esiapsiagaan
Penyakit Mulut
dan Kuku
Drh. Tri Satya Putri Naipospos, MPhil PhD
Komisi Ahli Kesehatan Hewan, Kesehatan
Masyarakat Veteriner dan Karantina Hewan
K
Rapat Koordinasi Kesiagaan PMK di Pulau Sulawesi, Maluku dan Maluku Utara
Balai Besar Veteriner Maros, Makassar, 30-31 Juni 2022
Penyakit mulut dan kuku: penyakit PALING
MENULAR pada hewan
Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit hewan
utama yang menjadi hambatan perdagangan global dari
hewan dan produk hewan.
Beberapa kejadian wabah PMK yang tercatat adalah
wabah PMK terhebat di Inggris (2001), di Korea Selatan
(2010-2011), dan Jepang (2010).
Mortalitas bisa rendah tetapi morbiditas tinggi.
Mortalitas tinggi dikaitkan dengan sejumlah strain dan
beberapa metode pengendalian.
PMK menyebabkan infeksi persisten (status carrier)
pada sapi.
Wabah PMK di Inggris
Wabah PMK di Korsel
Wabah PMK di Jepang
Bagaimana PMK menyebar?
PMK sangat menular, virus dapat menyebar ke hewan yang sehat melalui:
• kontak langsung atau tidak langsung dengan hewan terinfeksi, cairan dari lepuh,
darah, air liur, susu atau kotoran kandang, atau kontak dengan permukaan
(misalnya truk, tempat pemuatan ternak, dan jalan) di mana virus ada;
• pakan yang terbuat dari bahan-bahan yang berasal dari hewan yang terinfeksi, atau
pakan yang kontak dengan hewan yang terinfeksi;
• kontak dengan alas kaki, pakaian atau peralatan yang terkontaminasi dengan
virus;
• kontak dengan virus yang bercampur dengan udara (airborne);
• dibawah kondisi iklim yang menguntungkan, PMK dapat tersebar cukup jauh
dengan rute ini.
Sumber: Foot-and-Mouth Disease - Information for Travellers - Canadian Food Inspection Agency (canada.ca) 3
Penularan tidak langsung
Penularan tidak langsung (indirect transmission) lewat lingkungan yang terkontaminasi
dapat terjadi untuk sejumlah patogen berbahaya, bahkan yang biasanya dianggap menular
langsung (direct transmission), termasuk virus PMK.
Penularan tidak langsung memfasilitasi penyebaran dari berbagai sumber di luar hospes
infeksius, mempersulit epidemiologi dan pengendalian PMK.
Angka reproduksi dasar (Ro) untuk virus PMK untuk penularan dari lingkungan dalam
kondisi eksperimental diperkirakan mencapai 1,65 – menunjukkan bahwa penularan dari
lingkungan saja dapat menyebabkan wabah terus berlanjut.
Perkiraan tingkat destruksi virus menunjukkan bahwa virus PMK bertahan hidup di
lingkungan sampai 14 hari, menekankan pentingnya prosedur biosekuriti yang ketat pada
saat wabah PMK dan rancangan langkah-langkah pengendalian yang mencerminkan sifat
biologis patogen.
Sumber: Colenutt et al. 2020. Quantifying the Transmission of Foot-and-Mouth
Disease Virus in Cattle via a Contaminated Environment. mBio 11:e00381-20. 4
Penularan PMK pada hewan
● Pembawa (carrier) virus
PMK didefinisikan
sebagai “hewan yang
sembuh atau divaksinasi
yang telah terpapar, di
mana virus PMK bertahan
dalam nasofaring selama
lebih dari 28 hari.”
– Carrier berpotensi
menginfeksi hewan
yang rentan.
Spesies Hospes Carrier
Kambing
Domba
Hospes pemelihara
(maintenance host)
Jaringan faringeal
4 – 6 bulan
Babi
Hospes penguat
(amplifier host)
Tidak
Sapi
Indikator penyakit
(indicator host)
Jaringan faringeal
6 – 24 bulan
5
Ekskresi dan sekresi virus PMK
Urin (7 hari)
Feses (5 hari)
Cairan vagina
Foetus aborsi
Cucian embrio
Kulit mengering
Susu (5 hari)
Semen (10 hari)
Saliva (11 hari)
Cairan
Hidung (7 hari)
Vesikel mulut
Hembusan nafas
Vesikel pada kaki
yang pecah
Vesikel pada kaki
yang pecah
6
• Virus PMK keluar (shedding) dari semua sekresi dan ekskresi hewan yang terinfeksi.
• Ekskresi virus menurun dengan munculnya antibodi spesifik PMK sekitar 4 – 5 hari setelah infeksi.
Durasi ekskresi
maksimum (hari)
Mengapa PMK sangat menular pada sapi?
Di antara semua spesies, sapi menghasilkan pada umumnya jumlah partikel virus infeksius
yang paling besar dan merupakan sumber utama penyebaran PMK.
Jumlah unit infeksius yang diekskresikan oleh satu sapi terinfeksi PMK dapat dengan
mudah melebihi 1010 (10 miliar), oleh karena itu sapi merupakan sumber utama kontaminasi
PMK pada lingkungan.
Puncak infektivitas pada sapi hanyalah pada saat sebelum atau selama perkembangan lesi.
Infektivitas jauh berkurang 3-4 hari setelah lesi berkembang. Sejumlah strain virus
beradaptasi dengan hospes (host adapted).
Ketika kelompok ternak yang rentan terpapar kurang dari dosis infektif minimal virus PMK,
setidaknya salah satu hewan dalam kelompok dapat terinfeksi saat mulainya wabah.
Jumlah total virus infeksius dari aerosol, air liur, jaringan lesi, urin, feses, dan susu
setidaknya satu magnituda lebih tinggi untuk sapi daripada babi dan beberapa magnituda
lebih tinggi untuk sapi daripada domba.
Sumber: Olascoaga and Sutmoller (2016). Risk Management of Foot and Mouth Disease. 7
Kilas balik wabah PMK di Indonesia (1887-1983)
Jawa Timur, DKI Jakarta,
Jawa Barat, DI Yogyakarta
1887-1889
Jawa Timur, Aceh, Banten
1892
1902
1907
1911
1913-1914
1906
Sulawesi Selatan
Kalimantan, Pulau Madura
Sulawesi Selatan,
Sumatera Utara
Nusa Tenggara Barat
(Pulau Lombok)
Pulau Madura, Jawa Timur
(kabupaten lainnya)
1926-1929
Jawa Tengah, Jawa Timur,
Kalimantan
Jawa Timur
1952
Bali, Sumatera Utara, Lampung,
Sumatera Selatan, Bengkulu,
Jambi, Sumatera Barat, Sulawesi
Selatan, Sulawesi Utara
1962-1966
1971-1976 (sporadik)
1983
Jawa Barat, Jawa Timur (Pulau
Madura), DKI Jakarta, Bali,
Sulawesi Selatan, Kalimantan
Timur, Kalimantan Barat
Jawa Tengah (Blora)
8
Peta zonasi PMK selama eradikasi PMK
ZONA BEBAS:
o NTB
o NTB
o PAPUA
o MALUKU
o TIMOR TIMOR
ZONA TERDUGA:
o KALIMANTAN
o SUMATERA
o SULAWESI
ZONA TERTULAR:
o JAWA
o BALI
o SULAWESI
SELATAN
MALUKU
TIMOR
JAWA
SUMATERA
BALI
MADURA
KALIMANTAN
NUSA TENGGARA
SULAWESI
PAPUA
ZONA TERTULAR PMK
ZONA TERDUGA PMK
ZONA BEBAS PMK
LUAR INDONESIA
9
Sejarah virus PMK di Indonesia
Dua tipotipe Indonesia: Diberi nama Indonesia-1 (ISA-1) dan Indonesia-2 (ISA-2).
