1 
BAB I 
PENDAHULUAN 
1.1. Latar Belakang 
Suatu negara mensejahterakan rakyatnya dengan membangun fasilitas-fasilitas yang 
dibutuhkan masyarakat untuk mendukung kelansungan hidupnya. Berbagai fasilitas yang 
disediakan tidak kita dapatkan hanya dengan meminta dari pemerintah itu sendiri, tetapi kita 
harus mengeluarkan suatu kewajiban rakyat yang disebut dengan pajak. Pajak dinegara kita 
Indonesia terbagi pada beberapa jenis, yaitu : Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Bumi dan 
Bangunan (PBB), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan 
Bangunan (BPHTB) dan Bea Materai. 
Berdasarkan beberapa jenis pajak yang dibebankan negara kepada rakyatnya, pajak 
penghasilan merupakan pajak yang paling diperhatikan oleh masyarakat karena pajak ini 
terbagi pula menjadi beberapa bagian, yaitu PPh Pasal 21,22,23,24,25 dan 26. Dari 6 (enam) 
jenis PPh ini PPh Pasal 21 merupakan pajak penghasilan lebih lumrah dikenal oleh 
masyarakat karena diwajibkan oleh rata-rata orang yang bekerja. 
PPh Pasal 21 dan atau PPh Pasal 26 merupakan pajak penghasilan sehubungan dengan 
pekerjaan, jasa dan kegiatan yang dilakukannya wajib pajak orang pribadi baik itu dalam 
negeri jika itu PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 26 wajib pajak orang pribadi di luar negeri. 
Walaupun sudah ada dalam peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh pemerintah, 
tetapi masih banyak masyarakat yang belum mengetahui secara pasti bagaimana mekanisme 
pemungutan PPh Pasal 21 dan/ atau PPh pasal 26 itu sendiri, serta hal lain yang bekaitan 
dengan hal tersebut. 
Masyarakat menganggap apabila sudah membayar pajak maka kewajibannya sebagai 
warga negara sudah terpenuhi dan hak yang dibutuhkannya sudah dapat dituntut. Padahal 
pengetahuan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kewajiban itu sangat perlu 
diketahui, karena pada akhirnya kita yang akan mengalami kerugian atas ketidaktahuan hal 
tersebut.
Oleh karena itu, didalam makalah ini diuraikan teori tentang PPh Pasal 21 dan/ atau 
PPh Pasal 26 serta formula yang dibutuhkan dalam pemotongan untuk PPh yang 
bersangkutan. 
2 
1.2. Tujuan Penulisan 
1. Untuk dapat mengetahui pengertian dan mekanisme pemotongan PPh Pasal 21 dan/ 
atau PPh Pasal 26. 
2. Agar dapat mengetahui dan menjelaskan pihak yang bertindak sebagai pemotong 
pajak serta kewajibannya. 
3. Agar dapat mengetahui subjek dan non-subjek pajak PPh Pasal 21 dan atau PPh Pasal 
26 serta hak dan kewajibannya. 
4. Agar dapat mengetahui objek dan non-objek pajak PPh Pasal 21 dan atau PPh Pasal 26 
serta objek yang dipotong PPh Pasal 21 dan atau PPh Pasal 26 final. 
5. Untuk dapat mengetahui tata cara perhitungan PPh Pasal 21 dan/ atau PPh Pasal 26 
serta mengaplikasikannya. 
1.3. Manfaat Penulisan 
1. Menambah wawasan Mahasiswa tentang mekanisme pemotongan PPh Pasal 21 dan/ 
atau PPh Pasal 26. 
2. Menciptakan generasi muda yang patuh dan taat pada pajak.
3 
BAB II 
PEMBAHASAN 
2.1. Pengertian dan Dasar Hukum 
2.1.1. PPh Pasal 21 
Menurut Waluyo (2011:201) Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 merupakan 
Pajak Penghasilan yang dikenakan atas penghasilan berupa gaji, honorium, 
tunjangan dan pembayaran lain dengan nama apa pun sehubungan dengan 
pekerjaan, jasa atau kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi 
dalam negeri. 
Dasar hukum pengenaan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 adalah Pasal 21 
Undang-undang pajak Penghasilan Peraturan direktur Jenderal Pajak Nomor Per 
57/Pj./2009 yang baru diubah tanggal 12 Oktober 2009 lalu. Selain itu Peraturan 
Pemerintah Nomor 68 Tahun 2009 tentang pemotongan PPh Pasal 21 atas 
penghasilan berupa uang pesangon, uang tebusan pensiun dan tunjangan hari tua 
beserta peraturan pelaksanaanya telah dimuat. 
Waluyo (2011:202) juga menyatakan bahwa ketentuan pelaksanaan PPh Pasal 
21 akan selalu dilakukan pembaruan sejalan dengan diberlakukannya undang-undang 
pajak penghasilan hasil reformasi perundang-undangan yang berlaku per 1 
Januari 2009 yaitu Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak 
Penghasilan. 
