`




Desain Penelitian
Menggunakan Quasi
Experiment
                               Soetam Rizky Wicaksono
                               NIM : 110121609138
                               Jujuk Ferdianto
                               NIM : 110121609117
                               Edy Suprapto
                               NIM : 110121609119

  Program Studi Teknologi
            Pembelajaran
                               Dosen Pembina :Prof. DR. Wayan Ardhana
       Program Pasca Sarjana

 Universitas Negeri Malang

               Oktober 2011
Desain Penelitian Menggunakan Quasi Experiment


A. Pendahuluan

       Eksperimen dapat diartikan sebagai sebuah tes atau pengujian, atau juga dapat diartikan
sebagai sebuah tes yang tidak terlalu tampak penyebabnya dan dapat diartikan pula sebagai percobaan
atau manipulasi secara sengaja (Cook & Campbell, 1979). Percobaan tersebut dapat dilakukan dengan
simulasi atau dengan tes secara riil. Namun tes secara riil dianggap lebih valid dibandingkan percobaan
yang hanya dilakukan dengan menggunakan teknik simulasi.
       Di dalam melakukan percobaan tersebut dibutuhkan adanya efek perlakuan dengan
menggunakan pembandingan dari satu percobaan dengan percobaan yang lain. Di dalam rancangan
eksperimen, langkah yang dianggap terbaik adalah dengan menggunakan penugasan secara acak yang
memiliki konsep penafsiran ceteris paribus (segala sesuatu yang lain bersifat sama). Tetapi hal tersebut
seringkali sulit diimplementasikan jika obyek penelitian yang dikenai adalah manusia. Khususnya di
bidang pendidikan yang hampir seluruh obyek penelitiannya adalah pebelajar, maka penugasan secara
acak sangat sulit diimplementasikan.
       Dengan melihat kepada fenomena tersebut, maka dibutuhkan sebuah teknik eksperimen lain
yang tidak menggunakan penugasan secara acak. Penugasan secara acak umumnya dilakukan dengan
menggunakan teknik true experiment, sedangkan alternatif teknik yang tidak menggunakan penugasan
secara acak disebut sebagai quasi experimental design(Scott & Usher, 2011). Teknik eksperimen ini
umumnya dilakukan jika peneliti tidak memiliki kendali penuh terhadap obyek penelitian sehingga tidak
mampu menerapkan penugasan obyek secara acak.
       Quasi experiment didefinisikan sebagai eskperimen yang memiliki perlakuan, pengukuran
dampak, unit eksperimen namun tidak menggunakan penugasan acak untuk menciptakan perbandingan
dalam rangka menyimpulkan perubahan yang disebabkan perlakuan(Cook & Campbell, 1979). Jenis ini
juga seringkali disebut sebagai post-hoc research yang berarti bahwa peneliti dapat melihat efek yang
terjadi dari sebuah variabel setelah kejadian tertentu (Salkind, 2006:234). Quasi experiment
sesungguhnya dapat dikatakan mirip dengan true experiment jika dilihat dari pemanipulasian variabel
independen yang dilakukan (Ary et al, 2010:316).
       Beberapa perbedaan yang sangat signifikan dari quasi experiment bila dibandingkan dengan
true experiment adalah jika di dalam true experiment digunakan untuk menguji sebab-akibat yang
sesungguhnya dari sebuah hasil relasi, sedangkan di dalam quasi experiment hanya melakukan
pengujian tanpa adanya kendali penuh didalamnya (Salkind, 2006:10; Levy & Ellis, 2011). Namun hal ini
bukan berarti bahwa peneliti sama sekali tidak memiliki kendali terhadap obyek penelitian di dalam
quasi experiment, tetapi yang dimaksudkan adalah kendali yang dimiliki tidak mutlak bisa digunakan.

Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011                                                              Hal. 1
Desain Penelitian Menggunakan Quasi Experiment


