Your SlideShare is downloading. ×
Resume etika profesi
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Saving this for later?

Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime - even offline.

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Resume etika profesi

8,524
views

Published on

Semoga bermanfaat

Semoga bermanfaat

Published in: Education, Technology, Business

1 Comment
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
8,524
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
258
Comments
1
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Resume Etika ProfesiOleh: Hisma Yuliet Abu Sopyan (17/3D)DIII Akuntansi PemerintahanSEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA95252239010<br />Pengertian dan Pendekatan Etika<br />Pengertian Etika<br />Etika sebagai suatu studi untuk memahami apa yang merupakan kehidupan yang baik dan menaruh perhatian terhadap penciptaan kondisi bagi orang-orang untuk mencapai kehidupan yang baik tersebut.<br />Etika, Moral, dan Moralitas<br />Istilah etika sering disamakan dengan moral (Latin: mos) atau moralitas (Latin: moralis; Inggris: morality). <br />Kedua istilah tersebut, etika dan moralitas (atau moral), memang mempunyai pengertian yang sangat dekat, dan dalam hubungan ini kita dapat mendefinisikan etika sebagai studi tentang moralitas; studi mengenai norma-norma yang dimiliki atau dianut oleh individu atau kelompok mengenai apa yang benar dan salah (baik dan jahat).<br />Etika dan Nilai<br />Etika biasanya dianggap sebagai istilah yang lebih umum. Etika mengacu pada konsepsi mengenai kesejahteraan manusia dan pengembangan prinsip-prinsip untuk mencapai kesejahteraan tersebut. Di pihak lain, nilai dapat dipahami sebagai hasrat khusus terhadap objek-objek konkret atau keyakinan yang dianggap penting.<br />Amoral dan Immoral<br />Amoral berbeda dengan immoral. Sejalan dengan itu, jika dikatakan perbuatan amoral, maka hal itu dimaksudkan sebagai perbuatan yang tidak ada relevansinya atau tidak ada hubungannya dengan moral atau etika. Sedangkan perbuatan immoral dimaksudkan sebagai perbuatan yang tidak bermoral atau perbuatan yang melanggar norma-norma moral atau etika.<br />Etika dan Etiket<br />Etiket tidak sama dengan etika. Etiket berarti sopan santun. Keduanya memang berkaitan dengan perilaku manusia dan sifat normatif (member norma), namun etiket hanya menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan, sedangkan etika tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu perbuatan; etika memberikan norma terhadap perbuatan itu sendiri.<br />Pendekatan-Pendekatan Etika<br />
    • Etika Deskriptif (Descriptive Ethics)
    • 2. Etika dekriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu, kelompok/golongan atau masyarakat tertentu. Kajian semacam ini umumnya dilakukan oleh ilmu-ilmu sosial seperti anthropologi dan sosiologi.
    • 3. Etika Normatif (Normative Ethics)
    • 4. Dengan pendekatan normatif, etika merupakan suatu kajian mengenai standar moral yang tujuannya adalah untuk sedapat mungkin menentukan standar mana yang benar atau didukung oleh alasan terbaik, dan berusaha mencapai kesimpulan mengenai moral yang benar dan salah serta moral yang baik dan buruk.
    • 5. Etika Analitis (Analytical Ethics)
    • 6. Pendekatan ini berusaha untuk mentransendensikan atau memberikan jarak antara teori-teori dan prinsip-prinsip etis yang dapat menyebabkan terjadinya benturan tindakan dan menilai prinsip-prinsip tersebut berdasarkan nilai-nilai tertinggi ummat manusia dalam rangka mengatasi benturan tersebut.
