1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sering kali seseorang mengalami kesuliatan untuk melakukan
metode balajar yang tepat. Belajar merupakan kegiatan yang berproses dan
termasuk unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap
jenis dan jenjang pendidikan. menurut (syah 2006) belajar adalah tahapan
perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menatap sebagai hasil
pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses
kognitif. Proses belajar yang dimaksud ditandai dengan adanya perubahan
perubahan perilaku yang bersifat positif yang berorientasi pada aspek
kognitif (pengetahuan),afektif (sikap) dan psikomotorik (ketrampilan).
Masing masing individu mempunyai cara atau metode tersendiri
untuk mencapai nilai yang diinginkan. Keberhasilan proses pembelajaran
tergantung dari minat dan kemauan individu (mahasiswa) dengan melaukan
pembelajaran yang efektif dan menarik .Beberapa metode pembelajaran
yang digunakan termasuk di STIKES Duta Gama metode pembelajaran
kuliah ceramah ,seminar/diskusi/presentasi,pratikum/studi lapangan .
Ceramah yaitu metode yang dilakukan menyampaikan pesan dan informasi
memalui satu arah baik suara atau lisan. Sedangkan diskusi adalah strategi
pembelajaran interaksi dan komunikasi dari dua arah atau lebih yang
melibatkan dosen dan mahasiswa. Pratikum adalah metode dalam bentuk
1
2
demonstrasi dan simulasi untuk mempraktekan tampilan yang lebih dahulu
di demonstrasikan oleh dosen (Zaini 2002). Strategi belajar mahasiswa
secara tidak langsung akan mempengaruhi minat belajar
Dalam menentukan metode mahasiswa perlu di bantu dan
diarahkan untuk mengenal tipe belajar. Tipe atau cara belajar tersebut
sangatlah penting untuk mempermudah penyerapan materi sehingga dapat
meningkatkan prestasi belajar.Jadi penting merubah metode belajar yang
tepat untuk mencapai prestasi yang diinginkan. Menurut Deporter 2003,
terdapat tiga tipe dalam belajar yaitu :
a. Tipe belajar visual : melalui apa yang mereka lihat
b. Tipe belajar Auditorial : melalui apa yang mereka dengar
c. Tipe belajar kinestik :belajar dengan gerak, bekerja dan
menyentuh
Banyak orang yang seringkali mengkombinasikan ke tiga tipe tersebut akan
tetapi setiap orang poasti mempunyai tipe tersendiri untuk melakukan
pembelajaran.
Data yang diperoleh dari bagian pendidikan Stikes Duta Gama pada
pertengahan semester ganjil menunjukan bahwa nilai IPK dari semester 2
yang mendapat IPK < 3 sebanyak 14,2%, sedangkan IPK > 3 sebanyak
85,7% , untuk semester 5 yang mendapat IPK < 3 sebanyak 16% sedangkan
IPK >3 sebanyak 84%, untuk semester 7 yang mendapat IPK <3 sebanyak
43,7% sedangkan IPK >3 sebanyak 56% (bagian pendidikan stikes Duta
Gama) meskipun strategi pembelajaran yang digunakan di Stikes Duta
3
Gama Klaten Sama. Untuk itu peneliti ingin mengetahui tipe belajar dari
masing masing semester sehingga di dapatkan alasan tipe belajar yang
paling efektif dan banyak digunakan di siswa Keperawatan Stikes Duta
Gama Klaten.
Pemberlakuan kurikulum baru di Stikes Duta Gama Klaten
merupakan cara untuk meningkatkan prestasi belajar mahasiwa. Namun cara
belajar bukanlah satu satunya variable yang mempengaruhi prestasi
melainkan adanya dari lingkungan ,sarana prasarana, minat individu ,dosen
dan lain lain. Jadi dalam penelitian ini saya hanya akan meneliti tentang tipe
belajar dengan prestasi mahasiwa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Duta
Gama Klaten .
Bedasarkan latar belakang yang di jelaskan di atas maka penulis
bermaksud mengadakan penelitian dengan judul “ Hubungan Antara Tipe
Belajar Dengan Prestasi Mahasiswa Di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Duta Gama Klaten “
4
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah di jelaskan di atas maka rumusan
masalah pada penelitian ini adalah :
1. Bagaimana tipe atau cara belajar mahasiwa di Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Duta Gama Klaten?
2. Bagaiman prestasi belajar mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Duta Gama Klaten?
3. Adanya pengaruh tipe belajar dengan prestasi mahasiswa Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Duta Gama Klaten?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari Rumusan masalah yang telah di jelaskan maka
penelitian ini bertujuan untuk :
1.3.1 Tujuan Umum :
Mengetahui pengaruh tipe belajar dengan prestasi belajar mahasiwa
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Duta Gama Klaten
1.3.2 Tujuan Khusus :
1. Mengetahui tentang tipe atau cara belajar mahasiswa keperawatan
di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Duta Gama Klaten
2. Mengetahui Prestasi belajar mahasiwa keperawatan di Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Duta Gama Klaten
3. Mengetahui pengaruh anatara tipe atau cara belajang dengan
prestasi mahasiswa keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Duta Gama klaten
5
1.4 Manfaat penelitian
1.4.1 Manfaat teoritis
Penelitian ini di harapkan menambah ilmu pengetahuan tentang tipe
belajar dengan prestasi belajar mahasiswa
1.4.2 Manfaat praktis
1. Bagi keperawatan
Sebagai dasar untuk pengembangan ilmu keperawatan terutama ilmu
pendidikan dalam keperawatan dengan melakukan penelitian tentang
tipe belajar dengan prestasi belajar siswa.
2. Bagi Institusi
Sebagai literature tipe belajar terhadap prestasi belajar siswa.
3. Bagi masyarakat umun
Sebagai masukan bagi mahasiswa dalam mengetahui tipe belajar
yang tepat untuk mencapai prestasi yang di harapkan.
6
1.5 Keaslian penelitian
Setahu saya belum pernah ada yang meneliti tentang “hubungan
antara tipe belajar dengan prestasi belajar mahasiswa Keperawatan di Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Duta Gama Klaten adapaun yang terakait adalah :
1. “Hubungan Antara Kreatifitas dan Gaya Belajar Dengan Prestasi
Belajar MatematikaSiswa SMP”
Peneliti :Dewi A Sagita Program studi pendidikan matematika
jurusan pendidikan matematika fakultas matematika dan ilmu
pengetahuian alam Universitas Negeri Yogyakarta 2010.
Analisa data : Deskripsi hasil penelitian yang diperoleh dari
pengumpulan data padadengan instrumen penelitian berupa
bentuk skor. Pemaparan tersebut meliputi variabel-variabel: (1)
Kreativitas, (2) Gaya Belajar, dan (3) Prestasi Belajar Matematika
yang mencakup mean, median, mode, standart deviation, rentang
skor (range), skor minimum, dan skor maksimum. Jika Y
menyatakan variabel terikat atau variabel prestasi belajar
matematika, X menyatakan variabel bebas, X1 menyatakan
variabel kreativitas, dan X2 menyatakan variabel gaya belajar.
2. “Pengaruh Cara Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas 1
Jurusan Administrasi Perkantoran Pada mata Diklat Melakukan
Prosedur Administrasi Di SMK PGRI 2 Malang tahun pelajaran
2005/2006
Peneliti : http://skripsistikes.wordpress.com
7
Analisa data : Metode ini dipergunakan karena penelitian ini
berusaha untuk menemukan ada tidaknya pengaruh antara cara
belajar terhadap prestasi belajar melakukan prosedur administrasi
siswa kelas 1 jurusan ADP SMK PGRI 2 Malang. Deskriptif
korelasional dipandang sesuai dengan penelitian ini karena
bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang variabel yang
diteliti dan bersifat korelasi karena penelitian ini bertujuan untuk
menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, berapa
eratnya hubungan serta berarti atau tidaknya hubungan
itu.(Arikunto, 1993: 215). Pada penelitian ini berusaha untuk
menemukan ada tidaknya pengaruh antara cara belajar terhadap
prestasi belajar mata diklat melakukan prosedur administrasi
siswa kelas 1 Jurusan ADP SMK PGRI 2 Malang.
3. “Hubungan Gaya Belajar (Visual, Audio Dan Kinestetik ) Dengan
Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP N 3 Padang Sumatera
Barat Pada Pembelajaran Biologi Tahun Ajaran 2012/2013
Peneliti : Haslia Margareta (mahasiswa Program Studi Pendidikan
Biologi FKIP Universitas Bung Hatta) , Erman Har (Dosen
Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Bung
Hatta),Nawir Muhar
Hasil : Hasil analisis dengan rumus korelasi product moment
adalah r = 0,562 dengan kategori koefisien korelasi cukup kuat.
Persentase hubungan gaya belajar dengan prestasi belajar Biologi
8
siswa sebesar 31,58 %. Hasil uji hipotesis dengan ttabel = 9,7822
dan thitung = 1,645 , harga thitung> thitung, pada taraf nyata α =
0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H�diterima dan H� ditolak.
Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara
gaya belajar visual, audio dan kinestetik dengan prestasi belajar
siswa kelas VIII SMPN 3 Padang Sumatera Barat pada mata
pelajaran Biologi tahun ajaran 2012/2013.
