PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR PER- 16/PJ/2016
PEDOMAN TEKNIS TATA CARA PEMOTONGAN,
PENYETORAN DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN
PASAL 21 DAN/ATAU PAJAK PENGHASILAN PASAL 26
SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN, JASA, DAN KEGIATAN
ORANG PRIBADI
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Direktorat Jenderal Pajak
Tahun 2015
SPDN SPLN
1. Pekerjaan;
2. Jasa;
3. Kegiatan
yang dilakukan orang pribadi
PPh Pasal 21 PPh Pasal 26
Gaji, Upah, Honorarium, Tunjangan, dan
Pembayaran lain dengan nama/bentuk
apapun
Pemotong PPh Pasal 21/26
• pemberi kerja yang terdiri dari:
a. orang pribadi dan badan;
b. cabang, perwakilan atau unit, dalam hal yang
melakukan sebagian atau seluruh administrasi yang
terkait dengan pembayaran gaji, upah, honorarium,
tunjangan, dan pembayaran lain adalah cabang,
perwakilan atau unit tersebut.
• bendahara atau pemegang kas pemerintah
• dana pensiun, badan penyelenggara Jaminan Sosial
Tenaga Kerja dan badan-badan lain
• orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas serta badan yang melakukan
pembayaran sehubungan dengan penyerahan jasa
• Penyelenggara kegiatan
Pemberi Kerja Bukan Pemotong
PPh Pasal 21/26
• Kantor perwakilan negara asing
• Organisasi-organisasi internasional yang ditetapkan
Menteri Keuangan
• Pemberi kerja orang pribadi yang tidak melakukan
kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang semata-
mata memperkerjakan orang pribadi untuk melakukan
pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan bukan dalam
rangka melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas
Penerima Penghasilan yang Dikenakan
PPh Pasal 21/26
• pegawai;
• penerima uang pesangon, pensiun atau uang manfaat
pensiun, THT, JHT, termasuk ahli warisnya;
• bukan pegawai;
• anggota dewan komisaris/pengawas yang tidak
merangkap sebagai pegawai;
• mantan pegawai;
• peserta kegiatan:
– Peserta perlombaan
– Peserta rapat, konferensi, sidang, pertemuan,
kunjungan kerja
– Peserta/anggota kepanitiaan
– Peserta pendidikan, pelatihan dan magang
– Peserta kegiatan lainnya
Penghasilan yang Dikenakan PPh Pasal 21/26
• penghasilan pegawai tetap baik teratur maupun tidak teratur
• penghasilan penerima pensiun secara teratur
• uang pesangon, pensiun, tunjangan hari tua, atau jaminan
hari tua yang dibayarkan sekaligus, yang pembayarannya
melewati jangka waktu 2 tahun;
• penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas
• imbalan kepada bukan pegawai;
• imbalan kepada peserta kegiatan;
• imbalan kepada dewan komisaris/pengawas yang bukan
merupakan pegawai tetap pada perusahaan yang sama;
• imbalan kepada mantan pegawai;
• penarikan dana pensiun oleh pegawai.
• Wajib Pajak PPh Final
• Wajib Pajak Norma Penghitungan Khusus
Termasuk:
Natura/Kenikmatan dari:
Penghitungan Besarnya
Penghasilan
Uang rupiah Uang asing Natura/kenikmatan
an
sesuai dengan yang
diterima/diperoleh
Kurs Menteri
Keuangan
Harga Pasar
Penghasilan yang Tidak Dikenakan
PPh Pasal 21/26
• Pembayaran manfaat atau santunan asuransi
kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna dan bea siswa
• Natura/kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah
• Iuran pensiun kepada dana pensiun yang telah
disahkan Menkeu, iuran THT/JHT yang dibayar
pemberi kerja
• Zakat/sumbangan wajib keagamaan dari
badan/lembaga yang dibentuk/disahkan pemerintah
• Bea siswa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat
(3) huruf l UU PPh
Setiap Masa Pajak,
kecuali Masa Pajak terakhir
PPh Pasal 21:
Pegawai tetap dan Penerima Pensiun Berkala
Masa Pajak terakhir
Perkiraan Penghasilan Neto
yang akan diterima selama
setahun,
 Penghasilan teratur
sebulan dikali 12
Selisih antara PPh yang
terutang atas seluruh
penghasilan kena pajak
selama setahun dengan PPh
yang telah dipotong masa-
masa sebelumnya
Disetahunkan Tidak Disetahunkan
1. WP OP DN meninggal
dunia atau meninggalkan
Indonesia selamanya;
2. Orang asing mulai
bekerja di Indonesia
pada tahun berjalan
untuk jangka waktu lebih
dari 6 bulan;
3. Karyawan pindah cabang
1. WP OP DN mulai bekerja
pada tahun berjalan;
2. WP OP DN pindah kerja
ke pemberi kerja yang
lain
Masa Perolehan Penghasilan Kurang dari 12 Bulan
• Pak Thukul bekerja pada PT. Arwana dengan perincian penghasilan sbb:
• Gaji Rp. 15.000.000/bulan
• Tunjangan Rp. 1.000.000/bulan
• Pak Thukul sudah menikah dan mempunyai anak yang lahir pada tanggal 3 Januari
2019. masuk Kerja Sejak Bulan Juli 2019, Kemudian Pak Tukul berhenti bekerja
pada tanggal 1 Juni 2021
Dit ?
1. Hitung PPh 21 Tahun 2019
2. Hitung PPh 21 Tahun 2020
3. Hitung PPh 21 Tahun 2021
Tidak Di satahunkan
Pegawai tetap
Gaji, Tunjangan, Premi Asuransi
Dibayar Pemberi Kerja
Uang Pensiun Berkala
Dikurangi dengan
1. Biaya jabatan, 5% dari pengh.
Bruto maks. Rp6.000.000 per
tahun atau Rp500.000 per bulan
2. Iuran pensiun, THT/JHT yang
dibayar sendiri
Dikurangi dengan
Biaya Pensiun, 5% dari pengh.
