1
TEORI AKAD
Oleh: Sodri
2
AKAD
Ikatan,
Perjanjian,
Kontrak
antara satu
pihak
dengan
pihak
lainnya
Konsekuensi
Hukum
Jika Tidak
dilaksanakan
Sanksi :
Pidana-
Perdata,
Moral/Sosial
Contoh:
Akad Jual
Beli, Sewa
Menyewa
dsb
WA’AD
(Janji)
Janji dari
satu pihak
kepada
pihak
lainnya
Konsekuensi
Hukum
Jika Tidak
dilaksanakan
Sanksi :
Moral/Sosial
Contoh :
Wakaf,
hibah, infak,
dsb..
PENGERTIAN AKAD DAN WAAD
3
URGENSI AKAD-1
Mencerminkan
kerelaan dan
kesungguhan
‫ن‬‫ا‬
‫ام‬‫ا‬‫ء‬ ‫ا‬
‫ين‬ِ
‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ ‫ا‬‫ا‬
‫ه‬ُّ‫اي‬‫أ‬‫ا‬
‫َي‬
‫وا‬‫ل‬‫ْك‬‫ا‬
‫َت‬ ‫ا‬
‫َل‬ ‫وا‬
ِ
‫ب‬ ْ
‫م‬‫ك‬‫ا‬‫ن‬ْ‫ي‬‫ا‬‫ب‬ ْ
‫م‬‫ك‬‫ا‬‫ل‬‫ا‬‫ا‬
‫و‬ْ
‫ام‬‫أ‬
َّ
‫َل‬ِ‫إ‬ ِ
‫ل‬ِ
‫اط‬‫ا‬‫ْب‬‫ل‬
ْ
‫ن‬‫ا‬‫أ‬
‫ا‬‫ت‬ ْ
‫ن‬‫ا‬
‫ع‬ ً‫ة‬‫ا‬
‫ار‬‫ا‬ِ
‫ِت‬ ‫ا‬
‫ن‬‫و‬‫ك‬‫ا‬‫ت‬
ْ
‫م‬‫ك‬ْ‫ن‬ِ
‫م‬ ٍ
‫اض‬‫ا‬
‫ر‬
Wahai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu
saling memakan hartamu
dengan cara yang bathil,
kecuali dengan jalan
perniagaan atas dasar
saling meridhai (QS An-
Nisaa : 29)
1 Mengakibatkan
peralihan
kepemilikan
secara sah,
dengan segala
konsekuensinya
contoh : akad
jual beli antara
Bank Syariah
dengan
nasabah.
2
Merubah status
hukum,
misalnya yang
haram menjadi
halal.
3
4
Suatu
transaksi
termasuk
kategori
bunga/riba
atau tidak
tergantung
akad-nya.
4
Ciri penting
yang
membedakan
Bank Syariah
dengan Bank
Konvensional.
5
URGENSI AKAD-2
5
Jenis
Akad
Akad Tabarru’
Akad Tijarah
Transaksi nirlaba (not for profit transaction).
Transaksi ini bertujuan bukan untuk mencari
Keuntungan komersial, tetapi semata-mata
bertujuan kebaikan,
menolong sesama mencari ridha Allah.
Tabarru’ berasal dari kata Al Birr
(kebaikan, perhatikan  QS. 2 : 177)
Transaksi yang bertujuan untuk
mencari keuntungan (for profit transaction).
Akad ini kadangkala disebut juga
dengan akad mu’awadah
(tukar menukar, compensational contract)
JENIS AKAD
6
Tijarah
Tabarru’
KONVERSI AKAD
7
Teori
Pertukaran
Teori
Percampuran
TIJARAH
For Profit Transaction
Natural Certainty
Contract
Natural Uncertainty
Contract
Murabahah
Ijarah
dsb.
Musyarakah
Mudharabah
dsb
TABARRU’
Non For Profit
Transaction
1. QARD/Pinjaman
2. Wadi’ah/titipan
3. Kafalah/Jaminan
4. Hibah/Pemberian
5. Wakaf
6. Wakalah
JENIS AKAD
7
8
Akad-akad Tabarru’
meminjamkan/memberikan sesuatu
Lending Money
meminjamkan harta
Lending Yourself
meminjamkan jasa
Giving Something
memberikan sesuatu
Qard
meminjamkan harta
Rahn
meminjamkan harta +
agunan
Hiwalah
meminjamkan harta
untuk mengambil alih
pinjaman
Wakalah
meminjamkan jasa untuk
melakukan sesuatu atas nama orang
lain
Wadi’ah
wakalah dengan tugas tertentu,
yaitu memberikan jasa
pemeliharaan
Kafalah
wakalah kontijensi, yaitu
mempersiapkan diri untuk
melakukan sesuatu apabila terjadi
sesuatu
Hibah, Shadaqah,
Waqf, Hadiah
9
Batasan sesuai
Fatwa MUI tentang
Jenis kegiatan usaha yang
bertentangan dengan syariah
Fatwa DSN
No : 20/DSN-MUI/IX/2004
pasal 8 ayat 2
Usaha yang memproduksi,
mendistribusi serta
memperdagangkan makanan &
minuman yang haram.
Usaha lembaga keuangan
konvensional (ribawi)
termasuk perbankan dan asuransi
konvensional
Usaha dalam bidang
perjudian atau
permainan yang dapat
digolongkan sebagai judi,
serta perdagangan
yang dilarang
Usaha yang memproduksi,
mendistribusi dan atau
menyediakan
barang-barang atau pun
jasa yang merusak moral
dan bersifat mudarat .
