KEGIATAN BELAJAR 1
Bibit Ternak Ruminansia Pedaging
KEGIATAN BELAJAR 4
Bahan Pakan Hijauan
A. PENDAHULUAN
1. Deskripsi Singkat
Kegiatan belajar ini akan membahas mengenai kualitas hijauan pakan ternak
ruminansia pedaging. Materi pembelajaran yang akan diuraikan meliputi
kebutuhan nutrisi ternak ruminansia pedaging, kandungan nutrisi dan zat
antinutrisi pada hijauan pakan ternak, serta cara peningkatan kualitas hijauan.
2. Relevansi
Dengan mengetahui kualitas hijauan pakan diharapkan pembaca mampu
mengetahui syarat hijauan yang dapat digunakan sebagai pakan pada ternak
ruminansia pedaging.
3. Panduan Belajar
Modul ini dilengkapi beberapa link yang dapat dikunjungi untuk
melengkapi bahan belajar.
B. INTI
1. Capaian pembelajaran
Peserta didik diharapkan dapat menganalisa prinsip agribisnis ternak
ruminansia dan aplikasinya dalam pembelajaran bidang studi agribisnis ternak
2. Sub Capaian pembelajaran
1. Mempelajari kebutuhan nutrisi ternak ruminansia pedaging
2. Mengetahui kandungan nutrisi dan zat antinutrisi pada hijauan pakan ternak
3. Uraian Materi
Nutrisi yang tepat pada penggemukan ternak ruminansia merupakan kunci
utama dalam sistem produksi untuk menghasilkan produksi daging yang optimal,
efisiensi produksi dan keuntungan usaha yang memadai. Pakan memerlukan biaya
terbesar dalam manajemen peternakan. Pemahaman tentang kebutuhan pakan dan
dasar nutrisi ternak ruminansia diperlukan untuk efektivitas manajemen pakan.
Kandungan nutrisi pakan berkaitan erat dengan jumlah konsumsi pakan,
kecernaan pakan dan retensi pakan. Waktu yang dihabiskan ternak untuk
menghabiskan pakan berkorelasi positif dengan kandungan bahan kering dan
berkorelasi negatif dengan kandungan Neutral Deterjent Fiber (NDF). Laju
pakan, jumlah konsumsi, durasi makan, dan waktu yang dihabiskan untuk
menghabiskan pakan, memiliki pola yang berbeda antara pakan satu dengan yang
lainnya berdasar karakteristik, sumber, kandungan nutrisi, dan sifat fisik pakan
serta palabilitas ternak pada pakan tersebut. Kualitas hijauan pakan dapat dinilai
secara visual, diantaranya jumlah bunga yang mekar, kekakuan daun dan batang,
tekstur, tebal daun, warna, serta bau. Penilaian ini disebut juga sebagai kualitas
organoleptik pakan.
Kandungan nutrisi hijauan diperlukan untuk mengetahui kualitas hijauan
secara kuantitatif dan digunakan saat menentukan komposisi ransum atau
complete feed . Dalam beberapa tahun terakhir, pengenalan jenis hijauan maupun
teknologi pengolahan hijauan pakan banyak diteliti untuk meningkatkan nilai
nutrisi pakan dan produktivitas ternak. Setiap nutrisi memenuhi peran spesifik
dalam pertumbuhan, produksi atau metabolisme tubuh ternak. Parameter utama
dalam perhitungan nilai kecernaan pakan adalah jumlah konsumsi pakan, kualitas
pakan, dan kebutuhan energi ternak.
Persyaratan nutrisi diantaranya kecukupan ternak akan kebutuhan lemak,
mineral, air.protein, vitamin, dan karbohidrat. Penjelasan mengenai nutrien pakan
dapat dilihat pada link berikut
https://egivet10uh.wordpress.com/2014/10/14/kebutuhan-nutrisi-ternak-
ruminansia/. Kandungan nutrisi tersebut dapat dianalisa dengan metode sebagai
berikut:
a. Analisis proksimat merupakan analisa skala laboratorium untuk mengetahui
protein kasar, kadar air, serat kasar, lemak kasar dan bahan organik.
b. Bahan kering atau disebut sebagai dry matter diketahui dengan menghitung
kadar air bahan pakan. Kadar air dianalisa dengan memasukkan pakan dengan
suhu 105 ˚C. Persen kehilangan dihitung sebagai kadar air. Bahan kering pakan
diketahui dengan cara menghitung 100 - kadar air.
c. Bahan organik atau disebut juga organik matter dapat diketahui dengan
membakar bahan pakan hingga menjadi abu. Kadar abu dianalisa dengan
membakar bahan pakan pada tanur dengan suhu 500 - 600 ˚C. Pada suhu
tersebut bahan organik terbakar sehingga persen kehilangan dihitung sebagai
kadar bahan organik pakan.
d. Serat Kasar (SK) atau disebut sebagai crude fiber diketahui dengan pemasakan
dengan H2SO4 0,255 N (1,25 %) kemudian dilanjutkan NaOH 0,312 N (1,25
%). Serat kasar merupakan bagian karbohidrat yang tidak larut dalam
pemasakan tersebut.
e. Protein Kasar (PK) atau disebut crude protein diketahui dengan menganalisa
jumlah nitrogen pakan. Kadar PK kemudian dihitung berdasar faktor pengali
6,25.
f. Bahan Organik Tanpa Nitrogen (BOTN) atau disebut non nitrogenous organik
matter diketahui dengan mengurangi kadar bahan organik dengan protein
kasar.
g. Karbohidrat merupakan gula sederhana dalam senyawa organik. Karbohidrat
diklasifikasikan menjadi karbohidrat non-struktural (pati, sukrosa atau fruktan)
dan karbohidrat struktural (polisakarida, pektin, hemiselulosa, dan selulosa).
Kebutuhan nutrisi ternak bervariasi. Variabel tersebut diantaranya umur, bobot
badan, tahap produksi, tingkat pertumbuhan, kondisi lingkungan, jenis
kelamin, dan faktor lainnya. Merupakan selisih BOTN dan lemak.
h. Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) atau disebut nitrogen free extract
diketahui dengan mengurangi jumlah karbohidrat dengan kadar serat kasar.
i. Energi bruto atau disebut gross energy dapat diketahui dengan analisa
menggunakan bom kalorimeter. Panas yang dihasilkan pada proses
pembakaran pakan dihitung sebagai kalori atau energi pakan tersebut.
j. Total Digestible Nutrient (TDN) adalah total energi dari pakan yang setara
dengan energi dari karbohidrat. Parameter ini dapat diketahui dengan pengujian
secara biologis maupun dari hasil perhitungan rumus.
k. Analisis Van Soest digunakan untuk mengetahui serat berdasar tingkat
kelarutannya.
Kandungan energi dan protein sangat penting bagi pakan ternak dalam
penyusunan ransum ternak. Idealnya, energi dan protein harus pada persyaratan
optimal. Kandungan nutrisi pakan berpengaruh signifikan terhadap produksi
daging yang dihasilkan pada ternak potong disamping faktor lain seperti genetik,
usia dan jenis kelamin ternak, lokasi geografis peternakan, imbangan hijauan dan
konsentrat, dan lain-lain. Dalam pembuatan pakan perlu memperhatikan nilai-nilai
nutrisi sebagai berikut:
a. NDF (Neutral Detergent Fiber)
b. Digestible energy (energi dapat dicerna) pada karbohidrat dan kadar serat
c. ADF (Acid Detergent Fiber)
d. PK (protein kasar)
e. LK (lemak kasar) atau ekstrak eter
f. TDN
g. NaCl (garam), Ca (kalsium), S (sulfur), P (fosfor), Mg (magnesium), Na
(sodium), K (kalium) untuk makromineral.
h. Fe (besi), I (yodium), Co (kobalt), Cu (tembaga), Mn (mangan), Mo
(molibdenum), dan Zn (seng) untuk mikromineral.
Pengujian mutu dan keamanan pakan berdasar Peraturan Menteri Pertanian
Republik Indonesia Nomor 22/Permentan/Pk.110/6/2017 adalah dilakukan
terhadap:
a. Kadar air
b. Aflatoksin total
c. Kadar protein kasar
d. Kadar kalsium (Ca)
e. Kadar NDF
f. Kadar serat kasar
g. Kadar lemak kasar
h. Kadar abu
i. Kadar phosfor (P)
j. TDN
Strategi penyusunan ransum seimbang perlu dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan pakan ternak secara efisien. Alur dalam pembuatan ransum seimbang
dijelaskan pada Gambar 46.
Gambar 1. Diagram strategi penyusunan ransum seimbang
Sumber: Umiyasih dan Angraeny (2017)
Penyusunan ransum seimbang pada ternak ruminansia dilakukan dengan
langkah sebagai berikut:
a. Menyiapkan Tabel Kebutuhan Zat Nutrien
Penghitungan kebutuhan nutrisi sapi potong di Indonesia mengacu pada
buku “Nutrient requirement for beef cattle” yang dikeluarkan oleh National
Research Council. Kebutuhan zat pakan harian pada ternak secara lengkap dapat
diunduh pada laman berikut:
https://digitalcommons.usu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=5211&context=etd.
Contoh kebutuhan zat pakan harian pada sapi potong jantan disajikan pada tabel
berikut.
Tabel 1. Kebutuhan zat pakan harian pada sapi potong jantan
Sumber: Kearl (1982)
b. Mengetahui Kandungan Nutrien/Komposisi Bahan Pakan
Kandungan nutrien pakan dapat diketahui dari analisa proksimat maupun
berdasar studi literatur. Kandungan nutrisi pakan telah dianalisa oleh beberapa
peneliti. Komposisi bahan pakan dapat diunduh pada laman berikut
https://www.academia.edu/12404330/TABELKOMPOSISI_BAHAN_MAKANA
N TERNAK. Namun, penelitian pada laman tersebut telah berlangsung bertahun-
tahun yang lalu. Informasi kandungan nutrisi pakan sebaiknya didapatkan dari
jurnal-jurnal yang merupakan hasil penelitian tahun terbaru. Selain itu, wilayah
sumber pakan juga harus diperhatikan karena akan berpengaruh terhadap
kandungan nutrisi tanaman. Beberapa kandungan hijauan pakan dijelaskan lebih
lanjut pada materi mengenai jenis rumput pada modul ini.
c. Penyusunan Ransum Seimbang
Penyusunan formulasi ransum dapat dilakukan dengan beberapa metode.
Metode tersebut yakni metode trial and error, pearson square method, dan least
cost formulation. Metode trial and error dilakukan dengan mengira-ngira
komposisi pakan dalam ransum. Persentase setiap bahan pakan yang digunakan
didasarkan kepada pertimbangan subjektif. Metode pearson square digunakan
untuk formulasi ransum yang terdiri dari 4 bahan pakan. Metode least cost
formulation adalah metode penyusunan ransum dengan menggunakan program.
d. Mixing Bahan Pakan
Pencampuran bahan pakan atau proses mixing dapat dilakukan dengan
bantuan mesin maupun manual menggunakan skop jika ransum dalam kuantitas
yang besar. Campuran ransum harus bercampur rata dan homogen. Kualitas
hijauan dapat ditingkatkan dengan perlakuan pakan. Berikut disajikan perbedaan
data antara kandungan dan nilai kecernaan pada hijauan segar dan hijauan dengan
perlakuan.
