Study islam intensif

1,334 views

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,334
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
43
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Study islam intensif

  1. 1. KUMPULAN MATERI STUDY ISLAM INTENSIVE (SII) SEMESTER DASAR BIDANG PENDIDIKAN YISC AL-AZHAR MASA BAKTI 2012-2013 Khasanah Islam 2 Tauhid I Ma’rifatullah 5 Tauhid II Kalimat Syahadat 10 Mengenal Al-Quran 15 Mengenal As–Sunnah 21 Siroh Nabawiyah 24 Akhlaq 31 Thaharah 35 Shalat 37 Puasa 41 Zakat 44 Haji & Umrah 47 Ghazwul Fikri Hakikat Alam Ghaib 51 53 *kumpulan materi ini tidak semuanya lengkap, pembicara yang hadir mungkin saja memberikan wawasan yang berada di luar dari rangkuman ini
  2. 2. 2 KHASANAH ISLAM Kondisi Arab Pra Islam Menurut bahasa, Arab artinya padang pasir, tanah gundul dan gersang. Secara internal, Jazirah Arab dikelilingi gurun dan padang pasir yang menjadikannya benteng pertahanan alamiah dari bangsa asing (luar arab) untuk menjajah/menguasainya. Oleh karena itu mereka merdeka dan bebas dari segala urusan sejak dulu. Secara eksternal, Jazirah Arab terletak di benua yang mempertautkan daratan dan lautan; Eropa dan Afrika hingga Cina dan India (Asia). Setiap benua mempertemukan lautnya dengan Jazirah Arab sehingga tiap kapal yang berlayar akan berlabuh di sana, tukar menukar perniagaan, peradaban, agama, dan seni. Kondisi Politik Kekuasaan di jazirah Arab terdiri atas raja-raja tetapi tidak dapat bebas berdiri sendiri, dan pemimpin kabilah/suku yang memiliki hak istimewa seperti kekuasaan raja. Perbedaan status masyarakat sangat jelas. Para tuan berhak atas semua harta rampasan dan kekayaan, hamba wajib membayar denda dan pajak. Antar kabilah tidak pernah rukun karena nafsu dan kepentingan. Tidak ada satu raja yang dapat diandalkan saat menghadapi kesulitan dan krisis. Kondisi Agama Pada dasarnya mayoritas Bangsa Arab mengikuti agama Ibrahim ’alaihissalam, yaitu menyembah Allah. Semakin lama mereka mulai lalai hingga muncul Amr bin Luhay, pemimpin bani Khuza’ah. Ia dikenal sebagai orang yang memperhatikan urusan agama sehingga dicintai dan disegani layaknya ulama. Ketika pergi ke Syam dan melihat penyembahan berhala di sana, ia menganggap benar perbuatan tersebut karena Syam negeri para rasul dan kitab. Ia membawa pulang berhala Hubal dan meletakkannya di dalam Ka’bah lalu mengajak penduduk Makkah menyembahnya. Kemudian dibuatlah lagi berhala Manat, Lata dan Uzza, tiga yang terbesar, hingga yang kecil-kecil yang diletakkan di rumah dan di setiap tempat untuk disembah. Tradisi penyembahan berhala: - Mengelilingi dan berkomat-kamit, meminta pertolongan, berdoa - Menunaikan haji dan thawaf di sekelilingnya, merunduk dan sujud di hadapannya - Memberikan sajian, menyembelih hewan kurban untuk berhala dan menyebut namanya - Mengkhususkan sebagian makanan dan minuman atau bagian tertentu dari panen dan hewan peliharaan untuk berhala, juga sambil bernadzar Tradisi kepercayaan mengundi dengan anak panah yang tidak ada bulunya (al-azlam) di antaranya untuk menentukan nasab, judi, dan undian. Ath-Thiyarah, yaitu meramal nasib sial dengan sesuatu, misalnya dengan melepaskan biri-biri atau burung dan memperhatikan arah perginya hewan tersebut untuk menentukan nasib Tradisi kepercayaan perkataan peramal, paranormal, dan ahli nujum Adapula agama Yahudi, Masehi/Nashrani, Majusi, dan Syabi’ah Kondisi Sosial dan Ekonomi Mayoritas kehidupan berasal dari perdagangan. Selain itu ada industri kerajinan jahit dan memintal, serta memamak kulit. Di tengah jazirah juga ada pertanian dan penggembalaan hewan. Kekayaan yang dimiliki dapat mengundang perpecahan, perebutan antar kabilah. Kemiskinan dan kelaparan juga ada di tengah masyarakat.
  3. 3. 3 Hubungan kekerabatan sangat dijaga terutama di kalangan bangsawan, akan dijaga, dihormati, diprioritaskan meskipun harus dengan pedang dan pertumpahan darah. Mereka menjalani kehidupan dengan pepatah “tolonglah saudaramu, yang berbuat zhalim maupun yang dizhalimi”. Pernikahan pada masa jahiliyah menurut Abu Daud dari Aisyah r.a.: - Pernikahan spontan. Seorang laki-laki menginginkan seorang wanita dan membayarkan mas kawinnya kepada wali wanita tersebut seketika itu juga - Istibdha’, menyuruh istri yang telah bersih dari haidh untuk berkumpul (digauli) oleh laki- laki lain sementara ia tidak menyentuhnya sampai istrinya itu hamil oleh laki-laki lain, barulah terserah suami untuk mengambil istrinya kembali atau tidak. Terutama dilakukan jika mereka menginginkan anak yang baik dan pintar - Pernikahan poliandri secara bersamaan, kurang dari 10 laki-laki menggauli satu wanita. Jika wanita itu melahirkan, dapat menunjuk salah seorang laki-laki itu sebagai ayah - Sekian banyak laki-laki menggauli wanita yang dikehendaki yang disebut pelacur. Para wanita itu biasanya memasang bendera khusus di depan pintunya. Kalau wanita itu melahirkan anak, nasab anak diundi kepada siapa di antara laki-laki yang menggaulinya. Ada juga pernikahan poligami tanpa batasan jumlah istri. Bahkan dapat menikahi wanita yang bersaudara dan janda ayahnya, baik yang cerai mati atau cerai hidup. Kebiasaan mengubur anak-anak perempuan hidup-hidup karena takut aib atau karena kemunafikan, bahkan juga mengubur anak laki-laki karena takut miskin dan lapar. Secara akhlaq, bangsa Arab terkenal dermawan, namun terlalu berlebihan dan membangnga- banggakan diri dalam hal kemurahan hati. Kebiasaan minum-minuman khamr juga dianggap dapat menunjukkan kedermawanan dengan menghamburkan uang untuk minuman itu. Berjudi juga dianggap jalan menuju kedermawanan karena hasilnya dapat digunakan untuk memberi makan orang miskin. Selain itu, mereka juga memenuhi janji sampai rela membakar rumah atau membunuh anak sendiri daripada meremehkan janji. Kemuliaan dan keengganan untuk menerima kehinaan dan kelaliman sangat mencolok sehingga mereka cenderung gagah berani, cepat cemburu dan naik darah demi kehormatan. Ada juga bangsa Arab yang lemah lembut, suka menolong, kesederhanaan dalam pola hidup, dapat dipercaya, namun tidak banyak menonjol. Makna Islam dan Dasar-dasar yang Membentuk Istilah Islam Islam datang untuk menghapus kejahiliyahan yang ada kala itu. Islam adalah:  Agama yang diterima disisi Allah (Al-Imran : 19)  Berserah diri hanya pada Allah (Al-Imran : 83)  Agama Para nabi dan Rasul (Al-Baqarah : 136)  Jalan yang Lurus (Al-An’am : 153)  Agama seimbang akhirat dan dunia ( Al-Qashash : 77) Islam sebagai Pedoman Hidup dan Sistem Hidup yang Lengkap dan Sempurna Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka
  4. 4. 4 perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS, 2:213) Islam merupakan agama yang Kaffah (Al-Baqarah : 208) Kerangka dasar ajaran Islam: Aqidah, Syariah, Akhlaq 1. Aqidah Aqidah sebagai prinsip hidup dan landasan beragama. Berbicara tentang tauhid dan keimanan. Jenis Tauhid: Uluhiyyah, Rububiyyah, Asma’ wa Sifat Pilar Iman: Iman kepada Allah, Malaikat, Rasul, Kitab, Akhirat, Qadha’ dan Qadar. 2. Syari’ah Aturan seluruh aspek kehidupan a. Ibadah (Mahdhah), Pilar Islam: Syahadah, Salat, zakat, puasa, haji b. Mu’amalah (ghair mahdhah); sistem dalam Islam: hukum, pendidikan, sosial, politik, ekonomi, pemerintahan, filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain-lain. 3. Akhlaq Berbicara mengenai aspek-aspek perilaku a. Akhlaq kepada Allah b. Akhlaq kepada makhluq: hidup (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan), mati (lingkungan, alam). Islam merupakan Agama Akhlaq:  Akhlaq kepada Allah (2 : 186)  Akhlaq kepada Rasul (4 : 80)  Akhlaq kepada Diri Sendiri (2 : 44)  Akhlaq kepada sesama Manusia (2 : 83)  Akhlaq kepada Alam (11 : 61, 7 : 56) Sumber Ajaran Islam 1. Al-Quran 2. As-Sunnah 3. Al- Ra’yu wa al-Ijtihad: (Ijma’, qiyas, fatwa) Perkembangan Islam Islam masuk ke Indonesia melalui beberapa cara:  Jalur Perdagangan  Jalur Budaya  Jalur Pendidikan  Jalur Kekuasaan Politik Sumber: Shirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri Rangkuman ceramah Ust. Budi Ilyas dan Ust. Shobahussurur. Wallahu a’lam bish-shawab
  5. 5. 5 TAUHID I: MA’RIFATULLAH Rangkuman ceramah Ust. Erwin Setiawan & Ust. Arief Ma’ruf, Lc. Ma’rifatullah  Ma’rifat (mengenal) Allah A. Mengenal Allah Wujud (ada)-Nya Allah SWT adalah sesuatu yang aksiomatis atau yang dikenal dengan istilah arabnya badihiyyah, namun meskipun demikan masih ada sebagian orang yang mengingkarinya, maka untuk membuktikan wujud Nya dapat dikemukakan dari beberapa dalil yang antara lain: a. Dalil Fitrah b. Dalil Akal c. Dalil Syari’at (Naqli) a. Dalil Fitrah “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka ibu bapaknya lah (yang akan berperan) mengubah anak itu menjadi seorang Yahudi, atau Nashrani, atau Majusi …” (H.R. Bukhari) Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)", (Al A’raf :172) Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang Telah menimpanya. begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (Yunus : 12) Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka Telah terkepung (bahaya), Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, Pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur". (Yunus : 22) b. Dalil Akal Dengan mengunakan akal pikiran untuk merenungkan dirinya sendiri, alam semesta dan lain- lainnya seseorang manusia bisa membuktikan adanya Tuhan (Allah SWT). Al-Quran banyak mengemukakan ayat-ayat yang menggugah akal pikiran tersebut, antara lain: Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes, air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya). (Qs. Al Mukminun:67) Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Qs. An Nahl : 11) Dan dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya). (Qs. An Nahl : 12) Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Qs. Az Zariat : 21)
  6. 6. 6 Untuk membuktikan adanya Tuhan (Allah SWT) lewat merenungkan alam semesta, termasuk diri manusia itu sendiri, dapat dipakai beberapa “Qanun” (teori, hukum) antara lain: 1. Qanun Al ‘Illah 2. Qanun Al Wujub 3. Qanun Al Huduts 4. Qanun An Nidham 1. Qanun Al ‘Illah (Hukum Sebab Akibat) Segala sesuatu ada sebabnya, setiap ada perubahan tentu ada yang menjadi sebab terjadinya perubahan itu. Begitu juga sesuatu yang ada tentu ada yang mengadakannya. Sesuatu menurut akal mustahil ada dengan sendirinya, ada alam semesta pasti ada yang mengadakannya. 2. Qanun Al Wujub (Hukum Kemestian) Wujub artinya wajib, Wujub segala sesuatu tidak bisa terlepas dari salah satu kemungkinan : wajib, mustahil atau mungkin. Tentang alam semesta, adanya tidaklah wajib dan tidak pula mustahil atau mungkin. Tentang alam semesta, adanya tidaklah wajib dan tidak pula mustahil, karena keduanya tidak bertentangan dengan akal. Kalau tidak wajib dan tidak pula mustahil tentu mungkin. Artinya adanya alam semesta ini mungkin, tidak adanya juga mungkin. Lalu Siapa yang menentukan yang mungkin itu menjadi ada atau tidak ada ? Tentu bukan juga yang bersifat mungkin. Haruslah yang bersifat wajib ada (wajibul wujud), dalam hal ini bukanlah alam semesta itu sendiri. 3. Qanun Al Huduts Huduts artinya baru. Alam semesta seluruhnya adalah sesuatu yang hadits (baru, ada awalnya), bukan sesuatu yang qadim (tidak berawal). Kalau hadits, tentu ada yang mengadakannya, dan yang mengadakannya itu tentulah bukan yang juga bersifat hadits, tapi haruslah yang bersifat qadim 4. Qanun An Nidham Alam semesta dengan seluruh isinya seperti matahari, bulan, bintang, dan planet-planet lainnya termasuk bumi dengan segala isinya adalah segala sesuatu yang “sangat teratur”. Sesuatu yang teratur tentu ada yang mengaturnya, mustahil menurut akal semuanya itu teratur dengan sendirinya secara kebetulan. c. Dalil Syari’at (Naqli) Sekalipun secara fitrah manusia bisa mengakui adanya Tuhan, dan akal pikiran bisa membuktikannya, namun manusia tetap memerlukan dalil naqli (Al-Quran dan Al Hadits) untuk membimbing manusia mengenal Tuhan yang sebenarnya (Allah SWT) dengan segala asma’ dan sifat Nya. Sebab fithrah dan akal bisa menjelaskan siapa Tuhan yang sebenarnya itu (Allah SWT). Berikut ini kami sebutkan beberapa dalil yang menunjukkan bahwa Allah lah Tuhan semesta alam ini : 1. Allah SWT. adalah Al Awwal, artinya tidak ada permulaan bagi wujud Nya. Dia juga Al Akhir, artinya tidak ada akhir dari wujudNya Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin[*]; dan dia Maha mengetahui segala sesuatu. (Al Hadid : 3) [*] yang dimaksud dengan: yang Awal ialah, yang Telah ada sebelum segala sesuatu ada, yang Akhir ialah yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah, yang Zhahir ialah, yang nyata adanya Karena banyak bukti-buktinya dan yang Bathin ialah yang tak dapat digambarkan hikmat zat-Nya oleh akal.