JENIS KEGIATAN YANG TIDAK DAPAT DI BIAYAI OLEH LEMBAGA
KEUANGAN SYARIAH
10
APLIKASI AKAD DALAM PRODUK
PEMBIAYAAN EKONOMI SYARIAH
11
Jual Beli
Murabahah
Salam
Istishna’
Sewa
Ijarah
IMBT
Ijarah Multi
Jasa
Bagi Hasil
Mudharabah
(Full
Financing)
Musyarakah
(Partial
Financing)
PEMBIAYAAN
12
PEMBIAYAAN
Berakad
Jual Beli
Murabahah
Salam
Istisna’
13
Rukun
JUAL-BELI
1. Penjual ( ‫باع‬ )
yaitu pihak yang
menjual barang,
(Bank Syariah)
2. Pembeli (‫)مشتري‬
yaitu yang membutuhkan
barang (Nasabah)
3. Barang yang akan
diperjualbelikan (‫)ماب‬
5. Akad (Ijab-Qabul)
4. Harga (Tsaman)
14
Rukun Syarat
1. Penjual (Bai’)
2. Pembeli
(Musytari )
3. Barang Yang
Diperjual-belikan
(Mabi’)
4. Harga Barang
(Tsaman)
5. Pernyataan Serah
Terima (Ijab-
qabul )
1. Pihak yang berakad (Bai’ & Musytari)
(Penjual& Pembeli) cakap hukum dan
tidak dalam keadaan terpaksa.
2. Barang yang diperjual-belikan (Mabi’)
tidak termasuk barang haram dan jenis
maupun jumlahnya jelas.
3. Harga barang (Tsaman) harus dinyatakan
secara transparan (harga pokok dan laba)
dan cara pembayarannya disebutkan
dengan jelas.
4. Pernyatan serah-terima (Ijab-Qabul) harus
jelas dengan menyebutkan secara spesifik
pihak-pihak yang berakad.
Rukun & Syuarat Jual Beli
15
15
BAI AL-MURABAHAH (‫المرابحة‬ ‫)بيع‬
(DEFERED PAYMENT SALE)
(Fatwa DSN No.04/DSN-MUI/IV/2000)
16
Fatwa No: 04/DSN-MUI/IV/2000 :
Menjual suatu barang (barang sudah ada)
dengan menegaskan harga belinya kepada
Pembeli, dan Pembeli membayarnya dengan
harga yang lebih tinggi sebagai laba
MURABAHAH
17
‫الربا‬ ‫وحرم‬ ‫البيع‬ ‫هللا‬ ‫احل‬‫و‬
LANDASAN SYARIAH MURABAHAH
Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan
riba (QS Al Baqarah/2:275)
‫اجل‬ ‫الئ‬ ‫البركةالبيع‬ ‫فيهن‬ ‫ثالث‬
‫وخلطالبر‬ ‫المقارضـة‬‫و‬
‫الللبيع‬‫و‬ ‫للبيت‬ ‫بالشـعير‬
“Tiga perkara didalamnya terdapat keberkahan : menjual dengan
pembayaran secara angsur,muqaradah (nama lain mudharabah),
dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah
bukan untuk dijual“ (HR Ibnu Majah)
ِ‫ب‬َ‫ا‬ ْ‫ن‬َ‫أ‬ ْ‫م‬َّ‫ل‬َ‫س‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ُ‫هللا‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ص‬ ِ‫هللا‬ ُ‫ل‬ ْ‫و‬ُ‫س‬َ‫ر‬ ‫ى‬َ‫ه‬َ‫ن‬
ْ‫ِي‬‫د‬ْ‫ن‬ِ‫ع‬ َ
‫س‬ْ‫ي‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬ َ‫ع‬ْ‫ي‬
(‫ِي‬‫ذ‬ِ‫م‬ْ‫ر‬ِ‫ت‬‫ال‬ ُ‫ه‬َ‫و‬َ‫)ر‬
Rasulullah SAW melarang aku menjual
sesuatu yang bukan milikku (HR Tirmidzi)
18
Barang yang dibeli dalam Akad Murabahah harus jelas
(Quantity,Quality, Time Delivery) untuk menghindari
hal tersebut Bank Syariah secara bertahap
meminimalisir Akad Wakalah dengan cara bekerjasama
dengan Suplier atau menghadirkan pemilik Barang di
Majlis Akad, dan tidak ada blokir tabungan untuk
angsuran yang dananya bersumber dari pencairan dan
biaya-biaya (ADMP, Notaril, Asuransi dll) dibayarkan
tunai oleh Nasabah bukan dari pencairan pembiayaan
(Fatwa DSN No 04/DSN-MUI/IV/2000).
Ketentuan Murabahah
19
Aplikasi
Pembiayaan
Murabahah
Bank sebagai pedagang perantara
(intermediary trader) antara penjual barang
dan nasabah sebagai pembeli akhir (end user)
Harga Jual adalah harga beli dari Penjual
Barang (pemasok) ditambah dengan biaya
operasi dan marjin keuntungan bank.
Kedua belah pihak wajib menyepakati akad
yang berisikan Harga Jual dan Jangka
Waktu Pembayaran
Biaya administrasi dikenakan atas biaya riil
(riil cost)
20
HUTANG NASABAH DALAM AKAD MURABAHAH
Hutang Nasabah adalah Hutang Atas Harga Jual
Barang (Bukan Hutang Uang)
21
Perbedaan Hutang Uang dan Hutang Barang
Hutang Uang Hutang Barang
Pinjam Meminjam
Uang
Pengadaan Barang
Tambahan:
Inflasi.