        Beberapa keterbatasan yang dimiliki oleh desain quasi experiment adalah terlalu fokus terhadap
kejadian yang tidak dapat diperkirakan dan tidak berkelanjutan sehingga dapat mengaburkan tujuan jika
terjadi perubahan yang tidak terduga akibat faktor fenomena ekonomi atau perkembangan politik. Dan
juga kurang kuatnya pengukuran dalam hal asosiasi yang menjadikan beberapa efek yang terjadi
pengukurannya terbatas. Hal tersebut mengakibatkan beberapa efek seringkali “tidak terlihat” pada
saat pengukuran terjadi (Caporaso, 1973:31-38).
        Di dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, penggunaan quasi experiment sangat
disarankan mengingat kondisi obyek penelitian yang seringkali tidak memungkinkan adanya penugasan
secara acak. Hal tersebut diakibatkan telah terbentuknya satu kelompok utuh (naturally formed intact
group), seperti kelompok siswa dalam satu kelas. Kelompok-kelompok ini juga sering kali jumlahnya
sangat terbatas. Dalam keadaan seperti ini kaidah-kaidah dalam true experiment tidak dapat dipenuhi
secara utuh, karena pengendalian variabel yang terkait subjek penelitian tidak dapat dilakukan
sepenuhnya. Sehingga untuk penelitian yang berhubungan dengan peningkatan kualitas pembelajaran,
direkomendasikan penggunaan teknik quasi experiment di dalam implementasinya (Azam, Sumarno &
Rahmat, 2006).
        Tidak adanya pengacakan dalam menentukan subjek penelitian memungkinkan untuk
munculnya masalah-masalah yang terkait dengan validitas eksperimen, baik validitas internal maupun
eksternal. Akibatnya, interpreting and generalizing hasil penelitian menjadi sulit untuk dilakukan. Oleh
karena itu, pembatasan hasil penelitian harus diidentifikasi secara jelas dan subjek penelitian perlu
dideskripsikan.
        Secara umum, pelaksanaan penelitian dengan menggunakan teknik quasi experiment dapat
berhasil jika strategi berikut diterapkan didalamnya. Strategi tersebut antara lain (Robson et al,
2001:30): menambahkan kelompok kontrol, melakukan pengukuran sebelum dan sesudah implementasi
yang didalamnya dilakukan intervensi, secara bertahap memperkenalkan perlakuan terhadap kelompok
obyek, menambahkan prosedur terbalik terhadap tiap perlakuan di tiap kelompok dan menggunakan
pengukuran luaran tambahan.




Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011                                                              Hal. 2
Desain Penelitian Menggunakan Quasi Experiment


B. Jenis Desain Quasi Experiment
       Terdapat beberapa jenis desain di dalam implementasi quasi experiment, yakni (Ary et al, 2010;
Azam, Sumarno & Rahmat, 2006):
1. Nonrandomized Control Group, Pretest–Posttest Design
   Disebut juga sebagai non eqivalent control group design dan dianggap sebagai desain yang paling
   banyak digunakan di dalam teknik quasi experiment (Salkind, 2006:235). Desain ini mirip dengan
   pre-test-posttest   di dalam    true experiment         namun tidak memiliki penugasan acak
   didalamnya.Karena adanya pretest, maka pada desain penelitian tingkat kesetaraan kelompok turut
   diperhitungkan. Pretest dalam desain penelitian ini juga dapat digunakan untuk pengontrolan
   secara statistik (statistical control) serta dapat digunakan untuk melihat pengaruh perlakuan
   terhadap capaian skor (gain score).
   Tabel 1: Skema Nonrandomized Control Group, Pretest–Posttest Design (Ary et al, 2010)
                       Group      Pretest    Independent Variable        Posttest
                         E          Y1                X                     Y2
                         C          Y1               —                      Y2


   Hal yang penting diperhatikan di dalam desain ini adalah jika posttest yang dilakukan ternyata tidak
   berpengaruh kepada subjek eksperimen akibat adanya pengaruh dari pretest sebelumnya. Sebab
   hasil posttest bisa jadi hanya merupakan pengaruh akibat dari adanya pretest. Misal: jika di dalam
   pretest terdapat pertanyaan, “Apakah Anda sering membaca harian Kompas?”, dan setelah terjadi
   perlakuan pada subjek eksperimen yang didalamnya mengharuskan mereka sering melakukan
   review terhadap artikel di harian Kompas, maka jawaban pada saat posttest untuk pertanyaan yang
   sama bisa menjadi bias.
   Tetapi bias yang terjadi antara hasil pretest dan posttest umumnya dapat dihindari jika tes yang
   dilakukan lebih bersifat sebagai achievement test, karena didalamnya akan menuntut subjek
   menjawab posttest berdasarkan hasil perlakuan eksperimen. Namun jika tes yang dilakukan lebih
   mengarah ke motivasi atau sikap, maka disarankan untuk tidak menggunakan desain jenis ini (Ary et
   al, 2010).
   Hasil yang mungkin terjadi di dalam desain ini antara lain (Vockell, 1983:177) :
   a. Kelompok yang mendapat perlakuan mendapatkan hasil posttest yang lebih baik (dianggap
       sebagai hasil yang terbaik dari eksperimen)




Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011                                                             Hal. 3
Desain Penelitian Menggunakan Quasi Experiment




