Tugas Penelahaan tesis 
Minimal Menelaah 1Judul tesis, deadline 
pengumpulan 1 minggu dari sekarang. 
Topik yang harus ditelaah : 
• Judul 
• Rumusan Masalah 
• Tujuan Penelitian 
• Sistematika Landasan Teori (Deskripsi 
Teoritik)/ judulnya 
• Sistematika Kerangka Berpikir (jika ada) / 
judulnya 
• Hipotesis Penelitian (jika ada) 
• Metode Penelitian & Disain 
Penelitian/Konstelasi Masalah / Paradigma 
Penelitian / Prosedur Penelitian 
• Sistematika Pembakuan / Pengembangan 
Instrumen Penelitian (jika ada) 
• Teknik Analisis Data (Analisis Deskriptif, Uji 
Persyaratan dan Pengujian Hipotesis 
Penelitian) atau Analisis Data Utama. 
• Simpulan 
• Daftar pertanyaan
• Judul : 
• Rumusan Masalah: 
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 
”apakah hasil belajar matematika dapat ditingkatkan melalui pembelajaran kooperatif tipe 
NHT (Numbered Heads Together) dan rasa percaya diri pada siswa Kelas VIII.A SMP 
NEGERI 2 TIGARAKSA ?” 
• Tujuan Penelitian 
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan proses pembelajaran di kelas dan untuk 
meningkatkan prestasi belajar matematika siswa VIII.A SMP NEGERI 2 TIGARAKSA 
khususnya pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Peubah. 
• Sistematika Landasan Teori (Deskripsi 
Teoritik)/ judulnya 
1. Pengertian Belajar 
Belajar merupakan aktifitas manusia yang sangat penting bagi manusia. Pertanyaan 
yang sering muncul, mengapa manusia harus belajar? Didunia ini tidak ada manusia yang 
dilahirkan memiliki potensi ilmu pengetahuan yang tinggi. Jika bayi yang baru lahir tidak 
mendapatkan bantuan dari manusia lain melalui belajar niscaya ia tidak dapat berbuat 
apa-apa, ia tidak akan beranjak pada usia dewasa. Oleh karena itu, manusia selalu dan 
senantiasa kapan dan di manapun ia berada harus belajar. 
Untuk mencapai hasil belajar yang baik, maka proses belajar memegang peranan 
penting. Pada era globalisasi dan informasi sekarang ini dituntut untuk memperoleh hal-hal 
yang baru yang lebih baik. Kegiatan belajar yang terus menerus memberikan 
pengaruh terhadap terbentuknya kemampuan, pemahaman, kecakapan, serta aspek lain 
yang dapat berkembang kearah yang lebih baik yakni memilki ilmu pengetahuan yang 
lebih luas. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang pengertian belajar, 
dapat dilihat dari beberapa defenisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli: 
Chaplin (dalam Ilhamsyah, 2009) mendefinisikan belajar sebagai (1) perolehan dari 
sebarang perubahan yang relatif permanen dalam tingkah laku, sebagai hasil dari praktek 
atau hasil pengalaman, (2) proses mendapatkan reaksi-reaksi, sebagai hasil dari praktek 
dan latihan khusus. Hal yang sama dikemukakan oleh James O. Whittaker (dalam
Ahmadi, 2003:126) belajar dapat didefinisikan sebagai proses di mana tingkah laku 
ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. 
Teori belajar pada dasarnya merupakan penjelasan mengenai bagaimana terjadinya 
belajar atau bagaimana informasi diperoleh siswa kemudian bagaimana informasi itu 
diproses dalam pikiran siswa. Berdasarkan suatu teori belajar, diharapkan suatu 
pembelajaran dapat lebih meningkatkan pemahaman siswa sebagai hasil belajar. Gagne 
(Ardiansyah, 2008:9) menyatakan bahwa untuk terjadinya belajar pada diri siswa 
diperlukan kondisi belajar, baik kondisi internal maupun kondisi external. Kondisi 
internal merupakan peningkatan memori siswa sebagai hasil belajar yang terdahulu. 
Kondisi eksternal meliputi aspek atau benda yang dirancang atau ditata dalam suatu 
pembelajaran. Ini bertujuan antara lain merangsang ingatan baru, memberikan 
kesempatan kepada siswa menghubungkan pengetahuan yang telah ada dengan informasi 
yang baru. 