Topotipe ISA-1 terdiri dari 3 virus yang diisolasi pada 1962, 1974 dan 1983, sedangkan
topotipe ISA-2 mengandung 2 virus yang sangat terkait erat dengan virus dari 1972 dan
1974. Ke-2 topotype tersebut sudah dianggap punah.
Virus Asal geografis Tanggal ditemukan Spesies Topotipe Database
O/ISA/1/62 Bali Juli 1962 Sapi ISA-1 AJ303500
O/JAV/5/72 Jawa 1972 TD ISA-2 AJ303509
O/ISA/1/74 Bali 1974 Sapi ISA-2 AJ303501
O/ISA/974 Bali November 1974 Sapi ISA-1 AJ303502
O/ISA/8/83 Jawa Timur 1983 Sapi ISA-1 AJ303503
Sumber: Samuel and Knowles (2001). Journal of General Virology, 82, 609–621. 10
Pola penyebaran PMK (1887-1983)
Penyebaran PMK di Indonesia adalah mengikuti pola lalu lintas dan perdagangan
ternak (sama dengan pola penyebaran PMK saat ini).
Daerah yang berperan sebagai sumber penularan adalah Jawa Timur. Jawa Timur
adalah daerah pertama terjangkit PMK dan merupakan sumber penyakit ke daerah
lainnya seperti ke Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan, Sulawesi dan Pulau Lombok
(seiring dengan sapi perah yang dikirim untuk memenuhi kebutuhan konsumsi susu).
Begitu juga pada wabah 1960-1970-an, penyebaran ke daerah lain seperti Sumatera
Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat.
Wabah di Pulau Lombok dan Bali adalah sebagai akibat dari penyelundupan ternak,
bukan karena penyebaran ternak secara resmi.
Sumber: Direktorat Kesehatan Hewan (1985). Penyakit Mulut dan Kuku di Indonesia. Berbagai Aspek dan Pengendaliannya.
11
Kilas balik pemberantasan PMK (1974-1982)
Zona bebas: tindak karantina yang ketat dan larangan terhadap lalu lintas ternak, produk
ternak dan hasil olahannya dari daerah tertular dan tersangka.
Zona terduga: monitoring dan surveilans untuk memastikan ada tidaknya kasus PMK.
Zona tertular: vaksinasi masal yang dilaksanakan bertahap 3 kali selama 3 tahun, terdiri
dari 2 (dua) cara yaitu sistim ‘Crash Programme’ (CP) dan ‘Low Speed Programme’ (LSP).
Sistim ‘Crash Programme’ (CP) adalah pelaksanaan vaksinasi masal, serentak dan
menyeluruh di suatu wilayah secara intensif dan masif. Daerahnya adalah Bali, Jawa Timur
dan Sulawesi Selatan.
Sistim ‘Low Speed Programme’ (LSP) adalah pelaksanaan vaksinasi secara bertahap
dengan kemampuan sendiri, sesuai dengan prioritas dan sarana yang ada. Daerahnya
adalah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sistim LSP kemudian diubah menjadi sistim CP.
Bantuan sarana, berupa vaksin, peralatan (spuit, ear tag, kanula, kulkas, cool room dan
kendaraan) diterima dari Pemerintah Australia.
Sumber: Direktorat Kesehatan Hewan (1985). Penyakit Mulut dan Kuku di Indonesia. Berbagai Aspek dan Pengendaliannya. 12
https://www.siagapmk/id
Wabah
PMK
saat
ini
22 provinsi
terdampak
Identifikasi daerah tertular PMK
April s/d Juni 2022
(3 bulan)
• Penetapan daerah wabah untuk seluruh
kabupaten tertular (merah) sangat penting
untuk identifikasi asal ternak dan
keamanan lalu lintas ternak.
Seluruh kabupaten di Jatim & Jateng tertular
Seluruh provinsi di
Sumatera tertular
Deteksi virus: O/ME-SA/Ind-2001e
14
Kenaikan kasus PMK eksponensial
Sumber: Satgas PMK. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.
‘Under reporting’
15
Situasi wabah PMK saat ini (April-Juni 2022)
Data dan pelaporan:
• Data sangat mungkin ‘under reporting’ (tidak dilaporkan sebenarnya).
• Peternak tidak melaporkan kasus PMK di peternakannya.
• Tidak semua pelaporan masuk ke sistim informasi i-SKIHNAS.
Profil peternakan sapi, kerbau, kambing, domba dan babi di tingkat provinsi.
• Jumlah peternak dan kepemilikan ternak di tingkat kabupaten sulit didapat.
• Jenis peternakan (pembibitan atau penggemukan) diperlukan.
Lalu lintas ternak:
• Data lalu lintas ternak menjadi bagian dari pengendalian penyebaran di lapangan.
• Ternak yang memiliki atau yang tidak memiliki SKKH tidak tercatat.
• Perdagangan ternak ilegal (penyelundupan) masih terus terjadi.
• Sulit untuk mengidentifikasi dan menganalisis ‘rantai suplai’ (supply chain) dalam situasi
di mana pembatasan lalu lintas tidak berjalan ketat dan tidak terkendali.
• Rantai pasar setelah Idul Adha akan tidak sama seperti sebelum Idul Adha.
16
Perdagangan sapi
antar pulau
Pada saat wabah PMK, terjadi
perubahan atau pergesaran rantai
pasar, karena:
1. Kebutuhan daging meningkat menjelang
hari Idul Adha;
2. Peta sebaran PMK terutama ada di
wilayah barat Indonesia;
3. Daerah sumber ternak seperti Nusa
Tenggara Timur, Sulawesi Selatan yang
masih dianggap bebas PMK.
Berita diambil dari ANTARA News Kupang, Nusa Tenggara Timur
17
Rantai pasar
sapi di
Indonesia
Peternak Kecil
Pembibitan
Peternak Kecil
Penggemukan
Pedagang
Pengumpul Desa
Pedagang Antar
Kabupaten
Kabupaten
Lain
Pedagang Antar
Provinsi / Pulau Provinsi Lain
Impor Sapi
Hidup
Feedlot
Kulit Mentah Ke
Penyamakan Pemotongan
Sumber: Modifikasi dari USDA (2007). A Value Chain
Assessment of The Livestock Sector In Indonesia.
Ada 2 (dua) alur:
(1) Alur sapi dari
peternak kecil di luar
Jawa; dan
(2) Alur sapi dari luar
negeri (sebagian
besar dari Australia).
Risiko tertular PMK
18
Distribusi Populasi sapi potong di Indonesia (2021)
19,7%
41,9%
3,0%
3,3%
14,3%
15,5%
1,0%
1,2%
POPULASI = 18.053.710 EKOR
Sumber pemenuhan daging nasional:
1. Potensi lokal: 436.704 ton (62%)
2. Impor daging: 162.338 ton (23%)
3. Impor bakalan: 107.346 ton (15%)
Sumber: BPS; Presentasi Didiek Purwanto (Ketua ISPI). 1 April 2022.
Lalu lintas sapi dan kambing umumnya
dari timur ke barat
19
Distribusi Populasi sapi perah di Indonesia (2019)
98,4%
POPULASI = 565.001 EKOR
Sumber: BPS
20
Sumber: Presentasi Didiek Purwanto (Ketua ISPI). 1 April 2022.
Wilayah minim produksi sapi; kebutuhan
jauh melebihi produksi
Wilayah sedang produksi sapi; produksi
dan kebutuhan berimbang
Wilayah sentra produksi sapi; produksi
melebihi kebutuhan
Peta wilayah penyebaran
produksi dan perdagangan sapi
antar wilayah di Indonesia
21
Jalur perdagangan sapi
Kapal angkut ternak yang dikirim antar pulau
pada saat wabah PMK:
• Kapal pengangkut sebelum kembali ke daerah
asal harus dilakukan pembersihan dan
disinfeksi (sebagai bagian dari biosekuriti rantai
suplai).