Kecuali
Ada
Alasan
yang
jelas :
Biaya
Materai,
Biaya
Notaris
Harga Jual
Tidak Boleh Naik
setelah disepakati
Harga
Pokok
Keuntungan
yang
disepakati
Kewajiban dalam bentuk
Pengadaan Barang, bukan
hutang uang
22
Hutang Nasabah adalah hutang atas
harga jual barang (bukan hutang uang)
Tidak ada :
Hutang Pokok
Hutang Margin
HUTANG NASABAH
23
NORMA PENENTUAN
KEUNTUNGAN
DALAM SYARIAH
Wajar
(mekanisme pasar)
Adil (tidak ada
pihak yang dirugikan)
Ridho
(ijab qobul)
24
JAMINAN DALAM MURABAHAH
Jaminan dalam murabahah dibolehkan,
agar nasabah serius dengan pesanannya
Bank dapat meminta nasabah untuk
menyediakan jaminan yang dapat
dipegang
25
HUTANG DALAM MURABAHAH
Secara prinsip, penyelesaian hutang nasabah dlm transaksi murabahah
tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan
pihak ketiga atas barang tsb. Jika nasabah menjual kembali barang tsb,
dengan keuntungan / kerugian, ia tetap berkewajiban untuk
menyelesaikan hutangnya kepada bank
Jika nasabah menjual barang tsb sebelum masa angsuran berakhir, ia
tidak wajib segera melunasi seluruh angsurannya
Jika penjualan barang tsb menyebabkan kerugian, nasabah tetap hrs
meyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidak boleh
memperlambat pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu
diperhitungkan
26
26
BANGKRUT DALAM MURABAHAH
Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan
gagal menyelesaikan hutangnya, bank
harus menunda tagihan hutang sampai
ia menjadi sanggup kembali, atau
berdasarkan kesepakatan (re-vitalisasi,
konversi, write off).
27
KETENTUAN MURABAHAH
DENDA
(17/DSN-
MUI/IX/2000)
1.Denda boleh dikenakan jika nasabah MAMPU tetapi TIDAK
MAU membayar (Nasabah yang tidak mampu membayar
disebabkan force majeur, tidak boleh dikenakan denda).
2.Denda didasarkan pada prinsip ta’zir yaitu bertujuan agar
nasabah disiplin.
3.Besarnya DENDA sesuai KESEPAKATAN diawal akad.
4.Jumlah DENDA dalam bentuk NOMINAL.
5.Dana DENDA digunakan sebagai DANA SOSIAL.
28
Jika nasabah dalam transaksi murabahah melakukan
pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat
dari waktu yang telah disepakati, Bank boleh
memberikan potongan (muqosah) dari kewajiban
pembayaran tersebut, dengan syarat tidak
diperjanjikan dalam akad.
POTONGAN PELUNASAN
(MUQOSAH)
Besar potongannya diserahkan pada kebijakan dan
pertimbangan Bank.
29
KONVERSI AKAD
AKAD
MURABAHAH
IMBT
Obyek
Murabahahnya
berbentuk
Barang/Fix Asset
MUSYARAKAH
MUDHARABAH
Obyek
Murabahahnya
berbentuk Barang
Modal Kerja/Fix
Asset
30
KONVERSI AKAD MURABAHAH
-Latar Belakang-
(Fatwa DSN No.49/DSN-MUI/II/2005
Sistem pembayaran dalam akad murabahah pada bank
syariah pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun
waktu yang telah disepakati antara bank dengan nasabah.
Dalam hal nasabah mengalami penurunan kemampuan dalam
pembayaran cicilan, maka ia dapat diberi keringanan.
Keringanan tersebut salah satunya dapat diwujudkan dalam
bentuk konversi dengan membuat akad baru dalam
pembayaran kewajiban.
31
KONVERSI AKAD MURABAHAH
-Ketentuan Konversi Akad-1
 Bank boleh melakukan konversi dengan membuat akad baru
dengan nasabah yang masih mempunyai prospek.
 Akad murabahah dihentikan dengan cara:
32
KONVERSI AKAD MURABAHAH
-Ketentuan Konversi Akad-2
 Bank dan nasabah eks-murabahah tersebut dapat membuat
akad baru dengan akad :
BA’I AL-SALAM
(IN-FRONT PAYMENT SALE)
(Fatwa DSN No.05/DSN-UI/IV/2000)
34
Fatwa No: 05/DSN-MUI/IV/2000
Jual-beli barang dengan cara pemesanan
dan pembayaran harga lebih dahulu dengan
syarat-syarat tertentu.
Dibolehkan melakukan salam paralel
dengan syarat, akad kedua terpisah dari
dan tidak berkaitan dengan akad pertama.
SALAM
35
35
PENGERTIAN SALAM
ETIMOLOGI
Salam adalah salaf (pen-dahulu-an)
= sesuatu yang didahulukan.
Dalam konteks ini, jual beli salam/salaf ; di mana
harga/uangnya didahulukan, sedangkan barangnya
diserahkan kemudian.
Akad jual beli barang dengan cara pemesanan barang
(muslam fiih) dan pembayaran harga lebih dahulu dengan
syarat-syarat tertentu antara pembeli (muslam) dengan
penjual (muslam ilaih).
Jual beli dimana pembeli memesan barang yang jenis,
kualitas dan kuantitasnya ditentukan dan dibayar oleh
pemesan secara tunai atau diangsur sebelum barangnya
selesai dibuat.
36
SALAM
1
•
Spesifikasi (jenis, macam ukuran, jumlah,
mutu) dan harga barang disepakati diawal
akad dan pembayaran dilakukan diawal atau
setelah barang selesai dibuat.
2
• Diaplikasi => produksi agribisnis atau industri
sejenis lainnya
37
“Barang siapa melakukan salaf
(salam), hendaknya ia melakukan
dengan takaran yang jelas, untuk
jangka waktu yang diketahui” (HR
Bukhari, Sahih Al-Bukhari, Beirut: Dar
al-Fikr,1955, hal.36).
