Direktorat GTK M a d r a s a h
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam
Kementerian Agama Republik Indonesia
POPI PUADAH
Dosen Pascasarjana
Universitas Islam Jakarta
1 TUJUAN
TUJUAN YANG INGIN DICAPAI
SETELAH MEMPELAJARI SESI INI, PESERTA DIHARAPKAN MAMPU:
1. Memahami urgensi moderasi beragama di madrasah
2. Memahami konsep moderasi beragama
3. Mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama di
madrasah
LANGKAH KEGIATAN
2
2
LANGKAH KEGIATAN (120’)
PENGANTAR DAN
BRAINSTORMING
(10’)
DISKUSI
KELOMPOK
(20’)
REFLEKSI/
FEEDBACK
(10’)
PRESENTASI MATERI
60’
TANYA
JAWAB
10’
PRESENTASI
KELOMPOK
(10’)
MENGAPA SIKAP MODERASI DALAM
BERAGAMA SANGAT PENTING
PRESENTASI MATERI
3
KEBERAGAMAN BANGSA INDONESIA
TANTANGAN KEHIDUPAN KEAGAMAAN SAAT INI
Menguatnya pandangan, sikap, dan perilaku keagamaan
eksklusif yang bersemangat menolak perbedaan dan
menyingkirkan kelompok lain
Tingginya angka kekerasan bermotif agama yang
disebabkan pandangan, sikap, dan cara beragama yang
eksklusif
Berkembangnya semangat beragama yang tidak selaras
dengan kecintaan berbangsa dalam bingkai NKRI
1
2
3
Berkembangnya cara pandang, sikap dan praktik
beragama yang berlebihan (ekstrem), yang
mengesampingkan martabat kemanusiaan
BRAINSTORMING 2
MENGAPA ADA ORANG YANG MELAKUKAN TINDAKAN
EKSTREME DENGAN MENGATASNAMAKAN AGAMA
SEPERTI ITU
U D A R A S U M S I
M E M B A N G U N P E R S P E K T I F
APA YANG ANDA LIHAT DARI GAMBAR INI
BIAS KOGNITIF
YANG HARUS KITA PERHATIKAN DAN KITA WASPADAI
BIAS KOGNITIF
Bias kognitif adalah bias sistematis dalam memandang dunia dan
kehidupan pada sistem berpikir kita. Ia akan mempengaruhi proses
pengambilan keputusan yang muncul dari cara orang memproses
informasi.
Bentuk-bentuk bias kognitif:
1. Egocentric Memory–--Mengingat bukti yang menguatkan
pendapatnya dan melupakan bukti yang tidak mendukung
pendapatnya
2. Egocentric Myopia---Melihat sesuatu hanya dari sudut pandangnya
3. Egocentric Righteousness---Menganggap diri paling benar/hebat
4. Egocentric Hypocrisy---Menerapkan standar ganda kepada orang lain
5. Egocentric Oversimplification---Terlalu menyederhanakan masalah
6. Egocentric Blindness---Tidak memperhatikan bukti yang berlawanan
dengan keyakinannya
EGOCENTRIC MEMORY
Kecenderungan alamiah seseorang untuk ‘melupakan’
bukti dan informasi yang tidak mendukung pendapat dan
‘mengingat’ bukti dan informasi yang mendukung
pendapatnya.
Cara Mengoreksinya:
 Sengaja mencari bukti dan informasi yang tidak
mendukung pendapatnya dan secara eksplisit
mengarahkan perhatian kepada bukti dan informasi ini.
 Ketika mencoba kemudian tidak menemukan bukti dan
informasi tersebut, asumsikanlah bahwa proses
mencarinya belum dilakukan secara benar
EGOCENTRIC MYOPIA
Kecenderungan alamiah seseorang untuk berpikir ‘absolutist’
dalam sudut pandang yang sangat sempit, hanya dari sudut
pandang dirinya.
Cara Mengoreksinya:
 Secara rutin berpikir dengan sudut pandang yang berlawanan
dengan sudut pandangnya. Misalnya, kalau Anda sebagai aktivis,
coba berpikir sebagai pemerintah; kalau Anda sebagai wakil
pemerintah, coba berpikir sebagai aktivis; kalau Anda sebagai
pengusaha coba berpikir sebagai pekerja, begitu sebaliknya, dan
seterusnya.
