Oleh :  Ahmad Subhan Husein, S.Pd.I
Secara harfiyah Jadid  Qorib  Khabar  Secara istilah Segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw. baik berupa ucapan, perbuatan maupun sikap/takrir dsb.  Definisi Hadits
Istilah Hadits Sunnah  Secara harfiyah tradisi, artinya suatu tradisi yang sudah dibiasakan.  Menurut istilah  Segala sesuatu yang dinukilkan dari Nabi saw. baik berupa perkataan, perbuatan, atau taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, maupun perjalanan hidup baik Nabi saw. setelah diutus menjadi Rasul ataupun sebelumnya.  Al Khabar Secara harfiyah berarti  Berita   Kata Al Khabar searti dengan Al Hadits namun, biasanya digunakan untuk menyebut hadits-hadits yang marfu’.  Al Atsar  Secara harfiyah berarti  bekas atau jejak   Kata Al Atsar searti dengan Al Hadits namun, biasanya digunakan untuk menyebut hadits-hadits yang maukuf.
Struktur Hadits  Sedangkan orang yang menukilkan hadits dari suatu kitab atau musnad ke kitab lain  disebut  Mukharij Sanad Secara bahasa Sandaran, yang kita bersandar kepadanya. Menurut istilah  Jalan yang dapat menghubungkan matanul hadits kepada Nabi Muhammad saw.  Matan  Secara bahasa Punggung jalan; tanah yang keras dan tinggi  Menurut istilah  Pembicaraan (kalam) atau materi berita yang diover oleh sanad yang terakhir. Baik pembicaraan itu sabda Nabi, sahabat, ataupun tabi’in.  Rawi  Orang yang menyampaikan hadits atau menuliskan dalam suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (gurunya).
Hadits sebagai sumber ajaran agama قُلْ أَطِيْعُوالله َوَالرَّسُولَ ,  فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ الله َلاَ يُحِبُّ اْلكاَفِرِيْنَ  “ katakanlah; taatilah Allah dan RasulNya; jika kamu berpaling,  maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”   (Ali Imran [3] : 32)  وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَـهُوا  “ apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dan  apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah”  (Al Hasyr [59] : 7)
Keadaan hadits Hadits memiliki tiga keadaan, jika dilihat dari segi hukum dan hubungannya dengan Al Qur’an,  1. Mengakui dan menguatkan suatu hukum tersebut dalam Al Qur’an  2. Menjelaskan Al Qur’an 3. Menetapkan suatu hukum yang tidak tersebut dalam Al Qur’an
Sejarah penulisan & pengkodifikasian hadits Hadits pada periode Rasul dan sahabat لاَتَكْتُبُوا عَنِّي شَيْأً إِلاَّالْقُرْآن ,  وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْأًغَيْرَ الْقُرْآن فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُواعَنيِّ وَلاَحَرَجَ  :  وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَلْيَتَبَوَّأ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ  ( راوه مسلم )  “ Jangan kamu tulis sesuatu yang telah kamu terima dariku selain Al Qur’an hendaklah ia hapus. Ceritakan saja yang kamu terima dariku, tidak mengapa. Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya di  neraka.”  (H.R. Muslim)
Para Sahabat yang mempunyai naskah Hadits 1. Abdullah bin Amr bin ‘Ash ( 7 SH - 65 H)  Naskahnya disebut “ Ash-shahifah As-shidiqah  ” karena ditulis secara langsung dari Rasulullah saw.  .  2. Jabir bin Abdullah Al Anshary r.a. (16 H - 73 H)  Naskah haditsnya disebut “ Ash-shahifah Jabir  ” Pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar Ibnu Khattab perkembangan hadits tidak begitu pesat sebab, anjuran beliau kepada para sahabat agar mengutamakan penyiaran Al Qur’an sebagai dasar syari’at islam yang pertama.  Hadits pada masa khalifah Abu Bakar, Umar Ibnu Khattab,  dan Usman bin Affan Sedangkan pada masa Khalifah Usman bin Affan perkembangan hadits begitu pesat sebab, banyak sahabat kecil dan tabi’in yang mulai mencari dan mengumpulkan hadits dari para sahabat yang lainnya.
