SlideShare a Scribd company logo
1 of 45
Download to read offline
VI – 1
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
6.1. METODE YANG DIPAKAI DALAM PENETAPAN STATUS KERUSAKAN TANAH
Kerangka acuan yang dipakai untuk menentukan status kerusakan tanah dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu dengan metode mtching dan metode skoring dari
frekwensi kerusakan tanah :
1. Metode Matching
Cara penentuan status kerusakan tanh dengan metode matching adalah dengan
cara membandingkan antara data parameter-parameter kerusakan tanah yang
terukur dengan kriteria baku kerusakan tanah (sesuai dengan PP No. 150 tahun
2000). Matching ini dilakukan pada setiap titik pengamatan. Dengan metode ini,
setiap titik pengamatan dapat dikelompokan ke dalam tanah yang tergolong rusak
(R) atau tidak rusak (N).
2. Metode Skoring Dan Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah
Metode skoring dilakukan dengan mempertimbangkan frekwensi relatif tanah yang
tergolong rusak dalam suatu poligon. Yang dimaksud dengan frekwensi relatif (%)
VI – 2
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
contoh tanah yang tergolong rusak yaitu hasil pengukuran setiap parameter
kerusakan tanah yang sesuai dengan kriteria baku kerusakan tanah, terhadap
jumlah keseluruhan titik pengamatan yang dilakukan dalam poligon tersebut.
Dalam studi ini penentuan status kerusakan tanah untuk produksi biomassa
dilakukan dengan Metode Skoring dan Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah.
6.2. PENETAPAN STATUS KERUSAKAN TANAH
Status kerusakan tanah ditentukan berdasarkan frekuensi tanah rusak dari jumlah
sampel tanah yang diambil dibandingkan dengan ambang batas kerusakan tanah. Skor
status kerusakan tanah berdasarkan frekuensi tanah rusak dapat dilihat pada Tabel 6.1.
Tabel 6.1.
Skor Kerusakan Tanah Berdasarkan Frekwensi Relatif Dan Berbagai
Parameter Kerusakan Tanah
Frekwensi Tanah Rusak (%) Skor Status Kerusakan Tanah
0 – 10 0 Tidak rusak
11 – 25 1 Rusak ringan
26 – 50 2 Rusak sedang
51 – 75 3 Rusak berat
76 – 100 4 Rusak sangat berat
Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
Dalam penentuan status kerusakan tanah pada lahan kering, nilai maksimal
penjumlahan skor kerusakan tanah untuk 10 parameter kriteria baku kerusakan adalah
40. Sedangkan nilai skor maksimal pada lahan basah adalah 20, 24 atau 28, tergantung
pada banyak parameter yang diukur.
Dari penjumlahan nilai skor tersebut dilakukan pengkategorian status kerusakan tanah.
Berdasarkan status kerusakannya, tanah dibagi ke dalam 5 kategori, yaitu tidak rusak
(N), rusak ringan (R-I), rusak sedang (RII), rusak berat (R.III) dan nusak sangat berat
VI – 3
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
(R.IV). Status kerusakan tanah berdasarkan penjumlahan nilai skor kerusakan tanah
disajikan dalam Tabel 6.2.
Tabel 6.2.
Status Kerusakn Tanah Bedasarkan Nilai Akumulasi Skor Kerusakan Tanah
Untuk Lahan Kering Dan Lahan Basah
Simbol
Status Kerusakan
Tanah
Nilai Akumulasi Skor Kerusakan Tanah
Lahan
Kering
Lahan Basah
Tanah Gambut
Berstratum Pasir
Kuarsa
Tanah
Gambut Lain
atau Mineral
N Tidak rusak 0 0 0
R.I Rusak ringan 1 – 14 1 – 12 1 – 8
R.II Rusak sedang 15 – 24 13 – 17 9 – 14
R.III Rusak berat 25 – 34 18 – 24 15 – 20
R.IV Rusak sangat berat 35 – 40 25 – 28 21 – 24
Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
Berdasarkan hasil penyusunan tanah awal dan hasil verifikasi lapangan lokasi studi
terbagi menjadi 36 unit lahan dengan veriabel keseragamam : jenis tanah, kelas lereng
(%), sebaran curah hujan (mm/tahun) dan jenis penggunaan lahan/penutupan lahan.
Dari ke-36 unit lahan tersebut selanjutnya ditetapkan status kerusakan tanahnya
berdasarkan parameter kerusakan tanah yang terdiri dari parameter kerusakan tanah
untuk lahan basah dan untuk lahan kering seperti diuraikan di bawah ini :
1. Status Kerusakan Tanah Lahan Basah
Unit lahan untuk lahan basah terbagi menjadi 20 unit lahan dengan penetapan
status kerusakan tanahnya disajikan pada Tabel 6.3 sampai Tabel 6. 22. di bawah
ini :
VI – 4
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.3.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 1
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi
Relatif
Kerusakan
Tanah (%)
Skor Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun untuk
ketebalan gambut> 3 m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH < 2,5 0 0
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 50 2
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 0 0
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 50 2
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1
Jumlah 9
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 5
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.4.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 2
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi Gambut
di atas pasi kuarsa
>35 cm/5 tahun
untuk ketebalan
gambut> 3 m
0 0
2
Kedalamam Lapisan
berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan
pH < 2,5
0 0
3
Kedalaman air Tanah
dangkal
> 25 cm 75 3
4
Redoks untuk tanah
berfirit
> - 100 mV 0 0
5
Redoks untuk tanah
gambut
> 200 mV 50 2
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 25 1
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1
Jumlah 8
Status Kerusakan (Simbol) Ringan (R-I)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 6
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.5.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 3
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun untuk
ketebalan gambut> 3 m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH <
2,5
0 0
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 75 3
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 0 0
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 25 1
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 50 2
Jumlah 9
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 7
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.6.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 4
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun untuk
ketebalan gambut> 3
m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH <
2,5
25 1
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 75 3
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 25 1
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 0 0
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1
Jumlah 9
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 8
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.7.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 5
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi Gambut
di atas pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun
untuk ketebalan
gambut> 3 m
0 0
2
Kedalamam Lapisan
berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH
< 2,5
25 1
3
Kedalaman air Tanah
dangkal
> 25 cm 75 3
4
Redoks untuk tanah
berfirit
> - 100 mV 25 1
5
Redoks untuk tanah
gambut
> 200 mV 0 0
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1
Jumlah 9
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 9
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.8.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 6
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun
untuk ketebalan
gambut> 3 m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH
< 2,5
0 0
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 75 3
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 0 0
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 50 2
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1
Jumlah 10
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 10
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.9.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 7
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun
untuk ketebalan
gambut> 3 m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH
< 2,5
0 0
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 50 2
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 0 0
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 50 2
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1
Jumlah 8
Status Kerusakan (Simbol) Ringan (R-I)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 11
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.10.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 8
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Keruasakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun untuk
ketebalan gambut> 3
m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH <
2,5
50 2
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 75 3
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 50 2
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 0 0
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 50 2
Jumlah 13
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 12
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.11.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 9
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun untuk
ketebalan gambut> 3
m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH <
2,5
0 0
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 100 4
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 0 0
