45 tahun masa pembabaran dhamma sang buddha
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share

45 tahun masa pembabaran dhamma sang buddha

  • 1,590 views
Uploaded on

45 tahun masa pembabaran dhamma sang buddha

45 tahun masa pembabaran dhamma sang buddha

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
1,590
On Slideshare
1,590
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
3
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Anggota Kelompok - Eltan Sudjianto - Trisno
  • 2. MASA PEMBABARAN DHAMMA SANG BUDDHA  Pada abad 600 Sebelum Masehi ( 600 SM ) di Negara India wilayah Benares sekarang terdapat sebuah kerajaan bernama Asoka dengan rajanya bernama Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan Permainsuri adalah Sri Ratu Maha Maya Dewi.  Pangeran Siddharta Gautama dilahirkan pada Th. 623 SM di Taman Lumbini, dan Ibunda Sri Ratu Maha Maya Dewi meninggal dunia 7 hari setelah Pangeran Siddharta Gautama
  • 3. MASA PEMBABARAN DHAMMA SANG BUDDHA  Sang Pangeran Siddharta Gautama diberi kemewahan- kemewahan Istana dan pada usia 16 tahun Sang Pangeran dinikahkan dengan Seorang Putri bernama Yasodhara  dan di usia 29 tahun dikaruniai anak dan diberi nama Rahula yang berarti sandungan / ganjalan.  di usia 29 tahun itu ia meninggalkan Istri dan anaknya di Istana dengan menunggang kuda dengan penunggang bernama kantaka menuju hutan uruwela dan memotong rambutnya untuk diberikan ke Istana.
  • 4. MASA PEMBABARAN DHAMMA SANG BUDDHA  Sang Pangeran selama 6 tahun bertapa dibawah Pohon Bodhi / pohon sala dengan ditemani Pertapa Alara Kalana dan Pertapa Uddaka Rama Putra, dimasa laku tapa ia hampir saja mati dan bertemu dengan seorang pengembala domba dan diberi minum susu domba.  Pada Usia 35 tahun ia Sang Pangeran menjadi Buddha mendapat penerangan sempurna / penerangan agung dihutan Uruwela sekarang disebut Buddha Gaya
  • 5. Apa saja kegiatan sang buddha selama 45 tahun ??
  • 6. Ruang lingkup pembahasan  Brahma Sahampati  pendirian sangha  kisah tekait hari raya Buddhis  munculnya sutta penting ( kalama sutta )  Maha satipathana sutta
  • 7. Brahma Sahampati (Brahmà Sahampati yang agung adalah seorang Thera mulia bernama Sahaka pada masa Buddha Kassapa. Dalam kapasitasnya, ia berhasil mencapai Jhàna Pertama Råpàvacara dan karena ia meninggal dunia tanpa terjatuh dari Jhàna, ia terlahir di Alam Jhàna Pertama dan menjadi Mahàbrahmà yang memiliki umur kehidupan enam puluh empat antara kappa yang setara dengan satu asaïkhyeyya kappa. Ia disebut Brahmà Sahampati di alam brahmà tersebut. Saÿyutta Atthakatthà dan Sàrattha Tikà). Ketika Buddha masih tidak berkeinginan untuk berusaha mengajarkan Dhamma, Mahàbrahmà Sahampati berpikir, “Nassati vata bho loko! Vinassati vata bho loko!” “O teman, dunia akan binasa! O teman, dunia akan binasa!” Buddha yang layak mendapat penghormatan oleh dewa dan manusia karena telah menembus pengetahuan semua Dhamma di dunia tidak sudi mengajarkan Dhamma!”
  • 8. Brahma Sahampati Brahma Sahampati berkata kepada Sang Buddha : “Semoga Sang Tathagata, demi belas kasihan kepada para manusia, berkenan mengajarkan Dhamma. Dalam dunia ini terdapat juga orang-orang yang sedikit dihinggapi kekotoran batin dan mudah dapat mengerti Dhamma yang akan diajarkan.” Hingga kini permohonan Brahma Sahampati kepada Sang Buddha tetap diperingati dengan permohonan kepada seorang Bhikkhu untuk mengajar Dhamma yang berbunyi sebagai berikut : “Brahma ca lokadhipati Sahampati Katanjali adhivarang ayacatha Santidha sattapparajakka jatika Desetu Dhammang anukampimang pajang.” Artinya : “Brahma Sahampati, Penguasa dunia ini Merangkap kedua tangannya dan memohon, Ada makhluk-makhluk yang dihinggapi sedikit kekotoran batin Demi belas kasihan kepada mereka, ajarkanlah mereka Dhamma.” Itu menjadi alasan sang buddha menganjarkan dhamma