Pembukuan hadits secara resmi Pembukuan hadits terjadi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz.  Motif / tujuan pembukuan hadits : 1. Agar tidak mudah hilang dan lenyap dari perbendaharaan masyarakat 2. Untuk membersihkan dan memelihara al hadits dari hadits-hadits maudhu’  3. Agar tidak bercampur dengan Al Qur’an  4. Mengantisipasi dari banyaknya kaum muslimin yang hafal hadits wafat, karena usia dan karena pertempuran.
Ulumul Hadits Pengertian, Sejarah Perkembangan dan Cabang-cabangnya Pengertian dan sejarah perkembangannya Ulumul hadits adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang hal yang berkaitan dengan hadits.  Ilmu Hadits  Dirayah  Riwayah
Arti, Obyek, dan Faedah Ilmu Hadits Riwayah dan Dirayah Ilmu Hadits Riwayah Arti  Ilmu pengetahuan yang membahas bagaimana mengetahui cara-cara penukilan, pemeliharaan, dan pembukuan apa-apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad. Baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir dsb.  Obyek  Bagaimana cara menerima, menyampaikan, pada orang lain dan memindahkan atau membukukan dalam suatu kitab hadits.  Faedah  Menghindari adanya kemungkinan salah kutib terhadap apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw.
Ilmu Hadits Dirayah (Musthalahul Hadits) Arti  Undang-undang (kaidah-kaidah) untuk mengetahui hal ihwal sanad, matan, cara-cara menerima, dan menyampaikan hadits, sifat-sifat rawi dsb.  Obyek  Meneliti kelakuan para rawi dan keadaan marwinya (sanad dan matannya). Faedah  Menetapkan  maqbul  atau  matrudnya  hadits dan selanjutnya diamalkan ynag maqbulnya dan ditinggalkan yang matrudnya
Cabang-cabang Ilmu Hadits 1. Ilmu Rijalul Hadits 2. Ilmu Jarhi wat Ta’dil 3. Ilmu Fannil Mubhamat 4. Ilmu ‘Ilalil Hadits 5. Ilmu Gharibil Hadits 6. Ilmu Nasikh wal Mansukh 7. Ilmu Talfiqil Hadits 8. Ilmu Tashrif wat Tahrif 9. Ilmu Asbabi Wurudil Hadits 10. Musthalah Ahli Hadits
1. Ilmu Rijalul Hadits 2. Ilmu Jarhi wat Ta’dil 3. Ilmu Fannil Mubhamat 4. Ilmu ‘Ilalil Hadits 5. Ilmu Gharibil Hadits Ilmu yang membahas para perawi hadits, baik sahabat, tabi’in maupun agkatan sesudahnya. Ilmu yang membahas tentang sifat seorang rawi yang dapat mencatatkan keadilan dan kehafalannya. Ilmu yang dengannya diketahui nama orang-orang yang tidak disebut namanya di dalam matan atau di dalam sanad.  Ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi, tidak nyata, yang dapat cacat suatu hadits yang nampaknya tiada bercacat itu.  Ilmu yang menerangkan makna kalimat yang terdapat dalam matan hadits yang sukar diketahui maknanya dan yang kurang terpakai oleh umum.
6. Ilmu Nasikh wal Mansukh 7. Ilmu Talfiqil Hadits 8. Ilmu Tashrif wat Tahrif 9. Ilmu Asbabi Wurudil Hadits 10. Musthalah Ahli Hadits Ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah dimansukhkan dan yang menasikhkan Ilmu yang membahas tentang cara mengupulkan (mengkompromikan) antara hadits-hadits yangsecara lahir bertentangan.  Ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah diubah titiknya (yang dinamai mushahhaf), dan bentuknya dinamai muharraf.  Ilmu yanhg mnerangkan sebab-sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa Nabi menuturkan itu.  Ilmu yang menerangkan pengertian-pengertian (istilah-istilah) yang dipakai oleh ahli-ahli hadits.
