LABIOZKISIS (IV)
SEMUA ITU BERAWAL DARI 
MULUT
DEFINISI 
Labiokisis adalah suatu keadaan tidak terjadi 
penyambungan fissura pada bibir, sehingga bibir tidak bisa 
menutup. Palatokisis adalah suatu keadaan penutupan yang 
tidak sempurna pada proseesus maxilaris, dapat terjadi juga 
pada palatum. Ini terjadi karena kegagalan penyatuan susunan 
palatum pada masa kehamilan 7 – 12 minggu. Pada palatokisis 
biasanya juga disertai labioskisis sehingga di sebut 
labiopalatokisis (wong, donna L. 2003).
JENIS-JENIS 
LABIOZKISIS 
Ada beberapa jenis labiokisis: 
1. Unilateral inclomplete: Apabila celah 
sumbing terjadi hanya di salah satu sisi 
bibir dan tidak memanjang hingga ke 
hidung. 
2. Unilateral complete: Apabila celah 
sumbing terjadi hanya disalah satu bibir 
dan memanjang hingga kehidung. 
3. Bilateral complete: Apabila celah 
sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan 
memanjang hingga ke hidung.
CERITANYA 
Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta lebih, tentu 
mempunyai dan akan mempunyai banyak kasus labio-palatoskisis. 
Antara Februari - Mei 1992, IKABI cabang Padang 
mengadakan pengabdian masyarakat di dua Kabupaten 50 
Kota dan Solok berbentuk operasi bibir sumbing secara gratis. 
Dilakukan penelitian pada 126 penderita yang dilakukan 
operasi. Bpk. Hardjowasito dengan kawan-kawan di propinsi 
Nusa Tenggara Timur antara April 1986 sampai Nopember 
1987 melakukan operasi pada 1004 kasus bibir sumbing atau 
celah langit-langit pada bayi, anak maupun dewasa di antara 
3 juta penduduk.
KENAPA KOK BISA TERJADI? 
1. Karena faktor genetik, tetapi tidak dapat ditentukan dengan pasti karena 
berkaitan dengan gen kedua orang tua. 
2. Karena kekurangan asam folat, kekurangan vitamin c, Zn (ensufiensi zat 
pd perkembangan masa embrional) apabila bumil kekurangan hal 
tersebut pada masa kehamilannya, maka akan berpengaruh pula pada 
janinnya 
3. Karena jamu=akan mempengaruhi pertumbuhan pada janin. Jamu 
berbahan kimia spt yg berkemasan/sasetan 
4. Karena mengkonsumsi pill KB=akan mencetuskan terjadinya hipertensi , 
gangguan pd janin, akhirnya terjadi gangguan sirkulasi foto 
maternal(pemeriksaan USG). 
5. Karena rokok/alkohol=akan mengganggu pertumbuhan organ selama 
masa embrional 
6. Karena penyakit ibu spt obesitas atau infeksi toxoplasma, keduanya ini 
rentang terjadinya kelainan kongenital 
7. Faktor terjadinya Labiozkisis masih belum diketaui secara lebih jelas
MANIFESTASI 
tergantung dari ketiga jenis celah bibir 
Jika Palatokisis 
Tampak ada celah pada 
tekak (uvula), palato 
lunak, dan keras dan 
atau 
Jika Labiokisis 
Distorsi pada hidung, 
Tampak sebagian atau 
keduanya, Adanya 
celah pada bibir 
Jika foramen 
incisive 
Adanya rongga pada hidung, 
Distorsi hidung, Teraba celah atau 
terbentuknya langit-langit saat di 
periksa dengan jari, Kesukaran 
dalam menghisap atau makanan
KOMPLIKASI 
1. Kesulitan berbicara-hipernasalitas, artikulasi, kompensatori. 
Adanya celah pd bibir dn palatum membuat suara yg keluar 
menjadi sengau. 
2. Masalah pendengaran, adanya celah pd palatume sehingga 
muara tuga eustachi terganggu dan akhirnya menjadi otitis 
rekurens sekunder. 
3. Aspirasi/tersedak 
4. Distress pernafasan 
5. Resiko infeksi saluran pernafasan 
6. Pertumbuhan dan perkembangan terlambat 
7. Asimetri wajah 
8. Penyakit periodontal 
9. Perubahan harga diri, dan citra tubuh.
ALAT BANTU 
PEMBERIAN NUTRISI 
Pada pasien labiokisis hal yang paling sulit adalah ketika pasien 
kesulitan dalam menerima asupan nutrisi, sebab kondisi celah 
pada bibir. Perawat harus mengerti akan metode pemberian 
susu/nutrisi pada pasien (bayi/balita) yaitu dengan metode ESSR 
yang dibuat oleh Richard, 1991 yang memiliki kepanjangan: 
E: Enlarge nipple (memperlebar celah atau lubang pada dot) 
S: Stimulate suck reflex (mampu mengrangsang reflek 
menghisap) 
S: Swallow fluid approprialety (menelan cairan dengan tepat) 
R: Rest when the infant signals with facial expression 
(memberikan kesempatan istirahat ketika bayi memberi sinyal 
lewat espresi wajah) 
Penelitian terhadap berat badan pada bayi-bayi yang di 
susui dengan metode tradisional dan yang di susui dengan 
metode ESSR mengungkapkan peningkatan berat badan rata-rata 
yang signifikan sebelum pembedahan pada bayi-bayi dalam 
kelompok ESSR
APA SAJAKAH ALATNYA? 
1. BOTOL PERAS 2. DOT DOMBA 
3. ASI IBU (alternatif alami)
Risiko Kejadian Sumbing 
Risiko sumbing pada anak 
berikutnya 
Pada Keluarga 
Risiko labioskizis dengan atau tanpa 
palatoskizis (%) 
Risiko palatoskizis (%) 
- bila ditemukan satu 
anak menderita sumbing 
- Suami istri dan dalam keturunan 
tidak ada yang sumbing. 
2-3 2 
- dalam keturunan ada yang 
sumbing 4-9 3-7 
- Bila ditemukan dua anak 
menderita sumbing 14 13 
- salah satu orangtuanya menderita 
sumbing 12 13 
- Kedua orangtuanya menderita 
sumbing. 30 20 
Nb: Secara umum, jika satu anak dalam keluarga memiliki sumbing, anak berikutnya memiliki 
sekitar kesempatan 4% juga memiliki sumbing. Jika hanya memiliki bibir sumbing, risiko ini 
terjadi pada anak kedua adalah sekitar 2%.