Prinsip pengendalian wabah PMK apabila
deteksi dini bisa dilakukan
Hentikan produksi virus PMK oleh hewan yang terinfeksi dengan pemusnahan (stamping-
out) secara cepat semua hewan yang terinfeksi dan terpapar di tempat-tempat yang positif
tertular dan melakukan disposal karkas.
Pengurangan ekskresi virus (virus shedding) dengan melakukan vaksinasi daerah-daerah
yang berisiko tinggi, terutama babi yang menjadi ekskretor virus aerosol.
Hilangkan virus dengan dekontaminasi peternakan, kendaraan, peralatan dan material atau
dengan melakukan disposal material yang terkontaminasi, dan diikuti dengan prinsip
‘biocontainment’ lainnya.
Lakukan surveilans terhadap semua peternakan yang terduga terinfeksi (penelusuran atau
kedekatan geografis) dengan evaluasi klinis, serologis, atau virulogis untuk deteksi dini
sumber virus PMK. ‘Biocontainment’ adalah aplikasi tindakan-tindakan untuk membatasi penularan
di dalam peternakan dan mencegah penyebaran patogen di antara kelompok di
dalam peternakan dam penyebarannya lebih lanjut ke peternakan lain. 23
Tindakan pengendalian awal wabah PMK (hanya
apabila deteksi dini bisa dilakukan)
“Standstill” (tidak
bergerak, lockdown):
pembatasan
pergerakan ternak.
“Stamping-out”
pada peternakan
tertular.
Tetapkan zona
proteksi 3 km dan
zona surveilans 10
km.
Surveilans aktif
(penelusuran/tracing).
1 2
3 4
24
Apakah kita bisa menggunakan ‘standstill order’?
Dari aspek teknis, jika wabah PMK terjadi, maka dikenal pemberlakuan ‘standstill order’ artinya
semua pergerakan hewan rentan (babi, sapi, domba, kambing, rusa, unta dan kerbau) akan
dilarang dengan segera, sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Hewan rentan harus tidak diizinkan bergerak ke wilayah manapun ketika ‘standstill order’
dijalankan – meskipun hewan tidak terlihat sakit atau PMK belum terdeteksi di wilayah tersebut.
‘Standstill order’ diimplementasikan untuk jangka waktu tertentu. Australia, Selandia Baru,
Amerika Serikat dan Kanada menerapkan 72 jam sampai dinyatakan wabah terkendali atau
dilakukan penilaian risiko (risk assessment).
Pemerintah dan industri memerlukan dukungan dari setiap anggota industri ternak untuk
membuat “standstill order” menjadi efektif.
Setiap orang yang terlibat dalam rantai suplai ternak (supply chain) perlu memahami bagaimana
“standstill order” bekerja dan mematuhi persyaratan “standstill”, meliputi pemilik ternak,
transporter, agen produksi, pekerja RPH, pasar hewan dan pengusaha sapi potong (feedlotter).
25
Tidak lagi, sudah terlambat
Apakah saat ini kita bisa melakukan ‘stamping out’?
Stamping out (pemusnahan menyeluruh) adalah strategi yang diakui dan terbukti dapat
menghilangkan dengan cepat penyakit eksotis atau penyakit ternak darurat lainnya.
Definisi menurut OIE: kebijakan yang dirancang untuk menghentikan wabah dengan
melaksanakan tindakan yang berada di bawah kewenangan dari Otoritas Veteriner yaitu:
1. Pembunuhan hewan yang terinfeksi PMK dan hewan yang diduga terinfeksi dalam
satu kelompok atau flok dan jika diperlukan, begitu juga hewan yang berada dalam
kelompok atau flok lain yang telah terpapar oleh kontak langsung hewan ke hewan,
atau kontak tidak langsung dengan agen patogen penyebab juga harus dibunuh.
2. Disposal karkas (jika relevan, termasuk produk hewan) harus dilakukan dengan
‘rendering’, pembakaran atau penguburan atau metoda lainnya.
3. Pembersihan dan disinfeksi peternakan sesuai prosedur.
Sumber: Terrestrial Code Online Access - WOAH - World Organisation for Animal Health. 26
Tidak bisa lagi, kasus sudah meluas, kecuali daerah terinfeksi baru
‘Stamping out’ bisa dilakukan di daerah bebas
‘Stamping out’ dilakukan pada daerah di mana kasus PMK telah diidentifikasi, diisolasi dan
jumlah hewan yang terinfeksi masih sedikit.
Persyaratan pelaksanaan ‘stamping out’ adalah:
a. Pelaksanaan dilakukan di mana ada muncul kasus infeksi baru PMK di daerah bebas;
b. Identifikasi peternakan yang terinfeksi dan peternakan yang kontak;
c. Pembunuhan langsung semua hewan peka baik di peternakan terinfeksi dan hewan
yang kontak di seluruh area yang terinfeksi;
d. Metoda pembunuhan dengan euthanasia atau sesuai dengan pedoman WOAH/FAO.
e. Disposal yang aman dari karkas dan material yang berpotensi terinfeksi dengan cara
menguburnya dalam lubang di dalam tanah yang tidak dekat dengan sumber air;
f. Disinfeksi dan pembersihan seluruh alat berat, kendaraan dan peralatan yang
digunakan.
Sumber: FAO Animal Health Manual No 12. “Manual on Procedures for Disease Eradication by Stamping Out”. 27
Karantina dan pengendalian lalu lintas ternak
pada saat wabah PMK
Pada saat wabah PMK, karantina dan pengendalian lalu lintas merupakan kegiatan penting
untuk suatu upaya respons yang efektif.
Dengan membatasi pergerakan hewan yang terinfeksi, produk hewan dan fomit, maka
karantina dan pengendalian lalu lintas memainkan peran yang signifikan dalam menghentikan
penyebaran PMK.
Pengendalian lalu lintas dapat berupa:
a. Penutupan sementara pasar hewan, tetapi memonitor dan mengawasi penjualan
informal yang akan terjadi sebagai konsekuensi dari penutupan tersebut;
b. Pembatasan pergerakan hewan antar desa dengan hanya mengizinkan hewan yang
akan dikirim untuk kepentingan pemotongan ke RPH;
c. Penutupan lalu lintas kabupaten dengan hanya mengizinkan untuk:
i. Hewan yang akan dipotong di RPH; dan
ii. Hewan yang akan dilalulintaskan dengan hasil uji negatif terhadap NSP ELISA.
28
Penutupan sementara pasar hewan pada saat wabah
Solopos.com, KLATEN — Pascaditutup selama lebih dari satu bulan,
Pemkab Klaten kembali membuka pasar hewan di wilayah setempat
mulai, Rabu (29/6/2022). Di waktu sebelumnya, penutupan pasar hewan
ditujukan mencegah persebaran penyakit mulut dan kuku (PMK).
’Jalur ternak kita batasi, Kabupaten Klaten hanya menerima
hewan dari Klaten saja, kita kerja sama dengan para blantik,''
jelas Mulyani. Dia mengimbau, kebijakan itu ditaati semua
pedagang dan masyarakat, sebab jika terjadi penyebaran PMK
yang rugi juga pedagang sendiri.
Persyaratan pengiriman sapi ke RPH saat
wabah PMK
Tidak ada ternak di peternakan asal yang menunjukkan gejala
klinis PMK setidaknya 30 hari sebelum dilalu lintaskan.
Ternak dipelihara di tempat asal setidaknya 3 bulan sebelum
diangkut.
Tidak ada PMK yang muncul dalam radius 10 km di sekitar
peternakan asal setidaknya 3 bulan sebelum dilalu lintaskan.
