Teori disonansi kognitif, yang pertama kali dikemukakan oleh Leon Festinger pada 1957, menjelaskan ketidaknyamanan psikologis akibat inkonsistensi antara keyakinan dan tindakan. Contoh kasus menyebutkan seorang pendeta gay yang menghadapi disonansi antara orientasi seksualnya dan ajaran agamanya, sehingga berusaha mencapai konsistensi dengan mengabaikan peraturan agama. Teori ini juga mencakup mekanisme untuk mengatasi disonansi, termasuk mengurangi pentingnya keyakinan yang bertentangan atau menambahkan keyakinan yang konsisten.