Hak, Kepemilikan, Harta, Uang
Dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam
Adilla Shafa Nafisa Marahaenis (01031281924027)
Andini Noviana (01031181924022)
Arinda Mulany Simanjuntak (01031281924090)
Bruno Leonardo Futunanembun (01031981722225)
Fedrico Adhikarya (01031281924060)
M.Rizky Faadihilah (01031281924067)
Maruel Makaminan Laheba (01031281924071)
Ni Ketut Yunita Untari (01031381924151)
Tiara Kurnia Sari (01031181924010)
Perpetua Sirumapea (01031281924094)
KELOMPOK 2
Harta dalam bahasa arab disebut al-mal
PENGERTIAN HARTA DALAM ISLAM
Ada sangat banyak pengertian harta yang muncul dari para tokoh agama
islam, namun secara garis besar harta dapat diartikan sebagai seperangkan
benda atau non benda yang memiliki nilai dan dapat membawa
kebermanfaatan.
Berikut adalah pengertian harta menurut beberapa Referensi
2. Wahbah Zuhaily mengatakan bahwa secara etimologis al-maaal diartikan
sebagai segala sesuatu yang dapat mendatangkan ketenangan,
kenyamanan dalam bentuk materi/fisik maupun dalam bentuk manfaat
3. Ulama Hanafiyah menegaskan bahwa al-maal adalah segala sesuatu
yang mungkin untuk dimiliki, disimpan dan dimanfaatkan.
1. Dalam al-Muhith 1) dan Lisan Arab 2), menjelaskan bahwa harta
merupakan segala sesuatu yang sangat diinginkan oleh manusia untuk
menyimpan dan memilikinya.
4. Ulama fiqh memaknai harta dengan seagala sesuatu yang bernilai
finansial atau berharga, serta dapat dijualbelikan, sehingga jika ada yang
menghilangkan atau merusaknya, harus dilakukan ganti rugi atau
tanggungjawab.
KONSEP UANG DALAM ISLAM
Public goods merupakan barang umum, dimana uang dianggap sebagai milik
masyarakat, tidak boleh dimiliki secara pribadi (private goods), ekonomi Islam
melarang pemilik uang menahan atau menimbun uangnya secara berlebih
dengan jumlah tidak wajar dan dibiarkan mengendap tidak produktif, namun
harus digunakan untuk aktivitas ekonomi, uang harus dinikmati oleh seluruh
masyarakat.
flow concept adalah konsep mengalir, yakni uang harus mengalir dan berputar
dalam aktivitas ekonomi, digunakan dalam investasi sektor riil dan berbagai
akad-akad yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, seperti: mudharabah,
musyarakah, wadiah dan lain-lain.
Konsep uang menurut ekonomi Islam terbagi atas public goods
dan flow concept
Uang sebagai milik masyarakat umum (money as public goods),
bukan monopoli perorangan (private goods).
Artinya seseorang tidak dibenarkan untuk menumpuk uang atau
dibiarkan tidak produktif karena dapat menghambat jumlah uang
yang beredar, dan harus selalu diputar untuk usaha. Uang yang
terus berputar akan menjaga stabilitas ekonomi
Uang adalah sesuatu yang mengalir (money as flow concept)
Dimana uang harus berputar terus menerus sehingga dapat
mendatangkan keuntungan yang lebih besar. Semakin cepat
uang beredar maka semakin banyak pendapatan yang akan
didapat
JENIS-JENIS HARTA
Harta terdiri atas beberapa bagian, tiap-tiap bagian
memiliki ciri khusus dan hukumnya tersendiri
a. Harta Mutawaqwwim dengan Harta
Harta Mutaqawwim
v
Harta mutaqawwim ialah semua
harta yang mencakup jenis
maupun cara memperoleh dan
penggunaannya.
Harta ghair mutawaqqim ialah
kebalikan dari harta mutaqawwim,
yakni yang tidak boleh diambil
manfaatnya, baik jenisnya, cara
memperolehnya maupun cara
penggunaannya.
b. Harta Mitsili dan Mal Qimi
v
Harta mitsli terbagi
menjadi empat bagian,
yaitu harta yang ditakar,
harta yang ditimbang,
harta yang dihitung
seperti, dan harta yang
dijual dengan meter.
Harta qimi ialah harta yang jenisnya sulit
didapatkan di pasar, biasanya diperoleh tapi
jenisnya berbeda, kecuali dalam nilai
harganya. Jadi, harta yang ada imbangannya
(persamaannya) disebut mitsli dan harta
yang tidak ada imbangannya disebut qimi.
c. Harta istihlaki dan harta isti’mali
Harta istihlaki ialah suatu benda
yang menjadi harta yang secara
jelas (nyata) zatnya dan sekali
digunakan habis. Misalnya korek
api, bila dibakar maka habislah
harta yang berupa kayu itu.
