Perkembangan psikososial

10,351 views
10,063 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
10,351
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
215
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Perkembangan psikososial

  1. 1. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Perkembangan merupakan proses perubahan secara progress baik secara fisik maupun non fisik menuju kesempurnaan. Perkembangan secara fisik merupakan perkembangan yang terjadi pada aspek-aspek biologis seorang individu. Sedangkan perkembangan non fisik didalamnya terdapat perkembangan emosi, perkembangan kognitif, dan perkembangan pada aspek sosial peserta didik. Peserta didik sebagai makhluk sosial membutuhkan peran lingkungannya atau bantuan dari orang lain untuk dapat tumbuh kembang menjadi manusia yang utuh. Dalam perkembangannya, pendapat dan sikap peserta didik dapat berubah karena interaksi dan saling berpengaruh antar sesama peserta didik maupun dengan proses sosialisasi. Dalam psikologi perkembangan, banyak dibahas mengenai bagaimana tahap perkembangan sosial anak, diantara tokoh yang memberi kontribusi dalam hal ini adalah teori perkembangan psikososial Erik H. Erikson. Erikson mengatakan bahwa istilah “psikososial” dalam kaitannya dengan perkembangan manusia berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai mati dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis. Adapun tahap-tahap perkembangan psikososialnya dibagi menjadi delapan tahap berdasarkan kualitas 1
  2. 2. 2 ego, yaitu empat tahap pertama terjadi pada masa bayi dan masa kanak-kanak, tahap kedua pada masa adolesen, dan tiga terakhir pada masa dewasa dan usia tua. Penjelasan lebih rinci mengenai konsep perkembangan teori psikososial Erik H. Erikson beserta tahap-tahap perkembangannya akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya. Semoga bermanfaat.B. Rumusan Masalah Beberapa hal penting yang akan dibahas dalam makalah ini adalah: 1. Bagaimana biografi singkat Erik H. Erikson? 2. Bagaimana teori perkembangan psikososial Erikson? 3. Bagaimana tahap-tahap perkembangan psikososial Erik H. Erikson?C. Tujuan Dari rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah pembaca mampu: 1. Mengetahui biografi singkat Erik H. Erikson 2. Mengetahui teori perkembangan psikososial Erikson 3. Mengetahui tahap-tahap perkembangan psikososial Erik H. Erikson
  3. 3. 3 BAB II PEMBAHASANA. Biografi Singkat Erik H. Erikson (1902-1994) Erik Homburger Erikson adalah salah seorang toritisi ternama dalam bidang perkembangan rentang-hidup, ia juga memiliki kontribusi yang banyak dalam bidang psikologi terutama pada pengembangan anak dan krisis identitas.Ia lahir di Franfrurt Jerman, pada tanggal 15 Juni 1902. Ayahnya bernama Danis, telah meninggal dunia sebelum ia lahir. Hingga akhirnya pada saat remaja, ibunya (yang seorang Yahudi) menikah lagi dengan psikiater yang bernama Dr. Theodor Homberger. Semasa kecilnya, Erikson dikenal sebagai anak yang tidak pandai, ia tidak menyukai pendidikan formal, sebaliknya ia lebih dikenal sebagai seseorang yang menyukai pengembaraan. Bagaimanapun ia tetap menempuh pendidikan formal tetapi gagal meneruskan program diplomanya. Tetapi perjalanan Erikson ke beberapa negara dan perjumpaannya dengan beberapa penggiat ilmu menjadikannya seorang ilmuwan sekaligus seniman yang diperhitungkan. Pertama, ia berjumpa dengan ahli analisa jiwa dari Austria yaitu Anna Freud. Atas dorongan Anna Freud, ia mulai mempelajari ilmu jiwa di Vienna Psychoanalytic Institute, kemudian ia mengkhususkan diri dalam psikoanalisa anak. Akhirnya pada tahun 1960 ia dianugerahi gelar profesor dari Universitas Harvard. 3
