PEMBANGUNAN
INDUSTRI
DI INDONESIA
Beberapa Istilah
• Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah
bahan mentah, bahan baku, bahan setengah jadi
atau barang jadi menjadi barang yang bermutu
tinggi dalam penggunaannya.
• Perindustrian adalah industrialisasi adalah suatu
proses perubahan sosial ekonomi yang mengubah
sistem pencaharian masyarakat agraris
(pertanian) menjadi masyarakat industri
• Perindustrian adalah Kegiatan proses produksi
dalam industry.
Pengertian Industri Menurut UU No.5
Tahun 1994
• Industri adalah : Kegiatan ekonomi
yang mengolah bahan mentah, bahan
baku, barang setengah jadi dan atau
barang jadi menjadi barang dengan
nilai yang lebih tinggi untuk
penggunaannya, termasuk kegiatan
rancang bangun dan perekayasaan
industri.
SEJARAH INDUSTRI DI INDONESIA
• Pada sekitar tahun 1920-an industri-industri
moderen di Indonesia hampir semuanya
dimiliki oleh orang asing meskipun jumlahnya
relatif sedikit.
• Industri kecil yang ada pada masa itu hanya
berupa industri-industri rumah tangga seperti
penggilingan padi, tekstil dan sebagainya,
yang tidak terkoordinasi.
• Tenaga kerja terpusat di sektor pertnian dan
perkebunan untuk memenuhi kebutuhan
ekspor pemerintah kolonial.
Lanjutan …
• Menurut sensus industri kolonial
pertama (1939), industri-industri yang
ada ketika itu adalah bidang pengolahan
makanan dan tekstil serta barang-
barang logam dan memperkerjakanan
tenaga kerja sebanyak 173 ribu orang,
semuanya milik asing.
• Setelah Indonesia merdeka, Tahun
1951, pemerintah meluncurkan RUP
(Rencana Urgensi Perekonomian).
• Program utamanya menumbuhkan dan
mendorong industri kecil pribumi dan
memberlakukan pembatasan industri
besar atau modern yang dimiliki orang
Eropa dan Cina
• Pada tahun 1957 sektor industri mengalami
stagnasi dan perekonomian mengalami
masa teduh, pada tahun 1960-an sektor
industri tidak berkembang.
• Industrialisasi di Indonesiamulai
berkembang pada pemerintahan rejim
Orde Baru. Melalui UU No.1 Tahun 1967
tentang Penanaman Modal Asing (PMA).
• Pemerintah melakukan liberalisasi untuk
menarik modal asing dengan tujuan
menggairahkan perekonomian yang lesu.
• Pada saat itu pemerintah harus
mengambil keputusan yang dilematis, di
satu sisi masuknya modal asing akan
menggairahkan perekonomian dengan
aliran modal, teknologi dan penyerapan
tenaga kerja, sedangkan di sisi lain
terdapat ancaman kemungkinan dominasi
perekonomian oleh PMA (Pangestu,
• 1995:1-3 dalam Suandi Hamid).
• Sejak awal dekade 1970-an hingga
pertengahan dekade 1980-an
pemerintah mengembangkan strategi
Industri Substitusi Impor (ISI).
• Strategi ini bertujuan :
• Untuk menghemat devisa dengan cara
mengembangkan industry yang
menghasilkan barang pengganti barang
impor.
• Membatasi masuknya investor asing
dengan berbagai ketentuan antara lain
pembatasan pemberian lisensi,
penetapan pangsa modal PMA relatif
terhadap modal domestik, dan
pelarangan PMA bergerak di sektor
pertahanan-keamanan, sektor strategis
(telekomunikasi), dan sector publik (listrik
dan air minum).
Strategi ISI tidak berhasil menghemat devisa
karena pemerintah menekankan pada produk
barang-barang mewah berteknologi tinggi,
padat modal dan bergantung pada pasokan
inputnya berasal dari negara maju. Akibatnya
strategi tersebut malah mengursa devisa karena
harus membeli barang modal dan input yang
sebagian diimpor.
• Pada awal tahun 1980-an, pemerintah
mengubah strategi industrialisasi dari Industri
Substitusi Impor (ISI) menjadi Industri
Promosi Ekspor (IPE).
• Tujuan IPE adalah berusaha memacu
pertumbuhan industri berorientasi ekspor
dengan memberi kemudahan permodalan
dan izin investasi untuk PMA dan PMDN.
