1
Daftar isiSekapur sirih tentang Pesantren1.Melecutkan pesantren lepas dari feudal2. Memaknai Islam kembangkan Pesantren3. ...
Sekapur Sirih Tentang Pesantren        Secara terminologis dapat dijelaskan bahwa pendidikan pesantren, dilihat darisegi b...
Dari keterangan sederhana ini saja kita dapat menarik garis linear tentang apaperanan pesantren dan dimana letak pendidika...
Melecut Pesantren Lepas dari FeodalOleh M. Masud Adnan *Sumber : http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=267743...
Ada yang ingin jadi pengusaha, ulama, jaksa, hakim, wartawan, politisi, menteri,presiden, dan sebagainya. Karena itu, mere...
ditempati. "Saya sudah tak berhak tinggal di sini," katanya. Keruan saja para alumniyang diundang untuk bahas suksesi itu ...
Memaknai Islam Kembangkan Pesantren                               Oleh : Lily Zakiyah MunirPesantren merupakan sebuah inst...
aktivitas pendidikan sejak sebelum subuh sampai kembali tidur. Jadi, dunia pesantrensesungguhnya membuat miniatur dunia id...
Latin, hingga kemudian menjadi hakim agama pertama di Indonesia ini,? Lily, sepertidikutip Pembaruan, seraya tersenyum.Lil...
Menciptakan Sekularisasi Pendidikan di PesantrenMUHIBIN                                                                   ...
Secara kualitatif, metode sorogan dan bandongan ini memang memiliki akuntabilitasyang tidak bisa dipandang remeh jika diba...
kembali buah pikiran Wahid Hasyim yang telah banyak kita lupakan. Yang jelas, ilmuAllah bukan hanya ilmu agama dan ilmu Al...
munculnya agent of social change. Dan negara sangat berkepentingan atas tumbuhnyagenerasi yang mumpuni dan berkualitas. Ol...
Pesantren masa depanEksistensi pesantren di tengah pergulatan modernitas saat ini tetap signifikan.Pesantren yang secara h...
Tantangan dan Tanggung Jawab Sosial Masa Depan Pesantren                Oleh : Muhibin AM, Peneliti pada FKiY YogyakartaKe...
untuk pengembangan sklill para santri, agar pada saat santri menyelesaikanpendidikan pesantren tidak dalam kebingungan men...
PESANTREN DAN KYAI                             KH. A. Mustofa Bisri:Pesantren kembali menjadi perhatian dan sorotan ketika...
Pesantren yang kyainya cenderung kepada politik, misalnya, akan berbeda denganpesantren yang kyainya tidak suka politik. K...
Allah sebelum naik mimbar, ”Ya Allah, engkau tahu hamba datang kemari karenadiminta saudara-saudara hamba untuk menyampaik...
kyai pengasuh pesantren, lebih serius memikirkan dan memperhatikan atbaa’-nyapara santri dan umatnya                      ...
Amiruddin. Sementara Akper (Akademi Perawat) adalah klub sepak bola yanganggotanya para karyawan Akper Buntet Pesantren. D...
PESANTRENPesantren telah lama menjadi lembaga yang memiliki kontribusi penting dalam ikutserta mencerdaskan bangsa. Banyak...
persoalan tersebut yang jelas signifikansi pesantren sebagai sebuah lembagapendidikan Islam tidak dapat diabaikan dari keh...
semakin terstruktur dan kurikulum pesantren menjadi lebih tetap. Misalnya, selainkurikulum agama, sekarang ini kebanyakan ...
pula yang masih kekurangan ruangan pondok (asrama) sebagai tempat menetapnyasantri. Selama ini, kehidupan pondok pesantren...
untuk mengikuti persamaan. Jika hal ini terjadi, akan lahirlah ustad-ustad, ulama danfuqoha yang mumpuni.Sekarang ini, ada...
Dari ketiga faktor di atas, sistem pendidikan boarding school seolah menemukanpasarnya. Dari segi sosial, sistem boarding ...
bengkel-bengkel kerja keterampilan. Kegiatannya terangkum dalam "Tri DharmaPondok pesantren" yaitu: 1) Keimanan dan ketaqw...
Secara khusus, ketentuan tentang pendidikan keagamaan ini dijelaskan dalam Pasal30 Undang-Undang Sisdiknas yang menegaskan...
daerah dan/atau sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (4) Lembaga pendidik...
Menjadikan Pesantren sebagai Media Pemberdayaan         untuk Perempuan Korban KekerasanWawancara denganDra. Hj. Enung Nur...
Selain faktor yang pertama tadi, faktor-faktor apa lagi yang menyebabkanperempuan rentan mengalami kekerasan ?Yang kedua, ...
biologis dan melengkapi hubungan sosial antara suami dengan isteri, juga bernilaiibadah. Bentuk-bentuk kekerasan lain yang...
Untuk kegiatan pendampingan dan penanganan bagi perempuan korban kekerasan,PUAN Amal Hayati memiliki divisi khusus yakni P...
penting yang harus dilakukan pesantren untuk mengeliminasi kekerasan terhadapperempuan, yaitu upaya preventif dan kuratif....
Pesantren dan tantangan masa depan
Pesantren dan tantangan masa depan
Pesantren dan tantangan masa depan
Pesantren dan tantangan masa depan
Pesantren dan tantangan masa depan
Pesantren dan tantangan masa depan
Pesantren dan tantangan masa depan
Pesantren dan tantangan masa depan
Pesantren dan tantangan masa depan
Pesantren dan tantangan masa depan
Pesantren dan tantangan masa depan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Pesantren dan tantangan masa depan

10,184

Published on

Published in: Education
1 Comment
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
10,184
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
301
Comments
1
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pesantren dan tantangan masa depan

  1. 1. 1
  2. 2. Daftar isiSekapur sirih tentang Pesantren1.Melecutkan pesantren lepas dari feudal2. Memaknai Islam kembangkan Pesantren3. Menciptakan sekulerisasi pendidikan di Pesantren4. masa depan Pesantren5. Tantangan dan tanggung jawab sosial masa depan Pesantren6. Pesantren dan Kyai7. Sepak bola di Pesantren8. Pesantren9. Menjadikan pesantren sebagai media pemberdayaan10. untuk perempuan korban kekerasan11. Peran pesantren dalam pemberdayaan umat12. Mengembalikan Pesantren ke ranah cultural13. Pesantren sebagai lembaga sosial 2
  3. 3. Sekapur Sirih Tentang Pesantren Secara terminologis dapat dijelaskan bahwa pendidikan pesantren, dilihat darisegi bentuk dan sistemnya berasal dari India. Sebelum proses penyebaran Islam diIndonesia, sistem tersebut telah digunakan secara umum untuk pendidikan danpengajaran agama Hindu. Setelah Islam masuk dan tersebar di indonesia,sistem tersebut kemudiandiambil oleh Islam. Istilah pesantren sendiri seperti halnya istilah mengaji, langgar,atau surau di Minangkabau, Rangkang di Aceh bukan berasal dari istilah Arab,melainkan India (Karel A Steenbrink, 1986) Namun bila kita menengok waktu sebelum tahun 60-an, pusat-pusatpendidikan tradisioanal di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan pondok,barangkali istilah pondok berasal dari kata Arab funduq, yang berarti pesangrahanatau penginapan bagi para musafir. Kata pesantren sendiri berasal dari akar kata santri dengan awalan "Pe" danakhiran "an" berarti tempat tinggal para santri. Profesor (Zamakhsari;1983)berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti Guru mengajiPotret Pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisionaldimana para siswanya tinggal bersama dan belajar ilmu-ilmu keagamaan di bawahbimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kyai. Asrama untuk para siswatersebut berada dalam komplek pesantren dimana kyai bertempat tinggal. Disampingitu juga ada fasilitas ibadah berupa masjid. Biasanya komplek pesantren dikelilingidengan tembok untuk dapat mengawasi arus keluar masuknya santri. Dari aspekkepemimpinan pesantren kyai memegang kekuasaan yang hampir-hampir mutlak. Pondok, Masjid, santri, kyai dan pengajaran kitab-kitab klasik merupakan limaelemen dasar yang dapat menjelaskan secara sederhana apa sesungguhnya hakikatpesantren. Mengapa pesantren dapat survive sampai hari ini Ketika lembaga-lembagapendidikan Islam tradisional peserti pesantren di Dunia Islam tidak dapat bertahanmenghadapi perubahan atau modernitas sistem pendidikannya. Secara implisit pertanyaan tadi mengisyaratkan bahwa ada tradisi lama yanghidup ditengah-tengah masyarakat Islam dalam segi-segi tertentu masih tetap relevan.Disamping itu, bertahannya pesantren karena ia tidak hanya identik dengan makna ke-Islaman tetapi karakter eksistensialnya mengandung arti keaslian Indonesia(indigenous). Sebagai indigenous, pesantren muncul dan berkembang daripengalaman sosiologis masyarakat lingkungannya. Ada satu hipotesa bahwa jika kitatidak mengalami penjajahan, mungkin pertumbuhan sistem pendidikannya akanmengikuti jalur-jalur yang ditempuh pesantren-pesantren. Sehingga perguruan-perguruan tinggi yang ada sekarang ini tidak akan berupa ITB, UI, IPB, UGM,UNAIR ataupun lainnya tetapi mungkin namanya Universitas Tremas, Krapyak,Tebuireng, Bangkalan, Lasem, dan seterusnya. Kemungkinan ini bisa kita tariksetelah melihat dan membandingkan dengan sistem pendidikan di Barat sendiri.Dimana hampir semua Universitas terkenal cikal bakalnya adalah perguruan-perguruan yang semula berorientasi keagamaan. Mungkin juga bila kita tidak pernahdijajah, kebanyakan pesantren tidak akan berada jauh terpencil di pedesaaan sepertikita lihat sekarang. 3
  4. 4. Dari keterangan sederhana ini saja kita dapat menarik garis linear tentang apaperanan pesantren dan dimana letak pendidikan pesantren dalam masyarakatIndonesia merdeka. Untuk bangsa yang lebih berkepribadian. Gambaran konkretnyadapat dianalogikan sebua pesantren Indonesia (ambil sebagai misal Tebuireng)sebagai sebuah kelanjutan pesantren di Amerika Serikat (ambil sebagai missal"pesantren" yang didirikan oleh pendeta Harvard di dekat Boston): Tebuirengmenghasilkan apa yang dapat dilihat oleh bangsa Indonesia sekarang ini. Danpesantrennya Pendeta Harvard telah tumbuh menjadi universitas yang palingprestigious di Amerika modern. (Nurcholish Majid, 1997). Kini di tengah-tengah sistem Pendidikan Nasional yang selalu berubah-rubahdalam jeda waktu yang tidak lama, apresiasi masyarakat Islam Indonesia terhadappesantren makin hari makin besar, pesantren yang asalnya sebagai Rural BasedInstitusion kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan urban. Lihatlahkemunculan sejumlah pesantren kota seperti di Jakarta, Bandung, Medan,Pekanbaru,Jogjakarta, Malang, Semarang, Ujung Pandang, atau sub-urban Jakarta seperti Parung,Cilangkap. Atau misalnya pesantren yang muncul pada tahun 1980-an sepertiPesantren Darun Najah, Cianjur, dan Ashidiqiyah di Jakarta; Pesantren Nurul hakim,al-Kautsar, Darul Arafah di Medan,mustafawiyyah Purba Baru di Mandiiling-Nataldan ada disekitarnya sekarang,Darul Hadits Hutabaringin,Darul Ikhlas di Dalan-lidang,dan Pesantren Muara Mais, Darul Hikmah di Mumbulsari Jember dll Lengkong, 1 Desember 2008 4
  5. 5. Melecut Pesantren Lepas dari FeodalOleh M. Masud Adnan *Sumber : http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=267743"Silakan bicara (kritik) apa saja di sini, asal jangan membakar pondok,"Kata KH M. Yusuf Hasyim (Pak Ud) kepada ribuan santri Tebuireng. Pidato itudisampaikan Pak Ud pada 1980-an, ketika Orde Baru di bawah Soeharto masih gagahperkasa. Saat itu, jangankan mengkritik pemerintah, beda pendapat saja ditudingsubversif.Uniknya, Pak Ud malah ngajangi santri untuk berani bicara, termasuk mengkritik PakUd sendiri selaku pengasuh pesantren. Konsekuensinya, pidato-pidato santri sangatkritis, baik kepada pemerintah maupun Pak Ud. Tapi, Pak Ud tenang-tenang saja.Bahkan, kadang Pak Ud mengintip santri yang pidato vokal dari balik jendela ndalem.Besoknya, si santri dipanggil, diberi buku atau informasi aktual, terutama terkait isunasional.KontroversialDalam perspektif budaya pesantren, pidato Pak Ud itu memang kontroversial. Jamakdiketahui bahwa hubungan santri-kiai cenderung bersifat patron-klien. Tapi, Pak Udjustru bersikap sebaliknya. Dia berusaha mengajari santri berpikir kritis, demokratisdan -ini yang penting- tidak disandra budaya feodal.Hasilnya memang luar biasa. Selain memiliki keterampilan organisasi dan memimpin,rata-rata alumni Pesantren Tebuireng berwawasan luas dan rasional, tanpa haruskehilangan jati diri selaku santri dengan basis budaya tradisional. Bahkan, beberapasantri yang kemudian belajar di Amerika Serikat, Mesir, Saudi Arabia, dan negara-negara lain tetap committed terhadap basis budaya tradisional pesantren.Artinya, di tengah era globalisasi, mereka mampu merespons tantangan perubahansesuai dengan kapasitas, bidang, dan profesi masing-masing, namun tetap berdirikukuh dalam bingkai budaya pesantren.Sikap Pak Ud itu, tampaknya, sesuai dengan pandangan KH Abdul Wahid Hasyim,ayah Gus Dur, yang menjadi pengasuh kedua Pesantren Tebuireng, pascaHadratussyaikh Hasyim Asyari selaku pendiri. Menurut Kiai Wahid, tak semua santriyang mondok di Tebuireing berorientasi jadi kiai. Memang mereka semua inginmempelajari agama. Namun, cita-cita mereka belum tentu ingin jadi kiai. Artinya,cita-cita mereka beragam. 5