2.1.2. PPh Pasal 26 
Secara umum definisi PPh pasal 21 dan 26 adalah sama, perbedaannya hanya 
pada lokasi atau tempat wajib pajak orang pribadi bermukim. Apabila pada PPh 
Pasal 21 wajib pajak orang pribadi subjek pajak dalam negeri maka PPh Pasal 26 
bagi wajib pajak orang pribadi subjek pajak luar negeri. 
PPh Pasal 26 dapat diartikan sebagai pajak penghasilan yang dikenakan oleh 
pemerintah sehubungan pekerjaan, jasa dan kegiatan yang dilakukan wajib pajak 
orang pribadi luar negeri. 
PPh Pasal 26 terdapat dalam Pasal 26 Undang-undang Pajak Penghasilan 2008 
yang berlaku sejak tanggal 1 Januari 2009. Selain itu diatur dalam Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 258/PMK/.03/2008 tentang pemotongan pajak 
penghasilan Pasal 26. 
4 
2.2. Pemotong Pajak 
Pemotongan pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan 
dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Orang 
Pribadi dalam negeri (Waluyo, 2011:204). 
Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 21 dilakukan oleh : 
1. Pemberi kerja yang terdiri atas orang pribadi atau badan, baik pusat, cabang, 
perwakilan maupun unit yang memberi gaji, upah, honor atau pembayaran lain, 
2. Bendahara atau pemegang kas pemerintah, 
3. Badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja dan badan lain yang membayar 
THT, 
4. Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta badan yang 
membayar honorarium atau pembayaran lain, 
5. Penyelenggara kegiatan 
Sedangkan pemotong Pajak Penghasilan Pasal 26 yaitu : 1) badan pemerintah, 2) 
subjek pajak dalam negeri, 3) bentuk usaha tetap, 4) penyelenggara kegiatan, 5) perwakilan 
perusahaan luar negeri lainnya. 
2.3. Subyek dan Obyek Pajak 
2.3.1. PPh Pasal 21 
a. Subyek Pajak 
1. Pegawai; 
2. Penerima uang pesangon, pensiun atau uang manfaat pensiun, THT atau 
JHT, termasuk ahli warisnya; 
3. Bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan 
dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan; 
4. Peserta kegiatan yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan 
dengan keikutsertaannya dalam suatu kegiatan. 
b. Obyek Pajak
1. Penghasilan yang diterima/diperoleh pegawai/penerima pensiun secara 
5 
teratur berupa gaji, uang pensiun bulanan, upah, honorarium, tunjangan; 
2. Penghasilan yang diterima/diperoleh pegawai/penerima pensiun secara 
tidak teratur berupa jasa produksi, tantiem, THR, gratifikasi, bonus; 
3. Upah harian, upah borongan, upah satuan, upah borongan yang diterima 
tenaga kerja lepas; 
4. Uang tebusan pensiun, uang THT, uang pesangon, sehubungan dengan 
PHK; 
5. Gaji, gaji kehormatan, tunjangan lain yang terkait dengan gaji/honorarium 
yang bersifat tidak tetap yang diterima oleh PNS; 
6. Penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya yang diberikan 
oleh bukan WP selain pemerintah atau WP yang dikenakan PPh final dan 
yang dikenakan berdasarkan norma penghitungan khusus (deemed profit); 
7. Honorarium, uang saku, hadiah/penghargaan, komisi, beasiswa dan 
pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan/jasa: a) 
Tenaga ahli, b) Olahrawan, c) Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, d) 
Pemain musik, pembawa acara, pelawak, e) Agen iklan, f) Peserta 
perlombaan, g) Penjaja barang dagangan, h) Peserta pendidikan, pelatihan, 
pemagangan dan i) Distributor pengusaha MLM. 
2.3.2. PPh Pasal 26 
Menurut Waluyo (2011:327), 
Subyek pajak yang dipotong PPh Pasal 26 yaitu orang pribadi dengan status 
sebagai subyek pajak luar negeri yang menerima atau memperoleh penghasilan 
dengan nama dalam bentuk apa pun, sepanjang tidak dikecualikan dalam Peraturan 
Direktur Jenderal Pajak, dari pemotong PPh Pasal 26 sebagai imbalan sehubungan 
dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan yang dilakukan baik dalam hubungannya 
sebagai pegawai maupun bukan pegawai, termasuk penerima pensiun. 
Obyek dan tarif pajak PPh 26 dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu: 
1. 푃푃ℎ 푃푎푠푎푙 26 = 20% 푥 푝푒푛푔ℎ푎푠푖푙푎푛 푏푟푢푡표 
a. Deviden; 
b. Bunga termasuk premium, diskonto dan imbalan sehubungan dengan 
jaminan pengembalian utang;
c. Royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta; 
d. Imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan; 
e. Hadiah dan penghargaan; 
f. Pensiun dan pembayaran berkala lainnya; 
g. Premi swap (selisih harga satu mata uang yang menjadi lebih mahal untuk 
6 
dibeli) dan transaksi lindung nilai lainnya; 
h. Keuntungan karena pembebasan utang. 
