KPP MADYA SEMARANG
2015
Pajak Penghasilan
• Pekerjaan atau jabatan
• Jasa dan
• Kegiatan
Atas Penghasilan Berupa:
Gaji, Upah, Honorarium, Tunjangan,
dan Pembayaran lain dengan nama/bentuk apapun
Subjek Pajak DN Subjek Pajak LN
PPh Pasal 21 PPh Pasal 26
Pemberi kerja yang terdiri dari orang pribadi dan badan
Bendahara atau pemegang kas pemerintah
Dana pensiun, badan penyelenggara Jaminan Sosial
Tenaga Kerja dan badan-badan lain
Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas serta badan
Penyelenggara kegiatan
Pasal 2 ayat (1)
• Kantor perwakilan negara asing
• Organisasi-organisasi internasional yang
ditetapkan Menteri Keuangan
• Pemberi kerja orang pribadi yang tidak
melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas yang semata-mata memperkerjakan
orang pribadi untuk melakukan pekerjaan
rumah tangga atau pekerjaan bukan dalam
rangka melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas
Pasal 2 ayat (2)
• Pegawai
• Penerima uang pesangon, pensiun atau uang manfaat pensiun,
THT, JHT, termasuk ahli warisnya
• Bukan pegawai
yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan
pekerjaan, jasa atau kegiatan
• Anggota dewan komisaris/pengawas yang tidak merangkap sebagai
pegawai
• Mantan Pegawai
• Peserta kegiatan:
– Peserta perlombaan
– Peserta rapat, konferensi, sidang, pertemuan, kunjungan kerja
– Peserta/anggota kepanitiaan
– Peserta pendidikan, pelatihan
– Peserta kegiatan lainnya
• penghasilan pegawai tetap baik teratur maupun tidak teratur
• penghasilan penerima pensiun secara teratur
• uang pesangon, pensiun, tunjangan hari tua, atau jaminan hari tua yang
dibayarkan sekaligus, yang pembayarannya melewati jangka waktu 2
tahun;
• penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas
• imbalan kepada bukan pegawai;
• imbalan kepada peserta kegiatan;
• imbalan kepada dewan komisaris/pengawas yang bukan merupakan
pegawai tetap pada perusahaan yang sama;
• imbalan kepada mantan pegawai;
• penarikan dana pensiun oleh pegawai.
TERMASUK
Natura/Kenikmatan dari :
• Wajib Pajak PPh Final
• Wajib Pajak Norma Penghitungan Khusus
Pasal 5
Penghitungan besarnya
penghasilan
Uang rupiah Uang asing Natura/kenikmatan
an
sesuai dengan yang
diterima/diperoleh
Kurs Menteri
Keuangan
Harga Pasar
• Pembayaran manfaat atau santunan asuransi
kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna dan bea
siswa
• Natura/kenikmatan dari Wajib Pajak atau
Pemerintah
• Iuran pensiun kepada dana pensiun yang telah
disahkan Menkeu, iuran THT/JHT yang dibayar
pemberi kerja
• Zakat/sumbangan wajib keagamaan dari
badan/lembaga yang dibentuk/disahkan pemerintah
• Bea siswa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
ayat (3) huruf l UU PPh
Pasal 8 ayat (1)
Penghasilan Bruto
Pegawai Tetap Penerima Pensiun
Dikurangi Dengan Dikurangi Dengan
PENGHASILAN NETO (SETAHUN/DISETAHUNKAN)
Dikurangi: PTKP
Penghasilan Kena Pajak
Iuran Pensiun Premi asuransi
Dibayar Sendiri Pengurang Bukan Pengurang
Dibayar Pemberi
Kerja
Bukan Objek PPh Objek PPh
Pembayaran/
Penggantian
Bagi Penerima Objek PPh Bukan Objek PPh
Ditinjau dari sisi karyawan sebagai penerima penghasilan:
Rp 36.000.000
Rp 3.000.000
Rp 3.000.000
UNTUK DIRI WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI
TAMBAHAN UNTUK WAJIB PAJAK KAWIN
TAMBAHAN UNTUK SETIAP ANGGOTA KELUARGA
SEDARAH SEMENDA DALAM GARIS KETURUNAN
LURUS SERTA ANAK ANGKAT YG MENJADI
TANGGUNGAN SEPENUHNYA MAKSIMAL 3 ORANG
WP Tidak Kawin Kode Jumlah
0 Tanggungan TK/0 36.000.000
1 Tanggungan TK/1 39.000.000
2 Tanggungan TK/2 42.000.000
3 Tanggungan TK/3 45.000.000
WP Kawin Kode Jumlah
0 Tanggungan K/0 39.000.000
1 Tanggungan K/1 42.000.000
2 Tanggungan K/2 45.000.000
3 Tanggungan K/3 48.000.000
WP Kawin + Penghasilan Istri
Digabung
Kode Jumlah
0 Tanggungan K/I/0 75.000.000
1 Tanggungan K/I/1 78.000.000
2 Tanggungan K/I/2 81.000.000
3 Tanggungan K/I/3 84.000.000
HANYA UTK DIRI
SENDIRI
STATUS KAWIN
STATUS
TIDAK KAWIN
- UTK DIRI SENDIRI
SEBAGAI WP
- TANGGUNGAN
MAKS 3 ORANG
Syarat:
Menunjukkan ketr. tertulis dari pemerintah daerah setempat
serendah-rendahnya kecamatan bahwa suami tidak menerima/
memperoleh penghasilan
STATUS KAWIN
SUAMI TIDAK MENERIMA/
MEMPEROLEH
PENGHASILAN
- UTK DIRI SENDIRI
SEBAGAI WP
- STATUS KAWIN
- TANGGUNGAN
MAKS 3 ORANG
Pasal 11 ayat (3) dan (4)
NO.
