Pengembangan Masyarakat
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Pengembangan Masyarakat

on

  • 15,880 views

 

Statistics

Views

Total Views
15,880
Views on SlideShare
15,880
Embed Views
0

Actions

Likes
4
Downloads
294
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Pengembangan Masyarakat Pengembangan Masyarakat Presentation Transcript

    • TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM : Setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan mampu melakukan proses-proses pengembangan masyarakat dalam konteks pembangunan seutuhnya. PENDAHULUAN MODUL AJAR PENGEMBANGAN MASYARAKAT LATAR BELAKANG : Adanya perubahan paradigma pembangunan. Perlu jembatan penghubung tiga pilar pembangunan (pemerintah, masyarakat, dan swasta). Perlu model perkuliahan Pengembangan Masyarakat yang berisikan metode dan teknik pengembangan masyarakat. Memberikan panduan praktis kepada mahasiswa
    • ANALISA INSTRUKSIONAL Komunitas / Masyarakat ? Makna Pembangunan Model Pembangunan Proses Pembangunan Masyarakat sebagai fokus pembangunan Model Pelibatan a Model Pelibatan b-n Teknik Pelibatan a Teknik Pelibatan b-n Program Pemerintah dalam Pengembangan Masyarakat Bunga Rampai Pengembangan Masyarakat
    • BAGIAN PERTAMA MASYARAKAT DAN KOMUNITAS PEMBAHASAN AKAN DILAKUKAN PADA PENGERTIAN KOMUNITAS DAN MASYARAKAT Masyarakat adalah sekumpulan makhluk sejenis, sedangkan komunitas adalah sekumpulan makhluk sejenis yang memiliki ciri-ciri yang relatif sama (seragam). Masyarakat Indonesia jika dipandang dari berbagai agama yang dianut (dipeluk) dapat disebut terdiri dari berbagai komunitas. Misalnya, komunitas Islam, komunitas Kristen, komunitas Hindu, dan sebagainya. Masyarakat Islam Indonesia misalnya, terdiri dari berbagai komunitas, yaitu Komunitas Nahdatul Ulama, Komunitas Muhammadiyah, Komunitas Wahidiyah, dan sebagainya.
      • Pengertian komunitas dan masyarakat;
      • Karakteristik penting komunitas;
      • Dinamika kelompok dan komunitas.
    • ILUSTRASI
      • Komunitas menurut Cohen melibatkan dua relasi, yaitu pertama, anggota suatu kelompok yang memiliki kesamaan satu sama lain, dan kedua, sesuatu kebersamaan yang membedakan mereka secara signifikan dari anggota-anggota kelompok yang lain (Cohen 1985 : 12, dalam Smith (2001,2002))
      • Komunitas menurut (Willmott 1986; Lee and Newby 1983; and Crow and Allen 1995 dalam Mark K. Smith). ditentukan oleh tiga variabel
      • Pendekatan Tempat. Teritori atau tempat komunitas dapat dilihat sebagai dimana orang memiliki sesuatu di dalam kebersamaan, elemen untuk saling berbagi ini dipahami secara geografis. Dalam peristilahan lain dinamakan lokalitas ( locality) . Pendekatan ini telah meluas dalam literatur yang kaya mengenai studi komunitas dan studi lokalitas, terutama berfokus pada pembagian kerja spasial ( spatial division of labour) .
      2. KARAKTERISTIK PENTING KOMUNITAS
    • 2. KARAKTERISTIK PENTING KOMUNITAS
      • Pendekatan Kepentingan. Orang-orang di dalam komunitas kepentingan berbagi karakteristik bersama lebih dari sekedar tempat. Mereka terkait satu sama lain karena faktor seperti kepercayaan beragama, pekerjaan, atau asal etnik. Misalnya komunitas Islam, komunitas China, komunitas Melayu. Konsep identitas ini memainkan peran penting dalam memahami konsep ruang dalam bentuk non ruang.
      • Pendekatan Komuni. Pendekatan ini merupakan suatu sense atau rasa yang menyertai tempat, kelompok, atau ide. Dengan kata lain, dinamakan spirit komunitas. Bentuk paling kuat dari komunion menyandarkannya, tidak hanya dalam hubungan dengan orang lain, tetapi dalam hubungan dengan Tuhan dan Penciptaan. Contohnya adalah communion of saints dari komunitas kristen.
    • 2. KARAKTERISTIK PENTING KOMUNITAS
      • Komunitas, menurut Frazer, Frazer memberi atribut nilai-nilai atau value terhadap komunitas (Frazer 2000 : 76 dalam Mark K. Smith). Beberapa elemen value biasanya digunakan untuk menciptakan kebersamaan, misalnya solidaritas, komitmen, mutualitas, dan trust atau kepercayaan. Nilai yang paling ideal adalah seperti yang ditunjukkan para pejuang dalam Revolusi Perancis, yaitu fraternity atau persaudaraan atau dalam bahasa William Morris disebutnya sebagai fellowship.
    • 3. DINAMIKA KELOMPOK DAN KOMUNITAS
      • DINAMIKA KELOMPOK
      • Kelompok merupakan elemen pembentuk komunitas. Kelompok terdiri atas individu-individu. Pengidentifikasian kelompok penting di dalam program pemberdayaan masyarakat karena membangun kelompok lebih strategis daripada membangun komunitas secara umum ataupun daripada menangani individu-individu satu demi satu secara langsung. Bagi para fasilitator komunitas atau community organizer, kelompok merupakan medium strategis sebagai tempat untuk mengerahkan energi pemberdayaan.
