• Save
Sop prl kkp
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Sop prl kkp

on

  • 9,073 views

 

Statistics

Views

Total Views
9,073
Views on SlideShare
9,073
Embed Views
0

Actions

Likes
14
Downloads
0
Comments
3

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Sop prl kkp Sop prl kkp Document Transcript

  • PENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGENDALIAN NYAMUK AEDES AEGYPTI Prof.dr.Tjandra Yoga No. Dokumen : 02.001.2009 Hal : 1 dari 121 Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM&H ,DTCEI. PERSIAPAN A. Sumber Daya Manusia Syarat :  Fungsional Sanitarian, Entomolog. Penunjang :  Kader yang sudah dilatih.  Pengemudi/supir yang memiliki SIM A. B. Sarana Dan Prasarana B.1 Sarana dan Prasarana Pengamatan Peralatan :  Mobil khusus vektor kontrol  Senter  Pipet panjang dengan karet penghisap  Pipet sedang  Pipet kecil  Cawan petri  Botol kosong kecil  Loupe  Alat tulis  Glass objek  Cover glass  Mikroskop Binokuler  Mikroskop Stereo  Kertas label  Kaleng/gelas plastik untuk ovitrap  Paddle Bahan:  Alkohol  Xylol  Formulir  Surat tugas 1
  • B.2 Sarana dan Prasarana Pemberantasan Peralatan :  Mobil khusus vektor kontrol  Thermal Fogging  ULV  Masker  Helmet  Sepatu safety  Senter  Pakaian kerja  Sarung tangan  Jerigen  Gelas ukur  Corong  Ember  Kacamata safety  Pengaduk  Tool Kit  Alat Pemadam Api Ringan (APAR)  Timbangan  Sendok Bahan :  Insektisida  Larvisida  Pelarut  Bahan Bakar  Surat TugasII. LANGKAH – LANGKAH PELAKSANAAN A. Pemetaan  Pemetaan daerah perimeter dan daerah buffer yang merupakan tempat perindukan potensial Nyamuk Aedes aegypti.  Membagi daerah pengawasan untuk memudahkan pengawasan/pemberantasan secara intensif. B. Pengamatan B.1 Survey Aedes aegypti Stadium Larva  Petugas yang akan melakukan pemeriksaan ke dalam bangunan milik Instansi Pemerintah/Swasta harus izin terlebih dahulu kepada petugas di instansi tersebut.  Periksa kontainer yang ada pada semua bangunan di lingkungan Pelabuhan/Bandara.  Apabila ada kontainer positif jentik dengan investasi campuran pilihlah seekor yang diperkirakan jentik Nyamuk Aedes (bergerak lamban tetapi 2
  • apabila disinari akan bergerak lincah seperti huruf ”S”, berwarna putih keabu-abuan dengan ukuran 0,5-1 cm, bergerak menjauhi sinar/cahaya dan apabila istirahat posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air). Jentik yang diperkirakan Aedes diambil dengan pipet panjang dan dimasukan ke dalam botol kecil serta diberi label (nama bangunan dan tanggal pengambilan). Tulislah semua nama bangunan, kontainer (baik positif maupun negatif larva) yang diperiksa kedalam formulir. a. Identifikasi Jentik/Larva o Siapkan mikroskop binokuler o Letakkan larva yang akan diperiksa pada cawan petri o Ambil larva dengan pinset kecil o Letakkan larva pada objek glass o Teteskan xylol pada larva o Tutup dengan cover glass o Periksa dengan lensa pembesaran 10 X o Untuk identifikasi lihat kunci identifikasi Nyamuk Aedes aegypti o Lakukan identifikasi larva di laboratorium sesuai dengan ciri- cirinya. b. Penghitungan Indeks (House Index/HI, Container Index/CI, Breteau Index/BI) o Hitunglah House Index, Container Index dan Breteau Index selanjutnya tulis ke dalam laporan. - House Index : Persentase antara rumah dimana ditemukan jentik terhadap seluruh rumah yang diperiksa. - Container Index : Persentase antara kontainer dimana ditemukan jentik terhadap seluruh kontainer yang diperiksa. X 100% - Breteau Index : Jumlah kontainer yang positif per seratus rumah. BI = Kontainer positif jentik X 100 Jumlah rumah diperiksa 3
  • o Apabila Indeks Larva Aedes > 0% untuk daerah Perimeter dan > 1% untuk daerah Buffer, maka direkomendasikan untuk dilakukan pengendalian (lihat SOP Pengendalian Aedes aegypti). o Survey Aedes stadium telur dilakukan jika infestasi A.aegypti di daerah pengawasan rendah sekali atau sukar ditemukan larva (BI < 5) dengan dilakukan pemasangan ovitrap (perangkap telur). o Pengamatan Aedes aegypti stadium larva dilakukan pagi hari secara teratur setiap bulan sekali pada setiap wilayah pengamatan.B.2 Pengamatan Aedes aegypti Stadium Telur  Ovitrap dipasang di dalam rumah/gedung/bangunan/lapangan yang teduh dengan jarak 100 – 150 cm.  Jumlah ovitrap yang dipasang pada setiap rumah/gedung/bangunan adalah 2 (dua) buah yaitu di dalam dan di luar rumah.  Pengamatan ada atau tidaknya telur dilakukan seminggu sekali.  Hitung Ovitrap Indeks yaitu jumlah ovitrap dengan telur dibagi jumlah ovitrap yang diperiksa dikalikan 100 %.B.3 Pengamatan Aedes aegypti Stadium Dewasa  Survei dilakukan dengan cara Resting Collection yaitu cara menangkap dengan aspirator setiap nyamuk yang diperkirakan Aedes aegypti yang beristirahat di pakaian-pakaian yang tergantung.  Nyamuk yang tertangkap dikumpulkan ke dalam paper cup yang ditutup dengan kain kasa yang dilubangi untuk memasukkan ujung aspirator dan selanjutnya tutup kembali lubang tersebut dengan kapas.  Nyamuk dalam paper cup dibunuh dengan chloroform yang telah diteteskan pada kapas penyumbat.  Identifikasi nyamuk betina dengan menggunakan mikroskop (lihat kunci identifikasi Nyamuk Aedes aegypti).  Hitung Resting Rate yaitu jumlah Aedes aegypti betina yang tertangkap per orang per jam.  Jika Resting Rate = 0, penelitian diulang sampai 3 (tiga) kali.  Jika ditemukan nyamuk betina dewasa di area Perimeter dan atau Resting Rate mencapai 2,5 dalam area Buffer dilakukan pemberantasan.  Pengamatan Aedes aegypti stadium dewasa dilakukan dari pagi sampai siang atau menjelang senja (pada saat kepadatan nyamuk meningkat) secara teratur setiap bulan sekali.  Pengamatan di daerah yang rawan/endemik penyakit yang dapat ditularkan Aedes aegypti dilakukan dengan frekuensi 2 (dua) kali/bulan atau sewaktu-waktu bila perlu. 4
  • C. PemberantasanC.1 Peran Serta Masyarakat  Pemberantasan nyamuk melalui peran serta masyarakat dengan kegiatan Menguras, Mengubur dan Menutup (3M) pada bejana air yang menjadi tempat perindukan potensial Aedes aegypti.  Disamping itu dilakukan upaya kebersihan dan sanitasi lingkungan di tempat hunian.  Untuk perlindungan diri masyarakat Pelabuhan/Bandara dari gigitan nyamuk dewasa menggunakan reppelent.  Dalam upaya meningkatkan peran serta masyarakat dilakukan penyuluhan secara berkesinambungan.C.2 Larvisidasi  Pembubuhan larvisida dilakukan bersamaan dengan kegiatan survei larva.  Apabila ditemukan kontainer positif larva, maka pada kontainer tersebut dibubuhkan larvisida sebanyak (untuk Abate Sand Granula 1% perbandingan 1 gram per 10 liter air atau satu sendok plastik 5 ml untuk 80 liter air). - Catat setiap penggunaan larvisida yang dibubuhkan pada formulir. - Daya racun menempel di dinding kontainer yang berada dalam air selama 3 bulan. - Bila air di dalam kontainer selalu diganti tanpa digosok dindingnya, daya racun bertahan 1 sampai 2 bulan. - Bila air diganti sebanyak 30% setiap dua (2) hari, daya racun bertahan 9 - 12 minggu.  Lakukan evaluasi tindakan anti larva dengan membandingkan kepadatan larva/jentik sebelum dan setelah tindakan anti larva.C.3 Pemberantasan Menggunakan Thermal Fogging  Pastikan seluruh petugas penyemprot memakai Alat Pelindung Diri (pakaian kerja, sarung tangan, helmet, masker, sepatu, kacamata dan lain-lain).  Periksa seluruh mesin fogging untuk memastikan dapat berfungsi dengan baik, sebelum kegiatan dimulai.  Larutkan insektisida dengan solar sesuai takaran (malathion 96% dengan perbandingan konsentrasi larutan 1 : 20 untuk mendapatkan konsentrasi larutan 5%) dan larutkan sampai tercampur dengan sempurna.  Masukkan larutan ke dalam setiap tangki mesin fogging sesuai dengan kapasitas tangki.  Nyalakan mesin fogging dengan hati-hati.  Penyemprotan dilakukan secara mundur berlawanan arah angin dengan kecepatan 5-6 km/jam. Bila menggunakan kendaraan, kecepatan maksimal 8 km/jam.  Bila angin searah dengan jalan penyemprot, moncong mesin fogging diarahkan ke depan dan disandang di bahu kanan. 5
  •  Bila angin berlawanan arah dengan jalan penyemprot, moncong mesin fogging diarahkan ke belakang dan disandang di bahu kiri.  Arah moncong membentuk sudut < 30° (hampir sejajar dengan permukaan tanah).  Setiap pengisian ulang larutan insektisida, mesin fogging dalam keadaan mati.  Selesai fogging, semua bagian yang terkena larutan/cairan bahan kimia harus dibersihkan kemudian mengkabutkan mesin fogging dengan kerosen tanpa insektisida dan batu batterai dikeluarkan.  Bersihkan mesin fogging setelah dipergunakan.  Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, lakukan fogging siklus II satu minggu setelah fogging siklus I.  Dosis aplikasi insektisida pada fogging siklus II ditingkatkan berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan fogging siklus I.  Lakukan evaluasi tindakan pemberantasan dengan membandingkan kepadatan nyamuk sebelum dan setelah tindakan pemberantasan.  Data yang dibandingkan adalah hasil pengamatan 1-2 hari sebelum fogging dan 1-2 hari setelah fogging/pengabutan. C.4. Pelaksanaan Fogging / Spraying Dengan ULV (Ultra Low Volume)  Gunakan insektisida Technical Grade (murni).  Penyemprotan menggunakan Mesin ULV dan insektisida disemprotkan dalam bentuk aerosol.  Ikuti petunjuk penggunaan mesin ULV sesuai Merk.III. JEJARING KERJA Jejaring kerja kegiatan pengawasan Aedes aegypti adalah:  Administrator Pelabuhan/Administrator Bandara.  Pelindo/Angkasa Pura.  Instistusi Pemerintah yang ada di lingkungan Pelabuhan/Bandara.  Institusi Swasta yang ada di lingkungan Pelabuhan/Bandara.  Dinas Kesehatan.IV. PELAPORAN Selesai melakukan kegiatan dibuat laporan dengan mengikuti kaidah epidemiologi. Bentuk Laporan : a. Laporan Kegiatan b. Laporan Bulanan c. Laporan Tahunan 6
  • ALGORITMA SURVEI JENTIK Aedes Sp. DI PELABUHAN/BANDARA OVITRAP INDEKS = 0 HI : 0 OVITRAP POSITIP TELUR PERIMETER AREA HI > 0 - LARVASIDASI LAPORAN SESUAI - FOGGING KAIDAH - PSN EPIDEMIOLOGI - PENYULUHANSURVEIJENTIK HI > 1 % BUFFER AREA OVITRAP INDEKS = 15 % HI = 0 OVITRAP OVITRAP INDEKS < 15 % HI < 1 % 7
  • ALGORITMA SURVEI NYAMUK DEWASA Aedes Sp. DI PELABUHAN/BANDARA BEBAS AEDES AEGYPTI PERIMETER AREA POSITIP AEDES AEGYPTI -PENYULUHAN SURVEI -ABATISASI -PSN LAPORANNYAMUK -FOGGING RESTING RATE > 2,5 BUFFER AREA RESTING RATE < 2,5 8
  • PENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGENDALIAN NYAMUK ANOPHELES Prof.dr.Tjandra Yoga No. Dokumen : 02.002.2009 Hal : 9 dari 121 Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM& H,DTCEI. PERSIAPAN A. Sumber Daya Manusia Syarat :  Fungsional Sanitarian, Entomolog. Penunjang :  Kader yang sudah dilatih  Pengemudi/sopir yang memiliki SIM A. B. Sarana Dan Prasarana B.1 Sarana dan Prasarana Pengamatan Peralatan  Mikroskop Binokuler/Mikroskop Stereo  Senter  Dipper/cidukan  Petridish  Pipet panjang dengan karet penghisap  Pipet sedang  Pipet kecil  Botol kosong kecil  Tas lapangan  Sepatu safety  Slide glass Bahan  Formulir  Alat tulis  Alkohol 70%  Xilol  Glass objek  Cover glass  Kertas label  Kertas tisue 9
  • B.2 Sarana dan Prasarana Pengendalian Peralatan  Mobil khusus vektor kontrol  Thermal Fogging  ULV  Masker  Helmet  Sepatu safety  Senter  Pakaian kerja  Sarung tangan  Jerigen  Gelas ukur  Corong  Ember  Kacamata safety  Pengaduk  Tool Kit  Alat Pemadam Api Ringan (APAR)  Timbangan  Sendok  Disetting (jarum seksi)  Loupe/kaca pembesar  Aspirator  Gunting  Paper cup  Kain kassa  Karet gelang  Kapas  Chloroform  Hygrometer  Thermometer  Anemometer  Alat tulis  Formulir  Kertas label  Kertas tissue Bahan  Alkohol  XylolB.3 Sarana dan Prasarana Pemberantasan Peralatan  Spray can  Mist blower  Ember 10
  •  Corong  Masker  Sarung tangan karet  Helmet  Pakaian kerja  Sepatu safety  Kacamata safety Bahan  Insektisida residual  Larvasida cairII. LANGKAH – LANGKAH PELAKSANAAN A. Pemetaan  Pemetaan daerah Perimeter dan daerah Buffer yang merupakan tempat perindukan potensial Nyamuk Anopheles.  Membagi daerah pengawasan untuk memudahkan pengawasan/pemberantasan. B. Pengamatan B.1 Survei Anopheles Stadium Larva  Penangkapan larva dengan menggunakan dipper/cidukan yang dilakukan pada berbagai macam genangan air misalnya: lagun, sawah, rawa, galian tanah dan lain-lain.  Larva dalam dipper diambil dengan pipet dan dipindahkan ke dalam vial (botol kecil).  Vial diberi label yang berisi data-data : lokasi larva, tipe tempat penangkapan dan nama kolektor.  Isilah formulir daftar isian.  Pengamatan larva Anopheles dilakukan pada pagi hari setiap bulan sekali.  Identifikasi larva Anopheles (lihat kunci Anopheles).  Hitung kepadatan per dipper yaitu : setiap spesies larva yang ditangkap dibagi jumlah cidukan. B.2 Pelaksanaan Pengamatan Anopheles Stadium Dewasa Dengan Umpan Orang  Tentukan minimal 6 orang untuk menjadi umpan.  Lakukan penangkapan nyamuk di dalam dan di luar rumah dengan umpan orang.  Penangkapan di dalam rumah selama 45 menit dan 15 menit berikutnya dilakukan penangkapan nyamuk di dinding. 11
  •  Penangkapan di luar rumah dengan umpan orang selama 45 menit dan 15 menit berikutnya dilakukan penangkapan di kandang dan sekitarnya.  Nyamuk yang menggigit kaki, tangan dan bagian tubuh lainnya ditangkap dengan menggunakan aspirator dengan penerangan senter.  Nyamuk yang tertangkap dimasukkan ke dalam paper cup yang terpisah untuk tiap-tiap waktu penangkapan.  Paper cup ditutup kain kassa yang diberi lubang dan disumbat dengan kapas.  Paper cup diberi label yang berisi tanggal, jam penangkapan.  Membunuh nyamuk dengan chloroform pada kapas penyumbat.  Identifikasi Nyamuk Anopheles (lihat Kunci Identisikasi Anopheles)  Hasil tangkapan, suhu, kelembaban dicatat dalam formulir.  Hitung MBR (Man Bitting Rate) yaitu nyamuk hinggap menggigit tertangkap.  Hitung MHD (Man Hour Dencity) yaitu nyamuk hinggap tertangkap. - -  Pengamatan dimulai jam 18.00 s/d 06.00 dan dilakukan secara teratur setiap bulan sekali. B.3 Pengamatan Anopheles Stadium Dewasa Bukan Dengan UmpanOrang  Tangkap nyamuk di dalam rumah yang hinggap di dinding, gantungan pakaian, kelambu dan lain-lain dengan menggunakan aspirator.  Masukkan nyamuk yang tertangkap ke dalam paper cup yang terpisah untuk tiap-tiap rumah.  Paper cup diberi label: tanggal, jam, methode, nama keluarga, bangunan dan kolektor.  Lanjutkan dengan kegiatan out door resting collection dengan menangkap nyamuk yang hinggap di rumput, semak, tebing, parit, lubang tanah, pangkal pohon.  Masukkan nyamuk yang tertangkap ke dalam paper cup yang terpisah untuk tiap-tiap rumah.  Paper cup diberi label: tanggal, jam, methode, nama keluarga, bangunan dan kolektor.  Catat/hitung jumlah nyamuk yang tertangkap dalam tiap-tiap paper cup.  Lakukan identifikasi (lihat kunci Anopheles).  Hasil pengamatan dicatat dalam formulir isian dan memperhatikan keadaan perut unfet, fed, gravid dan haif grafid  Hitung Density Nyamuk : Density Nyamuk (D)= Jumlah tiap jenis nyamuk Jumlah rumah yang diperiksa 12
  •  Jika populasi vektor malaria meningkat atau terdapat infestasi baru dari luar daerah pengawasan, segera lakukan pemberantasan.C. PemberantasanC.1 Pemberantasan Nyamuk Anopheles Indoor Residual Spraying  Pastikan seluruh petugas penyemprot memakai Alat Pelindung Diri (pakaian kerja, sarung tangan, helmet, masker, sepatu, kacamata dan lain-lain).  Periksa Spray can untuk meyakinkan dapat berfungsi dengan baik dan menggunakan nozzle standar.  Larutkan insektisida dengan pelarut air dalam ember plastik.  Masukkan insektisida yang sudah tercampur sempurna ke dalam Spray can.  Pompa Spray can sebanyak 75 kali.  Lakukan penyemprotan di dalam / sekitar rumah pada tempat hinggap / istirahat nyamuk.  Penyemprotan dilakukan pada dinding sampai betul-betul basah.  Penyemprotan harus mencapai sesuai dosis aplikasi untuk setiap jenis insektisida.  Pada saat menyemprot dilarang makan/minum/merokok.  Selesai melakukan penyemprotan, peralatan dibersihkan dengan air bersih.  Pakaian kerja dilepas dan cuci tangan yang bersih dengan menggunakan detergen pembersih.C.2 Pemberantasan Larva Anopheles  Persiapkan Mist blower dan periksa untuk memastikan berfungsi dengan baik.  Kenakan pakaian kerja (helmet, kacamata, pakaian kerja, sepatu boot, masker, dan sarung tangan).  Larutkan larvisida sesuai dengan dosis aplikasi (perhatikan petunjuk penggunaan).  Tuangkan larvisida yang telah diaduk sempurna ke dalam tangki Mist blower.  Hidupkan Mist blower dan gendong di punggung penyemprot.  Semprotkan ke permukaan genangan air tempat perindukan Anopheles sehingga terjadi lapisan tipis  Aplikasi untuk menutup permukaan genangan air tempat perindukan Anopheles sbb: - Air mengalir: 142 – 190 liter/Ha - Air tenang (tidak mengalir): 45 – 90 liter/Ha - Air yang terdapat tumbuhan air: 90 – 180 liter/Ha 13
  • III. JEJARING KERJA Jejaring kerja kegiatan pengawasan Aedes aegypti adalah:  Administrator Pelabuhan/Administrator Bandara.  Pelindo/Angkasa Pura.  Instistusi Pemerintah yang ada di lingkungan Pelabuhan/Bandara.  Institusi Swasta yang ada di lingkungan Pelabuhan/Bandara.  Dinas Kesehatan.IV. PELAPORAN Selesai melakukan kegiatan dibuat laporan dengan mengikuti kaidah epidemiologi. Bentuk Laporan: a. Laporan Kegiatan b. Laporan Bulanan c. Laporan Tahunan 14