Sedang Hamalik (Haling, 2004: 1) menyatakan bahwa belajar adalah suatu 
perkembangan dari seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku yang baru 
berkat pengalaman dan latihan. 
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat dikatakan bahwa belajar adalah 
suatu proses aktif yang dilakukan secara keseluruhan dengan kesadaran untuk 
memperoleh pengetahuan/pengalaman baru yang ditandai dengan perubahan tingkah 
laku. Karenanya dapat dikatakan bahwa jika setelah belajar tidak terjadi perubahan 
belajar pada diri yang bersangkutan, maka tidaklah dapat dikatakan padanya terjadi 
proses belajar. 
2. Pengertian Matematika 
Untuk mendefinisikan matematika sangatlah sulit,tidak ada definisi matematika yang 
diterima secara mutlak. Cabang-cabang matematika makin lama makin bertambah. 
Sampai saat ini, diantara para ahli matematika belum ada kesepakatan yang bulat tentang 
defenisi matematika. Namun demikian para ahli berusaha memberikan gambaran tentang 
hakekat matematika termasuk cara pencarian kebenaran dan cara berfikir matematika. 
Menurut Dikmenum (dalam Tukiran, 2010: 66) matematika berasal dari bahasa latin 
manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Matematika 
merupaka salah satu kekuatan utama pembentuk konsepsi tentang alam, serta hakekat dan 
tujuan manusia dalam kehidupan. 
Matematika itu tidaklah konkrit, tetapi abstrak. Matematika itu tidak hanya berkaitan 
dengan bilangan beserta operasi-operasinya tetapi berhubungan pula dengan unsur-unsur 
lainnya. Matematika tidak dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berhubungan dengan
kuantitas karena dalam geometri kuantitas kurang mendapat penekanan dibandingkan 
dengan kedudukannya. Maka yang disepakati hanyalah karakteristiknya. 
Hal ini menunjukkan bahwa sasaran matematika lebih dititik beratkan pada ide- ide atau 
konsep-konsep, teori-teori dan hubungan-hubungan yang diatur secara logis sehingga 
menimbulkan keterkaitan dengan konsep- konsep abstrak. Matematika merupakan ilmu-yang 
sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, walaupun manfaatnya tidak 
nampak secara konkrit. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu akhirnya masyarakat 
sadar bahwa kehidupan sehari-hari tidak lepas dari matematika. 
3. Prestasi Belajar Matematika 
Poerwadarminta (1974: 769) mendefinisikan bahwa prestasi merupakan hasil yang 
telah dicapai oleh seseorang dalam suatu usaha yang dilakukan atau dikerjakan. Defenisi 
di atas sejalan dengan pendapat Winkel (1986: 102) yang menyatakan bahwa prestasi 
adalah bukti usaha yang dicapai. 
Istilah prestasi selalu digunakan dalam mengetahui keberhasilan belajar siswa di 
sekolah. Prestasi belajar adalah suatu nilai yang menunjukan hasil yang tertinggi dalam 
belajar yang dicapai menurut kemampuan siswa dalam mengerjakan sesuatu pada saat 
tertentu. Prestasi belajar siswa ditentukan oleh dua faktor yaitu intern dan ekstren. 
Faktor intern merupakan faktor-faktor yang berasal atau bersumber dari siswa itu sendiri, 
sedangkan faktor ekstern merupakan faktor yang berasal atau bersumber dari luar peserta 
didik. Faktor intern meliputi prasyarat belajar, yakni pengetahuan yang sudah dimiliki 
oleh siswa sebelum mengikuti pelajaran berikutnya, keterampilan belajar yang dimiliki 
oleh siswa yang meliputi cara-cara yang berkaitan dengan mengikuti mata pelajaran, 
mengerjakan tugas, membaca buku, belajar kelompok mempersiapkan ujian, 
menindaklanjuti hasil ujian dan mencari sumber belajar, kondisi pribadi siswa yang 
meliputi kesehatan, kecerdasan, sikap, cita-cita, dan hubungannya dengan orang lain. 
Faktor ekstern antara lain meliputi proses belajar mengajar, sarana belajar yang dimiliki, 
lingkungan belajar, dan kondisi sosial ekonomi keluarga. 
Berdasarkan pengertian prestasi yang dikemukakan para ahli, maka dapat dikatakan 
bahwa prestasi belajar matematika adalah tingkat penguasaan yang dicapai siswa dalam 
mengikuti proses belajar mengajar matematika sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. 
