MODEL MODEL PEMBELAJARAN IPA 
Konstruktivisne dalam pembelajaran IPA 
A. PANDANGAN TENTANG BELAJAR DAN MENGAJAR 
Tujuan transwer belajar adalah menunjukan hal-hal yang telah dipelajari pada situasi 
baru, artinya apa yang telah dipelajari itu dibuat umum sifatnya. Melalui penugasan dan diskusi 
kelompok misalnya seorang guru dapat membantu transwer belajar. Oleh karena itu fakta, 
keterampilan, konsep, dan prinsip yang diperlukan untuk terjadinya transwer belajar sudah 
dikuasai oleh para siswa yang sedang belajar. 
Bigde ( dalam dahar, 1989) merangkum perbedaan penting antara teori belajar perilaku 
dan teori belajar kognitif. 
Sesungguhnya ada 2 kutub belajar dalam pendidikan, yaitu tabula rasa dan 
konstruktivisme. Menurut rujukan tabulawa rasa siswa diibaratkan sebagia kertas putih yang 
dapat ditulis apa saja oleh gurunya atau ibarat wadah kosong yang dapat diisi apa saja oleh 
gurunya. 
1. Struktur Kognitif 
Struktur kognitif seseorang pada suatu saat meliputi segala sesuatu yang telah dipelajari oleh 
seseorang (ausubel dalam klausmeier, 1994 :22 ). Hasil belajar dapat dikategorikan menjadi 
informasi verbal, keterampilan, konsep, prinsip, dan struktur pengetahuan. 
2. Konsep dan Konsepsi 
Konsep dan konsepsi merupakan dua istilah yang sering dipertukarkan penggunaannya, padahal 
keduanya berbeda baik dalam pengertian maupun penggunaannya. Konsep bersifat lebih umum 
dan dikenal dan diumumkan berdasarkan kesepakatan, sedangkan konsepsi bersifat khusus atau 
spesifik dan individual. 
Prinsip terbentuk dari konsep 
1. sebab akibat ( cause – and ) 
2. korelasion (corelational) 
3. peluang (probability) 
4. aksioma (axiomatic) 
Contoh : 
1. penyakit TBC disebabkan oleh organism yang disebut mycobacterium tuberculosis. 
(hubungan sebab akibat) 
2. perkembangan teori sel berlansung sejalan dengan perkembangan temuan alat dan 
prosedur dalam mempelajari sel. (korelasional) 
3. logam ( pada umumnya) mengembang jika dipanaskan. (peluang) 
4. Bujangan atau perjaka adalah laki-laki dan belum / tidak kawin (aksiomatik)
B. PANDANGAN KONSTRUKTIVIS TENTANG BELAJAR IPA 
1. Belajar sebagai Perubahan Konsepsi 
Menurut pandangan konstruktivisme keberhasilan belajar bergantung bukan hanya pada 
lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga pada pengetahuan awal siswa. Belajar melibatkan 
pembentukan “makna” oleh siswa dari apa yang mereka lakukan, lihat, dan dengar (west & 
pines, 1985). Pembentukan makna merupakan suatu proses aktif yang terus berlanjut. Jadi siswa 
memiliki tanggung jawab akhir atas belajar mereka sendiri, seperti dikemukakan oleh fensham 
(1994 : 5). 
2. Perubahan konsepsi dalam pembelajaran IPA 
Implikasi dari pandangan konstruktivisme disekolah ialah pengetahuan itu tidak dapat 
dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun secara aktif dibangun oleh siswa 
sendiri melalui pengalaman nyata. Senada dengan pernyataan ini peneliti pendidikan sains 
mengungkapkan bahwa belajar sains merupakan proses konstruktif yang menghendaki 
partisipasi aktif dari siswa (piaget dalam dahar, 1996), sehingga disini peran guru berubah, dari 
sumber dan pemberi informasi menjadi pendiagnosis dan fasilitator belajar siswa. 
3. Pentingnya konteks 
Gagasan siswa yang diperoleh dari persepsinya terhadap alam sekitar, yang dibawah dari rumah 
sering kali berbeda dengan gagasan ilmiah. Hal ini dibiarkan berlanjut dan menghambat siswa 
dalam belajar sains selanjutnya ( Dahar, 1996). Untuk itu perlu diupayakan pembelajaran yang 
memungkinkan siswa dengan sadar mengubah apa yang diyakininya yang ternyata tidak 
konsisten dengan konsep ilmiah. Dengan kata lain informasi, Informasi dan pengalaman 
dirancang guru untuk siswa seharusnya koheren dengan konsep yang dibawah atau disesuaikan 
dengan pengetahuan awal siswa merupakan hal yang urgen untuk dilakukan oleh seorang guru. 