  7. 7. 7 2. Allah SWT. adalah pencipta alam raya ini : Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. Al Hasyr : 24) Dan sungguh Telah diperolok-olokkan beberapa Rasul sebelum kamu, Maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka. (Qs. Al An’am : 10) Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? tidak ada Tuhan selain Dia; Maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)? (Qs. Faathir : 3) 3. Tidak ada satupun yang menyerupaiNya Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Qs. Asy Syuura : 11) 4. Allah SWT Maha Esa Katakanlah : “Dia-lah Allah, yang Maha Esa”. (Qs. Al Ikhlas : 1) 5. Dan lain lain B. Macam Tauhid Tauhid pengertian umumnya terbagi menjadi dua, yaitu Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah. Dalam pengembangannya para ulama ada yang menambahkan kategori Tauhid Mulkiyah dan Tauhid Asma wa Sifat. Namun dalam artikel berikut lebih difokuskan kepada Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah. Tauhid juga disebut sebagai aqidah (baca di sini). Tauhid Rububyiah adalah keyakinan seorang hamba bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang menciptakan seluruh ciptaan ini dengan sendiri, dan pengakuan bahwa Allah-lah satu- satunya Dzat yang mengatur semua ciptaan ini, Yang memiliki alam semesta, Yang menghidupkan seluruh kehidupan, dan Yang mematikan seluruh kematian. Kata “Robb” Itu sendiri secara bahasa memiliki banyak arti, yang antara lain: yang memiliki, yang mengembangkan, yang mendidik, yang memelihara, yang mengatur, yang memperbaiki, yang memimpin, yang mengumpulkan, dan lain- lain. “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah- buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu Mengetahui.” (Qs. Al Baqarah : 21-22) Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran- Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. (Qs. Ar Ra’d : 2) Sedangkan Tauhid Uluhiyah adalah pengakuan dan keyakinan bahwa Allah adalah satu- satunya Dzat yang berhak disembah. Kata “Illah” secara bahasa memiliki arti antara lain: tentram, tenang, lindungan, rindu, cinta, dan sembah (‘abada). Diantara ma’na “Illah” diatas, yang paling asasi adalah ma’na abada (‘ain - ba’ – dal), dimana dari kata inilah muncul beberapa arti lain: hamba sahaya (abdun), yang mulya dan yang agung (ma’bad), selalu mengikutinya (abada bihi), penghambaan (‘ibadah). Kata ‘ibadah didalamnya mengandung arti antara lain: merendahkan diri, tunduk, taat, cinta, takut, dan harap.
  8. 8. 8 Sebagian ulama mendefinisikan tauhid Uluhiyah sebagai puncak rasa cinta dan keta’atan kepada Allah. Dengan Tauhid Uluhiyah ini, seorang hamba bisa disebut muslim, karena telah melaksanakan perintah-perintah agama, yaitu ibadah. Maka bisa dikatakan bahwa bentuk lahir dari Tauhid Uluhiyah adalah menjalankan rukun-rukun Islam. Seorang hamba bisa saja telah mencapai Tauhid Rububiyah, namun belum mencapai Tauhid Uluhiyah; seperti seseorang yang telah mempercayai keberadaan Allah, namun belum mau menegakkan rukun-rukun Islam. Tauhid uluhiyah inilah yang sebenarnya dituntut oleh Allah kepada makhluk-Nya. Jika dikatakan sebagai makhluk, maka sudah selayaknyalah dia harus meyakini dan menuruti Sang Pencipta. Jika disebut sebagai manusia, maka sudah pada tempatnyalah selalu beribadah dan mendekatkan diri kepada Sang Khaliq. Jika merasa sebagai yang diberi mandat sebagai khalifah di muka bumi, maka sudah pada tempatnyalah meramaikan dan membawa bumi bersujud kehadlirat-Nya. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Qs. Ar Ra’d : 28) Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?" (Qs. Al Mu’minun : 88) Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah (I’budu – fiil Amr) Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", (Qs. An Nahl : 36) Beberapa konsekuensi tauhid uluhiyah: “Apakah kami punya (hak untuk campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” (Ali-Imron: 154) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya (dalam memuruskan sesuatu) dan bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat:1) “Kemudian, apabila terjadi silang pendapat diantara kalian dalam suatu masalah, kembalikanlah ia kepada (hukum) Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (An-Nisa’:59) “Dan tidak boleh bagi orang beriman baik laki-laki maupun perempuan, ketika Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara kemudian mereka memilih pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan siapapun yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah benar-benar tersesat.” (Al- Ahzab: 36) “Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan pasti (dari Allah) tentu mereka telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (Asy-Syura: 21) “(menetapkan) hukum itu adalah hak Allah semata. Dia telah memerintahkan kalian agar tidak menyembah selain-Nya. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 40) “dan dia (Muhammad) tidak mengucapkan sesuatu berdasarkan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4) “Seandainya dia (Muhammad) berani berbohong atas (nama) Kami, tentu akan kami cengkram tangan kanannya, kemudian kami potong urat nadinya. Dan tidak ada seorang pun dari akan mampu menghalangi kami.” (Al-Haqah: 44-47)
  9. 9. 9 “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berpaling dari-Nya sementara kalian mendengar (perintah-perintah-Nya). Dan jangan seperti orang-orang (munafik) yang berkata “Kami mendengarkan”, padahal sebenarnya mereka tidak mendengarkan.” (Al-Anfal: 20-21) Tauhid Asma wa Sifat Ialah kepercayaan bahwa Allah mempunyai nama dan sifat yang sempurna, dengan mengakui dan mempercayai nama-nama dan sifat-sifat Allah yang tercantum dalam kitab suci Al-Qur’an dan yang diceritakan oleh Nabi Muhammad SAW. Tauhid Asma’ Sifat lebih merupakan persepsi hamba terhadap Tuhannya dengan pengakuan bahwa Tuhannya adalah yang Maha Sempurna. Iman kepada Asma’ul Husna adalah termasuk dalam Tauhid ini. “Allah memiliki asmaa-ul husna maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya, nanti mereka akan mendapat balasan perbuatan mereka.” (Al-A’raf: 180) “Maka janganlah kalian membuat permisalan bagi (zat) Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl: 74) “Usai Allah menciptakan alam semesta, Dia menuliskan pada kitab yang ada di sisi-Nya di atas ‘Arsy, bahwa , “sungguh rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku”.” (muttafaq ‘alaihi) “tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (Asy-Syura: 11) “Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka.” (Al-Baqoroh: 235) “Katakan, “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlas: 1-4) “Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak pula tidur. Apa yang di langit dan di bumi adalah milik- Nya. Tak ada seorang pun yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, sedangkan mereka tidak mengetahui apapun dari ilmu Allah selain apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar.” (Al-Baqoroh: 255) Wallahu a’lam bish-shawab
  10. 10. 10 TAUHID II: MAKNA SYAHADAT Rangkuman ceramah Ust. Arief Ma’ruf, Lc. & Ust. Muhammad Ridwan Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu. Q.S. Muhammad: 19.  mengandung pengertian bahwa makna syahadat harus dipahami  Kisah tentang memahami makna syahadat Kisah Rasulullah yang ditanya oleh orang Arab Badui tentang ajaran yang beliau bawa. Rasulullah SAW menjawab “Asyhaduallaa ilaaha Illallah, wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah”. Orang Badui tersebut memperingatkan Rasulullah akan diperangi oleh seluruh orang Arab dan Non Arab. Kisah Rasulullah yang menawarkan Bani Syaibah untuk mengajarkan dua kalimat kepada mereka sehingga dengannya mereka dapat mengalahkan orang Persia dan Romawi (yang saat itu merupakan bangsa yang maju dan berkuasa). Rasulullah SAW memberikan dua kalimat syahadat namun mereka menolak dan tidak mampu. Kisah tersebut menunjukkan bahwa mereka menolak kalimat tersebut karena mereka memahami bahwa kalimat tersebut mengandung makna yang kuat dan berat untuk diterapkan ke dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sebuah kisah lain menceritakan, ketika seseorang gembala kambing didatangi oleh Umar bin Khattab ra. Si penggembala kambing dipercayakan majikannya untuk membawa kambingnya yang banyak jumlahnya. Umar ra ingin membeli satu kambing tanpa sepengetahuan majikan karena sesungguhnya hanya penggembala kambing yg tahu betul jumlah kambing yang digembalanya. Namun apa kata si penggembala kambing, “Aku tak akan menjualnya”. Ketika Umar bertanya kenapa, si penggembala kambing berkata, “Mungkin betul majikanku tidak akan tahu karena ia tak pernah tahu jumlah kambingnya, namun Allah Maha Mengetahui dan Melihat perbuatanku. Dan aku tidak lah berani melakukan yang kau minta”. Umar ra begitu kagum kepada kejujuran sang penggembala kambing karena semata-mata ia takut kepada Allah SWT. Sebuah kisah lain yaitu kisah ayah dari ulama besar Abdullah bin Mubarak. Sang ayah hanyalah seorang budak sahaya. Ia pernah dipekerjakan sebagai penjaga kebun milik majikannya selama beberapa tahun. Suatu ketika majikannya memanggilnya untuk membawakan buah delima yang manis. Ketika sudah diserahkan dan si majikan mencicipi buah delima tersebut, ternyata rasanya asam. Marahlah sang majikan dan menghardik sahayanya tidak becus menjaga kebunnya sekian lama dan tidak mampu membedakan mana buah yang manis dan mana yang tidak. Apa jawaban sang budak sahaya? “Tuan, aku tidaklah Tuan perintahkan selain sekedar menjaga kebun Tuan. Dari itu, tidak sebutir delima yang singgah di tanganku untuk ku makan. Aku tidak ada titah untuk itu”, ujarnya. Kisah selanjutnya, sang majikan begitu kagum dengan kepatuhan sahayanya yang tidak berani sedikit pun melanggar perintahnya atas keimanannya kepada Allah. Dan dengan kehendak Allah SWT, sang budak sahaya akhirnya dinikahkan dengan puteri sang majikan. Pernikahan mereka melahirkan Abdullah bin Mubarak, seorang ahli Hadits yang terkemuka dan seorang zahid termasyhur. Subhanallah.  Makna Syahadat 1. Asy-Syahaadah