Prestasi yang dicapai oleh siswa merupakan gambaran hasil belajar siswa setelah 
mengikuti proses belajar mengajar dan merupakan interaksi antara beberapa faktor. 
4. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT 
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan 
adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. 
Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari
materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah 
untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses 
berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas 
pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi 
untuk memecahkan masalah. 
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif 
yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola 
interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini 
dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan para siswa 
dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman 
mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak 
dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu : 
1. Hasil belajar akademik stuktural 
Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. 
2. Pengakuan adanya keragaman .Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya 
yang mempunyai berbagai latar belakang. 
3. Pengembangan keterampilan sosial 
Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan yang 
dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau 
menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya. 
Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen (1993) 
dengan tiga langkah yaitu : 
1. Pembentukan kelompok 
2. Diskusi masalah 
3. Tukar jawaban antar kelompok. 
Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan menjadi enam langkah sesuai dengan 
kebutuhan pelaksanaan penelitian ini. Enam langkah tersebut adalah sebagai berikut : 
Langkah 1. Persiapan 
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario 
Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran 
kooperatif tipe NHT. 
Langkah 2. Pembentukan kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe 
NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 
orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama 
kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau 
dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, 
dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam 
menentukan masing-masing kelompok. 
Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan 
Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku 
panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang 
diberikan oleh guru. 
Langkah 4. Diskusi masalah 
Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang 
akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk 
menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan 
yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan 
dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum. 
Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban 
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan 
nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas. 
Langkah 6. Memberi kesimpulan 
Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang 
berhubungan dengan materi yang disajikan. 
Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa 
yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh Linda Lundgren dalam Ibrahim (2000: 
18), antara lain adalah : 
1. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi 
2. Memperbaiki kehadiran 
3. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar 
4. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil 
5. Konflik antara pribadi berkurang
6. Pemahaman yang lebih mendalam 
7. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi 
8. Hasil belajar lebih tinggi. 
• Sistematika Kerangka Berpikir (jika ada) / 
judulnya 
Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika, guru 
mampu menciptakan suasana belajar yang optimal dengan menerapkan berbagai model 
pembelajaran. 
Dalam pembelajaran matematika, salah satu hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam 
mengajarkan suatu pokok bahasan adalah pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan 
materi yang diajarkan, karena melihat kondisi siswa yang mempunyai karakteristik yang 
berbeda antara satu dengan yang lainnya dalam menerima materi pelajaran yang disajikan 
guru di kelas, ada siswa yang mempunyai daya serap cepat dan ada pula siswa yang 
mempunyai daya tanggap yang lama. 
Menyikapi kenyataan ini, penulis menilai perlu digunakan model pembelajaran 
kooperatif dengan tipe NHT, yaitu membagi siswa dalam beberapa kelompok yang terdiri 
dari 5 orang siswa dan setiap kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang beragam, ada 
yang pintar, sedang, dan ada pula yang tingkat kemampuannya kurang. Kemudian setiap 
anggota kelompok diberikan tanggung jawab untuk memecahkan masalah atau soal dalam 
kelompoknya dan diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat tanpa merasa takut salah. 
Oleh karena itu tidak tampak lagi mana siswa yang unggul karena semuanya berbaur dalam 
satu kelompok dan sama-sama bertanggung jawab terhadap kelompoknya tersebut. Dengan 
demikian, untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII.A SMP NEGERI 
2 TIGARAKSA khususnya pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah, guru 
perlu menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan rasa percaya diri siswa 
dalam mengajarkan pokok bahasan tersebut karena daya serap siswa dalam menerima materi 
pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah tidak sama dan diharapkan dengan 
model pembelajaran kooperatif tipe NHT setiap siswa akan mempunyai tingkat kemampuan 
yang relatif sama terhadap materi sistem persamaan linear dua peubah dan pada akhirnya 
prestasi belajar siswa akan lebih baik. 
• Hipotesis Penelitian (jika ada) 
Berdasarkan kajian teori, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah:
“Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads 
Together) dan rasa percaya diri siswa dapat meningkatkan prestasi belajar matematika 
siswa pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah siswa kelas VIII.A SMP 
NEGERI 2 TIGARAKSA ” 
• Metode Penelitian & Disain 
Penelitian/Konstelasi Masalah / Paradigma 
Penelitian / Prosedur Penelitian 
A. Jenis Penelitian 
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Tindakan yang diberikan adalah 
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) dengan 
tahapan-tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. 