Harta isti’mal ialah tidak habis
sekali digunaka, tetapi dapat
digunakan lama menurut apa
adanya, seperti kebun, tempat
tidur, pakaian, sepatu, dan lain
sebagainya. Perbedan harta dua
jenis ini ialah, harta istihlak habis
satu kali digunakan, sedangkan
harta isti’mal tidak habis dalam satu
kali pemanfaatan.
d. Harta Manqul dan Harta Ghair
Manqul
Harta manqul ialah harta
yang bias dipindahkan
(manqul), seperti emas,
perak, perunggu, pakaian,
kendaraan, dan lain
sebagainya.
Harta ghair manqul ialah
seperti kebun, rumah, pabrik,
sawah, dan yang lainnya
termasuk harta ghair manqul
karena tidak dapat
dipindahkan. Dalam hokum
perdata positif digunakan istilah
benda bergerak dan benda
tetap.
e. Harta’ain dan Harta Dayn
Harta’ain ialah harta yang berbentuk
benda, seperti rumah, pakaian,
beras, jambu, kendaraan (mobil),
dan yang lainnya. Harta’ain terbagi
menjadi dua, yaitu’ain dzati qimah
dan ain’ghyar qimah. Harta’ain
ghyar qimah, yaitu benda yang tidak
dapat dipandang sebagai harta
karena tidak memiliki harga,
misalnya sebiji beras.
Harta dayn ialah: “sesuatu yang
berada dalam tanggung jawab.”
Seperti uang yang berada dalam
tanggung jawab seseorang.
f. Harta Al-‘Ain dan Mal Al-Nafi’i
(Manfaat)
Harta’ain ialah benda yang
memiliki nilai dan bentuk
(berwujud), misalnya
rumah,dan lainnya.
Harta nai’f ialah a’raddl yang
beragsur-angsur tumbuh
menurut perkembangan masa,
oleh karenaa itu mal al-naf’I
tidak berwujud dan tidak
mungkin disimpan.
g. Harta Mamluk, Mubah dan Mahjur
Harta mamluk ialah harta
perorangan (mustaqil) yang
berpautan dengan hak bukan
pemilik, misalnya rumah yang
dikontrakkan.
Harta mubah ialah “sesuatu yang
pada asalnya bukan milik
seseorang, seperti air pada mata
air, binatang buruan darat, laut,
pohon-pohon dihutan dan buah-
buahanya.”
Harta mahjur ialah:”sesuatu yang
tidak boleh dimiliki sendiri dan
memberikan kepada orang lain
menurut syariat, adakalanya
benda itu benda wakaf ataupun
benda yang dikhususkan untuk
masyarakat umum, seperti jalan
raya, masjid-masjid, kuburan-
kuburan, dan yang lainnya.”
h. Harta yang Dapat Dibagi atau Tidak
Dapat Dibagi
Harta yang dapat dibagi (mal qabil li al-
qismah) ialah harta yang tidak
menimbulkan suatu kerugian atau
kerusakan apabila harta itu dibagi-bagi,
misalnya beras tepung, dan lainnya.
Harta yang tidak dapat dibagi (mal
ghair qabil li al-qismah) ialah harta
yang menimbulkan suatu kerugian atau
kerusakan apabila harta tersebut
dibagi-bagi, misalnya gelas, kursi,
meja, dan lainnya.
i. Harta pokok dan harta hasil
(tsamrah)
j. Harta Khas dan Harta ‘Am
Harta pokok ialah: “Harta yang
mungkin darinya terjadi harta
yang lain.”
Harta hasil (tsamrah)
ialah:”Harta yang terjadi dari
harta yang lain.”
Harta khas ialah harta pribadi,
tidak bersekutu dengan yang lain,
tidak boleh diambil manfaatnya
tanpa disetujui pemilikanya.
Harta ‘am ialah harta milik umum.