Pembagian Hadits dari segi  kualitas sanad , hadits terbagi menjadi 3 bagian  1. Hadits Shahih Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, sempurna ingatannya, sanadnya bersambung-sambung, tidak berillat, dan tidak janggal.  2. Hadits Hasan Hadits yang diriwayatkan oleh seorang 0yang adil, tapi tak begitu kokoh ingatannya, bersambung-sambung sanadnya, dan tidak terdapat illat serta kejanggalan pada matannya.  3. Hadits Dho’if Hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat Hadits Shahih atau Hadits Hasan.
dari segi  kuantitas rawi , hadits terbagi menjadi 3 bagian  1. Hadits Mutawatir 2. Hadits Masyhur 3. Hadits Ahad
Hadits Mutawatir adalah suatu hadits hasil tanggapan dari panca indera, yang diriwayatkan oleh  sejumlah besar rawi, yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka berkumpul  dan bersepakat berdusta Para ahli Ushul Fiqh membagi  hadits mutawatir kepada 2 bagian Mutawatir Lafdzi Mutawatir Ma’nawi
Suatu hadits dapat dikatakan mutawatir  bila telah memenuhi tiga syarat Pewartaan yang disampaikan oleh rawi-rawi tersebut  harus berdasarkan tanggapan panca indera 2. Jumlah rawinya harus mencapai suatu ketentuan yang tidak memungkinkan  mereka bersepakat untuk berdusta atau berbohong 3. Adanya keseimbangan jumlah antara rawi-rawi dalam taqhabah pertama  dengan jumlah rawi-rawi dalam taqhabah berikutnya
Hadits Masyhur adalah Hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih,  serta belum mencapai derajat mutawatir.  Hadits Masyhur terbagi menjadi tiga bagian Masyhur di kalangan para muhaditsin dan lainnya  ( golongan ahli ilmu dan orang umum ) 2. Masyhur dikalangan ahli-ahli ilmu tertentu misalnya masyhur  di kalangan ahli hadits saja, atau ahli fiqih saja, atau ahli nahwu saja dsb.  3. Masyhur di kalangan orang umum saja.
Hadits Ahad adalah suatu hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits mutawatir Para muhaditsin memberikan nama-nama tertentu bagi hadits Ahad mengingat banyak sedikitnya rawi-rawi yang berada pada tiap-tiap thabaqat, yaitu dengan  Hadits Masyhur ,  Hadits Aziz  dan  Hadits Gharib  Contoh hadits Dha’if, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.  قل النبي صلى الله عليه وسلم  :  الإيمان بِضعٌ وَسَبعون شُعبَةً وَالْحَيَاءُ شُعبَةٌ مِنَ الإيمانِ “  Nabi Muhammad saw, bersabda : iman itu bercabang-cabang menjadi 73 cabang, malu itu salah satu cabang dari iman.”
Pembagian Hadits dari segi  kualitas sanad , hadits terbagi menjadi 3 bagian  1. Hadits Shahih Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, sempurna ingatannya, sanadnya bersambung-sambung, tidak berillat, dan tidak janggal.  2. Hadits Hasan Hadits yang diriwayatkan oleh seorang yang adil,  tapi tak begitu kokoh ingatannya, bersambung-sambung sanadnya, dan tidak terdapat illat serta kejanggalan pada matannya.  3. Hadits Dho’if Hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat Hadits Shahih atau Hadits Hasan.