Ternak diangkut di bawah supervisi Otoritas Veteriner, langsung
dari peternakan asal ke RPH dalam kendaraan pengangkut yang
telah dibersihkan dan didisinfeksi dan tidak kontak dengan hewan
yang rentan terhadap penyakit.
Kendaraan pengangkut dan RPH dibersihkan dan didisinfeksi
dengan cermat segera setelah digunakan.
30
Surveilans yang diperlukan saat wabah PMK
Surveilans pasif untuk mendeteksi kasus berdasarkan
gejala klinis yang mengarah ke PMK (tidak perlu
konfirmasi laboratorium apabila di satu kabupaten sudah
ditemukan kasus positif laboratorium dengan PCR).
Surveilans aktif untuk populasi yang divaksinasi – apabila
vaksinasi telah dilakukan (tidak bisa bergantung pada
gejala klinis).
Pengujian serologis dengan NSP ELISA untuk memonitor
status kebal (immune status) yang dapat membedakan
antara hewan yang terinfeksi dan vaksinasi (DIVA).
Monitor kemungkinan kejadian serotipe/strain PMK yang
berbeda dengan lebih banyak melakukan pengambilan
sampel dari lapangan.
31
Kesiapsiagaan di daerah bebas PMK
Semua pemilik/pengusaha ternak harus menerapkan tindakan biosekuriti yang ketat di
propertinya, termasuk catatan akurat tentang ternak yang akan dilalu lintaskan (ke pasar, ke
pedagang penampung, peternak lain dlsbnya).
Strategi pencegahan meliputi:
• Tindakan-tindakan yang ditujukan untuk meminimalisir risiko masuk dan menyebarnya
PMK di daerah bebas, dengan mempertimbangkan risiko introduksi yang dinilai
(assessed risk) dan adanya strategi untuk mengurangi risiko tersebut melalui
pengendalian pergerakan ternak lintas batas (transboundary livestock movements).
• Pastikan hanya hewan sehat yang dilalu lintaskan (dengan pemeriksaan fisik dari dokter
hewan, SKKH, dan identifikasi ternak sebelum dilalu lintaskan).
• Lakukan sosialisasi ke stakeholder untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya
lalu lintas ternak dalam penyebaran PMK.
• Peningkatan kesadaran untuk fokus pada risiko lalu lintas ilegal antar pulau.
32
Penguatan fungsi kesehatan hewan
di tingkat kabupaten di semua wilayah
Tingkatkan arus informasi dari lapangan sampai ke pusat, sehingga ada satu sumber data
yang dipercaya (perbaiki arus informasi ke i-SIKHNAS).
Tingkatkan secara berlanjut pelaporan melalui peningkatan kesadaran akan bahaya PMK dan
pemberian insentif (apabila bisa dilakukan).
Laksanakan surveilans aktif untuk memverifikasi status wilayah bebas disertai informasi
epidemiologi yang menjadi dasar untuk penetapan status bebas berdasarkan zona.
Pengendalian lalu lintas dengan basis “kabupaten” mengingat:
• Tingkat kewenangan (pejabat Otoritas Veteriner) ada di tingkat kabupaten;
• SKKH diberikan oleh dokter hewan pemerintah di tingkat kabupaten;
• RPH berlokasi di tingkat kabupaten;
• Cekpoin ada di perbatasan kabupaten dan berada dibawah tanggung jawab kabupaten.
• Pengawasan dan kewenangan penutupan pasar hewan ada di tingkat kabupaten.
33
Pesan kunci untuk stakeholder pada saat
wabah PMK
Untuk Konsumen Untuk produsen ternak
1. PMK bukan ancaman kesehatan
masyarakat.
2. Daging dan produk daging aman
untuk dikonsumsi.
3. Susu dan produk susu aman untuk
dikonsumsi.
1. Lindungi ternak anda dengan
praktik biosekuriti yang baik.
2. Waspada dalam melaporkan
tanda-tanda penyakit.
Sumber: USDA Foot-Mouth Disease Response (November 2015).
34
Kesalahpahaman di antara stakeholder
“Daging masih bisa dikonsumsi asal ada perlakuan
khusus seperti merebus di air mendidih selama sekitar
30 menit untuk membunuh virus PMK”, tanpa disertai
penjelasan lebih lanjut telah banyak menimbulkan
kesalahpahaman karena hal ini ditujukan sebenarnya
untuk mencegah penyebaran PMK ke hewan melalui
sisa-sisa makanan (swill feeding) yang diberikan ke babi.
"Jeroan dan bagian mulut seperti bibir dan lidah ternak yang terkena PMK tidak bisa
dikonsumsi. Tapi yang lain masih bisa direkomendasikan, dagingnya pun masih bisa
dimakan“ menimbulkan kesalahpahaman karena yang dimaksugd dengan memasak
daging maka hal ini akan mencegah penyebaran ke hewan lain terutama peternak babi
yang biasa memberi ternaknya dengan sisa-sisa makanan (swill feeding).
Sumber: FAO Mission Debriefing FMD Indonesia (20 June 2022). 35
Identifikasi stakeholder kesiapsiagaan PMK
1. Peternak skala kecil (98%)
2. Peternak skala menengah dan besar
komersial
3. Asosiasi peternak dan pedagang ternak
4. Asosiasi peternak domba dan kambing
5. Asosiasi peternak sapi perah
6. Asosiasi pedagang sapi
7. Asosiasi produsen daging dan feedlot
8. Asosiasi obat hewan
9. Produsen obat hewan dan vaksin
9. Pengusaha industri pangan asal hewan
10. Dokter hewan swasta yang bekerja pada
produsen hewan besar
11. Paramedik dan petugas IB
12. Penyuluh pertanian
13. Akademisi peternakan dan kesehatan
hewan
14. Konsumen (masyarakat secara
keseluruhan)
15. Lain-lain.
36
Komunikasi publik tentang PMK
Sumberdaya yang paling penting dalam pencegahan PMK (atau setiap penyakit ternak lainnya)
adalah pemilik ternak atau pengusaha/manajer peternakan.
Pemilik ternak di semua tingkat produksi, agen penjualan dan pedagang harus dibiasakan dengan
pemahaman dasar PMK, termasuk mengenali tanda-tanda penting penyakit.
Kebutuhan akan tindakan segera, bagaimana dan di mana mencari bantuan jika mereka
mencurigai penyakit ini.
Ini dapat dicapai dengan sosialisasi atau penyuluhan yang intensif, menggunakan media yang
mudah dipahami, sangat visual, dan sebagai pengingat yang konstan mengenai PMK dan
pentingnya penyakit ini.
Jalur komunikasi harus dibangun antara pemilik ternak dan Dinas yang membidangi fungsi
kesehatan hewan setempat, menggunakan perangkat desa dan penyuluh pertanian sebagai
perantara (juga harus diberitahu tentang PMK).
Para peternak dan/atau penggembala yang melihat ternaknya setiap hari, dan mereka yang
terinformasi dengan baik merupakan sumberdaya surveilans di garis depan untuk penyakit hewan.
37
Komunikasi dengan pedagang ternak
Dalam situasi wabah PMK, direkomendasikan untuk membangun
hubungan yang lebih dekat antara Dinas yang membidangi fungsi
kesehatan hewan dengan pedagang ternak (pedagang
penampung desa, antar kabupaten, antar provinsi, pedagang
antar pulau) yang membawa ternak melewati perbatasan wilayah.
Hal ini harus mencakup kampanye edukasi mengenai bahaya
PMK dan penyakit hewan lintas batas yang serius lainnya.
Kerja sama dengan pedagang ternak mengarah kepada
bagaimana mendorong penerapan prosedur karantina yang
praktis dan biaya terjangkau, tetapi dapat mencegah penularan
PMK dan juga tempat di mana surveilans pasif penyakit
(pelaporan cepat gejala klinis) dapat dilakukan.
