PENDAHULUAN
QOWA‟ID FIQHIYYAH


            Oleh :
 H. Asnin Syafiuddin, Lc. MA
A. DEFINISI QAWA‟ID
FIQHIYYAH
   Etimologi : Qawa‟id (        ) bentuk jama‟ dari
    qa‟idah (      ) yang berarti al-asas (
          ) dasar, yaitu yang menjadi dasar
    berdirinya sesuatu. Atau : dasar dan fondasi
    sesuatu.
   Terminologi :
    1. menurut Jurjani dalam kitab at-Ta‟rifat :
                                            /
    Ketentuan universal yang bersesuaian dengan
    bagian-bagiannya.
2.   Menurut Taftazani dalam kitab at-Talwih „ala at-
     Tawdhih:                                           /Hukum
     yang bersifat universal yang bersesuaian dengan bagian-
     bagiannya, dimana hukum-hukumnya diketahui darinya.
3.   Menurut Ibn as-Subkiy dlm kitab al-Asybah wa an-
     Nazhair :
     /Perkara yang bersifat universal (kulli) yang banyak
     bagian-bagiannya bersesuaian dengannya, dimana hukum-
     hukum bagian-bagian tersebut dipahami darinya.
4.   Menurut al-Hamawiy dalam kitab Ghamzu „Uyun al-
     Bshair :
     /Hukum yang bersifat mayoritas –bukan universal- yang
     bersesuaian dengan kebanyakan bagian-bagiannya agar
     hukum-hukumnya diketahui darinya.
   Tiga definisi pertama hanya berbeda redaksi saja, tapi
    pada hakikatnya sama. Tiga definisi itu didasarkan pada
    pemahaman bahwa qa‟idah bersifat universal.
    Sedangkan definisi keempat didasarkan pada
    pemahaman bahwa qa‟idah bersifat mayoritas,bukan
    menyeluruh; karena pendukung pemahaman ini
    berpendapat bahwa qa‟idah itu tdk bisa diterapkan pada
    seluruh bagiannya, ada saja yang dikeluarkan atau
    dikecualikan. Menurut pendukung pemahaman yang
    pertama berpendapat bahwa pada dasarnya qa‟idah itu
    mencakup seluruh bagiannya. Adanya pengecualian
    tidak berpengaruh, karena setiap qa‟idah ada
    pengecualiannya.
   Jadi pengertian Qawa‟id Fiqhiyyah
    (gabungan Qawa‟id dengan Fiqhiyyah yang
    dinisbahkan pada fiqh) adalah :

         /Hukum fiqh yang bersifat universal
    yang bersesuaian dengan bagian-
    bagiannya, dimana hukum bagian-bagian
    tersebut dapat diketahui darinya.
B. PERBEDAAN ANTARA
QAWA‟ID FIQHIYYAH DENGAN
DHAWABITH FIQHIYYAH
     Pada dasarnya qaidah semakna dengan dhabith
      (bentuk jama‟nya : dhawabith), namun pada
      prakteknya para ulama membedakan antara
      qawa‟id fiqhiyyah dengan dhwabith fiqhiyyah.
     Qawa‟id Fiqhiyyah mencakup berbagai cabang
      dan masalah dalam bab-bab fiqh yang berbeda-
      beda, seperti qaidah (               ) yang
      mencakup bab
      ibadah, jinayat, jihad, sumpah, dsb.
   Sementara dhawabith fiqhiyyah mencakup berbagai
    cabang dan masalah dalam satu bab fiqh saja.
    Contoh : (
    /seorang wanita tidak boleh melakukan shaum
    sunnah kecuali seizin suaminya atau suaminya
    dalam perjalanan )
   As-Sayuthi berkata : “...Karena sesungguhnya
    qaidah menghimpun cabang-cabang dari berbagai
    bab yang berbeda-beda, sedangkan dhabith
    menghimpun cabang-cabang dari satu bab saja”.
C. PERBEDAAN ANTARA QAWA‟ID
FIQHIYYAH DENGAN QAWA‟ID
USHULIYYAH
1.   Pada umumnya Qawa‟id Ushuliyyah lahir dari
     lafaz, kaidah, dan teks bahasa Arab. Sementara qawa‟id fiqh
     lahir dari hukum-hukum syara‟ dan masalah-masalah fiqih.
2.   Qawa‟id ushuliyyah khusus bagi seorang mujtahid. Ia
     menggunakannya untuk istinbath (menggali) hukum fiqih dan
     mengetahui hukum peristiwa-peristiwa dan masalah-masalah
     baru dari sumber-sumber hukumnya (dalil). Sementara
     qawa‟id fiqhiyyah khusus digunakan oleh seorang faqih (ahli
     fiqih), mufti (yang memberi fatwa), dan yang belajar; untuk
     mengetahui hukum fiqih dan sebagai ganti dari kembali pada
     bab-bab fiqih yang berbeda-beda.
3.   Qawa‟id ushuliyyah bersifat umum dan
     menyeluruh yang mencakup cabang-cabangnya.
     Sedangkan qawaid fiqhiyyah walalupun bersifat
     umum dan menyeluruh, namun banyak
     pengecualiaannya. Pengecualian ini kadang-
     kadang membentuk kaidah tersendiri atau kaidah
     cabang. Oleh sebab itu banyak para ulama yang
     memandang bahwa qawaid fiqhiyyah adalah
     qaidah yang bersifat aghlabiyyah
     (mayoritas), bukan qaidah yang bersifat kulliyyah
     (universal)
4.   Qawa‟id ushuliyyah bersifat konsisten, tidak
     berubah-ubah. Sedangkan qawa‟id fiqhiyyah
     tidak bersifat konsisten, tetapi kadang-kadang
     berubah-ubah disebabkan perubahan hukum
     yang didasarkan kepada „urf (adat), sadd adz-
     dzari’ah ( ), kemaslahatan, dsb.
5.   Qawa‟id ushuliyyah mendahului hukum-
     hukum fiqih. Sedangkan qawa‟id fiqhiyyah
     muncul setelah adanya fiqih dan hukum-
     hukumnya.
D. HUBUNGAN ANTARA QAWA‟ID
FIQHIYYAH DENGAN FIQH, USHUL
FIQH, DAN QAWA‟ID USHULIYYAH
1.   Ketiga ilmu tersebut sangat berkaitan erat
     tidak dipisahkan satu dengan yang lainnya.
2.   Ketiga ilmu tsb sangat terkait dg
     perkembangan fiqih, karena pada dasarnya
     fiqh itu sendiri yang menjadi pokok
     pembicaraan qawa‟id fiqhiyyah dan ushul
     fiqh.
3.   Fiqh adalah ilmu tentang hukum syara‟
     tentang perbuatan manusia (amaliah) yang
     diambil dari dalil-dalilnya yang terperinci.
D. HUBUNGAN ANTARA QAWA‟ID
FIQHIYYAH DENGAN FIQH, USHUL
FIQH, DAN QAWA‟ID USHULIYYAH
(lanjutan…)
4. Ushul Fiqh adalah sebuah ilmu yg mengkaji dalil atau
     sumber hukum dan metode penggalian (istinbath)
     hukum dari sumbernya. Hukum yg digali dari dalil
     atau sumber hukum itulah dinamakan fiqh.
5. Hukum yang dihasilkan dari istinbath (penggalian) dari
     sumbernya (dalil) itu sangat banyak sekali yang sulit
     untuk dihafal satu persatu. Maka utk
     memudahkannya, hukum-hukum yang berbeda-beda
     yang mempunyai kesamaan dihimpun dalam suatu
     ketentuan umum atau kaidah. Iketentuan umum atau
     kaidah itulah yang kemudian dinamakan qawa‟id
     fiqhiyyah.