  • ALGORITMA SURVEI LARVA ANOPHELES DI PELABUHAN/BANDARA TIDAK ADA LARVA PERIMETER AREA POSITIF LARVA SURVEI -PENYULUHAN LARVA -PSN LAPORANANOPHELES -IRS SESUAI -LARVACIDING KAIDAH EPIDEMIOLO KEPADATAN LARVA GI TINGGI BUFFER AREA TIDAK ADA LARVA 15
  • ALGORITMA PENGAWASAN ANOPHELES DEWASA DI PELABUHAN/BANDARA TIDAK ADA ANOPHELES PERIMETER AREA - PENYULUHAN POSITIF ANOPHELES - INDOOR PENGAMATAN RESIDUAL RUTIN SPRAYING SURVEI (IRS)ANOPHELES DEWASA - POPULASI ANOPHELES TINGGI - MBR / MHD TINGGI BUFFER AREA TIDAK ADA ANOPHELES 16
  • PENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGENDALIAN LALAT Prof.dr.Tjandra Yoga No. Dokumen : 02.003.2009 Hal : 17 dari 121 Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM&H, DTCEI.PERSIAPANA. Sumber Daya Manusia : Syarat :  Fungsional Sanitarian, Entomolog.B. Sarana Dan PrasaranaB.1 Sarana dan Prasarana Pengamatan Peralatan  Fly grill  Counter  Hygrometer  Thermometer  Anemometer  Kendaraan Bahan  Formulir  Surat TugasB.2 Sarana dan Prasarana Pemberantasan Peralatan  Mobil  Mist blower/Spray can  Ember  Pengaduk  Pakaian kerja  Alat Pelindung Diri (masker, helmet, kacamata sarung tangan)  Lem lalat Bahan  Insektisida  Pelarut 17
  • II. LANGKAH – LANGKAH PELAKSANAAN A. Pengamatan A.1 Pelaksanaan Survei Kepadatan Lalat di Pelabuhan  Buat pemetaan daerah potensial lalat.  Siapkan kelengkapan Fly grill dan peralatan lainnya.  Periksa seluruh kelengkapan sebelum melaksanakan kegiatan.  Lakukan pengukuran suhu, kelembaban udara dan kecepatan angin.  Catat hasil pengukuran pada formulir yang tersedia.  Letakkan Fly grill di tempat potensial lalat seperti : TPS, kontainer sampah, Tempat Penjualan Makanan.  Biarkan Fly grill dihinggapi lalat selama 30 detik.  Hitung lalat yang hinggap pada Fly grill dengan menggunakan counter.  Lakukan pengulangan sebanyak 10 kali di setiap lokasi.  Catat dalam formulir pemeriksaan.  Lima nilai tertinggi dihitung rata-ratanya.  Cocokkan dengan Indeks dan interpretasikan sbb: No Rata-rata Indeks 1 0-2 Rendah 2 3-5 Sedang 3 6 - 20 Tinggi 4 20 keatas Sangat Tinggi  Setelah dilakukan survei kepadatan dilakukan analisis hasil serta rekomendasi, apabila kepadatan tinggi atau sangat tinggi maka dilakukan tindakan pengendalian.A.2 Pelaksanaan Survei Kepadatan Lalat Di Kapal  Pengamatan/surveilans : yaitu untuk mengetahui keberadaan lalat di kapal dilakukan dengan melihat secara visual adanya lalat hidup.  Pengamatan/pemeriksaan keberadaan lalat di kapal dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemeriksaan sanitasi kapal dan pemeriksaan kapal dalam rangka penerbitan SSCC.  Apabila ditemukan kehidupan lalat di atas kapal/pesawat direkomendasikan untuk dilakukan tindakan Disinseksi. 18
  • B. PemberantasanB.1 Pemberantasan Dengan Peran Serta Masyarakat Melalui Perbaikan Lingkungan  Petugas KKP melakukan pendekatan kepada pengelola Pelabuhan/Bandara agar sampah ditangani secara saniter.  Masyarakat Pelabuhan/Bandara disarankan untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).  Apabila menemukan kondisi yang kurang sesuai (tempat sampah tidak tertutup, banyak tumpukan sampah, sampah berserakan), petugas KKP membuat surat teguran kepada pengelola Pelabuhan/Bandara dengan tembusan kepada Administrator Pelabuhan/Bandara.B.2 Pelaksanaan Penyemprotan Dengan Efek Knock Down  Tentukan lokasi pemberantasan.  Petugas penyemprot memakai pakaian kerja dan APD (helmet. kacamata safety, sarung tangan dan sepatu safety).  Periksa mesin Mist blower/Spray can untuk memastikan dalam keadaan baik.  Campurkan insektisida dengan pelarut di dalam ember sesuai dosis aplikasi (perhatikan petunjuk dalam label insektisida).  Masukkan larutan ke dalam tangki.  Lakukan penyemprotan pada tempat-tempat potensial lalat (kontainer sampah, Tempat Penjualan Makanan).  Bersihkan tangki setiap selesai melakukan kegiatan.B.3 Larvisidasi  Persiapkan Mist blower dan periksa untuk memastikan berfungsi dengan baik.  Kenakan pakaian kerja (helmet, kacamata, pakaian kerja, sepatu boot, masker dan sarung tangan).  Larutkan larvisida sesuai dengan dosis aplikasi (perhatikan petunjuk penggunaan).  Tuangkan larvisida yang telah diaduk sempurna ke dalam tangki Mist blower.  Lakukan penyemprotan pada tempat-tempat potensial perindukan lalat seperti sampah, sisa makanan dan kotoran lain.  Selesai melakukan pemberantasan, alat dibersihkan.B.4 Pelaksanaan Penyemprotan Dengan Efek Knock Down Di Kapal  Intervensi/kegiatan pemberantasan lalat di kapal dilakukan melalui kegiatan disinseksi kapal (lihat SOP Disinseksi). 19
  • III. JEJARING KERJA Jejaring kerja kegiatan adalah:  Administrator Pelabuhan/Administrator Bandara.  Pelindo/Angkasa Pura.  Instistusi Pemerintah yang ada di lingkungan Pelabuhan/Bandara.  Institusi Swasta yang ada di lingkungan Pelabuhan/Bandara.  Tempat Pengolahan Makanan restoran/rumah makan/ jasa boga/makanan jajanan).  Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.IV. PELAPORAN Selesai melakukan kegiatan dibuat laporan dengan mengikuti kaidah epidemiologi. Bentuk Laporan : a. Laporan Kegiatan b. Laporan Bulanan c. Laporan Tahunan 20
  • Formulir Survei Kepadatan Lalat Kantor Kesehatan Pelabuhan ...............................Lokasi :Tanggal :Jam : No Tempat Jumlah Lalat Pada Interval Pemasangan Jumlah Pemasangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Fly GrillTemperatur :Kelembaban : ................, ........................ 20 ..... Petugas, ( ................................. ) 21
  • ALGORITMA PENGENDALIAN LALAT DI PELABUHAN/BANDARA PERSIAPAN : PELAKSANAAN : SURVEI KEPADATAN1. Peralatan 1. Pemetaan LALAT2. Bahan 2. Jadwal 3. Penetapan lokasi KEPADATAN RENDAH KEPADATAN TINGGI (<6) (>6) PEMBERANTASAN LAPORAN 22
  • PENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGENDALIAN KECOA Prof.dr.Tjandra Yoga No. Dokumen : 02.004.2009 Hal : 23 dari 121 Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM&H, DTCEI. PERSIAPAN A. Sumber Daya Manusia Syarat:  Fungsional Sanitarian, Entomolog. B. Sarana Dan Prasarana B.1 Sarana dan Prasarana Pengamatan Peralatan  Senter  Aerosol Attractant Bahan  ATK  Formulir B.2 Sarana dan Prasarana Pemberantasan Peralatan  Mobil  Mist blower/Spray can/ULV Portable/Thermal Fog  Hand spray  Ember  Pengaduk  Pakaian kerja  Alat Pelindung Diri (masker, helmet, kacamata, sarung tangan) Bahan  Insektisida - Hidrokarbon berkhlor, 5% khlordane, dieldrin, heptachlor, lindane. - Organofosfat : 2%diazinon, dikhlorvos, 5% malathion, ronnel.  Pelarut 23
  • II. LANGKAH – LANGKAH PELAKSANAAN A. Pengamatan A.1 Pelaksanaan Survei Kepadatan Kecoa Di Pelabuhan  Lakukan pemetaan untuk menentukan tempat perindukan potensial.  Lakukan pengamatan dengan cara melihat tanda-tanda keberadaan kecoa seperti: keberadaan telur, kotoran, kecoa mati atau kecoa hidup.  Pada tempat-tempat persembunyian yang agak sulit disemprotkan aerosol dan atau attractant, agar kecoa yang bersembunyi keluar.  Survei disarankan pada malam hari.  Hitung jumlah dan jenis tanda-tanda kecoa yang ditemukan.  Interpretasi hasil pemeriksaan sebagai berikut : Kategori B.Germanica P.Branca B.Orientalis P.Americana Rendah 0-5 0-3 0-1 0-1 Sedang 6-20 4-10 2-10 2-10 Tinggi/ 21-100 11-50 11-25 11-25 padat Sangat 100 + 50 + 25 + 25 + Tinggi  Interpretasi hasil : o Rendah : Tidak menjadi masalah. o Sedang : Perlu pengamanan tempat perkembangbiakan. o Tinggi/ padat : Perlu pengamanan tempat perkembangbiakan dan rencana pengendalian (lakukan Pest Control/Hapus Serangga). o Sangat tinggi : Perlu pengamanan tempat perkembangbiakan dan pengendalian. A.2 Pelaksanaan Survei Kepadatan Kecoa Di Kapal  Pengamatan/surveilans : yaitu untuk mengetahui keberadaan/kepadatan populasi kecoa di kapal dilakukan dengan melihat secara visual tanda- tanda sebagai berikut : terdapat kotoran dan kapsul telur (ootheca) kecoa dan terdapat kecoa dewasa (mati/hidup) diseluruh ruangan/badan kapal.  Untuk di tempat-tempat persembunyian yang agak sulit disemprotkan aerosol dan atau attractant agar kecoa yang bersembunyi keluar. 24
  •  Hitung jumlah dan jenis tanda-tanda kecoa yang ditemukan.  Interpretasi hasil pemeriksaan, lihat interpretasi pengamatan di Pelabuhan (di atas).  Pengamatan/pemeriksaan keberadaan kecoa di kapal dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemeriksaan sanitasi kapal dan pemeriksaan kapal dalam rangka penerbitan SSCC.B. Pemberantasan B.1 Pemberantasan Dengan Peran Serta Masyarakat Melalui Perbaikan Lingkungan  Petugas KKP melakukan pendekatan kepada pengelola Pelabuhan/Bandara/pemilik kapal agar menjaga kebersihan lingkungan.  Masyarakat Pelabuhan/Bandara/awak kapal/crew dihimbau untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).  Apabila menemukan kondisi yang kurang sesuai (tempat sampah tidak tertutup, banyak tumpukan sampah, sampah berserakan, penyimpanan makanan tidak saniter, kamar mandi/toilet/WC tidak bersih), petugas KKP membuat surat teguran kepada Pengelola Pelabuhan/Bandara/pemilik kapal dengan tembusan kepada Administrator Pelabuhan/Bandara.B.1 Pelaksanaan Penyemprotan Dengan Efek Knock Down Di Pelabuhan/Bandara  Persiapkan alat penyemprot dan periksa untuk memastikan berfungsi dengan baik.  Kenakan pakaian kerja (helmet, kacamata, pakaian kerja, sepatu boot, masker dan sarung tangan).  Larutkan insektisida sesuai dosis aplikasi (perhatikan petunjukpenggunaan).  Tuangkan insektisida yang telah diaduk sempurna ke dalam tangki alat penyemprot.  Lakukan penyemprotan pada tempat-tempat potensial perindukan kecoa seperti sampah, sisa makanan, kotoran lain, celah dinding bangunan bagian dalam, tempat pengolahan makanan, WC/kamar mandi, got/ saluran air tertutup, septic tank).  Selesai melakukan pemberantasan, alat dibersihkan.B.2 Pelaksanaan Penyemprotan Dengan Efek Knock Down Di Kapal  Intervensi/kegiatan pemberantasan kecoa di kapal dilakukan melalui kegiatan disinseksi kapal (lihat SOP Disinseksi). 25
  • III. JEJARING KERJA Jejaring kerja kegiatan adalah:  Administrator Pelabuhan/Administrator Bandara.  Pelindo/Angkasa Pura.  Perusahaan Pelayaran/Air Lines.  Institusi Pemerintah yang ada di lingkungan Pelabuhan/Bandara.  Institusi Swasta yang ada di lingkungan Pelabuhan/Bandara.  Tempat Pengolahan Makanan (restoran/rumah makan/jasa boga/makanan jajanan).IV. PELAPORAN Selesai melakukan kegiatan dibuat laporan dengan mengikuti kaidah epidemiologi. Bentuk Laporan : a. Laporan Kegiatan b. Laporan Bulanan c. Laporan Tahunan 26
  • ALGORITMA PENGENDALIAN KECOA DI PELABUHAN/BANDARA PERSIAPAN PELAKSANAAN1. Tim Survey 1. Pemetaan2. Alat & Bahan 2. Jadual kerja Survey kecoa dg Form3. Kendaraan 3. Sampling Pemeriksaan lokasi Kepadatan kecoa Rendah Tinggi Pemberantasan Kecoa (Pemercikan) Laporan 27
  • PENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGENDALIAN TIKUS DAN PINJAL Prof.dr.Tjandra Yoga No. Dokumen : 02.005.2009 Hal : 28 dari 121 Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM&H, DTCEI. PERSIAPAN A. Sumber Daya Manusia Syarat :  Fungsional Sanitarian, Entomolog. Penunjang :  Kader yang sudah dilatih  Pengemudi/sopir yang memiliki SIM A B. Sarana Dan Prasarana Peralatan  Kendaraan roda 4  Kendaraan roda 2  Perangkap  Kantong  Baskom  Sisir  Timbangan  Mikroskop  Object Glass  Petridish  Penyedot pinjal  Tabung gelas  Botol-botol vial untuk parasit lain  Penggaris  Kapas  Kunci Identifikasi  Baju  Sarung tangan  Masker  Kaca slide  Cover glass  Tanda-tanda peringatan pemasangan racun  Formulir dan ATK 28
  • Bahan  Chloroform  Umpan  Racun tikus  Alkohol  Lysol/sabunII. LANGKAH – LANGKAH PELAKSANAAN 2.1. Di Pelabuhan/Bandara A. Pemetaan  Pemetaan daerah yang menjadi lokasi pengawasan/pemberantasan.  Membagi daerah pengawasan untuk memudahkan pengawasan/pemberantasan secara intensif (bagi KKP dengan daerah yang luas).  Bagi KKP dengan daerah tidak terlalu luas, tidak perlu membuat pembagian daerah pengawasan.  Peta yang dibuat memuat situasi gudang, gedung dan bangunan lain yang ada di Pelabuhan/Bandara, tempat sampah, tempat pengolahan makanan, saluran air, tempat penumpukan barang dan lokasi penumpukan barang di area terbuka. B. Pengamatan, Pemberantasan Tikus Dan Pinjal B.1 Pengamatan Tikus Dan Pinjal  Siapkan perangkap yang telah diberi umpan: kelapa bakar, ikan asin, buah (usahakan diganti setiap pemasangan selama 5 hari berturut- turut).  Pemasangan perangkap pada sore hari, terutama di gudang-gudang yang dilakukan setiap 40 hari selama 5 hari berturut-turut yang dapat mencakup seluruh area pelabuhan. Untuk Pelabuhan besar dapat dibagi menjadi 2-4 bagian sesuai dengan keadaan masing-masing bagian, yang dikerjakan dalam 5 hari berturut-turut dan dapat diselesaikan dalam jangka waktu 1 bulan. - Jumlah perangkap yang dipasang antara 100-300 buah/hari (sesuai dengan kebutuhan). Pada setiap kegiatan jumlah perangkap yang dipasang minimal 100 buah dan maksimal 300 buah perangkap tergantung luas area. - Tiap jarak 10 m dipasang 1 perangkap. - Pasangkan umpan pada seluruh perangkap yang akan dipasang.  Perangkap diambil keesokan harinya sebelum aktivitas mulai ramai (pagi hari).  Catat jumlah perangkap yang hilang.  Pisahkan perangkap yang berisi tikus dan dimasukkan ke dalam karung kain dan diberi label. - Lakukan identifikasi tikus dan pinjal. - Perangkap yang berisi tikus dan telah kosong harus dicuci dan dikeringkan sebelum digunakan kembali. 29
  • - Seluruh umpan harus diganti setiap hari.  Menghitung kepadatan tikus = Tikus tertangkap Jumlah perangkap yang dipasangB.2 Identifikasi Tikus Dan Pinjal  Tikus yang sudah diberi tanda/label lalu dibunuh (secara mekanik atau menggunakan kapas yang telah diberi chloroform dan dimasukkan dalam karung, kemudian ditunggu beberapa menit sampai tikus tidak bergerak lagi).  Lakukan penyisiran pada tikus menggunakan sisir khusus untuk kutu, agar mudah mendapatkan ectoparasite (pinjal, fieks, chingger).  Melakukan identifikasi tikus untuk mengetahui spesiesnya (panjang tikus keseluruhan, panjang ekor, panjang kaki, panjang telinga, menghitung jumlah mamae, mengukur besar testis dan menimbang berat tikus) dan kewaspadaan terhadap adanya kasus import.  Menghitung jumlah pinjal dan tentukan Indeks Pinjal (bila indeks pinjal lebih dari 1, lakukan pemberantasan).  Menentukan species pinjal guna pemeriksaan jenis pinjal untuk mengetahui apakah ada pinjal import dari negara lain yang terbawa oleh kapal.  Indeks Pinjal (Flea Indeks) dihitung dengan rumus:  .B.3 Peracunan Tikus  Petugas KKP membuat surat pemberitahuan kepada Adpel/Adbandara/ Pengelola Pelabuhan/Bandara tentang rencana pelaksanaan peracunan tikus di Pelabuhan/Bandara.  Tentukan lokasi peracunan dan buatkan peta lokasi.  Racik rodentisida dengan umpan sesuai dosis aplikasi yang diperkenankan (lihat brosur petunjuk pelaksanaan).  Pasang/letakkan racun tikus pada lokasi yang telah ditentukan.  Atur jarak lokasi antar umpan racun.  Pasang tanda bahaya bahan beracun pada tempat/lokasi peracunan.  Lakukan pengamatan setiap hari untuk melihat tikus yang mati.  Kumpulkan tikus yang mati, identifikasi kemudian kuburkan.  Catat jumlah, waktu, lokasi dan jenis tikus yang mati.2.2. Di KapalA. Pemeriksaan Kehidupan Tikus Untuk menyimpulkan ada tidaknya kehidupan tikus di kapal dilakukan pemeriksaan tanda-tanda kehidupan tikus di atas kapal: 30
  •  Pemeriksaan tanda-tanda kehidupan tikus di atas kapal dilakukan pada saat melakukan perpanjangan SSCC/SSCEC atau pemeriksaan dilakukan pada saat kedatangan kapal dari daerah terjangkit/luar negeri.  Pemeriksaan dimulai dari Anjungan Kapal, Kamar Perwira Kapal, Dapur, Pantry, Ruang Makan, Gudang dan Ruang Mesin.  Pemeriksaan dilakukan dengan cara melihat tanda-tanda kehidupan tikus, yaitu adanya: bau tikus, sarang, bekas kencing, kotoran, bekas makanan, bangkai, bekas gigitannya, bekas jalan dan bekas telapak kaki.  Apabila ditemukan tanda-tanda seperti yang telah disebutkan diatas, maka direkomendasikan untuk dilakukan tindakan Derattisasi yang pelaksanaannya oleh Badan Usaha Swasta (BUS) dengan pengawasan dari petugas KKP. B. Pengawasan Tindakan Pencegahan Tikus Di Kapal  Anjurkan kepada awak kapal untuk : - Pasang rat guard secara benar pada tali kapal. - Angkat tangga setinggi 60 cm dari dermaga. - Nyalakan lampu pada malam hari di tangga kapal. - Hindarkan kapal sandar berdampingan. C. Pengawasan Tindakan Derattisasi  Petugas yang melakukan pengawasan Derattisasi harus memiliki Sertifikat Pelatihan Fumigasi.  Petugas yang melakukan pengawasan Derattisasi harus mendapat Surat Perintah Kerja dari Ka. KKP  Pelaksanaan pengawasan tindakan Derattisasi melihat Standar Operasional Prosedur Tindakan Penyehatan Alat Angkut, Orang dan Barang (SOP Fumigasi/Derattisasi).III. JEJARING KERJA Jejaring kerja kegiatan pengawasan Aedes aegypti adalah:  Administrator Pelabuhan/Administrator Bandara.  Pelindo/Angkasa Pura.  Instistusi Pemerintah yang ada di lingkungan Pelabuhan/Bandara.  Institusi Swasta yang ada di lingkungan Pelabuhan/Bandara.  Perusahaan Pelayaran/Air Lines.  Badan Usaha Swasta (BUS).  Pemilik Gudang. 31
  • IV. PELAPORAN Selesai melakukan kegiatan dibuat laporan dengan mengikuti kaidah epidemiologi. Bentuk Laporan : a. Laporan Kegiatan b. Laporan Bulanan c. Laporan Tahunan 32