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Belajar Dan Tipe Tipe Belajar
2.1.1 Definisi Belajar
Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang di
manesfestasikan sebagai pola pola respon yang baru yang berbentuk
ketrampilan ,sikap ,kebiasaan pengetahuan dan kecakapan menurut
(Witherington 1952) dalam Sukmadinata (2005). Belajar merupakan
suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku seseorang
sebagai hasil interaksi dengan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya. Perubahan perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh
aspek tingkah laku (Slameto 2003). Dengan demikian pada dasarnya
belajar ialah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman
(Whiterington dalam Daryono, 1997).
2.1.2 Faktor yang mempengaruhi belajar
Slemeto revisi 2013 menyatakan bahwa faktor- factor yang
mempengaruhi belajar di bedakan menjadi 2 macam yaitu :
1. Factor internal (factor yang berada pada dalam diri sendiri )
yaitu factor atas jasmani,rohani/psikologis siswa.
a. Factor jasmani terdiri dari :
1. Factor Kesehatan
9
10
Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan
beserta bagian baginaya (terbebas dari penyakit). Kesehatan
seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Jika kesehatan
seorang terganggu maka proses belajarnyapun akan
terganggu ia akan cepat lelah, kurang bersemangat ,mudah
pusing ,lemah dan ada gangguan alat indra dan tubuhnya
2. Cacat tubuh
Cacat tubuh adalah yang menyebabkan kurang baik
atau kurang sempurna mengenai tubuh atau badan. Keadaan
cacat dapat berupa buta ,tuli ,patah kaki, path tangan,
lumpuh dan lain lain. Keadaan cacat tubuh akan
mempengaruhi belajar. Seorang yang cacat proses
belajarnya juga akan terganggu. Jika hal ini terjadi
hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau
di usahakan alat bantu agar dapat menghindari atau
mengurangi pengaruh kecacatan itu.
b.Factor Psikologi
Banyak factor yang menyangkut aspek aspek psikologi
yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas belajar siswa.
Namun yang pada umumnya di pandang lebih esensial adalah :
1. Intelegensia
Adalah kecakapan yang terdiri dari 3 jenis yaitu
kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan kedalam
11
situasi yang baru dengan cepat dan afektif. Mengetahui dan
menggunakan konsep abstrak secara afektif mengetahui
relasi dan mempelajarinya dengan cepat. Intelegensia besar
pengaruhnya terhadap motifasi belajar. Dalam situasi yang
sama siswa yang mempunyai tingkat intelegensia yang
tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai
tingkat intelegensia yang rendah. Meskipun begitu , siswa
yang mempunyai intelegensi yang tinggi belum tentu
berhasil dalam belajarnya. Karena belajar merupakan suatu
proses yang kompleks dengan banyak faktor yang
mempengaruhinya, sedangkan intelegensia adalah
merupakan salah satu faktor diantara faktor yang lain.
2. Perhatian
Perhatian merupakan keaktifan jiwa yang semata
mata tertuju pada suatu obyek. Untuk menjamin hasil
belajar yang baik maka siswa harus mempunyai perhatian
terhadap bahan yang dipelajarinya. Jika bahan pelajaran
tidak menarik perhatian siswa maka akan timbul kebosanan
sehingga siswa tidak suka lagi belajar. Oleh Karena itu
perlu diusahakan agar bahan pelajaran selalu menarik
perhatian siswa dengan cara menyesuaikan pelajaran
dengan bakat siswa
12
3. Bakat
Adalah kemampuan potensial yang dimiliki
seseorang untuk belajar. Kemampuan itu baru akan
terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar
atau berlatih. Jadi bakat sanggat mempengaruhi proses
belajar.
4. Minat
Adalah kecenderungan yang tepat
untukmemperhatikan beberapa kegiatan. Minat sanggat
besar pengaruhnya terhadap belajar karena jika pelajaran
yang di pelajari tidak sesuai minat, ia tidak belajar dengan
sebaik baiknya karena tidak ada daya tarik dan tidak
memperoleh kepuasan dari pelajaran tersebut. Sebaliknya
bahan pelajaran yang lebih menarik akan mudah di pahami
dan disimpan, karena minat dalam belajarnya bertambah.
5. Motivasi
Adalah keadaan internal organism baik manusia ataupun
hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam
proses belajar haruslah diperhatikan apa yang mendorong
siswa agar dapat belajar dengan baik dan mempunyai motif
untuk memusatkan perhatian merencanakan dan
melaksanakan kegiatan yang dapat menunjang belajarnya.
13
6. Kematangan
Adalah suatu tingkat dalam pertumbuhan seseorang dimana
lat –alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan
kecakapan baru. Kematangan belum berarti anak dapat
melaksanakan kegiatan secara terus menerus untuk itu
diperlukan latihan latihan dan pelajaran.
7. Kesiapan
Adalah kesediaan untuk member respon atau berinteraksi.
Kesiapan ini timbul dari seseorang dan juga berhubungan
dengan kematangan. Karena, kematangan berarti kesiapan
untuk melakukan kecakapan. Kesiapan ini harus di
perhatikan dalam proses belajar, jika siswa minat belajar
dan memiliki kesiapan maka hasil belajarnya akan lebih
baik.
c.Faktor kelelahan
Kelelahan dapat di bagi menjadi dua macam ,
kelelahan rohani dan kelelahan jasmani. Kelelahan jasmani
terlihat dari lemah lunglaynya tubuh dan cenderung untuk
membaringkan tubuh. Sedangkan kelelahan rohani dapat
dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan sehingga minat
dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Dapat
disimpulkan bahwa kelelahan mempengaruhi belajar. Maka
14
jika siswa lelah maka hendaknya istirahatlah dadulu supaya
tidak sia sia dalam menerima pelajaran.
3. Faktor Eksternal faktor dari luar kondisi lingkungan di sekitar siswa.
Faktor eksternal yang berhubungan dengan belajar yaitu :
a. Faktor keluarga
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga
yang berupa cara orang tua mendidik ,relasi antar anggota
keluarga, suasana rumah tangga keadaan ekonomi keluarga,
pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan. Untuk itu
anak prlu dorongan dan pengertian orang tua bila anak sedang
belajar.
b. Faktor sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup
metode mengajar,kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi
siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu
sekolah, standart pelajaran , keadaan gedung , metode belajar
dan tugas rumah. Jadi faktor sekolah cukup mempengaruhi
minat belajar siswa.
c. Faktor Masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang berpengaruh
terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaanya
siswa dalam masyarakat. Berikut ini merupakan kegiatan siswa
di masyarakat antara lain kegiatan siswa dalam masyarakat,
15
mass media, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat
yang semuanya mempengaruhi belajar
Selain faktor diatas menurut (syeh 2003) terdapat faktor
lain yang menunjang keberhasilan seseorang dalam belajar yaitu
faktor pendekatan dalam belajar (apporch to learn) yaitu segala
cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang
keefektifan dan efisiensi proses mempelajari materi tertentu.
Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional
yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah
atau mencapai tujuan belajar tertentu.
2.1.3 Prinsip Prinsip belajar
Menurut (Slameto 2013) prinsip belajar yang dapat
dilaksanakan dalam situasi dan kondisi yang berbeda dan oleh
setiap siswa secara individual.berikut merupakan prinsip prinsip
belajar, sebagai berikut:
a. Berdasarkan prasarat yang diperlukan untuk belajar
1. Dalam belajar siswa harus diusahakan berpartisipasi aktif,
meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai
tujuan instruksional;
2. Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan
motifvasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan
instruksional;
16
3. Belajar perlu menantang dimana anak dapat
mengembangkan kemampuanya bereksplorasi dan belajar
dengan efektif. Belajar perlu ada interaksi siswa dengan
lingkunganya.
b. Sesuai hakikat belajar
1. Belajar itu sifatnya kontinyu, maka harus tahap demi tahap
sesuai perkembanganya ;
2. Belajar adalah proses organisasi ,adaptasi, eksplorasi dan
discoveri;
3. Belajar adalah proses kontinuitas (Hubungan antara
pengertian satu dengan pengertian yang lain) sehingga
mendapatkan pengertian yang di harapkan. Stimulus yang di
berikan menimbulkan response yang diharapkan;
c. Sesuai materi atau materi yang dipelajari
1. Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki
struktur penyajian yang sederhana sehingga siswa mudah
menangkap pengertianya.
2. Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu
sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapai.
d. Syarat keberhasilan belajar
1. Belajar memerlukan sarana yang cukup sehingga siswa
dapat belajar dengan tenang;
17
2. Repetisi dalam proses belajar perlu ulangan berkali kali
agar pengetian /ketrampilan/sikap itu mendalam pada siswa.
2.2 Tipe belajar
Menurut DePetter dan Hearchi, 2003, tipe belajar merupakan gaya
belajar yang dimiliki oleh setiap individu yang merupakan cara termudah
dalam menyerap, mengatur dan mengolah informasi. Sutanto, 2006,
membagi tipe belajar seseorang menjadi tiga hal:
1. Manusia visual, dimana ia akan secara optimal menyerap informasi
yang dibacanya/dilihatnya.
2. Manusia auditori, dimana informasi yang masuk melalui apa yang
didengarnya akan diserap secara optimal.
3. Manusia kinestetik, dimana ia akan sangat senang dan cepat
mengerti bila informasi yang harus diserapnya terlebih dahulu
“dicontohkan” atau ia membayangkan orang lain melakukan hal
yang akan dipelajarinya.