Ekologi konsepsi yang dimaksud adalah sebagai berikut : 
a. anak merasa tidak puas dengan gagasan yang dimilikinya 
b. Gagasan baru harus dapat dimengerti (inteligible). 
c. Konsepsi yang baru harus masuk akal (plausible) 
d. Konsepsi yang baru harus dapat memberi suatu kegunaan (fruitful) 
C. MODEL – MODEL PEMBELAJARAN UNTUK PERUBAHAN 
Dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran IPA Maka pada akhir – akhir ini para ahli 
mengembangkan berbagai model pembelajaran yang dilandasi pandangan konstruktivisme dari 
piaget. Terdapat beberapa hal yang perlu ditekankan dalam konstruktivisme ( Tasker, 1992 : 
30), yaitu sebagia berikut : 
1. Peran aktif siswa dalam mengontruksi pengetahuan secara bermakna 
2. pentingnya membuat kaitan antar gagasan oleh siswa dalam mengonstruksi pengetahuan 
3. Mengaitkan gagasan siswa dengan informasi baru di kelas
D. CONTOH MODEL PEMBELAJARAN KONSTUKTIVISME 
1. Fase Eksplorasi 
1. diperlihatkan tanah berisi cacing dan diajukan pertanyaan “ Apa yang kamu ketahui 
tentang cacing tanah ?” 
2. semua jawaban siswa ditampung (ditulis di papan tulis jika perlu) 
3. siswa diberi kesempatan untuk memeriksa keadaan yang sesungguhnya, dan diberi 
kesempatan untuk merumuskan hal-hal yang tidak sesuai dengan jawaban mereka 
semula. 
2. Fase Klarifikasi 
a. guru memperkenalkan macam-macam cacing dan spesifikasinya 
b. Siswa merumuskan kembali pengetahuan mereka tentang cacing tanah. 
c. Guru memberikan masalah berupa pemilihan cacing yang cocok untuk dikembangbiakan 
d. Siswa mendiskusikannya secara berkelompok dan merencanakan penyelidikannya. 
e. secara berkelompok siswa melakukan penyelidikan untuk menguji rencananya. 
f. siswa mencari tambahan rujukan tentang manfaat cacing tanah dulu dan sekarang. 
3. Fase Aplikasi 
1. secara berkelompok siswa melaporkan hasilnya, dilanjutkan dengan penyajian oleh wakil 
kelompok dalam diskusi kelas 
2. secara bersama-sama siswa merumuskan rekomendasi untuk para pemula yang ingin ber- 
“ternak” cacing tanah. 
3. secara perorangan siswa membuat tulisan tentang peri kehidupan jenis cacing tanah 
tertentu sesuai hasil pengamatannya.
KEGIATAN BELAJAR 2 
MODEL PEMBELAJARAN 
A. MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF 
1. Pengertian 
Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan peryanyaan 
anak. Model ini dirancang agar siswa bertanya dan kemudian menemukan jawaban dari 
pertanyaan mereka sendiri ( Faire & cosgrove dalam harlen, 1992). Meskipun anak-anak 
mengajukan pertanyaan dalam berbagai kegiatan bebas, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan 
terlalu melebar dan sering kali kabur sehingga kurang terfokus. Guru perlu mengambil 
langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah dan mengubah pertanyaan-pertanyaan 
tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan 
menampilkan suatu struktur untuk suatu pelajaran IPA yang melibatkan pengumpulan dan 
pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai pusatnya (Harlen, 1992 : 48- 
50). 
2. Langkah-langkah model Pembelajaran Interaktif 
a. Persiapan : guru dan kelas memilih topik dan menemukan informasi yang 
melatarbelakanginya. 
b. Kegiatan pembelajaran : lebih melibatkan siswa pada topik yang sedang dibahas 
c. Pertanyaan anak : saat kelas mengundang siswa untuk mengajukan pertanyaan 
tentang topik yang dibahas 
d. Penyelidikan : Guru dan siswa memilih pertanyaan untuk dieskplorasi, selama 2-3 
hari, dalam selang 3-4 hari. 
e. Refleksi melakukan evaluasi untuk memantapkan hal-hal yang terbukti dan 
memisahkan hal-hal yang masih perlu diperbaiki. 