Bruto maks. Rp2.400.000 per
tahun atau Rp200.000 perbulan
Penerima pensiun
Penghasilan Neto (setahun/disetahunkan)
Dikurangi PTKP
Penghasilan Kena Pajak
Dikenakan Tarif Pasal 17
Penghitungan PPh Pasal 21
Rp36.000.000,- Untuk diri Wajib Pajak
Rp3.000.000,-
Rp3.000.000,-
Tambahan utk WP Kawin
Tambahan untuk setiap
anggota keluarga sedarah
semenda dalam garis
keturunan lurus serta anak
angkat yg menjadi tanggungan
sepenuhnya maksimal 3 orang
penerapan PTKP ditentukan oleh keadaan pada awal tahun
kalender atau awal bulan dari bagian tahun kalender
PTKP:
PMK 122 Tahun 2015
Rp54.000.000,- Untuk diri Wajib Pajak
Rp4.500.000,-
Rp4.500.000,-
Tambahan utk WP Kawin
Tambahan untuk setiap
anggota keluarga sedarah
semenda dalam garis
keturunan lurus serta anak
angkat yg menjadi tanggungan
sepenuhnya maksimal 3 orang
penerapan PTKP ditentukan oleh keadaan pada awal tahun
kalender atau awal bulan dari bagian tahun kalender
PTKP:
PMK 101 Tahun 2016
Hanya untuk
diri sendiri
Kawin
1. Diri sendiri;
2. Tanggungan
maks 3.
Tidak
Kawin
1. Diri sendiri;
2. Status kawin;
3. Tanggungan
maks 3.
Kawin
Suami tidak
berpenghasilan
menunjukkan ket. tertulis dari pemerintah daerah setempat
serendah-rendahnya kecamatan bahwa suami tidak menerima/
memperoleh penghasilan
PTKP Karyawati
5%
Sampai dengan Rp 50 juta
15%
Diatas Rp 50 juta s.d. Rp 250 juta
25%
Diatas Rp 250 juta s.d. Rp 500 juta
30%
Di atas Rp 500 juta
Sesuai
Pasal 17 ayat
(1) huruf a
UU PPh
Tarif
VARIASI PENGHITUNGAN
PPh PASAL 21 PEGAWAI TETAP
• NORMAL
• BROKEN PERIOD (AWAL DAN AKHIR)
• BONUS (PH TIDAK TERATUR)
• RAPEL
• KARYAWAN MENINGGAL
• PINDAH CABANG
KARYAWAN WNA PADA TAHUN BERJALAN
• PINDAH KERJA
• PENSIUN
• DSB
Skema Perhitungan PPh Pasal 21 secara Umum (Pegawai Tetap)
Penghasilan sebulan :
1 Gaji Pokok (sebulan) XXX
2 Tunjangan PPh XXX
3 Tunjangan Lainnya (transport, makan,jabatan, dll) XXX
4 Premi Asuransi - JKK, JK, JPK (Yg dibayar Pemberi kerja) xxx +/+ Tarif Pasal 17 UU PPh
- Jaminan Kecelakaan Kerja, J. Kematian, J. Pelayanan Kesehatan (Progresive)
5 Penghasilan Bruto sebulan XXX (Jml 1 s.d 4) Tarif Gol. Penghasilan
Pengurang Pengh. Bruto : 5% 0 - 25 Jt
6 Biaya Jabatan / B. pensiun (5% x Pengh. Bruto) XXX 10% 25 s.d 50 Jt
- max. 108,000/36,000 per bl atau 1,296,000/432.000 per th 15% 50 s.d 100 Jt
7 Iuran Pensiun, IHT (Yg Dibayar Sendiri Karyawan) XXX +/+ 25% 100 s.d 200 Jt
XXX -/- 35% > 200 Jt
8 Penghasilan Netto sebulan XXX
9 Penghasilan Netto setahun/disetahunkan XXX
Dikurangi PTKP :
10 PTKP setahun ( based per awal th) XXX -/-
11 Penghasilan Kena Pajak (PKP) setahun - dlm pembulatan ribuan XXX (dari 9-10)
12 PPh Pasal 21 terutang setahun (Tarif Pasal 17 UU PPh) XXX
13 PPh Pasal 21 terutang sebulan XXX (12/jml bl)
Keterangan :
=> Premi Asuransi - JKK, JK, JPK Yg dibayar Karyawan sendiri -dikenakan pajak di depan
- bukan mrpk pengurang (non deductible expenses ) bagi pemberi kerja dan bukan pengurang pengh. bagi
karyawan (= scr tdk lgsg dikenakan pajak di depan)
=> Iuran Pensiun, IHT Yg dibayar Pemberi kerja
- mrpk pengurang (deductible expenses ) bagi pemberi kerja dan bukan penambah pengh. bagi karyawan krn akan
dikenakan di kmd hari saat dibayarkan dana pensiun
Update
Tarif Gol. Penghasilan
5% 0 S.D. 50.000.000
15% 50.000.000 S.D. 250.000.000
25% 250.000.000 S.D. 500.000.000
30% >500.000.000
SE-02 TH 1996 JO S-160 TH 2003, PERPRES 28/2016
SE-02 TH 1996 JO S-160 TH 2003,
Perpres 82 Tahun 2018
Perpres 75 Tahun 2019
Perubahan Terakir Perpres 64Tahun 2020
Pasal 32
• Pemberi Kerja 4% dari Gaji dan Rp12.000.000
• Karyawan 1% dari Gaji dan Rp12.000.000
• Pak Thukul bekerja pada PT. Arwana dengan perincian penghasilan sbb:
• Gaji Rp. 15.000.000/bulan
• Tunjangan Rp. 1.000.000/bulan
• PT. Arwana mengikuti Program Jamsostek sesuai ketentuan sbb:
• JKK (kecelakaan kerja) dbyr perusahaan 0,24% dari gaji pokok
• JKM (kematian) dbyr perusahaan 0,30% dari gaji pokok
• JPK (kesehatan) dbyr perusahaan 6% dari gaji pokok
• JHT dibayar perusahan 3,7% dari gaji pokok
• JHT dibayar karyawan 2% dari gaji pokok
• Pak Thukul sudah menikah dan mempunyai anak yang lahir pada tanggal 3 Januari
2019. Hitung PPh Pasal 21 untuk tahun 2019
• Pak Thukul sudah menikah dan mempunyai anak yang lahir pada tanggal 3 Januari
2019. Hitung PPh Pasal 21 untuk tahun 2019 MASUK KERJA SEJAK AGUSTUS
Ilustrasi – Pegawai Tetap
• Pak Thukul bekerja pada PT. Arwana dengan perincian penghasilan sbb:
• Gaji Rp. 15.000.000/bulan
• Tunjangan Rp. 1.000.000/bulan
• PT. Arwana mengikuti Program Jamsostek sesuai ketentuan sbb:
• JKK (kecelakaan kerja) dbyr perusahaan 0,24% dari gaji pokok
• JKM (kematian) dbyr perusahaan 0,30% dari gaji pokok
• JPK (kesehatan) dbyr perusahaan 6% dari gaji pokok
• JHT dibayar perusahan 3,7% dari gaji pokok
• JHT dibayar karyawan 2% dari gaji pokok
• Pak Thukul sudah menikah dan mempunyai anak yang lahir pada tanggal 3 Januari
2015. Hitung PPh Pasal 21 untuk tahun 2015
• Pada 1 Juli 2015 Pak Thukul mendapatkan THR sebesar Rp5jt, Hitung PPh atas
THRnya?