D. HUBUNGAN ANTARA QAWA‟ID
FIQHIYYAH DENGAN FIQH, USHUL
FIQH, DAN QAWA‟ID USHULIYYAH
(lanjutan…)
           Nash al-Qur‟an dan as-Sunnah


         Ushul Fiqh (Qawa‟id Ushuliyyah)


         Fiqh (Hukum syara‟/Hukum Islam)


                Qawa‟id Fiqhiyyah
E. TUJUAN DAN FAIDAH
MEMPELAJARI QAWA‟ID
FIQHIYYAH
1.   Dapat mendalami fiqh dan mampu menganalisa
     berbagai masalah.
2.   Membantu penghapalan dan penetapan berbagai
     masalah yang berdekatan, dan mampu mencapai
     ketetapan hukum tanpa merasa lelah dan
     memerlukan waktu yang panjang.
3.   Membantu seseorang dalam menyelesaikan
     berbagai masalah kehidupan yang semakin
     kompleks .
4.   Memudahkan para Ahli Fiqih dan Pemberi Fatwa
     dalam menetapkan hukum fiqih.
E. TUJUAN DAN FAIDAH
MEMPELAJARI QAWA‟ID
FIQHIYYAH (lanjutan…)
5.   Qawa‟id fiqhiyyah mudah dihafal dan tidak cepat
     lupa, karena dibentuk dengan ungkapan yang
     mencakup seluruh kandungannya. Ketika di hadapan
     seorang faqih disebutkan suatu masalah, ia langsung
     ingat kaidah fiqh seperti “ la dharar wa la dhirar”.
6.   Mempelajari dan mendalami Qawa‟id Fiqhiyyah dapat
     memupuk seorang peneliti kemampuan perbandingan
     madzhab dan dapat menjelaskan sebab-sebab
     perbedaan madzhab tersbut. Sebab pada umumnya
     qaidah-qaidah fiqh tersebtu disepakati oleh para Imam
     Mujtahid dan hanya sedikit saja yang diperselisihkan.
E. TUJUAN DAN FAIDAH
MEMPELAJARI QAWA‟ID
FIQHIYYAH (lanjutan…)
   Untuk menunjukkan tujuan dan faidah mempelajari
    qawa‟id fiqhiyyah berikut ini dikemukan pendapat 2
    orang ulama ttg qawa‟id fiqhiyyah :
     1. Imam al-Qarafi (w.680 H) : Kaidah ini sangat
        penting bagi fiqih dan esar sekali manfaatnya.
        Orang yang benar-benar mempelajarinya akan
        menjadi seorang faqih dan mendapatkan
        kemualiaan, serta akan mendapatkan rahasia-
        rahasia fiqih. Ilmu ini juga akan memberi
        kemudahan dalam berfatwa.
E. TUJUAN DAN FAIDAH
  MEMPELAJARI QAWA‟ID
  FIQHIYYAH (lanjutan…)
Siapa yang memutuskan suatu cabang permasalahan
dan hanya berpegang pada juz’iyyah, serta tidak
memperhatikan kulliyyah, dapat dipastikan cabang
tersebut akan bertentangan dengan cabang-cabang yang
lain. Hal ini akan menimbulkan kebingungan dan
menyulitkan dirinya. Siapa yang berhujjah dengan
hanya menghapal juz‟iyyah saja, maka hujjahnya itu
tidak akan ada batasnya, serta akan menghabiskan
umurnya tanpa dapat mencapai cita-cita.
Sebaliknya, siapa yang memperdalam fiqh melalui
qaidah-qaidah fiqh tidak harus menghapalkan berbagai
macam cabang fiqh, karena telah tercakup oleh
kulliyyah.
E. TUJUAN DAN FAIDAH
MEMPELAJARI QAWA‟ID
FIQHIYYAH (lanjutan…)
 Di samping itu, ia pun dapat menyelesaikan
 berbagai macam perpecahan dan pertentangan.
 Dengan demikian, ia dapat menjawab berbagai
 permasalahan yang rumit dalam waktu
 singkat, sehingga dadanya menjadi lapang karena
 dapat menemukan pemecahan
 berbagaipermasalahan yang diinginkan.
  2. Ibnu Nujaim (w. 970 H) : Qawa‟id Fiqhiyyah
     pada dasarnya adalah ushul fiqh, dengan
     qawaid fiqhiyyah itu seorang faqih meningkat
     kepada derajat ijtihad walaupun dalam fawa.
F. FAKTOR-FAKTOR YANG
MENDORONG PENYUSUNAN
QAWA‟ID FIQHIYYAH
   Dapat ditarik dari pernyataan Muhamma az-Zarqa‟
    (w. 1357 H) dlm kitabnya Syarh al-Qawa’id al-
    Fiqhiyyah : “Seandainya tdk ada qawa‟id
    (fiqhiyyah), tentu hukum-hukum fiqh akan menjadi
    (huku) furu‟ yg berserakan dan kadang-kadang
    lahiriyahnya tampak saling bertentangan; tanpa ada
    ushul (Kaidah) yg dapat mengokohkannya dlm
    pikiran, menampakkan „illat-‟illatnya, menentukan
    arah-arah pembentukannya, dan membentangkan
    jalan pengqiyasan dan penjenisan padanya”.
F. FAKTOR-FAKTOR YANG
MENDORONG PENYUSUNAN
QAWA‟ID FIQHIYYAH (lanjutan….)
•   Dapat ditarik juga dari pernyataan Imam al-
    Qarafi dlm kitabnya al-Furuq : “Siapa yang
    berhujjah dengan hanya menghapal juz‟iyyah
    saja, maka hujjahnya itu tidak akan ada
    batasnya, serta akan menghabiskan umurnya
    tanpa dapat mencapai cita-cita.
    Sebaliknya, siapa yang memperdalam fiqh
    melalui qaidah-qaidah fiqh tidak harus
    menghapalkan berbagai macam cabang
    fiqh, karena telah tercakup oleh kulliyyah”.
F. FAKTOR-FAKTOR YANG
MENDORONG PENYUSUNAN
QAWA‟ID FIQHIYYAH (lanjutan….)
   Berdasarkan kedua pernyataan di atas, dapat
    dikemukakan beberapa faktor pendorong
    penyusunan qawa‟id fiqhiyya sbb. :
     1. Makin bertambah banyaknya hukum

        fiqh, sehingga menyebabkan semakin
        sulitnya menghapal hukum-hukum fiqh
        tsb. Maka utk mempermudah menghapal
        dan mengidentifikasi hukum fiqh yg sangat
        banyak tsb, disusunlah qawa‟id fiqhiyyah.
F. FAKTOR-FAKTOR YANG
MENDORONG PENYUSUNAN
QAWA‟ID FIQHIYYAH (lanjutan….)
  2.   Para Ulama dalam menyusun qawa‟id fiqhiyyah
       terinspirasi oleh sebagian teks al-Qur‟an dan
       Hadits yg bersifat jawami’ al-kalim (singkat
       padat).
  3.   Secara praktis, pembentukan qawa‟id fiqhiyyah
       didorong oleh pengalaman para ulama di lapangan.
       Para ulama kadang-kadang dituntut utk
       memberikan jawaban yg cepat dan tepat thd
       pertanyaan yg diajukan kepada mereka. Dengan
       kecepatan dan ketajaman pemikiran, mereka
       memberikan jawaban yg singkat dan padat. Dlm
       perjalanan berikutnya, jawaban mereka disinyalir
       sebagai qawa‟id fiqhiyyah.