LAPISAN PENGHASILAN KENA
PAJAK
TARIF
1. s.d. Rp50.000.000,- 5%
2.
Di atas Rp50.000.000,-
s.d. Rp250.000.000
15%
3.
Di atas Rp250.000.000,-
s.d. Rp500.000.000,-
25%
4. Di atas Rp500.000.000,- 30%
Pasal 17 UU PPh
Masa Pajak terakhir
Setiap masa pajak,
kecuali masa pajak terakhir
Perkiraan Penghasilan
neto yang akan
diperoleh selama
setahun
 Penghasilan teratur
sebulan dikali 12
Selisih antara PPh yang
terutang atas seluruh
penghasilan kena pajak
selama setahun dengan
yang telah dipotong
masa-masa sebelumnya
TIDAK DISETAHUNKANDISETAHUNKAN
1. WP OP DN meninggal dunia
atau meninggalkan Indonesia
untuk selama-lamanya di
pertengahan tahun
2. Orang Asing mulai bekerja di
Indonesia di pertengahan
tahun untuk jangka waktu
lebih dari 6 bulan
3. Karyawan pindah cabang
1. WP OP DN mulai bekerja di
pertengahan tahun
2. WP OP DN pindah kerja ke
pemberi kerja lain
Upah/Uang Saku Harian, Mingguan,
Satuan, Borongan
Dibayarkan Bulanan Atau Jumlah
Upah Kumulatif satu bulan
melebihi Rp 8.200.000
Upah/Uang Saku Harian
≤ 300.000 > 300.000
Tidak Dipotong Dikurangi 300.000
Dipotong 5%
Upah kumulatif > Rp3 jt s.d. Rp8,2 jt sebulan
Upah sehari dikurangi PTKP sehari
Tarif PPh 21 = 5%
Dikali 12
Dikurangi PTKP Setahun
Penghasilan Kena Pajak
Dikenakan Tarif Ps 17
PPh Ps 21 Setahun
Dibagi 12
PPh Pasal 21 Sebulan
Dalam hal Dokter yang praktik di RS/Klinik
jumlah Penghasilan Bruto adalah
sebesar Jasa Dokter yang dibayarkan Pasien
melalui RS/Klinik sebelum
dipotong Biaya-Biaya atau Bagi Hasil RS/Klinik
Berkesinambungan Berkesinambungan ex
pasal13 ayat 1
Tidak
Berkesinambungan
50 % x (Ph Bruto-PTKP Bulanan)
Kumulatif
50 % x Ph Bruto
Kumulatif
50 % x Ph Bruto
TARIF PS. 17
DITERAPKAN ATAS :
PEMBAYARAN YANG BERSIFAT UTUH
DAN TIDAK DAPAT DIPECAH
JUMLAH PENGHASILAN BRUTO
PPh Pasal 21
JASA PRODUKSI,
TANTIEM, GRATIFIKASI
DAN BONUS ATAU
IMBALAN LAIN YANG
TIDAK TERATUR
PENARIKAN DANA
PENSIUN
DEWAN
KOMISARIS /
PENGAWAS BUKAN
PEG. TETAP
MANTAN PEGAWAI
PESERTA PROGRAM
PENSIUN YANG
MASIH BERSTATUS
PEGAWAI
DITERAPKAN TARIF PASAL 17 X PENGHASILAN BRUTO KUMULATIF
PEGAWAI
BUKAN PEGAWAI
TIDAK BERKESINAMBUNGAN
BERKESINAMBUNGAN
PENSIUNAN
TETAP
TIDAK TETAP
Ph NETO - PTKP
BULANAN
HARIAN