JENIS JENIS HAK KEPEMILIKAN
Kepemilikan Individu
(Milkiyah Fardhiah)
Kepemilikan Individu
adalah idzin syariat
pada individu untuk
memanfaatkan suatu
barang melalui lima
sebab kepemilikan
1.Bekerja (al-’amal)
2.Warisan (al-irts),
3. Keperluan harta
untuk
mempertahankan
hidup
4.Pemberian negara
(i’thau al-daulah)
5.Harta yang diperoleh
individu tanpa
berusaha
Kepemilikan Umum
(Milkiyah ‘Amma)
Kepemilikan Umum
adalah idzin syariat
kepada masyarakat
secara bersama-sama
memanfaatkan suatu
kekayaan yang berupa
barang-barang yang
mutlak diperlukan
manusia dalam
kehidupa sehari-hari
Kepemilikan Negara
(Milkiyah Daulah)
Kepemilikan Negara
adalah idzin syariat
atas setiap harta yang
hak pemanfaatannya
berada di tangan
khalifah sebagai
kepala negara.
Termasuk dalam
kategori ini adalah
harta ghanimah
(pampasan perang),
fa’i, kharaj, jizyah, 1/5
harta rikaz (harta
temuan), ‘ushr, harta
orang murtad, harta
yang tidak memiliki
ahlli waris dan tanah
hak milik negara.
Al milk At Tamm (milik sempurna)
Al milk At Tamm (milik sempurna) Yaitu apabila materi dan manfaat harta itu
dimiliki sepenuhnya oleh seseorang, sehingga seluruh hak yang terkait dengan
harta itu dibawah penguasaannya.
Al Milk An Naqish
(kepemilikan tidak sempurna)
Al Milk An Naqish (kepemilikan tidak sempurna) Yaitu apabila seseorang hanya
menguasai materi harta itu, tetapi manfaatnya dikuasai orang lain.
(a) Boleh dibatasi waktu,tempat, dan sifatnya.
(b) Tidak boleh diwariskan.
(c) Orang yang menggunakan manfaatnya wajib mengeluarkan biaya
pemeliharaan.
(a). sejak awal kepemilikan terhadap materi dan manfaat bersifat sempurna.
(b) Materi dan manfaatnya sudah ada sejak sejak pemilikan itu.
(c) Pemilikannya tidak dibatasi waktu.
(d) kepemilikannya tidak dapat digugurkan
LANDASAN HUKUM KEPEMILIKAN HARTA
Dalam Islam sendiri tidak hanya membebaskan pengikutnya agar turut
dalam kegiatan ekonomi sehari-hari dalam mencari harta duniawi, tetapi
juga mendorongnya untuk bekerja mencari nafkah. Hal ini menunjukkan
bahwa Islam mengajarkan bagaimana cara perolehan terhadap hak milik.
Sebagaimana dalam QS. al-Jumu’ah, 57: 10, Allah SWT berfirman :Artinya
: Apabila ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu dimuka bumi,
dan carilah karunia Allah
Dalam ayat lain, Allah Swt, mengingatkan kepada manusia agar jangan
melupakan untuk berusaha dalam mencari rezeki atau karunianya
dimuka bumi ini, sebagaimana firmannya dalam surat An-Nisa ayat 32 :
Artinya :Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan
Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain.
(karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka
usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang
mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-
Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
ANJURAN BEKERJA ATAU BERNIAGA
Islam menganjurkan umatnya agar bekerja dan berniaga, menghindari
meminta-minta dalam mencari harta kekayaan. Manusia memerlukan
harta kekayaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk
memenuhi perintah Allah seperti infaq, zakat, pergi haji, perang (jihad)
dan sebagainya.
“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka
bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak
supaya kamu beruntung” (QS 62:10)
Setiap hasil kerja maupun berniaga yang dijalankan oleh manusia tidak
luput dengan adanya konsekuensi di masa depan, yaitu keuntungan dan
kerugian. Keduanya merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dari
kegiatan berniaga. Tidak ada satu pun yang bisa menjamin bahwa bisnis
yang dijalankan oleh seseorang akan mengalami keuntungan atau
kerugian di masa depan
Islam melarang setiap jenis transaksi yang menghasilkan keuntungan tanpa
adanya kesediaan menanggung kerugian. Itulah sebabnya mengapa Islam
melarang adanya tambahan (bunga) dalam transaksi uang seperti yang biasa
terjadi dalam sistem keuangan konvensional.
KONSEP KEPEMILIKAN
Kepemilikan sebenarnya berasal dari bahasa Arab dari akar kata
"malaka" yang artinya memiliki
Harta yang baik harus memenuhi dua kriteria yaitu diperoleh dengan cara yang sah
dan benar ( legal and fair ), serta dipergunakan untuk hal yang baik dalam jalan
Allah SWT. Harta kepunyaan Allah dan manusia merupakan khalifah atas harta
memiliki karakteristik yaitu semua harta baik benda maupun alat produksi adalah
milik Allah SWT, firman Q.S. Al Baqarah ayat 284 dan Q.S. Al-Maai’dah ayat 17,
sedangkan manusia adalah khalifah Allah di muka bumi yang diberi kekuasaan
untuk mengelola atas harta milik-Nya. Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-
Hadiid ayat 7.