    Dua Ciri Khas Sudut Pandang Etika<br />Pertama adalah kemauan untuk menemukan dan bertindak berdasarkan alasan atau nalar (reasons). Artinya, dalam membuat pertimbangan atau melakukan penilaian etis kita harus memilki komitmen untuk menggunakan alasan dalam menentukan mengenai apa yang harus dilakukan dan menyusun argumen-argumen moral yang meyakinkan diri kita sendiri dan orang lain.<br />Kedua, sudut pandang moral mengharuskan kita untuk objektif atau tidak memihak (impartial). Dalam hal ini, kita harus memasukkan kepentingan orang lain dan juga kepentingan kita sendiri, dalam pertimbangan kita dan memberikan bobot yang sama pada semua kepentingan dalam memutuskan apa yang harus kita lakukan.<br />Teori-Teori Etika<br />1. Etika TELEOLOGI<br />Suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan tujuannya atau akibat dari perbuatan tersebut.<br />Egoisme Etis<br />Suatu tindakan dianggap baik/buruk jika bertujuan atau berakibat baik bagi dirinya sendiri/pelakunya.<br />Altruisme Etis<br />Suatu tindakan dianggap baik/buruk jika bertujuan atau berakibat baik bagi orang lain kecuali dirinya sendiri/pelakunya .<br />Utilitarianisme<br />Suatu tindakan dianggap baik/buruk berdasarkan penilaian apakah perbuatan tersebut membawa akibat yang baik bagi siapa saja.<br />2. Etika DEONTOLOGI<br />Suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban, sesuai dengan nilai-nilai, norma-norma moral yang berlaku.<br />Deontologi Tindakan<br />Apabila seseorang dihadapkan pada situasi dimana harus mengambil keputusan, seseorang harus memahami apa yang harus dilakukan tanpa mendasarkan pada aturan atau pedoman.<br />Deontologi Kaidah<br />Suatu tindakan benar atau salah karena kesesuaian atau ketidaksesuaiannya dengan satu atau lebih prinsip moral <br />Deontologi Monistik<br />Teori ini mendukung suatu kaidah umum seperti “the golden rule” (kaidah emas) sebagai prinsip moral tertinggi yang menjadi dasar untuk menurunkan kaidah atau prinsip-prinsip moral lainnya.<br />Deontologi Pluralistik<br />Ada sejumlah prinsip moral seperti kejujuran, menepati janji, memperbaiki kesalahan, berkeadilan, menyantuni, berterima kasih, menyakiti, yang merupakan prima facie, kewajiban tersebut harus dilaksanakan kecuali pada situasi tertentu bertentangan dengan kewajiban yang sama atau lebih kuat.<br />3. Etika KEUTAMAAN<br />Benar atau salah, baik atau buruk tindakan tergantung pada karakter pelakunya (agent based ethics).<br />Keunggulan : moralitas dalam suatu masyarakat dibangun melalui sejarah atau cerita.<br />Kelemahan : ketika berbagai kelompok masyarakat memunculkan berbagai keutamaan moral yang berbeda-beda sesuai dengan pendapat masing-masing.<br />Hak dan Keadilan<br />Konsep Hak<br />Pengertian Hak<br />Hak merupakan alat penting yang tujuan utamanya adalah untuk memungkinkan individu memilih secara bebas apakah memenuhi kepentingan atau menjalankan aktivitas tertentu dan melindungi pilihan-pilihan tersebut.<br />Secara umum, hak adalah suatu klaim yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.<br />Jenis-Jenis Hak<br />Hak Legal dan Hak Moral<br />Hak Legal adalah hak yang diakui dan ditegakkan sebagai bagian dari sistem hukum. Sementara itu, Hak Moral adalah hak yang berasal dari suatu sistem norma moral dan tidak bergantung kepada adanya sistem hukum.<br />Hak Khusus dan Hak Umum.<br />Hak Khusus berkaitan dengan individu-individu tertentu. Sumber utama hak khusus adalah kontrak atau perjanjian, karena instrumen ini menciptakan sejumlah hak dan kewajiban bagi individu-individu yang membuat perjanjian. Sementara itu, Hak Umum adalah hak yang melibatkan klaim terhadap setiap orang, atau kemanusiaan secara umum.