LABIOZKISIS
KONSEP TEORI 
ASUHAN KEPERAWATAN PADA 
LABIOZKISIS
PENGKAJIAN 
• Identitas klien : Meliputi nama,alamat,umur 
• Keluhan utama : Alasan klien masuk ke rumah sakit 
• Riwayat Kesehatan 
1.Riwayat Kesehatan Dahulu ; Mengkaji riwayat kehamilan ibu, apakah ibu 
pernah mengalami trauma pada kehamilan Trimester I. bagaimana pemenuhan 
nutrisi ibu saat hamil, obat-obat yang pernah dikonsumsi oleh ibu dan apakah ibu 
pernah stress saat hamil. 
2.Riwayat Kesehatan Sekarang ; Mengkaji berat / panjang bayi saat lahir, pola 
pertumbuhan, pertambahan / penurunan berat badan, riwayat otitis media dan 
infeksi saluran pernafasan atas. 
3.Riwayat Kesehatan Keluarga ; Riwayat kehamilan, riwayat keturunan, 
labiopalatoskisis dari keluarga, penyakit sifilis dari orang tua laki-laki. 
• Pemeriksaan Fisik 
1. Inspeksi kecacatan pada saat lahir untuk mengidentifikasi karakteristik 
sumbing. 
2. Kaji asupan cairan dan nutrisi bayi 
3. Kaji kemampuan hisap, menelan, bernafas. 
4. Kaji tanda-tanda infeksi 
5. Palpasi dengan menggunakan jari 
6. Kaji tingkat nyeri pada bayi
Pemeriksaan Diagnostik 
Pada masa kehamilan bumil dapat memeriksakan 
kandungannya dengan menggunakaan USG guna untuk 
memastikan apakah kandungannya tidak memiliki gangguan, 
diantara lain dgn: 
1. Foto rontgen 
2. Pemeriksaan fisik 
3. MRI untuk evaluasi abnormal 
Pemeriksaan Terapeutik 
Penatalaksanaan tergantung pada beratnya kecacatan: 
1. Prioritas pertama adalah pada teknik pemberian nutrisi yang adekuat 
2. Mencegah komplikasi 
3. Fasilitas pertumbuhan dan perkembangan 
4. Pembedahan: 
a. Pada labio, perbaikan dengan pembedahan usia 2-3 hari atau sampai usia 
beberapa minggu prosthesis intraoral atau ekstraoral 
b. Pada palato, dilakukan pada waktu 6 bulan dan 2 tahun, tergantung pada 
derajat kecacatan
Prinsip Perawatan umum 
Berdasarkan Usia Bayi/Balita 
1. Pada saat baru lahir bantuan pernafasan dan pemasangan NGT (Naso 
Gastric Tube) bila perlu untuk membantu masuknya makanan kedalam 
lambung. 
2. umur 1 minggu; pembuatan feeding plate untuk membantu menutup langit-langit 
dan mengarahkan pertumbuhan, pemberian dot khusus. 
3. umur 3 bulan; labioplasty atau tindakan operasi untuk bibir, alanasi (untuk 
hidung) dan evaluasi telingga. 
4. umur 18 bulan - 2 tahun; palathoplasty; tindakan operasi langit-langit bila 
terdapat sumbing pada langit-langit. 
5. Umur 4 tahun : dipertimbangkan repalatorapy atau pharingoplasty. 
6. umur 6 tahun; evaluasi gigi dan rahang, evaluasi pendengaran. 
7. umur 11 tahun; alveolar bone graft augmentation (cangkok tulang pada 
pinggir alveolar 
8. untuk memberikan jalan bagi gigi caninus). perawatan otthodontis. 
9. umur 12-13 tahun; final touch5; perbaikan-perbaikan bila diperlukan. 
10. umur 17-18 tahun; orthognatik surgery bila perlu
PENATALAKSANAAN 
MEDIS 
Penatalaksanaan labiopalatoskisis adalah dengan tindakan 
pembedahan. Tindakan operasi pertama kali dikerjakan untuk 
menutup celah bibir palatum berdasarkan kriteria “ rule of ten “, 
yaitu: 
1. Umur lebih dari 10 minggu ( 3 bulan ) 
2. Berat lebih dari 10 pond ( 5 kg ) 
3. Hb lebih 10 g / dl 
4. Leukosit lebih dari 10.000 / ul 
Tergantung dari berat ringan yang ada, maka tindakan bedah 
maupun ortidentik dilakukan secara bertahap.
PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN 
Tujuan perawatan bayi yang menderita labioskisis dan 
palatoskisis berhubungan dengan perawatan prabedah, perawatan 
jangka pendek pascabedah dan penatalaksanaan jangka-panjangnya: 
Prabedah: 
1.Keluarga dapat mengatasi dampak yang ditimbulkan oleh bayi 
dengan defek 
2.Bayi mendapatkan gizi yang optimal 
3.Bayi disiapkan untuk menjalani pembedahan 
Pascabedah: 
1.Bayi tidak mengalami trauma dan nyeri atau sedikit mengalami 
rasa nyeri 
2.Bayi mendapatkan gizi yang optimal 
3.Bayi tidak mengalami komplikasi 
4.Bayi dan keluarganya mendapatkan dukungan yang memadai 
5.Keluarga disiapkan untuk mampu melaksanakan perawatan di 
rumah dan memenuhi kebutuhan jangka-panjang yang 
diperlukan oleh seorang anak dengan palatoskisis
PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN 
1. Selama fase awal sesudah kelahiran bayi labiokisis dan/atau 
palatoskisis, perawat harus menekankan perhatiannya bukan 
hanya kebutuan fisik bayi tetapi juga kebutuhan emosional ibu 
2. Pemberian makanan bayi akan menjadi sebuah tantangan 
istimewa bagi perawat dan orang tua 
• Celah bibir atau palatum akan mengurangi kemampuan bayi untuk menghisap 
sehingga mengganggu kompresi daerah aerola dan menyulitkan pemberian ASI 
serta susu botol 
• Pemberian susu sebaiknya dilaksanakan dengan menegakkan kepala bayi yang 
bisa dilakukan dengan meletakkannya pada lengan ibu atau dengan memeluknya
1. BOTOL PERAS 2. DOT DOMBA 
3. ASI IBU (alternatif alami)
EVALUASI 
Keefektifan intervensi keperawatan ditentukan oleh pengkajian ulang yang 
kontinu dan evaluasi keperawatan yang berdasarkan pada pedoman pengamatan berikut 
ini : 
Perawatan pra bedah: 
1. Mengamati dan mewawancarai anggota keluarga mengenai pemahaman, perasaan 
serta kekhawatiran mereka terhadap defek dan pembedahan yang diantisipasi serta 
interaksinya dngan bayi. 