Syarat-syarat Hadits Shahih Hadits dinilai shahih apabila memenuhi lima syarat  1. Rawinya bersifat adil 2. Sempurna ingatan 3. Sanadnya tidak putus 4. Hadits itu tidak ber’illat 5. Tidak ada kejanggalan
Seorang Rawi dikatakan adil apabila memenuhi 4 syarat 1. Selalu memelihara perbuatan ta’at dan menjauhi perbuatan maksiat 2. Menjauhi dosa-dosa kecil yang dapat menodai agama dan sopan santun 3. Tidak melakukan perkara-perkara mubah yang dapat menggugurkan iman kepada qadar dan mengakibatkan kepada penyesalan 4. Tidak mengikuti salah satu madzhab yang bertentangan dengan dasar syara’
Hadits shahih terbagi kepada dua bagian  Shahih lidzatih Shahih lighairih
Hadits Dha’if dan Macam-macamnya Hadits Dha’if adalah Hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat Hadits Shahih atau Hadits Hasan. Sanad  Sebab-sebab tertolaknya Hadits dari dua jurusan Matan
Sebab-sebab tertolaknya Hadits karena sanadnya digugurkan/tak bersambung Dhaif disebabkan terputusnya sanad dan macam-macamnya  Yang digugurkan Disebut  Sanad pertama Hadits Mu’allaq  sanad yg terakhir  Hadits Mursal dua orang rawi atau lebih berturut -turut Hadits Mu’dhal dua orang rawi atau lebih tidak berturut -turut Hadits Munqathi’
Sebab-sebab tertolaknya Hadits karena cacat pada keadilan dan kedhabitan rawi  Dhaif disebabkan cacat selain keterputusan sanad  dan macam-macamnya  No Jenis cacat  Disebut  1 Dusta  Hadits Maudhu’ 2 Tertuduh dusta Hadits Matruk 3 Fasik 4 Banyak salah 5 Lengah dalam menghafal Hadits Munkar 6 Banyak waham Hadits Muallal 7 Menyalahi riwayat orang kepercayaan 8 Tidak diketahui identitasnya Hadits Mubham 9 Penganut Bid’ah Hadits Matrud 10 Tidak berturut-turut  Hadits Syadz & Mukhtalith
Sebab-sebab tertolaknya Hadits karena suatu sifat yang terdapat pada Matan Hadits Mauquf Berita yang disandarkan hanyha sampai kepada sahabat saja,  baik yang disandarkan itu perkataan atau perbuatan  dan baik sanadnya bersambung hatau teroutus Hadits Maqthu’ Perkataan atau perbuatan yang berasal dari seseorang tabi’i  serta dimaukufkan padanya, baik sanadnya bersambung atau tidak
Kehujjahan Hadits Dha’if  1. Melarang secara mutlak 2. Membolehkan
Syarat-syarat Seorang Perawi Dan Proses Transformasi 1. sama’ min lafdzhi  asy-syikh 2. Al Qira’ah ‘ala asy-syikh 3. Ijazah  4. Munawalah 5. Mukatabah  6. Wijadah  7. Washiyah  8. I’lam Syarat2  seorang rawi
Lafadz-lafadz untuk meriwayatkan Hadits Saya telah mendengar .........  سَمِعْتُ  Kami telah mendengar   سَمِعْناَ   ..........  Seseorang telah bercerita padaku   حَدَّثَنِى  ........  Seseorang telah bercerita pada kami   حَدَّثَناَ  ........  Seseorang telah mengabarkan padaku/kepada kami   أَخْبَرَناَ  ........ /  أَخْبَرَنِى   Lafadz meriwayatkan Hadits bagi para Rawi  yang mendengar langsung dari gurunya
رُوِىَ ,  حُكِىَ ,  عَنْ ,  أَنَّ diriwayatkan oleh ……, dihikayatkan oleh….. dari…. bahwasanya…..  Lafadz meriwayatkan Hadits bagi para Rawi yang mungkin mendengar sendiri atau tidak mendengar sendiri
ILMU JARHI WA AT-TA’DIL
Ta’rif Ilmu Jarhi Wa At-Ta’dil Menurut Muhadditsin  Jarh   ialah sifat seorang rawi mentaatkan keadilan dan kehafalannya.  Mentajrih  seorang rawi  berarti mensifati seorang rawi dengan sifat-sifat yang dapat menyebabkan kelemahan dan tertolak apa yang diriwayatkannya.  Ilmu Jarh wa At-ta’dil  ialah ilmu yang membahas tentang memberikan kritikan ‘aib atau memberikan pujian adil kepada seorang rawi
Manfa’at Ilmu Jarh Wa At-Ta’dil Untuk menetapkan apakah periwayatan seorang rawi itu  apat diterima atau harus ditolak sama sekali.
Macam-macam keaiban rawi Bid’ah  Mukhalafah  Ghalat  Jahalatul hal Da’wa al-Inqitha

Ulumul hadits

  • 1.
