Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Jual beli murabahah, salam dan istishna

10,437 views

Published on

Jual beli murabahah, salam dan istishna

Published in: Education
  • Be the first to comment

Jual beli murabahah, salam dan istishna

  1. 1. Jual beli dalam bahasa Arab disebut al-Bay’, yang secara etimology berarti memiliki, membeli (arti sebaliknya), ada juga yang mengatakan bahwa ia merupakan sebuah ungkapan tentang ijab qobul ketika terjadi pertukaran antara barang dengan barang atau barang dengan nilai tukarnya. [al- Mathla’ hal. 255] Ada juga yang mengartikan : “Pertukaran harta dengan harta.” [Maqoyisul lughoh 1/327, Lisanul ‘Arob 8/23, al- Mishbah 1/27] Pengertian Jual Beli
  2. 2. ‫االصطالح‬ ‫وفي‬: ‫عقد‬‫معاوضة‬‫ة‬ّ‫مالي‬‫تفيد‬‫ملك‬‫عين‬‫أو‬‫منفعة‬‫على‬ ‫التأبيد‬‫ال‬‫على‬‫وجه‬‫القربة‬ ‫وبعض‬‫الفقهاء‬‫يزيد‬‫بعض‬‫القيود‬،‫فمن‬‫ذلك‬‫تع‬‫ريف‬ ‫ي‬‫الحجاو‬‫بأنه‬:‫مبادلة‬‫مال‬‫ولو‬‫في‬‫الذمة‬‫أو‬‫منفعة‬ ‫مباحة‬‫بمثل‬‫أحدهما‬‫على‬‫التأبيد‬‫غير‬‫با‬‫ر‬‫وقرض‬)‫اإلقناع‬ 2/5(
  3. 3. DEFINISI LAIN YANG SERUPA ”Menukar barang dengan barang atau barang dengan uang dengan jalan melepaskan hak milik yang satu kepada yang lain atas dasar saling merelakan”; (Idris Ahmad, Fiqih Al-Syafi’iyah). DASAR HUKUM ‫الربا‬ ‫مثل‬ ‫البيع‬ ‫انما‬ ‫قالوا‬ ‫بأنهم‬ ‫ذالك‬‫الربا‬ ‫حرم‬ ‫و‬ ‫البيع‬ ‫هللا‬ ‫وأحل‬ “Mereka mengatakan bahwa Jual Beli sama dengan Riba. Padahal Allah menghalalkan Jual Beli dan mengharamkan Riba..” (Al Baqarah: 275) Berdasarkan nash yang ada, para Ulama Fiqh mengatakan bahwa hukum asal dari jual beli itu adalah mubah. Namun pada situasi tertentu, hukum tersebut dapat berubah dengan memperhatikan maqashid syariah untuk mewujudkan kemashlahatan umat.
  4. 4. RUKUN JUAL BELI: 1. Orang yang berakad (penjual dan pembeli); 2. Shighat (lafal ijab dan qabul); 3. Barang yang dibeli; 4. Nilai tukar pengganti barang. SYARAT JUAL BELI: Bagi yang berakad: 1. Saling ridha antara Penjual & Pembeli; 2. Orang yang diperkenankan secara syariat; 3. Memiliki hak penuh atas barang yang diakadkan. Bagi barang yang diakadi: 1. Dapat diambil manfaatnya secara mutlak; 2. Dapat dikuasai; 3. Diketahui oleh yang berakad. Rukun & Syarat Jual Beli
  5. 5. DEFINISI Memilih yang terbaik dari dua perkara untuk melangsungkan atau membatalkan akad jual beli. KLASIFIKASI 1. Khiyar Majlis (pilihan majelis), bagi yang berjual beli mempunyai hak selama masih di majelis; 2. Khiyar Syarat (pilihan bersyarat), masing-masing mensyaratkan adanya khiyar pada saat akad atau sesudahnya dalam waktu tertentu; 3. Khiyar Ghabn (penipuan), pilihan melenjutkan transaksi atau tidak bagi orang yang merasa tertipu karena diluar kebiasaan; 4. Khiyar Tadlis (barang cacat), pilihan yang disebabkan pada saat terjadi akad kecacatan barang tidak dijelaskan bahkan cenderung ditutupi; 5. Khiyar Aib (tercela), pilihan yang disebabkan pada saat terjadi akad aib barang tidak disampaikan; 6. Khiyar Takbir bitsaman (melebihkan kadar), menyampaikan khabar tidak sesuai dengan hakikat barang baik jumlah, harga, atau kualitas; 7. Khiyar bisababi takhaluf (sebab berselisih), pilihan karena terjadi perselisihan dalam hakikat barang baik jumlah, harga, atau kualitas; 8. Khiyar Ru’yah (pandangan), pilihan karena terjadi perubahan sifat barang dibanding penglihatan sebelumnya. Khiyar dalam Jual Beli
  6. 6. JUAl BELI MURABAHAH SALAM ISTISHNA
  7. 7. MURABAHAH
  8. 8. SKEMA MURABAHAH Akad Penyediaan Barang berdasarkan prinsip jual beli, dimana bank membelikan kebutuhan barang nasabah (investasi/modal kerja) dan bank menjual kembali kepada nasabah ditambah dengan keuntungan yang disepakati PRODUK
  9. 9. Bank Membeli Mobil ke Show Room/Dealer Bank menjual mobil tsb kepada Nasabah 2 3 4 Nasabah membayar Secara cicilan Harga Mobil : Harga Beli Bank+labanya Skema Murabahah1 BANK Syari’ah 1 Nasabah ingin mobil Negosiasi dgn bank Agustianto 03
  10. 10. Skema Murabahah 2. Bank Membeli Mobil ke Dealer Bank Menjual Mobil dgn Harga Beli + Keuntungan 3 4. Nasabah membayar dengan cara cicilan Bank Syari’ah Agustianto 03
  11. 11. Skema Murabahah 1.Negosiasi&Persyaratan 3. Bank Jual kembali Rumah : Harga Beli+Untung 2. Beli rumah 4. Bayar Cicilan Bank Syari’ah Agustianto 03