3. Contoh model Pembelajaran Interaktif 
a. Persiapan 
Sebelum pembelajaran dimulai, guru menugasi siswa kelas 3 SD utuk membawa 
hewan peliharaannya dan mempersiapkan diri untuk menceritakan tentang tentang 
hewan peliharaannya masing-masing. 
b. Kegiatan pembelajaran 
Pada saat pembelajaran di kelas siswa lain boleh mengamati hewan-hewan peliharaan 
teman-temanya dari dekat (meraba, mengelus, menggendong) dan mereka boleh 
mengajukan pertanyaan. 
c. Pertanyaan Anak 
Selanjutnya pertanyaan siswa diarahkan guru sekitar proses pemeliharaannya. 
d. Penyelidikan
Guru dan siswa memilih pertanyaan untuk diesplorasi lebih baik. Umpamanya siswa 
diminta mengamati keadaan hewan-hewan yang tidak dipelihara, seperti dari mana 
mereka memperoleh makanannya, dimana mereka tidur, punya nama atau tidak, 
bagaimana kebersihannya. 
4. Kebaikan dan Keterbatasannya 
Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa siswa belajar 
mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan 
jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan (observasi, 
penyelidikan). 
B. MODEL PEMBELAJARAN TERPADU (INTEGRATED) 
1. Pengertian 
Model pembelajaran terpadu merupakan salah satu model yang sedang trend 
dilakukan dewasa ini. Berdasarkan sifat keterpaduannya pembelajaran terpadu dapat 
dibedakan menjadi tiga yaitu model dalam satu disiplin ilmu, model antar bidang, dan 
model dalam lintas siswa. Salah satu pendekatan pembelajaran terpadu melibatkan 
kosep-konsep dalam satu bidang studi atau lintas bidang studi. Suatu pola belajar 
mengajar dalam model pembelajaran terpadu menggunakan payung untuk 
memadukan beberapa konsep IPA yang terkait menjadi 1 paket pembelajaran 
sehingga pemisahan antara konsep tidak begitu jelas. Sifat model pembelajaran 
terpadu semacam ini termaksud model connected (Fogarty, 1991 : 55). Pelaksanaan 
pendekatan ini bertolak dari satu topik atau tema sebagai payung untuk mengaitkan 
konsep-konsepnya. Tema sentral hendaknya diambil dari kehidupan sehari-hari yang 
menarik dan menantang kehidupan anak untuk memicu minat anak belajar. 
2. Langkah-langkah penyusunan model Pembelajaran Terpadu 
Terdapat sejumlah langkah untuk menyusun model pembelajaran terpadu. Langkah-langkah 
tersebut secara berurutan adalah sebagai berikut : 
a. mengkaji GBPP IPA untuk menganalisis konsep-konsep penting yang akan 
diajarkan 
b. Membuat bagan konsep yang menghubungkan konsep satu dengan konsep lain 
c. Memilih tema sentral yang dapat menjadi payung untuk memadukan konsep-konsep 
tersebut. 
d. Membuat TPK dan deskripsi kegiatan pembelajaran yang disesuaikan dengan 
tingkat perkembangan untuk setiap konsep 
e. Membuat bahan bacaan berupa cerita yang mengacu pada tema, disertai gambar 
dan permainan. 
f. Menyusun jadwal kegiatan dan alokasi waktu yang diperlukan secara profesional 
g. Menyusun kisi-kisi perangkat tes dan soal tes
3. Contoh model pembelajaran Terpadu 
Untuk konsep-konsep IPA caturwulan pertama kelas 3 tentang makhluk hidup dan 
benda disiapkan tema sentral “ Ke Kebun Binatang”, dan disiapkan lembar kerja 
sebagai berikut : 
a. Tujuan : siswa dapat mengklasifikasi tumbuhan, hewan, dan benda berdasarkan 
kriteria tertentu 
b. Alat dan bahan yang diperlukan : setiap siswa bebas membawa tumbuhan, hewan, 
dan benda untuk dikumpulkan menjadi arena kebun binatang ( guru membagi 
tugas membawa bahan percobaan agar terorganisir) 
c. Langkah kerja sebagai berikut : 
1. Kumpulkan tumbuhan, hewan dan benda yang dibawa pada dua buah meja, 
dapat dilakukan di halaman sekolah jika memungkinkan. 
2. susun yang rapi tumbuhan, hewan dan benda pada meja dengan komposisi 
yang sama antara satu meja dengan meja yang lain. 
