ZOONOSIS: Mengenal penyakit yang
ditularkan melalui hewan ke manusia
Ketua 2 Pengurus Besar
Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia
(PDHI)
AMERTA WEBINAR SERIES 6 – Kamis, 16 Juli 2020
Tip & Trik pencegahan penyakit zoonotik di
masa pandemi
Drh Tri Satya Putri Naipospos MPhil PhD
Apa itu Zoonosis?
• Zoonosis didefinisikan
sebagai penyakit-penyakit
yang secara alamiah
ditularkan antara orang dan
hewan vertebrata.
• Zoonosis merupakan
kelompok yang beragam
dari penyakit virus, bakteri,
riketsia, jamur, parasit dan
prion dengan berbagai
reservoir hewan, termasuk
satwa liar, ternak, hewan
peliharaan dan burung.
Zoonosis baru (emerging zoonosis)
• Mayoritas penyakit-penyakit
menular baru yang muncul
(emerging infectious diseases)
pada manusia bersumber dari
hewan (zoonotik).
• 75% dari zoonosis baru
tersebut (emerging zoonoses)
bersumber dari satwa liar.
• Apabila manusia terus mengubah lanskap dan merusak habitat
hewan, maka wilayah yang tersisa menjadi lokasi dimana terjadi
diversifikasi yang cepat dari penyebab penyakit zoonotik dan
inang satwa liarnya.
Sumber: Liz VanWormer, University of California, Davis
Berbagai penyakit zoonotik pada
hewan-hewan yang berbeda
Hewan/satwa Patogen
Rabies, Nipah, Hendra, SARS-coronavirus, MERS-
coronavirus, Marburg, Ebola
MERS-coronavirus
Anthrax, Brucellosis (Brucella abortus), Q-fever,
Tuberculosis (Mycobacterium bovis), Leptospirosis,
Bovine spongiform encephalopathy (BSE)
Hendra, Eastern Equine Encephalomyelitis Virus,
Equine mobilivirus
Swine influenza, Brucellosis (Brucella suis),
Erysipelas, Leptospirosis
Brucellosis (Brucella melitensis), Q-fever
Kelelawar dan rodensia sebagai
reservoir virus
• Para peneliti mengkompilasi dan menganalisis
database setiap virus yang berhasil diidentifikasi
pada kelelawar dan rodensia, dan menemukan
bahwa:
– Rodensia menampung 179 jenis virus, 68
diantaranya adalah zoonotik;
– Kelelawar membawa 61 virus zoonotik dengan
total 137 virus.
• Rodensia membawa lebih banyak virus yang
menginfeksi manusia, tetapi kelelawar
menampung lebih banyak virus zoonotik per
spesies — rata-rata setiap spesies kelelawar
menampung 1,8 virus zoonotik, sedangkan
rodensia menampung 1,48 virus per spesies.
Mengapa kelelawar membawa patogen
manusia lebih banyak dari hewan lainnya?
• Kelelawar lebih memilih untuk hidup
dekat satu sama lain, memberikan
banyak kesempatan untuk patogen
menyebar antar kelelawar.
• Sejumlah kelelawar memiliki sistim
kekebalan yang terus menerus prima
untuk meningkatkan pertahanan
terhadap virus.
• Kemampuan terbang yang kuat
meningkatkan tingkat metabolik yang
mengarah pada umur kelelawar yang
lebih panjang dan kemungkinan juga
toleransi terhadap virus.
Sumber: Brook C.E. et al., eLife, 2020.
Sumber wabah COVID-19
• Kasus manusia pertama COVID-19 (disebabkan SARS-CoV-2)
dilaporkan pertama kali oleh petugas dinas di Kota Wuhan, China,
pada Desember 2019.
• Investigasi retrospektif oleh otoritas China mengidentifikasi
sejumlah kasus awal mempunyai kaitan dengan pasar grosir
makanan laut/satwa liar Huanan di Wuhan, dan yang lain tidak.
• Banyak pasien awal merupakan pemilik kios, karyawan pasar,
atau pengunjung regular ke pasar ini.
• Sampel lingkungan yang diambil dari pasar pada Desember 2019
diuji positif untuk SARS-CoV-2, menunjukkan lebih lanjut bahwa
pasar di Kota Wuhan adalah sumber wabah atau mempunyai
peranan dalam amplikasi awal wabah COVID-19.