B. Subjek Penelitian 
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII.A SMP NEGERI 2 TIGARAKSA 
pada Semester I (ganjil) Tahun Pelajaran 2011/2012 dengan jumlah 35 orang yang terdiri 
dari semua perempuan, dengan kemampuan yang heterogen. 
C. Faktor yang Diselidiki 
Faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 
1. Faktor Input yaitu kehadiran siswa yang menjadi subjek penelitian 
2. Faktor proses yaitu aktifitas yang terjadi selama porses pembelajaran berlangsung, 
meliputi; 
a. Siswa yang bertanya materi pelajaran yang belum dimengerti. 
b. Siswa yang menjawab pertanyaan lisan guru 
c. Siswa yang menyelesaikan soal di papan tulis 
d. Siswa yang mengerjakan pekerjaan rumah.
e. Siswa yang aktif pada saat kerja kelompok 
f. Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat kerja kelompok. 
g. Siswa yang memberi tanggapan terhadap presentase dari kelompok lain 
3. Faktor output yaitu hasil belajar matematika siswa yang diperoleh pada setiap akhir 
siklus setelah diterapkan pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Head Together). 
D. Instrumen Penelitian 
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 
a. Lembar observasi, untuk memperoleh data tentang kondisi pelaksanaan model pembelajaran 
kooperatif tipe NHT di kelas. 
b. Tes hasil belajar, untuk memperoleh data tentang prestasi belajar siswa setelah diterapkan 
model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 
c. Jurnal refleksi diri, untuk memperoleh data tentang refleksi diri. 
E. Prosedur Penelitian 
Prosedur penelitian tindakan kelas ini, direncanakan terdiri dari 3 siklus. Tiap siklus 
dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai seperti apa yang telah didesain dalam 
faktor yang diselidiki. 
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini dijabarkan sebagai berikut : 
1. Tahap kegiatan awal, meliputi: 
a. Observasi awal 
b. Tes awal: untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam memahami konsep P 
ersamaan linear dua peubah sebelum diadakan tindakan, yang nantinya digunakan 
sebagai nilai awal yang diperlukan dalam pembagian kelompok melalui pembelajaran
kooperatif tipe NHT. Di samping itu, diperlukan dalam pengolahan nilai peningkatan 
prestasi belajar siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT. 
2. Perencanaan, adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini meliputi: 
a. membuat skenario pembelajaran 
b. membuat lembar observasi untuk melihat kondisi belajar mengajar di kelas ketika 
model pembelajaran kooperatif tipe NHT diaplikasikan. 
c. mendesain alat evaluasi untuk melihat apakah materi matematika telah dikuasai oleh 
siswa. 
d. membuat jurnal refleksi diri. 
3. Pelaksanaan tindakan, kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini 
adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah dibuat. 
4. Observasi/evaluasi, pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan 
tindakan serta melakukan evaluasi. 
5. Refleksi hasil yang diperoleh dalam tahap observasi/evaluasi dikumpulkan serta 
dianalisis dalam tahap ini. Kelemahan-kelemahan/ kekurangan-kekurangan yang terjadi 
pada setiap siklus akan diperbaiki pada siklus berikutnya. 
F. Teknik Pengumpulan Data 
a. Sumber data: sumber data dalam penelitian ini adalah personil penelitian yang terdiri 
dari siswa dan guru. 
b. Jenis data: jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. 
Data kualitatif diperoleh dengan alat evaluasi lembar observasi, jurnal refleksi diri dan 
data kuantitatif diperoleh dengan alat evaluasi hasil belajar.
c. Cara pengambilan data 
Data tentang pelaksanaan pembelajaran serta perubahan-perubahan yang terjadi di kelas, 
diambil berdasarkan pengamatan langsung dengan menggunakan lembar observasi dan 
jurnal refleksi diri. Data tentang hasil belajar siswa diambil melalui tes hasil belajar. 
refleksi diri. Data tentang hasil belajar siswa diambil melalui tes hasil belajar. 
• Teknik Analisis Data (Analisis Deskriptif, Uji 
Persyaratan dan Pengujian Hipotesis 
Penelitian) atau Analisis Data Utama. 