<br />Hak Negatif dan Hak Positif<br />Umumnya hak negatif berkorelasi dengan kewajiban pada pihak lain untuk tidak bertindak pada kita. Di lain pihak, hak positif adalah hak yang mewajibkan orang lain bertindak untuk kita.<br />Teori Hak Alamiah.<br />Hak alamiah adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang semata-mata sebagai manusia. Hak ini memiliki 2 ciri khas: (1) universal dan (2) tanpa syarat.<br />Teori Teleleologi.<br />Hambatan utama bagi teori teleleologi adalah bahwa hak seringkali berfungsi untuk melindungi kepentingan individu terhadap klaim yang didasarkan pada kesejahteraan umum.<br />Teori Deontologi.<br />Dalam hubungannya dengan teori deontologi, hak dilandasi oleh konsepsi manusia sebagai agen rasional, yakni sebagai makhluk yang berkemampuan untuk bertindak secara otonom.<br />Konsep Keadilan.<br />Keadilan Aristoteles<br />Keadilan Universal adalah keadilan yang berlaku bagi keseluruhan keutamaan. Dalam hubungan ini, orang yang adil adalah orang yang selalu berbuat benar secara moral dan mematuhi hukum.<br />Keadilan Khusus berkaitan dengan keutamaan pada situasi khusus.<br />Menurut Aristoteles ada 3 jenis keadilan khusus: yaitu keadilan distributif, keadilan kompensasi dan keadilan retributif.<br />Keadilan distributif.<br />Keadilan distributif berkaitan dengan distribusi manfaat dan beban. Keadilan distributif umumnya bersifat perbandingan, artinya pertimbangan dalam keadilan distributif bukan jumlah absolut manfaat atau beban yang didistribusikan kepada masing-masing orang, tetapi jumlah bagi masing-masing orang dibandingkan dengan jumlah bagi orang lain.<br />Keadilan kompensasi <br />Keadilan kompensasi menyangkut masalah pemberian imbalan atau penggantian (kompensasi) kepada seseorang karena kekeliruan atau kesalahan yang menimpanya.<br />Keadilan kompensasi bertujuan untuk mengembalikan apa yang hilang dari seseorang akibat kesalahan orang lain. Dalam hubungan ini, seseorang mempunyai kewajiban moral untuk memberikan kompensasi kepada pihak yang menjadi korban apabila terdapat tiga kondisi berikut:<br />
    • Perbuatan yang menyebabkan kerugian adalah perbatan yang salah atau merupakan kelalaian.
    • 7. Perbuatan orang yang bersangkutan merpakan penyebab sesungguhnya kerugian itu.
    • 8. Orang tersebt secara sengaja menyebabkan kerugian.
    Keadilan retributif<br />Keadilan retributif berkaitan dengan pemberian hukuman terhadap pelaku kesalahan. Dalam hubungannya dengan pemberian hukuman, keadaan berikut ini harus dipenuhi agar seseorang dapat diminta bertanggung jawab secara moral atau dapat dikenai hukuman sehingga keadilan kompensasi dicapai:<br />
    • Seseorang tidak dapat dikenai hukuman apabila ia tidak tahu atau tidak memiliki kebebasan untuk memilih apa yang ia perbuat.
    • 9. Orang yang dihukum sungguh-sungguh melakukan kesalahan.
    • 10. Hukuman harus konsisten dan proporsional dengan kesalahannya.
    Teori Egilatarian: Keadilan sebagai Kesetaraan (Equality)<br />Pendukung egalitarianism berpendapat bahwa tidak ada perbedaan yang relevan di antara manusia yang dapat membenarkan perlakuan berbeda (tidak sama). Oleh sebab itu, semua manfaat dan beban harus didistribusikan menurut rumusan bahwa “Setiap orang harus diberi bagian yang sama persis dari manfaat dan beban masyarakat atau kelompok”.<br />Salah satu teori egalitarian mengenai keadilan yang paling berpengaruh adalah teori keadilan yang dikembangkan oleh John Rawls. Oleh John Rawls, keadilan diartikan sebagai kewajaran. Sesuai dengan pandangan ini, keadilan dalam distribusi manfaat dan beban dalam suatu masyarakat terjadi apabila:<br />
    • Setiap orang memiliki kebebasan yang sama (prinsip kebebasan yang sama).
