 Definisi epidemiologi → studi tentang distri-
busi dan faktor utama penyakit dalam popu-
lasi.
 Yang menjadi perhatian terbatas pada pe-
nyakit infeksi.
 Berkembang ke penyakit tidak menular →
penyakit vaskuler, arthritis dan maligna
neoplasma.
 Beberapa abad yang lalu terjadi wabah dise-
sebabkan oleh non infeksi.
 Sekarang → studi epidemiologi diterapkan
untuk semua penyakit.
 Tujuan Epidemiologi → menggambarkan penya-
kit secara komprehensif & dinamis, tidak hanya
mencakup wabah tetapi juga antara periode
terjadinya wabah secara sporadis dan endemis
.
 Epidemi didefinisikan :
1. Beberapa penyakit atau cedera
2. Menggambarkan perbedaan penyakit dalam
berbagai keadaan.
3. Mulai dari daerah yang kecil sampai daerah
yang luas → pandemi contohnya Influenza.
4. Mencakup periode waktu → jam, hari, ming-
gu, bulan dan tahun.
 Fokus pada penyakit yang sifatnya menghasilkan
beberapa efek → terdeteksi secara klinis sampai
menunjukkan gejala kematian.
 Klasifikasi agen infeksi → masing-masing menun-
jukkan manifestasi dan distribusi yang relatif ber-
beda.
1. Infeksi yang tidak terlihat gejalanya.
- Tidak menunjukkan manifestasi dalam setiap
tahapnya.
- Hanya fraksi kecil menunjukkan gejala klinis
dan biasanya bersifat akut atau fatal.
- Fenomena gunung es.
- Contoh : infeksi virus folio
2. Penyakit infeksi dengan komposisi yang
lebih kecil
- Kebanyakan kasus ada gejala yang
tampak
- Mudah didiagnosa
- Hanya sebagian kecil yang menjadi berat
- Contoh : Measles dan Chickenpox.
3. Penyakit yang menunjukkan proses keja-
dian yang umumnya akut atau fatal
- Secara klinik selalu disertai gejala klinis
berat.
- Sebagian besar meninggal
- Contoh : Rabies.
 Analisis keganasan infeksi bergantung :
1. Organisme penyebab
2. Respon alami pada suatu organisme
 Untuk perkiraan yang akurat, pada infeksi yang
yang tidak menimbulkan gejala pada populasi
maka studi epidemiologi dibutuhkan untuk
mengetahui mana yang di tes dan tidak dites.
INFEKSI TERSELUBUNG DAN KONTROL PENYAKIT
 Semua infeksi yang dapat menular kepada
orang lain
 Infeksi terselubung diperlukan kontrol terha-
hadap orang yang sakit
 Yang diperhatikan tempat isolasi pasien, ti-
dak terinfeksi dengan eskreta dan karantina
yang jauh dari orang.
 Saat ini faktor untuk mendeteksi dan mengo-
bati penyakit terselubung → pemberian
vaksin.
Penyebaran Karakteristik Manifestasi klinik
Dari tiga Jenis Penyakit Menular
1. Lebih banyak dengan tanpa gejala klinik
Contoh : tuberkulosa
2. Lebih banyak dengan gejala klinis
Contoh : campak
3. Penyakit yang umumnya berakhir dengan kematian
Contoh : rabies
Tanpa
gejala
Gejala
ringan
Gejala
sedang
Gejala
berat
Fatal
INFEKSI TERSELUBUNG DAN STATISTIK PENYAKIT
 Pengaruh statistik penyakit dengan infeksi
terselubung dapat dilihat pada kelompok A.
 Statistik pada kelompok ini tidak akurat.
 Lebih banyak terdiagnosa dan terlaporkan
jika menggunakan metode laboratorium mau-
pun pemeriksaan kulit.
 Alat untuk mengukur keganasan
CFR = Jumlah kematian dari penyakit
Jumlah kasus penyakit
Biasanya dalam bentuk persen
MODEL PENYAKIT : PENYEBAB YANG KOMPLEKS
 Dalam dunia pengobatan fokus pada host
yaitu manusia dan hewan.