  6. 6. Ada yang ingin jadi pengusaha, ulama, jaksa, hakim, wartawan, politisi, menteri,presiden, dan sebagainya. Karena itu, mereka tak hanya dididik agama, tapi perlubekal ilmu pengetahuan yang kuat dan luas. Nah, untuk membuka cakrawalapemikiran santri itu, mereka perlu dirangsang dengan iklim dialogis, rasional, kritis,dan demokratis, tidak menabukan kritik dan beda pendapat, termasuk dengan kiainya.Karena itu, ketika kiai-kiai di lingkungan pesantren masih pro-kontra soal kehadiranpelajaran umum, pada 1975 Pak Ud sudah berani mendirikan SMP dan SMA diTebuireng dengan siswa putra-putri tanpa sekat. Kritik pun meledak dengan dahsyat,termasuk dari kiai-kiai di lingkungan Tebuireng. Bertahun-tahun Pak Ud mendapatkritik keras. Namun, Pak Ud yang dikenal teguh pendirian pantang menyerah. KiniSMP-SMA Wahid Hasyim itu menjadi salah satu sekolah terbaik di Jombang.Bahkan, pada 1967 Pak Ud mendirikan Universitas Hasyim Asyari yang terbuka bagimahasiswa putra-putri. Padahal, saat itu belajar satu ruangan bagi mahasiswa-mahasiswi di lingkungan pesantren sangat tabu. Tapi, Pak Ud punya alasan kuat.Menurut dia, kalau kita konsisten dengan pemisahan laki-perempuan, jangan hanya diruangan belajar. Tapi, di bus-bus dan transportasi lain, penumpang laki-perempuanjuga harus dipisah. Lalu berapa kita harus menyediakan bus untuk kepentingan itu.Belum lagi jika ditinjau dari segi efektivitas dan dananya. Yang penting, bagaimanamenata hati dan moralitas mahasiswa-mahasiswi agar tak punya niat melanggarsyariat agama. Sebab, begitu keluar dari pesantren, mereka juga dihadapkan padarealitas masyarakat yang tanpa sekat pemisah antara laki-laki dan perempuan.Keluar dari NdalemKarakter kekiaian Pak Ud sangat kuat. Maklum, Pak Ud adalah putra ulama besar,yaitu Hadratussyaikh Hasyim Asyari, pendiri NU yang juga dikenal sebagaipahlawan nasional. Namun, karakter kekiaian Pak Ud tak pernah ditunjukkan dalamsimbol-simbol artifisial. Sebaliknya, dimanifestasikan dalam integritas moral danperilaku sehari-hari.Selain dikenal sebagai kiai bersih, secara moral Pak Ud juga sangat bersahaya.Buktinya, meski Pak Ud dikenal sebagai tokoh nasional dan pernah menjadi anggotaDPR, ndalem yang ditempati di Tebuireng jauh dari kesan mewah. Bahkan, cat dankondisi rumahnya sudah kusam.Yang mengenaskan, tempat tidur Pak Ud jauh dari layak. Berpuluh-puluh tahun PakUd tidur di kamar pengap dengan tempat tidur seadanya.Sedemikian tak layak sampai beberapa santri dan alumni terheran-heran. "Kamar PakUd masih lebih baik kamar santri," kata seorang alumni.Pada 2006 Pak Ud menyerahkan kepemimpinan Tebuireng kepada KH SalahuddinWahid (Gus Solah). Yang menarik, Pak Ud langsung keluar dari ndalem yang selamaini 6
  7. 7. ditempati. "Saya sudah tak berhak tinggal di sini," katanya. Keruan saja para alumniyang diundang untuk bahas suksesi itu tertegun. Saya coba menyela, "Kiai, ini kanbukan suksesi pejabat pemerintah sehingga kiai harus keluar dari ndalem."Tapi, sikap Pak Ud bulat, tak mau menempati rumah yang bukan haknya. Sejak itu,Pak Ud tinggal di kediaman pribadinya.Kini Pak Ud telah menghadap sang khalik. Semoga Allah SWT membalas semuaamal perjuangannya yang tanpa kenal lelah membela hak-hak rakyat dan agama. Kitaberharap semoga para santri, alumni, bahkan masyarakat luas bisa meneladani danmeneruskan perjuangannya. Amin.* M Masud Adnan, alumnus Pesantren Tebuireng, kini direktur utama HarianBangsa, Surabaya 7
  8. 8. Memaknai Islam Kembangkan Pesantren Oleh : Lily Zakiyah MunirPesantren merupakan sebuah institusi pendidikan keagamaan dan transformasi sosialyang dikenal sangat kukuh menjaga nilai-nilai keragaman, perbedaan, serta sangatakomodatif terhadap budaya lokal. Beberapa pesantren bisa saja tidak mampubertahan sebagai sub-kultur tersendiri seperti tesis yang pernah dikemukakan Gus Durdulunya.Sebatas pemahaman kita selama ini, ada tiga elemen yang membuat pesantren mampumenjadi sub-kultur tersendiri. Pertama, pola kepemimpinan yang mandiri dan tidakterkooptimasi kepentingan-kepentingan berjangka pendek. Elemen ini sungguh sangatpenting bagi pesantren. Artinya, atasan seorang kiai itu hanyalah Allah. Tidak adakelompok politik, aparatur negara, birokrat, atau manusia lain, yang bisamengintervensi terlalu jauh di dunia pesantren. Pola kepemimpinan seperti itumembuat pesantren menjadi unik.Kedua, kitab-kitab rujukan yang digunakan di banyak pesantren, umumnya terdiri dariwarisan peradaban Islam dari berbagai abad. Kalau itu dikaji betul, pengetahuan yangakan diserap para santri pesantren akan sangat luas sekali. Dari situ mereka tidakhanya belajar bagian fikih yang rigid, sempit, kaku, hitam-putih, dan halal-haram saja,tapi juga ilmu-ilmu ushul fikih, kalam, tasawuf, dan lain-lain. Semua itu menunjukkankearifan dan keindahan Islam. Mestinya itu akan membentuk wawasan keislamanyang padu dan utuh bagi santri, karena mereka mendalami agama tidak sekadarpilihan hitam-putih yang nampak di permukaan.Sementara elemen ketiga sub-kultur pesantren adalah sistem nilai atau values systemyang diterapkan di pesantren itu sendiri. Sistem nilai itulah yang nantinya akandibawa dalam proses kehidupan mereka di masyarakat. Di sini kita mengenal nilai-nilai dasar pesantren, seperti al-ush?amsah (lima prinsip dasar) yang diadopsi daripaham Ahli Sunnah.?Demikian Lily Zakiyah Munir (57), Direktur CePDeS (Center for Pesantren andDemocracy Studies), aktivis Muslimat Nahdlatul Ulama, memberikan pemahamanakan citra tentang pesantren ? lingkungan yang sejak kecil diakrabinya di Jombang. Iaadalah putri almaghfurlah KH Machfudz Anwar dari Jombang. Kini, meskipun lebihbanyak tinggal di Jakarta, namun juga memberikan sedikit waktunya untukpengembangan pesantren yang diwarisinya di Jombang.Lebih jauh ia memberikan penjelasan tentang al-ush?-khamsah atau ?pancasila?-nyapesantren itu. Menurutnya, yang pertama prinsip tawasuth yang berarti tidak memihakatau moderasi. Kedua tawasun, atau menjaga keseimbangan dan harmoni. Ketiga,tasammuh, atau toleransi. Keempat adl atau sikap adil; dan kelima tasyⷵr atauprinsip musyawarah. Nah, ?pancasila? pesantren itu tidak hanya sekadar hiasan kata,tapi terinternalisasi dan diprektikkan dalam dunia pesantren. Sebab, komunitaspesantren itu hidup seperti dalam akademi militer selama 24 jam, dan menjalankan 8
  9. 9. aktivitas pendidikan sejak sebelum subuh sampai kembali tidur. Jadi, dunia pesantrensesungguhnya membuat miniatur dunia ideal mereka sendiri.Pesantren sebagai institusi, dalam pandangannya, tentunya juga termasuk dalamlingkup dunia global yang tidak bisa lepas dari pengaruh luar dirinya. Derasnya arusinformasi lewat media, hubungan antar-negara, antar-institusi, antar-organisasi,seperti jalur sumbangan dan bantuan dengan berbagai motifnya, tentu ikutmempengaruhi dunia pesantren. Pesantren sedikit banyaknya tidak bisa lepas daripengaruh global itu. Pesantren yang tidak mampu mempertahankan „pancasila‟-nyatadi, bisa jadi akan terjebak dalam permainan politik global. Dengan begitu, merekatanpa sadar dapat saja berada dalam jaringan yang punya egenda tertentu, tidak lagiseperti yang dimaui pesantren itu secara konvensionalArtinya, kalaupun sebuah pesantren mengalami disorientasi, itu bisa disebabkan olehdua faktor. Faktor internal berupa merosotnya etos elemen-elemen yang telah kitasebutkan tadi, sementara faktor eksternal seperti pengaruh jaringan global. Keduanyasaling berkaitan.”Lemahnya peran kiai atau kepemimpinan pesantren yang selama ini dikenalindependen, mandiri, dan tidak terkooptasi oleh kepentingan politik, ekonomi,ataupun ideologi di luar pesantren, bisa berakibar buruk bagi sebuah pesantren. Dulu,pesantren benar-benar bagaikan sebuah kerajaan kecil. Tapi sekarang, banyakkepemimpinan pesantren sudah tidak jadi panutan lagi,” kata Lily Zakiyah MunirKedua, kurikulum pesantren juga sebuah problem yang harus diselesaikan secarakomprehensif. Tapi yang kita harapkan sebenarnya bukan hanya perbaikankurikulum, tapi koreksi dan kritik ke dalam pesantren dan masyarakat.Dalam soal aktivitas, ia memang tak bisa dilepas dari pelbagai kegiatan. Bepergian keluar negeri, adalah kesibukan Lily Zakiyah, yang lain. Ia yang menekuni hak-hakperempuan, paling sering, sebagai pembicara dalam suatu forum. Ia tercatat pernahmengajar tentang perempuan dan hukum Islam di University of South Carolina,Amerika Serikat. Selain itu, ia pernah hidup enam bulan di Afghanistan, ketikadiminta menjadi anggota International Commissioner pada Joint ElectoralManagement Body. ?Kegiatan yang sama pernah saya jalani di Nepal pada saattransisi dari pemerintahan monarki ke republik,? Lily menjelaskan.Putri almaghfurlah KH Machfudz Anwar dari Jombang, ini menyinggung tentangperan perempuan dalam Islam. Bidang itu bukan hal asing bagi Lily. Anak kelimadari sebelas bersaudara putra-putri ini sejak kecil bisa merasakan kemajuan pemikiransang ayah. ?Bayangkan pada tahun 1960-an, beliau mengizinkan salah satu kakakperempuan saya meneruskan pendidikan ke kedokteran. Beliau jalan terus, walaupunmenerima banyak kritik,? ia mengenang sang ayah yang fisioner.Pun bukan hal aneh, karena Kiai Machfudz sebelumnya telah membuka pesantrenputri di Seblak, di Jombang selatan. Hingga kini, pesantren itu masih berjalan baik,dikelola oleh kakak Lily yang lain.Sang ayah pula yang membimbing sang ibu untuk menjadi perempuan yangberpikiran maju. ?Beliau sendiri yang mengajari ibu, mulai dari membaca huruf Arab, 9
  10. 10. Latin, hingga kemudian menjadi hakim agama pertama di Indonesia ini,? Lily, sepertidikutip Pembaruan, seraya tersenyum.Lily sendiri, walau mengecap pendidikan dasar hingga lanjutan atas di sekolah agama,didorong sang ayah untuk mengecap pendidikan tinggi di IKIP (kini universitasnegeri), jurusan bahasa Inggris. Pendidikan itu kemudian mengantarnya mengecappendidikan lanjutan di Belanda, memperdalam medical anthtropologist di Universityof Amsterdam.Lily tak henti memperdalam ilmu. Ia kemudian belajar manajemen di NorthernIllinois University di Dekalb. Wajahnya berbinar ketika menceritakan mendapatkankesempatan menjadi research fellow dalam Islam and Human Rights di FakultasHukum Emory University, di Atlanta, Amerika Serikat. Ia sangat terkesan kepadapembimbingnya, Prof Abdullahi A An-Na‟im.Aktif di Muslimat NU, Lily pernah aktif di lembaga perempuan Partai KebangkitanBangsa. Namun, ia kemudian memilih mundur. Ia berhak memaknai dirinya. (riadingasiran) 10
  11. 11. Menciptakan Sekularisasi Pendidikan di PesantrenMUHIBIN A.M.Peneliti pada FKiY, santri di Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy?ari, Yogyakartaeberadaan pesantren sebagai lembaga keagamaan kultural yang ingin bisa menjawabtantangan zaman, saat ini masih belum jelas kedudukannya. Peranannya dalam duniaglobal masih belum terlihat. Maka, tidak sedikit kemudian banyak orang yang merasasangat pesimistis terhadap peran dan fungsi pesantren saat ini. Apalagi saat melihatkondisi dunia yang saat ini makin menantang siapa pun untuk berlomba-lombamembangun puncak peradaban. Sementara, pesantren tetap pada tempatnya tanpa adapembaharuan yang cukup berarti.Pendidikan pondok pesantren yang saat ini telah banyak berdiri dengan megah diberbagai tempat, baik di desa atau di perkotaan, secara keseluruhan belum mampumembekali santrinya memiliki keterampilan yang dapat ditawarkan kepadamasyarakat luas, dan tentunya selain dari bidang fikih yang sudah mentradisi.Sedangkan dunia kini makin maju dan membutuhkan kemampuan keahlian yangkompetitif dalam menghadapinya. Maka, tak dapat dielakkan jika pesantren selamaini tertuduh sebagai pencetak generasi pengangguran dan pencetak generasi miskin.Meski saat ini pesantren memiliki pendidikan formal yang berada di bawah naunganDepartemen Agama (Depag), tampaknya hal itu belum mampu menjawab tantanganzaman. Pasalnya, kurikulum yang ditawarkan Depag lagi-lagi banyak memilikikesamaan dengan kurikulum pendidikan pesantren yang diberikan secara kultural.Sehingga keinginan pesantren untuk ikut tampil dalam membekali anak-anak mudayang berbakat masih dalam taraf yang serba tanggung dan meragukan.Jika diteliti lebih jauh, dunia pesantren sangat erat kaitannya dengan Nahdlatul Ulama(NU), dan NU sarat dengan golongan tradisionalis. Kaum tradisionalis, dalampandangan umum, sangat erat kaitannya dengan masyarakat pedesaan yangkebanyakan buta akan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kenyataan itu sebenarnyabisa menjadi pertimbangan kalangan pesantren untuk membekali santri-santrinyadengan berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) jika ingin ikut sertamencerdaskan masyarakat Indonesia dari buta iptek, terutama masyarakat pedesaan.Sehingga kepulangan santri ke tengah-tengah masyarakatnya akan dapat memberikanmanfaat yang besar terhadap perbaikan ekonomi keluarga dan masyarakatnya denganbekal keahliannya.Melihat kondisi yang demikian memprihatinkan itu, maka sudah saatnya pesantrensebagai lembaga pendidikan yang ingin ikut serta mencerdaskan bangsa ini, mau tidakmau dituntut untuk melakukan perubahan yang sangat signifikan. Jika perlu dilakukandengan radikal. Karena bagaimana pun, kurikulum Depag, sama saja dengankurikulum pendidikan pesantren yang diajarkan secara kultural melalui metodebandongan dan sorogan. Sehingga tidak lagi memberikan kesempatan bagi santri-santrinya untuk mempelajari ilmu-ilmu lainnya. 11