 Ketika Anda belum menemukan prasangka-prasangka pribadi dalam
proses ini, tanyakanlah apakah Anda sudah jujur untuk mencobanya
EGOCENTRIC RIGHTEOUSNESS
Kecenderungan alamiah seseorang untuk merasa lebih baik, lebih
hebat atau ‘superior’ karena yakin benar, padahal belum tentu
benar.
Cara Mengoreksinya:
 Secara berkala mengingatkan diri betapa banyak hal yang belum
kita ketahui. Cobalah membuat daftar pertanyaan-pertanyaan
dalam hidup yang belum terjawab
 Jika daftarnya terlalu pendek atau sedikit apalagi kosong, Anda
perlu meragukan cara Anda bertanya
EGOCENTRIC HYPOCRISY
Kecenderungan alamiah untuk mengabaikan inkonsistensi.
Misalnya inkonsistensi antara kata dan perbuatan atau standar
yang kita terapkan pada diri sendiri dan orang lain.
Cara Mengoreksinya:
 Secara berkala membandingkan standar yang kita
terapkan pada diri sendiri dan orang lain
 Jika tidak menemukan inkonsistensi dalam pikiran atau
perbuatan Anda, bertanyalah apakah Anda sudah
menggali lebih dalam atau tidak
EGOCENTRIC OVERSIMPLIFICATION
Kecenderungan alamiah untuk mengabaikan kompleksitas masalah
dengan memilih pandangan yang sederhana bila kompleksitas itu akan
mengubah pendapatnya
Cara Mengoreksinya:
 Secara rutin memfokuskan pikiran pada kompleksitas masalah
dan secara eksplisit memformulasikannya dalam kata-kata
 Jika Anda tidak menemukan bahwa Anda telah menyederhanakan
banyak masalah penting, bertanyalah apakah Anda telah benar-
benar mengonfrontasikan diri pada kompleksitas dalam masalah
yang dihadapi
EGOCENTRIC BLINDNESS
Kecenderungan alamiah untuk tidak memperhatikan fakta
atau bukti yang berlawanan dengan kepercayaan dan nilai-
nilai yang diyakini
Cara Mengoreksinya:
 Secara eksplisit mencari fakta dan bukti tersebut
 Bila Anda tidak mendapati diri Anda mengalami keresahan dalam
mencari fakta dan bukti ini, maka Anda perlu bertanya apakah
Anda telah secara serius menanggapi fakta dan bukti ini.
 Bila Anda dapati bahwa semua kepercayaan-kepercayaan Anda
benar sejak awalnya, maka mungkin Anda telah secara canggih
“mengelabui diri sendiri”
V o i c e o f
J u d g e m e n t
Voice of Cynicism
Voice of Fear
Open Mind
Open Heart
Open Will
KONDISI KEBERAGAMAAN MASYARAKAT INDONESIA
KEBERAGAMAAN
INDONESIA:
Madzhab, sekte,
aliran, dsb
PERLU PEREKAT:
MODERASI BERAGAMA untuk
mempererat Ukhuwah
Islamiyah, Ukhuwah
Wathoniyah, ukhuwah
basyariyah
RAGAM TAFSIR
KEBENARAN
POTENSI KONFLIK
APA YANG DIMAKSUD DENGAN MODERASI
BERAGAMA DAN APA SAJA INDIKATOR NILAI-NILAI
MODERASI BERAGAMA
Rumusan
Moderasi Beragama
Moderasi beragama
sesungguhnya
merupakan kunci
terciptanya toleransi
dan kerukunan, baik di
tingkat lokal, nasional,
maupun global.
MODERASI, menurut kamus bahasa:
• Bahasa Indonesia: 1. pengurangan kekerasan dan 2. penghindaran
keekstreman.
• Bahasa Latin: ke-sedang-an (tidak kelebihan dan tidak kekurangan).
• Bahasa Inggris: core (inti, esensi), standard (etika).