G. Teknik Analisis Data 
Data tentang hasil pengamatan mengenai perubahan sikap siswa dianalisis secara 
kualitatif sedangkan data mengenai hasil belajar siswa dianalisis secara kuantitatif. Data hasil 
belajar yang diperoleh dikategorikan berdasarkan teknik kategori standar yang ditetapkan 
oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Martini,2005:27). Kategorisasi tersebut 
adalah: 
1. Nilai 0 - 34 : dikategorikan “sangat rendah” 
2. Nilai 35 - 54 : dikategorikan “rendah” 
3. Nilai 55 - 64 : dikategorikan “sedang” 
4. Nilai 65 - 84 : dikategorikan “tinggi” 
5. Nilai 85 - 100 : dikategorikan “sangat tinggi”
• Simpulan 
Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah terjadinya peningkatan 
hasil belajar siswa, yang ditinjau dari hasil tes setiap akhir siklus yakni bila skor rata-rata 
kemampuan memecahkan masalah matematika siswa mengalami peningkatan. 
Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah apabila hasil belajar 
siswa dari setiap siklus yang ditinjau dari hasil tes setiap akhir siklus mengalami 
peningkatan skor rata-rata pada siswa kelas Kelas VIII.A SMP NEGERI 2 TIGARAKSA 
setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT).

Tugas seminar proposal .1

  • 1.
    Tugas Penelahaan tesis Minimal Menelaah 1Judul tesis, deadline pengumpulan 1 minggu dari sekarang. Topik yang harus ditelaah : • Judul • Rumusan Masalah • Tujuan Penelitian • Sistematika Landasan Teori (Deskripsi Teoritik)/ judulnya • Sistematika Kerangka Berpikir (jika ada) / judulnya • Hipotesis Penelitian (jika ada) • Metode Penelitian & Disain Penelitian/Konstelasi Masalah / Paradigma Penelitian / Prosedur Penelitian • Sistematika Pembakuan / Pengembangan Instrumen Penelitian (jika ada) • Teknik Analisis Data (Analisis Deskriptif, Uji Persyaratan dan Pengujian Hipotesis Penelitian) atau Analisis Data Utama. • Simpulan • Daftar pertanyaan
  • 2.
    • Judul : • Rumusan Masalah: Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah ”apakah hasil belajar matematika dapat ditingkatkan melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) dan rasa percaya diri pada siswa Kelas VIII.A SMP NEGERI 2 TIGARAKSA ?” • Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan proses pembelajaran di kelas dan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa VIII.A SMP NEGERI 2 TIGARAKSA khususnya pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Peubah. • Sistematika Landasan Teori (Deskripsi Teoritik)/ judulnya 1. Pengertian Belajar Belajar merupakan aktifitas manusia yang sangat penting bagi manusia. Pertanyaan yang sering muncul, mengapa manusia harus belajar? Didunia ini tidak ada manusia yang dilahirkan memiliki potensi ilmu pengetahuan yang tinggi. Jika bayi yang baru lahir tidak mendapatkan bantuan dari manusia lain melalui belajar niscaya ia tidak dapat berbuat apa-apa, ia tidak akan beranjak pada usia dewasa. Oleh karena itu, manusia selalu dan senantiasa kapan dan di manapun ia berada harus belajar. Untuk mencapai hasil belajar yang baik, maka proses belajar memegang peranan penting. Pada era globalisasi dan informasi sekarang ini dituntut untuk memperoleh hal-hal yang baru yang lebih baik. Kegiatan belajar yang terus menerus memberikan pengaruh terhadap terbentuknya kemampuan, pemahaman, kecakapan, serta aspek lain yang dapat berkembang kearah yang lebih baik yakni memilki ilmu pengetahuan yang lebih luas. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang pengertian belajar, dapat dilihat dari beberapa defenisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli: Chaplin (dalam Ilhamsyah, 2009) mendefinisikan belajar sebagai (1) perolehan dari sebarang perubahan yang relatif permanen dalam tingkah laku, sebagai hasil dari praktek atau hasil pengalaman, (2) proses mendapatkan reaksi-reaksi, sebagai hasil dari praktek dan latihan khusus. Hal yang sama dikemukakan oleh James O. Whittaker (dalam
  • 3.