  12. 12. Secara kualitatif, metode sorogan dan bandongan ini memang memiliki akuntabilitasyang tidak bisa dipandang remeh jika dibandingkan dengan metode pendidikan yangdiajarkan berdasarkan kurikulum Depag. Apalagi ketika dua hal itu dihadapkankepada publik.Maka, cukuplah kiranya pendidikan formal pesantren hanya mengajarkan kurikulumpendidikan yang bersifat umum dan pengembangan keterampilan. Sementara,pendidikan agama hanya cukup diberikan kiai dalam bentuk sorogan dan bandongan,sebagai pendalaman terhadap pengetahuan agama para santrinya.Upaya ini akan lebih disebut sebagai sekularisasi pendidikan pesantren. Sekulerisasipendidikan pesantren bukan berarti menghilangkan aspek tradisionalis pesantren yangtelah lama berkembang. Justru di sini memiliki peran yang sama antara tradisionalisdengan modern, antara satu dengan yang lain tidak saling ikut mengurusi, tapikeduanya sama-sama memengaruhi satu obyek dengan seimbang, yakni santri sebagaiobyek formalnya yang akan mengembangkan nantinya sesuai kondisi riilmasyarakatnya.Dalam hal ini pendidikan formal diharapkan hanya memberikan kurikulum yangbersifat pengetahuan umum dan keterampilan tanpa sedikit pun memasukkankurikulum agama, dan terfokus pada bidang-bidang umum seperti (manjahit, teknikkomputer, teknik informasi, tehnik mesin, perbankan, ilmu matematika, fisika, kimia,biologi, kesehatan, bahasa asing, dan lain-lain). Sementara, para ulama dan kiai,secara kultural, tetap memberikan pendidikan agama melalui metode kulturalnya,seperti (hadist, fikih, tasawuf, akidah akhlaq, bahasa Arab, tafsir, lain-lain). Keduanyamemang sengaja disekulerkan (dipisahkan), tetapi keduanya ini akan tetap menyatudalam diri santri sebagai obyeknya. Hanya, metode penyampaiannya yang sengajadipisahkan.Jadi, begitu dihapuskan kurikulum pendidikan agama dalam kurikulum pendidikanformal, maka akan lebih menghindarkan santrinya dalam pengulangan-pengulangankurikulum yang memiliki banyak persamaan, baik dalam cara penyampaian, dalil-dalil yang digunakan, dan lain-lain, seperti dalam pembahasan masalah fikihkebersihan (thaharah).Hal semacam ini sebenarnya telah dimulai oleh ulama pesantren masa lalu sepertiyang pernah dilakukan KH Wahid Hasyim (putra KH Hasyim Asy?ary, Pendiri NU)yang pernah mendirikan Madrasah Nidhamiah, yang tujuh puluh persen kurikulumpendidikannya bersifat pendidikan umum. Alasan Wahid Hasyim mendirikanpesantren model seperti ini tidak lain atas buah pikirannya yang menyatakan bahwadari keseluruhan santri yang ada di pondok pesantren, tidak serta merta memiliki cita-cita yang sama untuk menjadi ulama. Namun, mereka memiliki beragam cita-cita.Sehingga dimungkinkan jika di pesantren secara monoton hanya mengajarkanpendidikan agama, maka cita-cita santri akan kandas di tengah jalan dan kembali kemasyarakat dengan tidak memiliki keahlian apa pun kecuali sebagai ahli di bidangagama. Namun, sayangnya ide pembaharuan ini ditolak mentah-mentah kalangantradisionalis lainnya, yang pada saat itu sangat anti terhadap Barat.Maka, kemudian, mampukah kita kalangan muda santri saat ini untuk menghidupkan 12
  13. 13. kembali buah pikiran Wahid Hasyim yang telah banyak kita lupakan. Yang jelas, ilmuAllah bukan hanya ilmu agama dan ilmu Allah bukan hanya ilmu fikih.Ilmu Allah tidak ada yang mampu untuk menghitungnya. Jika kita membatasi diriterhadap ilmu pengetahuan, berarti kita telah membatasi ilmu Allah. (al Kahfi: 109)Generasi hipokritkah kita saat ini? Masa Depan Pesantren Ditulis oleh AM Fatwa (Wakil Ketua MPR RI)Secara historis, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang multifungsi. Iamenjadi benteng pertahanan sekaligus pusat penyiaran (dakwah) Islam. Tidak adadata yang pasti tentang awal kehadiran pesantren di Nusantara (Ensiklopedi Islam,2005). Baru setelah abad ke-16 diketahui bahwa terdapat ratusan pesantren yangmengajarkan kitab kuning dalam berbagai bidang ilmu agama seperti fikih, tasawuf,dan akidah.Dalam perkembangannya, pesantren mencatat kemajuan dengan dibukanya pesantrenputri dan dilaksanakannya sistem pendidikan madrasah yang mengajarkan pelajaranumum, seperti sejarah, matematika, dan ilmu bumi. Eksistensi pesantren menjadiistimewa karena ia menjadi pendidikan alternatif (penyeimbang) dari pendidikan yangdikembangkan oleh kaum kolonial (Barat) yang hanya bisa dinikmati oleh segelintirorang. Pesantren menjadi tempat berlabuh umat Islam yang tersingkir secara budaya(pendidikan) akibat perlakuan diskriminatif penjajah.Kini perkembangan pesantren dengan sistem pendidikannya mampu menyejajarkandiri dengan pendidikan pada umumnya. Bahkan di pesantren dibuka sekolah umum(selain madrasah) sebagaimana layaknya pendidikan umum lainnya. Kedua modelpendidikan (sekolah dan madrasah) sama-sama berkembang di pesantren.Kenyataan ini menjadi aset yang luar biasa baik bagi perkembangan pendidikanpesantren maupun pendidikan nasional pada masa yang akan datang. Dari sanadiharapkan tumbuh kaum intelektual yang berwawasan luas dengan landasan spiritualyang kuat.Pesantren dan NegaraEksistensi pesantren tidak bisa dilepaskan dari peran negara. Ranah kultural yangdigeluti pesantren selama ini menjadi landasan yang sangat berarti bagi eksistensinegara. Perjuangan pesantren baik secara fisik maupun secara kultural tidak bisadihapus dari catatan sejarah negeri ini. Dan kini generasi santri tersebut mulaimemasuki jabatan-jabatan publik (pemerintah) yang dulunya hanya sebatas mimpi.Landasan kultural yang ditanamkan kuat di pesantren diharapkan menjadi guidencedalam implementasi berbagai tugas baik pada ranah sosial, ekonomi, hukum, maupunpolitik baik di lembaga pemerintahan maupun swasta yang konsisten, transparan, danakuntabel. Ini penting karena pesantren merupakan kawah candradimuka bagi 13
  14. 14. munculnya agent of social change. Dan negara sangat berkepentingan atas tumbuhnyagenerasi yang mumpuni dan berkualitas. Oleh sebab itu, kepedulian dan perhatiannegara bagi perkembangan pesantren sangat diperlukan.Kalau selama ini pesantren telah menyumbangkan seluruh dayanya untuk kepentinganwarga negara (negara), maka harus ada simbiosis mutualistis antara keduanya. Sudahwaktunya negara (pemerintah) memberikan perhatian serius atas kelangsunganpesantren. Kalau selama ini pesantren bisa eksis dengan swadaya, maka eksistensitersebut akan lebih maksimal apabila didukung oleh negara. Apalagi tantangan kedepan tentu lebih berat karena dinamika sosial juga semakin kompleks. Oleh sebabitu, diperlukan revitalisasi relasi antara pesantren dan pemerintah yang selama iniberjalan apa adanya.Selama ini sistem pendidikan nasional belum sepenuhnya ditangani secara maksimal.Beberapa departemen melaksanakan pendidikannya sendiri (kedinasan) sesuai denganarah dan orientasi departemen masing-masing. Sejatinya pendidikan di sebuah negaraberada dalam sebuah sistem terpadu sehingga menghasilkan output yang maksimalbagi kepentingan nasional, bukan hanya kepentingan sektoral.Inilah salah satu problem yang dihadapi sistem pendidikan nasional saat ini.Terpencarnya penyelenggaraan pendidikan menyebabkan banyak masalah. Salahsatunya adalah alokasi anggaran yang tidak maksimal. Selama ini pemerintahmemandang pendidikan sebagai bagian Departemen Pendidikan Nasional(Depdiknas). Oleh sebab itu, seluruh anggaran pendidikan dialokasikan untukDepdiknas. Konsekuensinya pendidikan di bawah departemen lain mendapatkanalokasi dana seadanya.Kenyataan tersebut tentu merupakan konsekuensi dari paradigma struktural yangmelihat pendidikan hanya merupakan tanggung jawab Depdiknas. Kita bisamenyaksikan kesenjangan dana yang diterima madrasah (Depag) dengan sekolahumum atau antara perguruan tinggi Islam seperti IAIN/UIN yang dibawah kendaliDepag dengan perguruan tinggi umum yang langsung ditangani Depdiknas.Menambah alokasi dana pendidikan pada Depag akan berkonsekuensi padamembengkaknya anggaran pendidikan nasional yang sampai saat ini negara belummampu memenuhinya sesuai ketentuan konstitusi, yaitu 20 persen dari APBN. Disamping itu, secara struktural kerja pendidikan yang dilakukan beberapa departementidak efektif dan merupakan pemborosan anggaran negara. Oleh sebab itu,pengelolaan pendidikan di bawah satu atap (Depdiknas) akan lebih efektif dan efisiendibandingkan diserahkan pada beberapa departemen.Begitupun pesantren dan madrasah yang selama ini eksistensinya lebih bersifatswadaya akan lebih maksimal apabila dikelola dengan pendanaan dan pembinaanyang lebih memadai. Apalagi saat ini pesantren mulai menyesuaikan diri denganpendidikan umum dan standar pendidikan nasional, termasuk mendirikan sekolahumum. Berangkat dari realitas tersebut, dengan kesiapan dan penyesuaian yangdilakukan pesantren serta efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan, makasudah waktunya pengelolaan pendidikan pesantren dimasukkan di bawah Depdiknas. 14
  15. 15. Pesantren masa depanEksistensi pesantren di tengah pergulatan modernitas saat ini tetap signifikan.Pesantren yang secara historis mampu memerankan dirinya sebagai bentengpertahanan dari penjajahan, kini seharusnya dapat memerankan diri sebagai bentengpertahanan dari imperialisme budaya yang begitu kuat menghegemoni kehidupanmasyarakat, khususnya di perkotaan. Pesantren tetap menjadi pelabuhan bagi generasimuda agar tidak terseret dalam arus modernisme yang menjebaknya dalamkehampaan spiritual.Keberadaan pesantren sampai saat ini membuktikan keberhasilannya menjawabtantangan zaman. Namun akselerasi modernitas yang begitu cepat menuntut pesantrenuntuk tanggap secara cepat pula, sehingga eksistensinya tetap relevan dan signifikan.Masa depan pesantren ditentukan oleh sejauhmana pesantren menformulasikandirinya menjadi pesantren yang mampu menjawab tuntutan masa depan tanpakehilangan jati dirinya.Langkah ke arah tersebut tampaknya telah dilakukan pesantren melalui sikapakomodatifnya terhadap perkembangan teknologi modern dengan tetap menjadikankajian agama sebagai rujukan segalanya. Kemampuan adaptatif pesantren atasperkembangan zaman justru memperkuat eksistensinya sekaligus menunjukkankeunggulannya. Keunggulan tersebut terletak pada kemampuan pesantrenmenggabungkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Dari pesantrensejatinya lahir manusia paripurna yang membawa masyarakat (negara) ini mampumenapaki modernitas tanpa kehilangan akar spiritualitasnya. Inilah pesantren masadepan.Republika, Sabtu, 26 Mei 2007 15