• Bahasa Arab: wasath atau wasathiyah, yang memiliki padanan makna
dengan kata tawassuth (tengah-tengah), i’tidal (adil), dan tawazun
(berimbang).
8
Cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan
bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran
agama – yang melindungi martabat kemanusiaan dan
membangun kemaslahatan umum – berlandaskan prinsip adil,
berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan
berbangsa
BATASAN MODERASI BERAGAMA
Moderasi beragama
sesungguhnya
merupakan kunci
terciptanya toleransi
dan kerukunan, baik di
tingkat lokal, nasional,
maupun global.
8
Cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang tidak
berlebihan dan tidak melampaui batas.
Pengamalan agama yang berlebihan dapat menyebabkan
seseorang mudah menyalahkan, mengkafirkan, atau
membid’ahkan orang lain dan menganggap dirinya yang
paling benar.
Pengamalan agama yang melampaui batas dapat
menyebabkan seseorang akan menyepelekan ajaran agama
dan menafsirkan Al-Qur’an dan Hadits secara bebas
berdasarkan logika .
Moderasi
Beragama
Bukan
Moderasi
Agama
 Agama tidak perlu dimoderasi karena
agama itu sendiri telah mengajarkan
prinsip moderasi, keadilan, dan
keseimbangan (Al Baqarah:143)
 Jadi bukan agamanya yang harus
dimoderasi, melainkan cara pandang dan
sikap umat beragama dalam memahami
dan menjalankan agamanya yang harus
dimoderasi
 Tidak ada agama yang mengajarkan
ekstremisme, tapi tidak sedikit orang
yang memahami dan menjalankan ajaran
agamanya secara ekstrem
4 Indikator Nilai
ADAPTIF TERHADAP
KEBUDAYAAN LOKAL
Orang-orang yang moderat memiliki
kecenderungan lebih ramah dalam penerimaan
tradisi dan budaya lokal dalam perilaku
keagamaannya, sejauh tidak bertentangan
dengan pokok ajaran agama.
TOLERANSI
Sikap untuk memberi ruang dan tidak
mengganggu hak orang lain untuk
berkeyakinan, mengekspresikan
keyakinannya, dan menyampaikan
pendapat, meskipun hal tersebut berbeda
dengan apa yang kita yakini. Jadi toleransi
mengacu pada sikap terbuka, lapang dada,
sukarela, dan lembut dalam menerima
perbedaan
ANTI KEKERASAN
Menolak cara-cara kekerasan dalam
menyelesaikan masalah, misalnya
dalam melakukan perubahan yang
diinginkan
KOMITMEN KEBANGSAAN
Penerimaan terhadap prinsip-prinsip
berbangsa yang tertuang dalam Konstitusi
UUD 1945 dan regulasi di bawahnya.
Indikator inilah yang sering juga
dipergunakan sebagai indikator
ekstremisme yang biasanya memiliki
pandangan ingin mengubah sistem sosial
dan politik yang sudah ada dan menghujat
Pancasila sebagai thaghut Moderasi Beragama
1. Kemanusiaan
2. Kemaslahatan Umum
3. Adil
4. Berimbang
5. Taat Konstitusi
6. Komitmen Kebangsaan
7. Toleransi
8. Anti Kekerasan
9. Penghormatan kepada Tradisi
INI MERUPAKAN GABUNGAN ANTARA DEFINISI MODERASI
BERAGAMA DAN INDIKATOR NILAI-NILA MODERASI
SEMBILAN KATA KUNCI MODERASI BERAGAMA
IMPLEMENTASI DI MADRASAH
Dalam KMA 184 2019 memuat pedoman “Implementasi Moderasi
Beragama” sebagai berikut:
o Setiap guru mata pelajaran wajib menanamkan nilai moderasi beragama.
o Penanaman nilai moderasi beragama kepada peserta didik bersifat hidden curriculum
dalam bentuk pembiasaan, pembudayaan dan pemberdayaan dalam kehidupan
sehari-hari.
o Implementasi penanaman nilai moderasi beragama kepada peserta didik tidak harus
tertuang dalam administrasi pembelajaran guru (RPP), namun guru wajib
mengkondisikan suasana kelas dan melakukan pembiasaan yang memungkinkan
terbentuknya budaya berfikir moderat dalam beragama serta menyampaikan pesan
moral kepada peserta didik.