2. Mengamati bayi selama pemberian susu 
3. Menyelesaikan pembuatan daftar isian prabedah 
Perawatan pascabedah: 
1. Melakukan inspeksi luka operasi, termasuk alat pelindungnya 
2. Mengamati indicator perilaku dan fisiologik rasa nyeri serta responsnya terhadap 
terapi analgesia 
3. Mengamati bayi selama pemberian susunya mengukur asupan serta haluan cairan, 
dan menimbang berat badan bayi setiap hari 
4. Mengamati luka operasi untuk menemukan bukti adanya infeksi, pendarahan, 
pengelupasan jaringan atau iritasi 
5. Mengamati dan mewawancarai keluarga mengenai pemahaman dan kekhawatiran 
mereka terhadap bayinya, termasuk kebutuhannya untuk jangka waktu ynag lama.
PERAN PERAWAT 
1. Berikan dukungan emosional dan tenangkan Ibu beserta keluarga. 
2. Jelaskan kepada Ibu bahwa sebagaian besar hal penting harus dilakukan saat 
ini adalah memberi makanan bayi guna memastikan pertumbuhan yang 
adekuat sampai pembedahan yang dilakukan. 
3. Jika bayi/balita memiliki sumbing tetapi palatumnya utuh, izinkan berupaya 
menyusu. 
4. Jika bayi/balita berhasil menyusu dan tidak terdapat masalah lain yang 
membutuhkan hospitalisasi, pulangkan bayi. Tindak lanjuti dalam satu 
minggu untuk memeriksa pertumbuhan dan penambahan berat badan. 
5. Jika bayi/balita tidak dapat menyusu dengan baik karena bibir sumbing, 
berikan peranan ASI dengan menggunakan metode pemberian makanan 
alternatif (menggunakan sendok atau cangkir). 
6. Jika bayi/balita memiliki celah palatum, berikan perasan ASI dengan 
menggunakan metodi pemberian makanan alternatif (menggunakan sendok 
atau cangkir) 
7. Ketika bayi/balita makan dengan baik dan mengalami penambahan berat 
badan, rujuk bayi ke rumah sakit tersier atau pusat spesialis, jika 
memungkinkan untuk pembedahan guna memperbaiki celah tersebut.
APLIKASI TEORI 
ASUHAN KEPERAWATAN
KASUS 
Seorang balita laki-laki berumur 1thn datang bersama dengan Ny. S (ibunda si 
balita) ke RS Bumi Indonesia. Ny. S mengatakan bahwa beliau ingin 
dilakukannya tindakan pembedahan untuk anaknya yang bernama anak E yang 
telah mengalami adanya celah pada bibir saat sejak lahir. Tetapi Ibunda anak E 
ragu dan merasa tidak rela/takut ketika dokter menawarkan tindakan 
pembedahan pada saat begitu anak E lahir, karena menurut Ibunda anak E usia 
anak E begitu masih merah (kecil sekali) untuk dilakukannya tahap 
pembedahan. Ibunda anak E mengatakan sering mengkonsumsi jamu saat masa 
kehamilan. Dan Ibunda E mengeluhkan bahwa "tidak selamanya anak saya 
seperti ini, saya ingin anak saya normal seperti anak-anak yang lainnya juga" 
dan ibunda E mengeluhkan bahwa pemberian nutrisi pada anak E sangat sulit 
karena keadaan bibir anak E. Anak E juga sering menangis/rewel sebab 
terkadang anak E juga mengalami kesulitan dalam menelan, ketidakjelasan 
dalam berbicara untuk menjelaskan apa yang sedang Anak E inginkan. Pada 
bibir bagian kiri anak E terlihat adanya celah yang jelas. RR: 36x/menit, nadi: 
110x/menit, TD: 99/65 mmHg Suhu Tubuh: 36,80oC, lingkar perut 40 cm, BB: 
7kg, TB: 73,9cm. Hasil pemeriksaan laboratorium: Leukosit 11.00mg/dL, 
Eritrosit 3500 mg/dL, Trombosit 270.000 mg/dl, Hb: < 11 g/dL, Ht: 40, Kalium 
4,8 mEq, Natrium 138 mEq. Dokter mengatakan akan menyetujui dilakukannya 
tindakan pembedahan pada anak E apabila BB anak E telah mencukupi dan 
anak E mampu mengkoping dirinya maka dari itu harus dilak. ukan pendekatan 
dalam beberapa waktu
1. Biodata Pasien: 
PENGKAJIAN 
Pasien 
Nama : Anak E 
Usia : 1 Tahun 
Agama : Islam 
Jenis Kelamin : Laki-Laki 
Warna Kulit : Kuning Langsat 
Pendidikan : - 
Suku : Jawa 
Bangsa : Indonesia 
Alamat : Jln. Keindahan No. 11 Bumi Manusia 
Waktu/tgl masuk RS : 12.00 WIB/13 November 2014 
2. Penanggung Jawab 
Nama : Ibunda. S 
Usia : 39 Tahun 
Agama : Islam 
Jenis Kelamin : Perempuan 
Pendidikan : D3 
Pekerjaan : Pegawai Negeri 
Status pernikahan : Menikah 
Suku : Jawa 
Bangsa : Indonesia 
Alamat : Jln. Keindahan No. 11 Bumi Manusia 
Hubungan dengan klien : Ibunda Kandung
1. Status Kesehatan Saat Ini 
• Keluhan Utama (Saat MRS dan saat ini) 
• Klien mengatakan bahwa klien (Ibunda Pasien) bahwa ketika "tidak 
selamanya anak saya seperti ini, saya ingin anak saya normal seperti anak-anak 
yang lainnya juga" dan ibunda E mengeluhkan bahwa pemberian 
nutrisi pada anak E sangat sulit karena keadaan bibir anak E. Anak E juga 
sering menangis/rewel, sulit berbicara untuk menjelaskan apa yang sedang 
Anak E inginkan. Dan Ibunda. S mengkhawatirkan masa pertumbuhan dan 
perkembangan anak E mengalami keterlambatan karena keadaan fisiknya 
• Alasan masuk rumah sakit dan perjalanan penyakit saat ini 
Klien menyatakan bahwa Klien (Ibunda Pasien) beliau ingin dilakukannya 
tindakan pembedahan untuk anaknya yang bernama anak E yang telah 
mengalami adanya celah pada bibir saat sejak lahir
2. Riwayat Kesehatan 
Riwayat Kesehatan Dahulu: 
• Riwayat Kehamilan: pada masa kehamilan Ibunda E mengalami terpeleset di 
kamar mandi saat Trimester II tetapi Ibunda E tidak mengalami pendarahan, 
hanya mengalami nyeri sebab kaki terkilir dan Ibunda mengatakan bahwa 
beliau langsung menenangkan rasa nyeri tersebut dengan jamu warung. 
