KOLOID
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 1
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 2
Koloid dan sifat-sifatnya
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 3
Sistem dispersi
Sistem dispersi terdiri dari
zat berupa partikel-
partikel (fase dispers)
yang tersebar dalam
suatu medium dispers
Karena dispersi merupakan campuran
maka komponen yang paling sederhana
terdiri dari 2 zat
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 4
Komponen dari sistem dispersi
Fase terdispersi Medium dispersi
Zat yang terdispersi, umumnya
merupakan zat aktif sediaan
dan dapat lebih dari 1 macam
zat
Yang ditempati fase dispersi
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si
Sistem
dispersi
Dispersi
molekuler
(Larutan Sejati)
Dispersi Koloid
Dispersi Kasar
( ex : suspense)
< 1 𝑛𝑚
1 𝑛𝑚 − 100 𝑛𝑚
> 100 𝑛𝑚
Ukuran Partikel
5
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 6
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 7
Medium
dispersi
Fase
terdispersi
Tipe
koloid
contoh
Padat Padat Sol padat Logam paduan, baja
Padat Cair Emulsi padat Keju mentega
Padat Gas Busa padat Batu apung
Cair Padat Sol gel (sol cair) cat, tinta, kanji
Cair Cair Emulsi cair Susu,minyak ikan santan
kelapa
Cair Gas Busa cair Whipped cream, cream
cukur, busa sabun
Gas Padat Aerosol padat (sol
gas)
Asap debu
Gas cair Emulsi gas Hair spray, Obat insektisida
semprot, kabut,
Berdasarkan fase terdispersinya maka koloid dapat dikelompokkan atas 3 yaitu sol, emulsi dan busa.
 Sol → fase terdispersinya padat
 Emulsi → fase terdispersinya cairan
 Busa → fase terdispersinya gas
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 8
Berdasarkan interaksi antara partikel dispersi dan medium disperse, maka sistem koloid dapat
digolongakan menjadi tiga golongan
Koloid liofilik Koloid liofobik Koloid
asosiasi/gabungan
- Interaksi kuat
- Membentuk
dispersi koloid
dengan mudah
- Stabil, karena fase
dispersi tersolvatasi
- Interaksi lemah
- Tidak stabil
- Pembentukan sol
relatif sulit →
perlu metode
khusus (metode
dispers dan
metode
kondensasi)
Fase dispersi
merupakan gabungan
monomer surfaktan
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 9
Koloid Liofilik (suka solvent)
 Interaksi kuat : Mempunyai gaya tarik menarik yang cukup besar antara zat terdispersi dan
medium pendispersinya
 Membentuk disperse koloid atau sol dengan mudah : sol koloidal liofilik biasanya diperoleh
hanya dengan melarutkan bahan dalam pelarut yang digunakan
 Stabil, karena fase dispersi tersolvatasi : Umumnya koloidl liofilik lebih kental dan lebih stabil
dari koloid liofobik, karena molekul pelarut menempel ke molekul fase terdispersi (solvatasi)
disebabkan gaya tarik menarik antara fase terdispersi dan medium pendispersi, sehingga
terhindar dari pengelompokkan(koagulasi)
 partikel terdispersi pada sistem koloid liofobik mempunyai daya adsorpsi yang relatif besar
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 10
Koloid liofilik Jika medium pendispersinya
air
Koloid HIDROFILIK
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 11
Koloid Liofobik
 Interaksi lemah : Mempunyai gaya tarik menarik yang kecil antara zat terdispersi dan medium
pendispersinya
 Tidak stabil
 Pembentukan sol relatif sulit
 partikel terdispersi pada sistem koloid liofobik mempunyai daya adsorpsi yang relatif kecil
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 12
Koloid liofobik Jika medium pendispersinya
air
Koloid HIDROFOBIK
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 13
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 14
Koloid Asosiasi
(gabungan)
Koloid asosiasi adalah koloid yang terbentuk dari gabungan (asosiasi) molekul surfaktan yang larut
dalam medium sehingga membentuk agregat-agregat molekul yang disebut misel.
Contoh : sabun atau detergen membentuk koloid asosiasi dalam air terdiri atas ion stearat
(C18H35O2–).
Ketika dilarutkan dalam air,
ekor asam stearat
(hidrofob) saling berkumpul
ke arah dalam air, dan
kepala asam stearat
(hidrofil) menghadap ke air.
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 15
Skema struktur misel dari koloid
asosiasi SDS (sodium dodecyl
sulphate) C12H25NaO4S
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 16
Contoh koloid asosiasi adalah : sabun. Surfaktan molekul sabun (Natrium Stearat)
terdiri dari bagian polar yang bersifat hidrofilik (kepala) dan non polar yang bersifat
hidrofobik (ekor)
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 17
SIFAT-SIFAT KOLOID
Sifat optis :
Efek Tyndall
Sifat Kinetik :
Gerak Brown,
difusi, tekanan
osmosis,
sedimentasi,
viskositas
Adsorbsi :
Penyerapan pada
permukaan
Sifat elektrik
Koagulasi
Sifat optik koloid
Efek Faraday-Tyndall
pada dasarnya apabila molekul maupun koloid dikenai sinar, maka sinar tersebut akan
diabsorbsi → dipantulkan → diteruskan
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 18
Efek penghamburan cahaya pada partikel
koloid
Sifat kinetik koloid
Gerak Brown
 Pertama kali ditemukan oleh Robert Brown. Gerak Brown adalah gerakan terus-
menerus secara acak dari partikel koloid dalam mediumnya. Gerakan ini terjadi
karena adanya tumbukan oleh molekul-molekul pada sisi-sisi partikel yang tidak
sama. Dengan adanya gerak Brown ini maka partikel koloid terhindar dari
pengendapan karena terus-menerus bergerak. Gerakan partikel koloid secara
acaka ini juga menyebabkan partikel koloid menjadi stabil dan homogen.
 Gerak brown lebih cepat pada partikel yang berukuran lebih kecil.
 Besar gerak menurun sejalan dengan kenaikan viskositas
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 19
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 20
Difusi
Partikel-partikel koloid berdifusi dari tempat yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang
berkonsentrasi rendah, sampai sistem tersebut seragam seluruhnya. Difusi merupakan hasil
langsung dari gerak Brown
Menurut Hukum Fick pertama, jumlah dq dari zat yang mendifusi dalam waktu dt melalui bidang
seluas S adalah berbanding langsung dengan konsentrasi dc terhadap jarak yang ditempuh, dx
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 21
Jumlah zat berdifusi HUKUM FICK I
𝑑 𝑞
𝑑 𝑡
= −𝐷. 𝐴
𝑑 𝑐
𝑑 𝑥
Keterangan :
𝑑 𝑞
𝑑 𝑡
= banyaknya zat/obat yang terdifusi persatuan waktu
D = tetapan difusi
A = luas permukaan
𝑑 𝑐
𝑑 𝑥
= gradient konsentrasi (dc = konsentrasi ; dx = jarak
yang ditempuh )
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 22
Jika fase dispersi partikel koloid berbentuk bola
Sutherland-Einstein
𝐷 =
𝑅. 𝑇
6. π. 𝑟. η. 𝑁
Keterangan :
R = tetapan gas ideal
T = temperatur
r = jari-jari partikel koloid
η = tetapan viskositas pelarut
N = tetapan Avogadro (6,02 𝑥 1023)
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 23
𝐷 =
𝑅. 𝑇
6. π. η. 𝑁.
3 4. π. 𝑁
3. 𝑀𝑟. 𝑣
Keterangan :
v = Volume parsial spesifik
R = Konstanta gas
T = Suhu
η = Viskositas zat
N = Bilangan Avogadro
𝑀𝑟 = Berat molekul
(1). Contoh soal :Koefisien dfusi berbentuk bulat pada 20˚
𝐶 adalah 7,0 𝑥 10−7
𝑐𝑚2
/
𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 dan volume spesifik parsial adalah 0,75 𝑐𝑚3
/𝑔𝑟𝑎𝑚. Viskositas pelarut adalah
0,01 poise. Hitunglah :
a. Bobot molekul
b. jari-jari partikel protein
(2). Soal : berat molekul suatu protein bulat 20000 g/mol, dan volume spesifik parsial
0,80 𝑐𝑚3
/g pada 20°C. Viskositas pelarut 0,01 poise. Hitung harga D koefisien difusi
pada temperatur ini
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 24
Tekanan Osmotik
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 25
Persamaan Van’t Hoff :
 = cRT
Bisa digunakan untuk menghitung berat molekul koloid
dalam larutan encer. Bila c dalam persamaan di atas diganti
dengan 𝑐 𝑔/𝑀, maka :
/𝑐 𝑔 = RT/M
Gram zat terlarut per liter larutan
Berat molekul
Tekanan osmotik
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 26
Sedimentasi
Kecepatan sedimentasi 𝒗 dari partikel-partikel bulat yang mempunyai kerapatan (massa jenis)
𝝆 dalam medium yang memiliki massa jenis 𝝆 𝟎 serta viskositas 𝜼 𝟎 diberikan oleh Hukum
Stokes :
𝑣 =
2𝑟2 ρ − ρ0 𝑔
9η0
Percepatan
gravitasi
Adsorbsi
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 27
 sifat adsorbsi pada partikel koloid adalah : partikel koloid dapat menyerap ion pada
permukaannya. Penyerapan terhadap partikel atau ion ini menyebabkan partikel koloid
menjadi bermuatan.
 Koloid positif mengadsorpsi kation. Koloid negatif mengadsorpsi anion.
 Contoh adsorpsi: Sol Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya
menyerap/mengadsorpsi ion H+ dan Fe3+ .Sol As2S3 bermuatan negatif dan mengadsorpsi
ion S2- . Sol AgCl bermuatan positif bila mengadsorpsi ion Ag+ dan bermuatan negatif bila
mengadsorpsi ion Cl-
Sifat Elektrik → elektroforesis
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 28
 Partikel koloid dapat terionisasi menghasilkan ion positif dan ion negatif
 Elektroforesis adalah gerakan partikel koloid karena dipengaruhi oleh medan listrik.
 Muatan koloid dapat ditentukan dengan memberi medan listrik di sekitar koloid. Koloid positif
akan bergerak ke katoda atau elektroda negatif koloid negatif akan bergerak ke anoda atau
elektroda positif.
 Elektroforesis dapat digunakan untuk menetukan muatan koloid
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 29
Koagulasi
Koagulasi adalah pengggumpalan partikel koloid akibat hilangnya muatan koloid.
Koagulasi dapat disebabkan oleh :
 Pencampuran koloid beda muatan
 Penambahan elektrolit
Elektrolit dapat menetralkan koloid dan menyebabkan koagulasi.
Koagulasi terjadi bila koloid positif ditambah elektrolit yang lebih negatif, dan koloid negatif
ditambah elektrolit yang lebih positif.
 Elektroforesis
Koloid yang bermuatan negative akan digumpalkan di anoda dan koloid yang bermuatan positif
akan digumpalkan di katoda
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 30
Koloid dengan
partikel yang
bermuatan negatif
Contoh Proses Koagulasi dengan penambahan partikel yang berbeda muatan :
Ditambahkan ion-
ion 𝑁𝑎+
(bermuatan positif)
Partikel-partikel
sistem koloid
menjadi netral
Partikel koloid
menggumpal dan
mengendap
(terkoagulasi)
Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 31
Contoh Proses Koagulasi dengan elektroforesis :
koagulasi

Koloid

  • 1.
  • 2.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 2
  • 3.
    Koloid dan sifat-sifatnya IinLidia Putama Mursal, M.Si 3 Sistem dispersi Sistem dispersi terdiri dari zat berupa partikel- partikel (fase dispers) yang tersebar dalam suatu medium dispers Karena dispersi merupakan campuran maka komponen yang paling sederhana terdiri dari 2 zat
  • 4.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 4 Komponen dari sistem dispersi Fase terdispersi Medium dispersi Zat yang terdispersi, umumnya merupakan zat aktif sediaan dan dapat lebih dari 1 macam zat Yang ditempati fase dispersi
  • 5.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si Sistem dispersi Dispersi molekuler (Larutan Sejati) Dispersi Koloid Dispersi Kasar ( ex : suspense) < 1 𝑛𝑚 1 𝑛𝑚 − 100 𝑛𝑚 > 100 𝑛𝑚 Ukuran Partikel 5
  • 6.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 6
  • 7.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 7 Medium dispersi Fase terdispersi Tipe koloid contoh Padat Padat Sol padat Logam paduan, baja Padat Cair Emulsi padat Keju mentega Padat Gas Busa padat Batu apung Cair Padat Sol gel (sol cair) cat, tinta, kanji Cair Cair Emulsi cair Susu,minyak ikan santan kelapa Cair Gas Busa cair Whipped cream, cream cukur, busa sabun Gas Padat Aerosol padat (sol gas) Asap debu Gas cair Emulsi gas Hair spray, Obat insektisida semprot, kabut, Berdasarkan fase terdispersinya maka koloid dapat dikelompokkan atas 3 yaitu sol, emulsi dan busa.  Sol → fase terdispersinya padat  Emulsi → fase terdispersinya cairan  Busa → fase terdispersinya gas
  • 8.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 8 Berdasarkan interaksi antara partikel dispersi dan medium disperse, maka sistem koloid dapat digolongakan menjadi tiga golongan Koloid liofilik Koloid liofobik Koloid asosiasi/gabungan - Interaksi kuat - Membentuk dispersi koloid dengan mudah - Stabil, karena fase dispersi tersolvatasi - Interaksi lemah - Tidak stabil - Pembentukan sol relatif sulit → perlu metode khusus (metode dispers dan metode kondensasi) Fase dispersi merupakan gabungan monomer surfaktan
  • 9.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 9 Koloid Liofilik (suka solvent)  Interaksi kuat : Mempunyai gaya tarik menarik yang cukup besar antara zat terdispersi dan medium pendispersinya  Membentuk disperse koloid atau sol dengan mudah : sol koloidal liofilik biasanya diperoleh hanya dengan melarutkan bahan dalam pelarut yang digunakan  Stabil, karena fase dispersi tersolvatasi : Umumnya koloidl liofilik lebih kental dan lebih stabil dari koloid liofobik, karena molekul pelarut menempel ke molekul fase terdispersi (solvatasi) disebabkan gaya tarik menarik antara fase terdispersi dan medium pendispersi, sehingga terhindar dari pengelompokkan(koagulasi)  partikel terdispersi pada sistem koloid liofobik mempunyai daya adsorpsi yang relatif besar
  • 10.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 10 Koloid liofilik Jika medium pendispersinya air Koloid HIDROFILIK
  • 11.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 11 Koloid Liofobik  Interaksi lemah : Mempunyai gaya tarik menarik yang kecil antara zat terdispersi dan medium pendispersinya  Tidak stabil  Pembentukan sol relatif sulit  partikel terdispersi pada sistem koloid liofobik mempunyai daya adsorpsi yang relatif kecil
  • 12.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 12 Koloid liofobik Jika medium pendispersinya air Koloid HIDROFOBIK
  • 13.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 13
  • 14.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 14 Koloid Asosiasi (gabungan) Koloid asosiasi adalah koloid yang terbentuk dari gabungan (asosiasi) molekul surfaktan yang larut dalam medium sehingga membentuk agregat-agregat molekul yang disebut misel. Contoh : sabun atau detergen membentuk koloid asosiasi dalam air terdiri atas ion stearat (C18H35O2–). Ketika dilarutkan dalam air, ekor asam stearat (hidrofob) saling berkumpul ke arah dalam air, dan kepala asam stearat (hidrofil) menghadap ke air.
  • 15.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 15 Skema struktur misel dari koloid asosiasi SDS (sodium dodecyl sulphate) C12H25NaO4S
  • 16.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 16 Contoh koloid asosiasi adalah : sabun. Surfaktan molekul sabun (Natrium Stearat) terdiri dari bagian polar yang bersifat hidrofilik (kepala) dan non polar yang bersifat hidrofobik (ekor)
  • 17.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 17 SIFAT-SIFAT KOLOID Sifat optis : Efek Tyndall Sifat Kinetik : Gerak Brown, difusi, tekanan osmosis, sedimentasi, viskositas Adsorbsi : Penyerapan pada permukaan Sifat elektrik Koagulasi
  • 18.
    Sifat optik koloid EfekFaraday-Tyndall pada dasarnya apabila molekul maupun koloid dikenai sinar, maka sinar tersebut akan diabsorbsi → dipantulkan → diteruskan Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 18 Efek penghamburan cahaya pada partikel koloid
  • 19.
    Sifat kinetik koloid GerakBrown  Pertama kali ditemukan oleh Robert Brown. Gerak Brown adalah gerakan terus- menerus secara acak dari partikel koloid dalam mediumnya. Gerakan ini terjadi karena adanya tumbukan oleh molekul-molekul pada sisi-sisi partikel yang tidak sama. Dengan adanya gerak Brown ini maka partikel koloid terhindar dari pengendapan karena terus-menerus bergerak. Gerakan partikel koloid secara acaka ini juga menyebabkan partikel koloid menjadi stabil dan homogen.  Gerak brown lebih cepat pada partikel yang berukuran lebih kecil.  Besar gerak menurun sejalan dengan kenaikan viskositas Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 19
  • 20.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 20 Difusi Partikel-partikel koloid berdifusi dari tempat yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang berkonsentrasi rendah, sampai sistem tersebut seragam seluruhnya. Difusi merupakan hasil langsung dari gerak Brown Menurut Hukum Fick pertama, jumlah dq dari zat yang mendifusi dalam waktu dt melalui bidang seluas S adalah berbanding langsung dengan konsentrasi dc terhadap jarak yang ditempuh, dx
  • 21.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 21 Jumlah zat berdifusi HUKUM FICK I 𝑑 𝑞 𝑑 𝑡 = −𝐷. 𝐴 𝑑 𝑐 𝑑 𝑥 Keterangan : 𝑑 𝑞 𝑑 𝑡 = banyaknya zat/obat yang terdifusi persatuan waktu D = tetapan difusi A = luas permukaan 𝑑 𝑐 𝑑 𝑥 = gradient konsentrasi (dc = konsentrasi ; dx = jarak yang ditempuh )
  • 22.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 22 Jika fase dispersi partikel koloid berbentuk bola Sutherland-Einstein 𝐷 = 𝑅. 𝑇 6. π. 𝑟. η. 𝑁 Keterangan : R = tetapan gas ideal T = temperatur r = jari-jari partikel koloid η = tetapan viskositas pelarut N = tetapan Avogadro (6,02 𝑥 1023)
  • 23.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 23 𝐷 = 𝑅. 𝑇 6. π. η. 𝑁. 3 4. π. 𝑁 3. 𝑀𝑟. 𝑣 Keterangan : v = Volume parsial spesifik R = Konstanta gas T = Suhu η = Viskositas zat N = Bilangan Avogadro 𝑀𝑟 = Berat molekul
  • 24.
    (1). Contoh soal:Koefisien dfusi berbentuk bulat pada 20˚ 𝐶 adalah 7,0 𝑥 10−7 𝑐𝑚2 / 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 dan volume spesifik parsial adalah 0,75 𝑐𝑚3 /𝑔𝑟𝑎𝑚. Viskositas pelarut adalah 0,01 poise. Hitunglah : a. Bobot molekul b. jari-jari partikel protein (2). Soal : berat molekul suatu protein bulat 20000 g/mol, dan volume spesifik parsial 0,80 𝑐𝑚3 /g pada 20°C. Viskositas pelarut 0,01 poise. Hitung harga D koefisien difusi pada temperatur ini Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 24
  • 25.
    Tekanan Osmotik Iin LidiaPutama Mursal, M.Si 25 Persamaan Van’t Hoff :  = cRT Bisa digunakan untuk menghitung berat molekul koloid dalam larutan encer. Bila c dalam persamaan di atas diganti dengan 𝑐 𝑔/𝑀, maka : /𝑐 𝑔 = RT/M Gram zat terlarut per liter larutan Berat molekul Tekanan osmotik
  • 26.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 26 Sedimentasi Kecepatan sedimentasi 𝒗 dari partikel-partikel bulat yang mempunyai kerapatan (massa jenis) 𝝆 dalam medium yang memiliki massa jenis 𝝆 𝟎 serta viskositas 𝜼 𝟎 diberikan oleh Hukum Stokes : 𝑣 = 2𝑟2 ρ − ρ0 𝑔 9η0 Percepatan gravitasi
  • 27.
    Adsorbsi Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 27  sifat adsorbsi pada partikel koloid adalah : partikel koloid dapat menyerap ion pada permukaannya. Penyerapan terhadap partikel atau ion ini menyebabkan partikel koloid menjadi bermuatan.  Koloid positif mengadsorpsi kation. Koloid negatif mengadsorpsi anion.  Contoh adsorpsi: Sol Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap/mengadsorpsi ion H+ dan Fe3+ .Sol As2S3 bermuatan negatif dan mengadsorpsi ion S2- . Sol AgCl bermuatan positif bila mengadsorpsi ion Ag+ dan bermuatan negatif bila mengadsorpsi ion Cl-
  • 28.
    Sifat Elektrik →elektroforesis Iin Lidia Putama Mursal, M.Si 28  Partikel koloid dapat terionisasi menghasilkan ion positif dan ion negatif  Elektroforesis adalah gerakan partikel koloid karena dipengaruhi oleh medan listrik.  Muatan koloid dapat ditentukan dengan memberi medan listrik di sekitar koloid. Koloid positif akan bergerak ke katoda atau elektroda negatif koloid negatif akan bergerak ke anoda atau elektroda positif.  Elektroforesis dapat digunakan untuk menetukan muatan koloid
  • 29.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 29 Koagulasi Koagulasi adalah pengggumpalan partikel koloid akibat hilangnya muatan koloid. Koagulasi dapat disebabkan oleh :  Pencampuran koloid beda muatan  Penambahan elektrolit Elektrolit dapat menetralkan koloid dan menyebabkan koagulasi. Koagulasi terjadi bila koloid positif ditambah elektrolit yang lebih negatif, dan koloid negatif ditambah elektrolit yang lebih positif.  Elektroforesis Koloid yang bermuatan negative akan digumpalkan di anoda dan koloid yang bermuatan positif akan digumpalkan di katoda
  • 30.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 30 Koloid dengan partikel yang bermuatan negatif Contoh Proses Koagulasi dengan penambahan partikel yang berbeda muatan : Ditambahkan ion- ion 𝑁𝑎+ (bermuatan positif) Partikel-partikel sistem koloid menjadi netral Partikel koloid menggumpal dan mengendap (terkoagulasi)
  • 31.
    Iin Lidia PutamaMursal, M.Si 31 Contoh Proses Koagulasi dengan elektroforesis : koagulasi