DI PT PERSADA DIAGNOSTIK
         JAKARTA
Istilah perjanjian dalam Pasal 1313 Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata, perjanjian
adalah suatu perbuatan dengan mana satu
orang atau lebih mengikatkan dirinya
terhadap satu orang lain atau lebih. Oleh
karena itu, tidak salah jika Kartini Muljadi
dan Gunawan Widjaja dalam bukunya
Perikatan yang Lahir dari Perjanjian.
menyebutkan suatu perjanjian adalah 1)
suatu perbuatan, 2) antara sekurang-
kurangnya dua orang (jadi dapat lebih dari
dua orang), perbuatan tersebut melahirkan
perikatan diantara dua pihak yang berjanji
tersebut.
syarat sah perjanjian menurut ketentuan pasal 1320 BW adalah:
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya Kesepakatan para pihak pada prinsipnya adalah pengejawantahan dari
azas konsensualitas. Azas konsensualitas memperlihatkan bahwa sebuah perjanjian timbul seketika setelah para pihak
mecapai kesepakatan atau consensus. Kesepakatan mengandung pengertian bahwa para pihak saling menyatakan
kehendak masing-masing untuk menutup sebuah perjanjian; pernyataan salah satu pihak “cocok” dengan pernyataan
pihak yang lain.

2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan Kecakapan melakukan perbuatan hukum dapat dirumuskan sebagai
kemungkinan melakukan perbuatan hukum secara mandiri yang mengikat diri sendiri tanpa diganggu gugat. Subjek
hukum dalam melakukan perjanjian bisa merupakan natuurlijk persoon ataupun rechtspersoon.

3. Suatu hal tertentu Suatu perjanjian haruslah mempunyai objek (bepaald onderwerp) tertentu, sekurang-kurangnya
dapat ditentukan bahwa objek tertentu itu dapat berupa benda yang sekarang ada dan nanti akan ada.

4. Suatu sebab yang diperbolehkan/causa yang diperbolehkan Sebab adalah suatu yang menyebabkan orang membuat
perjanjian, yang mendorong orang membuat perjanjian. Tetapi yang dimaksud dengan “causa yang diperbolehkan”
dalam pasal 1320 BW bukanlah sebab dalam arti yang menyebabkan atau yang mendorong orang membuat
perjanjian, melainkan sebab dalam arti “isi perjanjian itu sendiri” yang menggambarkan tujuan yang akan dicapai
para pihak.

  Syarat pertama dan kedua pasal 1320 BW disebut syarat subjektif, karena melekat pada diri orang yang menjadi
subjek perjanjian. Jika syarat ini tidak dipenuhi, perjanjian dapat dibatalkan. Tetapi jika tidak dimintakan pembatalan
kepada hakim, perjanjian itu tetap mengikat pihak-pihak, walaupun diancam pembatalan sebelum waktu lima tahun.

  Syarat ketiga dan keempat pasal 1320 BW disebut syarat objektif, karena mengenai sesuatu yang menjadi objek
perjanjian. Jika syarat ini tidak dipenuhi, perjanjian batal. Kebatalan ini dapat diketahui apabila perjanjian tidak
mencapai tujuan karena salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya. Kemudian diperkarakan ke muka hakim,
dan hakim menyatakan perjanjian batal, karena tidak memenuhi syarat objektif.
1.   Ada para pihak
2.   Ada     persetujuan   antara   pihak-pihak
     tersebut
3.   Ada tujuan yang akan dicapai
4.   Ada prestasi yang akan dilaksanakan
5.   Ada bentuk tertentu, baik lisan maupun
     tulisan
6.   Ada syarat-syarat tertentu.
   Dalam Undang-undang No. 40 tahun
    2007 tentang Perseroan disebutkan:
    “Direksi mewakili perseroan baik di
    dalam maupun luar pengadilan serta
    dalam hal anggota direksi terdiri lebih
    dari 1 (satu) orang, yang berwenang
    mewakili   perseroan    adalah    setiap
    anggota Direksi, kecuali ditentukan lain
    dalam anggaran dasar”.
   Berdasarkan ketentuan pasal 1233 BW,
    perjanjian merupakan salah satu sumber
    yang bisa menimbulkan perikatan.
   pengertian dari perikatan adalah suatu
    perhubungan hukum antara dua orang
    atau dua pihak, berdasarkan mana pihak
    yang satu berhak menuntut sesuatu hal
    dari pihak yang lain, dan pihak yang lain
    berkewajiban untuk memenuhi tuntutan
    itu
   overeenskomst (bahasa Belanda),
   contract, agreement (bahasa Inggris),
   contract convention (bahasa Prancis),
   pacte conventie contractus (bahasa
    Latin),
   kontrakt vertrag (bahasa Jerman),