    Ahmadi, 2003:126) belajardapat didefinisikan sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Teori belajar pada dasarnya merupakan penjelasan mengenai bagaimana terjadinya belajar atau bagaimana informasi diperoleh siswa kemudian bagaimana informasi itu diproses dalam pikiran siswa. Berdasarkan suatu teori belajar, diharapkan suatu pembelajaran dapat lebih meningkatkan pemahaman siswa sebagai hasil belajar. Gagne (Ardiansyah, 2008:9) menyatakan bahwa untuk terjadinya belajar pada diri siswa diperlukan kondisi belajar, baik kondisi internal maupun kondisi external. Kondisi internal merupakan peningkatan memori siswa sebagai hasil belajar yang terdahulu. Kondisi eksternal meliputi aspek atau benda yang dirancang atau ditata dalam suatu pembelajaran. Ini bertujuan antara lain merangsang ingatan baru, memberikan kesempatan kepada siswa menghubungkan pengetahuan yang telah ada dengan informasi yang baru. Sedang Hamalik (Haling, 2004: 1) menyatakan bahwa belajar adalah suatu perkembangan dari seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat dikatakan bahwa belajar adalah suatu proses aktif yang dilakukan secara keseluruhan dengan kesadaran untuk memperoleh pengetahuan/pengalaman baru yang ditandai dengan perubahan tingkah laku. Karenanya dapat dikatakan bahwa jika setelah belajar tidak terjadi perubahan belajar pada diri yang bersangkutan, maka tidaklah dapat dikatakan padanya terjadi proses belajar. 2. Pengertian Matematika Untuk mendefinisikan matematika sangatlah sulit,tidak ada definisi matematika yang diterima secara mutlak. Cabang-cabang matematika makin lama makin bertambah. Sampai saat ini, diantara para ahli matematika belum ada kesepakatan yang bulat tentang defenisi matematika. Namun demikian para ahli berusaha memberikan gambaran tentang hakekat matematika termasuk cara pencarian kebenaran dan cara berfikir matematika. Menurut Dikmenum (dalam Tukiran, 2010: 66) matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Matematika merupaka salah satu kekuatan utama pembentuk konsepsi tentang alam, serta hakekat dan tujuan manusia dalam kehidupan. Matematika itu tidaklah konkrit, tetapi abstrak. Matematika itu tidak hanya berkaitan dengan bilangan beserta operasi-operasinya tetapi berhubungan pula dengan unsur-unsur lainnya. Matematika tidak dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berhubungan dengan
  • 4.
    kuantitas karena dalamgeometri kuantitas kurang mendapat penekanan dibandingkan dengan kedudukannya. Maka yang disepakati hanyalah karakteristiknya. Hal ini menunjukkan bahwa sasaran matematika lebih dititik beratkan pada ide- ide atau konsep-konsep, teori-teori dan hubungan-hubungan yang diatur secara logis sehingga menimbulkan keterkaitan dengan konsep- konsep abstrak. Matematika merupakan ilmu-yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, walaupun manfaatnya tidak nampak secara konkrit. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu akhirnya masyarakat sadar bahwa kehidupan sehari-hari tidak lepas dari matematika. 3. Prestasi Belajar Matematika Poerwadarminta (1974: 769) mendefinisikan bahwa prestasi merupakan hasil yang telah dicapai oleh seseorang dalam suatu usaha yang dilakukan atau dikerjakan. Defenisi di atas sejalan dengan pendapat Winkel (1986: 102) yang menyatakan bahwa prestasi adalah bukti usaha yang dicapai. Istilah prestasi selalu digunakan dalam mengetahui keberhasilan belajar siswa di sekolah. Prestasi belajar adalah suatu nilai yang menunjukan hasil yang tertinggi dalam belajar yang dicapai menurut kemampuan siswa dalam mengerjakan sesuatu pada saat tertentu. Prestasi belajar siswa ditentukan oleh dua faktor yaitu intern dan ekstren. Faktor intern merupakan faktor-faktor yang berasal atau bersumber dari siswa itu sendiri, sedangkan faktor ekstern merupakan faktor yang berasal atau bersumber dari luar peserta didik. Faktor intern meliputi prasyarat belajar, yakni pengetahuan yang sudah dimiliki oleh siswa sebelum mengikuti pelajaran berikutnya, keterampilan belajar yang dimiliki oleh siswa yang meliputi cara-cara yang berkaitan dengan mengikuti mata pelajaran, mengerjakan tugas, membaca buku, belajar kelompok mempersiapkan ujian, menindaklanjuti hasil ujian dan mencari sumber belajar, kondisi pribadi siswa yang meliputi kesehatan, kecerdasan, sikap, cita-cita, dan hubungannya dengan orang lain. Faktor ekstern antara lain meliputi proses belajar mengajar, sarana belajar yang dimiliki, lingkungan belajar, dan kondisi sosial ekonomi keluarga. Berdasarkan pengertian prestasi yang dikemukakan para ahli, maka dapat dikatakan bahwa prestasi belajar matematika adalah tingkat penguasaan yang dicapai siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar matematika sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Prestasi yang dicapai oleh siswa merupakan gambaran hasil belajar siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dan merupakan interaksi antara beberapa faktor. 4. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari
  • 5.