 Epidemiologi penyakit Demam Typus pada
manusia dipengaruhi :
- Berkembang karena iklim yang dingin
- Populasi manusia yang padat
- Sanitasi yang buruk
→ Sistem Ekologi → Epidemiologi →
Penyakit berkembang → Multiple Causa-
tion/multifaktorial etiology.
Zinsser
MODEL PENYAKIT : PENYEBAB YANG KOMPLEKS
 Perkembangan epidemiologi
organisme manusia penyakit
 Organisme tidak sendirian menimbulkan out
break → tingkat imunitas misalnya measles
dan gondok.
 Selain kondisi lingkungan dipengaruhi :
1. Efektifitas transmisi dari penyakit
2. Frekuensi kontak
3. Kondisi organisme lain.
→ →
 Agent penyakit dibedakan :
1. Lingkungan biologis
2. Lingkungan fisik : asbestos, karbon monok-
sida di udara dan radiasi ion
3. Lingkungan sosial : kehilangan maternal.
 Beberapa studi menunjukkan bahwa kualitas
pengasuhan orang tua di masa muda sangat
dipengaruhi oleh fisik, emosional dan per-
kembangan mental ( Browby, 1952 )
 Dapat disimpulkan bahwa faktor yang mem-
pengaruhi penyakit :
1. Faktor host ( Intrinsik ) → kerentanan
2. Faktor lingkungan ( ekstrinsik ) → keter-
paparan.
→ berkembangnya penyakit.
FAKTOR HOST ( INTRINSIK )
 Peningkatan jumlah persentase faktor genetika
mempengaruhi bertambahnya atau berkurang-
nya kerentanan terhadap penyakit.
 Jenis gol. Darah A,B,O sangat rentan terhadap
beberapa penyakit.
 Gol. Darah O rentan penyakit Duodenal ulcer
( Clark et al, 1955 )
 Gol. Darah A mempunyai risiko tinggi mende -
rita kanker lambung ( Aird et al., 1953 )
 Kekurangan pada satu enzym spesifik, yaitu
alpha - antitrypsin → kerentanan terhadap pe-
nyakit paru kronik Obstruktive ( Erikson,1965 )
FAKTOR HOST ( INTRINSIK )
 Penyakit bawaan sickle cell mempunyai risiko kecil
menderita malaria yang disebabkan plasmodium
falciparum ( Allison, 1954)
 Pola hidup → salah satu faktor host yang sulit dide-
finisikan termasuk variabel instrinsik atau ekstrinsik
( Mischell, 1954 )
Contoh : Pola hidup → PJK
 Rosenman ( 1970 ) membagi PJK :
1. Type A ditandai agresif, kompetitif,ambisi, malas.
2. Type B dengan angka kesakitan jantung koroner
lebih rendah, tidak selalu menunjukkan karakte –
ristik yang khas.
 Kondisi kelas sosial → berpengaruh terhadap keja -
dian penyakit.
FAKTOR HOST ( INTRINSIK )
Yang menjadi pertanyaan :
1. Pengaruh sinar x dengan penyakit leukimia ?
2. Pengaruh perokok berat dengan kanker paru-paru ?
FAKTOR LINGKUNGAN
Dibedakan atas :
1. Lingkungan biologis termasuk infeksi agen penyakit,
reservoir penyakit, vektor sebagai transmisi ,tumbu-
han dan hewan.
2. Lingkungan Sosial termasuk lingkungan ekonomi,
lingkungan politik, adat istiadat, budaya dan nilai
3. Lingkungan fisik meliputi panas, sinar, udara , air,
radiasi, gravitasi, tekanan atmosfir dan agen kimia
lainnya.
HUBUNGAN ANTARA FAKTOR ( MODEL EKOLOGI )
 Dipengaruhi oleh tiga sektor pada lingkungan :
1. Lingkungan biologi
2. Lingkungan sosal
3. Lingkungan fisik.
 Berhubungan erat dengan faktor host
 Mempengaruhi terjadinya penyakit
 Keseimbangan ketiganya sangat mempengaruhi kese-
hatan manusia → dinamika ekuilibirium
 Tidak seimbang → penyakit mudah terjadi.
SEGITIGA EPIDEMIOLOGI
 Sangat umum digunakan sebagai literatur epide-
milogi, terdiri dari 3 komponen yaitu host, ling-
kungan dan agent.