    • 11. Ketidaksetaraan sosial dan ekonomi diatur sedemikian rupa sehingga:
    • 12. Menguntungkan pihak yang paling tak beruntung (prinsip perbedaan), dan
    • 13. Sesuai dengan tugas dan kedudukan yang terbuka bagi semua berdasarkan persamaan kesempatan (prinsip kesetaraan dalam kesempatan).
    Etika Kepedulian<br />Kepedulian dan keberpihakan telah menjadi prinsip moral penting sebagaimana dikemukakan oleh pandangan etika kepedulian atau etika komunitarian yang secara historis dipelopori oleh pendukung gerakan feminism.<br />Kepedulian dan Keberpihakan dalam Etika<br />Etika kepedulian menekankan kepada 2 tuntutan, yaitu:<br />
    • Masing-masing kita ini berada dalam atau jaringan hubungan dan harus menjaga dan harus membina hubungan konkret dan berharga yang kita miliki dengan orang-orang tertentu.
    • 14. Masing-masing kita harus peduli terhadap mereka yang dengannya kita secara konkret berkaitan, khususnya terhadap mereka yang sangat memerlukan dan bergantung kepada kepedulian kita.
    Kepedulian dan Etika Komunitarian<br />Menurut etika kepedulian, gagasan hubungan konkret tidaklah terbatas pada hubungan antara dua individu atau hubungan antara seseorang dengan kelompok tertentu.<br />Panduan berikut berguna dalam hal terdapat konflik antara kepedulian dan prinsip moral, antara lain:<br />
    • Tentukan prinsip mana yang lebih atau paling penting;
    • 15. Pilih/ikuti prinsip yang lebih/paling penting;
    • 16. Terima konsekuensi apa pun dari pilihan tersebut sekalipun yang paling buruk.
    Kritik terhadap Etika Kepedulian<br />Ada dua kritik penting terhadap etika kepedulian.<br />Pertama, etika kepedulian dapat menjurus kepada favoritisme yang tidak adil. Misalnya karena memihak, seseorang lebih mengutamakan orang dari golongannya.<br />Kritik kedua, menyatakan bahwa tuntutan etika kepedulian dapat menyebabkan “pemadaman”. Artinya, dalam mengajak agar peduli, etika kepedulian terlihat menuntut agar sesorang mau mengorbankan diri demi orang lain.<br />Kritik ini ditanggapi oleh pendukung etika kepedulian dengan menyatakan bahwa pandangan yang baik mengenai kepedulian akan menyeimbangkan kepedulian terhadap diri sendiri (orang yang berkepedulian) dengan kepedulian terhadap orang lain.<br />Penalaran Moral dan Standar Moral<br />Pengertian Penalaran Moral<br />Penalaran moral mengacu kepada proses penalaran yang digunakan untuk menilai apakah perilaku, kebijakan, atau institusi tertentu sesuai atau melanggar standar moral.<br />Penalaran moral selalu meliputi 2 unsur pokok:<br />
    • Pemahaman mengenai standar moral apa yang memerintahkan (mengharuskan), melarang, membenarkan atau menyalahkan, dan
    • 17. Bukti, fakta atau informasi yang menunjukkan bahwa orang, perilaku, kebijakan, atau institusi tertentu memiliki unsur-unsur yang diperintahkan, dilarang, dibenarkan, atau disalahkan oleh standar moral tersebut.