    materi pelajaran yangtelah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah. Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu : 1. Hasil belajar akademik stuktural Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. 2. Pengakuan adanya keragaman .Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang. 3. Pengembangan keterampilan sosial Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen (1993) dengan tiga langkah yaitu : 1. Pembentukan kelompok 2. Diskusi masalah 3. Tukar jawaban antar kelompok. Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan menjadi enam langkah sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan penelitian ini. Enam langkah tersebut adalah sebagai berikut : Langkah 1. Persiapan Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Langkah 2. Pembentukan kelompok
  • 6.
    Dalam pembentukan kelompokdisesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok. Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru. Langkah 4. Diskusi masalah Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum. Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas. Langkah 6. Memberi kesimpulan Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan. Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh Linda Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18), antara lain adalah : 1. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi 2. Memperbaiki kehadiran 3. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar 4. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil 5. Konflik antara pribadi berkurang
  • 7.
    6. Pemahaman yanglebih mendalam 7. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi 8. Hasil belajar lebih tinggi. • Sistematika Kerangka Berpikir (jika ada) / judulnya Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika, guru mampu menciptakan suasana belajar yang optimal dengan menerapkan berbagai model pembelajaran. Dalam pembelajaran matematika, salah satu hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam mengajarkan suatu pokok bahasan adalah pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan, karena melihat kondisi siswa yang mempunyai karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya dalam menerima materi pelajaran yang disajikan guru di kelas, ada siswa yang mempunyai daya serap cepat dan ada pula siswa yang mempunyai daya tanggap yang lama. Menyikapi kenyataan ini, penulis menilai perlu digunakan model pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT, yaitu membagi siswa dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 5 orang siswa dan setiap kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang beragam, ada yang pintar, sedang, dan ada pula yang tingkat kemampuannya kurang. Kemudian setiap anggota kelompok diberikan tanggung jawab untuk memecahkan masalah atau soal dalam kelompoknya dan diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat tanpa merasa takut salah. Oleh karena itu tidak tampak lagi mana siswa yang unggul karena semuanya berbaur dalam satu kelompok dan sama-sama bertanggung jawab terhadap kelompoknya tersebut. Dengan demikian, untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII.A SMP NEGERI 2 TIGARAKSA khususnya pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah, guru perlu menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan rasa percaya diri siswa dalam mengajarkan pokok bahasan tersebut karena daya serap siswa dalam menerima materi pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah tidak sama dan diharapkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT setiap siswa akan mempunyai tingkat kemampuan yang relatif sama terhadap materi sistem persamaan linear dua peubah dan pada akhirnya prestasi belajar siswa akan lebih baik. • Hipotesis Penelitian (jika ada) Berdasarkan kajian teori, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah:
  • 8.
    “Dengan menggunakan modelpembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) dan rasa percaya diri siswa dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah siswa kelas VIII.A SMP NEGERI 2 TIGARAKSA ” • Metode Penelitian & Disain Penelitian/Konstelasi Masalah / Paradigma Penelitian / Prosedur Penelitian A. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Tindakan yang diberikan adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) dengan tahapan-tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. B. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII.A SMP NEGERI 2 TIGARAKSA pada Semester I (ganjil) Tahun Pelajaran 2011/2012 dengan jumlah 35 orang yang terdiri dari semua perempuan, dengan kemampuan yang heterogen. C. Faktor yang Diselidiki Faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Faktor Input yaitu kehadiran siswa yang menjadi subjek penelitian 2. Faktor proses yaitu aktifitas yang terjadi selama porses pembelajaran berlangsung, meliputi; a. Siswa yang bertanya materi pelajaran yang belum dimengerti. b. Siswa yang menjawab pertanyaan lisan guru c. Siswa yang menyelesaikan soal di papan tulis d. Siswa yang mengerjakan pekerjaan rumah.