2. PPh pasal 26 = 20% dari Perkiraan Penghasilan Netto 
a. Atas penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di Indonesia, kecuali 
yang diatur dalam Pasal 4 ayat (2), yang diterima atau diperoleh Wajib 
Pajak LN selain BUT di Indonesia; 
b. Premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri; 
c. Penghasilan dari penjualan atau pengalihan saham sebagaimana dimaksud 
dalam Pasal 18 ayat (3c). 
3. PPh pasal 26 = PKP BUT – PPh Terutang 푥 20% 
Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha 
tetap di Indonesia dikenai pajak sebesar 20% (dua puluh persen), kecuali 
penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia. 
2.4. Formula Perhitungan 
Pada dasarnya cara perhitungan PPh Pasal 21 dan/ atau PPh Pasal 26 sama dengan 
perhitungan pajak lainnya, tetapi pada pasal ini bagi penerima-penerima penghasilan dari 
pekerjaan, jasa atau kegiatan yang dilakukan Wajib Pajak Orang Pribadi yaitu Wajjib Pajak 
dalam negeri selain pengurangan berupa PTKP, juga ada pengurangan berupa biaya jabatan, 
pensiun dan iuran pensiun. Selain itu tarif yang ditetapkan juga bervariasi sesuai yang diatur 
dalam UU Pajak Penghasilan dan peraturan pemerintah. 
A. Pegawai Tetap 
1. Cara menentukan penghasilan netto, penghasilan bruto dikurangi: 
a. Biaya jabatan (biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara 
penghasilan), 5 % (persen) dari penghasilan bruto, paling tinggi Rp 
6.000.000,00 setahun atau Rp 500.000,00 sebulan.
b. Iuran yang berhubungan dengan gaji yang dibayar oleh pegawai kepada dana 
7 
pensiun. 
2. Pengurangan biaya jabatan dan iuran tidak berlaku bagi yang menerima upah 
harian. Tidak juga bagi wajib pajak luar negeri yang terutang PPh pasal 26. 
3. Menghitung Penghasilan Kena Pajak (PKP), Penghasilan Netto dikurangi 
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang sebenarnya. 
a. Karyawati menikah, PTKP yang dikurangkan hanya untuk diri sendiri dan 
karyawati menikah selain dikurangi dengan diri sendiri juga dikurangi keluarga 
sebagai tanggungan sepenuhnya. 
b. Karyawati yang menunjukkan keterangan suaminya tidak berpenghasilan, 
diberikan tambahan PTKP sebesar Rp 1.320.000,00 setahun atau Rp 
100.000,00 sebulan. Ditambah keluarga yang menjadi tanggungan paling 
banyak 3 orang, masing-masing sebesar Rp 1.320.000,00 setahun atau Rp 
100.000,00 sebulan. 
c. Besarnya PTKP ditentukan berdasarkan keadaan pada tahun takwim. 
4. Tarif yang ditetapkan adalah tarif Pasal 17 Undang-undang PPh. 
B. Pegawai Harian/ Pegawai Tidak Tetap/ Tenaga Kerja Lepas 
Bagi pegawai harian atau tidak tetap yang dibayar bulanan atau jumlah gaji 
seluruhnya dalam satu bulan kalender melebihi Rp 1.320.000,00, maka berlaku: 
1. Tidak ada pemotongan PPh Pasal 21, selagi penghasilan sehari belum melebihi Rp 
150.000,00; 
2. Dilakukan pemotongan PPh Pasal 21, apabila penghasilan sehari melebihi Rp 
150.000,00 dan jumlah tersebut merupakan jumlah yang dapat dikurangkan dari 
penghasilan bruto. 
C. Penerimaan Pensiun 
1. Penghasilan Netto, penghasilan bruto dikurangi biaya pensiun (5% dari 
penghasilan bruto, paling tinggi Rp 2.400.000,00 setahun atau Rp 200.000,00 
sebulan; 
2. PKP, Penghasilan netto dikurangi dengan PTKP yang sebenarnya; 
3. Tarif yang ditetapkan adalah tarif pasal 17 UU PPh;
4. Penghitungan PPh Pasal 21 atas uang pensiun bulanan yang diterima atau 
diperoleh penerima pensiun pada tahun pertama pensiun dihitung sebagai 
berikut: 
a. Hitung penghasilan netto sebulan: 
(푝푒푛푔ℎ푎푠푖푙푎푛 − 푏푖푎푦푎 푝푒푛푠푖푢푛)푥 푏푎푛푦푎푘 푏푢푙푎푛 ∗ 
∗banyaknya bulan sejak pegawai menerima pensiun sampai bulan Desember. 
b. Penghasilan netto yang disetahunkan tersebut ditambah dengan penghasilan 
8 
netto pada tahun bersangkutan yang diterima sebelum pegawai pensiun. 