    Oleh : Ahmad Subhan Husein, S.Pd.I
  • 2.
    Secara harfiyah Jadid Qorib Khabar Secara istilah Segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw. baik berupa ucapan, perbuatan maupun sikap/takrir dsb. Definisi Hadits
  • 3.
    Istilah Hadits Sunnah Secara harfiyah tradisi, artinya suatu tradisi yang sudah dibiasakan. Menurut istilah Segala sesuatu yang dinukilkan dari Nabi saw. baik berupa perkataan, perbuatan, atau taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, maupun perjalanan hidup baik Nabi saw. setelah diutus menjadi Rasul ataupun sebelumnya. Al Khabar Secara harfiyah berarti Berita Kata Al Khabar searti dengan Al Hadits namun, biasanya digunakan untuk menyebut hadits-hadits yang marfu’. Al Atsar Secara harfiyah berarti bekas atau jejak Kata Al Atsar searti dengan Al Hadits namun, biasanya digunakan untuk menyebut hadits-hadits yang maukuf.
  • 4.
    Struktur Hadits Sedangkan orang yang menukilkan hadits dari suatu kitab atau musnad ke kitab lain disebut Mukharij Sanad Secara bahasa Sandaran, yang kita bersandar kepadanya. Menurut istilah Jalan yang dapat menghubungkan matanul hadits kepada Nabi Muhammad saw. Matan Secara bahasa Punggung jalan; tanah yang keras dan tinggi Menurut istilah Pembicaraan (kalam) atau materi berita yang diover oleh sanad yang terakhir. Baik pembicaraan itu sabda Nabi, sahabat, ataupun tabi’in. Rawi Orang yang menyampaikan hadits atau menuliskan dalam suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (gurunya).
  • 5.
    Hadits sebagai sumberajaran agama قُلْ أَطِيْعُوالله َوَالرَّسُولَ , فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ الله َلاَ يُحِبُّ اْلكاَفِرِيْنَ “ katakanlah; taatilah Allah dan RasulNya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (Ali Imran [3] : 32) وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَـهُوا “ apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah” (Al Hasyr [59] : 7)
  • 6.
    Keadaan hadits Haditsmemiliki tiga keadaan, jika dilihat dari segi hukum dan hubungannya dengan Al Qur’an, 1. Mengakui dan menguatkan suatu hukum tersebut dalam Al Qur’an 2. Menjelaskan Al Qur’an 3. Menetapkan suatu hukum yang tidak tersebut dalam Al Qur’an
  • 7.
    Sejarah penulisan &pengkodifikasian hadits Hadits pada periode Rasul dan sahabat لاَتَكْتُبُوا عَنِّي شَيْأً إِلاَّالْقُرْآن , وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْأًغَيْرَ الْقُرْآن فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُواعَنيِّ وَلاَحَرَجَ : وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَلْيَتَبَوَّأ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ( راوه مسلم ) “ Jangan kamu tulis sesuatu yang telah kamu terima dariku selain Al Qur’an hendaklah ia hapus. Ceritakan saja yang kamu terima dariku, tidak mengapa. Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya di neraka.” (H.R. Muslim)
  • 8.
    Para Sahabat yangmempunyai naskah Hadits 1. Abdullah bin Amr bin ‘Ash ( 7 SH - 65 H) Naskahnya disebut “ Ash-shahifah As-shidiqah ” karena ditulis secara langsung dari Rasulullah saw. . 2. Jabir bin Abdullah Al Anshary r.a. (16 H - 73 H) Naskah haditsnya disebut “ Ash-shahifah Jabir ” Pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar Ibnu Khattab perkembangan hadits tidak begitu pesat sebab, anjuran beliau kepada para sahabat agar mengutamakan penyiaran Al Qur’an sebagai dasar syari’at islam yang pertama. Hadits pada masa khalifah Abu Bakar, Umar Ibnu Khattab, dan Usman bin Affan Sedangkan pada masa Khalifah Usman bin Affan perkembangan hadits begitu pesat sebab, banyak sahabat kecil dan tabi’in yang mulai mencari dan mengumpulkan hadits dari para sahabat yang lainnya.