Pada QS.an-Najm ayat 31 dan Firman Allah SWT. Dalam QS.An-Nisaa ayat 32 dan QS,Al-
Maa’idah ayat 38, terlihat jelas perbedaan antara konsep kepemilikan dalam islam dengan
yang lain. Islam menolak paham kapitalis, bahwa kepemilikan individu sangat absolut. Islam
juga berbeda dengan paham sosialis bahwa kepemilikan adalah tugas kolektif, di samping itu,
Islam juga menentang paham bahwa kepemilikan adalah hak bersama. Islam sangat
mengakui dan tidak menentang, bahwa kepentingan umum haruslah dipertimbangkan dan
didahulukan daripada kepentingan kelompok kecil, apalagi kepentingan individu. Dengan kata
lain konsep kepemilikan dalam islam mengakui hak milik milik pribadi sebagai ghazirah atau
tabiat manusia itu sendiri. Dengan demikian mempertimbangkan kemaslahat umum adalah
suatu hal yang harus diterima dalam konsep kepemilikan.
Menurut Ibnu Taimiyah, hak milik
terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Hak Milik Individual (Al-Milkiyyat Al-Fardiyyah/Privat Property)
Setiap individu memiliki hak untuk menikmati hak miliknya secara
produktif, memindahkannya dan melindungi dari pemubadziran.
Dalam berniaga, manusia memiliki Batasan untuk tidak boleh
melakukan pemalsuan, penipuan dan curang dalam timbangan.
2. Kepemilikan Umum (Al-Milkiyyat Al-‘Ammah/Public Property)
Kepemilikan umum atau kolektif adalah hak milik yang biasanya
diperlukan untuk kepentingan sosial. Jika harta kekayaan dimiliki
oleh dua orang atau lebih, maka mereka bisa menggunakannya
sesuai dengan aturan yang mereka tetapkan.
3. Kepemilikan Negara (Al-Milkiyyat Al-Daulah/State Property)
Negara membutuhkan hak milik untuk memperoleh penghasilan
untuk menjalankan kewajiban.Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa
sumber utama kekayaan negara adalah zakat, pajak, wakaf,
hadiah, pungutan denda dan harta rampasan perang (ghanimah),
serta barang temuan yang tidak ada pemiliknya.
PEROLEHAN HARTA
Memperoleh harta adalah aktivitas ekonomi yang masuk dalam kategori
ibadah muamalah (mengatur hubungan manusia dengan manusia).
Kaidah fikih dari muamalah adalah semua halal dan boleh dilakukan
kecuali yang diharamkan/dilarang dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Kaidah fikih ini berlandaskan pada firman Allah dan Hadis berikut ini.
"Dialah allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu....“
(QS 2:29)
"Dan dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada
di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam
hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah)
bagi orang-orang berfikir." (QS 45:13)
"Yang halal ialah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitabNya, dan yang
haram ialah apa yang diharamkan Allah dalam kitab-Nya; sedang apa
yang didiamkan oleh Nya berarti dimaafkan (diperkenankan) untukmu.“
(HR. At-Tirmidzi & Ibnu Majah)
PENGGUNAAN DAN PENDISTRIBUSIAN HARTA
Islam mengatur setiap aspek kehidupan ekonomi penuh dengan
pertimbangan moral, sebagaimana firman Allah berikut ini
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan
Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan
berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik
kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.
Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan” (QS 28:77)
Kesimpulan dari ayat diatas adalah dalam penggunaan harta, manusia
tidak boleh mengabaikan kebutuhannya di dunia, namun dilain sisi manusia
juga harus cerdas dalam menggunakan hartanya untuk mencari pahala
akhirat.
Ketentuan Syariah berkaitan
dengan penggunaan harta, antara
lain:
1. Tidak Boros dan Tidak Kikir
“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaiannmu yang bagus pada setiap
(memasuki) Masjid, makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan.
Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (QS 7:31)
“Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan
janganlah pula engkau mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu
jadi tercela dan menyesal” (QS 17:29)
2. Memberi infak dan sedekah
“Ingatlah kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan
(hartamu) dijalan Allah lalu diantara kamu ada orang kikir, dan barang
siapa yang kikir maka sesungguhnya dia kikir kepada dirinya sendiri. Dan
Allah-ah yang maha kaya, dan kamulah yang membutuhkan (karunia-
Nya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar), Dia akan
menggantikan (Kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan
(durhaka) seperti kamu” (QS 47:38)
3. Membayar zakat sesuai ketentuan
“Ambilah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan
mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya daoa kamu itu
(membutuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui” (QS 9:103)
4. Memberi pinjaman tanpa bunga
5. Meringankan kesulitan orang yang berutang
“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu
sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu baik
bagimu,jika kamu mengetahui” (QS 2:280)
TERIMAKASIH

Harta dan Kepemilikan

  • 1.