38
alam merespons wabah PMK di
wilayah barat (Jawa, Sumatera dan
Kalimantan), seluruh dinas di wilayah
timur harus waspada, meningkatkan
kesadaran peternak dan pedagang
ternak, terutama di mana risiko
masuknya PMK tinggi baik karena
perdagangan legal maupun ilegal.
D
Terima kasih
tata.naipospos@gmail.com
tata_naipospos@yahoo.com
www.civas.net

Kesiapsiagaan Penyakit Mulut dan Kuku - Rapat Koordinasi Balai Besar Veteriner Maros, Makassar, Sulawesi Selatan, 30 Juni 2022

  • 1.
    esiapsiagaan Penyakit Mulut dan Kuku Drh.Tri Satya Putri Naipospos, MPhil PhD Komisi Ahli Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Karantina Hewan K Rapat Koordinasi Kesiagaan PMK di Pulau Sulawesi, Maluku dan Maluku Utara Balai Besar Veteriner Maros, Makassar, 30-31 Juni 2022
  • 2.
    Penyakit mulut dankuku: penyakit PALING MENULAR pada hewan Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit hewan utama yang menjadi hambatan perdagangan global dari hewan dan produk hewan. Beberapa kejadian wabah PMK yang tercatat adalah wabah PMK terhebat di Inggris (2001), di Korea Selatan (2010-2011), dan Jepang (2010). Mortalitas bisa rendah tetapi morbiditas tinggi. Mortalitas tinggi dikaitkan dengan sejumlah strain dan beberapa metode pengendalian. PMK menyebabkan infeksi persisten (status carrier) pada sapi. Wabah PMK di Inggris Wabah PMK di Korsel Wabah PMK di Jepang
  • 3.
    Bagaimana PMK menyebar? PMKsangat menular, virus dapat menyebar ke hewan yang sehat melalui: • kontak langsung atau tidak langsung dengan hewan terinfeksi, cairan dari lepuh, darah, air liur, susu atau kotoran kandang, atau kontak dengan permukaan (misalnya truk, tempat pemuatan ternak, dan jalan) di mana virus ada; • pakan yang terbuat dari bahan-bahan yang berasal dari hewan yang terinfeksi, atau pakan yang kontak dengan hewan yang terinfeksi; • kontak dengan alas kaki, pakaian atau peralatan yang terkontaminasi dengan virus; • kontak dengan virus yang bercampur dengan udara (airborne); • dibawah kondisi iklim yang menguntungkan, PMK dapat tersebar cukup jauh dengan rute ini. Sumber: Foot-and-Mouth Disease - Information for Travellers - Canadian Food Inspection Agency (canada.ca) 3
  • 4.
    Penularan tidak langsung Penularantidak langsung (indirect transmission) lewat lingkungan yang terkontaminasi dapat terjadi untuk sejumlah patogen berbahaya, bahkan yang biasanya dianggap menular langsung (direct transmission), termasuk virus PMK. Penularan tidak langsung memfasilitasi penyebaran dari berbagai sumber di luar hospes infeksius, mempersulit epidemiologi dan pengendalian PMK. Angka reproduksi dasar (Ro) untuk virus PMK untuk penularan dari lingkungan dalam kondisi eksperimental diperkirakan mencapai 1,65 – menunjukkan bahwa penularan dari lingkungan saja dapat menyebabkan wabah terus berlanjut. Perkiraan tingkat destruksi virus menunjukkan bahwa virus PMK bertahan hidup di lingkungan sampai 14 hari, menekankan pentingnya prosedur biosekuriti yang ketat pada saat wabah PMK dan rancangan langkah-langkah pengendalian yang mencerminkan sifat biologis patogen. Sumber: Colenutt et al. 2020. Quantifying the Transmission of Foot-and-Mouth Disease Virus in Cattle via a Contaminated Environment. mBio 11:e00381-20. 4
  • 5.
    Penularan PMK padahewan ● Pembawa (carrier) virus PMK didefinisikan sebagai “hewan yang sembuh atau divaksinasi yang telah terpapar, di mana virus PMK bertahan dalam nasofaring selama lebih dari 28 hari.” – Carrier berpotensi menginfeksi hewan yang rentan. Spesies Hospes Carrier Kambing Domba Hospes pemelihara (maintenance host) Jaringan faringeal 4 – 6 bulan Babi Hospes penguat (amplifier host) Tidak Sapi Indikator penyakit (indicator host) Jaringan faringeal 6 – 24 bulan 5
  • 6.
    Ekskresi dan sekresivirus PMK Urin (7 hari) Feses (5 hari) Cairan vagina Foetus aborsi Cucian embrio Kulit mengering Susu (5 hari) Semen (10 hari) Saliva (11 hari) Cairan Hidung (7 hari) Vesikel mulut Hembusan nafas Vesikel pada kaki yang pecah Vesikel pada kaki yang pecah 6 • Virus PMK keluar (shedding) dari semua sekresi dan ekskresi hewan yang terinfeksi. • Ekskresi virus menurun dengan munculnya antibodi spesifik PMK sekitar 4 – 5 hari setelah infeksi. Durasi ekskresi maksimum (hari)
  • 7.
    Mengapa PMK sangatmenular pada sapi? Di antara semua spesies, sapi menghasilkan pada umumnya jumlah partikel virus infeksius yang paling besar dan merupakan sumber utama penyebaran PMK. Jumlah unit infeksius yang diekskresikan oleh satu sapi terinfeksi PMK dapat dengan mudah melebihi 1010 (10 miliar), oleh karena itu sapi merupakan sumber utama kontaminasi PMK pada lingkungan. Puncak infektivitas pada sapi hanyalah pada saat sebelum atau selama perkembangan lesi. Infektivitas jauh berkurang 3-4 hari setelah lesi berkembang. Sejumlah strain virus beradaptasi dengan hospes (host adapted). Ketika kelompok ternak yang rentan terpapar kurang dari dosis infektif minimal virus PMK, setidaknya salah satu hewan dalam kelompok dapat terinfeksi saat mulainya wabah. Jumlah total virus infeksius dari aerosol, air liur, jaringan lesi, urin, feses, dan susu setidaknya satu magnituda lebih tinggi untuk sapi daripada babi dan beberapa magnituda lebih tinggi untuk sapi daripada domba. Sumber: Olascoaga and Sutmoller (2016). Risk Management of Foot and Mouth Disease. 7
  • 8.
    Kilas balik wabahPMK di Indonesia (1887-1983) Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta 1887-1889 Jawa Timur, Aceh, Banten 1892 1902 1907 1911 1913-1914 1906 Sulawesi Selatan Kalimantan, Pulau Madura Sulawesi Selatan, Sumatera Utara Nusa Tenggara Barat (Pulau Lombok) Pulau Madura, Jawa Timur (kabupaten lainnya) 1926-1929 Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Jawa Timur 1952 Bali, Sumatera Utara, Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara 1962-1966 1971-1976 (sporadik) 1983 Jawa Barat, Jawa Timur (Pulau Madura), DKI Jakarta, Bali, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat Jawa Tengah (Blora) 8
  • 9.
    Peta zonasi PMKselama eradikasi PMK ZONA BEBAS: o NTB o NTB o PAPUA o MALUKU o TIMOR TIMOR ZONA TERDUGA: o KALIMANTAN o SUMATERA o SULAWESI ZONA TERTULAR: o JAWA o BALI o SULAWESI SELATAN MALUKU TIMOR JAWA SUMATERA BALI MADURA KALIMANTAN NUSA TENGGARA SULAWESI PAPUA ZONA TERTULAR PMK ZONA TERDUGA PMK ZONA BEBAS PMK LUAR INDONESIA 9
  • 10.
    Sejarah virus PMKdi Indonesia Dua tipotipe Indonesia: Diberi nama Indonesia-1 (ISA-1) dan Indonesia-2 (ISA-2). Topotipe ISA-1 terdiri dari 3 virus yang diisolasi pada 1962, 1974 dan 1983, sedangkan topotipe ISA-2 mengandung 2 virus yang sangat terkait erat dengan virus dari 1972 dan 1974. Ke-2 topotype tersebut sudah dianggap punah. Virus Asal geografis Tanggal ditemukan Spesies Topotipe Database O/ISA/1/62 Bali Juli 1962 Sapi ISA-1 AJ303500 O/JAV/5/72 Jawa 1972 TD ISA-2 AJ303509 O/ISA/1/74 Bali 1974 Sapi ISA-2 AJ303501 O/ISA/974 Bali November 1974 Sapi ISA-1 AJ303502 O/ISA/8/83 Jawa Timur 1983 Sapi ISA-1 AJ303503 Sumber: Samuel and Knowles (2001). Journal of General Virology, 82, 609–621. 10
  • 11.
    Pola penyebaran PMK(1887-1983) Penyebaran PMK di Indonesia adalah mengikuti pola lalu lintas dan perdagangan ternak (sama dengan pola penyebaran PMK saat ini). Daerah yang berperan sebagai sumber penularan adalah Jawa Timur. Jawa Timur adalah daerah pertama terjangkit PMK dan merupakan sumber penyakit ke daerah lainnya seperti ke Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan, Sulawesi dan Pulau Lombok (seiring dengan sapi perah yang dikirim untuk memenuhi kebutuhan konsumsi susu). Begitu juga pada wabah 1960-1970-an, penyebaran ke daerah lain seperti Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat. Wabah di Pulau Lombok dan Bali adalah sebagai akibat dari penyelundupan ternak, bukan karena penyebaran ternak secara resmi. Sumber: Direktorat Kesehatan Hewan (1985). Penyakit Mulut dan Kuku di Indonesia. Berbagai Aspek dan Pengendaliannya. 11
  • 12.
    Kilas balik pemberantasanPMK (1974-1982) Zona bebas: tindak karantina yang ketat dan larangan terhadap lalu lintas ternak, produk ternak dan hasil olahannya dari daerah tertular dan tersangka. Zona terduga: monitoring dan surveilans untuk memastikan ada tidaknya kasus PMK. Zona tertular: vaksinasi masal yang dilaksanakan bertahap 3 kali selama 3 tahun, terdiri dari 2 (dua) cara yaitu sistim ‘Crash Programme’ (CP) dan ‘Low Speed Programme’ (LSP). Sistim ‘Crash Programme’ (CP) adalah pelaksanaan vaksinasi masal, serentak dan menyeluruh di suatu wilayah secara intensif dan masif. Daerahnya adalah Bali, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Sistim ‘Low Speed Programme’ (LSP) adalah pelaksanaan vaksinasi secara bertahap dengan kemampuan sendiri, sesuai dengan prioritas dan sarana yang ada. Daerahnya adalah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sistim LSP kemudian diubah menjadi sistim CP. Bantuan sarana, berupa vaksin, peralatan (spuit, ear tag, kanula, kulkas, cool room dan kendaraan) diterima dari Pemerintah Australia. Sumber: Direktorat Kesehatan Hewan (1985). Penyakit Mulut dan Kuku di Indonesia. Berbagai Aspek dan Pengendaliannya. 12
  • 13.
  • 14.
    22 provinsi terdampak Identifikasi daerahtertular PMK April s/d Juni 2022 (3 bulan) • Penetapan daerah wabah untuk seluruh kabupaten tertular (merah) sangat penting untuk identifikasi asal ternak dan keamanan lalu lintas ternak. Seluruh kabupaten di Jatim & Jateng tertular Seluruh provinsi di Sumatera tertular Deteksi virus: O/ME-SA/Ind-2001e 14
  • 15.
    Kenaikan kasus PMKeksponensial Sumber: Satgas PMK. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. ‘Under reporting’ 15
  • 16.
    Situasi wabah PMKsaat ini (April-Juni 2022) Data dan pelaporan: • Data sangat mungkin ‘under reporting’ (tidak dilaporkan sebenarnya). • Peternak tidak melaporkan kasus PMK di peternakannya. • Tidak semua pelaporan masuk ke sistim informasi i-SKIHNAS. Profil peternakan sapi, kerbau, kambing, domba dan babi di tingkat provinsi. • Jumlah peternak dan kepemilikan ternak di tingkat kabupaten sulit didapat. • Jenis peternakan (pembibitan atau penggemukan) diperlukan. Lalu lintas ternak: • Data lalu lintas ternak menjadi bagian dari pengendalian penyebaran di lapangan. • Ternak yang memiliki atau yang tidak memiliki SKKH tidak tercatat. • Perdagangan ternak ilegal (penyelundupan) masih terus terjadi. • Sulit untuk mengidentifikasi dan menganalisis ‘rantai suplai’ (supply chain) dalam situasi di mana pembatasan lalu lintas tidak berjalan ketat dan tidak terkendali. • Rantai pasar setelah Idul Adha akan tidak sama seperti sebelum Idul Adha. 16
  • 17.
    Perdagangan sapi antar pulau Padasaat wabah PMK, terjadi perubahan atau pergesaran rantai pasar, karena: 1. Kebutuhan daging meningkat menjelang hari Idul Adha; 2. Peta sebaran PMK terutama ada di wilayah barat Indonesia; 3. Daerah sumber ternak seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan yang masih dianggap bebas PMK. Berita diambil dari ANTARA News Kupang, Nusa Tenggara Timur 17
  • 18.
    Rantai pasar sapi di Indonesia PeternakKecil Pembibitan Peternak Kecil Penggemukan Pedagang Pengumpul Desa Pedagang Antar Kabupaten Kabupaten Lain Pedagang Antar Provinsi / Pulau Provinsi Lain Impor Sapi Hidup Feedlot Kulit Mentah Ke Penyamakan Pemotongan Sumber: Modifikasi dari USDA (2007). A Value Chain Assessment of The Livestock Sector In Indonesia. Ada 2 (dua) alur: (1) Alur sapi dari peternak kecil di luar Jawa; dan (2) Alur sapi dari luar negeri (sebagian besar dari Australia). Risiko tertular PMK 18
  • 19.
    Distribusi Populasi sapipotong di Indonesia (2021) 19,7% 41,9% 3,0% 3,3% 14,3% 15,5% 1,0% 1,2% POPULASI = 18.053.710 EKOR Sumber pemenuhan daging nasional: 1. Potensi lokal: 436.704 ton (62%) 2. Impor daging: 162.338 ton (23%) 3. Impor bakalan: 107.346 ton (15%) Sumber: BPS; Presentasi Didiek Purwanto (Ketua ISPI). 1 April 2022. Lalu lintas sapi dan kambing umumnya dari timur ke barat 19
  • 20.
    Distribusi Populasi sapiperah di Indonesia (2019) 98,4% POPULASI = 565.001 EKOR Sumber: BPS 20
  • 21.
    Sumber: Presentasi DidiekPurwanto (Ketua ISPI). 1 April 2022. Wilayah minim produksi sapi; kebutuhan jauh melebihi produksi Wilayah sedang produksi sapi; produksi dan kebutuhan berimbang Wilayah sentra produksi sapi; produksi melebihi kebutuhan Peta wilayah penyebaran produksi dan perdagangan sapi antar wilayah di Indonesia 21 Jalur perdagangan sapi
  • 22.
    Kapal angkut ternakyang dikirim antar pulau pada saat wabah PMK: • Kapal pengangkut sebelum kembali ke daerah asal harus dilakukan pembersihan dan disinfeksi (sebagai bagian dari biosekuriti rantai suplai).
  • 23.