  11. 11. 11  Al-I’laan (pengumuman)/ al-I’tiraaf (pengakuan): ketika seseorang menggucapkan syahadatain berarti mengumumkan bahwa ia bebas dari segala belenggu kemudharatan, hanya menyerah dan tunduk kepada AllahSWT. Q.S. Al-A’raf: 172  Al-Qasamu (Sumpah): ketika sesorang telah mengucapkan syahadatain, maka ia telah bersumpah kepada Allah untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. Harus ditepati  Al-‘Ahdu/ Al-Wa’du: ketika seseorang telah mengucapkan syahadatain, maka ia telah berjanji kepada Allah SWT untuk melakukan segala perintah-Nya 2. Al-Iman Ketika makna Asy-Syahaadah (3 poin dari A) berusaha dilakukan, maka muncullah al-Imaan. Iman memiliki tiga sisi:  At-tashdiiqu bil-Qalbi/ bil-Jinaan: meyakini dengan hati  Al-Iqraaru bil-lisaan/ mengucapkan dengan lisan  Al-‘amalu bil-arkaan: melakukan amalannya Orang yang beriman dengan baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Al-Mu’minuun: 1-11): Sungguh beruntung orang-orang yang beriman; (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya; dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan-perbuatan) yang tidak berguna; dan orang yang menunaikan zakat; dan orang yang memelihara kemaluannya; kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka mliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercel; Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas; Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya; serta orang yang memelihara shalatnya; Mereka itulah orang yang akan mewarisi; (yakni) akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. 3. Al-Intihaan (Ujian) Seseorang jangan mengira akan dibiarkan saja dengan keimanannya. Setelah keimanan dideklarasikan, maka Allah akan mendatangkan ujian atas keimanannya itu. (Al-Ankabuut: 2-4) َ‫ﻟ‬ ْ‫ﻢ‬ُ‫ھ‬َ‫و‬ ‫ﱠﺎ‬‫ﻨ‬َ‫ﻣ‬‫َا‬‫ء‬ ۟‫ا‬ٓ‫ﻮ‬ُ‫ﻟ‬‫ُﻮ‬‫ﻘ‬َ‫ﯾ‬ ‫َن‬‫أ‬ ۟‫ا‬ٓ‫ﻮ‬ُ‫ﻛ‬َ‫ﺮ‬ْ‫ﺘ‬ُ‫ﯾ‬ ‫َن‬‫أ‬ ُ‫س‬‫ﱠﺎ‬‫ﻨ‬‫ٱﻟ‬ َ‫ﺐ‬ِ‫ﺴ‬َ‫ﺣ‬َ‫أ‬َ‫ن‬‫ُﻮ‬‫ﻨ‬َ‫ﺘ‬ْ‫ﻔ‬ُ‫ﯾ‬ ‫ﺎ‬]٢٩:٢[ Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan dengan mengatakan, “Kami telah beriman” dan mereka tidak diuji? ْ‫ﻢ‬ِ‫ﮭ‬ِ‫ﻠ‬ْ‫ﺒ‬َ‫ﻗ‬ ‫ِﻦ‬‫ﻣ‬ َ‫ﻦ‬‫ِﯾ‬‫ﺬ‬‫ﱠ‬‫ﻟ‬‫ٱ‬ ‫ﱠﺎ‬‫ﻨ‬َ‫ﺘ‬َ‫ﻓ‬ ْ‫ﺪ‬َ‫ﻘ‬َ‫ﻟ‬َ‫و‬َ‫ﻦ‬‫ِﯿ‬‫ﺑ‬ِ‫ﺬ‬ٰ‫ـ‬َ‫ﻜ‬ْ‫ﻟ‬‫ٱ‬ ‫ﱠ‬‫ﻦ‬َ‫ﻤ‬َ‫ﻠ‬ْ‫ﻌ‬َ‫ﯿ‬َ‫ﻟ‬َ‫و‬ ۟‫ا‬‫ُﻮ‬‫ﻗ‬َ‫ﺪ‬َ‫ﺻ‬ َ‫ﻦ‬‫ِﯾ‬‫ﺬ‬‫ﱠ‬‫ﻟ‬‫ٱ‬ ُ‫ﮫ‬‫ﱠ‬‫ﻠ‬‫ٱﻟ‬ ‫ﱠ‬‫ﻦ‬َ‫ﻤ‬َ‫ﻠ‬ْ‫ﻌ‬َ‫ﯿ‬َ‫ﻠ‬َ‫ﻓ‬ ۖ]٢٩:٣[ Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahuiorang-orang yang dusta. ‫َﺎ‬‫ﻧ‬‫ُﻮ‬‫ﻘ‬ِ‫ﺒ‬ْ‫ﺴ‬َ‫ﯾ‬ ‫َن‬‫أ‬ ِ‫ت‬‫َﺎ‬ٔ‫ـ‬‫ﱢ‬‫ﯿ‬‫ﱠ‬‫ﺴ‬‫ٱﻟ‬ َ‫ن‬‫ُﻮ‬‫ﻠ‬َ‫ﻤ‬ْ‫ﻌ‬َ‫ﯾ‬ َ‫ﻦ‬‫ِﯾ‬‫ﺬ‬‫ﱠ‬‫ﻟ‬‫ٱ‬ َ‫ﺐ‬ِ‫ﺴ‬َ‫ﺣ‬ ْ‫م‬َ‫أ‬َ‫ن‬‫ُﻮ‬‫ﻤ‬ُ‫ﻜ‬ْ‫ﺤ‬َ‫ﯾ‬ ‫َﺎ‬‫ﻣ‬ َ‫ء‬‫َﺂ‬‫ﺳ‬ ۚ]٢٩:٤[ Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Sangatlah buruk apa yang mereka tetapkan! 4.Al-Istiqaamah (Ketetapan) Ujian keimanan untuk melihat seberapa jauh seseorang mampu tetap mempertahankan keimanannya. Sehingga ujian tersebut mampu menumbuhkan istiqamah seorang muslim. (Fussilat: 30-32) ‫ﱡ‬‫ﺑ‬َ‫ر‬ ۟‫ا‬‫ُﻮ‬‫ﻟ‬‫َﺎ‬‫ﻗ‬ َ‫ﻦ‬‫ِﯾ‬‫ﺬ‬‫ﱠ‬‫ﻟ‬‫ٱ‬ ‫ﱠ‬‫ن‬ِ‫إ‬ِ‫ﺑ‬ ۟‫ا‬‫ُو‬‫ﺮ‬ِ‫ﺸ‬ْ‫ﺑ‬َ‫أ‬َ‫و‬ ۟‫ا‬‫ُﻮ‬‫ﻧ‬َ‫ﺰ‬ْ‫ﺤ‬َ‫ﺗ‬ ‫َﺎ‬‫ﻟ‬َ‫و‬ ۟‫ا‬‫ُﻮ‬‫ﻓ‬‫َﺎ‬‫ﺨ‬َ‫ﺗ‬ ‫ﱠﺎ‬‫ﻟ‬َ‫أ‬ ُ‫ﺔ‬َ‫ﻜ‬ِ‫ﺌ‬ٰٓ‫ـ‬َ‫ﻠ‬َ‫ﻤ‬ْ‫ﻟ‬‫ٱ‬ ُ‫ﻢ‬ِ‫ﮭ‬ْ‫ﯿ‬َ‫ﻠ‬َ‫ﻋ‬ ُ‫ل‬‫ﱠ‬‫ﺰ‬َ‫ﻨ‬َ‫ﺘ‬َ‫ﺗ‬ ۟‫ا‬‫ُﻮ‬‫ﻤ‬ٰ‫ـ‬َ‫ﻘ‬َ‫ﺘ‬ْ‫ﺳ‬‫ٱ‬ ‫ﱠ‬‫ﻢ‬ُ‫ﺛ‬ ُ‫ﮫ‬‫ﱠ‬‫ﻠ‬‫ٱﻟ‬ ‫َﺎ‬‫ﻨ‬َ‫ن‬‫ُو‬‫ﺪ‬َ‫ﻋ‬‫ُﻮ‬‫ﺗ‬ ْ‫ﻢ‬ُ‫ﺘ‬‫ُﻨ‬‫ﻛ‬ ‫ِﻰ‬‫ﺘ‬‫ﱠ‬‫ﻟ‬‫ٱ‬ ِ‫ﺔ‬‫ﱠ‬‫ﻨ‬َ‫ﺠ‬ْ‫ﻟ‬‫ﭑ‬ ]٤١:٣٠[ Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “jangalah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.
  12. 12. 12 ِ‫ة‬َ‫ﺮ‬ِ‫ﺧ‬‫َا‬‫ء‬ْ‫ل‬‫ٱ‬ ‫ِﻰ‬‫ﻓ‬َ‫و‬ ‫َﺎ‬‫ﯿ‬ْ‫ﻧ‬‫ﱡ‬‫ﺪ‬‫ٱﻟ‬ ِ‫ة‬ٰ‫ﻮ‬َ‫ﯿ‬َ‫ﺤ‬ْ‫ﻟ‬‫ٱ‬ ‫ِﻰ‬‫ﻓ‬ ْ‫ﻢ‬ُ‫ﻛ‬ُ‫ؤ‬‫َﺂ‬‫ﯿ‬ِ‫ﻟ‬ْ‫و‬َ‫أ‬ ُ‫ﻦ‬ْ‫ﺤ‬َ‫ﻧ‬َۖ‫ن‬‫ُﻮ‬‫ﻋ‬‫ﱠ‬‫ﺪ‬َ‫ﺗ‬ ‫َﺎ‬‫ﻣ‬ ‫َﺎ‬‫ﮭ‬‫ِﯿ‬‫ﻓ‬ ْ‫ﻢ‬ُ‫ﻜ‬َ‫ﻟ‬َ‫و‬ ْ‫ﻢ‬ُ‫ﻜ‬ُ‫ﺴ‬ُ‫ﻔ‬‫َﻧ‬‫أ‬ ٓ‫ﻰ‬ِ‫ﮭ‬َ‫ﺘ‬ْ‫ﺸ‬َ‫ﺗ‬ ‫َﺎ‬‫ﻣ‬ ‫َﺎ‬‫ﮭ‬‫ِﯿ‬‫ﻓ‬ ْ‫ﻢ‬ُ‫ﻜ‬َ‫ﻟ‬َ‫و‬]٤١:٣١[ Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. ٍۢ‫ﻢ‬‫ِﯿ‬‫ﺣ‬‫ﱠ‬‫ر‬ ٍۢ‫ر‬‫ُﻮ‬‫ﻔ‬َ‫ﻏ‬ ْ‫ﻦ‬‫ﱢ‬‫ﻣ‬ ‫ۭﺎ‬ً‫ﻟ‬ُ‫ﺰ‬ُ‫ﻧ‬]٤١:٣٢[ Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. 5. Hasil Istiqamah Orang yang memahami makna syahadat dan mampu beristiqamah dengan keimanannya akan memiliki tiga keadaan (Sebagaiamana yang dinyatakan dalam surat Fussilat 30-32):  Asy-Syajaa’ah (Keberanian) untuk menghadapi segala kesulitan  At-Tafaaul (Optimisme)terhadap segala hal yang dihadapi  Al-Ithmi’naan (Ketenangan), tidak takut, tidak sedih, tidak khawatir karena keyakinan terhadap kekuasaan Allah SWT. Bila poin 1 hingga 5 lengkap dan mampu diamalkan, maka akan mendapat As-Sa’aadah (kebahagiaan) di dunia dan di akhirat. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul:  Bagaimana mengetahui dan bisa beristiqamah? Untuk menjaga istiqamah: senantiasa ingatlah Allah, ingatlah bahwa kehidupan adalah ujian dari Allah SWT. Jangan terlalu berlebihan dalam menyukai atau membenci atau melakukan apapun. Harus tawazun (seimbang) dan tadaruj (bertahap) dalam melakukan sesuatu.  Segala sesuatu terjadi atas izinnya. Bagaimana kaitannya dengan pengobatan2 alternatif yang marak sekarang? Rasulullah SAW menyuruh kita berobat. “apabila kalian sakit, maka berobatlah”. Berobat harus yang syar’I, artinya tidak menyalahi ketentuan agama dan tidak menyekutukan Allah. Jangan berobat dengan orang yang memakai kekuatan jin karena termasuk syirik. Dan pada dasarnya jin lebih rendah dari manusia. Manusia makhluk Allah yang paling ttinggi derajatnya dibandingkan makhluk Allah yang lain karena memiliki hawa nafsu yang harus di lawan dan memiliki akal. Ketika ia mampu melawan hawa nafsu maka ia lebih mulia bahkan dibandingkan para malaikat (yang tidak memiliki nafsu dan menyembah Allah karena memang fitrahnya). Sementara ketika ia menuruti hawa nafsunya maka lebih rendah dari makhluk Allah lainnya (misalnya syaithan atau hewan yang memang fitrahnya berlaku buruk). Dan telah Kami muliakan keturunan Adam… (al-Israa:30-32) Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Dia adalah dari (golongan) jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunanya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuh bagimu? Sangat buruklah (iblis itu) sebagai pengganti (Allah) bagi orang yang zalim (Q.S. Al-Kahfi: 50).  Kisah tentang Bani Syaibah dan Orang badui, apakah mereka benar-benar memahami maksudnya? bagaimana implementasi saat ini? Kalimat syahadat adalah bahasa Arab dan saat itu mereka memahami bahasa Arab (saat itu perkembangan pesat syair-syair Arab dengan tata bahasa terbaik, termasuk al-Qur’an yang tidak dapat ditandingi pembuatannya oleh bahkan orang Arab sendiri). Salah satu syarat diterimanya syahadat adalah kita memahami (memiliki ilmu) tentang makan syahadat itu. Materi-materi
  13. 13. 13 tentang syahadat dan keimanan sudah banyak dibahas para ulama seperti Imam Nawawi, Al-Jauzi, Al-Ghazali, dsb.  Soal ujian yang dirasa berat dan merasa tidak sanggup. Apa boleh berdoa minta ujiannya dikurangi? Perlu dipahami, pada dasarnya Allah memberikan ujian sesuai dengan batas kemampuan hambanya. Masalahnya adalah banyak yang merasa tidak percaya dan merasa tidak mampu menghadapi cobaan. Allah padahal sudah mengatakan dalam surat Al-Baqarah: 286 “Allah tidak membebani seseorang melainkan seseuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang Kafir.’” Tiap orang perlu bersabar menghadapi segala ujian dari Allah SWT dan berusaha menghadapinya dengan mengerahkan segala potensi yang ia miliki. Apabila ujian masih bertahan karena Allah melihat masih ada potensi kita untuk dapat menghadapinya, dan berdoalah dengan baik, seperti doa pada ayat tersebut. Lihatlah pada orang-orang yang lebih berat ujiannya dibanding kita.  Apa yang bisa membatalkan syahadat? Hal yang paling pokok adalah ketika kita berbuat musyrik atau syirik kepada Alloh SWT. Percaya pada dukun, mengunjungi makam dan minta doa, sebagai contoh, adalah sama seperti mengakui ada yang berkuasa selain Alloh. Tengoklah QS 2:22 pada kalimat terakhir, “karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Alloh, padahal kamu mengetahui”. Seorang muslim harus mengakui bahwa hanya ada agama Islam, tidak boleh menganut ajaran bahwa semua agama itu sama. Itu mendekati musyrik. Ingatlah kembali pada tiga ilmu tauhid, yaitu tauhid rububiyyah (mengakui bahwa semua ada yg menciptakan, memelihara kita dengan keseimbangan sistem bumi), tauhid Uluhiyyah (mengakui Sang Pencipta dengan melakukan ibadah dan menyembah Alloh SWT) dan tauhid Mulkiyah (Aswa wal sifat).  Bagaimana adab kita ketika umat agama lain merayakan hari raya mereka? Ketika kita mengucapkan selamat hari raya, itu sudah perbuatan yang salah secara tauhid, karena kita sudah mengakui keberadaan Tuhan lain yang dirayakan pada hari tersebut. Dalam QS 109:6, Alloh SWT berfirman, “untukmu agamamu dan untukku agamaku“. Kita sebagai umat Islam diajarkan untuk menghormati umat agama lain dalam urusan dunia sesuai yang sudah diajarkan juga oleh Rasulullah SAW. Islam menghargai kebebasan beragama, Laa ikraha fid diin, tak ada paksaan dalam beragama. Tapi ketika masuk dalam ranah urusan agama, kita tidak boleh mengikuti, karena ini sudah menyangkut aqidah. Tidak mengucapkan selamat hari raya kepada agama lain bukan berarti kita tidak bergaul dan berlaku baik kepada mereka. Begitu pun ketika sifat-sifatnya mngikuti ritual atau doa-doa agama lain, kita dilarang mngikuti karena ini adalah ittiba’ (mengikuti apa yang mereka lakukan).  Bagaimana bersikap kepada keluarga yang beragama beda dari kita? Ingatlah bahwa dalam urusan dunia mereka itu keluargamu, tapi dalam urusan agama mereka bukan lah siapa-siapamu. Sebagai anak atau saudara misalnya, kita wajib berbakti kepada mereka sebagai anggota keluarga pada umumnya namun tanpa harus mengikuti agama mereka (QS 31:15). Jaga kesucian Tauhid, tunjukkan kemuliaan akhlak tanpa harus mengikuti agama mereka. Dan dalam QS 5: 2, Alloh berfirman, “…dan tolong-menolonglah kamu
  14. 14. 14 dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya“. Catatan: Apabila orang non Muslim mengucapkan salam, maka jawaban yang diperkenankan oleh syari’at adalah, “Wa’alaikum (Semoga anda juga)”. Itu saja, tidak udah diperpanjang lagi. Rasulullah saw menasihatkan, “Jika orang-orang ahli Kitab (non Muslim) memberi salam kepada kamu, maka jawablah: Wa’alaikum.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam bish-shawab
  15. 15. 15 MENGENAL AL-QURAN “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? “ (Al Maidah : 50) “Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An Najm : 4) A. PENGERTIAN AL-QURAN Secara bahasa Al-Quran adalah Kalamullah atau ucapan Allah, Adapun secara istilah Al-Quran adalah kitab Allah SWT. yang diturunkan atau diwahyukan kepada Nabi SAW selaku utusan- Nya, yaitu Muhammad ibn Abdullah melalui malaikat Jibril As. yang dimulai dengan Surah Al Fatihah dan ditutup dengan Surah An-Naas. Ia bukanlah perkataan Muhammad atau manusia lainnya, tetapi ia adalah perkataan Allah SWT. yang berbahasa Arab. Di dalamnya terdapat hukum-hukum (seperti pencurian, perampokan, dan pembunuhan), cerita umat terdahulu yang tidak pernah diceritakan dalam kitab suci lain (seperti Harut dan Marut, Ya’juj dan Ma’juj, pengangkatan Isa Al Masih ke langit), juga doktrin ketauhidan yang benar dan sesuai dengan realitas dan ilmu pengetahuan (seperti ke Esaan Allah SWT, penciptaan manusia, dan alam semesta) Imam Ghazali mengharuskan kita membaca al-Quran dengan tajwid yang benar agar tidak salah baca sehingga menyebabkan salah arti dan pemahaman. Orang yang membaca al-Quran berarti melakukan ibadah. 1 huruf Al-Quran nilainya adalah 10 kebaikan. Ibnul Qayyim berpendapat bahwa Al-Quran adalah tanda cinta kasih Allah kepada hamba- Nya karena telah memberi rahmat kehidupan kepada kita dan memberikan petunjuk. B. SEJARAH KONDIFIKASI (PENYUSUNAN) AL-QURAN “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya[*].” (Al Hijr :9) “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quran ketika Al Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan Sesungguhnya Al Quran itu adalah Kitab yang mulia (41). Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (42).” (Fushshilat : 41-42) Diantara buktinya ialah lebih dari empat belas abad semenjak turunnya, Al-Quran tetap seperti sedia kala pada saat turunnya dan seperti yang disampaikan Muhammad SAW dan seperti yang diterima para shahabat serta orang-orang sesudah mereka. Demikan seterusnya dari satu generasi kelain generasi, ia tetap terjaga di dalam dada, dibaca lisan dan ditulis di Mushaf. Padahal ribuan dan bahkan jutaan anak-anak Muslim serta selain orang Arab yang tidak mengerti bahasa Arab. Allah telah menyediakan beberapa faktor yang memudahkan penghafal Al-Quran, sebagai pemenuhan janji untuk memeliharanya, sehingga ia tetap memiliki nilai Ilahy, tidak diusik hawa nafsu manusia. Diantara faktor-faktor ini adalah : 1. Al-Quran diturunkan disuatu umat yang memiliki keistimewaan tersendiri karena gemar menghafal. Hal ini dapat diketahui lewat syair, silsilah keturunan dan lain-lainnya. Maka bagaimana jika mereka menghadapi kitab suci? Keadaan semacam ini membantu kemudahan Al-Quran dan peresapannya, keinginan kuat untuk menghafalnya. Para penghafal Al-Quran tidak pernah kehabisan sepanjang sejarah, sehingga Ibnu Taimiyah berkata, “Umat kita tidak
