PembelajaranObservasional
Dalam praktik klinis, pembelajaran observasional adalah sebuah teknik ketika klien
mengobservasi sebuah demonstrasi perilaku yang diinginkan dan diberi kesempatan untuk
menirunya. Orang yang bertindak sebagai model bisa terapisnya, model lain atau medel yang
sudah direkam melalui audio atau video. Model yang paling efektif jika serupa dengan klien,
sebuah poin yang relevan tentang keberagamaan klien dalam kaitannya dengan variabel
budaya dan demografis. Sebagai contoh, jika Ana, seorang mahasiswi tingkat 2 berusia 19
tahun, Hispanik dan Homoseksual, sedang berjuang dengan ketrerampilan sosial, maka
keberhasilan intervensi sebuah pembelajaran observasional mungkin bergantung pada
seberapa jauh model sama dengan Ana dalam kaitannya dengan umur, orientasi seksual,
etnis, gender dan status kemahasiswaannya. (Sage, 2013)
Stategi pembelajaraan obsevasional sebenarnya mengajarkan dua cara belajar yang
berbeda kepada klien. Yang pertama adalah imitasi, yaitu klien sekadar meniru perilaku yang
dicontohkan. Yang kedua adalah pembelajaran pengganti, yaitu klien mengamati bukahn
hanya perilaku yang dicontohkan, tetapi juga mengamati model yang menerima konsekuensi
untuk perilaku yang dicontohkannya. Dengan kata lain, bahkan tanpa meniru seorang klien
dapat belajar untuk mengharapkan penguatan atau hukuman dari sebuah perilaku model.
Observational learning, Juga dikenal sebagai: monkey see monkey do. Ada 4 proses utama
observasi pembelajaran.
 Attention to the model.
 Retention of details (observer harus mampu mengingat kebiasaan model)
 Motor reproduction (observer mampu menirukan aksi)
 Motivation and opportunity (observer harus termotivasi melakukan apa yang telah
diobservasi dan diingat dan harus berkesempatan melakukannya).
 reinforcement. Punishment may discourage repetition of the behaviour
Dalam observational learning, terdapat empat elemen penting yaitu meliputi;
memperhatikan, menyimpan informasi, menghasilkan perilaku, dan termotivasi dalam
mengulangi perilaku. Selainitu, dalam proses menghasilkan perilaku, individu membutuhkan
banyak latihan, dan umpan balik, karena akan membuat perilaku menjadi lebih lancar/
mahir. (Woolfolk, 2009)
Aktivasi Behavioral
Aktivasi behavioral adalah terapi perilaku yang dirancang untuk menangani depresi,
yang telah menertima perhatian dan dukungan empiris signifikan selama beberapa tahun
terakhir. Hal ini didasarkan pada gagasan sederhana namun kuat bahwa di dalam kehidupan
sehari-hari orang yang mengalami depresi, terdapat kekuatan penguatan positif. Jadi tujuan
aktivasi bahavioral adalah untuk meningkatkan frekuensi perilaku yang memperkuat klien
secara positif. Sebagai hasilnya klien mengalami emosi-emosi yang lebih positif dan terlibat
lebih penuh di dalam hidupnya.
Di awal aktivasi behavioral, salah satu pertanyaan terpenting yang dapat ditanyakan
oleh psikolog klinisnya adalah “ apakah ada hal-hal yang sekarang tidak anda lakukan yang
biasa anda lakukan pada saat anda sedang tidak depresi?”. Dari respon klien atas pertanyaan
tersebut, psikolog dapat membuat daftar perilaku-perilaku penguatan dan sebuah rencana
untuk mengintegrasikan perilaku-perilaku tersebut ke dalam hidupklien. Secara khusus sangat
penting untuk mengetahui apakah klien terlibat dalam perilaku tertentu karena perilaku itu
membawa penguatan positif atau memungkinkak mengn klien untuk menghindari sesuatu
yang tidak menyenangkan. (Sage, 2013)

Psikologi Klinis (Terapi Behaviour)

  • 1.