• Tahun 1984 hingga tahun 1999 menggairhkan
industry manufaktur dan kemudahan syarat
bagi PMA.
STRUKTUR INDUSTRI DI INDONESIA
• Struktur industri didefinisikan dalam
terminologi distribusi jumlah dan
ukuran dari perusahaan-perusahaan
yang ada dalam industri (Bain: 1968).
• Struktur industri merupakan cerminan
dari struktur pasar suatu industri
(Kuncoro: 2007).
STRUKTUR INDUSTRI
Menurut kriteria UNIDO (United Nations for Industrial
Development Organization) negara-negara
dikelompokkan sebagai berikut:
• Kelompok negara non-industri apabila sumbangan
sector industri terhadap PDB kurang dari 10%
• Kelompok negara dalam proses industrialisasi
apabila sumbangan tersebut antara 10%-20%
• Kelompok negara semi industri jika sumbangan
tersebut antara 20%-30%
• Kelompok negara industri jika sumbangan tersebut
lebih dari 30%
• Struktur industri di Indonesia masih belum
dalam (shallow) dan belum seimbang
(unbalanced). Berbagai penelitian yang
memanfaatkan tabel inputoutput
• menunjukkan bahwa kaitan ekonomis antara
industri skala besar, menengah, dan kecil
masih sangat minim, kecuali untuk sub
sektor makanan, produk kayu, dan kulit. Ini
diperparah dengan struktur industri yang
masih kuasi-monopolistik dan oligopolistik.
Rasio konsentrasi untuk melihat struktur industri
sebagai berikut:
1. Rata-rata tingkat konsentrasi sektor
manufaktur sebesar 47%, lebih tinggi
dibanding konsentrasi industri di negara
maju (Inggris 22% dan AS 36%)
2. Berdasarkan standart internasional, industri
berstruktur oligopoli bila 4 perusahan
terbesar dalam industri yang sama memiliki
konsentrasi di atas 40%. Sehingga dapat
dikatakan struktur pasar industry
manufaktur Indonesia berciri oligopolis
Tabel 2.1.
Rasio Konsentrasi dalam Sektor Manufaktur
(pangsa 4 perusahaan terbesar, dalam persen)
Klasifikasi Periode Tahun
Kode ISI Subsektor 1985-an 2000-an
31
Makanan, minuman,
tembakau 59,1 61,5
32 Tekstil, pakaian jadi, kulit 24,9 24,0
33 Produk kayu 13,4 15,9
34 Kertas 43,8 50,2
35 Kimia 46,4 44,6
36 Bahan galian bukan logam 75,7 58,1
37 Logam dasar 82,0 71,8
38
Barang dari logam, mesin
dan peralatannya
49,7 57,4
39 Pengolahan lain 71,9 49,0
Rata-rata tertimbang 49,5 47,1
Sumber: BKPM
• Berdasarkan Tabel diatas rata-rata tingkat
konsentrasi untuk sektor manufaktur sebesar
47 persen, lebih tinggi dibandingkan
konsentrasi industri di negara maju (Inggris 22
persen dan AS 36 persen). Struktur pasar
industri manufaktur Indonesia berciri
oligopolis karena empat perusahaan terbesar
dalam industri yang sama mempunyai
konsentrasi industri di atas 40 persen.
Padahal mayoritas 7 dari 9 subsektor industri
manufaktur memiliki rasio konsentrasi di atas
40 persen.
MASALAH STRUKTURAL INDUSTRI DI
INDONESIA
LAJU PERTUMUBUHAN INDUSTRI DI INDONESIA
MASALAH STRUKTURAL INDUSTRI DI
INDONESIA
• Hasil penelitian UNIDO (United Nation
Industrial Development Organization),
badan khusus PBB yang berfungsi
meningkatkan proses industrialisasi di
negara-negara berkembang dan untuk
pemberian country service framework for
Indonesia (CSFI), menunjukkan adanya
peningkatan Industrialisasi di Indonesia,
meskipun masih tertinggal bila
dibandingkan Dengan negara di ASEAN.
• Penelitian tersebut menunjukkan
bahwa Indonesia sejak tahun 1980-an
di peringkat 75 menjadi 54 tahun 1990-
an dan naik lagi menjadi 38 pada tahun
2000-an.
• Dibandingkan dengan negara tetangga
seperti Malaysia, Indonesia cukup
tertinggal. Malaysia pada tahun 1980-an
berada di peringkat 50 dan menjadi
peringkat 15 pada tahun 2000-an.