  16. 16. 16 seperti Ahli Kitab, yang tidak menghafal kitab mereka didalam dada. Bahkan sekiranya semua Mushaf musnah, maka Al-Quran tetap terpelihara di dalam hati umat.”| Majmu ‘Fatawa, Syaikhul-Islam. 2. Rasulullah SAW mengangkat beberapa penulis wahyu, dan memerintahkan mereka untuk menulis setiap kali ada ayat Al-Quran yang turun. Para penulis wahyu ini menulis ayat-ayat Al- Quran di atas apa pun yang bisa menampungnya, bisa diatas kulit, pelepah daun korma, tulang, kayu dan lain-lainnya. Pada awal mulanya beliau melarang mereka menulis sedikitpun selain Al-Quran, seraya bersabda, “Siapa yang menulis sedikitpun selain Al-Quran, hendaklah dia menghapusnya.” Hal ini dimaksudkan agar semua perangkat dipusatkan untuk menulis Al- Quran, semua usaha dan perhatian tertuju kepada penghapalan Al-Quran. Beliau tidak menemui Rabb kecuali setelah Al-Quran dalam keadaan tertulis semuanya. 3. Atas usul Umar bin Al Khaththab, Abu Bakar menghimpun seluruh lembaran mushaf. Hal ini terjadi setelah perang Yammamah, melawan orang murtad, akibat banyak para penghafal Al-Quran yang gugur dalam peperangan itu. Karena khawatir pada penghapal tiada semua di medan peperangan, maka Umar mengisyaratkan agar semua mushaf yang masih tercecer dihimpun secara resmi, yang langsung ditangani khalifah. Untuk menangani pekerjaan ini diangkat Zaid bin Tsabit, salah seorang penulis wahyu yang paling menonjol dan menguasai seni penulisan. Sistemnya mengacu kepada dua sumber:  Dari apa yang ditulis semasa Nabi Saw.  Dari hafalan orang-orang yang menghapalnya. Zaid bin Tsabit tidak menerima dari seorangpun kecuali setelah ada dua saksi yang menguatkannya. Maksud dua orang saksi ini memberikan kesaksian bahwa apa yang ditulis itu juga ditulis semasa hidup Rasulullah SAW. Zaid berkata, “Demi Allah, sekiranya aku diberi tugas memindahkan suatu gunung ke gunung lain, maka yang demikian itu tidak lebih berat bagiku daripada tugas yang dibebankan kepadaku untuk menghimpun Al-Quran.” Pekerjaan yang besar ini selesai secara sempurna, dengan begitu sudah ada dua Mushaf yang resmi, yang dipegang Abu Bakar hingga dia meninggal dunia. Kemudian dia menyerahkannya kepada Hafshah, Ummul-Mukminin. Ali berkata tentang pengadaan Mushaf ini, “Orang yang paling besar pahalanya ialah Abu Bakar. Semoga Allah merahmati Abu Bakar, karena dia telah menghimpun Kitab Allah.”| Al Burhan, Az Zarkasyi 4. Adanya penulisan Mushaf Al-Imam pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Pasalnya, Hudzaifah bin Al Yaman tiba dari penaklukan Armenia dan Azerbajian bersama penduduk Irak. Dia dibuat kaget karena orang-orang saling berbeda dalam qira’ah. Maka dia berkata kepada Utsman, “Wahai Amirul Mukminin, berilah perhatian kepada ummat ini sebelum mereka saling bertentangan tentang Al-Kitab sepeti pertentangan orang-orang Yahudi dan Nasrani.” Khalifah Ustman lalu menerima masukan Hudzaifah ini, lalu dia mengirim utusan kepada Hafsah untuk menyampaikan pesan, “Kirimkanlah kepada Mushaf yang ada ditanganmu, agar kami dapat memperbanyaknya dalam beberapa Mushaf, dan setelah itu kami kembalikan lagi kepada mu.” Maka Hafsah mengirimkan Mushaf itu kepada Utsman, lalu Utsman menunjuk Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Az Zubair, Sa’id bin Al Ash dan Abdurahman bin Al Harits bin Hisyam untuk menulisnya dalam beberapa mushaf, sedangkan Mushaf-mushaf lain dimusnahkan dan dibakar
  17. 17. 17 Pekerjaan Utsman ini sendiri atas kesepakatan para sahabat dan keridhaan mereka. Karena itu mereka berkata, “Pendapatmu itu benar-benar amat baik.” Ali bin Abu Thalib berkata, “Sekiranya aku menjadi Khalifah semasa Utsman, tentu aku akan melakukan seperti yang dilakukan Utsman terhadap Mushaf.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Sekiranya Utsman tidak melakukannya, tentu aku akan melakukannya.” Ali juga berkata, “Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kalian bersikap secara berlebih-lebihan terhadap Utsman. Kalaupun diantara kalian ada yang mengatakan, ‘Utsman telah membakar Al-Quran, demi Allah, dia tidak membakarnya melainkan setelah mendapat persetujuan kami, para shahabat Muhammad Saw.” C. AL-QURAN SABAGAI SUMBER HUKUM “Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui (18). Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa (19)”. (Al Jatsiyah : 18 – 19) Al-Quran merupakan sumber pertama bagi syariat (Sumber Hukum). Islam adalah iman yang dibenarkan amal. Aqidah menggambarkan iman, sedangkan syariat mengambarkan amal. Amal ini meliputi hubungan manusia dengan Rabb-nya, seperti ibadah yang menjadi syiar yang paling besar, seperti shalat yang mendapatkan perhatian besar dalam Al-Quran, yang dijelaskan lebih rinci dalam hadits ketika dalam keadaan aman atau perang, ketika menetap atau dalam perjalanan, perintah untuk menjaga shalat wustha, perhatian tentang sebagian syarat-syarat, yaitu thaharah, semacam mandi, wudhu atau mengenakan perhiasan. Begitupula menghadap ke arah Kiblat (Baitul Haram). Adapula membahas mengenai puasa, zakat, dan haji. Didalam Al-Quran dijelaskan juga bagaimana hubungan manusia dengan keluarganya, baik istri atau suami, ayah, anak dan kerabat. Al-Quran telah menjelaskan masalah ini baik disurat Makkiyah maupun disurat Madaniyah. Dalam Al-Quran adapula yang berkenaan dengan hubungan peradaban, material dan politik diantara sebagian umat dengan umat lain, atau yang berkenaan dengan hubungan bilateral antarnegara pada saat perang atau damai, saat kuat atau lemah. Masih banyak apa yang disebutkan dalam syariat Al-Quran, yang semuanya terkandung dalam apa yang disebutkan dalam syari’at Al-Quran, yang semuanya terkandung dalam apa yang disebut dengan istilah Ayatul Ahkam. Begitulah yang dikatakan para pengkaji ilmu-ilmu Islam. Dibawah ini beberapa contoh Al-Quran menjelaskan tentang suatu hukum: Pencatatan hutang piutang : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah (tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan), hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar… “ (Al Baqarah : 282) Memakan makanan haram karena darurat : “Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Baqarah : 173) Rukshah dalam shalat: “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah Mengapa kamu men-qashar Sholat” (An Nisa : 101)
  18. 18. 18 Perintah dan larangan Allah untuk tidak tunduk kepada perasaan mereka: Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (Al Baqarah: 216) D. KEUTAMAAN AL-QURAN DALAM KEHIDUPAN Allah SWT. menurunkan Kitab-Nya yang abadi agar ia dibaca lisan, didengarkan teliga, dipikirkan akal agar hati menjadi tenang karenanya. “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” (Faathir : 29 -30) Dari Aisyah Ra, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, : “Siapa yang membaca Al-Quran dan dia mahir, maka dia bersama para malaikat penulis yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Quran dan dia gagap dalam bacaannya, maka dia mendapatkan dua pahala.” (Muttafaq Alaihi) Dari Abu Umamah, dia berkata, “ Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, : “Bacalah Al-Quran, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (Diriwayatkan Muslim) Dari Ibnu Mas’ud, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, : “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka dia mendapatkan satu pahala, dan satu kebaikan itu berlipat sepuluh kebaikan yang serupa. Aku tidak mengatakan, ’Alif lam mim satu huruf’, tapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf .” (Diriwayatkan At Tirmidzy) Dari Abu Sa’id, “Rasulullah Saw beliau bersabda, : Rabb Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa disibukkan Al-Quran sehingga tidak sempat memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih baik dari apa yang Kuberikan kepada orang- orang yang meminta’. Dan, kelebihan kalam Allah atas semua perkataan ialah seperti kelebihan Allah atas makhluk-Nya(Diriwayatkan At Tirmidzy) Dari Abu Musa Al Asy’ary, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, : Perumpamaan orang Mukmin yang membaca Al-Quran itu seperti utrujjah, baunya harum da rasanya manis. Sedangkan perumpamaan orang Mukmin yang tidak membaca Al-Quran seperti korma, tidak berbau namun rasanya manis. Sedangkan perumpamaan orang munafik, (dalam riwayat lain orang keji), yang membaca Al-Quran, seperti raihanah, baunya harum namun rasanya pahit. Sedangkan perumpamaan orang munafiq yang tidak membaca Al-Quran, seperti hanzalah, tidak berbau dan rasanya pahit.” (Diriwayatkan Al-Bukhary, Muslim, An Nasa’y serta Ibnu Majah) Disini jelaskan bahwa bacaan Al-Quran itu mendatangkan bermacam-macam pengaruh, yang menyerupai pengaruh bau harum, tanpa ada pengaruh rasa manis, sehingga bacaan itu berpengaruh terhadap orang munafik dan keji. Al Ghazaly menyebutkan didalam kitab Al Ihya: Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya rumah yang didalamnya dibacakan Al-Quran, maka ia terasa lapang bagi anggotanya, kebaikannya banyak, para malaikat mengelilinginya dan syetan- syetan keluar darinya, dan rumah yang di dalamnya tidak dibacakan Al-Quran, maka ia terasa sempit bagi anggotanya, sedikit kebaikan, para malaikat keluar darinya dan syetan- syetan mengelilinginya.” Para jin pun pernah mendengarnya dan mereka berkata,
  19. 19. 19 “Sesungguhnya kami Telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Rabb kami.” (Al Jin : 1-2) Dokter Ahmad Al Qadhy bersama beberapa dokter lainnya yang Muslim pernah melakukan eksperimen di sebuah rumah sakit khusus dan termasuk rumah sakit terbesar dibilangan Florida Amerika Serikat, dengan cara membacakan Al-Quran kepada beberapa pasien di sana, yang didukung dengan beberapa peralatan canggih untuk mendeteksi pengaruh bacaan itu terhadap diri mereka. Pasien-pasien itu ada yang Muslim, Kafir, orang Arab dan non Arab. Yang mengagumkan, bacaan itu mempunyai pengaruh positif terhadap mereka semua, dengan tingkat pengaruh yang berbeda-beda tentunya. Orang Arab yang Muslim berbeda dengan orang non- Muslim, tapi semuanya mempunyai tingkat pengaruh. Hal ini menunjukkan bahwa kalam ini mempunyai rahasia yang khusus, yang tidak terdapat dalam perkataan manusia manapun, baik itu berupa essay, prosa ataupun sajak. Referensi The Pocket Fiqh, Ahmad Bisyri Syaukur, Lc., M.A. – Terbitan Salamadani Bagaimana berinteraksi dengan Al-Quran, Dr. Yusuf Al Qaradhawi – Terbitan Pustaka Al Kaustar Agenda Materi Tarbiyah Ceramah Ust. Pranowo Diskusi:  Sebelum al-Quran ada kitab Taurat, Injil, dsb, lalu dikatakan al-Quran penyempurna kitab sebelumnya, kenapa gak dipakai yg terdahulu? Bagaimana sumber hukum Islam dari al-Quran? Jawab: Rasul adalah pembaharu para Rasul terdahulu sementara Nabi adalah para pengikut Rasul terdahulu. Begitu juga risalah yang dibawanya. Mengapa tidak mengikuti Taurat dsb? Berarti risalah terdahulu itu sudah tidak dapat dipakai, cukup diyakini saja adanya kitab-kitab terdahulu. Umar bin Khattab pernah membawa-bawa Taurat. Rasulullah yang melihatnya lalu mengatakan “seandainya Musa masih hidup, maka ia akan mengikuti aku”. Selain itu, kitab terdahulu banyak yang telah disimpangkan, dipergunakan sesuai keinginan mereka.  Kenapa al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad? Jawab: Kenapa disampaikannya kepada Rasulullah? Karena beliau adalah penutup para Nabi dan Rasul, wahyu yang disampaikan kepada beliau melalui Jibril  Kenapa al-Alaq (wahyu pertama) tidak ditaruh di depan? Jawab: Susunannya sudah merupakan aturan Allah, melalui Jibril kepada Rasulullah  Kalau al-Quran memang sudah sempurna, mengapa harus ada Hadits? Lalu tata cara ibadah kok tidak ada dalam al-Quran?