IMPLEMENTASI DI MADRASAH
Moderasi beragama tidak menjadi mata pelajaran sendiri, akan tetapi muatannya
sudah terintegrasi di dalam semua mata pelajaran yang diajarkannya, terutama
pada rumpun mata pelajaran PAI yang meliputi Al-Quran dan Hadits, Fikih, atau
Akidah Akhlak atau Tasawuf, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan pada
jenjang MA ada pelajaran Tafsir/Ilmu Tafsir dan Ushul Fikih.
Muatan moderasi juga disisipkan pada pengajaran bahasa Arab di lingkungan
madrasah.
Muatan moderasi secara substantif masuk ke dalam sub-sub bab yang ada di
semua mata pelajaran itu baik tersirat maupun tersurat.
STRATEGI IMPLEMENTASI MODERASI BERAGAMA
DI MADRASAH
1. Menyisipkan (insersi) muatan moderasi dalam setiap materi yang relevan.
Implementasinya lebih ditekankan pada aspek bagaimana substansi tersebut
dikaitkan dengan spirit moderasi beragama dan dapat diterapkan di dalam
kehidupan sehari-hari.
2. Mengoptimalkan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang dapat melahirkan
cara berfikir kritis, bersikap menghargai perbedaan, menghargai pendapat orang
lain, toleran, demokratis, berani menyampaikan gagasan, sportif dan bertanggung
jawab--- Metode Diskusi, jigsaw, PJBL, PBL, dlsb.
3. Menyelenggarakan program pendidikan, pelatihan dan pembekalan tertentu
dengan tema khusus tentang moderasi beragama.
(Peraturan Dirjen Pendis No 7272 Tahun 2019)
DISKUSI KELOMPOK
4
DISKUSI KELOMPOK
Berdasarkan kata kunci moderasi beragama
1. Identifikasi implementasi nilai-nilai moderasi beragama yang
sudah dilakukan di lingkungan madrasah
2. Identifikasi kebijakan atau tindakan yang selama ini
betentangan dengan nilai-nilai moderasi beragama di
lingkungan madrasah
PRESENTASIKAN HASIL DISKUSINYA DALAM ROOM BESAR
LAGU SYUKUR
TERIMA KASIH

MATERI MODERASI 2 JPL(1).pptx

  • 1.
    Direktorat GTK Ma d r a s a h Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia POPI PUADAH Dosen Pascasarjana Universitas Islam Jakarta
  • 2.
  • 3.
    TUJUAN YANG INGINDICAPAI SETELAH MEMPELAJARI SESI INI, PESERTA DIHARAPKAN MAMPU: 1. Memahami urgensi moderasi beragama di madrasah 2. Memahami konsep moderasi beragama 3. Mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama di madrasah
  • 4.
  • 5.
    LANGKAH KEGIATAN (120’) PENGANTARDAN BRAINSTORMING (10’) DISKUSI KELOMPOK (20’) REFLEKSI/ FEEDBACK (10’) PRESENTASI MATERI 60’ TANYA JAWAB 10’ PRESENTASI KELOMPOK (10’)
  • 6.
    MENGAPA SIKAP MODERASIDALAM BERAGAMA SANGAT PENTING
  • 7.
  • 8.
  • 9.
    TANTANGAN KEHIDUPAN KEAGAMAANSAAT INI Menguatnya pandangan, sikap, dan perilaku keagamaan eksklusif yang bersemangat menolak perbedaan dan menyingkirkan kelompok lain Tingginya angka kekerasan bermotif agama yang disebabkan pandangan, sikap, dan cara beragama yang eksklusif Berkembangnya semangat beragama yang tidak selaras dengan kecintaan berbangsa dalam bingkai NKRI 1 2 3
  • 11.
    Berkembangnya cara pandang,sikap dan praktik beragama yang berlebihan (ekstrem), yang mengesampingkan martabat kemanusiaan
  • 13.