                                                    Dengan perlakuan




                                                         Tanpa perlakuan


                               Pretest                Posttest


                               Gambar 1. Contoh Kemungkinan Pertama
   b. Kelompok yang mendapat perlakuan mendapatkan hasil posttest yang sama baik atau sama
       meningkat dengan kelompok yang tidak mendapat perlakuan (diasumsikan sebagai hasil gagal
       dalam eksperimen karena perlakuan tidak memiliki pengaruh)




                                                         Dengan perlakuan

                                                        Tanpa perlakuan

                                                      Posttest
                              Pretest


                           Gambar 2. Contoh Kemungkinan Kedua dan Ketiga
   Secara umum, desain ini cukup memadai untuk dilakukan di dalam situasi yang tidak memungkinkan
   bagi peneliti untuk melakukan penugasan secara acak dan lebih ditekankan kepada hasil posttest
   yang bersifat achievement sehingga efek dari eksperimen dapat lebih terlihat secara jelas. Umumnya
   desain jenis ini digabungkan dengan desain lain dari quasi experiment agar dapat mendapatkan hasil
   yang lebih optimal (Vockell, 1983:178)
2. Counterbalanced Design
   Desain jenis ini umumnya menggunakan lebih dari satu intact class (kelas yang sudah terbentuk
   sebelumnya) lalu dirotasi perlakuannya pada interval waktu tertentu. Perbedaan utama antara jenis
   ini dengan jenis sebelumnya adalah bahwa seluruh kelompok akan mengalami perlakuan yang sama,
   tetapi dengan urutan yang berbeda-beda (lihat pada skema di tabel 2).
   Jenis ini lazim digunakan apabila seorang pembelajar ingin melihat perbandingan efek perlakuan
   yang sama kepada kelompok yang berbeda.Desain ini juga dapat digunakan jika perlakuan yang akan
   diterapkan lebih dari satu jenis.



Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011                                                           Hal. 4
Desain Penelitian Menggunakan Quasi Experiment


   Kelebihan dari desain ini dibandingkan desain pertama, yakni bahwa seluruh kelompok mendapat
   perlakuan yang sama, sehingga mengurangi risiko akan terjadinya kekecewaan dari satu kelompok
   karena merasa diperlakukan tidak adil di dalam proses eksperimen. Tetapi bisa juga terjadi bahwa
   jika perlakuan yang dikenakan harus secara berurutan atau sekuensial, maka hasil eksperimen pada
   kelompok tertentu (yang terkena perlakuan tidak urut) akan mendapatkan hasil yang berbeda.
   Risiko lain adalah kebosanan dari kelompok yang mendapat perlakuan, jika perlakuan yang diberikan
   dianggap terlalu banyak.
   Tabel 2: Skema Counterbalanced Design (Ary et al, 2010)

                                                 Experimental Treatments
                 Replication             X1              X2         X3          X4
                       1               Group A            B         C           D
                       2               Group B            A         D           B
                       3               Group C            D         A           C
                       4               Group D            C         B           A
3. One-Group Time-Series Design
   Desain jenis ini hanya dilakukan pada satu kelompok dengan perlakuan yang diulang-ulang. Skema di
   tabel 3 menunjukkan contoh perlakuan pada desain jenis ini dengan melakukan observasi yang sama
   secara berulang-ulang (dilambangkan dengan Y) dan kemudian diselingi dengan perlakuan
   (dilambangkan dengan X) pada waktu tertentu, kemudian dilakukan observasi lagi secara berulang-
   ulang.
   Tabel 3: Skema One-Group Time-Series Design (Ary et al, 2010)
                              Y1 Y2 Y3 Y4 X Y 5 Y6 Y7 Y8
   Di dalam penerapan desain ini, ancaman terhadap validitas yang mungkin terjadi adalah adanya
   perubahan yang radikal yang bisa terjadi hanya pada saat perlakuan pertama dilakukan, sehingga
   dapat menimbulkan bias di perlakuan yang sama pada periode berikutnya. Namun dengan adanya
   pola data yang dapat dibaca secara mudah, seharusnya ancaman tersebut dapat dihilangkan dengan
   mudah (Vockell, 1983).
   Hasil yang mungkin diperoleh dari desain ini tampak pada gambar 3, yakni :
   a. Kemungkinan pertama (A)
       Perlakuan khusus (X) benar-benar mempengaruhi variabel dependen
   b. Kemungkinan kedua (B)
       Perlakuan khusus (X) hanya mempengaruhi variabel dependen secara temporer
   c. Kemungkinan ketiga (C)


Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011                                                          Hal. 5
Desain Penelitian Menggunakan Quasi Experiment


       Perlakuan khusus (X) bukan pengaruh utama variabel dependen, tetapi lebih karena faktor
       maturasi
   d. Kemungkinan keempat (D)
       Terjadi kejadian khusus di rentang waktu eksperimen sehingga hasilnya tidak beraturan.