  • 9.
    e. Siswa yangaktif pada saat kerja kelompok f. Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat kerja kelompok. g. Siswa yang memberi tanggapan terhadap presentase dari kelompok lain 3. Faktor output yaitu hasil belajar matematika siswa yang diperoleh pada setiap akhir siklus setelah diterapkan pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Head Together). D. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Lembar observasi, untuk memperoleh data tentang kondisi pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT di kelas. b. Tes hasil belajar, untuk memperoleh data tentang prestasi belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. c. Jurnal refleksi diri, untuk memperoleh data tentang refleksi diri. E. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian tindakan kelas ini, direncanakan terdiri dari 3 siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai seperti apa yang telah didesain dalam faktor yang diselidiki. Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini dijabarkan sebagai berikut : 1. Tahap kegiatan awal, meliputi: a. Observasi awal b. Tes awal: untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam memahami konsep P ersamaan linear dua peubah sebelum diadakan tindakan, yang nantinya digunakan sebagai nilai awal yang diperlukan dalam pembagian kelompok melalui pembelajaran
  • 10.
    kooperatif tipe NHT.Di samping itu, diperlukan dalam pengolahan nilai peningkatan prestasi belajar siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT. 2. Perencanaan, adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini meliputi: a. membuat skenario pembelajaran b. membuat lembar observasi untuk melihat kondisi belajar mengajar di kelas ketika model pembelajaran kooperatif tipe NHT diaplikasikan. c. mendesain alat evaluasi untuk melihat apakah materi matematika telah dikuasai oleh siswa. d. membuat jurnal refleksi diri. 3. Pelaksanaan tindakan, kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah dibuat. 4. Observasi/evaluasi, pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan serta melakukan evaluasi. 5. Refleksi hasil yang diperoleh dalam tahap observasi/evaluasi dikumpulkan serta dianalisis dalam tahap ini. Kelemahan-kelemahan/ kekurangan-kekurangan yang terjadi pada setiap siklus akan diperbaiki pada siklus berikutnya. F. Teknik Pengumpulan Data a. Sumber data: sumber data dalam penelitian ini adalah personil penelitian yang terdiri dari siswa dan guru. b. Jenis data: jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dengan alat evaluasi lembar observasi, jurnal refleksi diri dan data kuantitatif diperoleh dengan alat evaluasi hasil belajar.
  • 11.
    c. Cara pengambilandata Data tentang pelaksanaan pembelajaran serta perubahan-perubahan yang terjadi di kelas, diambil berdasarkan pengamatan langsung dengan menggunakan lembar observasi dan jurnal refleksi diri. Data tentang hasil belajar siswa diambil melalui tes hasil belajar. refleksi diri. Data tentang hasil belajar siswa diambil melalui tes hasil belajar. • Teknik Analisis Data (Analisis Deskriptif, Uji Persyaratan dan Pengujian Hipotesis Penelitian) atau Analisis Data Utama. G. Teknik Analisis Data Data tentang hasil pengamatan mengenai perubahan sikap siswa dianalisis secara kualitatif sedangkan data mengenai hasil belajar siswa dianalisis secara kuantitatif. Data hasil belajar yang diperoleh dikategorikan berdasarkan teknik kategori standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Martini,2005:27). Kategorisasi tersebut adalah: 1. Nilai 0 - 34 : dikategorikan “sangat rendah” 2. Nilai 35 - 54 : dikategorikan “rendah” 3. Nilai 55 - 64 : dikategorikan “sedang” 4. Nilai 65 - 84 : dikategorikan “tinggi” 5. Nilai 85 - 100 : dikategorikan “sangat tinggi”
  • 12.
    • Simpulan Indikatorkeberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah terjadinya peningkatan hasil belajar siswa, yang ditinjau dari hasil tes setiap akhir siklus yakni bila skor rata-rata kemampuan memecahkan masalah matematika siswa mengalami peningkatan. Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah apabila hasil belajar siswa dari setiap siklus yang ditinjau dari hasil tes setiap akhir siklus mengalami peningkatan skor rata-rata pada siswa kelas Kelas VIII.A SMP NEGERI 2 TIGARAKSA setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT).