SlideShare a Scribd company logo
1 of 26
III – 1
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
3.1. UMUM
3.1.1. Pengertian Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi
Biomassa
Beberapa definisi yang perlu dipahami dalam Pekerjaan Penyusunan Status
Kerusakan Lahan dan/atau Tanah Untuk Produksi Biomassa ini berdasarkan
Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah Untuk Produksi
Biomassa (Kementrian Nega Lingkungan Hidup Republik Indonesia, 2009),
diantaranya adalah :
1) Kerusakan tanah untuk produksi biomassa adalah berubahnya sifat dasar
tanah yang melampaui kriteria baku kerusakan tanah.
2) Biomassa adalah tumbuhan atau bagian-bagiannya yaitu; bunga, biji, buah,
daun, ranting, batang, dan akar, termasuk tanaman yang dihasilkan oleh
kegiatan pertanian, perkebunan, dan hutan tanaman.
3) Produksi biomassa adalah bentuk-bentuk pemanfaatan sumber daya tanah
untuk menghasilkan biomassa.
III – 2
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
4) Areal kerja efektif adalah kawasan budidaya yang dapat dijadikan sebagai
pengembangan/produksi biomassa, yaitu daerah pertanian, perkebunan,
hutan tanaman.
5) Peta kondisi awal tanah adalah peta yang berisi informasi awal tentang
kondisi tanah yang disusun berdasarkan superimpose/overlay atas
beberapa peta tematik guna memperoleh gambaran areal yang berpotensi
mengalami kerusakan.
6) Verifikasi lapangan adalah kegiatan survei lapangan dalam rangka
identifikasi karakteristik tanah melalui pengamatan dan pengambilan contoh
tanah untuk penentuan kondisi dan status kerusakan tanah.
7) Peta kondisi tanah adalah peta yang berisi informasi kondisi tanah setelah
dilakukan verifikasi lapangan, baik berdasarkan data pengamatan lapangan
maupun hasil analisis laboratorium. Peta ini menjadi bahan dalam
penetapan status kerusakan tanah.
8) Peta status kerusakan tanah adalah peta yang berisi informasi status
kerusakan tanah setelah dilakukan evaluasi lahan, yaitu membandingkan
sifat-sifat kondisi tanah dengan kriteria dalam kerusakan tanah.
3.1.2. Kebutuhan Bahan Dan Peralatan
Kebutuhan bahan dan data dalam penyusunan pekerjaan ini di antaranya
adalah:
1) Peta dasar
Peta dasar adalah peta yang menyajikan informasi-informasi dasar dan
suatu wilayah, antara lain jalan, pemukiman/kampung, sungai, gunung,
tutupan lahan, elevasi dan wilayah administrasi. Peta ini menjadi wadah
dituangkannya berbagai peta tematik. Skala peta dasar yang akan
digunakan sama atau lebih detil dari skala peta yang akan dihasilkan.
Sebagai bahan peta dasar dapat menggunakan peta Rupa Bumi Indonesia
III – 3
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
(RBI) produksi Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
(Bakosurtanal).
2) Peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Peta RTRW yang digunakan adalah peta RTRW tingkat Kabupaten atau
Kota. Fungsi dan peta RTRW dalam penyusunan peta kondisi awal tanah
adalah sebagai penyaring daerah kerja efektifyang akan disurvei dan dilihat
kondisi tanahnya di lapangan berdasarkan status lahannya. Daerah yang
dijadikan sebagai areal keija efektif adalah daerah yang dapat digunakan
untuk pengembangan produksi biomassa di kawasan budidaya.
3) Peta tanah
Peta tanah diperlukan sebagai bahan untuk penilaian potensi kerusakan
tanah. Informasi utama yang diambil dan peta ini adalah jenis tanah. Jenis
tanah yang diperoleh dan peta tanah tergantung dan skala peta. Semakin
detil skala peta tersebut, semakin banyak informasi sifat tanah yang
diperoleh. Jenis (klasifikasi) tanah yang digunakan dapat beragam,
umumnya menggunakan sistem klasifikasi Soil Taxonomy (Soil Survei Staff
USDA) dan kadang-kadang juga disertakan padanannya dan kiasifikasi
Puslittan dan FAO.
4) Peta Lereng
Peta lereng merupakan hasil olahan dan peta topografi. Kemiringan lahan
berkaitan erat dengan potensi erosi sebagai faktor utama penyebab
kerusakan tanah sehingga dijadikan bahan penilaian potensi kerusakan
tanah. Peta lereng yang mudah didapat diantaranya bersumber dan peta
satuan lahan. Peta satuan lahan terdiri dan kumpulan peta-peta dasar
seperti peta lereng, peta tanah dan sebagainya. Peta tersebut diantaranya
bisa didapat di BBSDL (Balai Besar Sumber Daya Lahan) dan di
Bakosurtanal. Peta lereng juga dapat dipersiapkan dengan DEM (digital
elevation model) yaitu melakukan interpolasi peta kontur digital. DEM
III – 4
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
terbaru didapatkan dengan metode korelasi image digital dan dua image
optik yang sama namun diambil dan sudut berbeda. Sumber image antara
lain citra dan SPOT, ASTER dan sebagainya.
5) Peta Curah Hujan
Curah hujan merupakan unsur yang paling penting dan iklim dan menjadi
agen utama kerusakan tanah melalui proses erosi. Untuk itu ketersediaan
data ini diperlukan dalam penentuan potensi kerusakan tanah. Peta hujan
biasanya disusun dan peta isohyet. BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi
Geofisika) ditingkat propinsi kadang juga menyusun peta hujan. Sumber
lain adalah peta hujan yang disusun oleh Bappeda masing-masing daerah
kabupaten, kota atau propinsi.
6) Peta Penggunaan/Penutupan Lahan
Umumnya kerusakan tanah di Indonesia terjadi sebagai pengaruh aktivitas
manusia (penggunaan lahan) baik pertanian, kehutanan, pertambangan,
industri dan sebagainya. Karena itu peran peta penggunaan lahan (land
use) sangat penting sebagai salah satu bahan penilaian potensi kerusakan
tanah.
Dalam pendugaan potensi kerusakan tanah, peta penggunaan/penutupan
lahan yang digunakan adalah peta terbaru yang masih relevan
menggambarkan kondisi Penggunaan/penutupan lahan saat verifikasi
lapang dilakukan. Jika tidak tersedia, peta ini dapat disusun berdasarkan
data Citra. Beberapa jenis citra yang dapat digunakan antara lain citra
Landsat, SPOT, ASTER dan Quick Bird.
7) Peta dan data lainnya
Peta dan data lain seperti peta lahan kritis atau laporan langsung dan
masyarakat atau instansi terkait tentang adanya kerusakan tanah pada
III – 5
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
kawasan tertentu, maka informasi tersebut dapat diakomodir dalam peta
kondisi awal jika posisi dan sebarannya diketahui.
Kebutuhan peralatan lapangan dalam pekerjaan ini di antaranya adalah :
a. Alat-alat pengukur parameter-parameter kerusakan tanah sesuai Permen
No. 07 tahun 2006, diantaranya adalah Bor Belgi, Munsell Soil Color Chart,
ring sample, soil test kit, pH paper, H2O2 25 %, cangkul/skop dan kantong
slastik wadah sampel tanah.
b. GPS, kompas, klinometer/abney level
c. Audio visual yang bisa digunakan untuk menyimpan data
d. Form isian data kondisi tanah (Lampiran 2.)
e. ATK.
3.2. PENYUSUNAN PETA KONDISI TANAH AWAL
Inti kegiatan dan tahap persiapan adalah penyusunan peta kondisi awal tanah dan
deliniasi sebaran tanah berpotensi rusak. Hasil pemetaan digunakan sebagai peta kerja
untuk verifikasi lapangan. Pada prinsipnya peta kondisi awal (peta kerja) menyajikan
informasi dugaan potensi kerusakan tanah berdasarkan analisis peta dan data-data
sekunder. Peta ini disusun berdasarkan peta-peta tematik utama serta data dan
informasi lainnya yang mendukung. Potensi kerusakan tanah diduga dengan dua
pendekatan, yaitu metode overlay peta-peta tematik dan metode skoring dan faktor-
faktor yang dianggap berpengaruh terhadap kerusakan tanah. Kegiatan penyusunan
peta kondisi awal tanah sepeti dapat dilihat pada bagan alir di bawah ini :
III – 6
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
Gambar 3.1. Skema Kerja Dalam Penyusunan Peta Kondisi Awal
Proses penyusunan peta kondisi awal ini terdiri dan beberapa langkah, yaitu (1)
penyaringan areal kerja efektif, (2) Skoring potensi kerusakan lahan pada peta-peta
tematik (3) overlay beberapa peta tematik yang diperlukan, dan (4) penentuan potensi
kerusakan tanah. Langkah-langkah tersebut secara terperinci diuraikan di bawah ini :
3.2.1. Penyaringan Areal Kerja Efektif
Tahap awal dan penyusunan peta kondisi awal adalah menyaring daerah kerja
efektif melalui overlay dengan peta rencana tata ruang wilayah. Daerah yang
menjadi areal kerja efektif, seperti telah diuraikan pada bab terdahulu, adalah
lahan/kawasan budidaya untuk memproduksi biomassa, yaitu daerah pertanian,
perkebunan, hutan tanaman. Sedangkan pada kawasan lainnya (kawasan
lindung dan kawasan budidaya lainnya seperti permukiman, perikanan, dll) tidak
termasuk areal efektif.
3.2.2. Skoring Potensi Kerusakan Tanah
III – 7
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
Nilai skoring atau skor pembobotan potensi kerusakan tanah didapat dan hasil
perkalian nilai rating yaitu nilai potensi masing-masing unsur peta tematik
terhadap terjadinya kerusakan tanah dengan nilai bobot masing-masing peta
tematik yaitu peta tanah, peta lereng, peta curah hujan dan peta penggunaan
lahan. Nilai rating ditetapkan berkisar dari 1 sampai 5. Sementara nilai bobot
didasarkan kepada akurasi dari masing-masing informasi peta tematik dalam
penilaian potensi kerusakan tanah. Peta penggunaan lahan dan peta tanah
diberi nilai bobot dua (2) dan peta kelerengan dan curah hujan diberi bobot tiga
(3). Semakin tinggi nilai skoring pembobotan yang didapat, semakin tinggi pula
potensi wilayah tersebut mengalami kerusakan tanah. Nilai rating dan skoring
pembobotan dan masing-masing peta tematik disajikan dalam Tabel 3.1, Tabel
3.2, Tabel 3.3. dan Tabel 3.4.
Dalam menentukan skoring potensi kerusakan tanah diperlukan data sebagai
berikut :
a. Peta Tanah
Berdasarkan sistem kiasifikasi Soil Taxonomy, di indonesia tersebar 10
ordo tanah, yaitu Histosols yaitu ordo untuk tanah basah dan Entisols,
Inceptisols, Vertisols, Andisols, Alfisols, Ultisols, Ooxisols, serta Spodosols
yaitu ordo untuk tanah lahan kering. Berdasarkan kondisi kelembabannya,
tanah dibagi menjadi tanah lahan basah dan tanâh lahan kering. Tanah
lahan basah adalah tanah yang sebagian besar waktu di tahun-tahun
normalnya berada pada kondisi jenuh air. Sedangkan tanab lahan kering
adalah tanah yang sebagian besar waktu di tahun-tahun normalnya berada
pada kondisi tidak jenuh. Tanah lahan kering dan lahan basah dapatdiduga
dari nama jenis tanahnya. Selain Histosols, yang termasuk lahan basah
adalah tanah-tanah mineral yang mempunyai rejim kelembaban Aquik atau
bersub ordo Aquik, misalkan Aquents, Aquepts, Aquults, Aquods, dsb.
III – 8
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
Dalam menduga potensi kerusakan, tanah-tanah dikelompokan ke
dalam 5 (lima) kelas potensi kerusakan tanah. Nilai rating potensi
kerusakan tanah (Tabel 3.1.) diberikan terutama berdasarkan pendekatan
nilai erodibilitas tanah.
Tabel 3.1.
Penilaian Potensi Kerusakan Tanah Berdasarkan Jenis Tanah (Tingkat Ordo)
Tanah
Potensi
Kerusakan
Tanah
Simbol Rating
Skor Pembobotan
(rating x bobot)
Vertisol
Tanah dengan rejim
kelembaban aquik*)
Sangat ringan T1 1 2
Oxisol Ringan T2 2 4
Alfisol, Mollisol, Ultisol Sedang T3 3 6
Inceptisol Entisol,
Histosol
Tinggi T4 4 8
Spodsol, Andisol Sangat Tinggi T5 5 10
Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
Keterangan : *)Aquents, Aquepts, Aquults, Aquoxs, dsb. dengan pengecualian untuk Sulfaquept dan
ulfaquent yang dinilal berpotensi kerusakan tinggi.
b. Peta Lereng
Dalam kaitannya dengan kerusakan tanah, tingkat kemiringan lereng
sangat berpengaruh terhadap proses kerusakan tanah yang disebabkan
oleh erosi tanah. Dalam menduga potensi kerusakan tanah berdasarkan
kondisi kelerengan lahan, tanah dikelompokan ke dalam 5 (lima) kelas
potensi kerusakan tanah (Tabel 3.2.)
Dasar penetapan kelas lereng adalah pembagian kelas lereng yang
digunakan dalam penetapan potensi lahan kritis seperti yang diatur dalam
peraturan Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Dephut,
III – 9
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
SK.1671V-SET/2004. Peta lahan kritis yang disusun oleh Deptanjuga
menggunakan pembagian kelas lereng yang sama.
Tabel 3.2.
Penilaian Potensi Kerusakan Tanah Berdasarkan Kemiringan Lahan
Lereng
(%)
Potensi
Kerusakan Tanah
Simbol Rating
Skor Pembobotan
(rating X bobot)
1 - 8 Sangat ringan L1 1 3
9 -15 Ringan L2 2 6
16 - 25 Sedang L3 3 9
26 - 40 Tinggi L4 4 12
> 40 Sangat tinggi L5 5 15
Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
c. Peta Curah Hujan
Curah hujan adalah salah sam agen utama dan kerusakan tanah melalui
proses erosi. Untuk hal itu ketersediaan data melalui peta curah hujan
sangat diperlukan untuk penilaian potensi kerusakan tanah.
Pengelompokan curah hujan didasarkan path pengelompokan curah hujan
tahunan datam Atlas Sumberdaya Iklim Pertanian Indonesia yang disusun
oleh Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Bogor. Kelas curah hujan
tahunan dalam kaitamiya dengan potensi kerusakan tanah disajikan dalam
Tabel 3.3.
Tabel 3.3.
Nilai Skor Status Kerusakan Tanah Berdasarkan Jumlah Curah Hujan Tahunan
III – 10
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
CH
(mm/tahun)
Potensi
Kerusakan Tanah
Simbol Rating
Skor Pembobotan
(rating X bobot)
> 1000 Sangat ringan H1 1 3
1000 - 2000 Ringan H2 2 6
2000 - 3000 Sedang H3 3 9
3000 - 4000 Tinggi H4 4 12
> 4000 Sangat tinggi H5 5 15
Sumber :Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
d. Peta Penggunaan Lahan
Penilaian potensi kerusakan tanah berdasarkan penggunaan lahan didekati
dengan mengacu kepada koefisien tanaman (faktor C). Berdasarkan
pendekatan tersebut, jenis-jenis penggunaan lahan (baik penggunaan lahan
di daerah pertanian maupun vegetasi alami) dikelompokan ke dalam 5
kelas potensi kerusakan tanah sebagaimana disajikan pada Tabel 3.4.
Sekalipun informasi pada satuan penggunaan lahan bersifat lebih umum,
namun informasi-informasi yang lebih detil menyangkut jenis
komoditas/vegetasi, tipe pengelolaan dan langkah-langkah konservasi yang
diterapkan yang terkait erat dengan sifat tanah sangat penting dan
bermanfaat dalam menduga potensi kerusakan tanah. Oleh karena itu,
data-data tersebut penting untuk dicatat dan diperhatikan dalam
pemanfaatan peta penggunaan lahan untuk penyusunan peta kondisi awal
tanah.
Tabel 3.4.
Penilaian Potensi Kerusakan Tanah Berdasarkan Jenis Penggunaan Lahannya
Penggunaan Lahan Potensi Simbol Rating Skor
III – 11
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
Kerusakan
Tanah
Pembobotan
(rating X
bobot)
Hutan alam, sawah dan
alang-alang murni subur
Sangat ringan T1 1 2
Kebun campuran, semak
belukar dan padangrumput
Ringan T2 2 4
Hutan produksi dan
perladangan
Sedang T3 3 6
Tegalan (tanaman semusim) Tinggi T4 4 8
Tanah terbuka Sangat tinggi T5 5 10
Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
3.2.3. Overlay Peta Tematik
Setelah areal kerja efektif dan nilai skor dan masing-masing peta tematik
diperoleh, maka pada area! tersebut dilakukan overlay peta-peta tematik
sebagaimana telah disebutkan. Proses overlay tersebut akan menghasilkan
poligon-poligon baru dengan atribut kondisi lahan sesuai dengan peta-peta
tematik penyusunnya. Pada poligon baru mi akan dinilai potensi kerusakan
lahannya dengan mempertimbangkan skor pembobotan potensi kerusakan
tanah dan peta-peta penyusunnya.
3.2.4. Penentuan Potensi Kerusakan Tanah
Potensi kerusakan tanah diduga dengan melakukan pengelompokan terhadap
akumulasi skor pembobotan yaitu hasil kali nilai skor dengan bobot masing-
masing peta tematik. Penilain potensi ini dilakukan terhadap poligon yang
dihasilkan melalui proses overlay. Nilai akumulasi skor tersebut berkisar dan 10
sampai 50. Nilai maksimal terjadi jika seluruh nilai atribut dan tiap-tiap peta
tematik yang digunakan benpotensi sangat tinggi terhadap kerusakan tanah.
Bendasarkan akumulasi skor tersebut, seluruh tanah yang akan dinilai
III – 12
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
dikelompokan terhadap 5 kelas potensi kerusakan tanah, yaltu tanah yang
berpotensi sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Pada
prinsipnya semakin tinggi nilai skor yang diberikan, semakin tinggi pua potensi
wilayah tersebut mengalami kerusakan tanah. Kniteria pengelompokan potensi
kerusakan tanah mi disajikan dalam Tabel 3.5.
Tabel 3.5.
Kritenia Pembagian Kelas Potensi Kerusakan Tanah Berdasarkan Nilai Skor
Simbol Potensi Kerusakan Tanah Skor Pembobotan
PR.I Sangat Rendah <15
PR.II Rendah 15 – 24
PR.III Sedang 25 – 34
PR.IV Tinggi 35 – 44
PR.V Sangat Tinggi 45 - 50
Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
Penentuan potensi kerusakan tanah secara sederhana disajikan dalam Tabel
3.6. dan skema cara penilaian seperti dikemukakan pada Gambar 3.1. Dalam
contoh tersebut, digunakan 4 faktor kerusakan tanah yang didapat dan 4 peta
tematik. Skoring pembobotan untuk faktor-faktor kerusakan tanah tersebut
ditentukan terlebih dahulu, kemudian seluruh nilai tersebut dijumlahkan dan
hasilnya (dalam contoh tersebut 29) dijadikan sebagai dasar untuk menentukan
potensi kerusakan tanahnya. Berdasarkan knitenia yang telah ditentukan
sebelumnya, angka 29 menunjukkan bahwa potensi kerusakan tanah tergolong
sedang.
Tabel 3.6.
Tabulasi Tata Cara Penilaian Potensi Kerusakan Tanah
III – 13
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
Faktor Kerusakan
Tanah
Rating Terhadap Potensi
Kerusakan Tanah Bobot
Skor
Pembobotan
Ketegori Nilai
Ordo tanah Ultisols sedang 3 2 6
Penggunaan lahan
Tegalan
tinggi 4 2 8
Lereng 8 % rendah 2 3 6
Curah hujan 2500
mm/thn
sedang 3 3 9
Jumlah 29
Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
Di samping keempat peta tematik di atas, peta kondisi awal dapat juga
mengakomodasi peta atau data lainnya terkait dengan potensi dan keberadaan
tanah yang rusak. Peta dan informasi tersebut dapat langsung digunakan untuk
menduga potensi kerusakan tanah, tanpa harus melalui proses skoring dan
pembobotan. Sebagai contoh peta lahan kritis keluaran BPDAS (Balai
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai) Departemen Kehutanan yang memilah lahan
kritis atas 5 golongan.
Untuk lahan tergolong sangat kritis kerusakan tanahnya diduga setara dengan
potensi kerusakan tanah sangat tinggi. Lahan yang tergolong kritis diduga setara
dengan potensi kerusakan tanah tinggi. Lahan agak kritis diduga setara dengan
potensi kemsakan tanah sedang. Lahan potensial kritis diduga setara dengan
potensi kerusakan tanah rendah. Sedangkan lahan tidak kritis diduga
mempunyai potensi kerusakan tanah sangat rendah.
III – 14
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
Gambar 3.2. Skema Penilaian Potensi Kerusakan Tanah
Peta Kondisi Awal pada prinsipnya rnenyajikan informasi dugaan potensi
kerusakan tanah, luasan dan sebarannya. Peta mi akan digunakan sebagai peta
kerja dan bertujuan agar dapat mempermudah dan mengarahkan verifikasi di
lapangan, terutama dalam menentukan prioritas lokasi yang akan disurvei serta
jenis-jenis pengukuran yang akan dilakukan. Untuk keperluan itu maka perlu
dicantumkan faktor-faktor penting atau diduga dapat menjadi penyebab
kerusakan tanah, yaitu jenis tanah, bahan induk, kemiringan lereng, curah hujan
tahunan dan penggunaan lahan. Informasi tersebut dituangkan dalam legenda
peta.
3.3. VERIFIKASI LAPANGAN
III – 15
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
Verifikasi lapangan adalah untuk membuktikan benar tidaknya indikasi atau potensi
kerusakan tanah yang telah disusun. Kegiatan mi dilakukan dengan urutan prioritas
berdasarkan potensi kerusakan tanahnya. Prioritas utama dilakukan pada tanah dengan
potensi kerusakan paling tinggi.
3.3.1. Metode Pengamatan Tanah
Di dalam pelaksanaan survei lapangan, terdapatbeberapa metode pengamatan
dan pengambilan contoh tanah. Metode pengambilan contoh tanah yang umum
digunakan adalah pengambilan sistem random (random sampling) dan
pengambilan sistem grid (grid sampling).
a. Sistem Grid (Jalur)
Sistem mi merupakan teknik pengamatan tanah yang dilakukan pada jarak
yang teratur. Dalam sistem ini titik-titik pengamatan terlebih dahulu
dirancang dalam peta kerja dengan pola bentuk grid. Kerapatan grid
disesuaikan dengan skala peta yang akan dibuat. Metode sampling seperti
ini cocok diterapkan pada kondisi:
 Lahan homogen dan tidak dapat dibedakan secara visual di lapangan,
misalkan pada lahan gambut.
 Peta dasar dan peta pendukung kurang lengkap.
 Pengalaman jam terbang para surveior masih rendah/minim.
b. Sistem Bebas
Sistem mi biasanya diterapkan pada kondisi lahan yang cukup beragam,
dimana lahan dibagi kepada beberapa satuan lahan yang relatif homogen
melalui proses tumpang tindih (overlay) dan beberapa peta tematik
sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dan kemudian pada setiap
satuan lahan tersebut dilakukan sampling secara random. Homogenitas
III – 16
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
pada setiap satuan lahan menjadi syarat dalam penggunaan metode
sampling ini.
c. Sistem Sistematik
Sistem ini hampir sama dengan sistem grid, tapi jarak pengamatannya tidak
sama jauh. Penerapan sistem mi harus disertai dengan peta dasar dan
data penunjang cukup lengkap.
d. Sistem Bebas Sistematik
Sistem ini hampir sama dengan sistem bebas, dilakukan untuk mengatasi
kekurangan waktu di lapangan. Dalam penerapannya harus disertai
ketersediaan peta dasar dan peta penunjang cukup Iengkap, serta
berdasarkan hasil interpretasi.
Kerapatan pengamatan selain tergantung kepada tingkat survei (Iihat Tabel
3.7), juga tergantung pada junilah satuan peta sementara (hasil interpretasi)
yang harus diverifikasi.
Tabel 3.7.
Unsur-Unsur Pemetaan Terkait Kerapatan Pengamatan Dalam Berbagai
Tingkat Survey
Unsur
Tingkat Survey
Tinjau mendalam Semi Detil Detil
Peta dasar 1 : 20.000
1 : 50.000
1 : 5.000
1 : 20.000
1 :2.000
1 : 5.000
Jumlah observasi
(obs/100 ha)
4 - 8 8 - 16 16 -24
Skala peta laporan 1 : 50.000
1 : 100.000
1 : 20.000
1 : 50.000
1 : 5.000
1 : 10.000
Kegunaan - Perencanaan umum
penggunaan lahan.
- Penetapan areal yang
akan disurvey lebih
dalam.
- Studi
kelayakan
secara teknis.
- Pelaksanaan
pengembangan
- Rencana
operasional.
Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
III – 17
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
3.3.2. Identifikasi Kerusakan Tanah
Pengamatan parameter-parameter kriteria baku kerusakan tanah dilakukan
berdasarkan metode yang telah ditetapkan PP No. 150 tahun 2000. Secara
teknis, tata cara pengukuran parameter-parameter tersebut diuraikan dalam
Permen LH No. 07 tahun 2006.
Beberapa parameter kriteria baku kerusakan tanah diukur langsung di lapangan,
sedangkan sebagian Iainnya diukur melalui analisis laboratorium. Untuk itu perlu
dilakukan pengambilan contoh tanah pada setiap titik pengamatan. Petunjuk
pengambilan contoh tanah mengacu pada Permen LH No. 07 tahun 2006.
Khusus untuk parameter tingkat erosi tanah dan subsidensi gambut, hasilnya