LANDASAN SYARIAH SALAM
ْ
‫ن‬‫ا‬
‫م‬
‫ا‬
‫ف‬‫ا‬‫ل‬ْ
‫اس‬‫أ‬
ِ
‫ف‬
ٍ
‫ء‬ْ
‫ي‬‫ا‬
‫ش‬
ْ
‫ي‬ِ
‫ف‬‫ا‬‫ف‬
ٍ
‫ل‬ْ‫ي‬‫ا‬
‫ك‬
ٍ
‫وم‬‫ل‬ْ‫ع‬‫ا‬
‫م‬
ٍ
‫ن‬ْ
‫ز‬‫ا‬
‫و‬‫ا‬
‫و‬
‫و‬‫ل‬ْ‫ع‬‫ا‬
‫م‬
ٍ
‫م‬
‫ا‬
‫ل‬ِ‫إ‬
ٍ
‫ل‬‫ا‬
‫اج‬‫أ‬
ٍ
‫وم‬‫ل‬ْ‫ع‬‫ا‬
‫م‬
.
38
Aplikasi
Pembiayaan
Salam
Barang yang diperjualbelikan BELUM ADA
SPESIFIKASI (jenis, macam ukuran, jumlah,
mutu) dan KONDISI barang disepakati di awal.
Barang DISERAHKAN secara tangguh di suatu
tanggal DI MASA MENDATANG dengan tgl jatuh
tempo yang disepakati
PEMBAYARAN (harga beli) dilakukan secara TUNAI
39
Salam
Konsep Dasar Ba’i Salam
Bank membeli secara tunai
Barang diserahkan kemudian/secara tangguh
Petani
Bank Syariah membeli 5 ton padi, seharga Rp 10 juta secara tunai/cash,
Sedangkan padinya diserahkan 4 bulan yang akan datang
Contoh :
‫السلم‬ ‫بيع‬
Bank
Syariah
Transaksi Jual beli di mana barang belum diserahkan
(belum ada), Sedangkan pembayaran dilakukan di
muka (secara tunai). Ini disebut juga jual-beli pesanan
40
Bank Islam membeli beras R36 sebanyak 5 ton dengan harga
Rp 10 Juta. Maka kewajiban petani adalah memberikan beras
sebanyak 5 ton pada 4 bulan depan
Jika terjadi kelebihan produksi sampai 7 ton, maka sisa yang 2 ton
Itu menjadi hak petani, bukan milik bank Syariah.
Begitu pula sebaliknya, jika produksi hanya 4 ton saja, maka
Petani wajib mencarikan 1 ton lagi.
Di dalam Ijon, hasil produksi yang 7 ton di atas,
semua menjadi milik Tengkulak. Dan seringkali
para tengkulak melakukan penekanan kepada petani,
khususnya dalam masalah penentuan harga
41
BANK NASABAH
Produsen
Penjual
1
2
4
5
Negosiasi
Pesanan
dengan
Kriteria
Bayar
Pesan Barang & Bayar
Tunai Kirim Pesanan
3
Kirim Dokumen
SKEMA SALAM
42
SALAM PARALEL
Salam paralel berarti melaksanakan dua transaksi salam yang terdiri atas
transaksi antara bank dengan petani (salam I) dan antara bank dengan
pembeli (salam II).
Mekanisme salam paralel ini berdasarkan pertimbangan bahwa barang
yang dibeli bank dalam transaksi salam , bank tidak berniat untuk
menjadikannya sebagai inventory, maka dilakukan transaksi salam II
kepada pembeli (nasabah/pihak ke III).
Dibolehkan melakukan salam paralel dengan syarat akad kedua terpisah
dari akad pertama, dan akad dilakukan setelah akad pertama syah.
43
Salam Paralel
Bank menjual beras kepada Bulog
Rekanan nasabah (bulog/grosir) serahkan dana cash
setelah ada berasnya
Bank
SYARIAH
Bank Membeli beras secara tunai kepada petani,
Sedangkan padi diserahkan 4 bulan depan
Bulog/
Grosir
Bank Syariah membeli beras 10 ton, Rp 20 juta, lalu menjualnya
kepada Bulog/ grosir seharga Rp 21 juta.
Rekanan ini bisa
direkomenkendasikan Petani
1
2
3
44
Dalam Ba’i Salam Harus Jelas : 1. Kualitas (Jenis) 2. Kuantitas
2. Harga, 3. Waktu Penyerahan
Beda Salam dan Ijon
No ASPEK IJON SALAM
1 Jenis, Macam Tidak Jelas Jelas
2 Ukuran Tidak Jelas Jelas
3 Mutu Tidak Jelas Jelas
4 Jumlah Tidak Jelas Jelas
5 Harga Tidak Jelas Jelas
6 Waktu Delivery Tidak Jelas Jelas
(
‫ع‬ ‫االستصنا‬
)
BAI AL-ISTISHNA’
(PURCHASE BY ORDER/MANUFACTURE)
(Fatwa DSN No.06/DSN-MUI/IV/2000)
46
Fatwa No : 06/DSN-MUI/IV/2000
Akad jual-beli dalam bentuk pemesanan
pembuatan barang tertentu dengan kriteria
dan persyaratan tertentu yang disepakati antara
pemesan (pembeli) dan penjual (pembuat).
ISTISHNA
47
SYARAT BAI AL-
ISTISHNA’
Pihak yang berakad harus cakap hukum
Produsen sanggup memenuhi
persyaratan pesanan
Obyek yang dipesan jelas spesifikasinya
Harga jual adalah harga pesanan
ditambah keuntungan
Harga jual tetap selama jangka
waktu pemesanan
Jangka waktu pembuatan disepakati
bersama
48
Aplikasi
Pembiayaan
Istishna
Barang yang diperjualbelikan BELUM JADI
(dalam proses pembuatan atau pembangunan)
SPESIFIKASI (jenis, macam ukuran, jumlah,
mutu) dan KONDISI barang disepakati di awal.
Barang DISERAHKAN secara tangguh di suatu
tanggal DI MASA MENDATANG dengan tgl jatuh
tempo yang disepakati
PEMBAYARAN (harga beli) dapat dilakukan
dalam beberapa TERMIN sesuai kesepakatan
Diaplikasikan => manufakturdan konstruksi
49
Dalam Akad Istishna: Nasabah menerima
barang pesanan (mis: rumah) uang
diserahkan kepada developer (Istishna
Paralel) secara bertahap, uang tidak
diserahkan kepada Nasabah. (Fatwa DSN
No 06/DSN-MUI/IV/2000).
KETENTUAN ISTISHNA
50
SKEMA BAI’ AL-ISTISHNA
BANK
(Penjual)
NASABAH
Konsumen
(Pembeli)
Produsen
Pembuat
Jual
Penyerahan Barang
Beli
1
3
2 4
Pesan
51
PRODUK PEMBIAYAAN EKONOMI
SYARIAH
BERBASIS SEWA
52
Terima Kasih
Wassalam.....
53

-Teori Akad-.ppt

  • 1.
  • 2.
    2 AKAD Ikatan, Perjanjian, Kontrak antara satu pihak dengan pihak lainnya Konsekuensi Hukum Jika Tidak dilaksanakan Sanksi: Pidana- Perdata, Moral/Sosial Contoh: Akad Jual Beli, Sewa Menyewa dsb WA’AD (Janji) Janji dari satu pihak kepada pihak lainnya Konsekuensi Hukum Jika Tidak dilaksanakan Sanksi : Moral/Sosial Contoh : Wakaf, hibah, infak, dsb.. PENGERTIAN AKAD DAN WAAD
  • 3.
    3 URGENSI AKAD-1 Mencerminkan kerelaan dan kesungguhan ‫ن‬‫ا‬ ‫ام‬‫ا‬‫ء‬‫ا‬ ‫ين‬ِ ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ ‫ا‬‫ا‬ ‫ه‬ُّ‫اي‬‫أ‬‫ا‬ ‫َي‬ ‫وا‬‫ل‬‫ْك‬‫ا‬ ‫َت‬ ‫ا‬ ‫َل‬ ‫وا‬ ِ ‫ب‬ ْ ‫م‬‫ك‬‫ا‬‫ن‬ْ‫ي‬‫ا‬‫ب‬ ْ ‫م‬‫ك‬‫ا‬‫ل‬‫ا‬‫ا‬ ‫و‬ْ ‫ام‬‫أ‬ َّ ‫َل‬ِ‫إ‬ ِ ‫ل‬ِ ‫اط‬‫ا‬‫ْب‬‫ل‬ ْ ‫ن‬‫ا‬‫أ‬ ‫ا‬‫ت‬ ْ ‫ن‬‫ا‬ ‫ع‬ ً‫ة‬‫ا‬ ‫ار‬‫ا‬ِ ‫ِت‬ ‫ا‬ ‫ن‬‫و‬‫ك‬‫ا‬‫ت‬ ْ ‫م‬‫ك‬ْ‫ن‬ِ ‫م‬ ٍ ‫اض‬‫ا‬ ‫ر‬ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan hartamu dengan cara yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan atas dasar saling meridhai (QS An- Nisaa : 29) 1 Mengakibatkan peralihan kepemilikan secara sah, dengan segala konsekuensinya contoh : akad jual beli antara Bank Syariah dengan nasabah. 2 Merubah status hukum, misalnya yang haram menjadi halal. 3
  • 4.
  • 5.
    5 Jenis Akad Akad Tabarru’ Akad Tijarah Transaksinirlaba (not for profit transaction). Transaksi ini bertujuan bukan untuk mencari Keuntungan komersial, tetapi semata-mata bertujuan kebaikan, menolong sesama mencari ridha Allah. Tabarru’ berasal dari kata Al Birr (kebaikan, perhatikan  QS. 2 : 177) Transaksi yang bertujuan untuk mencari keuntungan (for profit transaction). Akad ini kadangkala disebut juga dengan akad mu’awadah (tukar menukar, compensational contract) JENIS AKAD
  • 6.
  • 7.
    7 Teori Pertukaran Teori Percampuran TIJARAH For Profit Transaction NaturalCertainty Contract Natural Uncertainty Contract Murabahah Ijarah dsb. Musyarakah Mudharabah dsb TABARRU’ Non For Profit Transaction 1. QARD/Pinjaman 2. Wadi’ah/titipan 3. Kafalah/Jaminan 4. Hibah/Pemberian 5. Wakaf 6. Wakalah JENIS AKAD 7
  • 8.
    8 Akad-akad Tabarru’ meminjamkan/memberikan sesuatu LendingMoney meminjamkan harta Lending Yourself meminjamkan jasa Giving Something memberikan sesuatu Qard meminjamkan harta Rahn meminjamkan harta + agunan Hiwalah meminjamkan harta untuk mengambil alih pinjaman Wakalah meminjamkan jasa untuk melakukan sesuatu atas nama orang lain Wadi’ah wakalah dengan tugas tertentu, yaitu memberikan jasa pemeliharaan Kafalah wakalah kontijensi, yaitu mempersiapkan diri untuk melakukan sesuatu apabila terjadi sesuatu Hibah, Shadaqah, Waqf, Hadiah
  • 9.