Ilustrasi – Pegawai Tetap
Contoh perhitungn (Per 32 dan thn 2015)
• NORMAL (Ahmad Zakaria dan Bambang Yuliawan)
• BROKEN PERIOD (AWAL DAN AKHIR Budiyanta bekerja/Arip Marwanto)
• BONUS (contoh di slide berikutnya)
• RAPEL (contoh di slide berikutnya)
• KARYAWAN MENINGGAL (Lewis Oshea )
• PINDAH CABANG (Agus Saparudin)
• KARYAWAN WNA PADA TAHUN BERJALAN Per-31 Hal 62 (Lewis Oshea )
• PINDAH KERJA (sama dengan broken periode)
• PENSIUN (Hari Irawan) dan Per 68 penjelasan pasal 5
• DSB
Upah/Uang Saku Harian, Mingguan,
Satuan, Borongan
Dibayarkan Bulanan Atau Jumlah
Upah Kumulatif satu bulan
melebihi Rp 10.200.000
Upah/Uang Saku Harian
≤ 450.000 > 450.000
Tidak Dipotong Dikurangi 450.000
Dipotong 5%
Upah kumulatif > Rp4,5 jt s.d. Rp10,2 jt sebulan
Upah sehari dikurangi PTKP sehari
Tarif PPh 21 = 5%
Dikali 12
Dikurangi PTKP Setahun
Penghasilan Kena Pajak
Dikenakan Tarif Ps 17
PPh Ps 21 Setahun
Dibagi 12
PPh Pasal 21 Sebulan
PPh Pasal 21
Pegawai Tidak Tetap/Tenaga Kerja Lepas
Penghitungan PPh Pasal 21 – BUKAN PEGAWAI
Update-PER-31
JO 57/PJ/2009
PASAL 9
berkesinambungan Berkesinambungan
Exc. Pasal 13 ayat (1)
Tidak
berkesinambungan
(50 % x Ph Bruto)
-
PTKP sebulan,
Dihitung secara
kumulatif
(50 % x Ph Bruto)
Dihitung secara
kumulatif
(50 % x Ph Bruto)
Dalam hal Dokter Yang Praktik di RS/Klinik Jumlah Penghasilan Bruto adalah
Sebesar Jasa Dokter Yang Dibayarkan Pasien melalui RS/Klinik sebelum
Dipotong Biaya-Biaya atau Bagi Hasil RS/Klinik
Syarat dapat PTKP (pasal 13 ayat 1)
- Ber NPWP
- Ph dari hubungan kerja dengan satu pemotong
- Serta tidak memperoleh penghasila lain
PPh Pasal 21:
Bukan Pegawai
Tarif Pasal 17 atas Penghasilan Bruto
PPh Pasal 21:
Lainnya
Dewan Komisaris/
Pengawas non
Pegawai tetap
Mantan Pegawai
Peserta program
Pensiun yang masih
Berstatus pegawai
honorarium atau
imbalan yang
bersifat tidak teratur
jasa produksi,
tantiem, gratifikasi,
bonus atau imbalan
lain yang bersifat
tidak teratur
penarikan dana
pensiun
Tarif Pasal 17
UU PPh
Penghasilan Bruto
Penghasilan Bruto merupakan pembayaran yang bersifat utuh
dan tidak dipecah
PPh Pasal 21:
Peserta Kegiatan
PEGAWAI
BUKAN PEGAWAI
TIDAK BERKESINAMBUNGAN
BERKESINAMBUNGAN
PENSIUNAN
TETAP
TIDAK TETAP
Ph NETO - PTKP
BULANAN
HARIAN
Ph BRUTO - PTKP
(50% X Ph Bruto) Kumulatif
50 % x Ph Bruto
Ph NETO - PTKP
BERKALA
Ph BRUTO – 450 RIBU
Ph BRUTO(>4,5jt s.d.10,2jt)
–
PTKP Harian
Ph Bruto Kumulatif
BERKESINAMBUNGAN exc Psl 13 (1)
((50% X Ph Bruto) - PTKP bulanan)
Kumulatif
PESERTA KEGIATAN
Ph BRUTO(>10,2jt) – PTKP
KOMISARIS, MANTAN PEGAWAI,
PENARIKAN DAPEN O/ PEGAWAI
Ph Bruto
Penerima Penghasilan Tidak ber-NPWP
PPh Pasal 21 sebesar 120%
lebih tinggi daripada PPh
Pasal 21 yang seharusnya
(20% lebih tinggi)
Tidak berlaku untuk PPh Pasal 21 yang bersifat final
Setelah pemotongan
PPh Pasal 21 bulan
Desember
sebelum pemotongan
PPh Pasal 21 bulan
Desember
Ber-NPWP
Diperhitungkan oleh
pemotong dengan
PPh Pasal 21 bulan-
bulan selanjutnya
merupakan kredit
pajak dalam SPT
Tahunan PPh
Ketentuan Khusus
1. Uang Pesangon
2. Uang Manfaat Pensiun
3. THT/JHT
yang dibayarkan sekaligus
Penghasilan bersumber dari
APBN/D yang diterima oleh
Pejabat Negara, PNS,
Anggota, TNI/Polri, dan
Pensiunannya
PP 68 Tahun 2009 PP 80 Tahun 2010
Penghasilan berupa Uang Pesangon,
> 0 s/d 50.000.000,- Tidak Kena Pajak
> 50 juta s/d 100 juta 5%
100 juta s/d 500 juta 15%
> 500 juta 25%
Bersifat
FINAL
Uang Pesangon, Uang Tebusan
Pensiun dan THT/JHT dibayar sekaligus
Contoh
(penjelasan PP
68 pasal 4)
#7
diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan
tersendiri (PP 68 tahun 2009)
Update
Contoh penghitungan pph 21
uang pesangon
• Penghasilan bruto Rp 175.000.000,00
• Pajak Penghasilan Pasal 21 terutang :
• 0% x Rp50.000.000,00 = Rp 0,00
• 5% x Rp50.000.000,00 = Rp 2.500.000,00
• 15% x Rp75.000.000,00 = Rp 11.250.000,00 (+)
______________
• PPh 21 terutang Rp13.750.000,00