 Model ini menunjukkan komponen secara
komprehensif dan memprediksi tentang suatu
penyakit.
Host
LingkunganAgent
SEGITIGA EPIDEMIOLOGI
 Walaupun demikian konsep dan metode epidemiologi
saat ini → belum menunjukkan agen yang spesifik
contoh : schizophenia, penyakit jantung coroner dan
rhematoid arthritis.
 Penyakit yang sudah jelas agennya, beberapa ahli
Epidemiologi cenderung menyebut agen sebagai
bagian dari suatu kondisi lingkungan.
JARING-JARING PENYEBAB
 Dikemukakan oleh MacMahon (1960)
 Intinya efek tidak pernah bergantung hanya
pada satu penyebab, tetapi berkembang men-
jadi sebuah rantai penyebab dimana masing-
masing merupakan hasil dari kompleks agen
terdahulu.
 Konsekuensi keseragaman pada rantai penye-
bab mungkin mengganggu produktivitas pe-
nyakit oleh potongan rantai pada angka yang
berbeda.
MODEL LINGKARAN
 Sebagai pendekatan lain untuk menggambarkan hubu-
ngan dengan lingkungan.
 Lingkaran terdiri atas Inti/pusat ( host dan manusia) ge-
netik disusun oleh inti.
 Lingkungan dikelilingi oleh manusia, secara skematis
terbagi ke dalam tiga sektor :
1. Lingkungan biologi
2. Lingkungan sosial
3. Lingkungan fisik.
 Ukuran relatif pada komponen berbeda-beda dalam
lingkaran bergantung masalah penyakit spesifik.
 Penyakit turunan → inti genetik relatif lebih banyak
 Measles → inti genetik relatif sedikit
 Sistem pertahanan ( Imunitas ) pada host dan sektor
biologis dalam lingkungan memberi kontribusi yang
MODEL LINGKARAN
besar.
 Model lingkaran dibutuhkan untuk mengidentifikasi
berbagai faktor etiologi penyakit, berupa memperhati-
kan agen penyakit.
 Model lingkaran menggambarkan pemisahan host dan
lingkungan.
 Aplikasi dari model lingkaran:
1. The irish potato famine
2. Keracunan timah
Inti Genetik
Lingkungan
Fisik
Manusia
Lingkungan
Biologi
Lingkungan
sosial
MODEL LINGKARAN
THE IRISH POTATO FAMINE
 Hubungan antara beberapa faktor dapat dilihat pada
waktu kelaparan kentang di Irish thn 1840.
 Disebabkan oleh kekurangan sumber daya alam,
pengangguran yang banyak, pertambahan penduduk
yang cepat
 Kegagalan panen diatasi dengan memasok makanan
dari Amerika
 Akibat terhadap kesehatan antara lain terjadinya
penyakit kudis, wabah typus dan demam, penyakit
kutu, disentry, busung lapar.
KERACUNAN TIMAH
 Contoh masalah ekologi yang dihasilkan oleh keracunan
timah anak-anak → hal ini merupakan silent epidemic
( Wabah tersembunyi.)
 Cat timah diganti titanium → dapat menjadi sumber ber –
bahaya pada anak
 Kupasan cat dan serpihannya dapat terisap oleh anak
kecil → pica
 Efek keracunan timah → hyperiritabilitas, inkoordinasi,
kehilangan nafsu makan, muntah dan sakit perut akhir-
nya encephalithy dengan odema otak dan terjadinya
konvulsi di luar kesadaran → kematian.
 Pencegahan keracunan timah
Tahap Pertama
1. Anak-anak tidak terkena timah
2. Jika ada timah di lingkungan harus dihindari.
KERACUNAN TIMAH
Tahap ke dua
1. Tes darah
2. Memeriksa rumah untuk mendeteksi adanya timah dise-
kitarnya.
3. Kadar tinggi dalam darah, pengobatan/perlakuan harus
dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan agen
tersebut.
4. Lingkungan harus diperiksa dan dikoreksi bahwa timah
lagi timbul berlebihan
5. Identifikasi pada anak yang kena timah dalam darahnya
tinggi atau timbul keracunan timah harus diberi tanda
untuk selanjutnya kasus tersebut diupayakan dalam
keluarga atau tetangganya.