Ph BRUTO - PTKP
50% X Ph Bruto Kumulatif
50 % x Ph Bruto
Ph NETO - PTKP
SEKALIGUS
BERKALA
Ph BRUTO – 300 RIBU
PP 68 Th 2009
Ph BRUTO(>3jt s.d.8,2jt) – PTKP Harian
Ph Bruto Kumulatif
BERKESINAMBUNGAN ex Psl 13 (1)
50% X (Ph Bruto-PTKP bulanan)
Kumulatif
PESERTA KEGIATAN
Ph BRUTO(>8jt) – PTKP
KOMISARIS, MANTAN PEGAWAI,
PENARIKAN DAPEN O/ PEGAWAI
Ph Bruto
Penghasilan Bersumber Dari APBN/D yang Diterima oleh :
Pejabat Negara
PNS
Anggota TNI/Polri
dan Pensiunannya
DIATUR DALAM KETENTUAN YANG DITETAPKAN
KHUSUS
(Pasal 17 PER-32/PJ/2015)
atas
•Tarif 0% (final)Golongan II/d
ke bawah
•Tarif 5% (final)Golongan III
•Tarif 15% (final)Golongan IV
Pasal 9 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 262/PMK.03/2010 (PNS)
Uang Pesangon
Uang Manfaat Pensiun
THT/JHT yang Dibayarkan Sekaligus
DIATUR DALAM KETENTUAN YANG DITETAPKAN KHUSUS
20% Final
X
PENGHASILAN BRUTO
MEMPERHATIKAN KETENTUAN
P3B
TIDAK BERLAKU
UNTUK PPh PASAL 21
FINAL
DIPOTONG PPh PASAL 21 SEBESAR 120%
DARI PPh PASAL 21 YANG SEHARUSNYA DIPOTONG
JIKA BER-NPWP
DIPERHITUNGKAN OLEH PEMOTONG DENGAN PPh
PASAL 21 TERUTANG BULAN-BULAN BERIKUTNYA
JIKA PEGAWAI TETAP, BER-
NPWP SEBELUM
PEMOTONGAN BULAN
DESEMBER
DIKENAKAN TARIF LEBIH TINGGI 20%
PPh Pasal 21 sebesar 120%
lebih tinggi daripada PPh
Pasal 21 yang seharusnya
(20% lebih tinggi)
Tidak berlaku untuk PPh Pasal 21 yang bersifat final
Setelah pemotongan
PPh Pasal 21 bulan
Desember
sebelum pemotongan
PPh Pasal 21 bulan
Desember
Ber-NPWP
Diperhitungkan oleh
pemotong dengan
PPh Pasal 21 bulan-
bulan selanjutnya
merupakan kredit
pajak dalam SPT
Tahunan PPh
Bagi Penerima
Penghasilan
SAAT DILAKUKAN
PEMBAYARAN ATAU
SAAT TERUTANGNYA
PENGHASILAN
Bagi Pemotong PPh
Pasal 21/26
UNTUK SETIAP MASA
PAJAK
AKHIR BULAN
DILAKUKANNYA
PEMBAYARAN
ATAU
AKHIR BULAN
TERUTANGNYA
PENGHASILAN
Pasal 21
• Wajib Mendaftarkan Diri ke KPP
• Wajib menghitung, memotong, menyetorkan dan
melaporkan PPh Pasal 21 dan Pasal 26 yang terutang
untuk setiap bulan kalender.
• PPh Pasal 21/26 yang dipotong wajib disetor ke Kantor
Pos atau Bank paling lama 10 hari setelah Masa Pajak
berakhir.
• Pemotong Pajak wajib lapor sekalipun nihil, paling lama
20 hari setelah Masa Pajak berakhir.