    PembelajaranObservasional Dalam praktik klinis,pembelajaran observasional adalah sebuah teknik ketika klien mengobservasi sebuah demonstrasi perilaku yang diinginkan dan diberi kesempatan untuk menirunya. Orang yang bertindak sebagai model bisa terapisnya, model lain atau medel yang sudah direkam melalui audio atau video. Model yang paling efektif jika serupa dengan klien, sebuah poin yang relevan tentang keberagamaan klien dalam kaitannya dengan variabel budaya dan demografis. Sebagai contoh, jika Ana, seorang mahasiswi tingkat 2 berusia 19 tahun, Hispanik dan Homoseksual, sedang berjuang dengan ketrerampilan sosial, maka keberhasilan intervensi sebuah pembelajaran observasional mungkin bergantung pada seberapa jauh model sama dengan Ana dalam kaitannya dengan umur, orientasi seksual, etnis, gender dan status kemahasiswaannya. (Sage, 2013) Stategi pembelajaraan obsevasional sebenarnya mengajarkan dua cara belajar yang berbeda kepada klien. Yang pertama adalah imitasi, yaitu klien sekadar meniru perilaku yang dicontohkan. Yang kedua adalah pembelajaran pengganti, yaitu klien mengamati bukahn hanya perilaku yang dicontohkan, tetapi juga mengamati model yang menerima konsekuensi untuk perilaku yang dicontohkannya. Dengan kata lain, bahkan tanpa meniru seorang klien dapat belajar untuk mengharapkan penguatan atau hukuman dari sebuah perilaku model. Observational learning, Juga dikenal sebagai: monkey see monkey do. Ada 4 proses utama observasi pembelajaran.  Attention to the model.  Retention of details (observer harus mampu mengingat kebiasaan model)  Motor reproduction (observer mampu menirukan aksi)  Motivation and opportunity (observer harus termotivasi melakukan apa yang telah diobservasi dan diingat dan harus berkesempatan melakukannya).  reinforcement. Punishment may discourage repetition of the behaviour Dalam observational learning, terdapat empat elemen penting yaitu meliputi; memperhatikan, menyimpan informasi, menghasilkan perilaku, dan termotivasi dalam mengulangi perilaku. Selainitu, dalam proses menghasilkan perilaku, individu membutuhkan
  • 2.
    banyak latihan, danumpan balik, karena akan membuat perilaku menjadi lebih lancar/ mahir. (Woolfolk, 2009) Aktivasi Behavioral Aktivasi behavioral adalah terapi perilaku yang dirancang untuk menangani depresi, yang telah menertima perhatian dan dukungan empiris signifikan selama beberapa tahun terakhir. Hal ini didasarkan pada gagasan sederhana namun kuat bahwa di dalam kehidupan sehari-hari orang yang mengalami depresi, terdapat kekuatan penguatan positif. Jadi tujuan aktivasi bahavioral adalah untuk meningkatkan frekuensi perilaku yang memperkuat klien secara positif. Sebagai hasilnya klien mengalami emosi-emosi yang lebih positif dan terlibat lebih penuh di dalam hidupnya. Di awal aktivasi behavioral, salah satu pertanyaan terpenting yang dapat ditanyakan oleh psikolog klinisnya adalah “ apakah ada hal-hal yang sekarang tidak anda lakukan yang biasa anda lakukan pada saat anda sedang tidak depresi?”. Dari respon klien atas pertanyaan tersebut, psikolog dapat membuat daftar perilaku-perilaku penguatan dan sebuah rencana untuk mengintegrasikan perilaku-perilaku tersebut ke dalam hidupklien. Secara khusus sangat penting untuk mengetahui apakah klien terlibat dalam perilaku tertentu karena perilaku itu membawa penguatan positif atau memungkinkak mengn klien untuk menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan. (Sage, 2013)