  20. 20. 20 Jawab: Al-Quran pernah dipertantangkan kesempurnaannya dan akan dibuat yang serupa seperti al- Quran, namun sampai sekarang tidak ada yang dapat melakukannya. Untuk memahami al- Quran, perlu penafsiran juga dari hadits karena bahasa Arab juga memiliki kaidah penafsiran.  Kenapa al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab? Jawab: Bahasa Arab sangat kaya. Kata Allah: untuk mempermudah kita memahaminya. Hal ini disebabkan karena bahasa Arab memiliki kata-kata yang jelas makna dhomirnya, waktunya, dsb. Wallahu a’lam bish-shawab
  21. 21. 21 MENGENAL AS-SUNNAH Ust. Ahmad Bisri Syakur, Lc. Tinjauan Makna As-Sunnah Secara bahasa berarti 'cara yang dibiasakan' atau 'cara yang terpuji'. Sunnah lebih umum disebut hadism yang berarti dekat, baru, berita. Secara islah menurut ulama ushul fiqh: “Semua yang bersumber dari Nabi saw. selain Alquran baik berupa perkataan,perbuatan atau persetujuan.” Kehujjahan Sunnah Dalil-dalil yang menetapkan Sunnah dapat jadi hujjah sebagai sumber hukum adalah:  Dalil Al-Quran dalam Ali Imran 32. Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".  Dalil As-Sunnah, di antaranya: Artinya: ” barang siapa berbuat (memberi contoh) yang baik, maka dia akan mendapatkan pahala dan pahala dari orang yang mengikuti perbuatan baiknya tersebut...”.  Ijma Sahabat. Setelah wafatnya Rasulullah saw, para sahabat jika mendapatkan satu permasalahan, mereka mencarinya dari Alquran, dan jika tidak mendapatkan dari Alquran, mereka bertanya kepada sahabat lain mungkin di antara mereka ada yang hafal dan ingat. Kemudian hal tersebut dijadikan ketetapan hukum sesuai yang disampaikan para sahabat kepadanya. Hal ini dilakukan oleh Abu Bakar, juga Umar bin Khatab dan para sahabat lain serta para Tabi'in. Tidak ada seorang pun dari antara mereka yang menolak dan mengingkari bahwa sunnah Rasulullah wajib diikuti.  Logika. Al-Quran memerintahkan kepada manusia beberapa kewajiban, pada umumnya bersifat global, tidak terperinci baik caranya maupun syarat-syaratnya. Hal ini perlu penjelasan sehingga tidak salah dalam melaksanakannya, maka kehadiran sunnah merupakan penjelas terhadap kemujmalan Alquran. KedudukanAs-SunnahterhadapAlquran  Sebagai Muaqqid, yaitu menguatkan hukum suatu peristiwa yang telah ditetapkan Al-Quran, dikuatkan dan dipertegaslagiolehAs-Sunnah.  Sebagai Bayan, yaituAs-Sunnahmenjelaskanterhadapayat-ayatAlqur,anyang belumjelas: 1)Memberikanperinciapterhadapayat-ayatAlquranyangmasihmujmal,misalnyaperintahshalatdalanAlquran diperjelasdenganSunnah. 2)Membatasikemutlakan(saqyidal-muthlaq),misalnyaAlquranmemerintahkanberwasiat,dengantidakdibatasi berapajumlahnya.LaluAl-Sunnahmembatasinya. 3) Mentakhbishkankeumuman. Misal, Al Quran mengharamkan bangkai, darahdandaging babi,kemudianAl- Sunnahmengkhususkandenganmemberikanpengecualiankepadabangkaiikanlaut,belalang,hatidanlimpa. 4) Menciptakan hukum baru. Misal Rasul melarang untuk binatang buas dan yang bertaringkuat, burungyang berkukukuat,dimanahalinitidakdisebutkandalamAlquran. Macam-macamSunnah a. Sunnah Qauliyah. Seringjugadinamakankhabar,atauberitaberupaperkataanNabiSAW.yangdidengarataudisampaikanolehseorang ataubeberapaorangsahabatkepadayanglain.SunnahQauliyahdapatdibedakankepadatigahal:  Diyakini benarnya, seperti khabar yang datang dari Allah dan dari Rasulullah diriwayatkan oleh orangyangdipercayadankhabarmutawatir.
  22. 22. 22  Diyakini dustanya, seperti dua berita yang berlawanan dan berita yang menyalahkan ketentuan=-ketentuan syara.  Yang tidak diyakini benarnya, dan juga tidak diyakini dustanya, hal ini ada tiga: a) Tidak kuat benarnya dan tidak kuat pula dustanya. b) Khabar yang lebih dikuatkan benarnya daripada dustanya. c) Khabar yang lebih dikuatkan dustanya daripada benarnya. Diantara contohnya yaitu Hadits dari Anas bin Malik bahwa rasulullah saw bersabda: “Hendaklah kamu meluruskan shaf (barisan)mu, karena sesungguhnya shaf yang lurus itu termasuk dari kesempurnaan shalat” (H. R. Muslim) b. Sunnah Fi'liyah yaitu setiap perbuatan yang dilakukan Nabi SAW. yang diketahui dan disampaikan oleh sahabat kepada orang lain. Terbagi kepada beberapa bentuk, ada yang harus diikuti oleh umatnya, dan ada yang tidak harus diikuti, yaitu: 1) Gharizah atau nafsu yang terkendalikan oleh keinginan dan gerakan manusia. Sunnah fi'liyah ini menunjukkan tidak ada kewajiban untuk diikuti (bersifat mubah). 2) Sesuatu yang tidak berhubungan dengan ibadah, yang oleh sebagian ahli ushul disebut al- Jibilah. Ini lebih pada urusan keduniaan, budaya dan kebiasaan Pada bagian ini tidak ada perintah untuk diikuti dan diperhatikan. Jumhur ulama memandangnya kepada jenis Mubah. 3) Perangai yang membawa kepada syara' menurut kebiasaan yang baik dan tertentu.Ini lebih dari sekedar urusan jibilah, tapi sebawah dari urusan al-qurbah / ibadah. 4) Sesuatu yang bersifat khusus bagi Nabi SAW. dan tidak boleh diikuti oleh umatnya. Contoh, seperti melakukan shalat tahajjud setiap malam, menikahi perempuan lebih dari empat atau menerima sedekah dari orang lain. Adapun urusan al-Qurbah, ibadah yang bersifat umum tidak hanya bagi Nabi SAW, itu harus diikuti oleh orang muslim. 5) Apa yang dilakukan Nabi SAW. berupa penjelasan terhadap sesuatu yang bersifat mujmal/samar tidak jelas. Maka hukumnya sama dengan hukum mujmal tersebut. 6) Apa yang dilakukan Nabi SAW. menjelaskan akan kebolehan / jawaz. c. Sunnah Taqririyah Yaitu perbuatan atau ucapan sahabat yang dilakukan di hadapan Nabi saw. Atau sepengetahuan Nabi namun Nabi diam dan tidak mencegahnya, maka sikap diam dan tidak mencegahnya menunjukan persetujuan Nabi. Hal ini karena kalau Nabi tidak setuju, tentu Nabi tidak akan membiarkan sahabatnya berbuat atau mengatakan yang salah, karena Nabiitu Ma'sum (terjaga dari berbuan dan menyetujuan sahabat berbuat kemunkaran, karena membiarkan dan menyetujuan atas kemunkaran sama dengan berbuat kemunkaran. Contoh: Kisah dua Shahabat yang melakukan safar, keduanya tidak menemukan air (untuk wudhu) sedangkan waktu shalat sudah tiba, lalu keduanya bertayamum dan mengerjakan shalat, kemudian setelah selesai shalat mereka menemukan air sedang waktu shalat masih ada, maka salah seorang dari keduanya mengulangi wudhu dan shalat, kemudian keduanya mendatangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian itu. Lalu beliau bersabda kepada Shahabat yang tidak mengulangi shalatnya, 'Engkau telah berbuat sesuai dengan Sunnah'. Dan kepada yang lain (Shahabat yang mengulangi shalatnya), beliau bersabda, 'Engkau mendapatkan dua ganjaran'.