  16. 16. Tantangan dan Tanggung Jawab Sosial Masa Depan Pesantren Oleh : Muhibin AM, Peneliti pada FKiY YogyakartaKeberadaan pesantren ditengah hiruk pikuk dunia hedonis saat ini merupakan suatupilihan yang dianggap perlu, demi untuk menyelamatkan moral anak-anak bangsa kitayang saat ini sudah banyak terkontaminasi oleh kehidupam modern yang materialis-individual, bahkan hingga mencapai pada titik kekhawatiran semua orang. Lembagapendidikan pesantren yang jumlahnya mencapai puluhan ribu, masih lekat di benakmasyarakat sebagai prototype lembaga yang akuntable untuk mengemban tugas dalammembentuk karakter keber-Agama-an bagi masyarakat Indonesia selama ini.Namun seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, eksistensi lembagapendidikan kultural pesantren ini tidak luput dari amukan gelombang globalisasi ilmupengetahuan modern yang tidak mengenal agama. Pesantren yang selama inimempertahankan model pendidikan cultural juga dipaksa harus menerima arus derasini guna untuk mengikuti perkembangan zaman. Namun sayangnya, meskipun telahmengadopsi system ilmu pengetahuan modern, tapi sampai saat ini masih ditemuibanyak kekurangan yang tampaknya kurang mendapat perhatian yang serius daripesantren itu sendiri dan terutama lembaga terkait.Padahal keseriusan dalam menangani masalah ini akan lebih memberikan dampakyang positif bagi pesantren dimasa depan, terutama untuk menjaga akuntabilitaspublic yang akhir-akhir ini mulai menurun. Masuknya departemen agama (depag)sebagai bentuk pendidikan formal modern yang diadoppsi oleh pesantren dinilaibelum mampu untuk mengantarkan para santri dalam menjawab tantangan zamanyang membutuhkan keahlian (skill). selain dibidang keagamaan yang memangmenjadi icon dari kepesantrenan. Memang, siapapun orangnya tidak pernahmeragukan, bahwa setiap santri memiliki tingkat pemahaman keagamaan yang lebih,jika dibandingkan dengan yang belum pernah sama sekali mengenyam pendidikanpesantren.Sementara kurikulum pendidikan departemen agama (depag) yang masuk kedalampesantren dengan diboncengi warna pendidikan moderm, terkesan masih ragu-ragudalam mengembangkan pendidikannya. Salah satunya adalah intensitas pendidikanumum yang masih kurang mendapat perhatian yang serius. Pendidikan umum yangmasuk kedalam kurikulum pendidikan departemen agama diberikan sebatas hanyauntuk sekedar memenuhi syarat masuk pendidikan modern dan untuk dapat mengikutiujian negara. Sementara materi keagamaan yang diajarkan tidak kurang lebih samabahkan lebih rendah dibandingkan dengan yang diberikan oleh pesantren.Maka demi melihat kondisi yang demikian itu, saat ini sangat perlu untukdikembangkan system pendidikan yang berbasis kompetensi yang benar-benarterwujud. Pendidikan umum agar lebih dapat dikembangkan secara serius dandiharapakan para santri dapat menjawab semua tantangan zaman yang semakinkomplek, dan tentunya tanpa hambatan yang serius. Dalam hal ini, secara spesifikdepartemen agama, sebagai model pendidikan formal modern agar lebih berperanaktif dalam memperhatikan pendidikan keahlian dan pengetahuan yang bersifat umum 16
  17. 17. untuk pengembangan sklill para santri, agar pada saat santri menyelesaikanpendidikan pesantren tidak dalam kebingungan mencari pekerjaan yang menuntutkeahlian (skill). Namun model pendidikan salaf pesantren tetap dipertahankan sebagaiciri khas model pendidikan yang secara orisinil lahir dari rahim bangsa Indonesiasendiri.Kasus yang banyak terjadi pada alumni-alumni pesantren, setelah meyelesaikanpendidikannya di pesantren adalah tidak dimilikinya daya tawar (bargaining position)yang akan diberikan kepada masyarakat luas, kecuali hanya sebatas bidangkeagamaan, yang memang menjadi ikon santri. Sementara masyarakat dan kehidupanmodern saat ini, tidak hanya membutuhkan pengetahuan agama secara an sich, akantetapi mereka juga membutuhkan suatu perubahan daya fikir maju yang diharapkandatang dari dan oleh anak-anak muda yang telah menyelesaikan pendidikannya dipesantren.Tidak dapat dipungkiri, ketika pesantren hanya memberikan pengetahuan agamasecara monoton, tanpa memberikan pendidikan skill, maka yang terjadi adalahsemakin bertambahnya angka pengangguran yang seperti sengaja diciptakan olehlembaga pendidikan ini. Bagi kalangan yang terlibat di dalam masalah ini, sudah pastisemua itu tidak ada yang menghendakinya, namun selama ini itulah yang terus terjadi,sebagai akibat sikap kurang responsifnya pesantren terhadap keilmuan-keilmuanumum, Karena terfokus pada bidang keagamaan.Keberadaan pesantren dalam melihat masa depan yang menantang diharapkan mampuuntuk memberikan solusi kongrit atas permasalahan sosial yang sedang dihadapaioleh umat Islam saat ini, terutama masyarakat Islam indonesia yang sedangmembutuhkan suatu jalan penyelesaian kemiskinan. Maka demi melihat situasi dankondisi zaman yang semakin maju tak terkendali ini, agar nantinya pesantren mampuuntuk memberikan jalan tengah diantara berbagia macam kebisingan kemajuan dankehedonisan yang telah banyak menimpa umat manusia.Harapannya dimasa mendatang pesantren mampu untuk membawa generasi muda kitakedalam beragam keilmuan dan keahlian (skill) yang bernilai modern dan kompetitifsehingga semua ilmu pengetahuan modern nantinya dapat berpusat di pesantren-pesantren dengan serta diiringi dengan ruh-ruh keimanan yang selalu menjadilandasan berfikirnya. Dan pada akhirnya semua ilmu pengetahuan modern ini akankembali kepada umat islam dan ulama, sebagaimana yang pernah dibuktikan olehsejarah islam pada masa kejayaan bani Abbasiyah dan Umayyah2.Bertolak dari tantangan masa depan pesantren tersebut, maka diharapakan pesantrennantinya tidak hanya mengembangkan model pengembangna fiqih sentris, akan tetapinantinya akan bermunculan pesantren-pesantren yang memiliki warna-warni dancorak pendidikannuya, seperti pesantren kedokteran, pesantren teknolgi, pesantrenpertanian, pesantren kebidanan, pesantren keperawatan, pesantren teknisipenerbangan dan lain sebagainya, disamping tidak meninggalkan tradisi keilmuanfikih yang menjadi ikon kepesantrenan. (***) 17
  18. 18. PESANTREN DAN KYAI KH. A. Mustofa Bisri:Pesantren kembali menjadi perhatian dan sorotan ketika ada teroris yang mengakujebolan pesantren dan Ustadz Baasyir, salah satu pengasuh pesantren di Soloditangkap (meski tidak pernah jelas duduk perkaranya). Sebelumnya sudah banyakpengamat dan penulis, baik dari luar maupun dalam negeri yang berusaha berbicaratentang pesantren, yaitu suatu lembaga pendidikan khas Indonesia yang dikenalsebagai tempat mencetak ahli-ahli agama (Islam). Istilahnya Tafaqquh fid diin.Umumnya para pengamat dan penulis tentang pesantren itu terlalu sederhana dalampengamatannya dan menganggap bahwa jenis pesantren itu hanya satu. Memangsecara umum, pesantren memilki tipologi yang sama. Sebuah lembaga yang dipimpindan diasuh oleh kyai dalam satu komplek yang bercirikan adanya masjid atau surausebagai pusat pengajaran dan asrama sebagai tempat tinggal para santri, disampingrumah tempat tinggal kyai, dengan kitab kuning sebagai buku wajib/pegangan.Disamping ciri lahiriah itu, masih ada ciri umum yang menandai karkteristikpesantren, yaitu kemandirian dan ketaatan santri kepada kyai yang sering ditanggapisinis sebagai pengkultusan.Kalupun ada yang lebih teliti, paling-paling hanya menyinggung adanya dua modelpesantren, yakni tradisional (atau yang biasa disebut salaf) dan modern. Ini bisadimaklumi, karena pengamatan biasanya didasarkan pada sampel ‘ayyinah’, beberapapesantren yang ghalibnya diambil dari pesantren-pesantren yang terkenal. Padahalmeski mempunyai tipologi umum yang sama, pesantren juga sangat ditentukankarakternya oleh kyai yang memimpinnya.Memang lazimnya kyai pesantren berasal dari jebolan pesantren pula. Para kyai yangberasal dari jebolan pesantren sama, umumnya akan memilki kemiripan satu samalain dalam memimpin pesantrennya. Namun harus diingat bahwa lazimnya para kyaitidak berguru hanya pada satu pesantren, tapi berpindah-pindah dari satu pesantren kepesantren yang lain. Bahkan sebagai contoh, almarhum Kyai Machrus Ali LirboyoKediri (yang sudah banyak menjelajahi banyak pesantren di Jawa) ketika putra-putranya sudah menjadi kyai, Kyai Machrus masih terus berguru ke pesantren lainmeskipun hanya di bulan Ramadhan.Kecenderungan dan pribadi kyai sendiri biasanya jarang dijadikan variabel. Padahalsebagai pendiri dan „pemilik‟ pesantren (terutama yang salaf) dalam menentukancorak pesantrennya, yang tidak terlepas dari karakter dan kecenderungan pribadinya. 18
  19. 19. Pesantren yang kyainya cenderung kepada politik, misalnya, akan berbeda denganpesantren yang kyainya tidak suka politik. Kyai yang sufi corak pesantrennya berbedadengan pesantren yang dipimpin oleh „kyai syariat‟. (Kyai sufi dan Kyai syareat iniinipun masih berbeda sesuai dengan aliran-aliran masing-masing). Pesantren yangdipimpin oleh hikmah berbeda dengan pesantren yang kyainya sama sekali tidaktertarik pada ilmu hikmah. Demikian seterusnya. Maka, meskipun ciri kyai/pesantrensama-sama ingin memberi manfaat kepada umat/masyarakat, kita bisa melihattampilan-tampilannya yang berbeda.Ada lagi yang luput dari pengamatan „orang luar‟ termasuk para pengamat, yaitutentang hubungan kyai-santri. Khususnya kepatuhan santri terhadap kyai yang merekaanggap berlebih-lebihan, berbau feodal, pengkultusan, dan sebagainya. Inipun bisadimaklumi, karena mereka hanya melihat mazhahir luar ditambah perilaku ikut-ikutandari masyarakat yang tidak mengerti hakikat hubungan kyai-santri itu dan adanya„kyai-kyai‟ baru yang memanfaatkan keawaman masyarakat tersebut.Mazhahir luar itulah yang menjebak para pengamat, menganggap bahwa kepatuhansantri kepada kyai itu merupakan sesuatu yang sengaja ditekankan di pesantren.Karena hanya melihat mazhahir luar itu saja, ada pengamat yang berkesimpulanbahwa kepatuhan yang „berlebih-lebihan‟ ini merupakan gabungan dua hal yaitukepatuhan doktrinal dan kesadaran mitologis. Maksudnya, kepatuhan yang dibentukoleh-peraturan-peraturan pesantren dan kesadaran yang dibentuk oleh melaluikonstruk pemikiran-pemikiran dengan memupuk kepercayaan-kepercayaan magis dankekuatan-kekuatan adikodrati.Pengamatan sederhana atau anggapan sederahana itu merupakan gebyah uyah,generalisasi dan secara tidak lagsung mendiskretkan kyai-kyai yang mukhlis yangmenganggap tabu beramal lighoirillah, beramal tidak karena Allah tapi agar dihormatiorang.Pesantren salaf (yang lama) umumnya benar-benar milik kyainya. Santri hanya datangdengan bekal untuk hidupnya sendiri di pesantren. Bahkan ada atau banyak santriyang untuk hidupnya pun nunut (ditanggung) kyainya. Boleh dikata kyai pesantrensalaf seperti itu, ibaratnya mewakafkan diri dan seluruh miliknya untuk para santri.Dia memikirkan, mendidik, mengajar, dan mendoakan santri tanpa pamrih. Bukansaja saat santri itu mondok di pesantrennya, tetapi juga ketika mereka sudah terjun dimasyarakat.Almarhum ayah, Kyai Bisri Mustofa sering diundang ke luar kota dan tidak jarangpanitia memaksanya untuk mengisi pengajian pada hari-hari di mana pesantrenyatidak libur. Bila harus melakukan hal yang seperti itu, beliau selalu bermunajat kepada 19
  20. 20. Allah sebelum naik mimbar, ”Ya Allah, engkau tahu hamba datang kemari karenadiminta saudara-saudara hamba untuk menyampaikan firman-firman-Mu dan sabda-sabda rasul-Mu, namun semantara hamba d isini, santri-santri hamba yang sayatinggal dipesantren prei, tidak hamba ajar. Oleh karena itu, Ya Allah, apabila amalhamba disini ada pahalanya, hamba mohon tidak usah Engkau berikan kepada hamba,ganti saja pahala itu dengan kefutuhnya hati santri-santri hamba tersebut.”Almarhum Kyai Umar Mangkuyudan Sala, pernah meminta kepada lurah pondokpesantrennya untuk menuliskan dafatar santri yang ternakal agar ketika bertahajuddan mendoakan santri-santrinya, beliau bisa menngkhususkan nama-nama santriternakal itu.Almarhum Kyai Maksum Lasem bukan saja setiap waktu membangunkan santri-santrinya untuk sholat dan belajar, mendoakan mereka setiap berdoa. Namunkemanapun beliau pergi selalu menyempatkan berkunjung ke rumah santri beliauyang beliau lewati, sekedar untuk melihat keadaannya.Almarhum Kyai Ali Maksum Krapyak Yogya (satu-satunya kyai yang tidak dipanggil„kyai‟ oleh santri-santrinya, tapi dengan panggilan “Bapak/Pak”) apabila punya gawemantu atau apa saja, selalu mengundang santri-santrinya yang sudah berumah tanggadan selalu diembel-embeli tulisan tangan beliau seperti ”Ya waladii Fulan, ojo lalilho” (Hai anakku Anu, jangan lupa lho!).Beberapa kyai itu hanya sekedar contoh dari tradisi kyai bersama santrinya. Hampirsemua kyai yang saya kenal, memiliki hubungan batin dengan santrinya sedemikianrupa, sehingga saya mengangggap wajar apabila sikap santri terhadap kyai yangseperti itu mengesankan pengkultusan. Pak Ali Maksum adalah kyai saya yang tidakdigdaya, pesantrennya tidak memiliki aturan harus menghormat kyai. Beliau tidakpernah mendoktrin santri-santri dengan semacam maqolah “ana ‘abdu man ‘allamaniwalau harfan waahidan” (saya adalah budak orang yang mengajariku meski hanyasatu huruf saja). Saya sering diajak diskusi, diminta membantah beliau bila dilihatnyasaya tidak setuju pendapat beliau. Namun sebagai santrinya, saya menghormatinyasecara khusus, tak peduli orang akan mengatakan saya mengkultuskannnya.Wa Ba‟du, pesantren yang memang merupakan sumber yang tak kering-kering untukdibicarakan. Dewasa ini di mana pesantren lagi-lagi sedang menjadi perhatian dansorotan, percakapan tentang pesantren jadi semakin semarak. Apabila diingat bahwaseiring banyaknya „jenis kyai‟, pesantren pun mengalami banyak perubahan (baikyang positif maupun yang negatif) dan semakin banyak jenisnya. Ini tentunyamemberi pengaruh yang tidak kecil kepada masyarakat yang selama inimenjadikannya kiblat. Seharusnya ini menjadikan kyai „model lama‟, terutama kyai- 20