• Pemenuhan Nutrisi Saat Kehamilan: klien (Ibunda E) mengatakan bahwa 
pada saat Trimester II juga mengalami masa ngidam/keinginan untuk 
mengkonsumsi semur kepiting dan aneka makanan sea food. Klien 
mengatakan tidak pernah melalaikan asupan nutrisi pada kehamilan 
• Mengkonsumsi Obat-Obatan Saat Kehamilan: klien (Ibunda E) mengatakan 
tidak berani mengkonsumsi sembarang obat. Tetapi klien mengkonsumsi 
jamu warung ketika saat hamil kurang lebih 5kali. Klien juga mengatakan 
tidak pernah mengkonsumsi alkohol atau merokok saat masa kehamilan.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang (mengkaji kondisi Anak E ketika baru lahir-sekarang): 
• BB baru lahir: 2kg, BB sekarang: 7kg, Panjang baru lahir: 47cm, Tinggi badan 
sekarang: 73,9cm 
• Klien (Ibunda E) mengatakan bahwa seminggu yang lalu Anak E mengalami 
sesak nafas dan kondisinya sangat menurun. 
4. Riwayat Kesehatan Keluarga: 
• Riwayat kelahiran: Ibunda anak E mengatakan bahwa pasca kelahiran 
normal tidak dilakukannya operasi/cesarean. 
• Riwayat keturunan: Ibunda anak E mengatakan tidak ada keturunan atau 
keluarga yang mengalami kecacatan fisik seperti labiokisis/labiopalatoskisis 
dan tidak mempunyai riwayat penyakit fisilis dalam keluarga. Tetapi Ibunda 
anak E mengatakan bahwa ayah anak E mempunyai riwayat sesak nafas.
Pemeriksaan Kebutuhan Klien 
1. Aktifitas dan latihan: 
• Ibunda anak E mengatakan bahwa anak E ketika ingin melakukan 
aktifitas/latihan masih butuh ditemani dan ditunggu sebab kondisi anak E 
yang memang harus dilindungi dari segi apapun. 
2. Tidur dan istirahat: 
• Ibunda anak E mengatakan anak E mempunyai kualitas tidur yang baik 
apabila tidak ada rasa nyeri pada telinga dan sesak nafas tidak kambuh. 
3. Kenyamanan dan nyeri 
• Ibunda anak E mengatakan anak E mengalami nyeri selama 15menit pada 
telinga kiri anak E. 
4. Nutrisi 
• Ibunda anak E mengatakan anak E sulit menerima asupan nutrisi dari mulut 
sebab kondisi anak E mengalami kecacatan. Maka dari itu Ibunda anak E 
harus dibantu oleh alat makan yang tepat dalam memenuhi asupan nutrisi 
untuk anak E. 
5. Eliminasi fekal/bowel 
• Ibunda anak E mengatakan jika anak E tidak mengalami kekambuhan/sulit 
makan anak E BAB 2x sehari, feses berwarna kuning/normal. Namun, 
apabila anak E sulit makan biasanya anak E tidak BAB selama sehari.
lanjutan 
6. Eliminasi urin 
• Anak E mempunyai frekuensi berkemih 300cc/hari 
7. Sensori, persepsi, dan kognitif 
• Setelah melakukan pengkajian klien tidak mengalami gangguan pada 
sensori, presepsi, dan kognitif. 
8. Koping-toleransi stres 
• Anak E masih membutuhkan dukungan untuk melakukan hal apapun dan 
tetap membutuhkan pengawasan yang tepat. Anak E seorang anak yang 
pendiam apabila penyakitnya tidak ada kekambuhan. Sedikit takut dengan 
tindakan hospitalisasi. 
9. Nilai-Kepercayaan 
• Ibunda anak E mempercayai bahwa gangguan setelah dilakukannya 
tindakan pembedahan akan membuat harga diri anak seperti anak yang 
lainnya, hanya saja Ibunda anak E memilih usia yang tepat dalam 
mengambil keputusan untuk dilakukannya tindakan pembedahan pada anak 
E.
Kemampuan Perawatan Diri 0 1 2 3 4 
Makan dan minum  
Mandi  
Toileting  
Berpakaian  
Berpindah  
Keterangan : 
0: mandiri, 
1: Alat bantu 
2: dibantu orang lain 
3: dibantu orang lain dan alat 
4: tergantung total
Pengkajian Keluarga 
1. Harga Diri atau Koping Dari Anak: 
• Anak E dengan usia 1tahun masih membutuhkan dukungan dan pendekatan 
yang tepat sekali, agar anak E tidak mengalami stressor ketika sesudah MRS 
dan sesudah-sebelum dilakukannya tindakan operasi pembedahan 
2. Harga Diri atau Koping Dari Orang Tua: 
• Ibunda E mengatakan akan melakukan hal apapun demi anak E tetapi 
membutukan waktu dan usia yang tepat. 
3. Reaksi Orang Tua Sebelum dan Sesudah dilakukan Pembedahan: 
• Kedua orang tua anak E sanggup menjalani apapun yang terjadi asalkan 
anak E bisa senormal anak lainnya. Dan sanggup melakukan aktifitas demi 
anak E setelah dilakukannya pembedahan. 
4. Tingkat Pengetahuan Orang Tua: 
• Ibunda anak E mengetahui bahwa hal ini harus di atasi dengan dilakukannya 
tindakan pembedahan namun Ibunda anak E masih menunggu waktu dan 
usia anak E yang tepat karena menurut Ibunda E beliau masih belum rela 
apabila anak E langsung dilakukan tindakan pembedahan begitu kelahiran.
1. Tanda-tanda Vital: 
• S : 36,800 C 
• RR : 36x/menit 
• TB : 73,9 cm 
• N : 36x/menit 
• TD : 99/65 mmHg 
2 Keadaan fisik 
PEMERIKSAAN FISIK 
a. Tangan 
• Tidak ada. 
b Kepala dan leher: 
• Inspeksi : Simetris 
• Palpasi : Normal 
• Jenis rambut : Kriting 
• Warna rambut : Hitam 
• Kebersihan rambut : Lengket (kondisi belum keramas) 
c Dada: 
• Inspeksi : Normal (retrasi dinding dada tidak ada) 
• Palpasi : Normal (ekspansi paru simetris) 
• Perkusi : Tidak resonan pada kedua paru 
• Auskultasi : Vesikuler
d. Mata: 
Fungsi penglihatan : Normal 
Ukuran pupil : Simetris 
Konjuntiva : Merah Mudah 
Lensa/iris : Normal 
Oedema Palpebra : Tidak ada 
Pupil : Miosis 
Reflek cahaya : (-) tidak tahan pada 
sinar 
e. Telinga : 
Fungsi pendengaran : 
Normal 
Fungsi keseimbangan : Baik 
Kebersihan : Sedikit 
kotor 
Daun telinga : Simetris 
(lebar) 
Secret : Ada 
Warna secret : Putih 
f. Mulut, Gigi dan Bibir: 
Membran mukosa : Labiokisis 
Kebersihan mulut : Kotor 
Keadaan gigi : Belum 
Tumbuh 
Tanda radang : Tidak ada 
radang 
Kesulitan menelan : Ada 
Kesulitan mengunyah : Ada 
g. Kulit: 
Warna kulit : Kuning 
langsat 
Kelembaban : Kulit 
lembab 
Turgor kulit : Baik 
Ada atau tidaknya edema : Tidak ada 
Ektermitas Atas : Pergerakan 
bebas 
Ektermitas Bawah : Pergerakan 
bebas
INTERVENSI, IMPLEMENTASI, 
DAN EVALUASI 
TIDAK CUKUP PADA FILE 
SILAHKAN MEMBUKA WORDNYA 
SAJA
TERIMA KASIH 
BERI APPLAUSENYA

LABIOKISIS

  • 1.