    9 Batasan sesuai Fatwa MUItentang Jenis kegiatan usaha yang bertentangan dengan syariah Fatwa DSN No : 20/DSN-MUI/IX/2004 pasal 8 ayat 2 Usaha yang memproduksi, mendistribusi serta memperdagangkan makanan & minuman yang haram. Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi) termasuk perbankan dan asuransi konvensional Usaha dalam bidang perjudian atau permainan yang dapat digolongkan sebagai judi, serta perdagangan yang dilarang Usaha yang memproduksi, mendistribusi dan atau menyediakan barang-barang atau pun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat . JENIS KEGIATAN YANG TIDAK DAPAT DI BIAYAI OLEH LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH
  • 10.
    10 APLIKASI AKAD DALAMPRODUK PEMBIAYAAN EKONOMI SYARIAH
  • 11.
    11 Jual Beli Murabahah Salam Istishna’ Sewa Ijarah IMBT Ijarah Multi Jasa BagiHasil Mudharabah (Full Financing) Musyarakah (Partial Financing) PEMBIAYAAN
  • 12.
  • 13.
    13 Rukun JUAL-BELI 1. Penjual (‫باع‬ ) yaitu pihak yang menjual barang, (Bank Syariah) 2. Pembeli (‫)مشتري‬ yaitu yang membutuhkan barang (Nasabah) 3. Barang yang akan diperjualbelikan (‫)ماب‬ 5. Akad (Ijab-Qabul) 4. Harga (Tsaman)
  • 14.
    14 Rukun Syarat 1. Penjual(Bai’) 2. Pembeli (Musytari ) 3. Barang Yang Diperjual-belikan (Mabi’) 4. Harga Barang (Tsaman) 5. Pernyataan Serah Terima (Ijab- qabul ) 1. Pihak yang berakad (Bai’ & Musytari) (Penjual& Pembeli) cakap hukum dan tidak dalam keadaan terpaksa. 2. Barang yang diperjual-belikan (Mabi’) tidak termasuk barang haram dan jenis maupun jumlahnya jelas. 3. Harga barang (Tsaman) harus dinyatakan secara transparan (harga pokok dan laba) dan cara pembayarannya disebutkan dengan jelas. 4. Pernyatan serah-terima (Ijab-Qabul) harus jelas dengan menyebutkan secara spesifik pihak-pihak yang berakad. Rukun & Syuarat Jual Beli
  • 15.
    15 15 BAI AL-MURABAHAH (‫المرابحة‬‫)بيع‬ (DEFERED PAYMENT SALE) (Fatwa DSN No.04/DSN-MUI/IV/2000)
  • 16.
    16 Fatwa No: 04/DSN-MUI/IV/2000: Menjual suatu barang (barang sudah ada) dengan menegaskan harga belinya kepada Pembeli, dan Pembeli membayarnya dengan harga yang lebih tinggi sebagai laba MURABAHAH
  • 17.
    17 ‫الربا‬ ‫وحرم‬ ‫البيع‬‫هللا‬ ‫احل‬‫و‬ LANDASAN SYARIAH MURABAHAH Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS Al Baqarah/2:275) ‫اجل‬ ‫الئ‬ ‫البركةالبيع‬ ‫فيهن‬ ‫ثالث‬ ‫وخلطالبر‬ ‫المقارضـة‬‫و‬ ‫الللبيع‬‫و‬ ‫للبيت‬ ‫بالشـعير‬ “Tiga perkara didalamnya terdapat keberkahan : menjual dengan pembayaran secara angsur,muqaradah (nama lain mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah bukan untuk dijual“ (HR Ibnu Majah) ِ‫ب‬َ‫ا‬ ْ‫ن‬َ‫أ‬ ْ‫م‬َّ‫ل‬َ‫س‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ُ‫هللا‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ص‬ ِ‫هللا‬ ُ‫ل‬ ْ‫و‬ُ‫س‬َ‫ر‬ ‫ى‬َ‫ه‬َ‫ن‬ ْ‫ِي‬‫د‬ْ‫ن‬ِ‫ع‬ َ ‫س‬ْ‫ي‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬ َ‫ع‬ْ‫ي‬ (‫ِي‬‫ذ‬ِ‫م‬ْ‫ر‬ِ‫ت‬‫ال‬ ُ‫ه‬َ‫و‬َ‫)ر‬ Rasulullah SAW melarang aku menjual sesuatu yang bukan milikku (HR Tirmidzi)
  • 18.
    18 Barang yang dibelidalam Akad Murabahah harus jelas (Quantity,Quality, Time Delivery) untuk menghindari hal tersebut Bank Syariah secara bertahap meminimalisir Akad Wakalah dengan cara bekerjasama dengan Suplier atau menghadirkan pemilik Barang di Majlis Akad, dan tidak ada blokir tabungan untuk angsuran yang dananya bersumber dari pencairan dan biaya-biaya (ADMP, Notaril, Asuransi dll) dibayarkan tunai oleh Nasabah bukan dari pencairan pembiayaan (Fatwa DSN No 04/DSN-MUI/IV/2000). Ketentuan Murabahah
  • 19.
    19 Aplikasi Pembiayaan Murabahah Bank sebagai pedagangperantara (intermediary trader) antara penjual barang dan nasabah sebagai pembeli akhir (end user) Harga Jual adalah harga beli dari Penjual Barang (pemasok) ditambah dengan biaya operasi dan marjin keuntungan bank. Kedua belah pihak wajib menyepakati akad yang berisikan Harga Jual dan Jangka Waktu Pembayaran Biaya administrasi dikenakan atas biaya riil (riil cost)
  • 20.
    20 HUTANG NASABAH DALAMAKAD MURABAHAH Hutang Nasabah adalah Hutang Atas Harga Jual Barang (Bukan Hutang Uang)
  • 21.
    21 Perbedaan Hutang Uangdan Hutang Barang Hutang Uang Hutang Barang Pinjam Meminjam Uang Pengadaan Barang Tambahan: Inflasi. Kecuali Ada Alasan yang jelas : Biaya Materai, Biaya Notaris Harga Jual Tidak Boleh Naik setelah disepakati Harga Pokok Keuntungan yang disepakati Kewajiban dalam bentuk Pengadaan Barang, bukan hutang uang
  • 22.