  21. 21. kyai pengasuh pesantren, lebih serius memikirkan dan memperhatikan atbaa’-nyapara santri dan umatnya Sepak Bola di PesantrenMEMASUKI bulan Agustus sebagai bulan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia,seperti biasa di warga Buntet Pesantren disuguhi olahraga yang paling populer didunia, yaitu bal-balan atau sepak bola. Pesertaya bukan saja kalangan santri atauwarga Buntet, namun dari keluarga kyai pun ikut serta."Lomba ini disebut kambing cup karena hadiahnya berupa kambing untuk juarapertama, juara kedua ayam dan juara ketiga Indomie," Ujar Abdullah Sidik manajerkambing cup kepada redaksi.Pertandingan masih berlangsung dan sangat meriah. Karena warga seakanmendapatkan hiburan gratis dan yang ditonton itu adalah adalah keluarga kyai danwarga sendiri. Orang-orang ramai memberikan dukungan pada masing-masingkelompoknya.SaranaAnehnya warga Buntet yang cinta sepak bola ini sudah lama tidak memiliki lapangansepak bola sendiri. Justru setiap melangsungkan pertandingan sepak bola, merekamenggunakan lahan kosong milik warga Buntet yang kebunnya tidak ditanami.Bahkan secara tidak tertulis, lapangan yang tidak layak itu sudah menjadi "lapanganresmi" mereka.Namun meskipun sarana yang begini minim, bahkan lapangan tersebut tanahnyamiring, namun kemeriahan dan semangatnya tidak kalah dengan lapangan permanenberstandar yang pernah dibuat di lahan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) namun kinisudah beralih fungsi.Ada lima grup sepak bola di Buntet Pesantren yang akan ambil bagian. Grup itumengambil nama yang aneh: Kraton, Ankid, Glampok, Akper dan Gaden. GrupKraton dimiliki kelompok warga Buntet bagian tengah, karena konon para pemainnyaadalah warga keturunan kraton alias elang.Adapun Ankid, singkatan dari anak Kidul di bawah asuhan Keluarga Kyai Adib yangmemberikan support dan pendanaan. Sementara Glampok yang berarti Gabungananak glampok yang berasal dari Buntet bagian kulon dimanajeri oleh Kyai 21
  22. 22. Amiruddin. Sementara Akper (Akademi Perawat) adalah klub sepak bola yanganggotanya para karyawan Akper Buntet Pesantren. Dan GADN klub sepak bolagabungan anak Dauwan dimanajeri oleh Kyai Imat.Kesemua grup itu kini masih berlangsung mengisi waktu sore hari untuk mengadakanpertandingan di lapangan sepak bola bagian paling barat kampung Buntet Pesantren.Kemeriahan warga yang menonton sepak bola terdengar cukup gempita. Namun saatmalam hari para putra-putra kyai ini tetap terlibat dalam mengasuh para santrinya,sementara orang Buntet sendiri juga aktif mengaji di kyai-nya masing-masing. (kurt) 22
  23. 23. PESANTRENPesantren telah lama menjadi lembaga yang memiliki kontribusi penting dalam ikutserta mencerdaskan bangsa. Banyaknya jumlah pesantren di Indonesia, serta besarnyajumlah Santri pada tiap pesantren menjadikan lembaga ini layak diperhitungkandalam kaitannya dengan pembangunan bangsa di bidang pendidikan dan moral.Perbaikan-perbaikan yang secara terus menerus dilakukan terhadap pesantren, baikdari segi manajemen, akademik (kurikulum) maupun fasilitas, menjadikan pesantrenkeluar dari kesan tradisional dan kolot yang selama ini disandangnya. Beberapapesantren bahkan telah menjadi model dari lembaga pendidikan yang leading.Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik. Tidak saja karenakeberadaannya yang sudah sangat lama, tetapi juga karena kultur, metode, danjaringan yang diterapkan oleh lembaga agama tersebut. Karena keunikannya itu, C.Geertz menyebutnya sebagai subkultur masyarakat Indonesia (khususnya Jawa). Padazaman penjajahan, pesantren menjadi basis perjuangan kaum nasionalis-pribumi.Banyak perlawanan terhadap kaum kolonial yang berbasis pada dunia pesantren.Pesantren sebagai tempat pendidikan agama memiliki basis sosial yang jelas, karenakeberadaannya menyatu dengan masyarakat. Pada umumnya, pesantren hidup dari,oleh, dan untuk masyarakat. Visi ini menuntut adanya peran dan fungsi pondokpesantren yang sejalan dengan situasi dan kondisi masyarakat, bangsa, dan negarayang terus berkembang. Sementara itu, sebagai suatu komunitas, pesantren dapatberperan menjadi penggerak bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakatmengingat pesantren merupakan kekuatan sosial yang jumlahnya cukup besar. Secaraumum, akumulasi tata nilai dan kehidupan spiritual Islam di pondok pesantren padadasarnya adalah lembaga tafaqquh fid din yang mengemban untuk meneruskan risalahNabi Muhammad saw sekaligus melestarikan ajaran Islam.Sebagai lembaga, pesantren dimaksudkan untuk mempertahankan nilai-nialikeislaman dengan titik berat pada pendidikan. Pesantren juga berusaha untukmendidik para santri yang belajar pada pesantren tersebut yang diharapkan dapatmenjadi orang-orang yang mendalam pengetahuan keislamannya. Kemudian, merekadapat mengajarkannya kepada masyarakat, di mana para santri kembali setelah selesaimenamatkan pelajarannya di pesantren.Dunia pesantren sarat dengan aneka pesona, keunikan, kekhasan dan karakteristiktersendiri yang tidak dimiliki oleh institusi lainnya. Pesantren merupakan lembagapendidikan Islam pertama dan khas pribumi yang ada di Indonesia pada saat itu. Tapi,sejak kapan mulai munculnya pesantren, belum ada pendapat yang pasti dankesepakatan tentang hal tersebut. Belum diketahui secara persis pada tahun berapapesantren pertama kali muncul sebagai pusat-pusat pendidikan-agama di Indonesia.Pesantren yang paling lama di Indonesia namanya Tegalsari di Jawa Timur. Tegalsarididirikan pada ahkir abad ke-18, walaupun sebetulnya pesantren di Indonesia mulaimuncul banyak pada akhir abad ke-19.Namun, jika melihat beberapa hasil studi yang dilakukan beberapa sarjana, sepertiDhofier (1870), Martin (1740), dan ilmuwan lainnya, ada indikasi bahwa munculnyapesantren tersebut diperkirakan sekitar abad ke-19. Akan tetapi, terlepas dari 23
  24. 24. persoalan tersebut yang jelas signifikansi pesantren sebagai sebuah lembagapendidikan Islam tidak dapat diabaikan dari kehidupan masyarakat muslim pada masaitu.Kiprah pesantren dalam berbagai hal sangat amat dirasakan oleh masyarakat. Salahsatu yang menjadi contoh utama adalah, selain pembentukan dan terbentuknya kader-kader ulama dan pengembangan keilmuan Islam, juga merupakan gerakan-gerakanprotes terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Di mana gerakan protes tersebutselalu dimotori dari dan oleh para penghuni pesantren. Setidaknya dapat disebutkanyamisalnya; pemberontakan petani di Cilegon-Banten 1888, (Sartono Kartodirjo; 1984)Jihad Aceh 1873, gerakan yang dimotori oleh H. Ahmad Ripangi Kalisalak 1786-1875) dan yang lainnya merupakan fakta yang tidak dapat dibantah bahwa pesantrenmempunyai peran yang cukup besar dalam perjalanan sejarah Islam di Indonesia.(Steenbrink; 1984)Apabila kita cermati, di Indonesia terdapat sekira 12.000 pesantren yang tersebar diseluruh nusantara dengan berbeda bentuk dan modelnya. Bahkan, dihuni tidak kurangdari tiga juta santri. Pendidikan Islam sekarang di Indonesia kini begitu luas.Sehingga, beranekaragam dan bagaimanapun aliran Islam yang dianut oleh seseorang,pasti ada pesantren atau sekolah Islam yang sesuai.Karena itu, menurut Tholkhah, pesantren seharusnya mampu menghidupkan fungsi-fungsi sebagai berikut, 1) pesantren sebagai lembaga pendidikan yang melakukantransfer ilmu-ilmu agama (tafaqquh fi al-din) dan nilai-nilai Islam (Islamic vaues); 2)pesantren sebagai lembaga keagamaan yang melakukan kontrol sosial; dan 3)pesantren sebagai lembaga keagamaan yang melakukan rekayasa sosial (socialengineering) atau perkembangan masyarakat (community development). Semua itu,menurutnya hanya bisa dilakukan jika pesantren mampu melakukan proses perawatantradisi-tradisi yang baik dan sekaligus mengadaptasi perkembangan keilmuan baruyang lebih baik, sehingga mampu memainkan peranan sebagai agent of change.Pesantren dan Tuntutan Perubahan ZamanKetika menginjak abad ke-20, yang sering disebut sebagai jaman modernisme dannasionalisme, peranan pesantren mulai mengalami pergeseran secara signifikan.Sebagian pengamat mengatakan bahwa semakin mundurnya peran pesantren dimasyarakat disebabkan adanya dan begitu besarnya faktor politik Hindia Belanda.(Aqib Suminto; 1985). Sehingga, fungsi dan peran pesantren menjadi bergeser darisebelumnya. Tapi, penjelasan di atas kiranya cukup untuk menyatakan bahwa praabad ke-20 atau sebelum datangnya modernisme dan nasionalisme, pesantrenmerupakan lembaga pendidikan yang tak tergantikan oleh lembaga pendidikanmanapun. Dan, hal itu sampai sekarang masih tetap dipertahankan.Yang menarik di sini adalah bahwa pendidikan pesantren di Indonesia pada saat itusama sekali belum testandardisasi secara kurikulum dan tidak terorganisir sebagai satujaringan pesantren Indonesia yang sistemik. Ini berarti bahwa setiap pesantrenmempunyai kemandirian sendiri untuk menerapkan kurikulum dan mata pelajaranyang sesuai dengan aliran agama Islam yang mereka ikuti. Sehingga, ada pesantrenyang menerapkan kurikulum Depdiknas (Departemen Pendidikan Nasional) denganmenerapkan juga kurikulum agama. Kemudian, ada pesantren yang hanya inginmemfokuskan pada kurikulum ilmu agama Islam saja. Yang berarti bahwa tingkatkeanekaragaman model pesantren di Indonesia tidak terbatasi.Setelah kemerdekaan negara Indonesia, terutama sejak transisi ke Orde Baru danketika pertumbuhan ekonomi betul-betul naik tajam, pendidikan pesantren menjadi 24
  25. 25. semakin terstruktur dan kurikulum pesantren menjadi lebih tetap. Misalnya, selainkurikulum agama, sekarang ini kebanyakan pesantren juga menawarkan matapelajaran umum. Bahkan, banyak pesantren sekarang melaksanakan kurikulumDepdiknas dengan menggunakan sebuah rasio yang ditetapkannya, yaitu 70 persenmata pelajaran umum dan 30 persen mata pelajaran agama. Sekolah-sekolah Islamyang melaksanakan kurikulum Depdiknas ini kebanyakan di Madrasah.Seiring dengan keinginan dan niatan yang luhur dalam membina dan mengembangkanmasyarakat, dengan kemandiriannya, pesantren secara terus-menerus melakukanupaya pengembangan dan penguatan diri. Walaupun terlihat berjalan secara lamban,kemandirian yang didukung keyakinan yang kuat, ternyata pesantren mampumengembangkan kelembagaan dan eksistensi dirinya secara berkelanjutan.Mengutip Sayid Agil Siraj (2007), ada tiga hal yang belum dikuatkan dalampesantren. Pertama, tamaddun yaitu memajukan pesantren. Banyak pesantren yangdikelola secara sederhana. Manajemen dan administrasinya masih bersifatkekeluargaan dan semuanya ditangani oleh kiainya. Dalam hal ini, pesantren perluberbenah diri.Kedua, tsaqafah, yaitu bagaimana memberikan pencerahan kepada umat Islam agarkreatif-produktif, dengan tidak melupakan orisinalitas ajaran Islam. Salah satu contohpara santri masih setia dengan tradisi kepesantrenannya. Tetapi, mereka juga harusakrab dengan komputer dan berbagai ilmu pengetahuan serta sains modern lainnya.Ketiga, hadharah, yaitu membangun budaya. Dalam hal ini, bagaimana budaya kitadapat diwarnai oleh jiwa dan tradisi Islam. Di sini, pesantren diharap mampumengembangkan dan mempengaruhi tradisi yang bersemangat Islam di tengahhembusan dan pengaruh dahsyat globalisasi yang berupaya menyeragamkan budayamelalui produk-produk teknologi.Namun demikian, pesantren akan tetap eksis sebagai lembaga pendidikan Islam yangmempunyai visi mencetak manusia-manusia unggul. Prinsip pesantren adalah almuhafadzah ala al qadim al shalih, wa al akhdzu bi al jadid al ashlah, yaitu tetapmemegang tradisi yang positif, dan mengimbangi dengan mengambil hal-hal baruyang positif. Persoalan-persoalan yang berpautan dengan civic values akan bisadibenahi melalui prinsip-prinsip yang dipegang pesantren selama ini dan tentunyadengan perombakan yang efektif, berdaya guna, serta mampu memberikankesejajaran sebagai umat manusia (al musawah bain al nas).Sebagai sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan dan sosialkeagamaan, pengembangan pesantren harus terus didorong. Karena pengembanganpesantren tidak terlepas dari adanya kendala yang harus dihadapinya. Apalagibelakangan ini, dunia secara dinamis telah menunjukkan perkembangan danperubahan secara cepat, yang tentunya, baik secara langsung maupun tidak langsungdapat berpengaruh terhadap dunia pesantren.Terdapat beberapa hal yang tengah dihadapi pesantren dalam melakukanpengembangannya, yaitu:Pertama, image pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan yang tradisional, tidakmodern, informal, dan bahkan teropinikan sebagai lembaga yang melahirkanterorisme, telah mempengaruhi pola pikir masyarakat untuk meninggalkan duniapesantren. Hal tersebut merupakan sebuah tantangan yang harus dijawab sesegeramungkin oleh dunia pesantren dewasa ini.Kedua, sarana dan prasarana penunjang yang terlihat masih kurang memadai. Bukansaja dari segi infrastruktur bangunan yang harus segera di benahi, melainkan terdapat 25
