1. konsep dari ki hajar dewatara

19,073
-1

Published on

3 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
19,073
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
324
Comments
3
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

1. konsep dari ki hajar dewatara

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN A. Lagu Himne Guru Pencipta Lirik Lagu : SartonoTerpujilah wahai engkau ibu bapak guruNamamu akan selalu hidup dalam sanubarikuSemua baktimu akan ku ukir di dalam hatikuSebagai prasasti terima kasihkuTuk pengabdianmuEngkau sebagai pelita dalam kegelapanEngkau laksana embun penyejuk dalam kehausanEngkau patriot pahlawan bangsaTanpa tanda jasaKeterangan :Pahlawan tanda jasa adalah sebutan bagi para guru 2
  2. 2. B. Definisi Pendidikana. Definisi Pendidikan Menurut Awam. Menurut Awam : “Pendidikan adalah Suatu cara untuk mengembangkan ketrampilan, kebiasaan dan sikap-sikap yang diharapkan dapat membuat seseorang menjadi warga negara yang baik”.b. Definisi Pendidikan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus B.B.I : “Pendidikan adalah Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran, dan pelatihan”.c. Definisi Pendidikan Menurut Undang-undang. UU SISDIKNAS No. 2 tahun 1989 : “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/ latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang”. UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003 : “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan sepiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.d. Definisi Pendidikan Menurut Bahasa (etimologi). Bahasa Yunani : Berasal dari kata Pedagogi, yaitu dari kata “paid” artinya anak dan “agogos” artinya membimbing. Itulah sebabnya istilah pedagogi dapat diartikan sebagai “ilmu dan seni mengajar anak”. Bahasa Romawi : Berasal dari kata educare, yaitu “mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia”. 3
  3. 3. Bahasa Jerman : Berasal dari kata Erziehung yang setara dengan Educare, yaitu “membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak”. Bahasa Jawa : Berasal dari kata panggu lawentah (pengolahan) mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.e. Definisi Pendidikan Menurut Para Ahli. Ki Hajar Dewantara : “Pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakat”. Carter V. Good : “Pendidikan adalah proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakatnya. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (khususnya di sekolah) sehingga ia dapat mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan kepribadiannya”. Godfrey Thomson : “Pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan yang tepat didalam kebiasaan tingkah lakunya, pikiranya dan perasaannya”. Frederick J. Mc Donald : “pendidkan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk merubah tabiat (behavior) manusia. Yang dimaksud dengan behavior adalah setiap tanggapan atau perbuatan seseorang, sesuatu yang dilakukan oleh sesorang”. D. Marimba : “Pendidikan adalah bimbingan. Pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. 4
  4. 4. S.A. Bratanata dkk : “Pendidikan adalah usaha yang sengaja diadakan baik langsung maupun dengan cara yang tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaan”. Drs. Wasty Soemanto. M.Pd : “Pendidikan adalah proses pembelajaran yang menghasilkan pengalaman yang memberikan kesejahteraan pribadi, baik lahir maupun bathiniah. Girex B : “pendidikan adalah berbagai upaya dan usaha yang dilakukan orang dewasa untuk mendidik nalar peserta didik dan mengatur moral mereka. Dr. Sutari Imam Bernadib : “pendidikan adalah mempelajari suasana dan proses-proses pendidikan. Proses yang dimaksud adalah cara-cara yang dilakukan untuk memperoleh pendidikan secara sistematis dan bertahap”. Dan masih banyak lagi. C. Konsep Pendidikan Menurut Ajaran Ki Hadjar Dewantara (Tamansiswa) Dalam dunia pendidikan, sosok Ki Hadjar Dewatara sebagai BapakPendidikan Nasional bangsa Indonesia ini banyak mengajarkan berbagai hal yangsangat terkenal di bidang pendidikan. Konsep pendidikan nasional yangdikemukakan sangat membumi dan berakar pada budaya nusantara, antara laintutwuri handayani, “tripusat” pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat), tringgo(ngerti, ngroso, nglakoni) (Tauchid, 2004). 