• Wajib Membuat Catatan atau Kertas Kerja Perhitungan
PPh Ps. 21/26 Untuk Setiap Masa Pajak
• Wajib Menyimpan Catatan atau Kertas Kerja Sesuai
Ketentuan
• Wajib Membuat Bukti Potong dan Memberikannya
Kepada Penerima Penghasilan
• Untuk pegawai tetap/penerima pensiun berkala:
– dibuat sekali setahun (Form 1721 A1/A2)
– diberikan paling lama 1 bulan setelah akhir tahun
atau pegawai berhenti
• Untuk selain pegawai tetap/penerima pensiun
berkala:
– Dibuat setiap kali ada pemotongan
– Jika dalam satu bulan > 1 kali pembayaran maka
bukti potong dapat dibuat sekali dalam satu bulan
• Bukti Potong PPh Pasal 21 Tidak wajib
dilampirkan dalam SPT Masa PPh Pasal 21
• Wajib Mendaftarkan Diri ke KPP
• Pegawai, Penerima Pensiun Berkala, dan Bukan
Pegawai tertentu Wajib Membuat Surat
Pernyataan Yang Berisi Jumlah Tanggungan
Keluarga Pada Awal Tahun Kalender Atau Pada
Saat Menjadi Subjek Pajak Dalam Negeri
• Wajib Menyerahkan Surat Pernyataan
Tanggungan Keluarga kpd Pemotong Pajak Pada
Saat Mulai Bekerja Atau Mulai Pensiun
• Wajib Membuat Surat Pernyataan Baru Dalam
Hal Terjadi Perubahan Tanggungan Keluarga
Paling Lambat Sebelum Mulai Tahun Kalender
Berikutnya
Contoh Penghitungan PPh Pasal 21
Budiyanta pada tahun 2016 bekerja di PT Aman Bahagia
dengan gaji sebulan Rp 8.000.000,00 dan membayar iuran
pensiun sebesar Rp200.000,00. Budiyanta menikah tetapi
belum mempunyai anak. Pada bulan Juli 2016 menerima
kenaikan gaji, menjadi Rp10.000.000,00 sebulan dan berlaku
surut sejak 1 Januari 2016. Dengan adanya kenaikan gaji yang
berlaku surut tersebut, Budiyanta menerima rapel sejumlah
Rp 12.000.000,00 (kekurangan gaji untuk masa Januari s.d.
Mei 2016). Pada bulan Oktober 2016 menerima bonus
tahunan sebesar Rp 20.000.000,00.
35
A. Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Pegawai Tetap - Gaji Bulanan
Gaji sebulan Rp 8.000.000
Pengurangan :
Biaya Jabatan (5% xRp 8.000.000) Rp 400.000
Iuran Pensiun Rp 200.000 Rp 600.000
Penghasilan Neto sebulan Rp 7.400.000
Penghasilan Neto setahun (12 x Rp 7.400.000,00 ) Rp 88.800.000
PTKP setahun :
- untuk diri sendiri Rp 36.000.000
- tambahan WP kawin Rp 3.000.000 Rp 39.000.000
Penghasilan Kena Pajak setahun Rp 49.800.000
PPh Pasal 21 terutang :
5% x Rp 49.800.000,00 = Rp 2.490.000
PPh Pasal 21 sebulan
Rp 2.490.000,00 : 12 = Rp 207.500
36
B. Penghitungan PPh Pasal 21 atas Pembayaran Uang Rapel
Gaji sebulan Rp 10.000.000
Pengurangan :
Biaya Jabatan (5% xRp 10.000.000) = Rp 500.000
Iuran Pensiun = Rp 200.000 Rp 700.000
Penghasilan Neto sebulan Rp 9.300.000
Penghasilan Neto setahun ( 12 x Rp 9.300.000,00 ) Rp 111.600.000
PTKP setahun :
- untuk diri sendiri Rp 36.000.000
- tambahan WP kawin Rp 3.000.000 Rp 39.000.000
Penghasilan Kena Pajak setahun Rp 72.600.000
PPh Pasal 21 setahun :
5% x Rp 50.000.000,00 = Rp 2.500.000
15% x Rp 22.600.000,00 = Rp 3.390.000
Rp 5.890.000
PPh Pasal 21 sebulan
Rp 5.890.000,00 : 12 Rp 490.833
PPh Pasal 21 Januari s.d Juni 2016 seharusnya adalah :
6 x Rp 490.833,00 Rp 2.944.998
PPh Pasal 21 yang sudah dipotong Januari s.d Juni 2016
6 x Rp 207.500,00 (dari perhitungan contoh A) Rp 1.245.000
PPh Pasal 21 untuk uang rapel Rp 1.699.998
37
C. Penghitungan PPh Pasal 21 atas Pembayaran Bonus
Gaji setahun (12 x Rp 10.000.000,00) Rp 120.000.000
Bonus Rp 20.000.000
Penghasilan bruto setahun Rp 140.000.000
Pengurangan :
Biaya Jabatan (5% xRp 140.000.000,00) = Rp 7.000.000,00
*Biaya Jabatan dlm setahun maksimal Rp 6.000.000,00 Rp 6.000.000
Iuran Pensiun (12 x Rp 200.000,00) Rp 2.400.000 Rp 8.400.000
Penghasilan Neto setahun Gaji + Bonus Rp 131.600.000
PTKP setahun :
- untuk diri sendiri Rp 36.000.000
- tambahan WP kawin Rp 3.000.000 Rp 39.000.000
Penghasilan Kena Pajak setahun Rp 92.600.000
PPh Pasal 21 setahun atas Gaji + Bonus :
5% x Rp 50.000.000,00 = Rp 2.500.000
15% x Rp 42.600.000,00 = Rp 6.390.000
8.890.000
PPh Pasal 21 atas Gaji (dari contoh B) Rp 5.890.000
PPh Pasal 21 atas Bonus Rp 3.000.000
38
39

Tata cara pemotongan pph pasal 21

  • 1.