      Gambar 3. Ilustrasi Kemungkinan Luaran Pada Desain One-Group Time-Series Design (Ary et al,
                                                     2010)
   Desain jenis ini memiliki keuntungan yakni mampu mendeteksi adanya kelemahan faktor maturasi
   dan regresi. Tetapi di sisi lain, memiliki kelemahan di faktor sejarah, misal : di saat eksperimen
   dilakukan, pada tahapan tertentu (misal Y5) tiba-tiba terjadi kejadian di luar dugaan seperti
   perubahan cuaca, perubahan perilaku akibat peristiwa tertentu dan lainnya.
4. Control Group Time-Series Design
   Desain jenis ini merupakan pengembangan dari desain jenis sebelumnya dengan menggabungkan
   desain jenis ketiga dengan desain jenis pertama. Penggabungan tersebut diharapkan dapat
   mengatasi kelemahan di desain jenis yang ketiga sehingga faktor sejarah dapat dideteksi dan
   dihilangkan sebagai ancaman validitas internal.
   Tabel 4: Skema Control Group Time-Series Design (Ary et al, 2010)
                           Group
                           Exp.        Y1 Y2 Y3 Y4 X Y5 Y6 Y7 Y8
                           Cont.       Y1 Y2 Y3 Y4 - Y5 Y6 Y7 Y8



Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011                                                            Hal. 6
Desain Penelitian Menggunakan Quasi Experiment




C. Faktor Bias Mengukur Perubahan Dalam Eksperimen (Borg& Gall, 1983:720:726)
        Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam proses pengukuran yang terjadi pada
penelitian yang menggunakan desain berjenis eksperimen. Beberapa faktor tersebut dapat
menyebabkan bias di dalam hasil eksperimen antara lain:
1. Ceiling effect
    Seringkali jangkauan nilai yang digunakan di dalam pelaksanaan tes sulit untuk dilakukan. Sebagai
    contoh jika terdapat skala 0-100 dan seorang siswa memiliki peningkatan nilai dari 85 ke 90, bukan
    berarti lebih baik peningkatannya dibanding seorang siswa yang memiliki peningkatan nilai dari 40
    ke 60. Sehingga seakan-akan bahwa siswa yang mendapatkan nilai 90 memiliki perkembangan lebih
    baik dibandingkan siswa yang mendapatkan nilai akhir 60.
2. Regression effect
    Terdapat kemungkinan bahwa siswa yang mendapatkan nilai lebih rendah pada saat pre-test
    nantinya akan mendapatkan nilai lebih tinggi pada saat posttest dan begitu pula sebaliknya. Hal
    tersebut bisa terjadi karena adanya faktor keberuntungan dan kemungkinan besar bahwa
    keberuntungan tersebut tidak terulang lagi. Asumsi lain yang terjadi adalah adanya perlakuan yang
    dianggap sama rata untuk tiap peningkatan nilai tes, misal : peningkatan dari nilai 90 ke 95
    seharusnya tidak dianggap sama dengan peningkatan dari nilai 40 ke 45.
3. Simpangan pengukuran yang berulang
    Seringkali keefektifan pengukuran yang dilakukan berulang-ulang dalam rentang waktu tertentu bisa
    menyebabkan adanya simpangan yang besar dari satu pengukuran ke pengukuran lainnya. Untuk
    mengatasi hal tersebut dapat dilakukan pengukuran dengan menggunakan analisa kelompok
    perlakuan dikali dengan waktu pengujian agar didapat rasio yang signifikan pada perbedaan antara
    pre-test dengan posttest.




Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011                                                            Hal. 7
Desain Penelitian Menggunakan Quasi Experiment


Daftar Pustaka

Ary, Donald et al, 2010, Introduction to Research in Education 8th edition, Wardswoth Cengage Learning
Azam, Prof. Nurfani SU, Apt, DR. Sumarno & DR Adi Rahmat, 2006, Metodologi Penelitian Untuk
          Peningkatan Kualitas Pembelajaran Penelitian Kuasi Eksperimen dalam PPKP, Direktorat
          Ketenagaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
Borg, Walter R. & Meredith Damien Gall, 1983, Educational Research, an Introductionfourth edition,
          Longman
Caporaso, James .A, 1973, Quasi-Experimental Approaches to Social Science dalam Quasi-Experimental
          Approaches (ed. James A. Caporaso & Leslie L. Roos Jr), Northwestern University Press
Cook, Thomas .D & Donald T. Campbell, 1979, Quasi Experimentation Design & Analysis Issue for Field
          Settings, Houghton Mifflin Company:Boston
Levy, Yair & Timothy J. Ellis, 2011, A Guide for Novice Researchers on Experimental and Quasi-
          Experimental Studies in Information Systems Research, Interdisciplinary Journal of Information,
          Knowledge, and Management Volume 6, 2011
Robson, Lynda et al, 2001, Guide to Evaluating the Effectiveness of Strategies for Preventing Work
          Injuries: How to Show Whether a Safety Intervention Really Works, National Institute for
          Occupational Safety and Health
Salkind, Neil .J, 2006, Exploring Research sixth edition, Pearson International
Scott, David & Robin Usher, 2011, Researching Education 2nd edition, Continuum International Publishing
          Group
Vockell, Edward L, 1983, Educational Research, MacMillan Publishing




Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011                                                              Hal. 8

Kuasi eksperimen

  • 1.
    ` Desain Penelitian Menggunakan Quasi Experiment Soetam Rizky Wicaksono NIM : 110121609138 Jujuk Ferdianto NIM : 110121609117 Edy Suprapto NIM : 110121609119 Program Studi Teknologi Pembelajaran Dosen Pembina :Prof. DR. Wayan Ardhana Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang Oktober 2011
  • 2.
    Desain Penelitian MenggunakanQuasi Experiment A. Pendahuluan Eksperimen dapat diartikan sebagai sebuah tes atau pengujian, atau juga dapat diartikan sebagai sebuah tes yang tidak terlalu tampak penyebabnya dan dapat diartikan pula sebagai percobaan atau manipulasi secara sengaja (Cook & Campbell, 1979). Percobaan tersebut dapat dilakukan dengan simulasi atau dengan tes secara riil. Namun tes secara riil dianggap lebih valid dibandingkan percobaan yang hanya dilakukan dengan menggunakan teknik simulasi. Di dalam melakukan percobaan tersebut dibutuhkan adanya efek perlakuan dengan menggunakan pembandingan dari satu percobaan dengan percobaan yang lain. Di dalam rancangan eksperimen, langkah yang dianggap terbaik adalah dengan menggunakan penugasan secara acak yang memiliki konsep penafsiran ceteris paribus (segala sesuatu yang lain bersifat sama). Tetapi hal tersebut seringkali sulit diimplementasikan jika obyek penelitian yang dikenai adalah manusia. Khususnya di bidang pendidikan yang hampir seluruh obyek penelitiannya adalah pebelajar, maka penugasan secara acak sangat sulit diimplementasikan. Dengan melihat kepada fenomena tersebut, maka dibutuhkan sebuah teknik eksperimen lain yang tidak menggunakan penugasan secara acak. Penugasan secara acak umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik true experiment, sedangkan alternatif teknik yang tidak menggunakan penugasan secara acak disebut sebagai quasi experimental design(Scott & Usher, 2011). Teknik eksperimen ini umumnya dilakukan jika peneliti tidak memiliki kendali penuh terhadap obyek penelitian sehingga tidak mampu menerapkan penugasan obyek secara acak. Quasi experiment didefinisikan sebagai eskperimen yang memiliki perlakuan, pengukuran dampak, unit eksperimen namun tidak menggunakan penugasan acak untuk menciptakan perbandingan dalam rangka menyimpulkan perubahan yang disebabkan perlakuan(Cook & Campbell, 1979). Jenis ini juga seringkali disebut sebagai post-hoc research yang berarti bahwa peneliti dapat melihat efek yang terjadi dari sebuah variabel setelah kejadian tertentu (Salkind, 2006:234). Quasi experiment sesungguhnya dapat dikatakan mirip dengan true experiment jika dilihat dari pemanipulasian variabel independen yang dilakukan (Ary et al, 2010:316). Beberapa perbedaan yang sangat signifikan dari quasi experiment bila dibandingkan dengan true experiment adalah jika di dalam true experiment digunakan untuk menguji sebab-akibat yang sesungguhnya dari sebuah hasil relasi, sedangkan di dalam quasi experiment hanya melakukan pengujian tanpa adanya kendali penuh didalamnya (Salkind, 2006:10; Levy & Ellis, 2011). Namun hal ini bukan berarti bahwa peneliti sama sekali tidak memiliki kendali terhadap obyek penelitian di dalam quasi experiment, tetapi yang dimaksudkan adalah kendali yang dimiliki tidak mutlak bisa digunakan. Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011 Hal. 1
  • 3.
    Desain Penelitian MenggunakanQuasi Experiment Beberapa keterbatasan yang dimiliki oleh desain quasi experiment adalah terlalu fokus terhadap kejadian yang tidak dapat diperkirakan dan tidak berkelanjutan sehingga dapat mengaburkan tujuan jika terjadi perubahan yang tidak terduga akibat faktor fenomena ekonomi atau perkembangan politik. Dan juga kurang kuatnya pengukuran dalam hal asosiasi yang menjadikan beberapa efek yang terjadi pengukurannya terbatas. Hal tersebut mengakibatkan beberapa efek seringkali “tidak terlihat” pada saat pengukuran terjadi (Caporaso, 1973:31-38). Di dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, penggunaan quasi experiment sangat disarankan mengingat kondisi obyek penelitian yang seringkali