1
KEGIATAN BELAJAR 2
Tataniaga Telur dan Desain Kandang Industri Unggas Petelur
2
A. PENDAHULUAN
1. Deskripsi Singkat
Kegiatan Belajar (KB) 2 dalam Modul 6 Industri Peternakan akan
membahas mengenai Tataniaga Telur dan Desain Kandang Industri Unggas
Petelur. Ruang lingkup dari KB 2 ini, yaitu penyaluran telur dipasaran, sistem
tataniaga telur di industri unggas petelur, model dan jenis kandang unggas petelur,
serta desain kandang industri unggas petelur yang cocok untuk daerah tropis.
2. Relevansi
Dengan mengetahui konsep, prosedur dan prinsip prinsip dalam industri
peternakan unggas petelur, mulai dari penentuan jenis kandang yang tepat hingga
sistem tataniaga telur di industri unggas petelur maka peserta didik dapat
menganalisis dan menentukan sistem pemeliharaan unggas petelur dengan baik.
3. Panduan Belajar
Modul ini dilengkapi dengan tugas terstruktur, link-link yang dapat
dikunjungi dan gambar serta infografis yang menambah pengetahuan peserta
didik.
B. INTI
1. Capaian Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan peserta didik mampu menguasai
materi ajar bidang agribisnis ternak ruminansia, agribisnis ternak unggas, dan
industri peternakan secara mendalam termasuk advance materials secara
bermakna yang dapat menjelaskan aspek “apa” (konten), “mengapa” (filosofi),
dan “bagaimana” (penerapan) dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu peserta
didik juga diharapkan mampu menganalisis prinsip industri peternakan dan
aplikasinya dalam pembelajaran bidang studi agribisnis ternak.
3
2. Sub Capaian Pembelajaran
1. Mampu menganalisis industri unggas petelur dan jenis-jenis kandang ayam
petelur.
2. Mampu menganalisis tataniaga telur di industri ayam petelur.
3. Uraian Materi
Subsektor peternakan memiliki peranan penting dalam pemenuhan
kebutuhan protein hewani. Peningkatan jumlah penduduk berbanding lurus
dengan pemenuhan kebutuhan hasil ternak seperti daging, susu dan telur.
Kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi produk yang memiliki nilai gizi
tinggi khususnya protein berdampak positif dalam perkembangan sektor
peternakan. Kebutuhan protein hewani dapat dipenuhi dengan konsumsi protein
sebanyak 6 gr per kapita per hari yaitu setara dengan konsumsi daging sebanyak
10,61 kg daging, 4,4 kg telur dan susu 6,16 kg per kepita per tahun (FAO, 2005).
Dalam sektor agribisnis kegiatan dari usaha peternakan merupakan salah satu atau
keseluruhan dari mata rantai proses produksi, hingga pengolahan hasil serta
pemasarannya (Kurniawan, 2013).
Penyaluran Telur di Pasaran
Usaha peternakan ayam petelur baik skala kecil, menengah maupun
industri modern mulai tumbuh pesat dengan meningkatnya jumlah permintaan
telur. Strategi penyaluran produk dalam pemasaran yang baik menentukan
tersalurkannya telur ayam dari produsen ke konsumen. Penjualan merupakan
fungsi dari sub-sistem dalam memasarkan produk yang mencakup adanya
kegiatan atau proses pindahnya hak milik suatu produk dari produsen atau
lembaga perantara pemasaran yang punya hak kepemilikan kepada konsumen
(Sa’id dan Intan, 2001).
Kebutuhan telur di Indonesia, sebagian besar berasal dari telur ayam ras.
Hal ini disebabkan peternakan ayam petelur ras telah diusahakan dalam skala
besar atau industri. Peternakan ayam buras dan itik pemeliharanya masih
dilakukan dalam skala rumah tangga dengan cara yang masih tradisional.
4
Tersedianya sarana dan prasana dalam pemeliharaan ayam petelur ras jauh lebih
baik dibandingkan dengan unggas lain seperti itik maupun ayam buras sehingga
produktivitas ayam ras jauh lebih tinggi.
Gambar 1. Produksi telur nasional pada tahun 2005
Sumber: Ketaren (2007)
Jalur penjualan dapat dilakukan dengan beberapa cara, ada yang dilakukan
secara langsung dengan menjual ke konsumen yang diistilahkan jalur pendek, dan
ada yang menggunakan jasa perantara dengan istilah jalur panjang yaitu dengan
menggunakan lembaga pemasaran. Lembaga pemasaran yang terlibat diantaranya
pedagang pengumpul, pedagang pengumpul besar/agen, poultry shop, pasar
tradisional, dan rumah makan/restoran. Penentuan harga jual telur dalam sistem
pemasaran dari peternak berdasarkan kesepakatan yang dilakukan oleh peternak
dengan konsumen atau lembaga pemasaran yang terlibat.
Jalur pemasaran telur oleh pelaku industri peternakan ayam petelur
dilakukan oleh dua pelaku utama, yaitu melalui pedagang pengumpul atau
langsung disalurkan pada pedagang di pasar konvensional. Rantai pasok telur
yang terlibat dalam pemasaran produk telur diantaranya peternak, agen kecil dan
agen besar atau grosir yang biasanya terdapat di pasar konvensional, pasar
modern, pedagang pengumpul, konsumen lembaga seperti rumah sakit, hotel,
5
restoran, serta pengolah makanan. Setiap pelaku akan bekerja secara mandiri
dalam suatu pola hubungan bisnis yang telah terbentuk diantara mereka dan
menjalankan tugasnya masing-masing.
Gambar 2. Contoh pola pelaku agribisnis yang saling terkait dalam penyaluran
atau tata niaga telur ayam
Sumber: Sejati (2011)
Telur ayam adalah salah satu produk peternakan yang mudah rusak atau
tidak tahan lama sehingga penjualannya harus dapat dilakukan secara cepat agar
telur tersebut bisa sampai ketangan konsumen dalam kondisi yang masih baik dan
bermutu. Semakin tertunda waktu penjualan maka akan menurun kualitas mutu
telur dan akan berdampak pada penurunan harga produk.
Tabel 1. Persentase penjualan telur dari peternak ayam petelur pada beberapa
lembaga pemasaran di Indonesia
Lembaga pemasaran Jawa Barat Bali Sulawesi
Selatan
Rata-rata
Pedagang pengumpul 67,36 82,73 73,39 74,49
Pasar tradisional 7,02 7,75 10,00 8,26
Poultry shop - 0,45 5,83 2,09
Konsumen 4,23 3,38 10,78 6,13
Lainnya 21,39 5,15 - 8,85
Total 100 100 100 -
Sumber: Lestari et al. (2011)
6
Pedagang pengumpul merupakan lembaga pemasaran yang biasanya
datang ke peternak kemudian telur ayam tersebut dibeli dalam jumlah yang cukup
besar dan menyalurkannya kepada para pedagang perantara yang lain sebelum
sampai konsumen. Pedagang pengumpul merupakan lembaga pemasaran yang
menjual komoditas yang telah dibeli dari peternak dengan tujuan efisiensi dari
pemasaran seperti distribusi atau pengangkutan dapat lebih meningkat. Rumah
makan dan restoran juga merupakan lokasi pemasaran lain dengan penjualan
harga yang cenderung tinggi karena mereka umumnya merasa telur ayam yang
berasal dari peternak dijamin telur yang masih baru sehingga tidak akan
mengecewakan konsumen ketika diolah menjadi masakan. Restoran dan rumah
makan dalam industri pemasaran telur memiliki fungsi pembelian, fungsi
pengolahan/pengolahan dan fungsi penjualan.
Pasar tradisional biasanya lokasinya jauh dari kandang peternakan
sehingga para peternak harus mengeluarkan biaya yang lebih unuk transportasi
dan memiliki resiko pecah telur pada saat perjalanan cukup besar. Pemasaran juga
dapat dilakukan dengan penjualan langsung peternak kepada konsumen rumah
tangga. Konsumen rumah tangga langsung dapat melakukan pembelian telur ayam
ras dilokasi peternakan tanpa melibatkan pedagang perantara. Menurut Rasyaf
(2007) mengemukanan bahwa jalur penjualan langsung merupakan penjualan
yang dilakukan secara langsung kepada konsumen akhir tanpa melalui pedagang
perantara. Adanya penjualan telur langsung kepada konsumen tanpa pedagang
perantara diharapkan dapat harga jual dari peternak yang lebih rendah, akan tetapi
berdasarkan hasil penelitian harga jual telur ke konsumen lebih tinggi
dibandingkan harga jual ke pasar tradisional atau ke pedagang pengumpul.
Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli yang
terbentuk secara alami dan terjadi karena tradisi. Ragam kualitas telur yang dijual
berbeda-beda dan konsumen berhak memilih serta tawar menawar harga. Pasar
modern tempat pemasaran telur biasanya terletak di kota besar dengan tempat
yang menyajikan kenyamanan dalam berbelanja. Harga yang ditawarkan dalam
pasar modern sudah tidak dapat diubah-ubah dan dalam pasar modern penjualan
7
produk lebih mengutamakan kualitas sehingga telur yang dijual di pasar modern
lebih seragam kualitasnya.
Sistem Tataniaga Telur di Industri Ayam Petelur
Terdapat dua bentuk dari saluran pemasaran, untuk saluran yang pertama
yaitu peternak menjual telur ke pedagang perantara yaitu pedagang pengumpul
dan pedagang pengecer. Sedangkan saluran yang kedua yaitu peternak menjual
telur ke pedagang perantara yaitu pedagang pengumpul. Dalam proses pemasaran
juga terdapat biaya pemasaran, yaitu besarnya biaya yang dikeluarkan dalam
proses perpindahan barang dari produsen ke konsumen akhir. Besar kecilnya
biaya pemasaran untuk hasil produk peternakan ayam petelur tergantung dari
banyaknya kegiatan kelembagaan pemasaran serta jumlah fasilitas yang
diperlukan dalam proses pemasaran tersebut.
Strategi pemasaran yang tepat dilakukan demi memperoleh informasi
mengenai potensi pasar sebagai dasar informasi bagi pemilihan, perumusan dan
penerapan startegi demi mendapatkan keunggulan dalam pemasaran yang dikenal
dengan istilah market driven. Konteks market driven pengembangan komoditi
peternakan khususnya untuk produk telur perlu pemahaman terhadap
perkembangan dua bentuk pasar, yaitu pasar konvensional dan pasar modern serta
kebijakan yang kaitannya dengan berkembangnya rantai pasok produk peternakan.
Kedua jenis pasar ini berkembang khususnya pada pasar modern yang selanjutnya
diarahkan melalui instrumen kebijakan yang tepat agar memberi manfaat yang
besar kepada pengembangan produk peternakan domestik, khususnya yang
diusahakan oleh peternakan rakyat. Pengembangan agribisnis peternakan
memiliki kebijakan pengembangan rantai pasok yang dapat memberi manfaat dan
dampak positif bagi berkembangnya usaha peternakan rakyat baik berskala kecil
maupun berskala menengah.
Gambar 16 menunjukkan adanya hubungan antara kelembagaan dari rantai
pasok peternakan rakyat dan pasar komoditas serta kebijakan pendukungnya yang
dibutuhkan dengan penjelasan:
8
Gambar 3. Kelembagaan rantai pasok komoditas peternakan
Sumber : Birmingham University dan MLC (2004)
Selain itu, dalam konteks pengembangan dari kelembagaan rantai pasok
perlu dianalisis kebijakan yang lain seperti kebijakan budidaya, pasar input,
pemasaran, pengembangan produk, dan perdagangan. Kebijakan tersebut akan
mempengaruhi kinerja pasar modern maupun konvensional yang akhirnya
memiliki dampak terhadap adanya kinerja pada sektor produksi, ataupun
sebaliknya dan akan berpengaruh pada sektor budidaya dengan mengikuti jalur
rantai pasok hingga ke tingkat pasar akhir. Analisis kebijakan rantai pasok ini
butuh pendekatan dengan sasaran reorientasi kebijakan guna mendukung
berkembangnya kelembagaan rantai pasok supaya peternak mendapatkan manfaat
yang maksimal dari perkembangan pasar produk peternakan yang pesat.