    Informasi atau FaktaMengenai perilaku, kebijakan, atau institusi yang menjadi sorotan.Standar MoralProses Pembandingan (Penilaian)Apakah perilaku, kebijakan, atau institusi sesuai dengan standar moral yang relevan?Proses Penalaran Moral<br />Pertimbangan (Keputusan) MoralMengenai benar atau salahnya perilaku, kebijakan, atau institusi. <br /> <br /> <br /> <br /> <br />Contoh: Atasan yang adil adalah atasan yang tidak membebani bawahan yang baik/rajin, atau tidak membiarkan bawahan yang malas.<br />Contoh: Perilaku C tidak sesuai dengan prinsip keadilan, maka C adalah atasan yang bertindak tidak adil.<br />Contoh: Pegawai A rajin dan kinerjanya bagus, tetapi malah sering mendapatkan tambahan beban pekerjaan dari atasannya (B); pegawai C malas, tetapi dibiarkan oleh B.<br />Kriteria Kecukupan Penalaran Moral<br />Pertama dan utama, penalaran moral harus logis.<br />Kedua, bukti atau informasi mengenai fakta yang dikutip untuk mendukung pertimbangan harus akurat, relevan, dan lengkap.<br />Ketiga, standar moral yang digunakan dalam penalaran harus konsisten.<br />Standar Moral<br />Pengertian Standar Moral<br />Standar moral, sering disebut juga dengan moralitas, adalah ukuran, patokan atau standar yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok mengenai apa yang benar dan salah, atau apa yang baik dan buruk.<br />Standar moral mengandung 2 unsur, yaitu:<br />
    • Norma: keyakinan yang kita miliki tentang apa atau tindakan apa yang secara moral benar atau salah, baik atau buruk.
    • 18. Nilai: merupakan pertimbangan baik atau buruk yang kita berikan pada sesuatu.
    Standar moral terdiri dari norma moral khusus dan prinsip moral umum. Norma moral khusus meliputi perintah atau larangan untuk melakukan pebuatan tertentu. Sedangkan prinsip moral memberikan panduan yang sifatnya lebih umum untuk berperilaku dan dapat diaplikasikan pada berbagai situasi keputusan.<br />Karakteristik Standar Moral<br />Pertama, standar moral berkaitan dengan masalah-masalah yang kita anggap dapat secara serius memberikan kemaslahatan dan kemudaratan bagi ummat manusia.<br />Kedua, standar moral tidak dibentuk atau diubah oleh pihak atau badan-badan yang memiliki otoritas tertentu.<br />Ketiga, standar moral haruslah lebih diutamakan dibandingkan nilai-nilai lain termasuk kepentingan pribadi.<br />Keempat, dan umumnya, standar moral didasarkan pada pertimbangan tidak memihak (imparsial atau objektif).<br />Kelima, atau yang terakhir, standar moral berkaitan dengan emosi-emosi khusus dan kosakata khusus.<br />Dengan demikian, sekali lagi, standar moral adalah standar yang berkaitan dengan masalah-masalah yang:<br />
    • Kita pandang memiliki konsekuensi serius;
    • 19. Didasarkan pada alasan baik dan bukan pada otoritas;
    • 20. Tidak mendahulukan kepentingan pribadi;
    • 21. Didasarkan pada pertimbangan yang tidak memihak; dan
    • 22. Penyimpangan terhadapnya diasosiasikan dengan perasaan bersalah dan malu serta kosakata atau istilah khusus.
    Pendekatan Standar Moral dalam Pengambilan Keputusan<br />Standar Moral:<br />
    • Memaksimalkan manfaat sosial.
    • 23. Menghormati hak moral.
    • 24. Membagi manfaat dan beban secara adil.
    • 25. Menaruh kepedulian.
    Proses Perbandingan (Penilaian):<br />Apakah perilaku, kebijakan atau institusi sesuai dengan standar moral yang relevan?<br />Informasi atau Fakta:<br />Mengenai perilaku, kebijakan, atau institusi yang menjadi sorotan.<br />Pertimbangan (Keputusan) Moral:<br />Mengenai benar atau salahnya perilaku, kebijakan, atau institusi. <br />Standar moral untuk menilai suatu perbuatan atau keputusan, yaitu:<br />
    • Prinsip menepati janji atau kesetiaan (fidelity).
    • 26. Prinsip ganti rugi (reparation).
    • 27. Prinsip berterima kasih (gratitude).
    • 28. Prinip keadilan (justice).
    • 29. Prinsip berbuat baik (beneficence).
    • 30. Prinsip mengembangkan diri (self-improvement).