• Pasar ditutup pada 1 Januari 2020.
Sumber: WHO, Situation Report – 94 (23 April 2020)
Sumber SARS-CoV-2 dari kelelawar
• SARS-CoV-2 diidentifikasi awal Januari 2020 dan sekuens
genetik dibagikan ke publik pada 11-12 Januari 2020.
• Sekuens genetik penuh SARS-CoV-2 dari kasus manusia
awal dan sekuens dari banyak virus yang diisolasi dari kasus
manusia di China dan seluruh dunia memperlihatkan bahwa
SARS-CoV-2 memiliki sumber ekologik pada populasi
kelelawar.
• Semua bukti yang tersedia sampai saat ini menyimpulkan
bahwa virus mempunyai sumber hewan di alam dan bukan
virus yang dimanipulasi atau dikonstruksi di laboratorium.
• Apabila ini suatu virus yang dikonstruksi, sekuens genomik
akan memperlihatkan adanya campuran elemen yang bisa
dikenali.
Sumber: WHO, Situation Report – 94 (23 April 2020)
Kelelawar dan COVID-19
• Suatu virus kelelawar (Bat-CoV-RaTG13) yang sebelumnya
dideteksi pada kelelawar sepatu kuda (Rhinolophus affinis) di
Provinsi Yunnan, China, 96% identik dengan SARS-CoV-2
yang diperoleh dari pasien pada tingkat genom utuh.
Kelelawar adalah inang reservoir
ideal untuk virus corona
Virus secara persisten berada dalam
kelelawar dan tidak memperlihatkan gejala.
Mereka bisa terbang jauh dan menularkan
virus ke berbagai inang lain yang kontak
dengan mereka.
Inang perantara SARS-CoV-2
• Semua bukti yang ada mengenai
COVID-19 menyarankan bahwa SARS-
CoV-2 mempunyai sumber zoonotik.
• Mengingat kontak dekat dengan
manusia dan kelelawar biasanya
terbatas, kemungkinan penularan dari
virus ke manusia terjadi melalui
spesies hewan lain, yang lebih mudah
ditangani oleh manusia.
• Inang perantara atau sumber zoonotik
bisa hewan domestik, satwa liar, atau
satwa liar yang didomestikasi, yang
sampai sekarang belum teridentifikasi.
Sumber: WHO, Situation
Report – 94 (23 April 2020)
Virus corona zoonotik
• Sebelumnya, dunia mengalami wabah virus corona zoonotik dua
kali yaitu Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang
berasal dari China pada 2003 dan Middle East Respiratory
Syndrome (MERS) dari Saudia Arabia pada 2012, dan menyebar
ke banyak negara dengan angka kesakitan dan kematian yang
menakutkan pada waktu itu.
• COVID-19 adalah
wabah virus
corona zoonotik
ketiga dalam
catatan sejarah
manusia.
Kemampuan penularan silang
virus corona (coronavirus)
• Virus corona diketahui dapat menginfeksi
manusia dan banyak spesies hewan yang
berbeda, termasuk babi, sapi, kuda, unta,
kucing, anjing, rodensia, burung, kelelawar,
kelinci, ferret, cerpelai, ular, dan satwa liar
lainnya.
• Tidak semua virus corona tersebut mampu
menulari manusia.
• Probabilitas penularan dari hewan ke
manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor
seperti dinamika penyakit pada inang
hewan, tingkat paparan virus, dan
kerentanan populasi manusia.
COVID-19 pada anjing
• Sampai saat ini, dilaporkan hanya beberapa kasus infeksi
COVID-19 pada anjing (1 ekor di Hongkong, 1 ekor di Amerika
Serikat) dan mereka mendapatkan virus dari pemiliknya yang
positif COVID-19.
Anjing tidak menyebarkan COVID-19
Anjing dijamin aman untuk tetap dipelihara
dalam rumah dan bukan merupakan ‘carrier’
atau penyebar virus corona ke manusia
COVID-19 pada kucing
• Sampai saat ini, dilaporkan hanya beberapa kasus infeksi COVID-
19 pada kucing (1 ekor di Belgia, Hongkong, Spanyol, Jerman dan
Rusia; 2 ekor di Amerika Serikat dan Perancis) dan mereka
mendapatkannya dari pemilik yang terinfeksi COVID-19.