  • ALGORITMA PENGENDALIAN TIKUS DAN PINJAL DI PELABUHAN/BANDARA PERSIAPAN: PELAKSANAAN:1. Perangkap 1. Pemetaan2. Umpan 2. Jadual kerja IDENTIFIKASI3. Kendaraan 3. Pemasangan4. Tenaga perangkap TIKUS PINJAL SUKSES TRAP INDEK PINJAL =1 >1 PEMBERANTASAN EVALUASI TINDAK LANJUT LAPORAN 33
  • PENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGAWASAN PENYEDIAAN AIR BERSIH Prof.dr.Tjandra Yoga No. Dokumen : 02.006.2009 Hal : 34 dari 121 Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM&H, DTCEI. PERSIAPAN A. Sumber Daya Manusia Syarat :  Fungsional Sanitarian yang telah mendapat Pelatihan Penyehatan Air. Penunjang :  Pengemudi/sopir yang memiliki SIM A. B. Sarana Dan Prasarana B.1.Peralatan  Water Test Kit  Peralatan pengambilan sampel bakteriologis: (botol sample, inkubator, bunsen, label dan cool box)  Peralatan pengambilan sampel kimiawi: (jerigen dan label)  Peralatan pemeriksaan mikrobiologi portable  Comparator  Kendaraan operasional  Tas lapangan  Formulir  ATK (spidol)  Kertas label  Surat tugas  Formulir  Thermos sampel/cool box B.2. Bahan  Reagen  Alkohol C. Pemetaan Membuat peta/denah situasi sistem penyediaan dan distribusi air di Pelabuhan, meliputi:  Lokasi dan luas dari sistem distribusi air di Pelabuhan beserta komponen-komponennya.  Lokasi dan tipe dari check valve atau alat pencegah aliran balik.  Lokasi dan tipe hidran, termasuk keterangan tentang perlindungan outlet (kran) dan tangki bak penampung. 34
  •  Daerah-daerah rawan dimana mudah terjadi pencemaran/kontaminasi.  Keterangan-keterangan lain yang dianggap perlu.  Faktor risiko perkembangbiakan vektor sarana penyediaan air bersih. D.Jadwal Kerja  Tentukan waktu dan tempat pengambilan contoh air untuk keperluan pemeriksaan.  Waktu pengawasan komponen-komponen sistem penyediaan dan distribusi air secara keseluruhan.II. LANGKAH – LANGKAH PELAKSANAAN A. Pengawasan Penyediaan Air Bersih Di Pelabuhan/Bandara A.1 Pengamatan Lapangan/Inspeksi Sanitasi Dilakukan terhadap seluruh jenis sarana penyediaan air bersih mulai dari sumber, distribusi hingga ke konsumen meliputi:  Kondisi.  Pemeliharaan.  Perbaikan (bila tidak memenuhi standar).  Pengawasan dan penyuluhan tentang cara-cara supplai air minum yang hygienis dan sanitair.  Hasil inspeksi sanitasi dicatat dalam formulir isian. Pengawasan Sarana Penyediaan Air Bersih Meliputi : (1). Storage Tank - Tangki persediaan air minum dapat berupa bak di bawah tanah atau menara air. - Harus terlindung sehingga tidak kemasukan kotoran, burung, serangga, sinar matahari langsung dan lain-lain sebagainya. - Tiap 6 (enam) bulan sekali tangki harus dikuras/dibersihkan, kemudian seluruh dinding bagian dalam dilabur dengan larutan semen kental setelah kering, tangki didisinfeksi dengan chlorinasi, dengan: o Larutan kaporit 50 mg/lt selama 24 jam, atau o Larutan kaporit 100 mg/lt selama 1 jam. - Setelah itu tangki dibilas dengan air bersih, dan dapat dipergunakan lagi. (2). Hidran - Pemasangan hidran yang ideal ialah setinggi 45 cm dari pelataran dermaga. Jika terpaksa harus dibuat dalam lubang berukuran ½ x ½ x ½ m3 rata dengan dermaga, lubang tersebut dilengkapi dengan lubang pembuang air (drainase) di dasarnya dan diberi tutup yang kuat dari logam atau gewapend beton. - Keadaan hydran, lubang dan tutup harus selalu bersih. - Usahakan agar tidak terjadi back-syphonage (air dari kapal kembali masuk ke pipa saluran di pelabuhan melalui hidran). 35
  • - Usahakan agar tidak terjadi cross-connection, bila terdapat 2 (dua) sistem saluran air atau dual sistem (misalnya air minum dan bukan air minum). - Pipa-pipa yang dipakai untuk menghubungkan hidran dengan kapal, tongkang/perahu dan lain-lain harus selalu bersih dan tidak bocor, terutama bagian dalamnya. - Pipa-pipa demikian seharusnya disimpan secara hygienis di dalam lemari/tempat khusus dekat hidran. Cara Membersihkan Pipa Penghubung Hidran Dengan Kapal Meliputi : o Bersihkan/cuci bagian dalam pipa dengan air bersih (potable water), lalu keringkan. o Tinggikan kedua ujung pipa, masukkan larutan kaporit 100 ppm hingga penuh dan biarkanlah selama 1 jam kemudian buang larutan kaporit dari pipa. o Pipa dibilas dengan air bersih. Perlu diperhatikan kebiasaan jelek dari sebagian karyawan Pelabuhan yaitu mempergunakan lubang tempat hidran sebagai tempat menampung air untuk mandi, mencuci dan lain-lain dengan cara menyumbat drain dan membuka kran dengan paksa. Hal tersebut harus dilarang dan juga meletakkan pipa-pipa air secara sembarangan harus dihindarkan. (3). Tongkang Air/Mobil Air, Bak/Tong Air - Disini risiko polusi/kontaminasi lebih besar karena air dari dermaga dimasukkan lebih dulu ke tongkang mobil air, bak/tong air dan setelah itu baru diangkat/disalurkan ke kapal. - Pengawasannya sama dengan pengawasan pada storage maupun hidran. - Perhatikan cara penyaluran air tersebut harus sanitair hygienis. - Perlu penyuluhan dan pengawasan tentang sanitary water handling practices. - Dilarang mandi, mencuci dan lain-lain di atas tangki dengan menimba air melalui manhole. - Pipa-pipa penghubung yang digunakan harus bersih. (4). Mobil Air, Bak/Tong Air. - Pengawasannya sama dengan pengawasan pada storage maupun hidran.A.2 Pengawasan Kualitas Air Pelaksanaan : a). Cara Pengambilan Contoh Air Untuk Pemeriksaan Bakteriologi (1). Kran atau Hidran - Air dialirkan 2-3 menit (agar air yang ditampung betul-betul berasal dari dalam distribusi) kemudian kran/hidran ditutup lagi. - Kran/hidran dihapus hamakan dengan nyala api (terutama mulut kran/hidran) sampai keluar uap air. 36
  • - Buka kran/hidran agar air panas mengalir keluar semuanya (kira-kira 2 menit). - Buka tutup botol sampel dan tampung air ke dalamnya sebatas leher botol (minimal 100 cc), lalu mulut botol diflambir dan ditutup lagi (botol sampel harus steril). - Selama pengisian harus dijaga agar tidak ada kontaminasi, mulut botol serta tutupnya jangan sampai tersentuh tangan, kran/hidran. - Botol diberi label (nomor, tanggal, jam pengambilan, lokasi pengambilan dan nama pengambil). - Bila pemeriksaan air secara bakteriologis dengan system membrane filter, tata cara pengambilan dan pemeriksaan mengikuti petunjuk pada brosur alat tersebut.(2). Perahu/Tongkang Air dan Mobil/Tangki Air - Pengambilan sampel dilakukan melalui lubang utama (main hole) pada perahu/tongkang air dan mobil/tangki air. - Botol, tutup botol, tali pemberat serta kertas pelindung semuanya steril. - Botol dipegang dengan tangan kiri, buka kertas pembungkus dan pegang ujung talinya. - Tutup botol dibuka kemudian botol diflambir. - Botol perlahan-lahan dimasukkan ke dalam air pada tongkang air mobil/tangki air sampai pada kedalaman + 10 cm. - Botol diangkat ke atas dan isinya sebagian dikeluarkan/dikurangi sehingga tinggal 100 cc. - Mulut dan tutup botol diflambir. - Botol diberi label (nomor, tanggal, jam pengambilan, lokasi pengambilan dan nama pengambil). Keterangan: 1). Cara Pengambilan Sampel Air Untuk Pemeriksaan Bakteriologis. o Botol sampel biasanya terbuat dari gelas pyrex dan harus disterilkan (bila air yang telah mengalami pengolahan dan diberi chlor maka botol sampel diberi Na-Thiosulfat untuk menetralisir chlor). o Untuk pemeriksaan bakteriologis sampel yang diambil 100- 200 cc atau lebih. o Untuk pengambilan contoh air dari tempat-tempat yang dalam (tangki, sumur, sungai) digunakan botol yang ada pemberatnya dan diberi tali logam. o Seluruh botol (plus pemberat dan talinya) disterilisir dalam keadaan terbungkus rapat. 2). Cara Pengambilan Sampel Dari Tangki Air Melalui Main Hole. o Digunakan botol yang bertali. o Dengan hanya memegang pembungkus dan ujung tali, tutup botol dibuka, dicelupkan ke dalam air di dalam tangki. 37
  • o Setelah penuh, ditutup kembali dengan diflambir terlebih dahulu. o Tali dan botol jangan sampai menyentuh tepi lubang main- hole atau dinding tangki untuk mencegah kontaminasi. o Botol berisi contoh air diberi label yang jelas tentang:  Sampling poin (titik/lokasi pengambilan sampel).  Waktu pengambilan sampel.  Nama pengambil sampel.  Nama sampel. o Kemudian botol sampel secepatnya dikirimkan ke laboratorium. o Pemeriksaan harus dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam. Bila belum dapat segera dikirimkan atau laboratorium jauh letaknya, dapat disimpan terlebih dahulu di lemari es/diangkut dalam thermos es untuk mencegah berkembangbiaknya kuman-kuman yang mungkin ada. Hasil Pemeriksaan Bakteriologis Dan Tindakan-Tindakan Follow-up - Hasil pemeriksaan bakteriologis dinyatakan dalam satuan jumlah kuman/100 ml air, dengan standar Escheria coli/100 ml air sampel harus 0 (nol). - Apabila sampel air diambil dari sistem distribusi maka standar yang digunakan tidak hanya E. coli tetapi juga Total Bakteri Coliform/100ml air sample, harus maksimum 10 (sepuluh) untuk pipa dan maksimum 50 (lima puluh) untuk non pipa. - Sampel air yang mengandung E. coli menunjukkan bahwa air tersebut telah tercemar faeces. - Bila hasil pemeriksaan air yang telah didisinfeksi menunjukkan adanya kuman coliform, berarti bahwa proses purifikasi kurang baik atau cara pengambilan contoh air yang salah. Hendaknya pengambilan sampel diulangi. - Air dapat mengalami pencemaran dari luar karena adanya:  Kebocoran  Cross connection dengan sistem bukan air minum.  Back syphonage pada kran atau hidran.b). Cara Pengambilan Contoh Air Uuntuk Pemeriksaan Kimiawi(1). Kran/Hidran - Jerigen sampel dibilas dengan air sampel sebanyak 3 (tiga) kali. - Air dialirkan ke dalam jerigen sebanyak 5 (lima) liter. - Jerigen diberi label (nomor, tanggal, jam pengambilan, lokasi pengambilan dan nama pengambil). 38
  • (2). Perahu/Tongkang Air dan Mobil/Tangki Air - Pengambilan sampel dilakukan melalui lubang utama (main hole) pada perahu/ tongkang air dan mobil/tangki air. - Jerigen sampel dibilas dengan air sampel sebanyak 3 (tiga) kali. - Air dialirkan ke dalam jerigen sebanyak 5 (lima) liter. - Jerigen diberi label (nomor, tanggal, jam pengambilan, lokasi pengambilan dan nama pengambil). - Bila pengiriman sampel melebihi 24 jam, sampel air diberi pengawet natrium thiosulfat. Dalam keadaan tertentu pengambilan contoh air lebih sering, misalnya: ada wabah water-borne disease, polusi, kebocoran/perbaikan pada sistem distribusi air. Jumlah Minimal Sampel Air Minum Pada Jaringan Distribusi Penduduk Yang Dilayani Jumlah Minimal Sampel per Bulan < 5000 jiwa 1 sampel 5000 s/d 100.000 jiwa 1 sampel per 5000 jiwa > 100.000 jiwa 1 sampel per 10.000 jiwa, ditambah 10 sampel tambahan.Pengawasan Terhadap Kadar Chlor- Pengertian chlorinasi : Chlor sering digunakan sebagai desinfektan. Sisa chlor (residual chlor) dalam air yang didisinfeksi sedikit banyak dapat melindungi air dalam pipa-pipa saluran terhadap kontaminasi lebih lanjut.- Pemeriksaan kadar sisa chlor (bebas maupun terikat) : Dapat dilakukan di lapangan sebagai pendukung pemeriksaan bakteriologis, dilaksanakan pada waktu pengambilan contoh air di sampling point. Pemeriksaan dilakukan dengan komparator, melalui cara:  OT (orthotolidin method)  OTA (acid orthotolidin method)  DPD (diethyl-phenylene-diamine method)- Kadar sisa chlor pada sistem distribusi di pelabuhan tidak boleh kurang dari 0,2 ppm (bila digunakan chlor sebagai desinfektan). 39
  • - Bila hasil pemeriksaan ternyata kurang dari 0,2 ppm maka chlorinasi belum sempurna dan KKP harus memberi nasehat/ saran-saran untuk perbaikan. A.3 Pemeriksaan Kualitas Air  Sampel yang akan diperiksa diberi kode sampel.  Untuk sampel mikrobiologi, sampel diperlakukan secara aseptis.  Periksa sampel sesuai parameter yang akan diperiksa.  Prosedur pemeriksaan sampel mengikuti petunjuk pemeriksaan sesuai parameter yang akan diperiksa.  Cara pemeriksaan untuk setiap parameter ikuti petunjuk pada alat/bahan yang dipakai dan prosedur pemeriksaan yang baku di laboratorium.  Analisis hasil pemeriksaan dan berikan saran tindak lanjut.  Sampaikan hasil pemeriksaan dan saran tindak lanjut ke pemilik/pengelola.  Bila di KKP tidak tersedia sumber daya untuk pemeriksaan kualitas air, dapat merujuk ke BTKL-PPM atau Laboratorium Kesehatan (Labkes). B. Pemeriksaan Air Bersih Di Kapal Dan Penerbitan Sertifikat  Pemeriksaan kualitas air bersih di atas kapal dilakukan pada saat pemeriksaan sanitasi kapal dalam rangka penerbitan SSCC/SSCEC dan atau pada saat pemeriksaan sanitasi kapal saat kedatangan kapal dari luar negeri/daerah terjangkit.  Pemeriksaan dilakukan dengan melakukan analisis secara fisik dan kimia terhadap persediaan air bersih di kapal.  Pemeriksaan secara fisik dilakukan dengan cara mengambil sampel air pada sumber air (misal: gelas), selanjutnya periksa apakah berwarna, berbau dan berasa.  Lakukan pemeriksaan secara kimiawi dengan Water Test Kit untuk melihat kadar: Sisa Chlor, pH, Fe, Mn, Cu, Nitrat, Nitrit.  Analisis hasilnya, apabila ada ketidak sesuaian informasikan berikut rekomendasinya kepada Nakhoda secara tertulis.  Terbitkan sertifikat air bersih dan tagih biaya PNBP.  Apabila pemeriksaan dalam rangka penerbitan SSCC/SSCEC, tulis hasil pemeriksaan pada Form yang tersedia.  Apabila pemeriksaan dilakukan dalam rangka pemeriksaan kedatangan kapal, buat laporan hasil pemeriksaan dan dilaporkan kepada Kabid/Kasi PRL.III. JEJARING KERJA 1. Kantor Kesehatan Pelabuhan 2. Administrator Pelabuhan/Adminitrator Bandara 3. Perusahaan Pelayaran 4. Perusahaan tongkang penyuplai air ke kapal 5. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota 6. Balai Laboratorium/BBTKL-P2M 40
  • 7. PDAM setempat 8. Pelindo/Pengusahaan Pelabuhan lainnyaIV. PELAPORAN Mekanisme pelaporan di KKP adalah sebagai berikut :  Data dari penanggung jawab kegiatan dilaporkan ke Kepala Bidang/Kepala Seksi, sedangkan untuk Wilker dilaporkan ke KKP Induk melalui koordinator pelaporan di masing-masing seksi di KKP Induk.  Dari KKP Induk dilaporkan Ke Ditjen PP & PL melalui Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Pelabuhan Cq. Ka.Sub.Dit. Karkes.  Data yang sifatnya KLB di laporkan 1 x 24 Jam.  Untuk mekanisme evaluasi dilakukan secara berjenjang, artinya wilayah kerja dievaluasi oleh KKP Induk sedangkan KKP Induk disamping melakukan evaluasi di masing-masing bidang/seksi juga dievaluasi oleh Ditjen PP & PL.  Hasil pemeriksaan ditindaklanjuti dengan menginformasikan hasil pengawasan kepada pengelola dan tembusan Administrator Pelabuhan/Administrator Bandara serta Pemerintah Daerah/Ka.Dinkes setempat.  Bila hasil pemeriksaan tidak baik, surat pemberitahuan yang disampaikan selain informasi juga langkah-langkah penanggulangan. 41
  • ALGORITMA PENGAWASAN PENYEDIAAN AIR BERSIH DI PELABUHAN/BANDARA KETENTUAN: 1. Pemeriksaan rutin 2. Kasus PHEIC PERSIAPAN: 1. SPK 2. Alat/Bahan 3. Petugas/SDM PELAKSANAAN PENGAWASAN SARANA: PENGAWASAN AIR BERSIH: - Inspeksi Sanitasi - Pengambilan & Pemeriksaan Sampel Air (Fisika,Kimia & Bakteriologi)Tingkat Resiko Pencemaran Tingkat Resiko Pencemaran RENDAH TINGGI TIDAK BAIK BAIK Pembinaan guna perbaikan Pembinaan intensif sarana PAB yang kurang perbaikan kualitas Air baik TINDAK LANJUT 42 LAPORAN
  • ALGORITMA PENGAWASAN AIR BERSIH DI KAPALDALAM RANGKA SERTIFIKASI AIR BERSIH ALAT ANGKUT PERSIAPAN: - Alat & Bahan Pengambilan dan Pemeriksaan Air bersih secara Fisik & Kimia Terbatas Analisis Hasil Pemeriksaan Hasil Baik Hasil Tidak Baik Saran Perbaikan Sertifikat Air Bersih Atau Tindakan Penyehatan 43
  • PENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR HYGIENE SANITASI TEMPAT PENGOLAHAN MAKANAN / TPM ( JASABOGA, Prof.dr.Tjandra Yoga R. MAKAN/RESTORAN ,MAKANAN JAJANAN ) Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM&H, DTCE No. Dokumen : 02.007.2009 Hal : 44 dari 121I. PERSIAPAN A. Sumber Daya Manusia Syarat :  Fungsional Sanitarian yang telah mendapat Pelatihan Penyehatan Makanan dan HACCP. B. Sarana Dan Prasarana B.1.Peralatan  Food Poison Detection/Food Security Kit  Water Test Kit  Mobil Sampling  Lux Meter  Plastik sampel  Penjapit makanan steril  Label  Cool box  CO meter  Thermos sampel  Bunsen  Formulir  Alat tulis  Sarung tangan  Buku register B.2. Bahan  Reagen  Alkohol  Kapas  Lidi steril  Carry blair  Surat Tugas  Buku Kesehatan Karyawan/Penjamah  Buku Pemeriksaan TPM C. Jadwal Kerja  Tentukan waktu dan tempat pengambilan contoh makanan/minuman untuk keperluan pemeriksaan.  Tentukan waktu inspeksi TPM. 44