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 50 2
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1
Jumlah 10
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 13
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.12.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 10
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun untuk
ketebalan gambut> 3
m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH <
2,5
0 0
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 100 4
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 0 0
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 50 2
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 50 2
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1
Jumlah 11
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 14
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.13.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 11
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun untuk
ketebalan gambut> 3
m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH <
2,5
25 1
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 100 4
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 25 1
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 25 1
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1
Jumlah 12
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 15
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.14.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 12
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun untuk
ketebalan gambut> 3
m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH <
2,5
25 1
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 100 4
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 25 1
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 50 2
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 50 2
Jumlah 13
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 16
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.15.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 13
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun untuk
ketebalan gambut> 3
m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH <
2,5
25 1
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 75 3
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 25 1
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 25 1
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 50 2
Jumlah 11
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 17
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.16.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 14
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun untuk
ketebalan gambut> 3
m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH <
2,5
0 0
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 75 3
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 0 0
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 0 0
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1
Jumlah 8
Status Kerusakan (Simbol) Ringan (R-I)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 18
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.17.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 15
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasi kuarsa
>35 cm/5 tahun untuk
ketebalan gambut> 3
m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH <
2,5
0 0
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 100 4
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 0 0
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 0 0
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 50 2
Jumlah 9
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 19
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.18.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 16
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun
untuk ketebalan
gambut> 3 m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH
< 2,5
0 0
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 50 2
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 0 0
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 0 0
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1
Jumlah 7
Status Kerusakan (Simbol) Ringan (R-I)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 20
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.19.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 17
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun untuk
ketebalan gambut> 3
m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH <
2,5
0 0
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 75 3
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 0 0
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 0 0
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 50 2
Jumlah 9
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 21
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.20.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 18
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun untuk
ketebalan gambut> 3
m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH <
2,5
0 0
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 75 3
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 0 0
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 0 0
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 50 2
Jumlah 9
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 22
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.21.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 19
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah (%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun
untuk ketebalan
gambut> 3 m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH
< 2,5
0 0
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 100 2
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 0 0
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 0 0
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 75 3
Jumlah 9
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 23
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.22.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 20
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Subsidensi
Gambut di atas
pasir kuarsa
>35 cm/5 tahun untuk
ketebalan gambut> 3
m
0 0
2
Kedalamam
Lapisan berfirit dari
permukaan tanah
< 25 cm dengan pH <
2,5
0 0
3
Kedalaman air
Tanah dangkal
> 25 cm 100
4
Redoks untuk
tanah berfirit
> - 100 mV 0 4
5
Redoks untuk
tanah gambut
> 200 mV 50 2
6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3
7
Daya Hantar Listrik
(DHL)
> 4,0 mS/cm 25 1
8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 75 3
Jumlah 13
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 24
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
2. Status Kerusakan Tanah Lahan Kering
Unit lahan untuk lahan kering terbagi menjadi 16 unit lahan dengan penetapan
status kerusakan tanahnya dapat dilihat pada Tabel 6.23. sampai Tabel 6.38. :
Tabel 6.23.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 21
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Ketebalan solum
tanah
< 20 cm 0 0
2
Kebatuan
permukaan
> 40 % 0 0
3
Komposisi fraksi
kasar
< 18 % koloid atau > 80
% pasir kuarsa
0 0
4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1
5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 25 1
6
Derajat Pelulusan
Air
<0,7 cm/jam atau > 8
cm/jam
0 0
7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 75 3
8
Daya Hantar Listrik
(mS/cm
> 4,0 mS/cm 50 2
9 Redoks (< mV) < 200 mV 25 1
10
Jumlah mikroba
(cfu/g tanah)
< 102 cfu/g tanah 75 3
Jumlah 11
Status Kerusakan (Simbol) Ringan (R-I)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 25
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.24.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 22
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Ketebalan solum
tanah
< 20 cm 0 0
2
Kebatuan
permukaan
> 40 % 0 0
3
Komposisi fraksi
kasar
< 18 % koloid atau > 80
% pasir kuarsa
0 0
4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1
5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2
6
Derajat Pelulusan
Air
<0,7 cm/jam atau > 8
cm/jam
0 0
7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 75 3
8
Daya Hantar Listrik
(mS/cm
> 4,0 mS/cm 50 2
9 Redoks (< mV) < 200 mV 25 1
10
Jumlah mikroba
(cfu/g tanah)
< 102 cfu/g tanah 75 3
Jumlah 12
Status Kerusakan (Simbol) Ringan (R-I)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 26
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.25.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 23
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah (%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Ketebalan solum
tanah
< 20 cm 0 0
2
Kebatuan
permukaan
> 40 % 0 0
3
Komposisi fraksi
kasar
< 18 % koloid atau >
80 % pasir kuarsa
0 0
4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1
5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2
6
Derajat Pelulusan
Air
<0,7 cm/jam atau >
8 cm/jam
25 1
7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4
8
Daya Hantar Listrik
(mS/cm
> 4,0 mS/cm 50 2
9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2
10
Jumlah mikroba
(cfu/g tanah)
< 102 cfu/g tanah 75 3