  • 9. pendirian sangha - setelah Sang Buddha mencapai kesucian, Beliau tidak langsung mengajar. Beliau berdiam diri dulu selama 7×7 minggu, sampai dengan pengajaran Dhamma, yaitu di bulan Asadha.untuk pertama kalinya Sang Buddha membabarkan dhamma kepada lima orang pertapa yaitu Kondanna, Mahanama, Bhadiya, Vappa, Assaji. 588 S.M di Migadaya, Taman Rusa di Isipatana. - Sang Bhagava membabarkan kotbah pertama-Nya, Dhammacakkappavattana Sutta (Kotbah Mengenai Pemutaran Roda Dhamma). Dalam khotbah ini, Sang Bhagava membabarkan kepada kelima petapa tersebut bahwa terdapat dua ekstrem – yaitu pemanjaan diri dan penyiksaan diri – yang harus dihindari oleh orang yang telah meninggalkan keduniawian. Ia membabarkan Empat Kebenaran Mulia. Ia juga menunjukkan latihan Jalan Tengah, yang terdiri dan delapan faktor, yaitu Jalan Mulia Berfaktor Delapan.
  • 10. pendirian sangha  kelima petapa itu menjadi lima siswa bhikkhu yang pertama, yang juga dikenal sebagai “Bhikkhu Pancavaggiya” Sejak saat itu, Persamuhan Bhikkhu (Sangha Bhikkhu) terbentuk yang di tabis melalui “Ehi Bhikkhu Upasampadã”.
  • 11. hari raya Buddhis  Maghapuja (februari) 2  waisak ( mei )5  Asadha (juli) 7  Khatina (oktober) 10
  • 12. waisak  LAHIRNYA PANGERAN SIDHARTA  PANGERAN SIDHARTA MENCAPAI PENERANGAN SEMPURNA Pada usia 35 tahun Pangeran Sidharta mencapai Penerangan Sempurna dan mendapatkan sebuah gelar Sang Buddha.  PENCAPAIAN PARINIBBANA Sang Buddha wafat pada usia 80 tahun atau PARINIBBANA di Kusinara
  • 13. Asadha  Untuk pertama kali Sang Buddha membabarkan Ajaran-Nya kepada 5 (lima) orang pertapa, bekas teman-temannya sebelum menjadi Buddha, bertempat di Taman Rusa Isipatana, dekat Vanarasi, India, pada purnama sidhi di bulan Asalha. Khotbah pertama Sang Buddha ini terdapat dalam Kitab Suci Tipitaka Pâli dengan nama Dhammacakkappavattana Sutta.  Kelima pertapa tersebut adalah Kondañña, Bhadiya, Vappa, Mahanama dan Asajji. Dengan adanya 5 (lima) orang pertapa yang menjadi murid Sang Buddha, maka kemudian terbentuklah Sangha. Dengan demikian lengkaplah tiga perlindungan Umat Buddha, yaitu Buddha, Dhamma, dan Sangha atau yang disebut Tiratana (Tiga Perlindungan)
  • 14. Maghapuja  Disabdakannya Ovadha Patimokha, Inti Ajaran Sang Buddha dan Etika Pokok Para Bhikkhu. Sabda Sang Buddha ini dibabarkan di Veluvana Vihara di Rajagaha, - Di hadapan 1.250 Arahat. - Kesemua Arahat  - tersebut ditahbiskan sendiri oleh Sang Buddha (Ehi Bhikkhu) - Kehadiran para Arahat tersebut tanpa diundang dan tanpa ada perjanjian satu dengan yang lainnya terlebih dahulu. Inti Ajaran Sang Buddha: Jangan berbuat jahat Tambahlah kebajikan Sucikan hati dan pikiran Itulah Ajaran Para Buddha (Dhammapada 183)
  • 15. Khatina  peringatan melainkan upacara perayaan yang diselenggarakan setelah para Bhikkhu melakukan vassa. Vassa adalah masa dimana para bhikkhu melakukan retret/latihan selama musim hujan. Pada awalnya para bhikkhu melakukan penyiaran Dharma tidak mengenal waktu atau sepanjang tahun. Hal ini menimbulkan kritikan dari masyarakat karena pada musim hujan banyak serangga dan tunas-tunas yang terinjak oleh para bhikkhu (Vin. I, 137-138).  Karena itu, Buddha mengijinkan para bhikkhu untuk melakukan latihan atau penyepian di satu vihara tertentu dan mematuhi peraturan vassa. Kewajiban ini tidak mengabaikan tugas bhikkhu lain yang penting sehingga para bhikkhu masih diperkenankan bepergian sepanjang tidak lebih dari tujuh hari (Vin. I, 143). Maka, masa kebhikkhuan seorang bhikkhu diukur dari berapa vassa yang sudah dijalani dengan baik, bukan dari berapa lama ia menjadi bhikkhu.
  • 16. KALAMA SUTTA  Dikabarkan bahwa petapa Gotama, putra Sakya yang meninggalkan keluarga Sakya, telah tiba di kota Kesaputta. setelah merealisasikannya dengan pengetahuan langsung-nya sendiri. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di tengah, dan indah di akhir, dengan arti yang benar dan ungkapan yang benar; Beliau mengungkapkan kehidupan suci yang sepenuhnya lengkap murni.