  12. 12. • Berdasarkan ketentuan dan skema tsb, akad murabahah (pengikatan) dilaksanakan setelah barang secara prinsip dimiliki oleh bank • Bank tidak boleh melakukan pengikatan (menjual barang kepada nasabah), sementara barang tersebut velum dimiliki bank
  13. 13. BUNGA/RIBAJUAL-BELI MURABAHAHNo Uang sbg objek, nasabah berhutang uang Barang sbg objek, nasabah berhu tang karena membeli barang. 1 Sektor moneter dan riil terpisah, tidak ada keharusan mengaitkan sektor moneter dan riil Sektor moneter terkait dengan sektor riil, sehingga menyeNtuh langsung sektor riil 2 Tidak mendorong percepatan arus barang, karena tidak mewajibkan adanya barang, tidak mendorong produktifitas yang pada akhirnya menciptakan unemployment Mendorong percepatan arus barang, mendorong produktifitas dan entrepreneurship, yang pada gilirannya meningkatkan employment 3 Pertukaran uang dengan uangPertukaran barang dengan uang4 Bunga berubah sesuai tingkat bunga Margin tidak berubah5 Tidak ada akad jual beli, tetapi uang langsung sbg komoditas Akad jual beli dan memenuhi rukun jual beli 6 Terjadi compound interestBila macet, tidak ada bunga7
  14. 14. Landasan syariah Al-Qur’an: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Al-Baqarah:275) Al-Hadis, Dari Suhaib, bahwa Rasulullah SAW berdabda: “Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan, jual beli secara tangguh, Muqaradah (mudarabah) dan memcampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual.” (Riwayat Ibnu Majah)
  15. 15. Bank Islam ‫البركة‬ ‫فيهن‬ ‫ثالثة‬:‫المقارضة‬ ‫والبيع‬‫الى‬‫وخلطالبر‬ ‫اجل‬ ‫للبيع‬ ‫ال‬ ‫للبيت‬ ‫باالشعير‬)‫ابن‬ ‫ماجه‬(Sabda Rasulullah Saw :”Tiga macam mendapat barakah: muqaradhah/ mudharabah, jual beli secara tangguh, mencampur gandum dgn tepung untuk keperluan rumah bukan untuk dijual (H.R.Ibnu Majah) Agustianto 03
  16. 16. Rukun Murabahah • 1. Pihak yang berakad: a. Penjual b. Pembeli • 2. Objek yang diakadkan: a. Barang yang diperjual belikan b. Harga • 3. Akad/sighot: a. Serah (ijab) b. Terima (qabul)
  17. 17. • 1. Pihak yang berakad : a. Cakap hukum, b. Sukarela (ridha), tidak dalam keadaan dipaksa/terpaksa/dibawah tekanan • 2. Obyek yang diperjualbelikan: a. Tidak termasuk yang diharamkan/ dilarang b. Bermanfaat c. Penyerahannya dari penjual ke pembeli dapat dilakukan, d. Merupakan hak milik penuh pihak yang berakad e. Sesuai spesifikasinya yang diterima pembeli dan diserahkan penjual SYARAT-SYARAT MURABAHAH
  18. 18. 3. Akad /sighot: a. Harus jelas dan disebutkan secara spesifik dengan siapa berakad b. Antara ijab qabul (serah terima) harus selaras baik dalam spesifikasi barang maupun harga yang disepakati c. Tidak mengandung klausul yang bersifat menggantungkan keabsahan transaksi pada hal / kejadian yang akan datang. d. Tidak membatasi waktu, misal:saya jual ini kepada anda untuk jangka waktu 12 bulan setelah itu jadi milik saya kembali.
  19. 19. POTONGAN PELUNASAN DALAM MURABAHAH • Sesuai dengan Fatwa Dewan Syariah No. 23/DSN-MUI/III/2002 tanggal 28 Maret 2002 • Jika nasabah dalam transaksi murabahah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang telah disepakati. Lembaga keuangan syariah boleh memberikan potongan dari kewajiban pembayaran tersebut, dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad. • Besarnya potongan sebagaimana dimaksud diatas diserahkan kepada kebijakan dan pertimbangan Lembaga keuangan syariah (LKS).
  20. 20. Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI telah menetapkan syarat untuk akad murabahah yang diterapkan dalam perbankan syariah, di antaranya: (1) Harus ada akad antara bank dan nasabah, (2) Komoditas yang diperjualbelikan bukan barang haram (3) Bank membeli barang untuk nasabah atas nama bank sendiri, kemudian menjual kembali kepada nasabah sesuai harga beli ditambah margin. (4).Apabila bank mendapat potongan dari pemasok, maka harga beli yang diperhitungkan adalah setelah adanya potongan tersebut, (4)Bank dapat meminta uang muka kepada nasabahyang dapat diperhitungkan sebagai pembayaran cicilan utang nasabah kepada bank.