hanya dapat diperoleh jika telah dilakukan sedikitnya dua kali pengukuran di
tempat yang sama dengan interval waktu pengukuran satu tahun. Hasil verifikasi
dan identifikasi parameter kerusakan tanah juga memungkinkan tetjadinya
perubahan poligon pada Peta Kondisi Awal.
3.3.3. Inventarisasi Informasi Pendukung Peta Status Kerusakan Tanah
Informasi pendukung lain yang diperlukan dalam penyusunan Peta Status
Kerusakan Tanah, diantaranya adalah penggunaan lahan aktual, vegetasi
tanaman utama, teknik budidaya, teknik konservasi, lama pengusahaan lahan
dan lain-lain. Informasi ini diperlukan sebagai bahan pertimbangan dalam
penyusunan program rehabilitasi tanah nantinya.
3.3.4. Penyusunan Peta Kondisi Tanah
Peta Kondisi Tanah bersifat deskriptif, artinya peta ini hanya memberikan
gambaran tentang sifat-sifat tanah pada wilayah yang disurvei. Peta Kondisi
Tanah disusun berdasarkan hasil identifikasi dan inventarisasi sifat tanah di
III – 18
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
lapangan dan selanjutnya peta disempurnakan dengan data- data hasil analisis
laboratorium.
Peta Kondisi Tanah memuat nilai parameter-parameter kriteria baku kerusakan
tanah. Nilai dicantumkan dalam legenda peta berupa nilai kisaran dan masing-
masing parameter. Peta ini juga memuat informasi kondisi lahan yang diperoleh
dan peta-peta tematik, yaitu jenis tanah, bahan induk, kemiringan lereng, curah
hujan tahunan, dan penggunaan lahan.
Pada tahap selanjutnya, data-data dan peta ini akan dinilai dan menjadi dasar
dalam penyusunan peta status kerusakan tanah untuk produksi biomassa.
3.4. PENYUSUNAN PETA STATUS KERUSAKAN TANAH UNTUK PRODUKSI BIOMASA
Peta status kerusakan tanah untuk produksi biomassa merupakan output akhir yang
berisi informasi tentang status, sebaran dan luasan kerusakan tanah pada wilayah yang
dipetakan. Peta ini disusun melalui dua tahapan evaluasi yaitu matching dan skoring.
Secara terperinci penetapan status kerusakan tanah diuraikan sebagai berikut :
3.4.1. Metode Matching
Matching adalah membandingkan antara data parameter-parameter kerusakan
tanah yang terukur dengan kriteria baku kerusakan tanah (sesuai dengan PP
No. 150 tahun 2000). Matching ini dilakukan pada setiap titik pengamatan.
Dengan metode mi, setiap titik pengamatan dapatdikelompokan ke dalam tanah
yang tergolong rusak (R) atau tidak rusak (N).
3.4.2. Metode Skoring Dad Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah
Metode skoring dilakukan dengan mempertimbangkan frekwensi relatif tanah
yang tergolong rusak dalam suatu poligon. Yang dimaksnd dengan frekwensi
III – 19
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
relatif (%) contoh tanah yang tergolong rusak yaitu hasil pengukuran setiap
parameter kerusakan tanah yang sesuai dengan kriteria baku kerusakan tanah,
terhadap jumlah keseluruhan titik pengamatan yang dilakukan dalam poligon
tersebut.
Dalam menetapkan status kerusakan tanah langkah-Iangkah yang dilalui adalah
sebagai berikut :
a. Menghitung frekwensi relatif (%) dan setiap parameter kerusakan tanah.
b. Memberi nilai skor untuk masing-masing parameter berdasarkan nilai
frekwensi relatifnya dengan kisaran nilai dan 0 sampai 4 (Tabel 3.8).
c. Melakukan penjumlahan nilai skor masing-masing parameter kriteria
kerusakan tanah.
d. Penentuan status kerusakan tanah berdasarkan hasil penjumlahan nilai
skor pada poin 3 (Tabel 3.9).
Secara lengkap tahapan-tahapan penentuan status kerusakan tanah disajikan
pada Gambar 3.3.
Tabel 3.8.
Skor Kerusakan Tanah Berdasarkan Frekwensi Relatif Dan Berbagai
Parameter Kerusakan Tanah
Frekwensi Tanah Rusak (%) Skor Status Kerusakan Tanah
0 – 10 0 Tidak rusak
11 – 25 1 Rusak ringan
26 – 50 2 Rusak sedang
51 – 75 3 Rusak berat
76 – 100 4 Rusak sangat berat
Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
III – 20
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
Dalam penentuan status kerusakan tanah pada lahan kering, nilai maksimal
penjumlahan skor kerusakan tanah untuk 10 parameter kriteria baku kerusakan
adalah 40. Sedangkan nilai skor maksimal pada lahan basah adalah 20, 24 atau
28, tergantung pada banyak parameter yang diukur. Misalkan jika jenis tanah
lahan basah berupa tanah mineral atau tanah gambut dengan lapisan
substratum bukan pasir kwarsa, maka parameter yang diukur berjumlah 6 (nilai
redoks tanah gambut dan subsidensi tidak diukur) sehingga nilai skor
maksimalnya 24. Contoh lain, jika jenis tanah lahan basah berupa tanah gambut
dengan lapisan substratum pasir kwarsa, maka parameter yang diukur berjumlah
7 (nilai redoks tanah yang mengandung pint tidak diukur) dan nilai skor
maksimalnya adalah 28.
Dari penjumlahan nilai skor tersebutdilakukan pengkategorian status kerusakan
tanah. Berdasarkan status kerusakannya, tanah dibagi ke dalam 5 kategori, yaitu
tidak rusak (N), rusak ringan (RI), rusak sedang (RII), rusak berat (R.III) dan
nusak sangat berat (R.IV). Status kerusakan tanah berdasarkan penjumlahan
nilai skor kerusakan tanah disajikan dalam Tabel 3.9.
Tabel 3.9.
Status Kerusakn Tanah Bedasarkan Nilai Akumulasi Skor Kerusakan Tanah Untuk
Lahan Kering Dan Lahan Basah
Simbol
Status Kerusakan
Tanah
Nilai Akumulasi Skor Kerusakan Tanah
Lahan
Kering
Lahan Basah
Tanah Gambut
Berstratum Pasir
Kuarsa
Tanah
Gambut Lain
atau Mineral
N Tidak rusak 0 0 0
R.I Rusak ringan 1 – 14 1 – 12 1 – 8
R.II Rusak sedang 15 – 24 13 – 17 9 – 14
R.III Rusak berat 25 – 34 18 – 24 15 – 20
R.IV Rusak sangat berat 35 – 40 25 – 28 21 – 24
Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
III – 21
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
Contoh cara penentuan status kerusakan tanah pada lahan kering digambarkan
dalam Tabel 3.10. dan pada lahan basah yaitu tanah gambut di atas pasir
kuarsa pada Tabel 3.11. Dalam Tabel 3.10., hasil penjumlahan dan skor
frekwensi relatif adalah 7 (tujuh), artinya status kerusakan tanah tergolong rusak
ringan. Sedangkan pada Tabel 3.12., hasil penjumlahan skor frekwensi relatif
adalah 13, artinya status kerusakan tanah tersebut tergolong rusak sedang.
Tabel 3.10.
Tabulasi Tata Cara Penilaian Kerusakan Tanah Berdasarkan Persentase
Frekwensi Relatif Pada Lahan Kering
No.
Kriteria Baku Kerusakan
Tanah
Frekwensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1. Ketebalan solum
2. Kebatuan permukaan
3. Komposisi fraksi kasar
4. Berat Isi (BI)
5. Porositas Total
6. Derajat Pelulusan Air
7. pH (H2O) 1 : 2,5
8. Daya Hantar Listrik (DHL)
9. Redoks
10. Jumlah mikroba
Jumlah Skor *)
Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
Keterangan : *) Angka menunjukkan status kerusakan tanah
III – 22
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
Tabel 3.11.
Tabulasi Cara Penilaian Kerusakan Tanah Berdasarkan Persentase Frekwensi
Relatif Pada Lahan Basah (Tanah Gambut Di Atas Pasir Kuarsa)
No
Kriteria Baku
Kerusakan Tanah
Frekuensi Relatif
Kerusakan Tanah
(%)
Skor Frekwensi
Relatif
1.
Subsidensi gambut
di atas pasir kuarsa
2.
Kedalaman lapisan
berfirit dari
permukaan tanah
3.
Kedalaman air
tanah dangkal
4.
Redoks untuk
tanah berfirit
5.
Redoks untuk
tanah gambut
6. pH (H2O) 1 : 2,5
7.
Daya Hantar Listrik
(DHL)
8. Jumlah mikroba
Jumlah Skor *)
Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
Keterangan : *) Angka menunjukkan status kerusakan tanah
3.4.3. Tata cara penulisan simbol kerusakan tanah
Peta Status Kerusakan Tanah menyajikan informasi tentang status kerusakan
tanah. Dalam penyajiannya informasi dikemas dalam suatu legenda peta yang
III – 23
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
berisi informasi status kerusakan tanah, parameter utama yang tergolong rusak
serta luas tanah.
Di dalam penulisannya, setiap simbol status kerusakan tanah diikuti oleh faktor
pembatas yang disimbolkan oleh satu atau dua huruf latin (Tabel 3.12.). Simbol
kerusakan tanah dan simbol parameter faktor pembatasnya dipisahkan oleh
tanda strip (-). Jika terdapat lebih dan sama jenis faktor pembatas, maka simbol-
simbol faktor pembatas tersebut dibatasi oleh tanda koma (,). Jumlah faktor
pembatas yang dimunculkan dalam peta dibatasi maksimal 3 jenis parameter
yang berpengaruh paling dominan. Format legenda Peta Kerusakan Tanah
unmk Produksi Biomassa disajikan pada Tabel 3.13.
Tabel 3.12.
Simbol Parameter-parameter Kerusakan Tanah
No. Parameter Simbol
1. Ketebalan solum s
2. Kebatuan permukaan b
3. Komposisi fraksi f
4. Berat Isi d
5. Porositas total v
6. Derajat pelulusan air p
7. pH (H2O) 1 : 2,5 a
8. Daya Hantar Listrik (DHL) e
9. Redoks r
10. Jumlah mikroba m
11. Subsidensi gambutdi atas pasir kuarsa g
12. Kedalaman lapisan berfirit dari permukaan tanah f
13. Kedalaman air tanah dangkal w
14. Redoks untuk tanah berfirit rp
15. Redoks untuk tanah gambut rg
Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
III – 24
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
Tabel 3.13.
Contoh Format Legenda Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa
No Simbol Keterangan Luas
Status Kerusakan Tanah Pembatas Ha %
1 R.I-a Rusak ringan pH
2 R.II-dp Rusak sedang
Kapadatan tanah
dan porositas total
3 R.II-b Rusak berat Batuan permukaan
Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
Gambar 3.3. Skema Penilaian Status Kerusakan Tanah
III – 25
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
3.5. PENYUSUNAN LAYOUT PETA
Di dalam kegiatan pemetaan kondisi tanah dan status kerusakan tanah untuk produksi
biomassa, penyajikan informasi yang ditampilkan adalah sebagai berikut:
1. Judul peta
PETA KONDSI LAHAN ATAU PETA STATUS KERUSAKAN TANAH UNTUK
PRODUKSI BIOMASSA.
2. Skala peta
Peta memuat informasi skala peta. Contoh: Skala 1: 100.000 atau 1:50.000.
Informasi ini dapat juga berupa skala bar/skala garis.
3. Proyeksi peta
Proyeksi peta menggunakan sistem proyeksi UTM dan geografis (derajat, menit,
detik)
4. Simbol arah utara.
Simbol yang menunjukkan arah utara. Bentuk simbol tidak ditentukan.
5. Peta inset
Peta inset adalah peta yang menunjukkan posisi/lokasi daerah yang dipetakan
dalam suatu wilayah yang lebih luas, misalkan dalam wilayah provinsi.
6. Legenda umum
Meliputi simbol dan keterangan data umum dan peta. Sebagai contoh: simbol jalan,
batas administrasi, sungai, kampung, gunung, kontur dll.
7. Legenda
Legenda yang menyajikan informasi utama sesuai dengan tujuan pemetaan. Format
legenda ini sesuai dengan yang telah dicontohkan sebelumnya.
8. Institusi pelaksana pemetaan
Lembaga yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan.
9. Tahun produksi pemetaan
Tahun produksi pemetaan menginformasikan waktu/tahun ketika peta ini disusun.
10. Sumber-sumber peta
Peta-peta lain yang dirujuk dalam pembuatan peta in baik berupa peta dasar, peta
tanah, peta penggunaan iahan, atau peta curah hujan (ishoyet).
III – 26
PT. BENNATIN SURYACIPTA
Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk
Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan
DRAFT
LAPORAN AKHIR
3.6. PELAPORAN
1. Laporan Pendahuluan berisi :
Laporan Pendahuluan berisi metodologi pelaksanaan pekerjaan, rencana kerja
dan organisasi tim, kompilasi sebagian data, peraturan – peraturan yang dapat
dijadikan acuan, diserahkan sebanyak 10 (sepuluh) Eksamplar.
2. Laporan Akhir berisi :
Berisi memuat seluruh penyelesaian pekerjaan yang telah berisikan masukan,
koreksi dan saran dari pengguna jasa/stake holder pada saat presentasi.
diserahkan sebanyak 30 (tigapuluh) Eksamplar.