    • 31. Prinsip tidak merugikan (non-malificence atau no harm).
    Pengertian Etika Bisnis<br />Etika bisnis merupakan suatu studi mengenai prinsip-prinsip atau standar-standar moral dan bagaimana standar-standar ini berlaku bagi sistem dan organisasi yang digunakan oleh masyarakat untuk menghasilkan dan mendistribusikan barang dan jasa, dan bagi orang-orang yang bekerja di dalam organisasi tersebut.<br />Dua hal yang perlu dicatat dari pengertian di atas. <br />Pertama, etika bisnis bukanlah suatu jenis lain etika; ia adalah etika dalam konteks bisnis; memfokuskan pada apa yang merupakan perilaku yang benar atau salah di ranah bisnis dan bagaimana prinsip-prinsip moral diterapkan oleh para pelaku bisnis pada situasi-situasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari mereka di lingkungan pekerjaan.<br />Kedua, para pelaku bisnis tidak perlu mengadopsi seperangkat prinsip etika untuk memandu mereka dalam mengambil keputusan-keputusan bisnis dan seperangkat prinsip lain untuk memandu kehidupan pribadi mereka.<br />Dimensi Moral dalam Pengambilan Keputusan Bisnis<br />Terlepas dari rumitnya hubungan etika bisnis dengan ekonomi dan hukum, bisnis adalah organisasi ekonomi yang tidak hanya menjalankan kegiatannya berdasarkan aturan-aturan hukum yang berlaku, tetapi juga norma-norma etika yang berlaku di masyarakat.<br />Bahkan dapat dikatakan, bahwa seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya bisnis yang bertanggung jawab sosial, etika merupakan dimensi sangat penting yang harus selalu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan bisnis.<br />Cakupan Etika Bisnis<br />Isu-isu yang dicakup oleh etika bisnis meliputi topik-topik yang luas. Isu-isu ini dapat dikelompokkan ke dalam 3 dimensi atau jenjang, yaitu: (1) sistemik, (2) organisasi, dan (3) individu.<br />Isu-isu sistemik dalam etika bisnis berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan etika yang timbul mengenai lingkungan dan sistem yang menjadi tempat beroperasinya suatu bisnis atau perusahaan: ekonomi, politik, hukum, dan sistem-sistem sosial lainnya.<br />Isu-isu organisasi dalam etika bisnis berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan etika tentang perusahaan tertentu.<br />Sementara itu, isu-isu individu dalam etika bisnis menyangkut pertanyaan-pertanyaan etika yang timbul dalam kaitannya dengan individu tertentu di dalam suatu perusahaan.<br />Manajemen beretika, yakni bertindak secara etis sebagai seorang manajer dengan melakukan tindakan yang benar (doing right thing).<br />Manajemen etika adalah bertindak secara efektif dalam situasi yang memiliki aspek-aspek etis. Situasi seperti ini terjadi di dalam dan di luar organisasi bisnis.<br />Agar dapat menjalankan baik manajemen beretika maupun manajemen etika, para manajer perlu memiliki beberapa pengetahuan khusus.<br />Pentingnya Etika Bisnis<br />Latar Belakang Peningkatan Perhatian terhadap Etika Bisnis<br />Ada 4 faktor yang memberikan sumbangan terhadap pudarnya konsensus mengenai praktik perusahaan dan manajemen yang patut:<br />
    • Pertumbuhan ukuran organisasi bisnis yang berarti bahwa pasar tidak lagi mengatur atau mengendalikan banyak kegiatan dan keputusan bisnis.
    • 32. Pertumbuhan cakupan ketentuan dan persyaratan hukum atas bisnis dan keterlibatan pemerintah dalam kegiatan-kegiatan perusahaan.
    • 33. Kepedulian masyarakat terhadap eksternalitas yang tidak dapat dikendalikan langsung oleh pasar.
    • 34. Martabat manusia dan nilai kehidupan manusia yang merupakan prioritas baru dalam agenda nilai-nilai sosial.
    Alasan-alasan lain bagi peningkatan perhatian terhadap etika binis meliputi:<br />
    • Penurunan umum kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan bisnis.