1. Sistem Among, Tutwuri Handayani Kata among itu sendiri berasal dari bahasa Jawa, mempunyai maknaseseorang yang bertugas ngemong dan jiwanya penuh pengabdian. Sistem amongsudah dikenal cukup lama di lingkungan Tamansiswa. Sistem among merupakansuatu cara mendidik yang diterapkan dengan maksud mewajibkan kodrat alamanak-anak didiknya. Cara mendidik yang harus diterapkan adalah menyokongatau memberi tuntunan dan menyokong anak-anak tumbuh dan berkembang ataskodratnya sendiri. 5
  5. 5. Sistem among ini meletakkan pendidikan sebagai alat dan syarat untukanak-anak hidup sendiri dan berguna bagi masyarakat. Pengajaran bagiTamansiswa berarti mendidik anak agar menjadi manusia yang merdeka batinnya,merdeka pikirannya, merdeka tenaganya. Guru jangan hanya memberipengetahuan yang baik dan perlu saja, akan tetapi harus juga mendidik murid agardapat mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluanumum. Pengetahuan yang baik dan perlu itu yang bermanfaat untuk keperluanlahir batin dalam hidup bersama. Tiap-tiap guru, dalam pola pikir Ki HadjarDewantara adalah abdi sang anak, abdi murid, bukan penguasa atas jiwa anak-anak (Sudarto, 2008). Di lingkungan Tamansiswa sebutan guru tidak digunakan dan digantidengan sebutan pamong. Hubungan antara pamong dan siswa, harus dilandasicinta kasih, saling percaya, jauh dari sifat otoriter dan situasi yang memanjakan.Dalam konsep ini, siswa bukan hanya objek, tetapi juga dalam kurun waktu yangbersamaan sekaligus menjadi subjek. Ki Hadjar Dewantara menjadikan tutwurihandayani sebagai semboyan metode among. Sudarto (2008) mengutip pendapatKi Soeratman yang menyatakan bahwa sikap tutwuri merupakan perilaku pamongyang sifatnya memberi kebebasan kepada siswa untuk berbuat sesuatu sesuaidengan hasrat dan kehendaknya, sepanjang hal itu masih sesuai dengan norma-norma yang wajar dan tidak merugikan siapa pun. Tetapi kalau pelaksanaan kebebasan siswa itu ternyata menyimpang dariketentuan yang seharusnya, seperti melanggar peraturan atau hukum masyarakathingga merugikan pihak lain atau diri sendiri, pamong harus bersikap handayani,yakni mempengaruhi dengan daya kekuatannya, kalau perlu dengan paksaan dankekerasan, apabila kebebasan yang diberikan itu dipergunakan untukmenyeleweng dan akan membahayakan diri. Jadi, tutwuri member kebebasanpada siswa untuk berbuat sekehendak hatinya, namun jika kebebasan itu akanmenimbulkan kerugian pamong harus memberi peringatan. Handayani merupakansikap yang harus ditaati oleh siswa hingga menimbulkan ketertundukan. Dengandemikian, sebagai subjek siswa memiliki kebebasan, sebagai objek siswamemiliki ketertundukan sebagai kewajibannya. 6
  6. 6. Ki Hadjar memberi kias sistem among dengan gambaran bahwa guruterhadap murid harus berpikir, berperasaan dan bersikap sebagai Juru Taniterhadap tanaman peliharaannya, bukannya tanaman ditaklukan oleh kemauan dankeinginan Juru Tani. Juru Tani menyerahkan dan mengabdikan dirinya padakepentingan kesuburan tanamannya itu. Kesuburan tanaman inilah yang menjadikepentingan Juru Tani. Juru Tani tidak bisa mengubah sifat dan jenis tanamanmenjadi tanaman jenis lain yang berbeda dasar sifatnya. Dia hanya bisamemperbaiki dan memperindah jenis dan usaha-usaha yang mendorong perbaikanperkembangan jenis itu. Juru Tani tidak bisa memaksa tanaman padi mempercepatbuahnya supaya lekas masak menurut kemauannya karena kepentingan yangmendesak, tapi semua itu harus diikuti dengan kesabaran. Oleh sebab itu, JuruTani harus tani harus tahu akan sifat dan watak serta jenis tanaman, perbedaanantara padi dan jagung, serta tanaman-tanaman lainnya dalam keperluan masing-masing agar tumbuh