  4. 4. 4 Setelah menghabiskan waktu dalam perjalanan panjangnya di Eropa Pada tahun 1933 ia kemudian berpindah ke USA dan kemudian ditawari untuk mengajar di Harvad Medical School. Selain itu ia memiliki pratek mandiri tentang psiko analisis anak. Terakhir, ia menjadi pengajar pada Universitas California di Berkeley, Yale, San Francisco Psychoanalytic Institute, Austen Riggs Center, dan Center for Advanced Studies of Behavioral Sciences. Selama periode ini Erikson menjadi tertarik akan pengaruh masyarakat dan kultur terhadap perkembangan anak. Ia belajar dari kelompok anak-anak Amerika asli untuk membantu merumuskan teori-teorinya. Berdasarkan studinya ini, membuka peluang baginya untuk menghubungkan pertumbuhan kepribadian yang berkenaan dengan orangtua dan nilai kemasyarakatan. Buku pertamanya adalah Childhood dan Society (1950), yang menjadi salah satu buku klasik di dalam bidang ini. Saat ia melanjut pekerjaan klinisnya dengan anak-anak muda, Erikson mengembangkan konsep krisis perasaan dan identitas sebagai suatu konflik yang tak bisa diacuhkan pada masa remaja. Buku- buku karyanya antara lain yaitu: Young Man Luther (1958), Insight and Responsibility (1964), Identity (1968), Gandhi’s Truth (1969): yang menang pada Pulitzer Prize and a National Book Award dan Vital Involvement in Old Age (1986).B. Teori Perkembangan Psikososial Erik H. Erikson Istilah “psikososial” dalam kaitannya dengan perkembangan manusia berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai mati dibentuk
  5. 5. 5oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yangmenjadi matang secara fisik dan psikologis. Perkembangan psikososial juga bisadiartikan berhubungan dengan perubahan-perubahan perasaan atau emosi dankepribadian serta perubahan dalam bagaimana individu berhubungan denganorang lain. Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan Erik H. Eriksonmerupakan salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi.Bersama dengan Sigmund Freud, Erikson mendapat posisi penting dalampsikologi. Hal ini dikarenakan ia menjelaskan tahap perkembangan manusiamulai dari lahir hingga lanjut usia, satu hal yang tidak dilakukan oleh Freud.Selain itu karena Freud lebih banyak berbicara dalam wilayah ketidaksadaranmanusia, teori Erikson yang membawa aspek kehidupan sosial dan fungsi budayadianggap lebih realistis. Erikson dalam membentuk teorinya secara baik, sangat berkaitan eratdengan kehidupan pribadinya dalam hal ini mengenai pertumbuhan egonya.Erikson berpendapat bahwa pandangan-pandangannya sesuai dengan ajaran dasarpsikoanalisis yang diletakkan oleh Freud. Jadi dapat dikatakan bahwa Eriksonadalah seorang post-freudian atau neofreudian. Akan tetapi, teori Erikson lebihtertuju pada masyarakat dan kebudayaan. Hal ini terjadi karena dia adalah seorangilmuwan yang punya ketertarikan terhadap antropologis yang sangat besar,bahkan dia sering meminggirkan masalah insting dan alam bawah sadar. Olehsebab itu, maka di satu pihak ia menerima konsep struktur mental Freud, dan di
  6. 6. 6 lain pihak menambahkan dimensi sosial-psikologis pada konsep dinamika dan perkembangan kepribadian yang diajukan oleh Freud. Bagi Erikson, dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan pengungkapannya sebagai tindakan- tindakan sosial. Pusat dari teori Erikson mengenai perkembangan ego ialah sebuah asumsi mengenai perkembangan setiap manusia yang merupakan suatu tahap yang telah ditetapkan secara universal dalam kehidupan setiap manusia.C. Tahap-Tahap Perkembangan Psikososial Erik H. Erikson Menurut teori psikososial Erikson, perkembangan manusia dibedakan berdasarkan kualitas ego dalam delapan tahap perkembangan. Empat tahap pertama terjadi pada masa bayi dan masa kanak-kanak, tahap pertama pada masa adolesen, dan tiga terakhir pada masa dewasa dan usia tua. Dari delapan tahap perkembangan tersebut, Erikson lebih menekankan pada masa adolesen, karena masa tersebut merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Apa yang terjadi pada masa ini, sangat penting artinya, bagi kepribadian dewasa. Berikut ini adalah delapan tahap perkembangan psikososial Erikson: 1. Tahap Kepercayaan dan Ketidakpercayaan (Trust vs Mistrust) Tahap ini terjadi selama tahun-tahun pertama kehidupan, yaitu usia kira- kira 0-1 tahun. Pada tahap ini, bayi mengalami konflik antara percaya dan tidak percaya (Trust vs Mistrust). Keadaan percaya “trust” menurut Erikson pada umumnya mengandung tiga aspek yaitu:
  7. 7. 71. Bahwa bayi belajar percaya pada kesamaan dan kesinambungan dari pengasuh diluarnya2. Bahwa bayi belajar percaya diri dan dapat percaya pada kemampuan organ- organnya sendiri untuk menaggulangi dorongan-dorongan3. Bahwa bayi menganggap dirinya cukup dapat dipercaya sehingga pengasuh tak perlu waspada dirugikan. Menurut Erikson, bukti pertama yang menunjukkan adanya kepercayaansosial pada bayi dapat terlihat ketika kebutuhan oralis bayi terpenuhi, misalnyakepuasan atau kesenangannya dalam menikmati air susu, kepulasan tidur, dankemudahan membuang air besar. Erikson yakin bahwa bayi mempelajari rasapercaya apabila mereka diasuh dengan cara yang konsisten dan hangat. Pada saatitu, hubungan bayi dengan ibu sangatlah penting. Kalau ibu memberinya makan,membuatnya hangat, memeluk dan mengajaknya bicara, maka bayi tersebut akanmemperoleh kesan bahwa lingkungannya dapat menerima kehadirannya secarahangat dan bersahabat. Inilah yang menjadi landasan pertama bagi rasa percaya. Sebaliknya kalau ibu tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi, maka dalamdiri bayi akan timbul rasa ketidakpercayaan kepada lingkungannya. Oleh karenaitu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidakdikenalnya. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapijuga kepada benda asing, tempat asing, suara asing, perlakuan asing dansebagainya. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis. Pengalaman akan adanya suatu pengaturan timbal balik antarapeningkatan kemampuan bayi untuk menerima cara-cara pengasuhan ibu, secara
  8. 8. 8berangsur-angsur membantu anak mengimbangi keadaan tidak senang yangdisebabkan oleh ketidak matangan homeostatis yaitu kecenderungan bagi organ-organ tubuh dan darah untuk mempertahankan diri agar tetap konstan yangmenyertai ia sejak lahir. Seiring dengan timbulnya rasa senang dalam diri bayi,maka pada saat bangun ia berangsur-angsur menemukan bahwa panca inderanyatelah akrab dengan lingkungan. Bentuk-bentuk rasa senang dan orangorang yangberkaitan dengan rasa senang itu, akan menjadi sama biasa seperti rasa sangattidak senang karena buang air besar. Oleh sebab itu, prestasi sosial pertama bayiadalah kerelaannya membiarkan ibu hilang dari pandangan tanpa kecemasan dankemarahan, karena ibu sudah menjadi keastian batin dan kehadirannya kembalisdah dapat dipastikan. Dengan demikian, bayi yang memiliki rasa percaya dalam dirinyacenderung untuk memiliki rasa aman dan percaya diri untuk mengeksplorasilingkungan yang baru. Sebaliknya bayi yang memiliki rasa tidak percaya(mistrust) cenderung tidak memiliki harapan-harapan positif.2. Tahap Otonomi dan Perasaan Malu dan Ragu-ragu (Otonomy vs Shame and Duobt) Tahap ini merupakan tahap perkembangan psikososial yang berlangsungpada akhir masa bayi dan masa baru pandai berjalan. Otonomi dibangun diatasperkembangan kemampuan mental dan kemampuan motorik. Pada tahap ini, bayitidak hanya dapat berjalan, tetapi mereka juga dapat memanjat, membuka danmenutup, menjatuhkan, menolak dan menarik, memegang dan melepaskan. Bayimerasa bangga dengan prestasi ini dan ingin melakukan segala sesuatu sendiri,
  9. 9. 9apakah itu menyiram jamban, membuka bungkusan paket, atau memutuskan apayang akan dia makan. Selanjutnya, mereka juga dapat belajar mengendalikan ototmereka dan dorongan keinginan diri mereka sendiri. Dengan demikian, setelah memperoleh kepercayaan dari pengasuhmereka, bayi mulai menemukan bahwa perilaku mereka adalah milik merekasendiri. Mereka mulai menyatakan rasa mandiri atau otonomi mereka. Merekamenyadari kemauan mereka. Pada tahap ini, bila orang tua selalu memberikandorongan kepada anak agar anak dapat berdiri di atas kedua kaki mereka sendiri,sambil melatih kemampuan-kemampuan mereka, maka anak kan mampumengembangkan pengendalian atas otot, dorongan, lingkungan, dan diri sendiri(otonom). Sebaliknya, jika orang tua cederung menuntut terlalu banyak atauterlalu membatasi anak untuk