More Related Content

What's hot

1 konsep dasar_sig
1 konsep dasar_sig1 konsep dasar_sig
1 konsep dasar_sigaiiniR
 
Sistem Infomasi Geografis ...
Sistem Infomasi Geografis                                                    ...Sistem Infomasi Geografis                                                    ...
Sistem Infomasi Geografis ...NOVI AMRIANI
 
Updating Database Jalan Lingkungan
Updating Database Jalan Lingkungan Updating Database Jalan Lingkungan
Updating Database Jalan Lingkungan Dany Ramadhan
 
Konsep Sistem Informasi Geografis ( SIG )
Konsep Sistem Informasi Geografis ( SIG )Konsep Sistem Informasi Geografis ( SIG )
Konsep Sistem Informasi Geografis ( SIG )PanjiMuhammad3
 
Presentasi seminar Tugas Akhir SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS LOKASI CONTOH DAN ...
Presentasi seminar Tugas Akhir SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS  LOKASI CONTOH DAN ...Presentasi seminar Tugas Akhir SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS  LOKASI CONTOH DAN ...
Presentasi seminar Tugas Akhir SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS LOKASI CONTOH DAN ...Irsan Widyawan
 
Kerangka acuan kerja survey pemetaan topografi
Kerangka acuan kerja survey pemetaan topografiKerangka acuan kerja survey pemetaan topografi
Kerangka acuan kerja survey pemetaan topografiAnindya N. Rafitricia
 
Sistem Kelembagaan dan Organisasi di Daerah
Sistem Kelembagaan dan Organisasi di DaerahSistem Kelembagaan dan Organisasi di Daerah
Sistem Kelembagaan dan Organisasi di DaerahAlhilal Furqan
 
PENATAAN RUANG SEBAGAI ARAH KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM YANG BERKE...
PENATAAN RUANG SEBAGAI ARAH KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM YANG BERKE...PENATAAN RUANG SEBAGAI ARAH KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM YANG BERKE...
PENATAAN RUANG SEBAGAI ARAH KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM YANG BERKE...CIFOR-ICRAF
 
Peran data dan informasi geospasial dalam penataan ruang
Peran data dan informasi geospasial dalam penataan ruangPeran data dan informasi geospasial dalam penataan ruang
Peran data dan informasi geospasial dalam penataan ruangArya Pinandita
 
Kedudukan rtrw kabupaten kota dalam pembangunan
Kedudukan rtrw kabupaten kota dalam pembangunanKedudukan rtrw kabupaten kota dalam pembangunan
Kedudukan rtrw kabupaten kota dalam pembangunanEvant Manö
 
KPP : Kebijakan Tata Ruang dan Implementasinya di Kota Malang
KPP : Kebijakan Tata Ruang dan Implementasinya di Kota MalangKPP : Kebijakan Tata Ruang dan Implementasinya di Kota Malang
KPP : Kebijakan Tata Ruang dan Implementasinya di Kota MalangSeptinia Silviana
 
Modul pelatihan sig
Modul pelatihan sigModul pelatihan sig
Modul pelatihan sigahmadthohari
 
Materi sosialisasi penataan ruang
Materi sosialisasi penataan ruangMateri sosialisasi penataan ruang
Materi sosialisasi penataan ruangArikha Nida
 
PLKJ Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK)
PLKJ Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK)PLKJ Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK)
PLKJ Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK)Sulthan Isa
 
Sinkronisasi tata ruang dan perencanaan regional2
Sinkronisasi tata ruang dan perencanaan regional2Sinkronisasi tata ruang dan perencanaan regional2
Sinkronisasi tata ruang dan perencanaan regional2Febie Yandra
 
Permasalahan tata ruang dalam pembangunan (1)
Permasalahan tata ruang dalam pembangunan (1)Permasalahan tata ruang dalam pembangunan (1)
Permasalahan tata ruang dalam pembangunan (1)FithrohPutri
 

What's hot (20)

1 konsep dasar_sig
1 konsep dasar_sig1 konsep dasar_sig
1 konsep dasar_sig
 
Sistem Infomasi Geografis ...
Sistem Infomasi Geografis                                                    ...Sistem Infomasi Geografis                                                    ...
Sistem Infomasi Geografis ...
 
Updating Database Jalan Lingkungan
Updating Database Jalan Lingkungan Updating Database Jalan Lingkungan
Updating Database Jalan Lingkungan
 
Konsep Sistem Informasi Geografis ( SIG )
Konsep Sistem Informasi Geografis ( SIG )Konsep Sistem Informasi Geografis ( SIG )
Konsep Sistem Informasi Geografis ( SIG )
 
Presentasi seminar Tugas Akhir SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS LOKASI CONTOH DAN ...
Presentasi seminar Tugas Akhir SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS  LOKASI CONTOH DAN ...Presentasi seminar Tugas Akhir SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS  LOKASI CONTOH DAN ...
Presentasi seminar Tugas Akhir SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS LOKASI CONTOH DAN ...
 
Laporan q
Laporan qLaporan q
Laporan q
 
Kerangka acuan kerja survey pemetaan topografi
Kerangka acuan kerja survey pemetaan topografiKerangka acuan kerja survey pemetaan topografi
Kerangka acuan kerja survey pemetaan topografi
 
Sistem Kelembagaan dan Organisasi di Daerah
Sistem Kelembagaan dan Organisasi di DaerahSistem Kelembagaan dan Organisasi di Daerah
Sistem Kelembagaan dan Organisasi di Daerah
 
PENATAAN RUANG SEBAGAI ARAH KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM YANG BERKE...
PENATAAN RUANG SEBAGAI ARAH KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM YANG BERKE...PENATAAN RUANG SEBAGAI ARAH KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM YANG BERKE...
PENATAAN RUANG SEBAGAI ARAH KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM YANG BERKE...
 
Peran data dan informasi geospasial dalam penataan ruang
Peran data dan informasi geospasial dalam penataan ruangPeran data dan informasi geospasial dalam penataan ruang
Peran data dan informasi geospasial dalam penataan ruang
 
Peraturan Zonasi
Peraturan ZonasiPeraturan Zonasi
Peraturan Zonasi
 
Bab i
Bab iBab i
Bab i
 
Kedudukan rtrw kabupaten kota dalam pembangunan
Kedudukan rtrw kabupaten kota dalam pembangunanKedudukan rtrw kabupaten kota dalam pembangunan
Kedudukan rtrw kabupaten kota dalam pembangunan
 
KPP : Kebijakan Tata Ruang dan Implementasinya di Kota Malang
KPP : Kebijakan Tata Ruang dan Implementasinya di Kota MalangKPP : Kebijakan Tata Ruang dan Implementasinya di Kota Malang
KPP : Kebijakan Tata Ruang dan Implementasinya di Kota Malang
 
Modul pelatihan sig
Modul pelatihan sigModul pelatihan sig
Modul pelatihan sig
 
Presentasi sidang
Presentasi sidangPresentasi sidang
Presentasi sidang
 
Materi sosialisasi penataan ruang
Materi sosialisasi penataan ruangMateri sosialisasi penataan ruang
Materi sosialisasi penataan ruang
 
PLKJ Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK)
PLKJ Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK)PLKJ Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK)
PLKJ Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK)
 
Sinkronisasi tata ruang dan perencanaan regional2
Sinkronisasi tata ruang dan perencanaan regional2Sinkronisasi tata ruang dan perencanaan regional2
Sinkronisasi tata ruang dan perencanaan regional2
 
Permasalahan tata ruang dalam pembangunan (1)
Permasalahan tata ruang dalam pembangunan (1)Permasalahan tata ruang dalam pembangunan (1)
Permasalahan tata ruang dalam pembangunan (1)
 

Similar to POTENSI KERUSAKAN TANAH

Perencanaan cut and fill lahan
Perencanaan cut and fill lahan Perencanaan cut and fill lahan
Perencanaan cut and fill lahan Angga Nugraha
 
Juknis pengukuran bidang tanah sistematik lengkap
Juknis pengukuran bidang tanah  sistematik lengkap Juknis pengukuran bidang tanah  sistematik lengkap
Juknis pengukuran bidang tanah sistematik lengkap Ethan Nagekeo
 
Analisa Lahan Kritis Sub DAS Riam Kanan Barito Kabupaten Banjar Kalimantan Te...
Analisa Lahan Kritis Sub DAS Riam Kanan Barito Kabupaten Banjar Kalimantan Te...Analisa Lahan Kritis Sub DAS Riam Kanan Barito Kabupaten Banjar Kalimantan Te...
Analisa Lahan Kritis Sub DAS Riam Kanan Barito Kabupaten Banjar Kalimantan Te...Griya Nugroho
 
Penerapan indraaja
Penerapan indraajaPenerapan indraaja
Penerapan indraajaKoko Harnoko
 
96144 makalah-fotogrametri
96144 makalah-fotogrametri96144 makalah-fotogrametri
96144 makalah-fotogrametriridhooo9898
 