  • D. Sasaran  Sasaran pemeriksaan meliputi semua jenis TPM yaitu rumah makan, restoran, jasaboga, makanan jajanan, lounge, kios makanan, warung, kafe, kantin dan TPM lainnya.II. LANGKAH – LANGKAH PELAKSANAAN A. Pendataan TPM a. Pendataan dilakukan oleh Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan dengan mengisi formulir pendataan . b. Petugas mengisi formulir secara baik dan benar dengan menyertakan tanda tangan. c. Formulir yang telah diisi diperiksa ulang dan semua data dicatat ke dalam Buku Register Pendataan. d. Formulir disimpan oleh petugas sebagai dokumen pendataan. B. Sertifikasi TPM  Pemilik TPM mengajukan surat permohonan kepada Kepala KKP.  Surat permohonan seperti dimaksud butir 1.a. di atas disertai lampiran sebagai berikut: 1) Fotocopy KTP pemohon yang masih berlaku. 2) Denah bangunan dapur. 3) Surat penunjukan penanggung jawab TPM. 4) Fotocopy ijazah/sertifikat tenaga sanitasi yang memiliki pengetahuan Hygiene Sanitasi Makanan. 5) Fotocopy sertifikat Kursus Hygiene Sanitasi Makanan bagi pengusaha. 6) Fotocopy sertifikat Kursus Hygiene Sanitasi Makanan bagi penjamah makanan minimal 1 (satu) orang penjamah makanan. 7) Rekomendasi dari Asosiasi TPM (bila ada).  Lakukan pemeriksaan sanitasi TPM menggunakan formulir pemeriksaan sesuai jenis TPM : o Untuk Rumah Makan/Restoran lihat (Kepmenkes Nomor 1098/Menkes/SK/ VII/2004. o Untuk Jasa Boga lihat (Kepmenkes Nomor 715/Menkes/SK/V/2003. o Untuk Makanan Jajanan dilakukan pendaftaran Sesuai Kepmenkes Nomor 942/Menkes/SK/VII/2003.  Lakukan penilaian terhadap nilai hasil pemeriksaan dan dituangkan dalam berita acara.  Batas laik hygiene sanitasi mengacu kepada: Kepmenkes 1098/Menkes/SK/ VII/2004, Kepmenkes Nomor: 715/Menkes/SK/V/2003, 942/Menkes/SK/VII/2003).  Lakukan pemeriksaan sampel makanan dan usap dubur penjamah makanan.  Analisis hasil pemeriksaan.  Pemberian sertifikat laik hygiene sanitasi TPM berdasarkan analisis hasil pemeriksaan dengan menggolongkan TPM berdasarkan skor hasil 45
  • pemeriksaan dengan mengacu kepada: Kepmenkes 1098/Menkes/SK/VII/2004, Kepmenkes Nomor: 715/Menkes/SK/V/2003).C. Audit TPM  Petugas KKP melakukan pemeriksaan lapangan dengan melakukan kunjungan ke TPM, dilakukan paling sedikit 2 (dua) kali dalam setahun disertai oleh Asosiasi TPM (bila ada).  Pemeriksaan fisik : formulir yang digunakan untuk pemeriksaan TPM adalah Formulir Pemeriksaan Kelaikan TPM.  Lakukan pengambilan sampel dan specimen terhadap jenis makanan yang dicurigai.  Pemeriksaan kesehatan penjamah makanan (pengambilan dan pemeriksaan sampel rectal swab terhadap penjamah makanan dilakukan setiap 6 bulan sekali).  Lakukan pengambilan, pengiriman dan pemeriksaan sampel dan specimen ke Laboratorium.  Pemeriksaan bakteriologis dan kimia terhadap sampel makanan, sampel usap alat dan sampel usap tangan di laboratorium .D. Pembinaan, Pengawasan Dan Penetapan Tingkat Mutu TPM  Petugas KKP melakukan pemeriksaan berkala terhadap TPM.  Hasil pemeriksaan disebarluaskan kepada masyarakat Pelabuhan dan Bandara.  Lakukan uji petik audit hygiene sanitasi sewaktu-waktu untuk menilai kondisi fisik, fasilitas dan lingkungan TPM, tingkat cemaran makanan dan atau dalam hal ada KLB/wabah dan keadaan yang membahayakan lainnya.  Bila hasil pemeriksaan tidak memenuhi syarat, lakukan pembinaan berupa saran -saran perbaikan, namun bila tidak diindahkan maka cabut Sertifikat Laik Hygiene Sanitasinya dan diusulkan untuk dicabut izin usahanya.  Bila terjadi Kejadian Luar Biasa penyakit (KLB) dan atau kematian yang bersumber dari TPM, lakukan penyelidikan dengan seksama bekerjasama dengan PPNS untuk proses verbal.  Untuk penilaian dan penetapan tingkat mutu TPM mengacu kepada Kepmenkes 1098/Menkes/SK/VII/2003 (khusus rumah makan dan restoran).E. Tata Cara Pengambilan dan Pemeriksaan Spesimen TPM  Petugas KKP mengambil sampel makanan dan specimen TPM yang terdiri dari sampel makanan, usap tangan, usap dubur dan usap alat masak dan sampel air.  Sampel makanan dan specimen dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan atau diperiksa sendiri di laboratoroium KKP bila memiliki sumber daya yang mampu untuk melakukan pemeriksaan.  Tata cara pemeriksaan sampel mengacu kepada jenis parameter yang akan diperiksa dan jenis alat/bahan yang dipakai. Ikuti petunjuk 46
  • pemeriksaan dalam label alat pemeriksaan atau pedoman yang baku di laboratorium.  Analisis hasil pemeriksaan dan tindak lanjut ke pemilik TPM. F. Kursus Penjamah Makanan Berdasarkan pada :  Lampiran II Kepmenkes RI No. 715/Menkes/SK/V/2003 tentang Persyaratan Hygiene Sanitasi Jasaboga  Lampiran II Kepmenkes 1098/Menkes/SK/VII/2003 tentang Persyaratan Hygiene Sanitasi Rumah Makan dan Restoran.  Lampiran II Kepmenkes Nomor: 715/Menkes/SK/V/ 2003,942/Menkes/SK/VII/2003 tentang Pedoman Persyaratan Hygiene Sanitasi Makanan Jajanan.III. JEJARING KERJA  Kantor Kesehatan Pelabuhan.  Administrator Pelabuhan/Adminitrator Bandara.  Pengusaha TPM.  Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota  Balai Laboratorium/ BBTKL-P2M  Pelindo/Pengusahaan Pelabuhan lainnya.IV. PELAPORAN 4.1. Pencatatan 1) Pengusaha, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) dan Asosiasi TPM  Pengusaha/penanggung jawab dan Asosiasi TPM setempat berkewajiban melaporkan kepada Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan setempat bilamana diduga terjadi keracunan makanan. Laporan disampaikan kepada petugas Kesehatan Pelabuhan dengan mengisi formulir JB.4.  Pelanggaran terhadap ketentuan yang tercantum dalam keputusan ini dikenakan tindakan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, seperti: - Tindakan penghentian/penutupan sementara kegiatan TPM. - Tuntutan pengadilan, bilamana diduga telah menimbulkan bahaya kesehatan masyarakat seperti kejadian luar biasa/keracunan makanan dan atau kematian. - Pencabutan Laik Hygiene Sanitasi disertai Berita Acara Pemeriksaan. 2) Karyawan TPM  Karyawan penjamah TPM harus memiliki buku kesehatan karyawan masing-masing. 47
  •  Riwayat kesehatan karyawan penjamah harus dicatat di dalam buku ini setiap pemeriksaan kesehatan atau berobat ke dokter atau petugas medik lainnya. 3) Petugas Kesehatan  Petugas pengawas harus mencatat semua KLB keracunan makanan secara tertib dan teratur.  Petugas pengawas menyampaikan laporan berkala berupa: - Kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan dan tindakan yang dilakukan. - Kegiatan lain yang perlu dilaporkan.  Pengiriman laporan ke Dirjen PP & PL dilakukan berjenjang dengan tembusan dikirim kepada Direktur Sepim Kesma, Direktur Penyehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan Propinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Ka.Sub.Dit. Karkes dan Administrator Pelabuhan/Bandara. 4) Masyarakat/Konsumen  Masyarakat dan atau konsumen pelanggan dapat menyampaikan laporan atau keluhan atas pelayanan TPM dan atau meminta konfirmasi tentang TPM yang laik hygiene sanitasi kepada Kantor Kesehatan Pelabuhan atau Asosiasi TPM yang telah terdaftar di Pemerintah Daerah setempat.4.2. Pelaporan Mekanisme pelaporan dalam pengawasan hygiene sanitasi TPM adalah:  Data dari wilayah kerja dilaporkan ke KKP Induk.  Data dari KKP Induk dilaporkan ke Ditjen PP & PL dengan tembusan ke pihak-pihak terkait.  Data yang sifatnya KLB dilaporkan segera dalam 1 x 24 jam dan laporan harus sudah masuk ke Ditjen PP & PL.  Laporan Hasil kegiatan pengawasan TPM dianalisis dan dibuat rekomendasinya (apakah diberi penyuluhan, surat teguran atau rekomendasi penutupan kepada pengelola pelabuhan). 48
  • Algoritma 49
  • ALGORITMA PENGAWASAN HYGIENE SANITASI TEMPAT PENGOLAHAN MAKANAN/TPM (JASABOGA, RUMAH MAKAN/RESTORAN, MAKANAN JAJANAN) DI PELABUHAN/BANDARA Pendataan TPM Sertifikasi TPM (tetapi khusus Izin Usaha makanan jajanan langsung diberikan Permohonan Pemilik TPM stiker)1. Pengambilan dan Layak/Laik, Tidak Layak / 1. Uji Kelaikan fisik TPM pemeriksaan sampel Tidak Laik 2. Pengambilan dan pemeriksaan Disertifikasi & specimen TPM sampel dan specimen 3. Kursus penjamah makanan 4. Pemeriksaan kesehatan penjamah Audit TPM Pembinanaan dan Pengawasan Grading (khusus rumah makan/ Memenuhi Tidak memenuhi Memenuhi Tidak memenuhi syarat syarat syarat syarat - Saran perbaikan - Cabut Sertifikat Laik Hygiene Sanitasi TPM 50
  • ALGORITMA PENGAMANAN MAKANAN/MINUMAN DI PELABUHAN/BANDARA KETENTUAN: 1. Pemeriksaan rutin 2. Kasus PHEIC PERSIAPAN: 1. SPK 2. Alat/Bahan 3. Petugas/SDM PELAKSANAAN PENGAWASAN MAKANAN : PENGAWASAN PENGAWASAN TEMPAT - Pengambilan/pemeriksaan PENJAMAH MAKANAN : PENGAWASAN /SARANA : sampel (Organoleptik, Personal Hygiene, Usap PERALATAN : - Inspeksi Sanitasi Biologis, Fisik,Kimia Tangan, Usap (Usap Alat) &Bakteriologi) Dubur,Pemeriksaan Darah (Hepatitis A & Typhoid)MEMENUHI TIDAK MEMENUHI SYARAT SYARAT TIDAK BAIK BAIK Pembinaan guna perbaikan TINDAK LANJUT 51 LAPORAN
  • PENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGAWASAN LEVARANSIR / SUPPLIER BAHAN MAKANAN Prof.dr.Tjandra Yoga No. Dokumen : 02.008.2009 Hal : 52 dari 121 Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM&H, DTCEI. PERSIAPAN A. Sumber Daya Manusia Syarat :  Fungsional Sanitarian yang telah mendapat Pelatihan Penyehatan Air Penunjang :  Analis B. Sarana Dan Prasarana B.1.Peralatan  Food Security Kit/Food Poison Detection  Plastik sampel  Thermos sampel  Sampel boxs  Kendaraan operasional  Formulir  Hand scoon B.2. Bahan  Reagen  Alkohol 70%II. LANGKAH – LANGKAH PELAKSANAAN a. Pendataan Levaransir/Supplier Bahan Makanan ke kapal. b. Levaransir/Supplier Bahan Makanan melapor ke KKP tentang rencana suplai bahan makanan ke kapal. c. Setiap suplai bahan makanan ke kapal wajib dilakukan pemeriksaan bahan makanan. d. Petugas melakukan pemeriksaan langsung terhadap bahan makanan yang akan disuplai ke kapal. e. Pemeriksaan berdasarkan pada formulir pemeriksaan yang baku. f. Bila ada bahan makanan yang mencurigakan/rawan, diambil sampel dan dilakukan pemeriksaan laboratorium. g. Sampel diambil secara aseptis, dimasukkan ke dalam kantong sampel, diberi label dan dimasukkan ke thermos sampel kemudian dikirim ke laboratorium. 52
  • h. Bila KKP memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukan pemeriksaan sampel, sampel diperiksa di laboratorium KKP. i. Terbitkan hasil pemeriksaan kesehatan bahan makanan.III. Jejaring Kerja  Administrator Pelabuhan.  Perusahaan Pelayaran.  Perusahaan Levaransir/Supplier Bahan Makanan.  Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota.  Balai laboratorium/ BBTKL-P2M.  Pelindo/Pengusahaan Pelabuhan lainnyaIV. PELAPORAN Mekanisme pelaporan di KKP adalah sebagai berikut :  Data dari penanggung jawab kegiatan dilaporkan ke Kepala Bidang/Seksi, sedangkan untuk Wilker dilaporkan ke KKP Induk melalui koordinator pelaporan di masing-masing bidang/seksi di KKP Induk.  Dari KKP Induk dilaporkan Ke Ditjen PP & PL melalui Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Pelabuhan Cq. Ka.Sub.Dit. Karkes.  Data yang sifatnya KLB dilaporkan 1 x 24 Jam.  Untuk mekanisme evaluasi dilakukan secara berjenjang, artinya wilayah kerja dievaluasi oleh KKP Induk sedangkan KKP Induk disamping melakukan evaluasi dimasing-masing bidang/seksi juga dievaluasi oleh Ditjen PP & PL.  Hasil pemeriksaan ditindaklanjuti dengan menginformasikan hasil pengawasan kepada Pengelola dan tembusan ke Administrator Pelabuhan/Administrator Bandara serta Pemerintah Daerah/Ka.Dinkes setempat.  Bila hasil pemeriksaan tidak baik, surat pemberitahuan yang disampaikan selain informasi juga langkah-langkah penanggulangan. 53
  • ALGORITMA PENGAWASAN LEVARANSIR / SUPPLIER BAHAN MAKANAN DI PELABUHANPendataan Leveransir memberitahukan Pemeriksaan setiap suplaiLeveransir setiap rencana suplai bahan bahan makanan makanan Ada bahan Tidak ada bahan mencurigakan mencurigakan Diambil Berikan sertifikat sampel Periksa di Lab/ KKP Hasil Hasil Baik Tidak Baik Tidak Diberi Izin 54
  • PENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMERIKSAAN SANITASI KAPAL Prof.dr.Tjandra Yoga No. Dokumen : 02.009.2009 Hal : 55 dari 121 Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM&H, DTCEI. PERSIAPAN A. Sumber Daya Manusia Syarat :  Fungsional Sanitarian yang telah mendapat Pelatihan Sanitasi Kapal. B. Sarana Dan Prasarana B.1. Peralatan  Mobil  Luks Meter  Water Test Kit  Sound Level Meter  Tas  Senter  Food Poison Detection  Formulir dan ATK B.2. Bahan  Alkohol  Hand scoon  Surat TugasII. LANGKAH – LANGKAH PELAKSANAAN  Petugas KKP naik ke atas kapal bertemu dengan nakhoda atau perwira jaga.  Petugas KKP menjelaskan maksud dan memperlihatkan Surat Tugas.  Petugas KKP ditemani awak kapal melakukan pemeriksaan sanitasi kapal.  Pemeriksaan sanitasi kapal berdasarkan pada formulir pemeriksaan sanitasi kapal.  Petugas melakukan analisis hasil pemeriksaan dan menetapkan rekomendasi hasil pemeriksaan.  Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada nakhoda/awak kapal dan saran tindak lanjut.  Hasil pemeriksaan dilaporkan kepada atasan langsung.  Tindak lanjut hasil pemeriksaan dalam bentuk penerbitan SSCEC dan tindakan penyehatan untuk penerbitan SSCC. 55
  •  Tindakan penyehatan/rekomendasi berupa Disinseksi, Deratisasi, Dekontaminasi dan Disinfeksi (lihat SOP masing-masing Tindakan Penyehatan tersebut ).  Kapal yang diperiksa sanitasinya adalah : - Kapal yang habis masa berlaku SSCC/SSCEC. - Kapal yang berasal dari luar negeri langsung atau dari daerah terjangkit. - Kapal yang terjadi Kejadian Luar Biasa penyakit (KLB). - Kapal penumpang setiap kedatangan/keberangkatan. - Pemeriksaan rutin secara acak.III. JEJARING KERJA  Kantor Kesehatan Pelabuhan tujuan.  Administrator Pelabuhan.  Perusahaan Pelayaran.  Bea cukai.  Imigrasi.IV. PELAPORAN Mekanisme pelaporan di KKP adalah sebagai berikut :  Data dari penanggung jawab kegiatan dilaporkan ke Kepala Bidang/Seksi, sedangkan untuk Wilker dilaporkan ke KKP Induk melalui koordinator pelaporan di masing-masing Bidang/Seksi di KKP Induk.  Dari KKP Induk dilaporkan Ke Ditjen PP & PL melalui Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Pelabuhan Cq. Ka.Sub.Dit. Karkes.  Data yang sifatnya KLB dilaporkan 1 x 24 Jam.  Untuk mekanisme evaluasi dilakukan secara berjenjang, artinya wilayah kerja dievaluasi oleh KKP Induk sedangkan KKP Induk disamping melakukan evaluasi di masing-masing Bidang/Seksi juga dievaluasi oleh Ditjen PP & PL.  Hasil pemeriksaan ditindaklanjuti dengan menginformasikan hasil pengawasan kepada Pengelola dan tembusan ke Administrator Pelabuhan serta Pemerintah Daerah/Ka.Dinkes setempat.  Bila hasil pemeriksaan tidak baik, surat pemberitahuan yang disampaikan selain informasi juga langkah-langkah penanggulangan. 56
  • ALGORITMA PENGAWASAN PEMERIKSAAN SANITASI KAPAL DI PELABUHAN KETENTUAN :  Kapal yang habis masa berlaku SSCC/SSCEC.  Kapal yang berasal dari luar negeri langsung/daerah terjangkit  Kapal yang terjadi Kejadian Luar Biasa penyakit (KLB)  Kapal penumpang setiap kedatangan/keberangkatan.  Pemeriksaan rutin secara acak PERSIAPAN : 1. SPK 2. ALAT & BAHAN 3. PETUGAS/SDM PELAKSANAAN PENGAMBILAN & PEMERIKSAAN PENGAWASAN SAB : SAMPEL :- Inspeksi sanitasi 1. Fisik 2. Bakteriologis 3. Kimiawi HASIL PENILAIAN TINDAK LANJUT REKOMENDASI 57
  • PENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMERIKSAAN SANITASI PESAWAT UDARA Prof.dr.Tjandra Yoga No. Dokumen : 02.010.2009 Hal : 58 dari 121 Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM&H, DTCEI. PERSIAPAN A. Sumber Daya Manusia Syarat :  Fungsional Sanitarian yang telah mendapat Pelatihan Sanitasi Pesawat. B. Sarana Dan Prasarana B.1. Peralatan  Mobil  Luks Meter  Water Test Kit  Food Poison Detection  Tas  Senter B.2. Bahan  Surat Tugas  Formulir  Aerosol InsecticidaII. LANGKAH – LANGKAH PELAKSANAAN A.Pelaksanaan A.1.Pemeriksaan Rutin  Pada dasarnya pemeriksaan pesawat udara adalah : - Pemeriksaan kebersihan pesawat. - Pengawasan persediaan makanan dan air. - Pemeriksaan keberadaan serangga dan vektor (di dalam pesawat harus bebas serangga dan tikus).  Pemeriksaan rutin dilakukan pada setiap pesawat udara yang datang/transit dengan prosedur pelaksanaan sebagai berikut : - Membawa Surat Tugas dari Kepala KKP. - Melapor kepada pihak Air Lines. - Melakukan pemeriksaan. - Mengisi formulir pemeriksaan. 58
  • - Membuat laporan hasil pemeriksaan kepada Kepala Bidang/Seksi PRL - Tindak lanjut.A.2. Pemeriksaan Khusus  Pemeriksaan yang dilakukan pada saat terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) di pesawat dengan prosedur pelaksanaan adalah : - Membawa Surat Perintah Kerja. - Membawa bahan desinfektan. - Membawa kantong steril untuk pengambilan sampel muntahan atau makanan. - Melakukan pemeriksaan. - Mengisi formulir pemeriksaan. - Membuat laporan hasil pemeriksaan. - Tindak lanjut.B. PengawasanB.1. Pengawasan Teknis Bagian yang diperiksa seperti yang tertera dalam formulir pemeriksaan adalah sebagai berikut : (1).Kabin Penumpang - Lantai dan tempat duduk harus bersih. - Meja dan asbak harus bersih. - Kantong muntah di belakang kursi harus selalu tersedia. (2). Kabin Crew Pesawat - Lantai dan tempat duduk harus bersih. - Bak sampah dan asbak harus kosong dan bersih. (3). Dapur (Galley) - Harus bersih dari kotoran dan tumpahan minuman. - Bak pencuci harus bersih. - Sampah/kotoran harus dibuang pada tempat sampah yang tersedia. - Tempat Penyimpanan Makanan (Trolley) harus bersih dan setiap selesai digunakan harus dicuci. (4). Toilet - Lantai harus bersih dari sampah. - Wastafel dan asbak harus bersih. - Sabun dan kertas toilet harus selalu tersedia cukup. - Lampu penerangan harus cukup. - Kaca rias harus bersih. - Ruangan toilet harus tidak berbau. 59