Tabel 2. Perbedaan kandungan dan nilai kecernaan hijauan segar dan hijauan
dengan perlakuan
Perlakuan
Protein
kasar
Abu NDF ADF
Energi
Metabolis
KCBO
(%)
Rumput
segar
59.0c 71.0c 705.2c 440.6a 5.3c 32.8c
Silage 108.0a 106.0a 574.4c 363.8b 10.7a 55.4a
Hay 92.0b 79.0b 589.0b 436.3a 8.6b 45.1b
± SEM 7.2 5.3 20.7 12.5 0.8 3.3
Sumber: Mikkelson (2017)
Keterangan: huruf menunjukkan perbedaan signifikan (P<0.05), Rumput segar
terdiri dari campuran Calopognanum mucunoide, Pennisetum purpureum,
Panicum maximum, Andropogon gayanus, Sorhum almum, Centrosema molle,
Andropogon tectorum, Stylosanthes hamata.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hijauan diantaranya:
a. Palatabilitas
Palabilitas merupakan tingkat kesukaan ternak dalam memilih pakan
berdasar bau, rasa, dan rasa. Palatabilitas dipengaruhi oleh tekstur pakan, kadar
air, pemupukan tanaman, kotoran atau bercak urin, infestasi hama, atau senyawa
yang menyebabkan hijauan terasa manis, pahit, kecut, asam, atau asin. Hijauan
berkualitas tinggi umumnya memiliki tingkat palatabilitas yang baik.
b. Jumlah Konsumsi Pakan
Jumlah pakan yang dimakan oleh sapi dari jumlah pakan yang diberikan di
kurangi sisa pakan. Biasanya semakin tinggi palatabilitas maka semakin tinggi
jumlah konsumsi pakan.
c. Umur dan Kecernaan Hijauan
Kecernaan adalah jumlah nutrisi yang dapat diserap oleh tubuh. Tanaman
muda dan berdaun biasanya memiliki nilai kecernaan sebesar 80 hingga 90%,
sedangkan pada tanaman tua nilai kecernaannya rendah sekitar 50%.
d. Kandungan Nutrisi
Hijauan pakan biasanya mengandung 70 hingga 90% air. Dalam
perhitungan kebutuhan pakan dan formulasi ransum, semua bahan pakan berdasar
bahan kering. Bahan kering pakan terbagi menjadi dua kategori utama yaitu
komponen sel (bagian non-struktural dari jaringan tanaman seperti protein, gula,
dan pati); dan komponen struktural dari dinding sel (selulosa, hemiselulosa, dan
lignin).
e. Faktor Anti Nutrisi
Tidak semua komponen pakan adalah zat makanan. Terdapat zat yang sulit
atau tidak dapat dicerna seperti lignin dan silika, serta zat berbahaya atau anti
nutrisi). Anti nutrisi merupakan senyawa dalam hijauan yang dapat menurunkan
kinerja ternak, mengandung toksik, menyebabkan penyakit, atau bahkan berakibat
pada kematian ternak. Anti nutrisi dalam bahan pakan merupakan faktor pembatas
yang dapat menghambat pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan ternak.
Kandungan anti nurisi membatasi penggunaan pakan pada ransum serta dapat
mempengaruhi aspek biologi ternak karena mengganggu fungsi metabolisme
tubuh. Hasil metabolisme sekunder pada tanaman merupakan dasar pertahanan
bagi tanaman. Metabolit sekunder yang dihasilkan tersebut dapat mengganggu
kesehatan ternak bahkan dapat menyebabkan kematian.
Istilah lain anti nutrisi adalah toksikan nabati atau disebut juga phyitotoxin.
Tanaman tersebut jika dikonsumsi ternak akan menimbulkan gangguan pada
organ pencernaan, syaraf, atau otak. Berikut beberapa bahan anti nutrisi yang
terdapat pada bahan pakan.
1) Asam Prussic/Asam Sianida (HCN)
Asam sianida biasanya terdapat dalam hijauan sorgum, biji sorgum,
singkong dan limbahnya. Keracunan akibat HCN disebut cyanosis yang
ditandai dengan membirunya permukaan kulit diseluruh tubuh, diare, sesak
nafas, mulut berbusa, kejang, selaput lendir dan darah berwarna cerah
(merah ceri). Keracunan mengakibatkan gangguan sel syaraf, menghambat
pernafasan dan terjadi anoksia (kekurangan O2 pada syaraf). Ion CN
mengikat Fe heme dan bereaksi dengan ferric di mitokondria sehingga tidak
bisa melepaskan O2 pada sistem transfer. HCN dapat didetoksikasi dalam
jumlah yang rendah dengan reaksi sebagai berikut:
CN + thiosulfat → thiocyanat (merupakan senyawa tidak beracun yang
dikeluarkan melalui urin).
Pertolongan pertama pada keracunan HCN adalah dengan pemberian
metilen blue, natrium nitrat atau natrium tiosulfat dengan dosis tertentu.
Asam nitrat juga dapat mengakibatkan keracunan. Perbedaan keracunan
akibat nitrat adalah darahnya berwarna coklat gelap. Cara mengurangi
kandungan HCN pada pakan adalah dengan direndam, dicuci, dipanaskan,
pencacahan, diangin-anginkan, dikeringkan, difermentasikan, dibuat silase.
2) Non Starch Polysaccarida (NSP)
Non starch polysaccarida terdapat di endosperm cell wall pada serealia.
Karbohidrat komplek ini susah dicerna dan mengikat air. Daya pengikat air
menyebabkan transport dan absorpsi nutrien menurun. NSP mempengaruhi
mikroflora di saluran pencernaan. Terdapat 3 katagori NSP diantaranya
arabinoxylan, beta glucan, dan oligosaccharida.
3) Saponin
Saponin biasanya terdapat dalam kedelai mentah dan bersifat hemolitik
(pengurai darah). Pemanasan akan dapat mengurangi aktivitas saponin.
4) Gossypol
Terdapat pada tanaman kapas (Gossypium sp), terutama pada biji, meskipun
dijumpai juga pada daun, batang, dan akar. Bungkil biji kapuk mengandung
0,5% gossypol bebas. Gossypol dapat diinaktifkan dengan pemasakan,
pemberian uap panas, atau pemanasan dalam otoklaf. Gossypol dalam
larutan natriumhidroksida mudah teroksidasi
5) Asam Phytat
Asam phytat mengikat mineral P, Zn, Cu, dan Ca sehingga susah dicerna.
Proses fermentasi pakan dapat mengurangi kandungan senyawa ini.
6) Tanin
Tanin secara alami merupakan pertahanan bagi sel tanaman. Kandungan
tanin pada ransum dapat mengikat protein pakan sehingga berpengaruh
terhadap kecepatan pertumbuhan dan efisiensi ransum. Cara mengatasi efek
tanin dalam ransum adalah dengan perebusan, suplementasi DL-metionin,
fermentasi, perendaman, penambahan air kemudian diinkubasikan secara
anaerob, atau dengan agen pengikat tanin yaitu polyethylene glycol, gelatin,
polyvinyl pyrrolidone (PVP).
f. Faktor Sekunder
Faktor sekunder meliputi kesuburan tanah dan pemupukan, suhu selama
pertumbuhan hijauan, serta varietas.
g. Faktor Lain
Faktor lain diantaranya umur saat panen, bagian tanaman yang digunakan
untuk pakan, metode panen, teknik penyimpanan. Kematangan saat panen
mempengaruhi jumlah konsumsi hijauan oleh ternak. Tanaman tua
umumnya berserat dan susah dicerna sehingga konsumsi hijauan turun.
Sejumlah penelitian telah menunjukkan efek seiring bertambahnya usia
tanaman menyebabkan semakin rendah nilai kecernaan. Hal ini disebabkan
oleh tingginya kandungan NDF. Kandungan ini lebih sulit cerna daripada
komponen non-serat hijauan. Selain itu, proses pencernaan serat pada
tanaman dewasa lebih lambat daripada tanaman muda. Kandungan nutrisi
daun lebih tinggi daripada batang. Bagian tertua dari batang alfalfa memiliki
kandungan protein sebesar 10%, lebih sedikit dibandingkan pada daun yaitu
sebesar 24%. Pada bagian batang memiliki tingkat serat yang jauh lebih
tinggi daripada daun. Penurunan kualitas pakan dapat disebabkan oleh
pelapukan, respirasi tanaman dan aktivitas mikroba selama penyimpanan.
Pada daerah dengan curah hujan yang tinggi, pakan yang disimpan ditempat
lembab atau diluar kandang dapat rusak karena terjadi pelapukan. Pada
sebuah studi diketahui ryegrass yang disimpan di luar ruangan mengalami
penurunan kandungan bahan kering sebesar 40%.
Kandungan nutrisi pakan selain dipengaruhi oleh umur saat panen, juga
dipengaruhi oleh jarak tanam dan wilayah tempat penanaman. Berikut disajikan
data hubungan kadar protein, umur, jarak tanam dan wilayah pada rumput gajah
mini.
Tabel 3. Hubungan kadar protein, umur, jarak tanam dan wilayah pada rumput
gajah mini
Umur panen
(minggu)
Kandungan PK (% BK) Jarak
tanam
Negara
7-8 11,60-13,10 0,5×1 m Thailand
7-8 11,61 0,5×1 m Thailand
8 12,94 - Indonesia
12 8,77 - Indonesia
Umur panen
(minggu)
Kandungan PK (% BK) Jarak
tanam
Negara
8 6,70-7,40 Dalam pot Indonesia
8 10,10-12,90 0,5×1 m Indonesia
8 11,20-12,40 0,75×1 m Indonesia
8 10,90-13,30 1×1 m Indonesia
- 12,13 1,05×1,05 m Pakistan
Sumber: Tekletsadik et al. (2004); Halim et al. (2013); Budiman (2012); Langi
(2014); Sirait et al. (2014) (unpublished); Yassin et al. (2003)
Jenis hijauan pakan terdiri dari legum dan rumput. Legum merupakan
tanaman yang membentuk polong. Legum dapat memproduksi pupuk sendiri
dengan menangkap nitrogen dari udara. leguminosa memiliki ciri khas yakni
mudah tumbuh dengan baik pada berbagai kondisi tanah, daun seperti kupu-kupu,
tumbuh merambat dan berbentuk pohon, merupakan tanaman dikotilledon
(berkeping dua) dengan sistem perakaran tumbuh jauh ke dalam tanah dan
bercabang.
Rumput merupakan jenis hijauan yang biasanya memiliki daun sempit;
berongga, batang bersendi, dan bunga. Kualitas rumput sangat bervariasi
tergantung jenis rumput dan umur saat panen. Ciri rumput yang baik adalah
ditanam pada tanah yang subur dan cukup air, memiliki palatabilitas yang tinggi,
daun berwarna hijau segar, dipanen saat sebelum berbunga, memiliki kandungan
nutrien tinggi khususnya bahan kering, protein kasar, dan karbohidrat yang mudah
dicerna. Komposisi nutrien beberapa jenis rumput disajikan pada tabel berikut.
Tabel 4. Komposisi nutrien beberapa jenis rumput
Keterangan
Jenis rumput
Ruzi1
Bede1
Notatum1
Gajah
mini1
Gajah
mini2
Gajah3, 8
Bahan kering
(%)
17,24 12,29 12,08 13,55 - 16,16
Bahan organik
(%)
90,47 89,64 90,61 85,55 - 88,30
Abu (%) 9,53 10,36 9,39 14,45 - 11,70
Protein kasar
(%)
8,37 7,69 11,19 13,94 12,94 9,79
NDF (%) 63,98 63,50 73,88 54,02 56,74 70,90
Keterangan
Jenis rumput
Ruzi1
Bede1
Notatum1
Gajah
mini1
Gajah
mini2
Gajah3, 8
ADF (%) 37,92 40,62 44,11 34,02 38,23 38,80
Energi bruto
(kkal/kg)
4.080 4.566 3.960 3.957 - -
Lignin (%) - - - - 4,04 -
Serat kasar (%) - - - - - 34,94
Produksi BK
(ton/ha/tahun)
24,004
40,755
35,606
43,581
27,107
51,407
Produksi BO
(ton/ha/tahun)
21,71 36,53 32,26 37,28 - 45,39
Produksi PK
(ton/ha/tahun)
2,01 3,13 3,98 6,08 3,51 5,03
Produksi NDF
(ton/ha/tahun)
15,36 25,88 26,30 23,54 15,38 36,44
Produksi
ADF(ton/ha/thn)
9,10 16,55 15,70 14,83 10,36 19,94
Produksi SK
(ton/ha/tahun)
- - - - - 17,96
Sumber: 1
Sirait et al. (2014, unpublished); 2
Budiman et al. (2012); 3
Munasik et al.
(2012); 4
Hutasoit et al. (2009); 5
Rukmana (2005); 6
Sirait et al. (2005);
7
Rengsirikul et al. (2013); 8
Halim et al. (2013).
Keterangan: Brachiaria ruziziensis (ruzi), Brachiaria decumbens (bede),
Paspalum notatum (notatum).
Rumput gajah mini potensial digunakan sebagai pakan ernak karena
keunggulannya yaitu palatabilitas tinggi, pertumbuhan cepat, produksi tinggi,
daun memiliki bulu halus, dan batang tidak keras. Produksi rumput ini sekitar
43,58 ton/ha/tahun (bahan kering). Jika dibandingkan pada produksi proteinnya
(6,08 ton/ha/tahun) lebih tinggi dibandingkan rumput gajah (51,4 ton/ha/tahun).
Rumput ini dapat diberikan dalam bentuk fermentasi, segar, maupun hay.
Rumput Raja memiliki tingkat adaptasi yang baik dan tumbuh optimal pada
tanah dengan kelembaban rendah. Kandungan serat kasar rumput ini adalah
32,6% dan protein kasar 15,67%. Jumlah anakan pada rumput raja berkisar 15 -
25 batang.
Rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan rumput tropika yang
tahan terhadap kekeringan. Keunggulan rumput ini diantaranya pertumbuhan
cepat, palatabel dan produksi tinggi. Rumput gajah dapat dipanen umur 60 hari
dengan tinggi 4,5 - 8 m. Jumlah produksi segar rumput Gajah sekitar 277
ton/ha/tahun. Kandungan nutriennya adalah 34,2% serat kasar dan 10,2% protein.
Rumput BD (Brachiaria decumbens) adalah jenis rumput tahan injakan
sehingga cocok sebagai rumput gembala. Keunggulan lain diantaranya tahan
kekeringan, pertumbuhan cepat, dapat tumbuh pada lahan kritis. Kandungan
nutriennya adalah 30 - 35% serat kasar dan 6 - 10% protein kasar.
Produksi rumput pada musim kemarau biasanya akan mengalami
penurunan. Leguminosa sering digunakan sebagai alternatif pakan pada musim
ini. Salah satu leguminosa yaitu daun gamal sering digunakan sebagai pengganti
hijauan. Daun gamal dapat bertahan pada musim kemarau. Konsumsi daun gamal
pada ternak sapi yang digembalakan disajikan pada tabel berikut.
Gambar 2. Konsumsi daun gamal pada musim kemarau
Sumber: Tiro dan Usman (2015)
Alternatif sumber pakan dari leguminosa pada musim kemarau lain yaitu
indigofera. Indigofera memiliki lebih dari 700 spesies salah satunya adalah
Indigofera zollingeriana. Tanaman ini mudah dibudidayakan, tumbuh pada lahan
kering dan mengandung protein kasar tinggi. Rumput ini dipanen umur delapan
bulan dengan total produksi sekitar 52 ton/ha (segar). Kandungan nutrisinya
meliputi serat kasar 18,18%, NDF 34,13%, kadar protein 24,57%, ADF 28,85%,
kalsium 1,59%, fosfor 0,22%, energi 2667 kkal/ kg. Nilai kecernaan Indigofera
zollingeriana adalah kecernaan bahan kering (KCBK) 75,53% dan kecernaan
bahan organik (KCBO) 76,02%. Kandungan anti nutrisi tanaman ini adalah
saponin 0,41% dan tanin 0,08%.
Alternatif pakan selanjutnya adalah daun singkong. Kandungan nutrisi daun
singkong adalah 91,32% bahan kering, 10,9% Abu, 83% Lemak kasar, 18,50%
Protein Kasar, 4, 44,80% bahan ekstrak tanpa nitrogen, 20,97% Serat Kasar, dan
60,77% total digestible nutrient. Kandungan anti nutrisi daun singkong adalah
asam sianida 690,54 ppm. Jika daun singkong dimakan maka HCN akan
dihidrolisis dalam usus kemudian ion CN masuk ke jaringan. Ion CN akan
dieliminir di paru-paru. Jika ion CN melebihi ambang batas (melebihi 200 ppm)
yang dapat dieliminasi oleh tubuh maka akan terjadi keracunan.
Alfalfa (Medicago sativa) memiliki palabilias yang sangat tinggi karena
rasanya yang enak. Kandungan nutrien alfalfa diantaranya abu 14,75%, kadar air
90,69%, serat kasar 29,24%, lemak kasar 3,08%, protein kasar 32,63%, Ca 1,14%
dan P 0,92%. Alfalfa selain dapat dikembangkan dengn pols, biji, atau sobekan
rumpun.
Styloshanthes guianensis (Stylo) memiliki kandungan nutrien yaitu kadar air
76,63%, lemak kasar 1,51%, protein kasar 19,87%, serat kasar 32,27%, abu
10,98%, Ca 1,82% dan P 0,19%. Stylo dapat digunakan sebagai pakan kambing,
domba, sapi, dan kerbau. Penggunaan Stylo sebagai pakan juga dapat diterapkan
pada ternak non ruminansia dan ikan dalam benuk suplemen. Macam tanaman ini
adalah Stylo segar, hay Stylo, dan tepung Stylo. Salah satu keunggulan tanaman ini
adalah batang dan daun lembut baik dipanen pada saat muda maupun tua.
Gamal (Gliricidia sepium) memiliki kandungan nutrien diantaranya kadar
air 77%, serat kasar 30,83%, protein kasar 26,29%, abu 12,75%, lemak kasar
1,94%, Ca 2,00% dan P 0,35%. Cara penanaman gamal adalah dengan biji atau
stek. Cara penanaman gamal menggunakan stek adalah dengan memotong batang
tanaman kemudian menancapkan ke tanah, stek akan tumbuh menjadi tanaman
baru dengan membentuk akar baru.
Desmodium rensonii dapat dibudidayakan secara generatif maupun vegetatif
dan dapat dipanen setiap 1 bulan. Produksi berat kering Desmodium rensonii
sekitar 139,9 g/tanaman. Tanaman dapat digunakan sebagai pakan pakan
kambing, sapi, domba, kelinci dan babi. Kandungan nutriennya adalah protein
kasar 23,16%, kadar air 83,63%, lemak kasar 0,88%, serat kasar 38,49%, abu
10,41%, Ca 1,9% dan P 0,39%. Desmodium rensonii juga dimanfaatkan sebagai
pupuk organik.
Lamtoro (Leucaena leucocephala L) atau petai cina digunakan sebagai
pakan ternak dan pencegah erosi. Lamtoro memiliki kadar protein yang tinggi
(36,37%) dan kandungan pakan lain diantaranya serat kasar 21,00%, abu 8,31%,
lemak kasar 0,66%, kadar air 76,63%, Ca 0,99% dan P 0,35%.
Tanaman Turi atau dalam bahasa latin Sesbania grandiflora syn adalah
leguminosa yang berakar dangkal, tumbuh cepat, dan memiliki kadar protein
tinggi (27,59%). Kandungan lain bahan pakan ini adalah serat kasar 23,17%, abu
9,29%, kadar air 80,55%, lemak kasar 2,93%, Ca 1,49% dan P 0,31%. Anti nutrisi
yang terkandung pada turi adalah saponin memerlukan proses pengolahan terlebih
dahulu sebelum diberikan pada ternak.
Pemberian pakan berupa biji-bijian dan hijauan berpengaruh pada profil
asam lemak yang terbentuk pada daging sapi. Berikut disajikan data perbedaan
kandungan asam lemak yang terbentuk pada ternak yang diberikan pakan bijian
dan hijauan.
Tabel 5. Perbedaan profil asam lemak daging sapi dengan pakan hijauan dan biji
Jenis ternak Laurat Miristat Palmitat Stearat Arachidat Asam
lemak
jenuh
Total
lemak
Crossbred
Steers
g/100 g lemak
Hijauan 0.05 1.24* 18.42* 17.54* 0.25* 38.76 9.76* mg/g
muscle
Jenis ternak Laurat Miristat Palmitat Stearat Arachidat Asam
lemak
jenuh
Total
lemak
Biji 0.06 1.84* 20.79* 14.96* 0.19* 39.27 13.03*
mg/g
muscle
Mixed
cattle
g/100 g lemak
Hijauan 0.05 2.84* 26.9 17.0* 0.13* 48.8* 2.8* % dari
muscle
Biji 0.07 3.45* 26.3 13.2* 0.08* 45.1* 4.4* % dari
muscle
Angus X-
bred steers
% dari total asam lemak
Hijauan nr 2.19 23.1 13.1* nr 38.4* 2.86*
%IMF
Biji nr 2.44 22.1 10.8* nr 35.3* 3.85*
%IMF
Angus
steers
mg/100 g muscle tissue
Hijauan nr 56.9* 508* 272.8 nr 900* 2.12%* %
dari muscle
Biji nr 103.7* 899* 463.3 nr 1568* 3.61%* %
dari muscle
Simmental
bulls
% dari total lemak intramuskular
Hijauan 0.04 1.82 22.56* 17.64* nr 43.91 1.51* %
dari muscle
Biji 0.05 1.96 24.26* 16.80* nr 44.49 2.61* %
dari muscle
Crossbred
Steers
% dari total asam lemak
Hijauan nr 2.2 22.0 19.1 nr 42.8 2.7* %
Biji nr 2.0 25.0 18.2 nr 45.5 4.7* %
Jenis ternak Laurat Miristat Palmitat Stearat Arachidat Asam
lemak
jenuh
Total
lemak
Hereford
steers
% lemak antar intramuskular
Hijauan nr 1.64* 21.61* 17.74* nr 49.08 1.68* %
dari muscle
Biji nr 2.17* 24.26* 15.77* nr 47.62 3.18* %
dari muscle
Sumber: Alfaia et al. (2009); Leheska et al. (2008); Garcia et al. (2008);
Ponnampalam et al. (2006); Nuernberg et al. (2005); Descalzo et al.
(2005); Realini et al. (2004)
Keterangan: *menunjukkan perbedaan yang signifikan (P < 0.05), nr: not reported
(tidak dilaporkan)
Berdasar tabel di atas, daging sapi yang diberi pakan rumput memiliki profil
asam lemak jenuh lebih rendah dibanding sapi yang diberi pakan biji-bijian.
Daging sapi yang diberi pakan rumput cenderung mengandung total lemak yang
lebih rendah. Hal ini menjadi pertimbangan penting bagi konsumen yang tertarik
untuk mengurangi konsumsi lemak secara keseluruhan.
Budidaya hijauan di Amerika Serikat dibagi menjadi dua kategori besar
yaitu hijauan musim dingin (disesuaikan dengan wilayah) dan musim panas
(hijauan terbaik disesuaikan dengan iklim tropis atau subtropis). hijauan musim
dingin termasuk golongan orchardgrass, Kentucky bluegrass, dan ryegrass.
Bermudagrass, bahiagrass, dallisgrass, dan jagung adalah hijauan musim panas.
Spesies hijauan musim dingin umumnya memiliki kualitas lebih tinggi daripada
musim panas. Kecernaan spesies rumput musim dingin rata-rata sekitar 9% lebih
tinggi dari rumput musim panas. Rumput musim dingin memiliki kecernaan
bahan kering di atas 80% selama 2 sampai 3 minggu pertama setelah inisiasi
pertumbuhan di musim semi. Setelah itu, kecernaan menurun sebesar 1⁄3 menjadi
1⁄2 persentase unit per hari hingga mencapai level di bawah 50%.
Level protein kasar minimum pada rumput ditemukan pada musim panas,
lebih rendah dibandingkan yang dianalisa di musim dingin. Hijauan pada musim
panas umumnya lebih keras. Hal ini dikarenakan terdapat perbedaan pada
anatomi (susunan jaringan atau struktur) daun. Meskipun pada musim panas, sinar
matahari membantu pertumbuhan hijauan menjadi lebih efisien daripada musim
dingin akan tetapi proses ini menyebabkan lignifikasi. Kandungan lignin yang
tinggi pada tanaman menyebabkan jaringan tanaman kuat sehingga kurang dapat
dicerna.
Tanaman yang tumbuh pada suhu tinggi umumnya menghasilkan kualitas
yang lebih rendah. Hijauan pakan akan cenderung memiliki kualitas lebih rendah
jika diproduksi di daerah yang panas dibanding pada daerah yang sejuk. Sebagai
contoh, dalam pengamatan penanaman ryegrass yang tumbuh pada lingkungan
dengan suhu 50 - 59 ° F mampu menghasilkan 59% daun. Hal ini sangat
signifikan berbeda pada penanaman ryegrass pada suhu 68 - 77 ° F hanya dapat
menghasilkan sebanyak 36% daun.
Legum dan beberapa rumput seperti bermudagrass dapat berbunga beberapa
kali setiap musim. Pola kualitas hijauan yang demikian tidak terikat oleh musim.
Perbedaan legum dan rumput yakni legum umumnya memiliki kualitas lebih
tinggi dibanding rumput. Hal ini disebabkan karena kacang-kacangan biasanya
memiliki lebih sedikit serat dan nilai gizi yang lebih tinggi daripada rumput.
Ternak ruminansia yang dipelihara pada padang rumput dapat berproduksi
secara optimal jika padang rumput dikelola dengan baik. Pengelolaan padang
rumput yang diintegrasikan dengan bahan baku lainnya, seperti semak legum atau
azolla dapat memaksimalkan pemenuhan kebutuhan pakan ternak yang
digembalakan. Padang rumput yang tidak baik dapat menyebabkan pertumbuhan
ternak tidak optimal.