Sejalan dengan hal tersebut, DePetter dan Hearchi, 2003,
mendeskripsikan ciri-ciri tipe belajar seseorang menjadi sebagai
berikut:
1. Tipe Visual
Orang visual akan lebih memahami melalui apa yang
mereka lihat. Warna, hubungan ruang, potret mental dan gambar
menonjol dalam modalitas ini. Adapun beberapa ciri orang
dengan tipe belajar visual, yaitu :
18
1. Rapi, teratur, memperhatikan segala sesuatu dan menjaga
penampilan
2. Berbicara dengan cepat
3. Perencana dan pengatur jangka panjang yang baik
4. Pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya
dalam pikiran mereka
5. Lebih mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar
6. Mengingat dengan asosiasi visual
7. Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali
jika ditulis dan sering meminta orang lain untuk mengulangi
ucapannya.
8. Lebih suka membaca daripada dibacakan dan pembaca yang
cepat
9. Mencoret-coret tanpa arti selama berbicara di telepon atau dalam
rapat
10.Lebih suka melakukan demonstrasi daripada berpidato
11.Lebih menyukai seni gambar daripada musik
12.Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban yang singkat ya
atau tidak
13.Mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai
memilih kata-kata yang tepat
14.Biasanya tidak terganggu dengan keributan
19
2. Tipe auditori
Orang dengan tipe ini akan lebih memahami sesuatu melalui
apa yang mereka dengar. Modalitas ini mengakses segala jenis
bunyi dan kata. Musik, irama, dialog internal dan suara
menonjol pada tipe auditori. Seseorang yang sangat auditori
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Suka berbicara kepada diri sendiri saat bekerja
2. Perhatiannya mudah terpecah dan mudah terganggu oleh
keributan
3. Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku
ketika membaca
4. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
5. Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, perubahan dan
warna suara
6. Merasa kesulitan untuk menulis dan lebih suka mengucapkan
secara lisan
7. Berbicara dalam irama yang terpola
8. Lebih suka musik daripada seni gambar
9. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang
didiskusikan daripada yang dilihat
10.Suka berbicara, suka berdiskusi dan menjelaskan sesuatu dengan
panjang lebar
11.Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
20
12.Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang
melibatkan visualisasi, seperti memotong bagian-bagian hingga
sesuai satu sama lain
13.Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
14.Biasanya pembicara yang fasih
3. Kinestetik
Orang dengan tipe kinestetik belajar malalui gerak, emosi dan
sentuhan.Modalitas ini mengakses pada gerakan, koordinasi, irama,
tanggapan emosional, dan kenyamanan fisik. Ciri-ciri orang dengan
tipe belajar kinestetik yaitu :
1. Berbicara dengan perlahan
2. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka saat
berbicara
3. Berdiri berdekatan saat berbicara dengan orang
4. Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak
5. Belajar melalui memanipulasi dan praktik
6. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
7. Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca
8. Banyak menggunakan isyarat tubuh
9. Tidak dapat diam untuk waktu yang lama
10.Tidak dapat mengingat geografis, kecuali jika mereka memang
telah pernah berada di tempat itu.
11.Menyukai permainan yang menyibukkan
21
12.Mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca, suka
mengetuk-ngetuk pena, jari, atau kaki saat mendengarkan
13.Ingin melakukan segala sesuatu
14.Kemungkinan tulisannya jelek
2.3 Prestasi Belajar
Definisi Prestasi Belajar
Winkel (1996) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu
bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam
melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.
Sedangkan menurut Nasution (1996) prestasi belajar adalah kesempurnaan
yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar
dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni kognitif, afektif
dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika
seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut
(Sunartombs, 2009).
Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari
kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan
prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian
prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian
belajar itu sendiri. Poerwanto (1986) memberikan pengertian prestasi
belajar yaitu hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar
sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.
22
Prestasi belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes
prestasi belajar. Menurut Saifudin Anwar (2005 : 8-9) mengemukakan
tentang tes prestasi belajar bila dilihat dari tujuannya yaitu mengungkap
keberhasilan sesorang dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali
informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara terrencana untuk
mengungkap performasi maksimal subyek dalam menguasai bahan-bahan
atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan pendidikan formal tes
prestasi belajar dapat berbentuk ulangan harian, tes formatif, tes sumatif,
bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi.Pengertian prestasi
belajar adalah sesuatu yang dapat dicapai atau tidak dapat dicapai. Untuk
mencapai suatu prestasi belajar siswa harus mengalami proses
pembelajaran. Dalam melaksanakan proses pembelajaran siswa akan
mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan.
23
2.4 Kerangka Teori
Gambar 2.1
Kerangka konsep pengaruh
Tipe belajar terhadap prestasi
Belajar siswa
Tipe- Tipe Belajarb Prestasi Belajar
Mahasiswa
Tipe –tipe belajar :
1. Visual
2. Auditori
3. Kinestik
Definisi belajar :
Belajar merupakan
perubahan dalam
kepribadian, yang di
manesfestasikan sebagai
pola pola respon yang baru
yang berbentuk
ketrampilan ,sikap
,kebiasaan pengetahuan
dan kecakapan menurut
(Witherington 1952)
dalam Sukmadinata (2005)
DefinisiPrestasi Belajar
Winkel (1996) mengatakan bahwa
prestasi belajar adalah suatu bukti
keberhasilan belajar atau kemampuan
seseorang siswa dalam melakukan
kegiatan belajarnya sesuai dengan
bobot yang dicapainya. Sedangkan
menurut Nasution (1996) prestasi
belajar adalah kesempurnaan yang
dicapai seseorang dalam berfikir,
merasa dan berbuat. Prestasi belajar
dikatakan sempurna apabila
memenuhi tiga aspek yakni kognitif,
afektif dan psikomotor, sebaliknya
dikatakan prestasi kurang memuaskan
jika seseorang belum mampu
memenuhi target dalam ketiga kriteria
tersebut (Sunartombs, 2009).
24
2.5 Kerangka Konsep Penelitian
Variable bebas Variable terikat
Gambar 2.2
Kerangka teori pengaruh tipe belajar terhadap prestasi belajar siswa
Tipe belajarsiswa
Hasil prestasi belajar
siswa
Nasution(1996) prestasi belajar
adalahkesempurnaanyangdicapai
seseorangdalamberfikir,merasadan
berbuat.Prestasi belajardikatakan
sempurnaapabilamemenuhi tiga
aspekyakni kognitif,afektif dan
psikomotor,sebaliknyadikatakan
prestasi kurangmemuaskanjika
seseorangbelummampumemenuhi
target dalamketigakriteria
Tipe belajarvisual
Tipe belajar
auditori
Tipe belajar
kinestek
25
2.6 Hipotesis :
a. Ada pengaruh antara Tipe belajar visual dengan memperoleh prestasi
baik
b. Adanya pengaruh antara Tipe belajar auditorial dengan memeperoleh
prestasi sangat baik
c. Adanya pengaruh antara Tipe belajar kinetic dengan memperoleh
prestasi cukup
26
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis penelitian dan Pendekatan Penelitian
Penelitian studi kasus ini menggunakan penelitian pendekatan
kualitatif. Menurut Poerwandari (1998) penelitian kualitatif adalah
penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya
deskriptif, seperti transkripsi wawancara , catatan lapangan, gambar, foto
rekaman video dan lain-lain.
Dalam penelita kualitatif perlu menekankan pada pentingnya kedekatan
dengan orang-orang dan situasi penelitian, agar peneliti memperoleh
pemahaman jelas tentang realitas dan kondisi kehidupan nyata.( Patton
dalam Poerwandari, 1998)
B. Subyek Penelitian
Dalam penelitian ini, karakteristik subjek adalah Sebagai berikut :
Subjek penelitian ini adalah mahasiswa yang berusia 19 -22 tahun ,
masih menempuh pendidikan di bangku kuliah , belum menikah. Jumlah
subjek dalam penelitian ini adalah 2 orang.
C. Tahap-tahap penelitian
Dalam penelitian terdapat dua tahap penelitian, yaitu :
26
27
1. Tahap Persiapan Penelitian
Pertama peneliti membuat pedoman wawancara yang disusun
berdasarkan demensi kebermaknaan hidup sesuai dengan permasalahan
yang dihadapi subjek. Pedoman wawancara ini berisi pertanyaan-
pertanyaan mendasar yang nantinya akan berkembang dalam wawancara.
Pedoman wawancara yang telah disusun, ditunjukan kepada yang lebih ahli
dalam hal ini adalah pembibing penelitian untuk mendapat masukan
mengenai isi pedoman wawancarara. Setelah mendapat masukan dan
koreksi dari pembimbing, peneliti membuat perbaikan terhadap pedoman
wawancara dan mempersiapkan diri untuk melakukan wawancara. Tahap
persiapan selanjutnya adalah peneliti membuat pedoman observasi yang
disusun berdasarkan hasil observasi terhadap perilaku subjek selama
wawancara dan observasi terhadap lingkungan atau setting wawancara,
serta pengaruhnya terhadap perilaku subjek dan pencatatan langsung yang
dilakukan pada saat peneliti melakukan observasi. Namun apabila tidak
memungkinkan maka peneliti sesegera mungkinmencatatnya setelah
wawancara selesai.