  • 3.
    Pajak Penghasilan • Pekerjaanatau jabatan • Jasa dan • Kegiatan Atas Penghasilan Berupa: Gaji, Upah, Honorarium, Tunjangan, dan Pembayaran lain dengan nama/bentuk apapun Subjek Pajak DN Subjek Pajak LN PPh Pasal 21 PPh Pasal 26
  • 4.
    Pemberi kerja yangterdiri dari orang pribadi dan badan Bendahara atau pemegang kas pemerintah Dana pensiun, badan penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja dan badan-badan lain Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta badan Penyelenggara kegiatan Pasal 2 ayat (1)
  • 5.
    • Kantor perwakilannegara asing • Organisasi-organisasi internasional yang ditetapkan Menteri Keuangan • Pemberi kerja orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang semata-mata memperkerjakan orang pribadi untuk melakukan pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan bukan dalam rangka melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas Pasal 2 ayat (2)
  • 6.
    • Pegawai • Penerimauang pesangon, pensiun atau uang manfaat pensiun, THT, JHT, termasuk ahli warisnya • Bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan • Anggota dewan komisaris/pengawas yang tidak merangkap sebagai pegawai • Mantan Pegawai • Peserta kegiatan: – Peserta perlombaan – Peserta rapat, konferensi, sidang, pertemuan, kunjungan kerja – Peserta/anggota kepanitiaan – Peserta pendidikan, pelatihan – Peserta kegiatan lainnya
  • 9.
    • penghasilan pegawaitetap baik teratur maupun tidak teratur • penghasilan penerima pensiun secara teratur • uang pesangon, pensiun, tunjangan hari tua, atau jaminan hari tua yang dibayarkan sekaligus, yang pembayarannya melewati jangka waktu 2 tahun; • penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas • imbalan kepada bukan pegawai; • imbalan kepada peserta kegiatan; • imbalan kepada dewan komisaris/pengawas yang bukan merupakan pegawai tetap pada perusahaan yang sama; • imbalan kepada mantan pegawai; • penarikan dana pensiun oleh pegawai. TERMASUK Natura/Kenikmatan dari : • Wajib Pajak PPh Final • Wajib Pajak Norma Penghitungan Khusus Pasal 5
  • 10.
    Penghitungan besarnya penghasilan Uang rupiahUang asing Natura/kenikmatan an sesuai dengan yang diterima/diperoleh Kurs Menteri Keuangan Harga Pasar
  • 11.
    • Pembayaran manfaatatau santunan asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna dan bea siswa • Natura/kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah • Iuran pensiun kepada dana pensiun yang telah disahkan Menkeu, iuran THT/JHT yang dibayar pemberi kerja • Zakat/sumbangan wajib keagamaan dari badan/lembaga yang dibentuk/disahkan pemerintah • Bea siswa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf l UU PPh Pasal 8 ayat (1)
  • 12.
    Penghasilan Bruto Pegawai TetapPenerima Pensiun Dikurangi Dengan Dikurangi Dengan PENGHASILAN NETO (SETAHUN/DISETAHUNKAN) Dikurangi: PTKP Penghasilan Kena Pajak
  • 13.
    Iuran Pensiun Premiasuransi Dibayar Sendiri Pengurang Bukan Pengurang Dibayar Pemberi Kerja Bukan Objek PPh Objek PPh Pembayaran/ Penggantian Bagi Penerima Objek PPh Bukan Objek PPh Ditinjau dari sisi karyawan sebagai penerima penghasilan:
  • 14.
    Rp 36.000.000 Rp 3.000.000 Rp3.000.000 UNTUK DIRI WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI TAMBAHAN UNTUK WAJIB PAJAK KAWIN TAMBAHAN UNTUK SETIAP ANGGOTA KELUARGA SEDARAH SEMENDA DALAM GARIS KETURUNAN LURUS SERTA ANAK ANGKAT YG MENJADI TANGGUNGAN SEPENUHNYA MAKSIMAL 3 ORANG
  • 15.