Kucing mendapatkan virus setelah
penularan dari manusia ke hewan
Kucing berpotensi rendah dalam
menyebarkan infeksi. Kucing mendapatkan
dari pemiliknya yang terinfeksi.
COVID-19 dan harimau
• Harimau di kebun binatang Bronx di New York jatuh sakit
bersamaan dengan 6 harimau dan singa lainnya. Ini
merupakan laporan satwa pertama yang diidentifikasikan
membawa virus COVID-19 di Amerika Serikat.
Harimau diuji positif COVID-19
Harimau dipercaya terinfeksi virus dari
seorang pekerja kebun binatang yang tidak
menunjukkan gejala pada saat itu.
COVID-19 dan cerpelai
• Wabah pada peternakan cerpelai di Belanda dan Denmark
adalah pelimpahan (spillover) virus dari pandemi manusia –
suatu zoonosis yang reversibel dimana virus melompat
antarspesies dan menyebar melalui populasi hewan.
Cerpelai peka terhadap virus corona
manusia, sama seperti ferret
Setidaknya dua orang pekerja peternakan
cerpelai memperoleh virus dari cerpelai —
hanya kasus ini yang dketahui manusia
terinfeksi dari hewan.
Penularan COVID-19 dari hewan
ke orang belum terbukti
• Penelitian sejauh ini
memperlihatkan bahwa feline
seperti kucing dan harimau
peka terhadap SARS-CoV-2.
• Studi memperlihatkan bahwa
kucing dapat menularkan
penyakit ke kucing lain.
• Anjing sampai batas tertentu
dapat tertular, tetapi tidak
efisien.
• Spesies domestik lain seperti
babi dan unggas (ayam,
kalkun) tidak peka terhadap
COVID-19.Sumber: Dr. Peter Ben Embarek (WHO).
Pandemi COVID-19: Fokus pada
kehidupan manusia
• Selama berlangsungnya darurat
kesehatan masyarakat global COVID-
19 yang luar biasa ini, prioritas
pemerintah adalah memberlakukan
tindakan tegas untuk memperlambat
penyebaran virus dan melindungi
kehidupan manusia.
• Di luar fokus pada manusia, yang juga
perlu menjadi perhatian adalah
pengelolaan manusia terhadap
ekosistem sebagai aset nasional, yang
dapat memitigasi risiko penularan
zoonosis dari hewan ke manusia.
Zoonosis dan degradasi lingkungan
• Degradasi lingkungan, dan khususnya
perusakan habitat, adalah masalah
mendasar yang menciptakan kondisi
yang menguntungkan bagi virus zoonotik
melompat ke manusia.
• Perdagangan satwa liar adalah salah
satu gejala dari degradasi lingkungan.
• Puluhan studi telah mendemonstrasikan
adanya hubungan antara pengelolaan
dan salah urus degradasi lingkungan,
dengan penyebaran zoonosis baru.
• Namun demikian, pengelolaan sumberdaya alam di seluruh
dunia jarang fokus secara eksplisit pada pencegahan zoonosis.
Tindakan pengamanan terhadap
risiko COVID-19 di masa pandemi
• Orang terduga atau terkonfirmasi COVID-
19 harus meminimalkan kontak langsung
dekat dengan hewan, termasuk ternak, satwa
kebun binatang, hewan penangkaran, dan
satwa liar; terutama spesies yang telah
memperlihatkan kepekaan terhadap infeksi
COVID-19.
• Setiap upaya harus dilakukan agar hewan
peliharaan yang positif COVID-19 terus tinggal
dengan pemiliknya. Namun, jika tempat
penampungan hewan (shelter) diperlukan,
perlu dikonsultaskan dengan pejabat dinas
setempat untuk meminimalkan risiko infeksi ke
para pekerja dan sukarelawan.
Tidak ada pembenaran
dalam mengambil
tindakan yang ditujukan
pada hewan yang dapat
membahayakan
kesejahteraan mereka,
seperti menyakiti atau
membuang mereka
akibat ketakutan yang
tidak berdasar atas
COVID-19.