9
Penggerak manajemen perolehan komoditas pada pasar konvensional
dilakukan oleh grosir, pedagang pengepul, dan pengecer. Pedagang pengepul
biasanya menjalin hubungan kerjasama dengan peternak rakyat dan menyalurkan
produk telur langsung ke pengecer atau ke pasar grosir. Pengepul memiliki
peranan yang sangat penting karena sebagian besar peternak rakyat akan menjual
hasil produksi telurnya kepada pedagang jenis ini. Kerjasama yang dilakukan
antara pengepul dengan peternak diantaranya yaitu masalah mutu produk barang,
harga, maupun pembayaran. Adanya keterkaitan yang terjadi antara pelaku di
dalam pasar konvensional memiliki sifat positif dan merasa diperlakukan secara
adil khususnya dalam hal pembagian keuntungan, hal ini disebabkan
pembentukan harga yang biasanya dilakukan berdasarkan mekanisme pasar dapat
dipengaruhi oleh adanya mekanisme permintaan dan penawaran. Pembentukan
harga yang dilakukan oleh pedagang pengepul dengan peternak didapatkan
melalui proses negosiasi, meskipun dalam prakteknya peternak tetap saja sebagai
yang menerima harga (price taker), sehingga nilai tambah yang diterima oleh
peternak relatif sangat kecil. Kondisi yang demikian juga tidak terlepas dari
dominansi peran para pedagang dalam menentukan harga, dan adanya juga
kebiasaan peternak yang butuh uang tunai dengan segera, sehingga posisi tawar
peternak relatif lemah.
Dalam suatu usaha peternakan diperlukan suatu upaya untuk memperoleh
keuntungan yang besar dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan
kesejahteraan bagi pelaku usaha peternakan tersebut. Dalam usaha peternakan
ayam petelur seringkali dihadapkan dengan harga input produksi yang tinggi
sedangkan harga output produksi yang dihasilkan rendah. Kondisi margin antara
telur dan pakan yang semakin rendah disebabkan karena rasio harga telur dengan
harga pakan menjadi semakin tinggi (Fadil, 2017). Peternak perlu untuk
mengidentifikasi margin, besaran harga yang diterima oleh peternak dan efisiensi
usaha peternakan.
Analisis yang dapat dilakukan yaitu mencari margin pemasaran (Aroning,
2008) dengan model berikut ini:
10
M = Hp – Hb
Keterangan:
M = Margin pemasran
Hp = Harga Pembelian (Rp/kg)
Hb = Harga Penjualan (Rp/kg)
Pemasaran juga pasti melibatkan lembaga pemasaran sehingga margin
total pemasaran dapat dirumuskan sebagai berikut (Sobirin, 2009):
MT = M1 + .M2 + M3 + .... + Mn
Keterangan:
MT = Margin total
M1, M2, M3 ... Mn = Margin dari setiap pemasaran (Rp/kg)
Penyebaran margin pemasaran berikutnya didasarkan bagian (share) yang
diperoleh pada masing-masing kelembagaan pemasaran. Farmer’s share memiliki
hubungan yang negatif dengan margin pemasaran sehingga margin pemasaran
yang semakin rendah, menyebabkan perolehan petani semakin tinggi. Perhitungan
farmer’s share dirumuskan sebagai berikut (Swastha, 2002):
x 100 %
Keterangan
Sf = Bagian harga yang diterima peternak
Price Farm = Harga dari ditingkat peternak
Price Retailer = Harga dari konsumen akhir
Adanya penambahan biaya pemasaran mengartikan bahwa pemasaran
tersebut tidak efisien. Sebaliknya, nilai produk yang dijual semakin kecil
mengartikan bahwa terjadi adanya pemasaran yang tidak efisien (Soekartawi,
2002). Menghitung evisiensi pemasaran dapat dilakukan dengan perhitungan
sebagai berikut:
Eps = (TB/TNP) X 100%
Keterangan:
Eps = Efisiensi dari Pemasaran
TB = Total Biaya Pemasaran (Rp/kg)
TNP = Total Nilai Produk yang dipasarkan (Rp/kg)
11
Biaya pemasaran merupakan besarnya biaya yang dikeluarkan dalam
proses perpindahan barang dari produsen ke konsumen akhir. Besar kecilnya
biaya pemasaran untuk hasil produk peternakan ayam petelur tergantung dari
banyaknya kegiatan kelembagaan pemasaran dan jumlah fasilitas yang diperlukan
dalam proses pemasaran tersebut. Marilah kita bandingkan efisiensi biaya
pemasaran dari dua saluran pertama dan saluran kedua. Biaya pemasaran saluran
pertama dapat dilihat pada Tabel 5 sedangkan biaya pemasaran saluran kedua
dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 2. Biaya pemasaran, nilai penjualan, dan keuntungan yang diterima masing-
masing lembaga pemasaran telur ayam ras pada saluran pertama
No. Lembaga Pemasaran Volume/Nilai
A Peternak
1. Penjualan (kg) 7406,6
2. Harga Jual (Rp/kg) 2910 1 kg = 24.000
2464,4 1 kg = 27.000
2479,9 1 kg = 28.000
3. Nilai Penjualan (Rp) 191.976.000
4. Biaya Pemasaran :
a. Tenaga Kerja (Rp) 14.000.000
b. Pakan Ayam (Rp) 84.000.000
b. Biaya Telepon (Rp) 200.000
c. Total Biaya (Rp) 98.200.000
5. Keuntungan (Rp) 93.776.000
B Pedagang Pengumpul
1. Nilai Pembelian (Rp) 191.976.000
2. Harga Jual (Rp/kg) 2910 1 kg = 26.000
2464,4 1 kg = 28.800
2479,9 1 kg = 29.600
3. Biaya Pemasaran
a. Transportasi (Rp) 350.000
b. Tenaga Kerja (Rp) 2.000.000
c. Total Biaya (Rp) 2.350.000
4. Nilai Penjualan (Rp) 204.497.000
5. Keuntungan (Rp) 5.777.000
C Pedagang Pengecer
1. Nilai Pembelian (Rp) 172.897.000
2. Harga Jual (Rp/kg) 2910 1 kg = 26.000
2464,4 1 kg = 30.600
2479,9 1 kg = 32.600
3. Biaya Pemasaran:
a. Tenaga Kerja (Rp) 500.000
12
No. Lembaga Pemasaran Volume/Nilai
b. Retribusi (Rp) 150.000
c. Total Biaya (Rp) 650.000
4. Nilai Penjualan (Rp) 214.132.000
5. Keuntungan (Rp) 8.984.000
Sumber: Fadil (2017)
Tabel 3. Biaya pemasaran, nilai penjualan, dan keuntungan yang diterima masing-
masing lembaga pemasaran telur ayam ras pada saluran pertama
No. Lembaga Pemasaran Volume/Nilai
A Peternak
1. Penjualan (kg) 296,4
2. Harga Jual (Rp) 2910
2464,4
1kg
1 kg
= 24.000
= 27.000
2479,9 1kg = 28.000
3. Nilai Penjualan (Rp) 205.210.000
4. Biaya Pemasaran:
a. Tenaga Kerja (Rp) 14.000.000
b. Pakan Ayam (Rp) 84.000.000
c. Biaya Telepon (Rp) 250.000
d. Total Biaya (Rp) 98.250.000
5. Keuntungan (Rp) 106.960.000
B Pedagang Pengumpul
1. Nilai Pembelian (Rp) 205.210.000
2. Harga Jual (Rp) 2910
2464,4
1kg
1kg
= 26.000
= 28.800
2479,9 1kg = 29.600
3. Biaya Pemasaran:
a. Transportasi (Rp) 450.000
b. Tenaga Kerja (Rp) 1.800.000
c. Total Biaya (Rp) 2.250.000
4. Nilai Penjualan (Rp) 220.077.000
5. Keuntungan (Rp) 6.199.000
Sumber: Fadil (2017)
Margin pemasaran telur ayam ras dihitung dengan selisih antara harga
yang diterima oleh peternak dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen saluran
pertama dapat dilihat pada Tabel 7 dan saluran kedua dapat dilihat di Tabel 8.
13
Tabel 4. Margin, total margin, dan bagian harga yang diterima peternak sampai ke
konsumen pada saluran pertama
Sumber: Fadil (2017)
Tabel 5. Margin, total margin, dan bagian harga yang diterima peternak sampai ke
konsumen pada saluran kedua
Sumber: Fadil (2017)
Besarnya margin pemasaran dari telur ayam ras yang diperoleh untuk
saluran pertama sebesar Rp 9.000,- kemudian margin yang diperoleh untuk
saluran pemasaran kedua yaitu sebesar Rp 4.800,-. Bagian harga yang diterima
peternak pada saluran pertama sebesar 91%, dengan bagian harga yang diterima
peternak pada saluran kedua sebesar 93%.
14
Efisiensi pemasaran merupakan tujuan akhir dari suatu produk atau nisbah
antara total biaya dengan total nilai produk yang dipasarkan. efisiensi dari masing-
masing saluran pemasaran telur ayam ras terlihat pada Tabel 9 dan Tabel 10.
Tabel 6. Total biaya dan nilai penjualan pada masing-masing saluran pemasaran
No. Saluran
Pemasaran
Volume
Penjualan
(Kg)
HargaJual (Rp/kg)
Total Nilai
Penjualan
(Rp)
Total Biaya
(Rp)
1 Pertama 7406,6 2705 (1/24.000 )
2276,1 (1/27.000 )
2425 (1/28.000 )
214.132.000 101.200.000
2 Kedua 7854,3 2910 (1/24.000 )
2464,4 (1/27.000 )
2479,9 (1/28.000 )
220.077.000 100.500.000
Sumber: Fadil (2017)
Tabel 7. Efisiensi pemasaran dari setiap saluran pemasaran yang terlibat dalam
pemasaran telur ayam ras
No Saluran
Pemasaran
Total Biaya
(Rp)
Total Nilai
Penjualan (Rp)
Efisiensi
(%)
1 Pertama 101.200.000 214.132.000 4,7
2 Kedua 100.500.000 220.077.000 4,5
Sumber: Fadil (2017)
Berdasarkan Tabel 10 maka dapat dilihat bahwa pemasaran yang efisien
terlihat pada saluran pemasaran yang kedua dengan nilai efisiensi sebesar 4,5%,
hal ini disebabkan karena total dari biaya pada saluran pemasaran yang kedua
lebih rendah dari total biaya pada saluran pemasaran yang pertama saluran kedua.
Saluran kedua lebih efisien dibandingkan dengan saluran pertama, sehingga
dengan saluran pemasaran yang lebih pendek dapat memberi peluang dalam
meningkatkan bagian harga ditingkat peternak. Nilai efisiensi dari pemasaran pada
saluran pertama sebesar 4,7% dan nilai efisiensi pemasaran pada saluran kedua
sebesar 4,5%.
Di pasar modern, pembelian telur biasanya dilakukan oleh pedagang grosir
atau supplier dengan sistem kontrak kerja dengan persyaratan yang telah
disepakati oleh kedua belah pihak yang perjanjiannya tidak terlalu mengikat.
