28
BAB III
PELAKSANAAN RENCANA TINDAK LANJUT (RTL)
A. Pelaksanaan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK)
Calon kepala sekolah dalam pelaksanaan kegiatan On The Job
Learning (OJL) dituntut untuk melaksakan rencana tindak kepemimpinan.
Pada kesempatan ini penulis melaksankan Rencana Tindak kepemimpinan
(RTK) yaitu “Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menyusun RPP
Melalui IHT di SD Negeri 1 Pamoyanan” yang dihadiri oleh 15 orang sebagai
narasumber dalam kegiatan tersebut diantaranya kepala sekolah dan guru
yang telah mengikuti cara-cara penyusunan RPP.
Pelaksanaan diawali dengan penyampaian materi secara umum,
mengulas sekilas tentang kurikulum K-13 menyampaikan pentingnya
kepemilikan perangkat pembelajaran mulai dari program, program tahunan,
program semester, dan RPP sesuai dengan kurikulum K-13 kemudian
dilanjutkan dengan menyusun perangkat pembelajaran oleh guru karena
waktu terbatas dilanjutkan di rumah masing-masing, berikut ini penulis uraian
hasil tindak kepemimpinan dalam dua siklus.
1. Siklus 1
a. Persiapan
Diawali dengan berdiskusi dengan kepala sekolah mengenai
pentingnya RPP oleh semua guru sebagai pedoman dalam kegiatan proses
belajar mengajar. Salah satunya Meningkatkan Kemampuan Guru dalam
Menyusun RPP Melalui IHT yang diselenggarakan di sekolah. Hasil diskusi
dengan kepala sekolah memutuskan untuk diselenggarakannya sosialisasi
program On the Job Learning (OJL) bagi calon kepala sekolah pada hari
Selasa tanggal 24 Juli 2018 pukul 10.00 pada jam istirahat.
Melalui sosialisai program On the Job Learning (OJL) bagi calon
kepala sekolah tahun 2018 dihadiri oleh seluruh guru melalui sosialisasi
29
diharapkan para guru akan mendukung dan akan memberikan bantuan kepada
calon kepala sekolah untuk melakukan On the Job Learning (OJL).
b. Pelaksanaan
Rencana tindak kepemimpinan yaitu “Meningkatkan Kemampuan
Guru dalam Menyusun RPP Melalui IHT di SD Negeri 1 Pamoyanan” yang
dihadiri oleh 15 orang sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut
diantaranya kepala sekolah dan guru yang telah mengikuti cara-cara
penyusunan RPP.
Pelaksanaan diawali dengan penyampaian materi secara umum,
mengulas sekilas tentang kurikulum K-13 menyampaikan pentingnya
kepemilikan perangkat pembelajaran mulai dari program, program tahunan,
program semester, dan RPP sesuai dengan kurikulum K-13 kemudian
dilanjutkan dengan menyusun perangkat pembelajaran oleh guru karena
waktu terbatas dilanjutkan di rumah masing-masing.
c. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dilaksanakan untuk mengukur tingkat keberhasilan dari
kegiatan pembuatan RPP diawali dengan kepemilikan perangkat
pembelajaran dalam hal ini RPP K-13. Kegiatan monitoring dan evaluasi
/melibatkan kepala sekolah dan guru senior instrumen monitoring terlampir.
Instrumen monitoring dan evaluasi diberikan setelah kegiatan berlangsung.
Kepada kepala sekolah untuk mengisi instrumen siklus 1 berkaitan dengan
calon kepala sekolah dalam menyiapkan kegiatan dengan kemampuan guru
sebagai peserta dalam kegiatan pembuatan RPP melalui IHT.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil perhitungan dan instrumen monitoring dan
evaluasi yang dilakukan calon kepala sekolah pada siklus 1 sebagai berikut :
44
52
x 100% = 84,61% kategori B (Baik)
30
dengan /menggunakan kreteria sebagai berikut :
ANGKA HURUP KETERANGAN
86 – 100 A Sangat Baik
71 – 85 B Baik
56 – 70 C Cukup
< 55 D Kurang
Hal ini calon kepala sekolah mempersiapkan perencanaan kegiatan
pembuatan RPP dan dapat menyampaikan materi dengan baik. Sedangkan
hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan calon kepala sekolah terhadap
guru-guru dalam menyusun RPP dengan mengisi instrumen monev dan
menilai RPP yang telah dibuat guru tersebut. berdasarkan hasil instrumen
monev perhitungan sebagi berikut.
Tabel 3.1
Rekapitulasi Hasil Monitoring dan Eavalasi Penyusunan RPP siklus 1
No Nama Guru
No Instrumen Jm
l
Skor
(%)1 2 3 4 5 6 7 8
1 Cicah Sunarsih, S.Pd 4 4 4 4 4 3 3 3 29 90,62
2 Hodijah, S.Pd 4 4 4 3 4 3 3 3 28 87,50
3
Ujang Nanang
Wahyudin, S.Ag
4 4 3 3 3 3 3 3 26 81,25
4 Neng Mulyasari, S.Pd 4 3 3 3 3 2 3 3 24 75,00
5 Endi Suhendi, S.Pd 4 2 3 3 3 2 2 3 22 68,75
6 Tuti Komariah, S.Pd 4 2 3 3 3 2 2 3 22 68,75
7 Neng Mulyasari, S.Pd. 4 3 2 2 3 2 2 3 21 65,62
31
Kriteria nilai yang digunakan adalah :
ANGKA HURUP KETERANGAN
86 – 100 A Sangat Baik
71 – 85 B Baik
56 – 70 C Cukup
< 55 D Kurang
Berdasarkan hasil penilaian terhadap RPP yang telah dibuat guru,
dapat disimpulkan bahwa dari 7 orang guru terdapat 2 orang guru
memperoleh nilai diatas 86 dengan ketegori (A), 2 orang guru memperoleh
nilai diatas 71 dengan kategori (B), dan 3 orang guru yang masih mendapat
nilai di bawah 70 dengan ketegori (C).
Sebagai tindak lanjut maka ketiga orang guru tersebut diberikan
pendampingan oleh calon kepala sekolah dalam menyusun RPP untuk
mempersiapkan perbaikan di siklus 2.
2. Siklus 2
a. Persiapan
Merenungi dan mengamati setiap tahapan yang telah dilaksanakan
dalam pembuatan RPP siklus 1. Bersama guru mudah untuk
menyempurnakan, mendiskusikan dengan guru mengenai hal-hal yang harus
ditingkatkan dalam kegiatan menigkatkan guru dalam menyusun RPP melalui
IHT di sekolah.
Hasil diskusi dengan rekan guru, kepada guru senior dan kepada
kepala sekolah diminta pendampingan kembali menentukan jadwal.
b. Pelaksanaan
Melakukan kegiatan kepada guru mengenai hal-hal yang harus
diperbaiki kegiatan pendampingan dilakukan oleh calon kepala sekolah
dibantu oleh pengawas. Pendampingan dilaksanakan tanggal 28 Juli 2018.
32
Calon kepala sekolah melakukan observasi kegiatan pendampingan
berlangsung.
c. Monitoring
Monitoring dilakukan melalui observasi kegiatan yang melibatkan
guru senior dan kepala sekolah. Instrumen monitoring dilakukan setelah
kegiatan berlangsung untuk mengisi siklus-siklus calon kepala sekolah
mengisi instrumen yang berkaitan dengan penyusunan RPP di siklus 1
d. Refleksi
Berdasarkan hasil instrumen monitoring yang dilakukan terhadap
calon kepala sekolah oleh kepala sekolah pada siklus 2. Hal ini merupakan
bahwa calon kepala sekolah dapat memmbimbing melalui 7 (tujuh) orang
guru.
Berdasarkan hasil penilai instrumen diperoleh sebagi berikut :
47
52
X 100% = 90,38 kategori A (Sangat Baik)
Hal ini menunjukan bahwa calon kepala sekolah dapat membimbing
melalui pendampingan terhadap 3 (tiga) orang guru yang masih memiliki
kekurangan dalam membuat RPP.
Sedangkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan calon
kepala sekolah terhadap guru-guru dalam menyusun RPP mengisi instrumen
monev dan menilai kembali instrumen monev tersebut diperoleh perhitungan
sebagai berikut:
Tabel 3.2
Rekapitulasi Hasil Monitoring dan Eavalasi Penyusunan RPP siklus 2
No Nama Guru
No Instrumen
Jml
Skor
(%)1 2 3 4 5 6 7 8
1
Cicah Sunarsih,
S.Pd
4 4 4 4 4 3 3 3 29 90,62
2 Hodijah, S.Pd 4 4 4 3 4 3 3 3 28 87,50
33
3
Ujang Nanang
Wahyudin, S.Ag
4 3 3 3 3 3 4 3 26 81,25
Kriteria nilai yang digunakan adalah :
ANGKA HURUP KETERANGAN
86 – 100 A Sangat Baik
71 – 85 B Baik
56 – 70 C Cukup
< 55 D Kurang
Berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan setelah mengisi dan
menghitung instrumen monitoring dan evaluasi pada guru dalam mereviu
RPP pada siklus 2 melalui kegiatan pendampingan dapat disimpulkan bahwa
ternyata memperoleh hasil yang sangt memauskan, artinya ketiga orang guru
telah dapat memperbaiki yang kurang dalam membuat RPP.
B. Supervisi Guru Junior
Salah satu tugas kepala sekolah adalah melaksanakan supervisi
akademik membantu guru dalam mengembangkan kemampuan pengelola
pembelajaran. Spervisi akademik merupakan kegiatan terencana, terpola
dalam terprogram, merubah prilaku guru, menigaktakan kualitas pendidikan.
Supervisi akademik dilakukan calon kepala sekolah antara lain :
a. Membimbing guru memilih menggunakan strategi/metoda/teknik dapat
mengembangkan berbagai potensi.
b. Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran
bimbingan di kelas.
c. Membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan
menggunakan pasilitas pembelajaran.
d. Memotifasi guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan terperinci
dan terarah.
34
Sasaran utama supervisi akademik adalah kemapuan guru dalam
merencanakan kegiatan pembelajaran. Menciptakan lingkungan pembelajaran
yang menyenangkan, memanfaatkan sumber pembelajaran yang ada.
 Tujuan supervisi guru junior bagi calon kepala sekolah :
1. Mengembangkan kompetensi akademik
2. Melatih kemampuan melaksanakan supervisi.
3. Melatih kemampuan mengidentifikasi permasalah guru junior, dalam
rangka meningkatkan mutu proses hasil pembelajaran.
4. Membantu guru dalam mengambangkan kompetensi guru meningkatkan
kualitas pembelajaran.
5. Membantu guru junior mengembangkan kurikulum silabus dan RPP.
 Hasil yang diharapkan dari supervisi guru junior:
- Mampu mengembangkan kompetensi perencanaan supervisi.
- Melaksanakan supervisi akademik.
- Mampu melaksanakan tindak lanjut dalam rangka menigkatkan hasil
pembelajaran.
1. Siklus 1
a. Perencanaan
Sebelum melaksanakan kegiatan observasi guru junior, calon kepala
sekolah melakukan hal-hal berikut :
a. Meningkatkan pengetahuan supervisi akademik; dengan membaca modul
tentang sipervisi akademik.
b. Melakukan wawancara dengan kepala sekolah tentang supervisi akademik.
c. Menyusun program, membuat jadwal, membuat istrumen perencanaan
kegiatan pembelajaran, instrumen observasi kelas, daftar pernyataan
setelah observasi, dan instrumen tindak lanjut supervisi akademik.
Penulis memutuskan guru junior yang akan disupervisi adalah :
Neng Mulyasari, S.Pd.mengajar di kelas II.
35
b. Pelaksanaan
Kegiatan supervisi akademik meliputi tiga tahapan kegiatan yaitu :
1). Pra observasi dalam tahapan ini guru diberitahu dan dinyatakan
kesiapannya untuk disupervisi oleh kepala sekolah atau guru senior, setelah
ada kesepakatan jadwal, guru diminta untuk mengisi format pra observasi
yang harus diisi, dan memberikan RPP yang akan digunakan pada saat
disupervisi. Supervisor dalam hal ini kepala sekolah atau guru senior
menelaah RPP yang telah diberikan oleh guru yang akan disupervisi.
2). Observasi, sesuai dengan jadwal yang telah disepakati kegiatan
supervisipun dilakukan. Calon kepala sekolah selaku guru senior yang
ditunjuk melakukan supervisi terhadap 7 (tujuh) orang guru, namun untuk
kegiatan pelaporan On the Job Learning (OJL) calon kepala sekolah hanya
memaparkan observasi terhadap 1 (satu) orang guru junior saja yaitu : Neng
Mulyasari, S.Pd.guru kelas II disupervisi pada hari Rabu tanggal 29 Juli tahun
2018 jam kesatu dan kedua di kelas IV. Pendahuluan pembelajaran diawali
dengan mengucapkan salam dan berdoa sebelum pembelajaran dimulai, lalu
guru mengabsen kehadiran siswa dan menyampaikan tujuan pembelajaran.
Kegiatan inti menyampaikan informasi yang akan dipelajari. Kemudian
peserta didik diminta untuk mengolah dan menganalisis hasil gambar
pengamatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pada LKS setelah selesai
mengisi LKS. Mempersentasikan hasil percobaan dan pengamatan. Kegiatan
penutup diakhiri dengan menyimpulakan materi yang telah disampaikan.
3). Pasca observasi, setelah observasi dilakukan kegiatan refleksi
secara singkat dengan guru junior dengan ditanya bagaimana perasaan/kesan
guru junior tersebut setelah melakukan proses pembelajaran yang diamati
oleh calon kepala sekolah, lalu calon kepala sekolah memberikan pujian
terhadap hal-hal yang sudah baik yang dilakukan oleh guru junior selama
proses pembelajaran, setelah itu guru junior diberi instrumen format 3 (pasca
observasi)
36
c. Hasil dan Tindak Lanjut
Tindak lanjut dan hasil, setelah mengisi instrumen pasca observasi
calon kepala sekolah memperlihatkan hasil penilaian format 1 tentang
instrumen Perencanaan Kegiata Pembelajaran, untuk Neng Mulyasari, S.Pd
Hasil menunjukan guru junior memperoleh nilai 34. Dimasukan
dalam perhitungan maka perolehannya adalah :
34
44
X 100 % = 77,27% = B (Baik).
Dalam format 2 instrumen observasi kelas, Neng Mulyasari, S.Pd.
memperoleh nilai 54, dimasukan dalam menghitung maka memperolehnya
adalah:
54
68
x 100% = 79,41% = B (Baik)
Untuk observasi kelas calon kepala sekolah menyarankan untuk
mendorong peserta didik untuk memanfaatkan TIK, diakhir pembelajaran
guru junior tidak lupa menyampaikan pemberian tugas pada pertemuan
berikutnya.
Setelah mengisi format 3 calon kepala sekolah bersama guru junior
mendiskusikan hal-hal yang perlu ditingkatkan untuk perbaikan dalam
supervisi siklus 2 nanti sebagai tindak lanjut.
Kesimpulan hasil observasi guru junior siklus 1 adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1
Hasil observasi guru junior siklus 1
No Nama Guru Junior
Format 1 Format 2
Angka Huruf Angka Huruf
1 Neng Mulyasari, S.Pd. 77,27 B 79,41 B
37
2. Siklus 2
a. Perencanaan
Mendiskusikan jadwal untuk supervisi berikutnya, kapan kesediaan
dari guru junior tersebut, hasil berdiskusi dengan Neng Mulyasari, S.Pd.
menyepakati untuk melakukan sepervisi berikutnya di siklus 2 pada hari
Kamis tanggal 30 Juli 2018
b. Pelaksanaan
1). Pra observasi, sebelumnya guru junior diberi instrumen pra
observasi untuk diisi, baru setelah itu dilakukan observasi untuk guru junior.
2). Observasi, dilaksanakan sebagai berikut : Neng Mulyasari, S.Pd.
pada saat observasi proses pembelajaran guru junior terlihat lebih baik dalam
mempresiapkan pembelajaran, baik dari segi penyampaian materi. Pada
kegiatan penutup guru junior juga menyampaikan materi dan memberikan
tugas untuk pertemuan berikutnya.
3). Pasca Observasi setelah observasi, seperti halnya pada siklus 1
guru junior diberi pertanyaan bagaimana perasaan/kesan setelah melakukan
proses pembelajaran tadi yang diamati oleh calon kepala sekolah lalu calon
kepala sekolah memberikan pujian terhadap hal-hal yang sudah baik yang
dilakukan guru junior selama proses pembelajaran, setelah itu guru junior
diberi instrumen format 3 (pasca observasi), setelah mengisi instrumen format
3 guru junior diperlihatkan hasil penilaian format 1 dan format 2.
c. Hasil dan Tindak Lanjut
Hasil penilaian untuk Neng Mulyasari, S.Pd.pada siklus 2 untuk
format 1 Instrumen Perencanaan Kegiatan Pembelajaran diperoleh nilai skor
40, dimasukan dalam perhitungan maka diperoleh :
40
44
x 100% = 90,90% = A (Baik Sekali)
Dari pengamatan pada siklus 1 dan siklus 2, untuk guru junior a.n
Neng Mulyasari, S.Pd. pada peningkatan untuk perencanaan kegiatan
pembelajaran, ini diperlihatkan dengan adanya peningkatan perolehan nilai
38
skor (77,27%) menjadi (90,90%) dari klasifikasi B (Baik) menjadi klasifikasi
A (Baik sekali), dan untuk kegiatan observasi kelas diperoleh nilai skor 62,
dimasukan dalam perhitungan diperoleh :
62
68
x 100% = 91,17% = A (Baik Sekali)
Dari pengamatan siklus 1 dan siklus 2, untuk guru junior a.n Neng
Mulyasari, S.Pd. pada observasi kelas ada peningkatan yang signifikan, yaitu
dari 79,41% menjadi 91,17% dari klasifikasi B (Baik) menjadi klasifikasi A
(Baik Seklai)
Kesimpulan hasil observasi guru junior siklus 2 adalah sebagai
berikut :
Hasil observasi guru junior siklus 2
No Nama Guru Junior
Format 1 Format 2
Angka Hurup Angka Hurup
1 Neng Mulyasari, S.Pd 90,90 A 91,17 A
Dari hasil wawancara dengan keduanya terlihat ada kepuasan,
walaupun belum sempurna, bahkan setelah kegiatan ini guru junior lebih
antusias agar program supervisi ini berkesinambungan, dengan supervisi
akademik guru junior merasakan adanya manfaat yang mereka rasakan, a)
dalam penyusunan RPP, b) pelaksanaan proses pembelajaran. Sehingga dapat
menigkatan kompetensi mereka.
C. Penyusunan Perangkat Pembelajaran
1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Penyusunan perangkat pembelajaran merupakan hal penting yang
harus dilakukan oleh guru sebelum pelaksanaan proses pembelajaran.
Perangkat pembelajaran meliputi : 1). Analisa keterkaitan Standar
Kompotensi dengan Kompetensi Dasar, serta Indikator Pencapaian
Kompetensi, 2) Silabus, 3) program tahunan, dan 5) RPP.
39
Calon kepala sekolah juga adalah seorang guru karenanya dalam
menjalankan kewajibannya sebagai seorang guru, calon kepala sekolah juga
dituntut untuk menyusun RPP sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya.
Bahkan karena calon kepala sekolah adalah calon pemimpin yang sedang
dilatih, ia harus lebih memahami dan memberikan contoh kepada rekan guru
lainnya dalam menyusun perangkat pembelajaran.
Tahap awal dalam pembelajaran yaitu menyusun perencanaan
pembelajaran yang diwujudkan yaitu pembuatan perencanaan pembelajaran
yang diwujudkan dengan kegiatan pembuatan rencana pembelajaran (RPP).
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan
pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP
dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta
didik dalam upaya pencapaian Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada
satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan
sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk
berpartisifasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreatifitas dan kemadirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan
fisik serta fsikologis peserta didik. RPP disusun berdasarkan Kompetensi
Dasar (KD) atau sub topik yang dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau
lebih.
Pengembangan RPP dapat dilakukan oleh guru secara mandiri
dan/atau kelompok di sekolah/madrasah dikoordinasi, dipasilitasi, dan
disupervisi oleh kepala sekolah/madrasah atau guru senior yang ditunjukan
oleh kepala sekolah.
RPP mencakup : 1). Data sekolah, mata pelajaran, dan
kelas/semester, Alokasi waktu 2). Standar Kompetensi (SK) 3). Kompetensi
Dasar (KD) 4). Indikator 5). Tujuan Pembelajaran 6). Materi Ajar 7). Metoda
Pembelajaran 8). Langkah-langkah Pembelajaran. 9). Alat dan Sumber
Belajar. 10). Penilaian. Dalam laporan On the Job Learning (OJL) ini calon
kepala sekolah juga menyusun RPP sesuai dengan mata pelajaran yang
40
diampu. Sebagai langkah awal dalam menyusun RPP adalah penulisan data
sekolah, mata pelajaran, dan kelas/semester, alokasi waktu. Dan sesuai
dengan program semester yang telah dibuat sebelumnya, bertepatan dengan
materi ajar “Perkembangan Sistem administrasi wilayah Indonesia” alokasi
waktu 2 x 35 menit ( 2 jam pelajaran )
Penentuan SK dan KD diambil dari silabus untuk penentuan
indikator disesuaikan dengan SK, KD dan cakupan materi yang akan
disampiakan. Alat dan sumber belajar juga disesuaikan dengan kondisi
dilapangan, dimana di sekolah kami berapa guru telah memanfaatkan TIK
dalam penyampaian proses pembelajaran. Untuk langkah-lankah
pembelajaran diawali dengan pendahuluan (memberi salam, mengecek
kehadiran peserta didik, menyampaikan tujuan pembelajaran) pendahuluan
diperkirakan 10 menit. Dilanjutkan dengan kegiatan inti, berkaitan dengan
kegiatan inti.
Peserta didik mengumpulkan informasi untuk menjawab salah satu
pertanyaan yang telah dirumuskan dengan membaca bahan ajar, juga dari
buku sumber lain yang relevan dengan materi yang disampaikan, setelah
mendapat jawaban dari berbagai sumber, kemudian peserta didik diminta
untuk merumuskan secara tertulis, selam peserta didik melakukan kegatan ini
guru dapat melakukan penilaian sikap, peserta didik bersama guru membuat
kesimpulan atas jawaban dari pertanyaan (kegiatan ini berlangsung kurang
lebih selama 50 menit). Dilanjutkan dengan kegiatan penutup dengan
memberikan kesempatan kepada peserta didik bila ada hal yang belum
dipahami guru memberikan penjelasan atas pertanyaan yang disampiakan
peserta didik, peserta didik diberi pertanyaan lisan untuk mengetahui sejauh
mana tujuan pembelajaran dapat diserap peserta didik.
2. Bahan Ajar
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk
membantu guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bahan yang
dimaksud berupa tertulis maupun tidak tertulis.
41
Jenis-jenis bahan ajar dapat dibedakan atas beberapa kriteria
pengelompokan. Menurut Koesnandar (2008), jenis bahan ajar berdasarkan
subjeknya terdiri dari dua jenis, yaitu : a) Bahan ajar yang sengaja dirancang
untuk belajar seperti buku, LKS. b) Bahan ajar yang dirancang dapat
dimanfaatkan untuk belajar menyatakan bahwa jika ditinjau dari fungsinya
maka bahan ajar yang dirancang terdiri atas 3 kelompok, yaitu : bahan ajar
persentasi, bahan referensi, dan bahan belajar mandiri.
Pengembangan bahan ajar harus didasarkan pada analisis kebutuhan
siswa terdapat beberapa alasan mengapa perlu pengembangan bahan ajar,
yaitu :
a) Ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum, artinya bahan ajar yang
dikembangkan harus sesuai dengan kurikulum.
b) Krakteristik sasaran, artinya bahan ajar yang dikembangkan dapat
disesuiakan dengan krakteristik siswa sebagai sasaran.
c) Pengembangan bahan ajar harus dapat menjawab atau memecahkan
masalah atau kesulitan dalam belajar.
Berkaitan dengan salah satu tugas On the Job Learning (OJL) yaitu
menyusun bahan ajar, maka calon kepala sekolah juga mencoba menyusun
bahan ajar. Seperti yang diuraikan di atas tentang pengertian bahan ajar dan
dasar pengembangan bahan ajar, diantaranya adalah ketersediaan bahan
sesuai tuntutan kurikulum, artinya bahan ajar yang dikembangkan harus
sesuai dengan kurikulum, karakteristik sasaran, artinya bahan ajar yang
dikembangkan dapat disesuiakan dengan karakteristik siswa sebagai sasaran.
Maka pengembangan bahan ajar yang dilakukan guru akan sangat
bermanfaat.
3. Instrumen Penilaian
Penilaian memang peranan yang penting dalam pembelajaran.
Penilaian berfungsi untuk mengukur tingkat ketercapaian tujuan
pembelajaran. Kurikulum K-13 memberlakukan sistem autentik dalam
42
penilaiannya, artinya penilaian pembelajaran yang meliputi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan.
Dalam RPP instrumen penilaian ada dibagian paling akhir, untuk
keperluan On the Job Learning (OJL) calon kepala sekolah juga melakukan
penyusunan instrumen penilaian.
D. Pengkajian 9 Aspek Manajerial
Dalam mengkaji 9 aspek manajerial, sebagai langkah persiapan
calon kepala sekolah menyiapkan beberapa dokumen, 1) Bahan ajar yang
calon kepala sekolah memperoleh berupa modul suatu kegiatan In-Service 1.
2) Untuk mencari kondisi ideal digunakan atau berpedoman pada
Permendiknas/Permendikbud sesuai dengan aspek kajian manajerial. 3)
Kemudian calon kepala sekolah menyusun instrumen kajian 9 aspek
manajerial yang akan dijadikan panduan mencari informasi dari pemegang
jabatan di sekolah, dan 4) Jika informasi dirasa masih kurang calon kepala
sekolah melakukan wawancara dengan para pemegang jabatan tersebut.
1. Rencana Kerja Sekolah
Setelah mempelajari bahan pembelajaran penyusunan rencana kerja
sekolah (RKS) kemudian mengkaji RKS dan RKJM SD Negeri 1
Pamoyanan dan SD Negeri Nagrog penulis mengerti dan memahami
beberapa cara penyusunan RKS dan RKJM diantaranya model RKS/RKJM
yang disusun dikembangkan berdasarkan rekomendasi EDS
mengelompokkan kegiatan-kegiatan sekolah ke dalam 8 standar : 1) standar
isi, 2) Standar proses, 3) standar kompetensi lulusan, 4) PTK, 5) sarana dan
prasarana, 6) pengelolaan, 7) pembiayaan, dan 8) penilaian.
Pengelompokan ini sejalan dengan ketentuan permendiknas nomor
19 tahun 2007 tentang standar pengelolaan pendidikan yang mengamanatkan
penyusunan RKS harus memuat kejelasan mengenai: 1) kesiswaan, 2)
kurikulum dan kegiatan pembelajaran, 3) PTK serta pengembangannya, 4)
sarana dan prasarana, 5) keuangan dan pembiayaan, 6) budaya dan
43
lingkungan sekolah, 7) peran serta masyarakat dan kemitraan, dan 8) rencana
kerja lain yang mengarah kepada peningkatan dan pengembangan mutu.
Pemahaman penulis tentang penyusunan RKS/RKJM sekolah belum
utuh dan sempurna karena belum pernah menyusun RKS/RKJM sekolah
secara lengkap. Untuk memaksimalkan penguasaan kompetensi penulis
tentang penyusunan RKS/RKJM, penulis berharap agar dalam penyusunan
RKS/RKJM sekolah pada tahun berikutnya dapat dilibatkan secara langsung
guna mempraktekkan ilmu yang telah dimiliki.
2. Pengelolaan Keuangan Sekolah
Di SD Negeri 1 Pamoyanan, dapat disimpulkan bahwa sumber
keuangan sekolah berasal dari pemerintah berupa BOS pusat, BOS provinsi.
Namun belakangan ini ada peraturan daerah yang melarang sekolah
melakukan pungutan pada peserta didik sehingga menyebabkan sumber
keuangan sekolah terbatas hanya mengandalkan dari dana BOS. Semementara
dana BOS peruntukannya sudah ditentukan pengalokasiannya, tidak bisa
digunakan seperti mendistribusikan dana yang bersumber dari masyarakat
sehingga solusi menghadapi peraturan daerah tersebut adalah Sekolah
melakukan pengolahan keuangan secara epektif dan efisien.
Dengan adanya peraturan daerah tersebut tidak menyurutkan
sekolah dalam mengelola keuangan di sekolah dengan melibatkan dana dari
orang tua siswa, karena dana tersebut diperoleh berdasarkan hasil
musyawarah antara orang tua siswa dengan komite sekolah.
Kegiatan perencanaan anggaran pembiayaan sekolah sudah sesuai
dengan aturan dan petunjuk penggunaan yaitu: 1) Disusun setiap awal tahun
pelajaran, 2) Melakukan analisis kebutuhan, 3) Melakukan penyusunan
program strategis, 4) Dituangkan dalam RKS, hanya ada satu kesenjangan
yaitu dalam menyusun perencanaan anggaran pembiayaan sekolah belum
melibatkan stakeholder sekolah, solusinya adalah sekolah harus membentuk
tim pengembang sekolah yang akan dilibatkan dalam menyusun perencanaan
anggaran pembiayaan sekolah.
44
3. Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan pendidik dan
tenaga kependidikan kemudian mengkaji pengelolaan pendidik dan tenaga
kependidikan sekolah tempat magang, penulis mengetahui keadaan guru dan
pegawai, kualifikasi pendidikan, serta memahami pengaturan pembagian
tugasnya masing-masing. Berdasarkan permendiknas nomor 39 tahun 2009
tentang pemenuhan beban kerja guru dan pengawas sekolah yang mewajibkan
guru mengajar 24 jam tatap muka kualifikasi pendidikan guru
memperlihatkan bahwa guru-guru sudah memenuhi standar kualifikasi
pendidikan.
Untuk mengembangkan kompetensi guru-guru, kepala sekolah
mengarahkan guru untuk terlibat aktif dalam kegiatan KKG. Penulis juga
memahami kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan setelah
mempelajari permendiknas terkait. Kompetensi pendidik dan tenaga
kependidikan sekolah magang sebaiknya dapat diidentifikasi dan petakan
oleh kepala sekolah untuk menjadi pertimbangan dalam pembagian tugas dan
pembinaannya secara berkelanjutan. Untuk itu sebagai calon kepala sekolah,
penulis berharap ada penilaian atau uji kompetensi bagi guru-guru untuk
mengetahui tingkat kompetensinya.
4. Pengelolaan Ketatausahaan Sekolah (TAS)
Setelah mempelajari bahan pembelajaran pembinaan tenaga
administrasi sekolah, permendiknas nomor 24 tahun 2008 tentang tenaga
administrasi sekolah yang dimiliki dimensi kompetensi, yaitu: (1) kompetensi
kepribadian, (2) kompetensi sosial, (3) kompetensi teknis administrasi
sekolah, dan (4) kompetensi manajerial ketatausahaan sekolah.
Kemudian mengkaji pembinaan TAS tempat magang, penulis
mendapat pengetahuan tentang kompetensi TAS yang harus dibina oleh
kepala sekolah. Penulis juga memperoleh pengetahuan tentang model-model
pembinaan TAS.
45
5. Pengelolaan Sarana dan Prasarana Sekolah
Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan sarana dan
prasarana sekolah kemudian mengkaji pengelolaan sarana dan prasarana
sekolah tempat magang, penulis mengetahui sumber daya sarana dan
prasarana yang dimiliki sekolah magang. Penulis juga mendapat pemahaman
tentang perencanaan pengadaan, pemeliharaan, inventarisasi dan
penghapusan sarana prasarana sekolah. Standar sarana dan prasarana sekolah
menurut permendiknas nomor 24 tahun 2007 harus dijadikan sebagai acuan
dalam perencanaan pengadaan sarana dan prasarana sekolah.
6. Pengelolaan Kurikulum
Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan kurikulum
kemudian mengkaji pengelolaan kurikulum sekolah tempat magang, penulis
lebih mengerti tentang pengelolaan kurikulum sekolah, proses penyusunan
kurikulum, bentuk-bentuk RPP yang memuat nilai-nilai karakter bangsa
sesuai dengan KI dan KD yang dikembangkan. RPP yang dikembangkan oleh
guru-guru berdasarkan Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL),
dan panduan penyusunan Kurikulum. Kegiatan penyusunan dan
pengembangkan RPP dilakukan secara mandiri ataupun berkompok dalam
pertemuan Kelompok Kerja Guru ( KKG ) sekolah. Untuk memaksimalkan
kompetensi pengelolaan kurikulum sekolah, termasuk penyusunan RPP yang
memuat nilai-nilai karakter, penulis akan lebih banyak belajar dan berusaha
selalu terlibat secara langsung dalam penyusunan dan pengembangan
kurikulum sekolah.
7. Pengelolaan Peserta Didik
Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan peserta didik
kemudian mengkaji pengelolaan peserta didik sekolah tempat magang,
penulis memiliki pemahaman tentang perencanaan dan penerimaan peserta
46
didik baru. Kegiatan pembinaan peserta didik sebagaimana diatur dalam
permendiknas nomor 39 tahun 2008 tentang pembinaan dimaksud adalah :
1. Pembinaan budi pekerti luhur atau akhlak mulia;
2. Melaksanakan tata tertib sekolah;
3. Melaksanakan gotong royong dan kerja bakti (bakti sosial);
4. Melaksanakan norma-norma yang berlaku dan tatakrama pergaulan;
5. Menumbuhkembangkan kesadaran untuk rela berkorban terhadap sesama;
6. Melaksanakan kegiatan 7K (Keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan,
kekeluargaan, dan kedamaian ).
Penulis juga mendapat informasi dan pengetahuan tentang kegiatan-
kegiatan pengembangan diri siswa yang dikembangkan berdasarkan bakat,
minat, kreativitas dan kemampuan siswa. Untuk mengembangkan penguasaan
kompetensi dalam pengelolaan peserta didik, penulis akan lebih banyak
membaca bahan-bahan pembelajaran terkait pengelolaan peserta didik dari
berbagai sumber.
8. Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran
Setelah mempelajari bahan pembelajaran TIK dalam pembelajaran
kemudian mengkaji pemanfaatn TIK dalam pembelajaran sekolah tempat
magang, berdasarkan Permendiknas nomor 13 tahun 2007 kompetensi
manajerial memiliki kemampuan mengoperasikan hardware dan software
dalam presentasi multimedia pembelajaran dan pengaplikasian media
pembelajaran TIK, penulis mendapat informasi tentang sumber daya sarana
dan prasarana yang dimiliki sekolah yang masuk dalam ketegori TIK serta
mendapat gambaran kompetensi pendidik (guru) dalam penguasaan TIK
terutama komputer
9. Monitoring dan Evaluasi
Setelah mempelajari bahan pembelajaran monitoring dan evaluasi
program sekolah kemudian mengkaji monitoring dan evaluasi sekolah tempat
magang, berdasarkan Permendiknas nomor 13 tahun 2007 kompetensi
47
manajerial mencapai terget kompetensi “Melakukan monitoring, evaluasi, dan
pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah dengan prosedur yang tepat,
serta merencanakan tindak lanjutnya” Penulis belum mendapatkan hasil
monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan oleh sekolah magang berdasarkan
prinsip-prinsip monitoring dan evaluasi sehingga belum memperoleh
pengetahuan yang utuh yaitu paham secara teori dan praktek. Untuk
meningkatkan penguasaan kompetensi penulis dalam pelaksanaan monitoring
dan evaluasi program sekolah, maka penulis berharap agar dapat dilibatkan
secara langsung dalam pelaksanaan monev program-program sekolah dimasa
yang akan datang.
E. Peningkatan Kompetensi Berdasarkan AKPK yang Kurang di Sekolah
ke Dua ( SD Negeri Nagrog Wanayasa)
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pengalaman yang sudah
dimiliki berkenan dengan calon kepala sekolah, sebelumnya telah dilakukan
penyebaran angket Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian kepada
seluruh calon kepala sekolah yang mengikuti program tersebut oleh Dinas
Pendidikan Kabupaten Purwakarta.
Tujuan dilakukannya AKPK bagi calon kepala sekolah adalah untuk
mengidentifikasi bagian-bagian kompetensi yang dikuasai oleh calon kepala
sekolah (merupakan kekuatan) yang ditunjukan melalui pengetahuan dan
pengalamnya. Selain itu, juga untuk mengidentifikasi bagian-bagian
kompetensi yang belum dikuasai oleh calon kepala sekolah (sebagai
kelemahan) dan memerlukan pengalaman pengetahuna serta pengalaman,
sehingga akan menjadi bahan pengembangan lebih lanjut dalam diklat calon
kepala sekolah.
Berdasarkan hasil penilaian Analisis Kebutuhan Pengembangan
Kepofresian (AKPK) sebagai peserta diklat calon kepala sekolah
memperlihatkan hasil sebagai berikut.
48
Kompetensi Kode Jumlah
Kepribadian 1 92,86
Kompetensi Manajerial 2 78,57
Kewirausahaan 3 70,00
Supervisi 4 62,50
Sosial 5 90,00
Diperoleh temuan kelemahan pada dimensi supervisi.
Berdasarkan Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian
(AKPK) di atas kelemahan yang ada pada diri calon kepala sekolah dalam
kompetensi supervisi dan manajerial. Hal ini diakui oleh calon kepala sekolah
terutama kompetensi supervisi karena jarang dilakukan kegiatan supervisi di
sekolah. Hal ini berpengaruh pada pengalaman kerja calon kepala sekolah
dalam kompetensi-kompetensi yang masih kurang berdasarkan Analisis
Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) tersebut cenderung lemah.
Sebagai tindak lanjut dari hasil Analisis Kebutuhan Pengembangan
Keprofesian (AKPK) calon kepala sekolah yang masih kurang atau sangat
lemah, dan juga merupakan salah satu tugas dari kegiatan On the Job
Learning (OJL), maka calon kepala sekolah harus meningkatkan kompetensi
supervisi di sekolah magang 2, yaitu di SD Negeri Nagrog Wanayasa melalui
kegiatan pengamatan/observasi terhadap pelaksanaan kegiatan supervisi yang
dilakukan di SD Negeri Nagrog Wanayasa.
Sebagai langkah awal dalam kegiatan ini, calon kepala sekolah
melalui hal-hal berikut :
a) Menemui kepala SD Negeri Nagrog Wanayasa, pada tanggal 3
September 2018, menyampaikan surat tugas magang sekolah 2 sekaligus
menyampaikan maksud dan tujuan On the Job Learning (OJL) di sekolah
magang 2 yaitu SD Negeri Nagrog Wanayasa.
b) Pada hari Rabu, tanggal 5 September 2018 calon kepala sekolah
melakukan kajian aspek manajerial dan pada kesempatan itu juga calon
49
kepala sekolah menyempatkan wawancara kepala sekolah seputar
pelaksanaan supervisi akademik di sekolah yang beliau pimpin, dan
diakhir pertemuan beliau memberikan program supervisi di SD Negeri
Nagrog Wanayasa kepada penulis.
Hasil dari wawancara dan studi dokumentasi calon kepala sekolah
dapat menjabarkan bahwa kegiatan supervisi yang dilaksanakan kepada guru
di SD Negeri Nagrog Wanayasa sebanyak 2 kali dalam satu semester untuk
setiap orang guru di sekolah tersebut. Adapun supervisi ini dilaksanakan
dengan menitik beratkan pada proses pembelajaran. Supervisi akademik di
SD Negeri Nagrog Wanayasa rencana pelaksanaannya disesuaikan dan
dirancang berdasarkan jadwal pembelajaran proses pembelajaran tatap muka
di kelas. Untuk pelaksanaan supervisi akademik dengan observasi di kelas
kepala sekolah membuat kesepakatan dengan guru yang akan dikunjungi
untuk disupervisi akademik dalam melaksanakan proses pembelajaran di
kelas, biasanya kepada guru tersebut di informasikan oleh kepala sekolah
bidang akademik/kurikulum tiga hari sebelum supervisi dilaksanakan.
Bagi guru yang memperoleh nilai sebutan cukup atau kurang,
langkah kepala sekolah akan mengadakan pelaksanaan supervisi kelinis bagi
guru tersebut, dengan menggunakan pendekatan kolaboratif artinya tanggung
jawab terbagi relatif sama antara kepala sekolah/pengawas dengan guru, dan
langkah-langkah pelaksanaan supervisi klinisnya menggunakan tiga tahap,
yaitu : tahap pertemuan awal, tahap observasi proses pembelajaran, dan tahap
pertemuan balikan, serta instrumen yang digunakannya pun sama seperti pada
whaktu pelaksanaan supervisi akademik.
Dari hasil supervisi akademik dan supervisi klinis maka akan
ditindaklanjuti. Sedangkan yang mendapat perolehan nilai sebutan cukup atau
kurang diikutsertakan dalam pendidikan dan pelatihan yang dapat
meningkatkan kompetensinya dan keprofesionalannya sebagai guru, diberi
bimbingan teknis, supervisi klinis berkelanjutan, dan IHT. Adapun instrumen
tindak lanjutnya dibuat perorangan untuk setiap guru. Instrumen supervisi
50
akademik yang digunakanpun lebih cocok untuk obserfasi kelas yang
mengajak di kelas 1 menggunakan K-13, ditandai dengan adanya kegiatan
eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

5. bab iii

  • 1.
    28 BAB III PELAKSANAAN RENCANATINDAK LANJUT (RTL) A. Pelaksanaan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) Calon kepala sekolah dalam pelaksanaan kegiatan On The Job Learning (OJL) dituntut untuk melaksakan rencana tindak kepemimpinan. Pada kesempatan ini penulis melaksankan Rencana Tindak kepemimpinan (RTK) yaitu “Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menyusun RPP Melalui IHT di SD Negeri 1 Pamoyanan” yang dihadiri oleh 15 orang sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut diantaranya kepala sekolah dan guru yang telah mengikuti cara-cara penyusunan RPP. Pelaksanaan diawali dengan penyampaian materi secara umum, mengulas sekilas tentang kurikulum K-13 menyampaikan pentingnya kepemilikan perangkat pembelajaran mulai dari program, program tahunan, program semester, dan RPP sesuai dengan kurikulum K-13 kemudian dilanjutkan dengan menyusun perangkat pembelajaran oleh guru karena waktu terbatas dilanjutkan di rumah masing-masing, berikut ini penulis uraian hasil tindak kepemimpinan dalam dua siklus. 1. Siklus 1 a. Persiapan Diawali dengan berdiskusi dengan kepala sekolah mengenai pentingnya RPP oleh semua guru sebagai pedoman dalam kegiatan proses belajar mengajar. Salah satunya Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menyusun RPP Melalui IHT yang diselenggarakan di sekolah. Hasil diskusi dengan kepala sekolah memutuskan untuk diselenggarakannya sosialisasi program On the Job Learning (OJL) bagi calon kepala sekolah pada hari Selasa tanggal 24 Juli 2018 pukul 10.00 pada jam istirahat. Melalui sosialisai program On the Job Learning (OJL) bagi calon kepala sekolah tahun 2018 dihadiri oleh seluruh guru melalui sosialisasi
  • 2.
    29 diharapkan para guruakan mendukung dan akan memberikan bantuan kepada calon kepala sekolah untuk melakukan On the Job Learning (OJL). b. Pelaksanaan Rencana tindak kepemimpinan yaitu “Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menyusun RPP Melalui IHT di SD Negeri 1 Pamoyanan” yang dihadiri oleh 15 orang sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut diantaranya kepala sekolah dan guru yang telah mengikuti cara-cara penyusunan RPP. Pelaksanaan diawali dengan penyampaian materi secara umum, mengulas sekilas tentang kurikulum K-13 menyampaikan pentingnya kepemilikan perangkat pembelajaran mulai dari program, program tahunan, program semester, dan RPP sesuai dengan kurikulum K-13 kemudian dilanjutkan dengan menyusun perangkat pembelajaran oleh guru karena waktu terbatas dilanjutkan di rumah masing-masing. c. Monitoring dan Evaluasi Monitoring dilaksanakan untuk mengukur tingkat keberhasilan dari kegiatan pembuatan RPP diawali dengan kepemilikan perangkat pembelajaran dalam hal ini RPP K-13. Kegiatan monitoring dan evaluasi /melibatkan kepala sekolah dan guru senior instrumen monitoring terlampir. Instrumen monitoring dan evaluasi diberikan setelah kegiatan berlangsung. Kepada kepala sekolah untuk mengisi instrumen siklus 1 berkaitan dengan calon kepala sekolah dalam menyiapkan kegiatan dengan kemampuan guru sebagai peserta dalam kegiatan pembuatan RPP melalui IHT. d. Refleksi Berdasarkan hasil perhitungan dan instrumen monitoring dan evaluasi yang dilakukan calon kepala sekolah pada siklus 1 sebagai berikut : 44 52 x 100% = 84,61% kategori B (Baik)
  • 3.
    30 dengan /menggunakan kreteriasebagai berikut : ANGKA HURUP KETERANGAN 86 – 100 A Sangat Baik 71 – 85 B Baik 56 – 70 C Cukup < 55 D Kurang Hal ini calon kepala sekolah mempersiapkan perencanaan kegiatan pembuatan RPP dan dapat menyampaikan materi dengan baik. Sedangkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan calon kepala sekolah terhadap guru-guru dalam menyusun RPP dengan mengisi instrumen monev dan menilai RPP yang telah dibuat guru tersebut. berdasarkan hasil instrumen monev perhitungan sebagi berikut. Tabel 3.1 Rekapitulasi Hasil Monitoring dan Eavalasi Penyusunan RPP siklus 1 No Nama Guru No Instrumen Jm l Skor (%)1 2 3 4 5 6 7 8 1 Cicah Sunarsih, S.Pd 4 4 4 4 4 3 3 3 29 90,62 2 Hodijah, S.Pd 4 4 4 3 4 3 3 3 28 87,50 3 Ujang Nanang Wahyudin, S.Ag 4 4 3 3 3 3 3 3 26 81,25 4 Neng Mulyasari, S.Pd 4 3 3 3 3 2 3 3 24 75,00 5 Endi Suhendi, S.Pd 4 2 3 3 3 2 2 3 22 68,75 6 Tuti Komariah, S.Pd 4 2 3 3 3 2 2 3 22 68,75 7 Neng Mulyasari, S.Pd. 4 3 2 2 3 2 2 3 21 65,62
  • 4.
    31 Kriteria nilai yangdigunakan adalah : ANGKA HURUP KETERANGAN 86 – 100 A Sangat Baik 71 – 85 B Baik 56 – 70 C Cukup < 55 D Kurang Berdasarkan hasil penilaian terhadap RPP yang telah dibuat guru, dapat disimpulkan bahwa dari 7 orang guru terdapat 2 orang guru memperoleh nilai diatas 86 dengan ketegori (A), 2 orang guru memperoleh nilai diatas 71 dengan kategori (B), dan 3 orang guru yang masih mendapat nilai di bawah 70 dengan ketegori (C). Sebagai tindak lanjut maka ketiga orang guru tersebut diberikan pendampingan oleh calon kepala sekolah dalam menyusun RPP untuk mempersiapkan perbaikan di siklus 2. 2. Siklus 2 a. Persiapan Merenungi dan mengamati setiap tahapan yang telah dilaksanakan dalam pembuatan RPP siklus 1. Bersama guru mudah untuk menyempurnakan, mendiskusikan dengan guru mengenai hal-hal yang harus ditingkatkan dalam kegiatan menigkatkan guru dalam menyusun RPP melalui IHT di sekolah. Hasil diskusi dengan rekan guru, kepada guru senior dan kepada kepala sekolah diminta pendampingan kembali menentukan jadwal. b. Pelaksanaan Melakukan kegiatan kepada guru mengenai hal-hal yang harus diperbaiki kegiatan pendampingan dilakukan oleh calon kepala sekolah dibantu oleh pengawas. Pendampingan dilaksanakan tanggal 28 Juli 2018.
  • 5.
    32 Calon kepala sekolahmelakukan observasi kegiatan pendampingan berlangsung. c. Monitoring Monitoring dilakukan melalui observasi kegiatan yang melibatkan guru senior dan kepala sekolah. Instrumen monitoring dilakukan setelah kegiatan berlangsung untuk mengisi siklus-siklus calon kepala sekolah mengisi instrumen yang berkaitan dengan penyusunan RPP di siklus 1 d. Refleksi Berdasarkan hasil instrumen monitoring yang dilakukan terhadap calon kepala sekolah oleh kepala sekolah pada siklus 2. Hal ini merupakan bahwa calon kepala sekolah dapat memmbimbing melalui 7 (tujuh) orang guru. Berdasarkan hasil penilai instrumen diperoleh sebagi berikut : 47 52 X 100% = 90,38 kategori A (Sangat Baik) Hal ini menunjukan bahwa calon kepala sekolah dapat membimbing melalui pendampingan terhadap 3 (tiga) orang guru yang masih memiliki kekurangan dalam membuat RPP. Sedangkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan calon kepala sekolah terhadap guru-guru dalam menyusun RPP mengisi instrumen monev dan menilai kembali instrumen monev tersebut diperoleh perhitungan sebagai berikut: Tabel 3.2 Rekapitulasi Hasil Monitoring dan Eavalasi Penyusunan RPP siklus 2 No Nama Guru No Instrumen Jml Skor (%)1 2 3 4 5 6 7 8 1 Cicah Sunarsih, S.Pd 4 4 4 4 4 3 3 3 29 90,62 2 Hodijah, S.Pd 4 4 4 3 4 3 3 3 28 87,50
  • 6.
    33 3 Ujang Nanang Wahyudin, S.Ag 43 3 3 3 3 4 3 26 81,25 Kriteria nilai yang digunakan adalah : ANGKA HURUP KETERANGAN 86 – 100 A Sangat Baik 71 – 85 B Baik 56 – 70 C Cukup < 55 D Kurang Berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan setelah mengisi dan menghitung instrumen monitoring dan evaluasi pada guru dalam mereviu RPP pada siklus 2 melalui kegiatan pendampingan dapat disimpulkan bahwa ternyata memperoleh hasil yang sangt memauskan, artinya ketiga orang guru telah dapat memperbaiki yang kurang dalam membuat RPP. B. Supervisi Guru Junior Salah satu tugas kepala sekolah adalah melaksanakan supervisi akademik membantu guru dalam mengembangkan kemampuan pengelola pembelajaran. Spervisi akademik merupakan kegiatan terencana, terpola dalam terprogram, merubah prilaku guru, menigaktakan kualitas pendidikan. Supervisi akademik dilakukan calon kepala sekolah antara lain : a. Membimbing guru memilih menggunakan strategi/metoda/teknik dapat mengembangkan berbagai potensi. b. Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran bimbingan di kelas. c. Membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan pasilitas pembelajaran. d. Memotifasi guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan terperinci dan terarah.
  • 7.
    34 Sasaran utama supervisiakademik adalah kemapuan guru dalam merencanakan kegiatan pembelajaran. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan, memanfaatkan sumber pembelajaran yang ada.  Tujuan supervisi guru junior bagi calon kepala sekolah : 1. Mengembangkan kompetensi akademik 2. Melatih kemampuan melaksanakan supervisi. 3. Melatih kemampuan mengidentifikasi permasalah guru junior, dalam rangka meningkatkan mutu proses hasil pembelajaran. 4. Membantu guru dalam mengambangkan kompetensi guru meningkatkan kualitas pembelajaran. 5. Membantu guru junior mengembangkan kurikulum silabus dan RPP.  Hasil yang diharapkan dari supervisi guru junior: - Mampu mengembangkan kompetensi perencanaan supervisi. - Melaksanakan supervisi akademik. - Mampu melaksanakan tindak lanjut dalam rangka menigkatkan hasil pembelajaran. 1. Siklus 1 a. Perencanaan Sebelum melaksanakan kegiatan observasi guru junior, calon kepala sekolah melakukan hal-hal berikut : a. Meningkatkan pengetahuan supervisi akademik; dengan membaca modul tentang sipervisi akademik. b. Melakukan wawancara dengan kepala sekolah tentang supervisi akademik. c. Menyusun program, membuat jadwal, membuat istrumen perencanaan kegiatan pembelajaran, instrumen observasi kelas, daftar pernyataan setelah observasi, dan instrumen tindak lanjut supervisi akademik. Penulis memutuskan guru junior yang akan disupervisi adalah : Neng Mulyasari, S.Pd.mengajar di kelas II.
  • 8.
    35 b. Pelaksanaan Kegiatan supervisiakademik meliputi tiga tahapan kegiatan yaitu : 1). Pra observasi dalam tahapan ini guru diberitahu dan dinyatakan kesiapannya untuk disupervisi oleh kepala sekolah atau guru senior, setelah ada kesepakatan jadwal, guru diminta untuk mengisi format pra observasi yang harus diisi, dan memberikan RPP yang akan digunakan pada saat disupervisi. Supervisor dalam hal ini kepala sekolah atau guru senior menelaah RPP yang telah diberikan oleh guru yang akan disupervisi. 2). Observasi, sesuai dengan jadwal yang telah disepakati kegiatan supervisipun dilakukan. Calon kepala sekolah selaku guru senior yang ditunjuk melakukan supervisi terhadap 7 (tujuh) orang guru, namun untuk kegiatan pelaporan On the Job Learning (OJL) calon kepala sekolah hanya memaparkan observasi terhadap 1 (satu) orang guru junior saja yaitu : Neng Mulyasari, S.Pd.guru kelas II disupervisi pada hari Rabu tanggal 29 Juli tahun 2018 jam kesatu dan kedua di kelas IV. Pendahuluan pembelajaran diawali dengan mengucapkan salam dan berdoa sebelum pembelajaran dimulai, lalu guru mengabsen kehadiran siswa dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Kegiatan inti menyampaikan informasi yang akan dipelajari. Kemudian peserta didik diminta untuk mengolah dan menganalisis hasil gambar pengamatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pada LKS setelah selesai mengisi LKS. Mempersentasikan hasil percobaan dan pengamatan. Kegiatan penutup diakhiri dengan menyimpulakan materi yang telah disampaikan. 3). Pasca observasi, setelah observasi dilakukan kegiatan refleksi secara singkat dengan guru junior dengan ditanya bagaimana perasaan/kesan guru junior tersebut setelah melakukan proses pembelajaran yang diamati oleh calon kepala sekolah, lalu calon kepala sekolah memberikan pujian terhadap hal-hal yang sudah baik yang dilakukan oleh guru junior selama proses pembelajaran, setelah itu guru junior diberi instrumen format 3 (pasca observasi)
  • 9.
    36 c. Hasil danTindak Lanjut Tindak lanjut dan hasil, setelah mengisi instrumen pasca observasi calon kepala sekolah memperlihatkan hasil penilaian format 1 tentang instrumen Perencanaan Kegiata Pembelajaran, untuk Neng Mulyasari, S.Pd Hasil menunjukan guru junior memperoleh nilai 34. Dimasukan dalam perhitungan maka perolehannya adalah : 34 44 X 100 % = 77,27% = B (Baik). Dalam format 2 instrumen observasi kelas, Neng Mulyasari, S.Pd. memperoleh nilai 54, dimasukan dalam menghitung maka memperolehnya adalah: 54 68 x 100% = 79,41% = B (Baik) Untuk observasi kelas calon kepala sekolah menyarankan untuk mendorong peserta didik untuk memanfaatkan TIK, diakhir pembelajaran guru junior tidak lupa menyampaikan pemberian tugas pada pertemuan berikutnya. Setelah mengisi format 3 calon kepala sekolah bersama guru junior mendiskusikan hal-hal yang perlu ditingkatkan untuk perbaikan dalam supervisi siklus 2 nanti sebagai tindak lanjut. Kesimpulan hasil observasi guru junior siklus 1 adalah sebagai berikut : Tabel 3.1 Hasil observasi guru junior siklus 1 No Nama Guru Junior Format 1 Format 2 Angka Huruf Angka Huruf 1 Neng Mulyasari, S.Pd. 77,27 B 79,41 B
  • 10.
    37 2. Siklus 2 a.Perencanaan Mendiskusikan jadwal untuk supervisi berikutnya, kapan kesediaan dari guru junior tersebut, hasil berdiskusi dengan Neng Mulyasari, S.Pd. menyepakati untuk melakukan sepervisi berikutnya di siklus 2 pada hari Kamis tanggal 30 Juli 2018 b. Pelaksanaan 1). Pra observasi, sebelumnya guru junior diberi instrumen pra observasi untuk diisi, baru setelah itu dilakukan observasi untuk guru junior. 2). Observasi, dilaksanakan sebagai berikut : Neng Mulyasari, S.Pd. pada saat observasi proses pembelajaran guru junior terlihat lebih baik dalam mempresiapkan pembelajaran, baik dari segi penyampaian materi. Pada kegiatan penutup guru junior juga menyampaikan materi dan memberikan tugas untuk pertemuan berikutnya. 3). Pasca Observasi setelah observasi, seperti halnya pada siklus 1 guru junior diberi pertanyaan bagaimana perasaan/kesan setelah melakukan proses pembelajaran tadi yang diamati oleh calon kepala sekolah lalu calon kepala sekolah memberikan pujian terhadap hal-hal yang sudah baik yang dilakukan guru junior selama proses pembelajaran, setelah itu guru junior diberi instrumen format 3 (pasca observasi), setelah mengisi instrumen format 3 guru junior diperlihatkan hasil penilaian format 1 dan format 2. c. Hasil dan Tindak Lanjut Hasil penilaian untuk Neng Mulyasari, S.Pd.pada siklus 2 untuk format 1 Instrumen Perencanaan Kegiatan Pembelajaran diperoleh nilai skor 40, dimasukan dalam perhitungan maka diperoleh : 40 44 x 100% = 90,90% = A (Baik Sekali) Dari pengamatan pada siklus 1 dan siklus 2, untuk guru junior a.n Neng Mulyasari, S.Pd. pada peningkatan untuk perencanaan kegiatan pembelajaran, ini diperlihatkan dengan adanya peningkatan perolehan nilai
  • 11.
    38 skor (77,27%) menjadi(90,90%) dari klasifikasi B (Baik) menjadi klasifikasi A (Baik sekali), dan untuk kegiatan observasi kelas diperoleh nilai skor 62, dimasukan dalam perhitungan diperoleh : 62 68 x 100% = 91,17% = A (Baik Sekali) Dari pengamatan siklus 1 dan siklus 2, untuk guru junior a.n Neng Mulyasari, S.Pd. pada observasi kelas ada peningkatan yang signifikan, yaitu dari 79,41% menjadi 91,17% dari klasifikasi B (Baik) menjadi klasifikasi A (Baik Seklai) Kesimpulan hasil observasi guru junior siklus 2 adalah sebagai berikut : Hasil observasi guru junior siklus 2 No Nama Guru Junior Format 1 Format 2 Angka Hurup Angka Hurup 1 Neng Mulyasari, S.Pd 90,90 A 91,17 A Dari hasil wawancara dengan keduanya terlihat ada kepuasan, walaupun belum sempurna, bahkan setelah kegiatan ini guru junior lebih antusias agar program supervisi ini berkesinambungan, dengan supervisi akademik guru junior merasakan adanya manfaat yang mereka rasakan, a) dalam penyusunan RPP, b) pelaksanaan proses pembelajaran. Sehingga dapat menigkatan kompetensi mereka. C. Penyusunan Perangkat Pembelajaran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Penyusunan perangkat pembelajaran merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh guru sebelum pelaksanaan proses pembelajaran. Perangkat pembelajaran meliputi : 1). Analisa keterkaitan Standar Kompotensi dengan Kompetensi Dasar, serta Indikator Pencapaian Kompetensi, 2) Silabus, 3) program tahunan, dan 5) RPP.
  • 12.
    39 Calon kepala sekolahjuga adalah seorang guru karenanya dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang guru, calon kepala sekolah juga dituntut untuk menyusun RPP sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. Bahkan karena calon kepala sekolah adalah calon pemimpin yang sedang dilatih, ia harus lebih memahami dan memberikan contoh kepada rekan guru lainnya dalam menyusun perangkat pembelajaran. Tahap awal dalam pembelajaran yaitu menyusun perencanaan pembelajaran yang diwujudkan yaitu pembuatan perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan kegiatan pembuatan rencana pembelajaran (RPP). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya pencapaian Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisifasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemadirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta fsikologis peserta didik. RPP disusun berdasarkan Kompetensi Dasar (KD) atau sub topik yang dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Pengembangan RPP dapat dilakukan oleh guru secara mandiri dan/atau kelompok di sekolah/madrasah dikoordinasi, dipasilitasi, dan disupervisi oleh kepala sekolah/madrasah atau guru senior yang ditunjukan oleh kepala sekolah. RPP mencakup : 1). Data sekolah, mata pelajaran, dan kelas/semester, Alokasi waktu 2). Standar Kompetensi (SK) 3). Kompetensi Dasar (KD) 4). Indikator 5). Tujuan Pembelajaran 6). Materi Ajar 7). Metoda Pembelajaran 8). Langkah-langkah Pembelajaran. 9). Alat dan Sumber Belajar. 10). Penilaian. Dalam laporan On the Job Learning (OJL) ini calon kepala sekolah juga menyusun RPP sesuai dengan mata pelajaran yang
  • 13.
    40 diampu. Sebagai langkahawal dalam menyusun RPP adalah penulisan data sekolah, mata pelajaran, dan kelas/semester, alokasi waktu. Dan sesuai dengan program semester yang telah dibuat sebelumnya, bertepatan dengan materi ajar “Perkembangan Sistem administrasi wilayah Indonesia” alokasi waktu 2 x 35 menit ( 2 jam pelajaran ) Penentuan SK dan KD diambil dari silabus untuk penentuan indikator disesuaikan dengan SK, KD dan cakupan materi yang akan disampiakan. Alat dan sumber belajar juga disesuaikan dengan kondisi dilapangan, dimana di sekolah kami berapa guru telah memanfaatkan TIK dalam penyampaian proses pembelajaran. Untuk langkah-lankah pembelajaran diawali dengan pendahuluan (memberi salam, mengecek kehadiran peserta didik, menyampaikan tujuan pembelajaran) pendahuluan diperkirakan 10 menit. Dilanjutkan dengan kegiatan inti, berkaitan dengan kegiatan inti. Peserta didik mengumpulkan informasi untuk menjawab salah satu pertanyaan yang telah dirumuskan dengan membaca bahan ajar, juga dari buku sumber lain yang relevan dengan materi yang disampaikan, setelah mendapat jawaban dari berbagai sumber, kemudian peserta didik diminta untuk merumuskan secara tertulis, selam peserta didik melakukan kegatan ini guru dapat melakukan penilaian sikap, peserta didik bersama guru membuat kesimpulan atas jawaban dari pertanyaan (kegiatan ini berlangsung kurang lebih selama 50 menit). Dilanjutkan dengan kegiatan penutup dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik bila ada hal yang belum dipahami guru memberikan penjelasan atas pertanyaan yang disampiakan peserta didik, peserta didik diberi pertanyaan lisan untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran dapat diserap peserta didik. 2. Bahan Ajar Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bahan yang dimaksud berupa tertulis maupun tidak tertulis.
  • 14.
    41 Jenis-jenis bahan ajardapat dibedakan atas beberapa kriteria pengelompokan. Menurut Koesnandar (2008), jenis bahan ajar berdasarkan subjeknya terdiri dari dua jenis, yaitu : a) Bahan ajar yang sengaja dirancang untuk belajar seperti buku, LKS. b) Bahan ajar yang dirancang dapat dimanfaatkan untuk belajar menyatakan bahwa jika ditinjau dari fungsinya maka bahan ajar yang dirancang terdiri atas 3 kelompok, yaitu : bahan ajar persentasi, bahan referensi, dan bahan belajar mandiri. Pengembangan bahan ajar harus didasarkan pada analisis kebutuhan siswa terdapat beberapa alasan mengapa perlu pengembangan bahan ajar, yaitu : a) Ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum, artinya bahan ajar yang dikembangkan harus sesuai dengan kurikulum. b) Krakteristik sasaran, artinya bahan ajar yang dikembangkan dapat disesuiakan dengan krakteristik siswa sebagai sasaran. c) Pengembangan bahan ajar harus dapat menjawab atau memecahkan masalah atau kesulitan dalam belajar. Berkaitan dengan salah satu tugas On the Job Learning (OJL) yaitu menyusun bahan ajar, maka calon kepala sekolah juga mencoba menyusun bahan ajar. Seperti yang diuraikan di atas tentang pengertian bahan ajar dan dasar pengembangan bahan ajar, diantaranya adalah ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum, artinya bahan ajar yang dikembangkan harus sesuai dengan kurikulum, karakteristik sasaran, artinya bahan ajar yang dikembangkan dapat disesuiakan dengan karakteristik siswa sebagai sasaran. Maka pengembangan bahan ajar yang dilakukan guru akan sangat bermanfaat. 3. Instrumen Penilaian Penilaian memang peranan yang penting dalam pembelajaran. Penilaian berfungsi untuk mengukur tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran. Kurikulum K-13 memberlakukan sistem autentik dalam
  • 15.
    42 penilaiannya, artinya penilaianpembelajaran yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam RPP instrumen penilaian ada dibagian paling akhir, untuk keperluan On the Job Learning (OJL) calon kepala sekolah juga melakukan penyusunan instrumen penilaian. D. Pengkajian 9 Aspek Manajerial Dalam mengkaji 9 aspek manajerial, sebagai langkah persiapan calon kepala sekolah menyiapkan beberapa dokumen, 1) Bahan ajar yang calon kepala sekolah memperoleh berupa modul suatu kegiatan In-Service 1. 2) Untuk mencari kondisi ideal digunakan atau berpedoman pada Permendiknas/Permendikbud sesuai dengan aspek kajian manajerial. 3) Kemudian calon kepala sekolah menyusun instrumen kajian 9 aspek manajerial yang akan dijadikan panduan mencari informasi dari pemegang jabatan di sekolah, dan 4) Jika informasi dirasa masih kurang calon kepala sekolah melakukan wawancara dengan para pemegang jabatan tersebut. 1. Rencana Kerja Sekolah Setelah mempelajari bahan pembelajaran penyusunan rencana kerja sekolah (RKS) kemudian mengkaji RKS dan RKJM SD Negeri 1 Pamoyanan dan SD Negeri Nagrog penulis mengerti dan memahami beberapa cara penyusunan RKS dan RKJM diantaranya model RKS/RKJM yang disusun dikembangkan berdasarkan rekomendasi EDS mengelompokkan kegiatan-kegiatan sekolah ke dalam 8 standar : 1) standar isi, 2) Standar proses, 3) standar kompetensi lulusan, 4) PTK, 5) sarana dan prasarana, 6) pengelolaan, 7) pembiayaan, dan 8) penilaian. Pengelompokan ini sejalan dengan ketentuan permendiknas nomor 19 tahun 2007 tentang standar pengelolaan pendidikan yang mengamanatkan penyusunan RKS harus memuat kejelasan mengenai: 1) kesiswaan, 2) kurikulum dan kegiatan pembelajaran, 3) PTK serta pengembangannya, 4) sarana dan prasarana, 5) keuangan dan pembiayaan, 6) budaya dan
  • 16.
    43 lingkungan sekolah, 7)peran serta masyarakat dan kemitraan, dan 8) rencana kerja lain yang mengarah kepada peningkatan dan pengembangan mutu. Pemahaman penulis tentang penyusunan RKS/RKJM sekolah belum utuh dan sempurna karena belum pernah menyusun RKS/RKJM sekolah secara lengkap. Untuk memaksimalkan penguasaan kompetensi penulis tentang penyusunan RKS/RKJM, penulis berharap agar dalam penyusunan RKS/RKJM sekolah pada tahun berikutnya dapat dilibatkan secara langsung guna mempraktekkan ilmu yang telah dimiliki. 2. Pengelolaan Keuangan Sekolah Di SD Negeri 1 Pamoyanan, dapat disimpulkan bahwa sumber keuangan sekolah berasal dari pemerintah berupa BOS pusat, BOS provinsi. Namun belakangan ini ada peraturan daerah yang melarang sekolah melakukan pungutan pada peserta didik sehingga menyebabkan sumber keuangan sekolah terbatas hanya mengandalkan dari dana BOS. Semementara dana BOS peruntukannya sudah ditentukan pengalokasiannya, tidak bisa digunakan seperti mendistribusikan dana yang bersumber dari masyarakat sehingga solusi menghadapi peraturan daerah tersebut adalah Sekolah melakukan pengolahan keuangan secara epektif dan efisien. Dengan adanya peraturan daerah tersebut tidak menyurutkan sekolah dalam mengelola keuangan di sekolah dengan melibatkan dana dari orang tua siswa, karena dana tersebut diperoleh berdasarkan hasil musyawarah antara orang tua siswa dengan komite sekolah. Kegiatan perencanaan anggaran pembiayaan sekolah sudah sesuai dengan aturan dan petunjuk penggunaan yaitu: 1) Disusun setiap awal tahun pelajaran, 2) Melakukan analisis kebutuhan, 3) Melakukan penyusunan program strategis, 4) Dituangkan dalam RKS, hanya ada satu kesenjangan yaitu dalam menyusun perencanaan anggaran pembiayaan sekolah belum melibatkan stakeholder sekolah, solusinya adalah sekolah harus membentuk tim pengembang sekolah yang akan dilibatkan dalam menyusun perencanaan anggaran pembiayaan sekolah.
  • 17.
    44 3. Pengelolaan Pendidikdan Tenaga Kependidikan Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan kemudian mengkaji pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan sekolah tempat magang, penulis mengetahui keadaan guru dan pegawai, kualifikasi pendidikan, serta memahami pengaturan pembagian tugasnya masing-masing. Berdasarkan permendiknas nomor 39 tahun 2009 tentang pemenuhan beban kerja guru dan pengawas sekolah yang mewajibkan guru mengajar 24 jam tatap muka kualifikasi pendidikan guru memperlihatkan bahwa guru-guru sudah memenuhi standar kualifikasi pendidikan. Untuk mengembangkan kompetensi guru-guru, kepala sekolah mengarahkan guru untuk terlibat aktif dalam kegiatan KKG. Penulis juga memahami kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan setelah mempelajari permendiknas terkait. Kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan sekolah magang sebaiknya dapat diidentifikasi dan petakan oleh kepala sekolah untuk menjadi pertimbangan dalam pembagian tugas dan pembinaannya secara berkelanjutan. Untuk itu sebagai calon kepala sekolah, penulis berharap ada penilaian atau uji kompetensi bagi guru-guru untuk mengetahui tingkat kompetensinya. 4. Pengelolaan Ketatausahaan Sekolah (TAS) Setelah mempelajari bahan pembelajaran pembinaan tenaga administrasi sekolah, permendiknas nomor 24 tahun 2008 tentang tenaga administrasi sekolah yang dimiliki dimensi kompetensi, yaitu: (1) kompetensi kepribadian, (2) kompetensi sosial, (3) kompetensi teknis administrasi sekolah, dan (4) kompetensi manajerial ketatausahaan sekolah. Kemudian mengkaji pembinaan TAS tempat magang, penulis mendapat pengetahuan tentang kompetensi TAS yang harus dibina oleh kepala sekolah. Penulis juga memperoleh pengetahuan tentang model-model pembinaan TAS.