KERACUNAN TIMAH
Tahap ke Tiga
1. Rehabilitasi pada anak yang mengalami kerusakan per-
manen termasuk pendidikan dan fasilitas lainnya.
 Host yang rentan adalah anak umur satu sampai lima
lima tahun.
 Kecendrungan pica :
1. Bergandengan dengan lingkungan
2. Pemahaman tidak lengkap
3. Cara pengasuhan yang kurang dan stimulasi pada
anak tentang pica.
4. Kebiasaan.
 Upaya penanggulangan
1. Meningkatkan kondisi perekonomian
2. Penetapan lokasi perumahan
3. Penegahan hukum.
Model Ekologi dan Kontrol Penyakit
 Pengetahuan tentang mekanisme etiologi tidak penting
pada tindakan kontrol penyakit
 Goldbarger menyimpulkan bahwa pellagra ada hubu-
ngannya defisiensi nutrisi.
 Hasil penelitiannya, pellagra dapat dicegah → makan
ikan, daging, telur dan susu.
 Pada penyakit yang organisme penyebab dibawa oleh
lalat atau nyamuk kontrol terbaik hanya difokuskan
pada serangga bukan pada agennya.
 Bab ini menggambarkan ruang lingkup epidemilogi
penyakit infeksi dan non infeksi
 Epidemiologi tidak hanya mencakup wabah tetapi
juga kondisi dan kejadian penyakit endemik dan
sporadis.
 Infeksi dicatat untuk membedakan karakteristik
keparahan, kenyataannya bahwa beberapa infeksi
cenderung menjadi tidak tampak dengan konsekuensi
pada kedua kontrol penyakit dan statistik morbiditas.
 Hubungan antara host dan lingkungan dalam ekosis-
tem dan implikasinya untuk kontrol penyakit disam-
paikan dalam hubungan beberapa model yaitu :
Sambungan
1. Segitiga epidemiologi
2. Jaring- jaring penyebab
3. Model lingkaran.
 Diaplikasian dalam analisis pada dua masalah yaitu
The irish Potato Famine and modern problem of lead
poisoning ( kelaparan di Irish dan masalah keracunan
timah.

Konsep dan-model-epidemiologi

  • 1.
     Definisi epidemiologi→ studi tentang distri- busi dan faktor utama penyakit dalam popu- lasi.  Yang menjadi perhatian terbatas pada pe- nyakit infeksi.  Berkembang ke penyakit tidak menular → penyakit vaskuler, arthritis dan maligna neoplasma.  Beberapa abad yang lalu terjadi wabah dise- sebabkan oleh non infeksi.  Sekarang → studi epidemiologi diterapkan untuk semua penyakit.
  • 2.
     Tujuan Epidemiologi→ menggambarkan penya- kit secara komprehensif & dinamis, tidak hanya mencakup wabah tetapi juga antara periode terjadinya wabah secara sporadis dan endemis .  Epidemi didefinisikan : 1. Beberapa penyakit atau cedera 2. Menggambarkan perbedaan penyakit dalam berbagai keadaan. 3. Mulai dari daerah yang kecil sampai daerah yang luas → pandemi contohnya Influenza. 4. Mencakup periode waktu → jam, hari, ming- gu, bulan dan tahun.
  • 3.
     Fokus padapenyakit yang sifatnya menghasilkan beberapa efek → terdeteksi secara klinis sampai menunjukkan gejala kematian.  Klasifikasi agen infeksi → masing-masing menun- jukkan manifestasi dan distribusi yang relatif ber- beda. 1. Infeksi yang tidak terlihat gejalanya. - Tidak menunjukkan manifestasi dalam setiap tahapnya. - Hanya fraksi kecil menunjukkan gejala klinis dan biasanya bersifat akut atau fatal. - Fenomena gunung es. - Contoh : infeksi virus folio
  • 4.
    2. Penyakit infeksidengan komposisi yang lebih kecil - Kebanyakan kasus ada gejala yang tampak - Mudah didiagnosa - Hanya sebagian kecil yang menjadi berat - Contoh : Measles dan Chickenpox. 3. Penyakit yang menunjukkan proses keja- dian yang umumnya akut atau fatal - Secara klinik selalu disertai gejala klinis berat. - Sebagian besar meninggal - Contoh : Rabies.
  • 5.
     Analisis keganasaninfeksi bergantung : 1. Organisme penyebab 2. Respon alami pada suatu organisme  Untuk perkiraan yang akurat, pada infeksi yang yang tidak menimbulkan gejala pada populasi maka studi epidemiologi dibutuhkan untuk mengetahui mana yang di tes dan tidak dites.
  • 6.
    INFEKSI TERSELUBUNG DANKONTROL PENYAKIT  Semua infeksi yang dapat menular kepada orang lain  Infeksi terselubung diperlukan kontrol terha- hadap orang yang sakit  Yang diperhatikan tempat isolasi pasien, ti- dak terinfeksi dengan eskreta dan karantina yang jauh dari orang.  Saat ini faktor untuk mendeteksi dan mengo- bati penyakit terselubung → pemberian vaksin.
  • 7.
    Penyebaran Karakteristik Manifestasiklinik Dari tiga Jenis Penyakit Menular 1. Lebih banyak dengan tanpa gejala klinik Contoh : tuberkulosa 2. Lebih banyak dengan gejala klinis Contoh : campak 3. Penyakit yang umumnya berakhir dengan kematian Contoh : rabies Tanpa gejala Gejala ringan Gejala sedang Gejala berat Fatal
  • 8.
    INFEKSI TERSELUBUNG DANSTATISTIK PENYAKIT  Pengaruh statistik penyakit dengan infeksi terselubung dapat dilihat pada kelompok A.  Statistik pada kelompok ini tidak akurat.  Lebih banyak terdiagnosa dan terlaporkan jika menggunakan metode laboratorium mau- pun pemeriksaan kulit.  Alat untuk mengukur keganasan CFR = Jumlah kematian dari penyakit Jumlah kasus penyakit Biasanya dalam bentuk persen
  • 9.
    MODEL PENYAKIT :PENYEBAB YANG KOMPLEKS  Dalam dunia pengobatan fokus pada host yaitu manusia dan hewan.  Epidemiologi penyakit Demam Typus pada manusia dipengaruhi : - Berkembang karena iklim yang dingin - Populasi manusia yang padat - Sanitasi yang buruk → Sistem Ekologi → Epidemiologi → Penyakit berkembang → Multiple Causa- tion/multifaktorial etiology. Zinsser
  • 10.
    MODEL PENYAKIT :PENYEBAB YANG KOMPLEKS  Perkembangan epidemiologi organisme manusia penyakit  Organisme tidak sendirian menimbulkan out break → tingkat imunitas misalnya measles dan gondok.  Selain kondisi lingkungan dipengaruhi : 1. Efektifitas transmisi dari penyakit 2. Frekuensi kontak 3. Kondisi organisme lain. → →
  • 11.
     Agent penyakitdibedakan : 1. Lingkungan biologis 2. Lingkungan fisik : asbestos, karbon monok- sida di udara dan radiasi ion 3. Lingkungan sosial : kehilangan maternal.  Beberapa studi menunjukkan bahwa kualitas pengasuhan orang tua di masa muda sangat dipengaruhi oleh fisik, emosional dan per- kembangan mental ( Browby, 1952 )  Dapat disimpulkan bahwa faktor yang mem- pengaruhi penyakit : 1. Faktor host ( Intrinsik ) → kerentanan 2. Faktor lingkungan ( ekstrinsik ) → keter- paparan. → berkembangnya penyakit.
  • 12.
    FAKTOR HOST (INTRINSIK )  Peningkatan jumlah persentase faktor genetika mempengaruhi bertambahnya atau berkurang- nya kerentanan terhadap penyakit.  Jenis gol. Darah A,B,O sangat rentan terhadap beberapa penyakit.  Gol. Darah O rentan penyakit Duodenal ulcer ( Clark et al, 1955 )  Gol. Darah A mempunyai risiko tinggi mende - rita kanker lambung ( Aird et al., 1953 )  Kekurangan pada satu enzym spesifik, yaitu alpha - antitrypsin → kerentanan terhadap pe- nyakit paru kronik Obstruktive ( Erikson,1965 )
  • 13.