G. RUANG LINGKUP BAHASAN
QAWA‟ID FIQHIYYAH
   Ruang lingkup bahasan qawa‟id fiqhiyyah atau
    yang disebut dlm kitab-kitab qawa‟id fiqhiyah
    dg istilah jenis-jenis atau pembagian qawa‟id
    fiqhiyyah, menurut M. az-Zuhayliy dlm
    kitabnya al-Qawa‟id al-fiqhiyyah berdasarkan
    cakupannya yg luas thd cabang dan
    permasalahan fiqh, serta berdasarkan
    disepakati atau diperselisihkannya qawa‟id
    fiqhiyyah tsb oleh madzhab-madzhab atau
    satu madzhab tertentu, terbagi pada 4
    bagian, yaitu :
1.   Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Asasiyyah al-
     Kubra, yaitu qaidah2 fiqh yg bersifat dasar
     dan mencakup berbagai bab dan
     permasalahan fiqh. Qaidah2 ini disepakati
     oleh seluruh madzhab. Yg termasuk
     kategori ini adalah : (1) al-Umuru bi
     maqashidiha, (2) al-Yaqinu la Yuzalu bi
     asy-Syakk, (3) al-Masyaqqatu Tajlib at-
     Taysir, (4) adh-Dhararu Yuzal, (5) al-
     ’Adatu Muhakkamah.
2.   Al-Qawa‟id al-Kulliyyah : yaitu qawa‟id yg menyeluruh
     yg diterima oleh madzhab-madzhab, tetapi cabang-cabang
     dan cakupannya lebih sedikit dari pada qawa‟id yg lalu.
     Seperti kaidah : al-Kharaju bi adh-dhaman/Hak
     mendapatkan hasil disebabkan oleh keharusan
     menanggung kerugian, dan kaidah : adh-Dharar al-
     Asyaddu yudfa’ bi adh-Dharar al-Akhaf/Bahaya yg lebih
     besar dihadapi dg bahaya yg lebih ringan. Banyak kaidah-
     kaidah ini masuk pada kaidah yg 5, atau masuk di bawah
     kaidah yg lebih umum. Kebanyakannya disebutkan di
     Majalah al-Ahkam al-‟Adliyyah. Kadang-kadang di bawah
     kaidah-kaidah ini masuk juga kaidah-kaidah cabang, dan
     kebanyakannya disepakati oleh madzhab-madzhab.
3.   Al-Qawa’id al-Madzhabiyyah (Kaidah
     Madzhab), yaitu kaidah-kaidah yg menyeluruh
     pada sebagian madzhab, tdk pada madzhab yg lain.
     Kaidah ini terbagi pada 2 bagian : (1) kaidah yg
     ditetapkan dan disepakati pada satu madzhab, (2)
     kaidah yg diperselisihkan pada satu madzhab.
     Contoh, kaidah : ar-Rukhash la Tunathu bi al-
     Ma‟ashiy/Dispensasi tdk didaptkan karena
     maksiat. Kaidah ini masyhur di kalangan madzhab
     Syafi‟i dan Hanbali, tdk di kalangan mazhab
     Hanafi, dan dirinci di kalangan madzhab Maliki.
4.   Al-Qawa’id al-Mukhtalaf fiha fi al-Madzhab
     al-Wahid, yaitu kaidah yang diperselisihkan
     dlm sau madzhab. Kaidah-kaidah itu
     diaplikasikan dlm satu furu‟ (cabang) fiqh
     tidak pada furu‟ yg lain, dan diperselisihkan
     dlm furu‟ satu madzhab. Contoh, kaidah : Hal
     al-’Ibroh bi al-Hal aw bi al-Maal?/Apakah
     hukum yg dianggap itu pada waktu sekarang
     atau waktu nanti? Kaidah ini diperselisihkan
     pada madzhab Syafi‟i. oleh karena itu pada
     umumnya diawali dg kata :hal/ /apakah.
H. SUMBER QAWA‟ID
FIQHIYYAH
1.    Al-Qur‟an
    Ayat-ayat al-Qur‟an mengandung prinsip-
     prinsip umum, kaidah-kaidah menyeluruh, dan
     ketentuan-ketentuan syari‟at agar menjadi
     petunjuk bagi para ulama dalam membentuk
     kaidah-kaidah menyeluruh dalam fiqih Islam
     untuk mewujudkan tujuan syari‟at sesuai
     dengan kemaslahatan manusia, perkembangan
     zaman, dan perbedaan tempat.
H. SUMBER QAWA‟ID
FIQHIYYAH … (lanjutan)
   Prinsip-perinsip umum dalam al-Qur‟an mewujudkan 2
    sasaran :
      Menguatkan kesempurnaan dalam agama Islam yang
       disebutkan dalam ayat : (
                                /Pada hari ini telah
       Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
       Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-
       ridai Islam itu jadi agama bagimu. [QS. Al-
       Maidah:3])
      Menunjukkan keluwesan syariat Islam sesuai dengan
       segala perkembangan zaman dan tempat sehingga
       bisa diterapkan di mana saja dan kapan saja.
H. SUMBER QAWA‟ID
FIQHIYYAH … (lanjutan)
2.     as-Sunnah
    Rasulullah saw diberikan perkataan yang menyeluruh dan
     singkat (jawami‟ulkalim). Beliau berbicara dengan kata hikmah
     yang singkat setingkat pribahasa, kaidah yang menyeluruh, dan
     prinsip umum, sesuai dengan hukum cabang dan permasalahan
     yang banyak. Seperti sabda Rasulullah saw :
                           /Orang Muslim itu sesuai dengan
         perjanjiannya. (HR. Abu Daud dan Hakim)
                   /Agama itu nasihat.(HR. Muslim, Abu
         Daud, Tirmidzi, Nasa’I, dan Ahmad)
                       /Sesungguhnya setiap perbuatan
         tergantung niatnya. (Muttafaq ‘Alaih)
H. SUMBER QAWA‟ID
FIQHIYYAH … (lanjutan)
3.   al-Ijtihad
     Hal itu karena dengan menggali kaidah yang menyeluruh dari
     dalil-dalil syar‟I, kaidah-kaidah bahasa Arab, logika yang
     sehat, dan dari menghimpun hukum-hukum fiqih yang
     mempunyai kesamaan dalam „illat penggalian hukum. Jadi
     seorang Ahli Fiqih kembali kepada sumber-sumber ini
     , mencurahkan potensinya, mengumpulkan hukum-hukum
     yang bersamaan, masalah-masalah yang serupa, mengeluarkan
     kaidah yang menyeluruh yang mencakup seluruh atau
     mayoritas hukum di bawahnya. Seperti kaidah (              )
     yang diambil dari sekumpulan hadits tentang niat terutama
     hadits (                  )
I. BERDALIL DENGAN
QAWA‟ID FIQHIYYAH
   Bolehkah menjadikan kaidahfiqih sebagai dalil sebagai
    pengambilan hukum syara‟ ?
   Masalah ini adalah maslah yang penting, karena kaidah ini akan
    dijadikan landasan pengambilan banyak hukum. Pendapat yang
    kuat adalah tidak boleh menjadikan kaidah fiqih sebagai dalil
    pengambilan hukum syara‟. Hal itu disebabkan kaidah fiqih ada
    pengecualiannya dan sifatnya tidak menyeluruh, sedangkan kita
    dituntut untuk berdalil dengan dalil yang eksis dan bersifat
    menyeluruh.
   Namun sebagian kaidah fiqih mempunyai sifat lain, yaitu
    mencerminkan kaidah ushulilayah, atau hadits yang shahih.