Thailand dari peringkat 47 tahun 1980-an
menjadi 23 pada tahun 2000-an,
sementara Philipina dari peringkat 42
tahun 1980-an menjadi 25 pada tahun
2000-an
REFORMASI KEBIJAKAN INDUSTRI
 Struktur industri yang umumnya oligopolistik dan
terkonsentrasi akan rentan terhadap gejolak eksternal yang
tercermin dari rendahnya kandungan teknologi,
ketergantungan yang tinggi pada barang modal dan input
antara dari luar negeri, serta lemahnya keterkaitan antar
industri (Kuncoro, 2010:276).
 Kebijakan industri tradisional yaitu penentuan target sektor
dan industri dengan mengabaikan dimana letak lokasi
industry (Aspasial).
 Perspektif spasial pembangunan industri dengan berbasis
kluster (Industrial cluster) merupakan strategi pembangunan
nasional yang telah diatur dalam Perpres No. 28 tahun 2008
tentang kebijakan industri nasional.
KLASIFIKASI DAN KONSENTRASI INDUSTRI DI
INDONESIA
Tabel 2.3.
Nilai investasi modal asing di Indonesia tahun 2000 - 2014
(dalam juta dollar AS)
Sektor 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014
Industri 31,4 62,5 126,0 115,4 156.3 102.5 270.6 339.8
Primer
Industri 2,629.8 4,028.5 5,637.0 4,759.9 2,172.0 1,569.6 1,838.9 2,820.9
Sekunder
Industri 812,2 774,7 2,466.9 5,002.1 1,153.9 1,413.2 3,316.4 1,408.6
Tersier
Total 3,473.4 4,865.7 8,229.9 9,877.4 3,482.2 3,085.3 5,425.9 4,569.3
Tabel 2.4.
Nilai investasi domestik dalam negeri tahun 2000-2014
(Dalam juta dollar)
Sektor 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014
Industri 1,618.8 1,302.3 2,366.0 2,417.3 1,163.8 1,025.2 610.0 927.2
Primer
Industri 12,823.8 9,937.6 10,271.117,664.25,856.1 9,370.4 6,125.0 10,756.0
Sekunder
Industri
tersier 4,186.2 5,272.6 3,649.6 1,956.5 2,860.9 1,633.7 4,809.8 3,544.4
TOTAL 18,628.8 16,512.5 16,286.7 22,038.0 9,880.812,029.3 11,544.8 15,227.6

Industri indonesia

  • 1.
  • 2.
    Beberapa Istilah • Industriadalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, bahan setengah jadi atau barang jadi menjadi barang yang bermutu tinggi dalam penggunaannya. • Perindustrian adalah industrialisasi adalah suatu proses perubahan sosial ekonomi yang mengubah sistem pencaharian masyarakat agraris (pertanian) menjadi masyarakat industri • Perindustrian adalah Kegiatan proses produksi dalam industry.
  • 3.
    Pengertian Industri MenurutUU No.5 Tahun 1994 • Industri adalah : Kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi dan atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.
  • 4.
    SEJARAH INDUSTRI DIINDONESIA • Pada sekitar tahun 1920-an industri-industri moderen di Indonesia hampir semuanya dimiliki oleh orang asing meskipun jumlahnya relatif sedikit. • Industri kecil yang ada pada masa itu hanya berupa industri-industri rumah tangga seperti penggilingan padi, tekstil dan sebagainya, yang tidak terkoordinasi. • Tenaga kerja terpusat di sektor pertnian dan perkebunan untuk memenuhi kebutuhan ekspor pemerintah kolonial.
  • 5.
    Lanjutan … • Menurutsensus industri kolonial pertama (1939), industri-industri yang ada ketika itu adalah bidang pengolahan makanan dan tekstil serta barang- barang logam dan memperkerjakanan tenaga kerja sebanyak 173 ribu orang, semuanya milik asing.
  • 6.
    • Setelah Indonesiamerdeka, Tahun 1951, pemerintah meluncurkan RUP (Rencana Urgensi Perekonomian). • Program utamanya menumbuhkan dan mendorong industri kecil pribumi dan memberlakukan pembatasan industri besar atau modern yang dimiliki orang Eropa dan Cina
  • 7.