Gambar 3. Contoh padang penggembalaan yang baik
Sumber: Lindquist (2019)
Gambar 4. Contoh padang penggembalaan yang tidak baik (ternak kurus)
Sumber: Mikkelson (2017)
Penanaman rumput yang bersamaan dengan legum pada satu kawasan
mampu meningkatkan nilai nutrisi rumput. Campuran rumput-legum umumnya
menghasilkan rumput dengan komposisi serat yang lebih rendah dan protein kasar
lebih tinggi dibanding penanaman rumput tunggal. Di Georgia, campuran dari
tujuh legum dengan bermudagrass (tanpa pupuk nitrogen) menghasilkan
bermudagrass dengan kandungan protein berkisar 11 - 13%. Hal ini lebih efisien
dibandingkan dengan bermudagrass yang ditanam dengan pemupukan nitrogen
sebanyak 90 pon / are dengan hasil akhir kandungan protein kasar tanaman
sebesar 11%. Pemupukan dengan nitrogen secara substansial dapat meningkatkan
produksi dan juga umumnya meningkatkan level protein kasar tanaman hijauan.
Dalam satu penelitian, pemupukan nitrogen pada switchgrass dengan 70 pound /
are dapat meningkatkan kandungan protein kasar dari 5,3 menjadi 6,4%.
Pemupukan biasanya tidak berpengaruh pada nilai kecernaan hijauan. Pemupukan
dengan fosfor (P), kalium (K), atau nutrisi lain dengan tujuan meningkatkan
produksi dapat mengurangi kualitas hijauan ketika pertumbuhan tanaman menjadi
lebih cepat. Kandungan kalium yang berlebih dalam beberapa kasus dapat
mengurangi ketersediaan unsur-unsur lain seperti magnesium (Mg) dalam
tanaman.
4. Forum Diskusi
Berapa kandungan protein dan TDN konsentrat yang perlu ditambahkan
untuk memenuhi kebutuhan sapi Bali bunting dengan berat 300 kg jika tersedia
daun lantoro dan rumput Benggala. Sapi diberikan pakan 70% rumput benggala
dan 30% daun lantoro. (Cari kandungan nutrisi rumput benggala dan daun lantoro
pada hasil penelitian/ jurnal 10 tahun terakhir).
C. PENUTUP
1. Rangkuman
a. Nutrisi yang tepat pada penggemukan sapi merupakan kunci utama dalam
sistem produksi untuk menghasilkan produksi daging yang optimal, efisiensi
produksi dan keuntungan yang memadai.
b. Kandungan nutrisi pakan berkaitan erat dengan jumlah konsumsi pakan,
kecernaan pakan dan retensi pakan.
c. Kualitas hijauan pakan dapat dinilai secara visual/organoleptik, diantaranya
jumlah bunga yang mekar, kekakuan daun dan batang, tekstur, tebal daun,
warna, serta bau.
d. Kandungan nutrisi hijauan diperlukan untuk mengetahui kualitas hijauan
secara kuantitatif dan digunakan saat menentukan komposisi ransum atau
complete feed.
e. Persyaratan nutrisi diantaranya kecukupan ternak akan kebutuhan protein,
karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan air.
f. Kandungan energi dan protein sangat penting bagi pakan ternak dalam
penyusunan ransum ternak. Idealnya, energi dan protein harus pada
persyaratan optimal.
g. Pengujian mutu dan keamanan pakan ditetapkan pada Peraturan Menteri
Pertanian Republik Indonesia Nomor 22/Permentan/Pk.110/6/2017.
h. Penyusunan ransum seimbang dilakukan dengan langkah-langkah diantaranya
menghitung kebutuhan ternak, mencari data kandungan nutrien bahan pakan
yang akan digunakan, penyusunan formula ransum, dan pencampuran bahan
pakan.
i. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hijauan diantaranya palatabilitas,
jumlah konsumsi pakan, kecernaan pakan, kandungan nutrisi, faktor anti
nutrisi, faktor sekunder, dan faktor lain.
j. Kandungan nutrisi pakan selain dipengaruhi oleh umur saat panen, juga
dipengaruhi oleh jarak tanam dan wilayah tempat penanaman.
k. Jenis hijauan pakan terdiri dari legum dan rumput. Legum merupakan
tanaman yang membentuk polong. Rumput merupakan tanaman yang
biasanya memiliki daun sempit; berongga, batang bersendi, dan bunga.
l. Pada musim kemarau, leguminosa dapat digunakan sebagai alternatif
pengganti hijauan.
m. Pemberian pakan berupa biji-bijian dan hijauan berpengaruh pada profil asam
lemak yang terbentuk pada daging sapi. Daging sapi yang diberi pakan
rumput memiliki profil asam lemak jenuh lebih rendah dibanding dengan sapi
yang diberi pakan biji-bijian.
n. Budidaya hijauan di Amerika Serikat dibagi menjadi dua kategori besar yaitu
hijauan musim dingin (disesuaikan dengan wilayah) dan musim panas
(hijauan terbaik disesuaikan dengan iklim tropis atau subtropis).
o. Ternak ruminansia yang dipelihara pada padang rumput dapat berproduksi
secara optimal jika padang rumput dikelola dengan baik. Penanaman rumput
yang bersamaan dengan legum pada satu kawasan mampu meningkatkan nilai
nutrisi rumput.
p. Leguminosa memiliki ciri khas yakni adaptif, daun seperti kupu-kupu,
tumbuh merambat dan berbentuk pohon, merupakan tanaman dikotilledon
(berkeping dua) dengan sistem perakaran tumbuh jauh kedalam tanah dan
bercabang.
q. Ciri rumput yang baik adalah memiliki palatabilitas yang tinggi, daun
berwarna hijau segar, dipanen sebelum berbunga, ditanam pada tanah yang
tidak gersang.
Daftar Pustaka
Alfaia CPM, Alves SP, Martins SIV, Costa ASH, Fontes CMGA, Lemos JPC,
Bessa RJB, Prates JAM. 2009. Effect of feeding system on intramuscular
fatty acids and conjugated linoleic acid isomers of beef cattle, with
emphasis on their nutritional value and discriminatory ability. Food
Chemistry. 114: 939-46. 10.1016/j.foodchem. 2008.10.041.
Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Pakan (BPMSP). 2015.
http://biblembang.ditjenpkh.pertanian.go.id/read/146/tanaman-legum-
sebagai-sumber-protein-hijau-untuk-pejantan. Diakses pada 29 Oktober
2019.
Budiman, Sutrisno RD, Budhi SPS, Indrianto A. 2012. Morphological
characteristics, productivity and quality of three napier grass (Pennisetum
purpureum Schum) cultivars harvested at different age. J Indonesian Trop
Anim Agric. 37:294-301.
Budiman. 2012. Study of morphological development at vegetative and
reproductive phases of three elephant grass (Pennisetum purpureum Schum)
cultivars [Disertation]. [Yogyakarta, Indonesia]: Universitas Gadjah Mada.
Daley, C.A., Abbott, A., Doyle, P.S., Nader, G.A. and Larson, S., 2010. A review
of fatty acid profiles and antioxidant content in grass-fed and grain-fed
beef. Nutrition journal, 9(1), p.10.
Descalzo AM, Insani EM, Biolatto A, Sancho AM, Garcia PT, Pensel NA,
Josifovich JA. 2005. Influence of pasture or grain-based diets supplemented
with vitamin E on antioxidant/oxidative balance of Argentine beef. Journal
of Meat Science. 70: 35-44. 10.1016/j.meatsci.2004.11.018.
Garcia PT, Pensel NA, Sancho AM, Latimori NJ, Kloster AM, Amigone MA,
Casal JJ. 2008. Beef lipids in relation to animal breed and nutrition in
Argentina. Meat Science. 79: 500-8. 10.1016/j.meatsci.2007.10.019.
Halim MRA, Samsuri S, Bakar IA. 2013. Yield and nutritive quality of nine
Napier grass varieties in Malaysia. Malaysian J Anim Sci. 16:37-44.
Herdiawan I dan R. Krisnan 2014. Produktivitas dan Pemanfaatan Tanaman
Leguminosa Pohon Indigofera zollingeriana pada Lahan Kering.
WARTAZOA 24 (2): 75-82.
Herdiawan I. 2013. Pertumbuhan Tanaman Pakan Ternak Leguminosa Pohon
Indigofera zollingeriana pada berbagai Taraf Perlakuan Cekaman
Kekeringan. JITV. 18: 258-264.
Hutasoit R, Sirait J, Ginting SP. 2009. Budidaya dan pemanfaatan Brachiaria
ruziziensis (rumput ruzi) sebagai hijauan pakan kambing. Bogor
(Indonesia): Puslitbangnak.
Kearl, L.C. 1982. Nutrition Requirement of Ruminant in Developing Countries.
Utah State University Logah. USA.
Langi PR. 2014. Pengaruh pemberian pupuk mikoriza terhadap kandungan protein
kasar dan serat kasar rumput gajah mini dan rumput benggala [Skripsi].
[Makassar (Indonesia)]: Universitas Hasanuddin.
Leheska JM, Thompson LD, Howe JC, Hentges E, Boyce J, Brooks JC, Shriver B,
Hoover L, Miller MF. 2008. Effects of conventional and grass-feeding
systems on the nutrient composition of beef. Journal Animal Science. 86:
3575-85. 10.2527/jas.2007-0565.
Lindquist, K. 2019. How to Feed Cattle. https://www.wikihow.com/Feed-Cattle.
Diakses pada 24 Oktober 2019.
Mikkelson K. 2017. Feed Options for Ruminants in the Tropics. ECHO Asia
Note Articles.
Mislah, A., Suharti, S. and Wijayanti, I., 2018. Karakteristik produk dan
efektivitas enkapsulasi bakteri pendegradasi asam sianida (HCN). Jurnal
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, 16(2), pp.20-26.
Munasik M, Sutrisno CL, Anwar S, Prayitno CH. 2012. The growth, yield and
quality of elephant grass (Pennisetum purpureum) spesific tolerant of acid
soils by mutagenesis of ethylmethana sulfonate. Anim Prod. 14:87-91.
Novita M. 2015. Isolasi, identifikasi, dan karakterisasi serta inokulasi bakteri
pendegradasi sianida dari cairan rumen kambing peranakan etawa secara in
vitro [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Nuernberg K, Nuernberg G, Ender K, Lorenz S, Winkler K, Rickert R, Steinhart
H. 2002. Omega-3 fatty acids and conjugated linoleic acids of longissimus
muscle in beef cattle. European Journal of Lipid Science Technology. 104:
463-71. 10.1002/1438-9312(200208)104:8<463::AID-EJLT463>3.0.CO;2-
U.
Nurlaily RF. 2017. Karakteristik fermentasi dan populasi mikroba rumen domba
yang diinokulasi bakteri pendegradasi HCN serta sulfur pada pakan
mengandung daun singkong pahit (Manihot glaziovii) [skripsi]. Bogor (ID):
Institut Pertanian Bogor.
Oktafiani H. 2017. Performa dan kecernaan nutrien pada domba yang diberi
tepung daun singkong pahit (Manihot esculenta) dan bakteri pendegradasi
HCN [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Ponnampalam EN, Mann NJ, Sinclair AJ. 2006. Effect of feeding systems on
omega-3 fatty acids, conjugated linoleic acid and trans fatty acids in
Australian beef cuts, potential impact on human health. Asia Pacific Journal
of Clinical Nutrition. 15 (1): 21-9.
Realini CE, Duckett SK, Brito GW, Rizza MD, De Mattos D. 2004. Effect of
pasture vs. concentrate feeding with or without antioxidants on carcass
characteristics, fatty acid composition, and quality of Uruguayan beef. Meat
Science. 66: 567-77. 10.1016/S0309-1740(03)00160-8.
Rengsirikul K, Ishii Y, Kangvansaichol K, Sripichitt P, Punsuvon V,
Vaithanomsat P, Nakamanee G, Tudsri S. 2013. Biomass yield, chemical
composition and potential ethanol yields of 8 cultivars of napiergrass
(Pennisetum purpureum Schumach) Harvested 3-monthly in Central
Thailand. J Sustain Bioenergy Syst. 3:107-112.
Rukmana R. 2005. Rumput unggul hijauan makanan ternak. Yogyakarta
(Indonesia): Kanisius.
Sirait J, Purwantari ND, Simanihuruk K. 2005. Produksi dan serapan nitrogen
rumput pada naungan dan pemupukan yang berbeda. JITV. 10:175-181.
Sirait J, Tarigan A, Simanihuruk K. 2014. Produksi dan nilai nutrisi rumput gajah
kerdil (Pennisetum purpureum cv. Mott) pada jarak berbeda di dua
kabupaten di Sumatera Utara. Sei Putih (Indonesia): Loka Penelitian
Kambing Potong. (unpublished)
Sirait, J., Tarigan, A. and Simanihuruk, K., 2017. Rumput Gajah Mini
(Pennisetum purpureum cv. Mott) sebagai Hijauan Pakan untuk
Ruminansia. Wartazoa, 27(4), pp.167-176.
Tekletsadik T, Tudsri S, Juntakool S, Prasanpanich S. 2004. Effect of dry season
cutting management on subsequent forage yield and quality of ruzi
(Brachiaria ruziziensis) and dwarf napier (Pennisetum purpureum L) in
Thailand. Kasetsart J (Nat Sci). 38:457-467.