      • Kelompok memainkan peran penting karena tiga alasan, yaitu :
      • Pertama, kelompok sebagai agen kebudayaan. Dalam kelompok, seorang individu mendapat arahan tingkah laku berdasar pada nilai dan norma yang berlaku dalam komunitas. Di pihak lain, perubahan nilai dan norma komunitas selalu dimulai dari suatu kelompok.
      • Kedua, kelompok merupakan mediasi antara individu dengan komunitasnya. Individu mampu memuaskan kebutuhan-kebutuhan sosialnya melalui keanggotaannya dalam suatu komunitas tertentu.
      • Ketiga, perilaku kelompok lebih mudah dipelajari untuk kemudian diarahkan pada perubahan, dibanding dengan mempelajari dan mengubah tingkah laku komunitas secara makro.
      • Dinamika kelompok menjelaskan bagaimana proses-proses mulai terbentuknya suatu kelompok mekanisme hubungan yang terjadi di antara anggotanya, hingga mekanisme untuk mempertahankan identitas terjadi.
      • Menurut Barry Tuckman : Tahap pembentukan kelompok adalah :
      • identifikasi jati diri dan eksistensi yang jelas (pembentukan)
      • Pengembangan kelompok (krisis)
      • Tahap pengaturan (normalisasi)
      • Tahap eksistensi dan pengakuan (prestasi)
    • Pentingnya suatu tugas dan kelayakan pelaksanaannya dipertanyakan oleh anggota. Anggota bereaksi secara emosional terhadap tuntutan tugas yang diberikan kepadanya. Konflik muncul antarkelompok atau antarotoritas di dalam kelompok. Kemampuan pemimpin sedang diuji. Pendapat anggota terpecahkan. Anggota bereaksi menentang keputusan kelompok atau pemimpin yang berusaha mengendalikannya.
      • Dicirikan oleh konflik dan tidak ada persatuan.
      • Aturan dasar tentang tujuan, kepemimpinan, perilaku dilanggar.
      • Individu saling bermusuhan, individualitas, dan menonjolkan agenda pribadi.
      • Perselisihan meningkat, aturan dilanggar, konflik/ perbantahan.
      • Bila berhasil diatasi, tahap ini mengarah pada suasana baru dan lebih realistis dalam norma, sasaran, dan prosedur.
      Krisis Belum jelasnya tugas kelompok, dimana anggota masih mencari jawaban dan pertanyaan pokok tersebut, bersamaan dengan adanya pencarian tentang aturan mteode apa yang akan digunakan. Kekhawatiran muncul yang bersumber dari situasi apa yang sedang dihadapi, apa yang bisa dilakukan pemimpin kelompok, dan tingkah laku apa yang tepat dan tidak tepat.
      • Belum berupa kelompok, masih kumpulan individu.
      • Individu ingin menetapkan identitas pribadi dalam kelompok dan membuat kesan.
      • Partisipasi sebatas individu yang telah akrab dengan suasana.
      • Individu mulai memusatkan pada tugas yang ada dan mendiskusikan tujuan.
      • Kelompok mulai membicarakan aturan, keputusan, dan tindakan mendatang.
      Pembentukan PERSOALAN DALAM KEGIATAN KELOMPOK PERSOALAN DALAM STRUKTUR KELOMPOK CIRI TAHAPAN KELOMPOK
    • Kerja kelompok sudah terlihat hasilnya. Kemajuan telah dirasakan sebagai pengalaman bersama. Energi individu telah dianggap sebagai energi kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Karakteristik kelompok telah diterima secara sukarela dan tidak dipersoalkan lagi. Struktur kelompok sudah menjadi dasar pengerjaan tugas-tugas. Peran anggota satu sama lainnya dilihat sebagai cara mencapai tujuan. Dan adanya toleransi terhadap perbedaan.
      • Kematangan dan produktivitas maksimum.
      • Dicapai jika tahap sebelumnya terlampaui.
      • Anggota mengambil peran masing-masing.
      • Energi disalurkan dalam tugas yang teridentifikasi.
      • Pemahaman, wawasan, dan solusi muncul.
      Prestasi Kerjasama dalam bertugas mulai terbangun. Perencanaan telah dibuat dan kerja-kerja telah dijalankan berdasarkan standar yang telah disepakati. Komunikasi berbagai pandangan tercipta. Telah ada pengalaman berbagi emosi, baik dalam pekerjaan atau hal lainnya. Kelompok dimulai menemukan keharmonisan, pengalaman berkelompok sudah menjadi modal kekompakan untuk pertama kalinya. Pengangan apa yang tepat dilakukan, sudah ditemukan mayoritas anggota. Telah muncul saling mendukung dalam kerja satu sama lain.
      • Konflik dan tidak adanya persatuan.
      • Saling menerima kekurangan anggota kelompok.
      • Persatuan berkembang dan dipertahankan.
      • Semangat kelompok dan keselarasan menjadi hal penting.
      Normalisasi
      • DINAMIKA KOMUNITAS
      • Mark K. Smith dalam makalahnya yang mengupas tentang komunitas mengemukakan bagaimana proses pembentukan jejaring membentuk suatu sistem sosial lokal yang memperkuat hubungan di antara para anggota komunitas. Kemudian melalui pendapat beberapa peneliti, Smith menyebutkan beberapa indikasi yang menunjukkan tingkat kualitas hubungan di dalam komunitas. Smith juga mengemukakan bagaimana suatu komunitas menjadi lebih kuat, survive di dalam persoalan mereka, menemukan jati diri dan rasa memiliki, salah satunya adalah jika komunitas memiliki apa yang disebutnya sebagai social capital.
    • 1. Jejaring Komunitas
      • Wenger mengidentifikasi lima jenis jejaring, yaitu:
      • Jejaring yang mendukung ketergantungan keluarga secara lokal. Terutama pada rumah tangga yang hidup bersama pada lokalitas tertentu.