  26. 26. pula yang masih kekurangan ruangan pondok (asrama) sebagai tempat menetapnyasantri. Selama ini, kehidupan pondok pesantren yang penuh kesederhanaan dankebersahajaannya tampak masih memerlukan tingkat penyadaran dalammelaksanakan pola hidup yang bersih dan sehat yang didorong oleh penataan danpenyediaan sarana dan prasarana yang layak dan memadai.Ketiga, sumber daya manusia. Sekalipun sumber daya manusia dalam bidangkeagamaan tidak dapat diragukan lagi, tetapi dalam rangka meningkatkan eksistensidan peranan pondok pesantren dalam bidang kehidupan sosial masyarakat, diperlukanperhatian yang serius. Penyediaan dan peningkatan sumber daya manusia dalambidang manajemen kelembagaan, serta bidang-bidang yang berkaitan dengankehidupan sosial masyarakat, mesti menjadi pertimbangan pesantren.Keempat, aksesibilitas dan networking. Peningkatan akses dan networking merupakansalah satu kebutuhan untuk pengembangan pesantren. Penguasaan akses dannetworking dunia pesantren masih terlihat lemah, terutama sekali pesantren-pesantrenyang berada di daerah pelosok dan kecil. Ketimpangan antar pesantren besar danpesantren kecil begitu terlihat dengan jelas.Kelima, manajemen kelembagaan. Manajemen merupakan unsur penting dalampengelolaan pesantren. Pada saat ini masih terlihat bahwa pondok pesantren dikelolasecara tradisional apalagi dalam penguasaan informasi dan teknologi yang masihbelum optimal. Hal tersebut dapat dilihat dalam proses pendokumentasian (data base)santri dan alumni pondok pesantren yang masih kurang terstruktur.Keenam, kemandirian ekonomi kelembagaan. Kebutuhan keuangan selalu menjadikendala dalam melakukan aktivitas pesantren, baik yang berkaitan dengan kebutuhanpengembangan pesantren maupun dalam proses aktivitas keseharian pesantren. Tidaksedikit proses pembangunan pesantren berjalan dalam waktu lama yang hanyamenunggu sumbangan atau donasi dari pihak luar, bahkan harus melakukanpenggalangan dana di pinggir jalan.Ketujuh, kurikulum yang berorientasi life skills santri dan masyarakat. Pesantrenmasih berkonsentrasi pada peningkatan wawasan dan pengalaman keagamaan santridan masyarakat. Apabila melihat tantangan kedepan yang semakin berat, peningkatankapasitas santri dan masyarakat tidak hanya cukup dalam bidang keagamaan semata,tetapi harus ditunjang oleh kemampuan yang bersifat keahlian. (Saifuddin Amir,2006)Format Pesantren Masa DepanBerangkat dari kenyataan, jelas pesantren di masa yang akan datang dituntutberbenah, menata diri dalam mengahadapi persaingan bisnis pendidikan seperti yangtelah dilakukan oleh Muhammadiyah dan lainnya. Tapi perubahan dan pembenahanyang dimaksud hanya sebatas menejemen dan bukan coraknya apalagi berganti bajudari salafiyah ke muasyir (moderen), karena hal itu hanya akan menghancurkan nilai-nilai positif Pesantren seperti yang terjadi sekarang ini, lulusannya ora iso ngaji.Maka, idealnya pesantren ke depan harus bisa mengimbangi tuntutan zaman denganmempertahankan tradisi dan nilai-nilai kesalafannya. Pertahankan pendidikan formalPesantren khususnya kitab kuning dari Ibtidaiyah sampai Aliyah sebagai KBM wajibsantri dan mengimbanginya dengan pengajian tambahan, kegiatan extra seperti kursuscomputer, bahasa inggris, skill lainnya dan program paket A, B dan C untukmendapatkan Ijazah formalnya. Atau dengan menjalin kerjasama dengan sekolah lain 26
  27. 27. untuk mengikuti persamaan. Jika hal ini terjadi, akan lahirlah ustad-ustad, ulama danfuqoha yang mumpuni.Sekarang ini, ada dua fenomena menarik dalam dunia pendidikan di Indonesia yaknimunculnya sekolah-sekolah terpadu (mulai tingkat dasar hingga menengah); danpenyelenggaraan sekolah bermutu yang sering disebut dengan boarding school. Namalain dari istilah boarding school adalah sekolah berasrama. Para murid mengikutipendidikan reguler dari pagi hingga siang di sekolah, kemudian dilanjutkan denganpendidikan agama atau pendidikan nilai-nilai khusus di malam hari. Selama 24 jamanak didik berada di bawah didikan dan pengawasan para guru pembimbing.Di lingkungan sekolah ini mereka dipacu untuk menguasai ilmu dan teknologi secaraintensif. Selama di lingkungan asrama mereka ditempa untuk menerapkan ajaranagama atau nilai-nilai khusus tadi, tak lupa mengekspresikan rasa seni danketrampilan hidup di hari libur. Hari-hari mereka adalah hari-hari berinteraksi denganteman sebaya dan para guru. Rutinitas kegiatan dari pagi hari hingga malam sampaiketemu pagi lagi, mereka menghadapi makhluk hidup yang sama, orang yang sama,lingkungan yang sama, dinamika dan romantika yang seperti itu pula. Dalamkhazanah pendidikan kita, sekolah berasrama adalah model pendidikan yang cukuptua.Secara tradisional jejaknya dapat kita selami dalam dinamika kehidupan pesantren,pendidikan gereja, bahkan di bangsal-bangsal tentara. Pendidikan berasrama telahbanyak melahirkan tokoh besar dan mengukir sejarah kehidupan umat manusia.Kehadiran boarding school adalah suatu keniscayaan zaman kini. Keberadaannyaadalah suatu konsekwensi logis dari perubahan lingkungan sosial dan keadaanekonomi serta cara pandang religiusitas masyarakat. Pertama, lingkungan sosial kitakini telah banyak berubah terutama di kota-kota besar. Sebagian besar penduduk tidaklagi tinggal dalam suasana masyarakat yang homogen, kebiasaan lama bertempattinggal dengan keluarga besar satu klan atau marga telah lama bergeser kearahmasyarakat yang heterogen, majemuk, dan plural. Hal ini berimbas pada pola perilakumasyarakat yang berbeda karena berada dalam pengaruh nilai-nilai yang berbedapula.Oleh karena itu sebagian besar masyarakat yang terdidik dengan baik menganggapbahwa lingkungan sosial seperti itu sudah tidak lagi kondusif bagi pertumbuhan danperkembangan intelektual dan moralitas anak. Kedua, keadaan ekonomi masyarakatyang semakin membaik mendorong pemenuhan kebutuhan di atas kebutuhan dasarseperti kesehatan dan pendidikan. Bagi kalangan mengengah-atas yang baru munculakibat tingkat pendidikan mereka yang cukup tinggi sehingga mendapatkan posisi-posisi yang baik dalam lapangan pekerjaan berimplikasi pada tingginya penghasilanmereka.Hal ini mendorong niat dan tekad untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagianak-anak melebihi pendidikan yang telah diterima orang tuanya. Ketiga, carapandang religiusitas. Masyarakat telah, sedang, dan akan terus berubah.Kecenderungan terbaru masyarakat perkotaan sedang bergerak kearah yang semakinreligius. Indikatornya adalah semakin diminati dan semaraknya kajian dan berbagaikegiatan keagamaan. Modernitas membawa implikasi negatif dengan adanyaketidakseimbangan antara kebutuhan ruhani dan jasmani. Untuk itu masyarakat tidakingin hal yang sama akan menimpa anak-anak mereka. Intinya, ada keinginan untukmelahirkan generasi yang lebih agamis atau memiliki nilai-nilai hidup yang baikmendorong orang tua mencarikan sistem pendidikan alternatif. 27
  28. 28. Dari ketiga faktor di atas, sistem pendidikan boarding school seolah menemukanpasarnya. Dari segi sosial, sistem boarding school mengisolasi anak didik darilingkungan sosial yang heterogen yang cenderung buruk. Di lingkungan sekolah danasrama dikonstruksi suatu lingkungan sosial yang relatif homogen yakni teman sebayadan para guru pembimbing. Homogen dalam tujuan yakni menuntut ilmu sebagaisarana mengejar cita-cita.Dari segi ekonomi, boarding school memberikan layanan yang paripurna sehinggamenuntut biaya yang cukup tinggi. Oleh karena itu anak didik akan benar-benarterlayani dengan baik melalui berbagai layanan dan fasilitas. Terakhir dari segisemangat religiusitas, boarding school menjanjikan pendidikan yang seimbang antarakebutuhan jasmani dan ruhani, intelektual dan spiritual. Diharapkan akan lahir pesertadidik yang tangguh secara keduniaan dengan ilmu dan teknologi, serta siap secaraiman dan amal soleh.Nampaknya, konsep boarding school menjadi alternatif pilihan sebagai modelpengembangan pesantren yang akan datang. Pemerintah diharapkan semakin seriusdalam mendukung dan mengembangkan konsep pendidikan seperti ini. Sehingga,pesantren menjadi lembaga pendidikan yang maju dan bersaing dalammengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berbasis pada nilai-nilaispiritual yang handal.Pesantren dalam Kebijakan SisdiknasSudah tidak diragukan lagi bahwa pesantren memiliki kontribusi nyata dalampembangunan pendidikan. Apalagi dilihat secara historis, pesantren memilikipengalaman yang luar biasa dalam membina dan mengembangkan masyarakat.Bahkan, pesantren mampu meningkatkan perannya secara mandiri dengan menggalipotensi yang dimiliki masyarakat di sekelilingnya.Pembangunan manusia, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah ataumasyarakat semata-mata, tetapi menjadi tanggung jawab semua komponen, termasukdunia pesantren. Pesantren yang telah memiliki nilai historis dalam membina danmengembangkan masyarakat, kualitasnya harus terus didorong dan dikembangkan.Proses pembangunan manusia yang dilakukan pesantren tidak bisa dipisahkan dariproses pembangunan manusia yang tengah diupayakan pemerintah.Proses pengembangan dunia pesantren yang selain menjadi tanggung jawab internalpesantren, juga harus didukung oleh perhatian yang serius dari proses pembangunanpemerintah. Meningkatkan dan mengembangkan peran serta pesantren dalam prosespembangunan merupakan langkah strategis dalam membangun masyarakat, daerah,bangsa, dan negara. Terlebih, dalam kondisi yang tengah mengalami krisis(degradasi) moral. Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang membentuk danmengembangkan nilai-nilai moral, harus menjadi pelopor sekaligus inspiratorpembangkit moral bangsa. Sehingga, pembangunan tidak menjadi hampa melainkanlebih bernilai dan bermakna.Pesantren pada umumnya bersifat mandiri, tidak tergantung kepada pemerintah ataukekuasaan yang ada. Karena sifat mandirinya itu, pesantren bisa memegang teguhkemurniannya sebagai lembaga pendidikan Islam. Karena itu, pesantren tidak mudahdisusupi oleh ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.Pendidikan pondok pesantren yang merupakan bagian dari Sistem PendidikanNasional memiliki 3 unsur utama yaitu: 1) Kyai sebagai pendidik sekaligus pemilikpondok dan para santri; 2) Kurikulum pondok pesantren; dan 3) Sarana peribadatandan pendidikan, seperti masjid, rumah kyai, dan pondok, serta sebagian madrasah dan 28