    • 35. Perkembangan manajemen sebagai satu profesi.
    • 36. Pertanyaan atau keraguan menyangkut legitimasi peranan manajemen.
    Manfaat Jangka Panjang dan Manfaat Jangka Pendek<br />Kenneth H. Blanchard, seorang pakar manajemen, menegaskan bahwa dalam suatu lingkungan bisnis yang kompetitif, arena bagi segala sesuatu berlangsung, pertimbangan etis haruslah yang didahulukan. Ia mengibaratkan manajemen bisnis yang semata-mata berorientasi laba tak ubahnya seperti “bermain tenis dengan mata yang tertuju pada papan skor, bukan pada bola. “Tegasnya, beretika adalah yang terbaik bagi kepentingan perusahaan dan para manajer dalam jangka panjang dan juga jangka pendek.<br />Perspektif Makro dan Mikro<br />Perspektif makro mempertimbangkan pentingnya etika dalam sistem ekonomi. Sedangkan perspektif mikro melihat pentingnya etika dari sisi perusahaan secara individual.<br />Perspektif Tanggung Jawab Perusahaan.<br />Pergeseran Paradigma dan Tuntutan Etis.<br />Kini masyarakat memiliki makna baru menyangkut hubungan antara manusia dan pekerjaan, dan keterkaitan antara organisasi bisnis dan masyarakat secara keseluruhan.<br />Paradigma baru ini secara jelas menegaskan perlunya tata-kelola perusahaan yang tidak dapat melepaskan diri dari pertimbangan-pertimbangan etis.<br />Manusia dan Pekerjaan<br />Pada dasarnya sebagian besar waktu seseorang dihabiskan untuk bekerja (berada di lingkungan kerja).<br />Keterkaitan<br />Organisasi pada hakikatnya merupakan bagian integral dari komunitas dunia yang saling berhubungan dan merupakan ekosistem.<br />Faktor-Faktor Lingkungan dan Tuntutan Etis<br />Sejumlah perkembangan lingkungan bisnis telah secara objektif menyebabkan bisnis atau manajemen bisnis perlu memfokuskan diri pada isu-isu etika, lebih dari apa yang pernah ada sebelumnya. Perkembangan-perkembangan ini meliputi, antara lain: globalisasi, teknologi, kompetisi, dan persepsi masyarakat terhadap etika sosial.<br />Perusahaan sebagai Agen dan Lingkungan Moral<br />Manajemen mempunyai 2 tantangan pokok.<br />Tantangan pertama adalah bagaimana memperoleh kesediaan bekerja bekerjasama dari para pegawai (konstituen intern) tanpa memanipulasi atau melakukan pemaksaan terhadap mereka.<br />Tantangan kedua adalah bagaimana menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi perusahaan dan kepentingan pegawai.<br />Sejalan dengan tantangan kedua ini, perusahaan mempunyai dua bidang tanggung jawab, yaitu:<br />
    • Menciptakan kehidupan kerja yang bermutu (quality work life), dan
    • 37. Membangun karakter moral para pegawai.