c. Menghitung PKP, jumlah penghasilan pada poin b dikurangi dengan PTKP, 
lalu dihitung PPh Pasal 21 atas PKP tersebut. 
d. PPh Pasal 21 atas uang pensiun dalam tahun yang bersangkutan dihitung 
dengan cara mengurangi PPh Pasal 21 pada poin c dengan PPh Pasal 21 
yang terutang dari pemberi kerja sebelum pegawai yang bersangkutan 
pensiun sesuai dengan yang tercantum dalam bukti pemotongan PPh Pasal 
21 sebelum pensiun. 
e. PPh Pasal 21 atas uang pensiun bulanan adalah sebesar PPh Pasal 21 seperti 
tersebut pada poin d dibagi dengan banyaknya bulan seperti yang dimaksud 
pada poin a. 
5. Penghitungan PPh Pasal 21 atas uang pensiun bulanan untuk tahun kedua 
dilakukan dengan cara menghitung penghasilan netto sebulan yang diperoleh 
dengan cara mengurangi penghasilan bruto dengan biaya pensiun. 
푝푒푛푔ℎ푎푠푖푙푎푛 푛푒푡표 푠푒푏푢푙푎푛 = 푝푒푛푔ℎ푎푠푖푙푎푛 푛푒푡푡푡표 − 푏푖푎푦푎 푝푒푛푠푖푢푛 
Selanjutnya, PPh dihitung dengan cara yang telah dijelaskan pada poin a,c dan d. 
2.5. Tarif PPh Pasal 21 
Tarif pajak yang digunakan sebagai tarif pemotongan atas penghasilan yang terutang 
PPh pasal 21 yaitu tarif pajak pasal 17 UU PPh. Besarnya tarif pajak PPh pasal 21 yang 
diterapkan terhadap WP yang tidak memiliki NPWP menjadi lebih tinggi 20% dari tarif yang 
ditetapkan terhadap WP yang mempunyai NPWP.
9 
Lapisan Kena Pajak Tarif 
Sampai dengan Rp 50.000.000,00 0% 
Rp 50.000.000,00 – Rp 100.000.000,00 5% 
Rp 100.000.000,00 – Rp 500.000.000,00 15% 
 Rp 500.000.000,00 25% 
Contoh : 
Tn Amir menerima uang pesangon dari PT Amarta sebesar Rp 175.000.000,00 penghitungan 
PPh Pasal 21 atas uang pesangon: 
Penghasilan bruto Rp 175.000.000,00 
PPh Pasal 21 Terutang: 
0% x Rp 50.000.000,00 = Rp 00,00 
5% x Rp 50.000.000,00 = Rp 2.500.000,00 
15% x Rp 75.000.000,00 = Rp 11.500.000,00 
Total = Rp 13.500.000,00 
2.6. Dasar Pengenaan Pajak atas Pemotongan PPh Pasal 21 dan/ atau PPh Pasal 26 
1. Penghasilan Kena Pajak (PKP) yang diberlakukan bagi: 
a. Pegawai tetap; 
b. Penerima pensiun berkala; 
c. Pegawai tidak tetap yang penghasilannya dibayar secara bulanan yang jumlah 
kumulatif melebihi Rp 1.320.000,00; 
d. Bukan pegawai selain tenaga ahli, yang menerima imbalan secara continue; 
2. Penghasilan yang lebih dari Rp 150.000,00 sehari, yang berlaku bagi pegawai 
tidak tetap yang menerima upah harian, mingguan sepanjang penghasilan 
kumulatif yang diterima selama satu bulan kalender belum melebihi 
Rp.1.320.000,00 
3. 50% dari penghasilan bruto yang berlaku bagi sipenerima penghasilan selain 
penerima yang tersebut pada poin 1,2 dan 3.
Dasar pengenaan dan pemotongan PPh Pasal 26 adalah jumlah penghasilan bruto. 
Jumlah penghasilan bruto yang diperoleh penerima pnghasilan yang dipotong PPh 
Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 yaitu seluruh jumlah penghasilan yang diperoleh 
dalam suatu periode atau pada saat dibayarkan. 
PKP yang dimaksud pada poin 1 adalah: 
a. Bagi pegawai tetap dan penerima pensiun belaka, sebesr penghasilan netto 
10 
dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP); 
b. Bagi pegawai tidak tetap, sebesar penghasilan bruto dikurangi PTKP; 
c. Bukan pegawai, penghasilan bruto dikurangi PTKP yang dihitung secara 
bulanan.