    BRAINSTORMING 2 MENGAPA ADAORANG YANG MELAKUKAN TINDAKAN EKSTREME DENGAN MENGATASNAMAKAN AGAMA SEPERTI ITU
  • 14.
    U D AR A S U M S I M E M B A N G U N P E R S P E K T I F
  • 16.
    APA YANG ANDALIHAT DARI GAMBAR INI
  • 17.
    BIAS KOGNITIF YANG HARUSKITA PERHATIKAN DAN KITA WASPADAI
  • 18.
    BIAS KOGNITIF Bias kognitifadalah bias sistematis dalam memandang dunia dan kehidupan pada sistem berpikir kita. Ia akan mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang muncul dari cara orang memproses informasi. Bentuk-bentuk bias kognitif: 1. Egocentric Memory–--Mengingat bukti yang menguatkan pendapatnya dan melupakan bukti yang tidak mendukung pendapatnya 2. Egocentric Myopia---Melihat sesuatu hanya dari sudut pandangnya 3. Egocentric Righteousness---Menganggap diri paling benar/hebat 4. Egocentric Hypocrisy---Menerapkan standar ganda kepada orang lain 5. Egocentric Oversimplification---Terlalu menyederhanakan masalah 6. Egocentric Blindness---Tidak memperhatikan bukti yang berlawanan dengan keyakinannya
  • 19.
    EGOCENTRIC MEMORY Kecenderungan alamiahseseorang untuk ‘melupakan’ bukti dan informasi yang tidak mendukung pendapat dan ‘mengingat’ bukti dan informasi yang mendukung pendapatnya. Cara Mengoreksinya:  Sengaja mencari bukti dan informasi yang tidak mendukung pendapatnya dan secara eksplisit mengarahkan perhatian kepada bukti dan informasi ini.  Ketika mencoba kemudian tidak menemukan bukti dan informasi tersebut, asumsikanlah bahwa proses mencarinya belum dilakukan secara benar
  • 20.
    EGOCENTRIC MYOPIA Kecenderungan alamiahseseorang untuk berpikir ‘absolutist’ dalam sudut pandang yang sangat sempit, hanya dari sudut pandang dirinya. Cara Mengoreksinya:  Secara rutin berpikir dengan sudut pandang yang berlawanan dengan sudut pandangnya. Misalnya, kalau Anda sebagai aktivis, coba berpikir sebagai pemerintah; kalau Anda sebagai wakil pemerintah, coba berpikir sebagai aktivis; kalau Anda sebagai pengusaha coba berpikir sebagai pekerja, begitu sebaliknya, dan seterusnya.  Ketika Anda belum menemukan prasangka-prasangka pribadi dalam proses ini, tanyakanlah apakah Anda sudah jujur untuk mencobanya
  • 21.
    EGOCENTRIC RIGHTEOUSNESS Kecenderungan alamiahseseorang untuk merasa lebih baik, lebih hebat atau ‘superior’ karena yakin benar, padahal belum tentu benar. Cara Mengoreksinya:  Secara berkala mengingatkan diri betapa banyak hal yang belum kita ketahui. Cobalah membuat daftar pertanyaan-pertanyaan dalam hidup yang belum terjawab  Jika daftarnya terlalu pendek atau sedikit apalagi kosong, Anda perlu meragukan cara Anda bertanya
  • 22.
    EGOCENTRIC HYPOCRISY Kecenderungan alamiahuntuk mengabaikan inkonsistensi. Misalnya inkonsistensi antara kata dan perbuatan atau standar yang kita terapkan pada diri sendiri dan orang lain. Cara Mengoreksinya:  Secara berkala membandingkan standar yang kita terapkan pada diri sendiri dan orang lain  Jika tidak menemukan inkonsistensi dalam pikiran atau perbuatan Anda, bertanyalah apakah Anda sudah menggali lebih dalam atau tidak
  • 23.