  • (5). Ruang Bagasi - Harus bersih, penerangan cukup dan tidak ada kehidupan serangga dan tikus. (6). Pengelolaan Sampah/Limbah - Ditangani secara hygienis, agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.  Di pesawat udara, kotoran manusia dan air limbah yang ada di pesawat ditampung pada retention tank.  Air limbah dan kotoran dalam retention tank diberi zat warna sehingga secara estetis kelihatan baik.  Dalam retention tanks ditambahkan antiseptic secara otomatis.  Limbah dari pesawat diangkut dengan kendaraan khusus dan dibuang pada tempat penampungan khusus untuk air limbah pesawat, selanjutnya setelah melalui proses pra treatment, limbah tersebut dialirkan ke instalasi pengolahan limbah Bandara. (7). Investasi Serangga : - Tidak boleh ada serangga dan vektor di dalam pesawat. B.2. Pemeliharaan Kebersihan Di Dalam Pesawat  Kapasitas pembersihan tergantung ketersediaan waktu.  Prioritas yaitu: - Membersihan sampah, toilet dan dapur pesawat.  Pembersihan minimal/masa transit yaitu : - Membersihan sampah, membersihkan asbak dan kantong belakang tempat duduk, mengisi sabun dan perlengkapan toilet, membersihkan lantai, menyikat tempat duduk, dan membersihkan kaca.B.3. Disinfeksi Pesawat Udara : Disinfeksi pesawat udara dilakukan atas dasar :  Bila terjadi kasus penyakit menular di dalam pesawat dilakukan disinfeksi.  Metode dan cara disinfeksi tergantung jenis penyakit yang timbul.  Disinfeksi dilakukan oleh petugas KKP Bidang/Seksi PRL atau petugas kebersihan atas arahan petugas KKP. B.4. Disinseksi Pesawat Udara Disinseksi pesawat udara dilakukan atas dasar :  Bila pesawat udara datang dari negara terjangkit penyakit menular yang ditularkan oleh vektor dan tidak mempunyai Sertifikat Hapus Serangga.  Bila berdasarakan laporan pilot, di dalam pesawat udara ada penumpang suspect/ terjangkit penyakit menular yang ditularkan oleh serangga dan atau vektor.  Bila dari hasil pemeriksaan pesawat udara ditemukan adanya kehidupan serangga/ dan atau vektor penular penyakit.  Atas permintaan sendiri dari Perusahaan Penerbangan. 60
  • B.5. Pengawasan Operasional  Pada saat pemeriksaan, petugas KKP didampingi oleh crew pesawat.  Pemeriksaan sesuai urutan yang ada dalam formulir pemeriksaan.  Bila saat diperiksa didapatkan hal-hal yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis, diberikan penerangan/penyuluhan untuk dilakukan perbaikan.  Formulir pemeriksaan (rangkap dua) setelah diisi lengkap serta saran- saran perbaikan, ditanda tangani oleh crew pesawat (pilot atau pramugari atau teknisi pesawat).  Lembaran pertama formulir pemeriksaan yang telah diisi diberikan kepada crew pesawat dan lembaran lain untuk arsip KKP. B.6. Waktu Pengawasan :  Pengawasan dan pemeriksaan sanitasi pesawat udara yang melakukan penerbangan domestik maupun internasional, dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan setiap bulan kecuali bila terjadi KLB.III. JEJARING KERJA  Kantor Kesehatan Pelabuhan tujuan.  Administrator Bandara.  Perusahaan Penerbangan/Air Lines.  Bea cukai.  Imigrasi.IV. PELAPORAN Mekanisme pelaporan di KKP adalah sebagai berikut :  Data dari penanggung jawab kegiatan dilaporkan ke Kepala Bidang/Seksi, sedangkan untuk Wilker dilaporkan ke KKP Induk melalui koordinator pelaporan di masing-masing Bidang/Seksi di KKP Induk.  Dari KKP Induk dilaporkan Ke Ditjen PP & PL melalui Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Pelabuhan Cq. Ka.Sub.Dit. Karkes.  Data yang sifatnya KLB dilaporkan 1 x 24 Jam.  Untuk mekanisme evaluasi dilakukan secara berjenjang, artinya wilayah kerja dievaluasi oleh KKP Induk sedangkan KKP Induk disamping melakukan evaluasi di masing-masing Bidang/Seksi juga dievaluasi oleh Ditjen PP & PL.  Hasil pemeriksaan ditindaklanjuti dengan menginformasikan hasil pengawasan kepada Pengelola dan tembusan ke Administrator Bandara serta Pemerintah Daerah/Ka.Dinkes setempat.  Bila hasil pemeriksaan tidak baik, surat pemberitahuan yang disampaikan selain informasi juga langkah-langkah penanggulangan. 61
  • ALGORITMA PENGAWASAN PEMERIKSAAN SANITASI PESAWAT DI BANDARA KETENTUAN 1. Pemeriksaan Rutin :  Pesawat datang/transit (Domestik, Internasional) 2. Pemeriksaan Khusus :  Di pesawat terjadi KLB  Pesawat datang dari negara terjangkit & tdk punya Sertifikat Hapus Serangga  Di pesawat ditemukan penumpang suspect  Di pesawat ditemukan serangga/vektor  Permintaan dari pihak Air Lines PERSIAPAN : 1. SPK 2. Alat & Bahan 3. Petugas/SDM PELAKSANAAN: PEMERIKSAAN secara : PENGAWASAN secara :1. Rutin 1. Teknis pada : - Kebersihan pesawat, - Kabin penumpang - Makanan & air - Kabin crew, - Serangga & vektor - Dapur2. Khusus - Toilet - Disinfeksi - Bagasi - Disinseksi - Pengelolaan sampah/limbah, - Investasi serangga 2. Operasional HASIL PENILAIAN TINDAK LANJUT REKOMENDASI 62
  • PENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TINDAKAN PENYEHATAN ALAT ANGKUT,ORANG DAN BARANG ( FUMIGASI, DISINFEKSI, DISINSEKSI, DEKONTAMINASI ) Prof.dr.Tjandra Yoga Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM&H, No. Dokumen : 02.011.2009 Hal : 63 dari 121 DTCEI. PERSIAPAN A. Sumber Daya Manusia (Pengawas) Syarat :  Fungsional Sanitarian, Entomolog maupun Epidemiolog yang telah mendapat Pelatihan (Fumigasi, Disinseksi, Disinfeksi dan Dekontaminasi). B. Sarana Dan Prasarana B.1. Pengawas Fumigasi (Derattisasi)  Pakaian kerja  Sarung tangan  Masker  Canester  Gas detektor  Kendaraan operasional B.2 Disinseksi  Hand Spraying gendong  Electric Spraying (ULV)  Mist blower  Bahan kimia pestisida/insekstisida  Sepatu boot  Wear pack  Masker/Kanester  Google  Kacamata pestcont  Generator listrik/genset  Helm lapangan  Sarung tangan  Handuk tissue  Ember  Gelas ukur  Gayung  Alat pengaduk  Corong pemindah saringan  Antidot sesuai dengan pestisida/insekstisida 63
  • B.3 Dekontaminasi  Re Robing Room  Ambulan Evakuasi  Mist blower  Hand sprayer  ULV  5 % Hypoclorite Solution atau M 291(Skin)  Ethylene oxide (Kargo)  Hydrogen peroxide (exterior/interior)  CAM (Chemical Agent Monitor)  PPE B.4. Bahan  Surat Tugas  FormulirII. PELAKSANAAN A. Fumigasi (Derattisasi) Ketentuan-ketentuan dalam kegiatan Fumigasi.  Fumigasi kapal dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan adanya tanda- tanda kehidupan tikus dan atas permintaan pihak kapal (nahkoda/pemilik kapal).  Apabila atas permintaan kapal, maka harus mengajukan surat permohonan yang ditujukan kepada Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan. Prosedur Tetap Fumigasi sebagai berikut : A.1. Persiapan.  Kepala KKP membuat SPK untuk BUS (Badan Usaha Swasta) yang ditunjuk untuk melakukan fumigasi.  Kepala KKP membuat SPK untuk pengawas KKP yang akan mengawasi pelaksanaan fumigasi.  BUS menunjuk supervisor dan petugas lain.  Pengawas menentukan jumlah fumigator, peralatan dan tenaga. A.2. Pelaksanaan Di Lapangan  Pengawas KKP menanyakan kepada supervisor BUS tentang kelengkapan administrasi.  Pengawas KKP dan supervisor BUS memeriksa kelengkapan fumigasi, seperti : - Tenaga : (jumlah penempel, 1 orang dokter, dan 1 orang paramedis). - Peralatan : 64
  • (gas jumlah yang cukup, masker gas minimal 2 buah dan dalam kondisi baik, canester sesuai dengan jumlah masker dan dalam kondisi baik, sarung tangan minimal 2 pasang dan dalam kondisi tidak bocor dan telah dites dengan cara ditiup, tin opner untuk HCN, kunci pembuka, neple, selang, gas detector, kertas/plastik penutup dan lem/lakban). Pengawas dan supervisor menemui nahkoda/komandan kapal untuk: - Pengawas menyerahkan SPK sedangkan supervisor menyerahkan persyaratan fumigasi, kemudian pengawas menjelaskan prosedur dan teknik fumigasi kepada nahkoda/komandan kapal. - Nahkoda/komandan kapal harus menandatangani surat pernyataan keadaan aman (tak ada orang atau hewan ) di dalam kapal. - Pengawas dan supervisor mengkonfirmasi ulang besar ruang kapal yang akan difumigasi. - Meminta mengeluarkan barang-barang yang harus diamankan/dijauhkan dari bahaya fumigan dan pelaksanaannya diawasi secara bersama-sama. - Memohon salah satu perwira kapal untuk bersama-sama melakukan pemeriksaan ruangan, keadaan kapal, posisi kapal, arah angin dan hal-hal yang berkaitan dengan fumigasi. Supervisor memerintahkan tenaga penempel untuk menutup seluruh lubang ventilasi maupun lubang lain yang berhubungan dengan udara luar. - Pengawas dan supervisor secara bersama-sama membuat strategi pelepasan gas, mulai dari ruangan mana dan dari mana keluar. - Menghitung volume kapal dan jumlah fumigan yang akan digunakan. - Semua ABK diperintahkan meninggalkan kapal kecuali nahkoda dan perwira jaga serta staf (perwira mesin dan elektrisian). - Fumigator meletakkan tabung gas ditempat yang mudah dan aman serta memasang selang atau ember plastik bila menggunakan CH3Br. Menempatkan kaleng-kaleng HCN bila menggunakan HCN ditempat yang telah ditentukan sesuai dengan kebutuhan. - Pengawas KKP, supervisor dan nahkoda/perwira jaga memeriksa seluruh bagian kapal untuk memastikan : a. Semua ruangan yang akan difumigasi sudah terbuka. b. Tidak ada manusia atau binatang peliharaan lainnya termasuk ikan dalam akuarium di kapal. c. Sudah dilakukan penutupan palka-palka, cerobong, pintu- pintu, jendela- jendela dan lain-lain dengan cermat. d. Bendera VE dan tanda bahaya lain seperti spanduk, stiker sudah terpasang pada tempat yang tepat sehingga mudah dilihat orang. e. Bila ada ruangan yang tidak dapat dibuka harus ditutup rapat hingga tidak dapat dimasuki gas. 65
  • - Nahkoda/perwira jaga menandatangani surat pernyataan tidak ada orang di dalam kapal dan kapal siap difumigasi. - Kapal di Black Out (mesin kapal dan generator listrik dimatikan). - Fumigasi dilaksanakan dibawah pimpinan supervisor (SK Dirjen PPM & PL No. 144-1/PD.03.04.EI tanggal 28 Maret 1988).A.3. Penggasan  Pengawas menanyakan kepada supervisor tentang strategi pelaksanaan fumigasi.  Melakukan pemeriksaan ulang tentang: - Pasangan fumigator/operator. - Penggunaan alat pelindung diri (masker, canester, sarung tangan, sepatu boot, pakaian kerja, amylnitrit (antidot HCN) dan athropin sulfat (antidot CH3Br). - Kesiagaan saat melepas gas antara lain : a. Stand by alat angkut air bila kapal yang difumigasi jauh dari dermaga. b. Stand by (siaga penuh) ambulance. c. Bila fumigasi dilakukan di dermaga, petuga fumigasi lain menjaga agar tidak ada orang naik ke kapal dengan memperhatikan jarak kapal dan arah angin. d. Pengawas memberi isyarat kepada supervisor bahwa fumigasi bisa dilaksanakan, bersama dengan itu pengawas turun dari kapal sehingga di atas kapal yang tinggal hanya supervisor dan fumigator/operator. e. Sebelum meningalkan kapal pengawas menentukan : o Waktu (jam, menit) dimulainya pelepasan. o Waktu yang diperlukan untuk pelepasan gas. o Menentukan waktu pelepasan gas (time exposure) sekurang - kurangnya 2 jam untuk HCN dan 8-12 jam untuk CH3Br. o Menentukan jumlah fumigan yang digunakan sekurang-kurangnya 2 gram/m3 ruangan untuk HCN dan 4-8 gram/m3 ruangan. o Supervisor dan fumigator setelah melepaskan gas harus turun dari kapal dan siaga di sekitar kapal.  Pengawas dan supervisor melakukan pengawasan terhadap kemungkinan adanya: kebocoran gas, orang naik ke kapal, dan barang keracunan gas.  Fumigasi pada malam hari seyogyanya dihindari hal ini untuk menghindari berbagai risiko yang mungkin terjadi, seperti: kecelakaan, kesulitan mendeteksi adanya kebocoran, pengawasan kemungkinan adanya orang naik ke kapal.A.4. Pembebasan Gas  Pengawas menentukan jam pembebasan gas.  Pengawas mengamati pembebasan gas oleh supervisor dengan melalui tahapan: 66
  • - Supervisor dan fumigator/operator dengan memakai masker/canester membuka pintu utama, cerobong-cerobong dan semua lubang ventilasi. - Supervisor/fumigator membiarkan keadaan kapal paling sedikit selama 1 (satu) jam. - Supervisor dan fumigator/operator dengan memakai masker dan canester kembali masuk ke kapal untuk membuka bagian ventilasi lain yang tidak dapat dibuka dari luar.  Bila ruangan mesin sudah aman dari gas, pengawas dan supervisor meminta perwira mesin dan stafnya dengan memakai masker/canester menghidupkan mesin untuk menghidupkan blower.  Setelah blower hidup semua orang turun dari kapal.  Satu jam kemudian, pengawas, supervisor dan nahkoda/perwira jaga dengan memakai masker melakukan pengukuran kosentrasi gas dengan tube detector/lakmus yang menyatakan ruangan bebas gas.  Bila sudah diyakini seluruh ruangan bebas gas tanpa masker/canester, dibuat pernyataan sudah bebas gas yang ditandatangani oleh pengawas, supervisor dan nahkoda/perwira jaga.  Supervisor membuat laporan hasil fumigasi kepada kepala KKP yang ditandatangani oleh pengawas dan nahkoda.  Pengawas memerintahkan nahkoda/perwira jaga untuk menurunkan bendera VE dan tanda-tanda bahaya lainnya.A.5. Penilaian Pengawas dan supervisor melakukan penilaian hasil fumigasi, sebagai berikut :  Melakukan penghitungan pemakaian gas dengan jumlah gas yang dipersiapkan.  Menghitung jumlah tikus yang ditemukan mati dibandingkan dengan jumlah perkiraan tikus di atas kapal sebelum fumigasi.  Melakukan identifikasi tikus.  Memeriksa apakah ada hewan peliharaan serta serangga yang mati.  Menilai apakah ada peristiwa : kejadian keracunan, kebocoran gas, orang tidak berkepentingan naik ke kapal, ketaatan dan kepatuhan semua pihak.A.6. Pelaporan  Pengawas membuat laporan kepada kepala KKP tentang pelaksanaan fumigasi di kapal meliputi: persiapan, pelaksanaan, pembebasan gas, penilaian dan kesimpulan/saran. 67
  • STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR FUMIGASI DI KAPAL LAUT KETENTUAN FUMIGASI 1. Temuan dari hasil pemeriksaan kapal 2. Permintaan kapal KEPALA KKP MEMINTA DISPOSISI 1 PERSETUJUAN SPK 2 3 KEPALA BIDANG/SEKSI PRL 3. MENYIAPKAN DOKUMEN SPK UNTUK PENGAWAS KKP 4. MENYIAPKAN DOKUMEN UNTUK BUS PENGAWAS KKP BUS PENUNJUKAN 4 PERSIAPAN 5 PELAKSANAAN DI LAPANGAN 11 6 10 PENGGASAN 7 PEMBEBASAN GAS 8 PENILAIANPENERBITAN SSCC/SSCEC 9 PELAPORAN 68
  • STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR FUMIGASI DI PESAWAT UDARA KETENTUAN FUMIGASI 1. Temuan dari hasil pemeriksaan Sanitasi pesawat 4. Permintaan maskapai penerbangan KEPALA KKP MEMINTA DISPOSISI 1 PERSETUJUAN SPK 2 3 KEPALA BIDANG/SEKSI PRL 1. MENYIAPKAN DOKUMEN SPK UNTUK PENGAWAS KKP 2.MENYIAPKAN DOKUMEN UNTUK BUS PENGAWAS KKP BUS PENUNJUKAN 4 PERSIAPAN 5 PELAKSANAAN DI LAPANGAN 11 6 10 PENGGASAN 7 PEMBEBASAN GAS 8 PENILAIANPENERBITAN SSCC/SSCEC 9 PELAPORAN 69
  • B. DISINSEKSI Ketentuan-ketentuan dilaksanakannya Disinseksi  Bila kapal/pesawat datang dari negara terjangkit penyakit menular yang ditularkan oleh vektor dan tidak mempunyai sertifikat hapus serangga.  Bila berdasarkan laporan nakhoda/pilot di dalam kapal/pesawat terdapat penumpang /crew yang suspek/menderita penyakit menular.  Bila dari hasil pemeriksaan kapal/pesawat ditemukan adanya kehidupan serangga /vektor penular penyakit.  Bila ada permintaan nakhoda/pilot/perusahaan.Ruang Lingkup DisinseksiB.1. Disinseksi Di Kapal Laut. Prosedur pelaksanaan disinseksi adalah sebagai berikut: a). Persiapan  Persiapan di KKP (Administrasi) - Kepala KKP menyampaikan surat pemberitahuan disinseksi kepada agen/nakhoda kapal setelah menerima laporan dari hasil pemeriksaan petugas. - Kepala KKP menunjuk pengawas disinseksi dari KKP. - BUS bersama pengawas disinseksi KKP memperkirakan besar ruangan kapal yang akan didisinseksi dengan melihat langsung ke kapal serta membuat rencana kerja pelaksanaan yang disampaikan kepada nakhoda kapal/agen untuk mendapatkan persetujuan dilakukannya tindakan diinseksi. - Kepala KKP membuat surat perintah kerja disinseksi kepada BUS pelaksana disinseksi untuk segera melakukan tindakan disinseksi.  Persiapan di BUS. - Menunjuk supervisor, petugas pelaksana disinseksi yang telah mempunyai sertifikat sebagai supervisor dan pelaksana disinseksi dari Ditjen PP & PL. - Mempersiapkan bahan dan peralatan sebagai berikut : o Peralatan penyemprotan (spraying) antara lain : hand spraying gendong, electric spraying (ULV), mist blower. o Bahan kimia pestisida/insekstisida yang akan digunakan seperti : organophosphate, methylbromide, pirethrin dalam bentuk cair, padatan (tepung). o Alat pelindung diri (safety equipment) untuk petugas pelaksana dan supervisor (sepatu boot, wear pack, masker/kanester, google, kacamata pestcont, generator listrik/genset, helm lapangan, sarung tangan,handuk tissue). o Alat pendukung lain seperti ember, gelas ukur, gayung, alat pengaduk, corong pemindah saringan. o Mempersiapkan antidot sesuai dengan pestisida/insekstisida yang dipakai. - Mempersiapkan buku catatan, format laporan dan formulir isian. 70
  • - Kesipan petugas pelaksana/terdidik/tersertifikasi dan sehat sebagai penjamah pestisida. - Alat angkut disiapkan di tempat khusus yang aman dari hilir mudik /pergerakan orang. - Mempersiapkan ambulance lengkap berstandart. Persiapan di kapal. - Pengawas dan BUS pelaksana disinseksi menemui nahkoda/perwira jaga untuk mempersiapkan pelaksanaan disinseksi di kapal. - Supervisor dan pengawas menentukan tatacara pelaksanaan disinseksi. - Nahkoda/perwira jaga harus memenuhi dan mematuhi ketentuan- ketentuan dalam disinseksi. - Pengawas, supervisor dan nahkoda/perwira jaga bersama-sama melakukan pemeriksaan ruangan, keadaan kapal, posisi kapal, arah angin, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan disinseksi. - Pengawas dan supervisor meminta nahkoda/perwira jaga mengamankan barang-barang dari bahaya tercemar pestisida/insekstisida. - Semua ABK diperintahkan meninggalkan kapal kecuali nahkoda/perwira jaga dan staf tertentu seperti perwira mesin dan elektrisian dll. - Nahkoda / perwira jaga menandatangani surat pernyataan tentang kesiapan di disinseksi. - Disinseksi siap dilaksanakan dibawah pimpinan supervisor.b). Pelaksanaan Disinseksi. Untuk bagian-bagian kapal yang tersembunyai seperti lubang-lubang kecil di lantai dan tempat-tempat sulit menggunakan hand spraying ataupun mist blower. Untuk ruang terbuka menggunakan ULV electric spraying. Mengisi formulir isian yang memuat data tentang nama bahan pestisida/insektisida yang digunakan, volume berat bahan pestisida yang digunakan, bahan pelarut, catatan (waktu, hari dan tanggal pelaksanaan), nama petugas pelaksana dan supervisor yang bertanggung jawab. Petugas KKP (pengawas dinas) melakukan pengawasan atas seluruh kegiatan disinseksi yang dilakukan oleh BUS. Memberikan masukan, saran, maupun teguran kepada BUS agar pelaksanaan disinseksi sesuai dengan standart. Membuat laporan tertulis . 71