  21. 21. UANG MUKA DALAM MURABAHAH • Sesuai fatwa DSN No. 13/DSN-MUI/IX/2000 tanggal 16 September 2000 • Dalam akad pembiayaan murabahah, LKS dibolehkan untuk meminta uang muka apabila kedua belah pihak sepakat. • Besarnya jumlah uang muka ditentukan berdasarkan kesepakatan. • Jika nasabah membatalkan akad murabahah, nasabah harus memberikan ganti rugi kepada LKS dari uang muka tersebut. • Jika jumlah uang muka lebih kecil dari kerugian, LKS dapat meminta tambahan kepada nasabah. • Jika jumlah uang muka lebih besar dari kerugian, LKS harus mengembalikan kelebihannya kepada nasabah.
  22. 22. DISKON DALAM MURABAHAH • Sesuai fatwa DSN No. 16/DSN-MUI/IX/2000 tanggal 16 September 2000. • Harga (tsaman) dalam jual beli adalah suatu jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak, baik sama dengan nilai (qimah) benda yang menjadi obyek jual beli, lebih tinggi maupun lebih rendah. • Harga dalam jual beli murabahah adalah harga beli dan biaya yang diperlukan ditambah keuntungan sesuai kesepakatan. • Jika dalam jual beli murabahah LKS mendapat diskon dari suplier, harga sebenarnya adalah harga setelah diskon, karena itu, diskon adalah hak nasabah. • Jika pemberian diskon terjadi setelah akad, pembagian diskon tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian (persetujuan) yang dimuat dalam akad. • Dalam akad, pembagian diskon setelah akad hendaklah diperjanjian dan ditandatangani.
  23. 23. SANKSI NASABAH MAMPU YANG MENUNDA-NUNDA PEMBAYARAN • Sesuai fatwa DSN No. 17/DSN-MUI/IX/2000 tanggal 16 September 2000. • Sanksi yang disebut dalam fatwa ini adalah sanksi yang dikenakan LKS kepada nasabah yang mampu membayar, tetapi menunda-nunda pembayaran dengan disengaja. • Nasabah yang tidak/belum mampu membayar disebabkan force majeur tidak boleh dikenakan sanksi. • Nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran dan/atau tidak mempunyai kemauan dan itikad baik untuk membayar hutangnya boleh dikenakan sanksi. • Sanksi didasarkan pada prinsip ta’sir, yaitu bertujuan agar nasabah lebih disiplin dalam melaksanakan kewajibannya. • Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan atas dasar kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani. • Dana yang berasal dari denda diperuntukan sebagai dana sosial.
  24. 24. • PBI no 7/46/PBI/2005.tentang standarisasi akad. “Dalam hal bank mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang, maka akad murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank”. • Akad Wakalah harus dibuat terpisah dengan murabahah • Yang dimaksud secara prinsip barang milik bank dalam wakalah, adalah adanya aliran dana yang ditujukan kepada pemasok barang atau dibuktikan dengan kuitansi
  25. 25. • Selama ini, bank syariah mencairkan dana setelah akad murabahah ditandatangani • Sekarang bank syariah harus mencairkan dana untuk membeli barang sebelum akad murabahah ditandatangani.
  26. 26. SALAM (IN-FRONT PAYMENT SALE)
  27. 27. Pengertian Etimologis : • Secara etimologi, salam adalah salaf (pen- dahulu-an) = sesuatu yang didahulukan. • Dalam konteks ini, jual beli salam/salaf ; di mana harga/uangnya didahulukan, sedangkan barangnya diserahkan kemudian.
  28. 28. S A L A M Akad salam adalah Akad pembelian suatu hasil produksi (komoditi) untuk pengiriman yang ditangguhkan dengan pembayaran segera sesuai dengan persyaratan tertentu atau “Penjualan suatu komoditi untuk pengiriman yang ditangguhkan dengan pembayaran segera/di muka” Pesan barang Bayar dimuka Barang dikirim kemudian SKEMAPRODUK
  29. 29. Dalil Syariah Jual Beli Salam • Firman Allah QS. al-Baqarah [2]: 282: ِ‫ب‬ ْ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫ن‬َ‫ي‬‫ا‬َ‫د‬َ‫ت‬ ‫ا‬َ‫ذ‬ِ‫إ‬ ‫ا‬ ْ‫و‬ُ‫ن‬َ‫م‬‫آ‬ َ‫ْن‬‫ي‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُّ‫ي‬َ‫أ‬ ‫آ‬َ‫ي‬ُ‫ت‬ْ‫ك‬‫ا‬َ‫ف‬ ‫ى‬‫ى‬‫م‬ََُ‫م‬ ‫ل‬َ‫ج‬َ‫أ‬ ‫ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ ِ‫ْن‬‫ي‬َ‫د‬ُُ ْ‫و‬ُ‫ب‬ ... • "Hai orang yang beriman! Jika kamu bermu'amalah tidak secara tunai sampai waktu tertentu, buatlah secara tertulis...".
  30. 30. 2. Firman Allah QS. al-Ma’idah [5]: 1: ِ‫د‬ْ‫و‬ُ‫ق‬ُ‫ع‬ْ‫ل‬‫ا‬ِ‫ب‬ ‫ا‬ْ‫و‬ُ‫ف‬ْ‫َو‬‫أ‬ ‫ا‬ْ‫و‬ُ‫ن‬َ‫آم‬ َ‫ن‬ْ‫ي‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُّ‫َي‬‫أ‬‫ا‬َ‫ي‬ … • “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad- akad itu….”