      • Jejaring yang mendukung integrasi lokal. Terdiri dari keluarga, pertemanan, dan pertetanggaan secara lokal.
      • Jejaring yang mendukung kemandirian lokal. Biasanya dibatasi oleh skala, dan terdiri dari kelompok pertetanggaan utama. Bentuk ini biasanya tidak terlalu melibatkan hubungan keluarga.
      • Jejaring yang mendukung komunitas lebih luas yang terfokus. Melibatkan aktivitas-aktivitas komunitas pada tingkat tinggi, dan terdiri dari sejumlah besar pertemanan dan keluarga.
      • Jejaring yang mendukung kelompok privat terbatas. Dikarakterkan oleh ketiadaan hubungan keluarga, dan lebih sedikit hubungan ketetanggaan dan pertemanan.
    • Perubahan komposisi jejaring dilihat dengan menggunakan tiga kriteria, yaitu adanya kedekatan keluarga, tingkat keterlibatan dalam keluarga, teman ataupun tetangga, dan tingkat interaksi secara sukarela di dalam anggota komunitas
      • Gagasan mengenai jejaring sosial ini dianggap penting oleh para ahli sosiologi. Hal ini karena sebelumnya, komunitas dianggap sebagai ide yang tidak memiliki konsep sehingga pendekatan yang dilakukan para ahli lebih kepada identifikasi sistem sosial lokal. Jejaring sosial dapat dipetakan dan terukur. Koneksitasnya, atau disebut juga kerapatan atau kualitas jejaring merupakan aspek kunci yang membantu menjelaskan dan menggambarkan pengalaman orang-orang, sehingga mampu mendeskripsikan gagasan dan konsep komunitas.
      • Apa yang dinamakan komunitas bagi seseorang, menurutnya, adalah suatu jejaring yang paling sering mereka masuki
    • 2. Kualitas hubungan komunitas
      • Terdapat nilai-nilai dalam komunitas yang menentukan kualitas kehidupan mereka, yaitu apa yang harus mereka miliki dan apakah setiap individu mengambilnya sebagai nilai individu mereka. Nilai-nilai ini adalah:
      • Toleransi , yaitu keterbukaan terhadap yang lain, respek, dan kemauan untuk mendengar dan belajar.
      • Kepercayaan, yaitu suatu keyakinan ekspektasi bahwa orang lain, lembaga, dan segala sesuatu, akan berperikaku konsisten, jujur, dan dengan cara yang semestinya. Terkait erat dengan norma resiprositas dan keterkaitan antarwarga. Kepercayaan sosial membuat orang saling bekerjasama dan saling membangun.
      • Resiprositas, yaitu yaitu suatu keyakinan, jika kita melakukan sesuatu untuk orang lain, tanpa berekspektasi atau mengharapkan balasan, tetapi terdapat suatu keyakinan orang lain akan membalas kebaikan tersebut. Dalam jangka pendek hal ini berarti altruisme, dan dalam jangka panjang terdapat unsur kepentingan pribadi.
    • BAGIAN KE DUA PEMBANGUNAN DALAM PERSPEKTIF, PROSES, MODEL DAN PERAN MASYARAKAT PEMBAHASAN AKAN DILAKUKAN PADA
      • Makna pembangunan.
      • Model-moded pembangunan.
      • Konsep Modal sosal
      • Pengembangan masyarakat dalam konteks pembangunan di era otonomi daerah.
      DUA PERSPEKTIF TERHADAP PEMBANGUNAN
      • Persfektif Traditional Economic Measures lebih menekankan pada pertumbuhan
      • Persfektif The New Economic View of Dev’t tidak hanya menekankan pada pertumbuhan, tetapi melibatkan kriteria kemiskinan, pengangguran,dan distribusi pendapatan
    • FORMULASI PEMBANGUNAN MELALUI BEBERAPA PERTANYAAN SEBAGAI BERIKUT (TODARO, DUDLEY SEERS: 1981):
      • Apakah taraf kehidupan telah meningkat yang diindikasikan pada indikator kemiskinan, tingkat pernyebaran pendapatan, tingkat pekerjaan, kualitas dan kuantitas pendidikan, kesehatan, dan peningkatan fasilitas dan pelayanan sosial lainnya ?
      • Apakah peningkatan ekonomi telah meningkatkan kehormatan suatu individu maupun kelompok tertentu baik di lingkungannya, di masyarakatnya, di negaranya, maupun antar negara ?
      • Apakah peningkatan ekonomi telah memperluas pula pilihan-pilihan manusia dan membebaskan orang dari ketergantungan terhadap pihak lainnya ?
      • life sustenance , diartikan sebagai adanya kemampuan dari seluruh masyarakat suatu wilayah dalam memenuhi kebutuhan pokok.
      • self esteem , yaitu bagaimana seseorang sebagai subjek dan objek pembangunan ini memiliki penghargaan atas dirinya sendiri. Penghargaan ini dapat diciptakan dengan tidak menghancurkannya nilai-nilai lokal suatu daerah.
      • freedom yaitu adanya kebebasan melakukan pilihan-pilihan ekonomi . Freedom diartikan sebagai tidak teraleniasinya seseorang dari kehidupannya, alamnya, pembedaan gender, kesusahan, maupun institusi yang melingkupinya
      TUJUAN PEMBANGUNAN ADALAH : BEBERAPA MODEL PEMBANGUNAN ADALAH :
      • Model tahapan pengembangan wilayah.
      • Model Kutub Pertumbuhan.
      • Model Pengembangan Agropolitan.
      • Model Interaksi Keruangan.