    Hak, Kepemilikan, Harta,Uang Dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam Adilla Shafa Nafisa Marahaenis (01031281924027) Andini Noviana (01031181924022) Arinda Mulany Simanjuntak (01031281924090) Bruno Leonardo Futunanembun (01031981722225) Fedrico Adhikarya (01031281924060) M.Rizky Faadihilah (01031281924067) Maruel Makaminan Laheba (01031281924071) Ni Ketut Yunita Untari (01031381924151) Tiara Kurnia Sari (01031181924010) Perpetua Sirumapea (01031281924094) KELOMPOK 2
  • 2.
    Harta dalam bahasaarab disebut al-mal PENGERTIAN HARTA DALAM ISLAM Ada sangat banyak pengertian harta yang muncul dari para tokoh agama islam, namun secara garis besar harta dapat diartikan sebagai seperangkan benda atau non benda yang memiliki nilai dan dapat membawa kebermanfaatan. Berikut adalah pengertian harta menurut beberapa Referensi 2. Wahbah Zuhaily mengatakan bahwa secara etimologis al-maaal diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat mendatangkan ketenangan, kenyamanan dalam bentuk materi/fisik maupun dalam bentuk manfaat 3. Ulama Hanafiyah menegaskan bahwa al-maal adalah segala sesuatu yang mungkin untuk dimiliki, disimpan dan dimanfaatkan. 1. Dalam al-Muhith 1) dan Lisan Arab 2), menjelaskan bahwa harta merupakan segala sesuatu yang sangat diinginkan oleh manusia untuk menyimpan dan memilikinya. 4. Ulama fiqh memaknai harta dengan seagala sesuatu yang bernilai finansial atau berharga, serta dapat dijualbelikan, sehingga jika ada yang menghilangkan atau merusaknya, harus dilakukan ganti rugi atau tanggungjawab.
  • 3.
    KONSEP UANG DALAMISLAM Public goods merupakan barang umum, dimana uang dianggap sebagai milik masyarakat, tidak boleh dimiliki secara pribadi (private goods), ekonomi Islam melarang pemilik uang menahan atau menimbun uangnya secara berlebih dengan jumlah tidak wajar dan dibiarkan mengendap tidak produktif, namun harus digunakan untuk aktivitas ekonomi, uang harus dinikmati oleh seluruh masyarakat. flow concept adalah konsep mengalir, yakni uang harus mengalir dan berputar dalam aktivitas ekonomi, digunakan dalam investasi sektor riil dan berbagai akad-akad yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, seperti: mudharabah, musyarakah, wadiah dan lain-lain. Konsep uang menurut ekonomi Islam terbagi atas public goods dan flow concept
  • 4.
    Uang sebagai milikmasyarakat umum (money as public goods), bukan monopoli perorangan (private goods). Artinya seseorang tidak dibenarkan untuk menumpuk uang atau dibiarkan tidak produktif karena dapat menghambat jumlah uang yang beredar, dan harus selalu diputar untuk usaha. Uang yang terus berputar akan menjaga stabilitas ekonomi Uang adalah sesuatu yang mengalir (money as flow concept) Dimana uang harus berputar terus menerus sehingga dapat mendatangkan keuntungan yang lebih besar. Semakin cepat uang beredar maka semakin banyak pendapatan yang akan didapat
  • 5.
    JENIS-JENIS HARTA Harta terdiriatas beberapa bagian, tiap-tiap bagian memiliki ciri khusus dan hukumnya tersendiri a. Harta Mutawaqwwim dengan Harta Harta Mutaqawwim v Harta mutaqawwim ialah semua harta yang mencakup jenis maupun cara memperoleh dan penggunaannya. Harta ghair mutawaqqim ialah kebalikan dari harta mutaqawwim, yakni yang tidak boleh diambil manfaatnya, baik jenisnya, cara memperolehnya maupun cara penggunaannya. b. Harta Mitsili dan Mal Qimi v Harta mitsli terbagi menjadi empat bagian, yaitu harta yang ditakar, harta yang ditimbang, harta yang dihitung seperti, dan harta yang dijual dengan meter. Harta qimi ialah harta yang jenisnya sulit didapatkan di pasar, biasanya diperoleh tapi jenisnya berbeda, kecuali dalam nilai harganya. Jadi, harta yang ada imbangannya (persamaannya) disebut mitsli dan harta yang tidak ada imbangannya disebut qimi.