    merupakan istilah yang dalam hukum
    kita dikenal sebagai “kontrak” atau
    “perjanjian”.
   BW menggunakan istilah overeenkomst dan
    contract untuk pengertian yang sama. Hal ini
    dapat dilihat jelas dari judul Bab II Buku III BW.
    Judul dari Bab II Buku III BW adalah “Tentang
    Perikatan-Perikatan      yang    Dilahirkan    dari
    Kontrak atau Perjanjian”.
   Dimana dalam BW disamakan pengertian antara
    perjanjian atau persetujuan (overeenkomst)
    dengan istilah kontrak. Selain itu dalam praktik
    kedua istilah tersebut juga dipergunakan dalam
    kontrak komersial, misalnya dalam perjanjian
    waralaba, perjanjian sewa guna usaha, kontrak
    kerjasama, perjanjian kerjasama, kontrak kerja
    konstruksi.
   Ada      pihak-pihak       yang     menjadi
    subjek, sedikitnya dua pihak dan masing-
    masing bisa terdiri atas orang dengan orang
    atau orang dengan badan hukum atau
    badan hukum dengan badan hukum.
    Dengan demikian tidak mungkin dikatakan
    ada perjanjian jika subjeknya hanya satu;
   Ada persetujuan (kesepakatan) diantara
    para pihak. Kesepakatan digambarkan
    sebagai pernyataan kehendak para pihak
    yang saling mengisi. Kesepakatan tersebut
    terbentuk melalui penawaran-penawaran
    yang disampaikan oleh para pihak yang
    kemudian bertemu pada satu titik.
   Ada objek yang berupa benda. Objek
    perjanjian adalah harta benda yang
    dapat diperdagangkan.
   Ada tujuan yang bersifat kebendaan
    (mengenai harta kekayaan). Dengan
    perkataan lain bahwa perjanjian
    bermaksud mengalihkan hak atas harta
    benda yang menjadi objek perjanjian.
   Ada bentuk tertentu, lisan atau tertulis.
    Berdasarkan asas kebebasan berkontrak
    atau partij otonomie sebenarnya
    perjanjian dapat dibuat secara lisan
    sehingga dikenal sebagai kontrak
    lisan, bisa pula berbentuk tertulis kecuali
    Undang-Undang menentukan lain, yaitu
    yang dalam teori dikenal dengan sebutan
    kontrak formal seperti kontrak
    perdamaian, kontrak penjaminan
    tanah, kontrak pendirian perseroan
    terbatas, perjanjian hibah.
   Sistem pengaturan hukum perjanjian dalam
    Buku III BW adalah sistem terbuka (open
    system),    atau   juga   disebut  sebagai
    aanvullend recht. Artinya bahwa setiap
    orang      bebas     untuk     mengadakan
    perjanjian, baik yang sudah diatur maupun
    yang belum diatur di dalam undang-undang.
    Hal ini dapat disimpulkan dari ketentuan
    yang tercantum dalam pasal 1338 ayat (1)
    BW, yang berbunyi: “Semua perjanjian yang
    dibuat secara sah berlaku sebagai undang-
    undang bagi mereka yang membuatnya.”
   Azas kebebasan berkontrak merupakan
    salah satu azas utama dan sangat penting
    dalam suatu perjanjian.
   Kebebasan berkontrak memberikan jaminan
    kebebasan kepada seseorang untuk secara
    bebas dalam beberapa hal yang berkaitan
    dengan perjanjian
   Azas kebebasan berkontrak menjadi salah
    satu azas yang utama, dikarenakan azas ini
    bisa mengakomodir kebutuhan masyarakat
    dalam melakukan transaksi bisnis yang
    senantiasa        berkembang       seiring
    perkembangan teknologi.
   Kedudukan azas kebebasan berkontrak ini
    semakin diperkuat dengan ketentuan pasal
    1319 BW, yang memuat:
    “Semua perjanjian, baik yang mempunyai suatu
    nama khusus, maupun yang tidak terkenal
    dengan suatu nama tertentu, tunduk pada
    peraturan-peraturan umum, yang termuat
    dalam bab ini dan bab yang lalu.”
   Dengan kata lain, ketentuan pasal 1319 BW
    mengakui akan adanya perjanjian-perjanjian
    selain yang terdapat dalam BW. Perjanjian-
    perjanjian yang tidak terdapat dalam Buku III
    BW ini dinamakan perjanjian tak bernama atau
    kontrak innominaat
1.   Orang-orang belum dewasa;
2.   Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan;
3.   Orang-orang perempuan dalam hal-hal yang
     ditetapkan oleh undang-undang, dan pada
     umumnya semua orang kepada siapa
     undang-undang telah melarang membuat
     perjanjian-perjanjian tertentu; (namun
     ketentuan ini telah dihapus dengan Surat
     Edaran Mahkamah Agung No. 3 tahun 1963
     dan pasal 31 undang-undang No. 1 tahun
     1974 tentang Perkawinan)
   Untuk menyelesaikan masalah perselisihan
    ini, suatu perjanjian seringkali memuat
    suatu klausula yang mengatur bagaimana
    perselisihan tersebut diselesaikan. Misalnya
    hukum mana yang akan digunakan dan
    peradilan     mana   yang     dipilih  untuk
    menyelesaikan perselisihan tersebut.
   Dalam menentukan pilihan ini terdapat
    kebebasan      berkontrak    (freedom     of
    contract),    yaitu   para    pihak   bebas
    menentukan pilihan-pilihannya. Khususnya
    mengenai pilihan forum (freedom of
    jurisdiction)
   Langkah untuk menyelesaikan sengketa
    adalah    terlebih   dahulu   melakukan
    perundingan.
   Namun karena perundingan mungkin
    menjadi proses yang berteletele, sangat
    penting untuk menentukan jangka waktu
    perundingan       (kapan    perundingan
    dikatakan impasse/dead lock).
   Demikian juga harus ditentukan proses
    penyelesaian      sengketa   selanjutnya
    setelah terjadi impasse.
   Klausula Perundingan
   Klausula Perundingan Tingkat Tinggi
   Klausula Mediasi (Belum Menunjuk
    Mediator)
   Klausula Mediasi (Sudah Menunjuk
    Mediator)
   Klausula Mediasi Dengan Arbitase
Klausula Perundingan

