SISWA KORBAN KEBRUTALAN
Oleh: Prof. Suyanto, Ph.D
Akhir-akhir ini berita tentang perilaku brutal siswa menyedot perhatian
masyarakat. Mengapa begitu? Jawabnya singkat: perilaku brutal itu sudah
melampaui batas abnormalitas norma sosial, agama maupun pedagogis.
Keberingasan mereka berakibat melayangnya nyawa dengan sia-sia. Kita semua
merasa merinding melihat praktek mereka berkelahi secara massal, saling
mengeroyok, melengkapi diri dengan berbagai senjata dan alat yang mematikan,
seolah bagaikan sedang berjuang mempertahankan keberadaan tanah leluhurnya.
Padahal persoalan yang menyulut perkelahian itu tidaklah substantif di lihat dari
kacamata sosial maupun aspek pedagogis. Sungguh para siswa kita ini telah
tersesat dan terjerumus jauh ke dalam alam pikir yang hitam dan keliru. Karena
kesesatan cara berpfikir itulah, mereka berperilaku beringas, yang akhirnya
memakan korban melayangnya nyawa anak manusia secara tragis. Betapa tidak!
Dalam kurun waktu antara 2011-2012, terdapat 14 korban jiwa, dianiaya teman
seusianya secara brutal dalam perkelahian massal. Keempatbelas korban itu terdiri
siswa SMP, SMA, dan SMK, baik dari sekolah negeri maupun swasta. Bahkan yang
lebih membuat kita tak habis pikir adalah tragedi 24 september 2012 lalu yang
berakibat meninggalnya siswa SMA Negeri 6 Jakarta Selatan, Alawy Yusianto Putra,
yang dibantai oleh siswa tetangga sekolahnya dari SMA Negeri 70. Ketika itu, semua
fihak sepakat untuk bertekad mengakhiri tragedi serupa jangan sampai terulang lagi
1
di masa mendatang. Ternyata ketika semua masih berduka, dan makam Alawy
Yustianto Putra-pun masih basah, serta ketika banyak fihak masih sedang serius
mediskusikan cara dan strategi pencegahan kebrutalan siswa, malah ada
pembacokan lagi hingga membuat korbannya meninggal dunia dua hari kemudian,
tanggal 26 September 2012. Kali ini korbanya adalah Deni Januar (17), siswa kelas
XII SMA Yayasan Karya 66 Jakarta Timur, satu satunya anak di dalam keluarganya,
wafat karena terkena sabetan clurit oleh siswa SMK Kartika Zeni yang bertetanggaan
dengan sekolahnya.
Melihat keberingasan para siswa itu, faktanya ialah betapa sulitnya untuk
mencegah perkelahian antar pelajar. Hal ini terjadi karena kekerasan itu sudah
melembaga dan mentradisi di antara mereka. Lembaga ini hidup subur karena ada
peran alumni mereka. Oleh karena itu untuk mencegahnya harus juga melibatkan
para alumni yang menjadi sponsor dan provokator terjadinya perkelahian. Di
samping itu, perilaku brutal dan berani membunuh sesama siswa tidaklah tumbuh
dan muncul tiba-tiba dan sesaat. Keberanian itu jelas merupakan hasil interaksi dari
komunitasnya, baik di sekolah maupun di dalam masyarakat dalam arti yang luas
berikut piranti teknologi yang ada seperti TV, HP, internet, dan sebagainya. Dalam
era yang serba terbuka seperti saat ini, siswa bisa belajar apa saja. Kalau mereka
sering dan selalu terekspos pada inspirasi kebrutalan, tentu mereka juga akan
melakukan copy-paste pengalaman yang mereka alami itu. Oleh karen itu berbagai
lingkungan komunitas siswa kita, harus mampu menawarkan stimulus dan kondisi
yang kondusif untuk tumbuh kembangnya inspirasi dan imajinasi siswa terkait
dengan sikap dan perilaku yang terpuji. Sekolah perlu membuat kode etik dan tata
tertib untuk mengikat para siswa agar memiliki positive common goal dalam
2
lingkungan sekolahnya. Kode etik itu harus diberlakukan secara konsisten untuk
semua anggota komunitas sekolah tanpa pandang bulu. Proses belajar juga harus
memiliki filosofi memberdayakan dan menginspirasi para siswa agar memiliki
karakter yang terpuji seperti: disiplin, toleran, empati, simpati, suka menolong,
menghargai keberbedaan, dsb. Keluarga dan masyarakat juga harus menjaga
konsistensi nilai yang dialami dan sedang dipelajari siswa di sekolah. Ruang publik
untuk berekspresi secara positif oleh para siswa perlu mulai dipikirkan oleh
pemerintah daerah agar siswa memiliki peluang untuk saling berbagi gagasan, ide,
karya seni, olah raga di antara mereka. Jika mereka memiliki kohesi sosial yang
kuat, maka mereka tidak gampang terlibat tawuran di antara mereka. Semua mereka
akan merasa se-ide, memiliki minat yang serupa ketika melakukan interaksi sosila di
ruang publik yang disediakan oleh masyarakat bersama sama pemerintah daerah.
Semoga begitu.
Prof. Suyanto, Ph.D,
Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta,
Plt. Dirjen Pendidikan Dasar Kemdikbud.