3. Tugasi siswa untuk mengisi Lembar Pengamatan secara berkelompok untuk 
tiap meja. Suruh siswa mengamati seakan-akan sedang berjalan-jalan di kebun 
binatang 
4. Diskusikan jawaban siswa. Mantapkan jika benar, perbaiki jika kurang tepat. 
4. Kebaikan dan keterbatasan 
Dalam pembelajaran terpadu siswa diajak untuk mengamati gejala alam sebagaimana 
adanya, tidak dipilih-pilih menurut biologi atau fisiknya. keterbatasan jika konsepnya 
sudah kompleks, sulit dipadukan atau guru mengalami kesulitan untuk 
memadukannya. 
C. MODEL PEMBELAJARAN SIKLUS BELAJAR ( LEARNING CYCLE) 
1. Pengertian 
Model siklus belajar pertama kali dikembangkan pada tahun 1970 dalam SCIS suatu 
program pengembangan sains di Amerika serikat. Dalam, pelaksanaannya model 
siklus belajar terdiri atas tiga fase, yaitu eksplorasi, pengenalan konsep, dan 
penerapan konsep. 
2. Urutan Pembelajaran 
a. Eksplorasi 
Pada vase eksplorasi siswa diberi kesempatan untuk melakukan penjelajahan atau 
eksplorasi secara bebas. 
b. Pengenalan konsep
Pada fase pengenalan konsep guru dengan metode yang sesuai menjelaskan 
konsep dan teori-teori yang dapat membantu siswa untuk menjawab permasalahan 
yang muncul dan menyusun gagasan mereka. 
c. Penerapan konsep 
pada fase ini siswa mencoba menggunakan konsep yang telah dikuasai untuk 
memecahkan masalah dalam situasi yang berbeda. 
3. Contoh Model Pembelajaran Siklus Belajar (Kelas 5 Cawu Ke-1) 
a. Tujuan 
Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) Siswa memahami saling ketergantungan antar mahluk 
hidup dengan melakukan pengamatan dan menafsirkan hasil pengamatan. 
TPU Antar 
Setelah meneliti jenis makanan sejumlah hewan, siswa dapat mengelompokan hewan 
berdasarkan jenis makanannya. 
Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) 
1. Setelah meneliti jenis makanan sejumlah hewan, siswa dapat mengelompokan hewan 
2. setelah meneliti jenis makanan hewan siswa mengelompokan hewan pemakan hewan 
3. mengelompokan hewan pemakan daging dan tumbuhan 
4. setelah berdiskusi mengenal sumber makanan hewan, siswa dapat menyimpulkan bahwa 
semua hewan memperoleh makanan dengna cara memakan makhluk hidup lain. 
b. Konsep : hubungan antar mahluk hidup 
Devinisi konsep 
1. pemakan tumbuhan (herbivora) menggunakan tumbuhan sebagai makanan 
2. pemakan daging (karnivora) memakan hewan lain 
3. pemakan segala (omnivora) memakan daging dan tumbuhan 
4. Pemakan (konsumen) memakan makhluk hidup lain sebagia sumber makanan 
4. Kelebihan dan Keterbatasannya 
Jumlah tahap yang hanya tiga termaksud sederhana dan mudah diingat namun memunculkan 
situasi konflik tidak selalu berhasil.
D. MODEL PEMBELAJARAN BELAJAR IPA ATAU CLIS (CHILDREN LEARNING 
IN SCIENCE) 
1. Pengertian 
Model CLIS dikembangkan oleh kelompok children’s learning in science di inggris. 
2. Urutan Pembelajaran 
a. Orientasi 
merupakan upaya guru untuk memusatkan perhatian siswa, misanya dengan 
menyebutkan atau mempertontonkan suatu venomena yang sering terjadi dalam 
kehidupan sehari-hari. 
b. Pemunculan gagasan 
Upaya untuk memunculkan konsepsi awal siswa 
c. Penyusunan ulang gagasan 
Pengungkapan dari pertukaran gagasan mendahului pembukaan ke situasi konflik. 
d. Penerapan gagasan 
pada tahap ini siswa diminta menjawab pertanyaan yang disusun untuk 
menyerapkan konsep ilmiah yang telah dikembangkan siswa melalui percobaan 
atau observasi ke dalam situasi baru. 
e. Pemantapan gagasan 
Konsepsi yang telah diperoleh siswa perlu diberi umpan balik oleh guru untuk 
memperkuat konsep ilmiah tersebut. 
3. Contoh model pembelajaran CLIS 
Contoh model CLIS untuk konsep Pernapasan di kelas IV Catur wulan 
4. Kelebihan dan keterbatasan 
Kejelasan setiap tahap dalam CLIS tidak selalu mudah dilaksanakan, walaupun 
semula direncanakan dengan baik. Kesulitan ini terutama untuk pindah dari satu fase 
ke fase lainnya, terutama dari pertukaran gagasan ke situasi konflik. Hal lain yang 
sulit yaitu berpindahnya dari penerapan gagasan kepada pemantapan gagasan. Guru 
lupa untuk memantapkan gagasan baru siswa, sehingga jika hal ini terjadi tentunya 
siswa akan kembali kepada konsepsi awal (yang memang sulit diubah).

Model model pembelajaran ipa

  • 1.
    MODEL MODEL PEMBELAJARANIPA Konstruktivisne dalam pembelajaran IPA A. PANDANGAN TENTANG BELAJAR DAN MENGAJAR Tujuan transwer belajar adalah menunjukan hal-hal yang telah dipelajari pada situasi baru, artinya apa yang telah dipelajari itu dibuat umum sifatnya. Melalui penugasan dan diskusi kelompok misalnya seorang guru dapat membantu transwer belajar. Oleh karena itu fakta, keterampilan, konsep, dan prinsip yang diperlukan untuk terjadinya transwer belajar sudah dikuasai oleh para siswa yang sedang belajar. Bigde ( dalam dahar, 1989) merangkum perbedaan penting antara teori belajar perilaku dan teori belajar kognitif. Sesungguhnya ada 2 kutub belajar dalam pendidikan, yaitu tabula rasa dan konstruktivisme. Menurut rujukan tabulawa rasa siswa diibaratkan sebagia kertas putih yang dapat ditulis apa saja oleh gurunya atau ibarat wadah kosong yang dapat diisi apa saja oleh gurunya. 1. Struktur Kognitif Struktur kognitif seseorang pada suatu saat meliputi segala sesuatu yang telah dipelajari oleh seseorang (ausubel dalam klausmeier, 1994 :22 ). Hasil belajar dapat dikategorikan menjadi informasi verbal, keterampilan, konsep, prinsip, dan struktur pengetahuan. 2. Konsep dan Konsepsi Konsep dan konsepsi merupakan dua istilah yang sering dipertukarkan penggunaannya, padahal keduanya berbeda baik dalam pengertian maupun penggunaannya. Konsep bersifat lebih umum dan dikenal dan diumumkan berdasarkan kesepakatan, sedangkan konsepsi bersifat khusus atau spesifik dan individual. Prinsip terbentuk dari konsep 1. sebab akibat ( cause – and ) 2. korelasion (corelational) 3. peluang (probability) 4. aksioma (axiomatic) Contoh : 1. penyakit TBC disebabkan oleh organism yang disebut mycobacterium tuberculosis. (hubungan sebab akibat) 2. perkembangan teori sel berlansung sejalan dengan perkembangan temuan alat dan prosedur dalam mempelajari sel. (korelasional) 3. logam ( pada umumnya) mengembang jika dipanaskan. (peluang) 4. Bujangan atau perjaka adalah laki-laki dan belum / tidak kawin (aksiomatik)
  • 2.