  • 2.
  • 3.
    DEFINISI Labiokisis adalahsuatu keadaan tidak terjadi penyambungan fissura pada bibir, sehingga bibir tidak bisa menutup. Palatokisis adalah suatu keadaan penutupan yang tidak sempurna pada proseesus maxilaris, dapat terjadi juga pada palatum. Ini terjadi karena kegagalan penyatuan susunan palatum pada masa kehamilan 7 – 12 minggu. Pada palatokisis biasanya juga disertai labioskisis sehingga di sebut labiopalatokisis (wong, donna L. 2003).
  • 4.
    JENIS-JENIS LABIOZKISIS Adabeberapa jenis labiokisis: 1. Unilateral inclomplete: Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu sisi bibir dan tidak memanjang hingga ke hidung. 2. Unilateral complete: Apabila celah sumbing terjadi hanya disalah satu bibir dan memanjang hingga kehidung. 3. Bilateral complete: Apabila celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.
  • 5.
    CERITANYA Di Indonesiayang berpenduduk 200 juta lebih, tentu mempunyai dan akan mempunyai banyak kasus labio-palatoskisis. Antara Februari - Mei 1992, IKABI cabang Padang mengadakan pengabdian masyarakat di dua Kabupaten 50 Kota dan Solok berbentuk operasi bibir sumbing secara gratis. Dilakukan penelitian pada 126 penderita yang dilakukan operasi. Bpk. Hardjowasito dengan kawan-kawan di propinsi Nusa Tenggara Timur antara April 1986 sampai Nopember 1987 melakukan operasi pada 1004 kasus bibir sumbing atau celah langit-langit pada bayi, anak maupun dewasa di antara 3 juta penduduk.
  • 6.
    KENAPA KOK BISATERJADI? 1. Karena faktor genetik, tetapi tidak dapat ditentukan dengan pasti karena berkaitan dengan gen kedua orang tua. 2. Karena kekurangan asam folat, kekurangan vitamin c, Zn (ensufiensi zat pd perkembangan masa embrional) apabila bumil kekurangan hal tersebut pada masa kehamilannya, maka akan berpengaruh pula pada janinnya 3. Karena jamu=akan mempengaruhi pertumbuhan pada janin. Jamu berbahan kimia spt yg berkemasan/sasetan 4. Karena mengkonsumsi pill KB=akan mencetuskan terjadinya hipertensi , gangguan pd janin, akhirnya terjadi gangguan sirkulasi foto maternal(pemeriksaan USG). 5. Karena rokok/alkohol=akan mengganggu pertumbuhan organ selama masa embrional 6. Karena penyakit ibu spt obesitas atau infeksi toxoplasma, keduanya ini rentang terjadinya kelainan kongenital 7. Faktor terjadinya Labiozkisis masih belum diketaui secara lebih jelas
  • 7.
    MANIFESTASI tergantung dariketiga jenis celah bibir Jika Palatokisis Tampak ada celah pada tekak (uvula), palato lunak, dan keras dan atau Jika Labiokisis Distorsi pada hidung, Tampak sebagian atau keduanya, Adanya celah pada bibir Jika foramen incisive Adanya rongga pada hidung, Distorsi hidung, Teraba celah atau terbentuknya langit-langit saat di periksa dengan jari, Kesukaran dalam menghisap atau makanan
  • 8.
    KOMPLIKASI 1. Kesulitanberbicara-hipernasalitas, artikulasi, kompensatori. Adanya celah pd bibir dn palatum membuat suara yg keluar menjadi sengau. 2. Masalah pendengaran, adanya celah pd palatume sehingga muara tuga eustachi terganggu dan akhirnya menjadi otitis rekurens sekunder. 3. Aspirasi/tersedak 4. Distress pernafasan 5. Resiko infeksi saluran pernafasan 6. Pertumbuhan dan perkembangan terlambat 7. Asimetri wajah 8. Penyakit periodontal 9. Perubahan harga diri, dan citra tubuh.
  • 9.
    ALAT BANTU PEMBERIANNUTRISI Pada pasien labiokisis hal yang paling sulit adalah ketika pasien kesulitan dalam menerima asupan nutrisi, sebab kondisi celah pada bibir. Perawat harus mengerti akan metode pemberian susu/nutrisi pada pasien (bayi/balita) yaitu dengan metode ESSR yang dibuat oleh Richard, 1991 yang memiliki kepanjangan: E: Enlarge nipple (memperlebar celah atau lubang pada dot) S: Stimulate suck reflex (mampu mengrangsang reflek menghisap) S: Swallow fluid approprialety (menelan cairan dengan tepat) R: Rest when the infant signals with facial expression (memberikan kesempatan istirahat ketika bayi memberi sinyal lewat espresi wajah) Penelitian terhadap berat badan pada bayi-bayi yang di susui dengan metode tradisional dan yang di susui dengan metode ESSR mengungkapkan peningkatan berat badan rata-rata yang signifikan sebelum pembedahan pada bayi-bayi dalam kelompok ESSR
  • 10.
    APA SAJAKAH ALATNYA? 1. BOTOL PERAS 2. DOT DOMBA 3. ASI IBU (alternatif alami)
  • 11.
    Risiko Kejadian Sumbing Risiko sumbing pada anak berikutnya Pada Keluarga Risiko labioskizis dengan atau tanpa palatoskizis (%) Risiko palatoskizis (%) - bila ditemukan satu anak menderita sumbing - Suami istri dan dalam keturunan tidak ada yang sumbing. 2-3 2 - dalam keturunan ada yang sumbing 4-9 3-7 - Bila ditemukan dua anak menderita sumbing 14 13 - salah satu orangtuanya menderita sumbing 12 13 - Kedua orangtuanya menderita sumbing. 30 20 Nb: Secara umum, jika satu anak dalam keluarga memiliki sumbing, anak berikutnya memiliki sekitar kesempatan 4% juga memiliki sumbing. Jika hanya memiliki bibir sumbing, risiko ini terjadi pada anak kedua adalah sekitar 2%.