Tiro BMW dan Usman. 2015. Pengaruh Suplementasi Hijauan Gamal dan Dedak
Padi terhadap Bobot Sapi Musim Kemarau. Jurnal Pertanian Agros, 17(1),
pp.103-112.
Umiyasih dan YN, Angraeny. 2017. Petunjuk Teknis Ransum Seimbang, Strategi
Pakan pada Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan,
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian.Grati.
Yassin M, Malik MA, Nazir MS. 2003. Effect of different spatial arrangements on
forage yield, yield components and quality of mott elephant grass. J Agron.
2:52-58.

AT Modul 1 kb 4

  • 1.
    KEGIATAN BELAJAR 1 BibitTernak Ruminansia Pedaging KEGIATAN BELAJAR 4 Bahan Pakan Hijauan
  • 2.
    A. PENDAHULUAN 1. DeskripsiSingkat Kegiatan belajar ini akan membahas mengenai kualitas hijauan pakan ternak ruminansia pedaging. Materi pembelajaran yang akan diuraikan meliputi kebutuhan nutrisi ternak ruminansia pedaging, kandungan nutrisi dan zat antinutrisi pada hijauan pakan ternak, serta cara peningkatan kualitas hijauan. 2. Relevansi Dengan mengetahui kualitas hijauan pakan diharapkan pembaca mampu mengetahui syarat hijauan yang dapat digunakan sebagai pakan pada ternak ruminansia pedaging. 3. Panduan Belajar Modul ini dilengkapi beberapa link yang dapat dikunjungi untuk melengkapi bahan belajar. B. INTI 1. Capaian pembelajaran Peserta didik diharapkan dapat menganalisa prinsip agribisnis ternak ruminansia dan aplikasinya dalam pembelajaran bidang studi agribisnis ternak 2. Sub Capaian pembelajaran 1. Mempelajari kebutuhan nutrisi ternak ruminansia pedaging 2. Mengetahui kandungan nutrisi dan zat antinutrisi pada hijauan pakan ternak 3. Uraian Materi Nutrisi yang tepat pada penggemukan ternak ruminansia merupakan kunci utama dalam sistem produksi untuk menghasilkan produksi daging yang optimal, efisiensi produksi dan keuntungan usaha yang memadai. Pakan memerlukan biaya
  • 3.
    terbesar dalam manajemenpeternakan. Pemahaman tentang kebutuhan pakan dan dasar nutrisi ternak ruminansia diperlukan untuk efektivitas manajemen pakan. Kandungan nutrisi pakan berkaitan erat dengan jumlah konsumsi pakan, kecernaan pakan dan retensi pakan. Waktu yang dihabiskan ternak untuk menghabiskan pakan berkorelasi positif dengan kandungan bahan kering dan berkorelasi negatif dengan kandungan Neutral Deterjent Fiber (NDF). Laju pakan, jumlah konsumsi, durasi makan, dan waktu yang dihabiskan untuk menghabiskan pakan, memiliki pola yang berbeda antara pakan satu dengan yang lainnya berdasar karakteristik, sumber, kandungan nutrisi, dan sifat fisik pakan serta palabilitas ternak pada pakan tersebut. Kualitas hijauan pakan dapat dinilai secara visual, diantaranya jumlah bunga yang mekar, kekakuan daun dan batang, tekstur, tebal daun, warna, serta bau. Penilaian ini disebut juga sebagai kualitas organoleptik pakan. Kandungan nutrisi hijauan diperlukan untuk mengetahui kualitas hijauan secara kuantitatif dan digunakan saat menentukan komposisi ransum atau complete feed . Dalam beberapa tahun terakhir, pengenalan jenis hijauan maupun teknologi pengolahan hijauan pakan banyak diteliti untuk meningkatkan nilai nutrisi pakan dan produktivitas ternak. Setiap nutrisi memenuhi peran spesifik dalam pertumbuhan, produksi atau metabolisme tubuh ternak. Parameter utama dalam perhitungan nilai kecernaan pakan adalah jumlah konsumsi pakan, kualitas pakan, dan kebutuhan energi ternak. Persyaratan nutrisi diantaranya kecukupan ternak akan kebutuhan lemak, mineral, air.protein, vitamin, dan karbohidrat. Penjelasan mengenai nutrien pakan dapat dilihat pada link berikut https://egivet10uh.wordpress.com/2014/10/14/kebutuhan-nutrisi-ternak- ruminansia/. Kandungan nutrisi tersebut dapat dianalisa dengan metode sebagai berikut: a. Analisis proksimat merupakan analisa skala laboratorium untuk mengetahui protein kasar, kadar air, serat kasar, lemak kasar dan bahan organik. b. Bahan kering atau disebut sebagai dry matter diketahui dengan menghitung kadar air bahan pakan. Kadar air dianalisa dengan memasukkan pakan dengan
  • 4.
    suhu 105 ˚C.Persen kehilangan dihitung sebagai kadar air. Bahan kering pakan diketahui dengan cara menghitung 100 - kadar air. c. Bahan organik atau disebut juga organik matter dapat diketahui dengan membakar bahan pakan hingga menjadi abu. Kadar abu dianalisa dengan membakar bahan pakan pada tanur dengan suhu 500 - 600 ˚C. Pada suhu tersebut bahan organik terbakar sehingga persen kehilangan dihitung sebagai kadar bahan organik pakan. d. Serat Kasar (SK) atau disebut sebagai crude fiber diketahui dengan pemasakan dengan H2SO4 0,255 N (1,25 %) kemudian dilanjutkan NaOH 0,312 N (1,25 %). Serat kasar merupakan bagian karbohidrat yang tidak larut dalam pemasakan tersebut. e. Protein Kasar (PK) atau disebut crude protein diketahui dengan menganalisa jumlah nitrogen pakan. Kadar PK kemudian dihitung berdasar faktor pengali 6,25. f. Bahan Organik Tanpa Nitrogen (BOTN) atau disebut non nitrogenous organik matter diketahui dengan mengurangi kadar bahan organik dengan protein kasar. g. Karbohidrat merupakan gula sederhana dalam senyawa organik. Karbohidrat diklasifikasikan menjadi karbohidrat non-struktural (pati, sukrosa atau fruktan) dan karbohidrat struktural (polisakarida, pektin, hemiselulosa, dan selulosa). Kebutuhan nutrisi ternak bervariasi. Variabel tersebut diantaranya umur, bobot badan, tahap produksi, tingkat pertumbuhan, kondisi lingkungan, jenis kelamin, dan faktor lainnya. Merupakan selisih BOTN dan lemak. h. Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) atau disebut nitrogen free extract diketahui dengan mengurangi jumlah karbohidrat dengan kadar serat kasar. i. Energi bruto atau disebut gross energy dapat diketahui dengan analisa menggunakan bom kalorimeter. Panas yang dihasilkan pada proses pembakaran pakan dihitung sebagai kalori atau energi pakan tersebut. j. Total Digestible Nutrient (TDN) adalah total energi dari pakan yang setara dengan energi dari karbohidrat. Parameter ini dapat diketahui dengan pengujian secara biologis maupun dari hasil perhitungan rumus.
  • 5.
    k. Analisis VanSoest digunakan untuk mengetahui serat berdasar tingkat kelarutannya. Kandungan energi dan protein sangat penting bagi pakan ternak dalam penyusunan ransum ternak. Idealnya, energi dan protein harus pada persyaratan optimal. Kandungan nutrisi pakan berpengaruh signifikan terhadap produksi daging yang dihasilkan pada ternak potong disamping faktor lain seperti genetik, usia dan jenis kelamin ternak, lokasi geografis peternakan, imbangan hijauan dan konsentrat, dan lain-lain. Dalam pembuatan pakan perlu memperhatikan nilai-nilai nutrisi sebagai berikut: a. NDF (Neutral Detergent Fiber) b. Digestible energy (energi dapat dicerna) pada karbohidrat dan kadar serat c. ADF (Acid Detergent Fiber) d. PK (protein kasar) e. LK (lemak kasar) atau ekstrak eter f. TDN g. NaCl (garam), Ca (kalsium), S (sulfur), P (fosfor), Mg (magnesium), Na (sodium), K (kalium) untuk makromineral. h. Fe (besi), I (yodium), Co (kobalt), Cu (tembaga), Mn (mangan), Mo (molibdenum), dan Zn (seng) untuk mikromineral. Pengujian mutu dan keamanan pakan berdasar Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 22/Permentan/Pk.110/6/2017 adalah dilakukan terhadap: a. Kadar air b. Aflatoksin total c. Kadar protein kasar d. Kadar kalsium (Ca) e. Kadar NDF f. Kadar serat kasar g. Kadar lemak kasar h. Kadar abu i. Kadar phosfor (P)
  • 6.
    j. TDN Strategi penyusunanransum seimbang perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak secara efisien. Alur dalam pembuatan ransum seimbang dijelaskan pada Gambar 46. Gambar 1. Diagram strategi penyusunan ransum seimbang Sumber: Umiyasih dan Angraeny (2017) Penyusunan ransum seimbang pada ternak ruminansia dilakukan dengan langkah sebagai berikut: a. Menyiapkan Tabel Kebutuhan Zat Nutrien Penghitungan kebutuhan nutrisi sapi potong di Indonesia mengacu pada buku “Nutrient requirement for beef cattle” yang dikeluarkan oleh National Research Council. Kebutuhan zat pakan harian pada ternak secara lengkap dapat diunduh pada laman berikut: https://digitalcommons.usu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=5211&context=etd. Contoh kebutuhan zat pakan harian pada sapi potong jantan disajikan pada tabel berikut.
  • 7.
    Tabel 1. Kebutuhanzat pakan harian pada sapi potong jantan Sumber: Kearl (1982) b. Mengetahui Kandungan Nutrien/Komposisi Bahan Pakan Kandungan nutrien pakan dapat diketahui dari analisa proksimat maupun berdasar studi literatur. Kandungan nutrisi pakan telah dianalisa oleh beberapa peneliti. Komposisi bahan pakan dapat diunduh pada laman berikut https://www.academia.edu/12404330/TABELKOMPOSISI_BAHAN_MAKANA
  • 8.
    N TERNAK. Namun,penelitian pada laman tersebut telah berlangsung bertahun- tahun yang lalu. Informasi kandungan nutrisi pakan sebaiknya didapatkan dari jurnal-jurnal yang merupakan hasil penelitian tahun terbaru. Selain itu, wilayah sumber pakan juga harus diperhatikan karena akan berpengaruh terhadap kandungan nutrisi tanaman. Beberapa kandungan hijauan pakan dijelaskan lebih lanjut pada materi mengenai jenis rumput pada modul ini. c. Penyusunan Ransum Seimbang Penyusunan formulasi ransum dapat dilakukan dengan beberapa metode. Metode tersebut yakni metode trial and error, pearson square method, dan least cost formulation. Metode trial and error dilakukan dengan mengira-ngira komposisi pakan dalam ransum. Persentase setiap bahan pakan yang digunakan didasarkan kepada pertimbangan subjektif. Metode pearson square digunakan untuk formulasi ransum yang terdiri dari 4 bahan pakan. Metode least cost formulation adalah metode penyusunan ransum dengan menggunakan program. d. Mixing Bahan Pakan Pencampuran bahan pakan atau proses mixing dapat dilakukan dengan bantuan mesin maupun manual menggunakan skop jika ransum dalam kuantitas yang besar. Campuran ransum harus bercampur rata dan homogen. Kualitas hijauan dapat ditingkatkan dengan perlakuan pakan. Berikut disajikan perbedaan data antara kandungan dan nilai kecernaan pada hijauan segar dan hijauan dengan perlakuan. Tabel 2. Perbedaan kandungan dan nilai kecernaan hijauan segar dan hijauan dengan perlakuan Perlakuan Protein kasar Abu NDF ADF Energi Metabolis KCBO (%) Rumput segar 59.0c 71.0c 705.2c 440.6a 5.3c 32.8c Silage 108.0a 106.0a 574.4c 363.8b 10.7a 55.4a Hay 92.0b 79.0b 589.0b 436.3a 8.6b 45.1b ± SEM 7.2 5.3 20.7 12.5 0.8 3.3 Sumber: Mikkelson (2017)
  • 9.
    Keterangan: huruf menunjukkanperbedaan signifikan (P<0.05), Rumput segar terdiri dari campuran Calopognanum mucunoide, Pennisetum purpureum, Panicum maximum, Andropogon gayanus, Sorhum almum, Centrosema molle, Andropogon tectorum, Stylosanthes hamata. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hijauan diantaranya: a. Palatabilitas Palabilitas merupakan tingkat kesukaan ternak dalam memilih pakan berdasar bau, rasa, dan rasa. Palatabilitas dipengaruhi oleh tekstur pakan, kadar air, pemupukan tanaman, kotoran atau bercak urin, infestasi hama, atau senyawa yang menyebabkan hijauan terasa manis, pahit, kecut, asam, atau asin. Hijauan berkualitas tinggi umumnya memiliki tingkat palatabilitas yang baik. b. Jumlah Konsumsi Pakan Jumlah pakan yang dimakan oleh sapi dari jumlah pakan yang diberikan di kurangi sisa pakan. Biasanya semakin tinggi palatabilitas maka semakin tinggi jumlah konsumsi pakan. c. Umur dan Kecernaan Hijauan Kecernaan adalah jumlah nutrisi yang dapat diserap oleh tubuh. Tanaman muda dan berdaun biasanya memiliki nilai kecernaan sebesar 80 hingga 90%, sedangkan pada tanaman tua nilai kecernaannya rendah sekitar 50%. d. Kandungan Nutrisi Hijauan pakan biasanya mengandung 70 hingga 90% air. Dalam perhitungan kebutuhan pakan dan formulasi ransum, semua bahan pakan berdasar bahan kering. Bahan kering pakan terbagi menjadi dua kategori utama yaitu komponen sel (bagian non-struktural dari jaringan tanaman seperti protein, gula, dan pati); dan komponen struktural dari dinding sel (selulosa, hemiselulosa, dan lignin). e. Faktor Anti Nutrisi Tidak semua komponen pakan adalah zat makanan. Terdapat zat yang sulit atau tidak dapat dicerna seperti lignin dan silika, serta zat berbahaya atau anti nutrisi). Anti nutrisi merupakan senyawa dalam hijauan yang dapat menurunkan
  • 10.
    kinerja ternak, mengandungtoksik, menyebabkan penyakit, atau bahkan berakibat pada kematian ternak. Anti nutrisi dalam bahan pakan merupakan faktor pembatas yang dapat menghambat pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan ternak. Kandungan anti nurisi membatasi penggunaan pakan pada ransum serta dapat mempengaruhi aspek biologi ternak karena mengganggu fungsi metabolisme tubuh. Hasil metabolisme sekunder pada tanaman merupakan dasar pertahanan bagi tanaman. Metabolit sekunder yang dihasilkan tersebut dapat mengganggu kesehatan ternak bahkan dapat menyebabkan kematian. Istilah lain anti nutrisi adalah toksikan nabati atau disebut juga phyitotoxin. Tanaman tersebut jika dikonsumsi ternak akan menimbulkan gangguan pada organ pencernaan, syaraf, atau otak. Berikut beberapa bahan anti nutrisi yang terdapat pada bahan pakan. 1) Asam Prussic/Asam Sianida (HCN) Asam sianida biasanya terdapat dalam hijauan sorgum, biji sorgum, singkong dan limbahnya. Keracunan akibat HCN disebut cyanosis yang ditandai dengan membirunya permukaan kulit diseluruh tubuh, diare, sesak nafas, mulut berbusa, kejang, selaput lendir dan darah berwarna cerah (merah ceri). Keracunan mengakibatkan gangguan sel syaraf, menghambat pernafasan dan terjadi anoksia (kekurangan O2 pada syaraf). Ion CN mengikat Fe heme dan bereaksi dengan ferric di mitokondria sehingga tidak bisa melepaskan O2 pada sistem transfer. HCN dapat didetoksikasi dalam jumlah yang rendah dengan reaksi sebagai berikut: CN + thiosulfat → thiocyanat (merupakan senyawa tidak beracun yang dikeluarkan melalui urin). Pertolongan pertama pada keracunan HCN adalah dengan pemberian metilen blue, natrium nitrat atau natrium tiosulfat dengan dosis tertentu. Asam nitrat juga dapat mengakibatkan keracunan. Perbedaan keracunan akibat nitrat adalah darahnya berwarna coklat gelap. Cara mengurangi kandungan HCN pada pakan adalah dengan direndam, dicuci, dipanaskan, pencacahan, diangin-anginkan, dikeringkan, difermentasikan, dibuat silase.
  • 11.
    2) Non StarchPolysaccarida (NSP) Non starch polysaccarida terdapat di endosperm cell wall pada serealia. Karbohidrat komplek ini susah dicerna dan mengikat air. Daya pengikat air menyebabkan transport dan absorpsi nutrien menurun. NSP mempengaruhi mikroflora di saluran pencernaan. Terdapat 3 katagori NSP diantaranya arabinoxylan, beta glucan, dan oligosaccharida. 3) Saponin Saponin biasanya terdapat dalam kedelai mentah dan bersifat hemolitik (pengurai darah). Pemanasan akan dapat mengurangi aktivitas saponin. 4) Gossypol Terdapat pada tanaman kapas (Gossypium sp), terutama pada biji, meskipun dijumpai juga pada daun, batang, dan akar. Bungkil biji kapuk mengandung 0,5% gossypol bebas. Gossypol dapat diinaktifkan dengan pemasakan, pemberian uap panas, atau pemanasan dalam otoklaf. Gossypol dalam larutan natriumhidroksida mudah teroksidasi 5) Asam Phytat Asam phytat mengikat mineral P, Zn, Cu, dan Ca sehingga susah dicerna. Proses fermentasi pakan dapat mengurangi kandungan senyawa ini. 6) Tanin Tanin secara alami merupakan pertahanan bagi sel tanaman. Kandungan tanin pada ransum dapat mengikat protein pakan sehingga berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan dan efisiensi ransum. Cara mengatasi efek tanin dalam ransum adalah dengan perebusan, suplementasi DL-metionin, fermentasi, perendaman, penambahan air kemudian diinkubasikan secara anaerob, atau dengan agen pengikat tanin yaitu polyethylene glycol, gelatin, polyvinyl pyrrolidone (PVP). f. Faktor Sekunder Faktor sekunder meliputi kesuburan tanah dan pemupukan, suhu selama pertumbuhan hijauan, serta varietas.
  • 12.
    g. Faktor Lain Faktorlain diantaranya umur saat panen, bagian tanaman yang digunakan untuk pakan, metode panen, teknik penyimpanan. Kematangan saat panen mempengaruhi jumlah konsumsi hijauan oleh ternak. Tanaman tua umumnya berserat dan susah dicerna sehingga konsumsi hijauan turun. Sejumlah penelitian telah menunjukkan efek seiring bertambahnya usia tanaman menyebabkan semakin rendah nilai kecernaan. Hal ini disebabkan oleh tingginya kandungan NDF. Kandungan ini lebih sulit cerna daripada komponen non-serat hijauan. Selain itu, proses pencernaan serat pada tanaman dewasa lebih lambat daripada tanaman muda. Kandungan nutrisi daun lebih tinggi daripada batang. Bagian tertua dari batang alfalfa memiliki kandungan protein sebesar 10%, lebih sedikit dibandingkan pada daun yaitu sebesar 24%. Pada bagian batang memiliki tingkat serat yang jauh lebih tinggi daripada daun. Penurunan kualitas pakan dapat disebabkan oleh pelapukan, respirasi tanaman dan aktivitas mikroba selama penyimpanan. Pada daerah dengan curah hujan yang tinggi, pakan yang disimpan ditempat lembab atau diluar kandang dapat rusak karena terjadi pelapukan. Pada sebuah studi diketahui ryegrass yang disimpan di luar ruangan mengalami penurunan kandungan bahan kering sebesar 40%. Kandungan nutrisi pakan selain dipengaruhi oleh umur saat panen, juga dipengaruhi oleh jarak tanam dan wilayah tempat penanaman. Berikut disajikan data hubungan kadar protein, umur, jarak tanam dan wilayah pada rumput gajah mini. Tabel 3. Hubungan kadar protein, umur, jarak tanam dan wilayah pada rumput gajah mini Umur panen (minggu) Kandungan PK (% BK) Jarak tanam Negara 7-8 11,60-13,10 0,5×1 m Thailand 7-8 11,61 0,5×1 m Thailand 8 12,94 - Indonesia 12 8,77 - Indonesia
  • 13.
    Umur panen (minggu) Kandungan PK(% BK) Jarak tanam Negara 8 6,70-7,40 Dalam pot Indonesia 8 10,10-12,90 0,5×1 m Indonesia 8 11,20-12,40 0,75×1 m Indonesia 8 10,90-13,30 1×1 m Indonesia - 12,13 1,05×1,05 m Pakistan Sumber: Tekletsadik et al. (2004); Halim et al. (2013); Budiman (2012); Langi (2014); Sirait et al. (2014) (unpublished); Yassin et al. (2003) Jenis hijauan pakan terdiri dari legum dan rumput. Legum merupakan tanaman yang membentuk polong. Legum dapat memproduksi pupuk sendiri dengan menangkap nitrogen dari udara. leguminosa memiliki ciri khas yakni mudah tumbuh dengan baik pada berbagai kondisi tanah, daun seperti kupu-kupu, tumbuh merambat dan berbentuk pohon, merupakan tanaman dikotilledon (berkeping dua) dengan sistem perakaran tumbuh jauh ke dalam tanah dan bercabang. Rumput merupakan jenis hijauan yang biasanya memiliki daun sempit; berongga, batang bersendi, dan bunga. Kualitas rumput sangat bervariasi tergantung jenis rumput dan umur saat panen. Ciri rumput yang baik adalah ditanam pada tanah yang subur dan cukup air, memiliki palatabilitas yang tinggi, daun berwarna hijau segar, dipanen saat sebelum berbunga, memiliki kandungan nutrien tinggi khususnya bahan kering, protein kasar, dan karbohidrat yang mudah dicerna. Komposisi nutrien beberapa jenis rumput disajikan pada tabel berikut. Tabel 4. Komposisi nutrien beberapa jenis rumput Keterangan Jenis rumput Ruzi1 Bede1 Notatum1 Gajah mini1 Gajah mini2 Gajah3, 8 Bahan kering (%) 17,24 12,29 12,08 13,55 - 16,16 Bahan organik (%) 90,47 89,64 90,61 85,55 - 88,30 Abu (%) 9,53 10,36 9,39 14,45 - 11,70 Protein kasar (%) 8,37 7,69 11,19 13,94 12,94 9,79 NDF (%) 63,98 63,50 73,88 54,02 56,74 70,90
  • 14.
    Keterangan Jenis rumput Ruzi1 Bede1 Notatum1 Gajah mini1 Gajah mini2 Gajah3, 8 ADF(%) 37,92 40,62 44,11 34,02 38,23 38,80 Energi bruto (kkal/kg) 4.080 4.566 3.960 3.957 - - Lignin (%) - - - - 4,04 - Serat kasar (%) - - - - - 34,94 Produksi BK (ton/ha/tahun) 24,004 40,755 35,606 43,581 27,107 51,407 Produksi BO (ton/ha/tahun) 21,71 36,53 32,26 37,28 - 45,39 Produksi PK (ton/ha/tahun) 2,01 3,13 3,98 6,08 3,51 5,03 Produksi NDF (ton/ha/tahun) 15,36 25,88 26,30 23,54 15,38 36,44 Produksi ADF(ton/ha/thn) 9,10 16,55 15,70 14,83 10,36 19,94 Produksi SK (ton/ha/tahun) - - - - - 17,96 Sumber: 1 Sirait et al. (2014, unpublished); 2 Budiman et al. (2012); 3 Munasik et al. (2012); 4 Hutasoit et al. (2009); 5 Rukmana (2005); 6 Sirait et al. (2005); 7 Rengsirikul et al. (2013); 8 Halim et al. (2013). Keterangan: Brachiaria ruziziensis (ruzi), Brachiaria decumbens (bede), Paspalum notatum (notatum). Rumput gajah mini potensial digunakan sebagai pakan ernak karena keunggulannya yaitu palatabilitas tinggi, pertumbuhan cepat, produksi tinggi, daun memiliki bulu halus, dan batang tidak keras. Produksi rumput ini sekitar 43,58 ton/ha/tahun (bahan kering). Jika dibandingkan pada produksi proteinnya (6,08 ton/ha/tahun) lebih tinggi dibandingkan rumput gajah (51,4 ton/ha/tahun). Rumput ini dapat diberikan dalam bentuk fermentasi, segar, maupun hay. Rumput Raja memiliki tingkat adaptasi yang baik dan tumbuh optimal pada tanah dengan kelembaban rendah. Kandungan serat kasar rumput ini adalah 32,6% dan protein kasar 15,67%. Jumlah anakan pada rumput raja berkisar 15 - 25 batang.
  • 15.
    Rumput gajah (Pennisetumpurpureum) merupakan rumput tropika yang tahan terhadap kekeringan. Keunggulan rumput ini diantaranya pertumbuhan cepat, palatabel dan produksi tinggi. Rumput gajah dapat dipanen umur 60 hari dengan tinggi 4,5 - 8 m. Jumlah produksi segar rumput Gajah sekitar 277 ton/ha/tahun. Kandungan nutriennya adalah 34,2% serat kasar dan 10,2% protein. Rumput BD (Brachiaria decumbens) adalah jenis rumput tahan injakan sehingga cocok sebagai rumput gembala. Keunggulan lain diantaranya tahan kekeringan, pertumbuhan cepat, dapat tumbuh pada lahan kritis. Kandungan nutriennya adalah 30 - 35% serat kasar dan 6 - 10% protein kasar. Produksi rumput pada musim kemarau biasanya akan mengalami penurunan. Leguminosa sering digunakan sebagai alternatif pakan pada musim ini. Salah satu leguminosa yaitu daun gamal sering digunakan sebagai pengganti hijauan. Daun gamal dapat bertahan pada musim kemarau. Konsumsi daun gamal pada ternak sapi yang digembalakan disajikan pada tabel berikut. Gambar 2. Konsumsi daun gamal pada musim kemarau Sumber: Tiro dan Usman (2015) Alternatif sumber pakan dari leguminosa pada musim kemarau lain yaitu indigofera. Indigofera memiliki lebih dari 700 spesies salah satunya adalah Indigofera zollingeriana. Tanaman ini mudah dibudidayakan, tumbuh pada lahan kering dan mengandung protein kasar tinggi. Rumput ini dipanen umur delapan
  • 16.
    bulan dengan totalproduksi sekitar 52 ton/ha (segar). Kandungan nutrisinya meliputi serat kasar 18,18%, NDF 34,13%, kadar protein 24,57%, ADF 28,85%, kalsium 1,59%, fosfor 0,22%, energi 2667 kkal/ kg. Nilai kecernaan Indigofera zollingeriana adalah kecernaan bahan kering (KCBK) 75,53% dan kecernaan bahan organik (KCBO) 76,02%. Kandungan anti nutrisi tanaman ini adalah saponin 0,41% dan tanin 0,08%. Alternatif pakan selanjutnya adalah daun singkong. Kandungan nutrisi daun singkong adalah 91,32% bahan kering, 10,9% Abu, 83% Lemak kasar, 18,50% Protein Kasar, 4, 44,80% bahan ekstrak tanpa nitrogen, 20,97% Serat Kasar, dan 60,77% total digestible nutrient. Kandungan anti nutrisi daun singkong adalah asam sianida 690,54 ppm. Jika daun singkong dimakan maka HCN akan dihidrolisis dalam usus kemudian ion CN masuk ke jaringan. Ion CN akan dieliminir di paru-paru. Jika ion CN melebihi ambang batas (melebihi 200 ppm) yang dapat dieliminasi oleh tubuh maka akan terjadi keracunan. Alfalfa (Medicago sativa) memiliki palabilias yang sangat tinggi karena rasanya yang enak. Kandungan nutrien alfalfa diantaranya abu 14,75%, kadar air 90,69%, serat kasar 29,24%, lemak kasar 3,08%, protein kasar 32,63%, Ca 1,14% dan P 0,92%. Alfalfa selain dapat dikembangkan dengn pols, biji, atau sobekan rumpun. Styloshanthes guianensis (Stylo) memiliki kandungan nutrien yaitu kadar air 76,63%, lemak kasar 1,51%, protein kasar 19,87%, serat kasar 32,27%, abu 10,98%, Ca 1,82% dan P 0,19%. Stylo dapat digunakan sebagai pakan kambing, domba, sapi, dan kerbau. Penggunaan Stylo sebagai pakan juga dapat diterapkan pada ternak non ruminansia dan ikan dalam benuk suplemen. Macam tanaman ini adalah Stylo segar, hay Stylo, dan tepung Stylo. Salah satu keunggulan tanaman ini adalah batang dan daun lembut baik dipanen pada saat muda maupun tua. Gamal (Gliricidia sepium) memiliki kandungan nutrien diantaranya kadar air 77%, serat kasar 30,83%, protein kasar 26,29%, abu 12,75%, lemak kasar 1,94%, Ca 2,00% dan P 0,35%. Cara penanaman gamal adalah dengan biji atau stek. Cara penanaman gamal menggunakan stek adalah dengan memotong batang
  • 17.
    tanaman kemudian menancapkanke tanah, stek akan tumbuh menjadi tanaman baru dengan membentuk akar baru. Desmodium rensonii dapat dibudidayakan secara generatif maupun vegetatif dan dapat dipanen setiap 1 bulan. Produksi berat kering Desmodium rensonii sekitar 139,9 g/tanaman. Tanaman dapat digunakan sebagai pakan pakan kambing, sapi, domba, kelinci dan babi. Kandungan nutriennya adalah protein kasar 23,16%, kadar air 83,63%, lemak kasar 0,88%, serat kasar 38,49%, abu 10,41%, Ca 1,9% dan P 0,39%. Desmodium rensonii juga dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Lamtoro (Leucaena leucocephala L) atau petai cina digunakan sebagai pakan ternak dan pencegah erosi. Lamtoro memiliki kadar protein yang tinggi (36,37%) dan kandungan pakan lain diantaranya serat kasar 21,00%, abu 8,31%, lemak kasar 0,66%, kadar air 76,63%, Ca 0,99% dan P 0,35%. Tanaman Turi atau dalam bahasa latin Sesbania grandiflora syn adalah leguminosa yang berakar dangkal, tumbuh cepat, dan memiliki kadar protein tinggi (27,59%). Kandungan lain bahan pakan ini adalah serat kasar 23,17%, abu 9,29%, kadar air 80,55%, lemak kasar 2,93%, Ca 1,49% dan P 0,31%. Anti nutrisi yang terkandung pada turi adalah saponin memerlukan proses pengolahan terlebih dahulu sebelum diberikan pada ternak. Pemberian pakan berupa biji-bijian dan hijauan berpengaruh pada profil asam lemak yang terbentuk pada daging sapi. Berikut disajikan data perbedaan kandungan asam lemak yang terbentuk pada ternak yang diberikan pakan bijian dan hijauan. Tabel 5. Perbedaan profil asam lemak daging sapi dengan pakan hijauan dan biji Jenis ternak Laurat Miristat Palmitat Stearat Arachidat Asam lemak jenuh Total lemak Crossbred Steers g/100 g lemak Hijauan 0.05 1.24* 18.42* 17.54* 0.25* 38.76 9.76* mg/g muscle
  • 18.
    Jenis ternak LauratMiristat Palmitat Stearat Arachidat Asam lemak jenuh Total lemak Biji 0.06 1.84* 20.79* 14.96* 0.19* 39.27 13.03* mg/g muscle Mixed cattle g/100 g lemak Hijauan 0.05 2.84* 26.9 17.0* 0.13* 48.8* 2.8* % dari muscle Biji 0.07 3.45* 26.3 13.2* 0.08* 45.1* 4.4* % dari muscle Angus X- bred steers % dari total asam lemak Hijauan nr 2.19 23.1 13.1* nr 38.4* 2.86* %IMF Biji nr 2.44 22.1 10.8* nr 35.3* 3.85* %IMF Angus steers mg/100 g muscle tissue Hijauan nr 56.9* 508* 272.8 nr 900* 2.12%* % dari muscle Biji nr 103.7* 899* 463.3 nr 1568* 3.61%* % dari muscle Simmental bulls % dari total lemak intramuskular Hijauan 0.04 1.82 22.56* 17.64* nr 43.91 1.51* % dari muscle Biji 0.05 1.96 24.26* 16.80* nr 44.49 2.61* % dari muscle Crossbred Steers % dari total asam lemak Hijauan nr 2.2 22.0 19.1 nr 42.8 2.7* % Biji nr 2.0 25.0 18.2 nr 45.5 4.7* %
  • 19.
    Jenis ternak LauratMiristat Palmitat Stearat Arachidat Asam lemak jenuh Total lemak Hereford steers % lemak antar intramuskular Hijauan nr 1.64* 21.61* 17.74* nr 49.08 1.68* % dari muscle Biji nr 2.17* 24.26* 15.77* nr 47.62 3.18* % dari muscle Sumber: Alfaia et al. (2009); Leheska et al. (2008); Garcia et al. (2008); Ponnampalam et al. (2006); Nuernberg et al. (2005); Descalzo et al. (2005); Realini et al. (2004) Keterangan: *menunjukkan perbedaan yang signifikan (P < 0.05), nr: not reported (tidak dilaporkan) Berdasar tabel di atas, daging sapi yang diberi pakan rumput memiliki profil asam lemak jenuh lebih rendah dibanding sapi yang diberi pakan biji-bijian. Daging sapi yang diberi pakan rumput cenderung mengandung total lemak yang lebih rendah. Hal ini menjadi pertimbangan penting bagi konsumen yang tertarik untuk mengurangi konsumsi lemak secara keseluruhan. Budidaya hijauan di Amerika Serikat dibagi menjadi dua kategori besar yaitu hijauan musim dingin (disesuaikan dengan wilayah) dan musim panas (hijauan terbaik disesuaikan dengan iklim tropis atau subtropis). hijauan musim dingin termasuk golongan orchardgrass, Kentucky bluegrass, dan ryegrass. Bermudagrass, bahiagrass, dallisgrass, dan jagung adalah hijauan musim panas. Spesies hijauan musim dingin umumnya memiliki kualitas lebih tinggi daripada musim panas. Kecernaan spesies rumput musim dingin rata-rata sekitar 9% lebih tinggi dari rumput musim panas. Rumput musim dingin memiliki kecernaan bahan kering di atas 80% selama 2 sampai 3 minggu pertama setelah inisiasi pertumbuhan di musim semi. Setelah itu, kecernaan menurun sebesar 1⁄3 menjadi 1⁄2 persentase unit per hari hingga mencapai level di bawah 50%.
  • 20.
    Level protein kasarminimum pada rumput ditemukan pada musim panas, lebih rendah dibandingkan yang dianalisa di musim dingin. Hijauan pada musim panas umumnya lebih keras. Hal ini dikarenakan terdapat perbedaan pada anatomi (susunan jaringan atau struktur) daun. Meskipun pada musim panas, sinar matahari membantu pertumbuhan hijauan menjadi lebih efisien daripada musim dingin akan tetapi proses ini menyebabkan lignifikasi. Kandungan lignin yang tinggi pada tanaman menyebabkan jaringan tanaman kuat sehingga kurang dapat dicerna. Tanaman yang tumbuh pada suhu tinggi umumnya menghasilkan kualitas yang lebih rendah. Hijauan pakan akan cenderung memiliki kualitas lebih rendah jika diproduksi di daerah yang panas dibanding pada daerah yang sejuk. Sebagai contoh, dalam pengamatan penanaman ryegrass yang tumbuh pada lingkungan dengan suhu 50 - 59 ° F mampu menghasilkan 59% daun. Hal ini sangat signifikan berbeda pada penanaman ryegrass pada suhu 68 - 77 ° F hanya dapat menghasilkan sebanyak 36% daun. Legum dan beberapa rumput seperti bermudagrass dapat berbunga beberapa kali setiap musim. Pola kualitas hijauan yang demikian tidak terikat oleh musim. Perbedaan legum dan rumput yakni legum umumnya memiliki kualitas lebih tinggi dibanding rumput. Hal ini disebabkan karena kacang-kacangan biasanya memiliki lebih sedikit serat dan nilai gizi yang lebih tinggi daripada rumput. Ternak ruminansia yang dipelihara pada padang rumput dapat berproduksi secara optimal jika padang rumput dikelola dengan baik. Pengelolaan padang rumput yang diintegrasikan dengan bahan baku lainnya, seperti semak legum atau azolla dapat memaksimalkan pemenuhan kebutuhan pakan ternak yang digembalakan. Padang rumput yang tidak baik dapat menyebabkan pertumbuhan ternak tidak optimal.
  • 21.
    Gambar 3. Contohpadang penggembalaan yang baik Sumber: Lindquist (2019) Gambar 4. Contoh padang penggembalaan yang tidak baik (ternak kurus) Sumber: Mikkelson (2017) Penanaman rumput yang bersamaan dengan legum pada satu kawasan mampu meningkatkan nilai nutrisi rumput. Campuran rumput-legum umumnya menghasilkan rumput dengan komposisi serat yang lebih rendah dan protein kasar lebih tinggi dibanding penanaman rumput tunggal. Di Georgia, campuran dari tujuh legum dengan bermudagrass (tanpa pupuk nitrogen) menghasilkan bermudagrass dengan kandungan protein berkisar 11 - 13%. Hal ini lebih efisien
  • 22.
    dibandingkan dengan bermudagrassyang ditanam dengan pemupukan nitrogen sebanyak 90 pon / are dengan hasil akhir kandungan protein kasar tanaman sebesar 11%. Pemupukan dengan nitrogen secara substansial dapat meningkatkan produksi dan juga umumnya meningkatkan level protein kasar tanaman hijauan. Dalam satu penelitian, pemupukan nitrogen pada switchgrass dengan 70 pound / are dapat meningkatkan kandungan protein kasar dari 5,3 menjadi 6,4%. Pemupukan biasanya tidak berpengaruh pada nilai kecernaan hijauan. Pemupukan dengan fosfor (P), kalium (K), atau nutrisi lain dengan tujuan meningkatkan produksi dapat mengurangi kualitas hijauan ketika pertumbuhan tanaman menjadi lebih cepat. Kandungan kalium yang berlebih dalam beberapa kasus dapat mengurangi ketersediaan unsur-unsur lain seperti magnesium (Mg) dalam tanaman. 4. Forum Diskusi Berapa kandungan protein dan TDN konsentrat yang perlu ditambahkan untuk memenuhi kebutuhan sapi Bali bunting dengan berat 300 kg jika tersedia daun lantoro dan rumput Benggala. Sapi diberikan pakan 70% rumput benggala dan 30% daun lantoro. (Cari kandungan nutrisi rumput benggala dan daun lantoro pada hasil penelitian/ jurnal 10 tahun terakhir). C. PENUTUP 1. Rangkuman a. Nutrisi yang tepat pada penggemukan sapi merupakan kunci utama dalam sistem produksi untuk menghasilkan produksi daging yang optimal, efisiensi produksi dan keuntungan yang memadai. b. Kandungan nutrisi pakan berkaitan erat dengan jumlah konsumsi pakan, kecernaan pakan dan retensi pakan.
  • 23.
    c. Kualitas hijauanpakan dapat dinilai secara visual/organoleptik, diantaranya jumlah bunga yang mekar, kekakuan daun dan batang, tekstur, tebal daun, warna, serta bau. d. Kandungan nutrisi hijauan diperlukan untuk mengetahui kualitas hijauan secara kuantitatif dan digunakan saat menentukan komposisi ransum atau complete feed. e. Persyaratan nutrisi diantaranya kecukupan ternak akan kebutuhan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan air. f. Kandungan energi dan protein sangat penting bagi pakan ternak dalam penyusunan ransum ternak. Idealnya, energi dan protein harus pada persyaratan optimal. g. Pengujian mutu dan keamanan pakan ditetapkan pada Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 22/Permentan/Pk.110/6/2017. h. Penyusunan ransum seimbang dilakukan dengan langkah-langkah diantaranya menghitung kebutuhan ternak, mencari data kandungan nutrien bahan pakan yang akan digunakan, penyusunan formula ransum, dan pencampuran bahan pakan. i. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hijauan diantaranya palatabilitas, jumlah konsumsi pakan, kecernaan pakan, kandungan nutrisi, faktor anti nutrisi, faktor sekunder, dan faktor lain. j. Kandungan nutrisi pakan selain dipengaruhi oleh umur saat panen, juga dipengaruhi oleh jarak tanam dan wilayah tempat penanaman. k. Jenis hijauan pakan terdiri dari legum dan rumput. Legum merupakan tanaman yang membentuk polong. Rumput merupakan tanaman yang biasanya memiliki daun sempit; berongga, batang bersendi, dan bunga. l. Pada musim kemarau, leguminosa dapat digunakan sebagai alternatif pengganti hijauan. m. Pemberian pakan berupa biji-bijian dan hijauan berpengaruh pada profil asam lemak yang terbentuk pada daging sapi. Daging sapi yang diberi pakan rumput memiliki profil asam lemak jenuh lebih rendah dibanding dengan sapi yang diberi pakan biji-bijian.
  • 24.
    n. Budidaya hijauandi Amerika Serikat dibagi menjadi dua kategori besar yaitu hijauan musim dingin (disesuaikan dengan wilayah) dan musim panas (hijauan terbaik disesuaikan dengan iklim tropis atau subtropis). o. Ternak ruminansia yang dipelihara pada padang rumput dapat berproduksi secara optimal jika padang rumput dikelola dengan baik. Penanaman rumput yang bersamaan dengan legum pada satu kawasan mampu meningkatkan nilai nutrisi rumput. p. Leguminosa memiliki ciri khas yakni adaptif, daun seperti kupu-kupu, tumbuh merambat dan berbentuk pohon, merupakan tanaman dikotilledon (berkeping dua) dengan sistem perakaran tumbuh jauh kedalam tanah dan bercabang. q. Ciri rumput yang baik adalah memiliki palatabilitas yang tinggi, daun berwarna hijau segar, dipanen sebelum berbunga, ditanam pada tanah yang tidak gersang. Daftar Pustaka Alfaia CPM, Alves SP, Martins SIV, Costa ASH, Fontes CMGA, Lemos JPC, Bessa RJB, Prates JAM. 2009. Effect of feeding system on intramuscular fatty acids and conjugated linoleic acid isomers of beef cattle, with emphasis on their nutritional value and discriminatory ability. Food Chemistry. 114: 939-46. 10.1016/j.foodchem. 2008.10.041. Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Pakan (BPMSP). 2015. http://biblembang.ditjenpkh.pertanian.go.id/read/146/tanaman-legum- sebagai-sumber-protein-hijau-untuk-pejantan. Diakses pada 29 Oktober 2019. Budiman, Sutrisno RD, Budhi SPS, Indrianto A. 2012. Morphological characteristics, productivity and quality of three napier grass (Pennisetum purpureum Schum) cultivars harvested at different age. J Indonesian Trop Anim Agric. 37:294-301. Budiman. 2012. Study of morphological development at vegetative and reproductive phases of three elephant grass (Pennisetum purpureum Schum) cultivars [Disertation]. [Yogyakarta, Indonesia]: Universitas Gadjah Mada. Daley, C.A., Abbott, A., Doyle, P.S., Nader, G.A. and Larson, S., 2010. A review of fatty acid profiles and antioxidant content in grass-fed and grain-fed beef. Nutrition journal, 9(1), p.10. Descalzo AM, Insani EM, Biolatto A, Sancho AM, Garcia PT, Pensel NA, Josifovich JA. 2005. Influence of pasture or grain-based diets supplemented
  • 25.
    with vitamin Eon antioxidant/oxidative balance of Argentine beef. Journal of Meat Science. 70: 35-44. 10.1016/j.meatsci.2004.11.018. Garcia PT, Pensel NA, Sancho AM, Latimori NJ, Kloster AM, Amigone MA, Casal JJ. 2008. Beef lipids in relation to animal breed and nutrition in Argentina. Meat Science. 79: 500-8. 10.1016/j.meatsci.2007.10.019. Halim MRA, Samsuri S, Bakar IA. 2013. Yield and nutritive quality of nine Napier grass varieties in Malaysia. Malaysian J Anim Sci. 16:37-44. Herdiawan I dan R. Krisnan 2014. Produktivitas dan Pemanfaatan Tanaman Leguminosa Pohon Indigofera zollingeriana pada Lahan Kering. WARTAZOA 24 (2): 75-82. Herdiawan I. 2013. Pertumbuhan Tanaman Pakan Ternak Leguminosa Pohon Indigofera zollingeriana pada berbagai Taraf Perlakuan Cekaman Kekeringan. JITV. 18: 258-264. Hutasoit R, Sirait J, Ginting SP. 2009. Budidaya dan pemanfaatan Brachiaria ruziziensis (rumput ruzi) sebagai hijauan pakan kambing. Bogor (Indonesia): Puslitbangnak. Kearl, L.C. 1982. Nutrition Requirement of Ruminant in Developing Countries. Utah State University Logah. USA. Langi PR. 2014. Pengaruh pemberian pupuk mikoriza terhadap kandungan protein kasar dan serat kasar rumput gajah mini dan rumput benggala [Skripsi]. [Makassar (Indonesia)]: Universitas Hasanuddin. Leheska JM, Thompson LD, Howe JC, Hentges E, Boyce J, Brooks JC, Shriver B, Hoover L, Miller MF. 2008. Effects of conventional and grass-feeding systems on the nutrient composition of beef. Journal Animal Science. 86: 3575-85. 10.2527/jas.2007-0565. Lindquist, K. 2019. How to Feed Cattle. https://www.wikihow.com/Feed-Cattle. Diakses pada 24 Oktober 2019. Mikkelson K. 2017. Feed Options for Ruminants in the Tropics. ECHO Asia Note Articles. Mislah, A., Suharti, S. and Wijayanti, I., 2018. Karakteristik produk dan efektivitas enkapsulasi bakteri pendegradasi asam sianida (HCN). Jurnal Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, 16(2), pp.20-26. Munasik M, Sutrisno CL, Anwar S, Prayitno CH. 2012. The growth, yield and quality of elephant grass (Pennisetum purpureum) spesific tolerant of acid soils by mutagenesis of ethylmethana sulfonate. Anim Prod. 14:87-91. Novita M. 2015. Isolasi, identifikasi, dan karakterisasi serta inokulasi bakteri pendegradasi sianida dari cairan rumen kambing peranakan etawa secara in vitro [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Nuernberg K, Nuernberg G, Ender K, Lorenz S, Winkler K, Rickert R, Steinhart H. 2002. Omega-3 fatty acids and conjugated linoleic acids of longissimus
  • 26.
    muscle in beefcattle. European Journal of Lipid Science Technology. 104: 463-71. 10.1002/1438-9312(200208)104:8<463::AID-EJLT463>3.0.CO;2- U. Nurlaily RF. 2017. Karakteristik fermentasi dan populasi mikroba rumen domba yang diinokulasi bakteri pendegradasi HCN serta sulfur pada pakan mengandung daun singkong pahit (Manihot glaziovii) [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Oktafiani H. 2017. Performa dan kecernaan nutrien pada domba yang diberi tepung daun singkong pahit (Manihot esculenta) dan bakteri pendegradasi HCN [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Ponnampalam EN, Mann NJ, Sinclair AJ. 2006. Effect of feeding systems on omega-3 fatty acids, conjugated linoleic acid and trans fatty acids in Australian beef cuts, potential impact on human health. Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition. 15 (1): 21-9. Realini CE, Duckett SK, Brito GW, Rizza MD, De Mattos D. 2004. Effect of pasture vs. concentrate feeding with or without antioxidants on carcass characteristics, fatty acid composition, and quality of Uruguayan beef. Meat Science. 66: 567-77. 10.1016/S0309-1740(03)00160-8. Rengsirikul K, Ishii Y, Kangvansaichol K, Sripichitt P, Punsuvon V, Vaithanomsat P, Nakamanee G, Tudsri S. 2013. Biomass yield, chemical composition and potential ethanol yields of 8 cultivars of napiergrass (Pennisetum purpureum Schumach) Harvested 3-monthly in Central Thailand. J Sustain Bioenergy Syst. 3:107-112. Rukmana R. 2005. Rumput unggul hijauan makanan ternak. Yogyakarta (Indonesia): Kanisius. Sirait J, Purwantari ND, Simanihuruk K. 2005. Produksi dan serapan nitrogen rumput pada naungan dan pemupukan yang berbeda. JITV. 10:175-181. Sirait J, Tarigan A, Simanihuruk K. 2014. Produksi dan nilai nutrisi rumput gajah kerdil (Pennisetum purpureum cv. Mott) pada jarak berbeda di dua kabupaten di Sumatera Utara. Sei Putih (Indonesia): Loka Penelitian Kambing Potong. (unpublished) Sirait, J., Tarigan, A. and Simanihuruk, K., 2017. Rumput Gajah Mini (Pennisetum purpureum cv. Mott) sebagai Hijauan Pakan untuk Ruminansia. Wartazoa, 27(4), pp.167-176. Tekletsadik T, Tudsri S, Juntakool S, Prasanpanich S. 2004. Effect of dry season cutting management on subsequent forage yield and quality of ruzi (Brachiaria ruziziensis) and dwarf napier (Pennisetum purpureum L) in Thailand. Kasetsart J (Nat Sci). 38:457-467. Tiro BMW dan Usman. 2015. Pengaruh Suplementasi Hijauan Gamal dan Dedak Padi terhadap Bobot Sapi Musim Kemarau. Jurnal Pertanian Agros, 17(1), pp.103-112.
  • 27.
    Umiyasih dan YN,Angraeny. 2017. Petunjuk Teknis Ransum Seimbang, Strategi Pakan pada Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian.Grati. Yassin M, Malik MA, Nazir MS. 2003. Effect of different spatial arrangements on forage yield, yield components and quality of mott elephant grass. J Agron. 2:52-58.