  • ALGORITMA DISINSEKSI DI KAPAL LAUT KETENTUAN DISINSEKSI: 1. Kapal berasal dari negara terjangkit penyakit menular 2. Temuan dari hasil pemeriksaan kapal 3. Permintaan kapal KEPALA KKP MEMINTA PERSETUJUAN DISPOSISI 1 SPK 2 3 KEPALA BIDANG/SEKSI PRL 1. MENYIAPKAN DOKUMEN SPK UNTUK PENGAWAS KKP 2. MENYIAPKAN DOKUMEN UNTUK BUS PENUNJUKAN PENGAWAS KKP BUS 4 5 5 PERSIAPAN10 9 6 PELAKSANAAN DISINSEKSI 7 PENILAIANPENERBITAN SERTIFIKAT 8 PELAPORAN 72
  • B.2. Desinseksi Di Pesawat a). Peralatan dan Bahan  Hand sprayen  Insektisida yang tepat (organophospat, methyl bromida, pirethrin)  Antidote b). Prosedur Pelaksanaan Disinseksi : 1. Residual Disinsection : - Yaitu disinseksi pesawat udara dengan menggunakan residu pada permukaan yang didisinseksi. - Formula residual desinfectan yang dipakai salah satunya adalah dari van aktif permenthrin 2 % dalam larutan air destilasi (aqua destilata). - Cara penyemprotan dengan menggunakan tekanik residual disinsection dilakukan untuk pemeliharaan pesawat dari investasi serangga seperti nyamuk, kecoa dan kutu busuk, dilakukan ketika pesawat sedang tidak operasi/tidak terbang. - Ketentuan pelaksanaan sebagai berikut :  Dilakukan atas permintaan perusahaan penerbangan atau dari hasil pemeriksaan oleh petugas KKP ditemukan investasi serangga.  Dilakukan pada saat pesawat sedang istirahat/dalam perawatan atau tidak beroperasi/tidak terbang.  Pelaksanaan penyemprotan dilakukan oleh BUS bersertifikat dibawah pengawasan Kantor Kesehatan Pelabuhan.  Pada penyemprotan pertama deposit residu bahan aktif jenis permenthrin harus 0,5 gram/m2 pada lantai dan 0,2 gram/m2 pada permukaan lain.  Pada penyemprotan ulang deposit residu bahan aktif jenis permenthrin harus 0,2 gram/m2 pada lantai dan 0,1 gram/m2 pada permukaan lain.  Daya racun residu dapat bertahan selama 8 minggu, tetapi kalau ditemukan keberadaan/infestasi serangga harus dilakukan penyemprotan residu ulang, sehingga penyemprotan ulang harus dilakukan paling lama 2 bulan setelah penyemprotan pertama.  Terhadap tindakan residual desinfection ini diberikan sertifikat desinseksi yang berlaku selama 2 bulan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan. 2. Pre Embarkasi : - Yaitu disenseksi pesawat udara pada saat persiapan keberangkatan dan penumpang belum naik ke pesawat. - Petugas yang melaksanakan ini adalah crew pesawat atau petugas KKP yang sudah terlatih dan untuk barang di kargo dilakukan oleh petugas ground handling. - Insektisida yang digunakan harus bersifat knok down. 73
  • 3. Block Away Disinsection : - Disinseksi dilakukan sebelum pesawat lepas landas dengan metode knock down spraying. - Cara ini dilakukan setelah semua penumpang dan muatan dinaikkan ke pesawat udara, pintu pesawat dikunci dan pesawat siap meninggalkan landasan (penahan roda pesawat atau block telah disingkirkan). - Disinseksi dilakukan oleh awak pesawat yang terlatih, sebagai berikut :  Aerosol dispenser disediakan oleh perusahaan penerbangan.  Aerosol dispenser yang akan digunakan diberi nomor, nomor tersebut oleh petugas KKP setempat dicantumkan dibagian kesehatan dari laporan umum pesawat udara (health part aircraft general declaration). Kaleng aerosol yang telah terpakai disimpan oleh awak pesawat dan setibanya di bandara yang dituju, ditunjukkan kepada petugas kesehatan setempat sebagai bukti bahwa pesawat tersebut telah dihapus seranggakan.  Kokpit disemprot beberapa saat sebelum pilot dan awak pesawat yang lain naik, Estela disemprot, pintu/tirai pemisah ditutup.  Seluruh penumpang naik dan pintu pesawat ditutup, kemudian cabin dan lain-lain bagian pesawat dihapus seranggakan. Semua yang mungkin menjadi tempat persembunyian nyamuk (rak barang, bawah tempat duduk, tirai, toilet,dll) disemprot. Makanan dan alat makanan minum harus dilindungi dari kemungkinan kontaminasi insecticida.  Selama penyemprotan dan dalam kurun waktu 5 menit setelah penyemprotan, sistem ventilasi harus dimatikan.  Semua bagian pesawat yang hanya dapat dicapai dari luar yang mungkin merupakan persembunyian serangga (tempat muatan, barang, tempat roda,dll) didisinseksi beberapa saat sebelum pesawat lepas landas oleh KKP.4. Top Desenct Spraying - Yaitu disinseksi yang dilakukan ketika pesawat udara sedang berada dalam puncak ketinggian sebelum pesawat mulai turun (aircraft commences descent) hanya untuk ruang kabin dan dilakukan oleh cabin crew.  Ketika setelah mendarat segera crew pesawat menyerahkan kaleng bekas kepada petugas KKP sebagai bukti telah dilakukan penyemprotan sebelum pesawat mendarat.  Formula insekstisda erosol yang digunakan mengandung bahan aktif 2 % d-phenothrin dan bersifat knock down5. Disinseksion The Ground on Arrival - Disinseksi yang dilakukan segera setelah pesawat udara mendarat. - Cara ini dilakukan oleh petugas terlatih dari KKP setempat:  Sebelum pesawat mendarat pramugari mengumumkan agar penumpang tetap duduk di tempat karena akan dilakukan disinseksi pesawat. 74
  •  Setelah pesawat mendarat dan belum menurunkan penumpang/muatan. Petugas KKP segera naik ke pesawat, pintu segera dikunci kembali. Petugas menyemprot semua yang mungkin dihinggapi nyamuk dan seluruh ruangan disemprot. Tempat-tempat yang sulit dijangkau seperti di bawah kursi, di belakang peti-peti muatan harus mendapat perhatian khusus untuk penyemprotan. Makanan dan alat-alat makan dan minum harus dilindungi dari kemungkinan terkontaminasi insektisida. Semua pintu pesawat harus tetap tertutup selama dan sekurang- kurangnya 5 (lima) menit setelah penyemprotan selesai. Selama waktu itu sistem ventilasi harus dimatikan. Setelah penumpang dan barang-barang diturunkan, petugas kesehatan memeriksa hasil penyemprotan bila ditemukan bangkai- bangkai nyamuk dan serangga dikumpulkan, diidentifikasi untuk ditentukan spesiesnya. Petugas KKP membuat laporan pelaksanaan tertulis disinseksi selesai dilaksanakan. 75
  • ALGORITMA DISINSEKSI DI PESAWAT KETENTUAN DISINSEKSI: 1. Pesawat berasal dari negara terjangkit penyakit menular dan tidak mempunyai sertifikat disinseksi 2. Laporan dari pilot ada penumpang suspect penyakit menular yang ditularkan oleh serangga 3. Temuan dari hasil pemeriksaan sanitasi pesawat 4. Permintaan Maskapai Penerbangan KEPALA KKP MEMINTA PERSETUJUAN DISPOSISI 1 SPK 2 3 KEPALA BIDANG/SEKSI PRL MENYIAPKAN DOKUMEN SPK UNTUK PENGAWAS KKP PENUNJUKAN PENGAWAS KKP BUS 4 5 5 PERSIAPAN10 9 6 PELAKSANAAN DISINSEKSI 7 PENILAIANPENERBITAN SERTIFIKAT 8 PELAPORAN 76
  • C. DISINFEKSIC.1 Peralatan dan Bahan a). Bahan Macam-macam bahan dekontaminasi dapat dibagi dua yaitu : 1. Bahan dekontanimasi alam. Terdiri :  Cuaca ( sinar matahari, kelembaban dan suhu rendah).  Air dengan menyemprot atau merebus.  Tanah dengan menanam atau menimbun agar tidak menyebar luas.  Api dengan pemanasan kering. 1. Bahan dekontaminasi kimia. Terdiri :  Dari komposisi kimia tertentu yang dapat digunakan untuk mematikan mikroorganisme termasuk sporanya atau dalam bentuk kistanya, namun umumnya bersifat racun bagi manusia. Menurut cara penggunaannya dibagi dalam tiga bentuk yaitu :  Bentuk uap/gas, contoh : BPL (beta propilakton), Formal dehyde ETO (Etylene oxide).Bentuk cair atau larutan, padat atau kering contoh :Super Tropical Bleach), Larutan DACC (Dekontaminating Agen Non Corrosive), DS2 ( Decantaminating Solution Number 2), Calcium Hyphoclorite,/HTH (High Test Calcium Hypochlorite), Sodium hipoclorite (House Hold Bleach), Detroclorite, Caustic Soda/ Sodium hidroksida, Iodine water purification, Sabun dan larutan diterjen, PAA paraceticacid. b). Peralatan 1. Re Robing Room 2. Ambulan Evakuasi 3. Mist Blower 4. Hand sprayer 5. ULV 6. 5 % Hypoclorite Solution atau M 291(skin) 7. Ethylene oxide (Kargo) 8. Hydrogen peroxide (exterior/interior) 9. CAM ( Chemical Agent Monitor) 10. PPEC.2. Ketentuan Dilaksanakannya Disinfeksi  Bila kapal datang dari negara terjangkit penyakit menular yang ditularkan oleh kuman atau bakteri atau virus.  Bila dari hasil pemeriksaan kapal ditemukan kasus/suspect penyakit menular.  Atas permintaan nahkoda/pemilik kapal.C.3. Prosedur Pelaksanaan Disinfeksi  Pelaksanaan kegiatan disinfeksi menggunakan bahan disinfektan.  Disinfektan ialah : bahan kimia atau pengaruh fisikan yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri atau virus juga untuk membunuh atau menurunkan 77
  • jumlah microorganisme atau kuman penyakit lain. (sumber : www. Jakartapets.com.).C.4. Ada 10 Kriteria Disinfektan Dapat Dikatakan Ideal  Bekerja dengan cepat untuk meng-inaktivasi mikroorganisme pada suhu kamar.  Aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, temperatur, pH, dan kelembaban.  Tidak toksik pada hewan atau manusia.  Tidak berwarna atau meninggalkan noda.  Tidak berbau/baunya disenangi.  Larutan stabil.  Bersifat biodegradable/mudah terurai.  Mudah digunakan dan ekonomis.  Aktifitas berspektrum luas.C.5. Jenis - jenis Disinfektan  Benzalkonimchlorida, Bensatonium chlorida, Setilpiridium klorida desinfektan ini tergolong dalam jenis Amunium kuartener. Tidak ada disinfektan yang dapat bekerja pada permukaan kotor, setidaknya ada 3 (tiga) langkah yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan disinfektan bila ingin hasilnya baik, yaitu: - Harus dibasuh dengan air, dengan tujuan untuk melarutkan matriks protein, kotoran harus digosok atau disapu atau disemprot dengan air. Penggunaan air panas lebih efektif dari pada air dingin. - Diberi sabun atau diterjen dengan tujuan untuk melarutkan lemak. - Barulah memakai disinfektan, bisa mengering sendiri atau dibilas dengan air.C.6. Kategori Disinfeksi  Ada beberapa katagori disinfeksi pada alat angkut : - Jika penumpang menderita penyakit infeksi serius dan datang dari negara terjangkit. - Kegiatan pembersihan rutin sehari hari oleh petugas yang berwenang (dari Perusahaan Penerbangan). Biasanya mereka menggunakan bahan kimia (Sodium hypoclorite Solution dan Formaldehyde solution). - Pada Peraturan Kesehatan Internasional, agar tidak terjadi penyebaran penyakit dari orang ke orang, selain melakukan disinfeksi mereka harus juga melaksanakan disinseksi terhadap insekta seperti nyamuk dan kecoa dan lingkungan sekitarnya. Serta hapus hama terhadap sumber air bersih dilingkungan sekitar jika diperlukan. (www.allergyuk.org/art_aircraft.aspx) 78
  • C.7. Langkah-langkah Kegiatan  Petugas KKP mengetahui informasi dari Air Traffic Control/Air Line atau Agen Pelayaran adanya penumpang yang menderita penyakit menular atau penyakit belum diketahui sebabnya.  Petugas KKP melakukan persiapan alat, bahan, sarana dan prasarana sebelum alat angkut landing atau bersandar.  Kepala KKP berkoordinasi dengan Administrator Pelabuhan/Ka Cabang PT Angkasa Pura untuk penanganan disinfeksi kapal/pesawat.  Memeriksa Dokumen Kesehatan kapal/pesawat.  Petugas yang akan melaksanaan disinfeksi berkoordinasi dengan KP3, KPLP dan Security di bandara untuk melaksanakan infestigasi dan penanganan disinfeksi.  Melakukan investigasi kepada nakhoda/pilot sesuai dengan prinsip Epidemiology (Time, Place dan Person).  Melakukan penyemprotan pada bagian interior dan exterior dengan menggunakan pestisida yang tepat. 79
  • ALGORITMA DISINFEKSI DI KAPAL LAUT/PESAWAT KETENTUAN DISINFEKSI : 1. Kapal/pesawat berasal dari negara terjangkit penyakit menular 2. Ada kasus/suspect penyakit menular berasal dari bakteri/virus KEPALA KKP MEMINTA PERSETUJUAN 1 SPK DISPOSISI 2 3 KEPALA BIDANG/SEKSI PRL 5. MENYIAPKAN DOKUMEN SPK UNTUK PENGAWAS KKP 6. MENYIAPKAN DOKUMEN UNTUK BUS PENGAWAS KKP BUS PENUNJUKAN 4 PERSIAPAN 5 5 6 10 9 PELAKSANAAN DISINFEKSI 7 PENILAIANPENERBITAN SERTIFIKAT 8 PELAPORAN 80
  • D. DEKONTAMINASID.1. Ketentuan Dilaksanakannya Dekontaminasi  Bila alat angkut (kapal/pesawat) dari negara terjangkit penyakit menular yang diduga terkontaminasi oleh kontaminan (agent biologi dan kimia).  Bila berdasarkan laporan nakhoda/pilot di dalam kapal/pesawat ada penumpang yang suspect/terjangkit penyakit menular.  Atas permintaan nakhoda/pilot/perusahaan.D.2. Metoda Dekontaminasi Alat Angkut (Kapal/Pesawat)  Memindahkan penumpang/crew dari pesawat ke ruang Re-RobbingRoom.  Men-dekontaminasi penumpang/crew dengan larutan dekontaminan yang tepat untuk mengurangi chemical dan biological agent.  Men-dekontaminasi interior dan exterion alat angkut (kapal/pesawat).D.3. Jenis Kontaminan  Chemical agent : gas dan laruta beracun, racun kimia.  Natural biological agent : Hazardous material.  Biological agent: virus, bacteria dan fungiD.4. Macam-macam Bahan Dekontaminasi a). Bahan Dekontanimasi Alam , terdiri dari : - Cuaca ( sinar matahari, kelembaban, suhu rendah). - Air dengan menyemprot atau merebus. - Tanah dengan menanam atau menimbun agar tidak menyebar luas. - Api dengan pemanasan kering. b). Bahan Dekontaminasi Kimia, terdiri dari : - Komposisi kimia tertentu yang dapat digunakan untuk mematikan mikroorganisme termasuk sporanya atau dalam bentuk kistanya, namun umumnya bersifat racun bagi manusia.D.5. Menurut cara penggunaannya Dibagi dalam 3 (tiga) bentuk yaitu : - Bentuk uap/gas, contoh : BPL (beta propilakton), Formal dehyde ETO (Etylene oxide). Bentuk cair atau larutan, padat atau kering contoh :Super Tropical Bleach), Larutan DACC (Dekontaminating Agen Non Corrosive), DS2 (Decantaminating Solution Number 2), Calcium Hyphoclorite,/HTH (High Test Calcium Hypochlorite), Sodium hipoclorite (House Hold Bleach), Detroclorite, Caustic Soda/Sodium hidroksida, Iodine water purification, Sabun dan larutan diterjen, PAA paraceticacid.D.6. Langkah-langkah Kegiatan Tahap-tahap kegiatan yang dilakukan dalam dekontaminasi terhadap alat angkut beserta isinya oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan sebagai fungsi Karantina adalah sebagai berikut: 81
  •  Petugas KKP mengetahui informasi dari Air Traffic Control/Air Line atau Agen Pelayaran adanya penumpang yang menderita penyakit menular atau penyakit belum diketahui sebabnya.  Petugas KKP melakukan persiapan alat, bahan, sarana dan prasarana sebelum alat angkut landing atau bersandar.  Kepala KKP berkoordinasi dengan Administrator pelabuhan/Ka Cabang PT Angkasa Pura untuk penanganan disinfeksi kapal/pesawat.  Memeriksa Dokumen Kesehatan pesawat/kapal.  Petugas yang akan melaksanaan disinfeksi berkoordinasi dengan KP3, KPLP dan security di Bandara untuk melaksanakan infestigasi dan penanganan disinfeksi.  Melakukan investigasi kepada nakhoda/pilot sesuai dengan prinsip Epidemiology (Time, Place dan Person) Melakukan penyemprotan pada bagian interior dan exterior dengan menggunakan pestisida yang tepat. - Penumpang diarahkan untuk masuk ke ruang Re-Robing room. - Melakukan pengobatan kepada penumpang dan crew. - Mencegah terjadinya penyebaran kontaminan ke lingkungan sekitar. - Bagasi dan barang bawaan lainnya dijauhkan dari alat angkut untuk dilakukan disinseksi selanjutnya dipisahkan untuk dimusnahkan atau dilakukan disinfeksi. - Melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap water drinking dan water supply. - Mengamankan lingkungan sekitar terutama sumber air minum dan air bersih di bandara/pelabuhanD.7. Mekanisme Pelaporan  Setiap selesai melakukan tindakan dekontaminasi alat angkut, orang dan barang maka pengawas membuat laporan tertulis 1 x 24 jam kepada Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan.  Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan melaporkan kegiatan tersebut ke Dirjen P2& PL dengan tembusan ke jejaring kerja.  Pencatatan dan pelaporan. 82
  • ALGORITMA DEKONTAMINASI DI KAPAL LAUT KETENTUAN DEKONTAMINASI : 1. Kapal berasal dari negara terjangkit penyakit menular 2. Ada kasus/suspect penyakit menular berasal dari bakteri/virus KEPALA KKP MEMINTA DISPOSISI PERSETUJUAN 1 SPK 2 3 KEPALA BIDANG/SEKSI PRL 3. MENYIAPKAN DOKUMEN SPK UNTUK PENGAWAS KKP 4. MENYIAPKAN DOKUMEN UNTUK BUS PENGAWAS KKP BUS PENUNJUKAN 4 PERSIAPAN 5 5 6 10 PELAKSANAAN DI LAPANGAN 9 7 PENILAIAN 8 PELAPORANPENERBITAN SSCC/SSCEC 83
  • ALGORITMA DEKONTAMINASI DI PESAWAT KETENTUAN DEKONTAMINASI : 1. Pesawat dari negara terjangkit penyakit menular 2. Ada kasus/suspect penyakit menular dari bakteri/virus KEPALA KKP MEMINTA 1 PERSETUJUAN SPK 2 3 KEPALA BIDANG/SEKSI PRL DISPOSISI 7. MENYIAPKAN DOKUMEN SPK UNTUK PENGAWAS KKP 8. MENYIAPKAN DOKUMEN UNTUK BUS PENGAWAS KKP BUS 4 PERSIAPAN PENUNJUKAN 5 5 6 10 PELAKSANAAN DI LAPANGAN 9 7 PENILAIAN 8 PELAPORANPENERBITAN SSCC/SSCEC 84