    • Pada tahun1957 sektor industri mengalami stagnasi dan perekonomian mengalami masa teduh, pada tahun 1960-an sektor industri tidak berkembang. • Industrialisasi di Indonesiamulai berkembang pada pemerintahan rejim Orde Baru. Melalui UU No.1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA). • Pemerintah melakukan liberalisasi untuk menarik modal asing dengan tujuan menggairahkan perekonomian yang lesu.
  • 8.
    • Pada saatitu pemerintah harus mengambil keputusan yang dilematis, di satu sisi masuknya modal asing akan menggairahkan perekonomian dengan aliran modal, teknologi dan penyerapan tenaga kerja, sedangkan di sisi lain terdapat ancaman kemungkinan dominasi perekonomian oleh PMA (Pangestu, • 1995:1-3 dalam Suandi Hamid).
  • 9.
    • Sejak awaldekade 1970-an hingga pertengahan dekade 1980-an pemerintah mengembangkan strategi Industri Substitusi Impor (ISI). • Strategi ini bertujuan : • Untuk menghemat devisa dengan cara mengembangkan industry yang menghasilkan barang pengganti barang impor.
  • 10.
    • Membatasi masuknyainvestor asing dengan berbagai ketentuan antara lain pembatasan pemberian lisensi, penetapan pangsa modal PMA relatif terhadap modal domestik, dan pelarangan PMA bergerak di sektor pertahanan-keamanan, sektor strategis (telekomunikasi), dan sector publik (listrik dan air minum).
  • 11.
    Strategi ISI tidakberhasil menghemat devisa karena pemerintah menekankan pada produk barang-barang mewah berteknologi tinggi, padat modal dan bergantung pada pasokan inputnya berasal dari negara maju. Akibatnya strategi tersebut malah mengursa devisa karena harus membeli barang modal dan input yang sebagian diimpor.
  • 12.
    • Pada awaltahun 1980-an, pemerintah mengubah strategi industrialisasi dari Industri Substitusi Impor (ISI) menjadi Industri Promosi Ekspor (IPE). • Tujuan IPE adalah berusaha memacu pertumbuhan industri berorientasi ekspor dengan memberi kemudahan permodalan dan izin investasi untuk PMA dan PMDN. • Tahun 1984 hingga tahun 1999 menggairhkan industry manufaktur dan kemudahan syarat bagi PMA.
  • 14.
    STRUKTUR INDUSTRI DIINDONESIA • Struktur industri didefinisikan dalam terminologi distribusi jumlah dan ukuran dari perusahaan-perusahaan yang ada dalam industri (Bain: 1968). • Struktur industri merupakan cerminan dari struktur pasar suatu industri (Kuncoro: 2007).
  • 15.
    STRUKTUR INDUSTRI Menurut kriteriaUNIDO (United Nations for Industrial Development Organization) negara-negara dikelompokkan sebagai berikut: • Kelompok negara non-industri apabila sumbangan sector industri terhadap PDB kurang dari 10% • Kelompok negara dalam proses industrialisasi apabila sumbangan tersebut antara 10%-20% • Kelompok negara semi industri jika sumbangan tersebut antara 20%-30% • Kelompok negara industri jika sumbangan tersebut lebih dari 30%
  • 16.
    • Struktur industridi Indonesia masih belum dalam (shallow) dan belum seimbang (unbalanced). Berbagai penelitian yang memanfaatkan tabel inputoutput • menunjukkan bahwa kaitan ekonomis antara industri skala besar, menengah, dan kecil masih sangat minim, kecuali untuk sub sektor makanan, produk kayu, dan kulit. Ini diperparah dengan struktur industri yang masih kuasi-monopolistik dan oligopolistik.
  • 17.
    Rasio konsentrasi untukmelihat struktur industri sebagai berikut: 1. Rata-rata tingkat konsentrasi sektor manufaktur sebesar 47%, lebih tinggi dibanding konsentrasi industri di negara maju (Inggris 22% dan AS 36%) 2. Berdasarkan standart internasional, industri berstruktur oligopoli bila 4 perusahan terbesar dalam industri yang sama memiliki konsentrasi di atas 40%. Sehingga dapat dikatakan struktur pasar industry manufaktur Indonesia berciri oligopolis
  • 18.