tidak memungkinkan adanya penugasan secara acak. Hal tersebut diakibatkan telah terbentuknya satu kelompok utuh (naturally formed intact group), seperti kelompok siswa dalam satu kelas. Kelompok-kelompok ini juga sering kali jumlahnya sangat terbatas. Dalam keadaan seperti ini kaidah-kaidah dalam true experiment tidak dapat dipenuhi secara utuh, karena pengendalian variabel yang terkait subjek penelitian tidak dapat dilakukan sepenuhnya. Sehingga untuk penelitian yang berhubungan dengan peningkatan kualitas pembelajaran, direkomendasikan penggunaan teknik quasi experiment di dalam implementasinya (Azam, Sumarno & Rahmat, 2006). Tidak adanya pengacakan dalam menentukan subjek penelitian memungkinkan untuk munculnya masalah-masalah yang terkait dengan validitas eksperimen, baik validitas internal maupun eksternal. Akibatnya, interpreting and generalizing hasil penelitian menjadi sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, pembatasan hasil penelitian harus diidentifikasi secara jelas dan subjek penelitian perlu dideskripsikan. Secara umum, pelaksanaan penelitian dengan menggunakan teknik quasi experiment dapat berhasil jika strategi berikut diterapkan didalamnya. Strategi tersebut antara lain (Robson et al, 2001:30): menambahkan kelompok kontrol, melakukan pengukuran sebelum dan sesudah implementasi yang didalamnya dilakukan intervensi, secara bertahap memperkenalkan perlakuan terhadap kelompok obyek, menambahkan prosedur terbalik terhadap tiap perlakuan di tiap kelompok dan menggunakan pengukuran luaran tambahan. Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011 Hal. 2
  • 4.
    Desain Penelitian MenggunakanQuasi Experiment B. Jenis Desain Quasi Experiment Terdapat beberapa jenis desain di dalam implementasi quasi experiment, yakni (Ary et al, 2010; Azam, Sumarno & Rahmat, 2006): 1. Nonrandomized Control Group, Pretest–Posttest Design Disebut juga sebagai non eqivalent control group design dan dianggap sebagai desain yang paling banyak digunakan di dalam teknik quasi experiment (Salkind, 2006:235). Desain ini mirip dengan pre-test-posttest di dalam true experiment namun tidak memiliki penugasan acak didalamnya.Karena adanya pretest, maka pada desain penelitian tingkat kesetaraan kelompok turut diperhitungkan. Pretest dalam desain penelitian ini juga dapat digunakan untuk pengontrolan secara statistik (statistical control) serta dapat digunakan untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap capaian skor (gain score). Tabel 1: Skema Nonrandomized Control Group, Pretest–Posttest Design (Ary et al, 2010) Group Pretest Independent Variable Posttest E Y1 X Y2 C Y1 — Y2 Hal yang penting diperhatikan di dalam desain ini adalah jika posttest yang dilakukan ternyata tidak berpengaruh kepada subjek eksperimen akibat adanya pengaruh dari pretest sebelumnya. Sebab hasil posttest bisa jadi hanya merupakan pengaruh akibat dari adanya pretest. Misal: jika di dalam pretest terdapat pertanyaan, “Apakah Anda sering membaca harian Kompas?”, dan setelah terjadi perlakuan pada subjek eksperimen yang didalamnya mengharuskan mereka sering melakukan review terhadap artikel di harian Kompas, maka jawaban pada saat posttest untuk pertanyaan yang sama bisa menjadi bias. Tetapi bias yang terjadi antara hasil pretest dan posttest umumnya dapat dihindari jika tes yang dilakukan lebih bersifat sebagai achievement test, karena didalamnya akan menuntut subjek menjawab posttest berdasarkan hasil perlakuan eksperimen. Namun jika tes yang dilakukan lebih mengarah ke motivasi atau sikap, maka disarankan untuk tidak menggunakan desain jenis ini (Ary et al, 2010). Hasil yang mungkin terjadi di dalam desain ini antara lain (Vockell, 1983:177) : a. Kelompok yang mendapat perlakuan mendapatkan hasil posttest yang lebih baik (dianggap sebagai hasil yang terbaik dari eksperimen) Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011 Hal. 3
  • 5.