    Prinsip pengendalian wabahPMK apabila deteksi dini bisa dilakukan Hentikan produksi virus PMK oleh hewan yang terinfeksi dengan pemusnahan (stamping- out) secara cepat semua hewan yang terinfeksi dan terpapar di tempat-tempat yang positif tertular dan melakukan disposal karkas. Pengurangan ekskresi virus (virus shedding) dengan melakukan vaksinasi daerah-daerah yang berisiko tinggi, terutama babi yang menjadi ekskretor virus aerosol. Hilangkan virus dengan dekontaminasi peternakan, kendaraan, peralatan dan material atau dengan melakukan disposal material yang terkontaminasi, dan diikuti dengan prinsip ‘biocontainment’ lainnya. Lakukan surveilans terhadap semua peternakan yang terduga terinfeksi (penelusuran atau kedekatan geografis) dengan evaluasi klinis, serologis, atau virulogis untuk deteksi dini sumber virus PMK. ‘Biocontainment’ adalah aplikasi tindakan-tindakan untuk membatasi penularan di dalam peternakan dan mencegah penyebaran patogen di antara kelompok di dalam peternakan dam penyebarannya lebih lanjut ke peternakan lain. 23
  • 24.
    Tindakan pengendalian awalwabah PMK (hanya apabila deteksi dini bisa dilakukan) “Standstill” (tidak bergerak, lockdown): pembatasan pergerakan ternak. “Stamping-out” pada peternakan tertular. Tetapkan zona proteksi 3 km dan zona surveilans 10 km. Surveilans aktif (penelusuran/tracing). 1 2 3 4 24
  • 25.
    Apakah kita bisamenggunakan ‘standstill order’? Dari aspek teknis, jika wabah PMK terjadi, maka dikenal pemberlakuan ‘standstill order’ artinya semua pergerakan hewan rentan (babi, sapi, domba, kambing, rusa, unta dan kerbau) akan dilarang dengan segera, sampai pemberitahuan lebih lanjut. Hewan rentan harus tidak diizinkan bergerak ke wilayah manapun ketika ‘standstill order’ dijalankan – meskipun hewan tidak terlihat sakit atau PMK belum terdeteksi di wilayah tersebut. ‘Standstill order’ diimplementasikan untuk jangka waktu tertentu. Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat dan Kanada menerapkan 72 jam sampai dinyatakan wabah terkendali atau dilakukan penilaian risiko (risk assessment). Pemerintah dan industri memerlukan dukungan dari setiap anggota industri ternak untuk membuat “standstill order” menjadi efektif. Setiap orang yang terlibat dalam rantai suplai ternak (supply chain) perlu memahami bagaimana “standstill order” bekerja dan mematuhi persyaratan “standstill”, meliputi pemilik ternak, transporter, agen produksi, pekerja RPH, pasar hewan dan pengusaha sapi potong (feedlotter). 25 Tidak lagi, sudah terlambat
  • 26.
    Apakah saat inikita bisa melakukan ‘stamping out’? Stamping out (pemusnahan menyeluruh) adalah strategi yang diakui dan terbukti dapat menghilangkan dengan cepat penyakit eksotis atau penyakit ternak darurat lainnya. Definisi menurut OIE: kebijakan yang dirancang untuk menghentikan wabah dengan melaksanakan tindakan yang berada di bawah kewenangan dari Otoritas Veteriner yaitu: 1. Pembunuhan hewan yang terinfeksi PMK dan hewan yang diduga terinfeksi dalam satu kelompok atau flok dan jika diperlukan, begitu juga hewan yang berada dalam kelompok atau flok lain yang telah terpapar oleh kontak langsung hewan ke hewan, atau kontak tidak langsung dengan agen patogen penyebab juga harus dibunuh. 2. Disposal karkas (jika relevan, termasuk produk hewan) harus dilakukan dengan ‘rendering’, pembakaran atau penguburan atau metoda lainnya. 3. Pembersihan dan disinfeksi peternakan sesuai prosedur. Sumber: Terrestrial Code Online Access - WOAH - World Organisation for Animal Health. 26 Tidak bisa lagi, kasus sudah meluas, kecuali daerah terinfeksi baru
  • 27.
    ‘Stamping out’ bisadilakukan di daerah bebas ‘Stamping out’ dilakukan pada daerah di mana kasus PMK telah diidentifikasi, diisolasi dan jumlah hewan yang terinfeksi masih sedikit. Persyaratan pelaksanaan ‘stamping out’ adalah: a. Pelaksanaan dilakukan di mana ada muncul kasus infeksi baru PMK di daerah bebas; b. Identifikasi peternakan yang terinfeksi dan peternakan yang kontak; c. Pembunuhan langsung semua hewan peka baik di peternakan terinfeksi dan hewan yang kontak di seluruh area yang terinfeksi; d. Metoda pembunuhan dengan euthanasia atau sesuai dengan pedoman WOAH/FAO. e. Disposal yang aman dari karkas dan material yang berpotensi terinfeksi dengan cara menguburnya dalam lubang di dalam tanah yang tidak dekat dengan sumber air; f. Disinfeksi dan pembersihan seluruh alat berat, kendaraan dan peralatan yang digunakan. Sumber: FAO Animal Health Manual No 12. “Manual on Procedures for Disease Eradication by Stamping Out”. 27
  • 28.
    Karantina dan pengendalianlalu lintas ternak pada saat wabah PMK Pada saat wabah PMK, karantina dan pengendalian lalu lintas merupakan kegiatan penting untuk suatu upaya respons yang efektif. Dengan membatasi pergerakan hewan yang terinfeksi, produk hewan dan fomit, maka karantina dan pengendalian lalu lintas memainkan peran yang signifikan dalam menghentikan penyebaran PMK. Pengendalian lalu lintas dapat berupa: a. Penutupan sementara pasar hewan, tetapi memonitor dan mengawasi penjualan informal yang akan terjadi sebagai konsekuensi dari penutupan tersebut; b. Pembatasan pergerakan hewan antar desa dengan hanya mengizinkan hewan yang akan dikirim untuk kepentingan pemotongan ke RPH; c. Penutupan lalu lintas kabupaten dengan hanya mengizinkan untuk: i. Hewan yang akan dipotong di RPH; dan ii. Hewan yang akan dilalulintaskan dengan hasil uji negatif terhadap NSP ELISA. 28
  • 29.
    Penutupan sementara pasarhewan pada saat wabah Solopos.com, KLATEN — Pascaditutup selama lebih dari satu bulan, Pemkab Klaten kembali membuka pasar hewan di wilayah setempat mulai, Rabu (29/6/2022). Di waktu sebelumnya, penutupan pasar hewan ditujukan mencegah persebaran penyakit mulut dan kuku (PMK). ’Jalur ternak kita batasi, Kabupaten Klaten hanya menerima hewan dari Klaten saja, kita kerja sama dengan para blantik,'' jelas Mulyani. Dia mengimbau, kebijakan itu ditaati semua pedagang dan masyarakat, sebab jika terjadi penyebaran PMK yang rugi juga pedagang sendiri.
  • 30.
    Persyaratan pengiriman sapike RPH saat wabah PMK Tidak ada ternak di peternakan asal yang menunjukkan gejala klinis PMK setidaknya 30 hari sebelum dilalu lintaskan. Ternak dipelihara di tempat asal setidaknya 3 bulan sebelum diangkut. Tidak ada PMK yang muncul dalam radius 10 km di sekitar peternakan asal setidaknya 3 bulan sebelum dilalu lintaskan. Ternak diangkut di bawah supervisi Otoritas Veteriner, langsung dari peternakan asal ke RPH dalam kendaraan pengangkut yang telah dibersihkan dan didisinfeksi dan tidak kontak dengan hewan yang rentan terhadap penyakit. Kendaraan pengangkut dan RPH dibersihkan dan didisinfeksi dengan cermat segera setelah digunakan. 30
  • 31.