    FAKTOR HOST (INTRINSIK )  Penyakit bawaan sickle cell mempunyai risiko kecil menderita malaria yang disebabkan plasmodium falciparum ( Allison, 1954)  Pola hidup → salah satu faktor host yang sulit dide- finisikan termasuk variabel instrinsik atau ekstrinsik ( Mischell, 1954 ) Contoh : Pola hidup → PJK  Rosenman ( 1970 ) membagi PJK : 1. Type A ditandai agresif, kompetitif,ambisi, malas. 2. Type B dengan angka kesakitan jantung koroner lebih rendah, tidak selalu menunjukkan karakte – ristik yang khas.  Kondisi kelas sosial → berpengaruh terhadap keja - dian penyakit.
  • 14.
    FAKTOR HOST (INTRINSIK ) Yang menjadi pertanyaan : 1. Pengaruh sinar x dengan penyakit leukimia ? 2. Pengaruh perokok berat dengan kanker paru-paru ?
  • 15.
    FAKTOR LINGKUNGAN Dibedakan atas: 1. Lingkungan biologis termasuk infeksi agen penyakit, reservoir penyakit, vektor sebagai transmisi ,tumbu- han dan hewan. 2. Lingkungan Sosial termasuk lingkungan ekonomi, lingkungan politik, adat istiadat, budaya dan nilai 3. Lingkungan fisik meliputi panas, sinar, udara , air, radiasi, gravitasi, tekanan atmosfir dan agen kimia lainnya.
  • 16.
    HUBUNGAN ANTARA FAKTOR( MODEL EKOLOGI )  Dipengaruhi oleh tiga sektor pada lingkungan : 1. Lingkungan biologi 2. Lingkungan sosal 3. Lingkungan fisik.  Berhubungan erat dengan faktor host  Mempengaruhi terjadinya penyakit  Keseimbangan ketiganya sangat mempengaruhi kese- hatan manusia → dinamika ekuilibirium  Tidak seimbang → penyakit mudah terjadi.
  • 17.
    SEGITIGA EPIDEMIOLOGI  Sangatumum digunakan sebagai literatur epide- milogi, terdiri dari 3 komponen yaitu host, ling- kungan dan agent.  Model ini menunjukkan komponen secara komprehensif dan memprediksi tentang suatu penyakit. Host LingkunganAgent
  • 18.
    SEGITIGA EPIDEMIOLOGI  Walaupundemikian konsep dan metode epidemiologi saat ini → belum menunjukkan agen yang spesifik contoh : schizophenia, penyakit jantung coroner dan rhematoid arthritis.  Penyakit yang sudah jelas agennya, beberapa ahli Epidemiologi cenderung menyebut agen sebagai bagian dari suatu kondisi lingkungan.
  • 19.
    JARING-JARING PENYEBAB  Dikemukakanoleh MacMahon (1960)  Intinya efek tidak pernah bergantung hanya pada satu penyebab, tetapi berkembang men- jadi sebuah rantai penyebab dimana masing- masing merupakan hasil dari kompleks agen terdahulu.  Konsekuensi keseragaman pada rantai penye- bab mungkin mengganggu produktivitas pe- nyakit oleh potongan rantai pada angka yang berbeda.
  • 20.
    MODEL LINGKARAN  Sebagaipendekatan lain untuk menggambarkan hubu- ngan dengan lingkungan.  Lingkaran terdiri atas Inti/pusat ( host dan manusia) ge- netik disusun oleh inti.  Lingkungan dikelilingi oleh manusia, secara skematis terbagi ke dalam tiga sektor : 1. Lingkungan biologi 2. Lingkungan sosial 3. Lingkungan fisik.  Ukuran relatif pada komponen berbeda-beda dalam lingkaran bergantung masalah penyakit spesifik.  Penyakit turunan → inti genetik relatif lebih banyak  Measles → inti genetik relatif sedikit  Sistem pertahanan ( Imunitas ) pada host dan sektor biologis dalam lingkungan memberi kontribusi yang
  • 21.