    Maka dalam hal ini kita bersandar kepada siftanya, yaitu al-
    Qur‟an, hadits Nabi, atau kaidah ushuliyah. Maka dalam hal ini
    hakikatnya berdalil dengan ayat, hadits, atau kaidah ushul fiqih
    yang eksis, bukan dengan kaidah fiqih.
J. PERKEMBANGAN ILMU
QAWA‟ID FIQHIYYAH
1.     Fase Pertama : fase kemunculan dan berdirinya
       qaidah fiqh.
     •    Mulai zaman Rasulullah sampai akhir abad III
          H/                      IX M.
     •    Pada masa ini ada hadits, atsar sahabat dan
          perkataan tabi‟in yg bisa dikategorikan qaidah
          fiqh karean mencakup berbagai masalah furu‟.
     •    Contoh Hadits :
         o                   artinya : orang yang
             menikmati hasil sesuatu bertanggung jawab
             atas resikonya.
o   Contoh lain :                , artinya : tidak
    boleh membahayakan dan tidak boleh
    dibahayakan.
o   Contoh lain :
    , bukti bagi yang mendakwa (penggugat) dan
    sumpah bagi yang mengingkari.
o   Contoh lain :                    , artinya :
    sesuatu yang banyaknya dapat
    memabukkan, maka yang sedikitnya juga haram.
•   Contoh Atsar Sahabat :
     o Perkataan Umar bin Khatab :
                          , artinya : putusnya hak
     bergantung pada syarat yang diperbuat.
     o                       , artinya : orang yang
     menanggung suatu harta benda, maka ia memperoleh
     keuntungannya .
   Contoh Perkataan Tabi‟in:
    o Perkataan Qadhi Syuraih :
                 , artinya : sesuatu yang disyaratkan atas
    dirinya secara sukarela tanpa terpaksa, maka sesuatu
    itu mengikat atas dirinya.
   Dalam perkembangan selanjutnya, qaidah fiqh semakin
    bertambah dan berkembang, akan tetapi qaidah-qaidah fiqh
    tersebut berserakan dalam berbagai kitab fiqh, seperti :
      Dalam kitab al-Kharaj karya Abu Yusuf (w 182 H/798 M
                                                  , artinya :
        hukuman ta‟zir diserahkan pada imam (pemimpin) sesuai
        dengan besar kecilnya pelanggaran.
      Dalam kitab al-Umm, Imam Syafi‟I mengatakan :
                                           , kedudukan pemimpin
        atas rakyat sama dengan kedudukan wali atas anak yatim.
   Dalam kitab syarh adab al-Qadhi, ash-
    Shadr asy-Syahid menyatakan :
              , pengakuan itu merupakan
    hujjah yang efektif untuk diri yang
    melakukannya.
2.     Fase Kedua : Masa Perkembangan dan
       Pembukuan Qaidah Fiqh
     •   Dimulai pada abad 4 H/10 M – 13 H/19 M.
     •   Pada masa ini, kitab-kitab fiqh sangat
         banyak sekali, para ulama tidak melakukan
         ijtihad mutlak, tetapi menulis ushul fiqh
         dan merumuskan qaidah-qaidah fiqh.
     •   Penulisan terangkum dalam tema-tema
         semisal al-Qawaid wa adh-Dhawabith, al-
         Furuq, al-Asyabah wa an-Nazhair.
   Penulisan dimulai dengan pernyataan umum
    (qaidah-qaidah) kemudian diikuti dengan
    penulisan furu‟ spt dlm kitab al-Asyabah wa
    an-Nazhair oleh Jalaluddin as-Sayuthi.
   Penulisan qaidah fiqh pada fase ini dimulai
    oleh al-Karakhi dan ad-Dabusi dari kalangan
    ulama Hanafiyah.
   Penulisannya dg cara mengutip dan
    menghimpun qaidah-qaidah yang terdapat
    pada kitab-kitab fiqh masing-masing madzhab.
   Juga dg cara mencantumkan qaidah-qaidah fiqh pada
    kitab fiqh ketika mencari „illat dan mentarjih suatu
    pendapat. Contoh :
      Ketika al-Juwaini (w 478 H/1085 M) menjelaskan
       bahwa pelaksanaan shalat bergantung pada
       kemampuan seseorang, ia mencantumkan qaidah
                                      , artinya : sesuatu yg
       bisa dilakukan tak bisa gugur karena ada yg tidak
       bisa dilakukan.
       Kemudian qaidah itu berbunyi :
        , artinya : sesuatu yg mudah dilakukan tidak gugur
       dengan adanya yg sulit dilakukan.
 Imam Nawawi (w 676 H/1191 M) dalam
  kitabnya al-Majmu‟ sering menghubungkan
  ketetapan hukum berbagai masalah dg
  qaidah :                  , artinya : suatu
  keyakinan tidak hilang dengan adanya
  keraguan.
 Imam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya
  Majmu‟ Fatawa melakukan hal yg sama dg
  menggunakan qaidah :
        , artinya : hukum yg ditetapkan
  berdasarkan illat bisa hilang (berubah) dg
  hilangnya illat.
   Abad 8 H adalah masa keemasan dari pembukuan
    qaidah-qaidah fiqh dengan banyaknya penulisan kitab-
    kitab qaidah terutama di kalangan ulama Syafi‟iyah.
   Abad 9 H adalah masa penyempurnaan secara
    sistimatis, spt lahirnya kitab al-Asyabah wa an-Nazhair
    oleh Ibnu Mulaqqin (w 804 H/1402 M), al-Qawaid oleh
    Abu Bakr al-Hishal (w 829 H/1425 M ).
   Abad 10 H adalah masa puncak keemasan pembukuan
    qaidah fiqh dengan lahirnya kitab al-Asyabah wa an-
    Nazhair oleh Jalaluddin as-Sayuthi.
3.     Fase Ketiga : Fase Kemajuan dan Sistematisasi Qaidah
       Fiqh
     •    Dimulai dg kelahiran Majallah al-Ahkam al-
          Adliyyah (Kompilasi Hukum Islam di masa Turki
          Usmani).
     •    Kompilasi ini hasil ulama Turki di zaman Sultan
          „Abd al-‟Aziz Khan al-Usmani, yg ditetapkan pada
          tgl 26 Sya‟ban 1292 H/28 Sept 1875 M.
     •    Merupakan ensiklopedi Fiqh Islam dlm bidang
          mu‟amalah dan hukum acara peradilan yg terdiri
          atas 1851 pasal.
•   Dalam majalah tsb tidak semua pasal berupa
    qaidah fiqih, tetapi terdapat pula qaidah
    ushul. Di antara qaidah fiqh adalah :
     -                      , artinya : asal dalam
       suatu perkataan adalah makna hakikat.
     -                              , artinya : tidak
       dibenarkan berijtihad ketika ada nash
       (qath‟i).
