncul, maka yang dipergunakan adalah metode fenomenologi. (Shodikin, 2002 : 34).
  • 69.
     Dalam metodehermeunetik, ada tiga hal yang perlu diperhatikan yaitu, dunia pengarang, dunia teks dan dunia pembaca. Menurut Noerhadi ada langkah yang diikuti dalam melakukan penelitian hermeunetik. Langkah-langkah tersebut antara lain :  a. Telaah hakikat teks. Dunia teks diperlakukan sebagai suatu yang mandiri dilepaskan dalam pengarangnya , waktu penciptaannya, dan konteks budayanya. Oleh karena itu wujud teks adalah tulisan dan yang ditulis adalah bahasa, maka yang menjadi pusat perhatiannya adalah hakikat bahasa. Tujuannya adalah mengerti apa yang dsampaikan 'dengan cara menginterpretasi teks atau bahasa".  b. Proses apresiasi. Pembaca yang melakukan penelitian melakukan proses apresiasi terhadap dunia teks dengan kemampuan "menyelami" dunia pengarang masa lalu kemudian diaktualisasikan kedalam dunia pembaca masa sekarang;  c. Proses interpretasi Peneliti menerka dan menginterpretasikan arti yang tampak dalam teks, dan mencoba mengerti apa yang tidak tampak dibelakang teks seperti geografis, budaya dan bahkan spiritual pengarangnya. (Anwar, 1999 : 10)