  31. 31. 3. Hadits Nabi Muhammad Saw َّ‫َن‬‫أ‬ ُ‫ه‬ْ‫ن‬َ‫ع‬ ُ‫هللا‬ َ‫ي‬ِ‫ض‬َ‫ر‬ ْ‫ي‬ِ‫ر‬ْ‫د‬ُْ‫اْل‬ ٍ‫د‬ْ‫ي‬ِ‫ع‬َ‫س‬ ِْ‫َِب‬‫أ‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬ِ‫آل‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ُ‫هللا‬ ‫ى‬َّ‫ل‬َ‫ص‬ ِ‫هللا‬ َ‫ل‬ْ‫و‬ُ‫س‬َ‫ر‬َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫س‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ َ‫ال‬َ‫ق‬:، ٍ‫اض‬َ‫ر‬َ‫ت‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬ ُ‫ع‬ْ‫ي‬َ‫ب‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ا‬َِِ‫ّن‬ِ‫إ‬(‫ما‬ ‫ابن‬‫و‬ ‫البيهقي‬ ‫اه‬‫و‬‫ر‬‫حبان‬ ‫ابن‬ ‫وصححه‬ ‫جه‬ ) • “Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka.’” (HR. al- Baihaqi dan Ibnu Majah, serta dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).
  32. 32. Hadis riwayat Bukhari dari Ibn 'Abbas, Nabi bersabda: ٍ‫ن‬ْ‫ز‬َ‫و‬َ‫و‬ ٍ‫وم‬ُ‫ل‬ْ‫ع‬َ‫م‬ ٍ‫ل‬ْ‫ي‬َ‫ك‬ ْ‫ي‬ِ‫ف‬َ‫ف‬ ٍ‫ء‬ْ‫ي‬َ‫ش‬ ِ‫ِف‬ َ‫ف‬َ‫ل‬ْ‫َس‬‫أ‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ٍ‫وم‬ُ‫ل‬ْ‫ع‬َ‫م‬ ٍ‫ل‬َ‫َج‬‫أ‬ ََِ‫إ‬ ٍ‫وم‬ُ‫ل‬ْ‫ع‬َ‫م‬ . • "Barang siapa melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas, untuk jangka waktu yang diketahui" (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari [Beirut: Dar al-Fikr, 1955], jilid 2, h. 36).
  33. 33. • Hadis Nabi riwayat jama’ah: • ‫ْم‬‫ل‬ُ‫ظ‬ ِ‫ي‬ِ‫ن‬َ‫غ‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ْل‬‫ط‬َ‫…م‬ • “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman…” Hadis Nabi riwayat Nasa’i, Abu Dawud, Ibu Majah, dan Ahmad: • ُ‫ه‬َ‫ت‬َ‫ب‬ْ‫و‬ُ‫ق‬ُ‫ع‬َ‫و‬ ُ‫ه‬َ‫ض‬ْ‫ر‬ِ‫ع‬ ُّ‫ل‬ُِ‫ُي‬ ِ‫د‬ ِ‫اج‬َ‫و‬ْ‫ل‬‫ا‬ َُّ‫.َل‬ • “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya.”
  34. 34. Pembeli Barang Ijab qabul Penjual Harga Rukun Salam Rukun salam
  35. 35. Muslim Muslam Fih Akad salam Muslam ilaih Ra’sul mal Rukun Salam
  36. 36. Muslim Muslam Fih Akad salam Muslam ilaih Ra’sul mal Rukun Salam Bank (Pembeli) Petani (Penjual) Hasil Produksi Kontrak
  37. 37. Salam Konsep Dasar Ba’i Salam Bank membeli secara tunai Barang diserahkan kemudian/secara tangguh Petani Bank Islam membeli 5 ton padi, seharga Rp 5 juta secara tunai/cash, Sedangkan padinya diserahkan 4 bulan yang akan datang Contoh : ‫السلم‬ ‫بيع‬ Bank Muamalat Transaksi Jual beli di mana barang belum diserahkan (belum ada), Sedangkan pembayaran dilakukan di muka (secara tunai). Ini disebut juga jual-beli pesanan
  38. 38. Salam Paralel Bank menjual beras kepada Bulog Rekanan nasabah (bulog/grosir) serahkan dana cash setelah ada berasnya Bank Muamalat Bank Membeli beras secara tunai kepada petani, Sedangkan padi diserahkan 4 bulan depan Bulog atau Grosir Bank Islam membeli beras 10 ton, Rp 20 juta, lalu menjualnya kepada Bulog atau grosir seharga Rp 21 juta. Rekanan ini bisa direko menkendasi Petani 1 2 3
  39. 39. Dalam Ba’i Salam Harus Jelas : 1. Kualitas (Jenis) 2. Kuantitas 2. Harga, 3. Waktu Penyerahan Beda Salam dan Ijon No ASPEK IJON SALAM 1 Jenis, Macam Tidak Jelas Jelas 2 Ukuran Tidak Jelas Jelas 3 Mutu Tidak Jelas Jelas 4 Jumlah Tidak Jelas Jelas 5 Harga Tidak Jelas Jelas 6 Waktu Delivery Tidak Jelas Jelas
  40. 40. Bank Islam membeli beras R36 sebanyak 5 ton dengan harga Rp 10 Juta. Maka kewajiban petani adalah memberikan beras sebanyak 5 ton pada 4 bulan depan Jika terjadi kelebihan produksi sampai 7 ton, maka sisa yang 2 ton Itu mnjadi hak petani, bukan milik bank Islam. Begitu pula sebaliknya, jika produksi hanya 4 ton saja, maka Petani wajib mencarikan 1 ton lagi. Di dalam Ijon, hasil produksi yang 7 ton di atas, semua menjadi milik Tengkulak. Dan seringkali para tengkulak melakukan penekanan kepada petani, khususnya dalam masalah penentuan harga
  41. 41. KETENTUAN PEMBIAYAAN BAI AS-SALAM SESUAI FATWA DSN No.05/DSN-MUI/IV/2000 TGL. 1 April 2000 KETENTUAN PEMBAYARAN UANG CASH: 1. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang atau manfaat. 2. Dilakukan saat kontrak disepakati (in advance) 3. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk ibra’ (pembebasan hutang) Contoh No 3 : Pembeli mengatakan kepada Petani (Penjual), ”Saya beli padi anda sebanyak 5 ton dengan harga Rp 10 juta. Pembayarannya/ uangnya adalah anda saya bebaskan membayar hutang anda yang dulu (sebesar Rp 10 juta). (Pada kasus ini petani memang memiliki hutang yang belum terbayar kepada pembeli, sebelum terjadinya akad salam tersebut)
  42. 42. • KETENTUAN BARANG : 1. Harus Jelas ciri-cirinya/spesifikasi dan dapat diakui sebagai hutang 2. Penyerahan dilakukan kemudian 3. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan. 4. Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum barang tersebut diterimanya (qabadh). Ini prinsip dasar jual beli 5. Tidak boleh menukar barang, kecualai dengan barang sejenis sesuai kesepakatan.