Uang Tebusan
Pensiun dan Tunjangan Hari Tua atau Jaminan
Hari Tua yg dibayarkan sekaligus
> 0 s/d 50.000.000,- 0%
> 50 juta 5%
Bersifat
FINAL
Uang Pesangon, Uang Tebusan
Pensiun dan THT/JHT dibayar sekaligus
Contoh
(penjelasan PP
68 pasal 4)
#7
diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan
tersendiri (PP 68 tahun 2009)
Update
Contoh…
• JHT yang dibayarkan sekaligus Rp 150.000.000,00
• Pajak Penghasilan Pasal 21 yang terutang:
• 0% x Rp 50.0000.000,00 = Rp 0,00
• 5% x Rp 100.000.000,00 = Rp 5.000.000,00
Jumlah = Rp 5.000.000,00
Penghitungan PPh Pasal 21 - #6
Penghasilan berupa Honor dan Imbalan lain
Diterima Pejabat Negara, PNS, anggota TNI/POLRI sumber dana
dari Keuangan Negara /Daerah, kecuali yang dibayarkan kepada
PNS golongan II d ke bawah dan anggota TNI/POLRI berpangkat
Pembantu Letnan Satu ke bawah atau Ajun Inspektur Tingkat Satu
ke bawah.
0% dari jumlah bruto bagi PNS Golongan I dan II, Anggota TNI dan
Anggota Polri berpangkat Tamtama dan Bintara, dan pensiunannya.
Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun
2010 TMT 1 Jan 2011
Update
5% dari jumlah bruto bagi PNS Golongan III, Anggota TNI dan
Anggota Polri berpangkat Perwira Pertama, dan pensiunannya..
15% dari jumlah bruto bagi PNS Golongan IV, Anggota TNI dan
Anggota Polri berpangkat Perwira Menengah dan Perwira Tinggi, dan
pensiunannya.
PPh Pasal 26
Tarif Pasal 26:
20 %
Penghasilan Bruto
Memperhatikan
Ketentuan P3B
Saat terutang
PPh Pasal 21/26
Penerima penghasilan
akhir bulan dilaku-
kannya pembayaran
atau
akhir bulan
terutangnya
penghasilan
Pemotong
Saat dilakukannya
pembayaran
atau
saat terutangnya
penghasilan
Kewajiban Pemotong
• Wajib Mendaftarkan Diri ke KPP
• Wajib menghitung, memotong, menyetorkan dan melaporkan
PPh Pasal 21 dan Pasal 26 yang terutang untuk setiap bulan
kalender.
• PPh Pasal 21/26 yang dipotong wajib disetor ke Kantor Pos
atau Bank paling lama 10 hari setelah Masa Pajak berakhir.
• Pemotong Pajak wajib lapor sekalipun nihil, paling lama 20
hari setelah Masa Pajak berakhir.
• Wajib Membuat Catatan atau Kertas Kerja Perhitungan PPh
Ps. 21/26 Untuk Setiap Masa Pajak
• Wajib Menyimpan Catatan atau Kertas Kerja Sesuai
Ketentuan
• Wajib Membuat Bukti Potong dan Memberikannya Kepada
Penerima Penghasilan
Bukti Pemotongan PPh Pasal 21
• Untuk pegawai tetap/penerima pensiun berkala:
– dibuat sekali setahun (Form 1721 A1/A2)
– diberikan paling lama 1 bulan setelah akhir tahun atau
pegawai berhenti
• Untuk selain pegawai tetap/penerima pensiun berkala:
– Dibuat setiap kali ada pemotongan
– Jika dalam satu bulan > 1 kali pembayaran maka bukti
potong dapat dibuat sekali dalam satu bulan
• Bukti Potong PPh Pasal 21 Tidak wajib dilampirkan dalam
SPT Masa PPh Pasal 21
Kewajiban Penerima Penghasilan
• Wajib Mendaftarkan Diri ke KPP
• Pegawai, Penerima Pensiun Berkala, dan Bukan Pegawai
tertentu Wajib Membuat Surat Pernyataan Yang Berisi Jumlah
Tanggungan Keluarga Pada Awal Tahun Kalender Atau Pada
Saat Menjadi Subjek Pajak Dalam Negeri
• Wajib Menyerahkan Surat Pernyataan Tanggungan Keluarga
kpd Pemotong Pajak Pada Saat Mulai Bekerja Atau Mulai
Pensiun
• Wajib Membuat Surat Pernyataan Baru Dalam Hal Terjadi
Perubahan Tanggungan Keluarga Paling Lambat Sebelum
Mulai Tahun Kalender Berikutnya
Terima Kasih
B Perhitungan PPh ps. 21 atas THR / Bonus
1 Penghasilan Bruto Setahun/6 bl utk Aji :
a Gaji Pokok 300.000.000
b Tunjangan Khusus : 20% x Gaji Pkk 60.000.000
c Premi JKK & JKM : 1,19% x Gaji Pkk 3.570.000
d THR / Bonus 25.000.000
e Jumlah 388.570.000
2 Pengurangan :
a Biaya Jabatan 6.000.000
b Iuran JHT : 2% x Gaji Pkk 6.000.000
c Jumlah 12.000.000
3 Penghasilan Netto Setahun/6 bl utk Aji 376.570.000
4 PTKP 67.500.000
5 Penghasilan Kena Pajak (PKP) 309.070.000
6 PPh ps. 21 setahun atas Gaji & THR 47.267.500
7 PPh ps. 21 atas THR / Bonus (B6-A7) 6.250.000

SLIDE PER 31 TAHUN 2021 (1).pptx

  • 1.