Tip untuk kunjungan ke pasar yang
menjual hewan/satwa dan produknya
• Apabila anda mengunjungi pasar yang menjual
hewan dan produknya, tindakan higiene umum
yang harus diterapkan:
– cuci tangan secara teratur dengan sabun dan air
setelah menyentuh hewan dan produk hewan;
– hindari menyentuh mata, hidung atau mulut, dan
hindari kontak dengan hewan sakit atau produk
hewan yang rusak;
– hindari setiap kontak dengan hewan lain yang
berada di pasar (seperti kucing dan anjing liar,
rodensia, burung, kelelawar);
– tindakan pencegahan harus diambil untuk
mencegah kontak dengan kotoran atau cairan
hewan di tanah atau permukaan kios dan
fasilitas pasar.
Tip & trik pencegahan penyakit
zoonotik di masa pandemi COVID-19
Apabila berinteraksi dengan hewan
peliharaan, ikuti prosedur dasar higiene:
Cuci tangan anda
sebelum dan sesudah
menyentuh hewan
peliharaan
Perhatikan makanan
hewan peliharaan
anda secara tepat
Hindari cium atau
jilatan dari hewan
peliharaan anda
“Kita harus memberikan perhatian kepada
akar penyebab penyakit-penyakit zoonotik.
Semakin kita merubah lingkungan, semakin
kita mengganggu ekosistem dan menyediakan
peluang bagi penyakit untuk muncul.”
Pencegahan pandemi berikutnya!
• Solusi jangka panjang untuk menghentikan lompatan virus
zoonotik terletak pada upaya melindungi dan memulihkan
habitat satwa liar dan melestarikan keanekaragaman hayati
— masalah yang jauh lebih sulit yang harus diatasi sebagai
bagian dari transisi menuju keberlanjutan.
• Setiap negara perlu investasi untuk mengakhiri eksploitasi
berlebihan terhadap sumberdaya satwa liar dan alam
lainnya, keberlanjutan pertanian, mengembalikan lahan yang
terdegradasi dan melindungi kesehatan lingkungan.
• Pandemi adalah kegagalan manusia karena kita hanya bisa
memprediksi bukan mempersiapkan diri. Sekarang ini kita harus
lebih proaktif untuk menghindari pandemi berikutnya dan
mengatasi penyakit-penyakit zoonotik yang endemik (rabies,
avian influenza, brucellosis, anthrax, leptospirosis).
Zoonosis: Tip & Trik Pencegahan Penyakit Zoonotik di Masa Pandemi - Webinar AMERTA, 16 Juli 2020

Zoonosis: Tip & Trik Pencegahan Penyakit Zoonotik di Masa Pandemi - Webinar AMERTA, 16 Juli 2020

  • 1.
    ZOONOSIS: Mengenal penyakityang ditularkan melalui hewan ke manusia Ketua 2 Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) AMERTA WEBINAR SERIES 6 – Kamis, 16 Juli 2020 Tip & Trik pencegahan penyakit zoonotik di masa pandemi Drh Tri Satya Putri Naipospos MPhil PhD
  • 2.
    Apa itu Zoonosis? •Zoonosis didefinisikan sebagai penyakit-penyakit yang secara alamiah ditularkan antara orang dan hewan vertebrata. • Zoonosis merupakan kelompok yang beragam dari penyakit virus, bakteri, riketsia, jamur, parasit dan prion dengan berbagai reservoir hewan, termasuk satwa liar, ternak, hewan peliharaan dan burung.
  • 3.
    Zoonosis baru (emergingzoonosis) • Mayoritas penyakit-penyakit menular baru yang muncul (emerging infectious diseases) pada manusia bersumber dari hewan (zoonotik). • 75% dari zoonosis baru tersebut (emerging zoonoses) bersumber dari satwa liar. • Apabila manusia terus mengubah lanskap dan merusak habitat hewan, maka wilayah yang tersisa menjadi lokasi dimana terjadi diversifikasi yang cepat dari penyebab penyakit zoonotik dan inang satwa liarnya. Sumber: Liz VanWormer, University of California, Davis
  • 4.
    Berbagai penyakit zoonotikpada hewan-hewan yang berbeda Hewan/satwa Patogen Rabies, Nipah, Hendra, SARS-coronavirus, MERS- coronavirus, Marburg, Ebola MERS-coronavirus Anthrax, Brucellosis (Brucella abortus), Q-fever, Tuberculosis (Mycobacterium bovis), Leptospirosis, Bovine spongiform encephalopathy (BSE) Hendra, Eastern Equine Encephalomyelitis Virus, Equine mobilivirus Swine influenza, Brucellosis (Brucella suis), Erysipelas, Leptospirosis Brucellosis (Brucella melitensis), Q-fever
  • 5.