    MODEL LINGKARAN besar.  Modellingkaran dibutuhkan untuk mengidentifikasi berbagai faktor etiologi penyakit, berupa memperhati- kan agen penyakit.  Model lingkaran menggambarkan pemisahan host dan lingkungan.  Aplikasi dari model lingkaran: 1. The irish potato famine 2. Keracunan timah
  • 22.
  • 23.
    THE IRISH POTATOFAMINE  Hubungan antara beberapa faktor dapat dilihat pada waktu kelaparan kentang di Irish thn 1840.  Disebabkan oleh kekurangan sumber daya alam, pengangguran yang banyak, pertambahan penduduk yang cepat  Kegagalan panen diatasi dengan memasok makanan dari Amerika  Akibat terhadap kesehatan antara lain terjadinya penyakit kudis, wabah typus dan demam, penyakit kutu, disentry, busung lapar.
  • 24.
    KERACUNAN TIMAH  Contohmasalah ekologi yang dihasilkan oleh keracunan timah anak-anak → hal ini merupakan silent epidemic ( Wabah tersembunyi.)  Cat timah diganti titanium → dapat menjadi sumber ber – bahaya pada anak  Kupasan cat dan serpihannya dapat terisap oleh anak kecil → pica  Efek keracunan timah → hyperiritabilitas, inkoordinasi, kehilangan nafsu makan, muntah dan sakit perut akhir- nya encephalithy dengan odema otak dan terjadinya konvulsi di luar kesadaran → kematian.  Pencegahan keracunan timah Tahap Pertama 1. Anak-anak tidak terkena timah 2. Jika ada timah di lingkungan harus dihindari.
  • 25.
    KERACUNAN TIMAH Tahap kedua 1. Tes darah 2. Memeriksa rumah untuk mendeteksi adanya timah dise- kitarnya. 3. Kadar tinggi dalam darah, pengobatan/perlakuan harus dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan agen tersebut. 4. Lingkungan harus diperiksa dan dikoreksi bahwa timah lagi timbul berlebihan 5. Identifikasi pada anak yang kena timah dalam darahnya tinggi atau timbul keracunan timah harus diberi tanda untuk selanjutnya kasus tersebut diupayakan dalam keluarga atau tetangganya.
  • 26.
    KERACUNAN TIMAH Tahap keTiga 1. Rehabilitasi pada anak yang mengalami kerusakan per- manen termasuk pendidikan dan fasilitas lainnya.  Host yang rentan adalah anak umur satu sampai lima lima tahun.  Kecendrungan pica : 1. Bergandengan dengan lingkungan 2. Pemahaman tidak lengkap 3. Cara pengasuhan yang kurang dan stimulasi pada anak tentang pica. 4. Kebiasaan.  Upaya penanggulangan 1. Meningkatkan kondisi perekonomian 2. Penetapan lokasi perumahan 3. Penegahan hukum.
  • 27.
    Model Ekologi danKontrol Penyakit  Pengetahuan tentang mekanisme etiologi tidak penting pada tindakan kontrol penyakit  Goldbarger menyimpulkan bahwa pellagra ada hubu- ngannya defisiensi nutrisi.  Hasil penelitiannya, pellagra dapat dicegah → makan ikan, daging, telur dan susu.  Pada penyakit yang organisme penyebab dibawa oleh lalat atau nyamuk kontrol terbaik hanya difokuskan pada serangga bukan pada agennya.
  • 28.
     Bab inimenggambarkan ruang lingkup epidemilogi penyakit infeksi dan non infeksi  Epidemiologi tidak hanya mencakup wabah tetapi juga kondisi dan kejadian penyakit endemik dan sporadis.  Infeksi dicatat untuk membedakan karakteristik keparahan, kenyataannya bahwa beberapa infeksi cenderung menjadi tidak tampak dengan konsekuensi pada kedua kontrol penyakit dan statistik morbiditas.  Hubungan antara host dan lingkungan dalam ekosis- tem dan implikasinya untuk kontrol penyakit disam- paikan dalam hubungan beberapa model yaitu :
  • 29.
    Sambungan 1. Segitiga epidemiologi 2.Jaring- jaring penyebab 3. Model lingkaran.  Diaplikasian dalam analisis pada dua masalah yaitu The irish Potato Famine and modern problem of lead poisoning ( kelaparan di Irish dan masalah keracunan timah.