E. KITAB-KITAB STANDAR
QAIDAH FIQH PADA MADZHAB
FIQH
   Madzhab Hanafi :
     Ushul al-Jami‟ al-Kabir, Malik al-Mu‟azzham
      „Isa al-Ayubi (623 H)
     Al-Asyabah wa an-Nazhair, Ibnu Nujaim (970 H)

     Al-Faraid al-Bahiyyah fi al-Qawaid wa al-
      Fawaid al-Fiqhiyah, Hamzah al-Husaini (1305 H)
•   Madzhab Maliki :
     Al-Furuq, Abu Abbas al-Qarafi (758)

     Al-Qawaid, Abdullah al-Muqaara (758 H)
     Al-Kulliyah fi al-Fiqh, Ibnu Gazi (901 H)
   Madzhab asy-Syafi‟i :
     Al-Majmu‟ al-Mudzahhab fi Qawaid al-Madzhab, al-
      ‟Alai (761 H)
     Al-Mantsur fi al-Qawaid, Imam Zarkasyi (794 H)
     Al-Asybah wa an-Nazhair, Imam as-Sayuthi (911 H)

   Madzhab Hanbali :
     Al-Qawaid an-Nuraniyah al-Fiqhiyah, Ibnu Taimiyah
      (728 H)
     Al-Qawaid, Ibnu Rajab (795 H)

     Al-Qawaid wa al-Ushul al-Jami‟ah, Abdurrahman as-
      Sa‟diy (1378 H)
Semoga bermanfaat!!!




   asnin_syafiuddin@yahoo.co.id
http://abufathirabbani.blogspot.com

01 02 pendahuluan

  • 2.
    PENDAHULUAN QOWA‟ID FIQHIYYAH Oleh : H. Asnin Syafiuddin, Lc. MA
  • 3.
    A. DEFINISI QAWA‟ID FIQHIYYAH  Etimologi : Qawa‟id ( ) bentuk jama‟ dari qa‟idah ( ) yang berarti al-asas ( ) dasar, yaitu yang menjadi dasar berdirinya sesuatu. Atau : dasar dan fondasi sesuatu.  Terminologi : 1. menurut Jurjani dalam kitab at-Ta‟rifat : / Ketentuan universal yang bersesuaian dengan bagian-bagiannya.
  • 4.
    2. Menurut Taftazani dalam kitab at-Talwih „ala at- Tawdhih: /Hukum yang bersifat universal yang bersesuaian dengan bagian- bagiannya, dimana hukum-hukumnya diketahui darinya. 3. Menurut Ibn as-Subkiy dlm kitab al-Asybah wa an- Nazhair : /Perkara yang bersifat universal (kulli) yang banyak bagian-bagiannya bersesuaian dengannya, dimana hukum- hukum bagian-bagian tersebut dipahami darinya. 4. Menurut al-Hamawiy dalam kitab Ghamzu „Uyun al- Bshair : /Hukum yang bersifat mayoritas –bukan universal- yang bersesuaian dengan kebanyakan bagian-bagiannya agar hukum-hukumnya diketahui darinya.
  • 5.
    Tiga definisi pertama hanya berbeda redaksi saja, tapi pada hakikatnya sama. Tiga definisi itu didasarkan pada pemahaman bahwa qa‟idah bersifat universal. Sedangkan definisi keempat didasarkan pada pemahaman bahwa qa‟idah bersifat mayoritas,bukan menyeluruh; karena pendukung pemahaman ini berpendapat bahwa qa‟idah itu tdk bisa diterapkan pada seluruh bagiannya, ada saja yang dikeluarkan atau dikecualikan. Menurut pendukung pemahaman yang pertama berpendapat bahwa pada dasarnya qa‟idah itu mencakup seluruh bagiannya. Adanya pengecualian tidak berpengaruh, karena setiap qa‟idah ada pengecualiannya.
  • 6.
    Jadi pengertian Qawa‟id Fiqhiyyah (gabungan Qawa‟id dengan Fiqhiyyah yang dinisbahkan pada fiqh) adalah : /Hukum fiqh yang bersifat universal yang bersesuaian dengan bagian- bagiannya, dimana hukum bagian-bagian tersebut dapat diketahui darinya.
  • 7.
    B. PERBEDAAN ANTARA QAWA‟IDFIQHIYYAH DENGAN DHAWABITH FIQHIYYAH  Pada dasarnya qaidah semakna dengan dhabith (bentuk jama‟nya : dhawabith), namun pada prakteknya para ulama membedakan antara qawa‟id fiqhiyyah dengan dhwabith fiqhiyyah.  Qawa‟id Fiqhiyyah mencakup berbagai cabang dan masalah dalam bab-bab fiqh yang berbeda- beda, seperti qaidah ( ) yang mencakup bab ibadah, jinayat, jihad, sumpah, dsb.
  • 8.
    Sementara dhawabith fiqhiyyah mencakup berbagai cabang dan masalah dalam satu bab fiqh saja. Contoh : ( /seorang wanita tidak boleh melakukan shaum sunnah kecuali seizin suaminya atau suaminya dalam perjalanan )  As-Sayuthi berkata : “...Karena sesungguhnya qaidah menghimpun cabang-cabang dari berbagai bab yang berbeda-beda, sedangkan dhabith menghimpun cabang-cabang dari satu bab saja”.
  • 9.
    C. PERBEDAAN ANTARAQAWA‟ID FIQHIYYAH DENGAN QAWA‟ID USHULIYYAH 1. Pada umumnya Qawa‟id Ushuliyyah lahir dari lafaz, kaidah, dan teks bahasa Arab. Sementara qawa‟id fiqh lahir dari hukum-hukum syara‟ dan masalah-masalah fiqih. 2. Qawa‟id ushuliyyah khusus bagi seorang mujtahid. Ia menggunakannya untuk istinbath (menggali) hukum fiqih dan mengetahui hukum peristiwa-peristiwa dan masalah-masalah baru dari sumber-sumber hukumnya (dalil). Sementara qawa‟id fiqhiyyah khusus digunakan oleh seorang faqih (ahli fiqih), mufti (yang memberi fatwa), dan yang belajar; untuk mengetahui hukum fiqih dan sebagai ganti dari kembali pada bab-bab fiqih yang berbeda-beda.
  • 10.
    3. Qawa‟id ushuliyyah bersifat umum dan menyeluruh yang mencakup cabang-cabangnya. Sedangkan qawaid fiqhiyyah walalupun bersifat umum dan menyeluruh, namun banyak pengecualiaannya. Pengecualian ini kadang- kadang membentuk kaidah tersendiri atau kaidah cabang. Oleh sebab itu banyak para ulama yang memandang bahwa qawaid fiqhiyyah adalah qaidah yang bersifat aghlabiyyah (mayoritas), bukan qaidah yang bersifat kulliyyah (universal)
  • 11.
    4. Qawa‟id ushuliyyah bersifat konsisten, tidak berubah-ubah. Sedangkan qawa‟id fiqhiyyah tidak bersifat konsisten, tetapi kadang-kadang berubah-ubah disebabkan perubahan hukum yang didasarkan kepada „urf (adat), sadd adz- dzari’ah ( ), kemaslahatan, dsb. 5. Qawa‟id ushuliyyah mendahului hukum- hukum fiqih. Sedangkan qawa‟id fiqhiyyah muncul setelah adanya fiqih dan hukum- hukumnya.
  • 12.
    D. HUBUNGAN ANTARAQAWA‟ID FIQHIYYAH DENGAN FIQH, USHUL FIQH, DAN QAWA‟ID USHULIYYAH 1. Ketiga ilmu tersebut sangat berkaitan erat tidak dipisahkan satu dengan yang lainnya. 2. Ketiga ilmu tsb sangat terkait dg perkembangan fiqih, karena pada dasarnya fiqh itu sendiri yang menjadi pokok pembicaraan qawa‟id fiqhiyyah dan ushul fiqh. 3. Fiqh adalah ilmu tentang hukum syara‟ tentang perbuatan manusia (amaliah) yang diambil dari dalil-dalilnya yang terperinci.
  • 13.