  43. 43. KETENTUAN PEMBIAYAAN BAI AS-SALAM SESUAI FATWA DSN No.05/DSN-MUI/IV/2000 TGL. 1 April 2000 • PENYERAHAN BARANG SEBELUM ATAU TEPAT WAKTU : – Penjual wajib menyerahkan barang tepat waktu dgn kualitas & kuantitas yang disepakati. – Bila penjual menyerahkan barang, dengan kualitas yang lebih tinggi, penjual tidak boleh meminta tambahan harga – Jika penjual menyerahkan barang dgn kualitas lebih rendah, dan pembeli rela menerimanya, maka pembeli tidak boleh meminta pengurangan harga (diskon). – Penjual dapat menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang disepakati dengan syarat : kualitas dan jumlah barang sesuai dengan kesekapatan dan tidak boleh menuntut tambahan harga.
  44. 44. -Jika semua/sebagian barang tidak tersedia tepat pada waktu penyerahan atau kualitasnya lebih rendah dan pembeli tidak rela menerimanya, maka pembeli memiliki 2 pilihan : 1. Membatalkan kontrak dan meminta kembali uang. 2. Menunggu sampai barang tersedia. • PEMBATALAN KONTRAK : Pembatalan boleh dilakukan selama tidak merugikan kedua belah pihak.  Perselisihan : Jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka persoalannya diselesaikan melalui pengadilan Agama sesuai dengan UU No 3/2006 setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Para pihak dapat juga memilih BASYARNAS dalam penyelesaian sengketa.Tetapi jika lembaga ini yang dipilih dan disepakatyi sejak awal, maka tertutup lah peranan PA.
  45. 45. SALAM PARALEL Dibolehkan melakukan salam paralel dengan syarat • Akad kedua terpisah dari akad pertama • Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah.
  46. 46. SKEMA PEMBIAYAAN BAI’AS-SALAM PARALEL di Bank Syariah (Model 1) 1 3 Pemesanan Barang (beras) Oleh Bank dgn Bayaran tunai (Terjadi akad Salam 1) PRODUSEN (Petani 2 Bayar cash di awal Pada waktu akad Dilakukan akad Salam kedua Bolug or Grosir 4 Bayar cash 5 Serahkan barang Bank Islam Kasus ini sulit terjadi secara realita, karena Bulog/Grosir tidak akan mau Mendahulukan uangnya ke bank selama 4 bulan, setelah itu baru mendapatkan barang
  47. 47. SKEMA PEMBIAYAAN BAI’AS-SALAM PARALEL di Bank Syariah (Model 1) 1 3 Pemesanan Barang (beras) Oleh Bank dgn Bayaran tunai (Terjadi akad Salam 1) PRODUSEN (Petani 2 Bayar cash di awal Pada waktu akad Dilakukan akad Salam kedua Bolug or Grosir 4 Bayar cash 5 Serahkan barang Bank Islam Dalam Kasus ini Bank Islam menjual suatu barang yang belum qabadh/belum diterimanya, sedangkan penyerahan uang secara cash.
  48. 48. Salam dan qabath dalam 3 hari
  49. 49. Bolehkah Kali bi Kali dalam salam paralel?
  50. 50. Pertanynaannya, “Bagaimana jika bulog (nasabah 2), melakukan akad salam dgn bank, di mana uang bayarannya diserahkan belakangan, yakni pada saat barang (beras) itu diterimanya? sehingga pada akad tersebut penyerahan barang dilakukan belakanga dan uangnya juga dilakukan belakangan?. Bolehkah? Menurut hadits saw, hal tersebut dilarang karena ia praktek jual beli kali bi kali. Namun dalam kasus ini dibenarkan, karena alasan istihsan. Tujuan Bulog dalam jual beli ini bukanlah untuk kegiatan spekulasi dan tidak membuka jalan bagi spekulasi. Dan bay kali bi kali tsb, harus dibatasi tahapan kedua ini. Maka bolog tidak boleh lagi melakukan bay salam ketiga, dst.