berkembang dengan subur dan hasil yang baik. Juru Taniharus faham akan ilmu mengasuh tanaman, untuk dapat bercocok tanam denganbaik, agar dapat menghasilkan tanaman yang subur dan buah yang baik. MenurutKi Hadjar Dewantara, Juru Tani tidak boleh membeda-bedakan dari mana asalnyapupuk, asal alat kelengkapan atau asalnya ilmu pengetahuan dan sebagainya.Namun, harus dimanfaatkan segala yang menyuburkan tanaman menurut kodratalam. Pamong harus punya karakter seperti Juru Tani ini, tidak membeda-bedakananak didik, tetapi berusaha menciptakan agar anak-anak didiknya itu tumbuhmenjadi anak-anak yang pintar, berjiwa merdeka, tidak bergantung dan berharapbantuan orang lain. Metode atau sistem among ini tampaknya menjadi ciri khas Tamansiswa,kiranya masih relevan untuk masa sekarang ini. Sebab keseimbangan pelaksanaanhak kebebasan dan kewajiban dalam metode tersebut merupakan jaminan adanyaketertiban dan kedamaian, serta jauh dari ketegangan dan anarki. Dalam duniapendidikan anak didik akan tumbuh dan berkembang, seluruh potensi kodratinyasesuai dengan perkembangan alaminya dan wajar tanpa mengalami hambatan danrintangan. Ajaran Ki Hadjar Dewantara ini memberi kebebasan anak didik, yangdiharapkan anak didik akan tumbuh kemampuannya berinisiatif serta kreatif untukmewujudkan eksistensi manusia. 7
  7. 7. Ajaran Ki Hadjar Dewantara selain sistem atau metode among, yaknisistem paguron. Sistem paguron ini dinilai mempunyai kecocokan dengankepribadian di Indonesia. Dalam perkembangannya kita melihat implementasinyamelalui system pendidikan pesantren atau pendidikan asrama. Sistem paguronatau pawiyatan yang digagas beliau, mewujudkan rumah guru atau pamongsebagai tempat yang dikunjungi anak didik. Anak didik itulah yang dititipkanorang tuanya agar memperoleh pendidikan lanjutan yang terarah, terprogram,terkonsep, untuk jenjang kedewasaan yang lebih baik. Sistem paguron ini memiliki perbebedaan dengan sistem sekolah. Padasistem paguron, guru dan anak didik berada pada lokasi yang sama dalamkehidupan sehari-hari, baik saat di sekolah maupun ketika melakukan interaksisetiap harinya, siang, pagi, malam dan berlangsung berbulan-bulan. Sedangkanpada sistem sekolah, guru dan anak didik sama-sama datang ke tempat pendidikandalam waktu kurun tertentu, kemudian kembali ke tempat mereka masing-masing.Sehingga sistem sekolah sifatnya hanya sesaat. Efek paguron lebih baik, karenaantara guru dan anak didik terjadi transformasi kehidupan yang menyentuh,integral, dan sangat efektif. Di dalam paguron dibutuhkan para pendidik yangselain memahami ilmu pengetahuan juga memiliki kepribadian, baik tingkahlakunya, tutur katanya, sehingga menjadi cermin dan panutan. Dengan demikian,anak didik akan mewarisi nilai-nilai kepribadian sang guru. 2. Tringa; Ngerti-Ngrasa-Ngalokoni Lickona (1991) dalam bukunya Educating for Character, menekankanpentingnya diperhatikan tiga komponen karakter yang baik yakni pengetahuantentang moral (moral knowing), perasaan tentang moral (moral feeling) dantindakan moral (moral action). Unsur pengertian moral adalah kesadaran moral,pengertian akan nilai, kemampuan untuk mengambil gagasan orang lain,rasionalitas moral (alasan mengapa harus melakukan hal itu), pengambilantentang keputusan berdasarkan nilai moral, dan pengertian mendalam tentangdirinya sendiri. Segi pengertian atau kognitif ini cukup jelas dapat dikembangkandalam pendalaman bersama di kelas maupun masukan orang lain. Dari segikognitif ini, siswa dibantu untuk mengerti apa isi nilai yang digeluti dan mengapa 8