  • 12.
  • 13.
    KONSEP TEORI ASUHANKEPERAWATAN PADA LABIOZKISIS
  • 14.
    PENGKAJIAN • Identitasklien : Meliputi nama,alamat,umur • Keluhan utama : Alasan klien masuk ke rumah sakit • Riwayat Kesehatan 1.Riwayat Kesehatan Dahulu ; Mengkaji riwayat kehamilan ibu, apakah ibu pernah mengalami trauma pada kehamilan Trimester I. bagaimana pemenuhan nutrisi ibu saat hamil, obat-obat yang pernah dikonsumsi oleh ibu dan apakah ibu pernah stress saat hamil. 2.Riwayat Kesehatan Sekarang ; Mengkaji berat / panjang bayi saat lahir, pola pertumbuhan, pertambahan / penurunan berat badan, riwayat otitis media dan infeksi saluran pernafasan atas. 3.Riwayat Kesehatan Keluarga ; Riwayat kehamilan, riwayat keturunan, labiopalatoskisis dari keluarga, penyakit sifilis dari orang tua laki-laki. • Pemeriksaan Fisik 1. Inspeksi kecacatan pada saat lahir untuk mengidentifikasi karakteristik sumbing. 2. Kaji asupan cairan dan nutrisi bayi 3. Kaji kemampuan hisap, menelan, bernafas. 4. Kaji tanda-tanda infeksi 5. Palpasi dengan menggunakan jari 6. Kaji tingkat nyeri pada bayi
  • 15.
    Pemeriksaan Diagnostik Padamasa kehamilan bumil dapat memeriksakan kandungannya dengan menggunakaan USG guna untuk memastikan apakah kandungannya tidak memiliki gangguan, diantara lain dgn: 1. Foto rontgen 2. Pemeriksaan fisik 3. MRI untuk evaluasi abnormal Pemeriksaan Terapeutik Penatalaksanaan tergantung pada beratnya kecacatan: 1. Prioritas pertama adalah pada teknik pemberian nutrisi yang adekuat 2. Mencegah komplikasi 3. Fasilitas pertumbuhan dan perkembangan 4. Pembedahan: a. Pada labio, perbaikan dengan pembedahan usia 2-3 hari atau sampai usia beberapa minggu prosthesis intraoral atau ekstraoral b. Pada palato, dilakukan pada waktu 6 bulan dan 2 tahun, tergantung pada derajat kecacatan
  • 16.
    Prinsip Perawatan umum Berdasarkan Usia Bayi/Balita 1. Pada saat baru lahir bantuan pernafasan dan pemasangan NGT (Naso Gastric Tube) bila perlu untuk membantu masuknya makanan kedalam lambung. 2. umur 1 minggu; pembuatan feeding plate untuk membantu menutup langit-langit dan mengarahkan pertumbuhan, pemberian dot khusus. 3. umur 3 bulan; labioplasty atau tindakan operasi untuk bibir, alanasi (untuk hidung) dan evaluasi telingga. 4. umur 18 bulan - 2 tahun; palathoplasty; tindakan operasi langit-langit bila terdapat sumbing pada langit-langit. 5. Umur 4 tahun : dipertimbangkan repalatorapy atau pharingoplasty. 6. umur 6 tahun; evaluasi gigi dan rahang, evaluasi pendengaran. 7. umur 11 tahun; alveolar bone graft augmentation (cangkok tulang pada pinggir alveolar 8. untuk memberikan jalan bagi gigi caninus). perawatan otthodontis. 9. umur 12-13 tahun; final touch5; perbaikan-perbaikan bila diperlukan. 10. umur 17-18 tahun; orthognatik surgery bila perlu
  • 17.
    PENATALAKSANAAN MEDIS Penatalaksanaanlabiopalatoskisis adalah dengan tindakan pembedahan. Tindakan operasi pertama kali dikerjakan untuk menutup celah bibir palatum berdasarkan kriteria “ rule of ten “, yaitu: 1. Umur lebih dari 10 minggu ( 3 bulan ) 2. Berat lebih dari 10 pond ( 5 kg ) 3. Hb lebih 10 g / dl 4. Leukosit lebih dari 10.000 / ul Tergantung dari berat ringan yang ada, maka tindakan bedah maupun ortidentik dilakukan secara bertahap.
  • 18.
    PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN Tujuanperawatan bayi yang menderita labioskisis dan palatoskisis berhubungan dengan perawatan prabedah, perawatan jangka pendek pascabedah dan penatalaksanaan jangka-panjangnya: Prabedah: 1.Keluarga dapat mengatasi dampak yang ditimbulkan oleh bayi dengan defek 2.Bayi mendapatkan gizi yang optimal 3.Bayi disiapkan untuk menjalani pembedahan Pascabedah: 1.Bayi tidak mengalami trauma dan nyeri atau sedikit mengalami rasa nyeri 2.Bayi mendapatkan gizi yang optimal 3.Bayi tidak mengalami komplikasi 4.Bayi dan keluarganya mendapatkan dukungan yang memadai 5.Keluarga disiapkan untuk mampu melaksanakan perawatan di rumah dan memenuhi kebutuhan jangka-panjang yang diperlukan oleh seorang anak dengan palatoskisis
  • 19.
    PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN 1.Selama fase awal sesudah kelahiran bayi labiokisis dan/atau palatoskisis, perawat harus menekankan perhatiannya bukan hanya kebutuan fisik bayi tetapi juga kebutuhan emosional ibu 2. Pemberian makanan bayi akan menjadi sebuah tantangan istimewa bagi perawat dan orang tua • Celah bibir atau palatum akan mengurangi kemampuan bayi untuk menghisap sehingga mengganggu kompresi daerah aerola dan menyulitkan pemberian ASI serta susu botol • Pemberian susu sebaiknya dilaksanakan dengan menegakkan kepala bayi yang bisa dilakukan dengan meletakkannya pada lengan ibu atau dengan memeluknya
  • 20.
    1. BOTOL PERAS2. DOT DOMBA 3. ASI IBU (alternatif alami)
  • 21.
    EVALUASI Keefektifan intervensikeperawatan ditentukan oleh pengkajian ulang yang kontinu dan evaluasi keperawatan yang berdasarkan pada pedoman pengamatan berikut ini : Perawatan pra bedah: 1. Mengamati dan mewawancarai anggota keluarga mengenai pemahaman, perasaan serta kekhawatiran mereka terhadap defek dan pembedahan yang diantisipasi serta interaksinya dngan bayi. 2. Mengamati bayi selama pemberian susu 3. Menyelesaikan pembuatan daftar isian prabedah Perawatan pascabedah: 1. Melakukan inspeksi luka operasi, termasuk alat pelindungnya 2. Mengamati indicator perilaku dan fisiologik rasa nyeri serta responsnya terhadap terapi analgesia 3. Mengamati bayi selama pemberian susunya mengukur asupan serta haluan cairan, dan menimbang berat badan bayi setiap hari 4. Mengamati luka operasi untuk menemukan bukti adanya infeksi, pendarahan, pengelupasan jaringan atau iritasi 5. Mengamati dan mewawancarai keluarga mengenai pemahaman dan kekhawatiran mereka terhadap bayinya, termasuk kebutuhannya untuk jangka waktu ynag lama.