  • III. JEJARING KERJA Instansi /unit kerja yang terlibat dalam kegiatan ini adalah : 1. Administrator Pelabuhan 2. Administrator Bandara. 3. Syahbandar. 4. Perum Pelabuhan Indonesia. 5. Angkasa Pura. 6. Badan Usaha Swasta ( BUS ).IV. PENCATATAN DAN PELAPORAN  Setelah melakukan tindakan fumigasi, disinseksi, disinfeksi dan dekontaminasi maka dilakukan pencatatan dan pelaporan.  Data dari penanggung jawab kegiatan dilaporkan ke Kepala Bidang/Seksi, sedangkan untuk Wilker dilaporkan ke KKP Induk melalui koordinator pelaporan di masing-masing Bidang/Seksi di KKP Induk.  Dari KKP Induk dilaporkan Ke Ditjen PP & PL melalui Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Pelabuhan.  Data yang sifatnya KLB di laporkan 1 x 24 Jam.  Untuk mekanisme evaluasi dilakukan secara berjenjang, artinya wilayah kerja dievaluasi oleh KKP Induk sedangkan KKP Induk disamping melakukan evaluasi di masing-masing Bidang/Seksi juga dievaluasi oleh Ditjen PP & PL. 85
  • PENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGAWASAN LIMBAH B3 Prof.dr.Tjandra Yoga No. Dokumen : 02.012.2009 Hal : 86 dari 121 Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM&H, DTCEI. PERSIAPAN A. Sumber Daya Manusia Syarat :  Fungsional Sanitarian yang telah mendapat Pelatihan Pengawasan Limbah B3. Penunjang :  Pengemudi/sopir yang memiliki SIM A. B. Sarana Dan Prasarana B.1 Peralatan  Detektor Limbah B3  Kendaraan operasional  Kantong sampel  Sekop/Cidukan B.2 Bahan  Surat Tugas  Format isian  Perlengkapan sampling  Fomat laporanII. PELAKSANAAN A. Sasaran A.1 Alat angkut :  Kapal  Pesawat. A.2 Tempat Pengelolaan Limbah B3  Lokasi : Bangunan, letak bangunan dan kondisi bangunan.  Limbah B3 : limbah padat, limbah cair. 86
  • A.3 Tenaga  Terlatih dan tidak terlatih.  Penggunaan APD.  Jaminan kesehatan. A.4 Sistem kerja  Daur Ulang  Penimbunan  Dan lain-lainB. Ruang Lingkup Ruang lingkup SOP adalah suatu perangkat yang merumuskan aspek pengawasan limbah B3 & Pestisida yang meliputi ;  Tata cara pengawasan limbah mulai dari lokasi limbah sampai pada lokasi pemusnahan akhir.  Tata cara atau prosedur dokumen dan pelaporan pengelolaan limbah sesuai dengan peraturan dan perundang- undangan yang berlaku.  Lokasi limbah yang perlu diawasi meliputi : 1. Kapal/pesawat 2. Dok/galangan kapal 3. Industri 4. Pergudangan 5. Sarana Kesehatan 6. Lapangan peti kemas penumpukan barang 7. Perkantoran, perparkiran dan perusahaan 8. Jasa boga, rumah makan dan restoranC. Jenis Kegiatan  Pengawasan keluar masuknya limbah B3 melalui Pelabuhan dan Bandara.  Pengawasan tempat penampungan/pengolahan limbah B3 di wilayah Pelabuhan dan Bandara.  Monitoring limbah B3 yang ada di sekitar Pelabuhan (sampling)  Pemetaan lokasi limbah B3.D. Langkah-langkah Kegiatan  Pengawasan alat angkut limbah B3 : kapal dan pesawat udara.  Monitoring lingkungan yang berpotensi penghasil limbah B3.  Pemetaan lokasi limbah B3.  Pengawasan limbah B3 secara kuantitatif.  Monitoring proses akhir dari limbah B3.  Pengambilan sampel limbah di kirim ke B/BTKL-PPM. - Dalam pengawasan limbah di Pelabuhan, fungsi KKP tidaklah secara langsung tetapi hanya menggerakkan berbagai stakeholder dan partisipasi masyarakat sekitar. 87
  • - Instansi yang bertanggung jawab dalam pengelolaan limbah adalah instansi lain yang profesional dibidangnya yang ditunjuk oleh Pemerintah sebagai pengelola. - Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi KKP yang antara lain pengawasan pencemaran udara, air dan tanah di wilayah pelabuhan maka KKP berwewenang membina dan mengawasi pengelola limbah B3 di Pelabuhan, secara teknis operasional dibawah Administrator Pelabuhan/Administrator Bandara dan secara teknis fungsional dibawah Ditjen PP & PL. - Oleh karena itu dalam pengawasan pengelolaan limbah di wilayah pelabuhan/bandara bertanggung jawab kepada Administrator Pelabuhan/ Administrator Bandara dan berkoordinasi dengan pengelola Pelabuhan/Bandara. - Dalam keadaan tertentu KKP dapat berkoordinasi dengan instansi lain sesuai dengan obyek penanganan. - Secara lintas program KKP dapat berkoordinasi dengan unit teknis dan UPT seperti Balai Besar/Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pemberantasan Penyakit Menular ( B/BTKL-PPM).III. JEJARING KERJA Jejaring kerja pelaksanaan pengawasan limbah di Pelabuhan dan Bandara adalah: 1. Administrator Pelabuhan/Bandara 2. PT. Pelindo/PT.Angkasa Pura 3. Agen Pelayaran/Air Lines 4. BBTKL-PPM/BTKL-PPM 5. Subdit LimbahIV. PENCATATAN DAN PELAPORAN  Setiap permasalahan yang didapatkan dari pemeriksaan dan pengawasan limbah B3 perlu dibuatkan catatan-catatannya untuk penilaian kembali keadaan berikutnya.  Kegiatannya : 1. Hasil pemeriksaan dan pengawasan di lapangan dicatat dalam buku register Limbah (pengambilan sampel, sampel dirujuk ke B/BTKL-PPM). 2. Data dianalisa. 3. Data dibuatkan visualisasi/tabel/grafik. 4. Desiminasi pada instansi terkait di lingkungan Pelabuhan/Bandara. 88
  • ALGORITMA PENGAWASAN LIMBAH B3 DI PELABUHAN/BANDARA KETENTUAN: 1. Pemeriksaan rutin 2. Kasus PHEIC 3. Permohonan PERSIAPAN: 1. SPK 2. Alat/Bahan 3. Petugas/SDM 4. Transportasi PENGAMBILAN SAMPEL PEMERIKSAAN SAMPEL DI LABORATORIUM AMAN TIDAK AMANREKOMENDASI REKOMENDASI LANGSUNG PROSES DIBUANG PENGOLAHAN DIBUANG LAPORAN 89
  • PENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGAWASAN PEPTISIDA Prof.dr.Tjandra Yoga No. Dokumen : 02.013.2009 Hal : 90 dari 121 Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM&H, DTCEI. PERSIAPAN A. Sumber Daya Manusia Syarat :  Fungsional Sanitarian yang telah mendapat Pelatihan Pengawasan Pestisida. Penunjang :  Pengemudi/sopir yang memiliki SIM A B. Sarana Dan Prasarana B.1 Peralatan  Kendaraan  Peralatan pengambilan sampel (jerigen, botol sampel)  Kantong plastik khusus sampel B3  Kertas label  Spidol permanen  Pakaian kerja  Sarung tangan bahan kimia  Helmet  Kendaraan khusus  Kacamata safety  Masker  Sampel box  Kamera  Sekop B.2 Bahan  Surat Tugas  Format isian  Fomat laporan 90
  • II. PELAKSANAAN A.1 Pengawasan Pestisida.  Tata cara atau prosedur dokumen dan pelaporan pengelolaan pestisida sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Alat angkut Dalam negeri KKP Luar Negeri B3 + Pestisida B3+ Pestisida Area karantina Pengawasan/Pemeriksaan -Dokumen -Format isian -Perlengkapan Sampling Langsung ke Tidak langsung konsumen/industri pabrik - Simpan di gudang A.2 Jenis Kegiatan  Pengawasan keluar masuknya pestisida melalui Pelabuhan dan Bandara.  Pengawasan tempat penampungan/pengolahan pestisida di wilayah Pelabuhan dan Bandara.  Monitoring pestisida yang ada di sekitar Pelabuhan dan Bandara.  Pemetaan lokasi pestisida. 91
  • A.3 Langkah Kegiatan  Pengawasan alat angkut pestisida : kapal dan pesawat udara.  Monitoring lingkungan yang berpotensi penghasil pestisida.  Pemetaan lokasi pestisida.  Pengawasan pestisida secara kuantitatif.  Monitoring proses akhir dari pestisida.  Penyuluhan pengelolaan pestisida yang benar secara profesional.A.4 Pelaksanaan  Penanggungjawab / pemilik pestisida memberitahukan kedatangan/keberadaan pestisida.  Petugas pelaksana sebelum melaksanakan kegiatan harus sudah mengenakan APD.  Petugas pelaksana kegiatan harus sudah dilengkapi dengan surat tugas dan peralatan lengkap.  Petugas pelaksana kegiatan harus melapor kepada atasan langsung sebelum melaksanakan kegiatan.  Petugas pelaksana kegiatan sesampainya di lokasi penyimpanan / pengolahan pestisida / alat angkut yang membawa pestisida, melapor kepada penanggung jawab dengan menunjukan Surat Tugas.  Tanyakan kepada penanggung jawab mengenai kelengkapan dokumen pestisida sesuai dengan formulir pemeriksaan.  Apabila dokumen pestisida dinyatakan lengkap, petugas pelaksana melakukan pemeriksaan lapangan untuk melakukan verifikasi untuk melihat kesesuaian dengan dokumen.  Petugas pelaksana kegiatan mengambil sampel dengan disaksikan oleh penanggung jawab.  Adapun cara pengambilan sampelnya adalah: - Apabila pestisida dalam bentuk cairan dan tersimpan dalam drum, cairan dituangkan dalam ember selanjutnya dimasukan ke dalam botol/jerigen dan diberi label yang menerangkan (lokasi pengambilan, tanggal pengambilan, jam pengambilan, petugas pengambil, pemilik pestisida, asal limbah dan nama alat angkut). - Apabila pestisida dalam bentuk padat, maka pengambilan sampel dengan menggunakan sekop dan dimasukan ke dalam kantong plastik khusus. Pada kemasan diberi label  Apabila dokumen pestisida tidak lengkap petugas tetap melakukan verifikasi dan melakukan pengambilan sampel.  Petugas pelaksana membuat berita acara pengambilan sampel dan diketahui oleh penanggung jawab pestisida.  Petugas pelaksana mengantar sampel ke laboratorium dan disertai dengan tanda terima sampel.  Petugas pelaksana membuat laporan pelaksanaan kegiatan.  Apabila hasil pemeriksaan laboratorium telah selesai, maka dilakukan analisis hasil pemeriksaan laboratorium.  Membuat laporan disertai rekomendasi yang disampaikan kepada Ka. KKP. 92
  •  Apabila diperlukan, KKP dapat membuat tindak lanjut. III. JEJARING KERJA  Dalam pengawasan pestisida di Pelabuhan/Bandara fungsi KKP secara langsung, tetapi berkoordinasi dengan berbagai stakeholder yang ada di Pelabuhan/Bandara. Pengelola pestisida adalah instansi profesional dibidangnya yang ditunjuk oleh Pemerintah sebagai pengelola. - Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi KKP yang antara lain pengawasan pencemaran udara, air dan tanah di wilayah Pelabuhan maka KKP berwewenang membina dan mengawasi pengelolaan pestisida di Pelabuhan/Bandara, secara teknis operasional di bawah Administrator Pelabuhan/Administrator Bandara dan secara teknis fungsional di bawah Ditjen PP dan PL. Oleh karena itu dalam pengawasan pengelolaan pestisida di wilayah Pelabuhan/Bandara, KKP bertanggungjawab kepada Administrator Pelabuhan/Administrator Bandara dan berkoordinasi dengan pengelola Pelabuhan/Bandara. - Dalam keadaan tertentu KKP dapat berkoordinasi dengan instansi lain sesuai dengan obyek penanganan. Sesuai dengan SOP pengawasan limbah B3 & pestisida, maka semua jajaran yang terkait baik lintas program maupun lintas sektor di wilayah kerja KKP. - Secara lintas program KKP dapat berkoordinasi dengan unit teknis dan UPT seperti Balai Besar/Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pemberantasan Penyakit Menular (B/BTKL-PPM). Sesuai dengan SOP pengawasan limbah B3 & pestisida, maka semua jajaran yang terkait baik lintas program maupun lintas sektor di wilayah kerja KKPIV. PENCATATAN DAN PELAPORAN  Setiap permasalahan yang didapatkan dari pemeriksaan dan pengawasan pestisida perlu dibuatkan catatan -catatannya guna untuk penilaian kembali keadaan berikutnya. Kegiatannya : - Hasil pemeriksaan dan pengawasan di lapangan dicatat dalam buku register pestisida. - Data dianalisa. - Data dibuatkan visualisasi/tabel/grafik. - Desiminasi pada instansi terkait di lingkungan Pelabuhan/Bandara.  Jika diperhatikan Upaya Pengawasan, maka pelaporan pelaksanaan juga dilaksanakan secara periodik kepada : 1. Ditjen PP&PL. 2. Instansi terkait lainnya. 3. Badan Usaha (objek pengawasan). 93
  • ALGORITMA PENGAWASAN PESTISIDA DI PELABUHAN/BANDARA KETENTUAN: 1. Pemeriksaan rutin 2. Kasus PHEIC 3. Permohonan PERSIAPAN: 1. SPK 2. Alat/Bahan 3. Petugas/SDM 4. Transportasi PELAKSANAAN PEMERIKSAAN: PEMERIKSAAN PESTISIDA: Alat pengangkutan, Tempat Fisik, Dokumen, Pengambilan penyimpanan, Pengaturan ruangan Sampel, Berita Acara AMAN PEMERIKSAAN SAMPEL TIDAK AMAN DI LABORATORIUM REKOMENDASI REKOMENDASI ANALISIS HASILDISIMPAN DALAM PENGANGKUTAN REKOMENDASIGUDANG/CARGO PENGANGKUTAN KHUSUS 94 LAPORAN
  • Lampiran 1Lokasi Pengambilan Sampel :Tanggal pengambilan :Jam pengambilan :Nama alat angkut :Asal pestisida :Petugas pengambil :Pemilik pestisida : 95
  • Lampiran 2 BERITA ACARA PENGAMBILAN SAMPEL PESTISIDAPada hari ini ................Tanggal .........Bulan...............Tahun..................................Telah dilakukan pengambilan sampel pestisida terhadap: Nama Bahan : Banyaknya : Lokasi : Pemilik :Yang dilakukan oleh petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan .....................danpenanggung jawab pestisida di lokasi.Demikian berita acara ini dibuat untuk dapat dipergunakan seperlunya: Penanggung Jawab Lokasi pestisida Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan..................................... (.....................................) 96
  • Lampiran 3 TANDA TERIMA SAMPELNama Pemilik Sampel :Tanggal Pengambilan :Petugas yang mengambil :Nama contoh :Kode :Banyaknya :Parameter diperiksa : ……………………….20……Tanggal diterima:……………… Petugas,Petugas Laboratorium.............................................. .......................... 97
  • Lampiran 4 FORMULIR PENGAWASAN PESTISIDANama Pestisida :Volume Pestisida :Tanggal Kedatangan Pestisida :Nama Alat angkut :Nama Nakhoda :Asal Pestisida :Dokumen yang dimiliki :  Izin import/eksport :  Material Safety Data Sheet :Peruntukan :Pemilik :Kemasan : ………………………….20…….. Petugas, (………………………………) 98
  • PENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGAWASAN HYGIENE SANITASI BANGUNAN/GEDUNG PERKANTORAN, INDUSTRI DAN TEMPAT-TEMPAT UMUM Prof.dr.Tjandra Yoga Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM&H, No. Dokumen : 02.014.2009 Hal : 99 dari 121 DTCEI. PERSIAPAN A. Sumber Daya Manusia : Syarat :  Fungsional Sanitarian yang telah mendapat Pelatihan. Penunjang :  Pengemudi/sopir yang memiliki SIM A. B.Sarana Dan Prasarana B.1 Peralatan  Kendaraan roda 4  Pengukuran pencahayaan (Lux Meter)  Pengukuran kelembaban (Hygrometer)  Pengukur kebisingan (Sound Level Meter)  Pengukur mikroba dalam ruangan (Microbiological Test Kit)  Pengukur kualitas udara (Air Pollution Test Kit)  Sanitarian Kit  Water Test Kit dan Vektor Test Kit  Sepatu safety  Helmet  Peralatan pengambilan sampel air bersih, limbah, debu dan mikroba dalam ruangan  Termometer  Personal dust sampler  Fly grill  Senter  Thermo-anemometer  Pengukur radiasi  Pengukur getaran  Kertas Label  Kendaraan Khusus  Masker  Sampel Box  Kamera  Label 99
  • B.2 Bahan  Surat Tugas  Formulir  ATK  Alkohol C. Jadwal Kerja  Tentukan waktu dan tempat pengawasan  Tentukan tenaga pengawasII. PELAKSANAAN A. Administratif  Pemberitahuan kepada Administrator Pelabuhan/Administrator Bandara dengan tembusan kepada Pengelola (Pelindo/Angkasa Pura), Bea dan Cukai, Imigrasi, Kepolisian dan institusi lain yang berada di wilayah Pelabuhan/Bandara.  Surat Tugas yang ditanda tangani oleh Ka. KKP. B. Pemetaan  Pendataan bangunan, gedung/perkantoran, industri dan tempat-tempat umum.  Buatkan peta dengan bantuan komputer melalui program GIS.  Tempelkan peta atau simpan sebagai dokumen untuk memudahkan pemantauan. C. Pengawasan Hygiene Sanitasi Bangunan/Gedung, Industri, Perkantoran Dan Tempat-Tempat Umum  Pemberitahuan ke pimpinan instansi bangunan/gedung, perkantoran, industri, dan tempat-tempat umum.  Petugas melakukan kunjungan ke lokasi pengawasan disertai Surat Tugas.  Pemeriksaan/inspeksi sanitasi bangunan/gedung, industri, perkantoran dan tempat-tempat umum.  Pengukuran kualitas lingkungan dan sampling.  Parameter yang diukur meliputi : air bersih, kebersihan, udara ruangan (suhu dan kelembaban, debu, pertukaraan udara, gas pencemar, mikrobiologi), limbah, pencahayaan, kebisingan di ruangan, getaran di ruangan, radiasi di ruangan, vektor penyakit, ruang dan bangunan, toilet dan instalasi.  Standar parameter yang diukur mengacu pada Kepmenkes RI No. 1405/Menkes/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri.  Tata cara pengukuran dan sampling, lihat petunjuk pada alat yang digunakan dan parameter yang akan diukur. 100
  •  Analisis hasil pemeriksaan dan pengukuran kualitas lingkungan/sampling.  Rekomendasi hasil pemeriksaan dan pengukuran kualitas lingkungan.  Hasil yang memenuhi syarat diberikan sertifikat.  Hasil yang tidak memenuhi syarat diberikan saran perbaikan untuk ditindaklanjuti.  Bila dipandang perlu, pelanggaran terhadap ketentuan ini diserahkan kepada PPNS untuk diproses hukum sesuai UU No. 23 tentang Kesehatan. D. Monitoring Secara Berkala  Monitoring dilakukan secara berkala dengan melakukan inspeksi sanitasi dan sampling.  Hasil monitoring dan kajiannya disampaikan kepada lintas sektor terkait.  Untuk meningkatkan pemahaman kepada masyarakat dilakukan penyuluhan dan penerapan sanksi hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.III. JEJARING KERJA 1. Administrator Pelabuhan/Adminitrator Bandara 2. PT. Pelindo/Angkasa Pura dan atau perusahaan/BUMN pengusahaan Pelabuhan 3. Pengusaha industri 4. Perusahaan Pelayaran/Air Lines 5. Pimpinan instansi pemerintah dan swasta di lingkungan Pelabuhan/Bandara 6. Balai laboratorium/B/BTKL-PPM 7. Dinas Kesehatan 8. Badan Usaha Swasta (BUS) 9. Pemilik bangunan/gedung, perusahan industri, perkantoran dan tempat- tempat umumIV. PENCATATAN DAN PELAPORAN Setiap permasalahan yang didapatkan dari pemeriksaan dan pengawasan hygiene sanitasi bangunan/gedung, perkantoran, industri, dan tempat-tempat umum perlu dibuatkan catatan-catatannya guna penilaian kembali pada pemeriksaan/pengawasan berikutnya: Yaitu dengan melakukan beberapa kegiatan diantaranya  Menyiapkan surat tugas dan formulir kegiatan serta peralatan penunjang kegiatan hygiene sanitasi bangunan/gedung, perkantoran, industri dan tempat-tempat umum.  Setiap kegiatan pengawasan dan pengamatan serta pengukuran dilakukan pencatatan pada formulir masing-masing kegiatan dan selesai kegiatan formulir harap diketahui atau diparaf oleh pemilik , pengelola atau 101