    B. PANDANGAN KONSTRUKTIVISTENTANG BELAJAR IPA 1. Belajar sebagai Perubahan Konsepsi Menurut pandangan konstruktivisme keberhasilan belajar bergantung bukan hanya pada lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga pada pengetahuan awal siswa. Belajar melibatkan pembentukan “makna” oleh siswa dari apa yang mereka lakukan, lihat, dan dengar (west & pines, 1985). Pembentukan makna merupakan suatu proses aktif yang terus berlanjut. Jadi siswa memiliki tanggung jawab akhir atas belajar mereka sendiri, seperti dikemukakan oleh fensham (1994 : 5). 2. Perubahan konsepsi dalam pembelajaran IPA Implikasi dari pandangan konstruktivisme disekolah ialah pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata. Senada dengan pernyataan ini peneliti pendidikan sains mengungkapkan bahwa belajar sains merupakan proses konstruktif yang menghendaki partisipasi aktif dari siswa (piaget dalam dahar, 1996), sehingga disini peran guru berubah, dari sumber dan pemberi informasi menjadi pendiagnosis dan fasilitator belajar siswa. 3. Pentingnya konteks Gagasan siswa yang diperoleh dari persepsinya terhadap alam sekitar, yang dibawah dari rumah sering kali berbeda dengan gagasan ilmiah. Hal ini dibiarkan berlanjut dan menghambat siswa dalam belajar sains selanjutnya ( Dahar, 1996). Untuk itu perlu diupayakan pembelajaran yang memungkinkan siswa dengan sadar mengubah apa yang diyakininya yang ternyata tidak konsisten dengan konsep ilmiah. Dengan kata lain informasi, Informasi dan pengalaman dirancang guru untuk siswa seharusnya koheren dengan konsep yang dibawah atau disesuaikan dengan pengetahuan awal siswa merupakan hal yang urgen untuk dilakukan oleh seorang guru. Ekologi konsepsi yang dimaksud adalah sebagai berikut : a. anak merasa tidak puas dengan gagasan yang dimilikinya b. Gagasan baru harus dapat dimengerti (inteligible). c. Konsepsi yang baru harus masuk akal (plausible) d. Konsepsi yang baru harus dapat memberi suatu kegunaan (fruitful) C. MODEL – MODEL PEMBELAJARAN UNTUK PERUBAHAN Dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran IPA Maka pada akhir – akhir ini para ahli mengembangkan berbagai model pembelajaran yang dilandasi pandangan konstruktivisme dari piaget. Terdapat beberapa hal yang perlu ditekankan dalam konstruktivisme ( Tasker, 1992 : 30), yaitu sebagia berikut : 1. Peran aktif siswa dalam mengontruksi pengetahuan secara bermakna 2. pentingnya membuat kaitan antar gagasan oleh siswa dalam mengonstruksi pengetahuan 3. Mengaitkan gagasan siswa dengan informasi baru di kelas
  • 3.
    D. CONTOH MODELPEMBELAJARAN KONSTUKTIVISME 1. Fase Eksplorasi 1. diperlihatkan tanah berisi cacing dan diajukan pertanyaan “ Apa yang kamu ketahui tentang cacing tanah ?” 2. semua jawaban siswa ditampung (ditulis di papan tulis jika perlu) 3. siswa diberi kesempatan untuk memeriksa keadaan yang sesungguhnya, dan diberi kesempatan untuk merumuskan hal-hal yang tidak sesuai dengan jawaban mereka semula. 2. Fase Klarifikasi a. guru memperkenalkan macam-macam cacing dan spesifikasinya b. Siswa merumuskan kembali pengetahuan mereka tentang cacing tanah. c. Guru memberikan masalah berupa pemilihan cacing yang cocok untuk dikembangbiakan d. Siswa mendiskusikannya secara berkelompok dan merencanakan penyelidikannya. e. secara berkelompok siswa melakukan penyelidikan untuk menguji rencananya. f. siswa mencari tambahan rujukan tentang manfaat cacing tanah dulu dan sekarang. 3. Fase Aplikasi 1. secara berkelompok siswa melaporkan hasilnya, dilanjutkan dengan penyajian oleh wakil kelompok dalam diskusi kelas 2. secara bersama-sama siswa merumuskan rekomendasi untuk para pemula yang ingin ber- “ternak” cacing tanah. 3. secara perorangan siswa membuat tulisan tentang peri kehidupan jenis cacing tanah tertentu sesuai hasil pengamatannya.
  • 4.
    KEGIATAN BELAJAR 2 MODEL PEMBELAJARAN A. MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF 1. Pengertian Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan peryanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa bertanya dan kemudian menemukan jawaban dari pertanyaan mereka sendiri ( Faire & cosgrove dalam harlen, 1992). Meskipun anak-anak mengajukan pertanyaan dalam berbagai kegiatan bebas, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terlalu melebar dan sering kali kabur sehingga kurang terfokus. Guru perlu mengambil langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah dan mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan menampilkan suatu struktur untuk suatu pelajaran IPA yang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai pusatnya (Harlen, 1992 : 48- 50). 2. Langkah-langkah model Pembelajaran Interaktif a. Persiapan : guru dan kelas memilih topik dan menemukan informasi yang melatarbelakanginya. b. Kegiatan pembelajaran : lebih melibatkan siswa pada topik yang sedang dibahas c. Pertanyaan anak : saat kelas mengundang siswa untuk mengajukan pertanyaan tentang topik yang dibahas d. Penyelidikan : Guru dan siswa memilih pertanyaan untuk dieskplorasi, selama 2-3 hari, dalam selang 3-4 hari. e. Refleksi melakukan evaluasi untuk memantapkan hal-hal yang terbukti dan memisahkan hal-hal yang masih perlu diperbaiki. 3. Contoh model Pembelajaran Interaktif a. Persiapan Sebelum pembelajaran dimulai, guru menugasi siswa kelas 3 SD utuk membawa hewan peliharaannya dan mempersiapkan diri untuk menceritakan tentang tentang hewan peliharaannya masing-masing. b. Kegiatan pembelajaran Pada saat pembelajaran di kelas siswa lain boleh mengamati hewan-hewan peliharaan teman-temanya dari dekat (meraba, mengelus, menggendong) dan mereka boleh mengajukan pertanyaan. c. Pertanyaan Anak Selanjutnya pertanyaan siswa diarahkan guru sekitar proses pemeliharaannya. d. Penyelidikan
  • 5.