Peneliti selanjutnya mencari subjek yang sesuai dengan
karakteristik subjek penelitian. Untuk itu sebelum wawancara dilaksanakan
peneliti bertanya kepada subjek tentang kesiapanya untuk diwawancarai.
Setelah subjek bersedia untuk diwawancarai, peneliti membuat kesepakatan
dengan subjek tersebut mengenai waktu dan temapat untuk melakukan
wawancara.
28
2. Tahap pelaksanaan penelitiaan
Peneliti membuat kesepakatan dengan subjek mengenai waktu dan
tempat untuk melakukan wawancara berdasarkan pedoman yang dibuat.
Setelah wawancara dilakukan, peneliti memindahakan hasil rekaman
berdasrkan wawancara dalam bentuk verbatim tertulis. Selanjutnya peneliti
melakukan analisis data dan interprestasi data sesuai dengan langkah-
langkah yang dijabarkan pada bagian metode analisis data di akhir bab ini.
setelah itu, peneliti membuat dinamika psikologis dan kesimpulan yang
dilakukan, peneliti memberikan saran-saran untuk penelitian selanjutnya.
D. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitiaan ini, peneliti menggunakan 2 teknik pengumpulan data,
yaitu :
1. Wawancara
Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengmbilan
data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden,
caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka.
Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan dengan
menggunakan pedoman wawancara. Menurut Patton (dalam Poerwandari
1998) dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum
wawancara ini, interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat
umum, serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tampa menentukan
urutan pertanyaan, bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang
eksplisit.
29
Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer
mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar
pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas
atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan
bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam
kalimat Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual
saat wawancara berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998)
Kerlinger (dalam Hasan 2000) menyebutkan 3 hal yang menjadi
kekuatan metode wawancara :
a. Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan yang
diajukan. Jika mereka tidak mengerti bisa diantisipasi oleh interviewer
dengan memberikan penjelasan.
b. Fleksibel, pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing
individu.
c. Menjadi stu-satunya hal yang dapat dilakukan disaat tehnik lain sudah
tidak dapat dilakukan.
Menurut Yin (2003) disamping kekuatan, metode wawancara juga
memiliki kelemahan, yaitu :
a. Retan terhadap bias yang ditimbulkan oleh kontruksi pertanyaan yang
penyusunanya kurang baik.
b. Retan terhadap terhadap bias yang ditimbulkan oleh respon yang
kurang sesuai.
30
c. Probling yang kurang baik menyebabkan hasil penelitian menjadi
kurang akurat.
d. Ada kemungkinan subjek hanya memberikan jawaban yang ingin
didengar oleh interviwer.
2. Observasi
Disamping wawancara, penelitian ini juga melakukan metode
observasi. Menurut Nawawi & Martini (1991) observasi adalah
pengamatan dan pencatatan secara sistimatik terhadap unsur-unsur yang
tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala dalam objek penelitian.
Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat memehami
proses terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam
konteksnya. Observasi yang akan dilakukan adalah observasi terhadap
subjek, perilaku subjek selama wawancara, interaksi subjek dengan
peneliti dan hal-hal yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan
data tambahan terhadap hasil wawancara.
Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) tujuan observasi adalah
mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang
berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna
kejadian di lihat dari perpektif mereka yang terlihat dalam kejadian yang
diamati tersebut.
Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) salah satu hal yang
penting, namun sering dilupakan dalam observasi adalah mengamati hal
31
yang tidak terjadi. Dengan demikian Patton menyatakan bahwa hasil
observasi menjadi data penting karena :
a. Peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks
dalam hal yang diteliti akan atau terjadi.
b. Observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi
pada penemuan dari pada pembuktiaan dan mempertahankan pilihan
untuk mendekati masalah secara induktif.
c. Observasi memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh subjek
penelitian sendiri kurang disadari.
d. Observasi memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal-hal
yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian
secara terbuka dalam wawancara.
e. Observasi memungkinkan peneliti merefleksikan dan bersikap
introspektif terhadap penelitian yang dilakukan. Impresi dan perasan
pengamatan akan menjadi bagian dari data yang pada giliranya dapat
dimanfaatkan untuk memahami fenomena yang diteliti.
E. Alat Bantu pengumpulan Data
Menurut Poerwandari (1998) penulis sangat berperan dalam seluruh
proses penelitian, mulai dari memilih topik, mendeteksi topik tersebut,
mengumpulkan data, hingga analisis, menginterprestasikan dan
menyimpulkan hasil penelitian.
32
Dalam mengumpulkan data-data penulis membutuhkan alat Bantu
(instrumen penelitian). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan 3 alat
bantu, yaitu :
1. Pedoman wawancara
Pedoman wawancara digunakan agar wawancara yang dilakukan tidak
menyimpang dari tujuan penelitian. Pedoman ini disusun tidak hanya
berdasarkan tujuan penelitian, tetapi juga berdasarkan teori yang
berkaitan dengan masalah yang diteliti.
2. Pedoman Observasi
Pedoman observasi digunakan agar peneliti dapat melakukan
pengamatan sesuai dengan tujuan penelitian. Pedoman observasi
disusun berdasrkan hasil observasi terhadap perilaku subjek selama
wawancara dan observasi terhadap lingkungan atau setting wawancara,
serta pengaruhnya terhadap perilaku subjek dan informasi yang
muncul pada saat berlangsungnya wawancara.
3. Alat Perekam
Alat perekam berguna Sebagai alat Bantu pada saat wawancara, agar
peneliti dapat berkonsentrasi pada proses pengambilan data tampa
harus berhenti untuk mencatat jawaban-jawaban dari subjek. Dalam
pengumpulan data, alat perekam baru dapat dipergunakan setelah
mendapat ijin dari subjek untuk mempergunakan alat tersebut pada
saat wawancara berlangsung.
33
E. Keabsahan dan Keajegan Penelitian
Studi kasus ini menggunakan penelitian pendekatan kualitataif. Yin
(2003) mengajukan emmpat criteria keabsahan dan keajegan yang
diperlukan dalam suatu penelitian pendekatan kualitatif. Empat hal tersebut
adalah Sebagai berikut :
1. Keabsahan Konstruk (Construct validity)
Keabsahan bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastiaan bahwa
yang berukur benar- benar merupakan variabel yang ingin di ukur.
Keabsahan ini juga dapat dicapai dengan proses pengumpulan data yang
tepat. Salah satu caranya adalah dengan proses triangulasi, yaitu tehnik
pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar
data itu untuk keperluan pengecekan atau Sebagai pembanding terhadap
data itu. Menurut Patton (dalam Sulistiany 1999) ada 4 macam triangulasi
Sebagai teknik pemeriksaan untuk mencapai keabsahan, yaitu :
a. Triangulasi data
Mengguanakan berbagai sumber data seperti dokumen, arsip, hasil
wawancara, hasil observasi atau juga dengan mewawancarai lebih dari
satu subjek yang dianggap memeiliki sudut pandang yang berbeda.
b. Triangulasi Pengamat
Adanya pengamat di luar peneliti yang turut memeriksa hasil
pengumpulan data. Dalam penelitian ini, dosen pembimbing studi kasus
34
bertindak Sebagai pengamat (expert judgement) yang memberikan
masukan terhadap hasil pengumpulan data.
c. Triangulasi Teori
Penggunaan berbagai teori yang berlaianan untuk memastikan bahwa
data yang dikumpulkan sudah memasuki syarat. Pada penelitian ini,
berbagai teori telah dijelaskan pada bab II untuk dipergunakan dan
menguji terkumpulnya data tersebut.
d. Triangulasi metode
Penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal, seperti metode
wawancara dan metode observasi. Dalam penelitian ini, peneliti
melakukan metode wawancara yang ditunjang dengan metode
observasi pada saat wawancra dilakukan.
2. Keabsahan Internal (Internal validity)
Keabsahan internal merupakan konsep yang mengacu pada seberapa
jauh kesimpulan hasil penelitian menggambarkan keadaan yang
sesungguhnya. Keabsahan ini dapat dicapai melalui proses analisis dan
interpretasi yang tepat. Aktivitas dalam melakukan penelitian kualitatif
akan selalu berubah dan tentunya akan mempengaruhi hasil dari penelitian
tersebut. Walaupun telah dilakukan uji keabsahan internal, tetap ada
kemungkinan munculnya kesimpulan lain yang berbeda.
35
3. Keabsahan Eksternal (Eksternal validity)
Keabsahan ekternal mengacu pada seberapa jauh hasil penelitian dapat
digeneralisasikan pada kasus lain. Walaupun dalam penelitian kualitatif
memeiliki sifat tidak ada kesimpulan yang pasti, penelitiaan kualitatif
tetapi dapat dikatakan memiliki keabsahan ekternal terhadap kasus-kasus
lain selama kasus tersebut memiliki konteks yang sama.
4. Keajegan (Reabilitas)
Keajegan merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh penelitian
berikutnya akan mencapai hasil yang sama apabila mengulang penelitian
yang sama, sekali lagi.
Dalam penelitian ini, keajegan mengacu pada kemungkinan
peneliti selanjutnya memeperoleh hasil yang sama apabila penelitian
dilakukan sekali lagi dengan subjek yang sama. Hal ini menujukan bahwa
konsep keajegan penelitian kualitatif selain menekankan pada desain
penelitian, juga pada cara pengumpulan data dan pengolahan data.