  23. 23. 23 Dilalah Al-Hadits (Pembagian Hadits) Para ulama Hanafiyah memabagi hadits ditinjau dari sisi periwayatannya kepada hadits Mutawatir, Masyhur dan Ahad. Sedangkan menurut jumhur, hadis dibagi kepada; Hadits Mutawatir dan Ahad;, sedangkan hadits Masyhur masuk pada pembagian hadits ahad. a. Hadits Mutawatir Hadits yang diriwayatkan oleh sekian banyak sahabat yang menurut kebiasaan mustahil mereka bersepakat untuk berdusta. Kemudian dari para sahabat itu diriwayatkan pula oleh para tabi’in dan orang berikutnya dalam jumlah yang seimbang seperti para sahabat yang meriwayatkan pertama kali, Hadits mutawatir itu banyak kita jumpai pada sunnah amaliyah (yang langsung dikerjakan oleh Rasulullah) seperti cara mengerjakan shalat, shaum, haji dan lain lain, perbuatan itu disaksikan oleh banyak orang. Pada sunnah qauliyah tidak sebanyak sunnah amaliyah yang mencapai derajat mutawatir. Hadis Mutawatir itu ada dua: 1) Mutawatir lafzhi. Yaitu jika redaksi dan kandungan sunnah yang disampaikan banyak perawi itu adalah sama benar dalam lafazh dan maknanya. 2) Mutawatir Ma'nawi. Yaitu yang berbeda susunan redaksinya satu sama lain, tapi susunan masing-masing redaksi yang berbeda itu mempunya hal-hal yang sama. b. Hadits Ahad Hadits Ahad adalah yang diriwayatkan dari Rasulullah saw oleh sejumlah orang yang tidak sampai pada batas Mutawatir dalam tiga masa. Hadits ini disebut juga dengan khabar Ahad. Hadits Ahad ini terbagi kepada: 1) Hadits masyhur, adalah hadits yang diriwayatkan dari Nabi saw. oleh para sahabat atau kelompok orang banyak yang tidak sampai pada batas mutawatir, kemudian diriwayatkan pada masa tabi’in dan masa tabi’ut tabi’in oleh sejumlah orang yang sampai pada batas mutawatir. Dalam definisi lain, masyhur adalah yang mempunyai jalan yang terbatas lebih dari dua jalan. 2) Hadits Shahih,yaitu hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, sempurna ketelitiannya, sanadnya bersambung, sampai kepada Rasulullah, tidak mempunya cacat, illat, dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya. 3) Hadits Hasan, ialah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang ketelitiannya, sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah, tidak mempunya cacat dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya. 4) Hadits Dhaif, ialah hadits yang tidak memenuhi syara-syarat hadits shahih dan hasan. Hadist Dhaif banyak macamnya antara lain hadits Maudhu, inilah sejelek-jeleknya hadits dhaif , mursal, mu’allaq, munqathi, mudallas, mudtharib, mudraj, munkar dan mubham. Hadits Dhaif tidak dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum. Menurut Imam An- Nawawi, para ulama bersepakat hadits dhaif dapat digunakan dalam hal fadhilah Amal, bukan dalam Asal/pokok amal. Perbedaan antara hadits dan sunnah Hadits: segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi SAW. walaupun hanya sekali saja dalam hidup, dan walaupun diriwayatkan hanya seorang. Sunnah: adalah nama amaliyah yang mutawatir, yakni cara Rasul melaksanakan ibadah yang dinukil kepada kita dengan amaliyah yang mutawatir pula. Jadi hadits/khabar beriorientasi kepada ucapan, sedang sunnah berorientasi kepada perbuatan. Wallahu a’lam bish-shawab
  24. 24. 24 SHIRAH NABAWIYAH Rangkuman dari buku Syaikh Shfiyyurrahman Al-Mubarakfuri A. Masa Pra Kerasulan Nasab Nabi Muhammad SAW adalah bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf yang akan sampai pada Isma’il bin Ibrahim. Keluarga beliau dikenal dengan Hasyimiyah yang dinisbatkan kepada kakenya, Hasyim (nama aslinya Amru). Disebut Hasyim karena suka meremukkan roti. Dialah orang pertama yang memberikan remukan roti yang bercampur kuah kepada orang-orang yang menunaikan haji di Makkah. Keluarganya memang memegang urusan air minum dan makanan bagi jamaah haji. Hasyim sendiri seorang saudagar yang kaya raya. Abdul Muthalib, putra Hasyim, merupakan orang yang dipandang dan dicintai di Makkah. Ia meneruskan pekerjaan Hasyim dalam membagikan air dan makanan serta mengatur urusan air zam-zam bagi jamaah haji. Istrinya adalah Fathimah binti Amr bin A’idz bin Imran. Abdul Mutahlib memiliki 6 anak perempuan dan 10 anak laki-laki, di antaranya adalah Abdullah, Abu Thalib, Abdullah, Hamzah, Abu Lahab. Abdullah merupakan anak Abdul Muthalib yang paling baik akhlaqnya dan paling dicintainya. Abdullah ini sempat tertunjuk (melalui undian) untuk dikurbankan dan disembelih sebagaimana nadzar Abdul Muthalib, namun paman-pamannya mencegah, terutama Abu Thalib. Akhirnya diundi dengan tebusan 10 ekor unta tiap nama Abdullah yang keluar hingga nama unta yang keluar yang akhirnya mencapai 100 ekor. Abdullah dinikahkan dengan Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zurrah bin Kilab, yang saat itu merupakan wanita paling terpandang di kalangan Quraisy baik dari segi nasab ataupun kedudukan. Ayahnya adalah pemuka Bani Zuhrah. Setelah menikah, Abdullah diutus Abdul Muthalib untuk mengurus kurma di Madinah (ada yang berpendapat berdagang ke Syam lalu singgah di Madinah dalam keadaan sakit). Ia meninggal di Madinah dan dimakamkan di Darun Nabighah Al-Ja’di. Saat itu usianya 25 tahun dan Rasulullah SAW masih dalam kandungan. Rasulullah lahir pada Senin pagi, 9 Rabi’ul Awwal, permulaan dari tahun gajah, atau bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April 571 M, berdasarkan penelitian ulama terkenal Muhammad bin Sulaiman al-Manshurfury dan peneliti astronomi Mahmud Basya. Nama Muhammad adalah pemberian Abdul Muthalib, nama yang belum pernah dikenal di kalangan Arab. Tradisi Bangsa Arab adalah mencari wanita-wanita di desa untuk menyusui anak-anaknya untuk menjauhkan anak-anak dari penyakit yang biasa menjalar di perkotaan, agar tumbuh menjadi anak yang kuat dan dapat berlatih bahasa Arab dengan fasih. Ia disusui oleh Halimah bin Abu Dzu’aib dari Bani Sa’d bin Bakr (Halimah as-Sa’diyah) yang bersuamikan Al-Harits bin Abdul Uzza (Abu Kabsyah). Halimah merasakan keberkahan Rasulullah SAW saat dalam pengasuhannya. Air susunya menjadi berlimpah untuk Rasulullah SAW dan anaknya sendiri. Untanya yang sudah tua menjadi berlimpah air susunya. Keledai yang rasanya berjalan lambat menjadi ringan dan cepat sampai. Domba gembalaan pun selalu pulang dalam keadaan kenyang dan penuh air susu. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah SAW berusia 4 atau 5 tahun didatangi Jibril saat bermain-main dengan anak-anak lain. Jibril memegang beliau dan menelentangkannya, membelah dada beliau dan mengeluarkan hati beliau dan segumpal darah dari dada beliau seraya berkata “ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu”. Jibril mencucinya degan air zam-zam di
  25. 25. 25 sebuah baskom dari emas kemudian menata dan memasukkannya kembali ke dada beliau. Anak- anak yang melihatnya berlari mencari ibu susunya dan mengatakan “Muhammad telah dibunuh”. Rasululullah pun dikembalikan ke Aminah. Saat usia beliau sekitar 6 tahun, beliau ziarah ke makam ayahnya bersama ibunya dan Ummu Aiman, pembantu Aminah. Dalam perjalanan pulang, Aminah sakit dan wafat serta dimakamkan di Abwa. Muhammad SAW pun dirawat kakeknya, Abdul Muthalib dengan penuh kasih saying hingga beliau berusia 8 tahun. Sebelum meninggal, Abdul Muthalib telah berpesan kepada Abu Thalib untuk mengasuh dan menjaganya. Abu Thalilb mengasuh Muhammad SAW dengan sangat baik, bahkan mendahulukan beliau daripada anak-anaknya sendiri. Saat usia beliau sekitar 12 tahun dan diajak berdagang ke Syam, ia bertemu Rahib Bahira di Bushra. Bahira mengatakan kepada Abu Thalib bahwa Muhammad SAW adalah pemimpin semesta alam dan Nabi. Abu Thalib pun mempercayainya dari tanda-tanda nubuwah yang dijelaskan Bahira. Saat berusia 25 tahuh, Muhammad SAW menjalankan perniagaan Khadijah binti Khuwailid, wanita saudagar, terpandang, dan kaya raya. Khadijah memilih beliau untuk perniagaan ke Syam karena mendengar akhlaq dan kejujuran beliau. Sepulang dari Syam, perniagaan Khadijah laba melimpah. Maisarah, pembantunya yang mengiringi perniagaan ke Syam menceritakan akhlaq Muhammad SAW sehingga mereka mendapatkan hasil melimpah. Khadijah menjadi tertarik dengan akhlaq dan pribadi beliau. Melalui rekannya, Nafisah bin Munyah, Khadijah akhirnya menikah dengan Muhammad SAW. Mereka memperoleh 6 orang anak, Al-Qasim (dengan ini pula Rasulullah dijuliki Abul Qasim), Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah, dan Abdullah. Kedua putra beliau meninggal saat masih kecil. Pada saat Muhammad SAW berusia 35 tahun, ada renovasi Ka’bah. Ketika renovasi mencapai daerah Hajar Aswad, para kepala kabilah berselisih sengit dalam hal siapa yang mendapat kehormatan meletakkan batu itu. Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi menawarkan agar urusan diselesaikan oleh orang yang pertama kali masuk lewat pintu masjid. Muhammad SAW lah yang masuk pertama kali. Beliau menghemparkan sehelai selendang, meletakkan Hajar Aswad di tengahnya, meminta para pemuka kabilah memegang ujung-ujung selendang dan mengangkatnya bersama, kemudian beliau meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya. Cara ini sangat jitu dan diridhai semua orang sehingga Muhammad SAW pun dipanggil dengan sebutan Al-Amin. Muhammad SAW selalu bergaul dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dan orang lain, kalau hubungan itu baik maka beliau bersekutu, kalau tidak, beliau lebih suka menyendiri. Beliau tidak ikut kebiasaan masyarakat untuk mabuk-mabukan, menyembah berhala, makan makanan yang disembelih atas nama berhala, atau menghadiri perjamuan yang diadakan dalam rangka penyembahan berhala. Saat usianya jelang 40 tahun, beliau lebih suka mengasingkan diri di Gua Hira di Jabal Nur. Beliau membawa bekal makanan, membagi makanan kepada orang miskin, beribadah, memikirkan keagungan alam dan kekuatan tak terhingga di balik alam. Hingga pada bulan Ramadhan, Jibril datang kepada beliau menyampaikan wahyu dari Allah, surat al-Alaq: 1-5. Muhammad SAW gemetar dan sangat ketakutan saat pulang ke rumah hingga Khadijah menyelimutinya. Waraqah bin Nufal, anak paman Khadijah, seorang Nashrani, mengatakan bahwa Muhammad SAW adalah Nabi terakhir yang disebut-sebut di Al-Kitab. Selang wahyu pertama, tidak ada tanda-tanda dari Jibril untuk beberapa waktu, hingga akhirnya muncul lagi Jibril yang membuat Muhammad SAW ketakutan, pulang dalam keadaan gemetar “selimutilah aku!
  26. 26. 26 Selimutilah aku!”. Jibril menyapanya dengan membacakan surat Al-Mudatstsir 1-7. Setelah itu wahyu datang berturut-turut. B. Periode Makkah Berjalan selama sekitar 13 tahun dengan tahapan: 1. Da’wah secara sembunyi-sembunyi selama lebih kurang 3 tahun 2. Da’wah terang-terangan kepada penduduk Makkah sejak tahun ke-4 hingga akhir tahun le-10 kenabian. 3. Da’wah di luar Makkah dan penyebarannya hingga hijrah ke Madinah. Da’wah secara sembunyi-sembunyi (Da’wah Sirri) Dilakukan pertama-tama kepada para keluarga dan sahabat. Mereka cepat menerima ajakan memeluk Islam karena sudah mengenal sosok pribadi beliau. Mereka dikenal dengan nama As- Sabiqunal Awwalun (yang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam); istri beliau, Khadijah; pembantu beliau, Zaid bin Haritsah; anak paman beliau, Ali bin Abi Thalib; Abu Bakar Ash-Shiddiq. Melalui Abu Bakar Ash-Shiddiq, masuk Islam pula Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah, Bilal bin Rabah Al- Habsyi, Al-Arqam bin Abil-Arqam, Sa’id bin Zaid Al-Adawi dan istrinya, Al-Khaththab, Abdullah bin Mas’ud Al-Hudzali, dan masih banyak lagi. Da’wah secara terang-terangan Peristiwa Bukit Shafa. Rasulullah SAW menyeru penduduk Makkah dan memperingatkan azab yang pedih. Abu Lahab yang saat itu juga hadir berkata “Celakalah Kau! Hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?!”. Allah SWT menurunkan surat Al-Lahab yang berisi kutukan kepadanya. Sejak saat itu, muncul berbagai reaksi penolakan dan tekanan da’wah: 1. Ejekan, penghinaan, olok-olok untuk melecehkan orang-orang Muslim dan menggembosi kekuatan mental mereka 2. Menjelek-jelekkan ajaran Islam, membangkitkan keragu-raguan, menyebarkan anggapan yang menyangsikan ajaran Muhammad SAW dan diri beliau 3. Melawan Al-Quran dengan dongeng orang terdahulu 4. Menyodorkan beberapa bentuk penawaran Di antara yang paling sering menyakiti dan menghina Rasulullah SAW serta orang yang baru masuk Islam adalah Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil bin Harb, Abu Jahal, Uqbah bin Muith, Utbah bin Rabi’ah, Umayyah bin Khalaf, Ubay bin Khalaf. Bilal bin Rabah pernah ditindih batu besar di terik tengah hari oleh Umayyah bin Khalaf lalu Bilal dibebaskan oleh Abu Bakar. Yasir dan Sumayah, orang tua Ammar disiksa hingga wafat oleh Abu Jahal. Rasulullah akhirnya melarang kaum muslim menampakkan keislamannya. Beliau berda’wah dan mengajarkan Al-Quran di rumah Al-Arqam bin Abil-Arqam. Tekanan yang diterima kaum muslimin semakin sengit saat tahun ke-5 kenabian hingga Rasulullah memerintahkan sekelompok muslimin pindah ke Habasyah dimana Raja Najasyi yang berkuasa merupakan raja yang adil. Kaum Quraisy mengutus Amr bin Ash dan Abdullah bin Abu Rabi’ah untuk membujuk Raja Najasyi memulangkan penduduk Makkah namun juru bicara kaum muslimin, Ja’far bin Abu Thalib, berhasil menjelaskan kebenaran Islam kepada Raja Najasyi.