    PERATURAN DIREKTUR JENDERALPAJAK NOMOR PER- 16/PJ/2016 PEDOMAN TEKNIS TATA CARA PEMOTONGAN, PENYETORAN DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 DAN/ATAU PAJAK PENGHASILAN PASAL 26 SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN, JASA, DAN KEGIATAN ORANG PRIBADI Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pajak Tahun 2015
  • 2.
    SPDN SPLN 1. Pekerjaan; 2.Jasa; 3. Kegiatan yang dilakukan orang pribadi PPh Pasal 21 PPh Pasal 26 Gaji, Upah, Honorarium, Tunjangan, dan Pembayaran lain dengan nama/bentuk apapun
  • 3.
    Pemotong PPh Pasal21/26 • pemberi kerja yang terdiri dari: a. orang pribadi dan badan; b. cabang, perwakilan atau unit, dalam hal yang melakukan sebagian atau seluruh administrasi yang terkait dengan pembayaran gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain adalah cabang, perwakilan atau unit tersebut. • bendahara atau pemegang kas pemerintah • dana pensiun, badan penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja dan badan-badan lain • orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta badan yang melakukan pembayaran sehubungan dengan penyerahan jasa • Penyelenggara kegiatan
  • 4.
    Pemberi Kerja BukanPemotong PPh Pasal 21/26 • Kantor perwakilan negara asing • Organisasi-organisasi internasional yang ditetapkan Menteri Keuangan • Pemberi kerja orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang semata- mata memperkerjakan orang pribadi untuk melakukan pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan bukan dalam rangka melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas
  • 5.
    Penerima Penghasilan yangDikenakan PPh Pasal 21/26 • pegawai; • penerima uang pesangon, pensiun atau uang manfaat pensiun, THT, JHT, termasuk ahli warisnya; • bukan pegawai; • anggota dewan komisaris/pengawas yang tidak merangkap sebagai pegawai; • mantan pegawai; • peserta kegiatan: – Peserta perlombaan – Peserta rapat, konferensi, sidang, pertemuan, kunjungan kerja – Peserta/anggota kepanitiaan – Peserta pendidikan, pelatihan dan magang – Peserta kegiatan lainnya
  • 6.
    Penghasilan yang DikenakanPPh Pasal 21/26 • penghasilan pegawai tetap baik teratur maupun tidak teratur • penghasilan penerima pensiun secara teratur • uang pesangon, pensiun, tunjangan hari tua, atau jaminan hari tua yang dibayarkan sekaligus, yang pembayarannya melewati jangka waktu 2 tahun; • penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas • imbalan kepada bukan pegawai; • imbalan kepada peserta kegiatan; • imbalan kepada dewan komisaris/pengawas yang bukan merupakan pegawai tetap pada perusahaan yang sama; • imbalan kepada mantan pegawai; • penarikan dana pensiun oleh pegawai. • Wajib Pajak PPh Final • Wajib Pajak Norma Penghitungan Khusus Termasuk: Natura/Kenikmatan dari:
  • 7.
    Penghitungan Besarnya Penghasilan Uang rupiahUang asing Natura/kenikmatan an sesuai dengan yang diterima/diperoleh Kurs Menteri Keuangan Harga Pasar
  • 8.
    Penghasilan yang TidakDikenakan PPh Pasal 21/26 • Pembayaran manfaat atau santunan asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna dan bea siswa • Natura/kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah • Iuran pensiun kepada dana pensiun yang telah disahkan Menkeu, iuran THT/JHT yang dibayar pemberi kerja • Zakat/sumbangan wajib keagamaan dari badan/lembaga yang dibentuk/disahkan pemerintah • Bea siswa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf l UU PPh
  • 9.
    Setiap Masa Pajak, kecualiMasa Pajak terakhir PPh Pasal 21: Pegawai tetap dan Penerima Pensiun Berkala Masa Pajak terakhir Perkiraan Penghasilan Neto yang akan diterima selama setahun,  Penghasilan teratur sebulan dikali 12 Selisih antara PPh yang terutang atas seluruh penghasilan kena pajak selama setahun dengan PPh yang telah dipotong masa- masa sebelumnya
  • 10.
    Disetahunkan Tidak Disetahunkan 1.WP OP DN meninggal dunia atau meninggalkan Indonesia selamanya; 2. Orang asing mulai bekerja di Indonesia pada tahun berjalan untuk jangka waktu lebih dari 6 bulan; 3. Karyawan pindah cabang 1. WP OP DN mulai bekerja pada tahun berjalan; 2. WP OP DN pindah kerja ke pemberi kerja yang lain Masa Perolehan Penghasilan Kurang dari 12 Bulan
  • 11.
    • Pak Thukulbekerja pada PT. Arwana dengan perincian penghasilan sbb: • Gaji Rp. 15.000.000/bulan • Tunjangan Rp. 1.000.000/bulan • Pak Thukul sudah menikah dan mempunyai anak yang lahir pada tanggal 3 Januari 2019. masuk Kerja Sejak Bulan Juli 2019, Kemudian Pak Tukul berhenti bekerja pada tanggal 1 Juni 2021 Dit ? 1. Hitung PPh 21 Tahun 2019 2. Hitung PPh 21 Tahun 2020 3. Hitung PPh 21 Tahun 2021 Tidak Di satahunkan
  • 12.
    Pegawai tetap Gaji, Tunjangan,Premi Asuransi Dibayar Pemberi Kerja Uang Pensiun Berkala Dikurangi dengan 1. Biaya jabatan, 5% dari pengh. Bruto maks. Rp6.000.000 per tahun atau Rp500.000 per bulan 2. Iuran pensiun, THT/JHT yang dibayar sendiri Dikurangi dengan Biaya Pensiun, 5% dari pengh. Bruto maks. Rp2.400.000 per tahun atau Rp200.000 perbulan Penerima pensiun Penghasilan Neto (setahun/disetahunkan) Dikurangi PTKP Penghasilan Kena Pajak Dikenakan Tarif Pasal 17 Penghitungan PPh Pasal 21
  • 13.