Langkah terpuji untuk menyelesaikan sengketa adalah terlebih dahulu melakukan perundingan.
Namun karena perundingan mungkin menjadi proses yang berteletele, sangat penting untuk
menentukan jangka waktu perundingan (kapan perundingan dikatakan impasse/dead lock).
Demikian juga harus ditentukan proses penyelesaian sengketa selanjutnya setelah terjadi impasse.
Contoh klausula:

”Para pihak dengan itikad baik harus menyelesaikan setiap sengketa yang timbul dari atau
sehubungan dengan Perjanjian ini, segera melalui perundingan antara para pejabatnya yang
berwenang. Masing-masing pihak dapat memberikan kepada pihak lainnya pemberitahuan
tertulis mengenai setiap sengketa yang tidak dapat diselesaikan melalui cara-cara biasa. Dalam
waktu [15] hari setelah disampaikannya pemberitahuan tersebut, pihak yang menerima
pemberitahuan harus menyampaikan jawaban secara tertulis kepada pihak lainnya.
Pemberitahuan dan jawaban tersebut harus memuat

    a. pernyataan mengenai posisi masing-masing pihak dan suatu alasan singkat yang
    mendukung posisi tersebut, dan nama serta jabatan pejabat yang berwenang untuk mewakili
    dan nama setiap orang lain yang akan mendampingi pejabat tersebut. Dalam [30] hari
    setelah penyampaian pemberitahuan pihak bersengketa, para pejabat kedua belah pihak
    harus bertemu di suatu tempat dan waktu yang disetujui bersama, dan setelah itu sedapat
    mungkin dan sepanjang para pihak menganggap perlu, para pihak berupaya menyelesaikan
    sengketa tersebut. Setiap permintaan keterangan oleh salah satu pihak kepada pihak
    lainnya harus dihormati. Seluruh perundingan berdasarkan kalusula ini bersifat rahasia”.
Klausula Perundingan Tingkat Tinggi

   Jika perundingan antara pejabat-pejabat ’kelas menengah’ gagal menyelesaikan
sengketa, sebaiknya dicoba untuk melanjutkan perundingan yang dilakukan oleh
pejabat ’kelas berat’, dalam hal ini direktur dari pihak-pihak yang bersengketa. Hanya
jika perundingan tingkat tinggi ini gagal juga barulah ditempuh prosedur perundingan
dengan perantaraan mediator.

  Contoh klausula:

  ”Apabila masalahnya tidak dapat diselesaikan oleh para pejabat sebagaimana
tersebut diatas, maka dalam waktu [45] hari sejak pemberitahuan pihak bersengketa,
para direktur dari pihak-pihak yang bersengketa yang memiliki wewenang untuk
menyelesaikan sengketa tersebut wajib untuk merundingkan penyelesaian sengketa.
Dalam hal perundingan antara para direktur tersebut gagal untuk menyelesaikan
sengketa dalam waktu [15] hari sejak perundingan dilakukan atau para direktur gagal
untuk bertemu [15] hari sejak berakhirnya perundingan
  antara pejabat dibawahnya, maka perundingan akan dilanjutkan dengan
  perantaraan mediator”.
Klausula Mediasi (Belum Menunjuk Mediator)

   Pengalaman telah menunjukkan bahwa keterlibatan mediator yang tidak memihak
(imparsial) dapat membantu para pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan
sengketanya. Oleh karena itu adalah bijaksana untuk menetapkan mediasi sebagai
sarana penyelesaian sengketa sebelum timbul sengketa, yaitu dalam kontrak, walaupun
dimungkinkan juga untuk membuat perjanjian mediasi setelah timbul sengketa.
   Perjanjian mediasi setelah timbul sengketa dapat dilihat contoh-contohnya dari
standar kontrak yang dibuat oleh Pusat Mediasi Nasional (contoh kesepakatan untuk
Mediasi Out of Court; contoh kesepakatan untuk Mediasi Court Annexed).

  Contoh klausula:

  ”Apabila sengketa tidak dapat diselesaikan melalui perundingan dalam waktu [45]
hari sejak pemberitahuan pihak bersengketa, atau apabila para pihak tidak dapat
melakukan pertemuan dalam waktu [20] hari, maka para pihak harus berupaya
menyelesaikan sengketa mereka melalui mediasi dengan ketentuan yang diatur dalam
Prosedur Mediasi Pusat Mediasi Nasional. Kecuali disepakati sebaliknya, para pihak
dapat memilih seorang mediator dari Panel Mediator yang disediakan oleh Pusat
Mediasi Nasional”.
Klausula Mediasi (Sudah Menunjuk Mediator)

   Proses mediasi akan lebih mudah dimulai, jika para pihak telah dapat menyetujui mediatornya
sebelum sengketa timbul. Dengan perkataan lain nama mediator telah dicantumkan dalam
klausula mediasi dalam kontrak. Dikatakan ’lebih mudah’ karena para pihak tidak perlu
’bersengketa’ lagi untuk memilih mediator yang akan membantu menyelesaikan sengketa mereka.
Mediator pun dapat menjaga agar dirinya tidak memiliki conflict of interest dengan para pihak
sejak penunjukannya.