    22 Hutang Nasabah adalahhutang atas harga jual barang (bukan hutang uang) Tidak ada : Hutang Pokok Hutang Margin HUTANG NASABAH
  • 23.
    23 NORMA PENENTUAN KEUNTUNGAN DALAM SYARIAH Wajar (mekanismepasar) Adil (tidak ada pihak yang dirugikan) Ridho (ijab qobul)
  • 24.
    24 JAMINAN DALAM MURABAHAH Jaminandalam murabahah dibolehkan, agar nasabah serius dengan pesanannya Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang
  • 25.
    25 HUTANG DALAM MURABAHAH Secaraprinsip, penyelesaian hutang nasabah dlm transaksi murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tsb. Jika nasabah menjual kembali barang tsb, dengan keuntungan / kerugian, ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada bank Jika nasabah menjual barang tsb sebelum masa angsuran berakhir, ia tidak wajib segera melunasi seluruh angsurannya Jika penjualan barang tsb menyebabkan kerugian, nasabah tetap hrs meyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan
  • 26.
    26 26 BANGKRUT DALAM MURABAHAH Jikanasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan hutangnya, bank harus menunda tagihan hutang sampai ia menjadi sanggup kembali, atau berdasarkan kesepakatan (re-vitalisasi, konversi, write off).
  • 27.
    27 KETENTUAN MURABAHAH DENDA (17/DSN- MUI/IX/2000) 1.Denda bolehdikenakan jika nasabah MAMPU tetapi TIDAK MAU membayar (Nasabah yang tidak mampu membayar disebabkan force majeur, tidak boleh dikenakan denda). 2.Denda didasarkan pada prinsip ta’zir yaitu bertujuan agar nasabah disiplin. 3.Besarnya DENDA sesuai KESEPAKATAN diawal akad. 4.Jumlah DENDA dalam bentuk NOMINAL. 5.Dana DENDA digunakan sebagai DANA SOSIAL.
  • 28.
    28 Jika nasabah dalamtransaksi murabahah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang telah disepakati, Bank boleh memberikan potongan (muqosah) dari kewajiban pembayaran tersebut, dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad. POTONGAN PELUNASAN (MUQOSAH) Besar potongannya diserahkan pada kebijakan dan pertimbangan Bank.
  • 29.
  • 30.
    30 KONVERSI AKAD MURABAHAH -LatarBelakang- (Fatwa DSN No.49/DSN-MUI/II/2005 Sistem pembayaran dalam akad murabahah pada bank syariah pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara bank dengan nasabah. Dalam hal nasabah mengalami penurunan kemampuan dalam pembayaran cicilan, maka ia dapat diberi keringanan. Keringanan tersebut salah satunya dapat diwujudkan dalam bentuk konversi dengan membuat akad baru dalam pembayaran kewajiban.
  • 31.
    31 KONVERSI AKAD MURABAHAH -KetentuanKonversi Akad-1  Bank boleh melakukan konversi dengan membuat akad baru dengan nasabah yang masih mempunyai prospek.  Akad murabahah dihentikan dengan cara:
  • 32.
    32 KONVERSI AKAD MURABAHAH -KetentuanKonversi Akad-2  Bank dan nasabah eks-murabahah tersebut dapat membuat akad baru dengan akad :
  • 33.
    BA’I AL-SALAM (IN-FRONT PAYMENTSALE) (Fatwa DSN No.05/DSN-UI/IV/2000)
  • 34.
    34 Fatwa No: 05/DSN-MUI/IV/2000 Jual-belibarang dengan cara pemesanan dan pembayaran harga lebih dahulu dengan syarat-syarat tertentu. Dibolehkan melakukan salam paralel dengan syarat, akad kedua terpisah dari dan tidak berkaitan dengan akad pertama. SALAM
  • 35.
    35 35 PENGERTIAN SALAM ETIMOLOGI Salam adalahsalaf (pen-dahulu-an) = sesuatu yang didahulukan. Dalam konteks ini, jual beli salam/salaf ; di mana harga/uangnya didahulukan, sedangkan barangnya diserahkan kemudian. Akad jual beli barang dengan cara pemesanan barang (muslam fiih) dan pembayaran harga lebih dahulu dengan syarat-syarat tertentu antara pembeli (muslam) dengan penjual (muslam ilaih). Jual beli dimana pembeli memesan barang yang jenis, kualitas dan kuantitasnya ditentukan dan dibayar oleh pemesan secara tunai atau diangsur sebelum barangnya selesai dibuat.
  • 36.
    36 SALAM 1 • Spesifikasi (jenis, macamukuran, jumlah, mutu) dan harga barang disepakati diawal akad dan pembayaran dilakukan diawal atau setelah barang selesai dibuat. 2 • Diaplikasi => produksi agribisnis atau industri sejenis lainnya
  • 37.
    37 “Barang siapa melakukansalaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas, untuk jangka waktu yang diketahui” (HR Bukhari, Sahih Al-Bukhari, Beirut: Dar al-Fikr,1955, hal.36). LANDASAN SYARIAH SALAM ْ ‫ن‬‫ا‬ ‫م‬ ‫ا‬ ‫ف‬‫ا‬‫ل‬ْ ‫اس‬‫أ‬ ِ ‫ف‬ ٍ ‫ء‬ْ ‫ي‬‫ا‬ ‫ش‬ ْ ‫ي‬ِ ‫ف‬‫ا‬‫ف‬ ٍ ‫ل‬ْ‫ي‬‫ا‬ ‫ك‬ ٍ ‫وم‬‫ل‬ْ‫ع‬‫ا‬ ‫م‬ ٍ ‫ن‬ْ ‫ز‬‫ا‬ ‫و‬‫ا‬ ‫و‬ ‫و‬‫ل‬ْ‫ع‬‫ا‬ ‫م‬ ٍ ‫م‬ ‫ا‬ ‫ل‬ِ‫إ‬ ٍ ‫ل‬‫ا‬ ‫اج‬‫أ‬ ٍ ‫وم‬‫ل‬ْ‫ع‬‫ا‬ ‫م‬ .