Pemanfaatan citra penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk peme...
Pemanfaatan citra penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk peme...Pemanfaatan citra penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk peme...
Pemanfaatan citra penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk peme...Asep Mulyono
 
Panduan_Baca_Peta_and_Skala.pdf
Panduan_Baca_Peta_and_Skala.pdfPanduan_Baca_Peta_and_Skala.pdf
Panduan_Baca_Peta_and_Skala.pdfssuser69914e
 
Edaran &amp; pedoman dikplhd 2019
Edaran &amp; pedoman dikplhd 2019Edaran &amp; pedoman dikplhd 2019
Edaran &amp; pedoman dikplhd 2019Anjas Asmara, S.Si
 
Bab 1 pendahuluan sig minapolitan kambitin
Bab 1 pendahuluan sig minapolitan kambitinBab 1 pendahuluan sig minapolitan kambitin
Bab 1 pendahuluan sig minapolitan kambitinkiky permana
 
Kepmeneg Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2000 tentang Panduan Penyusunan AMDAL Ke...
Kepmeneg Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2000 tentang Panduan Penyusunan AMDAL Ke...Kepmeneg Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2000 tentang Panduan Penyusunan AMDAL Ke...
Kepmeneg Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2000 tentang Panduan Penyusunan AMDAL Ke...infosanitasi
 
Bagian 1 survei pemetaan dan evaluasi lahan d3 psl
Bagian 1 survei pemetaan dan evaluasi lahan d3 pslBagian 1 survei pemetaan dan evaluasi lahan d3 psl
Bagian 1 survei pemetaan dan evaluasi lahan d3 pslPurwandaru Widyasunu
 
Bahan tayang pemetaan tematik-ddrtp 2016
Bahan tayang pemetaan tematik-ddrtp 2016Bahan tayang pemetaan tematik-ddrtp 2016
Bahan tayang pemetaan tematik-ddrtp 2016hadiarnowo
 
Review Dokumen Perencanaan Skala Lingkungan - NUAP
Review Dokumen Perencanaan Skala Lingkungan - NUAPReview Dokumen Perencanaan Skala Lingkungan - NUAP
Review Dokumen Perencanaan Skala Lingkungan - NUAPBagus ardian
 

Similar to POTENSI KERUSAKAN TANAH (17)

Bab vii
Bab viiBab vii
Bab vii
 
Bab i
Bab iBab i
Bab i
 
Perencanaan cut and fill lahan
Perencanaan cut and fill lahan Perencanaan cut and fill lahan
Perencanaan cut and fill lahan
 
Juknis pengukuran bidang tanah sistematik lengkap
Juknis pengukuran bidang tanah  sistematik lengkap Juknis pengukuran bidang tanah  sistematik lengkap
Juknis pengukuran bidang tanah sistematik lengkap
 
Analisa Lahan Kritis Sub DAS Riam Kanan Barito Kabupaten Banjar Kalimantan Te...
Analisa Lahan Kritis Sub DAS Riam Kanan Barito Kabupaten Banjar Kalimantan Te...Analisa Lahan Kritis Sub DAS Riam Kanan Barito Kabupaten Banjar Kalimantan Te...
Analisa Lahan Kritis Sub DAS Riam Kanan Barito Kabupaten Banjar Kalimantan Te...
 
Penerapan indraaja
Penerapan indraajaPenerapan indraaja
Penerapan indraaja
 
96144 makalah-fotogrametri
96144 makalah-fotogrametri96144 makalah-fotogrametri
96144 makalah-fotogrametri
 
Pemanfaatan citra penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk peme...
Pemanfaatan citra penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk peme...Pemanfaatan citra penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk peme...
Pemanfaatan citra penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk peme...
 
Panduan_Baca_Peta_and_Skala.pdf
Panduan_Baca_Peta_and_Skala.pdfPanduan_Baca_Peta_and_Skala.pdf
Panduan_Baca_Peta_and_Skala.pdf
 
Edaran &amp; pedoman dikplhd 2019
Edaran &amp; pedoman dikplhd 2019Edaran &amp; pedoman dikplhd 2019
Edaran &amp; pedoman dikplhd 2019
 
Bab 1 pendahuluan sig minapolitan kambitin
Bab 1 pendahuluan sig minapolitan kambitinBab 1 pendahuluan sig minapolitan kambitin
Bab 1 pendahuluan sig minapolitan kambitin
 
Kepmeneg Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2000 tentang Panduan Penyusunan AMDAL Ke...
Kepmeneg Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2000 tentang Panduan Penyusunan AMDAL Ke...Kepmeneg Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2000 tentang Panduan Penyusunan AMDAL Ke...
Kepmeneg Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2000 tentang Panduan Penyusunan AMDAL Ke...
 
Bagian 1 survei pemetaan dan evaluasi lahan d3 psl
Bagian 1 survei pemetaan dan evaluasi lahan d3 pslBagian 1 survei pemetaan dan evaluasi lahan d3 psl
Bagian 1 survei pemetaan dan evaluasi lahan d3 psl
 
12 peta geologi
12 peta geologi12 peta geologi
12 peta geologi
 
Bahan tayang pemetaan tematik-ddrtp 2016
Bahan tayang pemetaan tematik-ddrtp 2016Bahan tayang pemetaan tematik-ddrtp 2016
Bahan tayang pemetaan tematik-ddrtp 2016
 
Review Dokumen Perencanaan Skala Lingkungan - NUAP
Review Dokumen Perencanaan Skala Lingkungan - NUAPReview Dokumen Perencanaan Skala Lingkungan - NUAP
Review Dokumen Perencanaan Skala Lingkungan - NUAP
 
Makalah_40 Kartografi dan pemetaan b
Makalah_40 Kartografi dan pemetaan bMakalah_40 Kartografi dan pemetaan b
Makalah_40 Kartografi dan pemetaan b
 

More from drestajumena1

7 bab 5 analis pembangunan pelabuhan
7 bab 5 analis pembangunan pelabuhan7 bab 5 analis pembangunan pelabuhan
7 bab 5 analis pembangunan pelabuhandrestajumena1
 
Sda kp02-perencanaan-bangunan utama
Sda kp02-perencanaan-bangunan utamaSda kp02-perencanaan-bangunan utama
Sda kp02-perencanaan-bangunan utamadrestajumena1
 
Sda kp01-perencanaan-jaringan irigasi
Sda kp01-perencanaan-jaringan irigasiSda kp01-perencanaan-jaringan irigasi
Sda kp01-perencanaan-jaringan irigasidrestajumena1
 
3 bab 2 deskripsi umum lokasi studi
3 bab 2 deskripsi umum lokasi studi3 bab 2 deskripsi umum lokasi studi
3 bab 2 deskripsi umum lokasi studidrestajumena1
 
7 bab 5 organisasi personil
7 bab 5 organisasi personil7 bab 5 organisasi personil
7 bab 5 organisasi personildrestajumena1
 
6 bab 4 program kerja
6 bab 4 program kerja6 bab 4 program kerja
6 bab 4 program kerjadrestajumena1
 
5 bab 3 metodologi pelaksanaan pekerjaan
5 bab 3 metodologi pelaksanaan pekerjaan5 bab 3 metodologi pelaksanaan pekerjaan
5 bab 3 metodologi pelaksanaan pekerjaandrestajumena1
 
4 bab 2 deskripsi umum ok.
4 bab 2 deskripsi umum ok.4 bab 2 deskripsi umum ok.
4 bab 2 deskripsi umum ok.drestajumena1
 
3 bab 1 pendahuluan ok
3 bab 1 pendahuluan ok3 bab 1 pendahuluan ok
3 bab 1 pendahuluan okdrestajumena1
 

More from drestajumena1 (15)

7 bab 5 analis pembangunan pelabuhan
7 bab 5 analis pembangunan pelabuhan7 bab 5 analis pembangunan pelabuhan
7 bab 5 analis pembangunan pelabuhan
 
Sda kp02-perencanaan-bangunan utama
Sda kp02-perencanaan-bangunan utamaSda kp02-perencanaan-bangunan utama
Sda kp02-perencanaan-bangunan utama
 
Sda kp01-perencanaan-jaringan irigasi
Sda kp01-perencanaan-jaringan irigasiSda kp01-perencanaan-jaringan irigasi
Sda kp01-perencanaan-jaringan irigasi
 
Bab iv evaluasi
Bab iv evaluasiBab iv evaluasi
Bab iv evaluasi
 
Bab vi
Bab viBab vi
Bab vi
 
Bab vi sambungan
Bab vi sambunganBab vi sambungan
Bab vi sambungan
 
Bab v
Bab vBab v
Bab v
 
Bab iv halaman peta
Bab iv halaman petaBab iv halaman peta
Bab iv halaman peta
 
Bab ii
Bab iiBab ii
Bab ii
 
3 bab 2 deskripsi umum lokasi studi
3 bab 2 deskripsi umum lokasi studi3 bab 2 deskripsi umum lokasi studi
3 bab 2 deskripsi umum lokasi studi
 
7 bab 5 organisasi personil
7 bab 5 organisasi personil7 bab 5 organisasi personil
7 bab 5 organisasi personil
 
6 bab 4 program kerja
6 bab 4 program kerja6 bab 4 program kerja
6 bab 4 program kerja
 
5 bab 3 metodologi pelaksanaan pekerjaan
5 bab 3 metodologi pelaksanaan pekerjaan5 bab 3 metodologi pelaksanaan pekerjaan
5 bab 3 metodologi pelaksanaan pekerjaan
 
4 bab 2 deskripsi umum ok.
4 bab 2 deskripsi umum ok.4 bab 2 deskripsi umum ok.
4 bab 2 deskripsi umum ok.
 
3 bab 1 pendahuluan ok
3 bab 1 pendahuluan ok3 bab 1 pendahuluan ok
3 bab 1 pendahuluan ok
 