    EGOCENTRIC OVERSIMPLIFICATION Kecenderungan alamiahuntuk mengabaikan kompleksitas masalah dengan memilih pandangan yang sederhana bila kompleksitas itu akan mengubah pendapatnya Cara Mengoreksinya:  Secara rutin memfokuskan pikiran pada kompleksitas masalah dan secara eksplisit memformulasikannya dalam kata-kata  Jika Anda tidak menemukan bahwa Anda telah menyederhanakan banyak masalah penting, bertanyalah apakah Anda telah benar- benar mengonfrontasikan diri pada kompleksitas dalam masalah yang dihadapi
  • 24.
    EGOCENTRIC BLINDNESS Kecenderungan alamiahuntuk tidak memperhatikan fakta atau bukti yang berlawanan dengan kepercayaan dan nilai- nilai yang diyakini Cara Mengoreksinya:  Secara eksplisit mencari fakta dan bukti tersebut  Bila Anda tidak mendapati diri Anda mengalami keresahan dalam mencari fakta dan bukti ini, maka Anda perlu bertanya apakah Anda telah secara serius menanggapi fakta dan bukti ini.  Bila Anda dapati bahwa semua kepercayaan-kepercayaan Anda benar sejak awalnya, maka mungkin Anda telah secara canggih “mengelabui diri sendiri”
  • 25.
    V o ic e o f J u d g e m e n t Voice of Cynicism Voice of Fear Open Mind Open Heart Open Will
  • 26.
    KONDISI KEBERAGAMAAN MASYARAKATINDONESIA KEBERAGAMAAN INDONESIA: Madzhab, sekte, aliran, dsb PERLU PEREKAT: MODERASI BERAGAMA untuk mempererat Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathoniyah, ukhuwah basyariyah RAGAM TAFSIR KEBENARAN POTENSI KONFLIK
  • 27.
    APA YANG DIMAKSUDDENGAN MODERASI BERAGAMA DAN APA SAJA INDIKATOR NILAI-NILAI MODERASI BERAGAMA
  • 28.
    Rumusan Moderasi Beragama Moderasi beragama sesungguhnya merupakankunci terciptanya toleransi dan kerukunan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. MODERASI, menurut kamus bahasa: • Bahasa Indonesia: 1. pengurangan kekerasan dan 2. penghindaran keekstreman. • Bahasa Latin: ke-sedang-an (tidak kelebihan dan tidak kekurangan). • Bahasa Inggris: core (inti, esensi), standard (etika). • Bahasa Arab: wasath atau wasathiyah, yang memiliki padanan makna dengan kata tawassuth (tengah-tengah), i’tidal (adil), dan tawazun (berimbang). 8 Cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama – yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum – berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa
  • 29.
    BATASAN MODERASI BERAGAMA Moderasiberagama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. 8 Cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang tidak berlebihan dan tidak melampaui batas. Pengamalan agama yang berlebihan dapat menyebabkan seseorang mudah menyalahkan, mengkafirkan, atau membid’ahkan orang lain dan menganggap dirinya yang paling benar. Pengamalan agama yang melampaui batas dapat menyebabkan seseorang akan menyepelekan ajaran agama dan menafsirkan Al-Qur’an dan Hadits secara bebas berdasarkan logika .
  • 30.
    Moderasi Beragama Bukan Moderasi Agama  Agama tidakperlu dimoderasi karena agama itu sendiri telah mengajarkan prinsip moderasi, keadilan, dan keseimbangan (Al Baqarah:143)  Jadi bukan agamanya yang harus dimoderasi, melainkan cara pandang dan sikap umat beragama dalam memahami dan menjalankan agamanya yang harus dimoderasi  Tidak ada agama yang mengajarkan ekstremisme, tapi tidak sedikit orang yang memahami dan menjalankan ajaran agamanya secara ekstrem
  • 31.