  51. 51. Muslim (Bank) Muslam Fih Akad salam Muslam Ilaih (Petani) Harga Rukun Salam Dalam salam paralel bank bertindak sebagai : 1. Pembeli (Muslim) kepada petani 2. Penjual (Muslam Ilaih) kepada Bulog Dalam salam paralel, Bulog Sebagai muslam ilaih 2 Muslim (Bulog) Muslam Fih Akad salam Muslam Ilaih (Bank) Harga Rukun Salam P E N J U A L Membeli Membeli
  52. 52. Istihsan • Di Indoneia Seluruh transaksi jual beli dikenakan pajak (PPn), kecuali pada jual beli murabahah di LKS atas dasar istihsan, yakni pengecualian dari umum. • Pengecualian ini harus dilakukan karena jual beli murabahah di bank berbeda dengan jual beli biasa bukan bank. Jual Beli di bank Islam bentuknya adalah pembiayaan (kredit) pada bank konvensional • Bank Islam dalam hal ini berfungsi sebagai lembaga intermediasi, sebagaimana bank pada umumnya. Maka tidak perlu ada pajak PPn, sebagaimana BK tanpa PPn
  53. 53. • Harga pembelian beras/padi dari petani harus jelas, demikian pula harga penjualan kepada nasabah/bulog juga harus jelas dicantumkan dalam masing-masing akad, baik akad salam pertama maupun akad salam kedua • Nasabah (bolog) tidak perlu mengetahui harga pembelian bank kepada petani.
  54. 54. SKEMA PEMBIAYAAN BAI’AS-SALAM dan Bay’ (M0del akad 2) 1 3 Pemesanan Barang (beras) Oleh Bank dgn Bayaran tunai (Terjadi akad Salam ) PRODUSEN (Petani 2 Bayar cash di awal Pada waktu akad Beras dijual bank Kpd bulog secara Cash’ jadi akadnya Bay’ Bolug or Grosir 4 bayar 5 Serahkan barang Bank Islam Dalam akad ini, tidak ada lagi salam paralel, tetapi salam dan bay’ biasa. Bay dilakukan untuk ihtiyath (hati-hati),yaitu menghindari bay’ kali-bi kali
  55. 55. SKEMA PEMBIAYAAN BAI’AS-SALAM dan Bay’ Murabahah (Model akad 3) 1 3 Pemesanan Barang (beras) Oleh Bank dgn Bayaran tunai (Terjadi akad Salam 1) PRODUSEN (Petani 2 Bayar cash di awal Pada waktu akad Beras dijual secara Murabahah kpd bulog Grosir 4 Bayar Secara Cicilan or cash 5 Serahkan barang Bank Islam
  56. 56. Alternatif Akad salam paralel, tetapi sulit terjadinya… 4.KIRIM PESANAN PRODUSEN NASABAH 2. PEMESANAN 3. KIRIM 2. BAYAR 1. NEGOSIASI BARANG NASABAH DOKUMEN Cash PESANAN DGN & BAYAR TUNAI KRITERIA BANK ISLAM 12 Grosir
  57. 57. Alternatif Akad salam paralel yang mungkin terjadi…Grosir mana yang mau? 4.KIRIM PESANAN PRODUSEN NASABAH 2. PEMESANAN 3. KIRIM 5. BAYAR 1. NEGOSIASI BARANG NASABAH DOKUMEN PESANAN DGN & BAYAR TUNAI KRITERIA BANK ISLAM 12 Grosir Praktik Kali Bi Kali
  58. 58. ISTISHNA’ (PURCHASE BY ORDER/MANUFACTURE)
  59. 59. • Secara etimologi istishna’ berarti minta dibuatkan. • Secara terminologi berarti , “suatu kontrak jual beli antara pembeli (mustasni’) dan penjual (shani’) di mana pembeli memesan barang (mashnu’) dengan kriteria yang jelas dan harganya dapat diserahkan secara bertahap”.
  60. 60. • Menurut ulama fiqh, istishna’ sama dengan salam dari segi obyek pesanannya yaitu sama- sama harus dipesan terlebih dahulu dengan ciri-ciri/kriteria khusus • Perbedaannya ; pembayaran salam di awal sekaligus, sedangkan pembayaran istisna’ dapat di awal, di tengah maupun di akhir.