    D. HUBUNGAN ANTARAQAWA‟ID FIQHIYYAH DENGAN FIQH, USHUL FIQH, DAN QAWA‟ID USHULIYYAH (lanjutan…) 4. Ushul Fiqh adalah sebuah ilmu yg mengkaji dalil atau sumber hukum dan metode penggalian (istinbath) hukum dari sumbernya. Hukum yg digali dari dalil atau sumber hukum itulah dinamakan fiqh. 5. Hukum yang dihasilkan dari istinbath (penggalian) dari sumbernya (dalil) itu sangat banyak sekali yang sulit untuk dihafal satu persatu. Maka utk memudahkannya, hukum-hukum yang berbeda-beda yang mempunyai kesamaan dihimpun dalam suatu ketentuan umum atau kaidah. Iketentuan umum atau kaidah itulah yang kemudian dinamakan qawa‟id fiqhiyyah.
  • 14.
    D. HUBUNGAN ANTARAQAWA‟ID FIQHIYYAH DENGAN FIQH, USHUL FIQH, DAN QAWA‟ID USHULIYYAH (lanjutan…) Nash al-Qur‟an dan as-Sunnah Ushul Fiqh (Qawa‟id Ushuliyyah) Fiqh (Hukum syara‟/Hukum Islam) Qawa‟id Fiqhiyyah
  • 15.
    E. TUJUAN DANFAIDAH MEMPELAJARI QAWA‟ID FIQHIYYAH 1. Dapat mendalami fiqh dan mampu menganalisa berbagai masalah. 2. Membantu penghapalan dan penetapan berbagai masalah yang berdekatan, dan mampu mencapai ketetapan hukum tanpa merasa lelah dan memerlukan waktu yang panjang. 3. Membantu seseorang dalam menyelesaikan berbagai masalah kehidupan yang semakin kompleks . 4. Memudahkan para Ahli Fiqih dan Pemberi Fatwa dalam menetapkan hukum fiqih.
  • 16.
    E. TUJUAN DANFAIDAH MEMPELAJARI QAWA‟ID FIQHIYYAH (lanjutan…) 5. Qawa‟id fiqhiyyah mudah dihafal dan tidak cepat lupa, karena dibentuk dengan ungkapan yang mencakup seluruh kandungannya. Ketika di hadapan seorang faqih disebutkan suatu masalah, ia langsung ingat kaidah fiqh seperti “ la dharar wa la dhirar”. 6. Mempelajari dan mendalami Qawa‟id Fiqhiyyah dapat memupuk seorang peneliti kemampuan perbandingan madzhab dan dapat menjelaskan sebab-sebab perbedaan madzhab tersbut. Sebab pada umumnya qaidah-qaidah fiqh tersebtu disepakati oleh para Imam Mujtahid dan hanya sedikit saja yang diperselisihkan.
  • 17.
    E. TUJUAN DANFAIDAH MEMPELAJARI QAWA‟ID FIQHIYYAH (lanjutan…)  Untuk menunjukkan tujuan dan faidah mempelajari qawa‟id fiqhiyyah berikut ini dikemukan pendapat 2 orang ulama ttg qawa‟id fiqhiyyah : 1. Imam al-Qarafi (w.680 H) : Kaidah ini sangat penting bagi fiqih dan esar sekali manfaatnya. Orang yang benar-benar mempelajarinya akan menjadi seorang faqih dan mendapatkan kemualiaan, serta akan mendapatkan rahasia- rahasia fiqih. Ilmu ini juga akan memberi kemudahan dalam berfatwa.
  • 18.
    E. TUJUAN DANFAIDAH MEMPELAJARI QAWA‟ID FIQHIYYAH (lanjutan…) Siapa yang memutuskan suatu cabang permasalahan dan hanya berpegang pada juz’iyyah, serta tidak memperhatikan kulliyyah, dapat dipastikan cabang tersebut akan bertentangan dengan cabang-cabang yang lain. Hal ini akan menimbulkan kebingungan dan menyulitkan dirinya. Siapa yang berhujjah dengan hanya menghapal juz‟iyyah saja, maka hujjahnya itu tidak akan ada batasnya, serta akan menghabiskan umurnya tanpa dapat mencapai cita-cita. Sebaliknya, siapa yang memperdalam fiqh melalui qaidah-qaidah fiqh tidak harus menghapalkan berbagai macam cabang fiqh, karena telah tercakup oleh kulliyyah.
  • 19.
    E. TUJUAN DANFAIDAH MEMPELAJARI QAWA‟ID FIQHIYYAH (lanjutan…) Di samping itu, ia pun dapat menyelesaikan berbagai macam perpecahan dan pertentangan. Dengan demikian, ia dapat menjawab berbagai permasalahan yang rumit dalam waktu singkat, sehingga dadanya menjadi lapang karena dapat menemukan pemecahan berbagaipermasalahan yang diinginkan. 2. Ibnu Nujaim (w. 970 H) : Qawa‟id Fiqhiyyah pada dasarnya adalah ushul fiqh, dengan qawaid fiqhiyyah itu seorang faqih meningkat kepada derajat ijtihad walaupun dalam fawa.
  • 20.
    F. FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONGPENYUSUNAN QAWA‟ID FIQHIYYAH  Dapat ditarik dari pernyataan Muhamma az-Zarqa‟ (w. 1357 H) dlm kitabnya Syarh al-Qawa’id al- Fiqhiyyah : “Seandainya tdk ada qawa‟id (fiqhiyyah), tentu hukum-hukum fiqh akan menjadi (huku) furu‟ yg berserakan dan kadang-kadang lahiriyahnya tampak saling bertentangan; tanpa ada ushul (Kaidah) yg dapat mengokohkannya dlm pikiran, menampakkan „illat-‟illatnya, menentukan arah-arah pembentukannya, dan membentangkan jalan pengqiyasan dan penjenisan padanya”.
  • 21.
    F. FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONGPENYUSUNAN QAWA‟ID FIQHIYYAH (lanjutan….) • Dapat ditarik juga dari pernyataan Imam al- Qarafi dlm kitabnya al-Furuq : “Siapa yang berhujjah dengan hanya menghapal juz‟iyyah saja, maka hujjahnya itu tidak akan ada batasnya, serta akan menghabiskan umurnya tanpa dapat mencapai cita-cita. Sebaliknya, siapa yang memperdalam fiqh melalui qaidah-qaidah fiqh tidak harus menghapalkan berbagai macam cabang fiqh, karena telah tercakup oleh kulliyyah”.
  • 22.
    F. FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONGPENYUSUNAN QAWA‟ID FIQHIYYAH (lanjutan….)  Berdasarkan kedua pernyataan di atas, dapat dikemukakan beberapa faktor pendorong penyusunan qawa‟id fiqhiyya sbb. : 1. Makin bertambah banyaknya hukum fiqh, sehingga menyebabkan semakin sulitnya menghapal hukum-hukum fiqh tsb. Maka utk mempermudah menghapal dan mengidentifikasi hukum fiqh yg sangat banyak tsb, disusunlah qawa‟id fiqhiyyah.
  • 23.
    F. FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONGPENYUSUNAN QAWA‟ID FIQHIYYAH (lanjutan….) 2. Para Ulama dalam menyusun qawa‟id fiqhiyyah terinspirasi oleh sebagian teks al-Qur‟an dan Hadits yg bersifat jawami’ al-kalim (singkat padat). 3. Secara praktis, pembentukan qawa‟id fiqhiyyah didorong oleh pengalaman para ulama di lapangan. Para ulama kadang-kadang dituntut utk memberikan jawaban yg cepat dan tepat thd pertanyaan yg diajukan kepada mereka. Dengan kecepatan dan ketajaman pemikiran, mereka memberikan jawaban yg singkat dan padat. Dlm perjalanan berikutnya, jawaban mereka disinyalir sebagai qawa‟id fiqhiyyah.