  • 22.
    PERAN PERAWAT 1.Berikan dukungan emosional dan tenangkan Ibu beserta keluarga. 2. Jelaskan kepada Ibu bahwa sebagaian besar hal penting harus dilakukan saat ini adalah memberi makanan bayi guna memastikan pertumbuhan yang adekuat sampai pembedahan yang dilakukan. 3. Jika bayi/balita memiliki sumbing tetapi palatumnya utuh, izinkan berupaya menyusu. 4. Jika bayi/balita berhasil menyusu dan tidak terdapat masalah lain yang membutuhkan hospitalisasi, pulangkan bayi. Tindak lanjuti dalam satu minggu untuk memeriksa pertumbuhan dan penambahan berat badan. 5. Jika bayi/balita tidak dapat menyusu dengan baik karena bibir sumbing, berikan peranan ASI dengan menggunakan metode pemberian makanan alternatif (menggunakan sendok atau cangkir). 6. Jika bayi/balita memiliki celah palatum, berikan perasan ASI dengan menggunakan metodi pemberian makanan alternatif (menggunakan sendok atau cangkir) 7. Ketika bayi/balita makan dengan baik dan mengalami penambahan berat badan, rujuk bayi ke rumah sakit tersier atau pusat spesialis, jika memungkinkan untuk pembedahan guna memperbaiki celah tersebut.
  • 23.
  • 24.
    KASUS Seorang balitalaki-laki berumur 1thn datang bersama dengan Ny. S (ibunda si balita) ke RS Bumi Indonesia. Ny. S mengatakan bahwa beliau ingin dilakukannya tindakan pembedahan untuk anaknya yang bernama anak E yang telah mengalami adanya celah pada bibir saat sejak lahir. Tetapi Ibunda anak E ragu dan merasa tidak rela/takut ketika dokter menawarkan tindakan pembedahan pada saat begitu anak E lahir, karena menurut Ibunda anak E usia anak E begitu masih merah (kecil sekali) untuk dilakukannya tahap pembedahan. Ibunda anak E mengatakan sering mengkonsumsi jamu saat masa kehamilan. Dan Ibunda E mengeluhkan bahwa "tidak selamanya anak saya seperti ini, saya ingin anak saya normal seperti anak-anak yang lainnya juga" dan ibunda E mengeluhkan bahwa pemberian nutrisi pada anak E sangat sulit karena keadaan bibir anak E. Anak E juga sering menangis/rewel sebab terkadang anak E juga mengalami kesulitan dalam menelan, ketidakjelasan dalam berbicara untuk menjelaskan apa yang sedang Anak E inginkan. Pada bibir bagian kiri anak E terlihat adanya celah yang jelas. RR: 36x/menit, nadi: 110x/menit, TD: 99/65 mmHg Suhu Tubuh: 36,80oC, lingkar perut 40 cm, BB: 7kg, TB: 73,9cm. Hasil pemeriksaan laboratorium: Leukosit 11.00mg/dL, Eritrosit 3500 mg/dL, Trombosit 270.000 mg/dl, Hb: < 11 g/dL, Ht: 40, Kalium 4,8 mEq, Natrium 138 mEq. Dokter mengatakan akan menyetujui dilakukannya tindakan pembedahan pada anak E apabila BB anak E telah mencukupi dan anak E mampu mengkoping dirinya maka dari itu harus dilak. ukan pendekatan dalam beberapa waktu
  • 25.
    1. Biodata Pasien: PENGKAJIAN Pasien Nama : Anak E Usia : 1 Tahun Agama : Islam Jenis Kelamin : Laki-Laki Warna Kulit : Kuning Langsat Pendidikan : - Suku : Jawa Bangsa : Indonesia Alamat : Jln. Keindahan No. 11 Bumi Manusia Waktu/tgl masuk RS : 12.00 WIB/13 November 2014 2. Penanggung Jawab Nama : Ibunda. S Usia : 39 Tahun Agama : Islam Jenis Kelamin : Perempuan Pendidikan : D3 Pekerjaan : Pegawai Negeri Status pernikahan : Menikah Suku : Jawa Bangsa : Indonesia Alamat : Jln. Keindahan No. 11 Bumi Manusia Hubungan dengan klien : Ibunda Kandung
  • 26.
    1. Status KesehatanSaat Ini • Keluhan Utama (Saat MRS dan saat ini) • Klien mengatakan bahwa klien (Ibunda Pasien) bahwa ketika "tidak selamanya anak saya seperti ini, saya ingin anak saya normal seperti anak-anak yang lainnya juga" dan ibunda E mengeluhkan bahwa pemberian nutrisi pada anak E sangat sulit karena keadaan bibir anak E. Anak E juga sering menangis/rewel, sulit berbicara untuk menjelaskan apa yang sedang Anak E inginkan. Dan Ibunda. S mengkhawatirkan masa pertumbuhan dan perkembangan anak E mengalami keterlambatan karena keadaan fisiknya • Alasan masuk rumah sakit dan perjalanan penyakit saat ini Klien menyatakan bahwa Klien (Ibunda Pasien) beliau ingin dilakukannya tindakan pembedahan untuk anaknya yang bernama anak E yang telah mengalami adanya celah pada bibir saat sejak lahir
  • 27.
    2. Riwayat Kesehatan Riwayat Kesehatan Dahulu: • Riwayat Kehamilan: pada masa kehamilan Ibunda E mengalami terpeleset di kamar mandi saat Trimester II tetapi Ibunda E tidak mengalami pendarahan, hanya mengalami nyeri sebab kaki terkilir dan Ibunda mengatakan bahwa beliau langsung menenangkan rasa nyeri tersebut dengan jamu warung. • Pemenuhan Nutrisi Saat Kehamilan: klien (Ibunda E) mengatakan bahwa pada saat Trimester II juga mengalami masa ngidam/keinginan untuk mengkonsumsi semur kepiting dan aneka makanan sea food. Klien mengatakan tidak pernah melalaikan asupan nutrisi pada kehamilan • Mengkonsumsi Obat-Obatan Saat Kehamilan: klien (Ibunda E) mengatakan tidak berani mengkonsumsi sembarang obat. Tetapi klien mengkonsumsi jamu warung ketika saat hamil kurang lebih 5kali. Klien juga mengatakan tidak pernah mengkonsumsi alkohol atau merokok saat masa kehamilan.