  8. 8. nilai itu harus dilakukan dalam hidup mereka. Dengan demikian siswa sungguhmengerti apa yang akan dilakukan dan sadar akan apa yang dilakukan. Unsur perasaan moral meliputi suara hati (kesadaran akan yang baik dantidak baik), harga diri seseorang, sikap empati terhadap orang lain, perasaanmencintai kebaikan, kontrol diri, dan rendah hati. Perasaan moral ini sangatmempengaruhi seseorang untuk mudah atau sulit bertindak baik atau jahat; makaperlu mendapat perhatian. Dalam pendidikan nilai, segi perasaan moral ini perlumendapat tempatnya. Siswa dibantu untuk menjadi lebih tertarik dan merasakanbahwa nilai itu sungguh baik dan perlu dilakukan. Unsur tindakan moral adalah kompetensi (kemampuan untukmengaplikasikan keputusan dan perasaan moral dalam tindakan konkret),kemauan, dan kebiasaan. Tanpa kemauan kuat, meski orang sudah tahu tentangtindakan baik yang harus dilakukan, ia tidak akan melakukaknnya. Dalampendidikan karakter, kemampuan untuk melaksanakan dalam tindakan nyata,disertai kemauan dan kebiasaan melakukan moral harus dimunculkan danditingkatkan. Dengan demikian tampak jelas bahwa pendidikan karakterdiperlukan ketiga unsur pengertian, perasaan, dan tindakan harus ada. Pendidikankarakter yang terlalu fokus pada pengembangan kognitif tingkat rendah, perludilengkapi dengan pengembangan kognitif tingkat tinggi sampai subjek didikmemiliki keterampilan membuat keputusan moral yang tepat secara mandiri,memiliki komitmen yang tinggi untuk bertindak selaras dengan keputusan moraltersebut, dan memiliki kebiasaan (habit) untuk melakukan tindakan bermoral. Ki Hadjar mengartikan pendidikan sebagai daya upaya memajukan budipekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup,yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam danmasyarakatnya. Salah satu nilai luhur bangsa Indonesia yang merupakan falsafahpeninggalan Ki Hadjar Dewantara yang dapat diterapkan yakni tringa yangmeliputi ngerti, ngrasa, dan nglakoni. Ki Hadjar mengingatkan, bahwa terhadapsegala ajaran hidup, cita-cita hidup yang kita anut diperlukan pengertian,kesadaran dan kesungguhan pelaksanaannya. Tahu dan mengerti saja tidak cukup, 9
  9. 9. kalau tidak merasakan menyadari, dan tidak ada artinya kalau tidak melaksanakandan tidak memperjuangkannya. Merasa saja dengan tidak pengertian dan tidak melaksanakan,menjalankan tanpa kesadaran dan tanpa pengertian tidak akan membawa hasil.Sebab itu prasyarat bagi peserta tiap perjuangan cita-cita, ia harus tahu, mengertiapa maksudnya, apa tujuannya. Ia harus merasa dan sadar akan arti dan cita-citaitu dan merasa pula perlunya bagi dirinya dan bagi masyarakat, dan harusmengamalkan perjuangan itu. “Ilmu tanpa amal seperti pohon kayu yang tidakberbuah”, “Ngelmu tanpa laku kothong”, laku tanpa ngelmu cupet”. Ilmu tanpaperbuatan adalah kosong, perbuatan tanpa ilmu pincang. Oleh sebab itu, agar tidakkosong ilmu harus dengan perbuatan, agar tidak pincang perbuatan harus denganilmu. Berkenaan dengan pendidikan karakter ini lebih lanjut Suyanto (2010)menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus,yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dantindakan (action). Menurut Thomas Lickona tanpa ketiga aspek ini, makapendidikan karakter tidak akan efektif. Dengan pendidikan karakter yangditerapakan secara sistematis, dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadicerdas emosinya, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Sebab kecerdasanemosi ini menjadi bekal penting dalam mempersiapkan anak masa depan danmampu menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasilsecara akademis. Ada sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal,yaitu : 1) Karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; 2) Kemandirian dan tanggung jawab; 3) Kejujuran/amanah, diplomatis; 4) Hormat dan santun; 5) Dermawan, suka tolong-menolong, dan gotong-royong/kerjasama; 6) Percaya diri dan pekerja keras; 10
  10. 10. 7) Kepemimpinan dan keadilan; 8) Baik dan rendah hati; 9) Karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan. Kesembilan karakter itu, perlu ditanamkan dalam pendidikan holistikdengan menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting thegood. Hal tersebut diperlukan agar anak mampu memahami, merasakan/mencintaidan sekaligus melaksanakan nilai-nilai kebajikan. Bisa dimengerti, jika penyebabketidakmampuan seseorang untuk berperilaku baik, walaupun secara kognitifanak mengetahui, karena anak tidak terlatih atau terjadi pembiasaan untukmelakukan kebajikan. Dalam kurun waktu belakangan ini di Indonesia maraknya peristiwaberbagai tindak kriminalitas, tindak kekerasan, dan beredarnya video porno yangdilakukan oleh beberapa artis merupakan contoh penyimpangan-penyimpanganperilaku amoral. Pendidikan diharapkan dapat memberikan wahana pembelajaranyang memberikan peluang bagi siswa untuk mengembangkan sikap-sikap sepertireligiusitas, sosialitas, gender, keadilan, demokrasi, kejujuran, integritas,kemandirian, daya juang, serta tanggung jawab. Pendidikan karakter, moral danbudaya sebenarnya sudah dirintis oleh Ki Hadjar Dewantara dengan tri pusatpendidikan yang dimulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, danlingkungan sosial. Lingkungan sekolah (guru) saat ini memiliki peran sangat besarpembentukan karakter anak/siswa. Peran guru dalam dunia pendidikan modernsekarang ini semakin kompleks, tidak sekedar sebagai pengajar semata, pendidikakademis tetapi juga merupakan pendidik karakter, moral dan budaya bagisiswanya. Konsep pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara dengan menerapkan“Sistem Among”, “Tut wuri Handayani” dan “Tringa”. Upaya untuk mewujudkan peradaban bangsa melalui pendidikan karakter,budaya dan moral, tentulah sosok Ki Hadjar Dewantara menjadi rujukan utama.Bapak Pendidikan Nasional bangsa Indonesia ini telah merintis tentang konsep tripusat pendidikan yang menyebutkan bahwa wilayah pendidikan guna membangunkonstruksi fisik, mental, dan spiritual yang handal dan tangguh dimulai dari; (i) 11
  11. 11. lingkungan keluarga; (ii) lingkungan sekolah; dan (iii) lingkungan masyarakat.Ketika pendidikan di lingkungan keluarga mulai sedikit diabaikan dandipercayakan pada lingkungan sekolah, serta lingkungan sosial yang semakinkehilangan kesadaran bahwa aksi mereka pada dasarnya memberikan pengaruhyang cukup besar pada pendidikan seorang individu. Maka lingkungan sekolahdalam hal ini guru menjadi frontliner dalam peningkatan mutu pendidikankarakter, budaya dan moral. Sebagai sosok atau peran guru, yang dalam filosofiJawa disebut digugu dan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombakdi kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik. Guru adalah model bagianak, sehingga setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi model ataucontoh baginya. Seorang guru harus selalu memikirkan perilakunya, karena segalahal yang dilakukannya akan dijadikan teladan murid-muridnya dan masyarakat.Sebagai guru dan pendidik diharapkan dan selayaknya memberi teladan bagi anakdidik baik dalam setiap kegiatan yang dilakukan, baik dalam tutur kata dantindakan nyata atau perilaku. Untuk membentuk anak didik yang memiliki karakter yang baik, sebagaiguru/pendidik perlu memberikan teladan dan contoh yang baik. Dunia pendidikandewasa ini masih sering ditemui penyimpangan perilaku dari pendidik yang tidakdapat diteladani. Misalnya tentang kasus pelecehan seksual guru terhadap anakdidiknya, pemukulan guru terhadap muridnya, dan masih ditemui ada guru ataudosen yang bangga dengan predikatnya sebagai guru atau dosen killer. Haltersebut tentunya bertentangan dengan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantaramengenai sistem among, tut wuri handayani, dan tringa yang seharusnyaditerapkan di dunia pendidikan. 12
  12. 12. BAB II PEMBAHASAN PENDIDIKAN KARAKTER A. Pengertian Istilah “karakter” dalam bahasa Yunani dan Latin, character berasal darikata charassein yang artinya ‘mengukir corak yang tetap dan tidak terhapuskan’.Watak atau karakter merupakan perpaduan dari segala tabiat manusia yangbersifat tetap sehingga menjadi tanda khusus untuk membedakan orang yang satudengan yang lain. Menurut Suyanto (2010) karakter adalah cara berpikir danberperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup bekerja sama, baikdalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yangberkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siapmempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Hal ini sebagaimana dituturkan oleh Yaumi (2010), bahwa karaktermenggambarkan kualitas moral seseorang yang tercermin dari segala tingkahlakunya yang mengandung unsur keberanian, ketabahan, kejujuran, dan kesetiaan,atau perilaku dan kebiasaan yang baik. Karakter ini dapat berubah akibatpengaruh lingkungan, oleh karena itu perlu usaha membangun karakter danmenjaganya agar tidak terpengaruh oleh hal-hal yang menyesatkan danmenjerumuskan. Menurut Dewantara (2009) karakter itu terjadi karenaperkembangan dasar yang telah terkena pengaruh ajar. Yang dinamakan ‘dasar’yaitu bekal hidup atau bakat anak yang berasal dari alam sebelum mereka lahir,serta sudah menjadi satu dengan kodrat kehidupan anak (biologis). Sementarakata ‘ajar’ diartikan segala sifat pendidikan dan pengajaran mulai anak dalamkandungan ibu hingga akil baligh, yang dapat mewujudkan intelligible, yaknitabiat yang dipengaruhi oleh kematangan berpikir. Jiwa anak yang baru lahir 13
  13. 13. diumpamakan sehelai kertas yang sudah ditulis dengan tulisan yang agak suram.Padahal pendidikan itu wajib dan harus cakap menebalkan dan menerangkantulisan-tulisan yang suram mengenai tabiat-tabiat yang baik, sehingga tabiat yangtidak baik dapat tertutup dan tidak terlihat karena tidak tumbuh terus. Dalampengertian tersebut dapat diartikan bahwa karakter bangsa merupakan unsurpenting untuk dikembangkan dalam pendidikan yang berlangsung sepanjang hayat(long life education). Ki Hadjar Dewantara mengajarkan sistem Tri Pusat Pendidikan, yaknisekolah, keluarga dan masyarakat. Konsep Tri Pusat ini tidak bisa diabaikan.Sistem pendidikan nasional ini tidak ditempatkan di alam lingkungan sekolahsaja, akan tetapi ada keikut sertaan keluarga dan masyarakat yang membentuksukses dan gagalnya pendidikan nasional. Pendidikan di alam demokrasi, tidakhanya diserahkan pada guru di lingkungan 233 sicitas akademika. Sebabpendidikan yang benar tidak saja mengasah intelektual semata, namun juga rohanikejiwaan anak didik dan fisik kesehatan jasmani. Di lingkungan sekolah, pendidikan diberikan kepada anak didik dalamwaktu terbatas, sehingga terbatas pula waktu bagi para siswa untuk berkomunikasidan berinteraksi dengan guru. Oleh sebab itu, guru harus berkonsentrasi memberiperhatian kepada kepribadian dan fisik anak didik secara terbatas pula. Di dalamlingkungan keluarga, anak sesungguhnya sudah dididik sejak dalam kandungan.Keluarga menjadi kiblat perjalanan dari dalam kandungan sampai tumbuhmenjadi dewasa dan berlanjut di kemudian hari. Di lingkungan masyarakat,karakter dan wawasan serta tingkah laku seseorang akan mencerminkan karakter.Berada pada lingkungan macam apa sehingga anak didik itu otomatis melekatpada akar masyarakat sekitarnya. Integritas kepribadian sang anak akan bisadilihat dari akar sosial lingkungannya. B. Peran Guru dalam Pendidikan Karakter Lingkungan sekolah (guru) saat ini memiliki peran sangat besarpembentukan karakter anak/siswa. Peran guru tidak sekedar sebagai pengajarsemata, pendidik akademis tetapi juga merupakan pendidik karakter, moral dan 14
  14. 14. budaya bagi siswanya. Masyarakat masih berharap para guru dapatmenampilkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai moral seperti kejujuran,keadilan, dan mematuhi kode etik profesional. Lickona (1991), sekolah dan guruharus mendidik karakter, khususnya melalui pengajaran yang dapatmengembangkan rasa hormat dan tanggung jawab. Penanaman dan pengembangan pendidikan karakter di sekolah menjaditanggung jawab bersama. Pendidikan karakter dapat dintegrasikan dalampembelajaran pada setiap mata pelajaran. Setiap mata pelajaran yang berkaitandengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan,dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Pembelajarannilai-nilai karakter ini tidak berhenti pada tataran kognitif, tetapi menyentuh padatataran internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan anak didik sehari-hari di masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan ajaran hidup Ki Hadjar Dewantara,“Tringa” yang meliputi ngerti, ngrasa, dan nglakoni, mengingatkan terhadapsegala ajaran, cita-cita hidup yang kita anut diperlukan pengertian, kesadaran dankesungguhan dalam pelaksanaanya. Tahu dan mengerti saja tidak cukup, kalautidak merasakan, menyadari, dan tidak ada artinya kalau tidak melaksanakan dantidak memperjuangkan. Diibaratkan ilmu tanpa amal seperti pohon kayu yangtidak berbuah. Kegiatan pendidikan dan pembelajaran adalah proses kegiatan interaksiguru/pendidik dengan anak didik/siswa. Pendidik dan guru berperan sebagaimodel pengembang karakter dengan membuat penilaian dan keputusanprofesional yang didasarkan pada kebajikan sosial dan moral. Setiap anak didikmengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model, teladan baginya.Hubungan antara guru atau pendidik dan siswa, harus dilandasi cinta kasih, salingpercaya, jauh dari sifat otoriter dan situasi yang memanjakan. Siswa bukan hanyaobjek, tetapi juga dalam kurun waktu yang bersamaan sekaligus menjadi subjek.Konsep Ki Hadjar Dewantara mengenai tut wuri handayani sebagai semboyanmetode among. “Sistem Among” yaitu cara pendidikan yang dipakai dalamTamansiswa, mengemong (anak) berarti memberi kebebasan anak bergerakmenurut kemauannya, tetapi pamong/guru akan bertindak, kalau perlu dengan 15
  15. 15. paksaan apabila keinginan anak membahayakan keselamatannya. Guruatau pamong wajib mengasuh anak didiknya, mengasah kodrati secara alamiah.Guru wajib mendorong anak didiknya, yakni ing ngarsa sung tuladha, maksudnyabila seseorang atau guru berada di depan diharapkan mampu menjadi teladan ataucontoh yang baik bagi anak buah atau pengikutnya, ing madya mangun karsa,maksudnya posisi seseorang atau guru di level menengah diharapkan mampumenuangkan gagasan dan ide-ide yang baru untuk mendukung program yangditetapkan, tutwuri Handayani berarti pemimpin atau guru mengikuti daribelakang, memberi kemerdekaan bergerak yang dipimpinya, tetapi handayani,mempengaruhi dengan daya kekuatan, kalau perlu dengan paksaan dan kekerasanapabila kebebasan yang diberikan itu dipergunakan untuk menyeleweng dan akanmembahayakan diri. Hakekatnya adalah among dalam perumusan TutwuriHandayani, isinya adalah pemberian kemerdekaan dan kebebasan kepada anakdidik untuk mengembangkan bakat dan kekuatan lahir batin, batas lingkungannyaialah kemerdekaan dan kebebasan yang tidak leluasa, terbatas oleh tuntunankodrat alam yang nyata, dan tujuannya ialah kebudayaan, yang diartikan sebagaikeluhuran dan kehalusan hidup manusia. Doaed Yoesoef (1980) menyatakan bahwa seorang guru mempunyai tigatugas pokok yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan.Tugas-tugas profesional dari seorang guru yaitu meneruskan atau tramisi ilmupengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahuipeserta didik dan seharusnya diketahui oleh peserta didik. Tugas manusiawiadalah tugas-tugas membantu peserta didik agar dapat memenuhi tugas-tugasutama dan manusia kelak dengan sebaik-baiknya. Tugas-tugas manusiawi ituadalah transformasi diri, identifikasi diri sendiri dan pengertian tentang dirisendiri. Guru seharusnya dengan pendidikan mampu membantu anak didik untukmengembangkan daya pikir atau penalaran sedemikian rupa sehingga mampuuntuk turut secara kreatif dalam proses tranformasi kebudayaan ke arah keadabandemi perbaikan hidupnya sendiri dan kehidupan seluruh masyarakat di mana diahidup. Tugas kemasyarakatan merupakan konsekuensi guru sebagai warga negarayang baik, turut mengemban dan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945. 16
  16. 16. Sekolah merupakan wahana pengembang pendidikan karakter memilikiperanan yang sangat penting. Guru dan pendidik mempunyai tanggung jawabyang sangat besar dalam menghasilkan generasi yang berkarakter, berbudaya, danbermoral. Guru merupakan teladan bagi siswa dan mempunyai peran yang sangatbesar dalam pembentukan karakter siswa. Undang-undang no. 14 tahun 2005tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa guru sebagai pendidik professionalmempunyai tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini,pada jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dengan demikian semakin jelas bahwa peran guru dalam dunia pendidikansekarang ini semakin meningkat, kompleks, dan berat. Sisi lain memberikanwacana bahwa guru bukan hanya pendidik akademis, tetapi juga pendidikkarakter, pendidik budaya, dan pendidik moral bagi para peserta didiknya. 17
  17. 17. BAB III KESIMPULAN• Menurut pengertian umum, berdasarkan apa yang kita lihat dalam semua macam pengertian pendidikan itu,maka teranglah bahwa yang dinamakan pendidikan yaitu, tuntunan didalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun maksudnya pendidikan yaitu, menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.• Isi dari lagunya ?• Upaya mewujudkan peradaban bangsa melalui pendidikan karakter bangsa tidak pernah terlepas dari lingkungan pendidikan baik di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Guru memiliki tanggung jawab besar dalam menghasilkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral. Dewasa ini, tuntutan dan peran guru semakin kompleks, tidak sekedar sebagai pengajar semata, pendidik akademis tetapi juga merupakan pendidik karakter, moral dan budaya yang berlaku di Indonesia. Guru diharapkan menjadi model dan teladan bagi anak didiknya dalam mewujudkan perilaku yang berkarakter yang meliputi olah pikir, olah hati dan olah rasa. Untuk mewujudkan manusia Indonesia yang berkarakter kuat, perlu kiranya diterapkan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara dengan sistem among, tut wuri handayani dan tringa.• Istilah “karakter” dalam bahasa Yunani dan Latin, character berasal dari kata charassein yang artinya ‘mengukir corak yang tetap dan tidak terhapuskan’. Watak atau karakter merupakan perpaduan dari segala tabiat manusia yang bersifat tetap sehingga menjadi tanda khusus untuk membedakan orang yang satu dengan yang lain. Menurut Suyanto (2010) 18
  18. 18. karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup bekerja sama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.• Ki Hadjar Dewantara mengajarkan sistem Tri Pusat Pendidikan, yakni sekolah, keluarga dan masyarakat.• Lingkungan sekolah (guru) saat ini memiliki peran sangat besar pembentukan karakter anak/siswa. Peran guru tidak sekedar sebagai pengajar semata, pendidik akademis tetapi juga merupakan pendidik karakter, moral dan budaya bagi siswanya.• Kegiatan pendidikan dan pembelajaran adalah proses kegiatan interaksi guru/pendidik dengan anak didik/siswa.• Doaed Yoesoef (1980) menyatakan bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan. Tugas-tugas profesional dari seorang guru yaitu meneruskan atau tramisi ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui peserta didik dan seharusnya diketahui oleh peserta didik. Tugas manusiawi adalah tugas-tugas membantu peserta didik agar dapat memenuhi tugas-tugas utama dan manusia kelak dengan sebaik-baiknya. Tugas kemasyarakatan merupakan konsekuensi guru sebagai warga negara yang baik, turut mengemban dan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945. 19
  19. 19. DAFTAR PUSTAKADewantara, Ki Hadjar. 2009. Menuju Manusia Merdeka.Yogyakarta : Leutika.Williams, Russell.T. & Ratna Megawangi.2010. DampakPendidikan Karakter terhadap Anak.http://www.pondokibu.com/parenting/penddikananak/dampakpendidikan-karakter-terhadap-anak. Diunduh pada20 Mei 2010.Dewantara, Ki Hadjar.1997. Karya Ki HadjarDewantara_Pendidikan. Yogyakarta : Majlis Luhur PersatuanTaman Siswa.Ki Boentarsono.1983. Pengantar PendidikanKetamansiswaan. Yogyakarta : Pamong Tamansiswa Jetis.www.google.com. 20
  20. 20. 21

×