    Surveilans yang diperlukansaat wabah PMK Surveilans pasif untuk mendeteksi kasus berdasarkan gejala klinis yang mengarah ke PMK (tidak perlu konfirmasi laboratorium apabila di satu kabupaten sudah ditemukan kasus positif laboratorium dengan PCR). Surveilans aktif untuk populasi yang divaksinasi – apabila vaksinasi telah dilakukan (tidak bisa bergantung pada gejala klinis). Pengujian serologis dengan NSP ELISA untuk memonitor status kebal (immune status) yang dapat membedakan antara hewan yang terinfeksi dan vaksinasi (DIVA). Monitor kemungkinan kejadian serotipe/strain PMK yang berbeda dengan lebih banyak melakukan pengambilan sampel dari lapangan. 31
  • 32.
    Kesiapsiagaan di daerahbebas PMK Semua pemilik/pengusaha ternak harus menerapkan tindakan biosekuriti yang ketat di propertinya, termasuk catatan akurat tentang ternak yang akan dilalu lintaskan (ke pasar, ke pedagang penampung, peternak lain dlsbnya). Strategi pencegahan meliputi: • Tindakan-tindakan yang ditujukan untuk meminimalisir risiko masuk dan menyebarnya PMK di daerah bebas, dengan mempertimbangkan risiko introduksi yang dinilai (assessed risk) dan adanya strategi untuk mengurangi risiko tersebut melalui pengendalian pergerakan ternak lintas batas (transboundary livestock movements). • Pastikan hanya hewan sehat yang dilalu lintaskan (dengan pemeriksaan fisik dari dokter hewan, SKKH, dan identifikasi ternak sebelum dilalu lintaskan). • Lakukan sosialisasi ke stakeholder untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya lalu lintas ternak dalam penyebaran PMK. • Peningkatan kesadaran untuk fokus pada risiko lalu lintas ilegal antar pulau. 32
  • 33.
    Penguatan fungsi kesehatanhewan di tingkat kabupaten di semua wilayah Tingkatkan arus informasi dari lapangan sampai ke pusat, sehingga ada satu sumber data yang dipercaya (perbaiki arus informasi ke i-SIKHNAS). Tingkatkan secara berlanjut pelaporan melalui peningkatan kesadaran akan bahaya PMK dan pemberian insentif (apabila bisa dilakukan). Laksanakan surveilans aktif untuk memverifikasi status wilayah bebas disertai informasi epidemiologi yang menjadi dasar untuk penetapan status bebas berdasarkan zona. Pengendalian lalu lintas dengan basis “kabupaten” mengingat: • Tingkat kewenangan (pejabat Otoritas Veteriner) ada di tingkat kabupaten; • SKKH diberikan oleh dokter hewan pemerintah di tingkat kabupaten; • RPH berlokasi di tingkat kabupaten; • Cekpoin ada di perbatasan kabupaten dan berada dibawah tanggung jawab kabupaten. • Pengawasan dan kewenangan penutupan pasar hewan ada di tingkat kabupaten. 33
  • 34.
    Pesan kunci untukstakeholder pada saat wabah PMK Untuk Konsumen Untuk produsen ternak 1. PMK bukan ancaman kesehatan masyarakat. 2. Daging dan produk daging aman untuk dikonsumsi. 3. Susu dan produk susu aman untuk dikonsumsi. 1. Lindungi ternak anda dengan praktik biosekuriti yang baik. 2. Waspada dalam melaporkan tanda-tanda penyakit. Sumber: USDA Foot-Mouth Disease Response (November 2015). 34
  • 35.
    Kesalahpahaman di antarastakeholder “Daging masih bisa dikonsumsi asal ada perlakuan khusus seperti merebus di air mendidih selama sekitar 30 menit untuk membunuh virus PMK”, tanpa disertai penjelasan lebih lanjut telah banyak menimbulkan kesalahpahaman karena hal ini ditujukan sebenarnya untuk mencegah penyebaran PMK ke hewan melalui sisa-sisa makanan (swill feeding) yang diberikan ke babi. "Jeroan dan bagian mulut seperti bibir dan lidah ternak yang terkena PMK tidak bisa dikonsumsi. Tapi yang lain masih bisa direkomendasikan, dagingnya pun masih bisa dimakan“ menimbulkan kesalahpahaman karena yang dimaksugd dengan memasak daging maka hal ini akan mencegah penyebaran ke hewan lain terutama peternak babi yang biasa memberi ternaknya dengan sisa-sisa makanan (swill feeding). Sumber: FAO Mission Debriefing FMD Indonesia (20 June 2022). 35
  • 36.
    Identifikasi stakeholder kesiapsiagaanPMK 1. Peternak skala kecil (98%) 2. Peternak skala menengah dan besar komersial 3. Asosiasi peternak dan pedagang ternak 4. Asosiasi peternak domba dan kambing 5. Asosiasi peternak sapi perah 6. Asosiasi pedagang sapi 7. Asosiasi produsen daging dan feedlot 8. Asosiasi obat hewan 9. Produsen obat hewan dan vaksin 9. Pengusaha industri pangan asal hewan 10. Dokter hewan swasta yang bekerja pada produsen hewan besar 11. Paramedik dan petugas IB 12. Penyuluh pertanian 13. Akademisi peternakan dan kesehatan hewan 14. Konsumen (masyarakat secara keseluruhan) 15. Lain-lain. 36
  • 37.
    Komunikasi publik tentangPMK Sumberdaya yang paling penting dalam pencegahan PMK (atau setiap penyakit ternak lainnya) adalah pemilik ternak atau pengusaha/manajer peternakan. Pemilik ternak di semua tingkat produksi, agen penjualan dan pedagang harus dibiasakan dengan pemahaman dasar PMK, termasuk mengenali tanda-tanda penting penyakit. Kebutuhan akan tindakan segera, bagaimana dan di mana mencari bantuan jika mereka mencurigai penyakit ini. Ini dapat dicapai dengan sosialisasi atau penyuluhan yang intensif, menggunakan media yang mudah dipahami, sangat visual, dan sebagai pengingat yang konstan mengenai PMK dan pentingnya penyakit ini. Jalur komunikasi harus dibangun antara pemilik ternak dan Dinas yang membidangi fungsi kesehatan hewan setempat, menggunakan perangkat desa dan penyuluh pertanian sebagai perantara (juga harus diberitahu tentang PMK). Para peternak dan/atau penggembala yang melihat ternaknya setiap hari, dan mereka yang terinformasi dengan baik merupakan sumberdaya surveilans di garis depan untuk penyakit hewan. 37
  • 38.
    Komunikasi dengan pedagangternak Dalam situasi wabah PMK, direkomendasikan untuk membangun hubungan yang lebih dekat antara Dinas yang membidangi fungsi kesehatan hewan dengan pedagang ternak (pedagang penampung desa, antar kabupaten, antar provinsi, pedagang antar pulau) yang membawa ternak melewati perbatasan wilayah. Hal ini harus mencakup kampanye edukasi mengenai bahaya PMK dan penyakit hewan lintas batas yang serius lainnya. Kerja sama dengan pedagang ternak mengarah kepada bagaimana mendorong penerapan prosedur karantina yang praktis dan biaya terjangkau, tetapi dapat mencegah penularan PMK dan juga tempat di mana surveilans pasif penyakit (pelaporan cepat gejala klinis) dapat dilakukan. 38
  • 39.
    alam merespons wabahPMK di wilayah barat (Jawa, Sumatera dan Kalimantan), seluruh dinas di wilayah timur harus waspada, meningkatkan kesadaran peternak dan pedagang ternak, terutama di mana risiko masuknya PMK tinggi baik karena perdagangan legal maupun ilegal. D
  • 40.