Jumlah 15
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 27
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.26.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 24
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Ketebalan solum
tanah
< 20 cm 0 0
2
Kebatuan
permukaan
> 40 % 0 0
3
Komposisi fraksi
kasar
< 18 % koloid atau > 80
% pasir kuarsa
0 0
4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1
5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2
6
Derajat Pelulusan
Air
<0,7 cm/jam atau > 8
cm/jam
25 1
7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4
8
Daya Hantar Listrik
(mS/cm
> 4,0 mS/cm 50 2
9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2
10
Jumlah mikroba
(cfu/g tanah)
< 102 cfu/g tanah 75 3
Jumlah 15
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 28
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.27.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 25
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Ketebalan solum
tanah
< 20 cm 0 0
2
Kebatuan
permukaan
> 40 % 0 0
3
Komposisi fraksi
kasar
< 18 % koloid atau > 80
% pasir kuarsa
0 0
4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1
5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2
6
Derajat Pelulusan
Air
<0,7 cm/jam atau > 8
cm/jam
25 1
7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4
8
Daya Hantar Listrik
(mS/cm
> 4,0 mS/cm 50 2
9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2
10
Jumlah mikroba
(cfu/g tanah)
< 102 cfu/g tanah 75 3
Jumlah 15
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 29
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.28.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 26
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1
Ketebalan solum
tanah
< 20 cm 0 0
2
Kebatuan
permukaan
> 40 % 0 0
3
Komposisi fraksi
kasar
< 18 % koloid atau > 80
% pasir kuarsa
0 0
4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1
5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2
6
Derajat Pelulusan
Air
<0,7 cm/jam atau > 8
cm/jam
50 2
7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4
8
Daya Hantar Listrik
(mS/cm
> 4,0 mS/cm 50 2
9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2
10
Jumlah mikroba
(cfu/g tanah)
< 102 cfu/g tanah 75 3
Jumlah 16
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 30
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.29.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 27
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Ketebalan solum
tanah
< 20 cm 0 0
2
Kebatuan
permukaan
> 40 % 0 0
3
Komposisi fraksi
kasar
< 18 % koloid atau > 80
% pasir kuarsa
0
4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1
5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2
6
Derajat Pelulusan
Air
<0,7 cm/jam atau > 8
cm/jam
50 2
7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4
8
Daya Hantar Listrik
(mS/cm
> 4,0 mS/cm 50 2
9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2
10
Jumlah mikroba
(cfu/g tanah)
< 102 cfu/g tanah 50 2
Jumlah 15
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 31
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.30.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 28
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Ketebalan solum
tanah
< 20 cm 0 0
2
Kebatuan
permukaan
> 40 % 0 0
3
Komposisi fraksi
kasar
< 18 % koloid atau > 80
% pasir kuarsa
0 0
4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1
5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2
6
Derajat Pelulusan
Air
<0,7 cm/jam atau > 8
cm/jam
50 2
7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4
8
Daya Hantar Listrik
(mS/cm
> 4,0 mS/cm 50 2
9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2
10
Jumlah mikroba
(cfu/g tanah)
< 102 cfu/g tanah 75 3
Jumlah 16
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 32
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.31.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 29
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Ketebalan solum
tanah
< 20 cm 0 0
2
Kebatuan
permukaan
> 40 % 0 0
3
Komposisi fraksi
kasar
< 18 % koloid atau > 80
% pasir kuarsa
0 0
4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1
5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2
6
Derajat Pelulusan
Air
<0,7 cm/jam atau > 8
cm/jam
25 1
7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4
8
Daya Hantar Listrik
(mS/cm
> 4,0 mS/cm 25 1
9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2
10
Jumlah mikroba
(cfu/g tanah)
< 102 cfu/g tanah 50 2
Jumlah 13
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 33
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.32.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 30
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Ketebalan solum
tanah
< 20 cm 0 0
2
Kebatuan
permukaan
> 40 % 0 0
3
Komposisi fraksi
kasar
< 18 % koloid atau > 80
% pasir kuarsa
0 0
4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 50 2
5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2
6
Derajat Pelulusan
Air
<0,7 cm/jam atau > 8
cm/jam
50 2
7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4
8
Daya Hantar Listrik
(mS/cm
> 4,0 mS/cm 50 2
9 Redoks (< mV) < 200 mV 75 3
10
Jumlah mikroba
(cfu/g tanah)
< 102 cfu/g tanah 75 3
Jumlah 18
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 34
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.33.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 31
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Ketebalan solum
tanah
< 20 cm 0 0
2
Kebatuan
permukaan
> 40 % 0 0
3
Komposisi fraksi
kasar
< 18 % koloid atau > 80
% pasir kuarsa
0 0
4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 50 2
5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2
6
Derajat Pelulusan
Air
<0,7 cm/jam atau > 8
cm/jam
50 2
7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4
8
Daya Hantar Listrik
(mS/cm
> 4,0 mS/cm 50 2
9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2
10
Jumlah mikroba
(cfu/g tanah)
< 102 cfu/g tanah 75 3
Jumlah 17
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 35
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.34.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 32
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Ketebalan solum
tanah
< 20 cm 0 0
2
Kebatuan
permukaan
> 40 % 0 0
3
Komposisi fraksi
kasar
< 18 % koloid atau > 80
% pasir kuarsa
0 0
4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 50 2
5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2
6
Derajat Pelulusan
Air
<0,7 cm/jam atau > 8
cm/jam
25 1
7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4
8
Daya Hantar Listrik
(mS/cm
> 4,0 mS/cm 50 2
9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2
10
Jumlah mikroba
(cfu/g tanah)
< 102 cfu/g tanah 50 2
Jumlah 15
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 36
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.35.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 33
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Ketebalan solum
tanah
< 20 cm 0 0
2
Kebatuan
permukaan
> 40 % 0 0
3
Komposisi fraksi
kasar
< 18 % koloid atau > 80
% pasir kuarsa
0 0
4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 50 2
5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2
6
Derajat Pelulusan
Air
<0,7 cm/jam atau > 8
cm/jam
75 3
7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4
8
Daya Hantar Listrik
(mS/cm
> 4,0 mS/cm 50 2
9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2
10
Jumlah mikroba
(cfu/g tanah)
< 102 cfu/g tanah 75 3
Jumlah 18
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 37
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.36.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 34
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Ketebalan solum
tanah
< 20 cm 0 0
2
Kebatuan
permukaan
> 40 % 0 0
3
Komposisi fraksi
kasar
< 18 % koloid atau > 80
% pasir kuarsa
0 0
4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 50 2
5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2
6
Derajat Pelulusan
Air
<0,7 cm/jam atau > 8
cm/jam
25 1
7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4
8
Daya Hantar Listrik
(mS/cm
> 4,0 mS/cm 75 3
9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2
10
Jumlah mikroba
(cfu/g tanah)
< 102 cfu/g tanah 75 3
Jumlah 17
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 38
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.37.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 35
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Ketebalan solum
tanah
< 20 cm 0 0
2
Kebatuan
permukaan
> 40 % 0 0
3
Komposisi fraksi
kasar
< 18 % koloid atau > 80
% pasir kuarsa
0 0
4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 50 2
5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2
6
Derajat Pelulusan
Air
<0,7 cm/jam atau > 8
cm/jam
50 2
7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4
8
Daya Hantar Listrik
(mS/cm
> 4,0 mS/cm 50 2
9 Redoks (< mV) < 200 mV 75 3
10
Jumlah mikroba
(cfu/g tanah)
< 102 cfu/g tanah 75 3
Jumlah 18
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
VI – 39
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Tabel 6.38.
Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 36
No.
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Ambang Kritis