11 
BAB III 
PENUTUP 
3.1. Kesimpulan 
Pajak penghasilan Pasal 21 merupakan pajak penghasilan yang dikenakan atas 
penghasilan berupa gaji, upah, honor dan pesangon dengan nama apa pun sehubungan 
dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan yang dilakukan Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri. 
sedangkan Pajak penghasilan Pasal 26 adalah Pajak penghasilan yang dikenakan pada wajib 
pajak orang pribadi luar negeri atas pekerjaan yang dilakukannya selain yang diperoleh dari 
bentuk usaha tetap di Indonesia. Kedua jenis pajak ini pada umumnya memiliki karakteristik 
yang sama, hanya saja PPh Pasal 21 untuk Wajib pajak orang pribadi dalam negeri 
sebaliknya, PPh Pasal 26 untuk wajib pajak orang pribadi luar negeri. 
Jadi dapat disimpulkan bahwa pajak merupakan kewajiban penduduk suatu negara 
yang harus ditunaikan dan dapat dipaksakan, walaupun suatu penduduk berada di dalam atau 
luar negeri. 
3.2. Saran 
Berdasarkan uraian makalah perpajakan tentang Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/ atau 
PPh Pasal 26 ini diharapkan dapat mengaplikasikan teori yang didapatkan dari materi ini.

Pph 21 dan atau 26

  • 1.
    1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Suatu negara mensejahterakan rakyatnya dengan membangun fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan masyarakat untuk mendukung kelansungan hidupnya. Berbagai fasilitas yang disediakan tidak kita dapatkan hanya dengan meminta dari pemerintah itu sendiri, tetapi kita harus mengeluarkan suatu kewajiban rakyat yang disebut dengan pajak. Pajak dinegara kita Indonesia terbagi pada beberapa jenis, yaitu : Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Bea Materai. Berdasarkan beberapa jenis pajak yang dibebankan negara kepada rakyatnya, pajak penghasilan merupakan pajak yang paling diperhatikan oleh masyarakat karena pajak ini terbagi pula menjadi beberapa bagian, yaitu PPh Pasal 21,22,23,24,25 dan 26. Dari 6 (enam) jenis PPh ini PPh Pasal 21 merupakan pajak penghasilan lebih lumrah dikenal oleh masyarakat karena diwajibkan oleh rata-rata orang yang bekerja. PPh Pasal 21 dan atau PPh Pasal 26 merupakan pajak penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan yang dilakukannya wajib pajak orang pribadi baik itu dalam negeri jika itu PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 26 wajib pajak orang pribadi di luar negeri. Walaupun sudah ada dalam peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh pemerintah, tetapi masih banyak masyarakat yang belum mengetahui secara pasti bagaimana mekanisme pemungutan PPh Pasal 21 dan/ atau PPh pasal 26 itu sendiri, serta hal lain yang bekaitan dengan hal tersebut. Masyarakat menganggap apabila sudah membayar pajak maka kewajibannya sebagai warga negara sudah terpenuhi dan hak yang dibutuhkannya sudah dapat dituntut. Padahal pengetahuan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kewajiban itu sangat perlu diketahui, karena pada akhirnya kita yang akan mengalami kerugian atas ketidaktahuan hal tersebut.
  • 2.
    Oleh karena itu,didalam makalah ini diuraikan teori tentang PPh Pasal 21 dan/ atau PPh Pasal 26 serta formula yang dibutuhkan dalam pemotongan untuk PPh yang bersangkutan. 2 1.2. Tujuan Penulisan 1. Untuk dapat mengetahui pengertian dan mekanisme pemotongan PPh Pasal 21 dan/ atau PPh Pasal 26. 2. Agar dapat mengetahui dan menjelaskan pihak yang bertindak sebagai pemotong pajak serta kewajibannya. 3. Agar dapat mengetahui subjek dan non-subjek pajak PPh Pasal 21 dan atau PPh Pasal 26 serta hak dan kewajibannya. 4. Agar dapat mengetahui objek dan non-objek pajak PPh Pasal 21 dan atau PPh Pasal 26 serta objek yang dipotong PPh Pasal 21 dan atau PPh Pasal 26 final. 5. Untuk dapat mengetahui tata cara perhitungan PPh Pasal 21 dan/ atau PPh Pasal 26 serta mengaplikasikannya. 1.3. Manfaat Penulisan 1. Menambah wawasan Mahasiswa tentang mekanisme pemotongan PPh Pasal 21 dan/ atau PPh Pasal 26. 2. Menciptakan generasi muda yang patuh dan taat pada pajak.
  • 3.