    Kelelawar dan rodensiasebagai reservoir virus • Para peneliti mengkompilasi dan menganalisis database setiap virus yang berhasil diidentifikasi pada kelelawar dan rodensia, dan menemukan bahwa: – Rodensia menampung 179 jenis virus, 68 diantaranya adalah zoonotik; – Kelelawar membawa 61 virus zoonotik dengan total 137 virus. • Rodensia membawa lebih banyak virus yang menginfeksi manusia, tetapi kelelawar menampung lebih banyak virus zoonotik per spesies — rata-rata setiap spesies kelelawar menampung 1,8 virus zoonotik, sedangkan rodensia menampung 1,48 virus per spesies.
  • 6.
    Mengapa kelelawar membawapatogen manusia lebih banyak dari hewan lainnya? • Kelelawar lebih memilih untuk hidup dekat satu sama lain, memberikan banyak kesempatan untuk patogen menyebar antar kelelawar. • Sejumlah kelelawar memiliki sistim kekebalan yang terus menerus prima untuk meningkatkan pertahanan terhadap virus. • Kemampuan terbang yang kuat meningkatkan tingkat metabolik yang mengarah pada umur kelelawar yang lebih panjang dan kemungkinan juga toleransi terhadap virus. Sumber: Brook C.E. et al., eLife, 2020.
  • 7.
    Sumber wabah COVID-19 •Kasus manusia pertama COVID-19 (disebabkan SARS-CoV-2) dilaporkan pertama kali oleh petugas dinas di Kota Wuhan, China, pada Desember 2019. • Investigasi retrospektif oleh otoritas China mengidentifikasi sejumlah kasus awal mempunyai kaitan dengan pasar grosir makanan laut/satwa liar Huanan di Wuhan, dan yang lain tidak. • Banyak pasien awal merupakan pemilik kios, karyawan pasar, atau pengunjung regular ke pasar ini. • Sampel lingkungan yang diambil dari pasar pada Desember 2019 diuji positif untuk SARS-CoV-2, menunjukkan lebih lanjut bahwa pasar di Kota Wuhan adalah sumber wabah atau mempunyai peranan dalam amplikasi awal wabah COVID-19. • Pasar ditutup pada 1 Januari 2020. Sumber: WHO, Situation Report – 94 (23 April 2020)
  • 8.
    Sumber SARS-CoV-2 darikelelawar • SARS-CoV-2 diidentifikasi awal Januari 2020 dan sekuens genetik dibagikan ke publik pada 11-12 Januari 2020. • Sekuens genetik penuh SARS-CoV-2 dari kasus manusia awal dan sekuens dari banyak virus yang diisolasi dari kasus manusia di China dan seluruh dunia memperlihatkan bahwa SARS-CoV-2 memiliki sumber ekologik pada populasi kelelawar. • Semua bukti yang tersedia sampai saat ini menyimpulkan bahwa virus mempunyai sumber hewan di alam dan bukan virus yang dimanipulasi atau dikonstruksi di laboratorium. • Apabila ini suatu virus yang dikonstruksi, sekuens genomik akan memperlihatkan adanya campuran elemen yang bisa dikenali. Sumber: WHO, Situation Report – 94 (23 April 2020)
  • 9.
    Kelelawar dan COVID-19 •Suatu virus kelelawar (Bat-CoV-RaTG13) yang sebelumnya dideteksi pada kelelawar sepatu kuda (Rhinolophus affinis) di Provinsi Yunnan, China, 96% identik dengan SARS-CoV-2 yang diperoleh dari pasien pada tingkat genom utuh. Kelelawar adalah inang reservoir ideal untuk virus corona Virus secara persisten berada dalam kelelawar dan tidak memperlihatkan gejala. Mereka bisa terbang jauh dan menularkan virus ke berbagai inang lain yang kontak dengan mereka.
  • 10.