    Rp36.000.000,- Untuk diriWajib Pajak Rp3.000.000,- Rp3.000.000,- Tambahan utk WP Kawin Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yg menjadi tanggungan sepenuhnya maksimal 3 orang penerapan PTKP ditentukan oleh keadaan pada awal tahun kalender atau awal bulan dari bagian tahun kalender PTKP: PMK 122 Tahun 2015
  • 14.
    Rp54.000.000,- Untuk diriWajib Pajak Rp4.500.000,- Rp4.500.000,- Tambahan utk WP Kawin Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yg menjadi tanggungan sepenuhnya maksimal 3 orang penerapan PTKP ditentukan oleh keadaan pada awal tahun kalender atau awal bulan dari bagian tahun kalender PTKP: PMK 101 Tahun 2016
  • 15.
    Hanya untuk diri sendiri Kawin 1.Diri sendiri; 2. Tanggungan maks 3. Tidak Kawin 1. Diri sendiri; 2. Status kawin; 3. Tanggungan maks 3. Kawin Suami tidak berpenghasilan menunjukkan ket. tertulis dari pemerintah daerah setempat serendah-rendahnya kecamatan bahwa suami tidak menerima/ memperoleh penghasilan PTKP Karyawati
  • 16.
    5% Sampai dengan Rp50 juta 15% Diatas Rp 50 juta s.d. Rp 250 juta 25% Diatas Rp 250 juta s.d. Rp 500 juta 30% Di atas Rp 500 juta Sesuai Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh Tarif
  • 17.
    VARIASI PENGHITUNGAN PPh PASAL21 PEGAWAI TETAP • NORMAL • BROKEN PERIOD (AWAL DAN AKHIR) • BONUS (PH TIDAK TERATUR) • RAPEL • KARYAWAN MENINGGAL • PINDAH CABANG KARYAWAN WNA PADA TAHUN BERJALAN • PINDAH KERJA • PENSIUN • DSB
  • 18.
    Skema Perhitungan PPhPasal 21 secara Umum (Pegawai Tetap) Penghasilan sebulan : 1 Gaji Pokok (sebulan) XXX 2 Tunjangan PPh XXX 3 Tunjangan Lainnya (transport, makan,jabatan, dll) XXX 4 Premi Asuransi - JKK, JK, JPK (Yg dibayar Pemberi kerja) xxx +/+ Tarif Pasal 17 UU PPh - Jaminan Kecelakaan Kerja, J. Kematian, J. Pelayanan Kesehatan (Progresive) 5 Penghasilan Bruto sebulan XXX (Jml 1 s.d 4) Tarif Gol. Penghasilan Pengurang Pengh. Bruto : 5% 0 - 25 Jt 6 Biaya Jabatan / B. pensiun (5% x Pengh. Bruto) XXX 10% 25 s.d 50 Jt - max. 108,000/36,000 per bl atau 1,296,000/432.000 per th 15% 50 s.d 100 Jt 7 Iuran Pensiun, IHT (Yg Dibayar Sendiri Karyawan) XXX +/+ 25% 100 s.d 200 Jt XXX -/- 35% > 200 Jt 8 Penghasilan Netto sebulan XXX 9 Penghasilan Netto setahun/disetahunkan XXX Dikurangi PTKP : 10 PTKP setahun ( based per awal th) XXX -/- 11 Penghasilan Kena Pajak (PKP) setahun - dlm pembulatan ribuan XXX (dari 9-10) 12 PPh Pasal 21 terutang setahun (Tarif Pasal 17 UU PPh) XXX 13 PPh Pasal 21 terutang sebulan XXX (12/jml bl) Keterangan : => Premi Asuransi - JKK, JK, JPK Yg dibayar Karyawan sendiri -dikenakan pajak di depan - bukan mrpk pengurang (non deductible expenses ) bagi pemberi kerja dan bukan pengurang pengh. bagi karyawan (= scr tdk lgsg dikenakan pajak di depan) => Iuran Pensiun, IHT Yg dibayar Pemberi kerja - mrpk pengurang (deductible expenses ) bagi pemberi kerja dan bukan penambah pengh. bagi karyawan krn akan dikenakan di kmd hari saat dibayarkan dana pensiun Update Tarif Gol. Penghasilan 5% 0 S.D. 50.000.000 15% 50.000.000 S.D. 250.000.000 25% 250.000.000 S.D. 500.000.000 30% >500.000.000
  • 19.
    SE-02 TH 1996JO S-160 TH 2003, PERPRES 28/2016
  • 20.
    SE-02 TH 1996JO S-160 TH 2003, Perpres 82 Tahun 2018 Perpres 75 Tahun 2019 Perubahan Terakir Perpres 64Tahun 2020 Pasal 32 • Pemberi Kerja 4% dari Gaji dan Rp12.000.000 • Karyawan 1% dari Gaji dan Rp12.000.000
  • 21.
    • Pak Thukulbekerja pada PT. Arwana dengan perincian penghasilan sbb: • Gaji Rp. 15.000.000/bulan • Tunjangan Rp. 1.000.000/bulan • PT. Arwana mengikuti Program Jamsostek sesuai ketentuan sbb: • JKK (kecelakaan kerja) dbyr perusahaan 0,24% dari gaji pokok • JKM (kematian) dbyr perusahaan 0,30% dari gaji pokok • JPK (kesehatan) dbyr perusahaan 6% dari gaji pokok • JHT dibayar perusahan 3,7% dari gaji pokok • JHT dibayar karyawan 2% dari gaji pokok • Pak Thukul sudah menikah dan mempunyai anak yang lahir pada tanggal 3 Januari 2019. Hitung PPh Pasal 21 untuk tahun 2019 • Pak Thukul sudah menikah dan mempunyai anak yang lahir pada tanggal 3 Januari 2019. Hitung PPh Pasal 21 untuk tahun 2019 MASUK KERJA SEJAK AGUSTUS Ilustrasi – Pegawai Tetap
  • 22.