    3 BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian dan Dasar Hukum 2.1.1. PPh Pasal 21 Menurut Waluyo (2011:201) Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 merupakan Pajak Penghasilan yang dikenakan atas penghasilan berupa gaji, honorium, tunjangan dan pembayaran lain dengan nama apa pun sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri. Dasar hukum pengenaan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 adalah Pasal 21 Undang-undang pajak Penghasilan Peraturan direktur Jenderal Pajak Nomor Per 57/Pj./2009 yang baru diubah tanggal 12 Oktober 2009 lalu. Selain itu Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2009 tentang pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan berupa uang pesangon, uang tebusan pensiun dan tunjangan hari tua beserta peraturan pelaksanaanya telah dimuat. Waluyo (2011:202) juga menyatakan bahwa ketentuan pelaksanaan PPh Pasal 21 akan selalu dilakukan pembaruan sejalan dengan diberlakukannya undang-undang pajak penghasilan hasil reformasi perundang-undangan yang berlaku per 1 Januari 2009 yaitu Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. 2.1.2. PPh Pasal 26 Secara umum definisi PPh pasal 21 dan 26 adalah sama, perbedaannya hanya pada lokasi atau tempat wajib pajak orang pribadi bermukim. Apabila pada PPh Pasal 21 wajib pajak orang pribadi subjek pajak dalam negeri maka PPh Pasal 26 bagi wajib pajak orang pribadi subjek pajak luar negeri. PPh Pasal 26 dapat diartikan sebagai pajak penghasilan yang dikenakan oleh pemerintah sehubungan pekerjaan, jasa dan kegiatan yang dilakukan wajib pajak orang pribadi luar negeri. PPh Pasal 26 terdapat dalam Pasal 26 Undang-undang Pajak Penghasilan 2008 yang berlaku sejak tanggal 1 Januari 2009. Selain itu diatur dalam Peraturan
  • 4.
    Menteri Keuangan Nomor258/PMK/.03/2008 tentang pemotongan pajak penghasilan Pasal 26. 4 2.2. Pemotong Pajak Pemotongan pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri (Waluyo, 2011:204). Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 21 dilakukan oleh : 1. Pemberi kerja yang terdiri atas orang pribadi atau badan, baik pusat, cabang, perwakilan maupun unit yang memberi gaji, upah, honor atau pembayaran lain, 2. Bendahara atau pemegang kas pemerintah, 3. Badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja dan badan lain yang membayar THT, 4. Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta badan yang membayar honorarium atau pembayaran lain, 5. Penyelenggara kegiatan Sedangkan pemotong Pajak Penghasilan Pasal 26 yaitu : 1) badan pemerintah, 2) subjek pajak dalam negeri, 3) bentuk usaha tetap, 4) penyelenggara kegiatan, 5) perwakilan perusahaan luar negeri lainnya. 2.3. Subyek dan Obyek Pajak 2.3.1. PPh Pasal 21 a. Subyek Pajak 1. Pegawai; 2. Penerima uang pesangon, pensiun atau uang manfaat pensiun, THT atau JHT, termasuk ahli warisnya; 3. Bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan; 4. Peserta kegiatan yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan keikutsertaannya dalam suatu kegiatan. b. Obyek Pajak
  • 5.
    1. Penghasilan yangditerima/diperoleh pegawai/penerima pensiun secara 5 teratur berupa gaji, uang pensiun bulanan, upah, honorarium, tunjangan; 2. Penghasilan yang diterima/diperoleh pegawai/penerima pensiun secara tidak teratur berupa jasa produksi, tantiem, THR, gratifikasi, bonus; 3. Upah harian, upah borongan, upah satuan, upah borongan yang diterima tenaga kerja lepas; 4. Uang tebusan pensiun, uang THT, uang pesangon, sehubungan dengan PHK; 5. Gaji, gaji kehormatan, tunjangan lain yang terkait dengan gaji/honorarium yang bersifat tidak tetap yang diterima oleh PNS; 6. Penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya yang diberikan oleh bukan WP selain pemerintah atau WP yang dikenakan PPh final dan yang dikenakan berdasarkan norma penghitungan khusus (deemed profit); 7. Honorarium, uang saku, hadiah/penghargaan, komisi, beasiswa dan pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan/jasa: a) Tenaga ahli, b) Olahrawan, c) Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, d) Pemain musik, pembawa acara, pelawak, e) Agen iklan, f) Peserta perlombaan, g) Penjaja barang dagangan, h) Peserta pendidikan, pelatihan, pemagangan dan i) Distributor pengusaha MLM. 2.3.2. PPh Pasal 26 Menurut Waluyo (2011:327), Subyek pajak yang dipotong PPh Pasal 26 yaitu orang pribadi dengan status sebagai subyek pajak luar negeri yang menerima atau memperoleh penghasilan dengan nama dalam bentuk apa pun, sepanjang tidak dikecualikan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak, dari pemotong PPh Pasal 26 sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan yang dilakukan baik dalam hubungannya sebagai pegawai maupun bukan pegawai, termasuk penerima pensiun. Obyek dan tarif pajak PPh 26 dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu: 1. 푃푃ℎ 푃푎푠푎푙 26 = 20% 푥 푝푒푛푔ℎ푎푠푖푙푎푛 푏푟푢푡표 a. Deviden; b. Bunga termasuk premium, diskonto dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang;
  • 6.