  61. 61. • Bai’Al-Istishna’ ialah kontrak penjualan antara mustashni’ (pembeli) dan shani’(supplier), dengan cara pemesanan pembuatan barang, seperti bangunan, jalan raya, pakaian, furniture, sepatu, dsb. Kedua belah pihak sepakat atas harga serta sistim pembayaran. Apakah pembayaran dilakukan di muka, melalui cicilan atau ditangguhkan pada masa yang akan datang.(Wahbah Az- Zuhayli) • Menurut rumusan fatwa DSN MUI Istisna’ ialah ”akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan/pembeli (mustashni’) dan penjual/pembuat (shani’) BAI AL-ISTISHNA’ MENURUT WAHBAH AZ-ZUHAYLIY
  62. 62. Dasar Hukum Bai’Al-Istishna • Al Qur’an “Hai orang –orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…. ….” (Al Baqarah:282) • Al Hadits Dari Shuhaib r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda : ”Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan : jual beli secara tangguh, muqarradhah(mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual.” (hr Ibnu Majah) ‫البركة‬ ‫فيهن‬ ‫ثالثة‬:‫والبيع‬ ‫المقارضة‬‫الى‬‫باالشعي‬ ‫البر‬ ‫وخلط‬ ‫اجل‬‫ر‬ ‫للبيع‬ ‫ال‬ ‫للبيت‬)‫ماجه‬ ‫ابن‬(
  63. 63. • Hadits Nabi Muhammad Saw : “Pendapatan yang paling afdhal adalah hasil karya tangan seseorang dan jual beli yang mambrur”. (H.R.Ahmad, Abu Zar dan Thabrani). ‫مبرور‬ ‫بيع‬ ‫كل‬ ‫و‬ ‫بيده‬ ‫الرجل‬ ‫عمل‬ ‫األفضل‬ ‫كسب‬ Sabda Nabi Muhamad Saw
  64. 64. ‫لم‬ ‫ا‬‫و‬‫حدث‬ ‫اذا‬ ‫الذين‬ ‫التجار‬ ‫كسب‬ ‫الكسب‬ ‫أطيب‬ ‫ان‬ ‫و‬ ‫ا‬‫و‬‫يخون‬ ‫لم‬ ‫ا‬‫و‬‫ائتمن‬ ‫اذا‬‫و‬ ‫ا‬‫و‬‫يخلف‬ ‫لم‬ ‫ا‬‫و‬‫وعد‬ ‫اذا‬‫و‬ ‫ا‬‫و‬‫يكذب‬‫اذا‬ ‫عليهم‬ ‫كان‬ ‫اذا‬‫و‬ ‫ا‬‫و‬‫يمدح‬ ‫لم‬ ‫ا‬‫و‬‫باع‬ ‫اذا‬‫و‬ ‫ا‬‫و‬‫يذم‬ ‫لم‬ ‫ا‬‫و‬‫اشتر‬ ‫ا‬‫و‬‫يعسر‬ ‫لم‬ ‫لهم‬ ‫كان‬ ‫اذا‬‫و‬ ‫ا‬‫و‬‫يمطل‬ ‫لم‬[1 ] [1] Muhammad Ali As-Sayis, Tafsir Ayat al-Ahkam, Juz 2, tp, tt, hlm 86. Sebaik-baik usaha adalah usaha perdagangan (jual-beli), yakni Apabila mereka berbicara tidak dusta, apabila berjanji tidak mengingkari, Apabila diberi amanah tidak berkhianat, apabila membeli tidak mencela, Apabila menjual tidak memuji-muji barang jualannya, apabila berhutang tidak melambatkan pembayaran, dan apabila berpiutang tidak mempersulit (mendesak-desak/memaksa agar cepat ditunaikan dan diselesaikan)
  65. 65. Hadits Riwayat Tarmizi ‫ح‬ْ‫ل‬ُ‫ص‬ َّ‫ال‬ِ‫إ‬ َ‫ْي‬ِ‫م‬ِ‫ل‬ْ‫س‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ َْ‫ْي‬َ‫ب‬ ٌ‫ز‬ِ‫ائ‬َ‫ج‬ ُ‫ح‬ْ‫ل‬ُّ‫لص‬َ‫ا‬‫ا‬‫ام‬َ‫ر‬َ‫ح‬ َّ‫ل‬َ‫َح‬‫أ‬ ْ‫َو‬‫أ‬ ‫ال‬َ‫ال‬َ‫ح‬ َ‫م‬َّ‫ر‬َ‫ح‬ ‫ا‬ َّ‫ر‬َ‫ح‬ ‫ا‬‫ط‬ْ‫ر‬َ‫ش‬ َّ‫ال‬ِ‫إ‬ ْ‫م‬ِ‫ه‬ِ‫وط‬ُ‫ر‬ُ‫ش‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ َ‫ن‬‫و‬ُ‫م‬ِ‫ل‬ْ‫س‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬َ‫و‬‫ا‬‫ام‬َ‫ر‬َ‫ح‬ َّ‫ل‬َ‫َح‬‫أ‬ ْ‫َو‬‫أ‬ ‫ال‬َ‫ال‬َ‫ح‬ َ‫م‬(‫اه‬‫و‬‫ر‬ ‫عوف‬ ‫بن‬ ‫عمرو‬ ‫عن‬ ‫الرتمذي‬). • “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram” (HR. Tirmizi dari ‘Amr bin ‘Auf).
  66. 66. • Pendapat Ulama Menurut mazhab Hanafi, Bai’ al-istishna’ dibenarkan atas dasar/ dalil istihsan Selain dalil Istihsan, istisna’ juga dapat diterima dengan dalil ‘urf
  67. 67. Mazhab Hanafi menyetujui kontrak Istishna’ atas dasar Istihsan karena alasan berikut : 1. Masyarakat telah mempraktekkan Bai’ Al - Istishna’ secara luas dan terus menerus tanpa keberatan sama sekali. Hal ini menjadikan al- istishna’ sebagai kasus Ijma atau konsensus secara umum. 2. Dalam syariah dimungkinkan adanya penyimpangan terhadap qiyas berdasarkan ijma’ ulama
  68. 68. 3.Keberadaan Bai’ Al Istishna’ didasarkan atas kebutuhan masyarakat. Banyak orang membutuhkan barang yang tidak ada dipasar sehingga mereka cenderung melakukan kontrak agar orang lain membuatkan barang untuk mereka 4.Bai’ Al Istishna’ sah sesuai dengan aturan umum mengenai kebolehan kontrak selama tidak bertentangan dengan nash aturan syariah.
  69. 69. Dari Istihsan mengkristal menjadi ijma’ • Masyarakat telah mempraktekkan Bai’ Al - Istishna’ secara luas dan terus menerus tanpa ada keberatan sama sekali dari para ulama sepanjang sejarah. Hal ini menjadikan al-istishna’ sebagai kasus Ijma dewasa ini atau menjadi konsensus secara umum.