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor
Frekwensi
Relatif
1
Ketebalan solum
tanah
< 20 cm 0 0
2
Kebatuan
permukaan
> 40 % 0 0
3
Komposisi fraksi
kasar
< 18 % koloid atau > 80
% pasir kuarsa
0 0
4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 50 2
5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2
6
Derajat Pelulusan
Air
<0,7 cm/jam atau > 8
cm/jam
75 3
7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4
8
Daya Hantar Listrik
(mS/cm
> 4,0 mS/cm 50 2
9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2
10
Jumlah mikroba
(cfu/g tanah)
< 102 cfu/g tanah 75 3
Jumlah 18
Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II)
Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
Berdasarkan hasil penetapan status kerusakan tanah pada lahan basah dan lahan
kering di lokasi studi dapat diketahui status kerusakan tanah termasuk pada kategori
Ringan (R-I) dan Sedang (R-II). Kerusakan tanah pada lahan basah umumnya
disebabkan oleh kedalam air tanah dangkal, tingginya kemasaman tanah (pH) dan
jumlah mikroba, demikian halnya yang terjadi pada lahan kering.
VI – 40
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Kedalaman air tanah dangkal yang dalam, berdasarkan hasil verifikasi lapangan diduga
sebagai akibat pembuatan saluran drainase yang berlebihan (terlalu dalam) pada lahan
basah untuk tujuan pengeringan lahan. Hal tersebut akan dapat mengakibatkan
penurunan permukaan tanah (subsidensi), terutama pada tanah gambut. Masalah lain
yang dapat timbul dari turunnya perukaan air pada tanah basah diantaranya adalah :
terjadi banjir dan genangan permanen, intrusi air laut, kekeringan pada musim kemarau
dan mudah terbakarnya lahan gambut.
Tingginya pH tanah merupakan masalah yang umum di Indonesia terutama pada lahan
basah yang biasanya diakibatkan oleh tingginya kandungan ion H+ atau kandungan AL3+
atau disebabkan oleh sifat bahan induk tanah itu sendiri. Penyebab lainnya dapat
diakibatkan oleh pemupukan yang terus menerus dengan pupuk yang mengandung
Sulfur. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pH tanah diantaranya dengan
penambahan kapur (CaCO3) pada tanah.
Sedangkan rendahnya kandungan mikroba tanah dapat disebabkan oleh penggunaan
pestisida yan terus menerus dilakukan terutama racun pembunuh rumput-rumptan
(herbisida).
Pada lahan kering, pemadatan tanah dapatdiakibatkan oleh erosi dan pengolahan lahan
dengan mengunakan alat berat. Erosi tanah yang terjadi peda lahan kering di lokasi studi
diduga sebagai akibat dari tidak dikukannya upaya konservasi lahan terutama pada
lahan berlereng. Pada areal perkebunan maupun HTI secara rutin dilakukan
pengendalian gulma berupa rumput-rumputan maupun tumbuhan perdu dengan
menggunakan herbisida, sehingga tanah di bawah tajuk pohon terbuka, hal tersebut
mengakibatkan mudahnya tanah tererosi.
Berdasarkan hasil evaluasi status dan luas kerusakan tanah pada lahan basah adalah :
1. Status kerusakan ringan (R.I) seluas 116.215,67 ha (15.53%)
2. Status kerusakan sedang (R.II) seluas 632.284,31 ha (84.47%).
VI – 41
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Status kerusakan tanah pada lahan kering adalah :
1. Status kerusakan ringan (R.I) seluas101.107,64 ha (18.85%) dan
2. Status kerusakan sedang (R.II) seluas 435.298,69 ha (81.15%).
Secara keseluruhan luas status kerusakan tanah pada areal yang dikembangkan untuk
produksi biomassa di Kabupaten Pelalawan adalah sebagai berikut :
1. Status kerusakan ringan (R.I) seluas 217.323,31 ha (16,91 %).
2. Status kerusakan sedang (R.II) seluas 1.067.583,00 ha (83,09 %).
Dengan demikian kondisi tanah pada seluruh areal lahan yang digunakan untuk produksi
biomassa di Kabupaten Pelalawan telah mengalami kerusakan ringan sampai sedang.
Apa bila dilihat per wilayah kecamatan maka tingkat kerusakan tanah untuk produksi
biomassa berdasarkan penilaian status kerusakan tanah pada wilayah kerja efektif dapat
dilihat pada Tabel 6.39.
Tabel 6.39
Status Kerusakan Tanah Pada Wilayah Kerja Efektif Per Kecamatan
Kecamatan
Luas Wilayah
(Ha)
Lahan Basah Lahan Kering
Rusak Ringan
(Ha)
Rusak Sedang
(Ha)
Rusak
Ringan (Ha)
Rusak Sedang
(Ha)
Langgam 145.000 38.666,67 106.333,33
Pangkalan Kerinci 19.250 4.812,50 14.437,50
Bandar Sei Kijang 32.080 32.080,00
Pangkalan Kuras 118.500 13.673,08 34.182,69 36.461,54
Ukui 130.200 76.260,00
Pangkalan Lesung 50.620 1.874,81 7.874,22 38.246,22
Bunut 41.470 36.862,22
Pelalawan 149.600 7.123,81 121.104,76 3.561,90 17.097,14
Bandar Petalangan 37.330 5.392,11 33.182,22
Kuala Kampar 80.640 16.250,00 61.750,00
Kerumutan 96.380 12.850,67 44.977,33 6.425,33 32.126,67
Teluk Meranti 424.600 64.050,91 297.220,00 43.988,56 12.738,00
Sumber Data : Pengukuran Planimetris Tim Survey, 2010
Luas status kerusakan tanah untuk produksi biomassa dan faktor pembatas penyebab
kerusakannya di Kabupaten Pelalawan dapat dilihat pada Tabel 6.40 dan Tabel 6.41
VI – 42
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
serta Peta Status Kerusakan Tanah dan/atau Lahan untuk Produksi Biomassa pada
Gambar 6.1
Tabel 6.40.
Status Kerusakan Tanah Untuk Produksi Biomassa Pada Lahan Basah Di Kab. Pelalawan
No.
Unit
Lahan
Simbol
Keterangan Luas
Status
Kerusakan
Tanah
Faktor Pembatas Ha %
1 R.II-w,rg,a Sedang
kedalamanairtanahdangkal,redoks
gambutdanpH 17.317,06
2,31
2 R.I-w,rg Ringan
kedalamanairtanahdangkaldan
redoksgambut 9.968,77
1,33
3 R.II-w,a Sedang kedalamanairtanahdangkaldanpH
2.634,11
0,35
4 R.II-w,a Sedang kedalamanairtanahdangkaldanpH
3.447,12
0,46
5 R.II-w,a Sedang kedalamanairtanahdangkaldanpH
1.643,71
0,22
6 R.II-w,rg,a Sedang
kedalamanairtanahdangkal,redoks
gambutdanpH 4.081,90
0,55
7 R.I-w,rg,a Ringan
kedalamanairtanahdangkal,redoks
gambutdanpH 86.410,21
11,54
8 R.II-w,rg,a,m Sedang
kedalamanairtanahdangkal,redoks
gambut,pH danjumlahmikroba 26.161,29
3,50
9 R.II-w,rg,a Sedang
kedalamanairtanahdangkal,redoks
gambutdanpH 132.662,51
17,72
10 R.II-w,rg,a,e Sedang
kedalamanairtanahdangkal,redoks
gambut,pH danDHL 21.013,27
2,81
11 R.II-w,a Sedang kedalamanairtanahdangkaldanpH
7.526,44
1,01
12 R.II-w,rg,a,m Sedang
kedalamanairtanahdangkal,redoks
gambut,pH danjumlahmikroba 42.558,44
5,69
13 R.II-w,a,m Sedang
kedalamanairtanahdangkal,pHdan
jumlahmikroba 4.099,79
0,55
14 R.II-w,a Ringan kedalamanairtanahdangkaldanpH
11.017,78
1,47
15 R.II-w,a,m Sedang
kedalamanairtanahdangkal,pHdan
jumlahmikroba 49.846,26
6,66
16 R.II-w,a Ringan kedalamanairtanahdangkaldanpH
8.818,91
1,18
17 R.II-w,a,m Sedang
kedalamanairtanahdangkal,pHdan
jumlahmikroba 42.653,15
5,70
18 R.II-w,a,m Sedang
kedalamanairtanahdangkal,pHdan
jumlah mikroba 66.942,62
8,94
19 R.II-w,a,m Sedang
kedalamanairtanahdangkal,pHdan
jumlahmikroba 29.140,48
3,89
20 R.II-w,rg,a,m Sedang kedalamanairtanahdangkal,redoks 24,12
VI – 43
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
gambut,pH danjumlahmikroba 180.556,15
Jumlah Total 748.499,98 100,00
Sumber : Analisis Tim Survei, 2010
Tabel 6.41.
Status Kerusakan Tanah Untuk Produksi Biomassa Pada Lahan Kering Di Kab. Pelalawan
No.
Unit
Lahan
Simbol
Keterangan Luas
Status
Kerusakan
Tanah
Faktor Pembatas Ha %
21 R.I-a,e,m Ringan pH, DHLdan jumlahmikroba
13.345,27
2,49
22 R.I-v,a,e,m Ringan
porositastotal, pH, DHLdan jumlah
mikroba 55.175,66
10,29
23 R.II-v,a,e,r,m Sedang
porositastotal, pH, DHL,redoks dan
jumlahmikroba 27.229,40
5,08
24 R.II-v,a,e,r,m Sedang
porositastotal, pH, DHL,redoks dan
jumlahmikroba 30.310,87
5,65
25 R.II-v,a,e,r,m Sedang
porositastotal, pH, DHL,redoks dan
jumlahmikroba 17.478,40
3,26
26 R.II-v,p,a,e,r,m Sedang
porositastotal, derajatpelulusanair,
pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 91.801,64
17,11
27 R.II-v,p,a,e,r,m Sedang
porositastotal, derajatpelulusanair,
pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 10.309,97
1,92
28 R.II-v,p,a,e,r,m Sedang
porositastotal, derajatpelulusanair,
pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 5.036,27
0,94
29 R.I-v,a,r,m Ringan
porositastotal, pH, redoksdan jumlah
mikroba 32.586,71
6,08
30 R.II-d,v,p,a,e,r,m Sedang
BI, porositastotal, derajatpelulusanair,
pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 49.537,26
9,24
31 R.II-d,v,p,a,e,r,m Sedang
BI, porositastotal, derajatpelulusanair,
pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 81.582,82
15,21
32 R.II-d,v,p,a,e,r,m Sedang
BI, porositastotal, derajatpelulusanair,
pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 75.895,64
14,15
33 R.II-d,v,p,a,e,r,m Sedang
BI, porositastotal, derajatpelulusanair,
pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 7.819,80
1,46
34 R.II-d,v,p,a,e,r,m Sedang
BI, porositastotal, derajatpelulusanair,
pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 15.050,65
2,81
35 R.II-d,v,p,a,e,r,m Sedang
BI, porositastotal, derajatpelulusanair,
pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 14.860,21
2,77
36 R.II-d,v,p,a,e,r,m Sedang
BI, porositastotal, derajatpelulusanair,
pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 8.385,76
1,56
Jumlah Total 536.406,33 100,00
Sumber : Analisis Tim Survei, 2010
VI – 44
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA
GAMBAR 6.1. PETA STATUS KERUSAKAN LAHAN
VI – 45
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR
PT. BENNATIN SURYACIPTA