  • 28.
    3. Riwayat KesehatanSekarang (mengkaji kondisi Anak E ketika baru lahir-sekarang): • BB baru lahir: 2kg, BB sekarang: 7kg, Panjang baru lahir: 47cm, Tinggi badan sekarang: 73,9cm • Klien (Ibunda E) mengatakan bahwa seminggu yang lalu Anak E mengalami sesak nafas dan kondisinya sangat menurun. 4. Riwayat Kesehatan Keluarga: • Riwayat kelahiran: Ibunda anak E mengatakan bahwa pasca kelahiran normal tidak dilakukannya operasi/cesarean. • Riwayat keturunan: Ibunda anak E mengatakan tidak ada keturunan atau keluarga yang mengalami kecacatan fisik seperti labiokisis/labiopalatoskisis dan tidak mempunyai riwayat penyakit fisilis dalam keluarga. Tetapi Ibunda anak E mengatakan bahwa ayah anak E mempunyai riwayat sesak nafas.
  • 29.
    Pemeriksaan Kebutuhan Klien 1. Aktifitas dan latihan: • Ibunda anak E mengatakan bahwa anak E ketika ingin melakukan aktifitas/latihan masih butuh ditemani dan ditunggu sebab kondisi anak E yang memang harus dilindungi dari segi apapun. 2. Tidur dan istirahat: • Ibunda anak E mengatakan anak E mempunyai kualitas tidur yang baik apabila tidak ada rasa nyeri pada telinga dan sesak nafas tidak kambuh. 3. Kenyamanan dan nyeri • Ibunda anak E mengatakan anak E mengalami nyeri selama 15menit pada telinga kiri anak E. 4. Nutrisi • Ibunda anak E mengatakan anak E sulit menerima asupan nutrisi dari mulut sebab kondisi anak E mengalami kecacatan. Maka dari itu Ibunda anak E harus dibantu oleh alat makan yang tepat dalam memenuhi asupan nutrisi untuk anak E. 5. Eliminasi fekal/bowel • Ibunda anak E mengatakan jika anak E tidak mengalami kekambuhan/sulit makan anak E BAB 2x sehari, feses berwarna kuning/normal. Namun, apabila anak E sulit makan biasanya anak E tidak BAB selama sehari.
  • 30.
    lanjutan 6. Eliminasiurin • Anak E mempunyai frekuensi berkemih 300cc/hari 7. Sensori, persepsi, dan kognitif • Setelah melakukan pengkajian klien tidak mengalami gangguan pada sensori, presepsi, dan kognitif. 8. Koping-toleransi stres • Anak E masih membutuhkan dukungan untuk melakukan hal apapun dan tetap membutuhkan pengawasan yang tepat. Anak E seorang anak yang pendiam apabila penyakitnya tidak ada kekambuhan. Sedikit takut dengan tindakan hospitalisasi. 9. Nilai-Kepercayaan • Ibunda anak E mempercayai bahwa gangguan setelah dilakukannya tindakan pembedahan akan membuat harga diri anak seperti anak yang lainnya, hanya saja Ibunda anak E memilih usia yang tepat dalam mengambil keputusan untuk dilakukannya tindakan pembedahan pada anak E.
  • 31.
    Kemampuan Perawatan Diri0 1 2 3 4 Makan dan minum  Mandi  Toileting  Berpakaian  Berpindah  Keterangan : 0: mandiri, 1: Alat bantu 2: dibantu orang lain 3: dibantu orang lain dan alat 4: tergantung total
  • 32.
    Pengkajian Keluarga 1.Harga Diri atau Koping Dari Anak: • Anak E dengan usia 1tahun masih membutuhkan dukungan dan pendekatan yang tepat sekali, agar anak E tidak mengalami stressor ketika sesudah MRS dan sesudah-sebelum dilakukannya tindakan operasi pembedahan 2. Harga Diri atau Koping Dari Orang Tua: • Ibunda E mengatakan akan melakukan hal apapun demi anak E tetapi membutukan waktu dan usia yang tepat. 3. Reaksi Orang Tua Sebelum dan Sesudah dilakukan Pembedahan: • Kedua orang tua anak E sanggup menjalani apapun yang terjadi asalkan anak E bisa senormal anak lainnya. Dan sanggup melakukan aktifitas demi anak E setelah dilakukannya pembedahan. 4. Tingkat Pengetahuan Orang Tua: • Ibunda anak E mengetahui bahwa hal ini harus di atasi dengan dilakukannya tindakan pembedahan namun Ibunda anak E masih menunggu waktu dan usia anak E yang tepat karena menurut Ibunda E beliau masih belum rela apabila anak E langsung dilakukan tindakan pembedahan begitu kelahiran.
  • 33.
    1. Tanda-tanda Vital: • S : 36,800 C • RR : 36x/menit • TB : 73,9 cm • N : 36x/menit • TD : 99/65 mmHg 2 Keadaan fisik PEMERIKSAAN FISIK a. Tangan • Tidak ada. b Kepala dan leher: • Inspeksi : Simetris • Palpasi : Normal • Jenis rambut : Kriting • Warna rambut : Hitam • Kebersihan rambut : Lengket (kondisi belum keramas) c Dada: • Inspeksi : Normal (retrasi dinding dada tidak ada) • Palpasi : Normal (ekspansi paru simetris) • Perkusi : Tidak resonan pada kedua paru • Auskultasi : Vesikuler
  • 34.
    d. Mata: Fungsipenglihatan : Normal Ukuran pupil : Simetris Konjuntiva : Merah Mudah Lensa/iris : Normal Oedema Palpebra : Tidak ada Pupil : Miosis Reflek cahaya : (-) tidak tahan pada sinar e. Telinga : Fungsi pendengaran : Normal Fungsi keseimbangan : Baik Kebersihan : Sedikit kotor Daun telinga : Simetris (lebar) Secret : Ada Warna secret : Putih f. Mulut, Gigi dan Bibir: Membran mukosa : Labiokisis Kebersihan mulut : Kotor Keadaan gigi : Belum Tumbuh Tanda radang : Tidak ada radang Kesulitan menelan : Ada Kesulitan mengunyah : Ada g. Kulit: Warna kulit : Kuning langsat Kelembaban : Kulit lembab Turgor kulit : Baik Ada atau tidaknya edema : Tidak ada Ektermitas Atas : Pergerakan bebas Ektermitas Bawah : Pergerakan bebas
  • 35.
    INTERVENSI, IMPLEMENTASI, DANEVALUASI TIDAK CUKUP PADA FILE SILAHKAN MEMBUKA WORDNYA SAJA
  • 36.
    TERIMA KASIH BERIAPPLAUSENYA