  • 6.
    c. Harta istihlakidan harta isti’mali Harta istihlaki ialah suatu benda yang menjadi harta yang secara jelas (nyata) zatnya dan sekali digunakan habis. Misalnya korek api, bila dibakar maka habislah harta yang berupa kayu itu. Harta isti’mal ialah tidak habis sekali digunaka, tetapi dapat digunakan lama menurut apa adanya, seperti kebun, tempat tidur, pakaian, sepatu, dan lain sebagainya. Perbedan harta dua jenis ini ialah, harta istihlak habis satu kali digunakan, sedangkan harta isti’mal tidak habis dalam satu kali pemanfaatan. d. Harta Manqul dan Harta Ghair Manqul Harta manqul ialah harta yang bias dipindahkan (manqul), seperti emas, perak, perunggu, pakaian, kendaraan, dan lain sebagainya. Harta ghair manqul ialah seperti kebun, rumah, pabrik, sawah, dan yang lainnya termasuk harta ghair manqul karena tidak dapat dipindahkan. Dalam hokum perdata positif digunakan istilah benda bergerak dan benda tetap.
  • 7.
    e. Harta’ain danHarta Dayn Harta’ain ialah harta yang berbentuk benda, seperti rumah, pakaian, beras, jambu, kendaraan (mobil), dan yang lainnya. Harta’ain terbagi menjadi dua, yaitu’ain dzati qimah dan ain’ghyar qimah. Harta’ain ghyar qimah, yaitu benda yang tidak dapat dipandang sebagai harta karena tidak memiliki harga, misalnya sebiji beras. Harta dayn ialah: “sesuatu yang berada dalam tanggung jawab.” Seperti uang yang berada dalam tanggung jawab seseorang. f. Harta Al-‘Ain dan Mal Al-Nafi’i (Manfaat) Harta’ain ialah benda yang memiliki nilai dan bentuk (berwujud), misalnya rumah,dan lainnya. Harta nai’f ialah a’raddl yang beragsur-angsur tumbuh menurut perkembangan masa, oleh karenaa itu mal al-naf’I tidak berwujud dan tidak mungkin disimpan.
  • 8.
    g. Harta Mamluk,Mubah dan Mahjur Harta mamluk ialah harta perorangan (mustaqil) yang berpautan dengan hak bukan pemilik, misalnya rumah yang dikontrakkan. Harta mubah ialah “sesuatu yang pada asalnya bukan milik seseorang, seperti air pada mata air, binatang buruan darat, laut, pohon-pohon dihutan dan buah- buahanya.” Harta mahjur ialah:”sesuatu yang tidak boleh dimiliki sendiri dan memberikan kepada orang lain menurut syariat, adakalanya benda itu benda wakaf ataupun benda yang dikhususkan untuk masyarakat umum, seperti jalan raya, masjid-masjid, kuburan- kuburan, dan yang lainnya.” h. Harta yang Dapat Dibagi atau Tidak Dapat Dibagi Harta yang dapat dibagi (mal qabil li al- qismah) ialah harta yang tidak menimbulkan suatu kerugian atau kerusakan apabila harta itu dibagi-bagi, misalnya beras tepung, dan lainnya. Harta yang tidak dapat dibagi (mal ghair qabil li al-qismah) ialah harta yang menimbulkan suatu kerugian atau kerusakan apabila harta tersebut dibagi-bagi, misalnya gelas, kursi, meja, dan lainnya.
  • 9.
    i. Harta pokokdan harta hasil (tsamrah) j. Harta Khas dan Harta ‘Am Harta pokok ialah: “Harta yang mungkin darinya terjadi harta yang lain.” Harta hasil (tsamrah) ialah:”Harta yang terjadi dari harta yang lain.” Harta khas ialah harta pribadi, tidak bersekutu dengan yang lain, tidak boleh diambil manfaatnya tanpa disetujui pemilikanya. Harta ‘am ialah harta milik umum.
  • 10.