  • penanggungjawab bangunan dan atau tempat-tempat umum yang dilakukan pemeriksaan. Hasil pemeriksaan dan pengawasan di lapangan dicatat dalam buku register TTU. Data dianalisa. Data dibuatkan visualisasi/table/grafik. Hasil pengawasan dilaporkan kepada Ditjen PP & PL Cq. Subdit Karkes. Desiminasi pada instansi terkait di lingkungan Pelabuhan. Menginformasikan hasil pengamatan serta upaya tindak lanjut kepada pengelola dan tembusan kepada Adpel/Kepala Bandara serta Instansi terkait. Bila hasil pengamatan tidak baik atau kurang memenuhi syarat maka perlu diinformasikan tentang langkah-langkah penanggulangannya/rekomendasi. 102
  • ALGORITMAPEMERIKSAAN SANITASI BANGUNAN/GEDUNG, PERKANTORAN, INDUSTRI DAN TEMPAT-TEMPAT UMUM KETENTUAN PEMERIKSAAN : 1. PEMERIKSAAN RUTIN 2. KASUS PHEIC KEPALA KKP TIM PELAKSANA PERSIAPAN PELAKSANAAN DI LAPANGAN PEMERIKSAAN dan PENGUKURAN KUALITAS LINGKUNGAN : - Air bersih, kebersihan, udara ruangan (suhu dan kelembaban, debu, pertukaraan udara, gas pencemar, mikrobiologi), limbah, pencahayaan, kebisingan di ruangan, getaran di ruangan, radiasi di ruangan, vektor penyakit, ruang dan bangunan, toilet dan instalasi REKOMENDASI PENILAIAN Sertifikasi PELAPORAN Saranperbaikan/ proses verbal 103
  • Lampiran : 1 FORM INSPEKSI SARANA BANGUNAN DI PELABUHAN1. Nama Bangunan :2. Lokasi :3. Pelabuhan/Bandara :NO FAKTOR RISIKO Ya Tidak Keterangan 1 2 3 4 51. Atap dan Talang Kemiringan cukup dan tidak ada genangan air2. Dinding a. Bersih b. Permukaan yang selalu kontak dengan air, kedap air c. Permukaan bagian dalam mudah dibersihkan d. Berwarna terang3. Lantai a. Bersih b. Kedap air c. Tidak licin4. Tangga a. Kemiringan tangga ≤ 45 derajat b. Lebar injakan tangga ≥30 cm c. Tinggi anak tangga max 20 cm d. Ada pegangan tangan e. Lebar tangga ≥ 150 cm5. Pencahayaan ruang kelas/pertemuan 200- 300 lux atau dapat membaca buku dengan jelas tanpa bantuan penerangan pada siang hari6. Pencahayaan ruang perpustakaan 200- 300 lux atau dapat membaca buku dengan jelas tanpa bantuan penerangan pada siang hari7. Pencahayaan ruang laboratoriun 200-300 lux atau dapat membaca buku dengan jelas tanpa bantuan penerangan pada siang hari8. Ventilasi a. Ruang yang tidak pakai AC luas ventilasi ruang kelas/ pertemuan ≥ 20 % 104
  • atau b. 80% Ruang kelas/pertemuan pakai AC tidak tercium bau apek9. Tempat cuci tangan a. Tersedia 1 tempat cuci tangan untuk 1 ruang kelas/pertemuan b. Tersedia sabun c. Tersedia air bersih10. Kebisingan ≤ 45 dB (A)11. Air bersih a. Tersedia air untuk kebutuhan sanitasi b. Air bersih tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau12 Toilet a. Terpisah antara laki-laki dan perempuan b. Bersih c. Lantai kedap air d. Lantai miring kearah pembuangan tidak ada genangan e. Tidak terlihat banyak nyamuk f. Tidak terlihat ada jentik g. Tersedia tempat sampah h. Tersedia sabun i. Tersedia pengering j. Tersedia peralatan pembersih k. Tersedia bahan desinfektan untuk pembersih l. Cukup penerangan13. Sampah a. Setiap ruangan tersedia tempat sampah b. Tersedia TPS c. Tidak ada sampah membusuk di TPS14. SPAL a. air limbah mengalir dengan lancar b. Tidak ada genangan air limbah15. Vektor a. Tidak adanya jentik di dalam bangunan b. Tidak ditemukan tikus c. Tidak banyak lalat16. Kantin a. Penyajian makanan dalam keadaan tertutup b.Tempat pencucian peralatan tersedia cukup air c.Penyimpanan bahan makanan mentah dengan makanan siap saji terpisah 105
  • d. Kondisi kantin bersih17. Halaman/tempat parkir a. Bersih b. Tidak ada genangan c. Ada pagar d. Ada petunjuk arah tempat parkir e. Ada tempat sampah f. Cukup penerangan g. Ada pos penjagaan18 Perilaku a.Petugas/pengelola tidak merokok saat mekakukan pekerjaan b. Tidak terlihat sampah berserakan c. Ada himbauan tentang kebersihan d. Ada larangan daerah bebas rokok 106
  • Lampiran : 2Contoh : Formulir Pemeriksaan Sanitasi Tempat Tempat Umum FORMULIR PEMERIKSAAN SANITASI TTUJenis TTU :Unit / Sub unit :Hari, tanggal : Pemeriksa :No Item Penilaian bulan ………….. Ket Pem.ke Pem.ke Pem.ke III I II K P K P K P1 Ventelasi2 Pencahayaan3 Lantai4 Dinding5 Persediaan air6 Tempat sampah7 Saluran air limbah8 Pintu & Jendela kaca9 Tempat peracikan10 Perlengkapan peracikan11 Tempat pencucian alat12 Tmpt simpan bhn mentah13 Tmpt simpan makanan14 masak15 Pakaian kerja16 Cara kerja17 Karyawan *) Tempat cuci tangan *) dilengkapi buku Pemeriksaan kesehatan Jumlah item : Jumlah % K ( - ) : Jumlah % P ( - ) : Kesimpulan / catatan : ……………………………………………… Pemeriksa TT (……………………………) 107
  • Lampiran : 3Contoh : Formulir/Kartu Saran KANTOR KESEHATAN PELABUHAN ………………………………… SARAN – SARAN PERBAIKAN Jenis TTU : Pemeriksaan tgl : Pemeriksa : Setelah diadakan pemeriksaan Sanitasi, maka perlu diadakan tindakanperbaikan dari hal – hal tersebut di bawah ini : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Dst. Diterima oleh : Pemeriksa : Pengusaha TTU( …………………… ) ( ……………………..) 108
  • Lampiran : 4Contoh : Kartu perbaikan KANTOR KESEHATAN PELABUHAN ……………………………… KARTU PERBAIKAN Macam, bahan/alat : Pemeriksaan tgl : Batas waktu perbaikan : Yang perlu diperbaiki : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Dst Pemeriksa Stempel ( …………………..) Kartu ini dibuat rangkap 2 untuk : 1. kartu ditempel pada bahan/alat yang perlu diperbaiki 1. kartu untuk arsip petugas pemeriksa 109
  • PENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGAWASAN PENCEMARAN TANAH Prof.dr.Tjandra Yoga No. Dokumen : 02.015.2009 Hal : 110 dari 121 Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM&H, DTCEI. PERSIAPAN A. Sumber Daya Manusia : Syarat :  Fungsional Sanitarian  Teknik Kebandar Udaraan  Teknik Fisika  Analisa Komputer  Teknik Geodesi  Teknik Navigasi Penunjang :  Pengemudi/sopir yang memiliki SIM A. B. Sarana Dan Prasarana Peralatan  Kantongp plastik sampel  Kertas label  Spidol permanen  Pakaian kerja  Sarung tangan bahan kimia  Helmet  Kendaraan khusus  Kacamata safety  Masker  Sampel box  Sekop Bahan  Surat Tugas  Format  ATK 110
  • II. PELAKSANAAN  Petugas yang telah ditunjuk melakukan inspeksi di lingkungan Pelabuhan/Bandara terhadap sumber-sumber pencemar, tempat peletakan bahan pencemar, tempat penimbunan sampah dan lain-lain.  Petugas mendata pemilik bahan pencemar, jenis bahan pencemar, asal bahan pencemar, lamanya bahan pencemar berada di tempat.  Petugas mengamati keadaan di sekitar bahan pencemar apakah terjadi kebocoran atau adanya cairan bahan pencemar yang mengendap di atas permukaan tanah.  Apabila ada bahan pencemar yang mengendap di atas permukaan tanah dan diperkirakan dapat mencemari tanah, petugas melakukan pengambilan sampel terhadap tanah tersebut.  Sampel yang diambil kemudian diberi label: tanggal dan waktu pengambilan sampel, lokasi dan petugas pengambil sampel.  Petugas pelaksana mengantar sampel ke laboratorium dan disertai dengan tanda terima sampel.  Petugas pelaksana membuat laporan pelaksanaan kegiatan.  Apabila hasil pemeriksaan laboratorium telah selesai, maka dilakukan analisis hasil pemeriksaan laboratorium.  Membuat laporan disertai rekomendasi yang disampaikan kepada Ka. KKP.  Apabila diperlukan KKP dapat membuat tindak lanjut. 111
  • DEPARTEMEN KESEHATAN RIDIREKTORAT JENDERAL PP &PLKANTOR KESEHATAN PELABUHAN ……………………….. FORMULIR INSPEKSI PENCEMARAN TANAHLOKASI :TANGGAL : JUMLAH PEMILIK LOKASI BAHANNO JENIS BAHAN PENCEMAR BAHAN BAHAN PENCEMAR PENCEMAR PENCEMAR12345678910 …………………..., ……………20 ….. Mengetahui :Kabid/Kasie Pengendalian Risiko Petugas pelaksana, Lingkungan, ...................................... 112
  • ALGORITMA PENGAWASAN PENCEMARAN TANAH Surat Tugas Di Tanda tangani Ka. KKP Persiapan Petugas :  Penyiapan alat dan bahan  Pemakaian APD  Format pemeriksaan Pemeriksaan Lingkungan sumber/bahan pencemar di lingkungan Pelabuhan/Bandara Ada indikasi pencemaran tanah Tidak ada indikasi pencemaran tanah Pengambilan sample TanahHasil Tdk Sesuai Hasil Sesuaiyg disyaratkan yg disyaratkan Tindak Lanjut Laporan 113
  • PENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGUKURAN KEBISINGAN Prof.dr.Tjandra Yoga No. Dokumen : 02.016.2009 Hal : 114 dari 121 Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM&H, DTCEI. PERSIAPAN A. Sumber Daya Manusia Syarat :  Fungsional Sanitarian yang pernah mendapat Pelatihan Kebisingan. Penunjang :  Pengemudi/sopir yang memiliki SIM A. B. Sarana Dan Prasarana Peralatan  Sound Level Meter  Komputer  Program Komputer pembuat Noise Contur Model  Printer  Plotter  Quesioner kebisingan Bahan  Surat Tugas  Format  ATKII. PELAKSANAAN A. Penentuan Titik Sampling A.1. Bandar Udara  Penentuan Kawasan Kebisingan Bandara dimulai dengan penggambaran peta situasi Bandara sesuai dengan program komputer yang akan digunakan sebagai titik awal untuk menggabungkan gambar kawasan kebisingan ke dalam gambar peta situasi Bandara. 114
  •  Memasukan data yang sudah dianalisa dan mengolah data sesuai dengan masukan yang diterima dan sebagai hasil akhir adalah gambar kontur kebisingan.  Menggabungkan gambar kontur kebisingan hasil proses penggambaran ke dalam peta situasi Bandara untuk mendapatkan Kawasan Kebisingan.  Kawasan kebisingan di sekitar Bandara diukur dan ditentukan dengan bertitik tolak pada rencana induk Bandara.  Dalam menentukan Kawasan Kebisingan dengan menentukan titik-titik ekstrime tiap -tiap Kawasan Kebisingan : - Inventarisasi data Bandara. - Analisa data dalam menentukan Kawasan Kebisingan : 1. Perkiraan dimensi landasan pacu. 2. Perkiraan jumlah jenis pesawat. 3. Frekuensi jumlah pesawat melakukan pendaratan/take off. 4. Jenis pelayanan pesawat udara komersial dan lain-lain.  Batas Kawasan Kebisingan ( BKK) Terbagi menjadi tiga zona Batas Kawasan Kebisingan 1. Batas Kawasan Kebisingan Tingkat I (Wilayah Buffer) Digunakan jenis kegiatan/bangunan kecuali bangunan sekolah dan Rumah Sakit. 2. Batas Kawasan Kebisingan Tingkat II (Wilayah Perimeter) Digunakan jenis kegiatan/bangunan kecuali bangunan sekolah dan Rumah Sakit dan rumah tingga. 3. Batas Kawasan Kebisingan Tingkat III (Wilayah Perimeter) Digunakan jenis kegiatan/bangunan fasilitas Bandara yang dilengkapi pemasangan insulasi suara sesuai dengan prosedur yang standar sedemikian sehingga tingkat bising yang terjadi sesuai memenuhi syarat.  Satuan Kebisingan dalam WECPNL : Weighted Equivalent Continous Perceived Noise LevelA.2. Pelabuhan  Penentuan Kawasan Kebisingan Pelabuhan dimulai dengan penggambaran peta situasi Pelabuhan sesuai dengan program komputer yang akan digunakan sebagai titik awal untuk menggabungkan gambar kawasan kebisingan ke dalam gambar peta situasi Pelabuhan.  Memasukan data yang sudah dianalisa dan mengolah data sesuai dengan masukan yang diterima dan sebagai hasil akhir adalah gambar kontur kebisingan.  Menggabungkan gambar kontur kebisingan hasil proses penggambaran ke dalam peta situasi Pelabuhan untuk mendapatkan Kawasan Kebisingan.  Dalam menentukan Kawasan Kebisingan dengan menentukan titik-titik ekstrime tiap –tiap Kawasan Kebisingan : - Inventarisasi data Pelabuhan - Analisa data dalam menentukan Kawasan Kebisingan : 115
  • 1. Perkiraan jumlah sumber kebisingan di Pelabuhan. 2. Perkiraan jumlah jenis fasilitas pelayanan umum. 3. Jenis pelayanan kapal komersial dan lain-lain.  Batas Kawasan Kebisingan (BKK) Terbagi menjadi tiga zona Batas Kawasan Kebisingan : 1. Batas Kawasan Kebisingan Dalam (Wilayah Perimeter) Digunakan jenis kegiatan/bangunan fasilitas Pelabuhan, Instansi dalam rangka menunjang pelayanan publik di Pelabuhan. 2. Batas Kawasan Kebisingan Luar (Wilayah Buffer) Digunakan jenis kegiatan/bangunan untuk kegiatan sekolah dan Rumah Sakit dan lingkungan rumah tinggal (400 m diluar batas Pelabuhan). 3. Batas Kawasan Kebisingan sebagai control (diluar wilayah Perimeter & Buffer) Digunakan sebagai kontrol/pembanding, umumnya di lingkungan pemukiman atau perumahan .  Satuan Kebisingan : Decibel (dBA)B. Pengukuran Kebisingan  Untuk mengetahui tingkat kebisingan di suatu wilayah menurut Men KLH Np Kep 48/MENLH/11/1996, ada 2 Metode Pengukuran yaitu : 1. Cara Sederhana Dengan sebuah Sound Level Meter biasa diukur pada tingkat bising (dBA) selama 10 menit, untuk pengukur pembacaan dilakukan selama 5 detik. 2. Cara Langsung Dengan sebuah Integreting Level Meter yang mempunyai fasilitas pengukuran (Lms) yaitu (Leq) dengan waktu ukur 5 detik dilakukan selama 10 menit, hanya waktu pengukuran dilakukan selama 24 Jam (Lsm) dengan cara : - Pada siang hari tingkat aktifitas paling tinggi selama 16 jam (Ls) pada selang waktu 06.00 – 22.00 - Pada aktifitas malam selama 8 jam (Lm) selang 22.00 – 06.00 3. Wawancara melalui quesioner terhadap dampak kebisingan. C. Pelaporan Hasil C.1. Bandar Udara  Pada pengukuran kebisingan di Bandara rumus perhitungan dengan satuan kebisingan adalah WECPNL (Weighted Equivalent Continous Perceived Noise Level), adalah sebagai berikut : (WECPNL) : dB(A) + 10 Log N -27 dB(A) : 10 Log { (1/n) Σ 10 Li/n } : N2 + 3 N3 + 10 (N1 + N4) WECPNL (Weighted Equivalent Continous Perceived Noise Level) adalah : Salah satu diantara beberapa indeks tingkat kebisingan pesawat udara yang ditetapkan dan direkomendasikan oleh ICAO 9International Civil Aviation Organization). 116
  • dBA : Nilai decibel rata-rata dari setiap puncak kesibukan pesawat dalam satu hari. n : Jumlah kedatangan dan keberangkatan pesawat udara selama 24 jam. N1 : Jumlah kedatangan & keberangkatan pesawat udara dari jam 00.00 – 07.00. N2 : Jumlah kedatangan & keberangkatan pesawat udara dari jam 07.00 – 19.00 N3 : Jumlah kedatangan & keberangkatan pesawat udara dari jam 19.00 – 22.00 N4 : Jumlah kedatangan & keberangkatan pesawat udara dari jam 22.00 – 07.00  Menurut Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No Skep / 109 / 109/VI/200 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembuatan Kawasan Kebisingan Badar Udara : a. Kawasan Kebisingan Tingkat I : 70 < WECPNL < 75 b. Kawasan Kebisingan Tingkat II : 75 < WECPNL < 80 c. Kawasan Kebisingan Tingkat I : WECPNL > 80 C.2. Pelabuhan Menurut Keputusan Menteri Lingklungan Hidup No KEP - 48/MENLH/11/1996, bahwa tingkat kebisingan di Pelabuhan dibedakan : a. Di dalam Pelabuhan maksimal 70 dBA. b. Di Lingkungan Pemukiman maksimal 55 dBAIII. PELAPORAN  Hasil pemeriksaan dan pengawasan di lapangan di catat dalam buku register.  Data dianalisa.  Data dibuatkan visualisasi/tabel/grafik.  Desiminasi pada instansi terkait di lingkungan Pelabuhan/Bandara 117
  • ALGORITMA PENGUKURAN KEBISINGAN DI PELABUHAN/BANDARA Surat Tugas Ditanda tangani Ka KKP Persiapan petugas : - Peralatan & bahan - Format Pelaksanaan Penentuan Titik Sampling - Pemetaan Pengukuran Kebisingan Pada Kawasan Kebisingan : - Cara Sederhana - Cara Langsung - Wawancara (quesioner) Penilaian AnalisaPENGENDALIAN RESIKO LINGKUNGAN Disahkan oleh: Laporan 118
  • Dirjen PP&PL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGAWASAN PENCEMARAN UDARA Prof.dr.Tjandra Yoga No. Dokumen : 02.017.2009 Hal : 119 dari 121 Aditama,Sp.P(K),MARS,DTM&H, DTCEI. PERSIAPAN A. Sumber Daya Manusia : Syarat :  Fungsional Sanitarian yang sudah pernah Pelatihan Pencemaran Udara. Penunjang :  Pengemudi /sopir yang memiliki SIM A. B. Sarana Dan Prasarana Peralatan  Midget Impinge Meter  Gas Detector (Co,Co2,H2S,Pb, No2,CH3Br dll)  Sampel udara Bahan  Surat Tugas  Format  ATKII. PELAKSANAAN A. Pengambilan Sampel a. Dilakukan pengambilan pada lokasi yang dekat dengan sumber pencemaran dengan alat Midget Impinge Meter / Gas detector : Bandara : apron, halaman parkir Bandara, jalan dan lingkungan perumahan.  Pelabuhan : dermaga, jalan raya, pabrik, terminal penumpang/petik kemas, dan gudang b. Penentuan pengambilan dengan cara random sampling daerah yang berpotensi terhadap pencemaran udara di dalam Pelabuhan (Wilayah Perimeter) dan lingkungan pemukiman (Wilayah Buffer) dengan parameter : CO, CO2, H2S, Pb, No2, CH3Br, debu dan lain-lain sehingga dapat terwakili area yang diambil untuk pemeriksaan selama 1 jam setiap titik lokasi. c. Penentuan lokasi sebagai control ( diluar Wilayah Perimeter dan buffer) B. Pemeriksaan Pencemaran Udara 119
  •  Hasil pengambilan sampel diuji dengan metode American Society for Testing and Material.  Waktu pemeriksaan Pencemaran kurang lebih 14 hari.  Hasil pengujian sampel di interpretasikan dengan Baku mutu.III. PELAPORAN HASIL 1.Hasil pengujian sampel pencemaran lingkungan disesuaikan dengan standart Baku Mutu. 2.Hasil pemeriksaan dan pengawasan di lapangan di catat dalam buku register. 3.Data dianalisa. 4.Data dibuatkan visualisasi/tabel/grafik. 5.Desiminasi pada instansi terkait di lingkungan Pelabuhan/Bandara. 120
  • ALGORITMA PENGUKURAN PENCEMARAN UDARA DI PELABUHAN/BANDARA Surat Tugas ditanda tangani Ka KKP Persiapan Petugas : - Penyiapan alat & bahan - Format pemeriksaan PelaksanaanPengambilan sampel Pengambilan sampeldi daerah potensi di daerahkontrol Pengujian sampel Interpretasi Pelaporan 121