  • 24.
    G. RUANG LINGKUPBAHASAN QAWA‟ID FIQHIYYAH  Ruang lingkup bahasan qawa‟id fiqhiyyah atau yang disebut dlm kitab-kitab qawa‟id fiqhiyah dg istilah jenis-jenis atau pembagian qawa‟id fiqhiyyah, menurut M. az-Zuhayliy dlm kitabnya al-Qawa‟id al-fiqhiyyah berdasarkan cakupannya yg luas thd cabang dan permasalahan fiqh, serta berdasarkan disepakati atau diperselisihkannya qawa‟id fiqhiyyah tsb oleh madzhab-madzhab atau satu madzhab tertentu, terbagi pada 4 bagian, yaitu :
  • 25.
    1. Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Asasiyyah al- Kubra, yaitu qaidah2 fiqh yg bersifat dasar dan mencakup berbagai bab dan permasalahan fiqh. Qaidah2 ini disepakati oleh seluruh madzhab. Yg termasuk kategori ini adalah : (1) al-Umuru bi maqashidiha, (2) al-Yaqinu la Yuzalu bi asy-Syakk, (3) al-Masyaqqatu Tajlib at- Taysir, (4) adh-Dhararu Yuzal, (5) al- ’Adatu Muhakkamah.
  • 26.
    2. Al-Qawa‟id al-Kulliyyah : yaitu qawa‟id yg menyeluruh yg diterima oleh madzhab-madzhab, tetapi cabang-cabang dan cakupannya lebih sedikit dari pada qawa‟id yg lalu. Seperti kaidah : al-Kharaju bi adh-dhaman/Hak mendapatkan hasil disebabkan oleh keharusan menanggung kerugian, dan kaidah : adh-Dharar al- Asyaddu yudfa’ bi adh-Dharar al-Akhaf/Bahaya yg lebih besar dihadapi dg bahaya yg lebih ringan. Banyak kaidah- kaidah ini masuk pada kaidah yg 5, atau masuk di bawah kaidah yg lebih umum. Kebanyakannya disebutkan di Majalah al-Ahkam al-‟Adliyyah. Kadang-kadang di bawah kaidah-kaidah ini masuk juga kaidah-kaidah cabang, dan kebanyakannya disepakati oleh madzhab-madzhab.
  • 27.
    3. Al-Qawa’id al-Madzhabiyyah (Kaidah Madzhab), yaitu kaidah-kaidah yg menyeluruh pada sebagian madzhab, tdk pada madzhab yg lain. Kaidah ini terbagi pada 2 bagian : (1) kaidah yg ditetapkan dan disepakati pada satu madzhab, (2) kaidah yg diperselisihkan pada satu madzhab. Contoh, kaidah : ar-Rukhash la Tunathu bi al- Ma‟ashiy/Dispensasi tdk didaptkan karena maksiat. Kaidah ini masyhur di kalangan madzhab Syafi‟i dan Hanbali, tdk di kalangan mazhab Hanafi, dan dirinci di kalangan madzhab Maliki.
  • 28.
    4. Al-Qawa’id al-Mukhtalaf fiha fi al-Madzhab al-Wahid, yaitu kaidah yang diperselisihkan dlm sau madzhab. Kaidah-kaidah itu diaplikasikan dlm satu furu‟ (cabang) fiqh tidak pada furu‟ yg lain, dan diperselisihkan dlm furu‟ satu madzhab. Contoh, kaidah : Hal al-’Ibroh bi al-Hal aw bi al-Maal?/Apakah hukum yg dianggap itu pada waktu sekarang atau waktu nanti? Kaidah ini diperselisihkan pada madzhab Syafi‟i. oleh karena itu pada umumnya diawali dg kata :hal/ /apakah.
  • 29.
    H. SUMBER QAWA‟ID FIQHIYYAH 1. Al-Qur‟an  Ayat-ayat al-Qur‟an mengandung prinsip- prinsip umum, kaidah-kaidah menyeluruh, dan ketentuan-ketentuan syari‟at agar menjadi petunjuk bagi para ulama dalam membentuk kaidah-kaidah menyeluruh dalam fiqih Islam untuk mewujudkan tujuan syari‟at sesuai dengan kemaslahatan manusia, perkembangan zaman, dan perbedaan tempat.
  • 30.
    H. SUMBER QAWA‟ID FIQHIYYAH… (lanjutan)  Prinsip-perinsip umum dalam al-Qur‟an mewujudkan 2 sasaran :  Menguatkan kesempurnaan dalam agama Islam yang disebutkan dalam ayat : ( /Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku- ridai Islam itu jadi agama bagimu. [QS. Al- Maidah:3])  Menunjukkan keluwesan syariat Islam sesuai dengan segala perkembangan zaman dan tempat sehingga bisa diterapkan di mana saja dan kapan saja.
  • 31.
    H. SUMBER QAWA‟ID FIQHIYYAH… (lanjutan) 2. as-Sunnah  Rasulullah saw diberikan perkataan yang menyeluruh dan singkat (jawami‟ulkalim). Beliau berbicara dengan kata hikmah yang singkat setingkat pribahasa, kaidah yang menyeluruh, dan prinsip umum, sesuai dengan hukum cabang dan permasalahan yang banyak. Seperti sabda Rasulullah saw :  /Orang Muslim itu sesuai dengan perjanjiannya. (HR. Abu Daud dan Hakim)  /Agama itu nasihat.(HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I, dan Ahmad)  /Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. (Muttafaq ‘Alaih)
  • 32.
    H. SUMBER QAWA‟ID FIQHIYYAH… (lanjutan) 3. al-Ijtihad Hal itu karena dengan menggali kaidah yang menyeluruh dari dalil-dalil syar‟I, kaidah-kaidah bahasa Arab, logika yang sehat, dan dari menghimpun hukum-hukum fiqih yang mempunyai kesamaan dalam „illat penggalian hukum. Jadi seorang Ahli Fiqih kembali kepada sumber-sumber ini , mencurahkan potensinya, mengumpulkan hukum-hukum yang bersamaan, masalah-masalah yang serupa, mengeluarkan kaidah yang menyeluruh yang mencakup seluruh atau mayoritas hukum di bawahnya. Seperti kaidah ( ) yang diambil dari sekumpulan hadits tentang niat terutama hadits ( )
  • 33.
    I. BERDALIL DENGAN QAWA‟IDFIQHIYYAH  Bolehkah menjadikan kaidahfiqih sebagai dalil sebagai pengambilan hukum syara‟ ?  Masalah ini adalah maslah yang penting, karena kaidah ini akan dijadikan landasan pengambilan banyak hukum. Pendapat yang kuat adalah tidak boleh menjadikan kaidah fiqih sebagai dalil pengambilan hukum syara‟. Hal itu disebabkan kaidah fiqih ada pengecualiannya dan sifatnya tidak menyeluruh, sedangkan kita dituntut untuk berdalil dengan dalil yang eksis dan bersifat menyeluruh.  Namun sebagian kaidah fiqih mempunyai sifat lain, yaitu mencerminkan kaidah ushulilayah, atau hadits yang shahih. Maka dalam hal ini kita bersandar kepada siftanya, yaitu al- Qur‟an, hadits Nabi, atau kaidah ushuliyah. Maka dalam hal ini hakikatnya berdalil dengan ayat, hadits, atau kaidah ushul fiqih yang eksis, bukan dengan kaidah fiqih.
  • 34.
