Your SlideShare is downloading. ×
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Intro To Sociology, Interview Content
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Intro To Sociology, Interview Content

948

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
948
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
10
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. MAKALAH INTRODUCTION TO SOCIOLOGY Mr, Sherman Zein PENYIMPANGAN SOSIAL - LESBIAN By: Name: HERNI VERYANY Class: MKT 11-3C NIM: 2007110376 SEKOLAH TINGGI ILMU KOMUNIKASI 1
  • 2. The London School of Public Relations Jakarta 2008 BAB I PENGERTIAN LESBIAN Homoseksualitas merupakan fenomena sosial yang saat ini tengah ramai dipergunjingkan oleh masyarakat. Apalagi sejak mencuatnya kasus Ryan, si pembunuh berantai yang berasal dari Jombang. Homoseksualitas kian menjadi sorotan yang tak henti-hentinya diperdebatkan. Homoseksualitas tidak hanya berbicara mengenai gay sebagaimana yang sedang menjadi buah bibir masyarakat sekarang ini, tapi juga ada lesbianisme. Tidak seperti kalangan gay yang menjadi sorotan media massa, kaum lesbian masih samar. Masyarakat awam masih belum mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai kalangan lesbian ini. Keterbatasan pengetahuan masyarakat mengenai lesbian mungkin disebabkan ketertutupan kaum lesbian sendiri. Kaum gay cenderung lebih agresif bila dibandingkan dengan lesbian. Mereka cenderung lebih sering melakukan kekerasan fisik atau bahkan membunuh bila ada yang mengancam diri atau eksistensi mereka. Misalnya saja, Verry Idham Henryansyah atau yang lebih popular dengan nama Ryan tega memutilasi Heri Santoso hanya karena sang korban tertarik dengan pacar Ryan yang notabene berjenis kelamin laki- laki. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan lesbian? 2
  • 3. Lesbian tidak berbeda dengan gay, hanya saja dalam kasus lesbian, kaum wanitalah yang mempunyai kelainan preferensi seksual. Sederhananya, lesbian dapat diartikan perempuan yang menyukai sesama perempuan. Secara umum, seorang perempuan menjadi lesbian dapat disebabkan oleh 2 faktor. Faktor pertama merupakan faktor hormonal, di mana seseorang menjadi lesbian karena faktor hormon yang berkembang di dalam tubuh mereka. Faktor kedua merupakan faktor lingkungan, di mana seorang perempuan menjadi lesbian akibat pengaruh dari lingkungan. Dalam hal ini, lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan tempat orang tersebut bergaul, gaya hidup, pola pikir, atau bahkan pengalaman traumatis yang dialami. Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, ada lagi hal lain yang dapat mempengaruhi seseorang menjadi lesbian. Misalnya saja media. Media merupakan salah satu dari beberapa pengaruh besar dalam masyarakat kita. Media dapat mempengaruhi cara kita berpikir, bertindak atau bahkan berkeyakinan. Seperti yang telah kita tahu, remaja adalah sasaran empuk media. Remaja lebih mudah dipengaruhi dibanding dengan orang dewasa, karena masa remaja merupakan masa di mana kita sedang mencoba untuk mencari tahu identitas diri dan juga tujuan hidup. Bila kita lihat, sekarang ini media lebih mengedepankan aspek kekerasan dan seksual. Beberapa tahun yang lalu, media dihebohkan dengan aksi Madonna dan Britney Spears yang saling berciuman. Kedua penyanyi di atas mengaku dan diakui sebagai heteroseksual namun yang terjadi adalah sebaliknya. Jika para remaja melihat apa yang dilakukan oleh Madonna dan Britney Spears, bisa saja orientasi seksual mereka turut terpengaruh. 3
  • 4. Terkait dengan kasus lesbian, sebuah studi terhadap pelajar SMP-SMA pada tahun 1995 yang diselenggarakan Massachusetts Youth Risk Behavior Surveillance menemukan bahwa: • Pemuda-pemudi dengan orientasi seksual gay, lesbian, dan biseksual diperkirakan telah melakukan hubungan seksual sebelum umur 13 tahun. • Pemuda-pemudi dengan orientasi seksual gay, lesbian, dan biseksual diperkirakan telah melakukan hubungan seksual dengan 4 pasangan atau lebih sepanjang hidup mereka maupun dalam 3 bulan terakhir. • Pemuda-pemudi dengan orientasi seksual gay, lesbian, dan biseksual diperkirakan pernah berhubungan seksual di luar keinginan maupun di bawah paksaan. • Suatu studi terhadap 2621 gay dan biseksual berumur 15 hingga 25 tahun di 10 kota di Amerika Serikat menemukan bahwa lebih dari (22%) pemuda gay atau biseksual sama sekali belum pernah menjalani pengujian HIV dan lebih dari setengahnya belum menjalani pengujian dalam 6 bulan. • Suatu studi terhadap 3492 gay dan biseksual, berumur 15 hingga 25 tahun pada 7 kota di Amerika Serikat menemukan bahwa 1 dari 6 pemuda yang pernah berhubungan seksual dengan pria akhir-akhir ini telah berhubungan seksual dengan wanita. Sebagai tambahan, hampir dari orang-orang tersebut mengaku baru-baru ini telah berhubungan seksual tanpa alat pelindung baik dengan pria maupun wanita. Studi menegaskan bahwa para pemuda biseksual itu adalah “jembatan” yang 4
  • 5. menghubungkan HIV pada para wanita, terutama kareng 6,6% dari pemuda biseksual dalam studi tersebut positif menderita HIV. Mungkin di Indonesia, jumlah lesbian belum begitu banyak namun masyarakat tidak boleh memandang sebelah mata kasus lesbian karena bisa jadi jumlahnya terus bertambah bila tidak memperoleh penanganan khusus. Eufimisme Komunitas Lesbian Eufimisme merupakan suatu cara untuk memperhalus istilah yang membuat telinga tidak nyaman. Contohnya supir diperhalus dengan kata driver, Indian dengan Native American, Cina dengan Tionghoa. Istilah-istilah seperti ini juga dibuat oleh kaum lesbian sendiri yang tidak sampai hati menggunakan kata “Lesbian” itu sendiri. Di era 1960an, kaum lesbian umumnya menyebut diri mereka sebagai “sentul” dan “kantil”. Namun istilah ini menghilang dan kemudian di era tahun 80-an mereka menggunakan istilah “sakit” bagi perempuan-perempuan yang notabene adalah seorang lesbian. Cerita cinta lesbian yang sempat tenar di tahun 1990-an adalah “Aku Jadi Lesbi karena Disakiti Laki-laki”. Di zaman itu kaum lesbian memiliki istilah “lines” (baca li-nes) untuk menyamarkan kata lesbian. Perubahan kembali terjadi di tahun 2000-an, mereka mengistilahkan lesbian dengan kata “belok”. Belok disini digunakan sebagai lawan dari kata straight (lurus) yang dimaknai sebagai orientasi seksual yang normal. Saat ini istilah yang lebih halus dan samar yaitu istilah “butch” dan “femme”. “butch” merupakan istilah untuk lesbian yang 5