    WP Tidak KawinKode Jumlah 0 Tanggungan TK/0 36.000.000 1 Tanggungan TK/1 39.000.000 2 Tanggungan TK/2 42.000.000 3 Tanggungan TK/3 45.000.000 WP Kawin Kode Jumlah 0 Tanggungan K/0 39.000.000 1 Tanggungan K/1 42.000.000 2 Tanggungan K/2 45.000.000 3 Tanggungan K/3 48.000.000 WP Kawin + Penghasilan Istri Digabung Kode Jumlah 0 Tanggungan K/I/0 75.000.000 1 Tanggungan K/I/1 78.000.000 2 Tanggungan K/I/2 81.000.000 3 Tanggungan K/I/3 84.000.000
  • 16.
    HANYA UTK DIRI SENDIRI STATUSKAWIN STATUS TIDAK KAWIN - UTK DIRI SENDIRI SEBAGAI WP - TANGGUNGAN MAKS 3 ORANG Syarat: Menunjukkan ketr. tertulis dari pemerintah daerah setempat serendah-rendahnya kecamatan bahwa suami tidak menerima/ memperoleh penghasilan STATUS KAWIN SUAMI TIDAK MENERIMA/ MEMPEROLEH PENGHASILAN - UTK DIRI SENDIRI SEBAGAI WP - STATUS KAWIN - TANGGUNGAN MAKS 3 ORANG Pasal 11 ayat (3) dan (4)
  • 17.
    NO. LAPISAN PENGHASILAN KENA PAJAK TARIF 1.s.d. Rp50.000.000,- 5% 2. Di atas Rp50.000.000,- s.d. Rp250.000.000 15% 3. Di atas Rp250.000.000,- s.d. Rp500.000.000,- 25% 4. Di atas Rp500.000.000,- 30% Pasal 17 UU PPh
  • 18.
    Masa Pajak terakhir Setiapmasa pajak, kecuali masa pajak terakhir Perkiraan Penghasilan neto yang akan diperoleh selama setahun  Penghasilan teratur sebulan dikali 12 Selisih antara PPh yang terutang atas seluruh penghasilan kena pajak selama setahun dengan yang telah dipotong masa-masa sebelumnya
  • 19.
    TIDAK DISETAHUNKANDISETAHUNKAN 1. WPOP DN meninggal dunia atau meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya di pertengahan tahun 2. Orang Asing mulai bekerja di Indonesia di pertengahan tahun untuk jangka waktu lebih dari 6 bulan 3. Karyawan pindah cabang 1. WP OP DN mulai bekerja di pertengahan tahun 2. WP OP DN pindah kerja ke pemberi kerja lain
  • 20.
    Upah/Uang Saku Harian,Mingguan, Satuan, Borongan Dibayarkan Bulanan Atau Jumlah Upah Kumulatif satu bulan melebihi Rp 8.200.000 Upah/Uang Saku Harian ≤ 300.000 > 300.000 Tidak Dipotong Dikurangi 300.000 Dipotong 5% Upah kumulatif > Rp3 jt s.d. Rp8,2 jt sebulan Upah sehari dikurangi PTKP sehari Tarif PPh 21 = 5% Dikali 12 Dikurangi PTKP Setahun Penghasilan Kena Pajak Dikenakan Tarif Ps 17 PPh Ps 21 Setahun Dibagi 12 PPh Pasal 21 Sebulan
  • 21.
    Dalam hal Dokteryang praktik di RS/Klinik jumlah Penghasilan Bruto adalah sebesar Jasa Dokter yang dibayarkan Pasien melalui RS/Klinik sebelum dipotong Biaya-Biaya atau Bagi Hasil RS/Klinik Berkesinambungan Berkesinambungan ex pasal13 ayat 1 Tidak Berkesinambungan 50 % x (Ph Bruto-PTKP Bulanan) Kumulatif 50 % x Ph Bruto Kumulatif 50 % x Ph Bruto
  • 22.
    TARIF PS. 17 DITERAPKANATAS : PEMBAYARAN YANG BERSIFAT UTUH DAN TIDAK DAPAT DIPECAH JUMLAH PENGHASILAN BRUTO
  • 23.
    PPh Pasal 21 JASAPRODUKSI, TANTIEM, GRATIFIKASI DAN BONUS ATAU IMBALAN LAIN YANG TIDAK TERATUR PENARIKAN DANA PENSIUN DEWAN KOMISARIS / PENGAWAS BUKAN PEG. TETAP MANTAN PEGAWAI PESERTA PROGRAM PENSIUN YANG MASIH BERSTATUS PEGAWAI DITERAPKAN TARIF PASAL 17 X PENGHASILAN BRUTO KUMULATIF
  • 24.