menyelidiki lingkungannya, maka anak akanmengalami rasa malu dan ragu-ragu yang berlebihan tentang kemampuan merekauntuk mengendalikan diri mereka sendiri dan dunia mereka. Erikson yakin tahap otonomi vs rasa malu dan ragu-ragu memilikiimplikasi yang penting bagi perkembangan kemandirian dan identitas selamamasa remaja. Pengembangan otonomi selama tahun-tahunn balita memberiremaja dorongan untuk menjadi individu yang mandiri, yang dapat memiliki danmenentukan masa depan mereka sendiri.3. Tahap Prakarsa dan Rasa Bersalah (Initiative vs Guilt) Yaitu tahap perkembangan psikososial ketiga yang berlangsung selamatahun-tahun prasekolah. Pada tahap ini, anak terlihat sangat aktif, suka berlari,berkelahi, memanjat-manjat, dan suka menantang lingkungannya. Dengan
  10. 10. 10menggunakan bahasa, fantasi, dan permainan khayalan, dia memperoleh perasaanharga diri. Bila orang tua berusaha memahami, menjawab pertanyaan anak, danmenerima keaktifan anak dalam bermain, maka anak akan belajar untukmendekati apa yang dia inginkan, dan perasaan inisiatif menjadi semakin kuat.Sebaliknya, bila orang tua kurang memahami, kurang sabar, suka memberihukuman, dan menganggap bahwa pengajuan pertanyaan, bermain dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak tidak bermanfaat, maka anak akan merasa bersalahdan menjadi enggan untuk mengambil inisiatif untuk mendekati apa yangdiinginkannya. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderunganinitiative – guilty. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengankecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapikarena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalamikegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaanbersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. Tahap ketiga ini juga dikatakan sebagai tahap kelamin-lokomotor(genital-locomotor stage) atau yang biasa disebut tahap bermain. Tahap ini padasuatu periode tertentu saat anak menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun, dan tugasyang harus diemban seorang anak pada masa ini ialah untuk belajar punyagagasan (inisiatif) tanpa banyak terlalu melakukan kesalahan. Masa-masa bermainmerupakan masa di mana seorang anak ingin belajar dan mampu belajar terhadaptantangan dunia luar, serta mempelajari kemampuan-kemampuan baru jugamerasa memiliki tujuan. Dikarenakan sikap inisiatif merupakan usaha untuk
  11. 11. 11menjadikan sesuatu yang belum nyata menjadi nyata, sehingga pada usia iniorang tua dapat mengasuh anaknya dengan cara mendorong anak untukmewujudkan gagasan dan ide-idenya. Akan tetapi, semuanya akan terbalikapabila tujuan dari anak pada masa genital ini mengalami hambatan karena dapatmengembangkan suatu sifat yang berdampak kurang baik bagi dirinya yaitumerasa berdosa dan pada klimaksnya mereka seringkali akan merasa bersalahatau malah akan mengembangkan sikap menyalahkan diri sendiri atas apa yangmereka rasakan dan lakukan. Ketidakpedulian (ruthlessness) merupakan hasil dari maladaptif yangkeliru, hal ini terjadi saat anak memiliki sikap inisiatif yang berlebihan namunjuga terlalu minim. Orang yang memiliki sikap inisiatif sangat pandaimengelolanya, yaitu apabila mereka mempunyai suatu rencana baik itu mengenaisekolah, cinta, atau karir mereka tidak peduli terhadap pendapat orang lain danjika ada yang menghalangi rencananya apa dan siapa pun yang harus dilewati dandisingkirkan demi mencapai tujuannya itu. Akan tetapi bila anak saat berada padaperiode mengalami pola asuh yang salah yang menyebabkan anak selalu merasabersalah akan mengalami malignansi yaitu akan sering berdiam diri (inhibition).Berdiam diri merupakan suatu sifat yang tidak memperlihatkan suatu usaha untukmencoba melakukan apa-apa, sehingga dengan berbuat seperti itu mereka akanmerasa terhindar dari suatu kesalahan. Kecenderungan atau krisis antara keduanya dapat diseimbangkan, makaakan lahir suatu kemampuan psikososial adalah tujuan (purpose). Selain itu,ritualisasi yang terjadi pada masa ini adalah masa dramatik dan impersonasi.