    Guru dan siswamemilih pertanyaan untuk diesplorasi lebih baik. Umpamanya siswa diminta mengamati keadaan hewan-hewan yang tidak dipelihara, seperti dari mana mereka memperoleh makanannya, dimana mereka tidur, punya nama atau tidak, bagaimana kebersihannya. 4. Kebaikan dan Keterbatasannya Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa siswa belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan (observasi, penyelidikan). B. MODEL PEMBELAJARAN TERPADU (INTEGRATED) 1. Pengertian Model pembelajaran terpadu merupakan salah satu model yang sedang trend dilakukan dewasa ini. Berdasarkan sifat keterpaduannya pembelajaran terpadu dapat dibedakan menjadi tiga yaitu model dalam satu disiplin ilmu, model antar bidang, dan model dalam lintas siswa. Salah satu pendekatan pembelajaran terpadu melibatkan kosep-konsep dalam satu bidang studi atau lintas bidang studi. Suatu pola belajar mengajar dalam model pembelajaran terpadu menggunakan payung untuk memadukan beberapa konsep IPA yang terkait menjadi 1 paket pembelajaran sehingga pemisahan antara konsep tidak begitu jelas. Sifat model pembelajaran terpadu semacam ini termaksud model connected (Fogarty, 1991 : 55). Pelaksanaan pendekatan ini bertolak dari satu topik atau tema sebagai payung untuk mengaitkan konsep-konsepnya. Tema sentral hendaknya diambil dari kehidupan sehari-hari yang menarik dan menantang kehidupan anak untuk memicu minat anak belajar. 2. Langkah-langkah penyusunan model Pembelajaran Terpadu Terdapat sejumlah langkah untuk menyusun model pembelajaran terpadu. Langkah-langkah tersebut secara berurutan adalah sebagai berikut : a. mengkaji GBPP IPA untuk menganalisis konsep-konsep penting yang akan diajarkan b. Membuat bagan konsep yang menghubungkan konsep satu dengan konsep lain c. Memilih tema sentral yang dapat menjadi payung untuk memadukan konsep-konsep tersebut. d. Membuat TPK dan deskripsi kegiatan pembelajaran yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan untuk setiap konsep e. Membuat bahan bacaan berupa cerita yang mengacu pada tema, disertai gambar dan permainan. f. Menyusun jadwal kegiatan dan alokasi waktu yang diperlukan secara profesional g. Menyusun kisi-kisi perangkat tes dan soal tes
  • 6.
    3. Contoh modelpembelajaran Terpadu Untuk konsep-konsep IPA caturwulan pertama kelas 3 tentang makhluk hidup dan benda disiapkan tema sentral “ Ke Kebun Binatang”, dan disiapkan lembar kerja sebagai berikut : a. Tujuan : siswa dapat mengklasifikasi tumbuhan, hewan, dan benda berdasarkan kriteria tertentu b. Alat dan bahan yang diperlukan : setiap siswa bebas membawa tumbuhan, hewan, dan benda untuk dikumpulkan menjadi arena kebun binatang ( guru membagi tugas membawa bahan percobaan agar terorganisir) c. Langkah kerja sebagai berikut : 1. Kumpulkan tumbuhan, hewan dan benda yang dibawa pada dua buah meja, dapat dilakukan di halaman sekolah jika memungkinkan. 2. susun yang rapi tumbuhan, hewan dan benda pada meja dengan komposisi yang sama antara satu meja dengan meja yang lain. 3. Tugasi siswa untuk mengisi Lembar Pengamatan secara berkelompok untuk tiap meja. Suruh siswa mengamati seakan-akan sedang berjalan-jalan di kebun binatang 4. Diskusikan jawaban siswa. Mantapkan jika benar, perbaiki jika kurang tepat. 4. Kebaikan dan keterbatasan Dalam pembelajaran terpadu siswa diajak untuk mengamati gejala alam sebagaimana adanya, tidak dipilih-pilih menurut biologi atau fisiknya. keterbatasan jika konsepnya sudah kompleks, sulit dipadukan atau guru mengalami kesulitan untuk memadukannya. C. MODEL PEMBELAJARAN SIKLUS BELAJAR ( LEARNING CYCLE) 1. Pengertian Model siklus belajar pertama kali dikembangkan pada tahun 1970 dalam SCIS suatu program pengembangan sains di Amerika serikat. Dalam, pelaksanaannya model siklus belajar terdiri atas tiga fase, yaitu eksplorasi, pengenalan konsep, dan penerapan konsep. 2. Urutan Pembelajaran a. Eksplorasi Pada vase eksplorasi siswa diberi kesempatan untuk melakukan penjelajahan atau eksplorasi secara bebas. b. Pengenalan konsep
  • 7.