    Inang perantara SARS-CoV-2 •Semua bukti yang ada mengenai COVID-19 menyarankan bahwa SARS- CoV-2 mempunyai sumber zoonotik. • Mengingat kontak dekat dengan manusia dan kelelawar biasanya terbatas, kemungkinan penularan dari virus ke manusia terjadi melalui spesies hewan lain, yang lebih mudah ditangani oleh manusia. • Inang perantara atau sumber zoonotik bisa hewan domestik, satwa liar, atau satwa liar yang didomestikasi, yang sampai sekarang belum teridentifikasi. Sumber: WHO, Situation Report – 94 (23 April 2020)
  • 11.
    Virus corona zoonotik •Sebelumnya, dunia mengalami wabah virus corona zoonotik dua kali yaitu Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang berasal dari China pada 2003 dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dari Saudia Arabia pada 2012, dan menyebar ke banyak negara dengan angka kesakitan dan kematian yang menakutkan pada waktu itu. • COVID-19 adalah wabah virus corona zoonotik ketiga dalam catatan sejarah manusia.
  • 12.
    Kemampuan penularan silang viruscorona (coronavirus) • Virus corona diketahui dapat menginfeksi manusia dan banyak spesies hewan yang berbeda, termasuk babi, sapi, kuda, unta, kucing, anjing, rodensia, burung, kelelawar, kelinci, ferret, cerpelai, ular, dan satwa liar lainnya. • Tidak semua virus corona tersebut mampu menulari manusia. • Probabilitas penularan dari hewan ke manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti dinamika penyakit pada inang hewan, tingkat paparan virus, dan kerentanan populasi manusia.
  • 13.
    COVID-19 pada anjing •Sampai saat ini, dilaporkan hanya beberapa kasus infeksi COVID-19 pada anjing (1 ekor di Hongkong, 1 ekor di Amerika Serikat) dan mereka mendapatkan virus dari pemiliknya yang positif COVID-19. Anjing tidak menyebarkan COVID-19 Anjing dijamin aman untuk tetap dipelihara dalam rumah dan bukan merupakan ‘carrier’ atau penyebar virus corona ke manusia
  • 14.
    COVID-19 pada kucing •Sampai saat ini, dilaporkan hanya beberapa kasus infeksi COVID- 19 pada kucing (1 ekor di Belgia, Hongkong, Spanyol, Jerman dan Rusia; 2 ekor di Amerika Serikat dan Perancis) dan mereka mendapatkannya dari pemilik yang terinfeksi COVID-19. Kucing mendapatkan virus setelah penularan dari manusia ke hewan Kucing berpotensi rendah dalam menyebarkan infeksi. Kucing mendapatkan dari pemiliknya yang terinfeksi.
  • 15.
    COVID-19 dan harimau •Harimau di kebun binatang Bronx di New York jatuh sakit bersamaan dengan 6 harimau dan singa lainnya. Ini merupakan laporan satwa pertama yang diidentifikasikan membawa virus COVID-19 di Amerika Serikat. Harimau diuji positif COVID-19 Harimau dipercaya terinfeksi virus dari seorang pekerja kebun binatang yang tidak menunjukkan gejala pada saat itu.
  • 16.
    COVID-19 dan cerpelai •Wabah pada peternakan cerpelai di Belanda dan Denmark adalah pelimpahan (spillover) virus dari pandemi manusia – suatu zoonosis yang reversibel dimana virus melompat antarspesies dan menyebar melalui populasi hewan. Cerpelai peka terhadap virus corona manusia, sama seperti ferret Setidaknya dua orang pekerja peternakan cerpelai memperoleh virus dari cerpelai — hanya kasus ini yang dketahui manusia terinfeksi dari hewan.
  • 17.
    Penularan COVID-19 darihewan ke orang belum terbukti • Penelitian sejauh ini memperlihatkan bahwa feline seperti kucing dan harimau peka terhadap SARS-CoV-2. • Studi memperlihatkan bahwa kucing dapat menularkan penyakit ke kucing lain. • Anjing sampai batas tertentu dapat tertular, tetapi tidak efisien. • Spesies domestik lain seperti babi dan unggas (ayam, kalkun) tidak peka terhadap COVID-19.Sumber: Dr. Peter Ben Embarek (WHO).
  • 18.