    • Pak Thukulbekerja pada PT. Arwana dengan perincian penghasilan sbb: • Gaji Rp. 15.000.000/bulan • Tunjangan Rp. 1.000.000/bulan • PT. Arwana mengikuti Program Jamsostek sesuai ketentuan sbb: • JKK (kecelakaan kerja) dbyr perusahaan 0,24% dari gaji pokok • JKM (kematian) dbyr perusahaan 0,30% dari gaji pokok • JPK (kesehatan) dbyr perusahaan 6% dari gaji pokok • JHT dibayar perusahan 3,7% dari gaji pokok • JHT dibayar karyawan 2% dari gaji pokok • Pak Thukul sudah menikah dan mempunyai anak yang lahir pada tanggal 3 Januari 2015. Hitung PPh Pasal 21 untuk tahun 2015 • Pada 1 Juli 2015 Pak Thukul mendapatkan THR sebesar Rp5jt, Hitung PPh atas THRnya? Ilustrasi – Pegawai Tetap
  • 23.
    Contoh perhitungn (Per32 dan thn 2015) • NORMAL (Ahmad Zakaria dan Bambang Yuliawan) • BROKEN PERIOD (AWAL DAN AKHIR Budiyanta bekerja/Arip Marwanto) • BONUS (contoh di slide berikutnya) • RAPEL (contoh di slide berikutnya) • KARYAWAN MENINGGAL (Lewis Oshea ) • PINDAH CABANG (Agus Saparudin) • KARYAWAN WNA PADA TAHUN BERJALAN Per-31 Hal 62 (Lewis Oshea ) • PINDAH KERJA (sama dengan broken periode) • PENSIUN (Hari Irawan) dan Per 68 penjelasan pasal 5 • DSB
  • 24.
    Upah/Uang Saku Harian,Mingguan, Satuan, Borongan Dibayarkan Bulanan Atau Jumlah Upah Kumulatif satu bulan melebihi Rp 10.200.000 Upah/Uang Saku Harian ≤ 450.000 > 450.000 Tidak Dipotong Dikurangi 450.000 Dipotong 5% Upah kumulatif > Rp4,5 jt s.d. Rp10,2 jt sebulan Upah sehari dikurangi PTKP sehari Tarif PPh 21 = 5% Dikali 12 Dikurangi PTKP Setahun Penghasilan Kena Pajak Dikenakan Tarif Ps 17 PPh Ps 21 Setahun Dibagi 12 PPh Pasal 21 Sebulan PPh Pasal 21 Pegawai Tidak Tetap/Tenaga Kerja Lepas
  • 25.
    Penghitungan PPh Pasal21 – BUKAN PEGAWAI Update-PER-31 JO 57/PJ/2009 PASAL 9
  • 26.
    berkesinambungan Berkesinambungan Exc. Pasal13 ayat (1) Tidak berkesinambungan (50 % x Ph Bruto) - PTKP sebulan, Dihitung secara kumulatif (50 % x Ph Bruto) Dihitung secara kumulatif (50 % x Ph Bruto) Dalam hal Dokter Yang Praktik di RS/Klinik Jumlah Penghasilan Bruto adalah Sebesar Jasa Dokter Yang Dibayarkan Pasien melalui RS/Klinik sebelum Dipotong Biaya-Biaya atau Bagi Hasil RS/Klinik Syarat dapat PTKP (pasal 13 ayat 1) - Ber NPWP - Ph dari hubungan kerja dengan satu pemotong - Serta tidak memperoleh penghasila lain PPh Pasal 21: Bukan Pegawai
  • 27.
    Tarif Pasal 17atas Penghasilan Bruto PPh Pasal 21: Lainnya Dewan Komisaris/ Pengawas non Pegawai tetap Mantan Pegawai Peserta program Pensiun yang masih Berstatus pegawai honorarium atau imbalan yang bersifat tidak teratur jasa produksi, tantiem, gratifikasi, bonus atau imbalan lain yang bersifat tidak teratur penarikan dana pensiun
  • 28.
    Tarif Pasal 17 UUPPh Penghasilan Bruto Penghasilan Bruto merupakan pembayaran yang bersifat utuh dan tidak dipecah PPh Pasal 21: Peserta Kegiatan
  • 29.
    PEGAWAI BUKAN PEGAWAI TIDAK BERKESINAMBUNGAN BERKESINAMBUNGAN PENSIUNAN TETAP TIDAKTETAP Ph NETO - PTKP BULANAN HARIAN Ph BRUTO - PTKP (50% X Ph Bruto) Kumulatif 50 % x Ph Bruto Ph NETO - PTKP BERKALA Ph BRUTO – 450 RIBU Ph BRUTO(>4,5jt s.d.10,2jt) – PTKP Harian Ph Bruto Kumulatif BERKESINAMBUNGAN exc Psl 13 (1) ((50% X Ph Bruto) - PTKP bulanan) Kumulatif PESERTA KEGIATAN Ph BRUTO(>10,2jt) – PTKP KOMISARIS, MANTAN PEGAWAI, PENARIKAN DAPEN O/ PEGAWAI Ph Bruto
  • 30.
    Penerima Penghasilan Tidakber-NPWP PPh Pasal 21 sebesar 120% lebih tinggi daripada PPh Pasal 21 yang seharusnya (20% lebih tinggi) Tidak berlaku untuk PPh Pasal 21 yang bersifat final Setelah pemotongan PPh Pasal 21 bulan Desember sebelum pemotongan PPh Pasal 21 bulan Desember Ber-NPWP Diperhitungkan oleh pemotong dengan PPh Pasal 21 bulan- bulan selanjutnya merupakan kredit pajak dalam SPT Tahunan PPh
  • 31.
    Ketentuan Khusus 1. UangPesangon 2. Uang Manfaat Pensiun 3. THT/JHT yang dibayarkan sekaligus Penghasilan bersumber dari APBN/D yang diterima oleh Pejabat Negara, PNS, Anggota, TNI/Polri, dan Pensiunannya PP 68 Tahun 2009 PP 80 Tahun 2010
  • 32.