  • 6. berorientasi seksual sebagai pria, sedangkan “femme” adalah istilah untuk lesbian dengan orientasi seksual perempuan. IDAHO International Day Against Homophobia (IDAHO) merupakan hari anti homophobia sedunia, diperingati setiap tahun pada tanggal 17 Mei. Tanggal tersebut dipilih untuk memperingati keputusan WHO yang pada 17 Mei 1990 mengeluarkan kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender/Transseksual (LGBT) dari kategori mental disorder (gangguan jiwa). Peringatan IDAHO sendiri lahir pada 26-29 Juli 2006 dalam Konferensi Internasional tentang Hak Asasi Manusia LGBT di Montreal, Kanada. Di Indonesia, LGBT menjadi isu yang terus diperjuangkan dengan ditandatanganinya deklarasi yang kemudian disebut The Jogja Principle. Homophobia bisa diartikan sebagai sikap atau perasaan negatif, tidak suka terhadap gay atau lesbian atau homoseksualitas secara umum. Definisi lain dari homophobia yaitu penolakan terhadap orang-orang yang dianggap gay atau lesbian dan semua yang diasosiasikan dengan mereka. LGBT tidak mendapatkan perlindungan, akibatnya sering terjadi tindakan diskriminasi dan muncul stigma negatif. Selain itu, kebijakan negara juga tidak berpihak dan berperspektif keadilan kepada mereka. Peringatan IDAHO kemudian digunakan sebagai momentum untuk memperjuangkan pengakuan, pemenuhan, dan perlindungan hak LGBT. Sampai saat ini, homoseksualitas masih menjadi kontroversi di masyarakat. Kaum homoseksual masih mendapat stigma sebagai pendosa, manusia tak 6
  • 7. bermoral, ataupun manusia yang dilaknat Tuhan. Mereka juga sering mendapat perlakuan diskriminatif. Padahal sebagai warga negara, mereka pun memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara yang lain. Menurut seoarang antropolog UGM, Aris Arief Mundayat, menjadi homoseksual merupakan sebuah pilihan, bukan kelainan. Dalam proses ini, sosok yang paling mengalami homophobia adalah orang tua. Mereka merasa khawatir jika anaknya memilih untuk menjadi seorang homoseksual karena hubungan homoseksual tidak akan dapat menghasilkan keturunan. Generasi penerus dari keluarga mereka akan terputus. Kaum homoseksual mengalami kekerasan secara fisik dan simbolik. Kekerasan itu bisa berasal dari keluarga mereka sendiri dan lingkungan terdekat. Lantas, mereka lari dari keluarga dan mencari komunitas yang mau menerima keadaannya. Komunitas menjadi modal sosial untuk membangun kerjasama dan dukungan moral. Ruang yang dapat mengakomodasi perjuangan mereka antara lain media massa terutama media audio-visual. Media ini pun diperebutkan oleh kaum homoseksual dan heteroseksual untuk menyuarakan kepentingan mereka. 7
  • 8. BAB II KEHIDUPAN LESBIAN Pressure and “Coming Out” Dalam kehidupan normal saja, masa remaja adalah masa yang sulit dilalui. Tapi jika sejak remaja seseorang sudah merasa bahwa ia seorang gay/ lesbian/ transeksual, masa remaja akan berpuluh-puluh lebih sulit. Kesendirian dan ketakutan yang dialami remaja homoseksual sering menimbulkan timbulnya depresi yang berlebihan. Kadang-kadang bunuh diri dilakukan untuk mencegah agar orang-orang tidak tahu bahwa ia seorang homoseksual. Selain itu desakan pergaulan atau peer pressure, tekanan orang tua, atau akibat coming out yang terlalu dini di usia muda bisa menyebabkan remaja homoseksual mengambil tindakan nekat. Dunia remaja tidaklah seindah novel-novel teenlit dan semanis gulali. Banyak dari kita yang sudah melewati masa remaja pasti mengakuinya. Memasuki masa puber dan remaja, biasanya gay/ lesbian/ transeksual menyadari bahwa diri mereka berbeda dari teman-temannya karena mereka tertarik pada sesama jenis Perbedaan bukanlah sesuatu yang disukai oleh remaja, maka seperti kita lihat bagaimana remaja sering bergerombol kesana kemari demi untuk menjadi bagian dalam suatu kelompok. Saat ia merasa berbeda, ia menjadi makhluk freak, nerd, atau si homo. Saat ia berbeda, ia akan menjadi sasaran cemooh 8
  • 9. kaum mayoritas. Belum lagi jika ia berasal dari keluargayang kurang harmonis, dimana keluarga tidak bisa menjadi tempat bersandar. Meskipun sesungguhnya keluarga yang harmonis juga tidak menjamin 100% anak tidak melakukan bunuh diri. Bayangkan betapa takutnya seorang gay/ lesbian/ transeksual saat ia mengetahui bahwa dirinya berbeda. Ia tentu tidak mau dipanggil si homo, bencong, lesbi, banci, “el”, atau apalah sebutan lainnya dalam masyarakat. Rasa takut dan bingung itu membuat banyak remaja seakan-akan merasa berada dalam lubang hitam tergelap dalam hidupnya. Bunuh diri sering dianggap sebagai cara mudah untuk menyelesaikan masalah. Apalagi karena remaja berpikir masih dengan amygdala, sehingga segala keputusan biasanya dilakukan atas dasar emosi bukan penalaran. Seorang remaja belum mampu membuat keputusan, menyelesaikan masalah, dan berpikir secara logis. Akibatnya remaja sering mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat tanpa dipikirkan akibatnya kemudian. Tapi ini juga yang menyebabkan cinta ang dialami remaja terasa begitu indah karena emosi mereka mengalir drastis dalam otak mereka. Oleh karena itu, coming out tidaklah disarankan untuk kaum remaja terutama yang masih berusia dibawah 19 tahun. Butuh adaptasi terlebih dahulu di usia remaja. Coming out memerlukan kemandirian diri yang amat sangat besar dan pertimbangan rasional yang dipikirkan secara seksama, bukan dilakukan secara impulsif. Banyak orang yang tidak merasa aman untuk “come out” dengan preferensi seksual mereka, Mayoritas remaja LGBT yang menjadi sasaran 9
  • 10. siksaan fisik dan mental, dan keadaan seperti ini dapat mendorong perbuatan bunuh diri. Proses penerimaan diri sebagai lesbian/gay/biseksual/transeksual adalah proses panjang berliku yang menyakitkan. Semakin muda seseorang menyadari orientasi seksualnya, semakin kebingungan dan kesulitan yang mereka hadapi yang bisa mendorong resiko terjadinya pikiran atau tindakan bunuh diri. Biasanya mereka yang bunuh diri adalah mereka yang secara fisik tampak “berbeda”. Transeksual yang tidak tahan harus menjadi orang yang bukan dirinya dan juga banyak diantara mereka yang berfikir untuk mengakhiri hidup mereka. Banyak lesbian/gay yang setelah melewati usia 20 tahun akhirnya memutuskan untuk kompromi, terutama terhadap keluarga dan juga melakukan adaptasi sosial. Menurut statistik di Amerika Serikat tahun 2001, remaja usia 15-24 tahun meninggal akibat bunuh diri setiap 2 jam 12 menit. Dan kurang-lebih 30% nya ada;ah remaja lesbian/gay/transeksual. Data statistik lain menyebutkan 35% gay dan 38% lesbian pernah serius berfikir untuk bunuh diri. Di Indonesia sendiri, menurut majalah Tempo terbitan Maret 2007, tidak ada data pasti tentang statistik bunuh diri di Indonesia. Dan sayangnya, di Indonesia kepedulian tingkat bunuh diri ini sangat rendah. Hampir tidak ada refrensi pencegahan bunuh diri atau hotline untuk remaja yang bisa ditemukan untuk menangani hal ini. Padahal support group amat diperlukan dalam hal ini. 10
  • 11. Masalah bunuh diri bukanlah karena “perbedaan” orientasi seksual, tapi lebih kepada cara memandang hidup. Tidak ada seorang remaja pun, homoseksual atau hetero, yang seharusnya berpikir untuk melakukan bunuh diri. Gaya Hidup Lesbian Keterbukaan atas preferensi seksual ini, seperti gay, lesbian, dan biseksual, sekitar lima tahun belakangan ini memang semakin lebar. Cerita pribadi mereka mengalir lancar. Jauh berbeda dibanding katakanlah sepuluh tahun yang lalu ketika tidak ada orang yang bersedia diwawancara tentang preferensi seksual. Menurut Dede Oetomo, keterbukaan dalam lima tahun terakhir ini sangat dipengaruhi internet (website, chat room, forum, blog, dsb), media massa, dan multikulturalisme di Indonesia. Dede Oetomo pada tahun 1982 mendirikan organisasi gay pertama, Lambda Indonesia, dilanjutkan dengan Gaya Nusantara pada tahun 1987. Sejak saat itu, liputan media membawa wacana tentang homoseksualitas masuk ke ruang publik. Saat ini beberapa club malam telah mendeklarasikan diri mereka secara terang- terangan sebagai “Lesbian and Gay Club”. Contohnya Moonlight Club di daerah Mangga Besar, Jakarta dan Heaven Club di daerah Dharmawangsa, Jakarta. 90% dari pengunjung mereka merupakan kaum gay dan lesbian, dimana man are for man and woman are for woman. Club-club tersebut juga menghadirkan hiburan yang serupa dengan club-club lainnya, seperti musik disko, DJ Performance, minuman beralkohol, dan bahkan penari telanjang atau striptease. Di tempat-tempat seperti inilah mereka dapat menjadi diri mereka yang 11
  • 12. sesungguhnya, tanpa harus menutupi diri dengan topeng kepura-puraan seperti yang harus mereka lakukan dalam kehidupan masyarakat heterogen. Seksualitas Para lesbian juga tentunya masih memiliki nafsu birahi bak kaum hetero lainnya. Namun ada perbedaan dalam cara mereka memenuhi kebutuhan seksualnya. Mungkin hal ini akan sangat tidak lazim atau bahkan sangat mengelikan bagi kaum hetero. Tetapi lesbian juga mempunyai hasrat pemuasan seksual melalui hubungan intim sesama jenis. Jenis kelamin yang serupa tidak menjadi kendala bagi lesbian untuk saling melampiaskan hawa nafsu. Berikut adalah cara-cara kaum lesbian dalam berhubungan seksual: • Oral seks, yaitu berhubungan intim dengan menggunakan bantuan mulut. Misalnya dengan mencium, mencumbu, menjilat, atau yang lainnya. • Hand job, yaitu hubungan seksual dengan bantuan tangan. Misalnya dengan cara menyentuh, membelai, meraba, dan memberikan sensasi seksual pada daerah-daerah rangsangan tertentu. • Penetrasi, penetrasi seksual yang dilakukan oleh kaum lesbian selalu dilakukan dengan alat bantu seksual (sex toys), seperti dildo (penis buatan berbahan silicon, biasanya dengan 2 kepala), vibrator, dan strap on vibrator (penis ikat pinggang). 12
  • 13. BAB III OBSERVASI DAN WAWANCARA Kami melakukan observasi dan wawancara pada beberapa orang responden (lesbian). Kegiatan observasi ini meliputi pengamatan dan tanya jawab. OBSERVASI Komunitas lesbian di Jakarta ini terbilang cukup “rapi” dan tertutup. Sulit sekali untuk membedakan seorang lesbian dengan perempuan normal lainnya, karena memang pada umumnya para perempuan memiliki kedekatan dengan teman sesame jenis. Bergandengan tangan, shopping bersama, curhat, bahkan saling suap adalah kebiasaan-kebiasaan yang cukup lumrah dan wajar dilakukan oleh sepasang sahabat perempuan. Banyak orang tidak menyadari mungkin perempuan yang hanya berjarak beberapa langkah darinya adalah seorang lesbian. Oleh karena itu lesbian menjadi lebih sulit diidentifikasi dibandingkan gay dan transeksual. Sebagian besar kaum lesbian lebih menyukai bergaul dengan kaum gay karena mereka merasa adanya kesamaan dalam diri mereka. Sebagian lesbian juga 13
  • 14. terkadang membayar seorang gigolo untuk mereka siksa di atas ranjang, misalnya dengan menelanjangi dan mengikat gigolo tersebut, kemudian dicambuki dan dicumbui. Hal itu dilakukan agar lesbian merasa ia mampu menaklukan seorang lelaki dan mereka merasa puas dengan itu. WAWANCARA Kisah Putri – “Mengalir seperti air.” Usia : 29 tahun Pendidikan : Akademi Pekerjaan : Staff marketing Agama : Kristen Suku : Jawa-Manado Domisili : Jakarta Status : Janda, 1 anak Kelas ekonomi : Menengah Putri lahir di sebuah kota kecil di Jawa tengah. Ketika duduk di bangku taman kanak-kanak, keluarganya pindah ke Jakarta hingga sekarang. Putri merupakan anak tunggal. Ayahnya adalah seorang pelaut internasional. Mereka hanya bertemu sekali dalam setahun dan hal itu membuat Putri merasa tidak kenal dengan ayahnya sendiri. Apalagi ayahnya juga merupakan sosok yang pendiam. Sementara sang ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang sibuk dengan 14
  • 15. kegiatan di luar rumah. Meskipun sering bertemu dengan ibunya, Putri tidak memiliki kontak emosional dengan ibunya. Sejak kecil, ibunya mendidikPutri dengan keras. Sejak SD, Putri sudah tertarik dengan perempuan, tepatnya pada tahun 1990 saat ia kelas 6 SD. Cinta pertamanya diutarakan dengan sebuah surat berisikan kalimat singkat “I like you”. Namun anak tersebut tidak memberi tanggapan. Putri terbawa arus dengan teman-teman SMAnya semasa SMU. Mereka menggosipkan siswa laki-laki dan mencari pacar. Pacar pertama Putri adalah seorang laki-laki yang dikencaninya karena taruhan pencarian cinta. Lelaki itu baik, pandai, sabar, dan juga atlet basket sekolah, namun saying wajahnya kurang menarik. Bagi Putri, pacaran hanyalah untukmemnuhi tuntutan sosial. Jadi ketika orang-orang bertanya tentang pacarnya, ia bisa menyodorkan seorang lelaki kepada lawan bicaranya. Ketika sudahbekerja, Putri pacaran dengan Adi, teman sekantornya. Selama berpacaran, Adi sempat beberapa kali menjauhi Putri dengan alasan haram, karena Adi adalah seorang muslim, sementara Putri adalah Kristiani. Mereka sempat putus-nyambung selama hubungan tersebut berlangsung. Sampai pada suatu ketika Putri hamil akibat perbuatan Adi. Akhirnya Adi menikahi Putri dengan keadaan hamil 2 bulan. Setelah menikah, mereka tinggal di rumah orang tua Putri. Adi tidak betah tinggal di rumah mertua karena jauh dari kantornya. Dan untuk yang kesekian kali, Adi kembali meninggalaknya Putri dan kembali ke rumahnya dengan alasan yang sama, Putri haram. Meskipun sudah berpisah rumah, Putri tetap menjaga 15
  • 16. komunikasi dengan Adi via sms. Namun Adi menanggapi sms-sms Putri dengan acuh tak acuh. Sampai Putri akhirnya melahirkan anak perempuan mereka, Dewi. Di tahun 2005, Adi memutuskan untuk bercerai dengan Putri. Hak asuh Dewi jatuh ke tangan Putri. Sampai saat ini, Adi masih mengirimkan uang untuk membantu Putri membesarkan Dewi. Selama pernikahan, Putri mengaku tidak pernah mendapat kekerasan fisik dari Adi. Hal ini tidak membuat Putri membenci laki-laki. Namun Putri tidak berminat untuk berhubungan dengan laki-laki lebih dari sekedar sahabat. Saat pernikahan Putri dan Adi masih berlangsung, sesekali Putri mencoba masuk ke forum chatting lesbian di internet. Ia berkenalan dengan Uki. Pada suatu kesempatan Uki bertemu dengan Putri. Namun Uki tidak sendirian, ia bersama Nina, mahasiswa cantik, periang, dan ramah. Setelah 6 bulan saling mengenal, Putri dan Nina baru memutuskan untuk menjalin komitmen. Saat ini mereka baru 4 tahun menjalankan hubungan. Putri memperkenalkan Nina sebagai teman kepada Dewi. Nina sangat cocok dengan Dewi. Dewi pun senang karena ia memiliki seseorang yang bisa bermain bersamanya. Putri dan Nina bersama-sama mendidik dan membersarkan Dewi. Mereka tinggal bertiga disebuah rumah kos dimana tetangga kamar mereka sangat cuek dan saling tak perduli. Meskipun baru pertama kali berhubungan intim dengan perempuan, Putri merasa sensai yang didapat begitu luar biasa. Tidak ada rasa sungkan, yang ada merasa sangat lega. Menurut Putri, berhubungan dngan perempuan sangat 16
  • 17. berbeda dengan laki-laki. Relasinya setara, emosinya juga berbeda, dan juga lebih lembut. Putri menemukan sosok ibu, teman, dan kekasih dalam diri Nina. Keluarga Putri sudah mengetahui orientasi seksualnya sebagai lesbian. Orang tuanya langsung murka terhadapnya. Namun pintu rumah senantiasa terbuka bagi Putri. Di tempat kerja pun Putri mengaku bahwa ia adalah lesbian, dan untungnya bos café tempat Putri bekerja juga seorang lesbian. Berbeda dengan Nina yang sampai saat ini masih menutupi orientasi seksualnya. Ia tidak mau menghancurkan harapan orang tuanya terhadap dirinya. Harapan Putri bagi Dewi adalah menyekolahkan Dewi di Singapura denan alasan agar Dewi tidak perlu susah payah memikirkan jawaban ata spertanyaan tentang ayahnya. Putri ingin Dewi membuka wawasannya dan akan membiarkan Dewi menentukan pilihan bagi hidupnya sendiri. Putri juga tidak memaksakan Dewi untuk mengikuti jejak bunya sebagai lesbian dan akan sulit bagi Dewi dan Putri ketika Dewi mengetahui bahwa ibunya adalah seorang lesbian. Kisah Lee – “Aku bukan perempuan.” Usia : 29 tahun Pendidikan : Perguruan tinggi Pekerjaan : karyawan bank (pagi), pegawai café (malam) Agama : Islam Suku : Tionghoa-Batak Domisili : Jakarta 17
  • 18. Status : Lajang Kelas ekonomi : Menengah Saat Lee masih dalam kandungan, orang tuanya berharap bahwa yang akan lahir adalah seorang bayi laki-laki. Namun faktanya, yang lahir adalah Lee, orang bayi berjenis kelamin perempuan. Sejak kecil, Lee lebih suka pakaian dan permainan laki-laki. Ia kerap kali memanjat pohon, bermain layangan dan bersepeda bersama teman-teman lelakinya. Orang tuanya pun tidak keberatan dengan hal tersebut. Lee memiliki pengalaman buruk dengan pamannya yang sebenanya sudah ia anggap sebagai ayah sendiri. Sang paman memperkosa Lee saat ia berusia 8 tahun. Masa kecil yang indah terkoyak akibat perbuatan busuk pamannya. Namun sampai saat ini tidak seorang pun mengetahui aib tersebut. sejak saat itulah Lee mulai trauma dan membenci laki-laki. Ditambah lagi ia kehilangan ayahnya saat Lee kelas 1 SMA. Dulu, Lee sangat benci melihat film porno lesbian dan juga sekedar mendengar kata “lesbian” pun ia sudah jijik. Tapi miris sekali bahwa ia sekarang menjadi seorang lesbian. Lee tertarik dengan perempuan sejak SMA, tahun 1997. Ia menemukan cinta sejatinya, Annisa, seorang gadis berkerudung. Sebenarnya mereka sudah lama saling suka namun tidak ada keberanian untuk mengungkapkannya. Lee juga masih ragu dengan orientasi seksualnya. Ia pun pernah dua kali mencoba berpacaran dengan laki-laki untuk menguji apakah ia benar-benar seorang lesbian. Dan hasilnya, ia tidak pernah merasakan perasaan cinta terhadap laki-laki. Akhirnya setelah lulus SMA, Lee 18
  • 19. mengutarakan perasaannya dan meminta Annisa untuk menjadi pacarnya. Mereka pun membangin hubungan secara diam-diam (backstreet). Keluarga Lee mulai mencurigai hubungannya dengan Annisa yang bukanlah pertemanan biasa. Akibatnya Lee mendapatkan kekerasan dan penganiayaan dari keluarganya sehingga ia memutuska untuk kabur dari rumah. Demikian juga dari pihak Annisa, Lee kerap kali dipukuli oleh paman-paman Annisa dan ia tidak melakukan perlawanan. Hingga saat ini, Lee telah 7 tahun meninggalkan keluarganya. Lee dan Annisa pindah ke luar kota dan hidup bersama sebagai pasangan. Sejak meninggalkan keluarga, Lee sudah menganggap dirinya laki-laki. Ia membenci laki-laki karena dianggapnya sebagai perusak dan ia mau menjadi seorang laki-laki yang berbeda, yang bertanggung jawab, tidak seperti pamannya. Lee menjadi begitu karena beberapa faktor, yaitu faktor gen, orang tuanya yang menginginkan anak perempuan, dan juga trauma masa kecil. Perlahan-lahan Lee mulai menapaki kehidupan sebagai seorang laki-laki, dari mulai KTP berjenis kelamin laki-laki, Kartu Keluarga yang menyatakan bahwa ia dan Annisa adalah pasangan suami istri, serta di lingkungan rumah dan pekerjaan Lee selalu memperkenalkan dirinya sebagai laki-laki. Ia menggunakan seragam kerja laki-laki, dan semua orang di kantor memanggil ia dengan panggilan “Bapak”. Lee juga selalu mengikuti sholat Jumat dan menggunakan toilet pria. Untung saja payudara Lee kecil, sehingga tidak ada yang curiga dengan keadaan itu. Ia adalah sosok lelaki dalam tubuh perempuan. Tahun 2004, ia sempat berfikir untuk melakukan operasi kelamin. Annisa bukan lesbi, ia menyukai laki-laki. Lee tahu itu, maka demi membahagaiakan 19
  • 20. pasangannya ia rela melakukan operasi kelamin. Ia telah melakukan konsultasi dengan dokter dan 3 psikolog. Hasilnya ia tetap bersikeras ingin melakukan operasi kelamin, semua demi kebahagiaan Annisa. Namun setelah berunding dengan teman-temannya, ia akhirnya mengurungkan niat tersebut. Sekarang Lee hanya menggunakan penis buatan yang hanya ia lepaskan ketika ia sedang mandi. Saat berhubungan seks, mereka selalu mematikan lampu dan Lee melarang Annisa untuk menyentuh dadanya. Lee mengakui bahwa mereka jarang melakukan hubungan seks. Menurut Lee, keintiman dan kenikmatan lebih didapat dari obrolan dan sentuhan kasih sayang. Annisa sangat ingin mengandung, melahirkan, dan mempunyai anak. Itulah satu-satunya hal yang tidak dapat diberikan oleh Lee. Sempat terpikir untuk melakukan donor sperma, namun Annisa menolak karena bertentangan dengan ajaran agama. Satu-satunya jalan adalah melepaskan Annisa untuk menikah dengan laki-laki lain. Semua demi Annisa, tapi Annisa tidak mau melakukan itu. Lee bekerja demi kehidupannya dan Annisa, karena ia tidak mungkin lagi mengharapkan bantuan dari keluarga yang telah mencampakkan mereka. Dengan memilih jalan hidup begini, berarti ia harus menanggung semua resikonya. Ia bekerja di bank pada pagi hari dan menjadi pegawai café di malam hari. Selain itu ia pun memiliki pekerjaan sampingan mengerjakan proyek kontraktor. Lee juga mulai terlibat dengan organisasi perempuan. Itu membuatnya menjadi lebih percaya diri, merasa memiliki teman, dan tidak merasa sendirian lagi. Ia berharap tahun-tahun kedepan tanggapan media terhadap lesbian menjadi lebih 20
  • 21. positif. Semoga isu-isu yang diangkat akan membuka pikiran masyarakat untuk menerima kaum LGBT. Kisah Mickey – “Kisah panjang pencarian jati diri” Usia : 33 tahun Pendidikan : SMA Pekerjaan : Mahasiswi Agama : Katolik Suku : Tionghoa Domisili : Jakarta Status : Lajang Kelas ekonomi : Menengah atas Mickey lahir dan tumbuh di Jakarta. Ia memiliki kakak laki-laki bernama Haris yang tinggal di Amerika Serikat. Hubungan Mickey dengan orang tuanya cukup baik. Hanya saja, Mickey lebih suka cerita dengan ayahnya ketimbang dengan ibunya. Walaupun ayahnya cukup keras dalam mendidik, tetapi ayah Mickey lebih mampu memahami kemauan anak dibandingkan ibunya. Sejak duduk di bangku SMP, Mickey mulai mengagumi dan menyukai perempuan. Ada ketertarikan jika melihat poster-poster perempuan cantik, tapi kalau melihat poster laki-laki malah biasa-biasa saja. Saat Mickey SMK, ia memiliki sahabat bernama Ami. Kedua sahabat ini memiliki kedekatan yang cukup erat karena mereka satu sekolah dan sama-sama mengikuti organisasi 21
  • 22. bela diri. Pertemuan sesingkat apapun dengan Ami selalu membuat Mickey bahagia. Ia sangat sayang dan selalu ingin melindungi Ami. Rasa sayang itu diungkapkan Mickey dengan berkata bahwa dirinya sangat takut kehilangan Ami dan mencium pipi Ami di depan teman-teman sekolah. Gara-gara tindakan itu, Mickey diejek oleh teman-teman sekolahnya. Tapi Mickey menanggapinya dengan acuh karena ia sendiri tidak tahu apa itu lesbian. Akibat reaksi teman-temannya itu Mickey mulai menjaga jarak dengan Ami karena takut Ami diganggui. Mickey menilai hubungannya tersebut bukan sebagai pacaran, hanya sekedar sahabat akrab. Setelah lulus SMK tahun 1994, Mickey kuliah di sebuah perguruang tinggi di Jakarta. Pada masa kuliah, seorang temannya memperkenalkan Rudi kepada Mickey dan kemudian mereka berpacaran. Namun hubungannya dengan Rudi bukan sesuatu yang bermakna bagi Mickey. Ada rasa tidak nyaman dan pada saat berciuman pun tidak ada rasa apa-apa. Akhirnya telah 2 bulan berpacaran, hubungan mereka pun berakhir. Orang tua Mickey mendorong Mickey untuk mengikuti perkumpulan doa karena mereka berfikir Mickey frustasi akibat putus cinta. Kegelisahan dalam pencarian jati diri membuat Mickey berhenti kuliah dan tahun 1996 Mickey mendaftarkan diri ke sekolah biarawati di Jawa Timur. Keputusan itu diambil untuk menyangkal bahwa ia adalah seorang lesbian. Dua tahun Mickey berada di biara tersebut, namun terjadi ketidak cocokan dengan seorang pembimbing. Ia pun mengundurkan diri dari biara. 22
  • 23. Setelah keluar dari biara, Mickey membantu usaha orang tuanya selama satu tahun dan kemudian mendaftar ke biara lain di Jakarta. Selama satu tahun di biara itu, kembali ia bermasalah dengan Dewan Penasihat biara dan ia keluar dari biara. Mickey lalu memutuskan pergi ke Amerika bertemu dengan Haris kakaknya. Ia mengungkapkan yang sesungguhnya bahwa ia adalah lesbian dan Mickey akhirnya menerima kenyataan bahwa ia adalah seorang lesbian. Melalui situs di internet, Mickey masuk ke website lesbian dan chatting dengan mereka. Dari situs itulah ia mengenal seorang wanita Arab-Lebanon dan berpacaran dengannya. Mereka berhubungan via sms, telepon, email, dan chatting. Namun kakak si wanita Arab ini memergoki hubungan mereka dan menentangnya. Oleh karena itu mereka memutuskan mengakhiri hubungan. Setelah lepassari relasi itu, Mickey mencoba masuk ke situs lesbian Indonesia dan berkenalan dengan Gita, gadis asal Padang. Mickey dan Gita berpacaran, dan diam-diam Mickey berangkat ke Padang untuk bertemu dengan Gita. Hubungan mereka berjalan, namun Mickey mulai merasa lelah menghadapi sikap Gita yang terkadang kekanak-kanakan dan posesif. Akhirnya, hubungan yang telah berlangsung 8 bulan itu pun kandas di tengah jalan. Pacar ketiga Mickey pun dikenalnya dari dunia maya. Setelah lebih akrab, mereka bertemu di sebuah café di Jakarta dan memutuskan untuk berpacaran. Namun pacarnya yang kali ini terlalu banyak menuntut dan posesif. Satu tahun saja Mickey mampu bertahan dalam hubungan tersebut. Beberapa bulan setelah putus dari pacar ketiganya, Mickey teringat kepada Ami, teman SMKnya. Mickey mencari tahu keberadaan Ami dan berusaha untuk 23
  • 24. bertemu dengannya. Setelah mereka bertemu, ternyata Ami telah menjadi jada beranak satu. Ia bercerai karena suaminya adalah pelaku kriminal dan sering melakukan kekerasan pada Ami. Mickey pun kembali mengungkapkan perasaan sayangnya kepada Ami. Oktober 2004 mereka sepakat untuk menjadi pasangan. Sebagai tanda keseriusan, Mickey memberikan cincin kepada Ami. Dimas adalah anak laki-laki Ami. Dimas mengenal Mickey sebagai teman ibunya. Mereka berdua memiliki hubungan yang baik. Mickey pun ikut membantu menasihati dan membesarkan Dimas. Diakui oleh Mickey bahwa ia lebih bersifat macho dan Ami lebih feminine. Tapi pembagian itu bukan dilakukan dengan sengaja, namun memang itulah karakter mereka masing-masing. Posisi tersebut tidak membuat adanya diskriminasi dalam hubungan mereka. Segalanya setara, bahkan dalam hubungan seks pun mereka saling melayani. Mickey tidak berniat untuk mengungkapkan orientasi seksualnya kepada orang tuanya, walaupun sebenarnya itu adalah hal yang sangat ia idamkan. Ia hanya mengungkapkan hal tersebut kepada dua orang teman laki-lakinya di kampus dan mereka pun menerima keadaan Mickey apa adanya. Mickey tahu,bahwa menurut ajaran agama Katolik homoseksual itu dilarang. Namun ia sendiri pernah mengalami penyangkalan dan perang batin atas keadaan yang ia alami. Semakin disangkal, perasaan itu semakin kuat. Dan ia pun akhirnya berfikir bahwa Tuhan adalah Maha Penyayang. Tuhan selalu menyayangi umatnya yang terhina jika ia tidak merugikan ciptaanNya yang lain. Ia berharap dapat mendirikan suatu perusahaan dan merekrut para lesbian 24
  • 25. lainnya untuk bekerja bersamanya. Ia juga ingin agar pelecehan terhadap kaum lesbian semakin diperhatikan, seperti misalnya kekerasan dan pelecehan seksual. Semoga hukum di Indonesia akan lebih memperjuangkan hak-hak kaum lesbian dan perempuan. Kisah Risa – “Perjuangan tiada henti” Usia : 25 tahun Pendidikan : Pergurun tinggi Pekerjaan : Tidak bekerja Agama : Islam Suku : Sumatra-Sulawesi Domisili : Jakarta Status : Lajang Kelas ekonomi : Menengah Risa lahir dan besar di sebuah kota kecil di Sumatra Selatan. Ia merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara. Ayahnya sangat keras dalam mendidik anak agar anak-anaknya menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, dan berani. Sejak kecil Risa lebih suka dengan segala sesuatu yang diperuntukkan bagi anak laki- laki, seperti bermain kelereng, yoyo, dan layangan dengan teman laki-lakinya. Dan pada umur 10 tahun, orang tua Risa berpisah. Ia tidak tahu alasan mengapa orangtuanya bercerai. 25
  • 26. Risa tinggal berdua dengan ibunya setelah kakaknya memutuskan untuk melanjutkan SMA di luar kota. Hal itu mengubah kepribadian Risa. Ia mendidik dirinya untuk menjadi kuat, baik secara fisik maupun psikis. Ia harus bisa menjaga ibunya. Namun sikap ibunyakurang hangat kepada Risa. Terkadang Risa merasa iri dengan teman-temannya yang akrab dan bisa berbagi cerita dengan ibu. Selepas perceraian, ayahnya masih tetap menghubungi Risa dan sesekali menemui Risa di sekolah. Risa mengakui bahwa tidak pernah merasa jatuh cinta dengan laki-laki. Menurutnya, laki-laki adalah teman main yang menyenangkan. Sewaktu Risa SMP ia menyukai seorang teman perempuannya. Untuk menunjukkan perasaannya risa sering menulis surat-surat kecil dan berusaha membahagiakan temannya. Baginya tidak ada yang salah dengan itu. Saat duduk di bangku SMA, Risa jatuh cinta dengan Santi, adik kelasnya. Ia tertarik denan Santi karena ia cantik, pintar, pendiam, dan sabar. Setelah terjalin komunikasi yang intensif, mulailah terbangun ketergantungan emosi dan Risa mengungkapkan cintanya kepada Santi. Pernyataan cinta itu ditangapi negatif oleh Santi. Ia malah membenci dan memarahi Risa. Dan menyebarlah gosip di sekolah bahwa Risa adalah seorang lesbian. Santi sempat berpacaran beberapa kali dengan laki-laki. Walaupun begitu, Risa tetap menyayangi Santi. Mereka pun tetap dekat karena mereka berdua tergabung dalam satu tim softball. Akhirnya pada kelas 3 SMA, Risa dan Santi berpacaran. Hubungan mereka itu berlangsung selama 4 tahun, hingga menjelang wisuda kuliah. 26