    Pada fase pengenalankonsep guru dengan metode yang sesuai menjelaskan konsep dan teori-teori yang dapat membantu siswa untuk menjawab permasalahan yang muncul dan menyusun gagasan mereka. c. Penerapan konsep pada fase ini siswa mencoba menggunakan konsep yang telah dikuasai untuk memecahkan masalah dalam situasi yang berbeda. 3. Contoh Model Pembelajaran Siklus Belajar (Kelas 5 Cawu Ke-1) a. Tujuan Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) Siswa memahami saling ketergantungan antar mahluk hidup dengan melakukan pengamatan dan menafsirkan hasil pengamatan. TPU Antar Setelah meneliti jenis makanan sejumlah hewan, siswa dapat mengelompokan hewan berdasarkan jenis makanannya. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) 1. Setelah meneliti jenis makanan sejumlah hewan, siswa dapat mengelompokan hewan 2. setelah meneliti jenis makanan hewan siswa mengelompokan hewan pemakan hewan 3. mengelompokan hewan pemakan daging dan tumbuhan 4. setelah berdiskusi mengenal sumber makanan hewan, siswa dapat menyimpulkan bahwa semua hewan memperoleh makanan dengna cara memakan makhluk hidup lain. b. Konsep : hubungan antar mahluk hidup Devinisi konsep 1. pemakan tumbuhan (herbivora) menggunakan tumbuhan sebagai makanan 2. pemakan daging (karnivora) memakan hewan lain 3. pemakan segala (omnivora) memakan daging dan tumbuhan 4. Pemakan (konsumen) memakan makhluk hidup lain sebagia sumber makanan 4. Kelebihan dan Keterbatasannya Jumlah tahap yang hanya tiga termaksud sederhana dan mudah diingat namun memunculkan situasi konflik tidak selalu berhasil.
  • 8.
    D. MODEL PEMBELAJARANBELAJAR IPA ATAU CLIS (CHILDREN LEARNING IN SCIENCE) 1. Pengertian Model CLIS dikembangkan oleh kelompok children’s learning in science di inggris. 2. Urutan Pembelajaran a. Orientasi merupakan upaya guru untuk memusatkan perhatian siswa, misanya dengan menyebutkan atau mempertontonkan suatu venomena yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. b. Pemunculan gagasan Upaya untuk memunculkan konsepsi awal siswa c. Penyusunan ulang gagasan Pengungkapan dari pertukaran gagasan mendahului pembukaan ke situasi konflik. d. Penerapan gagasan pada tahap ini siswa diminta menjawab pertanyaan yang disusun untuk menyerapkan konsep ilmiah yang telah dikembangkan siswa melalui percobaan atau observasi ke dalam situasi baru. e. Pemantapan gagasan Konsepsi yang telah diperoleh siswa perlu diberi umpan balik oleh guru untuk memperkuat konsep ilmiah tersebut. 3. Contoh model pembelajaran CLIS Contoh model CLIS untuk konsep Pernapasan di kelas IV Catur wulan 4. Kelebihan dan keterbatasan Kejelasan setiap tahap dalam CLIS tidak selalu mudah dilaksanakan, walaupun semula direncanakan dengan baik. Kesulitan ini terutama untuk pindah dari satu fase ke fase lainnya, terutama dari pertukaran gagasan ke situasi konflik. Hal lain yang sulit yaitu berpindahnya dari penerapan gagasan kepada pemantapan gagasan. Guru lupa untuk memantapkan gagasan baru siswa, sehingga jika hal ini terjadi tentunya siswa akan kembali kepada konsepsi awal (yang memang sulit diubah).