    c. Royalti, sewa,dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta; d. Imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan; e. Hadiah dan penghargaan; f. Pensiun dan pembayaran berkala lainnya; g. Premi swap (selisih harga satu mata uang yang menjadi lebih mahal untuk 6 dibeli) dan transaksi lindung nilai lainnya; h. Keuntungan karena pembebasan utang. 2. PPh pasal 26 = 20% dari Perkiraan Penghasilan Netto a. Atas penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di Indonesia, kecuali yang diatur dalam Pasal 4 ayat (2), yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak LN selain BUT di Indonesia; b. Premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri; c. Penghasilan dari penjualan atau pengalihan saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (3c). 3. PPh pasal 26 = PKP BUT – PPh Terutang 푥 20% Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap di Indonesia dikenai pajak sebesar 20% (dua puluh persen), kecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia. 2.4. Formula Perhitungan Pada dasarnya cara perhitungan PPh Pasal 21 dan/ atau PPh Pasal 26 sama dengan perhitungan pajak lainnya, tetapi pada pasal ini bagi penerima-penerima penghasilan dari pekerjaan, jasa atau kegiatan yang dilakukan Wajib Pajak Orang Pribadi yaitu Wajjib Pajak dalam negeri selain pengurangan berupa PTKP, juga ada pengurangan berupa biaya jabatan, pensiun dan iuran pensiun. Selain itu tarif yang ditetapkan juga bervariasi sesuai yang diatur dalam UU Pajak Penghasilan dan peraturan pemerintah. A. Pegawai Tetap 1. Cara menentukan penghasilan netto, penghasilan bruto dikurangi: a. Biaya jabatan (biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan), 5 % (persen) dari penghasilan bruto, paling tinggi Rp 6.000.000,00 setahun atau Rp 500.000,00 sebulan.
  • 7.
    b. Iuran yangberhubungan dengan gaji yang dibayar oleh pegawai kepada dana 7 pensiun. 2. Pengurangan biaya jabatan dan iuran tidak berlaku bagi yang menerima upah harian. Tidak juga bagi wajib pajak luar negeri yang terutang PPh pasal 26. 3. Menghitung Penghasilan Kena Pajak (PKP), Penghasilan Netto dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang sebenarnya. a. Karyawati menikah, PTKP yang dikurangkan hanya untuk diri sendiri dan karyawati menikah selain dikurangi dengan diri sendiri juga dikurangi keluarga sebagai tanggungan sepenuhnya. b. Karyawati yang menunjukkan keterangan suaminya tidak berpenghasilan, diberikan tambahan PTKP sebesar Rp 1.320.000,00 setahun atau Rp 100.000,00 sebulan. Ditambah keluarga yang menjadi tanggungan paling banyak 3 orang, masing-masing sebesar Rp 1.320.000,00 setahun atau Rp 100.000,00 sebulan. c. Besarnya PTKP ditentukan berdasarkan keadaan pada tahun takwim. 4. Tarif yang ditetapkan adalah tarif Pasal 17 Undang-undang PPh. B. Pegawai Harian/ Pegawai Tidak Tetap/ Tenaga Kerja Lepas Bagi pegawai harian atau tidak tetap yang dibayar bulanan atau jumlah gaji seluruhnya dalam satu bulan kalender melebihi Rp 1.320.000,00, maka berlaku: 1. Tidak ada pemotongan PPh Pasal 21, selagi penghasilan sehari belum melebihi Rp 150.000,00; 2. Dilakukan pemotongan PPh Pasal 21, apabila penghasilan sehari melebihi Rp 150.000,00 dan jumlah tersebut merupakan jumlah yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. C. Penerimaan Pensiun 1. Penghasilan Netto, penghasilan bruto dikurangi biaya pensiun (5% dari penghasilan bruto, paling tinggi Rp 2.400.000,00 setahun atau Rp 200.000,00 sebulan; 2. PKP, Penghasilan netto dikurangi dengan PTKP yang sebenarnya; 3. Tarif yang ditetapkan adalah tarif pasal 17 UU PPh;
  • 8.
    4. Penghitungan PPhPasal 21 atas uang pensiun bulanan yang diterima atau diperoleh penerima pensiun pada tahun pertama pensiun dihitung sebagai berikut: a. Hitung penghasilan netto sebulan: (푝푒푛푔ℎ푎푠푖푙푎푛 − 푏푖푎푦푎 푝푒푛푠푖푢푛)푥 푏푎푛푦푎푘 푏푢푙푎푛 ∗ ∗banyaknya bulan sejak pegawai menerima pensiun sampai bulan Desember. b. Penghasilan netto yang disetahunkan tersebut ditambah dengan penghasilan 8 netto pada tahun bersangkutan yang diterima sebelum pegawai pensiun. c. Menghitung PKP, jumlah penghasilan pada poin b dikurangi dengan PTKP, lalu dihitung PPh Pasal 21 atas PKP tersebut. d. PPh Pasal 21 atas uang pensiun dalam tahun yang bersangkutan dihitung dengan cara mengurangi PPh Pasal 21 pada poin c dengan PPh Pasal 21 yang terutang dari pemberi kerja sebelum pegawai yang bersangkutan pensiun sesuai dengan yang tercantum dalam bukti pemotongan PPh Pasal 21 sebelum pensiun. e. PPh Pasal 21 atas uang pensiun bulanan adalah sebesar PPh Pasal 21 seperti tersebut pada poin d dibagi dengan banyaknya bulan seperti yang dimaksud pada poin a. 5. Penghitungan PPh Pasal 21 atas uang pensiun bulanan untuk tahun kedua dilakukan dengan cara menghitung penghasilan netto sebulan yang diperoleh dengan cara mengurangi penghasilan bruto dengan biaya pensiun. 푝푒푛푔ℎ푎푠푖푙푎푛 푛푒푡표 푠푒푏푢푙푎푛 = 푝푒푛푔ℎ푎푠푖푙푎푛 푛푒푡푡푡표 − 푏푖푎푦푎 푝푒푛푠푖푢푛 Selanjutnya, PPh dihitung dengan cara yang telah dijelaskan pada poin a,c dan d. 2.5. Tarif PPh Pasal 21 Tarif pajak yang digunakan sebagai tarif pemotongan atas penghasilan yang terutang PPh pasal 21 yaitu tarif pajak pasal 17 UU PPh. Besarnya tarif pajak PPh pasal 21 yang diterapkan terhadap WP yang tidak memiliki NPWP menjadi lebih tinggi 20% dari tarif yang ditetapkan terhadap WP yang mempunyai NPWP.
  • 9.
    9 Lapisan KenaPajak Tarif Sampai dengan Rp 50.000.000,00 0% Rp 50.000.000,00 – Rp 100.000.000,00 5% Rp 100.000.000,00 – Rp 500.000.000,00 15%  Rp 500.000.000,00 25% Contoh : Tn Amir menerima uang pesangon dari PT Amarta sebesar Rp 175.000.000,00 penghitungan PPh Pasal 21 atas uang pesangon: Penghasilan bruto Rp 175.000.000,00 PPh Pasal 21 Terutang: 0% x Rp 50.000.000,00 = Rp 00,00 5% x Rp 50.000.000,00 = Rp 2.500.000,00 15% x Rp 75.000.000,00 = Rp 11.500.000,00 Total = Rp 13.500.000,00 2.6. Dasar Pengenaan Pajak atas Pemotongan PPh Pasal 21 dan/ atau PPh Pasal 26 1. Penghasilan Kena Pajak (PKP) yang diberlakukan bagi: a. Pegawai tetap; b. Penerima pensiun berkala; c. Pegawai tidak tetap yang penghasilannya dibayar secara bulanan yang jumlah kumulatif melebihi Rp 1.320.000,00; d. Bukan pegawai selain tenaga ahli, yang menerima imbalan secara continue; 2. Penghasilan yang lebih dari Rp 150.000,00 sehari, yang berlaku bagi pegawai tidak tetap yang menerima upah harian, mingguan sepanjang penghasilan kumulatif yang diterima selama satu bulan kalender belum melebihi Rp.1.320.000,00 3. 50% dari penghasilan bruto yang berlaku bagi sipenerima penghasilan selain penerima yang tersebut pada poin 1,2 dan 3.
  • 10.
    Dasar pengenaan danpemotongan PPh Pasal 26 adalah jumlah penghasilan bruto. Jumlah penghasilan bruto yang diperoleh penerima pnghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 yaitu seluruh jumlah penghasilan yang diperoleh dalam suatu periode atau pada saat dibayarkan. PKP yang dimaksud pada poin 1 adalah: a. Bagi pegawai tetap dan penerima pensiun belaka, sebesr penghasilan netto 10 dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP); b. Bagi pegawai tidak tetap, sebesar penghasilan bruto dikurangi PTKP; c. Bukan pegawai, penghasilan bruto dikurangi PTKP yang dihitung secara bulanan.
  • 11.
    11 BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Pajak penghasilan Pasal 21 merupakan pajak penghasilan yang dikenakan atas penghasilan berupa gaji, upah, honor dan pesangon dengan nama apa pun sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan yang dilakukan Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri. sedangkan Pajak penghasilan Pasal 26 adalah Pajak penghasilan yang dikenakan pada wajib pajak orang pribadi luar negeri atas pekerjaan yang dilakukannya selain yang diperoleh dari bentuk usaha tetap di Indonesia. Kedua jenis pajak ini pada umumnya memiliki karakteristik yang sama, hanya saja PPh Pasal 21 untuk Wajib pajak orang pribadi dalam negeri sebaliknya, PPh Pasal 26 untuk wajib pajak orang pribadi luar negeri. Jadi dapat disimpulkan bahwa pajak merupakan kewajiban penduduk suatu negara yang harus ditunaikan dan dapat dipaksakan, walaupun suatu penduduk berada di dalam atau luar negeri. 3.2. Saran Berdasarkan uraian makalah perpajakan tentang Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/ atau PPh Pasal 26 ini diharapkan dapat mengaplikasikan teori yang didapatkan dari materi ini.