    Penghasilan berupa UangPesangon, > 0 s/d 50.000.000,- Tidak Kena Pajak > 50 juta s/d 100 juta 5% 100 juta s/d 500 juta 15% > 500 juta 25% Bersifat FINAL Uang Pesangon, Uang Tebusan Pensiun dan THT/JHT dibayar sekaligus Contoh (penjelasan PP 68 pasal 4) #7 diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan tersendiri (PP 68 tahun 2009) Update
  • 33.
    Contoh penghitungan pph21 uang pesangon • Penghasilan bruto Rp 175.000.000,00 • Pajak Penghasilan Pasal 21 terutang : • 0% x Rp50.000.000,00 = Rp 0,00 • 5% x Rp50.000.000,00 = Rp 2.500.000,00 • 15% x Rp75.000.000,00 = Rp 11.250.000,00 (+) ______________ • PPh 21 terutang Rp13.750.000,00
  • 34.
    Uang Tebusan Pensiun danTunjangan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua yg dibayarkan sekaligus > 0 s/d 50.000.000,- 0% > 50 juta 5% Bersifat FINAL Uang Pesangon, Uang Tebusan Pensiun dan THT/JHT dibayar sekaligus Contoh (penjelasan PP 68 pasal 4) #7 diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan tersendiri (PP 68 tahun 2009) Update
  • 35.
    Contoh… • JHT yangdibayarkan sekaligus Rp 150.000.000,00 • Pajak Penghasilan Pasal 21 yang terutang: • 0% x Rp 50.0000.000,00 = Rp 0,00 • 5% x Rp 100.000.000,00 = Rp 5.000.000,00 Jumlah = Rp 5.000.000,00
  • 36.
    Penghitungan PPh Pasal21 - #6 Penghasilan berupa Honor dan Imbalan lain Diterima Pejabat Negara, PNS, anggota TNI/POLRI sumber dana dari Keuangan Negara /Daerah, kecuali yang dibayarkan kepada PNS golongan II d ke bawah dan anggota TNI/POLRI berpangkat Pembantu Letnan Satu ke bawah atau Ajun Inspektur Tingkat Satu ke bawah. 0% dari jumlah bruto bagi PNS Golongan I dan II, Anggota TNI dan Anggota Polri berpangkat Tamtama dan Bintara, dan pensiunannya. Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2010 TMT 1 Jan 2011 Update 5% dari jumlah bruto bagi PNS Golongan III, Anggota TNI dan Anggota Polri berpangkat Perwira Pertama, dan pensiunannya.. 15% dari jumlah bruto bagi PNS Golongan IV, Anggota TNI dan Anggota Polri berpangkat Perwira Menengah dan Perwira Tinggi, dan pensiunannya.
  • 37.
    PPh Pasal 26 TarifPasal 26: 20 % Penghasilan Bruto Memperhatikan Ketentuan P3B
  • 38.
    Saat terutang PPh Pasal21/26 Penerima penghasilan akhir bulan dilaku- kannya pembayaran atau akhir bulan terutangnya penghasilan Pemotong Saat dilakukannya pembayaran atau saat terutangnya penghasilan
  • 39.
    Kewajiban Pemotong • WajibMendaftarkan Diri ke KPP • Wajib menghitung, memotong, menyetorkan dan melaporkan PPh Pasal 21 dan Pasal 26 yang terutang untuk setiap bulan kalender. • PPh Pasal 21/26 yang dipotong wajib disetor ke Kantor Pos atau Bank paling lama 10 hari setelah Masa Pajak berakhir. • Pemotong Pajak wajib lapor sekalipun nihil, paling lama 20 hari setelah Masa Pajak berakhir. • Wajib Membuat Catatan atau Kertas Kerja Perhitungan PPh Ps. 21/26 Untuk Setiap Masa Pajak • Wajib Menyimpan Catatan atau Kertas Kerja Sesuai Ketentuan • Wajib Membuat Bukti Potong dan Memberikannya Kepada Penerima Penghasilan
  • 40.
    Bukti Pemotongan PPhPasal 21 • Untuk pegawai tetap/penerima pensiun berkala: – dibuat sekali setahun (Form 1721 A1/A2) – diberikan paling lama 1 bulan setelah akhir tahun atau pegawai berhenti • Untuk selain pegawai tetap/penerima pensiun berkala: – Dibuat setiap kali ada pemotongan – Jika dalam satu bulan > 1 kali pembayaran maka bukti potong dapat dibuat sekali dalam satu bulan • Bukti Potong PPh Pasal 21 Tidak wajib dilampirkan dalam SPT Masa PPh Pasal 21
  • 41.
    Kewajiban Penerima Penghasilan •Wajib Mendaftarkan Diri ke KPP • Pegawai, Penerima Pensiun Berkala, dan Bukan Pegawai tertentu Wajib Membuat Surat Pernyataan Yang Berisi Jumlah Tanggungan Keluarga Pada Awal Tahun Kalender Atau Pada Saat Menjadi Subjek Pajak Dalam Negeri • Wajib Menyerahkan Surat Pernyataan Tanggungan Keluarga kpd Pemotong Pajak Pada Saat Mulai Bekerja Atau Mulai Pensiun • Wajib Membuat Surat Pernyataan Baru Dalam Hal Terjadi Perubahan Tanggungan Keluarga Paling Lambat Sebelum Mulai Tahun Kalender Berikutnya
  • 42.
  • 43.
    B Perhitungan PPhps. 21 atas THR / Bonus 1 Penghasilan Bruto Setahun/6 bl utk Aji : a Gaji Pokok 300.000.000 b Tunjangan Khusus : 20% x Gaji Pkk 60.000.000 c Premi JKK & JKM : 1,19% x Gaji Pkk 3.570.000 d THR / Bonus 25.000.000 e Jumlah 388.570.000 2 Pengurangan : a Biaya Jabatan 6.000.000 b Iuran JHT : 2% x Gaji Pkk 6.000.000 c Jumlah 12.000.000 3 Penghasilan Netto Setahun/6 bl utk Aji 376.570.000 4 PTKP 67.500.000 5 Penghasilan Kena Pajak (PKP) 309.070.000 6 PPh ps. 21 setahun atas Gaji & THR 47.267.500 7 PPh ps. 21 atas THR / Bonus (B6-A7) 6.250.000