  • 38.
    38 Aplikasi Pembiayaan Salam Barang yang diperjualbelikanBELUM ADA SPESIFIKASI (jenis, macam ukuran, jumlah, mutu) dan KONDISI barang disepakati di awal. Barang DISERAHKAN secara tangguh di suatu tanggal DI MASA MENDATANG dengan tgl jatuh tempo yang disepakati PEMBAYARAN (harga beli) dilakukan secara TUNAI
  • 39.
    39 Salam Konsep Dasar Ba’iSalam Bank membeli secara tunai Barang diserahkan kemudian/secara tangguh Petani Bank Syariah membeli 5 ton padi, seharga Rp 10 juta secara tunai/cash, Sedangkan padinya diserahkan 4 bulan yang akan datang Contoh : ‫السلم‬ ‫بيع‬ Bank Syariah Transaksi Jual beli di mana barang belum diserahkan (belum ada), Sedangkan pembayaran dilakukan di muka (secara tunai). Ini disebut juga jual-beli pesanan
  • 40.
    40 Bank Islam membeliberas R36 sebanyak 5 ton dengan harga Rp 10 Juta. Maka kewajiban petani adalah memberikan beras sebanyak 5 ton pada 4 bulan depan Jika terjadi kelebihan produksi sampai 7 ton, maka sisa yang 2 ton Itu menjadi hak petani, bukan milik bank Syariah. Begitu pula sebaliknya, jika produksi hanya 4 ton saja, maka Petani wajib mencarikan 1 ton lagi. Di dalam Ijon, hasil produksi yang 7 ton di atas, semua menjadi milik Tengkulak. Dan seringkali para tengkulak melakukan penekanan kepada petani, khususnya dalam masalah penentuan harga
  • 41.
  • 42.
    42 SALAM PARALEL Salam paralelberarti melaksanakan dua transaksi salam yang terdiri atas transaksi antara bank dengan petani (salam I) dan antara bank dengan pembeli (salam II). Mekanisme salam paralel ini berdasarkan pertimbangan bahwa barang yang dibeli bank dalam transaksi salam , bank tidak berniat untuk menjadikannya sebagai inventory, maka dilakukan transaksi salam II kepada pembeli (nasabah/pihak ke III). Dibolehkan melakukan salam paralel dengan syarat akad kedua terpisah dari akad pertama, dan akad dilakukan setelah akad pertama syah.
  • 43.
    43 Salam Paralel Bank menjualberas kepada Bulog Rekanan nasabah (bulog/grosir) serahkan dana cash setelah ada berasnya Bank SYARIAH Bank Membeli beras secara tunai kepada petani, Sedangkan padi diserahkan 4 bulan depan Bulog/ Grosir Bank Syariah membeli beras 10 ton, Rp 20 juta, lalu menjualnya kepada Bulog/ grosir seharga Rp 21 juta. Rekanan ini bisa direkomenkendasikan Petani 1 2 3
  • 44.
    44 Dalam Ba’i SalamHarus Jelas : 1. Kualitas (Jenis) 2. Kuantitas 2. Harga, 3. Waktu Penyerahan Beda Salam dan Ijon No ASPEK IJON SALAM 1 Jenis, Macam Tidak Jelas Jelas 2 Ukuran Tidak Jelas Jelas 3 Mutu Tidak Jelas Jelas 4 Jumlah Tidak Jelas Jelas 5 Harga Tidak Jelas Jelas 6 Waktu Delivery Tidak Jelas Jelas
  • 45.
    ( ‫ع‬ ‫االستصنا‬ ) BAI AL-ISTISHNA’ (PURCHASEBY ORDER/MANUFACTURE) (Fatwa DSN No.06/DSN-MUI/IV/2000)
  • 46.
    46 Fatwa No :06/DSN-MUI/IV/2000 Akad jual-beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli) dan penjual (pembuat). ISTISHNA
  • 47.
    47 SYARAT BAI AL- ISTISHNA’ Pihakyang berakad harus cakap hukum Produsen sanggup memenuhi persyaratan pesanan Obyek yang dipesan jelas spesifikasinya Harga jual adalah harga pesanan ditambah keuntungan Harga jual tetap selama jangka waktu pemesanan Jangka waktu pembuatan disepakati bersama
  • 48.
    48 Aplikasi Pembiayaan Istishna Barang yang diperjualbelikanBELUM JADI (dalam proses pembuatan atau pembangunan) SPESIFIKASI (jenis, macam ukuran, jumlah, mutu) dan KONDISI barang disepakati di awal. Barang DISERAHKAN secara tangguh di suatu tanggal DI MASA MENDATANG dengan tgl jatuh tempo yang disepakati PEMBAYARAN (harga beli) dapat dilakukan dalam beberapa TERMIN sesuai kesepakatan Diaplikasikan => manufakturdan konstruksi
  • 49.
    49 Dalam Akad Istishna:Nasabah menerima barang pesanan (mis: rumah) uang diserahkan kepada developer (Istishna Paralel) secara bertahap, uang tidak diserahkan kepada Nasabah. (Fatwa DSN No 06/DSN-MUI/IV/2000). KETENTUAN ISTISHNA
  • 50.
  • 51.
  • 52.
  • 53.