Konsumen pada pasar modern seperti supermarket biasanya berasal dari kalangan
15
rumah tangga. Telur juga merupakan salah satu bahan baku utama dalam
pembuatan masakan yang sangat dibutuhkan konsumen lembaga seperti rumah
makan, perusahaan makanan, rumah sakit maupun hotel. Strategi pemasaran yang
dilakukan supaya dapat masuk kedalam konsumen lembaga tersebut perlu adanya
persyaratan baik kualitas produk telur maupun prosedur administrasinya. Oleh
karena itu pada umumnya pihak lembaga akan melakukan hubungan kelembagaan
rantai pasok dengan sumber pasokan.
Penjualan telur dalam industri makanan dipengaruhi oleh beberapa faktor
yaitu:
1. Faktor Teknis
Telur merupakan salah satu bahan baku utama dalam pembuatan kue
dalam perusahaan kue. Bahan pokok ini tersedia dalam kondisi cukup
melimpah dan mudah diakses sehingga suplier selalu dapat menyediakan
telur secara tepat waktu dan dengan mutu yang baik.
2. Faktor Ekonomis
Ketersediaan telur dari sisi ekonomis dipengaruhi oleh harga. Sebagai
bahan baku, telur memiliki harga yang fluktuatif dari hari ke hari sehingga
sangat mengganggu dalam proses pengelolaan di industri makanan yang
menggunakan telur sebagai salah satu bahan bakunya. Harga makanan pasti
harus dijaga agar tetap stabil sehingga fluktuasi akan harga telur berpengaruh
pada tingkat keuntungan yang diperoleh industri makanan.
3. Faktor Sosial
Laju pemasaran makanan dari industri pengolahan makanan yang
menggunakan telur sebagai bahan dasarnya yang sangat dipengaruhi oleh
adanya hari hari besar dan hari libur seperti hari sabtu atau minggu. Strategi
dan momentum hari-hari besar dan hari libur nasional juga dipergunakan oleh
pengusaha makanan sebagai kompensasi harga dan tingkat keuntungan di saat
harga telur sebagai bahan baku relatif tinggi. Keragaan dan permasalahan
industri pengolah berbahan baku telur ditampilkan pada Tabel 11.
16
Tabel 8. Masalah dalam industri pengolahan dengan bahan baku telur
Deskripsi Keragaan dan permasalahan
1. Tersedianya bahan baku/bahan
pendukung
Mudah didapat, tidak masalah
2. Harga bahan baku/bahan
pendukung
Fluktuatif, sehingga menyulitkan dalam
pengelolaan usaha
3. Permodalan usaha Bank, dengan prosedur yang relatif
mudah, suku bunga terjangkau
4. Biaya pemasaran Pengecer langsung mengambil di toko
5. Permintaan/volume penjualan Tidak ada masalah, tahun ke tahun
meningkat
6. Daya beli konsumen/harga
jual/sistem pembayaran
Daya beli konsumen cukup tinggi
dengan sistem pembayaran cash and
carry
7. Tingkat keuntungan/keberlanjutan
usaha
Optimis, terus berlanjut
Sumber: Sejati (2011)
Dalam menstabilkan dan mengembangkan usaha ternak ayam petelur,
maka para peternak ayam petelur harus melakukan perbaikan pada berbagai aspek
seperti aspek produksi, biosekuriti, manajemen pengelolaan, dan aspek
pemasaran. Perbaikan aspek pemasaran yang harus dilakukan oleh peternak yaitu:
1. Memperbaiki kualitas dan mutu produk, dengan menjaga kesegaran telur
yang tetap higienis, mutu kulit telur, dan mutu dari isi telur yang selalu
memenuhi standar;
2. Memperbaiki kemasan telur yang akan dijual baik secara curah maupun
dalam kemasan yang kecil;
3. Penanganan dalam transportasi;
4. Memperbaiki saluran distribusi;
5. Pengembangan inovasi produk olahan telur;
6. Mengampanyekan perbaikan gizi dan promosi manfaat dari telur.
Dalam pengelolaan pasar untuk meningkatkan kesejahteraan peternak,
peranan pemerintah diantaranya:
1. Perlindungan industri peternakan ayam dalam negeri dari tekanan persaingan
pasar global yang tidak adil;
2. Pencegahan adaya persaingan yang tidak sehat antar perusahaan ayam;
17
3. Pengembangan sistem pencegahan dan penanggulangan adanya wabah
penyakit yang menular;
4. Memberi dukungan daam pembangunan infrastruktur penunjang lainnya.
5. Menjamin transparansi info produksi Day Old Chicken (DOC), biaya bahan-
bahan input, serta kondisi pasar seperti permintaan, produksi dan harga.
Jenis Kandang Ayam Petelur
Kandang memiliki fungsi sebagai tempat berlindung dari panas/hujan,
bahaya hewan pemangsa, tempat tidur dan istirahat, mempermudah peternak
dalam mengambil hasil panen, mempermudah pengontrolan kondisi ternak,
mempermudah pemberian pakan dan pengobatan penyakit. Faktor yang
mempengaruhi jumlah produksi diantaranya tipe kandang, model kandang sistem
kandang, maupun temperatur lingkungan sekitar kandang.
Beberapa tipe kandang pada budidaya ayam petelur, diantaranya:
1. Kandang tipe terbuka atau disebut open house
Gambar 4. Kandang ayam petelur sistem open house (terbuka)
Sumber: https://kandangclosehouse.com/tag/battery/
Kandang sistem terbuka ini merupakan kandang yang sangat populer
digunakan pada peternakan ayam petelur. Biaya pembuatan kandang ini relatif
lebih murah dibandingkan dengan sistem tertutup (close house). Faktor
lingkungan luar sangat mempengaruhi produktivitas ayam petelur yang
mangadopsi sistem ini sehingga peternak harus memperhitungkan dampak negatif
18
yang kemungkinan bisa terjadi dengan melakukan pengaturan jarak antar
kandangg, pengaturan ketinggian dan lebar kandang serta pengaturan
ventilasi/sirkulasi udara.
2. Kandang tertutup (close house)
Gambar 5. Kandang ayam petelur sistem closed house (tertutup)
Sumber: https://kandangclosehouse.com/tag/battery/
3. Kandang dengan koridor di tengah dan kandang dengan atap/tiang yang
tinggi
Kandang tipe ini memiliki atap yang cenderung tinggi dengan koridor
yang berada di tengah untuk mempermudah dalam pemberian pakan, minum dan
koleksi telur. Kandang model ini bisa di terapkan dalam sistem perkandangan baik
terbuka maupun tertutup.
Gambar 6. Kandang dengan atap tinggi dan koridor
Sumber: agromedia.net/4-tipe-kandang-untuk-ayam-ras-petelur-beserta-
kelebihan-kekurangannya-2/
19
4. Kandang sistem litter
Kandang sistem litter merupakan kandang yang penutup lantainya ditutup
dengan menggunakan bahan-bahan tertentu seperti tanah, pasir, sekam, serbuk
gergaji dan lain-lain. Kandang dengan sistem ini mampu mencegah lecet kaki dan
mengurangi kanibalisme serta investasi yang lebih murah. Kekurangannya yaitu
ayam rentan terkena penyakit yang berasal dari kotoran seperti koksidiosis dan
rentan stress
Gambar 7. Sistem litter kandang ayam petelur
Sumber: https://gresik.co/beternak-ayam-petelur-prospek-bisnis-yang-cerah/
5. Kandang sistem slat
Kandang tipe slat merupakan kandang dengan menggunakan alas lantai
babmu atau kawat yang dipasang berderet untuk mempermudah jatuhnya kotoran
dan agar ayam tidak mudah terperosok. Kandang tipe ini bisa dipasang di atas
kolam sehingga peternakan ayam petelur dapat terintegrasi dengan bidang lain
seperti perikanan. Kelebihan dari kandang model ini yaitu sisa pakan/kotoran
yang masih memiliki nilai nutrien dapat termanfaatkan oleh ikan yang berada di
dalam kolam. Selain itu penularan dan terjadinya kasus penyakit asal kotoran
ternak lebih rendah. Namun, biaya investasi relatif lebih mahal.
20
Gambar 8. Sistem slat kandang ayam petelur
Sumber: http://troboslivestock.com/trobos
6. Kandang sistem cages
Kandang cages berbentuk sangkar berderet yang menyerupai baterai
dengan alas bercelah. Ayam dipelihara pada tingkat produksi individual dan
terkontrol kesehatannya. Tata laksana pemeliharaan cenderung lebih mudah dan
penyebaran penyakit minimum. Biaya pembuatan relatif tinggi.
Gambar 9. Kandang ayam petelur cages
Sumber: http://indonesian.defensive-barrier.com/sale-11201731-10000-egg-layer-
chicken-cage-poultry-farm-layer-cage-customized-service.html
21
Kandang yang dipakai dalam pemeliharaan ayam petelur adalah kandang
baterai berbentuk persegi panjang sangkar empat (cages) dengan susunan berderet
memanjang yang memiliki tingkat dua atau lebih. Bahan yang biasa digunakan
dalam pembuatan kandang ayam petelur yaitu kawat atau bambu. Kandang baterai
biasanya berukuran panjang 40 cm, lebar 40 cm, tinggi 37 cm serta belakang 30
cm. Ventilasi kandnag dibuat sangat terbuka baik pada bagian depan, belakang
maupun atas dengan bagian bawah dibuat dengan kemiringan tertentu untuk
mempermudah telur menggelinding atau bergulir ke arah depan. Bagian bawah
juga dibuat agak renggang untuk mempermudah kotoran ayam jatuh ke bawah.
Tempat makan dan minum dibuat sesuai kandangnya. Tempat pakan bisa
menggunakan pipa atau kayu yang melengkung untuk mempermudah ayam
makan dan tempat minum bisa menggunakan nipple drinker atau pipa cekung
yang memanjang.
Kelebihan kandang baterai ayam petelur yaitu sirkulasi udara maksimal
sehingga ayam merasa nyaman, menghindari kanibal, mudah pengontrolan
kesehatan, pakan, minum dan produksi ayam dan kondisi telur lebih bersih.
Sedangkan kekurangannya yaitu ayam mudah terserang kelumpuhan dan apabila
kotoran ayam tidak rajin dibersihkan akan mengakibatkan banyak lalat dan bau
yang menyengat sehingga ayam mudah terserang penyakit.
Gambar 10. Kandang baterai ayam petelur dari kawat
Sumber:https://adam-nv.com/id/kandang-baterai-ayam-kandang-batery-kawat/
22
Gambar 11. Kandang baterai ayam petelur dari bambu
Sumber: https://www.ternakpertama.com/2015/12/cara-membuat-kandang-ayam-
petelur.html
Desain Kandang Unggas Petelur di Daerah Tropis
Desain kandang ayam petelur dengan tata letak dan layout kandang akan
mempengaruhi jumlah/kapasitas ayam yang diternakkan. Berikut beberapa design
kandang ayam petelur berdasar kabartani.com/mengenal-4-tipe-kandang-untuk-
ayam-ras-petelur.html.
1. Tipe V (4 lajur)
Gambar 12. Kandang tipe V (4 lajur)
23
Kelebihan tipe kandang ini yaitu sirkulasi udara lebih baik, intensitas
cahaya matahari yang masuk kandang juga lebih optimal, sehingga mampu
meningkatkan produksi telur menjadi lebih maksimal. Sedangkan kekurangannya
yaitu tempat menapung ayam masih belum maksimal.
2. Tipe V (6 lajur)
Gambar 13. Kandang tipe V (6 lajur)
Kelebihan tipe kandang ini yaitu sirkulasi udara lebih baik, intensitas
cahaya matahari yang masuk kandang juga optimal, sehingga mampu
meningkatkan produksi telur menjadi juga lebih maksimal tetapi mampu
menampung ayam lebih optimal dari tipe V 4 lajur. Sedangkan kekurangannya
yaitu kandang lebih mudah rusak dan terkadang pekerja sulit menjangkau lajur
paling atas.
3. Kandang tipe AA (12 lajur)
Gambar 14. Kandang tipe AA (12 lajur)
24
Kelebihan kandang AA 12 lajur yaitu sirkulasi udara lebih baik, intensitas
cahaya matahari yang masuk kandang juga optimal, dan mampu menampung
ayam lebih optimal dari tipe V 4 lajur maupun V 6 lajur. Tipe ini paling banyak
digunakan oleh peternak ayam petelur. Sedangkan kekurangannya yaitu
memerlukan lahan yang lebih lebar dibandingkan dengan tipe kandang V.
Kandang paling atas juga lebih sulit dijangkau sehingga memerlukan alat khusus.
4. Tipe W (8 lajur)
Gambar 15. Kandang tipe W (8 lajur)
Kelebihan tipe kandang ini yaitu mampu menampung ayam yang cukup
banyak dan juga salah satu kandang yang paling banyak digunakan oleh peternak
telur. Kekurangan tipe kandang ini yaitu sirkulasi udara di lajur tengah yang
kurang optimal sehingga akan mempengaruhi produksi telur.
Sanitasi kandang diperlukan sebagai tindakan pencegahan penyakit.
Pemeliharaan ayam petelur membutuhkan waktu yang lebih lama, sehingga
pencegahan penyakit mutlak harus dilakukan. Tindakan sanitasi yang bisa
dilakukan adalah dengan desinfeksi kandang yaitu memusnahkan/membunuh
mikroorganisme yang bersifat patogen yang menjadi penyebab munculnya
penyakit dengan menggunakan bahan kimia tertentu. Bahan sanitasi yang biasa
digunakan yaitu diantaranya terdapat pada Tabel 12.
Tabel 9. Jenis desinfeksi dalam sanitasi, tempat penggunaan, dan caranya
No. Jenis bahan sanitasi Lokasi tempat
penggunaan
Cara menggunakannya
1. Sabun Tempat pakan dan
air minum
Mencampur dengan air
dan dicucikan
2. Lisol, karbol dan Lantai dan dinding Mencampur dengan air
25
No. Jenis bahan sanitasi Lokasi tempat
penggunaan
Cara menggunakannya
kreolin kandang dan
dicucikan/disemprotkan
3. Antisep dan saniquard Tempat pakan dan
air minum,
permukaan kandang
Mencampur dengan air
dan
dicucikan/disemprotkan
4. Kalium permanganat
dan formalin
Bagian dalam
kandang
fumigasi
5. Kapur Lantai, dinding dan
langit-langit kandang
Mencampur dengan air
dan
dicucikan/disemprotkan
6. Teer Bagian kandang
yang terbuat dari
kayu atau bambu
mengoleskan
Sanitasi umumnya dilakukan dengan menyapu, menyiram, menyemprot,
dan menyikat dan dilakukan pada masa brooding, pullet dan produksi serta pada
saat proses budidaya selesai. Beberapa contoh-contoh kandang dapat dilihat pada
link-link berikut ini:
1. https://kandangclosehouse.com/tag/battery/
2. http://indonesian.defensive-barrier.com/sale-11201731-10000-egg-layer-
chicken-cage-poultry-farm-layer-cage-customized-service.html
3. https://adam-nv.com/id/kandang-baterai-ayam-kandang-batery-kawat/
Desain Kandang Unggas Petelur yang Cocok Di Indonesia
Budidaya ayam petelur skala rumahan berbeda dengan skala industri
dengan mempertimbangkan biaya operasional untuk mendapatkan keuntungan
yang maksimal. Lokasi yang cocok digunakan dalam budidaya ayam petelur
yaitu harus dekat dengan sumber air sebagai bahan minum ternak dan
pembersihan lingkungan kandang. Kandang panggung sangat cocok digunakan
dalam industri unggas petelur dengan pertimbangan alas kandang yang tidak
berhubungan langsung dengan ternak. Sehingga ternak lebih tidak mudah
terserang penyakit yang berhubungan dengan kotoran seperti koksidiosis dan
pernafasan yang diakibatkan akumulasi dari zat amonia. Kandang panggung juga
memiliki kelebihan sirkulasi udara yang lebih baik dengan dukungan kandang
26
model open atau terbuka. Kandang panggung akan memudahkan pembersihan
kotoran sehingga kandang tetap bersih dan steril. Industri ayam petelur juga lebih
menyukai kandang dengan model cages atau baterai dibandingkan dengan
kandang koloni. Kandang model baterai juga lebih memudahkan peternak dalam
koleksi telur.
Gambar 16. Kandang panggung industri peternakan unggas petelur
Sumber: https://www.anakdagang.com/ragam-jenis-kandang-ayam/
Industri Puyuh dan Itik Petelur
Skala usaha peternakan puyuh relatif beragam dengan populasi
pemeliharaan berkisar antara 100 hingga 10.000 ekor dengan rata-rata 5.000 ekor.
Pola usaha peternakan puyuh memiliki tujuan utama menghasilkan produk utama
telur puyuh. Sebagian besar produk telur puyuh dipasarkan dalam pasar dalam
negeri. Pemasaran dilakukan dari pedagang yang mengambil langsung dari
perusahaan inti langsung dipasarkan ke pedagang agen, dari pedagang agen
kemudian langsung dipasarkan ke pedagang pengecer di pasar-pasar
konvensional, pasar modern/supermarket, dan industri pengolah.
Populasi ternak itik di Indonesia sebagian besar berasal dari usaha
peternakan rumah tangga atau tradisional. Menurut Ditjennak tahun 2005,
populasi dan penghasil telur itik terbanyak di Indonesia tersaji dalam Tabel 13.
Dan contoh rantai pasok pemasaran telur itik di wilayah Jawa Barat seperti
Indramayu dan Tasikmalaya tersaji pada Gambar 30.
27
Tabel 10. Populasi dan penghasil telur itik terbanyak di Indonesia tahun 2005
Propinsi Populasi (ekor) Produksi telur di Indonesia
Ton %
Jawa barat 5.201.124 31.906 17.70
Jawa tengah 5.633.890 20.908 11.60
Kalimantan
selatan
2.998.703 20.077 11.14
Jawa timur 2.412.513 16.936 9.39
Sulawesi selatan 2.905.620 15.905 8.82
Nangroe Aceh
Darussalam
2.976.092 13.928 7.73
Sumatera Utara 2.291.472 10.958 6.08
Total 24.419.414 130.618 72.46
% dari Indonesia 71,82
Sumber: Ditjennak (2005)
Gambar 17. Rantai pasok pemasaran telur itik di Tasikmalaya dan Indramayu
28
C. PENUTUP
1. Rangkuman
Jumlah penduduk yang semakin meningkat pada tahunnya mengakibatkan
naiknya kebutuhan protein hewani seperti daging, susu, dan telur. Penyaluran
telur di pasaran dari produsen ke konsumen dilakukan melalui dapat dilakukan
secara langsung maupun melalui lembaga perantara. lembaga pemasaran perantara
yaitu pedagang pengumpul, poultry shop, pasar tradisional, agen atau pedagang
pengumpul besar, dan restoran atau rumah makan. Bentuk saluran pemasaran telur
ayam ras pada usaha peternakan yaitu, saluran pemasaran pertama dengan
lembaga pemasaran yang terlibat adalah peternak, pedagang pengumpul,
pedagang pengecer dan konsumen, kemudian saluran pemasaran yang kedua
dengan lembaga pemasaran yang terlibat adalah peternak, pedagang pengumpul
dan konsumen. Rantai pasok telur ayam ras dan kelembagaan antar pelaku yang
terkait mencakup beberapa kategori dengan orientasi pasar konvensional, pasar
modern, konsumen lembaga, dan industri pangan. Harga jual telur dari peternak
ditentukan berdasarkan kesepakatan harga antara peternak dengan konsumen atau
lembaga pemasaran yang terlibat dalam sistem pemasaran. Dalam usaha
peternakan ayam petelur seringkali dihadapkan dengan harga input produksi yang
tinggi sedangkan harga output produksi yang dihasilkan rendah. Peternak perlu
untuk mengidentifikasi margin, besaran harga yang diterima oleh peternak dan
efisiensi usaha peternakan. Penjualan telur dalam industri makanan dipengaruhi
oleh beberapa faktor yaitu: faktor teknis, ekonomis dan sosial. Kandang ayam
petelur berfungsi sebagai tempat berlindung, istirahat berproduksi dan
pengontrolan penyakit. Beberapa tipe kandang pada budidaya ayam petelur
diantaranya yaitu kandang tipe terbuka (open house), kandang tertutup (close
house), kandang dengan tiang/atap yang tinggi dan kandang dengan koridor di
tengah, kandang sistem litter, kandang sistem slat, dan kandang sistem cages.
Desain kandang unggas petelur di daerah tropis ada empat tipe, yaitu kandang tipe
V (4 lajur), kandang tipe V (6 lajur), kandang tipe AA (12 lajur) dan kandang tipe
W (8 lajur).
29
Daftar Pustaka
Agromedia.net/4-tipe-kandang-untuk-ayam-ras-petelur-beserta-kelebihan-
kekurangannya-2/
Aroning R., 2008. Analisis Saluran dan Hasil Margin Pemasaran Kakao di Desa
Timbuseng, Kecamatan Pattalasang, Kabupaten Gowa.
http://www.deptan.go.id.
Badan Litbang Pertanian. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis
Unggas. Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. Jakarta.
Birmingham University dan MCL. 2004. Business Relationship Optimization in
the Red Meat Supply Chain in Great Britain. MCL Economics and Red
Meat Industry Forum (RMIF). www.rmif.org.uk.
Ditjennak. 2005. Statistik Peternakan 2005. Direktorat Jenderal Peternakan,
Departemen Pertanian, Jakarta. 229 hlm.
Fadil, M., Y Kalaba, A. Muis. 2017. Analisis Margin Pemasaran Telur Ayam Ras
Pada Usaha Peternakan “Cahaya Aris Manis” Di Desa Langaleso
Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi. e-J. Agrotekbis 5 (3) : 385 – 393
https://www.anakdagang.com/ragam-jenis-kandang-ayam/
http://indonesian.defensive-barrier.com/sale-11201731-10000-egg-layer-chicken-
cage-poultry-farm-layer-cage-customized-service.html
http://troboslivestock.com/trobos
https://adam-nv.com/id/kandang-baterai-ayam-kandang-batery-kawat/
https://gresik.co/beternak-ayam-petelur-prospek-bisnis-yang-cerah/
https://kandangclosehouse.com/tag/battery/
https://kandangclosehouse.com/tag/battery/
https://www.ternakpertama.com/2015/12/cara-membuat-kandang-ayam-
petelur.html
Ketaren, PP. 2007. Peran itik sebagai penghasil telur dan daging nasional.
WARTAZOA Vol. 17 No. 3 (117 – 127)
Kurniawan, M. F. T. Strategi Pengembangan Agribisnis Peternakan Ayam Petelur
di Kabupaten Tabanan. Jurnal Manajemen Agribisnis. Vol, No. 2
Lestari, V.S., Saadah, H.M. Ali Dan A. Natsir. 2011. Peranan Beberapa Lembaga
Pemasaran Dalam Penjualan Telur pada Peternak Ayam Ras Petelur di
Indonesia: Studi Kasus di Jawa Barat, Bali dan Sulawesi Selatan. JITP vol.
1 No. 2 (138 – 145).
Mubyarto, 1992. Analisis Distribusi Ayam Broiler di Propinsi Daerah Istimewa
Aceh. J. Ekonomi Pembangunan Vol. 9. No. 2. Desember 2004. hal 193-
205.
30
Nuraeni, 2006. Analisis Efisiensi Pemasaran Ayam Burasdi Desa Kalebarembeng
Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa. J. Agrisistem. Vol. 2. No. 2 :1-
6.
Rasyaf, M. 2007. Beternak Ayam Petelur. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sa’id, E.G. dan A.H. Intan. 2001. Manajemen Agribisnis. Ghalia Indonesia,
Jakarta.
Soekartawi, 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Teori dan Aplikasinya. PT.
Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Sejati, W.K. 2011. Analisis kelembagaan rantai pasok telur ayam ras peternakan
rakyat di Jawa Barat. Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 9 No. 2, Juni
2011 : 183-198
kabartani.com/mengenal-4-tipe-kandang-untuk-ayam-ras-petelur.html

AT Modul 6 kb 2

  • 1.
    1 KEGIATAN BELAJAR 2 TataniagaTelur dan Desain Kandang Industri Unggas Petelur
  • 2.
    2 A. PENDAHULUAN 1. DeskripsiSingkat Kegiatan Belajar (KB) 2 dalam Modul 6 Industri Peternakan akan membahas mengenai Tataniaga Telur dan Desain Kandang Industri Unggas Petelur. Ruang lingkup dari KB 2 ini, yaitu penyaluran telur dipasaran, sistem tataniaga telur di industri unggas petelur, model dan jenis kandang unggas petelur, serta desain kandang industri unggas petelur yang cocok untuk daerah tropis. 2. Relevansi Dengan mengetahui konsep, prosedur dan prinsip prinsip dalam industri peternakan unggas petelur, mulai dari penentuan jenis kandang yang tepat hingga sistem tataniaga telur di industri unggas petelur maka peserta didik dapat menganalisis dan menentukan sistem pemeliharaan unggas petelur dengan baik. 3. Panduan Belajar Modul ini dilengkapi dengan tugas terstruktur, link-link yang dapat dikunjungi dan gambar serta infografis yang menambah pengetahuan peserta didik. B. INTI 1. Capaian Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, diharapkan peserta didik mampu menguasai materi ajar bidang agribisnis ternak ruminansia, agribisnis ternak unggas, dan industri peternakan secara mendalam termasuk advance materials secara bermakna yang dapat menjelaskan aspek “apa” (konten), “mengapa” (filosofi), dan “bagaimana” (penerapan) dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu peserta didik juga diharapkan mampu menganalisis prinsip industri peternakan dan aplikasinya dalam pembelajaran bidang studi agribisnis ternak.
  • 3.
    3 2. Sub CapaianPembelajaran 1. Mampu menganalisis industri unggas petelur dan jenis-jenis kandang ayam petelur. 2. Mampu menganalisis tataniaga telur di industri ayam petelur. 3. Uraian Materi Subsektor peternakan memiliki peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani. Peningkatan jumlah penduduk berbanding lurus dengan pemenuhan kebutuhan hasil ternak seperti daging, susu dan telur. Kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi produk yang memiliki nilai gizi tinggi khususnya protein berdampak positif dalam perkembangan sektor peternakan. Kebutuhan protein hewani dapat dipenuhi dengan konsumsi protein sebanyak 6 gr per kapita per hari yaitu setara dengan konsumsi daging sebanyak 10,61 kg daging, 4,4 kg telur dan susu 6,16 kg per kepita per tahun (FAO, 2005). Dalam sektor agribisnis kegiatan dari usaha peternakan merupakan salah satu atau keseluruhan dari mata rantai proses produksi, hingga pengolahan hasil serta pemasarannya (Kurniawan, 2013). Penyaluran Telur di Pasaran Usaha peternakan ayam petelur baik skala kecil, menengah maupun industri modern mulai tumbuh pesat dengan meningkatnya jumlah permintaan telur. Strategi penyaluran produk dalam pemasaran yang baik menentukan tersalurkannya telur ayam dari produsen ke konsumen. Penjualan merupakan fungsi dari sub-sistem dalam memasarkan produk yang mencakup adanya kegiatan atau proses pindahnya hak milik suatu produk dari produsen atau lembaga perantara pemasaran yang punya hak kepemilikan kepada konsumen (Sa’id dan Intan, 2001). Kebutuhan telur di Indonesia, sebagian besar berasal dari telur ayam ras. Hal ini disebabkan peternakan ayam petelur ras telah diusahakan dalam skala besar atau industri. Peternakan ayam buras dan itik pemeliharanya masih dilakukan dalam skala rumah tangga dengan cara yang masih tradisional.
  • 4.
    4 Tersedianya sarana danprasana dalam pemeliharaan ayam petelur ras jauh lebih baik dibandingkan dengan unggas lain seperti itik maupun ayam buras sehingga produktivitas ayam ras jauh lebih tinggi. Gambar 1. Produksi telur nasional pada tahun 2005 Sumber: Ketaren (2007) Jalur penjualan dapat dilakukan dengan beberapa cara, ada yang dilakukan secara langsung dengan menjual ke konsumen yang diistilahkan jalur pendek, dan ada yang menggunakan jasa perantara dengan istilah jalur panjang yaitu dengan menggunakan lembaga pemasaran. Lembaga pemasaran yang terlibat diantaranya pedagang pengumpul, pedagang pengumpul besar/agen, poultry shop, pasar tradisional, dan rumah makan/restoran. Penentuan harga jual telur dalam sistem pemasaran dari peternak berdasarkan kesepakatan yang dilakukan oleh peternak dengan konsumen atau lembaga pemasaran yang terlibat. Jalur pemasaran telur oleh pelaku industri peternakan ayam petelur dilakukan oleh dua pelaku utama, yaitu melalui pedagang pengumpul atau langsung disalurkan pada pedagang di pasar konvensional. Rantai pasok telur yang terlibat dalam pemasaran produk telur diantaranya peternak, agen kecil dan agen besar atau grosir yang biasanya terdapat di pasar konvensional, pasar modern, pedagang pengumpul, konsumen lembaga seperti rumah sakit, hotel,
  • 5.
    5 restoran, serta pengolahmakanan. Setiap pelaku akan bekerja secara mandiri dalam suatu pola hubungan bisnis yang telah terbentuk diantara mereka dan menjalankan tugasnya masing-masing. Gambar 2. Contoh pola pelaku agribisnis yang saling terkait dalam penyaluran atau tata niaga telur ayam Sumber: Sejati (2011) Telur ayam adalah salah satu produk peternakan yang mudah rusak atau tidak tahan lama sehingga penjualannya harus dapat dilakukan secara cepat agar telur tersebut bisa sampai ketangan konsumen dalam kondisi yang masih baik dan bermutu. Semakin tertunda waktu penjualan maka akan menurun kualitas mutu telur dan akan berdampak pada penurunan harga produk. Tabel 1. Persentase penjualan telur dari peternak ayam petelur pada beberapa lembaga pemasaran di Indonesia Lembaga pemasaran Jawa Barat Bali Sulawesi Selatan Rata-rata Pedagang pengumpul 67,36 82,73 73,39 74,49 Pasar tradisional 7,02 7,75 10,00 8,26 Poultry shop - 0,45 5,83 2,09 Konsumen 4,23 3,38 10,78 6,13 Lainnya 21,39 5,15 - 8,85 Total 100 100 100 - Sumber: Lestari et al. (2011)
  • 6.
    6 Pedagang pengumpul merupakanlembaga pemasaran yang biasanya datang ke peternak kemudian telur ayam tersebut dibeli dalam jumlah yang cukup besar dan menyalurkannya kepada para pedagang perantara yang lain sebelum sampai konsumen. Pedagang pengumpul merupakan lembaga pemasaran yang menjual komoditas yang telah dibeli dari peternak dengan tujuan efisiensi dari pemasaran seperti distribusi atau pengangkutan dapat lebih meningkat. Rumah makan dan restoran juga merupakan lokasi pemasaran lain dengan penjualan harga yang cenderung tinggi karena mereka umumnya merasa telur ayam yang berasal dari peternak dijamin telur yang masih baru sehingga tidak akan mengecewakan konsumen ketika diolah menjadi masakan. Restoran dan rumah makan dalam industri pemasaran telur memiliki fungsi pembelian, fungsi pengolahan/pengolahan dan fungsi penjualan. Pasar tradisional biasanya lokasinya jauh dari kandang peternakan sehingga para peternak harus mengeluarkan biaya yang lebih unuk transportasi dan memiliki resiko pecah telur pada saat perjalanan cukup besar. Pemasaran juga dapat dilakukan dengan penjualan langsung peternak kepada konsumen rumah tangga. Konsumen rumah tangga langsung dapat melakukan pembelian telur ayam ras dilokasi peternakan tanpa melibatkan pedagang perantara. Menurut Rasyaf (2007) mengemukanan bahwa jalur penjualan langsung merupakan penjualan yang dilakukan secara langsung kepada konsumen akhir tanpa melalui pedagang perantara. Adanya penjualan telur langsung kepada konsumen tanpa pedagang perantara diharapkan dapat harga jual dari peternak yang lebih rendah, akan tetapi berdasarkan hasil penelitian harga jual telur ke konsumen lebih tinggi dibandingkan harga jual ke pasar tradisional atau ke pedagang pengumpul. Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli yang terbentuk secara alami dan terjadi karena tradisi. Ragam kualitas telur yang dijual berbeda-beda dan konsumen berhak memilih serta tawar menawar harga. Pasar modern tempat pemasaran telur biasanya terletak di kota besar dengan tempat yang menyajikan kenyamanan dalam berbelanja. Harga yang ditawarkan dalam pasar modern sudah tidak dapat diubah-ubah dan dalam pasar modern penjualan
  • 7.
    7 produk lebih mengutamakankualitas sehingga telur yang dijual di pasar modern lebih seragam kualitasnya. Sistem Tataniaga Telur di Industri Ayam Petelur Terdapat dua bentuk dari saluran pemasaran, untuk saluran yang pertama yaitu peternak menjual telur ke pedagang perantara yaitu pedagang pengumpul dan pedagang pengecer. Sedangkan saluran yang kedua yaitu peternak menjual telur ke pedagang perantara yaitu pedagang pengumpul. Dalam proses pemasaran juga terdapat biaya pemasaran, yaitu besarnya biaya yang dikeluarkan dalam proses perpindahan barang dari produsen ke konsumen akhir. Besar kecilnya biaya pemasaran untuk hasil produk peternakan ayam petelur tergantung dari banyaknya kegiatan kelembagaan pemasaran serta jumlah fasilitas yang diperlukan dalam proses pemasaran tersebut. Strategi pemasaran yang tepat dilakukan demi memperoleh informasi mengenai potensi pasar sebagai dasar informasi bagi pemilihan, perumusan dan penerapan startegi demi mendapatkan keunggulan dalam pemasaran yang dikenal dengan istilah market driven. Konteks market driven pengembangan komoditi peternakan khususnya untuk produk telur perlu pemahaman terhadap perkembangan dua bentuk pasar, yaitu pasar konvensional dan pasar modern serta kebijakan yang kaitannya dengan berkembangnya rantai pasok produk peternakan. Kedua jenis pasar ini berkembang khususnya pada pasar modern yang selanjutnya diarahkan melalui instrumen kebijakan yang tepat agar memberi manfaat yang besar kepada pengembangan produk peternakan domestik, khususnya yang diusahakan oleh peternakan rakyat. Pengembangan agribisnis peternakan memiliki kebijakan pengembangan rantai pasok yang dapat memberi manfaat dan dampak positif bagi berkembangnya usaha peternakan rakyat baik berskala kecil maupun berskala menengah. Gambar 16 menunjukkan adanya hubungan antara kelembagaan dari rantai pasok peternakan rakyat dan pasar komoditas serta kebijakan pendukungnya yang dibutuhkan dengan penjelasan:
  • 8.
    8 Gambar 3. Kelembagaanrantai pasok komoditas peternakan Sumber : Birmingham University dan MLC (2004) Selain itu, dalam konteks pengembangan dari kelembagaan rantai pasok perlu dianalisis kebijakan yang lain seperti kebijakan budidaya, pasar input, pemasaran, pengembangan produk, dan perdagangan. Kebijakan tersebut akan mempengaruhi kinerja pasar modern maupun konvensional yang akhirnya memiliki dampak terhadap adanya kinerja pada sektor produksi, ataupun sebaliknya dan akan berpengaruh pada sektor budidaya dengan mengikuti jalur rantai pasok hingga ke tingkat pasar akhir. Analisis kebijakan rantai pasok ini butuh pendekatan dengan sasaran reorientasi kebijakan guna mendukung berkembangnya kelembagaan rantai pasok supaya peternak mendapatkan manfaat yang maksimal dari perkembangan pasar produk peternakan yang pesat.
  • 9.
    9 Penggerak manajemen perolehankomoditas pada pasar konvensional dilakukan oleh grosir, pedagang pengepul, dan pengecer. Pedagang pengepul biasanya menjalin hubungan kerjasama dengan peternak rakyat dan menyalurkan produk telur langsung ke pengecer atau ke pasar grosir. Pengepul memiliki peranan yang sangat penting karena sebagian besar peternak rakyat akan menjual hasil produksi telurnya kepada pedagang jenis ini. Kerjasama yang dilakukan antara pengepul dengan peternak diantaranya yaitu masalah mutu produk barang, harga, maupun pembayaran. Adanya keterkaitan yang terjadi antara pelaku di dalam pasar konvensional memiliki sifat positif dan merasa diperlakukan secara adil khususnya dalam hal pembagian keuntungan, hal ini disebabkan pembentukan harga yang biasanya dilakukan berdasarkan mekanisme pasar dapat dipengaruhi oleh adanya mekanisme permintaan dan penawaran. Pembentukan harga yang dilakukan oleh pedagang pengepul dengan peternak didapatkan melalui proses negosiasi, meskipun dalam prakteknya peternak tetap saja sebagai yang menerima harga (price taker), sehingga nilai tambah yang diterima oleh peternak relatif sangat kecil. Kondisi yang demikian juga tidak terlepas dari dominansi peran para pedagang dalam menentukan harga, dan adanya juga kebiasaan peternak yang butuh uang tunai dengan segera, sehingga posisi tawar peternak relatif lemah. Dalam suatu usaha peternakan diperlukan suatu upaya untuk memperoleh keuntungan yang besar dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan bagi pelaku usaha peternakan tersebut. Dalam usaha peternakan ayam petelur seringkali dihadapkan dengan harga input produksi yang tinggi sedangkan harga output produksi yang dihasilkan rendah. Kondisi margin antara telur dan pakan yang semakin rendah disebabkan karena rasio harga telur dengan harga pakan menjadi semakin tinggi (Fadil, 2017). Peternak perlu untuk mengidentifikasi margin, besaran harga yang diterima oleh peternak dan efisiensi usaha peternakan. Analisis yang dapat dilakukan yaitu mencari margin pemasaran (Aroning, 2008) dengan model berikut ini:
  • 10.
    10 M = Hp– Hb Keterangan: M = Margin pemasran Hp = Harga Pembelian (Rp/kg) Hb = Harga Penjualan (Rp/kg) Pemasaran juga pasti melibatkan lembaga pemasaran sehingga margin total pemasaran dapat dirumuskan sebagai berikut (Sobirin, 2009): MT = M1 + .M2 + M3 + .... + Mn Keterangan: MT = Margin total M1, M2, M3 ... Mn = Margin dari setiap pemasaran (Rp/kg) Penyebaran margin pemasaran berikutnya didasarkan bagian (share) yang diperoleh pada masing-masing kelembagaan pemasaran. Farmer’s share memiliki hubungan yang negatif dengan margin pemasaran sehingga margin pemasaran yang semakin rendah, menyebabkan perolehan petani semakin tinggi. Perhitungan farmer’s share dirumuskan sebagai berikut (Swastha, 2002): x 100 % Keterangan Sf = Bagian harga yang diterima peternak Price Farm = Harga dari ditingkat peternak Price Retailer = Harga dari konsumen akhir Adanya penambahan biaya pemasaran mengartikan bahwa pemasaran tersebut tidak efisien. Sebaliknya, nilai produk yang dijual semakin kecil mengartikan bahwa terjadi adanya pemasaran yang tidak efisien (Soekartawi, 2002). Menghitung evisiensi pemasaran dapat dilakukan dengan perhitungan sebagai berikut: Eps = (TB/TNP) X 100% Keterangan: Eps = Efisiensi dari Pemasaran TB = Total Biaya Pemasaran (Rp/kg) TNP = Total Nilai Produk yang dipasarkan (Rp/kg)
  • 11.
    11 Biaya pemasaran merupakanbesarnya biaya yang dikeluarkan dalam proses perpindahan barang dari produsen ke konsumen akhir. Besar kecilnya biaya pemasaran untuk hasil produk peternakan ayam petelur tergantung dari banyaknya kegiatan kelembagaan pemasaran dan jumlah fasilitas yang diperlukan dalam proses pemasaran tersebut. Marilah kita bandingkan efisiensi biaya pemasaran dari dua saluran pertama dan saluran kedua. Biaya pemasaran saluran pertama dapat dilihat pada Tabel 5 sedangkan biaya pemasaran saluran kedua dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 2. Biaya pemasaran, nilai penjualan, dan keuntungan yang diterima masing- masing lembaga pemasaran telur ayam ras pada saluran pertama No. Lembaga Pemasaran Volume/Nilai A Peternak 1. Penjualan (kg) 7406,6 2. Harga Jual (Rp/kg) 2910 1 kg = 24.000 2464,4 1 kg = 27.000 2479,9 1 kg = 28.000 3. Nilai Penjualan (Rp) 191.976.000 4. Biaya Pemasaran : a. Tenaga Kerja (Rp) 14.000.000 b. Pakan Ayam (Rp) 84.000.000 b. Biaya Telepon (Rp) 200.000 c. Total Biaya (Rp) 98.200.000 5. Keuntungan (Rp) 93.776.000 B Pedagang Pengumpul 1. Nilai Pembelian (Rp) 191.976.000 2. Harga Jual (Rp/kg) 2910 1 kg = 26.000 2464,4 1 kg = 28.800 2479,9 1 kg = 29.600 3. Biaya Pemasaran a. Transportasi (Rp) 350.000 b. Tenaga Kerja (Rp) 2.000.000 c. Total Biaya (Rp) 2.350.000 4. Nilai Penjualan (Rp) 204.497.000 5. Keuntungan (Rp) 5.777.000 C Pedagang Pengecer 1. Nilai Pembelian (Rp) 172.897.000 2. Harga Jual (Rp/kg) 2910 1 kg = 26.000 2464,4 1 kg = 30.600 2479,9 1 kg = 32.600 3. Biaya Pemasaran: a. Tenaga Kerja (Rp) 500.000
  • 12.
    12 No. Lembaga PemasaranVolume/Nilai b. Retribusi (Rp) 150.000 c. Total Biaya (Rp) 650.000 4. Nilai Penjualan (Rp) 214.132.000 5. Keuntungan (Rp) 8.984.000 Sumber: Fadil (2017) Tabel 3. Biaya pemasaran, nilai penjualan, dan keuntungan yang diterima masing- masing lembaga pemasaran telur ayam ras pada saluran pertama No. Lembaga Pemasaran Volume/Nilai A Peternak 1. Penjualan (kg) 296,4 2. Harga Jual (Rp) 2910 2464,4 1kg 1 kg = 24.000 = 27.000 2479,9 1kg = 28.000 3. Nilai Penjualan (Rp) 205.210.000 4. Biaya Pemasaran: a. Tenaga Kerja (Rp) 14.000.000 b. Pakan Ayam (Rp) 84.000.000 c. Biaya Telepon (Rp) 250.000 d. Total Biaya (Rp) 98.250.000 5. Keuntungan (Rp) 106.960.000 B Pedagang Pengumpul 1. Nilai Pembelian (Rp) 205.210.000 2. Harga Jual (Rp) 2910 2464,4 1kg 1kg = 26.000 = 28.800 2479,9 1kg = 29.600 3. Biaya Pemasaran: a. Transportasi (Rp) 450.000 b. Tenaga Kerja (Rp) 1.800.000 c. Total Biaya (Rp) 2.250.000 4. Nilai Penjualan (Rp) 220.077.000 5. Keuntungan (Rp) 6.199.000 Sumber: Fadil (2017) Margin pemasaran telur ayam ras dihitung dengan selisih antara harga yang diterima oleh peternak dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen saluran pertama dapat dilihat pada Tabel 7 dan saluran kedua dapat dilihat di Tabel 8.
  • 13.
    13 Tabel 4. Margin,total margin, dan bagian harga yang diterima peternak sampai ke konsumen pada saluran pertama Sumber: Fadil (2017) Tabel 5. Margin, total margin, dan bagian harga yang diterima peternak sampai ke konsumen pada saluran kedua Sumber: Fadil (2017) Besarnya margin pemasaran dari telur ayam ras yang diperoleh untuk saluran pertama sebesar Rp 9.000,- kemudian margin yang diperoleh untuk saluran pemasaran kedua yaitu sebesar Rp 4.800,-. Bagian harga yang diterima peternak pada saluran pertama sebesar 91%, dengan bagian harga yang diterima peternak pada saluran kedua sebesar 93%.
  • 14.
    14 Efisiensi pemasaran merupakantujuan akhir dari suatu produk atau nisbah antara total biaya dengan total nilai produk yang dipasarkan. efisiensi dari masing- masing saluran pemasaran telur ayam ras terlihat pada Tabel 9 dan Tabel 10. Tabel 6. Total biaya dan nilai penjualan pada masing-masing saluran pemasaran No. Saluran Pemasaran Volume Penjualan (Kg) HargaJual (Rp/kg) Total Nilai Penjualan (Rp) Total Biaya (Rp) 1 Pertama 7406,6 2705 (1/24.000 ) 2276,1 (1/27.000 ) 2425 (1/28.000 ) 214.132.000 101.200.000 2 Kedua 7854,3 2910 (1/24.000 ) 2464,4 (1/27.000 ) 2479,9 (1/28.000 ) 220.077.000 100.500.000 Sumber: Fadil (2017) Tabel 7. Efisiensi pemasaran dari setiap saluran pemasaran yang terlibat dalam pemasaran telur ayam ras No Saluran Pemasaran Total Biaya (Rp) Total Nilai Penjualan (Rp) Efisiensi (%) 1 Pertama 101.200.000 214.132.000 4,7 2 Kedua 100.500.000 220.077.000 4,5 Sumber: Fadil (2017) Berdasarkan Tabel 10 maka dapat dilihat bahwa pemasaran yang efisien terlihat pada saluran pemasaran yang kedua dengan nilai efisiensi sebesar 4,5%, hal ini disebabkan karena total dari biaya pada saluran pemasaran yang kedua lebih rendah dari total biaya pada saluran pemasaran yang pertama saluran kedua. Saluran kedua lebih efisien dibandingkan dengan saluran pertama, sehingga dengan saluran pemasaran yang lebih pendek dapat memberi peluang dalam meningkatkan bagian harga ditingkat peternak. Nilai efisiensi dari pemasaran pada saluran pertama sebesar 4,7% dan nilai efisiensi pemasaran pada saluran kedua sebesar 4,5%. Di pasar modern, pembelian telur biasanya dilakukan oleh pedagang grosir atau supplier dengan sistem kontrak kerja dengan persyaratan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak yang perjanjiannya tidak terlalu mengikat. Konsumen pada pasar modern seperti supermarket biasanya berasal dari kalangan
  • 15.
    15 rumah tangga. Telurjuga merupakan salah satu bahan baku utama dalam pembuatan masakan yang sangat dibutuhkan konsumen lembaga seperti rumah makan, perusahaan makanan, rumah sakit maupun hotel. Strategi pemasaran yang dilakukan supaya dapat masuk kedalam konsumen lembaga tersebut perlu adanya persyaratan baik kualitas produk telur maupun prosedur administrasinya. Oleh karena itu pada umumnya pihak lembaga akan melakukan hubungan kelembagaan rantai pasok dengan sumber pasokan. Penjualan telur dalam industri makanan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: 1. Faktor Teknis Telur merupakan salah satu bahan baku utama dalam pembuatan kue dalam perusahaan kue. Bahan pokok ini tersedia dalam kondisi cukup melimpah dan mudah diakses sehingga suplier selalu dapat menyediakan telur secara tepat waktu dan dengan mutu yang baik. 2. Faktor Ekonomis Ketersediaan telur dari sisi ekonomis dipengaruhi oleh harga. Sebagai bahan baku, telur memiliki harga yang fluktuatif dari hari ke hari sehingga sangat mengganggu dalam proses pengelolaan di industri makanan yang menggunakan telur sebagai salah satu bahan bakunya. Harga makanan pasti harus dijaga agar tetap stabil sehingga fluktuasi akan harga telur berpengaruh pada tingkat keuntungan yang diperoleh industri makanan. 3. Faktor Sosial Laju pemasaran makanan dari industri pengolahan makanan yang menggunakan telur sebagai bahan dasarnya yang sangat dipengaruhi oleh adanya hari hari besar dan hari libur seperti hari sabtu atau minggu. Strategi dan momentum hari-hari besar dan hari libur nasional juga dipergunakan oleh pengusaha makanan sebagai kompensasi harga dan tingkat keuntungan di saat harga telur sebagai bahan baku relatif tinggi. Keragaan dan permasalahan industri pengolah berbahan baku telur ditampilkan pada Tabel 11.
  • 16.
    16 Tabel 8. Masalahdalam industri pengolahan dengan bahan baku telur Deskripsi Keragaan dan permasalahan 1. Tersedianya bahan baku/bahan pendukung Mudah didapat, tidak masalah 2. Harga bahan baku/bahan pendukung Fluktuatif, sehingga menyulitkan dalam pengelolaan usaha 3. Permodalan usaha Bank, dengan prosedur yang relatif mudah, suku bunga terjangkau 4. Biaya pemasaran Pengecer langsung mengambil di toko 5. Permintaan/volume penjualan Tidak ada masalah, tahun ke tahun meningkat 6. Daya beli konsumen/harga jual/sistem pembayaran Daya beli konsumen cukup tinggi dengan sistem pembayaran cash and carry 7. Tingkat keuntungan/keberlanjutan usaha Optimis, terus berlanjut Sumber: Sejati (2011) Dalam menstabilkan dan mengembangkan usaha ternak ayam petelur, maka para peternak ayam petelur harus melakukan perbaikan pada berbagai aspek seperti aspek produksi, biosekuriti, manajemen pengelolaan, dan aspek pemasaran. Perbaikan aspek pemasaran yang harus dilakukan oleh peternak yaitu: 1. Memperbaiki kualitas dan mutu produk, dengan menjaga kesegaran telur yang tetap higienis, mutu kulit telur, dan mutu dari isi telur yang selalu memenuhi standar; 2. Memperbaiki kemasan telur yang akan dijual baik secara curah maupun dalam kemasan yang kecil; 3. Penanganan dalam transportasi; 4. Memperbaiki saluran distribusi; 5. Pengembangan inovasi produk olahan telur; 6. Mengampanyekan perbaikan gizi dan promosi manfaat dari telur. Dalam pengelolaan pasar untuk meningkatkan kesejahteraan peternak, peranan pemerintah diantaranya: 1. Perlindungan industri peternakan ayam dalam negeri dari tekanan persaingan pasar global yang tidak adil; 2. Pencegahan adaya persaingan yang tidak sehat antar perusahaan ayam;
  • 17.
    17 3. Pengembangan sistempencegahan dan penanggulangan adanya wabah penyakit yang menular; 4. Memberi dukungan daam pembangunan infrastruktur penunjang lainnya. 5. Menjamin transparansi info produksi Day Old Chicken (DOC), biaya bahan- bahan input, serta kondisi pasar seperti permintaan, produksi dan harga. Jenis Kandang Ayam Petelur Kandang memiliki fungsi sebagai tempat berlindung dari panas/hujan, bahaya hewan pemangsa, tempat tidur dan istirahat, mempermudah peternak dalam mengambil hasil panen, mempermudah pengontrolan kondisi ternak, mempermudah pemberian pakan dan pengobatan penyakit. Faktor yang mempengaruhi jumlah produksi diantaranya tipe kandang, model kandang sistem kandang, maupun temperatur lingkungan sekitar kandang. Beberapa tipe kandang pada budidaya ayam petelur, diantaranya: 1. Kandang tipe terbuka atau disebut open house Gambar 4. Kandang ayam petelur sistem open house (terbuka) Sumber: https://kandangclosehouse.com/tag/battery/ Kandang sistem terbuka ini merupakan kandang yang sangat populer digunakan pada peternakan ayam petelur. Biaya pembuatan kandang ini relatif lebih murah dibandingkan dengan sistem tertutup (close house). Faktor lingkungan luar sangat mempengaruhi produktivitas ayam petelur yang mangadopsi sistem ini sehingga peternak harus memperhitungkan dampak negatif
  • 18.
    18 yang kemungkinan bisaterjadi dengan melakukan pengaturan jarak antar kandangg, pengaturan ketinggian dan lebar kandang serta pengaturan ventilasi/sirkulasi udara. 2. Kandang tertutup (close house) Gambar 5. Kandang ayam petelur sistem closed house (tertutup) Sumber: https://kandangclosehouse.com/tag/battery/ 3. Kandang dengan koridor di tengah dan kandang dengan atap/tiang yang tinggi Kandang tipe ini memiliki atap yang cenderung tinggi dengan koridor yang berada di tengah untuk mempermudah dalam pemberian pakan, minum dan koleksi telur. Kandang model ini bisa di terapkan dalam sistem perkandangan baik terbuka maupun tertutup. Gambar 6. Kandang dengan atap tinggi dan koridor Sumber: agromedia.net/4-tipe-kandang-untuk-ayam-ras-petelur-beserta- kelebihan-kekurangannya-2/
  • 19.
    19 4. Kandang sistemlitter Kandang sistem litter merupakan kandang yang penutup lantainya ditutup dengan menggunakan bahan-bahan tertentu seperti tanah, pasir, sekam, serbuk gergaji dan lain-lain. Kandang dengan sistem ini mampu mencegah lecet kaki dan mengurangi kanibalisme serta investasi yang lebih murah. Kekurangannya yaitu ayam rentan terkena penyakit yang berasal dari kotoran seperti koksidiosis dan rentan stress Gambar 7. Sistem litter kandang ayam petelur Sumber: https://gresik.co/beternak-ayam-petelur-prospek-bisnis-yang-cerah/ 5. Kandang sistem slat Kandang tipe slat merupakan kandang dengan menggunakan alas lantai babmu atau kawat yang dipasang berderet untuk mempermudah jatuhnya kotoran dan agar ayam tidak mudah terperosok. Kandang tipe ini bisa dipasang di atas kolam sehingga peternakan ayam petelur dapat terintegrasi dengan bidang lain seperti perikanan. Kelebihan dari kandang model ini yaitu sisa pakan/kotoran yang masih memiliki nilai nutrien dapat termanfaatkan oleh ikan yang berada di dalam kolam. Selain itu penularan dan terjadinya kasus penyakit asal kotoran ternak lebih rendah. Namun, biaya investasi relatif lebih mahal.
  • 20.
    20 Gambar 8. Sistemslat kandang ayam petelur Sumber: http://troboslivestock.com/trobos 6. Kandang sistem cages Kandang cages berbentuk sangkar berderet yang menyerupai baterai dengan alas bercelah. Ayam dipelihara pada tingkat produksi individual dan terkontrol kesehatannya. Tata laksana pemeliharaan cenderung lebih mudah dan penyebaran penyakit minimum. Biaya pembuatan relatif tinggi. Gambar 9. Kandang ayam petelur cages Sumber: http://indonesian.defensive-barrier.com/sale-11201731-10000-egg-layer- chicken-cage-poultry-farm-layer-cage-customized-service.html
  • 21.
    21 Kandang yang dipakaidalam pemeliharaan ayam petelur adalah kandang baterai berbentuk persegi panjang sangkar empat (cages) dengan susunan berderet memanjang yang memiliki tingkat dua atau lebih. Bahan yang biasa digunakan dalam pembuatan kandang ayam petelur yaitu kawat atau bambu. Kandang baterai biasanya berukuran panjang 40 cm, lebar 40 cm, tinggi 37 cm serta belakang 30 cm. Ventilasi kandnag dibuat sangat terbuka baik pada bagian depan, belakang maupun atas dengan bagian bawah dibuat dengan kemiringan tertentu untuk mempermudah telur menggelinding atau bergulir ke arah depan. Bagian bawah juga dibuat agak renggang untuk mempermudah kotoran ayam jatuh ke bawah. Tempat makan dan minum dibuat sesuai kandangnya. Tempat pakan bisa menggunakan pipa atau kayu yang melengkung untuk mempermudah ayam makan dan tempat minum bisa menggunakan nipple drinker atau pipa cekung yang memanjang. Kelebihan kandang baterai ayam petelur yaitu sirkulasi udara maksimal sehingga ayam merasa nyaman, menghindari kanibal, mudah pengontrolan kesehatan, pakan, minum dan produksi ayam dan kondisi telur lebih bersih. Sedangkan kekurangannya yaitu ayam mudah terserang kelumpuhan dan apabila kotoran ayam tidak rajin dibersihkan akan mengakibatkan banyak lalat dan bau yang menyengat sehingga ayam mudah terserang penyakit. Gambar 10. Kandang baterai ayam petelur dari kawat Sumber:https://adam-nv.com/id/kandang-baterai-ayam-kandang-batery-kawat/
  • 22.
    22 Gambar 11. Kandangbaterai ayam petelur dari bambu Sumber: https://www.ternakpertama.com/2015/12/cara-membuat-kandang-ayam- petelur.html Desain Kandang Unggas Petelur di Daerah Tropis Desain kandang ayam petelur dengan tata letak dan layout kandang akan mempengaruhi jumlah/kapasitas ayam yang diternakkan. Berikut beberapa design kandang ayam petelur berdasar kabartani.com/mengenal-4-tipe-kandang-untuk- ayam-ras-petelur.html. 1. Tipe V (4 lajur) Gambar 12. Kandang tipe V (4 lajur)
  • 23.
    23 Kelebihan tipe kandangini yaitu sirkulasi udara lebih baik, intensitas cahaya matahari yang masuk kandang juga lebih optimal, sehingga mampu meningkatkan produksi telur menjadi lebih maksimal. Sedangkan kekurangannya yaitu tempat menapung ayam masih belum maksimal. 2. Tipe V (6 lajur) Gambar 13. Kandang tipe V (6 lajur) Kelebihan tipe kandang ini yaitu sirkulasi udara lebih baik, intensitas cahaya matahari yang masuk kandang juga optimal, sehingga mampu meningkatkan produksi telur menjadi juga lebih maksimal tetapi mampu menampung ayam lebih optimal dari tipe V 4 lajur. Sedangkan kekurangannya yaitu kandang lebih mudah rusak dan terkadang pekerja sulit menjangkau lajur paling atas. 3. Kandang tipe AA (12 lajur) Gambar 14. Kandang tipe AA (12 lajur)
  • 24.