  12. 12. 12Dramatik dalam pengertiannya dipahami sebagai suatu interaksi yang terjadi padaseorang anak dengan memakai fantasinya sendiri untuk berperan menjadiseseorang yang berani. Sedangkan impersonasi dalam pengertiannya adalah suatufantasi yang dilakukan oleh seorang anak namun tidak berdasarkankepribadiannya. Oleh karena itu, rangakain kata yang tepat untukmenggambarkan masa ini pada akhirnya bahwa keberanian, kemampuan untukbertindak tidak terlepas dari kesadaran dan pemahaman mengenai keterbatasandan kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya.4. Tahap Kerajinan dan Rasa Redah Diri (Industry vs Inferiority) Tahap ini merupakan tahap psikososial keempat yang berlangsung kira-kira pada tahun-tahun sekolah dasar. Pada tahun ini, anak mulai memasuki duniayang baru, yaitu sekolah dengan segala aturan dan tujuan. Anak mulaimengarahkan energi mereka menuju penguasaan pengetahuan dan keterampilanintelektual. Alat-alat permainan dan kegiatan bermain berangsur-angsurdigantikan oleh perhatian pada situasi-situasi produktif serta alat-alat yang dipakaiuntuk bekerja. Akan tetapi, apabila anak tidak berhasil menguasai keterampilandan tugas-tugas yang dipilihnya atau oleh guru-guru dan orang tuanya, maka anakakan mengembangkan perasaan rendah dirinya. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masaini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Doronganuntuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi dipihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya
  13. 13. 13kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan.Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri. Tahap keempat ini dikatakan juga sebagai tahap laten yang terjadi padausia sekolah dasar antara umur 6 sampai 12 tahun. Salah satu tugas yangdiperlukan dalam tahap ini ialah adalah dengan mengembangkan kemampuanbekerja keras dan menghindari perasaan rasa rendah diri. Saat anak-anak beradatingkatan ini area sosialnya bertambah luas dari lingkungan keluarga merambahsampai ke sekolah, sehingga semua aspek memiliki peran, misalnya orang tuaharus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerimakehadirannya, dan lain sebagainya.5. Tahap Identitas dan Kekacauan Identitas (Identity vs Identity Confusion) Tahap identitas dan kekacauan identitas ini merupakan tahap psikososialyang kelima yang berlangsung selama tahun-tahun masa remaja yaitu usia kira-kira 12-20 tahun. Tahap ini adalah tahap yang paling diberi penekanan olehErikson karena tahap ini merupakan tahap peralihan dari masa anak-anak kemasadewasa. Peristiwa-peristiwa yang yang terjadi pada tahap ini sangat menentukanperkembngan kepribadian masa dewasa. Pada tahap ini, anak dihadapkan degan pancarian jati diri. Ia mulaimerasakan suatu perasaan tentang identitasnya sendiri, perasaan bahwa ia adalahindividu unik. Ia mulai menyadari sifat-sifat yang melekat pada dirinya, sepertikesukaan dan ketidaksukaannya, tujuan-tujuan yang diinginkan tercapai dimasamendatang, kekuatan dan hasrat untuk mengontrol kehidupannya sendiri, yang
  14. 14. 14siap memasuki suatu peran yang berati ditengah masyarakat, baik peran yangbersifat menyesuaikan diri ditengah masyarakat, baik peran yang bersifatmenyesuaiakan diri maupun yang bersifat memperbaharui. Akan tetapi, karena peralihan yang sulit dari masa kanak-kanak ke masadewasa di satu pihak dan karena kepekaan terhadap perubahan sosial dan historisdipihak lain, maka selama tahap pembentukan identitas ini seorang remajamungkin merasakan penderitaan paling dalam dibandingkan msa-masa lainakibat kekacauan peranan ataupun kekacauan identitas. Bila krisis ini tidak segeradiatasi maka anak akan mengalami kebingungan peran atau kekecauan identitas,yang dapat menyebabkan anak merasa terisolasi, cemas, hampa, dan bimbang.Selama masa kekacauan identitas ini tingkah laku remaja tidak konsosten dantidak dapat diprediksikan. Pada satu saaat mungkin ia lebih tertutup terhadapsiapapun, karena takut ditolak atau dikecewakan. Namun pada saat lain iamungkin ingin menjadi pengikut ataupendinta dengan tidak memperdulikankonsekuensi-konsekuensi dari komitmennya. Berdasar kondisi demikian, maka menurut Erikson salah satu tugasperkembangan selama masa remaja adalah menyelesaikan krisis identitas,sehingga diharapkan terbentuk suatu identitas diri yang stabil pada akhir msaremaja.6. Tahap Keintiman dan Isolasi (Intimacy vs Isolation) Tahap ini dimuai sekitar umur 20-24 tahun yaitu masa awal dewasa.perkembangan psikososial keenam yang dialami individu selama tahun-tahunawal masa dewasa. Jika pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang
  15. 15. 15kuat dengan kelompok sebayanya, maka tugas perkembangan individu pada masaini adalah membentuk relasi intim dengan orang lain. Menurut erikson, keintimantersebut biasanya menuntut perkembangan seksual yang mengarah padahubungan seksual dengan lawan jenis yang dicintai. Bahaya dari tidak tercapainyakeintiman selama tahap ini adalah isolasi, yakni kecenderungan menghindariberhubungan secara intim dengan orang lain, kecuali dalam ingkup yang amatterbatas. Keintiman dapat diartikan sebagai suatu kemampuan memperhatikanorang lain dan membagi pengelaman dengan mereka. Orang yang tidak dapatmejalin hubungan intim dengan orang lain akan terisolasi, menurut Erikson,pembentukan hubungan intim ini merupakan tantangan utama yang dihadapi olehorang yang memasuki masa dewasa. Pada masa dewasa ini, orang-orang telahsiap dan igin menyatukan identitasnya dengan orang lain. Mereka meenambakanhubungan-hubungan yang intim dan akrab dilandasi dengan persaudaraan, sertasiap mengembangkan daya-daya yang idbutuhkan untuk memenuhi komitmensekalipun mungkin mereka harus berkorban untuk itu. Dalam suatu studiditunjukkan bahwa hubungan intim mempunyai pengaruh yang besar terhadapperkembangan psikologis dan fisik seseorang, Orang-orang yang mempunyaitempat unutk berbagi ide, perasaaan dan masalah, mereka lebih bahagia dan lebihsehat dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki tempat untuk berbagi. Periode diperlihatkan dengan adanya hubungan spesial dengan orang lainyang biasanya disebut dengan istilah pacaran guna memperlihatkan dan mencapaikelekatan dan kedekatan dengan orang lain. Di mana muatan pemahaman dalam
  16. 16. 16kedekatan dengan orang lain mengandung arti adanya kerja sama yang terjalindengan orang lain. Akan tetapi, peristiwa ini akan memiliki pengaruh yangberbeda apabila seseorang dalam tahap ini tidak mempunyai kemampuan untukmenjalin relasi dengan orang lain secara baik sehingga akan tumbuh sifat merasaterisolasi. Erikson menyebut adanya kecenderungan maladaptif yang munculdalam periode ini ialah rasa cuek, di mana seseorang sudah merasa terlalu bebas,sehingga mereka dapat berbuat sesuka hati tanpa memperdulikan dan merasatergantung pada segala bentuk hubungan misalnya dalam hubungan dengansahabat, tetangga, bahkan dengan orang yang kita cintai/kekasih sekalipun.Sementara dari segi lain/malignansi Erikson menyebutnya dengan keterkucilan,yaitu kecenderungan orang untuk mengisolasi/menutup diri sendiri dari cinta,persahabatan dan masyarakat, selain itu dapat juga muncul rasa benci dan dendamsebagai bentuk dari kesendirian dan kesepian yang dirasakan. Oleh sebab itu, kecenderungan antara keintiman dan isoalasi harusberjalan dengan seimbang guna memperoleh nilai yang positif yaitu cinta. Dalamkonteks teorinya, cinta berarti kemampuan untuk mengenyampingkan segalabentuk perbedaan dan keangkuhan lewat rasa saling membutuhkan. Wilayah cintayang dimaksudkan di sini tidak hanya mencakup hubungan dengan kekasihnamun juga hubungan dengan orang tua, tetangga, sahabat, dan lain-lain.7. Tahap Generativitas dan Stagnasi (Generativity vs Stagnation) Tahap ini merupakan tahap psikososial ketujuh yang dialami individuselama pertengahan masa dewasa. Ciri utama tahap generativitas adalah perhatianterhadap apa yang dihasilkan (keturunan, ide-ide, dan sebagainya) serta
  17. 17. 17pembentukan dan penetapan garis-garis pedoman untuk generasi mendatang.Kepedulian seseorang terhadap pengembangan generasi muda inilah yangdiistilah oleh Erikson dengan “generativitas” . Apabila generativitas ini lemahatau tidak diungkapkan, maka kepribadian akan mundur, mengalami pemiskinandan stagnasi. Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempatioleh orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Masa Dewasa(Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity-stagnation. Sesuaidengan namanya masa dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai puncakdari perkembangan segala kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas,kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat.Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidakmungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetappengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal–hal tertentu ia mengalami hambatan. Apabila pada tahap pertama sampai dengan tahap ke enam terdapat tugasuntuk dicapai, demikian pula pada masa ini dan salah satu tugas untuk dicapaiialah dapat mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu(generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi). Generativitas adalahperluasan cinta ke masa depan. Sifat ini adalah kepedulian terhadap generasi yangakan datang. Melalui generativitas akan dapat dicerminkan sikap memperdulikanorang lain. Pemahaman ini sangat jauh berbeda dengan arti kata stagnasi yaitu
  18. 18. 18pemujaan terhadap diri sendiri dan sikap yang dapat digambarkan dalam stagnasiini adalah tidak perduli terhadap siapapun. Maladaptif yang kuat akan menimbulkan sikap terlalu peduli, sehinggamereka tidak punya waktu untuk mengurus diri sendiri. Selain itu malignansiyang ada adalah penolakan, di mana seseorang tidak dapat berperan secara baikdalam lingkungan kehidupannya akibat dari semua itu kehadirannya ditengah-tengah area kehiduannya kurang mendapat sambutan yang baik.8. Tahap Integritas dan Keputusasaan (Integrity vs Despair) Tahap ini merupakan tahap kedelapan yang dialami individu selama akhirmasa dewasa. Integritas paling tepat dilukiskan sebagai suatu keadaan yangdicapai seseorang setelah memelihara benda-benda, orang-orang, produk-produkdan ide-ide serta setelah berhasil melakukan penyesuaian diri dengan berbagaikeberhasilan dan kegagalan dalam kehidupannya. Integritas terjadi pada tahun-tahun terakhir kehidupannya menoleh ke belakang dan mengevaluasi apa yangtelah dilakukan dalam hidupnya selama ini, menerima dan menyesuaikan diridengan keberhasilan, dan kegagalan yang dialaminya, merasa aman dan tentram,serta menikmati hidup sebagai yang berharga dan layak. Lawan dari integritas adalah keputus asaan tertentu dalam menghadapiperubahan-perubahan siklus kehidupan individu, terhadap kondisi-kondisi sosialdan historis, ditambah dengan kefanaan hidup menjelang kematian. Kondisi inidaat memperburuk perasaaan bahwa kehidupan ini tidak berarti, bahwa ajal sudahdekat dan ketakutan akan kematian. Seseorang yang berhasil menangani masalahyang timbuk pada setiap tahap kehidupan sebelumnya, maka dia akan
  19. 19. 19mendapatkan erasaan yang utuh atau integritas. Sebaliknya, seseorang tua yangmeninjau kembali terhadap kehidupannya silam dengan penuh penyesalan,menilai kehidupan sebagai suatu rangkaian hilangnya kesemapatan dankegagalan, maka pada tahu-tahun akhir kehidupan ini merupakan tahun-tahunyang penuh dengan keputusasaan.
  20. 20. 20 BAB III PENUTUPA. Kesimpulan Dari pembahasan diatas, dapat kita ketahui beberapa poin penting dari isi makalah ini, yaitu: 1. Erik H. Erikson adalah salah seorang toritisi ternama dalam bidang perkembangan rentang-hidup, ia juga memiliki kontribusi yang banyak dalam bidang psikologi terutama pada pengembangan anak dan krisis identitas, yaitu tentang perkembangan psikososial. Erik H. Erikson lahir di Franfrurt Jerman, pada tanggal 15 Juni 1902, ayahnya bernama Danis yang telah meninggal dunia sebelum ia lahir. 2. Perkembangan psikosoial adalah tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai mati dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis, perkembangan psikososial juga berhubungan dengan perubahan-perubahan perasaan atau emosi dan kepribadian serta perubahan dalam bagaimana individu berhubungan dengan orang lain. 3. Menurut teori psikososial Erikson, perkembangan manusia dibedakan berdasarkan kualitas ego dalam delapan tahap perkembangan, yaitu: 20
  21. 21. 21No. Tahap Psikososial Usia Kira-Kira1. Kepercayaan Vs. Ketidakpercayaan (Trust Lahir-1 tahun (masa Vs. Mistrust) bayi)2. Otonomi Vs Rasa Malu Dan Ragu-Ragu 1-3 tahun (masa (Autonomy Vs Shame And Doubt) kanak-kanak)3. Inisiatif Vs. Rasa Bersalah (Initiative Vs 4-5 tahun (masa pra- Guilt) sekolah )4. Ketekunan Vs Rasa Rendah Diri (Industry 6-11 tahun (masa Vs Inferiority) sekolah dasar)5. Identitas Dan Kekacauan Identitas 12-20 tahun (masa (Identity Vs Identity Confusion) remaja)6. Keintiman Dan Isolasi (Intimacy Vs 20-24 tahun (masa Isolation) awal dewasa)7. Generativitas Dan Stagnasi (Generativity 25-65 tahun (masa Vs Stagnation) pertengahan dewasa)8. Integritas Dan Keputusasaan (Integrity Vs 65 tahun-mati (masa Despair) akhir dewasa)
  22. 22. 22 DAFTAR PUSTAKADesmita. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2011.Erikson. 1989. Identitas dan Siklus Hidup Manusia, terj. Agus Cremes. Jakarta: GramediaHall, Calvin S. & Lindzey Gardner. Theories of Personality, terj. A. Supratiknya, Yogyakarta: Kanisius, 1993.http://erik-erikson-download.htm/ diakses 20 Nopember 2012 pukul 15.00 WIBhttp://www.haveford.edu/psych/ddavis/p1099/erikson.stages.htm/ diakses 20 Nopember 2012 pukul 15.00 WIBJhon W. Santrock, Life-Span Development, University of Texas at Dallas, 1995Psikologi Perkembangan Anak Didik. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2009.Sarlito W Sarwono, Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh Psikologi, Bulan Bintang, Jakarta, 2002Singgih D. Gunarsa, Dasar dan Teori Perkembangan Anak, Gunung Mulia, Jakarta, 1990.Sunarto & Agung Hartono. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta. 2006.
  23. 23. 23 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmatdan karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul:Perkembangan Psikososial. Penulisan makalah ini merupakan salah satu syarat yang harus diselesaikandalam mengikuti mata kuliah Perkembangan Peserta Didik Semester III di STKIP“Tapanuli Selatan” Padangsidimpuan Tahun Ajaran 2012/2013. Dalam penyelesaian makalah ini penulis banyak mengalami kesulitan danhambatan yang disebabkan keterbatasan, kekurangan dan kelemahan penulis. Namunberkat bantuan dan bimbingan serta kerja sama dari teman-teman sekelompok makamakalah ini dapat terselesaikan. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan daripembaca demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semuapihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini. Padangsidimpuan, Nopember 2012 Penulis, KELOMPOK II i
  24. 24. 24 DAFTAR ISIKATA PENGANTAR ................................................................................... iDAFTAR ISI .................................................................................................. iiBAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1A. Latar Belakang Masalah ............................................................................ 1B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2C. Tujuan ....................................................................................................... 2BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 3A. Biografi Singkat Erik H. Erikson (1902-1994) ......................................... 3B. Teori Perkembangan Psikososial Erik H. Erikson .................................... 4C. Tahap-Tahap Perkembangan Psikososial Erik H. Erikson ....................... 6 1. Tahap Kepercayaan dan Ketidakpercayaan (Trust vs Mistrust) ......... 6 2. Tahap Otonomi dan Perasaan Malu dan Ragu-Ragu (Otonomy vs Shame and Doubt) ............................................................................... 8 3. Tahap Prakarsa dan Rasa Bersalah (Initiate vs Guilt) ......................... 9 4. Tahap Kerajinan dan Rasa Rendah Diri (Industry vs Inferiority) ....... 12 5. Tahap Identitas dan Kekacauan Identitas (Identity vs Identity Confusion) ........................................................................................... 13 6. Tahap Keintiman dan Isolasi (Intimacy vs Isolation) ......................... 14 7. Tahap Generativitas dan Stagnasi (Generativity vs Stagnation) ......... 16 8. Tahap Integritas dan Keputusasaan (Integrity vs Despair) ................. 18BAB III PENUTUP ....................................................................................... 20A. Kesimpulan ............................................................................................... 20DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 22 ii
  25. 25. 25 MAKALAH PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL Diajukan Sebagai Syarat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik Semester III Pada STKIP “Tapanuli Selatan” Padangsidimpuan OLEH KELOMPOK II NAMA : DOSEN PEMBIMBING : TAMIM RITONGA, M.PdSEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) “TAPANULI SELATAN” PADANGSIDIMPUAN 2012

×