Metode pengambilan sampel (sampling)

82,508 views
82,010 views

Published on

Ilmu Keperawatan Komunitas

Published in: Education
8 Comments
14 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
82,508
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
1,958
Comments
8
Likes
14
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Metode pengambilan sampel (sampling)

  1. 1. Yulia Wardita, S.KM.,M.Kes
  2. 2. POPULASI..???  Sekumpulan obyek, orang, atau keadaan yang paling tidak memiliki satu karakteristik umum yang sama  Sekumpulan obyek, orang, atau keadaan yang menjadi perhatian peneliti dan akan digunakan oleh peneliti untuk menggeneralisasikan hasil penelitiannya  Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya
  3. 3. SAMPEL..??  Sebagian dari populasi yang akan diteliti dan yang dianggap dapat menggambarkan karakteristik populasinya  Dalam analisis data, anggota sampel disebut juga unit analisis atau satuan analisis
  4. 4. SAMPLING (Teknik Pengambilan Sampel)  Menunjuk pada proses pemilihan individu-individu dari sebuah populasi yang akan dijadikan sebagai sampel yang akan berpartisipasi di dalam penelitian tersebut (Fraenkel, 1990:84)  Suatu teknik atau cara dalam mengambil sampel yang representatif dari populasi.
  5. 5. Kenapa dilakukan Sampling???  Ukuran populasi  Faktor biaya  Faktor waktu  Percobaan yang sifatnya merusak/mengganggu  Faktor ekonomis  Faktor kecermatan penelitian
  6. 6. Ukuran populasi  Apabila populasi itu tak terhingga (tidak diketahui) maka peneliti tidak mungkin melakukan sensus terhadapnya, karena itu harus dilakukan sampling.  Atau sekalipun ukuran populasi itu terhingga (dapat diketahui), namun apabila jumlahnya terlalu banyak, maka tidak mungkin dilakukan sensus, sehingga untuk mengetahui karakteristik populasi harus dilakukan sampling.  Misalnya untuk populasi terhingga, ambilah populasi 5 miliyard obyek. Bagaimana mencatat segala karakteristik ke-5 milyard obyek? Bagaimana menganalisis data sebanyak itu?  Dalam kondisi yang demikian, peneliti lebih memerlukan sampling daripada sensus.
  7. 7. Faktor Biaya  Biaya yang diperlukan dalam suatu penelitian, bukan hanya untuk pengumpulan data saja, tetapi juga untuk analisis, diskusi, perhitunganperhitungan dan transportasi.  Makin banyak obyek yang diteliti makin banyak pula biaya yang diperlukan.  Salah satu alternatif untuk mengatasi keterbatasan biaya adalah melalui sampling
  8. 8. Faktor Waktu • Sensus memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan sampling. • Dengan demikian sampling dapat memberikan data lebih cepat, terutama apabila peneliti menghendaki kesimpulan yang segera. • Menganalisis data hasil sampling selain dapat menghemat biaya, juga dapat menghemat waktu karena dapat dilakukan dalam tempo yang singkat.
  9. 9. Percobaan yg sifatnya merusak/ mengganggu  Misalnya, melakukan penelitian terhadap keadaan darah seorang pasien, mungkinkah semua darah pasien dikeluarkan dari tubuhnya untuk diperiksa? Untuk ini jelas sampling harus dilakukan.
  10. 10. Faktor ekonomis  apakah kegunaan dari hasil penelitian sepadan dengan biaya, waktu, dan tenaga yang telah dikeluarkan atau tidak.  Jika tidak, mengapa harus dilakukan sensus.  Melalui sampling, di samping dapat menghemat biaya, waktu, dan tenaga, juga dapat mengoptimalkan kecermatan peneliti dalam melakukan proses penelitian.
  11. 11. Faktor Kecermatan Penelitian  Ketelitian dalam pengumpulan data, pencatatan, dan penganalisisannya sangat berpengaruh terhadap pembuatan kesimpulan yang akan dipertanggungjawabkan.  Makin banyak obyek yang diteliti makin memberikan peluang untuk terjadinya ketidakcermatan penelitian baik yang menyangkut pengumpulan, pengolahan, maupun analisis data.  Ketidakcermatan ini akan menimbulkan kekeliruan dalam pengambilan kesimpulan.  Dengan sampling ketidakcermatan ini dapat dikurangi karena peneliti akan bekerja dalam lingkup yang lebih terbatas yang dapat dia kendalikan.
  12. 12. Kegunaan Sampling  Mengehemat biaya  Mempercepat pelakanaan penelitian  Menghemat tenaga  Memperluas ruang lingkup penelitian  Memperoleh hasil yang lebih akurat
  13. 13. Prosedur pengambilan sampel 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Menentukan tujuan penelitian Menentukan populasi penelitian Menentukan jenis data yang diperlukan Menentukan teknik sampling Menentukan besarnya sampel (sample size) Menentukan unit sampel yang diperlukan Memilih sampel
  14. 14. Jenis Sampling • SIMPLE RANDOM SAMPLING PROBABILITAS • SYSTEMATIC RANDOM SAMPLING • STRATIFIED RANDOM SAMPLING • CLUSTER RANDOM SAMPLING • MULTISTAGE RANDOM SAMPLING SAMPLING • SYSTEMATIC SAMPLING NON PROBABILITAS • QUOTA SAMPLING •INCIDENTAL SAMPLING • PURPOSIVE SAMPLING • SAMPLING JENUH •SNOWBALL SAMPLING
  15. 15. Probability sampling  Teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yg sama kepada seluruh anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel  Ukuran populasi dimana sampel diambil hars diketahui  Setiap anggota populasi harus mempuyai kesempatan yang sama utk menjadi sampel.
  16. 16. 1. Simple Random Sampling    pengambilan sampel secara acak sederhana Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memmemperhatikan strata yang ada dalam populasi itu Dilakukan jika populasinya homogen
  17. 17. Dengan cara undian: a. Semua anggota populasi diberi nomor urut atau kode b. Kode tersebut ditulis dalam kertas kecil, digulung, dan dimasukan ke dalam sebuah kotak/tempa c. Keluarkan satu persatu sebanyak jumlah sampel yang dibutuhkan.
  18. 18. Dengan menggunakan tabel bilangan random a. Semua anggota populasi diberi nomor urut b. Tentukan jumlah sampel yang akan diambil c. Pilih nomor-nomor yang sesuai dengan bilangan yang terdapat dalam daftar bilangan random yang akan digunakan
  19. 19.  Keuntungan menggunakan teknik ini peneliti tidak membutuhkan pengetahuan tentang populasi sebelumnya, bebas dari kesalahan klasifikasi yang memungkinkan dapat terjadi; dan dengan mudah data di analisis serta kesalahankesalahan dapat dihitung.  Kelemahan dalam teknik ini peneliti tidak dapat memanfaatkan pengetahuan yang dipunyainya tentang populasi dan tingkat kesalahan dalam menentukan ukuran sampel lebih besar.
  20. 20. 2. Sytematic Random Sampling  Jika jumlah populasi sangat banyak dan homogen dan jumlah sampel yang diambil juga banyak  Metode pengambilan sampel secara sistematis dengan interval (jarak) tertentu antar sampel yang terpilih
  21. 21. a. Linear Systematic Sampling Prosedur: 1). Urutkan elemen populasi pada sampling frame 2). Hitung interval (I) = N/n (N = banyaknya anggota populasi, n = banyaknya sampel) 3). Pilih random start (dari Tabel Angka Random) dengan nilai 1 s.d I (misalkan i) 4). Sampelnya adalah elemen ke-(i + kI), (k = 0, 1, …, (n-1)) Sampel 1 adalah no. urut ke-i 2 adalah no. urut ke-(i + I) 3 adalah no. urut ke-(i + 2I) … Sampel n adalah no. urut ke-(i + (n-1)I)
  22. 22. Systematic Sampling b. Circular Systematic Sampling Prosedur: 1). Urutkan elemen populasi pada sampling frame 2). Hitung interval (I) = N/n (N = banyaknya anggota populasi, n = banyaknya sampel) 3). Pilih random start (dari Tabel Angka Random) dengan nilai 1 s.d I (misalkan j) 4). Sampelnya adalah elemen ke-(j + kI), (k = 0, 1, …, (n-1)) 5). Bila j + kI > N, maka sampelnya no. urut ke-(j + kI) – N
  23. 23. 3. Stratified Random Sampling Jika kondisi populasi mengandung sejumlah katagori yang berbeda, maka kerangka sampel dapat diorganisasikan dengan menggunakan katagori ini ke dalam strata yang terpisah. Sampel kemudian dipilih masing-masing stratum secara terpisah untuk membuat stratum berstrata.
  24. 24. Ada dua alasan dalam meggunakan metode ini ialah: • untuk meyakinkan bahwa kelompok-kelompok khusus dalam suatu populasi secara memadai diwakili dalam sampel dan • untuk memperbaiki efisiensi dengan memperoleh kontrol yang lebih besar dalam komposisi sampel.
  25. 25. a. Proportionate Stratified Random Sampling     pengambilan sampel stratifikasi dengan mempertimbangkan proporsi atau persentase sampel dari setiap stratum Agar perimbangan sampel dari masing-masing strata itu memadai, maka dalam teknik ini sering pula dilakukan perimbangan antara jumlah anggota populasi berdasarkan masing-masing strata. Pelaksanaan pengambilan sampel dengan teknik ini mulamula peneliti menetapkan unit-unit anggota populasi dalam bentuk strata yang didasarkan pada karakteristik umum dari anggota populasi yang berbeda-beda. Setiap unit yang mempunyai karakteristik umum yang sama, dikelompokkan pada satu strata, kemudian dari masingmasing strata diambil masing2 strata yang mewakilinya
  26. 26. b. Disproportionate Stratified Random Sampling  Dilakukan apabila proporsi atau persentase sampel pada setiap stratum tidak mempertimbangkan perbandingan antara stratum yang satu dengan yang lainnya.  Artinya dari setiap stratum diambil jumlah sampel yang sama dengan formula n/k : di mana n (banyak sampel yang dikehendaki), dan k (banyak stratum dalam komposisi populasi).
  27. 27. 4. Cluster Sampling  Pengambilan Sampel Acak scra Kelompok atau gugus.  Teknik sampling cluster digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan ditehti atau sumber data sangat luas, misal penduduk dari suatu negara, propinsi atau kabupaten.  Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.  Misalnya di Indonesia terdapat 30 propinsi, dan sampelnya akan menggunakan 15 propinsi, maka pengambilan 15 propinsi itu dilakukan secara random.
  28. 28.  karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata (tidak sama) maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling  Propinsi di Indonesia ada yang pendudukanya padat, ada yang tidak; ada yang mempunyai hutan banyak ada yang tidak, ada yang kaya bahan tambang ada yang tidak.  Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan orangorang yang ada pada daerah itu secara sampling juga
  29. 29.  Jika yang menjadi unit sampling merupakan daerah atau wilayah geografis, seperti: provinsi, kota, kabupaten dst, maka teknik sampling ini disebut area random sampling  Misalnya, akan mengumpulkan data dari setiap keluarga tentang biaya hidup perbulan. Keluarga mana yang harus diambil jika penelitian itu dilakukan terhadap kabupaten tertentu, Untuk menentukan sampel keluarga, maka peneliti harus menmpuh langkah- langkah: 1. menentukan kecamatan sampel 2. Menentukan desa sampel dari kecamatan sampel 3. Menentukan keluarga sampel.
  30. 30. 5. Multistage Sampling  Pengambilan Sampel secara Gugus Bertahap  Pengambilan sampel dgn teknik ini dilakukan berdasarkan tingkat wilayah scr bertahap  Dilaksanakam bila populasi terdiri dr macam2 tingkat wilayah.
  31. 31. Proses pengambilan sampel secara multistage random sampling a. Tentukan area populasi berdasarkan administrasi pemerintahan Provinsi, Kabupaten, Kecamatan atau Kelurahan atau Karakter lainnya (pedesaan-perkotaan, pantai-pegunungan dsb) b. Dari area populasi tsb diambil sampel gugus di bawahnya (misalnya apabila area populasinya provinsi maka area gugus di bawahnya kabupaten) c. Dari area gugus tsb diambil area gugus yg dibawahnya lagi (misalnya kalau area gugus diatasnya kabupaten, maka area gugus dibawahnya adalah kecamatan) dan seterusnya. d. Akhirnya semua anggota populasi dari gugus yg paling kecil (bawah) misalnya RT, diambil sbg sampel.
  32. 32. Non probability/Non Random  Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.  Pengambilan sampel yang tidak didasarkan atas kemungkinan yang dpt diperhitungkan, tetapi sematamata, hanya berdasarkan pada segi kepraktisan.
  33. 33. 1. Systematic Sampling  Sampling Sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.  Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100.  Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima, untuk ini maka yang diambil sebagai sampel adalah nomor 1, 5, 10, 15, 20, dan seterusnya sampai 100.
  34. 34. 2. Quota Sampling  Sampling Kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.  Teknik penarikan sampel kuota (quota sampling) merupakan teknik penarikan sampel yang sejenis dengan menggunakan teknik penarikan sampel stratifikasi. Perbedaanya adalah ketika menarik anggota sampel dari masing-massing lapisan, peneliti tidak menggunakan secara acak tetapi menggunakan cara kemudahan (accidental)  Contoh, akan melakukan penelitian tentang pendapat masyarakat terrhadap pelayanan RS. Medika Utama , Jumlah sampel yang ditentukan 500 orang. Kalau pengumpulan data belum didasarkan pada 500 orang tersebut, maka penelitian dipandang belum selesai, karena belurn memenuhi kouta yang ditentukan.
  35. 35. 3. Insidental/ Aksidental Sampling  Teknik penarikan sampel aksidental ini didasarkan pada kemudahan (Convenience). Sampel dapat terpilih karena berada pada waktu, situasi, dan tempat yang tepat.  teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.  Sampel ini digunakan jika peneliti sulit untuk menemukan subyek yang akan diteliti
  36. 36. 4. Purposive Sampling  Sampling Purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.  Teknik penarikan sampel purposive ini disebut juga judgmental sampling yang digunakan dengan menentukan criteria khusus terhadap sampel, terutama orang-orang yang dianggap ahli  Sampel ini lebih cocok digunakan untuk penelitian kualitatif, atau penelitian-penelitian yang tidak melakukan generalisasi.  Teknik ini digunakan terutama apabila hanya ada sedikit orang yang mempunyai keahlian (expertise) di bidang yang sedang diteliti.
  37. 37. 5. Sampling Jenuh  Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.  Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.  Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel
  38. 38. 6. Snowball Sampling  Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar.  Teknik sampel bola salju (Snowball Sampling) digunakan jika peneliti tidak memiliki informasi tentang anggota populasi. Peneliti hanya memiliki satu nama populasi. Dari nama ini peneliti akan memperoleh nama-nama lainnya. Teknik ini biasanya digunakan jika peneliti meneliti kasus yang sensitive atau rahasia. Misalnya tentang jaringan peredaran narkoba.  Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi karena dengan dua orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sebelumnya Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak.  Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampling purposif dan snowball sampling.
  39. 39. TERIMA KASIH TERIMA KASIH 41

×