  • 27. Kontak seksual yang pertama kali dengan Santi diawali dengan ciuman dan perangsangan di daerah dada. Selanjutnya mengalir begitu saja. Saat itu Santi lebih agresif, sementara Risa masih malu-malu. Risa juga tidak mau terlalu agresif karena takut Santi malah menjauh darinya. Melihat tubuh perempuan bugil membuat Risa terkesima dan awalnya ia pun merasa tidak nyaman untuk bertelanjang bugil dihadapan perempuan. Saat berelasi dengan Santi, Risa memposisikan diri sebagai laki-laki. Seperti menjemput Risa, menelpon, membayari kencan, dsb. Namun saat Risa mulai bergabung di organisasi perempuan di Yogyakarta, ia mulai memahami kesetaraan gender dalam lesbian. Ia pun hendak mengubah peran gendernya dan memberlakukan kesetaraan dalam hubungan. Tetapi saat itu malah Risa mengakhiri hubungannya dengan Santi. Rasa jenuh, cemburu, dan kelewat posesif menghantui Risa. Dan lagi mereka harus menjalani pacaran jarak jauh karena Risa sedang menyelesaikan tugas akhir kuliah di Yougyakarta. Keaktifan Risa di organisasi perempuan Yogyakarta membawa Risa ke dalam suatu konfrensi pers lesbian. Dalam konfrensi per situ, ia mengakui bahwa dirinya adalah seorang lesbian dan beritaitu pun sampai ke telinga keluarga Risa. Orang tua Risa menyuruh Risa untuk pergi ke psikolog dan mendalami agama. Sampai-sampai ibu Risa yang pulang umroh menyuruhnya untuk meminum air zam-zam. Risa mengidamkan pasangan yang dewasa, yang bisa mendukung keinginannya untuk aktif dalam pergerakan perempuan. Pernah ada pasangan Risa yang mengusulkan ide untuk pura-pura menikah dengan laki-lai demi menutupi hubungan mereka di depan keluarganya. Namun Risa menolak 27
  • 28. mentah-mentah. Baginya itubukanlah sebuah solusi tetapi malah akan memunculkan masalah baru. Sempat juga Risa ingin memiliki seorang anak dengan cara adopsi. Sayangnya proses adopsi di Indonesia cukup rumit dan juga ia mengkhawatirkan anaknya jika setelah dewasa mengetahui bahwa ibunya adalah seorang lesbian. Risa pun mengurungkan niat tersebut. Selama ini Risa pun kerap kali berteman dengan homophobia. Teman-temannya di organisasi perempuan sendiri bahkan sering menolak Risa yang notabene adalah seorang lesbian. Mereka malah meminta Risa untuk mengubah orientasi seksualnya karena menurut mereka lesbian adalah suatu tindakan dosa. Namun, teman-temannya yang diluar LSM malah mampu menerima Risa apa adanya. Menurut Risa, agama Islam jelas melarang praktek homoseksualitas. Akan tetapi ajaran dan interpretasi agama belum menjadi penyejuk karena masih mendiskriminasi kaum-kaum marjinal sepertinya. Salah satu ajaran agama adalah mengasihi sesama manusia, jadi kalau orientasinya masih mengasihi sesama manusia Risa merasa tidak ada yang salah dengan dirinya. Menjadi lesbian tidak menghalangis seseorang untuk berdoa dan beribadah. Ia pun yakin bahwa tidak ada agama manapun yang mengajarkan diskriminasi. Risa menilai bahwa gerakan kaum lesbian di Indonesia masih bernaung dalam organisasi perempuan. Menurutnya, gerakan lesbian harus lebih membaur ke seluruh lapisan masyarakat agar setiap orang dapat memahami dengan benar apa itu lesbian dan kaum lesbian pun dapat diterima dengan baik di masyarakat. Risa ingin memperjuangkan hak-hak lesbian dan menghapuskan diskriminasi. Ia mengharapkan agar kaum lesbian mendapatkan perlindungan hukum dan 28
  • 29. disahkannya perkawinan sejenis di Indonesia. Selain itu juga ada kejelasan hukum atas pasangan lesbian yang telah menikah, seperti hak waris, harta gono-gini, dsb. Satu lagi keinginan Risa, yaitu mendirikan “lesbian crisis center” sebagai tempat perkumpulan lesbian dan juga memberikan pengarahan bagi seorang lesbian yang sedang dalam proses mencari jati diri. Kisah Sandy – “Kodrat seorang perempuan” Usia : 35 tahun Pendidikan : SMA Pekerjaan : Pegawai showroom motor Agama : Islam Suku : Minangkabau Domisili : Jakarta Status : Lajang Kelas ekonomi : Menengah bawah Sandy lahir dan besar di Sumatra Barat. Ia adalh anak kedelapan dari sebelas bersaudara,hanya 3 diantaranya yang perempuan. Ibunya adalah guru SD dan ayahnya pensiunan camat. Keduanya telah meninggal dunia, ayahnya meninggal pada tahun 1992, ibunya meninggal 2005. Keluarga Sandy tergolong kedalam kelompok kelas ekonomi kurang mampu karena terlalu banyak anak yang harus dibiayai. 29
  • 30. Saat kecil Sandy senang bermaik sepak bola dengan teman-teman lelakinya. Sehari-hari ia selalu memakai kaos dan celana hingga ibunya kerap kali jengekel dan tidak mau membelikan ia baju lagi. Saat ia beranjak remaja, barulah ia menyadari bahwa ia adalah seorang perempuan. Ia pun mulai berteman dengan 2 anak perempuan lain di kampungnya. Tapi tetap saja teman-teman Sandy adalah anak perempuan yang tomboy. Lama kelamaan barulah ketahuan bahwa mereka juga adalah lesbian. Sejak kecil Sandy hanya tertarik dengan perempuan. Pertama kali ia menyukai ibu gurunya dan senang bermanja-manja dengannya. Perempuan lain yang pernah diperhatikan oleh Sandy adalah Mira, teman mainnya selama ini. Tapi ketertarikan terhadap Mira baru berkembang ketika SMP. Kedekatannya dengan Mira semakin mendalam dan menyadarkan Sandy bahwa dirinya adalah seorang lesbian. Mereka baru berpacaran ketika Sandy berusia 20 tahun. Setelah Sandy berpacaran, seluruh waktunya hanyauntuk Mira dan ia mengabaikan dunia luar demi Mira. Sandy mengakui bahwa ia saat itu belum mengetahui istilah lesbian, ia hanya mengikuti naluri yang ada. Pertama kalinya ia mengetahui kata “lesbian” adalah dari kakaknya yang tertua. Kakaknya mengetahui kedekatan Sandy dengan Mira dan memberitahukan itu kepada orang tuanya. Ia juga membenci Mira bahkan memberikan julukan kasar kepada Mira. Sampai suatu ketika, Sandy meminta tolong kakaknya untuk mengirimkan sebuah surat yang tertutup rapat kepada Mira. Surat itu bukannya sampai ke tangan Mira, malah dibuka dan difotokopi 11 lembar oleh kakaknya. Fotokopian itu dibagikan kepada semua saudara- saudaranya. Ketika Sandy pulang, ia dihadapkan di tengah saudara-saudaranya 30