More Related Content

More from drestajumena1

More from drestajumena1 (12)

Bab v
Bab vBab v
Bab v
 
Bab iv
Bab ivBab iv
Bab iv
 
Bab iv halaman peta
Bab iv halaman petaBab iv halaman peta
Bab iv halaman peta
 
Bab iii
Bab iiiBab iii
Bab iii
 
Bab ii
Bab iiBab ii
Bab ii
 
Bab i
Bab iBab i
Bab i
 
3 bab 2 deskripsi umum lokasi studi
3 bab 2 deskripsi umum lokasi studi3 bab 2 deskripsi umum lokasi studi
3 bab 2 deskripsi umum lokasi studi
 
7 bab 5 organisasi personil
7 bab 5 organisasi personil7 bab 5 organisasi personil
7 bab 5 organisasi personil
 
6 bab 4 program kerja
6 bab 4 program kerja6 bab 4 program kerja
6 bab 4 program kerja
 
5 bab 3 metodologi pelaksanaan pekerjaan
5 bab 3 metodologi pelaksanaan pekerjaan5 bab 3 metodologi pelaksanaan pekerjaan
5 bab 3 metodologi pelaksanaan pekerjaan
 
4 bab 2 deskripsi umum ok.
4 bab 2 deskripsi umum ok.4 bab 2 deskripsi umum ok.
4 bab 2 deskripsi umum ok.
 
3 bab 1 pendahuluan ok
3 bab 1 pendahuluan ok3 bab 1 pendahuluan ok
3 bab 1 pendahuluan ok
 