  • 9.
    Pembukuan hadits secararesmi Pembukuan hadits terjadi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. Motif / tujuan pembukuan hadits : 1. Agar tidak mudah hilang dan lenyap dari perbendaharaan masyarakat 2. Untuk membersihkan dan memelihara al hadits dari hadits-hadits maudhu’ 3. Agar tidak bercampur dengan Al Qur’an 4. Mengantisipasi dari banyaknya kaum muslimin yang hafal hadits wafat, karena usia dan karena pertempuran.
  • 10.
    Ulumul Hadits Pengertian,Sejarah Perkembangan dan Cabang-cabangnya Pengertian dan sejarah perkembangannya Ulumul hadits adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang hal yang berkaitan dengan hadits. Ilmu Hadits Dirayah Riwayah
  • 11.
    Arti, Obyek, danFaedah Ilmu Hadits Riwayah dan Dirayah Ilmu Hadits Riwayah Arti Ilmu pengetahuan yang membahas bagaimana mengetahui cara-cara penukilan, pemeliharaan, dan pembukuan apa-apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad. Baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir dsb. Obyek Bagaimana cara menerima, menyampaikan, pada orang lain dan memindahkan atau membukukan dalam suatu kitab hadits. Faedah Menghindari adanya kemungkinan salah kutib terhadap apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw.
  • 12.
    Ilmu Hadits Dirayah(Musthalahul Hadits) Arti Undang-undang (kaidah-kaidah) untuk mengetahui hal ihwal sanad, matan, cara-cara menerima, dan menyampaikan hadits, sifat-sifat rawi dsb. Obyek Meneliti kelakuan para rawi dan keadaan marwinya (sanad dan matannya). Faedah Menetapkan maqbul atau matrudnya hadits dan selanjutnya diamalkan ynag maqbulnya dan ditinggalkan yang matrudnya
  • 13.
    Cabang-cabang Ilmu Hadits1. Ilmu Rijalul Hadits 2. Ilmu Jarhi wat Ta’dil 3. Ilmu Fannil Mubhamat 4. Ilmu ‘Ilalil Hadits 5. Ilmu Gharibil Hadits 6. Ilmu Nasikh wal Mansukh 7. Ilmu Talfiqil Hadits 8. Ilmu Tashrif wat Tahrif 9. Ilmu Asbabi Wurudil Hadits 10. Musthalah Ahli Hadits
  • 14.
    1. Ilmu RijalulHadits 2. Ilmu Jarhi wat Ta’dil 3. Ilmu Fannil Mubhamat 4. Ilmu ‘Ilalil Hadits 5. Ilmu Gharibil Hadits Ilmu yang membahas para perawi hadits, baik sahabat, tabi’in maupun agkatan sesudahnya. Ilmu yang membahas tentang sifat seorang rawi yang dapat mencatatkan keadilan dan kehafalannya. Ilmu yang dengannya diketahui nama orang-orang yang tidak disebut namanya di dalam matan atau di dalam sanad. Ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi, tidak nyata, yang dapat cacat suatu hadits yang nampaknya tiada bercacat itu. Ilmu yang menerangkan makna kalimat yang terdapat dalam matan hadits yang sukar diketahui maknanya dan yang kurang terpakai oleh umum.
  • 15.
    6. Ilmu Nasikhwal Mansukh 7. Ilmu Talfiqil Hadits 8. Ilmu Tashrif wat Tahrif 9. Ilmu Asbabi Wurudil Hadits 10. Musthalah Ahli Hadits Ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah dimansukhkan dan yang menasikhkan Ilmu yang membahas tentang cara mengupulkan (mengkompromikan) antara hadits-hadits yangsecara lahir bertentangan. Ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah diubah titiknya (yang dinamai mushahhaf), dan bentuknya dinamai muharraf. Ilmu yanhg mnerangkan sebab-sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa Nabi menuturkan itu. Ilmu yang menerangkan pengertian-pengertian (istilah-istilah) yang dipakai oleh ahli-ahli hadits.
  • 16.