POTENSI KERUSAKAN TANAH

  • 1. III – 1 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR 3.1. UMUM 3.1.1. Pengertian Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa Beberapa definisi yang perlu dipahami dalam Pekerjaan Penyusunan Status Kerusakan Lahan dan/atau Tanah Untuk Produksi Biomassa ini berdasarkan Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah Untuk Produksi Biomassa (Kementrian Nega Lingkungan Hidup Republik Indonesia, 2009), diantaranya adalah : 1) Kerusakan tanah untuk produksi biomassa adalah berubahnya sifat dasar tanah yang melampaui kriteria baku kerusakan tanah. 2) Biomassa adalah tumbuhan atau bagian-bagiannya yaitu; bunga, biji, buah, daun, ranting, batang, dan akar, termasuk tanaman yang dihasilkan oleh kegiatan pertanian, perkebunan, dan hutan tanaman. 3) Produksi biomassa adalah bentuk-bentuk pemanfaatan sumber daya tanah untuk menghasilkan biomassa.
  • 2. III – 2 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR 4) Areal kerja efektif adalah kawasan budidaya yang dapat dijadikan sebagai pengembangan/produksi biomassa, yaitu daerah pertanian, perkebunan, hutan tanaman. 5) Peta kondisi awal tanah adalah peta yang berisi informasi awal tentang kondisi tanah yang disusun berdasarkan superimpose/overlay atas beberapa peta tematik guna memperoleh gambaran areal yang berpotensi mengalami kerusakan. 6) Verifikasi lapangan adalah kegiatan survei lapangan dalam rangka identifikasi karakteristik tanah melalui pengamatan dan pengambilan contoh tanah untuk penentuan kondisi dan status kerusakan tanah. 7) Peta kondisi tanah adalah peta yang berisi informasi kondisi tanah setelah dilakukan verifikasi lapangan, baik berdasarkan data pengamatan lapangan maupun hasil analisis laboratorium. Peta ini menjadi bahan dalam penetapan status kerusakan tanah. 8) Peta status kerusakan tanah adalah peta yang berisi informasi status kerusakan tanah setelah dilakukan evaluasi lahan, yaitu membandingkan sifat-sifat kondisi tanah dengan kriteria dalam kerusakan tanah. 3.1.2. Kebutuhan Bahan Dan Peralatan Kebutuhan bahan dan data dalam penyusunan pekerjaan ini di antaranya adalah: 1) Peta dasar Peta dasar adalah peta yang menyajikan informasi-informasi dasar dan suatu wilayah, antara lain jalan, pemukiman/kampung, sungai, gunung, tutupan lahan, elevasi dan wilayah administrasi. Peta ini menjadi wadah dituangkannya berbagai peta tematik. Skala peta dasar yang akan digunakan sama atau lebih detil dari skala peta yang akan dihasilkan. Sebagai bahan peta dasar dapat menggunakan peta Rupa Bumi Indonesia
  • 3. III – 3 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR (RBI) produksi Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). 2) Peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Peta RTRW yang digunakan adalah peta RTRW tingkat Kabupaten atau Kota. Fungsi dan peta RTRW dalam penyusunan peta kondisi awal tanah adalah sebagai penyaring daerah kerja efektifyang akan disurvei dan dilihat kondisi tanahnya di lapangan berdasarkan status lahannya. Daerah yang dijadikan sebagai areal keija efektif adalah daerah yang dapat digunakan untuk pengembangan produksi biomassa di kawasan budidaya. 3) Peta tanah Peta tanah diperlukan sebagai bahan untuk penilaian potensi kerusakan tanah. Informasi utama yang diambil dan peta ini adalah jenis tanah. Jenis tanah yang diperoleh dan peta tanah tergantung dan skala peta. Semakin detil skala peta tersebut, semakin banyak informasi sifat tanah yang diperoleh. Jenis (klasifikasi) tanah yang digunakan dapat beragam, umumnya menggunakan sistem klasifikasi Soil Taxonomy (Soil Survei Staff USDA) dan kadang-kadang juga disertakan padanannya dan kiasifikasi Puslittan dan FAO. 4) Peta Lereng Peta lereng merupakan hasil olahan dan peta topografi. Kemiringan lahan berkaitan erat dengan potensi erosi sebagai faktor utama penyebab kerusakan tanah sehingga dijadikan bahan penilaian potensi kerusakan tanah. Peta lereng yang mudah didapat diantaranya bersumber dan peta satuan lahan. Peta satuan lahan terdiri dan kumpulan peta-peta dasar seperti peta lereng, peta tanah dan sebagainya. Peta tersebut diantaranya bisa didapat di BBSDL (Balai Besar Sumber Daya Lahan) dan di Bakosurtanal. Peta lereng juga dapat dipersiapkan dengan DEM (digital elevation model) yaitu melakukan interpolasi peta kontur digital. DEM
  • 4. III – 4 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR terbaru didapatkan dengan metode korelasi image digital dan dua image optik yang sama namun diambil dan sudut berbeda. Sumber image antara lain citra dan SPOT, ASTER dan sebagainya. 5) Peta Curah Hujan Curah hujan merupakan unsur yang paling penting dan iklim dan menjadi agen utama kerusakan tanah melalui proses erosi. Untuk itu ketersediaan data ini diperlukan dalam penentuan potensi kerusakan tanah. Peta hujan biasanya disusun dan peta isohyet. BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika) ditingkat propinsi kadang juga menyusun peta hujan. Sumber lain adalah peta hujan yang disusun oleh Bappeda masing-masing daerah kabupaten, kota atau propinsi. 6) Peta Penggunaan/Penutupan Lahan Umumnya kerusakan tanah di Indonesia terjadi sebagai pengaruh aktivitas manusia (penggunaan lahan) baik pertanian, kehutanan, pertambangan, industri dan sebagainya. Karena itu peran peta penggunaan lahan (land use) sangat penting sebagai salah satu bahan penilaian potensi kerusakan tanah. Dalam pendugaan potensi kerusakan tanah, peta penggunaan/penutupan lahan yang digunakan adalah peta terbaru yang masih relevan menggambarkan kondisi Penggunaan/penutupan lahan saat verifikasi lapang dilakukan. Jika tidak tersedia, peta ini dapat disusun berdasarkan data Citra. Beberapa jenis citra yang dapat digunakan antara lain citra Landsat, SPOT, ASTER dan Quick Bird. 7) Peta dan data lainnya Peta dan data lain seperti peta lahan kritis atau laporan langsung dan masyarakat atau instansi terkait tentang adanya kerusakan tanah pada
  • 5. III – 5 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR kawasan tertentu, maka informasi tersebut dapat diakomodir dalam peta kondisi awal jika posisi dan sebarannya diketahui. Kebutuhan peralatan lapangan dalam pekerjaan ini di antaranya adalah : a. Alat-alat pengukur parameter-parameter kerusakan tanah sesuai Permen No. 07 tahun 2006, diantaranya adalah Bor Belgi, Munsell Soil Color Chart, ring sample, soil test kit, pH paper, H2O2 25 %, cangkul/skop dan kantong slastik wadah sampel tanah. b. GPS, kompas, klinometer/abney level c. Audio visual yang bisa digunakan untuk menyimpan data d. Form isian data kondisi tanah (Lampiran 2.) e. ATK. 3.2. PENYUSUNAN PETA KONDISI TANAH AWAL Inti kegiatan dan tahap persiapan adalah penyusunan peta kondisi awal tanah dan deliniasi sebaran tanah berpotensi rusak. Hasil pemetaan digunakan sebagai peta kerja untuk verifikasi lapangan. Pada prinsipnya peta kondisi awal (peta kerja) menyajikan informasi dugaan potensi kerusakan tanah berdasarkan analisis peta dan data-data sekunder. Peta ini disusun berdasarkan peta-peta tematik utama serta data dan informasi lainnya yang mendukung. Potensi kerusakan tanah diduga dengan dua pendekatan, yaitu metode overlay peta-peta tematik dan metode skoring dan faktor- faktor yang dianggap berpengaruh terhadap kerusakan tanah. Kegiatan penyusunan peta kondisi awal tanah sepeti dapat dilihat pada bagan alir di bawah ini :
  • 6. III – 6 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR Gambar 3.1. Skema Kerja Dalam Penyusunan Peta Kondisi Awal Proses penyusunan peta kondisi awal ini terdiri dan beberapa langkah, yaitu (1) penyaringan areal kerja efektif, (2) Skoring potensi kerusakan lahan pada peta-peta tematik (3) overlay beberapa peta tematik yang diperlukan, dan (4) penentuan potensi kerusakan tanah. Langkah-langkah tersebut secara terperinci diuraikan di bawah ini : 3.2.1. Penyaringan Areal Kerja Efektif Tahap awal dan penyusunan peta kondisi awal adalah menyaring daerah kerja efektif melalui overlay dengan peta rencana tata ruang wilayah. Daerah yang menjadi areal kerja efektif, seperti telah diuraikan pada bab terdahulu, adalah lahan/kawasan budidaya untuk memproduksi biomassa, yaitu daerah pertanian, perkebunan, hutan tanaman. Sedangkan pada kawasan lainnya (kawasan lindung dan kawasan budidaya lainnya seperti permukiman, perikanan, dll) tidak termasuk areal efektif. 3.2.2. Skoring Potensi Kerusakan Tanah
  • 7. III – 7 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR Nilai skoring atau skor pembobotan potensi kerusakan tanah didapat dan hasil perkalian nilai rating yaitu nilai potensi masing-masing unsur peta tematik terhadap terjadinya kerusakan tanah dengan nilai bobot masing-masing peta tematik yaitu peta tanah, peta lereng, peta curah hujan dan peta penggunaan lahan. Nilai rating ditetapkan berkisar dari 1 sampai 5. Sementara nilai bobot didasarkan kepada akurasi dari masing-masing informasi peta tematik dalam penilaian potensi kerusakan tanah. Peta penggunaan lahan dan peta tanah diberi nilai bobot dua (2) dan peta kelerengan dan curah hujan diberi bobot tiga (3). Semakin tinggi nilai skoring pembobotan yang didapat, semakin tinggi pula potensi wilayah tersebut mengalami kerusakan tanah. Nilai rating dan skoring pembobotan dan masing-masing peta tematik disajikan dalam Tabel 3.1, Tabel 3.2, Tabel 3.3. dan Tabel 3.4. Dalam menentukan skoring potensi kerusakan tanah diperlukan data sebagai berikut : a. Peta Tanah Berdasarkan sistem kiasifikasi Soil Taxonomy, di indonesia tersebar 10 ordo tanah, yaitu Histosols yaitu ordo untuk tanah basah dan Entisols, Inceptisols, Vertisols, Andisols, Alfisols, Ultisols, Ooxisols, serta Spodosols yaitu ordo untuk tanah lahan kering. Berdasarkan kondisi kelembabannya, tanah dibagi menjadi tanah lahan basah dan tanâh lahan kering. Tanah lahan basah adalah tanah yang sebagian besar waktu di tahun-tahun normalnya berada pada kondisi jenuh air. Sedangkan tanab lahan kering adalah tanah yang sebagian besar waktu di tahun-tahun normalnya berada pada kondisi tidak jenuh. Tanah lahan kering dan lahan basah dapatdiduga dari nama jenis tanahnya. Selain Histosols, yang termasuk lahan basah adalah tanah-tanah mineral yang mempunyai rejim kelembaban Aquik atau bersub ordo Aquik, misalkan Aquents, Aquepts, Aquults, Aquods, dsb.
  • 8. III – 8 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR Dalam menduga potensi kerusakan, tanah-tanah dikelompokan ke dalam 5 (lima) kelas potensi kerusakan tanah. Nilai rating potensi kerusakan tanah (Tabel 3.1.) diberikan terutama berdasarkan pendekatan nilai erodibilitas tanah. Tabel 3.1. Penilaian Potensi Kerusakan Tanah Berdasarkan Jenis Tanah (Tingkat Ordo) Tanah Potensi Kerusakan Tanah Simbol Rating Skor Pembobotan (rating x bobot) Vertisol Tanah dengan rejim kelembaban aquik*) Sangat ringan T1 1 2 Oxisol Ringan T2 2 4 Alfisol, Mollisol, Ultisol Sedang T3 3 6 Inceptisol Entisol, Histosol Tinggi T4 4 8 Spodsol, Andisol Sangat Tinggi T5 5 10 Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009 Keterangan : *)Aquents, Aquepts, Aquults, Aquoxs, dsb. dengan pengecualian untuk Sulfaquept dan ulfaquent yang dinilal berpotensi kerusakan tinggi. b. Peta Lereng Dalam kaitannya dengan kerusakan tanah, tingkat kemiringan lereng sangat berpengaruh terhadap proses kerusakan tanah yang disebabkan oleh erosi tanah. Dalam menduga potensi kerusakan tanah berdasarkan kondisi kelerengan lahan, tanah dikelompokan ke dalam 5 (lima) kelas potensi kerusakan tanah (Tabel 3.2.) Dasar penetapan kelas lereng adalah pembagian kelas lereng yang digunakan dalam penetapan potensi lahan kritis seperti yang diatur dalam peraturan Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Dephut,