    J. PERKEMBANGAN ILMU QAWA‟IDFIQHIYYAH 1. Fase Pertama : fase kemunculan dan berdirinya qaidah fiqh. • Mulai zaman Rasulullah sampai akhir abad III H/ IX M. • Pada masa ini ada hadits, atsar sahabat dan perkataan tabi‟in yg bisa dikategorikan qaidah fiqh karean mencakup berbagai masalah furu‟. • Contoh Hadits : o artinya : orang yang menikmati hasil sesuatu bertanggung jawab atas resikonya.
  • 35.
    o Contoh lain : , artinya : tidak boleh membahayakan dan tidak boleh dibahayakan. o Contoh lain : , bukti bagi yang mendakwa (penggugat) dan sumpah bagi yang mengingkari. o Contoh lain : , artinya : sesuatu yang banyaknya dapat memabukkan, maka yang sedikitnya juga haram.
  • 36.
    Contoh Atsar Sahabat : o Perkataan Umar bin Khatab : , artinya : putusnya hak bergantung pada syarat yang diperbuat. o , artinya : orang yang menanggung suatu harta benda, maka ia memperoleh keuntungannya .  Contoh Perkataan Tabi‟in: o Perkataan Qadhi Syuraih : , artinya : sesuatu yang disyaratkan atas dirinya secara sukarela tanpa terpaksa, maka sesuatu itu mengikat atas dirinya.
  • 37.
    Dalam perkembangan selanjutnya, qaidah fiqh semakin bertambah dan berkembang, akan tetapi qaidah-qaidah fiqh tersebut berserakan dalam berbagai kitab fiqh, seperti :  Dalam kitab al-Kharaj karya Abu Yusuf (w 182 H/798 M , artinya : hukuman ta‟zir diserahkan pada imam (pemimpin) sesuai dengan besar kecilnya pelanggaran.  Dalam kitab al-Umm, Imam Syafi‟I mengatakan : , kedudukan pemimpin atas rakyat sama dengan kedudukan wali atas anak yatim.
  • 38.
    Dalam kitab syarh adab al-Qadhi, ash- Shadr asy-Syahid menyatakan : , pengakuan itu merupakan hujjah yang efektif untuk diri yang melakukannya.
  • 39.
    2. Fase Kedua : Masa Perkembangan dan Pembukuan Qaidah Fiqh • Dimulai pada abad 4 H/10 M – 13 H/19 M. • Pada masa ini, kitab-kitab fiqh sangat banyak sekali, para ulama tidak melakukan ijtihad mutlak, tetapi menulis ushul fiqh dan merumuskan qaidah-qaidah fiqh. • Penulisan terangkum dalam tema-tema semisal al-Qawaid wa adh-Dhawabith, al- Furuq, al-Asyabah wa an-Nazhair.
  • 40.
    Penulisan dimulai dengan pernyataan umum (qaidah-qaidah) kemudian diikuti dengan penulisan furu‟ spt dlm kitab al-Asyabah wa an-Nazhair oleh Jalaluddin as-Sayuthi.  Penulisan qaidah fiqh pada fase ini dimulai oleh al-Karakhi dan ad-Dabusi dari kalangan ulama Hanafiyah.  Penulisannya dg cara mengutip dan menghimpun qaidah-qaidah yang terdapat pada kitab-kitab fiqh masing-masing madzhab.
  • 41.
    Juga dg cara mencantumkan qaidah-qaidah fiqh pada kitab fiqh ketika mencari „illat dan mentarjih suatu pendapat. Contoh :  Ketika al-Juwaini (w 478 H/1085 M) menjelaskan bahwa pelaksanaan shalat bergantung pada kemampuan seseorang, ia mencantumkan qaidah , artinya : sesuatu yg bisa dilakukan tak bisa gugur karena ada yg tidak bisa dilakukan. Kemudian qaidah itu berbunyi : , artinya : sesuatu yg mudah dilakukan tidak gugur dengan adanya yg sulit dilakukan.
  • 42.
     Imam Nawawi(w 676 H/1191 M) dalam kitabnya al-Majmu‟ sering menghubungkan ketetapan hukum berbagai masalah dg qaidah : , artinya : suatu keyakinan tidak hilang dengan adanya keraguan.  Imam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu‟ Fatawa melakukan hal yg sama dg menggunakan qaidah : , artinya : hukum yg ditetapkan berdasarkan illat bisa hilang (berubah) dg hilangnya illat.
  • 43.
    Abad 8 H adalah masa keemasan dari pembukuan qaidah-qaidah fiqh dengan banyaknya penulisan kitab- kitab qaidah terutama di kalangan ulama Syafi‟iyah.  Abad 9 H adalah masa penyempurnaan secara sistimatis, spt lahirnya kitab al-Asyabah wa an-Nazhair oleh Ibnu Mulaqqin (w 804 H/1402 M), al-Qawaid oleh Abu Bakr al-Hishal (w 829 H/1425 M ).  Abad 10 H adalah masa puncak keemasan pembukuan qaidah fiqh dengan lahirnya kitab al-Asyabah wa an- Nazhair oleh Jalaluddin as-Sayuthi.
  • 44.
    3. Fase Ketiga : Fase Kemajuan dan Sistematisasi Qaidah Fiqh • Dimulai dg kelahiran Majallah al-Ahkam al- Adliyyah (Kompilasi Hukum Islam di masa Turki Usmani). • Kompilasi ini hasil ulama Turki di zaman Sultan „Abd al-‟Aziz Khan al-Usmani, yg ditetapkan pada tgl 26 Sya‟ban 1292 H/28 Sept 1875 M. • Merupakan ensiklopedi Fiqh Islam dlm bidang mu‟amalah dan hukum acara peradilan yg terdiri atas 1851 pasal.
  • 45.
    Dalam majalah tsb tidak semua pasal berupa qaidah fiqih, tetapi terdapat pula qaidah ushul. Di antara qaidah fiqh adalah : - , artinya : asal dalam suatu perkataan adalah makna hakikat. - , artinya : tidak dibenarkan berijtihad ketika ada nash (qath‟i).
  • 46.
    E. KITAB-KITAB STANDAR QAIDAHFIQH PADA MADZHAB FIQH  Madzhab Hanafi :  Ushul al-Jami‟ al-Kabir, Malik al-Mu‟azzham „Isa al-Ayubi (623 H)  Al-Asyabah wa an-Nazhair, Ibnu Nujaim (970 H)  Al-Faraid al-Bahiyyah fi al-Qawaid wa al- Fawaid al-Fiqhiyah, Hamzah al-Husaini (1305 H) • Madzhab Maliki :  Al-Furuq, Abu Abbas al-Qarafi (758)  Al-Qawaid, Abdullah al-Muqaara (758 H)  Al-Kulliyah fi al-Fiqh, Ibnu Gazi (901 H)
  • 47.
    Madzhab asy-Syafi‟i :  Al-Majmu‟ al-Mudzahhab fi Qawaid al-Madzhab, al- ‟Alai (761 H)  Al-Mantsur fi al-Qawaid, Imam Zarkasyi (794 H)  Al-Asybah wa an-Nazhair, Imam as-Sayuthi (911 H)  Madzhab Hanbali :  Al-Qawaid an-Nuraniyah al-Fiqhiyah, Ibnu Taimiyah (728 H)  Al-Qawaid, Ibnu Rajab (795 H)  Al-Qawaid wa al-Ushul al-Jami‟ah, Abdurrahman as- Sa‟diy (1378 H)
  • 48.
    Semoga bermanfaat!!! asnin_syafiuddin@yahoo.co.id http://abufathirabbani.blogspot.com