  27. 27. 27 Kaum kafir Quraisy berusaha menghentikan Rasulullah. Menawarkan Abu Thalib pemuda Quraisy yang paling bagus dan tampan untuk ditukar dengan Rasulullah SAW, mengancam Rasulullah sampai melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan nyawa Rasulullah SAW. Sekitar tahun ke-6 kenabian, masuk Islam-lah Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khaththab yang menjadi kekuatan baru bagi umat Islam. Upaya terakhir yang dilakukan kafir Quraisy adalah pemboikotan kepada kaum muslimin Makkah, melarang melakukan transaksi atau interaksi apapun dengan mereka hingga mereka menyerahkan Muhammad SAW untuk dibunuh. Pemboikotan terjadi selama 3 tahun dan akhirnya berakhir karena piagam perjanjian yang digantung didinding Ka’bah terkoyak dan rusak oleh rayap. Tak lama setelah pemboikotan, Abu Thalib wafat disusul Khadijah saat Ramadhan pada tahun 10 kenabian, disebut Ammul Huzn, tahun dukacita bagi Rasulullah SAW. Da’wah di luar Makkah dan Hijrah Rasulullah pergi ke Thaif pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian, menyebarkan Islam sekaligus mencari perlindungan dari penduduk Thaif terhadap kaum Quraisy. Usahanya sia-sia. Beliau kembali ke Makkah dan berusaha menyebarkan Islam ke setiap kabilah yang datang berhaji. Ada juga 6 orang dari Madinah yang menerima ajaran Islam dan menyebarkannya di sana sepulang haji tahun ke-11 nubuwah. Pada musim haji berikutnya mereka datang berjumlah 12 orang dan melakukan baiat Aqabah pertama di Mina. Umat Islam Makkah lalu mengirim duta da’wah ke Madinah (saat itu bernama Yatsrib). Penyebaran Islam di sana cukup cepat sehingga pada musim haji tahun ke-13 nubuwah mereka datang ke Makkah dan melakukan Baiat Aqabah yang kedua untuk melindungi Rasulullah, patuh kepada Allah dan da’wah. Tak lama setelah baiat kedua ini, Rasulullah dan kaum muslimin Makkah hijrah ke Yatsrib. Dalam perjalanannya, mereka singgah di Quba selama beberapa hari dan mendirikan masjid Quba, masjid pertama yang didirkan umat Islam atas dasar takwa setelah nubuwah. C. Periode Madinah Terbagi dalam tiga tahapan 1. Tahapan guncangan dan cobaan yang diakhiri dengan perjanjian Hudaibiyah tahun 6 H. 2. Tahapan perdamaian disertai da’wah kepada raja-raja yang berakhir dengan adanya Fathu Makkah tahun 8 H. 3. Tahapan masuknya orang-orang ke dalam Islam secara berbondong-bondong dengan berdatangannya berbagai utusan dan kabilah ke Madinah yang diakhiri dengan wafatnya Rasulullah SAW pad bulan Rabiul Awwal tahun 11 H. Rasulullah SAW dan kaum muslimin di Yatsrib dapat berkuasa penuh terhadap system kemasyarakatan Islami yang hendak ditegakkan. Maka pada periode Madinah, banyak ayat-ayat Al-Quran yang turun berkenaan dengan peradaban dan kemajuan, penghidupan dan ekonomi, politik dan pemerintahan, perdamaian dan perang, pemilahan antara yang hala dan haram, ibadah dan akhlaq. Sementara ketika di Makkah, banyak ayat Al-Quran yang turun berkenaan dengan dasar-dasar Islam, syariat-syariat yang pengamalannya dapat secara individual, anjuran kepada kebaikan, akhlaq mulia, penjauhan kepada keburukan dan kefasiqan. Rasulullah SAW menghadapi 3 golongan kaum di Madinah; a. Rekan-rekannya yang baik, terdiri dari kaum Muhajirin (Muslim Makkah yang hijrah) dan Anshar (penduduk asli Yatsrib, dua sukunya ada yang selalu bertikai, yaitu Aus dan Khazraj)
  28. 28. 28 b. Orang-orang musyrik di Yatsrib c. Orang-orang Yahudi di Yatsrib, yang berlindung di sana sejak lama ketika mendapat tekanan dari Asyur dan Romawi. Tediri atas 3 kabilah yaitu Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Mereka selalu menghembuskan pertikaian antara Aus dan Khazraj. Mereka tidak senang kepada Islam dan tidak sepenuhnya mendukung bangsa Arab sekalipun mereka tinggal di sana, melakukan perkawinan dan hidup ala Arab. Mereka menjaga fanatisme rasial sebagai orang Yahudi (Israel) dan menyebut bangsa Arab sebagai Ummiyyin (orang-orang yang buta, terbelakang, dan hina). Jalur bisnis biji-bijian, kurma, khamr, dan kain ada di tangan mereka karena pandai mencari berbagai sumber penghidupan. Senang meminjamkan uang yang banyak kepada pemuka Arab sehingga dipuji dengan syair di kalangan Arab. Setelah itu mereka mengambil kebun dan tanah sebagai jaminan dan beberapa tahun kemudian tanah itu menjadi milik mereka jika hutang tidak terbayar. Langkah pertama-tama yang dilakukan Rasulullah setelah hijrah dan menghadapi tiga kelompok tersebut adalah: a. Mendirikan masjid di Yatsrib (Masjid Nabawi). Sebagai tempat shalat, tempat sekolah (da’wah dan belajar) bagi umat Islam, balai pertemuan untuk mengatur segala urusan, tempat tinggal bagi kaum Muhajirin yang miskin. b. Mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Anshar. Tujuannya adalah menghilangkan fanatisme jahiliyah, mencairnya perbedaan keturunan, ras, dan daerah agar tidak saling mengungguli dan tidak membela selain Islam. c. Melakukan perjanjian-perjanjian di antara tiga kelompok yang berada di Yatsrib. Dengan ini, Yatsrib dan sekitarnya seakan menjadi negeri yang makmur dengan Madinah sebagai pusat kotanya, Rasulullah seakan menjadi presidennya, pelaksana pemerintahan dan penguasa mayoritas adalah kaum Muslimin, sehingga Madinah benar-benar menjadi ibukota bagi Islam, Al-Madinatul Munawwarah, kota yang bercahaya. Kaum Quraisy semakin marah dan membenci kaum muslimin setelah mereka pergi dari Makkah dan mendapatkan tempat aman serta menyebarkan da’wah. Antara kaum Quraisy dan Muslimin seringkali terjadi perlawanan. Perang pertama yang meletus adalah Perang Badr, terjadi di dekat sumur Badr pada bulan Ramadhan tahun 2 H. Jumlah kaum Muslimin dan Quraisy adalah 300-an berbanding 1000-an, namun berkat pertolongan Allah SWT, kaum Muslimin dapat menang. Berikutnya adalah Perang Uhud di bukit Uhud tahun 3 H. Pada perang ini kekalahan cukup telak berada pada kaum muslimin akibat pasukan muslimin yang tidak mendengar perintah Rasulullah. Di antara yang gugur, Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW, terbunuh oleh Wahsyi bin Harb. Jantung Hamzah kemudian dimakan oleh Hindun binti Utbah. Para syuhada Uhud dimakamkan tanpa dimandikan di sekitar tempat peperangan. Kaum muslimin juga sering menghadapi pergolakan dari kelompok di Madinah terutama dari Yahudi. Mereka sering melakukan pelanggaran, sering bersekongkol, dan menjalin kerjasama dengan musyrikin Makkah untuk melakukan perlawanan kepada kaum muslimin. Perang Ahzab (Khandaq) merupakan salah satu perang yang disertai dukungan Yahudi kepada kaum Quraisy. Disebut Khandaq (parit) karena atas usulan Salman al-Farisi kaum muslimin menggali parit untuk menghalangi kaum Quraisy masuk ke Madinah. Perang-perang lain juga terjadi hingga sekitar tahun 6 H, perkembangan da’wah semakin besar, Rasululllah bermimpi melakukan haji dan umrah dengan para sahabat. Maka kaum Muslimin
  29. 29. 29 bersama Rasulullah SAW berangkat ke Makkah tanpa perlengkapan perang. Kaum kafir Quraisy berusaha menghalangi mereka memasuki Makkah dan mengobarkan isu peperangan. Akhirnya terjadilah kesepakatan gencatan senjata di daerah Hudaibiyah. Awal tahun 7H, beberapa tokoh Quraisy masuk Islam, Amr bin Ash, Khalid bin Walid, Utsman bin Thalhah, yang menurut Rasulullah SAW merupakan jantung hati Makkah. Rasulullah juga mengirim korespondensi kepada raja-raja di sekitar Madinah untuk memeluk Islam: Raja Najasyi di Habasyah, Muqauqis raja di Mesir, Kisra raja di Persia, Qaishar raja Romawi (Heraklius), Al-Mundzir bin Sawa pemimpin Bahrain, Haudzan bin Ali Al-Hanafi pemimpin Yamamah, Al-Harits bin Abu Syamr Al-Ghassani pemimpin Damaskus, Jaifar dan Abd raja Uman. Kaum Quraisy diam-diam melakukan persekutuan dengan Yahudi dan kabilah yang memusuhi Islam serta melakukan pelanggaran perjanjian Hudaibiyah. Terjadilah penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah) pada bulan Ramadhan 8 H. Sebelumnya, bersyahadat Abu Sufyan bin Harb yang merupakan salah satu pemuka Quraisy yang membenci Islam. Sekitar 10.000 umat Islam memasuki kota Makkah didahului Abu Sufyan yang memperingati Quraisy Makkah untuk berlindung di rumah/masjid. Rasulullah dan kaum Muslimin memasuki Makkah tanpa perlawanan dari Quraisy, memasuki Ka’bah, membersihkan Ka’bah dari berbagai berhala dan gambar musyrik, mencium Hajar Aswad dan Thawaf. Beliau dan sahabat mengeksekusi para tokoh Quraisy, mengirim utusan ke penjuru Makkah untuk menghancurkan berhala-berhala besar. Awal bulan Syawal tahun 8 H, Rasulullah dan puluhan ribu kaum muslimin berangkat kembali ke Madinah. Dalam perjalanan, di daerah Hunain, beliau diserang mendadak oleh suku Hawazin, Tsaqif dan beberapa kabilah Arab yang tidak mau tunduk setelah Fathu Makkah. Berkecamuk juga Perang Tabuk melawan bangsa Romawi yang merupakan kekuatan besar kala itu. Bangsa Romawi merasa terancam dengan semakin meluasnya kekuasaan Islam dan semakin banyaknya kabilah- kabilah Arab yang melepaskan diri dari kekuasaan Romawi. Peperangan tidak sampai terjadi karena berhasil mempengaruhi para kabilah untuk berkubu dengan Islam. Setelah perang Tabuk, semakin banyak utusan yang datang ke Madinah dan banyak orang berbondong-bondong masuk Islam pada tahun 9-10 H. Perang-perang yang dilakukan Rasulullah SAW dan kaum muslimin saat itu merupakan jihad membebaskan manusia dari tatanan tekanan dan permusuhan, pengkhianatan, pelanggaran, dan dosa. Rasulullah SAW juga selalu menasehati pasukannya dan wajib dipatuhi mereka agar berperang atas nama Allah, memerangi yang kufur, tidak menyerang pada malam hari, melarang pembakaran, membunuh anak-anak dan wanita, melarang merampas, melarang menebang pohon kecuali diperlukan untuk siasat, dilarang memaksa orang yang terluka, melarang mengejar yang melarikan diri dan melarang membunuh tawanan serta orang-orang yang terikat perjanjian. D. Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Saat bulan Ramadhan 10 H, Rasulullah SAW i’tikaf sampai dua puluh hari (biasanya 10 hari), Jibril juga menguji hafalannya sampai 2 kali. Beliau melakukan haji Wada’ pada bulan Dzulhijjah 10 H. ketika wukuf, beliau menyampaikan khutbah dan turunlah surat Al-Maidah: 3. Saat melontar di Mina, beliau memerintahkan orang2 memperhatikan manasik beliau. Ketika hari Tasyrik, turun surat An-Nashr. Hal ini merupakan petunjuk-petunjuk akhir hidup Rasulullah SAW. Pada bulan Shafar 11 H, Rasulullah melakukan ziarah ke bukit Uhud dan Baqi’. Sepulang dari Baqi, beliau merasa pusing dan panas tubuhnya meninggi. Beliau sakit selama sekitar 13-14 hari dan tetap mengimami shalat sampai hari ke-4 sebelum wafat. Saat hari ke-5 sebelum wafat, Rasulullah