  29. 29. bengkel-bengkel kerja keterampilan. Kegiatannya terangkum dalam "Tri DharmaPondok pesantren" yaitu: 1) Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT; 2)Pengembangan keilmuan yang bermanfaat; dan 3) Pengabdian kepada agama,masyarakat, dan negara.Merujuk pada Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem PendidikanNasional, posisi dan keberadaan pesantren sebenarnya memiliki tempat yangistimewa. Namun, kenyataan ini belum disadari oleh mayoritas masyarakat muslim.Karena kelahiran Undang-undang ini masih amat belia dan belum sebanding denganusia perkembangan pesantren di Indonesia. Keistimewaan pesantren dalam sistempendidikan nasional dapat kita lihat dari ketentuan dan penjelasan pasal-pasal dalamUndang-udang Sisdiknas sebagai berikut:Dalam Pasal 3 UU Sisdiknas dijelaskan bahwa Pendidikan nasional berfungsimengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yangbermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untukberkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman danbertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.Ketentuan ini tentu saja sudah berlaku dan diimplementasikan di pesantren. Pesantrensudah sejak lama menjadi lembaga yang membentuk watak dan peradaban bangsaserta mencerdaskan kehidupan bangsa yang berbasis pada keimanan dan ketakwaankepada Allah SWT serta akhlak mulia.Ketentuan dalam BAB III tentang Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan, pada Pasal 4dijelaskan bahwa: (1) Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilanserta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilaikeagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. (2) Pendidikan diselenggarakansebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. (3)Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaanpeserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. (4) Pendidikan diselenggarakandengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitaspeserta didik dalam proses pembelajaran. (5) Pendidikan diselenggarakan denganmengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap wargamasyarakat. (6) Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semuakomponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalianmutu layanan pendidikan. Semua prinsip penyelenggaraan pendidikan tersebut sampaisaat ini masih berlaku dan dijalankan di pesantren. Karena itu, pesantren sebetulnyatelah mengimplementasikan ketentuan dalam penyelenggaraan pendidikan sesuaidengan Sistem pendidikan nasional.Tidak hanya itu, keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang didirikanatas peran serta masyarakat, telah mendapatkan legitimasi dalam Undang-undangSisdiknas. Ketentuan mengenai Hak dan Kewajiban Masyarakat pada Pasal 8menegaskan bahwa Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan,pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan. Sedangkan dalam Pasal9 dijelaskan bahwa Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber dayadalam penyelenggaraan pendidikan. Ketentuan ini berarti menjamin eksistendi dankeberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang diselenggarakan masyarakatdan diakomodir dalam sistem pendidikan nasional. Hal ini dipertegas lagi oleh Pasal15 tentang jenis pendidikan yang menyatakan bahwa Jenis pendidikan mencakuppendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus.Pesantren adalah salah satu jenis pendidikan yang concern di bidang keagamaan. 29
  30. 30. Secara khusus, ketentuan tentang pendidikan keagamaan ini dijelaskan dalam Pasal30 Undang-Undang Sisdiknas yang menegaskan: (1) Pendidikan keagamaandiselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama,sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Pendidikan keagamaan berfungsimempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami danmengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama. (3)Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal,nonformal, dan informal. (4) Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah,pesantren, dan bentuk lain yang sejenis.Labih jauh lagi, saat ini pesantren tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendidikankeagamaan semata. Namun, dalam perkembangannya ternyata banyak juga pesantrenyang berfungsi sebagai sarana pendidikan nonformal, dimana para santrinyadibimbing dan dididik untuk memiliki skill dan keterampilan atau kecakapan hidupsesuai dengan bakat para santrinya. Ketentuan mengenai lembaga pendidikannonformal ini termuat dalam Pasal 26 yang menegaskan: (1) Pendidikan nonformaldiselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yangberfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalamrangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. (2) Pendidikan nonformal berfungsimengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaanpengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadianprofesional. (3) Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup,pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaanperempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja,pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkankemampuan peserta didik. (4) Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembagakursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, danmajelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. (5) Kursus dan pelatihandiselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan,kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi,bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.(6) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil programpendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yangditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standarnasional pendidikan.Keberadaan pesantren sebagai bagian dari peran serta masyarakat dalam pendidikanjuga mendapat penguatan dari UU Sisdiknas. Pasal 54 menjelaskan: (1) Peran sertamasyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga,organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraandan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. (2) Masyarakat dapat berperan sertasebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan.Bahkan, pesantren yang merupakan Pendidikan Berbasis Masyarakat diakuikeberadaannya dan dijamin pendanaannya oleh pemerintah maupun pemerintahdaerah. Pasal 55 menegaskan: (1) Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikanberbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasanagama, lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat. (2)Penyelenggara pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakankurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanaannya sesuaidengan standar nasional pendidikan. (3) Dana penyelenggaraan pendidikan berbasismasyarakat dapat bersumber dari penyelenggara, masyarakat, Pemerintah, pemerintah 30
  31. 31. daerah dan/atau sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (4) Lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapatmemperoleh bantuan teknis, subsidi dana, dan sumber daya lain secara adil danmerata dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.Demikianlah, ternyata posisi pesantren dalam sistem pendidikan nasional memilkitempat dan posisi yang istimewa. Karena itu, sudah sepantasnya jika kalanganpesantren terus berupaya melakukan berbagai perbaikan dan meningkatkan kualitasserta mutu pendidikan di pesantren. Pemerintah telah menetapkan Renstra pendidikantahun 2005 - 2009 dengan tiga sasaran pembangunan pendidikan nasional yang akandicapai, yaitu: 1) meningkatnya perluasan dan pemerataan pendidikan, 2)meningkatnya mutu dan relevansi pendidikan; dan 3) meningkatnya tatakepemerintahan (governance), akuntabilitas, dan pencitraan publik. Maka, duniapesantren harus bisa merespon dan berpartisipasi aktif dalam mencapai kebijakan dibidang pendidikan tersebut. Pesantren tidak perlu merasa minder, kerdil, kolot atauterbelakang. Karena posisi pesantren dalam sistem pendidikan nasional memilikitujuan yang sama dengan lembaga pendidikan formal lainnya dalam rangkamencerdaskan kehidupan bangsa. 31
  32. 32. Menjadikan Pesantren sebagai Media Pemberdayaan untuk Perempuan Korban KekerasanWawancara denganDra. Hj. Enung Nursaidah Rahayu, MPdBu Nung, demikian kami menyapa adalah putri Kyai H. Moh. Ilyas Ruhiat dan ibuNyai HJ. Dedeh Fuadah yang lahir di Tasikmalaya, 11 Maret 1968. Setelah lulus IKIPBandung, istri dari dr. H. Jajang Rudi Haman ini melanjutkan studi ke S2 di UPIBandung Jurusan Pendidikan Biologi Sekolah Lanjutan. Disamping sekarangmenjabat sebagai Ketua PUAN Amal Hayati Cipasung, beliau juga dipercaya menjadiKetua MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Biologi MAS/MAN KabTasikmalaya. Ibu tiga orang anak ini juga aktif di beberapa organisasi diantaranyaAnggota POKJA PKTP (Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan) Kab.Tasikmalaya dan Anggota Komisi Kesehatan Reproduksi (Kespro) Kab. Tasikmalaya.Berikut petikan wawancara dengan Ibu Nung:Sebagai aktivis yang bekerja untuk upaya penghapusan kekerasan terhadapperempuan, menurut anda mengapa kaum perempuan selalu menjadi obyektindak kekerasan?Ada beberapa faktor yang menurut saya menjadi penyebab munculnya KekerasanTerhadap Perempuan (KTP), Pertama, faktor budaya masyarakat yang sudah terbiasadengan tradisi bias gender. Tradisi ini akan menjadi semakin parah ketika pembedaanperan dan fungsi antara kaum laki – laki dan perempuan diperkuat dengan ideologipatriarki yang menempatkan fungsi laki-laki lebih utama di banding perempuan.Dominasi patriarki ini memberi pengaruh yang sangat signifikan bagi masyarakatketika menerapkan norma serta cara berhubungan satu sama lain dalam berbagaistruktur sosial, mulai dari ranah rumah tangga, tempat kerja, maupun ranah publiksekaligus.Dapatkan Anda menyebutkan beberapa contoh dari persoalan tersebut?Contoh yang gamblang dari semua itu ada dalam keluarga. Dalam keluarga masihbanyak dijumpai kebiasaan yang memberikan kesempatan lebih besar kepada anaklaki-laki dalam pendidikan, dalam hal makanan biasanya bapak yang harusdidahulukan, padahal seorang ibu yang sedang mengandung atau menyusui jauh lebihmembutuhkan makanan bergizi, begitu pula seorang anak yang sedang menginjakmasa tumbuh kembang, baik otot maupun otaknya lebih membutuhkan sumbermakanan bergizi. Tapi karena seorang laki-laki adalah kepala rumah tangga, makaporsi makanannya baik itu kuantitas maupun kwalitasnya harus diutamakan, danbanyak lagi contoh-contoh lain yang menunjukan superioritas dalam kehidupanmasyarakat. Budaya ini selanjutnya melahirkan kekerasan terhadap perempuan karenatelah mengakibatkan munculnya kekuasaan yang didominasi oleh laki-laki. Berangkatdari kenyataan tersebut yang terjadi kemudian adalah munculnya ketimpangan relasiantara laki-laki dan perempuan. Kaum perempuan yang tidak memiliki wewenangatau kekuasaan menjadi kelompok yang subordinatif dan mengalami diskriminasi.Justru dalam situasi budaya seperti inilah perempuan rentan mengalami berbagaibentuk Kekerasan. 32
  33. 33. Selain faktor yang pertama tadi, faktor-faktor apa lagi yang menyebabkanperempuan rentan mengalami kekerasan ?Yang kedua, faktor relasi dalam keluarga. Sistem kemasyarakatan kita pada umumnyamenempatkan peran isteri berada di dunia domestik yang hanya terbatas pada dapur,sumur dan kasur, dengan persepsi bahwa suami sebagai pemimpin atau penguasa. Halini mendorong isteri tergantung pada suami, khususnya secara ekonomi sepenuhnyadibawah kekuasaan suami. Dengan demikian, relasi suami isteri menjadi tidak setaraatau timpang. Dan salah satu akibat dari ketimpangan isteri seringkali diperlakukansemena-mena oleh suaminya. Ketiga adalah faktor individu. Bisa jadi temperamenatau karakter individual menyebabkan seseorang melakukan tindak kekerasan. Halinipun tidak terlepas dari pengaruh lingkungan keluarga. Dapat dipastikan anak-anakyang tumbuh dalam lingkungan kekerasan akan tumbuh menjadi manusia yang kejam;manusia pelaku kekerasan. Faktor keempat, adanya pandangan agama yang biasgender. Hal ini tidak lepas dari akar budaya patriarkhi, yang mempengaruhimasyarakat dalam menafsirkan ajaran agama. Misalnya ayat tentang nusyuz dalam al-Qur‟an membuat banyak yang berkeyakinan bahwa suami sah-sah saja memukulisterinya, padahal jika dipelajari secara seksama justru pesan yang dikandungmenyiratkan perintah agar suami berlaku baik terhadap isteri. Dari ayat tersebut kitasebenarnya bisa mengambil kesimpulan bahwa ada dua tahapan yang harus ditempuhseorang suami yang ingin memperingati isterinya yaitu pertama memberi nasehat dankedua pisah ranjang. Pada kenyataannya dua tahap ini tidak ditempuh oleh suamiyang memukul isterinya.Lalu bagaimana soal tindak kekerasan yang dalam sehari – hari justru takjarang seolah – olah teramini oleh teks – teks agama ?Memang benar sebagian masyarakat seolah mentolelir kekerasan terhadap perempuanterutama perilaku kekerasan suami terhadap isteri dengan “pijakan” teks-teks agamayang ditafsirkan secara bias gender. Tentunya hal ini harus dikoreksi karena akibatnyahanya akan semakin menguatkan mata rantai pelanggengan budaya patriarkhi yangsekaligus membiarkan secara sengaja kekerasan terhadap perempuan khususnyakekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ini seolah menjadi sesuatu yang “lumrah”dan “seharusnya” terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Dalam keseharian tindakankekerasan terhadap isteri kadang justru dinilai sebagai amal shaleh yang berpahalaseperti tindakan melarang isteri keluar rumah, mencari ilmu, silaturahmi, mengajar,melakukan kegiatan sosial, dengan berpijak pada penafsiran teks agama yangmemerintahkan perempuan Islam untuk menetap di rumah. (Al Ahzab : 33).Demikian juga dalam relasi seksual suami isteri. Pemaksaan hubungan seksual olehsuami terhadap isteri tidak dianggap kekerasan, tapi justru dianggap kewajiban isteri.Isteri adalah pelayan hasrat seksual suami yang senantiasa siaga kapan saja, dimanasaja, dan dengan gaya apapun sesuai keinginan suami.Bisakah Anda sebutkan contoh ajaran agama yang dijadikan legitimasikesewenang-wenangan hak seksual suami terhadap istri ?Misalnya Hadis yang menyebutkan “Jika seorang isteri diajak suaminya untukberhubungan, maka hendaklah isteri menurutinya sekalipun di dapur atau di ataspunggung onta”. Selain itu ada juga Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori danMuslim yang mengatakan bahwa “Apabila suami mengajak isterinya ke kasur lalu iamenolak, maka malaikat melaknatnya sampai subuh”. Padahal dalam Islam, hubunganragawi atau seksual ini selalu dilukiskan sebagai salah satu “kesenangan dankenikmatan” dari Allah yang bukan hanya ditujukan kepada laki-laki tapi juga kepadaperempuan. Hubungan seksual dalam Islam, selain untuk memenuhi kebutuhan 33