  • 31. dan diminta untuk membaca surat cinta itu keras-keras. Sandy langsung merobek surat itu dan pergi dari rumah. Setahun setelah kasus surat cinta itu, ibunya menanyakan apakah ia masih berpacaran dengan perempuan. Spontan Sandy mengelak, ia mengatakan bahwa ia tidak berpacaran dengan perempuan. Namun ia merasa menyesal saat ibunya meningal. Ibunya sesungguhnya sudah mengetahui bahwa ia lesbian, namun masih memperhatikan Sandy. Sandy pun akhirnya menyadari bahwa perbuatannya adalah dosa dan menyuruh Mira untuk pergi meninggalkannya ke Jakarta. Ternyata di Jakarta Mira menikah dengan seorang laki-laki dan sejak itu ia memusuhi Sandy. Sandy sangat terpukul. Selepas kematian ibunya, Sandy pun pergi ke Jakarta untuk menghindari dijodohkan di kampung dan menghapuskan penyesalan atas kematian ibunya. Untuk urusan seks, Sandy punya pengalaman unik. Ia selalu berfantasi tentang seorang wanita yang seksi, berbuah dada besar, berambut panjang, dan berpinggul besar. Dorongan dan nafsu seksualnya akan sangat memuncak jika ia melihat pasanganya bugil dan bertubuh montok. Dalam berhubungan intim, Sandy memposisikan diri sebagai laki-laki, aktif dan memuaskan pasangan. Ia hanya mengikuti naluri untuk merangsang pasangannya. Sandy sangat meyakini bahwa lesbian adalah suatu penyakit jiwa, susah untuk menyembuhkannya. Ia pun menemukan beberapa teman lesbiannya yang ingin kembali normal. Obatnya adalah menikah dengan laki-laki. Penyakit lesbian juga bisa menular karena 95% perempuan adalah lesbian pasif. Kemudian lesbian aktif (seperti Sandy) yang akhirnya membawa para lesbian pasif menjadi 31
  • 32. seorang lesbian aktif. Sandy mengakui bahwa ia menerima keadaan dirinya sebagai penyakit, bukan takdir. Penyakit yang timbul karena nafsu Sandy berharap untuk berubah, memiliki suami dan anak-anak. Ia mempelajari bahwa menikah adalah kewajiban dalam agama Islam dan Allah telah menciptakan segala sesuatunya berpadang-pasangan. Menayalahinya sama saja menenang kodrat ilahi. Sandy juga takut akan hukuman akherat. Ia sangat yakin bahwa apa yang dilakukannya di dunia ini pasti akan membawa buah di dunia akherat. Ketika Mira tahu kepindahan Sandy ke Jakarta, ia sangat marah dan menganggap Sandy ke Jakarta untuk menyusul diriya. Mira yang sudah menikah sangat membenci Sandy bahkan menemui Sandy pun enggan. Sandy tidak marah dengan perlakuan mantan kekasihnya itu. Ia tahu Mira hanya berusaha untuk menghilangkan masa lalunya. Sandy berharap agar masyarakat bisa menerima lesbian seperti manusia juga. Janganlah mereka dihina dan dilecehkan. Sandy tidak menyetujui pernikahan sesama jenis. Menurutnya itu adalah sesuatu yang dilarang oleh agama. Selain itu ada hak-hak lesbian yang ingin ia perjuangkan, yaitu hak untuk memiliki rasa aman dalam bekerja serta hak hidup aman dan bebas dari penghinaan. Namun dengan catatan, lesbian jga harus dapat menjaga normanya di dalam kehidupan bermasyarakat. 32
  • 33. BAB IV KESIMPULAN Selama ini orientasi seksual dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dirubah, kaku. Namun dalam kisah Putri, tampak bahwa orientasi seksual adalah sesuatu konstruksi dalam masyarakat yang sebenarnya bersifat lentur., dapat dineogosiasikan, dan karenanya dapat ditentukan atau diubah. Karena kelenturan inilah, muncul mitos “jangan dekat-dekat dengan lesbian, nanti ketularan”. Padahal bukannya menular, tetapi runtuhnya tembok dikotomi heteroseksual-homoseksual sehingga membuat perbedaan itu menjadi tidak bermakna. Banyak pula mitos dan stereotype yang dilekatkan kepada kaum lesbian. Misalnya, pendapat yang mencoba menjelaskan latr belakang seseorang menjadi lesbian. Mulai dari trauma dengan laki-laki, proses pendidikan dikeluarga, terpengaruh oleh teman yang lesbian (tertular), terpengaruh informasi, ideology barat dan ajaran feminism, hingga kurangnya pemahaman 33
  • 34. akan nilai-nilai agama, dan tidak bemoral. Namun berdasarkan cerita para narasumber, semua hal tersebut tidak terbukti atau masih dipertanyakan. Seluruh kisah di atas menunjukkan denan jelas bahwa menyadari dan mengakui diri sebagai lesbian bukanlah pengalaman yang terjadi dalam sekejab. Butuh waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk menikmati hasrat cinta kepada sesame jenis. Dan perlu lebih banyak waktu lagi untuk menerima diri sebagai perempuan yang mencintai perempuan. Begitu banyak lesbian yang kehilangan arah pada saat pencarian jati diri. Lesbian muda umumya bingung sekaligus takut dengan perasaan dan keadaan yang mereka hadapi. Di dalam masyarakat yang menabukan dan menekan diskusi tentang seksualitas apalagi homoseksual, kebingunan itu tentu saja menjadi wajar. Sama seperti yang dialami para narasumber. Setelah mereka merasa yakin, tahap yang akan dialami oleh tiap individu selanjutnya mungkin berbeda-beda. Barangkali ada yang meneruskan pencariannya akan cinta sejati. Namun demikian, menjadi lesbian bukan semata-mata mencari pacar atau berhubungan seks dengan sesame perempuan. Ada begitu banyak aspek dalam kehidupan perempuan lesbian. Yang lainnya mungkin melanjutkan perjuangannya untuk menegakkan hak-hak kaum perempuan dan lesbian. Sementara yang lainnya mencoba hidup sebagai pekerja, anggota masyarakat, mahasiswa, pencari kerja, sebagai anak, dan sebagai perempuan. 34

×