    Desain Penelitian MenggunakanQuasi Experiment Dengan perlakuan Tanpa perlakuan Pretest Posttest Gambar 1. Contoh Kemungkinan Pertama b. Kelompok yang mendapat perlakuan mendapatkan hasil posttest yang sama baik atau sama meningkat dengan kelompok yang tidak mendapat perlakuan (diasumsikan sebagai hasil gagal dalam eksperimen karena perlakuan tidak memiliki pengaruh) Dengan perlakuan Tanpa perlakuan Posttest Pretest Gambar 2. Contoh Kemungkinan Kedua dan Ketiga Secara umum, desain ini cukup memadai untuk dilakukan di dalam situasi yang tidak memungkinkan bagi peneliti untuk melakukan penugasan secara acak dan lebih ditekankan kepada hasil posttest yang bersifat achievement sehingga efek dari eksperimen dapat lebih terlihat secara jelas. Umumnya desain jenis ini digabungkan dengan desain lain dari quasi experiment agar dapat mendapatkan hasil yang lebih optimal (Vockell, 1983:178) 2. Counterbalanced Design Desain jenis ini umumnya menggunakan lebih dari satu intact class (kelas yang sudah terbentuk sebelumnya) lalu dirotasi perlakuannya pada interval waktu tertentu. Perbedaan utama antara jenis ini dengan jenis sebelumnya adalah bahwa seluruh kelompok akan mengalami perlakuan yang sama, tetapi dengan urutan yang berbeda-beda (lihat pada skema di tabel 2). Jenis ini lazim digunakan apabila seorang pembelajar ingin melihat perbandingan efek perlakuan yang sama kepada kelompok yang berbeda.Desain ini juga dapat digunakan jika perlakuan yang akan diterapkan lebih dari satu jenis. Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011 Hal. 4
  • 6.
    Desain Penelitian MenggunakanQuasi Experiment Kelebihan dari desain ini dibandingkan desain pertama, yakni bahwa seluruh kelompok mendapat perlakuan yang sama, sehingga mengurangi risiko akan terjadinya kekecewaan dari satu kelompok karena merasa diperlakukan tidak adil di dalam proses eksperimen. Tetapi bisa juga terjadi bahwa jika perlakuan yang dikenakan harus secara berurutan atau sekuensial, maka hasil eksperimen pada kelompok tertentu (yang terkena perlakuan tidak urut) akan mendapatkan hasil yang berbeda. Risiko lain adalah kebosanan dari kelompok yang mendapat perlakuan, jika perlakuan yang diberikan dianggap terlalu banyak. Tabel 2: Skema Counterbalanced Design (Ary et al, 2010) Experimental Treatments Replication X1 X2 X3 X4 1 Group A B C D 2 Group B A D B 3 Group C D A C 4 Group D C B A 3. One-Group Time-Series Design Desain jenis ini hanya dilakukan pada satu kelompok dengan perlakuan yang diulang-ulang. Skema di tabel 3 menunjukkan contoh perlakuan pada desain jenis ini dengan melakukan observasi yang sama secara berulang-ulang (dilambangkan dengan Y) dan kemudian diselingi dengan perlakuan (dilambangkan dengan X) pada waktu tertentu, kemudian dilakukan observasi lagi secara berulang- ulang. Tabel 3: Skema One-Group Time-Series Design (Ary et al, 2010) Y1 Y2 Y3 Y4 X Y 5 Y6 Y7 Y8 Di dalam penerapan desain ini, ancaman terhadap validitas yang mungkin terjadi adalah adanya perubahan yang radikal yang bisa terjadi hanya pada saat perlakuan pertama dilakukan, sehingga dapat menimbulkan bias di perlakuan yang sama pada periode berikutnya. Namun dengan adanya pola data yang dapat dibaca secara mudah, seharusnya ancaman tersebut dapat dihilangkan dengan mudah (Vockell, 1983). Hasil yang mungkin diperoleh dari desain ini tampak pada gambar 3, yakni : a. Kemungkinan pertama (A) Perlakuan khusus (X) benar-benar mempengaruhi variabel dependen b. Kemungkinan kedua (B) Perlakuan khusus (X) hanya mempengaruhi variabel dependen secara temporer c. Kemungkinan ketiga (C) Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011 Hal. 5
  • 7.
    Desain Penelitian MenggunakanQuasi Experiment Perlakuan khusus (X) bukan pengaruh utama variabel dependen, tetapi lebih karena faktor maturasi d. Kemungkinan keempat (D) Terjadi kejadian khusus di rentang waktu eksperimen sehingga hasilnya tidak beraturan. Gambar 3. Ilustrasi Kemungkinan Luaran Pada Desain One-Group Time-Series Design (Ary et al, 2010) Desain jenis ini memiliki keuntungan yakni mampu mendeteksi adanya kelemahan faktor maturasi dan regresi. Tetapi di sisi lain, memiliki kelemahan di faktor sejarah, misal : di saat eksperimen dilakukan, pada tahapan tertentu (misal Y5) tiba-tiba terjadi kejadian di luar dugaan seperti perubahan cuaca, perubahan perilaku akibat peristiwa tertentu dan lainnya. 4. Control Group Time-Series Design Desain jenis ini merupakan pengembangan dari desain jenis sebelumnya dengan menggabungkan desain jenis ketiga dengan desain jenis pertama. Penggabungan tersebut diharapkan dapat mengatasi kelemahan di desain jenis yang ketiga sehingga faktor sejarah dapat dideteksi dan dihilangkan sebagai ancaman validitas internal. Tabel 4: Skema Control Group Time-Series Design (Ary et al, 2010) Group Exp. Y1 Y2 Y3 Y4 X Y5 Y6 Y7 Y8 Cont. Y1 Y2 Y3 Y4 - Y5 Y6 Y7 Y8 Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011 Hal. 6