  34. 34. biologis dan melengkapi hubungan sosial antara suami dengan isteri, juga bernilaiibadah. Bentuk-bentuk kekerasan lain yang seolah dilegitimasi teks agama adalahpraktik kawin paksa, wali mujbir, kekerasan dalam talak, poligami yang tidak adil dantuduhan nusyuz sepihak. Saya berpendapat penyebab terjadinya kekerasan terhadapperempuan sama sekali bukan ajaran agama. Ajaran Islam yang paling mendasarjustru adalah menegakkan keadilan dan kemaslahatan umat. Sehingga sangat tidakmungkin agama yang pada dasarnya mengajarkan nilai-nilai kebaikan, melegitimasikedzaliman terhadap perempuan. Jika hal tersebut terjadi, saya pikir perludipertanyakan, karena hal ini sangat bertentangan dengan prinsip keadilan dankemaslahatan umat. Jadi masalahnya adalah kembali pada bagaimana upaya kitasemua dalam mengeliminasi kesalahpahaman terhadap teks agama tersebut.Sebagai orang yang selama ini aktif di dunia pesantren, bisa Anda ceritakanbagaimana secara kultural pesantren-pesantren memperlakukan perempuan ?Sepanjang yang saya alami dan amati, “perempuan pesantren” nasibnya tidak seburukyang dibayangkan oleh sebagian masyarakat yang menganggap pesantren sebagailembaga yang cenderung memasung hak-hak perempuan. Tidak sedikit perempuanyang hidup di pesantren dapat berperan aktif di ranah publik baik itu sebagai ulama,pendidik, birokrat, aktifis, dsb. Itu artinya perempuan diberi kesempatan yang samadalam pendidikan. Demikian pula dalam relasi keluarga di kalangan Kyai-Nyai. DiTasikmalaya, saya melihat sudah jarang Kyai yang berpoligami. Malahan sekarangsaya lihat kalangan birokrat yang berlomba adu cepat supaya bisa beristeri lebih darisatu (sambil tertawa).Banyak orang yang mencurigai di lingkungan pesantren terjadi praktekkekerasan? Kalau itu benar, bagaimanakah (bentuk) praktek Kekerasan yangselama ini terjadi di lembaga berbasis agama seperti pesantren ?Saya tidak begitu yakin. Tapi memang saya pernah juga mendengar bahwa kalanganpesantren kerap melakukan “tindakan kekerasan” terhadap perempuan. Adapunpraktek kekerasan itu dalam bentuk pembatasan akses dan peran di ranah publik,tuntutan kepatuhan mutlak kepada isteri dalam segala hal lingkup kehidupan rumahtangga, tindak kawin paksa terhadap anak perempuan serta poligami yang tidak adil.Adakah upaya-upaya khusus yang dilakukan oleh PUAN Amal Hayati untukmengatasi tindak kekerasan di sekitar lingkungan pesantren ?Sebagai sebuah lembaga yang didirikan kalangan civitas pesantren dan aktivis sosial,kami selama ini selalu berusaha mengoptimalkan peran pesantren supaya lebih terlibataktif dalam penanganan perempuan korban kekerasan. PUAN Amal Hayati jugasenantiasa melakukan rangkaian aktivitas yang berfungsi sebagai upaya menegakkankeadilan dan pemberdayaan perempuan. Adapun kegiatan – kegiatan ini bisa melaluipendampingan, pengkajian kitab-kitab agama yang sensitif gender, workshop“Pesantren sebagai Pusat Pendampingan Perempuan”, training pendampinganberperspektif gender, training pengelolaan pusat pendampingan perempuan berbasispesantren, reinterpretasi penafsiran dan pemahaman Islam yang patriarkhal, sertasosialisasi pemahaman Islam yang sensitif terhadap perempuan. Pokoknya kamisecara maksimal berusaha menjadikan pesantren sebagai pusat pemberdayaanperempuan.Apakah di PUAN Amal Hayati Cipasung ada divisi khusus yang menangani danmelakukan pendampingan bagi perempuan korban kekerasan ? 34
  35. 35. Untuk kegiatan pendampingan dan penanganan bagi perempuan korban kekerasan,PUAN Amal Hayati memiliki divisi khusus yakni PUSPITA (Pusat PerlindunganWanita). PUSPITA melayani pengaduan dan pendampingan bagi perempuan dan anakyang mengalami kekerasan melalui konseling, mediasi, konsultasi, pendampingankorban ketika berhubungan dengan lembaga terkait (RS, Polisi, PN, PA, Pengacara,dll), serta penyediaan tempat aman sementara (Shelter) bagi korban yang terancamkeselamatannya dan memerlukan perlindungan. Jadi secara umum, PUSPITA serupadengan Women Crisis Center (WCC) baik dari segi pengelolaan maupun tata carakonseling. Namun demikian, PUSPITA sebagai WCC berbasis Pesantren memilikiciri khas, seperti dalam layanan konseling dilengkapi dengan konseling spiritualkeagamaan, dan layanan pendampingan diarahkan pada kesadaran terhadapkesetaraan laki-laki-perempuan melalui pendekatan agama dan didasarkan padapandangan agama. Demikian pula dalam hal pemberdayaan korban diintegrasikandengan kegiatan pesantren baik kegiatan spiritual, keilmuan atau sosial. Hal ini bisadilakukan karena keberadaan shelter terintegrasi dengan fasilitas pesantren. Dansebagai ujung tombak penanganan kasus kekerasan yang dialami perempuan,PUSPITA bekerja sama dengan berbagai pihak terkait seperti RS, Kepolisian, LBH,PA, PN, NGO (Non Government Organisation), CBO (Community BasedOrganisation) dan Pemerintah Daerah. Alhamdulillah jaringan kerja ini sudah berjalanbaik.Bisakah Anda sebutkan jumlah data yang Anda temukan di PUSPITA berkaitandengan masalah kekerasan terhadap perempuan?Sampai saat ini, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang masuk kePUSPITA ada 62 kasus: 47 kasus (77%) KDRT, 4 diantaranya incest; 3 kasus (4%)perkosaan; 14 kasus (9%) traficking. Untuk memberikan informasi seputar masalahKekerasan Terhadap Perempuan (KTP) dan keadilan gender sebagai upayapenyadaran kepada masyarakat, selain dilakukan melalui kegiatan ceramah, seminar,diskusi atau workshop juga melalui penyebaran brosur, leafleat dan factsheet. Selainitu, kami sedang merintis program pemberdayaan ekonomi bagi perempuan korban(survivor) melalui pinjaman modal tanpa bunga dengan cicilannya dibayar sesuaikesanggupan setiap minggu. Tujuannya, agar survivor bisa kembali hidup di tengahmasyarakat secara bermartabat dan mandiri sehingga bisa bangkit dari keterpurukanakibat kekerasan yang dialaminya. Tapi ya,… belum banyak yang kita bantu karenaternyata dalam pelaksanaannya belum begitu lancar. Makanya ketika saya baca disurat kabar tentang Dr. Yunus mendapat anugerah Nobel dengan program Grameen-Banknya, saya sangat bersyukur dan berharap moga-moga saja kita bisa bercermindari pengalaman beliau.Apakah upaya yang dilakukan oleh pesantren dalam mengatasi tindakkekerasan yang terjadi di lingkungannya sendiri maupun di masyarakatsekitarnya?Pesantren sebagai lembaga yang memiliki pengaruh dan daya dukung kuat darimasyarakat serta fasilitas yang dimilikinya berpotensi besar bisa turut berperan aktifmenangani perempuan korban kekerasan. Dengan peran strategi itulah pesantrensebenarnya bisa melakukan upaya-upaya mengatasi maraknya tindak kekerasan.Dalam Hadis Shahih riwayat Bukhori dan Muslim, Rasulullah bersabda : “Tolonglahsaudara yang mendzalimi dan didzalimi”. Hadis di atas dapat memberikan gambaranbahwa kita tidak bisa hanya berfokus pada upaya menolong perempuan yang menjadikorban, tetapi juga bagaimana menumbuhkan kesadaran bagi pelaku agar tidak lagimengulang tindak kekerasannya. Dengan demikian, secara umum ada dua upaya 35
  36. 36. penting yang harus dilakukan pesantren untuk mengeliminasi kekerasan terhadapperempuan, yaitu upaya preventif dan kuratif. Upaya preventif dilakukan untukmengantisipasi agar tindak kekerasan tidak semakin berkembang misalnya pertama,dengan membongkar akar pandangan budaya dan reinterpretasi pandangan agamayang bias gender, yang dengan itu menjadi legitimasi tindak kekerasan terhadapperempuan. Kedua, dengan mengupayakan penyadaran kepada masyarakat agarpeduli terhadap perilaku kekerasan terhadap perempuan, wa bil khusus penyadarankepada pelaku bahwa kekerasan oleh dan terhadap siapapun adalah bertentangandengan moral kemanusiaan serta ajaran agama. Adapun upaya kuratif dilakukan padasaat tindak kekerasan terhadap perempuan sudah terjadi, untuk menolong perempuanyang menjadi korban melalui pelayanan kasus yang menyangkut penanganan fisik,pemulihan psikologis, upaya hukum, penyediaan rumah aman, serta pemberdayaansosial dan ekonomi. Dengan pelayanan ini diharapkan perempuan korban dapatkembali hidup di tengah-tengah masyarakat dengan martabat kemanusiaannya yangutuh.Apa sumbangan pesantren untuk mengatasi KDRT ?Ada beberapa kekuatan pesantren yang bisa disumbangkan dalam mengatasi KDRT.Secara ideal-normatif pesantren mengemban misi amar makruf nahi munkar dansumber nilai-nilai sosial masyarakat. Pada hakekatnya pesantren merupakan lembagapemberdayaan, pembebasan dan pendampingan masyarakat dan kaum yang lemah(mustadh‟afin). Di samping memiliki fungsi edukatif (taswhifiyah), pesantren jugaberperan dalam pengembangan masyarakat (tahwiliyah) dan ta‟yidiyah (pembelaanmasyarakat yang menjadi korban). Pesantren sampai sekarang masih dikenal sebagailembaga keagamaan tradisional yang menjadi bagian masyarakat. Ia menyatu dengankomunitas sosial, dan menjadi problem solver sosial kemanusiaan. Secarainstitusional, pesantren didukung oleh berbagai fasilitas yang dapat dijadikan saranapembentukan Woman Crisis Center (WCC) atau Pusat Perlindungan bagi Wanita(PUSPITA). Sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan, pesantren menjadiwadah yang tepat bagi korban dan anak-anak korban kekerasan. Bila korbannya anakusia sekolah maka ia tidak harus putus sekolah, atau bila seorang ibu yang menjadikorbannya, anak-anaknya yang ia bawa dan kebetulan masih sekolah makasekolahnya bisa terus menimba ilmu dan melanjutkan sekolah secara formal dipesantren.Pesan-pesan Anda terkait dengan Hari Anti Kekerasan Terhadap PerempuanInternasional yang jatuh pada 25 November ?Kekerasan terhadap perempuan mau tidak mau akan berdampak pada kesehatan fisikdan emosional para perempuan dalam waktu yang panjang. Bahkan ini bisa jadi akanmempengaruhi kemampuan perempuan untuk bertindak serta mempengaruhiperkembangan kepribadian dan rasa keamanan diri dan anak-anaknya. Jadi saya pikirsangat wajar jika kekerasan terhadap perempuan dinilai sebagai salah satu bentukkejahatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Melalui peringatan Hari Anti KekerasanTerhadap Perempuan Internasional ini, saya berharap semoga ini bisa menjadimomentum bagi kita dalam mencegah terulangnya berbagai tindakan buruk terhadapperempuan. Sudah seharusnya masalah ini, mendapat perhatian khusus dari semuaelemen masyarakat mengingat dampak yang ditimbulkannya bisa menjadiberpengaruh besar bagi kelangsungan hidup bangsa. Namun satu hal yang harus selaludisadari bahwa sesungguhnya upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuanadalah upaya penegakkan harkat dan martabat kemanusiaan yang tidak hanya sesuaidengan nilai kemanusiaan tetapi juga merupakan tugas agama. Dengan demikian, 36

×