  • 18.
    45 5. Pengelolaan Saranadan Prasarana Sekolah Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan sarana dan prasarana sekolah kemudian mengkaji pengelolaan sarana dan prasarana sekolah tempat magang, penulis mengetahui sumber daya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah magang. Penulis juga mendapat pemahaman tentang perencanaan pengadaan, pemeliharaan, inventarisasi dan penghapusan sarana prasarana sekolah. Standar sarana dan prasarana sekolah menurut permendiknas nomor 24 tahun 2007 harus dijadikan sebagai acuan dalam perencanaan pengadaan sarana dan prasarana sekolah. 6. Pengelolaan Kurikulum Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan kurikulum kemudian mengkaji pengelolaan kurikulum sekolah tempat magang, penulis lebih mengerti tentang pengelolaan kurikulum sekolah, proses penyusunan kurikulum, bentuk-bentuk RPP yang memuat nilai-nilai karakter bangsa sesuai dengan KI dan KD yang dikembangkan. RPP yang dikembangkan oleh guru-guru berdasarkan Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan panduan penyusunan Kurikulum. Kegiatan penyusunan dan pengembangkan RPP dilakukan secara mandiri ataupun berkompok dalam pertemuan Kelompok Kerja Guru ( KKG ) sekolah. Untuk memaksimalkan kompetensi pengelolaan kurikulum sekolah, termasuk penyusunan RPP yang memuat nilai-nilai karakter, penulis akan lebih banyak belajar dan berusaha selalu terlibat secara langsung dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum sekolah. 7. Pengelolaan Peserta Didik Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan peserta didik kemudian mengkaji pengelolaan peserta didik sekolah tempat magang, penulis memiliki pemahaman tentang perencanaan dan penerimaan peserta
  • 19.
    46 didik baru. Kegiatanpembinaan peserta didik sebagaimana diatur dalam permendiknas nomor 39 tahun 2008 tentang pembinaan dimaksud adalah : 1. Pembinaan budi pekerti luhur atau akhlak mulia; 2. Melaksanakan tata tertib sekolah; 3. Melaksanakan gotong royong dan kerja bakti (bakti sosial); 4. Melaksanakan norma-norma yang berlaku dan tatakrama pergaulan; 5. Menumbuhkembangkan kesadaran untuk rela berkorban terhadap sesama; 6. Melaksanakan kegiatan 7K (Keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, kekeluargaan, dan kedamaian ). Penulis juga mendapat informasi dan pengetahuan tentang kegiatan- kegiatan pengembangan diri siswa yang dikembangkan berdasarkan bakat, minat, kreativitas dan kemampuan siswa. Untuk mengembangkan penguasaan kompetensi dalam pengelolaan peserta didik, penulis akan lebih banyak membaca bahan-bahan pembelajaran terkait pengelolaan peserta didik dari berbagai sumber. 8. Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran Setelah mempelajari bahan pembelajaran TIK dalam pembelajaran kemudian mengkaji pemanfaatn TIK dalam pembelajaran sekolah tempat magang, berdasarkan Permendiknas nomor 13 tahun 2007 kompetensi manajerial memiliki kemampuan mengoperasikan hardware dan software dalam presentasi multimedia pembelajaran dan pengaplikasian media pembelajaran TIK, penulis mendapat informasi tentang sumber daya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah yang masuk dalam ketegori TIK serta mendapat gambaran kompetensi pendidik (guru) dalam penguasaan TIK terutama komputer 9. Monitoring dan Evaluasi Setelah mempelajari bahan pembelajaran monitoring dan evaluasi program sekolah kemudian mengkaji monitoring dan evaluasi sekolah tempat magang, berdasarkan Permendiknas nomor 13 tahun 2007 kompetensi
  • 20.
    47 manajerial mencapai tergetkompetensi “Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya” Penulis belum mendapatkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan oleh sekolah magang berdasarkan prinsip-prinsip monitoring dan evaluasi sehingga belum memperoleh pengetahuan yang utuh yaitu paham secara teori dan praktek. Untuk meningkatkan penguasaan kompetensi penulis dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi program sekolah, maka penulis berharap agar dapat dilibatkan secara langsung dalam pelaksanaan monev program-program sekolah dimasa yang akan datang. E. Peningkatan Kompetensi Berdasarkan AKPK yang Kurang di Sekolah ke Dua ( SD Negeri Nagrog Wanayasa) Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pengalaman yang sudah dimiliki berkenan dengan calon kepala sekolah, sebelumnya telah dilakukan penyebaran angket Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian kepada seluruh calon kepala sekolah yang mengikuti program tersebut oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta. Tujuan dilakukannya AKPK bagi calon kepala sekolah adalah untuk mengidentifikasi bagian-bagian kompetensi yang dikuasai oleh calon kepala sekolah (merupakan kekuatan) yang ditunjukan melalui pengetahuan dan pengalamnya. Selain itu, juga untuk mengidentifikasi bagian-bagian kompetensi yang belum dikuasai oleh calon kepala sekolah (sebagai kelemahan) dan memerlukan pengalaman pengetahuna serta pengalaman, sehingga akan menjadi bahan pengembangan lebih lanjut dalam diklat calon kepala sekolah. Berdasarkan hasil penilaian Analisis Kebutuhan Pengembangan Kepofresian (AKPK) sebagai peserta diklat calon kepala sekolah memperlihatkan hasil sebagai berikut.
  • 21.
    48 Kompetensi Kode Jumlah Kepribadian1 92,86 Kompetensi Manajerial 2 78,57 Kewirausahaan 3 70,00 Supervisi 4 62,50 Sosial 5 90,00 Diperoleh temuan kelemahan pada dimensi supervisi. Berdasarkan Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) di atas kelemahan yang ada pada diri calon kepala sekolah dalam kompetensi supervisi dan manajerial. Hal ini diakui oleh calon kepala sekolah terutama kompetensi supervisi karena jarang dilakukan kegiatan supervisi di sekolah. Hal ini berpengaruh pada pengalaman kerja calon kepala sekolah dalam kompetensi-kompetensi yang masih kurang berdasarkan Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) tersebut cenderung lemah. Sebagai tindak lanjut dari hasil Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) calon kepala sekolah yang masih kurang atau sangat lemah, dan juga merupakan salah satu tugas dari kegiatan On the Job Learning (OJL), maka calon kepala sekolah harus meningkatkan kompetensi supervisi di sekolah magang 2, yaitu di SD Negeri Nagrog Wanayasa melalui kegiatan pengamatan/observasi terhadap pelaksanaan kegiatan supervisi yang dilakukan di SD Negeri Nagrog Wanayasa. Sebagai langkah awal dalam kegiatan ini, calon kepala sekolah melalui hal-hal berikut : a) Menemui kepala SD Negeri Nagrog Wanayasa, pada tanggal 3 September 2018, menyampaikan surat tugas magang sekolah 2 sekaligus menyampaikan maksud dan tujuan On the Job Learning (OJL) di sekolah magang 2 yaitu SD Negeri Nagrog Wanayasa. b) Pada hari Rabu, tanggal 5 September 2018 calon kepala sekolah melakukan kajian aspek manajerial dan pada kesempatan itu juga calon
  • 22.
    49 kepala sekolah menyempatkanwawancara kepala sekolah seputar pelaksanaan supervisi akademik di sekolah yang beliau pimpin, dan diakhir pertemuan beliau memberikan program supervisi di SD Negeri Nagrog Wanayasa kepada penulis. Hasil dari wawancara dan studi dokumentasi calon kepala sekolah dapat menjabarkan bahwa kegiatan supervisi yang dilaksanakan kepada guru di SD Negeri Nagrog Wanayasa sebanyak 2 kali dalam satu semester untuk setiap orang guru di sekolah tersebut. Adapun supervisi ini dilaksanakan dengan menitik beratkan pada proses pembelajaran. Supervisi akademik di SD Negeri Nagrog Wanayasa rencana pelaksanaannya disesuaikan dan dirancang berdasarkan jadwal pembelajaran proses pembelajaran tatap muka di kelas. Untuk pelaksanaan supervisi akademik dengan observasi di kelas kepala sekolah membuat kesepakatan dengan guru yang akan dikunjungi untuk disupervisi akademik dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas, biasanya kepada guru tersebut di informasikan oleh kepala sekolah bidang akademik/kurikulum tiga hari sebelum supervisi dilaksanakan. Bagi guru yang memperoleh nilai sebutan cukup atau kurang, langkah kepala sekolah akan mengadakan pelaksanaan supervisi kelinis bagi guru tersebut, dengan menggunakan pendekatan kolaboratif artinya tanggung jawab terbagi relatif sama antara kepala sekolah/pengawas dengan guru, dan langkah-langkah pelaksanaan supervisi klinisnya menggunakan tiga tahap, yaitu : tahap pertemuan awal, tahap observasi proses pembelajaran, dan tahap pertemuan balikan, serta instrumen yang digunakannya pun sama seperti pada whaktu pelaksanaan supervisi akademik. Dari hasil supervisi akademik dan supervisi klinis maka akan ditindaklanjuti. Sedangkan yang mendapat perolehan nilai sebutan cukup atau kurang diikutsertakan dalam pendidikan dan pelatihan yang dapat meningkatkan kompetensinya dan keprofesionalannya sebagai guru, diberi bimbingan teknis, supervisi klinis berkelanjutan, dan IHT. Adapun instrumen tindak lanjutnya dibuat perorangan untuk setiap guru. Instrumen supervisi
  • 23.
    50 akademik yang digunakanpunlebih cocok untuk obserfasi kelas yang mengajak di kelas 1 menggunakan K-13, ditandai dengan adanya kegiatan eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.