    Pembagian Hadits darisegi kualitas sanad , hadits terbagi menjadi 3 bagian 1. Hadits Shahih Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, sempurna ingatannya, sanadnya bersambung-sambung, tidak berillat, dan tidak janggal. 2. Hadits Hasan Hadits yang diriwayatkan oleh seorang 0yang adil, tapi tak begitu kokoh ingatannya, bersambung-sambung sanadnya, dan tidak terdapat illat serta kejanggalan pada matannya. 3. Hadits Dho’if Hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat Hadits Shahih atau Hadits Hasan.
  • 17.
    dari segi kuantitas rawi , hadits terbagi menjadi 3 bagian 1. Hadits Mutawatir 2. Hadits Masyhur 3. Hadits Ahad
  • 18.
    Hadits Mutawatir adalahsuatu hadits hasil tanggapan dari panca indera, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat berdusta Para ahli Ushul Fiqh membagi hadits mutawatir kepada 2 bagian Mutawatir Lafdzi Mutawatir Ma’nawi
  • 19.
    Suatu hadits dapatdikatakan mutawatir bila telah memenuhi tiga syarat Pewartaan yang disampaikan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan panca indera 2. Jumlah rawinya harus mencapai suatu ketentuan yang tidak memungkinkan mereka bersepakat untuk berdusta atau berbohong 3. Adanya keseimbangan jumlah antara rawi-rawi dalam taqhabah pertama dengan jumlah rawi-rawi dalam taqhabah berikutnya
  • 20.
    Hadits Masyhur adalahHadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih, serta belum mencapai derajat mutawatir. Hadits Masyhur terbagi menjadi tiga bagian Masyhur di kalangan para muhaditsin dan lainnya ( golongan ahli ilmu dan orang umum ) 2. Masyhur dikalangan ahli-ahli ilmu tertentu misalnya masyhur di kalangan ahli hadits saja, atau ahli fiqih saja, atau ahli nahwu saja dsb. 3. Masyhur di kalangan orang umum saja.
  • 21.
    Hadits Ahad adalahsuatu hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits mutawatir Para muhaditsin memberikan nama-nama tertentu bagi hadits Ahad mengingat banyak sedikitnya rawi-rawi yang berada pada tiap-tiap thabaqat, yaitu dengan Hadits Masyhur , Hadits Aziz dan Hadits Gharib Contoh hadits Dha’if, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. قل النبي صلى الله عليه وسلم : الإيمان بِضعٌ وَسَبعون شُعبَةً وَالْحَيَاءُ شُعبَةٌ مِنَ الإيمانِ “ Nabi Muhammad saw, bersabda : iman itu bercabang-cabang menjadi 73 cabang, malu itu salah satu cabang dari iman.”
  • 22.
    Pembagian Hadits darisegi kualitas sanad , hadits terbagi menjadi 3 bagian 1. Hadits Shahih Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, sempurna ingatannya, sanadnya bersambung-sambung, tidak berillat, dan tidak janggal. 2. Hadits Hasan Hadits yang diriwayatkan oleh seorang yang adil, tapi tak begitu kokoh ingatannya, bersambung-sambung sanadnya, dan tidak terdapat illat serta kejanggalan pada matannya. 3. Hadits Dho’if Hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat Hadits Shahih atau Hadits Hasan.
  • 23.
    Syarat-syarat Hadits ShahihHadits dinilai shahih apabila memenuhi lima syarat 1. Rawinya bersifat adil 2. Sempurna ingatan 3. Sanadnya tidak putus 4. Hadits itu tidak ber’illat 5. Tidak ada kejanggalan
  • 24.
    Seorang Rawi dikatakanadil apabila memenuhi 4 syarat 1. Selalu memelihara perbuatan ta’at dan menjauhi perbuatan maksiat 2. Menjauhi dosa-dosa kecil yang dapat menodai agama dan sopan santun 3. Tidak melakukan perkara-perkara mubah yang dapat menggugurkan iman kepada qadar dan mengakibatkan kepada penyesalan 4. Tidak mengikuti salah satu madzhab yang bertentangan dengan dasar syara’
  • 25.
    Hadits shahih terbagikepada dua bagian Shahih lidzatih Shahih lighairih
  • 26.