    Tabel 2.1. Rasio Konsentrasidalam Sektor Manufaktur (pangsa 4 perusahaan terbesar, dalam persen) Klasifikasi Periode Tahun Kode ISI Subsektor 1985-an 2000-an 31 Makanan, minuman, tembakau 59,1 61,5 32 Tekstil, pakaian jadi, kulit 24,9 24,0 33 Produk kayu 13,4 15,9 34 Kertas 43,8 50,2 35 Kimia 46,4 44,6 36 Bahan galian bukan logam 75,7 58,1 37 Logam dasar 82,0 71,8 38 Barang dari logam, mesin dan peralatannya 49,7 57,4 39 Pengolahan lain 71,9 49,0 Rata-rata tertimbang 49,5 47,1 Sumber: BKPM
  • 19.
    • Berdasarkan Tabeldiatas rata-rata tingkat konsentrasi untuk sektor manufaktur sebesar 47 persen, lebih tinggi dibandingkan konsentrasi industri di negara maju (Inggris 22 persen dan AS 36 persen). Struktur pasar industri manufaktur Indonesia berciri oligopolis karena empat perusahaan terbesar dalam industri yang sama mempunyai konsentrasi industri di atas 40 persen. Padahal mayoritas 7 dari 9 subsektor industri manufaktur memiliki rasio konsentrasi di atas 40 persen.
  • 20.
  • 21.
  • 22.
    MASALAH STRUKTURAL INDUSTRIDI INDONESIA • Hasil penelitian UNIDO (United Nation Industrial Development Organization), badan khusus PBB yang berfungsi meningkatkan proses industrialisasi di negara-negara berkembang dan untuk pemberian country service framework for Indonesia (CSFI), menunjukkan adanya peningkatan Industrialisasi di Indonesia, meskipun masih tertinggal bila dibandingkan Dengan negara di ASEAN.
  • 23.
    • Penelitian tersebutmenunjukkan bahwa Indonesia sejak tahun 1980-an di peringkat 75 menjadi 54 tahun 1990- an dan naik lagi menjadi 38 pada tahun 2000-an.
  • 24.
    • Dibandingkan dengannegara tetangga seperti Malaysia, Indonesia cukup tertinggal. Malaysia pada tahun 1980-an berada di peringkat 50 dan menjadi peringkat 15 pada tahun 2000-an. Thailand dari peringkat 47 tahun 1980-an menjadi 23 pada tahun 2000-an, sementara Philipina dari peringkat 42 tahun 1980-an menjadi 25 pada tahun 2000-an
  • 25.
    REFORMASI KEBIJAKAN INDUSTRI Struktur industri yang umumnya oligopolistik dan terkonsentrasi akan rentan terhadap gejolak eksternal yang tercermin dari rendahnya kandungan teknologi, ketergantungan yang tinggi pada barang modal dan input antara dari luar negeri, serta lemahnya keterkaitan antar industri (Kuncoro, 2010:276).  Kebijakan industri tradisional yaitu penentuan target sektor dan industri dengan mengabaikan dimana letak lokasi industry (Aspasial).  Perspektif spasial pembangunan industri dengan berbasis kluster (Industrial cluster) merupakan strategi pembangunan nasional yang telah diatur dalam Perpres No. 28 tahun 2008 tentang kebijakan industri nasional.
  • 26.
    KLASIFIKASI DAN KONSENTRASIINDUSTRI DI INDONESIA Tabel 2.3. Nilai investasi modal asing di Indonesia tahun 2000 - 2014 (dalam juta dollar AS) Sektor 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 Industri 31,4 62,5 126,0 115,4 156.3 102.5 270.6 339.8 Primer Industri 2,629.8 4,028.5 5,637.0 4,759.9 2,172.0 1,569.6 1,838.9 2,820.9 Sekunder Industri 812,2 774,7 2,466.9 5,002.1 1,153.9 1,413.2 3,316.4 1,408.6 Tersier Total 3,473.4 4,865.7 8,229.9 9,877.4 3,482.2 3,085.3 5,425.9 4,569.3
  • 27.
    Tabel 2.4. Nilai investasidomestik dalam negeri tahun 2000-2014 (Dalam juta dollar) Sektor 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 Industri 1,618.8 1,302.3 2,366.0 2,417.3 1,163.8 1,025.2 610.0 927.2 Primer Industri 12,823.8 9,937.6 10,271.117,664.25,856.1 9,370.4 6,125.0 10,756.0 Sekunder Industri tersier 4,186.2 5,272.6 3,649.6 1,956.5 2,860.9 1,633.7 4,809.8 3,544.4 TOTAL 18,628.8 16,512.5 16,286.7 22,038.0 9,880.812,029.3 11,544.8 15,227.6