  30. 30. 30 berwasiat, di antaranya untuk tidak menjadikan kuburannya sebagai berhala yang disembah, menawarkan diri untuk qishash dan hutang yang belum beliau selesaikan, berwasiat tentang orang-orang Anshar, dan memuji Abu Bakar serta menunjukkan ksaih sayang dan penghargaan beliau kepadanya. Beliau juga berpesan untuk mengeluarkan orang Yahudi dan Nashrani serta orang-orang musyrik dari Jazirah Arab, mengirim utusan sebagaimana yang biasa beliau lakukan, wasiat berpegang teguh kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Rasulullah SAW wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal 11 H saat berusia 63 tahun lebih 4 hari, di rumah Aisyah ketika waktu Dhuha semakin panas. Setiap muslim merasa kesedihan yang mendalam bahkan Umar bin Khaththab sampai berkata bahwa mereka yang mengatakan Rasulullah SAW wafat adalah munafiq dan hendak ia tebas anggota badannya. Abu Bakar akhirnya menyeru kepada mereka “Barang siapa di antara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Tetapi barang siapa di antara kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak meninggal. Lalu membaca surat Ali-Imran: 144. Jenazahnya dikuburkan 3 hari kemudian di kamar beliau wafat. Ali bin Abi Thalib mensifati Rasulullah SAW “Beliau bukan orang yang terlalu tinggi, bukan pula yang terlalu pendek, berperawakan sedang-sedang, rambutnya tidak kaku, tidak pula keriting, rambutya lebat, tidak gemuk, tidak kurus, wajahnya sedikit bulat, kedua matanya sangat hitam, bulu matanya panjang, persendian yang pokok besar, bahunya bidang, bulu dadanya lembut, tidak ada bulu di badan, telapak tangan dan kaki tebal, jika berjalan seakan-akan berjalan di jalanan yang menurun, jika menoleh seluruh badannya ikut menoleh, di antara kedua bahunya ada cincin nubuwah, yaitu cincin para nabi, telapak tangannya yang terbagus, dadanya yang paling bidang, paling jujur bicaranya, paling memenuhi perlindungan, paling lembut perangainya, paling mulia pergaulannya, siapapun yang tiba-tiba memadangnya tentu segan kepadanya, siapa yang bergaul dengannya tentu akan mencintainya. Aku tidak pernah melihat orang yang seperti beliau, sebelum maupun sesudahnya” Allah SWT membimbing Rasulullah SAW dan membaguskan bimbingan-Nya sampai-sampai Allah SWT berfirman terhadap beliau seraya memuji beliau “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Al-Qalam:4). Wallahu a’lam bish-shawab
  31. 31. 31 AKHLAQ Allah Ta’ala berfirman: …(Surga itu) disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran; 133-134). Dalam ayat yang mulia ini Allah SWT menganggap bahwa bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik termasuk pilar-pilar ketakwaan. Menghiasi diri dengan akhlak yang baik termasuk unsure-unsur ketakwaan, dan tidak sempurna ketakwaan seseorang itu kecuali dengan akhlak yang baik. Definisi Secara bahasa (lughatan): Akhlaq adalah jamak dari Al khuluq, yang berarti: ‫واﻟﺴﺠﯿﺔ‬ ‫ْﻊ‬‫ﺒ‬‫واﻟﻄ‬ ‫ّﯾﻦ‬ِ‫ﺪ‬‫اﻟ‬ ‫وھﻮ‬ “Yaitu ad din (agama), tabiat, dan perangai.” (Ibnu Manzhur al Mishri, Lisanul ‘Arab, Juz. 10, Hal. 85. Al Maktabah Asy Syamilah) “Berkata Ibnul Arabi: Al Khuluq artinya muru’ah (kepribadian).” (Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazaq al Hasani, Tajjul ‘Arusy, Hal. 6292. Al Maktabah Ays Syamilah) Sedangkan, secara istilah (ishtilahan), adalah: ‫وﻣﻌﺎﻧﯿﮭﺎ‬ ‫َوﺻﺎﻓﮭﺎ‬‫أ‬‫و‬ ‫ْﺴﮫ‬‫ﻔ‬‫ﻧ‬ ‫وھﻲ‬ ‫اﻟﺒﺎﻃﻨﺔ‬ ‫ِﻧﺴﺎن‬‫ﻹ‬‫ا‬ ‫ِﺼﻮرة‬‫ﻟ‬ ‫َﻧﮫ‬‫أ‬ ‫وﺣﻘﯿﻘﺘﮫ‬‫اﻟﻈﺎھﺮة‬ ‫ﻟﺼﻮرﺗﮫ‬ ‫ْﻖ‬‫ﻠ‬َ‫ﺨ‬‫اﻟ‬ ‫ﺑﻤﻨﺰﻟﺔ‬ ‫ِﮭﺎ‬‫ﺑ‬ ُ‫ﺔ‬‫اﻟﻤﺨﺘﺼ‬ ‫ﻣﻤﺎ‬ ‫َﻛﺜﺮ‬‫أ‬ ‫اﻟﺒﺎﻃﻨﺔ‬ ‫اﻟﺼﻮرة‬ ‫َوﺻﺎف‬‫ﺄ‬‫ﺑ‬ ‫ّﻘﺎن‬‫ﻠ‬‫ﯾﺘﻌ‬ ‫واﻟﻌﻘﺎب‬ ُ‫ب‬‫واﻟﺜﻮا‬ ‫وﻗﺒﯿﺤﺔ‬ ‫َﻨﺔ‬‫ﺴ‬‫ﺣ‬ ‫َوﺻﺎف‬‫أ‬ ‫وﻟﮭﻤﺎ‬ ‫وﻣﻌﺎﻧﯿﮭﺎ‬ ‫َوﺻﺎﻓﮭﺎ‬‫أ‬‫و‬ ‫اﻟﻈﺎھﺮة‬ ‫اﻟﺼﻮرة‬ ‫َوﺻﺎف‬‫ﺄ‬‫ﺑ‬ ‫ﯾﺘﻌﻠﻘﺎن‬ “Hakikatnya (akhlak) adalah gambaran batin manusia, yakni jiwanya, sifat-sifatnya, dan makna-maknanya yang spesifik, yang dengannya terlihat kedudukan makhluk, lantaran gambarannya secara zahir, baik sifat- sifatnya dan makna-maknanya, dan keduanya memeliki sifat yang baik atau buruk, mendapat pahala dan sanksi, yang kaitan keduanya dengan sifat-sifat yang tergambar secara batin adalah lebih banyak, dibanding apa-apa yang yang terkait dengan gambaran zahirnya.” (Ibid, lihat juga Tajjul ‘Arusy, Hal. 6292. Al Maktabah Asy Syamilah) Sementara itu, Hujjatul Islam Imam al Ghazali, mendefinisikan akhlak yang baik sebagai berikut: ‫ھﺬه‬ ‫ﻣﻦ‬ ‫وﺷﻲء‬ ،‫اﻟﺨﯿﺮ‬ ‫ﺧﻼل‬ ‫وﺳﺎﺋﺮ‬ ‫واﻟﻜﺮم‬ ‫واﻟﺘﻘﻮى‬ ‫واﻟﺸﺠﺎﻋﺔ‬ ‫واﻟﻌﻔﺔ‬ ‫واﻟﻌﻘﻞ‬ ‫اﻟﻌﻠﻢ‬ ‫ﺑﮭﺎ‬ ‫ﯾﺮاد‬ ‫اﻟﺠﻤﯿﻠﺔ‬ ‫اﻷﺧﻼق‬ ‫وإﻧﻤﺎ‬ ‫اﻟﺒﺎﻃﻨﺔ‬ ‫اﻟﺒﺼﯿﺮة‬ ‫ﺑﻨﻮر‬ ‫ﯾﺪرك‬ ‫ﺑﻞ‬ ‫اﻟﺨﻤﺲ‬ ‫ﺑﺎﻟﺤﻮاس‬ ‫ﯾﺪرك‬ ‫ﻻ‬ ‫اﻟﺼﻔﺎت‬ “Sesungguhnya, yang dimaksudkan dengan akhlak yang indah adalah ilmu, akal, ‘iffah (rasa malu berbuat dosa), keberanian, taqwa, kemuliaan, dan semua perkara yang baik, dan semua sifat-sifat ini tidak hanya ditampilkan oleh panca indera yang lima, tetapi juga oleh cahaya mata hati dan batin.” (Ihya ‘Ulumuddin, Juz. 3, Hal. 393. Al Maktabah Asy Syamilah) Sedangkan Ibnu Maskawaih berkata tentang akhlak: ‫روﯾﺔ‬ ‫وﻻ‬ ‫روﯾﺔ‬ ‫وﻻ‬ ‫ﻓﻜﺮ‬ ‫ﻏﯿﺮ‬ ‫ﻣﻦ‬ ‫أﻓﻌﺎﻟﮭﺎ‬ ‫إﻟﻰ‬ ‫ﻟﮭﺎ‬ ‫داﻋﯿﺔ‬ ‫ﻟﻠﻨﻔﺲ‬ ‫ﺣﺎل‬ ‫اﻟﺨﻠﻖ‬ “Akhlak adalah kondisi bagi jiwa yang mengajak segala perbuatan kepadanya dengan tanpa dipikirkan, dan tanpa ditimbang-timbang.” (Ibnu Maskawaih, Tahdzibul Akhlaq, hal. 10. Al Maktabah Asy Syamilah) Akhlak yang Mulia atau Akhlak yang terpuji disebut Akhlaq Mahmudah dan akhlak yang buruk atau akhlak yang tercela disebut Akhlaq Madzmumah. Akhlak yang mulia yaitu akhlak yang diridhai Allah SWT, akhlak yang baik itu dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri kita kepada Allah SWT yaitu dengan mematuhi segala perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, mengikuti ajaran-ajaran dari sunnah Rasulullah, mendekati yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar, seperti firman Allah SWT: “Kamu adalah umat yang
  32. 32. 32 terbaik untuk manusia, menuju kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah” (Ali Imran: 110). Al-Imam Muhammad bin Nashr mengatakan: “Sebagian ulama berkata: Akhlak yang baik adalah menahan marah karena Allah, menampakkan wajah yang cerah berseri kecuali kepada ahlul bid’ah dan orang-orang yang banyak berdosa, memaafkan orang yang salah kecuali dengan maksud untuk memberi pelajaran, melaksanakan hukuman (sesuai syariat Islam) dan melindungi setiap muslim dan orang kafir yang terikat janji dengan orang Islam kecuali untuk mengingkari kemungkaran, mencegah kezhaliman terhadap orang yang lemah tanpa melampaui batas” (Iqadhul Himam, hal 279). Akhlak yang buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji seperti iri hati, ujb, dengki, sombong, nifaq (munafiq), hasun, suuzh-zhan (berprasangka buruk), dan penyakit-penyakit hati lainnya. Akhlak yang buruk dapat mengakibatkan berbagai macam kerusakan baik bagi orang itu sendiri, orang lain yang disekitarnya, maupun kerusakan lingkungan sekitarnya sebagai contoh yakni kegagalan dalam membentuk masyarakat yang berakhlak mulia samalah seperti mengakibatkan kehancuran pada bumi ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat ar-Ruum ayat 41 yang berarti: “telah timbul pelbagai kerusakan dan bencana alam di akhirat dan di laut dengan sebab apa yang dilakukan oleh tangan manusia, (Timbulnya yang demikian) karena Allah hendak merusakkan mereka sebagai balasan dari perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan, supaya mereka kembali (insaf dan bertaubat)”. Urgensi Akhlak yang Baik Selain faktor hidayah dari Allah SWT yang membuat hati banyak orang yang semula lebih keras dari batu bisa tiba-tiba luluh dan tak berdaya selain tunduk dan pasrah kepada seruan Rasulullah SAW, adalah karena Islam adalah kebenaran mutlak yang pasti sesuai dengan fitrah manusia. Namun ada factor lain yang menempati posisi amat bermakna untuk membuat seseorang tersentuh fitrahnya yakni: akhlak. Pertama: akhlak yang baik termasuk tanda kesempurnaan iman seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah SAW; “orang mukmin yang paling mulia adalah yang paling baik akhlaknya.” (dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohihul Jami’, No. 1241) Kedua: dengan akhlak yang baik seorang hamba akan bisa mencapai derajat derajat orang-orang yang dekat dengan Allah Ta’ala, sebagaimana penjelsan Rasulullah SAW dalam sabda beliau: “Sesungguhnya oran mukmin dengan akhlaknya yang baik bisa mencapai derajat orang yang berpuasa dan qiyamul lail” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, No. 1937). Ketiga: akhlak yang baik bisa menambah berat amal kebajikan seorang hamba di hari kiamat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Tidak ada seseuatu yang lebih berat ketika diletakkan di timbangan amal (di hari akhir) selain akhlak yang baik) (Shahihul Jami’, No.5602) Keempat: Akhlak yang baik merupakan sebab yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah ketika ditanya tentang apa yang bisa memasukkan manusia ke dalam surga, beliau menjawab: “bertakwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (Riyadush Shalihin) Langkah Menuju Akhlak yang Baik Dilakukan dengan dua langkah secara bersamaan. Langkah pertama adalah takhliyah, yakni membersihkan diri dari segala akhlak yang buruk. Dan langkah kedua adalah tahliyah menghiasi
  33. 33. 33 diri dengan akhlak yang baik. Dalam konteks perjuangan menghadapi tantangan, Allah menyebut dua sifat buruk secara khusus, yakni al-bathar (congkak) dan riya (beramal demi untuk dilihat manusia). Macam-macam sikap takhliyah 1. Berinfak, menahan marah, memaafkan kesalahan orang lain meskipun kita mampu membalasnya. “yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menagan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134). 2. Menyuruh kepada yang ma’ruf, berpaling dari yang jahil “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (al-A’raf: 199) 3. Bersikap sabar. QS. Fushshilat: 34-35) 4. Sopan santun dan telaten Rasulullah SAW berkata kepada Asyaj Abdul Qais, “pada dirimu ada dua sifat yang dicintai Allah SWT, yaitu sopan santun dan telaten” (HR Muslim) 5. Mempermudah dan tidak mempersulit “permudahlah, jangan persulit. Berilah berita gembira dan jangan kau buat mereka berlari.” (Muttafaq Alaih) 6. Berbuat ihsan dalam segala hal Rasul Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak Akhlak seorang hamba itu bisa baik bila mengikuti jalannya (sunnahnya) Muhammad SAW, sebab beliaulah orang yang terbaik akhlaknya. Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 4). Allah SWT juga menegaskan: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yakni) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) dan (datangnya) hari kiamat, dan dia banyak menyebut nama Allah.” (Al-Ahzab: 21). Maka sudah selayaknya bagi setiap muslim mempelajari riwayat hidup dari setiap sisi kehidupan Rasulullah (secara menyeluruh), yakni bagaimana beliau beradab dihadapan Rabb-nya, keluarganya, dan terhadap orang-orang non-muslim. TIPS SEHAT ALA RASULULLAH 1. Selalu bangun sebelum shubuh Rasul selalu mengajak umatnya untuk bangun sebelum shubuh, melaksanakan sholat sunnah dan sholat fardhu, sholat shubuh berjamaah. Hal ini memberi hikmah yang mendalam antara lain:  Berlimpah pahala dari Allah  Kesegaran udara shubuh yang bagus untuk kesehatan/ terapi penyakit tbc  Memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan 2. Aktif menjaga kebersihan Rasul senantiasa rapid an bersih, tiap hari kamis atau jumat beliau mencuci rambut- rambut halus di pipi, selalu memotong kuku, bersisir, dan berminyak wangi 3. Tidak pernah banyak makan Sabda Rasul: “Kami adalah sebuah kamum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan)” (Muttafaq Alaih)

×