F. Teknik Analisis Data
Marshall dan Rossman mengajukan teknik analisa data kualitatif
untuk proses analisis data dalam penelitian ini. Dalam menganalisa
penelitian kualitatif terdapat beberapa tahapan-tahapan yang perlu
dilakukan (Marshall dan Rossman dalam Kabalmay, 2002), diantaranya :
36
Daftar Pustaka
Alimul, A. 2002. Pengantar Pendidikan Keperawatan. Jakarta: PTFajar
Interpratama
Crow, L. 1984. Psikologi Pendidikan. Surabaya: PT Bina Ilmu
Dalyono, M. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta Maulida,
Dina. 2008. Pengaruh Gaya Belajar (Visual, Auditorial,&
Kinestetik)Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas I Penjualan SMK
Muhammadiyah 2 Malang Pada Mata Pelajaran Kewirausahaan Tahun
Ajaran 2007/2008.Di kutip dari :
http://www.infoskripsi.net/onlineeducationresearch/wp -
content/2008.04.pdf./. Di buka tanggal 2Desember 2014
Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Asdi
Mahasatya
Nugroho, A. 2008. Hubungan Antara Self-efficacy, Penyesuaian Diri dengan
Prestasi Akademik Mahasiswa (The Correlation Between Self-efficacy,
Self-adjusmentwith The Academic Achievementof College Student).
Dikutip dari:http://wimamadiun.com/obedan/wp
content/uploads/2008/04/self-fficacy%20selfadjusment%20achievement.pdf
Nursalam. 2003. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan :
pedoman skripsi, tesis dan instrumen penelitian keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika
Slameto. 2003. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: PT
Rineka Cipta
Sudjana, N. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Wasis. 2008. Pedoman Riset Praktis Untuk Profesi Perawat. Jakarta: EGC
Zaini, H. 2002. Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Center for
Teaching Staff Development (CTSD)
Zuriah, N. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan : Teori-Aplikasi.
N Jakarta: Bumi Akasara

Proposal penelitian

  • 1.
    1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Sering kali seseorang mengalami kesuliatan untuk melakukan metode balajar yang tepat. Belajar merupakan kegiatan yang berproses dan termasuk unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. menurut (syah 2006) belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menatap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Proses belajar yang dimaksud ditandai dengan adanya perubahan perubahan perilaku yang bersifat positif yang berorientasi pada aspek kognitif (pengetahuan),afektif (sikap) dan psikomotorik (ketrampilan). Masing masing individu mempunyai cara atau metode tersendiri untuk mencapai nilai yang diinginkan. Keberhasilan proses pembelajaran tergantung dari minat dan kemauan individu (mahasiswa) dengan melaukan pembelajaran yang efektif dan menarik .Beberapa metode pembelajaran yang digunakan termasuk di STIKES Duta Gama metode pembelajaran kuliah ceramah ,seminar/diskusi/presentasi,pratikum/studi lapangan . Ceramah yaitu metode yang dilakukan menyampaikan pesan dan informasi memalui satu arah baik suara atau lisan. Sedangkan diskusi adalah strategi pembelajaran interaksi dan komunikasi dari dua arah atau lebih yang melibatkan dosen dan mahasiswa. Pratikum adalah metode dalam bentuk 1
  • 2.
    2 demonstrasi dan simulasiuntuk mempraktekan tampilan yang lebih dahulu di demonstrasikan oleh dosen (Zaini 2002). Strategi belajar mahasiswa secara tidak langsung akan mempengaruhi minat belajar Dalam menentukan metode mahasiswa perlu di bantu dan diarahkan untuk mengenal tipe belajar. Tipe atau cara belajar tersebut sangatlah penting untuk mempermudah penyerapan materi sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar.Jadi penting merubah metode belajar yang tepat untuk mencapai prestasi yang diinginkan. Menurut Deporter 2003, terdapat tiga tipe dalam belajar yaitu : a. Tipe belajar visual : melalui apa yang mereka lihat b. Tipe belajar Auditorial : melalui apa yang mereka dengar c. Tipe belajar kinestik :belajar dengan gerak, bekerja dan menyentuh Banyak orang yang seringkali mengkombinasikan ke tiga tipe tersebut akan tetapi setiap orang poasti mempunyai tipe tersendiri untuk melakukan pembelajaran. Data yang diperoleh dari bagian pendidikan Stikes Duta Gama pada pertengahan semester ganjil menunjukan bahwa nilai IPK dari semester 2 yang mendapat IPK < 3 sebanyak 14,2%, sedangkan IPK > 3 sebanyak 85,7% , untuk semester 5 yang mendapat IPK < 3 sebanyak 16% sedangkan IPK >3 sebanyak 84%, untuk semester 7 yang mendapat IPK <3 sebanyak 43,7% sedangkan IPK >3 sebanyak 56% (bagian pendidikan stikes Duta Gama) meskipun strategi pembelajaran yang digunakan di Stikes Duta
  • 3.
    3 Gama Klaten Sama.Untuk itu peneliti ingin mengetahui tipe belajar dari masing masing semester sehingga di dapatkan alasan tipe belajar yang paling efektif dan banyak digunakan di siswa Keperawatan Stikes Duta Gama Klaten. Pemberlakuan kurikulum baru di Stikes Duta Gama Klaten merupakan cara untuk meningkatkan prestasi belajar mahasiwa. Namun cara belajar bukanlah satu satunya variable yang mempengaruhi prestasi melainkan adanya dari lingkungan ,sarana prasarana, minat individu ,dosen dan lain lain. Jadi dalam penelitian ini saya hanya akan meneliti tentang tipe belajar dengan prestasi mahasiwa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Duta Gama Klaten . Bedasarkan latar belakang yang di jelaskan di atas maka penulis bermaksud mengadakan penelitian dengan judul “ Hubungan Antara Tipe Belajar Dengan Prestasi Mahasiswa Di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Duta Gama Klaten “
  • 4.
    4 1.2 Rumusan Masalah Darilatar belakang masalah yang telah di jelaskan di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah : 1. Bagaimana tipe atau cara belajar mahasiwa di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Duta Gama Klaten? 2. Bagaiman prestasi belajar mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Duta Gama Klaten? 3. Adanya pengaruh tipe belajar dengan prestasi mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Duta Gama Klaten? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan dari Rumusan masalah yang telah di jelaskan maka penelitian ini bertujuan untuk : 1.3.1 Tujuan Umum : Mengetahui pengaruh tipe belajar dengan prestasi belajar mahasiwa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Duta Gama Klaten 1.3.2 Tujuan Khusus : 1. Mengetahui tentang tipe atau cara belajar mahasiswa keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Duta Gama Klaten 2. Mengetahui Prestasi belajar mahasiwa keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Duta Gama Klaten 3. Mengetahui pengaruh anatara tipe atau cara belajang dengan prestasi mahasiswa keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Duta Gama klaten
  • 5.
    5 1.4 Manfaat penelitian 1.4.1Manfaat teoritis Penelitian ini di harapkan menambah ilmu pengetahuan tentang tipe belajar dengan prestasi belajar mahasiswa 1.4.2 Manfaat praktis 1. Bagi keperawatan Sebagai dasar untuk pengembangan ilmu keperawatan terutama ilmu pendidikan dalam keperawatan dengan melakukan penelitian tentang tipe belajar dengan prestasi belajar siswa. 2. Bagi Institusi Sebagai literature tipe belajar terhadap prestasi belajar siswa. 3. Bagi masyarakat umun Sebagai masukan bagi mahasiswa dalam mengetahui tipe belajar yang tepat untuk mencapai prestasi yang di harapkan.
  • 6.
    6 1.5 Keaslian penelitian Setahusaya belum pernah ada yang meneliti tentang “hubungan antara tipe belajar dengan prestasi belajar mahasiswa Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Duta Gama Klaten adapaun yang terakait adalah : 1. “Hubungan Antara Kreatifitas dan Gaya Belajar Dengan Prestasi Belajar MatematikaSiswa SMP” Peneliti :Dewi A Sagita Program studi pendidikan matematika jurusan pendidikan matematika fakultas matematika dan ilmu pengetahuian alam Universitas Negeri Yogyakarta 2010. Analisa data : Deskripsi hasil penelitian yang diperoleh dari pengumpulan data padadengan instrumen penelitian berupa bentuk skor. Pemaparan tersebut meliputi variabel-variabel: (1) Kreativitas, (2) Gaya Belajar, dan (3) Prestasi Belajar Matematika yang mencakup mean, median, mode, standart deviation, rentang skor (range), skor minimum, dan skor maksimum. Jika Y menyatakan variabel terikat atau variabel prestasi belajar matematika, X menyatakan variabel bebas, X1 menyatakan variabel kreativitas, dan X2 menyatakan variabel gaya belajar. 2. “Pengaruh Cara Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas 1 Jurusan Administrasi Perkantoran Pada mata Diklat Melakukan Prosedur Administrasi Di SMK PGRI 2 Malang tahun pelajaran 2005/2006 Peneliti : http://skripsistikes.wordpress.com
  • 7.
    7 Analisa data :Metode ini dipergunakan karena penelitian ini berusaha untuk menemukan ada tidaknya pengaruh antara cara belajar terhadap prestasi belajar melakukan prosedur administrasi siswa kelas 1 jurusan ADP SMK PGRI 2 Malang. Deskriptif korelasional dipandang sesuai dengan penelitian ini karena bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang variabel yang diteliti dan bersifat korelasi karena penelitian ini bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, berapa eratnya hubungan serta berarti atau tidaknya hubungan itu.(Arikunto, 1993: 215). Pada penelitian ini berusaha untuk menemukan ada tidaknya pengaruh antara cara belajar terhadap prestasi belajar mata diklat melakukan prosedur administrasi siswa kelas 1 Jurusan ADP SMK PGRI 2 Malang. 3. “Hubungan Gaya Belajar (Visual, Audio Dan Kinestetik ) Dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP N 3 Padang Sumatera Barat Pada Pembelajaran Biologi Tahun Ajaran 2012/2013 Peneliti : Haslia Margareta (mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Bung Hatta) , Erman Har (Dosen Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Bung Hatta),Nawir Muhar Hasil : Hasil analisis dengan rumus korelasi product moment adalah r = 0,562 dengan kategori koefisien korelasi cukup kuat. Persentase hubungan gaya belajar dengan prestasi belajar Biologi
  • 8.
    8 siswa sebesar 31,58%. Hasil uji hipotesis dengan ttabel = 9,7822 dan thitung = 1,645 , harga thitung> thitung, pada taraf nyata α = 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H�diterima dan H� ditolak. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara gaya belajar visual, audio dan kinestetik dengan prestasi belajar siswa kelas VIII SMPN 3 Padang Sumatera Barat pada mata pelajaran Biologi tahun ajaran 2012/2013.
  • 9.
    9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1Belajar Dan Tipe Tipe Belajar 2.1.1 Definisi Belajar Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang di manesfestasikan sebagai pola pola respon yang baru yang berbentuk ketrampilan ,sikap ,kebiasaan pengetahuan dan kecakapan menurut (Witherington 1952) dalam Sukmadinata (2005). Belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil interaksi dengan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku (Slameto 2003). Dengan demikian pada dasarnya belajar ialah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman (Whiterington dalam Daryono, 1997). 2.1.2 Faktor yang mempengaruhi belajar Slemeto revisi 2013 menyatakan bahwa faktor- factor yang mempengaruhi belajar di bedakan menjadi 2 macam yaitu : 1. Factor internal (factor yang berada pada dalam diri sendiri ) yaitu factor atas jasmani,rohani/psikologis siswa. a. Factor jasmani terdiri dari : 1. Factor Kesehatan 9
  • 10.
    10 Sehat berarti dalamkeadaan baik segenap badan beserta bagian baginaya (terbebas dari penyakit). Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Jika kesehatan seorang terganggu maka proses belajarnyapun akan terganggu ia akan cepat lelah, kurang bersemangat ,mudah pusing ,lemah dan ada gangguan alat indra dan tubuhnya 2. Cacat tubuh Cacat tubuh adalah yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh atau badan. Keadaan cacat dapat berupa buta ,tuli ,patah kaki, path tangan, lumpuh dan lain lain. Keadaan cacat tubuh akan mempengaruhi belajar. Seorang yang cacat proses belajarnya juga akan terganggu. Jika hal ini terjadi hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau di usahakan alat bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatan itu. b.Factor Psikologi Banyak factor yang menyangkut aspek aspek psikologi yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas belajar siswa. Namun yang pada umumnya di pandang lebih esensial adalah : 1. Intelegensia Adalah kecakapan yang terdiri dari 3 jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan kedalam
  • 11.
    11 situasi yang barudengan cepat dan afektif. Mengetahui dan menggunakan konsep abstrak secara afektif mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. Intelegensia besar pengaruhnya terhadap motifasi belajar. Dalam situasi yang sama siswa yang mempunyai tingkat intelegensia yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai tingkat intelegensia yang rendah. Meskipun begitu , siswa yang mempunyai intelegensi yang tinggi belum tentu berhasil dalam belajarnya. Karena belajar merupakan suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, sedangkan intelegensia adalah merupakan salah satu faktor diantara faktor yang lain. 2. Perhatian Perhatian merupakan keaktifan jiwa yang semata mata tertuju pada suatu obyek. Untuk menjamin hasil belajar yang baik maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya. Jika bahan pelajaran tidak menarik perhatian siswa maka akan timbul kebosanan sehingga siswa tidak suka lagi belajar. Oleh Karena itu perlu diusahakan agar bahan pelajaran selalu menarik perhatian siswa dengan cara menyesuaikan pelajaran dengan bakat siswa
  • 12.
    12 3. Bakat Adalah kemampuanpotensial yang dimiliki seseorang untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Jadi bakat sanggat mempengaruhi proses belajar. 4. Minat Adalah kecenderungan yang tepat untukmemperhatikan beberapa kegiatan. Minat sanggat besar pengaruhnya terhadap belajar karena jika pelajaran yang di pelajari tidak sesuai minat, ia tidak belajar dengan sebaik baiknya karena tidak ada daya tarik dan tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran tersebut. Sebaliknya bahan pelajaran yang lebih menarik akan mudah di pahami dan disimpan, karena minat dalam belajarnya bertambah. 5. Motivasi Adalah keadaan internal organism baik manusia ataupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik dan mempunyai motif untuk memusatkan perhatian merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang dapat menunjang belajarnya.
  • 13.
    13 6. Kematangan Adalah suatutingkat dalam pertumbuhan seseorang dimana lat –alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Kematangan belum berarti anak dapat melaksanakan kegiatan secara terus menerus untuk itu diperlukan latihan latihan dan pelajaran. 7. Kesiapan Adalah kesediaan untuk member respon atau berinteraksi. Kesiapan ini timbul dari seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan. Karena, kematangan berarti kesiapan untuk melakukan kecakapan. Kesiapan ini harus di perhatikan dalam proses belajar, jika siswa minat belajar dan memiliki kesiapan maka hasil belajarnya akan lebih baik. c.Faktor kelelahan Kelelahan dapat di bagi menjadi dua macam , kelelahan rohani dan kelelahan jasmani. Kelelahan jasmani terlihat dari lemah lunglaynya tubuh dan cenderung untuk membaringkan tubuh. Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Dapat disimpulkan bahwa kelelahan mempengaruhi belajar. Maka
  • 14.
    14 jika siswa lelahmaka hendaknya istirahatlah dadulu supaya tidak sia sia dalam menerima pelajaran. 3. Faktor Eksternal faktor dari luar kondisi lingkungan di sekitar siswa. Faktor eksternal yang berhubungan dengan belajar yaitu : a. Faktor keluarga Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga yang berupa cara orang tua mendidik ,relasi antar anggota keluarga, suasana rumah tangga keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan. Untuk itu anak prlu dorongan dan pengertian orang tua bila anak sedang belajar. b. Faktor sekolah Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar,kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standart pelajaran , keadaan gedung , metode belajar dan tugas rumah. Jadi faktor sekolah cukup mempengaruhi minat belajar siswa. c. Faktor Masyarakat Masyarakat merupakan faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaanya siswa dalam masyarakat. Berikut ini merupakan kegiatan siswa di masyarakat antara lain kegiatan siswa dalam masyarakat,
  • 15.
    15 mass media, temanbergaul dan bentuk kehidupan masyarakat yang semuanya mempengaruhi belajar Selain faktor diatas menurut (syeh 2003) terdapat faktor lain yang menunjang keberhasilan seseorang dalam belajar yaitu faktor pendekatan dalam belajar (apporch to learn) yaitu segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang keefektifan dan efisiensi proses mempelajari materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu. 2.1.3 Prinsip Prinsip belajar Menurut (Slameto 2013) prinsip belajar yang dapat dilaksanakan dalam situasi dan kondisi yang berbeda dan oleh setiap siswa secara individual.berikut merupakan prinsip prinsip belajar, sebagai berikut: a. Berdasarkan prasarat yang diperlukan untuk belajar 1. Dalam belajar siswa harus diusahakan berpartisipasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional; 2. Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motifvasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional;
  • 16.
    16 3. Belajar perlumenantang dimana anak dapat mengembangkan kemampuanya bereksplorasi dan belajar dengan efektif. Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkunganya. b. Sesuai hakikat belajar 1. Belajar itu sifatnya kontinyu, maka harus tahap demi tahap sesuai perkembanganya ; 2. Belajar adalah proses organisasi ,adaptasi, eksplorasi dan discoveri; 3. Belajar adalah proses kontinuitas (Hubungan antara pengertian satu dengan pengertian yang lain) sehingga mendapatkan pengertian yang di harapkan. Stimulus yang di berikan menimbulkan response yang diharapkan; c. Sesuai materi atau materi yang dipelajari 1. Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur penyajian yang sederhana sehingga siswa mudah menangkap pengertianya. 2. Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapai. d. Syarat keberhasilan belajar 1. Belajar memerlukan sarana yang cukup sehingga siswa dapat belajar dengan tenang;
  • 17.
    17 2. Repetisi dalamproses belajar perlu ulangan berkali kali agar pengetian /ketrampilan/sikap itu mendalam pada siswa. 2.2 Tipe belajar Menurut DePetter dan Hearchi, 2003, tipe belajar merupakan gaya belajar yang dimiliki oleh setiap individu yang merupakan cara termudah dalam menyerap, mengatur dan mengolah informasi. Sutanto, 2006, membagi tipe belajar seseorang menjadi tiga hal: 1. Manusia visual, dimana ia akan secara optimal menyerap informasi yang dibacanya/dilihatnya. 2. Manusia auditori, dimana informasi yang masuk melalui apa yang didengarnya akan diserap secara optimal. 3. Manusia kinestetik, dimana ia akan sangat senang dan cepat mengerti bila informasi yang harus diserapnya terlebih dahulu “dicontohkan” atau ia membayangkan orang lain melakukan hal yang akan dipelajarinya. Sejalan dengan hal tersebut, DePetter dan Hearchi, 2003, mendeskripsikan ciri-ciri tipe belajar seseorang menjadi sebagai berikut: 1. Tipe Visual Orang visual akan lebih memahami melalui apa yang mereka lihat. Warna, hubungan ruang, potret mental dan gambar menonjol dalam modalitas ini. Adapun beberapa ciri orang dengan tipe belajar visual, yaitu :
  • 18.
    18 1. Rapi, teratur,memperhatikan segala sesuatu dan menjaga penampilan 2. Berbicara dengan cepat 3. Perencana dan pengatur jangka panjang yang baik 4. Pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran mereka 5. Lebih mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar 6. Mengingat dengan asosiasi visual 7. Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis dan sering meminta orang lain untuk mengulangi ucapannya. 8. Lebih suka membaca daripada dibacakan dan pembaca yang cepat 9. Mencoret-coret tanpa arti selama berbicara di telepon atau dalam rapat 10.Lebih suka melakukan demonstrasi daripada berpidato 11.Lebih menyukai seni gambar daripada musik 12.Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban yang singkat ya atau tidak 13.Mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih kata-kata yang tepat 14.Biasanya tidak terganggu dengan keributan
  • 19.
    19 2. Tipe auditori Orangdengan tipe ini akan lebih memahami sesuatu melalui apa yang mereka dengar. Modalitas ini mengakses segala jenis bunyi dan kata. Musik, irama, dialog internal dan suara menonjol pada tipe auditori. Seseorang yang sangat auditori memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Suka berbicara kepada diri sendiri saat bekerja 2. Perhatiannya mudah terpecah dan mudah terganggu oleh keributan 3. Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca 4. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan 5. Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, perubahan dan warna suara 6. Merasa kesulitan untuk menulis dan lebih suka mengucapkan secara lisan 7. Berbicara dalam irama yang terpola 8. Lebih suka musik daripada seni gambar 9. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat 10.Suka berbicara, suka berdiskusi dan menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar 11.Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
  • 20.
    20 12.Mempunyai masalah denganpekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visualisasi, seperti memotong bagian-bagian hingga sesuai satu sama lain 13.Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya 14.Biasanya pembicara yang fasih 3. Kinestetik Orang dengan tipe kinestetik belajar malalui gerak, emosi dan sentuhan.Modalitas ini mengakses pada gerakan, koordinasi, irama, tanggapan emosional, dan kenyamanan fisik. Ciri-ciri orang dengan tipe belajar kinestetik yaitu : 1. Berbicara dengan perlahan 2. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka saat berbicara 3. Berdiri berdekatan saat berbicara dengan orang 4. Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak 5. Belajar melalui memanipulasi dan praktik 6. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat 7. Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca 8. Banyak menggunakan isyarat tubuh 9. Tidak dapat diam untuk waktu yang lama 10.Tidak dapat mengingat geografis, kecuali jika mereka memang telah pernah berada di tempat itu. 11.Menyukai permainan yang menyibukkan
  • 21.
    21 12.Mencerminkan aksi dengangerakan tubuh saat membaca, suka mengetuk-ngetuk pena, jari, atau kaki saat mendengarkan 13.Ingin melakukan segala sesuatu 14.Kemungkinan tulisannya jelek 2.3 Prestasi Belajar Definisi Prestasi Belajar Winkel (1996) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya. Sedangkan menurut Nasution (1996) prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni kognitif, afektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut (Sunartombs, 2009). Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Poerwanto (1986) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.
  • 22.
    22 Prestasi belajar dapatdiukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes prestasi belajar. Menurut Saifudin Anwar (2005 : 8-9) mengemukakan tentang tes prestasi belajar bila dilihat dari tujuannya yaitu mengungkap keberhasilan sesorang dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara terrencana untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalam menguasai bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan pendidikan formal tes prestasi belajar dapat berbentuk ulangan harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi.Pengertian prestasi belajar adalah sesuatu yang dapat dicapai atau tidak dapat dicapai. Untuk mencapai suatu prestasi belajar siswa harus mengalami proses pembelajaran. Dalam melaksanakan proses pembelajaran siswa akan mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan.
  • 23.
    23 2.4 Kerangka Teori Gambar2.1 Kerangka konsep pengaruh Tipe belajar terhadap prestasi Belajar siswa Tipe- Tipe Belajarb Prestasi Belajar Mahasiswa Tipe –tipe belajar : 1. Visual 2. Auditori 3. Kinestik Definisi belajar : Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang di manesfestasikan sebagai pola pola respon yang baru yang berbentuk ketrampilan ,sikap ,kebiasaan pengetahuan dan kecakapan menurut (Witherington 1952) dalam Sukmadinata (2005) DefinisiPrestasi Belajar Winkel (1996) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya. Sedangkan menurut Nasution (1996) prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni kognitif, afektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut (Sunartombs, 2009).
  • 24.
    24 2.5 Kerangka KonsepPenelitian Variable bebas Variable terikat Gambar 2.2 Kerangka teori pengaruh tipe belajar terhadap prestasi belajar siswa Tipe belajarsiswa Hasil prestasi belajar siswa Nasution(1996) prestasi belajar adalahkesempurnaanyangdicapai seseorangdalamberfikir,merasadan berbuat.Prestasi belajardikatakan sempurnaapabilamemenuhi tiga aspekyakni kognitif,afektif dan psikomotor,sebaliknyadikatakan prestasi kurangmemuaskanjika seseorangbelummampumemenuhi target dalamketigakriteria Tipe belajarvisual Tipe belajar auditori Tipe belajar kinestek
  • 25.
    25 2.6 Hipotesis : a.Ada pengaruh antara Tipe belajar visual dengan memperoleh prestasi baik b. Adanya pengaruh antara Tipe belajar auditorial dengan memeperoleh prestasi sangat baik c. Adanya pengaruh antara Tipe belajar kinetic dengan memperoleh prestasi cukup
  • 26.
    26 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.Jenis penelitian dan Pendekatan Penelitian Penelitian studi kasus ini menggunakan penelitian pendekatan kualitatif. Menurut Poerwandari (1998) penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif, seperti transkripsi wawancara , catatan lapangan, gambar, foto rekaman video dan lain-lain. Dalam penelita kualitatif perlu menekankan pada pentingnya kedekatan dengan orang-orang dan situasi penelitian, agar peneliti memperoleh pemahaman jelas tentang realitas dan kondisi kehidupan nyata.( Patton dalam Poerwandari, 1998) B. Subyek Penelitian Dalam penelitian ini, karakteristik subjek adalah Sebagai berikut : Subjek penelitian ini adalah mahasiswa yang berusia 19 -22 tahun , masih menempuh pendidikan di bangku kuliah , belum menikah. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 2 orang. C. Tahap-tahap penelitian Dalam penelitian terdapat dua tahap penelitian, yaitu : 26
  • 27.
    27 1. Tahap PersiapanPenelitian Pertama peneliti membuat pedoman wawancara yang disusun berdasarkan demensi kebermaknaan hidup sesuai dengan permasalahan yang dihadapi subjek. Pedoman wawancara ini berisi pertanyaan- pertanyaan mendasar yang nantinya akan berkembang dalam wawancara. Pedoman wawancara yang telah disusun, ditunjukan kepada yang lebih ahli dalam hal ini adalah pembibing penelitian untuk mendapat masukan mengenai isi pedoman wawancarara. Setelah mendapat masukan dan koreksi dari pembimbing, peneliti membuat perbaikan terhadap pedoman wawancara dan mempersiapkan diri untuk melakukan wawancara. Tahap persiapan selanjutnya adalah peneliti membuat pedoman observasi yang disusun berdasarkan hasil observasi terhadap perilaku subjek selama wawancara dan observasi terhadap lingkungan atau setting wawancara, serta pengaruhnya terhadap perilaku subjek dan pencatatan langsung yang dilakukan pada saat peneliti melakukan observasi. Namun apabila tidak memungkinkan maka peneliti sesegera mungkinmencatatnya setelah wawancara selesai. Peneliti selanjutnya mencari subjek yang sesuai dengan karakteristik subjek penelitian. Untuk itu sebelum wawancara dilaksanakan peneliti bertanya kepada subjek tentang kesiapanya untuk diwawancarai. Setelah subjek bersedia untuk diwawancarai, peneliti membuat kesepakatan dengan subjek tersebut mengenai waktu dan temapat untuk melakukan wawancara.
  • 28.
    28 2. Tahap pelaksanaanpenelitiaan Peneliti membuat kesepakatan dengan subjek mengenai waktu dan tempat untuk melakukan wawancara berdasarkan pedoman yang dibuat. Setelah wawancara dilakukan, peneliti memindahakan hasil rekaman berdasrkan wawancara dalam bentuk verbatim tertulis. Selanjutnya peneliti melakukan analisis data dan interprestasi data sesuai dengan langkah- langkah yang dijabarkan pada bagian metode analisis data di akhir bab ini. setelah itu, peneliti membuat dinamika psikologis dan kesimpulan yang dilakukan, peneliti memberikan saran-saran untuk penelitian selanjutnya. D. Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitiaan ini, peneliti menggunakan 2 teknik pengumpulan data, yaitu : 1. Wawancara Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengmbilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka. Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini, interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tampa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit.
  • 29.
    29 Pedoman wawancara digunakanuntuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998) Kerlinger (dalam Hasan 2000) menyebutkan 3 hal yang menjadi kekuatan metode wawancara : a. Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan yang diajukan. Jika mereka tidak mengerti bisa diantisipasi oleh interviewer dengan memberikan penjelasan. b. Fleksibel, pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing individu. c. Menjadi stu-satunya hal yang dapat dilakukan disaat tehnik lain sudah tidak dapat dilakukan. Menurut Yin (2003) disamping kekuatan, metode wawancara juga memiliki kelemahan, yaitu : a. Retan terhadap bias yang ditimbulkan oleh kontruksi pertanyaan yang penyusunanya kurang baik. b. Retan terhadap terhadap bias yang ditimbulkan oleh respon yang kurang sesuai.
  • 30.
    30 c. Probling yangkurang baik menyebabkan hasil penelitian menjadi kurang akurat. d. Ada kemungkinan subjek hanya memberikan jawaban yang ingin didengar oleh interviwer. 2. Observasi Disamping wawancara, penelitian ini juga melakukan metode observasi. Menurut Nawawi & Martini (1991) observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistimatik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala dalam objek penelitian. Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat memehami proses terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam konteksnya. Observasi yang akan dilakukan adalah observasi terhadap subjek, perilaku subjek selama wawancara, interaksi subjek dengan peneliti dan hal-hal yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil wawancara. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian di lihat dari perpektif mereka yang terlihat dalam kejadian yang diamati tersebut. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) salah satu hal yang penting, namun sering dilupakan dalam observasi adalah mengamati hal
  • 31.
    31 yang tidak terjadi.Dengan demikian Patton menyatakan bahwa hasil observasi menjadi data penting karena : a. Peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks dalam hal yang diteliti akan atau terjadi. b. Observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan dari pada pembuktiaan dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara induktif. c. Observasi memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh subjek penelitian sendiri kurang disadari. d. Observasi memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara. e. Observasi memungkinkan peneliti merefleksikan dan bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukan. Impresi dan perasan pengamatan akan menjadi bagian dari data yang pada giliranya dapat dimanfaatkan untuk memahami fenomena yang diteliti. E. Alat Bantu pengumpulan Data Menurut Poerwandari (1998) penulis sangat berperan dalam seluruh proses penelitian, mulai dari memilih topik, mendeteksi topik tersebut, mengumpulkan data, hingga analisis, menginterprestasikan dan menyimpulkan hasil penelitian.
  • 32.
    32 Dalam mengumpulkan data-datapenulis membutuhkan alat Bantu (instrumen penelitian). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan 3 alat bantu, yaitu : 1. Pedoman wawancara Pedoman wawancara digunakan agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian. Pedoman ini disusun tidak hanya berdasarkan tujuan penelitian, tetapi juga berdasarkan teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. 2. Pedoman Observasi Pedoman observasi digunakan agar peneliti dapat melakukan pengamatan sesuai dengan tujuan penelitian. Pedoman observasi disusun berdasrkan hasil observasi terhadap perilaku subjek selama wawancara dan observasi terhadap lingkungan atau setting wawancara, serta pengaruhnya terhadap perilaku subjek dan informasi yang muncul pada saat berlangsungnya wawancara. 3. Alat Perekam Alat perekam berguna Sebagai alat Bantu pada saat wawancara, agar peneliti dapat berkonsentrasi pada proses pengambilan data tampa harus berhenti untuk mencatat jawaban-jawaban dari subjek. Dalam pengumpulan data, alat perekam baru dapat dipergunakan setelah mendapat ijin dari subjek untuk mempergunakan alat tersebut pada saat wawancara berlangsung.
  • 33.
    33 E. Keabsahan danKeajegan Penelitian Studi kasus ini menggunakan penelitian pendekatan kualitataif. Yin (2003) mengajukan emmpat criteria keabsahan dan keajegan yang diperlukan dalam suatu penelitian pendekatan kualitatif. Empat hal tersebut adalah Sebagai berikut : 1. Keabsahan Konstruk (Construct validity) Keabsahan bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastiaan bahwa yang berukur benar- benar merupakan variabel yang ingin di ukur. Keabsahan ini juga dapat dicapai dengan proses pengumpulan data yang tepat. Salah satu caranya adalah dengan proses triangulasi, yaitu tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau Sebagai pembanding terhadap data itu. Menurut Patton (dalam Sulistiany 1999) ada 4 macam triangulasi Sebagai teknik pemeriksaan untuk mencapai keabsahan, yaitu : a. Triangulasi data Mengguanakan berbagai sumber data seperti dokumen, arsip, hasil wawancara, hasil observasi atau juga dengan mewawancarai lebih dari satu subjek yang dianggap memeiliki sudut pandang yang berbeda. b. Triangulasi Pengamat Adanya pengamat di luar peneliti yang turut memeriksa hasil pengumpulan data. Dalam penelitian ini, dosen pembimbing studi kasus
  • 34.
    34 bertindak Sebagai pengamat(expert judgement) yang memberikan masukan terhadap hasil pengumpulan data. c. Triangulasi Teori Penggunaan berbagai teori yang berlaianan untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan sudah memasuki syarat. Pada penelitian ini, berbagai teori telah dijelaskan pada bab II untuk dipergunakan dan menguji terkumpulnya data tersebut. d. Triangulasi metode Penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal, seperti metode wawancara dan metode observasi. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan metode wawancara yang ditunjang dengan metode observasi pada saat wawancra dilakukan. 2. Keabsahan Internal (Internal validity) Keabsahan internal merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh kesimpulan hasil penelitian menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Keabsahan ini dapat dicapai melalui proses analisis dan interpretasi yang tepat. Aktivitas dalam melakukan penelitian kualitatif akan selalu berubah dan tentunya akan mempengaruhi hasil dari penelitian tersebut. Walaupun telah dilakukan uji keabsahan internal, tetap ada kemungkinan munculnya kesimpulan lain yang berbeda.
  • 35.
    35 3. Keabsahan Eksternal(Eksternal validity) Keabsahan ekternal mengacu pada seberapa jauh hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada kasus lain. Walaupun dalam penelitian kualitatif memeiliki sifat tidak ada kesimpulan yang pasti, penelitiaan kualitatif tetapi dapat dikatakan memiliki keabsahan ekternal terhadap kasus-kasus lain selama kasus tersebut memiliki konteks yang sama. 4. Keajegan (Reabilitas) Keajegan merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh penelitian berikutnya akan mencapai hasil yang sama apabila mengulang penelitian yang sama, sekali lagi. Dalam penelitian ini, keajegan mengacu pada kemungkinan peneliti selanjutnya memeperoleh hasil yang sama apabila penelitian dilakukan sekali lagi dengan subjek yang sama. Hal ini menujukan bahwa konsep keajegan penelitian kualitatif selain menekankan pada desain penelitian, juga pada cara pengumpulan data dan pengolahan data. F. Teknik Analisis Data Marshall dan Rossman mengajukan teknik analisa data kualitatif untuk proses analisis data dalam penelitian ini. Dalam menganalisa penelitian kualitatif terdapat beberapa tahapan-tahapan yang perlu dilakukan (Marshall dan Rossman dalam Kabalmay, 2002), diantaranya :
  • 36.
    36 Daftar Pustaka Alimul, A.2002. Pengantar Pendidikan Keperawatan. Jakarta: PTFajar Interpratama Crow, L. 1984. Psikologi Pendidikan. Surabaya: PT Bina Ilmu Dalyono, M. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta Maulida, Dina. 2008. Pengaruh Gaya Belajar (Visual, Auditorial,& Kinestetik)Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas I Penjualan SMK Muhammadiyah 2 Malang Pada Mata Pelajaran Kewirausahaan Tahun Ajaran 2007/2008.Di kutip dari : http://www.infoskripsi.net/onlineeducationresearch/wp - content/2008.04.pdf./. Di buka tanggal 2Desember 2014 Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Asdi Mahasatya Nugroho, A. 2008. Hubungan Antara Self-efficacy, Penyesuaian Diri dengan Prestasi Akademik Mahasiswa (The Correlation Between Self-efficacy, Self-adjusmentwith The Academic Achievementof College Student). Dikutip dari:http://wimamadiun.com/obedan/wp content/uploads/2008/04/self-fficacy%20selfadjusment%20achievement.pdf Nursalam. 2003. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan : pedoman skripsi, tesis dan instrumen penelitian keperawatan. Jakarta: Salemba Medika Slameto. 2003. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka Cipta Sudjana, N. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Wasis. 2008. Pedoman Riset Praktis Untuk Profesi Perawat. Jakarta: EGC Zaini, H. 2002. Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Center for Teaching Staff Development (CTSD) Zuriah, N. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan : Teori-Aplikasi. N Jakarta: Bumi Akasara