  • 9. III – 9 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR SK.1671V-SET/2004. Peta lahan kritis yang disusun oleh Deptanjuga menggunakan pembagian kelas lereng yang sama. Tabel 3.2. Penilaian Potensi Kerusakan Tanah Berdasarkan Kemiringan Lahan Lereng (%) Potensi Kerusakan Tanah Simbol Rating Skor Pembobotan (rating X bobot) 1 - 8 Sangat ringan L1 1 3 9 -15 Ringan L2 2 6 16 - 25 Sedang L3 3 9 26 - 40 Tinggi L4 4 12 > 40 Sangat tinggi L5 5 15 Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009 c. Peta Curah Hujan Curah hujan adalah salah sam agen utama dan kerusakan tanah melalui proses erosi. Untuk hal itu ketersediaan data melalui peta curah hujan sangat diperlukan untuk penilaian potensi kerusakan tanah. Pengelompokan curah hujan didasarkan path pengelompokan curah hujan tahunan datam Atlas Sumberdaya Iklim Pertanian Indonesia yang disusun oleh Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Bogor. Kelas curah hujan tahunan dalam kaitamiya dengan potensi kerusakan tanah disajikan dalam Tabel 3.3. Tabel 3.3. Nilai Skor Status Kerusakan Tanah Berdasarkan Jumlah Curah Hujan Tahunan
  • 10. III – 10 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR CH (mm/tahun) Potensi Kerusakan Tanah Simbol Rating Skor Pembobotan (rating X bobot) > 1000 Sangat ringan H1 1 3 1000 - 2000 Ringan H2 2 6 2000 - 3000 Sedang H3 3 9 3000 - 4000 Tinggi H4 4 12 > 4000 Sangat tinggi H5 5 15 Sumber :Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009 d. Peta Penggunaan Lahan Penilaian potensi kerusakan tanah berdasarkan penggunaan lahan didekati dengan mengacu kepada koefisien tanaman (faktor C). Berdasarkan pendekatan tersebut, jenis-jenis penggunaan lahan (baik penggunaan lahan di daerah pertanian maupun vegetasi alami) dikelompokan ke dalam 5 kelas potensi kerusakan tanah sebagaimana disajikan pada Tabel 3.4. Sekalipun informasi pada satuan penggunaan lahan bersifat lebih umum, namun informasi-informasi yang lebih detil menyangkut jenis komoditas/vegetasi, tipe pengelolaan dan langkah-langkah konservasi yang diterapkan yang terkait erat dengan sifat tanah sangat penting dan bermanfaat dalam menduga potensi kerusakan tanah. Oleh karena itu, data-data tersebut penting untuk dicatat dan diperhatikan dalam pemanfaatan peta penggunaan lahan untuk penyusunan peta kondisi awal tanah. Tabel 3.4. Penilaian Potensi Kerusakan Tanah Berdasarkan Jenis Penggunaan Lahannya Penggunaan Lahan Potensi Simbol Rating Skor
  • 11. III – 11 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR Kerusakan Tanah Pembobotan (rating X bobot) Hutan alam, sawah dan alang-alang murni subur Sangat ringan T1 1 2 Kebun campuran, semak belukar dan padangrumput Ringan T2 2 4 Hutan produksi dan perladangan Sedang T3 3 6 Tegalan (tanaman semusim) Tinggi T4 4 8 Tanah terbuka Sangat tinggi T5 5 10 Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009 3.2.3. Overlay Peta Tematik Setelah areal kerja efektif dan nilai skor dan masing-masing peta tematik diperoleh, maka pada area! tersebut dilakukan overlay peta-peta tematik sebagaimana telah disebutkan. Proses overlay tersebut akan menghasilkan poligon-poligon baru dengan atribut kondisi lahan sesuai dengan peta-peta tematik penyusunnya. Pada poligon baru mi akan dinilai potensi kerusakan lahannya dengan mempertimbangkan skor pembobotan potensi kerusakan tanah dan peta-peta penyusunnya. 3.2.4. Penentuan Potensi Kerusakan Tanah Potensi kerusakan tanah diduga dengan melakukan pengelompokan terhadap akumulasi skor pembobotan yaitu hasil kali nilai skor dengan bobot masing- masing peta tematik. Penilain potensi ini dilakukan terhadap poligon yang dihasilkan melalui proses overlay. Nilai akumulasi skor tersebut berkisar dan 10 sampai 50. Nilai maksimal terjadi jika seluruh nilai atribut dan tiap-tiap peta tematik yang digunakan benpotensi sangat tinggi terhadap kerusakan tanah. Bendasarkan akumulasi skor tersebut, seluruh tanah yang akan dinilai
  • 12. III – 12 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR dikelompokan terhadap 5 kelas potensi kerusakan tanah, yaltu tanah yang berpotensi sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Pada prinsipnya semakin tinggi nilai skor yang diberikan, semakin tinggi pua potensi wilayah tersebut mengalami kerusakan tanah. Kniteria pengelompokan potensi kerusakan tanah mi disajikan dalam Tabel 3.5. Tabel 3.5. Kritenia Pembagian Kelas Potensi Kerusakan Tanah Berdasarkan Nilai Skor Simbol Potensi Kerusakan Tanah Skor Pembobotan PR.I Sangat Rendah <15 PR.II Rendah 15 – 24 PR.III Sedang 25 – 34 PR.IV Tinggi 35 – 44 PR.V Sangat Tinggi 45 - 50 Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009 Penentuan potensi kerusakan tanah secara sederhana disajikan dalam Tabel 3.6. dan skema cara penilaian seperti dikemukakan pada Gambar 3.1. Dalam contoh tersebut, digunakan 4 faktor kerusakan tanah yang didapat dan 4 peta tematik. Skoring pembobotan untuk faktor-faktor kerusakan tanah tersebut ditentukan terlebih dahulu, kemudian seluruh nilai tersebut dijumlahkan dan hasilnya (dalam contoh tersebut 29) dijadikan sebagai dasar untuk menentukan potensi kerusakan tanahnya. Berdasarkan knitenia yang telah ditentukan sebelumnya, angka 29 menunjukkan bahwa potensi kerusakan tanah tergolong sedang. Tabel 3.6. Tabulasi Tata Cara Penilaian Potensi Kerusakan Tanah
  • 13. III – 13 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR Faktor Kerusakan Tanah Rating Terhadap Potensi Kerusakan Tanah Bobot Skor Pembobotan Ketegori Nilai Ordo tanah Ultisols sedang 3 2 6 Penggunaan lahan Tegalan tinggi 4 2 8 Lereng 8 % rendah 2 3 6 Curah hujan 2500 mm/thn sedang 3 3 9 Jumlah 29 Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009 Di samping keempat peta tematik di atas, peta kondisi awal dapat juga mengakomodasi peta atau data lainnya terkait dengan potensi dan keberadaan tanah yang rusak. Peta dan informasi tersebut dapat langsung digunakan untuk menduga potensi kerusakan tanah, tanpa harus melalui proses skoring dan pembobotan. Sebagai contoh peta lahan kritis keluaran BPDAS (Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai) Departemen Kehutanan yang memilah lahan kritis atas 5 golongan. Untuk lahan tergolong sangat kritis kerusakan tanahnya diduga setara dengan potensi kerusakan tanah sangat tinggi. Lahan yang tergolong kritis diduga setara dengan potensi kerusakan tanah tinggi. Lahan agak kritis diduga setara dengan potensi kemsakan tanah sedang. Lahan potensial kritis diduga setara dengan potensi kerusakan tanah rendah. Sedangkan lahan tidak kritis diduga mempunyai potensi kerusakan tanah sangat rendah.
  • 14. III – 14 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR Gambar 3.2. Skema Penilaian Potensi Kerusakan Tanah Peta Kondisi Awal pada prinsipnya rnenyajikan informasi dugaan potensi kerusakan tanah, luasan dan sebarannya. Peta mi akan digunakan sebagai peta kerja dan bertujuan agar dapat mempermudah dan mengarahkan verifikasi di lapangan, terutama dalam menentukan prioritas lokasi yang akan disurvei serta jenis-jenis pengukuran yang akan dilakukan. Untuk keperluan itu maka perlu dicantumkan faktor-faktor penting atau diduga dapat menjadi penyebab kerusakan tanah, yaitu jenis tanah, bahan induk, kemiringan lereng, curah hujan tahunan dan penggunaan lahan. Informasi tersebut dituangkan dalam legenda peta. 3.3. VERIFIKASI LAPANGAN
  • 15. III – 15 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR Verifikasi lapangan adalah untuk membuktikan benar tidaknya indikasi atau potensi kerusakan tanah yang telah disusun. Kegiatan mi dilakukan dengan urutan prioritas berdasarkan potensi kerusakan tanahnya. Prioritas utama dilakukan pada tanah dengan potensi kerusakan paling tinggi. 3.3.1. Metode Pengamatan Tanah Di dalam pelaksanaan survei lapangan, terdapatbeberapa metode pengamatan dan pengambilan contoh tanah. Metode pengambilan contoh tanah yang umum digunakan adalah pengambilan sistem random (random sampling) dan pengambilan sistem grid (grid sampling). a. Sistem Grid (Jalur) Sistem mi merupakan teknik pengamatan tanah yang dilakukan pada jarak yang teratur. Dalam sistem ini titik-titik pengamatan terlebih dahulu dirancang dalam peta kerja dengan pola bentuk grid. Kerapatan grid disesuaikan dengan skala peta yang akan dibuat. Metode sampling seperti ini cocok diterapkan pada kondisi:  Lahan homogen dan tidak dapat dibedakan secara visual di lapangan, misalkan pada lahan gambut.  Peta dasar dan peta pendukung kurang lengkap.  Pengalaman jam terbang para surveior masih rendah/minim. b. Sistem Bebas Sistem mi biasanya diterapkan pada kondisi lahan yang cukup beragam, dimana lahan dibagi kepada beberapa satuan lahan yang relatif homogen melalui proses tumpang tindih (overlay) dan beberapa peta tematik sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dan kemudian pada setiap satuan lahan tersebut dilakukan sampling secara random. Homogenitas
  • 16. III – 16 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR pada setiap satuan lahan menjadi syarat dalam penggunaan metode sampling ini. c. Sistem Sistematik Sistem ini hampir sama dengan sistem grid, tapi jarak pengamatannya tidak sama jauh. Penerapan sistem mi harus disertai dengan peta dasar dan data penunjang cukup lengkap. d. Sistem Bebas Sistematik Sistem ini hampir sama dengan sistem bebas, dilakukan untuk mengatasi kekurangan waktu di lapangan. Dalam penerapannya harus disertai ketersediaan peta dasar dan peta penunjang cukup Iengkap, serta berdasarkan hasil interpretasi. Kerapatan pengamatan selain tergantung kepada tingkat survei (Iihat Tabel 3.7), juga tergantung pada junilah satuan peta sementara (hasil interpretasi) yang harus diverifikasi. Tabel 3.7. Unsur-Unsur Pemetaan Terkait Kerapatan Pengamatan Dalam Berbagai Tingkat Survey Unsur Tingkat Survey Tinjau mendalam Semi Detil Detil Peta dasar 1 : 20.000 1 : 50.000 1 : 5.000 1 : 20.000 1 :2.000 1 : 5.000 Jumlah observasi (obs/100 ha) 4 - 8 8 - 16 16 -24 Skala peta laporan 1 : 50.000 1 : 100.000 1 : 20.000 1 : 50.000 1 : 5.000 1 : 10.000 Kegunaan - Perencanaan umum penggunaan lahan. - Penetapan areal yang akan disurvey lebih dalam. - Studi kelayakan secara teknis. - Pelaksanaan pengembangan - Rencana operasional. Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