  Contoh klausula:

  ”Apabila sengketa tidak dapat diselesaikan melalui perundingan dalam waktu [45] hari sejak
pemberitahuan pihak bersengketa, atau apabila para pihak tidak dapat melakukan pertemuan
dalam waktu [20] hari, maka para pihak harus berupaya menyelesaikan sengketa mereka
melalui mediasi dengan ketentuan yang diatur dalam Prosedur Mediasi Pusat Mediasi Nasional.
Para pihak telah memilih _______________ sebagai mediator, yang telah menyatakan
persetujuan atas penunjukannya tersebut. Dalam hal ______________ menjadi tidak bersedia
atau berhalangan untuk menjalankan tugasnya, para pihak telah memilih _____________
sebagai mediator alternatif. Dalam hal bahwa baik ___________maupun ______________ tidak
bersedia atau berhalangan untuk menjalankan tugas tersebut, para pihak akan menyepakati
seorang pengganti dengan bantuan Pusat Mediasi Nasional. Kecuali disepakati sebaliknya, para
pihak dapat memilih seorang mediator dari Panel Mediator yang disediakan oleh Pusat Mediasi
Nasional”.
Klausula Mediasi Dengan Arbitase

  Klausula mediasi dan arbitrase dapat dibuat secara terpisah. Namun dimungkinkan
untuk membuat satu klausula singkat yang mengatur mediasi sekaligus arbitrase,
tentunya jika prosedur dan/atau institusi mediasi dan arbitrasenya jelas dicantumkan
dalam klausula tersebut.

  Contoh klausula:

  ”Para pihak harus berupaya menyelesaikan setiap sengketa yang timbul dari atau
sehubungan dengan Perjanjian ini melalui mediasi menurut Prosedur Mediasi Pusat
Mediasi Nasional. Kecuali disepakati sebaliknya, para pihak dapat memilih seorang
mediator dari Panel Mediator yang disediakan oleh Pusat Mediasi Nasional. Setiap
perbedaan atau tuntutan yang timbul dari atau sehubungan dengan kontrak ini atau
pelanggaran, penghentian atau kabsahannya, yang tetap tidak dapat diselesaikan
dalam waktu 45 hari setelah penunjukkan seorang mediator, harus diselesaikan melalui
arbitrase oleh [seorang] [tiga] arbiter menurut ketentuan Badan Arbitrase Nasional
Indonesia, dan putusan yang dibuat
  oleh (para) arbiter dapat dilaksanakan oleh setiap pengadilan yang memiliki
yurisdiksi terhadap putusan arbitrase tersebut”.
Mengenai Hak dan Kewajiban
   tidak ada standar bakunya;
   para pihak menegaskan hak-hak dan
    kewajiban-kewajibannya;
   diatur kapan, dimana, bagaimana hak-
    hak dan kewajiban-kewajiban tersebut
    akan dipenuhi.
Klausula Penarikan Gugatan / Pengaduan
              (condition precedent)
Klausula ini diperlukan agar sebelum hak-hak dan
kewajiban-kewajiban dipenuhi, segala gugatan dan
pengaduan yang telah diajukan oleh salah
satu/kedua belah pihak dicabut terlebih dahulu.
Dengan demikian klausula ini menjadi condition
precedent dari efektifnya Perjanjian Perdamaian.
Tidak ada contoh bakunya, namun segala gugatan
dan pengaduan yang telah diketahui oleh para
pihak tentunya harus dicantumkan dan ditutup
dengan anak kalimat sebagai berikut:
”dan gugatan atau pengaduan lain yang mungkin
pernah diajukan oleh salah satu pihak kepada
badan peradilan atau instansi manapun, yang
belum diketahui oleh pihak lainnya”.
Klausula Pembebasan Tanggung Jawab Masing – Masing Pihak
             (Acquit et decharge-release and discharge)

 Klausula ini diperlukan agar setelah              Perjanjian    Perdamaian
ditandatangani, tidak ada lagi saling tuntut.

 Contoh klausula:

  ”Dengan telah dipenuhinya segala hak dan ditunaikannya segala
kewajiban sebagaimana telah diatur dalam pasal 00 Perjanjian ini, para
pihak dengan ini menegaskan bahwa masing-masing pihak tidak lagi
memiliki tuntutan apapun kepada pihak lainnya [mengenai
......................]. Selanjutnya masing-masing pihak berjanji untuk tidak:
(i) mengajukan tuntutan atau pengaduan apapun atau (ii) menyuruh
orang lain untuk mengajukan tuntutan atau pengaduan apapun kepada
badan-badan peradilan dan/atau instansi-instansi yang berwenang
untuk memeriksa, mengadili dan menghukum pihak lain sehubungan
dengan ................”.
Klausula Penghukuman Karena Wanprestasi Perdamaian (Recapture Clause)

   Dapat ditentukan bahwa pihak yang cidera janji untuk memenuhi kewajiban – kewajiban yang
ditentukan dalam Perjanjian Perdamaian dapat digugat oleh pihak lainnya untuk memenuhi
kewajiban-kewajibannya berdasarkan Perjanjian Awal. Biasanya dipakai dalam Perjanjian
Restrukturisasi Hutang. Misalnya hutang direstrukturisasi dengan menghapuskan denda, bunga
dan sebagian hutang pokok. Juga pengembalian hutang pokok dijadualkan kembali/diperpanjang.
Jika Debitur wanprestasi (lagi) atas konsensi-konsensi restrukturisasi hutang yang telah diberikan
oleh Kreditur, maka Kreditur dapat menggugat Debitur untuk melunasi hutang – hutangnya
dengan jumlah sebelum denda, bunga dan hutang pokok dihapuskan dan dalam waktu sebelum
hutang pokok dijadualkan kembali pembayarannya.