    JENIS JENIS HAKKEPEMILIKAN Kepemilikan Individu (Milkiyah Fardhiah) Kepemilikan Individu adalah idzin syariat pada individu untuk memanfaatkan suatu barang melalui lima sebab kepemilikan 1.Bekerja (al-’amal) 2.Warisan (al-irts), 3. Keperluan harta untuk mempertahankan hidup 4.Pemberian negara (i’thau al-daulah) 5.Harta yang diperoleh individu tanpa berusaha Kepemilikan Umum (Milkiyah ‘Amma) Kepemilikan Umum adalah idzin syariat kepada masyarakat secara bersama-sama memanfaatkan suatu kekayaan yang berupa barang-barang yang mutlak diperlukan manusia dalam kehidupa sehari-hari Kepemilikan Negara (Milkiyah Daulah) Kepemilikan Negara adalah idzin syariat atas setiap harta yang hak pemanfaatannya berada di tangan khalifah sebagai kepala negara. Termasuk dalam kategori ini adalah harta ghanimah (pampasan perang), fa’i, kharaj, jizyah, 1/5 harta rikaz (harta temuan), ‘ushr, harta orang murtad, harta yang tidak memiliki ahlli waris dan tanah hak milik negara.
  • 11.
    Al milk AtTamm (milik sempurna) Al milk At Tamm (milik sempurna) Yaitu apabila materi dan manfaat harta itu dimiliki sepenuhnya oleh seseorang, sehingga seluruh hak yang terkait dengan harta itu dibawah penguasaannya. Al Milk An Naqish (kepemilikan tidak sempurna) Al Milk An Naqish (kepemilikan tidak sempurna) Yaitu apabila seseorang hanya menguasai materi harta itu, tetapi manfaatnya dikuasai orang lain. (a) Boleh dibatasi waktu,tempat, dan sifatnya. (b) Tidak boleh diwariskan. (c) Orang yang menggunakan manfaatnya wajib mengeluarkan biaya pemeliharaan. (a). sejak awal kepemilikan terhadap materi dan manfaat bersifat sempurna. (b) Materi dan manfaatnya sudah ada sejak sejak pemilikan itu. (c) Pemilikannya tidak dibatasi waktu. (d) kepemilikannya tidak dapat digugurkan
  • 12.
    LANDASAN HUKUM KEPEMILIKANHARTA Dalam Islam sendiri tidak hanya membebaskan pengikutnya agar turut dalam kegiatan ekonomi sehari-hari dalam mencari harta duniawi, tetapi juga mendorongnya untuk bekerja mencari nafkah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan bagaimana cara perolehan terhadap hak milik. Sebagaimana dalam QS. al-Jumu’ah, 57: 10, Allah SWT berfirman :Artinya : Apabila ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu dimuka bumi, dan carilah karunia Allah Dalam ayat lain, Allah Swt, mengingatkan kepada manusia agar jangan melupakan untuk berusaha dalam mencari rezeki atau karunianya dimuka bumi ini, sebagaimana firmannya dalam surat An-Nisa ayat 32 : Artinya :Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia- Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
  • 13.
    ANJURAN BEKERJA ATAUBERNIAGA Islam menganjurkan umatnya agar bekerja dan berniaga, menghindari meminta-minta dalam mencari harta kekayaan. Manusia memerlukan harta kekayaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk memenuhi perintah Allah seperti infaq, zakat, pergi haji, perang (jihad) dan sebagainya. “Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS 62:10) Setiap hasil kerja maupun berniaga yang dijalankan oleh manusia tidak luput dengan adanya konsekuensi di masa depan, yaitu keuntungan dan kerugian. Keduanya merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dari kegiatan berniaga. Tidak ada satu pun yang bisa menjamin bahwa bisnis yang dijalankan oleh seseorang akan mengalami keuntungan atau kerugian di masa depan Islam melarang setiap jenis transaksi yang menghasilkan keuntungan tanpa adanya kesediaan menanggung kerugian. Itulah sebabnya mengapa Islam melarang adanya tambahan (bunga) dalam transaksi uang seperti yang biasa terjadi dalam sistem keuangan konvensional.
  • 14.