    Tantangan dan tanggung jawab ini dilandasi oleh falsafah bahwa manusia bukanlah alat untuk mencapai tujuan, tetapi tujuan itu sendiri. Untuk mencapai kemakmuran, perusahaan tidak cukup memiliki keunggulan teknis, tetapi harus juga memiliki keunggulan moral para pegawainya.<br />Prinsip-Prinsip Etika dalam Bisnis<br />Prinsip Manfaat, Hak, Keadilan, dan Kepedulian.<br />Sebagai etika terapan, etika bisnis berkenaan dengan penggunaan atau penerapan standar moral yang sudah ada ketika mengambil keputusan-keputusan bisnis, bukan penetapan standar moral (baru atau tersendiri) bagi bisnis.<br />Aktivitas bisnis hanyalah bagian dari aktivitas manusia, sehingga prinsip-prinsip moral yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari dapat diterapkan pada kehidupan bisnis.<br />Prinsip manfaat menuntut agar bisnis mempertimbangkan apakah keputusan-keputusannya akan sejauh mungkin memaksimalkan manfaat sosial dan meminimalkan biaya atau kerugian sosial.<br />Prinsip hak menghendaki agar tindakan atau kebijakan bisnis harus konsisten dengan hak-hak moral dari mereka yang akan dipengaruhi.<br />Prinsip keadilan menuntut agar tidak ada pihak yang dirugikan, dan setiap pihak diperlakukan sesuai dengan standar atau kriteria yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.<br />Prinsip kepedulian menuntut agar tindakan, keputusan, atau kebijakan bisnis menunjukkan kepedulian yang selayaknya terhadap kesejahteraan mereka yang memiliki hubungan erat atau ketergantungan, seperti para pegawai.<br />Keputusan-keputusan bisnis selayaknya mempertimbangkan keempat prinsip tersebut secara terintegrasi.<br />Prinsip-Prinsip Umum Lainnya<br />Ada sejumlah prinsip (berdasarkan teori teleleologi dan deontologi) yang juga dipandang relevan untuk kegiatan dan keputusan bisnis.<br />Otonomi.<br />Otonomi mengacu kepada sikap dan kemampuan untuk memutuskan dan bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.<br />Tanggung jawab<br />Tanggung jawab berarti bahwa seseorang bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakannya dan melaksanakan pengendalian diri.<br />Kejujuran.<br />Kejujuran mensyaratkan niat baik dan tulus untuk menyampaikan kebenaran.<br />Integritas.<br />Integritas berarti bahwa seseorang bertindak sesuai dengan kesadaran akan kebenaran atau hati nurani pada semua situasi.<br />Keandalan<br />Keandalan berarti berusaha secara maksimal dan masuk akal atau layak dalam memenuhi komitmen.<br />Kesetiaan.<br />Kesetiaaan merupakan suatu tanggung jawab untuk menjunjung tinggi dan melindungi kepentingan orang-orang tertentu dan organisasi.<br />Rasa Hormat.<br />Rasa Hormat meliputi gagasan-gagasan seperti keadaban, sopan santun, keluhuran, toleransi, dan kesediaan menerima.<br />Kewarganegaraan<br />Kewarganegaraan mencakup kepatuhan pada hukum dan partisipasi sesuai dengan kemampuan agar kehidupan bermasyarakat berjalan.<br />Berdasarkan etika kewajiban W.D. Ross, ada 7 prinsip etika yang dapat diberlakukan dalam kehidupan sosial termasuk kehidupan bisnis. <br />Ketujuh prinsip tersebut adalah kewajiban untuk: (1) menepati janji, (2) mengganti kerugian, (3) berterima kasih, (4) keadilan, (5) berbuat baik, (6) pengembangan diri, (7) tidak merugikan.<br />Etos Bisnis<br />Etos pada dasarnya berarti sikap dasar seseorang atau sekelompok orang dalam melaksanakan kegiatan tertentu.<br />Sejalan dengan itu, etos bisnis mengacu pada suasana atau ciri khas yang menandai bisnis; etos bisnis mengacu kepada suatu kebiasaan atau budaya etis menyangkut kegiatan bisnis yang dianut dalam suatu perusahaan dari waktu ke waktu.<br />Etos bisnis sebagai budaya perusahaan memiliki beberapa fungsi penting:<br />
    • Memberikan makna identitas diantara para anggota organisasi.
    • 38. Mendorong suatu komitmen para anggota terhadap sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri (organisasi).
    • 39. Memberikan kestabilan bagi sistem sosial organisasi, dan
    • 40. Menyediakan alasan atau pembenaran dan arahan untuk berperilaku.
    Etos bisnis dengan demikian sangat diperlukan agar prinsip-prinsip etika bisnis dapat dilaksanakan. Sebagai budaya perusahaan, etos bisnis mengkondisikan setiap manajer atau pelaku bisnis secara konsisten memasukkan etika adalam proses pengambilan keputusannya.<br /> <br /> <br />