    PEGAWAI BUKAN PEGAWAI TIDAK BERKESINAMBUNGAN BERKESINAMBUNGAN PENSIUNAN TETAP TIDAKTETAP Ph NETO - PTKP BULANAN HARIAN Ph BRUTO - PTKP 50% X Ph Bruto Kumulatif 50 % x Ph Bruto Ph NETO - PTKP SEKALIGUS BERKALA Ph BRUTO – 300 RIBU PP 68 Th 2009 Ph BRUTO(>3jt s.d.8,2jt) – PTKP Harian Ph Bruto Kumulatif BERKESINAMBUNGAN ex Psl 13 (1) 50% X (Ph Bruto-PTKP bulanan) Kumulatif PESERTA KEGIATAN Ph BRUTO(>8jt) – PTKP KOMISARIS, MANTAN PEGAWAI, PENARIKAN DAPEN O/ PEGAWAI Ph Bruto
  • 25.
    Penghasilan Bersumber DariAPBN/D yang Diterima oleh : Pejabat Negara PNS Anggota TNI/Polri dan Pensiunannya DIATUR DALAM KETENTUAN YANG DITETAPKAN KHUSUS (Pasal 17 PER-32/PJ/2015) atas
  • 26.
    •Tarif 0% (final)GolonganII/d ke bawah •Tarif 5% (final)Golongan III •Tarif 15% (final)Golongan IV Pasal 9 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 262/PMK.03/2010 (PNS)
  • 27.
    Uang Pesangon Uang ManfaatPensiun THT/JHT yang Dibayarkan Sekaligus DIATUR DALAM KETENTUAN YANG DITETAPKAN KHUSUS
  • 28.
  • 29.
    TIDAK BERLAKU UNTUK PPhPASAL 21 FINAL DIPOTONG PPh PASAL 21 SEBESAR 120% DARI PPh PASAL 21 YANG SEHARUSNYA DIPOTONG JIKA BER-NPWP DIPERHITUNGKAN OLEH PEMOTONG DENGAN PPh PASAL 21 TERUTANG BULAN-BULAN BERIKUTNYA JIKA PEGAWAI TETAP, BER- NPWP SEBELUM PEMOTONGAN BULAN DESEMBER DIKENAKAN TARIF LEBIH TINGGI 20%
  • 30.
    PPh Pasal 21sebesar 120% lebih tinggi daripada PPh Pasal 21 yang seharusnya (20% lebih tinggi) Tidak berlaku untuk PPh Pasal 21 yang bersifat final Setelah pemotongan PPh Pasal 21 bulan Desember sebelum pemotongan PPh Pasal 21 bulan Desember Ber-NPWP Diperhitungkan oleh pemotong dengan PPh Pasal 21 bulan- bulan selanjutnya merupakan kredit pajak dalam SPT Tahunan PPh
  • 31.
    Bagi Penerima Penghasilan SAAT DILAKUKAN PEMBAYARANATAU SAAT TERUTANGNYA PENGHASILAN Bagi Pemotong PPh Pasal 21/26 UNTUK SETIAP MASA PAJAK AKHIR BULAN DILAKUKANNYA PEMBAYARAN ATAU AKHIR BULAN TERUTANGNYA PENGHASILAN Pasal 21
  • 32.
    • Wajib MendaftarkanDiri ke KPP • Wajib menghitung, memotong, menyetorkan dan melaporkan PPh Pasal 21 dan Pasal 26 yang terutang untuk setiap bulan kalender. • PPh Pasal 21/26 yang dipotong wajib disetor ke Kantor Pos atau Bank paling lama 10 hari setelah Masa Pajak berakhir. • Pemotong Pajak wajib lapor sekalipun nihil, paling lama 20 hari setelah Masa Pajak berakhir. • Wajib Membuat Catatan atau Kertas Kerja Perhitungan PPh Ps. 21/26 Untuk Setiap Masa Pajak • Wajib Menyimpan Catatan atau Kertas Kerja Sesuai Ketentuan • Wajib Membuat Bukti Potong dan Memberikannya Kepada Penerima Penghasilan
  • 33.
    • Untuk pegawaitetap/penerima pensiun berkala: – dibuat sekali setahun (Form 1721 A1/A2) – diberikan paling lama 1 bulan setelah akhir tahun atau pegawai berhenti • Untuk selain pegawai tetap/penerima pensiun berkala: – Dibuat setiap kali ada pemotongan – Jika dalam satu bulan > 1 kali pembayaran maka bukti potong dapat dibuat sekali dalam satu bulan • Bukti Potong PPh Pasal 21 Tidak wajib dilampirkan dalam SPT Masa PPh Pasal 21
  • 34.