    4 Indikator Nilai ADAPTIFTERHADAP KEBUDAYAAN LOKAL Orang-orang yang moderat memiliki kecenderungan lebih ramah dalam penerimaan tradisi dan budaya lokal dalam perilaku keagamaannya, sejauh tidak bertentangan dengan pokok ajaran agama. TOLERANSI Sikap untuk memberi ruang dan tidak mengganggu hak orang lain untuk berkeyakinan, mengekspresikan keyakinannya, dan menyampaikan pendapat, meskipun hal tersebut berbeda dengan apa yang kita yakini. Jadi toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, sukarela, dan lembut dalam menerima perbedaan ANTI KEKERASAN Menolak cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah, misalnya dalam melakukan perubahan yang diinginkan KOMITMEN KEBANGSAAN Penerimaan terhadap prinsip-prinsip berbangsa yang tertuang dalam Konstitusi UUD 1945 dan regulasi di bawahnya. Indikator inilah yang sering juga dipergunakan sebagai indikator ekstremisme yang biasanya memiliki pandangan ingin mengubah sistem sosial dan politik yang sudah ada dan menghujat Pancasila sebagai thaghut Moderasi Beragama
  • 32.
    1. Kemanusiaan 2. KemaslahatanUmum 3. Adil 4. Berimbang 5. Taat Konstitusi 6. Komitmen Kebangsaan 7. Toleransi 8. Anti Kekerasan 9. Penghormatan kepada Tradisi INI MERUPAKAN GABUNGAN ANTARA DEFINISI MODERASI BERAGAMA DAN INDIKATOR NILAI-NILA MODERASI SEMBILAN KATA KUNCI MODERASI BERAGAMA
  • 33.
    IMPLEMENTASI DI MADRASAH DalamKMA 184 2019 memuat pedoman “Implementasi Moderasi Beragama” sebagai berikut: o Setiap guru mata pelajaran wajib menanamkan nilai moderasi beragama. o Penanaman nilai moderasi beragama kepada peserta didik bersifat hidden curriculum dalam bentuk pembiasaan, pembudayaan dan pemberdayaan dalam kehidupan sehari-hari. o Implementasi penanaman nilai moderasi beragama kepada peserta didik tidak harus tertuang dalam administrasi pembelajaran guru (RPP), namun guru wajib mengkondisikan suasana kelas dan melakukan pembiasaan yang memungkinkan terbentuknya budaya berfikir moderat dalam beragama serta menyampaikan pesan moral kepada peserta didik.
  • 34.
    IMPLEMENTASI DI MADRASAH Moderasiberagama tidak menjadi mata pelajaran sendiri, akan tetapi muatannya sudah terintegrasi di dalam semua mata pelajaran yang diajarkannya, terutama pada rumpun mata pelajaran PAI yang meliputi Al-Quran dan Hadits, Fikih, atau Akidah Akhlak atau Tasawuf, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan pada jenjang MA ada pelajaran Tafsir/Ilmu Tafsir dan Ushul Fikih. Muatan moderasi juga disisipkan pada pengajaran bahasa Arab di lingkungan madrasah. Muatan moderasi secara substantif masuk ke dalam sub-sub bab yang ada di semua mata pelajaran itu baik tersirat maupun tersurat.
  • 35.
    STRATEGI IMPLEMENTASI MODERASIBERAGAMA DI MADRASAH 1. Menyisipkan (insersi) muatan moderasi dalam setiap materi yang relevan. Implementasinya lebih ditekankan pada aspek bagaimana substansi tersebut dikaitkan dengan spirit moderasi beragama dan dapat diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. 2. Mengoptimalkan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang dapat melahirkan cara berfikir kritis, bersikap menghargai perbedaan, menghargai pendapat orang lain, toleran, demokratis, berani menyampaikan gagasan, sportif dan bertanggung jawab--- Metode Diskusi, jigsaw, PJBL, PBL, dlsb. 3. Menyelenggarakan program pendidikan, pelatihan dan pembekalan tertentu dengan tema khusus tentang moderasi beragama. (Peraturan Dirjen Pendis No 7272 Tahun 2019)
  • 36.
  • 37.
    DISKUSI KELOMPOK Berdasarkan katakunci moderasi beragama 1. Identifikasi implementasi nilai-nilai moderasi beragama yang sudah dilakukan di lingkungan madrasah 2. Identifikasi kebijakan atau tindakan yang selama ini betentangan dengan nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan madrasah PRESENTASIKAN HASIL DISKUSINYA DALAM ROOM BESAR
  • 38.
  • 39.