    24 Kelebihan kandang AA12 lajur yaitu sirkulasi udara lebih baik, intensitas cahaya matahari yang masuk kandang juga optimal, dan mampu menampung ayam lebih optimal dari tipe V 4 lajur maupun V 6 lajur. Tipe ini paling banyak digunakan oleh peternak ayam petelur. Sedangkan kekurangannya yaitu memerlukan lahan yang lebih lebar dibandingkan dengan tipe kandang V. Kandang paling atas juga lebih sulit dijangkau sehingga memerlukan alat khusus. 4. Tipe W (8 lajur) Gambar 15. Kandang tipe W (8 lajur) Kelebihan tipe kandang ini yaitu mampu menampung ayam yang cukup banyak dan juga salah satu kandang yang paling banyak digunakan oleh peternak telur. Kekurangan tipe kandang ini yaitu sirkulasi udara di lajur tengah yang kurang optimal sehingga akan mempengaruhi produksi telur. Sanitasi kandang diperlukan sebagai tindakan pencegahan penyakit. Pemeliharaan ayam petelur membutuhkan waktu yang lebih lama, sehingga pencegahan penyakit mutlak harus dilakukan. Tindakan sanitasi yang bisa dilakukan adalah dengan desinfeksi kandang yaitu memusnahkan/membunuh mikroorganisme yang bersifat patogen yang menjadi penyebab munculnya penyakit dengan menggunakan bahan kimia tertentu. Bahan sanitasi yang biasa digunakan yaitu diantaranya terdapat pada Tabel 12. Tabel 9. Jenis desinfeksi dalam sanitasi, tempat penggunaan, dan caranya No. Jenis bahan sanitasi Lokasi tempat penggunaan Cara menggunakannya 1. Sabun Tempat pakan dan air minum Mencampur dengan air dan dicucikan 2. Lisol, karbol dan Lantai dan dinding Mencampur dengan air
  • 25.
    25 No. Jenis bahansanitasi Lokasi tempat penggunaan Cara menggunakannya kreolin kandang dan dicucikan/disemprotkan 3. Antisep dan saniquard Tempat pakan dan air minum, permukaan kandang Mencampur dengan air dan dicucikan/disemprotkan 4. Kalium permanganat dan formalin Bagian dalam kandang fumigasi 5. Kapur Lantai, dinding dan langit-langit kandang Mencampur dengan air dan dicucikan/disemprotkan 6. Teer Bagian kandang yang terbuat dari kayu atau bambu mengoleskan Sanitasi umumnya dilakukan dengan menyapu, menyiram, menyemprot, dan menyikat dan dilakukan pada masa brooding, pullet dan produksi serta pada saat proses budidaya selesai. Beberapa contoh-contoh kandang dapat dilihat pada link-link berikut ini: 1. https://kandangclosehouse.com/tag/battery/ 2. http://indonesian.defensive-barrier.com/sale-11201731-10000-egg-layer- chicken-cage-poultry-farm-layer-cage-customized-service.html 3. https://adam-nv.com/id/kandang-baterai-ayam-kandang-batery-kawat/ Desain Kandang Unggas Petelur yang Cocok Di Indonesia Budidaya ayam petelur skala rumahan berbeda dengan skala industri dengan mempertimbangkan biaya operasional untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Lokasi yang cocok digunakan dalam budidaya ayam petelur yaitu harus dekat dengan sumber air sebagai bahan minum ternak dan pembersihan lingkungan kandang. Kandang panggung sangat cocok digunakan dalam industri unggas petelur dengan pertimbangan alas kandang yang tidak berhubungan langsung dengan ternak. Sehingga ternak lebih tidak mudah terserang penyakit yang berhubungan dengan kotoran seperti koksidiosis dan pernafasan yang diakibatkan akumulasi dari zat amonia. Kandang panggung juga memiliki kelebihan sirkulasi udara yang lebih baik dengan dukungan kandang
  • 26.
    26 model open atauterbuka. Kandang panggung akan memudahkan pembersihan kotoran sehingga kandang tetap bersih dan steril. Industri ayam petelur juga lebih menyukai kandang dengan model cages atau baterai dibandingkan dengan kandang koloni. Kandang model baterai juga lebih memudahkan peternak dalam koleksi telur. Gambar 16. Kandang panggung industri peternakan unggas petelur Sumber: https://www.anakdagang.com/ragam-jenis-kandang-ayam/ Industri Puyuh dan Itik Petelur Skala usaha peternakan puyuh relatif beragam dengan populasi pemeliharaan berkisar antara 100 hingga 10.000 ekor dengan rata-rata 5.000 ekor. Pola usaha peternakan puyuh memiliki tujuan utama menghasilkan produk utama telur puyuh. Sebagian besar produk telur puyuh dipasarkan dalam pasar dalam negeri. Pemasaran dilakukan dari pedagang yang mengambil langsung dari perusahaan inti langsung dipasarkan ke pedagang agen, dari pedagang agen kemudian langsung dipasarkan ke pedagang pengecer di pasar-pasar konvensional, pasar modern/supermarket, dan industri pengolah. Populasi ternak itik di Indonesia sebagian besar berasal dari usaha peternakan rumah tangga atau tradisional. Menurut Ditjennak tahun 2005, populasi dan penghasil telur itik terbanyak di Indonesia tersaji dalam Tabel 13. Dan contoh rantai pasok pemasaran telur itik di wilayah Jawa Barat seperti Indramayu dan Tasikmalaya tersaji pada Gambar 30.
  • 27.
    27 Tabel 10. Populasidan penghasil telur itik terbanyak di Indonesia tahun 2005 Propinsi Populasi (ekor) Produksi telur di Indonesia Ton % Jawa barat 5.201.124 31.906 17.70 Jawa tengah 5.633.890 20.908 11.60 Kalimantan selatan 2.998.703 20.077 11.14 Jawa timur 2.412.513 16.936 9.39 Sulawesi selatan 2.905.620 15.905 8.82 Nangroe Aceh Darussalam 2.976.092 13.928 7.73 Sumatera Utara 2.291.472 10.958 6.08 Total 24.419.414 130.618 72.46 % dari Indonesia 71,82 Sumber: Ditjennak (2005) Gambar 17. Rantai pasok pemasaran telur itik di Tasikmalaya dan Indramayu
  • 28.
    28 C. PENUTUP 1. Rangkuman Jumlahpenduduk yang semakin meningkat pada tahunnya mengakibatkan naiknya kebutuhan protein hewani seperti daging, susu, dan telur. Penyaluran telur di pasaran dari produsen ke konsumen dilakukan melalui dapat dilakukan secara langsung maupun melalui lembaga perantara. lembaga pemasaran perantara yaitu pedagang pengumpul, poultry shop, pasar tradisional, agen atau pedagang pengumpul besar, dan restoran atau rumah makan. Bentuk saluran pemasaran telur ayam ras pada usaha peternakan yaitu, saluran pemasaran pertama dengan lembaga pemasaran yang terlibat adalah peternak, pedagang pengumpul, pedagang pengecer dan konsumen, kemudian saluran pemasaran yang kedua dengan lembaga pemasaran yang terlibat adalah peternak, pedagang pengumpul dan konsumen. Rantai pasok telur ayam ras dan kelembagaan antar pelaku yang terkait mencakup beberapa kategori dengan orientasi pasar konvensional, pasar modern, konsumen lembaga, dan industri pangan. Harga jual telur dari peternak ditentukan berdasarkan kesepakatan harga antara peternak dengan konsumen atau lembaga pemasaran yang terlibat dalam sistem pemasaran. Dalam usaha peternakan ayam petelur seringkali dihadapkan dengan harga input produksi yang tinggi sedangkan harga output produksi yang dihasilkan rendah. Peternak perlu untuk mengidentifikasi margin, besaran harga yang diterima oleh peternak dan efisiensi usaha peternakan. Penjualan telur dalam industri makanan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: faktor teknis, ekonomis dan sosial. Kandang ayam petelur berfungsi sebagai tempat berlindung, istirahat berproduksi dan pengontrolan penyakit. Beberapa tipe kandang pada budidaya ayam petelur diantaranya yaitu kandang tipe terbuka (open house), kandang tertutup (close house), kandang dengan tiang/atap yang tinggi dan kandang dengan koridor di tengah, kandang sistem litter, kandang sistem slat, dan kandang sistem cages. Desain kandang unggas petelur di daerah tropis ada empat tipe, yaitu kandang tipe V (4 lajur), kandang tipe V (6 lajur), kandang tipe AA (12 lajur) dan kandang tipe W (8 lajur).
  • 29.
    29 Daftar Pustaka Agromedia.net/4-tipe-kandang-untuk-ayam-ras-petelur-beserta-kelebihan- kekurangannya-2/ Aroning R.,2008. Analisis Saluran dan Hasil Margin Pemasaran Kakao di Desa Timbuseng, Kecamatan Pattalasang, Kabupaten Gowa. http://www.deptan.go.id. Badan Litbang Pertanian. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas. Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. Jakarta. Birmingham University dan MCL. 2004. Business Relationship Optimization in the Red Meat Supply Chain in Great Britain. MCL Economics and Red Meat Industry Forum (RMIF). www.rmif.org.uk. Ditjennak. 2005. Statistik Peternakan 2005. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian, Jakarta. 229 hlm. Fadil, M., Y Kalaba, A. Muis. 2017. Analisis Margin Pemasaran Telur Ayam Ras Pada Usaha Peternakan “Cahaya Aris Manis” Di Desa Langaleso Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi. e-J. Agrotekbis 5 (3) : 385 – 393 https://www.anakdagang.com/ragam-jenis-kandang-ayam/ http://indonesian.defensive-barrier.com/sale-11201731-10000-egg-layer-chicken- cage-poultry-farm-layer-cage-customized-service.html http://troboslivestock.com/trobos https://adam-nv.com/id/kandang-baterai-ayam-kandang-batery-kawat/ https://gresik.co/beternak-ayam-petelur-prospek-bisnis-yang-cerah/ https://kandangclosehouse.com/tag/battery/ https://kandangclosehouse.com/tag/battery/ https://www.ternakpertama.com/2015/12/cara-membuat-kandang-ayam- petelur.html Ketaren, PP. 2007. Peran itik sebagai penghasil telur dan daging nasional. WARTAZOA Vol. 17 No. 3 (117 – 127) Kurniawan, M. F. T. Strategi Pengembangan Agribisnis Peternakan Ayam Petelur di Kabupaten Tabanan. Jurnal Manajemen Agribisnis. Vol, No. 2 Lestari, V.S., Saadah, H.M. Ali Dan A. Natsir. 2011. Peranan Beberapa Lembaga Pemasaran Dalam Penjualan Telur pada Peternak Ayam Ras Petelur di Indonesia: Studi Kasus di Jawa Barat, Bali dan Sulawesi Selatan. JITP vol. 1 No. 2 (138 – 145). Mubyarto, 1992. Analisis Distribusi Ayam Broiler di Propinsi Daerah Istimewa Aceh. J. Ekonomi Pembangunan Vol. 9. No. 2. Desember 2004. hal 193- 205.
  • 30.
    30 Nuraeni, 2006. AnalisisEfisiensi Pemasaran Ayam Burasdi Desa Kalebarembeng Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa. J. Agrisistem. Vol. 2. No. 2 :1- 6. Rasyaf, M. 2007. Beternak Ayam Petelur. Penebar Swadaya, Jakarta. Sa’id, E.G. dan A.H. Intan. 2001. Manajemen Agribisnis. Ghalia Indonesia, Jakarta. Soekartawi, 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Teori dan Aplikasinya. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Sejati, W.K. 2011. Analisis kelembagaan rantai pasok telur ayam ras peternakan rakyat di Jawa Barat. Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 9 No. 2, Juni 2011 : 183-198 kabartani.com/mengenal-4-tipe-kandang-untuk-ayam-ras-petelur.html