  • 17. KALAMA SUTTA  Sabda buddha:  Wahai, suku Kalama.  Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan,  ajaran turun-temurun,  kata orang,  koleksi kitab suci,  penalaran logis,  penalaran lewat kesimpulan,  perenungan tentang alasan,  penerimaan pandangan setelah memikirkannya,  pembicara yang kelihatannya meyakinkan,  atau karena kalian berpikir,  ‘Petapa itu adalah guru kami’(²). Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, ‘ hal-hal ini adalah tidak bermanfaat, hal-hal ini dapat dicela; hal-hal ini dihindari oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, akan menyebabkan kerugian dan penderitaan’, maka kalian harusmeninggalkannya.”  Ini merupaka sutta buddha untuk suku kalama yang merasa ragu untuk menerima doktrin ajaran buddha untuk , dimana hal ini menjadi landasan kepada mereka bahwa untuk menerima doktrin baru itu tidak mudah . Tapi merupakan suatu perluasan cara berfikir dan analisa suatu ajaran
  • 18. Maha satipathana sutta  Maha Satipatthana Sutta: Khotbah mengenai 4 macam meditasi (mengenai badan jasmani, perasaan, pikiran dan Dhamma) disertai penjelasan mengenai 4 Kesunyataan
  • 19. Selama pencerahanNya  Selama pencerahanNya, Buddha menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Ia menemukan tiga kebenaran besar. Dia menjelaskan kebenaran- kebenaran ini dengan cara sederhana sehingga semua orang bisa memahaminya.  1. Tidak ada yang hilang di alam semesta  Materi berubah menjadi energi, energi berubah menjadi materi  2. Semuanya Berubah  3. Hukum Sebab Akibat
  • 20. MAKANAN TERAKHIR SANG BHAGAVA  Cunda puta si pande besi mempersiapkan makanan yang mewah, termasuk masakan khusus yang disebut sukaramaddava (menurut Digha Nikaya Atthakatha, sukaramaddava atau daging babi lunak adalah daging seekor babi yang tidak terlalu muda atau terlalu tua, namun yang tidak dibunuh khusus untuk-Nya [pavattamamsa]; sebagian ahli menafsirkannya sebagai beras lunak yang ditanak dengan lima macam makanan olahan dari sapi; sementara sebagian ahli lainnya mengatakan bahwa makanan tersebut adalah makanan khusus yang dipersiapkan dengan ramuan tertentu yang lezat dan sangat bergizi yang disebut rasayana).
  • 21. MAKANAN TERAKHIR SANG BHAGAVA  Ketika makanan dipersembahkan, Sang Bhagava meminta Cunda untuk menghidangkan sukaramaddava kepada diri- Nya semata, dan menghidangkan makanan lainnya bagi Sangha bhikkhu. Seusai makan, Sang Bhagava meminta Cunda untuk memendam sisa sukaramaddava itu di dalam lubang karena Ia tidak melihat siapa pun yang mampu mencernanya dengan baik. Namun, setelah makan, sejenis disentri akut menyerang Sang Bhagava, dan menyebabkan kucuran darah yang disertai rasa sakit yang amat menusuk. Sang Bhagava menahan rasa sakit ini tanpa mengeluh dan tetap berperhatian murni dengan pemahaman jernih. Dengan menahan sakit, Sang Bhagava berkata, “Mari, kita pergi ke Kusinara.”
  • 22. DI BAWAH POHON SALA KEMBAR  Sang Bhagava memberikan petunjuk mengenai empat tempat yang layak diziarahi oleh umat yang penuh keyakinan dan yang akan menginspirasikan kebangkitan spiritual dalam diri mereka. Tempat-tempat itu meliputi: 1. Lumbini, tempat kelahiran Tathagata. 2. Buddha Gaya, tempat Tathagata mencapai Pencerahan Sempurna. 3. Taman Rusa di Isipatana dekat Baranasi (Benares), tempat Tathagata memutar roda Dhamma pertama kali. 4. Kushinara, tempat Tathagata mencapai Parinibbana, Pembebasan Akhir, terhentinya kelima gugus secara penuh.
  • 23. SABDA TERAKHIR  Sang Bhagava berkata kepada Bhikkhu Ananda: “Ananda, engkau mungkin berpikir: ‘Bimbingan dan Sang Guru tak ada lagi; sekarang kita tak lagi memiliki guru.’ Namun, engkau tak seharusnya berpikir demikian karena apa yang telah Saya ajarkan dan Saya babarkan kepadamu sebagai Dhamma dan Vinaya akan menjadi gurumu setelah Saya wafat.”