    Hadits Dha’if danMacam-macamnya Hadits Dha’if adalah Hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat Hadits Shahih atau Hadits Hasan. Sanad Sebab-sebab tertolaknya Hadits dari dua jurusan Matan
  • 27.
    Sebab-sebab tertolaknya Haditskarena sanadnya digugurkan/tak bersambung Dhaif disebabkan terputusnya sanad dan macam-macamnya Yang digugurkan Disebut Sanad pertama Hadits Mu’allaq sanad yg terakhir Hadits Mursal dua orang rawi atau lebih berturut -turut Hadits Mu’dhal dua orang rawi atau lebih tidak berturut -turut Hadits Munqathi’
  • 28.
    Sebab-sebab tertolaknya Haditskarena cacat pada keadilan dan kedhabitan rawi Dhaif disebabkan cacat selain keterputusan sanad dan macam-macamnya No Jenis cacat Disebut 1 Dusta Hadits Maudhu’ 2 Tertuduh dusta Hadits Matruk 3 Fasik 4 Banyak salah 5 Lengah dalam menghafal Hadits Munkar 6 Banyak waham Hadits Muallal 7 Menyalahi riwayat orang kepercayaan 8 Tidak diketahui identitasnya Hadits Mubham 9 Penganut Bid’ah Hadits Matrud 10 Tidak berturut-turut Hadits Syadz & Mukhtalith
  • 29.
    Sebab-sebab tertolaknya Haditskarena suatu sifat yang terdapat pada Matan Hadits Mauquf Berita yang disandarkan hanyha sampai kepada sahabat saja, baik yang disandarkan itu perkataan atau perbuatan dan baik sanadnya bersambung hatau teroutus Hadits Maqthu’ Perkataan atau perbuatan yang berasal dari seseorang tabi’i serta dimaukufkan padanya, baik sanadnya bersambung atau tidak
  • 30.
    Kehujjahan Hadits Dha’if 1. Melarang secara mutlak 2. Membolehkan
  • 31.
    Syarat-syarat Seorang PerawiDan Proses Transformasi 1. sama’ min lafdzhi asy-syikh 2. Al Qira’ah ‘ala asy-syikh 3. Ijazah 4. Munawalah 5. Mukatabah 6. Wijadah 7. Washiyah 8. I’lam Syarat2 seorang rawi
  • 32.
    Lafadz-lafadz untuk meriwayatkanHadits Saya telah mendengar ......... سَمِعْتُ Kami telah mendengar سَمِعْناَ .......... Seseorang telah bercerita padaku حَدَّثَنِى ........ Seseorang telah bercerita pada kami حَدَّثَناَ ........ Seseorang telah mengabarkan padaku/kepada kami أَخْبَرَناَ ........ / أَخْبَرَنِى Lafadz meriwayatkan Hadits bagi para Rawi yang mendengar langsung dari gurunya
  • 33.
    رُوِىَ , حُكِىَ , عَنْ , أَنَّ diriwayatkan oleh ……, dihikayatkan oleh….. dari…. bahwasanya….. Lafadz meriwayatkan Hadits bagi para Rawi yang mungkin mendengar sendiri atau tidak mendengar sendiri
  • 34.
    ILMU JARHI WAAT-TA’DIL
  • 35.
    Ta’rif Ilmu JarhiWa At-Ta’dil Menurut Muhadditsin Jarh ialah sifat seorang rawi mentaatkan keadilan dan kehafalannya. Mentajrih seorang rawi berarti mensifati seorang rawi dengan sifat-sifat yang dapat menyebabkan kelemahan dan tertolak apa yang diriwayatkannya. Ilmu Jarh wa At-ta’dil ialah ilmu yang membahas tentang memberikan kritikan ‘aib atau memberikan pujian adil kepada seorang rawi
  • 36.
    Manfa’at Ilmu JarhWa At-Ta’dil Untuk menetapkan apakah periwayatan seorang rawi itu apat diterima atau harus ditolak sama sekali.
  • 37.
    Macam-macam keaiban rawiBid’ah Mukhalafah Ghalat Jahalatul hal Da’wa al-Inqitha