Bab vi

  • 1. VI – 1 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA 6.1. METODE YANG DIPAKAI DALAM PENETAPAN STATUS KERUSAKAN TANAH Kerangka acuan yang dipakai untuk menentukan status kerusakan tanah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan metode mtching dan metode skoring dari frekwensi kerusakan tanah : 1. Metode Matching Cara penentuan status kerusakan tanh dengan metode matching adalah dengan cara membandingkan antara data parameter-parameter kerusakan tanah yang terukur dengan kriteria baku kerusakan tanah (sesuai dengan PP No. 150 tahun 2000). Matching ini dilakukan pada setiap titik pengamatan. Dengan metode ini, setiap titik pengamatan dapat dikelompokan ke dalam tanah yang tergolong rusak (R) atau tidak rusak (N). 2. Metode Skoring Dan Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah Metode skoring dilakukan dengan mempertimbangkan frekwensi relatif tanah yang tergolong rusak dalam suatu poligon. Yang dimaksud dengan frekwensi relatif (%)
  • 2. VI – 2 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA contoh tanah yang tergolong rusak yaitu hasil pengukuran setiap parameter kerusakan tanah yang sesuai dengan kriteria baku kerusakan tanah, terhadap jumlah keseluruhan titik pengamatan yang dilakukan dalam poligon tersebut. Dalam studi ini penentuan status kerusakan tanah untuk produksi biomassa dilakukan dengan Metode Skoring dan Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah. 6.2. PENETAPAN STATUS KERUSAKAN TANAH Status kerusakan tanah ditentukan berdasarkan frekuensi tanah rusak dari jumlah sampel tanah yang diambil dibandingkan dengan ambang batas kerusakan tanah. Skor status kerusakan tanah berdasarkan frekuensi tanah rusak dapat dilihat pada Tabel 6.1. Tabel 6.1. Skor Kerusakan Tanah Berdasarkan Frekwensi Relatif Dan Berbagai Parameter Kerusakan Tanah Frekwensi Tanah Rusak (%) Skor Status Kerusakan Tanah 0 – 10 0 Tidak rusak 11 – 25 1 Rusak ringan 26 – 50 2 Rusak sedang 51 – 75 3 Rusak berat 76 – 100 4 Rusak sangat berat Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009 Dalam penentuan status kerusakan tanah pada lahan kering, nilai maksimal penjumlahan skor kerusakan tanah untuk 10 parameter kriteria baku kerusakan adalah 40. Sedangkan nilai skor maksimal pada lahan basah adalah 20, 24 atau 28, tergantung pada banyak parameter yang diukur. Dari penjumlahan nilai skor tersebut dilakukan pengkategorian status kerusakan tanah. Berdasarkan status kerusakannya, tanah dibagi ke dalam 5 kategori, yaitu tidak rusak (N), rusak ringan (R-I), rusak sedang (RII), rusak berat (R.III) dan nusak sangat berat
  • 3. VI – 3 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA (R.IV). Status kerusakan tanah berdasarkan penjumlahan nilai skor kerusakan tanah disajikan dalam Tabel 6.2. Tabel 6.2. Status Kerusakn Tanah Bedasarkan Nilai Akumulasi Skor Kerusakan Tanah Untuk Lahan Kering Dan Lahan Basah Simbol Status Kerusakan Tanah Nilai Akumulasi Skor Kerusakan Tanah Lahan Kering Lahan Basah Tanah Gambut Berstratum Pasir Kuarsa Tanah Gambut Lain atau Mineral N Tidak rusak 0 0 0 R.I Rusak ringan 1 – 14 1 – 12 1 – 8 R.II Rusak sedang 15 – 24 13 – 17 9 – 14 R.III Rusak berat 25 – 34 18 – 24 15 – 20 R.IV Rusak sangat berat 35 – 40 25 – 28 21 – 24 Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009 Berdasarkan hasil penyusunan tanah awal dan hasil verifikasi lapangan lokasi studi terbagi menjadi 36 unit lahan dengan veriabel keseragamam : jenis tanah, kelas lereng (%), sebaran curah hujan (mm/tahun) dan jenis penggunaan lahan/penutupan lahan. Dari ke-36 unit lahan tersebut selanjutnya ditetapkan status kerusakan tanahnya berdasarkan parameter kerusakan tanah yang terdiri dari parameter kerusakan tanah untuk lahan basah dan untuk lahan kering seperti diuraikan di bawah ini : 1. Status Kerusakan Tanah Lahan Basah Unit lahan untuk lahan basah terbagi menjadi 20 unit lahan dengan penetapan status kerusakan tanahnya disajikan pada Tabel 6.3 sampai Tabel 6. 22. di bawah ini :
  • 4. VI – 4 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.3. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 1 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 0 0 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 50 2 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 0 0 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 50 2 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1 Jumlah 9 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 5. VI – 5 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.4. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 2 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasi kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 0 0 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 75 3 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 0 0 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 50 2 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 25 1 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1 Jumlah 8 Status Kerusakan (Simbol) Ringan (R-I) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 6. VI – 6 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.5. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 3 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 0 0 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 75 3 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 0 0 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 25 1 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 50 2 Jumlah 9 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 7. VI – 7 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.6. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 4 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 25 1 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 75 3 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 25 1 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 0 0 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1 Jumlah 9 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 8. VI – 8 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.7. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 5 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 25 1 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 75 3 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 25 1 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 0 0 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1 Jumlah 9 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 9. VI – 9 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.8. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 6 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 0 0 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 75 3 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 0 0 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 50 2 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1 Jumlah 10 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 10. VI – 10 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.9. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 7 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 0 0 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 50 2 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 0 0 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 50 2 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1 Jumlah 8 Status Kerusakan (Simbol) Ringan (R-I) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 11. VI – 11 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.10. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 8 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Keruasakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 50 2 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 75 3 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 50 2 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 0 0 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 50 2 Jumlah 13 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 12. VI – 12 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.11. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 9 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 0 0 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 100 4 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 0 0 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 50 2 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1 Jumlah 10 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 13. VI – 13 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.12. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 10 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 0 0 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 100 4 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 0 0 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 50 2 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 50 2 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1 Jumlah 11 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 14. VI – 14 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.13. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 11 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 25 1 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 100 4 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 25 1 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 25 1 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1 Jumlah 12 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 15. VI – 15 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.14. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 12 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 25 1 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 100 4 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 25 1 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 50 2 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 50 2 Jumlah 13 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 16. VI – 16 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.15. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 13 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 25 1 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 75 3 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 25 1 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 25 1 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 50 2 Jumlah 11 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 17. VI – 17 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.16. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 14 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 0 0 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 75 3 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 0 0 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 0 0 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1 Jumlah 8 Status Kerusakan (Simbol) Ringan (R-I) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 18. VI – 18 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.17. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 15 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasi kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 0 0 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 100 4 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 0 0 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 0 0 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 50 2 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 50 2 Jumlah 9 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 19. VI – 19 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.18. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 16 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 0 0 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 50 2 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 0 0 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 0 0 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 25 1 Jumlah 7 Status Kerusakan (Simbol) Ringan (R-I) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 20. VI – 20 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.19. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 17 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 0 0 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 75 3 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 0 0 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 0 0 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 50 2 Jumlah 9 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 21. VI – 21 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.20. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 18 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 0 0 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 75 3 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 0 0 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 0 0 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 50 2 Jumlah 9 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 22. VI – 22 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.21. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 19 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 0 0 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 100 2 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 0 0 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 0 0 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 75 3 Jumlah 9 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 23. VI – 23 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.22. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 20 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Subsidensi Gambut di atas pasir kuarsa >35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut> 3 m 0 0 2 Kedalamam Lapisan berfirit dari permukaan tanah < 25 cm dengan pH < 2,5 0 0 3 Kedalaman air Tanah dangkal > 25 cm 100 4 Redoks untuk tanah berfirit > - 100 mV 0 4 5 Redoks untuk tanah gambut > 200 mV 50 2 6 pH (H2O) 2,5 < 4,0 atau > 7,0 75 3 7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm 25 1 8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah 75 3 Jumlah 13 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 24. VI – 24 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA 2. Status Kerusakan Tanah Lahan Kering Unit lahan untuk lahan kering terbagi menjadi 16 unit lahan dengan penetapan status kerusakan tanahnya dapat dilihat pada Tabel 6.23. sampai Tabel 6.38. : Tabel 6.23. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 21 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Ketebalan solum tanah < 20 cm 0 0 2 Kebatuan permukaan > 40 % 0 0 3 Komposisi fraksi kasar < 18 % koloid atau > 80 % pasir kuarsa 0 0 4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1 5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 25 1 6 Derajat Pelulusan Air <0,7 cm/jam atau > 8 cm/jam 0 0 7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 75 3 8 Daya Hantar Listrik (mS/cm > 4,0 mS/cm 50 2 9 Redoks (< mV) < 200 mV 25 1 10 Jumlah mikroba (cfu/g tanah) < 102 cfu/g tanah 75 3 Jumlah 11 Status Kerusakan (Simbol) Ringan (R-I) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 25. VI – 25 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.24. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 22 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Ketebalan solum tanah < 20 cm 0 0 2 Kebatuan permukaan > 40 % 0 0 3 Komposisi fraksi kasar < 18 % koloid atau > 80 % pasir kuarsa 0 0 4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1 5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2 6 Derajat Pelulusan Air <0,7 cm/jam atau > 8 cm/jam 0 0 7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 75 3 8 Daya Hantar Listrik (mS/cm > 4,0 mS/cm 50 2 9 Redoks (< mV) < 200 mV 25 1 10 Jumlah mikroba (cfu/g tanah) < 102 cfu/g tanah 75 3 Jumlah 12 Status Kerusakan (Simbol) Ringan (R-I) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 26. VI – 26 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.25. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 23 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Ketebalan solum tanah < 20 cm 0 0 2 Kebatuan permukaan > 40 % 0 0 3 Komposisi fraksi kasar < 18 % koloid atau > 80 % pasir kuarsa 0 0 4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1 5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2 6 Derajat Pelulusan Air <0,7 cm/jam atau > 8 cm/jam 25 1 7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4 8 Daya Hantar Listrik (mS/cm > 4,0 mS/cm 50 2 9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2 10 Jumlah mikroba (cfu/g tanah) < 102 cfu/g tanah 75 3 Jumlah 15 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 27. VI – 27 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.26. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 24 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Ketebalan solum tanah < 20 cm 0 0 2 Kebatuan permukaan > 40 % 0 0 3 Komposisi fraksi kasar < 18 % koloid atau > 80 % pasir kuarsa 0 0 4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1 5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2 6 Derajat Pelulusan Air <0,7 cm/jam atau > 8 cm/jam 25 1 7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4 8 Daya Hantar Listrik (mS/cm > 4,0 mS/cm 50 2 9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2 10 Jumlah mikroba (cfu/g tanah) < 102 cfu/g tanah 75 3 Jumlah 15 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 28. VI – 28 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.27. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 25 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Ketebalan solum tanah < 20 cm 0 0 2 Kebatuan permukaan > 40 % 0 0 3 Komposisi fraksi kasar < 18 % koloid atau > 80 % pasir kuarsa 0 0 4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1 5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2 6 Derajat Pelulusan Air <0,7 cm/jam atau > 8 cm/jam 25 1 7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4 8 Daya Hantar Listrik (mS/cm > 4,0 mS/cm 50 2 9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2 10 Jumlah mikroba (cfu/g tanah) < 102 cfu/g tanah 75 3 Jumlah 15 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 29. VI – 29 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.28. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 26 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Ketebalan solum tanah < 20 cm 0 0 2 Kebatuan permukaan > 40 % 0 0 3 Komposisi fraksi kasar < 18 % koloid atau > 80 % pasir kuarsa 0 0 4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1 5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2 6 Derajat Pelulusan Air <0,7 cm/jam atau > 8 cm/jam 50 2 7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4 8 Daya Hantar Listrik (mS/cm > 4,0 mS/cm 50 2 9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2 10 Jumlah mikroba (cfu/g tanah) < 102 cfu/g tanah 75 3 Jumlah 16 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 30. VI – 30 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.29. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 27 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Ketebalan solum tanah < 20 cm 0 0 2 Kebatuan permukaan > 40 % 0 0 3 Komposisi fraksi kasar < 18 % koloid atau > 80 % pasir kuarsa 0 4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1 5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2 6 Derajat Pelulusan Air <0,7 cm/jam atau > 8 cm/jam 50 2 7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4 8 Daya Hantar Listrik (mS/cm > 4,0 mS/cm 50 2 9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2 10 Jumlah mikroba (cfu/g tanah) < 102 cfu/g tanah 50 2 Jumlah 15 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 31. VI – 31 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.30. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 28 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Ketebalan solum tanah < 20 cm 0 0 2 Kebatuan permukaan > 40 % 0 0 3 Komposisi fraksi kasar < 18 % koloid atau > 80 % pasir kuarsa 0 0 4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1 5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2 6 Derajat Pelulusan Air <0,7 cm/jam atau > 8 cm/jam 50 2 7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4 8 Daya Hantar Listrik (mS/cm > 4,0 mS/cm 50 2 9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2 10 Jumlah mikroba (cfu/g tanah) < 102 cfu/g tanah 75 3 Jumlah 16 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 32. VI – 32 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.31. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 29 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Ketebalan solum tanah < 20 cm 0 0 2 Kebatuan permukaan > 40 % 0 0 3 Komposisi fraksi kasar < 18 % koloid atau > 80 % pasir kuarsa 0 0 4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 25 1 5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2 6 Derajat Pelulusan Air <0,7 cm/jam atau > 8 cm/jam 25 1 7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4 8 Daya Hantar Listrik (mS/cm > 4,0 mS/cm 25 1 9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2 10 Jumlah mikroba (cfu/g tanah) < 102 cfu/g tanah 50 2 Jumlah 13 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 33. VI – 33 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.32. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 30 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Ketebalan solum tanah < 20 cm 0 0 2 Kebatuan permukaan > 40 % 0 0 3 Komposisi fraksi kasar < 18 % koloid atau > 80 % pasir kuarsa 0 0 4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 50 2 5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2 6 Derajat Pelulusan Air <0,7 cm/jam atau > 8 cm/jam 50 2 7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4 8 Daya Hantar Listrik (mS/cm > 4,0 mS/cm 50 2 9 Redoks (< mV) < 200 mV 75 3 10 Jumlah mikroba (cfu/g tanah) < 102 cfu/g tanah 75 3 Jumlah 18 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 34. VI – 34 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.33. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 31 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Ketebalan solum tanah < 20 cm 0 0 2 Kebatuan permukaan > 40 % 0 0 3 Komposisi fraksi kasar < 18 % koloid atau > 80 % pasir kuarsa 0 0 4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 50 2 5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2 6 Derajat Pelulusan Air <0,7 cm/jam atau > 8 cm/jam 50 2 7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4 8 Daya Hantar Listrik (mS/cm > 4,0 mS/cm 50 2 9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2 10 Jumlah mikroba (cfu/g tanah) < 102 cfu/g tanah 75 3 Jumlah 17 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 35. VI – 35 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.34. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 32 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Ketebalan solum tanah < 20 cm 0 0 2 Kebatuan permukaan > 40 % 0 0 3 Komposisi fraksi kasar < 18 % koloid atau > 80 % pasir kuarsa 0 0 4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 50 2 5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2 6 Derajat Pelulusan Air <0,7 cm/jam atau > 8 cm/jam 25 1 7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4 8 Daya Hantar Listrik (mS/cm > 4,0 mS/cm 50 2 9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2 10 Jumlah mikroba (cfu/g tanah) < 102 cfu/g tanah 50 2 Jumlah 15 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 36. VI – 36 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.35. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 33 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Ketebalan solum tanah < 20 cm 0 0 2 Kebatuan permukaan > 40 % 0 0 3 Komposisi fraksi kasar < 18 % koloid atau > 80 % pasir kuarsa 0 0 4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 50 2 5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2 6 Derajat Pelulusan Air <0,7 cm/jam atau > 8 cm/jam 75 3 7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4 8 Daya Hantar Listrik (mS/cm > 4,0 mS/cm 50 2 9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2 10 Jumlah mikroba (cfu/g tanah) < 102 cfu/g tanah 75 3 Jumlah 18 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 37. VI – 37 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.36. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 34 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Ketebalan solum tanah < 20 cm 0 0 2 Kebatuan permukaan > 40 % 0 0 3 Komposisi fraksi kasar < 18 % koloid atau > 80 % pasir kuarsa 0 0 4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 50 2 5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2 6 Derajat Pelulusan Air <0,7 cm/jam atau > 8 cm/jam 25 1 7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4 8 Daya Hantar Listrik (mS/cm > 4,0 mS/cm 75 3 9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2 10 Jumlah mikroba (cfu/g tanah) < 102 cfu/g tanah 75 3 Jumlah 17 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 38. VI – 38 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.37. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 35 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Ketebalan solum tanah < 20 cm 0 0 2 Kebatuan permukaan > 40 % 0 0 3 Komposisi fraksi kasar < 18 % koloid atau > 80 % pasir kuarsa 0 0 4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 50 2 5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2 6 Derajat Pelulusan Air <0,7 cm/jam atau > 8 cm/jam 50 2 7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4 8 Daya Hantar Listrik (mS/cm > 4,0 mS/cm 50 2 9 Redoks (< mV) < 200 mV 75 3 10 Jumlah mikroba (cfu/g tanah) < 102 cfu/g tanah 75 3 Jumlah 18 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010
  • 39. VI – 39 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Tabel 6.38. Status Kerusakan Lahan Pada Unit Lahan 36 No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Ambang Kritis Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1 Ketebalan solum tanah < 20 cm 0 0 2 Kebatuan permukaan > 40 % 0 0 3 Komposisi fraksi kasar < 18 % koloid atau > 80 % pasir kuarsa 0 0 4 Berat Isi (BI) > 1,4 g/cm3 50 2 5 Porositas Total (%) < 30 % atau > 70 % 50 2 6 Derajat Pelulusan Air <0,7 cm/jam atau > 8 cm/jam 75 3 7 pH (H2O) 1 :2,5 <4,5 atau > 8,5 100 4 8 Daya Hantar Listrik (mS/cm > 4,0 mS/cm 50 2 9 Redoks (< mV) < 200 mV 50 2 10 Jumlah mikroba (cfu/g tanah) < 102 cfu/g tanah 75 3 Jumlah 18 Status Kerusakan (Simbol) Sedang (R-II) Sumber : Analisis Tim Surrvei, 2010 Berdasarkan hasil penetapan status kerusakan tanah pada lahan basah dan lahan kering di lokasi studi dapat diketahui status kerusakan tanah termasuk pada kategori Ringan (R-I) dan Sedang (R-II). Kerusakan tanah pada lahan basah umumnya disebabkan oleh kedalam air tanah dangkal, tingginya kemasaman tanah (pH) dan jumlah mikroba, demikian halnya yang terjadi pada lahan kering.
  • 40. VI – 40 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Kedalaman air tanah dangkal yang dalam, berdasarkan hasil verifikasi lapangan diduga sebagai akibat pembuatan saluran drainase yang berlebihan (terlalu dalam) pada lahan basah untuk tujuan pengeringan lahan. Hal tersebut akan dapat mengakibatkan penurunan permukaan tanah (subsidensi), terutama pada tanah gambut. Masalah lain yang dapat timbul dari turunnya perukaan air pada tanah basah diantaranya adalah : terjadi banjir dan genangan permanen, intrusi air laut, kekeringan pada musim kemarau dan mudah terbakarnya lahan gambut. Tingginya pH tanah merupakan masalah yang umum di Indonesia terutama pada lahan basah yang biasanya diakibatkan oleh tingginya kandungan ion H+ atau kandungan AL3+ atau disebabkan oleh sifat bahan induk tanah itu sendiri. Penyebab lainnya dapat diakibatkan oleh pemupukan yang terus menerus dengan pupuk yang mengandung Sulfur. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pH tanah diantaranya dengan penambahan kapur (CaCO3) pada tanah. Sedangkan rendahnya kandungan mikroba tanah dapat disebabkan oleh penggunaan pestisida yan terus menerus dilakukan terutama racun pembunuh rumput-rumptan (herbisida). Pada lahan kering, pemadatan tanah dapatdiakibatkan oleh erosi dan pengolahan lahan dengan mengunakan alat berat. Erosi tanah yang terjadi peda lahan kering di lokasi studi diduga sebagai akibat dari tidak dikukannya upaya konservasi lahan terutama pada lahan berlereng. Pada areal perkebunan maupun HTI secara rutin dilakukan pengendalian gulma berupa rumput-rumputan maupun tumbuhan perdu dengan menggunakan herbisida, sehingga tanah di bawah tajuk pohon terbuka, hal tersebut mengakibatkan mudahnya tanah tererosi. Berdasarkan hasil evaluasi status dan luas kerusakan tanah pada lahan basah adalah : 1. Status kerusakan ringan (R.I) seluas 116.215,67 ha (15.53%) 2. Status kerusakan sedang (R.II) seluas 632.284,31 ha (84.47%).
  • 41. VI – 41 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA Status kerusakan tanah pada lahan kering adalah : 1. Status kerusakan ringan (R.I) seluas101.107,64 ha (18.85%) dan 2. Status kerusakan sedang (R.II) seluas 435.298,69 ha (81.15%). Secara keseluruhan luas status kerusakan tanah pada areal yang dikembangkan untuk produksi biomassa di Kabupaten Pelalawan adalah sebagai berikut : 1. Status kerusakan ringan (R.I) seluas 217.323,31 ha (16,91 %). 2. Status kerusakan sedang (R.II) seluas 1.067.583,00 ha (83,09 %). Dengan demikian kondisi tanah pada seluruh areal lahan yang digunakan untuk produksi biomassa di Kabupaten Pelalawan telah mengalami kerusakan ringan sampai sedang. Apa bila dilihat per wilayah kecamatan maka tingkat kerusakan tanah untuk produksi biomassa berdasarkan penilaian status kerusakan tanah pada wilayah kerja efektif dapat dilihat pada Tabel 6.39. Tabel 6.39 Status Kerusakan Tanah Pada Wilayah Kerja Efektif Per Kecamatan Kecamatan Luas Wilayah (Ha) Lahan Basah Lahan Kering Rusak Ringan (Ha) Rusak Sedang (Ha) Rusak Ringan (Ha) Rusak Sedang (Ha) Langgam 145.000 38.666,67 106.333,33 Pangkalan Kerinci 19.250 4.812,50 14.437,50 Bandar Sei Kijang 32.080 32.080,00 Pangkalan Kuras 118.500 13.673,08 34.182,69 36.461,54 Ukui 130.200 76.260,00 Pangkalan Lesung 50.620 1.874,81 7.874,22 38.246,22 Bunut 41.470 36.862,22 Pelalawan 149.600 7.123,81 121.104,76 3.561,90 17.097,14 Bandar Petalangan 37.330 5.392,11 33.182,22 Kuala Kampar 80.640 16.250,00 61.750,00 Kerumutan 96.380 12.850,67 44.977,33 6.425,33 32.126,67 Teluk Meranti 424.600 64.050,91 297.220,00 43.988,56 12.738,00 Sumber Data : Pengukuran Planimetris Tim Survey, 2010 Luas status kerusakan tanah untuk produksi biomassa dan faktor pembatas penyebab kerusakannya di Kabupaten Pelalawan dapat dilihat pada Tabel 6.40 dan Tabel 6.41
  • 42. VI – 42 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA serta Peta Status Kerusakan Tanah dan/atau Lahan untuk Produksi Biomassa pada Gambar 6.1 Tabel 6.40. Status Kerusakan Tanah Untuk Produksi Biomassa Pada Lahan Basah Di Kab. Pelalawan No. Unit Lahan Simbol Keterangan Luas Status Kerusakan Tanah Faktor Pembatas Ha % 1 R.II-w,rg,a Sedang kedalamanairtanahdangkal,redoks gambutdanpH 17.317,06 2,31 2 R.I-w,rg Ringan kedalamanairtanahdangkaldan redoksgambut 9.968,77 1,33 3 R.II-w,a Sedang kedalamanairtanahdangkaldanpH 2.634,11 0,35 4 R.II-w,a Sedang kedalamanairtanahdangkaldanpH 3.447,12 0,46 5 R.II-w,a Sedang kedalamanairtanahdangkaldanpH 1.643,71 0,22 6 R.II-w,rg,a Sedang kedalamanairtanahdangkal,redoks gambutdanpH 4.081,90 0,55 7 R.I-w,rg,a Ringan kedalamanairtanahdangkal,redoks gambutdanpH 86.410,21 11,54 8 R.II-w,rg,a,m Sedang kedalamanairtanahdangkal,redoks gambut,pH danjumlahmikroba 26.161,29 3,50 9 R.II-w,rg,a Sedang kedalamanairtanahdangkal,redoks gambutdanpH 132.662,51 17,72 10 R.II-w,rg,a,e Sedang kedalamanairtanahdangkal,redoks gambut,pH danDHL 21.013,27 2,81 11 R.II-w,a Sedang kedalamanairtanahdangkaldanpH 7.526,44 1,01 12 R.II-w,rg,a,m Sedang kedalamanairtanahdangkal,redoks gambut,pH danjumlahmikroba 42.558,44 5,69 13 R.II-w,a,m Sedang kedalamanairtanahdangkal,pHdan jumlahmikroba 4.099,79 0,55 14 R.II-w,a Ringan kedalamanairtanahdangkaldanpH 11.017,78 1,47 15 R.II-w,a,m Sedang kedalamanairtanahdangkal,pHdan jumlahmikroba 49.846,26 6,66 16 R.II-w,a Ringan kedalamanairtanahdangkaldanpH 8.818,91 1,18 17 R.II-w,a,m Sedang kedalamanairtanahdangkal,pHdan jumlahmikroba 42.653,15 5,70 18 R.II-w,a,m Sedang kedalamanairtanahdangkal,pHdan jumlah mikroba 66.942,62 8,94 19 R.II-w,a,m Sedang kedalamanairtanahdangkal,pHdan jumlahmikroba 29.140,48 3,89 20 R.II-w,rg,a,m Sedang kedalamanairtanahdangkal,redoks 24,12
  • 43. VI – 43 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA gambut,pH danjumlahmikroba 180.556,15 Jumlah Total 748.499,98 100,00 Sumber : Analisis Tim Survei, 2010 Tabel 6.41. Status Kerusakan Tanah Untuk Produksi Biomassa Pada Lahan Kering Di Kab. Pelalawan No. Unit Lahan Simbol Keterangan Luas Status Kerusakan Tanah Faktor Pembatas Ha % 21 R.I-a,e,m Ringan pH, DHLdan jumlahmikroba 13.345,27 2,49 22 R.I-v,a,e,m Ringan porositastotal, pH, DHLdan jumlah mikroba 55.175,66 10,29 23 R.II-v,a,e,r,m Sedang porositastotal, pH, DHL,redoks dan jumlahmikroba 27.229,40 5,08 24 R.II-v,a,e,r,m Sedang porositastotal, pH, DHL,redoks dan jumlahmikroba 30.310,87 5,65 25 R.II-v,a,e,r,m Sedang porositastotal, pH, DHL,redoks dan jumlahmikroba 17.478,40 3,26 26 R.II-v,p,a,e,r,m Sedang porositastotal, derajatpelulusanair, pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 91.801,64 17,11 27 R.II-v,p,a,e,r,m Sedang porositastotal, derajatpelulusanair, pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 10.309,97 1,92 28 R.II-v,p,a,e,r,m Sedang porositastotal, derajatpelulusanair, pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 5.036,27 0,94 29 R.I-v,a,r,m Ringan porositastotal, pH, redoksdan jumlah mikroba 32.586,71 6,08 30 R.II-d,v,p,a,e,r,m Sedang BI, porositastotal, derajatpelulusanair, pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 49.537,26 9,24 31 R.II-d,v,p,a,e,r,m Sedang BI, porositastotal, derajatpelulusanair, pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 81.582,82 15,21 32 R.II-d,v,p,a,e,r,m Sedang BI, porositastotal, derajatpelulusanair, pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 75.895,64 14,15 33 R.II-d,v,p,a,e,r,m Sedang BI, porositastotal, derajatpelulusanair, pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 7.819,80 1,46 34 R.II-d,v,p,a,e,r,m Sedang BI, porositastotal, derajatpelulusanair, pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 15.050,65 2,81 35 R.II-d,v,p,a,e,r,m Sedang BI, porositastotal, derajatpelulusanair, pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 14.860,21 2,77 36 R.II-d,v,p,a,e,r,m Sedang BI, porositastotal, derajatpelulusanair, pH, DHL, redoksdan jumlahmikroba 8.385,76 1,56 Jumlah Total 536.406,33 100,00 Sumber : Analisis Tim Survei, 2010
  • 44. VI – 44 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA GAMBAR 6.1. PETA STATUS KERUSAKAN LAHAN
  • 45. VI – 45 Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan LAPORAN AKHIR PT. BENNATIN SURYACIPTA