  Contoh klausula:

   ”Dalam hal Debitur cidera janji atas konsensi-konsensi yang telah diberikan oleh Kreditur
dalam Perjanjian Restrukturisasi Hutang ini, maka Kreditur dapat mencabut konsensi-konsensi
tersebut sehingga kewajiban Debitur dihitung berdasarkan Perjanjian Kredit yang belum
direstrukturisasi”.
   Namun Klausula Recapture tidak boleh bersifat berat sebelah (’unconscionable’) atau
menyalahgunakan kedudukan di pihak yang lebih kuat (’misbruik van omstandigheden’).
Misalnya ditentukan bahwa setiap saat Kreditur dapat mencabut konsensi-konsensi restrukturisasi
hutang yang telah diberikannya, walaupun Debitur tidak wanprestasi.
Hukum perjanjian

Hukum perjanjian

  • 1.
    DI PT PERSADADIAGNOSTIK JAKARTA
  • 2.
    Istilah perjanjian dalamPasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Oleh karena itu, tidak salah jika Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja dalam bukunya Perikatan yang Lahir dari Perjanjian. menyebutkan suatu perjanjian adalah 1) suatu perbuatan, 2) antara sekurang- kurangnya dua orang (jadi dapat lebih dari dua orang), perbuatan tersebut melahirkan perikatan diantara dua pihak yang berjanji tersebut.
  • 3.
    syarat sah perjanjianmenurut ketentuan pasal 1320 BW adalah: 1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya Kesepakatan para pihak pada prinsipnya adalah pengejawantahan dari azas konsensualitas. Azas konsensualitas memperlihatkan bahwa sebuah perjanjian timbul seketika setelah para pihak mecapai kesepakatan atau consensus. Kesepakatan mengandung pengertian bahwa para pihak saling menyatakan kehendak masing-masing untuk menutup sebuah perjanjian; pernyataan salah satu pihak “cocok” dengan pernyataan pihak yang lain. 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan Kecakapan melakukan perbuatan hukum dapat dirumuskan sebagai kemungkinan melakukan perbuatan hukum secara mandiri yang mengikat diri sendiri tanpa diganggu gugat. Subjek hukum dalam melakukan perjanjian bisa merupakan natuurlijk persoon ataupun rechtspersoon. 3. Suatu hal tertentu Suatu perjanjian haruslah mempunyai objek (bepaald onderwerp) tertentu, sekurang-kurangnya dapat ditentukan bahwa objek tertentu itu dapat berupa benda yang sekarang ada dan nanti akan ada. 4. Suatu sebab yang diperbolehkan/causa yang diperbolehkan Sebab adalah suatu yang menyebabkan orang membuat perjanjian, yang mendorong orang membuat perjanjian. Tetapi yang dimaksud dengan “causa yang diperbolehkan” dalam pasal 1320 BW bukanlah sebab dalam arti yang menyebabkan atau yang mendorong orang membuat perjanjian, melainkan sebab dalam arti “isi perjanjian itu sendiri” yang menggambarkan tujuan yang akan dicapai para pihak. Syarat pertama dan kedua pasal 1320 BW disebut syarat subjektif, karena melekat pada diri orang yang menjadi subjek perjanjian. Jika syarat ini tidak dipenuhi, perjanjian dapat dibatalkan. Tetapi jika tidak dimintakan pembatalan kepada hakim, perjanjian itu tetap mengikat pihak-pihak, walaupun diancam pembatalan sebelum waktu lima tahun. Syarat ketiga dan keempat pasal 1320 BW disebut syarat objektif, karena mengenai sesuatu yang menjadi objek perjanjian. Jika syarat ini tidak dipenuhi, perjanjian batal. Kebatalan ini dapat diketahui apabila perjanjian tidak mencapai tujuan karena salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya. Kemudian diperkarakan ke muka hakim, dan hakim menyatakan perjanjian batal, karena tidak memenuhi syarat objektif.
  • 4.
    1. Ada para pihak 2. Ada persetujuan antara pihak-pihak tersebut 3. Ada tujuan yang akan dicapai 4. Ada prestasi yang akan dilaksanakan 5. Ada bentuk tertentu, baik lisan maupun tulisan 6. Ada syarat-syarat tertentu.
  • 5.
     Dalam Undang-undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan disebutkan: “Direksi mewakili perseroan baik di dalam maupun luar pengadilan serta dalam hal anggota direksi terdiri lebih dari 1 (satu) orang, yang berwenang mewakili perseroan adalah setiap anggota Direksi, kecuali ditentukan lain dalam anggaran dasar”.
  • 6.
     Berdasarkan ketentuan pasal 1233 BW, perjanjian merupakan salah satu sumber yang bisa menimbulkan perikatan.  pengertian dari perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu
  • 7.
     overeenskomst (bahasa Belanda),  contract, agreement (bahasa Inggris),  contract convention (bahasa Prancis),  pacte conventie contractus (bahasa Latin),  kontrakt vertrag (bahasa Jerman), merupakan istilah yang dalam hukum kita dikenal sebagai “kontrak” atau “perjanjian”.
  • 8.
     BW menggunakan istilah overeenkomst dan contract untuk pengertian yang sama. Hal ini dapat dilihat jelas dari judul Bab II Buku III BW. Judul dari Bab II Buku III BW adalah “Tentang Perikatan-Perikatan yang Dilahirkan dari Kontrak atau Perjanjian”.  Dimana dalam BW disamakan pengertian antara perjanjian atau persetujuan (overeenkomst) dengan istilah kontrak. Selain itu dalam praktik kedua istilah tersebut juga dipergunakan dalam kontrak komersial, misalnya dalam perjanjian waralaba, perjanjian sewa guna usaha, kontrak kerjasama, perjanjian kerjasama, kontrak kerja konstruksi.
  • 9.
     Ada pihak-pihak yang menjadi subjek, sedikitnya dua pihak dan masing- masing bisa terdiri atas orang dengan orang atau orang dengan badan hukum atau badan hukum dengan badan hukum. Dengan demikian tidak mungkin dikatakan ada perjanjian jika subjeknya hanya satu;  Ada persetujuan (kesepakatan) diantara para pihak. Kesepakatan digambarkan sebagai pernyataan kehendak para pihak yang saling mengisi. Kesepakatan tersebut terbentuk melalui penawaran-penawaran yang disampaikan oleh para pihak yang kemudian bertemu pada satu titik.
  • 10.
     Ada objek yang berupa benda. Objek perjanjian adalah harta benda yang dapat diperdagangkan.  Ada tujuan yang bersifat kebendaan (mengenai harta kekayaan). Dengan perkataan lain bahwa perjanjian bermaksud mengalihkan hak atas harta benda yang menjadi objek perjanjian.
  • 11.
     Ada bentuk tertentu, lisan atau tertulis. Berdasarkan asas kebebasan berkontrak atau partij otonomie sebenarnya perjanjian dapat dibuat secara lisan sehingga dikenal sebagai kontrak lisan, bisa pula berbentuk tertulis kecuali Undang-Undang menentukan lain, yaitu yang dalam teori dikenal dengan sebutan kontrak formal seperti kontrak perdamaian, kontrak penjaminan tanah, kontrak pendirian perseroan terbatas, perjanjian hibah.
  • 12.
     Sistem pengaturan hukum perjanjian dalam Buku III BW adalah sistem terbuka (open system), atau juga disebut sebagai aanvullend recht. Artinya bahwa setiap orang bebas untuk mengadakan perjanjian, baik yang sudah diatur maupun yang belum diatur di dalam undang-undang. Hal ini dapat disimpulkan dari ketentuan yang tercantum dalam pasal 1338 ayat (1) BW, yang berbunyi: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang- undang bagi mereka yang membuatnya.”
  • 13.
     Azas kebebasan berkontrak merupakan salah satu azas utama dan sangat penting dalam suatu perjanjian.  Kebebasan berkontrak memberikan jaminan kebebasan kepada seseorang untuk secara bebas dalam beberapa hal yang berkaitan dengan perjanjian  Azas kebebasan berkontrak menjadi salah satu azas yang utama, dikarenakan azas ini bisa mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam melakukan transaksi bisnis yang senantiasa berkembang seiring perkembangan teknologi.
  • 14.
     Kedudukan azas kebebasan berkontrak ini semakin diperkuat dengan ketentuan pasal 1319 BW, yang memuat: “Semua perjanjian, baik yang mempunyai suatu nama khusus, maupun yang tidak terkenal dengan suatu nama tertentu, tunduk pada peraturan-peraturan umum, yang termuat dalam bab ini dan bab yang lalu.”  Dengan kata lain, ketentuan pasal 1319 BW mengakui akan adanya perjanjian-perjanjian selain yang terdapat dalam BW. Perjanjian- perjanjian yang tidak terdapat dalam Buku III BW ini dinamakan perjanjian tak bernama atau kontrak innominaat
  • 15.
    1. Orang-orang belum dewasa; 2. Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan; 3. Orang-orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang-undang, dan pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang membuat perjanjian-perjanjian tertentu; (namun ketentuan ini telah dihapus dengan Surat Edaran Mahkamah Agung No. 3 tahun 1963 dan pasal 31 undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan)
  • 16.
     Untuk menyelesaikan masalah perselisihan ini, suatu perjanjian seringkali memuat suatu klausula yang mengatur bagaimana perselisihan tersebut diselesaikan. Misalnya hukum mana yang akan digunakan dan peradilan mana yang dipilih untuk menyelesaikan perselisihan tersebut.  Dalam menentukan pilihan ini terdapat kebebasan berkontrak (freedom of contract), yaitu para pihak bebas menentukan pilihan-pilihannya. Khususnya mengenai pilihan forum (freedom of jurisdiction)
  • 17.
     Langkah untuk menyelesaikan sengketa adalah terlebih dahulu melakukan perundingan.  Namun karena perundingan mungkin menjadi proses yang berteletele, sangat penting untuk menentukan jangka waktu perundingan (kapan perundingan dikatakan impasse/dead lock).  Demikian juga harus ditentukan proses penyelesaian sengketa selanjutnya setelah terjadi impasse.
  • 18.
     Klausula Perundingan  Klausula Perundingan Tingkat Tinggi  Klausula Mediasi (Belum Menunjuk Mediator)  Klausula Mediasi (Sudah Menunjuk Mediator)  Klausula Mediasi Dengan Arbitase
  • 20.
    Klausula Perundingan Langkah terpujiuntuk menyelesaikan sengketa adalah terlebih dahulu melakukan perundingan. Namun karena perundingan mungkin menjadi proses yang berteletele, sangat penting untuk menentukan jangka waktu perundingan (kapan perundingan dikatakan impasse/dead lock). Demikian juga harus ditentukan proses penyelesaian sengketa selanjutnya setelah terjadi impasse. Contoh klausula: ”Para pihak dengan itikad baik harus menyelesaikan setiap sengketa yang timbul dari atau sehubungan dengan Perjanjian ini, segera melalui perundingan antara para pejabatnya yang berwenang. Masing-masing pihak dapat memberikan kepada pihak lainnya pemberitahuan tertulis mengenai setiap sengketa yang tidak dapat diselesaikan melalui cara-cara biasa. Dalam waktu [15] hari setelah disampaikannya pemberitahuan tersebut, pihak yang menerima pemberitahuan harus menyampaikan jawaban secara tertulis kepada pihak lainnya. Pemberitahuan dan jawaban tersebut harus memuat a. pernyataan mengenai posisi masing-masing pihak dan suatu alasan singkat yang mendukung posisi tersebut, dan nama serta jabatan pejabat yang berwenang untuk mewakili dan nama setiap orang lain yang akan mendampingi pejabat tersebut. Dalam [30] hari setelah penyampaian pemberitahuan pihak bersengketa, para pejabat kedua belah pihak harus bertemu di suatu tempat dan waktu yang disetujui bersama, dan setelah itu sedapat mungkin dan sepanjang para pihak menganggap perlu, para pihak berupaya menyelesaikan sengketa tersebut. Setiap permintaan keterangan oleh salah satu pihak kepada pihak lainnya harus dihormati. Seluruh perundingan berdasarkan kalusula ini bersifat rahasia”.
  • 21.
    Klausula Perundingan TingkatTinggi Jika perundingan antara pejabat-pejabat ’kelas menengah’ gagal menyelesaikan sengketa, sebaiknya dicoba untuk melanjutkan perundingan yang dilakukan oleh pejabat ’kelas berat’, dalam hal ini direktur dari pihak-pihak yang bersengketa. Hanya jika perundingan tingkat tinggi ini gagal juga barulah ditempuh prosedur perundingan dengan perantaraan mediator. Contoh klausula: ”Apabila masalahnya tidak dapat diselesaikan oleh para pejabat sebagaimana tersebut diatas, maka dalam waktu [45] hari sejak pemberitahuan pihak bersengketa, para direktur dari pihak-pihak yang bersengketa yang memiliki wewenang untuk menyelesaikan sengketa tersebut wajib untuk merundingkan penyelesaian sengketa. Dalam hal perundingan antara para direktur tersebut gagal untuk menyelesaikan sengketa dalam waktu [15] hari sejak perundingan dilakukan atau para direktur gagal untuk bertemu [15] hari sejak berakhirnya perundingan antara pejabat dibawahnya, maka perundingan akan dilanjutkan dengan perantaraan mediator”.
  • 22.
    Klausula Mediasi (BelumMenunjuk Mediator) Pengalaman telah menunjukkan bahwa keterlibatan mediator yang tidak memihak (imparsial) dapat membantu para pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan sengketanya. Oleh karena itu adalah bijaksana untuk menetapkan mediasi sebagai sarana penyelesaian sengketa sebelum timbul sengketa, yaitu dalam kontrak, walaupun dimungkinkan juga untuk membuat perjanjian mediasi setelah timbul sengketa. Perjanjian mediasi setelah timbul sengketa dapat dilihat contoh-contohnya dari standar kontrak yang dibuat oleh Pusat Mediasi Nasional (contoh kesepakatan untuk Mediasi Out of Court; contoh kesepakatan untuk Mediasi Court Annexed). Contoh klausula: ”Apabila sengketa tidak dapat diselesaikan melalui perundingan dalam waktu [45] hari sejak pemberitahuan pihak bersengketa, atau apabila para pihak tidak dapat melakukan pertemuan dalam waktu [20] hari, maka para pihak harus berupaya menyelesaikan sengketa mereka melalui mediasi dengan ketentuan yang diatur dalam Prosedur Mediasi Pusat Mediasi Nasional. Kecuali disepakati sebaliknya, para pihak dapat memilih seorang mediator dari Panel Mediator yang disediakan oleh Pusat Mediasi Nasional”.
  • 23.
    Klausula Mediasi (SudahMenunjuk Mediator) Proses mediasi akan lebih mudah dimulai, jika para pihak telah dapat menyetujui mediatornya sebelum sengketa timbul. Dengan perkataan lain nama mediator telah dicantumkan dalam klausula mediasi dalam kontrak. Dikatakan ’lebih mudah’ karena para pihak tidak perlu ’bersengketa’ lagi untuk memilih mediator yang akan membantu menyelesaikan sengketa mereka. Mediator pun dapat menjaga agar dirinya tidak memiliki conflict of interest dengan para pihak sejak penunjukannya. Contoh klausula: ”Apabila sengketa tidak dapat diselesaikan melalui perundingan dalam waktu [45] hari sejak pemberitahuan pihak bersengketa, atau apabila para pihak tidak dapat melakukan pertemuan dalam waktu [20] hari, maka para pihak harus berupaya menyelesaikan sengketa mereka melalui mediasi dengan ketentuan yang diatur dalam Prosedur Mediasi Pusat Mediasi Nasional. Para pihak telah memilih _______________ sebagai mediator, yang telah menyatakan persetujuan atas penunjukannya tersebut. Dalam hal ______________ menjadi tidak bersedia atau berhalangan untuk menjalankan tugasnya, para pihak telah memilih _____________ sebagai mediator alternatif. Dalam hal bahwa baik ___________maupun ______________ tidak bersedia atau berhalangan untuk menjalankan tugas tersebut, para pihak akan menyepakati seorang pengganti dengan bantuan Pusat Mediasi Nasional. Kecuali disepakati sebaliknya, para pihak dapat memilih seorang mediator dari Panel Mediator yang disediakan oleh Pusat Mediasi Nasional”.