3

Siswa beringas 2012

  • 1.
    SISWA KORBAN KEBRUTALAN Oleh:Prof. Suyanto, Ph.D Akhir-akhir ini berita tentang perilaku brutal siswa menyedot perhatian masyarakat. Mengapa begitu? Jawabnya singkat: perilaku brutal itu sudah melampaui batas abnormalitas norma sosial, agama maupun pedagogis. Keberingasan mereka berakibat melayangnya nyawa dengan sia-sia. Kita semua merasa merinding melihat praktek mereka berkelahi secara massal, saling mengeroyok, melengkapi diri dengan berbagai senjata dan alat yang mematikan, seolah bagaikan sedang berjuang mempertahankan keberadaan tanah leluhurnya. Padahal persoalan yang menyulut perkelahian itu tidaklah substantif di lihat dari kacamata sosial maupun aspek pedagogis. Sungguh para siswa kita ini telah tersesat dan terjerumus jauh ke dalam alam pikir yang hitam dan keliru. Karena kesesatan cara berpfikir itulah, mereka berperilaku beringas, yang akhirnya memakan korban melayangnya nyawa anak manusia secara tragis. Betapa tidak! Dalam kurun waktu antara 2011-2012, terdapat 14 korban jiwa, dianiaya teman seusianya secara brutal dalam perkelahian massal. Keempatbelas korban itu terdiri siswa SMP, SMA, dan SMK, baik dari sekolah negeri maupun swasta. Bahkan yang lebih membuat kita tak habis pikir adalah tragedi 24 september 2012 lalu yang berakibat meninggalnya siswa SMA Negeri 6 Jakarta Selatan, Alawy Yusianto Putra, yang dibantai oleh siswa tetangga sekolahnya dari SMA Negeri 70. Ketika itu, semua fihak sepakat untuk bertekad mengakhiri tragedi serupa jangan sampai terulang lagi 1
  • 2.
    di masa mendatang.Ternyata ketika semua masih berduka, dan makam Alawy Yustianto Putra-pun masih basah, serta ketika banyak fihak masih sedang serius mediskusikan cara dan strategi pencegahan kebrutalan siswa, malah ada pembacokan lagi hingga membuat korbannya meninggal dunia dua hari kemudian, tanggal 26 September 2012. Kali ini korbanya adalah Deni Januar (17), siswa kelas XII SMA Yayasan Karya 66 Jakarta Timur, satu satunya anak di dalam keluarganya, wafat karena terkena sabetan clurit oleh siswa SMK Kartika Zeni yang bertetanggaan dengan sekolahnya. Melihat keberingasan para siswa itu, faktanya ialah betapa sulitnya untuk mencegah perkelahian antar pelajar. Hal ini terjadi karena kekerasan itu sudah melembaga dan mentradisi di antara mereka. Lembaga ini hidup subur karena ada peran alumni mereka. Oleh karena itu untuk mencegahnya harus juga melibatkan para alumni yang menjadi sponsor dan provokator terjadinya perkelahian. Di samping itu, perilaku brutal dan berani membunuh sesama siswa tidaklah tumbuh dan muncul tiba-tiba dan sesaat. Keberanian itu jelas merupakan hasil interaksi dari komunitasnya, baik di sekolah maupun di dalam masyarakat dalam arti yang luas berikut piranti teknologi yang ada seperti TV, HP, internet, dan sebagainya. Dalam era yang serba terbuka seperti saat ini, siswa bisa belajar apa saja. Kalau mereka sering dan selalu terekspos pada inspirasi kebrutalan, tentu mereka juga akan melakukan copy-paste pengalaman yang mereka alami itu. Oleh karen itu berbagai lingkungan komunitas siswa kita, harus mampu menawarkan stimulus dan kondisi yang kondusif untuk tumbuh kembangnya inspirasi dan imajinasi siswa terkait dengan sikap dan perilaku yang terpuji. Sekolah perlu membuat kode etik dan tata tertib untuk mengikat para siswa agar memiliki positive common goal dalam 2
  • 3.
    lingkungan sekolahnya. Kodeetik itu harus diberlakukan secara konsisten untuk semua anggota komunitas sekolah tanpa pandang bulu. Proses belajar juga harus memiliki filosofi memberdayakan dan menginspirasi para siswa agar memiliki karakter yang terpuji seperti: disiplin, toleran, empati, simpati, suka menolong, menghargai keberbedaan, dsb. Keluarga dan masyarakat juga harus menjaga konsistensi nilai yang dialami dan sedang dipelajari siswa di sekolah. Ruang publik untuk berekspresi secara positif oleh para siswa perlu mulai dipikirkan oleh pemerintah daerah agar siswa memiliki peluang untuk saling berbagi gagasan, ide, karya seni, olah raga di antara mereka. Jika mereka memiliki kohesi sosial yang kuat, maka mereka tidak gampang terlibat tawuran di antara mereka. Semua mereka akan merasa se-ide, memiliki minat yang serupa ketika melakukan interaksi sosila di ruang publik yang disediakan oleh masyarakat bersama sama pemerintah daerah. Semoga begitu. Prof. Suyanto, Ph.D, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta, Plt. Dirjen Pendidikan Dasar Kemdikbud. 3