  70. 70. Rukun Bai’Al-Istishna’ : 1. Mustashni’ (pembeli) 2. Shani’(Penjual) 3. Mashnu’ (Barang) 4. Tsaman (Harga) 5. Shighat (Ijab Kabul)
  71. 71. Mustashni Mashnu’ Akad Shani’ Harga Rukun Salam Rukun Istishna’ Pembeli (bank) Penjual/ Produsen/ Pembuat barang Barang Yang dipesan
  72. 72. Pembeli Barang Ijab qabul Penjual Harga Rukun Salam Rukun Istishna’
  73. 73. Syarat Bai’Al-Istishna’ 1. Kedua belah pihak yang bertransaksi berakal, cakap hukum dan mempunyai kekuasaan untuk melakukan jual beli 2. Ridha/kerelaan dua belah pihak dan tidak ingkar janji. 3. Shani’ menyatakan kesanggupan untuk membuat barang itu 4. Apabila bahan baku berasal dari Mushtasni’, maka akad ini bukan lagi Istishna’,tetapi berubah menjadi Ijarah 5. Apabila isi akad mensyaratkan shani’ hanya bekerja saja, maka akad ini juga bukan lagi Istishna’,tetapi berubah menjadi Ijarah 6. Manshnu’ (barang yang dipesan) mempunyai kriteria yang jelas seperti jenis, ukuran(tipe), mutu dan jumlahnya. 7. Barang yang dipesan tidak termasuk kategori yang dilarang syara’ (najis, haram /tidak jelas)atau menimbulkan kemudharatan (menimbulkan maksiat)
  74. 74. Istishna’ Pararel • Pada awalnya bahan baku yang dipesan berasal dari si pembuat barang. Jika bahan baku berasal dari pihak pemesan atau pihak lain, tidak disebut pemesanan tetapi disebut menyewa tukang (Ijarah). Namun perkembangan yang terjadi kemudian, bisa saja pembeli/pemesan mengizinkan Shani (bank) menggunakan sub kontraktor untuk melaksanakan kontrak tersebut. Dengan demikian bank dapat membuat kontrak Bai’ Al Istishna’ kedua untuk memenuhi kewajibannya kepada pihak kontrak pertama. • Kontrak baru ini disebut Bai’Al Istishna’Paralel. • Bai’ Al Istishna Paralel merupakan salah satu model pembiayaan dalam transaksi perbankan syariah
  75. 75. Bank Islam Pegawai Kantor Bupati Tukang Jahit A C B 1. A memesan 1000 pakaian seragam Pemda, kpd B (bank Islam), dengan pembayaran cicilan i.e 2 kali bayar , maka terjadilah akad istisna’ pertama Dalam akad itu A menyerahkan sebagian harga sebagai DP 2. B (Bank Islam) memesan pembuatan 1000 pakaian seragam kpd Tukang jahit, Maka terjadilah akad istishna’ kedua Dalam akad itu B juga menyerahkan DP kepada C . 3. Setelah pakiaan selesai dibuat, C menyerahkannya kpd A 1 2 3 Bayar DP Bayar DP
  76. 76. • Harga jual kepada nasabah kedua (pada istishna’ paralel), adalah harga beli ditambah keuntungan, namun jumlah keuntungan yang diambil bank tidak wajib diberitahukan kepada nasabah, lainnya halnya dengan murabahah yang harus diberitahukan kepada nasabah
  77. 77. • Buatah contoh kasus istishna’ paralel pada pembuatan jalan raya, gedung kuliah untuk Universitas, gedung perkantoran, dan furniture
  78. 78. Perbandingan antara Bai’As salam dan Bai’Al Istishna’: Subyek SALAM ISTISHNA’ Aturan dan Keterangan Pokok kontrak Pembeli Penjual Muslam fiih Muslim Muslam ilaih Mashnu Mustashni’ Shani’i Barang ditangguhkan dg spesifikasi Harga Dibayar saat kontrak Bisa saat kontrak, dicicil, atau diakhir Cara penyelesaian pembayaran merupakan perbedaan utama antara aa’ dan salam. Produk Umumnya pada pemesasan barang yang tidak bisa dibuat oleh penerima pesan Umumnya pada pemesasan barang yang dapat dibuat oleh penerima pesan Contoh Salam : hasil pertanian, perikanan dan peternakan Contoh istishna’: bangunan, pakaian, furniture, jalan raya Kontrak Salam parallel Istishna’ parallel Baik salam parallel maupun istishna’ parallel sah asalkan kedua kontrak scr hukum terpisah
  79. 79. Fatwa MUI-DSN tentang Istishna’ • Fatwa tentang jual beli Istishna’ ditetapkan pada tanggal 4 April 2000 dengan No: 06/DSN_MUI/IV/2000, berisi ketetapan sebagai berikut : Ketentuan Pembayaran, meliputi : Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang, atau manfaat. Pembayaran dilakukan sesuai kesepakatan Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.
  80. 80. • Ketentuan tentang Pembayaran: • 1.Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang, atau manfaat. • 2.Pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan. • 3.Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang (ibra’).
  81. 81. Ketentuan tentang Barang: 1. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang. 2. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya. 3. Penyerahannya dilakukan kemudian. 4. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan. 5.Pembeli (pembeli, mustashni’) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya. 6.Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan. 7.Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan, pemesan memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad.
  82. 82. • Ketentuan Lain: • 1. Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan, hukumnya mengikat. • 2. Semua ketentuan dalam jual beli salam yang tidak disebutkan di atas berlaku pula pada jual beli istishna’. 3. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Pengadilan Agama setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Namun para pihak dapat memilih Badan Arbitrasi Syari’ah

×