  • 24.
    Klausula Mediasi DenganArbitase Klausula mediasi dan arbitrase dapat dibuat secara terpisah. Namun dimungkinkan untuk membuat satu klausula singkat yang mengatur mediasi sekaligus arbitrase, tentunya jika prosedur dan/atau institusi mediasi dan arbitrasenya jelas dicantumkan dalam klausula tersebut. Contoh klausula: ”Para pihak harus berupaya menyelesaikan setiap sengketa yang timbul dari atau sehubungan dengan Perjanjian ini melalui mediasi menurut Prosedur Mediasi Pusat Mediasi Nasional. Kecuali disepakati sebaliknya, para pihak dapat memilih seorang mediator dari Panel Mediator yang disediakan oleh Pusat Mediasi Nasional. Setiap perbedaan atau tuntutan yang timbul dari atau sehubungan dengan kontrak ini atau pelanggaran, penghentian atau kabsahannya, yang tetap tidak dapat diselesaikan dalam waktu 45 hari setelah penunjukkan seorang mediator, harus diselesaikan melalui arbitrase oleh [seorang] [tiga] arbiter menurut ketentuan Badan Arbitrase Nasional Indonesia, dan putusan yang dibuat oleh (para) arbiter dapat dilaksanakan oleh setiap pengadilan yang memiliki yurisdiksi terhadap putusan arbitrase tersebut”.
  • 25.
    Mengenai Hak danKewajiban  tidak ada standar bakunya;  para pihak menegaskan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya;  diatur kapan, dimana, bagaimana hak- hak dan kewajiban-kewajiban tersebut akan dipenuhi.
  • 26.
    Klausula Penarikan Gugatan/ Pengaduan (condition precedent) Klausula ini diperlukan agar sebelum hak-hak dan kewajiban-kewajiban dipenuhi, segala gugatan dan pengaduan yang telah diajukan oleh salah satu/kedua belah pihak dicabut terlebih dahulu. Dengan demikian klausula ini menjadi condition precedent dari efektifnya Perjanjian Perdamaian. Tidak ada contoh bakunya, namun segala gugatan dan pengaduan yang telah diketahui oleh para pihak tentunya harus dicantumkan dan ditutup dengan anak kalimat sebagai berikut: ”dan gugatan atau pengaduan lain yang mungkin pernah diajukan oleh salah satu pihak kepada badan peradilan atau instansi manapun, yang belum diketahui oleh pihak lainnya”.
  • 27.
    Klausula Pembebasan TanggungJawab Masing – Masing Pihak (Acquit et decharge-release and discharge) Klausula ini diperlukan agar setelah Perjanjian Perdamaian ditandatangani, tidak ada lagi saling tuntut. Contoh klausula: ”Dengan telah dipenuhinya segala hak dan ditunaikannya segala kewajiban sebagaimana telah diatur dalam pasal 00 Perjanjian ini, para pihak dengan ini menegaskan bahwa masing-masing pihak tidak lagi memiliki tuntutan apapun kepada pihak lainnya [mengenai ......................]. Selanjutnya masing-masing pihak berjanji untuk tidak: (i) mengajukan tuntutan atau pengaduan apapun atau (ii) menyuruh orang lain untuk mengajukan tuntutan atau pengaduan apapun kepada badan-badan peradilan dan/atau instansi-instansi yang berwenang untuk memeriksa, mengadili dan menghukum pihak lain sehubungan dengan ................”.
  • 28.
    Klausula Penghukuman KarenaWanprestasi Perdamaian (Recapture Clause) Dapat ditentukan bahwa pihak yang cidera janji untuk memenuhi kewajiban – kewajiban yang ditentukan dalam Perjanjian Perdamaian dapat digugat oleh pihak lainnya untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya berdasarkan Perjanjian Awal. Biasanya dipakai dalam Perjanjian Restrukturisasi Hutang. Misalnya hutang direstrukturisasi dengan menghapuskan denda, bunga dan sebagian hutang pokok. Juga pengembalian hutang pokok dijadualkan kembali/diperpanjang. Jika Debitur wanprestasi (lagi) atas konsensi-konsensi restrukturisasi hutang yang telah diberikan oleh Kreditur, maka Kreditur dapat menggugat Debitur untuk melunasi hutang – hutangnya dengan jumlah sebelum denda, bunga dan hutang pokok dihapuskan dan dalam waktu sebelum hutang pokok dijadualkan kembali pembayarannya. Contoh klausula: ”Dalam hal Debitur cidera janji atas konsensi-konsensi yang telah diberikan oleh Kreditur dalam Perjanjian Restrukturisasi Hutang ini, maka Kreditur dapat mencabut konsensi-konsensi tersebut sehingga kewajiban Debitur dihitung berdasarkan Perjanjian Kredit yang belum direstrukturisasi”. Namun Klausula Recapture tidak boleh bersifat berat sebelah (’unconscionable’) atau menyalahgunakan kedudukan di pihak yang lebih kuat (’misbruik van omstandigheden’). Misalnya ditentukan bahwa setiap saat Kreditur dapat mencabut konsensi-konsensi restrukturisasi hutang yang telah diberikannya, walaupun Debitur tidak wanprestasi.