    KONSEP KEPEMILIKAN Kepemilikan sebenarnyaberasal dari bahasa Arab dari akar kata "malaka" yang artinya memiliki Harta yang baik harus memenuhi dua kriteria yaitu diperoleh dengan cara yang sah dan benar ( legal and fair ), serta dipergunakan untuk hal yang baik dalam jalan Allah SWT. Harta kepunyaan Allah dan manusia merupakan khalifah atas harta memiliki karakteristik yaitu semua harta baik benda maupun alat produksi adalah milik Allah SWT, firman Q.S. Al Baqarah ayat 284 dan Q.S. Al-Maai’dah ayat 17, sedangkan manusia adalah khalifah Allah di muka bumi yang diberi kekuasaan untuk mengelola atas harta milik-Nya. Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al- Hadiid ayat 7. Pada QS.an-Najm ayat 31 dan Firman Allah SWT. Dalam QS.An-Nisaa ayat 32 dan QS,Al- Maa’idah ayat 38, terlihat jelas perbedaan antara konsep kepemilikan dalam islam dengan yang lain. Islam menolak paham kapitalis, bahwa kepemilikan individu sangat absolut. Islam juga berbeda dengan paham sosialis bahwa kepemilikan adalah tugas kolektif, di samping itu, Islam juga menentang paham bahwa kepemilikan adalah hak bersama. Islam sangat mengakui dan tidak menentang, bahwa kepentingan umum haruslah dipertimbangkan dan didahulukan daripada kepentingan kelompok kecil, apalagi kepentingan individu. Dengan kata lain konsep kepemilikan dalam islam mengakui hak milik milik pribadi sebagai ghazirah atau tabiat manusia itu sendiri. Dengan demikian mempertimbangkan kemaslahat umum adalah suatu hal yang harus diterima dalam konsep kepemilikan.
  • 15.
    Menurut Ibnu Taimiyah,hak milik terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: 1. Hak Milik Individual (Al-Milkiyyat Al-Fardiyyah/Privat Property) Setiap individu memiliki hak untuk menikmati hak miliknya secara produktif, memindahkannya dan melindungi dari pemubadziran. Dalam berniaga, manusia memiliki Batasan untuk tidak boleh melakukan pemalsuan, penipuan dan curang dalam timbangan. 2. Kepemilikan Umum (Al-Milkiyyat Al-‘Ammah/Public Property) Kepemilikan umum atau kolektif adalah hak milik yang biasanya diperlukan untuk kepentingan sosial. Jika harta kekayaan dimiliki oleh dua orang atau lebih, maka mereka bisa menggunakannya sesuai dengan aturan yang mereka tetapkan. 3. Kepemilikan Negara (Al-Milkiyyat Al-Daulah/State Property) Negara membutuhkan hak milik untuk memperoleh penghasilan untuk menjalankan kewajiban.Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa sumber utama kekayaan negara adalah zakat, pajak, wakaf, hadiah, pungutan denda dan harta rampasan perang (ghanimah), serta barang temuan yang tidak ada pemiliknya.
  • 16.
    PEROLEHAN HARTA Memperoleh hartaadalah aktivitas ekonomi yang masuk dalam kategori ibadah muamalah (mengatur hubungan manusia dengan manusia). Kaidah fikih dari muamalah adalah semua halal dan boleh dilakukan kecuali yang diharamkan/dilarang dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kaidah fikih ini berlandaskan pada firman Allah dan Hadis berikut ini. "Dialah allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu....“ (QS 2:29) "Dan dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang berfikir." (QS 45:13) "Yang halal ialah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitabNya, dan yang haram ialah apa yang diharamkan Allah dalam kitab-Nya; sedang apa yang didiamkan oleh Nya berarti dimaafkan (diperkenankan) untukmu.“ (HR. At-Tirmidzi & Ibnu Majah)
  • 17.
    PENGGUNAAN DAN PENDISTRIBUSIANHARTA Islam mengatur setiap aspek kehidupan ekonomi penuh dengan pertimbangan moral, sebagaimana firman Allah berikut ini “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan” (QS 28:77) Kesimpulan dari ayat diatas adalah dalam penggunaan harta, manusia tidak boleh mengabaikan kebutuhannya di dunia, namun dilain sisi manusia juga harus cerdas dalam menggunakan hartanya untuk mencari pahala akhirat.
  • 18.
    Ketentuan Syariah berkaitan denganpenggunaan harta, antara lain: 1. Tidak Boros dan Tidak Kikir “Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaiannmu yang bagus pada setiap (memasuki) Masjid, makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (QS 7:31) “Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah pula engkau mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu jadi tercela dan menyesal” (QS 17:29) 2. Memberi infak dan sedekah “Ingatlah kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) dijalan Allah lalu diantara kamu ada orang kikir, dan barang siapa yang kikir maka sesungguhnya dia kikir kepada dirinya sendiri. Dan Allah-ah yang maha kaya, dan kamulah yang membutuhkan (karunia- Nya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar), Dia akan menggantikan (Kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu” (QS 47:38)
  • 19.
    3. Membayar zakatsesuai ketentuan “Ambilah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya daoa kamu itu (membutuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS 9:103) 4. Memberi pinjaman tanpa bunga 5. Meringankan kesulitan orang yang berutang “Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu baik bagimu,jika kamu mengetahui” (QS 2:280)
  • 20.