  • 8.
    Desain Penelitian MenggunakanQuasi Experiment C. Faktor Bias Mengukur Perubahan Dalam Eksperimen (Borg& Gall, 1983:720:726) Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam proses pengukuran yang terjadi pada penelitian yang menggunakan desain berjenis eksperimen. Beberapa faktor tersebut dapat menyebabkan bias di dalam hasil eksperimen antara lain: 1. Ceiling effect Seringkali jangkauan nilai yang digunakan di dalam pelaksanaan tes sulit untuk dilakukan. Sebagai contoh jika terdapat skala 0-100 dan seorang siswa memiliki peningkatan nilai dari 85 ke 90, bukan berarti lebih baik peningkatannya dibanding seorang siswa yang memiliki peningkatan nilai dari 40 ke 60. Sehingga seakan-akan bahwa siswa yang mendapatkan nilai 90 memiliki perkembangan lebih baik dibandingkan siswa yang mendapatkan nilai akhir 60. 2. Regression effect Terdapat kemungkinan bahwa siswa yang mendapatkan nilai lebih rendah pada saat pre-test nantinya akan mendapatkan nilai lebih tinggi pada saat posttest dan begitu pula sebaliknya. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya faktor keberuntungan dan kemungkinan besar bahwa keberuntungan tersebut tidak terulang lagi. Asumsi lain yang terjadi adalah adanya perlakuan yang dianggap sama rata untuk tiap peningkatan nilai tes, misal : peningkatan dari nilai 90 ke 95 seharusnya tidak dianggap sama dengan peningkatan dari nilai 40 ke 45. 3. Simpangan pengukuran yang berulang Seringkali keefektifan pengukuran yang dilakukan berulang-ulang dalam rentang waktu tertentu bisa menyebabkan adanya simpangan yang besar dari satu pengukuran ke pengukuran lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan pengukuran dengan menggunakan analisa kelompok perlakuan dikali dengan waktu pengujian agar didapat rasio yang signifikan pada perbedaan antara pre-test dengan posttest. Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011 Hal. 7
  • 9.
    Desain Penelitian MenggunakanQuasi Experiment Daftar Pustaka Ary, Donald et al, 2010, Introduction to Research in Education 8th edition, Wardswoth Cengage Learning Azam, Prof. Nurfani SU, Apt, DR. Sumarno & DR Adi Rahmat, 2006, Metodologi Penelitian Untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran Penelitian Kuasi Eksperimen dalam PPKP, Direktorat Ketenagaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Borg, Walter R. & Meredith Damien Gall, 1983, Educational Research, an Introductionfourth edition, Longman Caporaso, James .A, 1973, Quasi-Experimental Approaches to Social Science dalam Quasi-Experimental Approaches (ed. James A. Caporaso & Leslie L. Roos Jr), Northwestern University Press Cook, Thomas .D & Donald T. Campbell, 1979, Quasi Experimentation Design & Analysis Issue for Field Settings, Houghton Mifflin Company:Boston Levy, Yair & Timothy J. Ellis, 2011, A Guide for Novice Researchers on Experimental and Quasi- Experimental Studies in Information Systems Research, Interdisciplinary Journal of Information, Knowledge, and Management Volume 6, 2011 Robson, Lynda et al, 2001, Guide to Evaluating the Effectiveness of Strategies for Preventing Work Injuries: How to Show Whether a Safety Intervention Really Works, National Institute for Occupational Safety and Health Salkind, Neil .J, 2006, Exploring Research sixth edition, Pearson International Scott, David & Robin Usher, 2011, Researching Education 2nd edition, Continuum International Publishing Group Vockell, Edward L, 1983, Educational Research, MacMillan Publishing Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011 Hal. 8