    • PENGERTIAN MODAL SOSIAL (Francis Fukuyama) sebagai sebuah norma yang terbentuk secara informal yang mendorong kerjasama antara dua atau lebih individu. (James Coleman) sebagai sumberdaya yang lahir dari kumpulan suatu ikatan sosial tertentu. (World Bank) menunjuk kepada lembaga-lembaga, hubungan-hubungan dan norma-norma yang membentuk kualitas dan kuantitas dari interaksi sosial masyarakat COMMUNITY DEV’T DAN MODAL SOSIAL
      • CD merupakan aktivitas transformasi ide/gagasan/sosial,
      • CD mentransformasikan nilai atau perilaku,
      • CD melibatkan partisipasi aktif masyarakat,
      • CD melakukan pengambilalihan, penyediaan, penambahan dan penguatan asset bagi masyarakat dan
      • CD melakukan perubahan pola pikir, pola sikap dan pola tindak ke arah yang lebih produktif dan mandiri
    • BAGIAN KE TIGA MASYARAKAT SEBAGAI FOKUS PEMBANGUNAN
      • PEMBAHASAN AKAN DILAKUKAN PADA :
      • Fokus Masyarakat Dalam Pembangunan
      • Makna Pemberdayaan, Pengembangan, dan Partisipasi Masyarakat
      • Konsep dan Model Community Based Development (Pembangunan Berbasis Masyarakat).
    • 1. Fokus Masyarakat dalam Pembangunan
      • Pembangunan berarti menaruh kepercayaan kepada masyarakat untuk membangun dirinya sendiri sesuai dengan kemampuan yang ada padanya. Kepercayaan ini dinyatakan dalam bentuk kesempatan yang sama, kebebasan memilih, dan kekuasaan untuk memutuskan (empowerment)
      • Dalam proses pembangunan, masyarakat harus dipercaya “membangun dirinya sendiri” sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ini berarti masyarakat merupakan aktor atau pelaku dalam pembangunan. Pandangan yang menempatkan masyarakat sebagai “subjek” pembangunan sesungguhnya baru muncul pada dekade 1970-an, dimana dipercayai terjadinya perubahan pendekatan dalam pembangunan.
      • Perubahan paradigma pembangunan tersebut menekankan pada pentingnya nilai-nilai kemanusiaan sehingga peran dan kedudukan manusia menjadi aspek penting yang tidak dapat diabaikan dalam proses pembangunan.
      • Prof. Ir. Johan Silas dalam salah satu makalahnya [1] , mengemukakan terjadinya pergeseran paradigma pembangunan, dari people centered development kepada people based development. Kedua paradigma ini berbeda secara esensial. Paradigma pertama, pembangunan yang berpusat masyarakat menempatkan pembangunan agar hasil-hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat. Artinya pembangunan itu untuk masyarakat. Masalah siapa yang memiliki ide membangun, apa yang dibangun, bagaimana proses dibangun, tidak dipersoalnya, yang penting hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat. Hal ini, walaupun telah menempatkan aspek kemanusiaan di dalam pembangunan, belum menjamin keberhasilan pembangunan. Karena program pembangunan yang berjalan, hasil pelaksanaannya masih diukur dari sisi akuntabilitas dan administratif ketimbang akuntabilitas dampaknya terhadap masyarakat. Pembangunan berjalan, tetapi kemiskinan tetap merajalela. Sementara, paradigma kedua, community based bermakna bersama masyarakat. Artinya, masyarakat harus terlibat secara aktif dalam prosesnya. Pembangunan menuntut tanggung jawab bersama, dan masyarakat juga menjadi pihak yang memiliki peran, dan diberi kepercayaan untuk melaksanakan apa yang menjadi aspirasinya. Paradigma yang kedua ini diakomodasikan dalam konsepsi pembangunan partisipatif atau pembangunan yang bersifat bottom up.
      • [1] Prof. Ir. Johan Silas, Penataan dan Pembangunan Kota dalam Penyelesaian Masalah Kemiskinan, disampaikan pada Diskusi Bulanan PDPP – Kelompok Kerja PDPP FTSP ITS pada 30 Agustus 2003 di Surabaya.
    • 2. Makna Pemberdayaan, Pengembangan, dan Partisipasi Masyarakat
      • Secara umum, istilah pemberdayaan haruslah memiliki pemahaman sebagai berikut: [1]
      • konsep kekuatan/daya;
      • upaya memberi kekuatan/daya kepada seseorang atau kelompok orang yang tidak memilikinya;
      • mengijinkan orang atau kelompok orang untuk menerima, memiliki, dan menggunakan kekuatan/daya;
      • mendistribusikan kembali kekuatan/daya dair pihak yang memiliki kepada yang tidak memiliki;
      • ada pihak yang memberi kekuatan/daya dan ada yang menerimanya;
      • ada strategi, metoda, dan substansi pemberdayaan.
      • [1] Pelatihan Dasar Pemberdayaan Masyarakat (2003), Materi Pengertian Dasar Pemberdayaan Masyarakat oleh Corporate Forum for Community Development.
    • Makna Pengembangan Masyarakat
      • Istilah pengembangan masyarakat juga mengemuka dalam paradigma pembangunan yang bersifat bottom up. Pengembangan masyarakat [1] menunjuk pada adanya usaha guna mengembangkan atau menaikkan kualitas hidup. Istilah ini umumnya digunakan dalam pemahaman yang lebih sempit, yaitu untuk menerima masukan stimulan dari luar ke dalam lingkungan suatu komunitas dengan tujuan mendorong dan membantu pendayagunaan sumber lokal guna meningkatkan taraf hidup.
      • [1] Pelatihan Dasar Pemberdayaan Masyarakat (2003), Materi Metode-Metode Partisipatif dalam Pengembangan Masyarakat oleh Corporate Forum for Community Development.
      • Diana Conyers [1] mengemukakan tiga komponen pengembangangan masyarakat. Pertama, adanya fugnsi kemandirian, termasuk sumber dan tenaga setempat serta kemampuan manajemen lokal. Kedua, penekanan pada penyatuan masyarakat sebagai satu kesatuan, terlihat dari adanya pembentukan organisasi lokal termasuk lembaga yang bertanggung jawab atas masalah administrasi suatu lembaga masyarakat. Ketiga, keyakinan mengenai situasi dan arah perubahan sosial serta masalah yang ditimbulkannya [1] Conyers, Diana (1994), Perencanaan Sosial di Dunia Ketiga, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
    • Makna Partisipasi Masyarakat
      • Istilah partisipasi adalah pelibatan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, serta pengawasan pembangunan. Secara khusus, terdapat tipe definisi partisipasi yang berbeda [1] . Pertama, adalah definisi dari para perencana pembangunan formal. Partisipasi diartikan sebagai dukungan masyarakat, dimana ukuran yang menyatakan tinggi rendahnya adalah kemauan masyarakat untuk ikut menanggung biaya pembangunan, baik uang maupun tenaga. Definisi ini dari sudut pandang sosiologis, sebenarnya tidak dapat dikatakan partisipasi, melainkan hanya mobilisasi masyarakat yang hanya dapat mengatasi permasalahan pembangunan dalam jangka pendek. Definisi kedua berlaku lebih universal, yaitu partisipasi merupakan kerjasama yang erat antara perencana dengan masyarakat dalam merencanakan, melaksanakan, melestarikan, dan mengembangkan hasil pembangunan yang telah dicapai. Ukuran tingkat partisipasi menurut definisi ini adalah ada tidaknya kemauan masyarakat untuk secara mandiri melestarikan dan mengembangkan hasil pembangunan.
      • [1] Sangadji, S, S. Sos, MT, Intervensi Komunitas dalam Pembangunan Partisipatif, dalam Renbang Sidoarjo Vol. 01/No. 01/2003 hal. 7 – 8.
    • 3. Konsep dan Model CBD
      • Bila dicermati secara teliti substansi utama dari konsep CBD, maka terlihat dengan jelas bahwa dasar filosofis yang dimiliki tidak lain adalah untuk mendudukkan masyarakat ( society ) tidak saja sebagai “objek”, tetapi juga sebagai “subjek” dari pembangunan. Dengan dasar filosofis seperti ini, dapat dimengerti bila kemudian konsep CBD sangat menekankan pentingnya partisipasi masyarakat, baik pada proses perumusan program pembangunan, maupun pada tahap implementasinya. Pertimbangan akademis atas pentingnnya partisipasi masyarakat tersebut adalah, hanya dengan mendudukkan masyarakat sebagai subjek pembangunanlah, akan tercipta apa yang disebut development for society (pembangunan untuk masyarakat). Begitu juga sebaliknya, yaitu jika masyarakat hanya difungsikan sebagai objek, maka hasil akhir yang akan dituai lebih pada society for development (masyarakat untuk pembangunan).
      • Secara konseptual, sedikitnya terdapat lima prinsip dasar konsep CBD.
      • Pertama, untuk mempertahankan eksistensinya, CBD memerlukan break even dalam setiap kegiatan yang dikelola. Namun, berbeda dengan organisasi bisnis, kendati pemungutan “ fee ” telah menjadi pertimbangan dalam CBD, tetapi keuntungan yang diperoleh harus dapat didistribusikan kembali kepada masyarakat dalam bentuk program atau kegiatan pembangunan lainnya. Secara spesifik, Rubin [1] menyatakan bahwa: To remain solvent, CBDOs need to break even in their work, but unlike for profit companies, it tries to ensure that at least some of the benefits redound to the poor and support a broader community renewal.
      • Kedua, konsep CBD selalu melibatkan partisipasi masyarakat, baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan program; (CBDOs encourage community members to share in the self esteem that occurs as a neighbourhood that other have abandoned takes on a new life) (Rubin, 1993:432).
      • Ketiga, dalam melaksanakan CBD antara kegiatan pelatihan dan pembangunan fisik misalnya kegiatan pengembangan usaha, merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
      • Keempat, dalam mengimplementasikan CBD harus dapat memaksimalkan sumberdaya khususnya dalam hal dana, baik yang berasal dari pemerintah, swasta, maupun sumber-sumber lain, misalnya donasi dari sponsor pembangunan sosial.
      • Kelima, CBD harus lebih memfungsikan diri sebagai catalist yang menghubungkan kepentingan pemerintah yang bersifat makro dan kepentingan masyarakat yang bersifat lebih mikro. [1] Herbert J. Rubin (1993 : 431), Understanding The Etos of Community Based Development dalam Hidayat (2001) .
      3. Konsep dan Model CBD
    • Contoh Kasus Implementasi Konsep CBD dalam Pengembangan Ekonomi Rakyat
      • Lima tahap CBD dalam Pengembangan Ekonomi Rakyat:
      • Seleksi jenis usaha
      • Studi kelayakan usaha
      • Rekruitmen binaan
      • Pelatihan
      • Bantuan modal usaha
      • Pembinaan pasca proyek
    • BAGIAN KEEMPAT TEKNIK-TEKNIK PENDAMPINGAN MASYARAKAT TUJUAN INSTRUKSIONAL: Setelah mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mengetahui model-model pendampingan yang dapat diterapkan dalam proses pengembangan masyarakat, sehingga jika saat berperan menjadi pendamping ataupun fasilitator pada proses pengembangan masyarakat, mahasiswa dapat menerapkan model yang paling sesuai dengan karakteristik masyarakat yang dihadapinya.
    • Environmental Scanning Bagian dari perencanaan strategis yang memberikan bekal kemampuan untuk menjelajahi keseluruhan daur ulang program bagi semua stakeholders. Komponen ini sangat esensial dalam proses pendampingan, karena keseluruhannya merupakan titik tolak kegiatan ke depan. Oleh karena itu, ES lebih berfokus pada penelaahan situasi lingkungan.
          • PENDEKATAN ENVIRONMENTAL SCANNING :
      • - Strategic Scenarios Analysis (SSA)
      • - Customer Analysis (CA)
      • - Critical Strategic Issues (CSI)
    • Metode Logical Framework Approach (LFA) Metode pendampingan dalam pengembangan masyarakat yang dilaksanakan dalam suatu lokakarya ( workshop ) secara bertahap dan berkesinambungan, yang diterapkan dalam suatu kelompok yang mewakili semua stakeholder yang terkait dengan program yang direncanakan (seperti program pengembangan komunitas).
          • PENDEKATAN LFA :
        • - Analisis Keadaan
        • - Rancangan Implementasi Aksi.
        • - Rancanan Pelaksanaan Aksi
        • - Rancanan Pengendalian Aksi
        • PARTICIPATORY IMPACT MONITORING (PIM)
      • PIM merupakan alat analisis baru untuk mengelola suatu program, yang didesain untuk proyek-proyek dalam bentuk kelompok atau organisasi yang mandiri, termasuk organisasi masyarakat. Peran pendamping dalam metode PIM adalah memfasilitasi terwujudnya PIM dalam proyek pengembangan masyarakat/ pengembangan komunitas.
              • PRINSIP PENDEKATAN PARTICIPATORY IMPACT MONITORING
              • Harus ada kepercayaan dan keinginan timbal balik untuk mengelola proyek dengan metode PIM
          • Anggota masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaan PIM
          • berkeinginan untuk menerima perubahan.
          • Pendamping harus tegas dalam dukungan metodologi, dan diskusi
          • harus dilakukan oleh kelompok masyarakat itu sendiri.
    • Focus Group Discussion (FGD) Wawancara kelompok dari sejumlah individu dengan status sosial relatif sama, yang memfokuskan interaksi dalam kelompok berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan oleh pendamping yang berperan sebagai moderator dalam kelompok diskusi tersebut.
          • PENDEKATAN FGD
          • Partisipan atau peserta FGD dalam suatu diskusi tidak lebih dari sepuluh orang dengan status sosial atau tingkat jabatan formal yang relatif sama.
          • Pemilihan partisipan atau peserta menjadi sangat selektif dan tergantung dengan topik yang akan didiskusikan dan keberhasilan pelaksanaan pengembangan masyarakat sangat tergantung pada peranan pendamping sebagai moderator FGD.
    • BAGIAN KE LIMA TEKNIK – TEKNIK PENGEMBANGAN MASYARAKAT PEMBAHASAN AKAN DILAKUKAN PADA TEKNIK-TEKNIK :
      • TOP.
      • ORID
      • FGD.
      • Manajemen konflik.
      ENERGIZER Energizers ini digunakan untuk membantu partisipan dan fasilitator untuk memecahkan kebekuan hubungan. Permainan yang bisa dilakukan adalah Community dance, Animal Farm, Cash Register , dan Count 1 to 50
    • GETTING TO KNOW YOU merupakan permainan untuk memperkenalkan masing-masing peserta/partisipan. Selain itu pula, permainan ini pun dapat dilakukan untuk ice breaking sebagaimana pada energizers. Permainan yang bisa dilakukan adalah Rolling Stone , Basket of names and things , Arrange according to .... , dan Opposites attract. PENGUNGKAPAN HARAPAN untuk mengetahui kebutuhan dari partisipan di dalam suatu workshop . Permainan yang bisa dilakukan adalah Hide and seek , dan Who am i ? ANALISA SOSIAL untuk menggali permasalahan-permasalahan yang ada dengan asumsi bahwa permasalahan ini tidak saja dapat digali oleh seorang ahli, atau akademisi, akan tetapi juga dapat dilakukan oleh sekelompok orang yang sehari-hari merasakannya. Permainan yang bisa dilakukan adalah Ah – Hah ! , dan Who am i ? (shape me) .
    • METODE DISKUSI – ORID PENUTUP: Lakukan konfirmasi lagi terhadap berbagai keputusan kelompok Tingkat DECISIONAL (PENGAMBILAN KEPUTUSAN): Tantanglah partisipan untuk memutuskan respon-respon mereka dan keterkaitannya dengan topik. Pertanyaan kuncinya adalah penyelesaian kedepan, opini kelompok, pengusulan langkah berikutnya, sesuatu yang dapan dan akan dilakukan. Tingkat INTERPRETATIVE (INTERPRETASI): Tanyakan suatu pemikiran kritis terhadap pengalaman/permasalahan. Pertanyaan kunci terletak pada pikiran atas pengertian, nilai-nilai dan kepentingannya. Tingkat REFLECTIVE (REFLEKSI): Elaborasikan reaksi-reaksi dari data atau fakta yang diperoleh dari partisipan. Pertanyaan kuncil terletak pada perasaan terhadap emosi, ingatan dan asosiasi lainnya. TOPIK Tujuan berdasarkan rasional Tujuan berdasarkan pengalaman Pemahaman konteks/pembukaan: Pengenalan topik apa yang akan dibahas Tingkat OBJECTIVE (TUJUAN): Carilah fakta-fakta dan data-data yang mendukung topik. Pertanyaan kunci terletak pada sensitivitas diri atas; apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dirasakan, apa yang terraba.
    • METODE WORKSHOP
      • KONTEKS : Ciptakan konteks (situasi) workshop , pengenalan pertanyaan fokus yang mengikat partisipan.
      • Mengatur tingkatan-tingkatan di dalam workshop.
      • Bahas dan jelaskan pertanyaan-pertanyaan workshop.
      • Buat outline mengenai proses dan waktu workshop.
      • Rangsanglah partispan untuk berpatisipasi dan berkontribusi dalam workshop.
      • BRAINSTORMING : Bangkitkan ide-ide individu, kelompok kecil dan semua kelompok.
      • Mintalah pada partisipan untuk membuat list ide-ide individua dalam selembar kertas.
      • Aturlah sebuah kelompok diskusi kecil dimana setiap partisipan dapat melakukan sharing dan diskusi pada semua ide individual. Buatlah 5-7 dari ide-ide mereka yang paling penting dan tulislah ide-ide tersebut pada kartu ide.
      • Tempelkanlah kartu ide tersebut pada papan. Berikanlah penjelasan kepada kelompok lainnya sehingga partisipan lainnya mampu menangkap dengan jelas.
      • PENGELOMPOKKAN : bentuklah suatu hubungan baru antara satu grup dengan grup lainnya melalui proses diskusi yang sama dengan tahap brainstorming.
      • Mintalah kelompok untuk membuat 4-6 pasangan ide yang mirip secara intuitif.
      • Pada masing-masing kelompok berikan label secara cepat dengan 1-2 kata.
      • Buatlah pengelompokkan lagi pada semua kartu ide yang telah ditempelkan di depan.
      • PEMBERIAN NAMA : Lakukanlah pandangan kolektif. Artikulasikan kesepakatan kelompok.
      • Lakukan diskusi pada setiap kelompok ide: apa yang dikatakan oleh masing-masing kelompok? Apa yang mereka pahami tentang itu?
      • Berikan masing-masing kelompok ide 3-5 kata yang secara langsung menggambarkan fokus pertanyaannya.
      • REFLEKSI : lakukanlah konfirmasi pada hasil yang diperolehnya.
      • Diskusikan kepentingan hasil proses kelompok tersebut.
      • Bantulah kelompok untuk membuat desain untuk tetap memegang konsesus yang telah tercapai.
      • Lakukanlah diskusi pada tahap selanjutnya.
      • KONTEKS : Ciptakan konteks (situasi) workshop , pengenalan kegiatan atau aktivitas dan sepakati diantara partisipan.
      • Mengatur tingkatan-tingkatan pada metode perencanaan aksi.
      • Bahas dan jelaskan kegiatan atau aktivitas yang direncanakan.
      • Buat outline mengenai pertimbangan proses dan waktu.
      • Rangsanglah partispan untuk berpatisipasi dan berkontribusi.
      • LINGKARAN KEMENANGAN : Definisikan arti kemenangan/kesuksesan pada suatu aktivitas.
      • Mintalah pada partisipan untuk memperinci aktivitas yang akan dilakukan. Hari setelah hari H, apa yang akan mereka lihat ? bagaimana mereka rasakan ? dan apa yang dikatakan orang-orang ?.
      • Buatlah list respon-respon atas beberapa pertanyaan sebelumnya pada kertas yang akan ditempelkan.
      • REALITAS YANG ADA : lakukanlah pencermatan terhadap realitas yang ada untuk melihat apakah rencana tersebut merupakan rencana yang bisa diimplementasikan atau tidak.
      • Mintalah kelompok untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari situasi sekarang. Kemudian lakukan dengan cara yang sama untuk potensi peluang dan hambatan yang akan muncul.
      • Buatlah list respon-respon atas beberapa pertanyaan sebelumnya pada kertas yang akan ditempelkan.
      METODE PERENCANAAN AKSI
    • METODE PERENCANAAN AKSI (LANJUTAN)
      • KOMITMEN : bangunlah suatu penyataan misi atau perjanjian tentang perencanaan aktivitas.
      • Bacalah komitmen tersebut dengan mengingat-ingat list realitas yang ada untuk mempertimbangkan implikasi dari perencanaan aksi yang telah diformulasikan.
      • Gabungkan komitmen kelompok tersebut pada makna kesuksesan bagi aktivitas tersebut.
      • Catatlah beberapa hal itu pada kertas yang akan ditempelkan.
      • Formulasikan penyataan sebuah kalimat atau paragrap dari ruang lingkup dan hasil perencanaan aksi tersebut.
      • MENCARI AKSI KUNCI : Identifikasikan aksi-aksi yang dibutuhkan dan bentuklah kelompok kerja.
      • Pandulah suatu workshop untuk mengidentifikasikan semua kebutuhan aksi kunci untuk merealisasikan kesuksesan.
      • Ketika sudah dilakukan pengelompokkan aksi, seleksilah kelompok kerja yang akan bertugas sebagai pengimplementasi aksi dan pengawas dari implementasi.
      • KALENDER DAN PENUGASAN : Jadwalkan aksi-aksi yang diperlukan oleh kelompok kerja. Bangunlah suatu mekanisme koordinasi untuk mencapai implementasi rencana aksi yang efektif.
      • Partisipan dibagi dalam berbagai macam kelompok kerja dan kemudian disepakati.
      • Dengan kartu ide, bangunlah workshop aksi kunci, mintalah masing-masing kelompok kerja untuk mengorganisasi aksi kunci yang teridentifikasi sesuai dengan kronologisnya (meliputi pada waktu aksinya). Defisinikan setiap aksi pada tiga tahapan, yaitu aktivitas untuk permulaan, sedang terjadi dan kesuksesan.
      • Ketika aksi kunci berhasil dipilah oleh masing-masing kelompok kerja, tuliskanlah aktivitas tersebut dari suatu kartu yang kemudian ditempelkan di papan.
      • Mintalah wakil kelompok kerja untuk mempresentasikan aksi kuncinya yang kemudian dikoordinasikan kembali dengan jadwal pada kelompok kerja lainnya.
      • Secara keseluruhan, mintalah partisipan untuk mengidentifikasi aktivitas lain yang belum teridentifkasi pada tahap sebelumnya. Target dan biaya juga harus menjadi pertimbangan dalam sesi ini pula.
    • MANAJEMEN KONFLIK
      • Konflik dinyatakan hubungan antara dua individu atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki atau yang merasa memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan.
      • Ada beberapa alat bantu dalam analisa konflik, yaitu:
      • penahapan konflik,
      • urutan kejadian,
      • pemetaan konflik,
      • segitiga spk,
      • analogi bawang bombay,
      • pohon konflik,
      • analisa kekuatan konflik,
      • analogi pilar, dan
      • primida.
    • BAGIAN KE ENAM PROGRAM PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT TUJUAN INSTRUKSIONAL: Setelah mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mengetahui contoh-contoh program yang diterapkan oleh pemerintah dalam rangka pengembangan masyarakat untuk mendukung berlangsungya proses pembangunan. Dengan memahami program-program ini, diharapkan mahasiswa dapat menentukan program apa yang paling tepat untuk diterapkan dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.
    • PEMBERDAYAAN DAERAH DALAM MENGHADAPI DAMPAK KRISIS EKONOMI Sejak tahun 1997 Indonesia menghadapi permasalahan yang sangat serius, yaitu musim kemarau yang berkepanjangan, dan terjadinya krisis moneter yang meluas menjadi krisis ekonomi. Untuk menganggulangi dampak krisis ekonomi tersebut, sejak tahun 1998/1999 pemerintah mengambil kebijaksanaan dan langkah-langkah dalam bentuk Program Pemberdayaan Daerah Dalam Menghadapi Dampak Krisis Ekonomi, yang disingkat PDM-DKE.
          • TUJUAN PDM - DKE :
            • Meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat miskin melalui
            • peningkatan pendapatan
            • Menggerakan kembali ekonomi rakyat melalui pemberian modal
            • usaha.
            • Meningkatkan fungsi sarana dan prasarana sosial ekonomi rakyat
            • dengan tetap memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup.
    • PROGRAM PENGENTASAN KEMISKINAN PERKOTAAN (P2KP) Program penanggulangan kemiskinan di perkotaan yang terkait dengan bidang perumahan dan permukiman. Program ini telah dilaksanakan sejak tahun 1999 dan telah menghasilkan perkembangan yang positif, khususnya dalam hal mengokohkan lembaga masyarakat warga setempat, sebagai dasar bagi pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal.
              • PENDEKATAN PROGRAM P2KP
          • Strategi P2KP didasarkan pada pendekatan “pembangunan bertumpu pada kelompok” (Community Based Development Approach), dimana kelompok-kelompok dapat terjadi atau dibangun atas dasar ikatan-ikatan sebagai berikut: Kesamaan tujuan, kesamaan kegiatan, kesamaan domisili yang mengarah pada efisiensi efektivitas, serta mendorong tumbuh dan berkembangnya kapital sosial.
        • PARTICIPATORY IMPACT MONITORING (PIM)
      • PIM merupakan alat analisis baru untuk mengelola suatu program, yang didesain untuk proyek-proyek dalam bentuk kelompok atau organisasi yang mandiri, termasuk organisasi masyarakat. Peran pendamping dalam metode PIM adalah memfasilitasi terwujudnya PIM dalam proyek pengembangan masyarakat/ pengembangan komunitas.
              • PRINSIP PENDEKATAN PARTICIPATORY IMPACT MONITORING
          • Harus ada kepercayaan dan keinginan timbal balik untuk mengelola
          • proyek dengan metode PIM
          • Anggota masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaan PIM
          • berkeinginan untuk menerima perubahan.
          • - Pendamping harus tegas dalam dukungan metodologi, dan diskusi
          • harus dilakukan oleh kelompok masyarakat itu sendiri.
    • PEMBANGUNAN PERUMAHAN BERTUMPU PADA KELOMPOK (P2BPK) Pola pembangunan P2BPK menekankan nilai guna (use value) dan mendudukan penghuni sebagai tokoh sentral dalam seluruh proses merumahkan diri. Secara singkat pembangunan perumahan bertumpu pada masyarakat adalah pola pembangunan yang mendudukkan masyarakat (individu/kelompok) sebagai pelaku utama dan penentu semua keputusan dan tindakan pembangunan.
          • PENDEKATAN P2BPK
          • Pengorganisasian Warga Masyarakat dan Peningkatan Kemampuan
          • Pengorganisasian Sumber Daya dan Peluang
          • c.Mempertemukan kelompok Dengan Sumber Daya dan Peluang
    • PROGRAM DASAR PEMBANGUNAN PARTISIPATIF (PDPP) PDPP adalah program yang mendasari dan sekaligus memberi kerangka bagi berbagai upaya pembangunan daerah dalam memobilisasi sumber daya sesuai dengan semangat otonomi daerah. PDPP memberikan pendekatan yang sistematis dan terarah menuju pencapaian kinerja pembangunan kabupaten/kota yang berkelanjutan.
          • Tujuan PDPP
          • PDPP bertujuan untuk menyediakan instrumen bagi pemerintah daerah Kabupaten/Kota dalam merencanakan dan mengelola pembangunan daerah yang partisipatif, berorientasi pada pencapaian hasil (kinerja), berjangka menengah, dan mencakup investasi pembangunan multi sektorat. Selain itu, diharapkan dapat tercipta proses pembangunan yang sesuai dengan aspirasi kebutuhan dan kemampuan masyarakat
    • SEKIAN DAN TERIMA KASIH