  • 17. III – 17 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR 3.3.2. Identifikasi Kerusakan Tanah Pengamatan parameter-parameter kriteria baku kerusakan tanah dilakukan berdasarkan metode yang telah ditetapkan PP No. 150 tahun 2000. Secara teknis, tata cara pengukuran parameter-parameter tersebut diuraikan dalam Permen LH No. 07 tahun 2006. Beberapa parameter kriteria baku kerusakan tanah diukur langsung di lapangan, sedangkan sebagian Iainnya diukur melalui analisis laboratorium. Untuk itu perlu dilakukan pengambilan contoh tanah pada setiap titik pengamatan. Petunjuk pengambilan contoh tanah mengacu pada Permen LH No. 07 tahun 2006. Khusus untuk parameter tingkat erosi tanah dan subsidensi gambut, hasilnya hanya dapat diperoleh jika telah dilakukan sedikitnya dua kali pengukuran di tempat yang sama dengan interval waktu pengukuran satu tahun. Hasil verifikasi dan identifikasi parameter kerusakan tanah juga memungkinkan tetjadinya perubahan poligon pada Peta Kondisi Awal. 3.3.3. Inventarisasi Informasi Pendukung Peta Status Kerusakan Tanah Informasi pendukung lain yang diperlukan dalam penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah, diantaranya adalah penggunaan lahan aktual, vegetasi tanaman utama, teknik budidaya, teknik konservasi, lama pengusahaan lahan dan lain-lain. Informasi ini diperlukan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan program rehabilitasi tanah nantinya. 3.3.4. Penyusunan Peta Kondisi Tanah Peta Kondisi Tanah bersifat deskriptif, artinya peta ini hanya memberikan gambaran tentang sifat-sifat tanah pada wilayah yang disurvei. Peta Kondisi Tanah disusun berdasarkan hasil identifikasi dan inventarisasi sifat tanah di
  • 18. III – 18 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR lapangan dan selanjutnya peta disempurnakan dengan data- data hasil analisis laboratorium. Peta Kondisi Tanah memuat nilai parameter-parameter kriteria baku kerusakan tanah. Nilai dicantumkan dalam legenda peta berupa nilai kisaran dan masing- masing parameter. Peta ini juga memuat informasi kondisi lahan yang diperoleh dan peta-peta tematik, yaitu jenis tanah, bahan induk, kemiringan lereng, curah hujan tahunan, dan penggunaan lahan. Pada tahap selanjutnya, data-data dan peta ini akan dinilai dan menjadi dasar dalam penyusunan peta status kerusakan tanah untuk produksi biomassa. 3.4. PENYUSUNAN PETA STATUS KERUSAKAN TANAH UNTUK PRODUKSI BIOMASA Peta status kerusakan tanah untuk produksi biomassa merupakan output akhir yang berisi informasi tentang status, sebaran dan luasan kerusakan tanah pada wilayah yang dipetakan. Peta ini disusun melalui dua tahapan evaluasi yaitu matching dan skoring. Secara terperinci penetapan status kerusakan tanah diuraikan sebagai berikut : 3.4.1. Metode Matching Matching adalah membandingkan antara data parameter-parameter kerusakan tanah yang terukur dengan kriteria baku kerusakan tanah (sesuai dengan PP No. 150 tahun 2000). Matching ini dilakukan pada setiap titik pengamatan. Dengan metode mi, setiap titik pengamatan dapatdikelompokan ke dalam tanah yang tergolong rusak (R) atau tidak rusak (N). 3.4.2. Metode Skoring Dad Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah Metode skoring dilakukan dengan mempertimbangkan frekwensi relatif tanah yang tergolong rusak dalam suatu poligon. Yang dimaksnd dengan frekwensi
  • 19. III – 19 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR relatif (%) contoh tanah yang tergolong rusak yaitu hasil pengukuran setiap parameter kerusakan tanah yang sesuai dengan kriteria baku kerusakan tanah, terhadap jumlah keseluruhan titik pengamatan yang dilakukan dalam poligon tersebut. Dalam menetapkan status kerusakan tanah langkah-Iangkah yang dilalui adalah sebagai berikut : a. Menghitung frekwensi relatif (%) dan setiap parameter kerusakan tanah. b. Memberi nilai skor untuk masing-masing parameter berdasarkan nilai frekwensi relatifnya dengan kisaran nilai dan 0 sampai 4 (Tabel 3.8). c. Melakukan penjumlahan nilai skor masing-masing parameter kriteria kerusakan tanah. d. Penentuan status kerusakan tanah berdasarkan hasil penjumlahan nilai skor pada poin 3 (Tabel 3.9). Secara lengkap tahapan-tahapan penentuan status kerusakan tanah disajikan pada Gambar 3.3. Tabel 3.8. Skor Kerusakan Tanah Berdasarkan Frekwensi Relatif Dan Berbagai Parameter Kerusakan Tanah Frekwensi Tanah Rusak (%) Skor Status Kerusakan Tanah 0 – 10 0 Tidak rusak 11 – 25 1 Rusak ringan 26 – 50 2 Rusak sedang 51 – 75 3 Rusak berat 76 – 100 4 Rusak sangat berat Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
  • 20. III – 20 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR Dalam penentuan status kerusakan tanah pada lahan kering, nilai maksimal penjumlahan skor kerusakan tanah untuk 10 parameter kriteria baku kerusakan adalah 40. Sedangkan nilai skor maksimal pada lahan basah adalah 20, 24 atau 28, tergantung pada banyak parameter yang diukur. Misalkan jika jenis tanah lahan basah berupa tanah mineral atau tanah gambut dengan lapisan substratum bukan pasir kwarsa, maka parameter yang diukur berjumlah 6 (nilai redoks tanah gambut dan subsidensi tidak diukur) sehingga nilai skor maksimalnya 24. Contoh lain, jika jenis tanah lahan basah berupa tanah gambut dengan lapisan substratum pasir kwarsa, maka parameter yang diukur berjumlah 7 (nilai redoks tanah yang mengandung pint tidak diukur) dan nilai skor maksimalnya adalah 28. Dari penjumlahan nilai skor tersebutdilakukan pengkategorian status kerusakan tanah. Berdasarkan status kerusakannya, tanah dibagi ke dalam 5 kategori, yaitu tidak rusak (N), rusak ringan (RI), rusak sedang (RII), rusak berat (R.III) dan nusak sangat berat (R.IV). Status kerusakan tanah berdasarkan penjumlahan nilai skor kerusakan tanah disajikan dalam Tabel 3.9. Tabel 3.9. Status Kerusakn Tanah Bedasarkan Nilai Akumulasi Skor Kerusakan Tanah Untuk Lahan Kering Dan Lahan Basah Simbol Status Kerusakan Tanah Nilai Akumulasi Skor Kerusakan Tanah Lahan Kering Lahan Basah Tanah Gambut Berstratum Pasir Kuarsa Tanah Gambut Lain atau Mineral N Tidak rusak 0 0 0 R.I Rusak ringan 1 – 14 1 – 12 1 – 8 R.II Rusak sedang 15 – 24 13 – 17 9 – 14 R.III Rusak berat 25 – 34 18 – 24 15 – 20 R.IV Rusak sangat berat 35 – 40 25 – 28 21 – 24 Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
  • 21. III – 21 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR Contoh cara penentuan status kerusakan tanah pada lahan kering digambarkan dalam Tabel 3.10. dan pada lahan basah yaitu tanah gambut di atas pasir kuarsa pada Tabel 3.11. Dalam Tabel 3.10., hasil penjumlahan dan skor frekwensi relatif adalah 7 (tujuh), artinya status kerusakan tanah tergolong rusak ringan. Sedangkan pada Tabel 3.12., hasil penjumlahan skor frekwensi relatif adalah 13, artinya status kerusakan tanah tersebut tergolong rusak sedang. Tabel 3.10. Tabulasi Tata Cara Penilaian Kerusakan Tanah Berdasarkan Persentase Frekwensi Relatif Pada Lahan Kering No. Kriteria Baku Kerusakan Tanah Frekwensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1. Ketebalan solum 2. Kebatuan permukaan 3. Komposisi fraksi kasar 4. Berat Isi (BI) 5. Porositas Total 6. Derajat Pelulusan Air 7. pH (H2O) 1 : 2,5 8. Daya Hantar Listrik (DHL) 9. Redoks 10. Jumlah mikroba Jumlah Skor *) Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009 Keterangan : *) Angka menunjukkan status kerusakan tanah
  • 22. III – 22 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR Tabel 3.11. Tabulasi Cara Penilaian Kerusakan Tanah Berdasarkan Persentase Frekwensi Relatif Pada Lahan Basah (Tanah Gambut Di Atas Pasir Kuarsa) No Kriteria Baku Kerusakan Tanah Frekuensi Relatif Kerusakan Tanah (%) Skor Frekwensi Relatif 1. Subsidensi gambut di atas pasir kuarsa 2. Kedalaman lapisan berfirit dari permukaan tanah 3. Kedalaman air tanah dangkal 4. Redoks untuk tanah berfirit 5. Redoks untuk tanah gambut 6. pH (H2O) 1 : 2,5 7. Daya Hantar Listrik (DHL) 8. Jumlah mikroba Jumlah Skor *) Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009 Keterangan : *) Angka menunjukkan status kerusakan tanah 3.4.3. Tata cara penulisan simbol kerusakan tanah Peta Status Kerusakan Tanah menyajikan informasi tentang status kerusakan tanah. Dalam penyajiannya informasi dikemas dalam suatu legenda peta yang
  • 23. III – 23 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR berisi informasi status kerusakan tanah, parameter utama yang tergolong rusak serta luas tanah. Di dalam penulisannya, setiap simbol status kerusakan tanah diikuti oleh faktor pembatas yang disimbolkan oleh satu atau dua huruf latin (Tabel 3.12.). Simbol kerusakan tanah dan simbol parameter faktor pembatasnya dipisahkan oleh tanda strip (-). Jika terdapat lebih dan sama jenis faktor pembatas, maka simbol- simbol faktor pembatas tersebut dibatasi oleh tanda koma (,). Jumlah faktor pembatas yang dimunculkan dalam peta dibatasi maksimal 3 jenis parameter yang berpengaruh paling dominan. Format legenda Peta Kerusakan Tanah unmk Produksi Biomassa disajikan pada Tabel 3.13. Tabel 3.12. Simbol Parameter-parameter Kerusakan Tanah No. Parameter Simbol 1. Ketebalan solum s 2. Kebatuan permukaan b 3. Komposisi fraksi f 4. Berat Isi d 5. Porositas total v 6. Derajat pelulusan air p 7. pH (H2O) 1 : 2,5 a 8. Daya Hantar Listrik (DHL) e 9. Redoks r 10. Jumlah mikroba m 11. Subsidensi gambutdi atas pasir kuarsa g 12. Kedalaman lapisan berfirit dari permukaan tanah f 13. Kedalaman air tanah dangkal w 14. Redoks untuk tanah berfirit rp 15. Redoks untuk tanah gambut rg Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009
  • 24. III – 24 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR Tabel 3.13. Contoh Format Legenda Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa No Simbol Keterangan Luas Status Kerusakan Tanah Pembatas Ha % 1 R.I-a Rusak ringan pH 2 R.II-dp Rusak sedang Kapadatan tanah dan porositas total 3 R.II-b Rusak berat Batuan permukaan Sumber : Pedoman Teknis Penyusunan Peta Status Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa, 2009 Gambar 3.3. Skema Penilaian Status Kerusakan Tanah
  • 25. III – 25 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR 3.5. PENYUSUNAN LAYOUT PETA Di dalam kegiatan pemetaan kondisi tanah dan status kerusakan tanah untuk produksi biomassa, penyajikan informasi yang ditampilkan adalah sebagai berikut: 1. Judul peta PETA KONDSI LAHAN ATAU PETA STATUS KERUSAKAN TANAH UNTUK PRODUKSI BIOMASSA. 2. Skala peta Peta memuat informasi skala peta. Contoh: Skala 1: 100.000 atau 1:50.000. Informasi ini dapat juga berupa skala bar/skala garis. 3. Proyeksi peta Proyeksi peta menggunakan sistem proyeksi UTM dan geografis (derajat, menit, detik) 4. Simbol arah utara. Simbol yang menunjukkan arah utara. Bentuk simbol tidak ditentukan. 5. Peta inset Peta inset adalah peta yang menunjukkan posisi/lokasi daerah yang dipetakan dalam suatu wilayah yang lebih luas, misalkan dalam wilayah provinsi. 6. Legenda umum Meliputi simbol dan keterangan data umum dan peta. Sebagai contoh: simbol jalan, batas administrasi, sungai, kampung, gunung, kontur dll. 7. Legenda Legenda yang menyajikan informasi utama sesuai dengan tujuan pemetaan. Format legenda ini sesuai dengan yang telah dicontohkan sebelumnya. 8. Institusi pelaksana pemetaan Lembaga yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan. 9. Tahun produksi pemetaan Tahun produksi pemetaan menginformasikan waktu/tahun ketika peta ini disusun. 10. Sumber-sumber peta Peta-peta lain yang dirujuk dalam pembuatan peta in baik berupa peta dasar, peta tanah, peta penggunaan iahan, atau peta curah hujan (ishoyet).
  • 26. III – 26 PT. BENNATIN SURYACIPTA Pekerjaan Penyusunan Kajian Status Kerusakan Lahan Dan/AtauTanah Untuk Produksi Biomassa di Kabupaten Pelalawan DRAFT LAPORAN AKHIR 3.6. PELAPORAN 1. Laporan Pendahuluan berisi : Laporan Pendahuluan berisi metodologi pelaksanaan pekerjaan, rencana kerja dan organisasi tim, kompilasi sebagian data, peraturan – peraturan yang dapat dijadikan acuan, diserahkan sebanyak 10 (sepuluh) Eksamplar. 2. Laporan Akhir berisi : Berisi memuat seluruh penyelesaian pekerjaan yang telah berisikan masukan, koreksi dan saran dari pengguna jasa/stake holder pada saat presentasi. diserahkan sebanyak 30 (tigapuluh) Eksamplar.