    • Wajib MendaftarkanDiri ke KPP • Pegawai, Penerima Pensiun Berkala, dan Bukan Pegawai tertentu Wajib Membuat Surat Pernyataan Yang Berisi Jumlah Tanggungan Keluarga Pada Awal Tahun Kalender Atau Pada Saat Menjadi Subjek Pajak Dalam Negeri • Wajib Menyerahkan Surat Pernyataan Tanggungan Keluarga kpd Pemotong Pajak Pada Saat Mulai Bekerja Atau Mulai Pensiun • Wajib Membuat Surat Pernyataan Baru Dalam Hal Terjadi Perubahan Tanggungan Keluarga Paling Lambat Sebelum Mulai Tahun Kalender Berikutnya
  • 35.
    Contoh Penghitungan PPhPasal 21 Budiyanta pada tahun 2016 bekerja di PT Aman Bahagia dengan gaji sebulan Rp 8.000.000,00 dan membayar iuran pensiun sebesar Rp200.000,00. Budiyanta menikah tetapi belum mempunyai anak. Pada bulan Juli 2016 menerima kenaikan gaji, menjadi Rp10.000.000,00 sebulan dan berlaku surut sejak 1 Januari 2016. Dengan adanya kenaikan gaji yang berlaku surut tersebut, Budiyanta menerima rapel sejumlah Rp 12.000.000,00 (kekurangan gaji untuk masa Januari s.d. Mei 2016). Pada bulan Oktober 2016 menerima bonus tahunan sebesar Rp 20.000.000,00. 35
  • 36.
    A. Penghitungan PPhPasal 21 atas Penghasilan Pegawai Tetap - Gaji Bulanan Gaji sebulan Rp 8.000.000 Pengurangan : Biaya Jabatan (5% xRp 8.000.000) Rp 400.000 Iuran Pensiun Rp 200.000 Rp 600.000 Penghasilan Neto sebulan Rp 7.400.000 Penghasilan Neto setahun (12 x Rp 7.400.000,00 ) Rp 88.800.000 PTKP setahun : - untuk diri sendiri Rp 36.000.000 - tambahan WP kawin Rp 3.000.000 Rp 39.000.000 Penghasilan Kena Pajak setahun Rp 49.800.000 PPh Pasal 21 terutang : 5% x Rp 49.800.000,00 = Rp 2.490.000 PPh Pasal 21 sebulan Rp 2.490.000,00 : 12 = Rp 207.500 36
  • 37.
    B. Penghitungan PPhPasal 21 atas Pembayaran Uang Rapel Gaji sebulan Rp 10.000.000 Pengurangan : Biaya Jabatan (5% xRp 10.000.000) = Rp 500.000 Iuran Pensiun = Rp 200.000 Rp 700.000 Penghasilan Neto sebulan Rp 9.300.000 Penghasilan Neto setahun ( 12 x Rp 9.300.000,00 ) Rp 111.600.000 PTKP setahun : - untuk diri sendiri Rp 36.000.000 - tambahan WP kawin Rp 3.000.000 Rp 39.000.000 Penghasilan Kena Pajak setahun Rp 72.600.000 PPh Pasal 21 setahun : 5% x Rp 50.000.000,00 = Rp 2.500.000 15% x Rp 22.600.000,00 = Rp 3.390.000 Rp 5.890.000 PPh Pasal 21 sebulan Rp 5.890.000,00 : 12 Rp 490.833 PPh Pasal 21 Januari s.d Juni 2016 seharusnya adalah : 6 x Rp 490.833,00 Rp 2.944.998 PPh Pasal 21 yang sudah dipotong Januari s.d Juni 2016 6 x Rp 207.500,00 (dari perhitungan contoh A) Rp 1.245.000 PPh Pasal 21 untuk uang rapel Rp 1.699.998 37
  • 38.
    C. Penghitungan PPhPasal 21 atas Pembayaran Bonus Gaji setahun (12 x Rp 10.000.000,00) Rp 120.000.000 Bonus Rp 20.000.000 Penghasilan bruto setahun Rp 140.000.000 Pengurangan : Biaya Jabatan (5% xRp 140.000.000,00) = Rp 7.000.000,00 *Biaya Jabatan dlm setahun maksimal Rp 6.000.000,00 Rp 6.000.000 Iuran Pensiun (12 x Rp 200.000,00) Rp 2.400.000 Rp 8.400.000 Penghasilan Neto setahun Gaji + Bonus Rp 131.600.000 PTKP setahun : - untuk diri sendiri Rp 36.000.000 - tambahan WP kawin Rp 3.000.000 Rp 39.000.000 Penghasilan Kena Pajak setahun Rp 92.600.000 PPh Pasal 21 setahun atas Gaji + Bonus : 5% x Rp 50.000.000,00 = Rp 2.500.000 15% x Rp 42.600.000,00 = Rp 6.390.000 8.890.000 PPh Pasal 21 atas Gaji (dari contoh B) Rp 5.890.000 PPh Pasal 21 atas Bonus Rp 3.000.000 38
  • 39.