    Pandemi COVID-19: Fokuspada kehidupan manusia • Selama berlangsungnya darurat kesehatan masyarakat global COVID- 19 yang luar biasa ini, prioritas pemerintah adalah memberlakukan tindakan tegas untuk memperlambat penyebaran virus dan melindungi kehidupan manusia. • Di luar fokus pada manusia, yang juga perlu menjadi perhatian adalah pengelolaan manusia terhadap ekosistem sebagai aset nasional, yang dapat memitigasi risiko penularan zoonosis dari hewan ke manusia.
  • 19.
    Zoonosis dan degradasilingkungan • Degradasi lingkungan, dan khususnya perusakan habitat, adalah masalah mendasar yang menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi virus zoonotik melompat ke manusia. • Perdagangan satwa liar adalah salah satu gejala dari degradasi lingkungan. • Puluhan studi telah mendemonstrasikan adanya hubungan antara pengelolaan dan salah urus degradasi lingkungan, dengan penyebaran zoonosis baru. • Namun demikian, pengelolaan sumberdaya alam di seluruh dunia jarang fokus secara eksplisit pada pencegahan zoonosis.
  • 20.
    Tindakan pengamanan terhadap risikoCOVID-19 di masa pandemi • Orang terduga atau terkonfirmasi COVID- 19 harus meminimalkan kontak langsung dekat dengan hewan, termasuk ternak, satwa kebun binatang, hewan penangkaran, dan satwa liar; terutama spesies yang telah memperlihatkan kepekaan terhadap infeksi COVID-19. • Setiap upaya harus dilakukan agar hewan peliharaan yang positif COVID-19 terus tinggal dengan pemiliknya. Namun, jika tempat penampungan hewan (shelter) diperlukan, perlu dikonsultaskan dengan pejabat dinas setempat untuk meminimalkan risiko infeksi ke para pekerja dan sukarelawan. Tidak ada pembenaran dalam mengambil tindakan yang ditujukan pada hewan yang dapat membahayakan kesejahteraan mereka, seperti menyakiti atau membuang mereka akibat ketakutan yang tidak berdasar atas COVID-19.
  • 21.
    Tip untuk kunjunganke pasar yang menjual hewan/satwa dan produknya • Apabila anda mengunjungi pasar yang menjual hewan dan produknya, tindakan higiene umum yang harus diterapkan: – cuci tangan secara teratur dengan sabun dan air setelah menyentuh hewan dan produk hewan; – hindari menyentuh mata, hidung atau mulut, dan hindari kontak dengan hewan sakit atau produk hewan yang rusak; – hindari setiap kontak dengan hewan lain yang berada di pasar (seperti kucing dan anjing liar, rodensia, burung, kelelawar); – tindakan pencegahan harus diambil untuk mencegah kontak dengan kotoran atau cairan hewan di tanah atau permukaan kios dan fasilitas pasar.
  • 22.
    Tip & trikpencegahan penyakit zoonotik di masa pandemi COVID-19 Apabila berinteraksi dengan hewan peliharaan, ikuti prosedur dasar higiene: Cuci tangan anda sebelum dan sesudah menyentuh hewan peliharaan Perhatikan makanan hewan peliharaan anda secara tepat Hindari cium atau jilatan dari hewan peliharaan anda
  • 23.
    “Kita harus memberikanperhatian kepada akar penyebab penyakit-penyakit zoonotik. Semakin kita merubah lingkungan, semakin kita mengganggu ekosistem dan menyediakan peluang bagi penyakit untuk muncul.”
  • 24.
    Pencegahan pandemi berikutnya! •Solusi jangka panjang untuk menghentikan lompatan virus zoonotik terletak pada upaya melindungi dan memulihkan habitat satwa liar dan melestarikan keanekaragaman hayati — masalah yang jauh lebih sulit yang harus diatasi sebagai bagian dari transisi menuju keberlanjutan. • Setiap negara perlu investasi untuk mengakhiri eksploitasi berlebihan terhadap sumberdaya satwa liar dan alam lainnya, keberlanjutan pertanian, mengembalikan lahan yang terdegradasi dan melindungi kesehatan lingkungan. • Pandemi adalah kegagalan manusia karena kita hanya bisa memprediksi bukan mempersiapkan diri. Sekarang ini kita harus lebih proaktif untuk menghindari pandemi berikutnya dan mengatasi penyakit-penyakit zoonotik yang endemik (rabies, avian influenza, brucellosis, anthrax, leptospirosis).