MENGAPA ADA YANG MENOLAK KURIKULUM 2013 ?
Oleh: Prof. Suyanto, Ph.D
Kurikulum 2013 telah dikembangkan dan kemudian juga telah
dilakukan uji publik secara terus menerus oleh Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan dengan menggunakan berbagai media dan modalitas. Hasilnya?
Ada yang faham dan mendukng implementasinya di bulan Juli nanti, dan ada
juga yang tidak faham dan dengan demikian tidak mendukung implemen-
tasinya di bulan Juli nanti. Saya ketika masih bertugas di Ditjen Pendidikan
dasar juga sering ikut Menteri melakukan uji publik ke berbagai daerah, ke
redaktur media cetak, talk show di TV, dsb. Rasanya kerja Kementrian sudah
begitu serius dan sistematis dalam upaya mengimplementasikan Kurikulum
2013. Tetapi saya juga heran, mengapa selalu saja ada fihak yang bersikukuh
untuk menolak Kurikulum 2013? Berkali kali-kali KOMPAS menurunkan
laporan mengenai penolakan implementasi Kurikulum 2013 di bulan Juli nanti.
Untuk menyebut beberapa saja baca KOMPAS edisi 9 dan 10 April 2013,
Halaman 12). Mengapa ada yang ingin menolak dan/atau menunda
pelaksanaan Kurikulum 2013? Mengapa saya juga tidak berhasil meyakinkan
mereka dan semua pemangku kepentingan pendidikan dasar agar mereka
semua bersedia mendukung implementasi Kurikulum 2013? Akhirnya saya
berserah diri pada teori difusi inovasi agar tidak memasuki alam pikir yang
mengarah pada kepanikan dan frustrasi begitu selesai menjabat sebagai Plt.
1
Dirjen Pendidikan Dasar Kemdikbud sejak 1 April lalu. Kurikulum 2013
merupakan hal yang baru bagi guru dan juga bagi masyarakat. Isi, tujuan,
struktur, metodenya benar benar baru dibandingkan dengan praktik kurikulum
selama ini. Karena merupakan hal yang baru, maka implementasi Kurikulum
2013 masuk dalam kategori inovasi pendidikan. Banyak teori terkait dengan
sebuah oinovasi. Salah satu yang sangat tersohor adalah teorinya Everett
Rogers (1962): Diffusion of Innovations. Memang betul teori itu sudah lama
dicetuskan, tetapi teori baru yang munculpun juga tetap mengacu pada buku
yang monumental itu.
Elemen Penting Inovasi
Menurut Teori Difusi Inovasi Rogers, ada empat elemen kunci yang menen-
tukan apakah sebuah inovasi bisa diimplementasikan atau disebar-luaskan ke
dalam masyarakat secara menyeluruh. Empat elemen itu meliputi: (1)
innovation, (2) communication channels, (3) time, dan (4) social system.
Dalam konteks Kurikulum 2013, yang menjadi elemen inovasi, ya Kurikulum
itu sendiri. Mengapa dianggap sebagai inovasi, karena kurikulum 2013
merupakan gagasan, program, tujuan, dan praksis pendidikan yang
dipersepsikan atau dipandang sebagai suatu hal yang baru oleh unit sekolah,
satuan pendidikan, guru, kepala sekolah, siswa, dan bahkan orangtua. Oleh
karena itu jika Kurikulum 2013 ingin dengan mudah diadopsi oleh sekolah,
maka perlu ada penjelasan yang bisa memastikan bahwa para target yang
2
akan melaksanakan kurikulum itu baik langsung maupun yang hanya bersifat
mendukung harus benar benar akhirnya memahami hakikat inovasi itu
sendiri. Elemen kedua, communication channels, merupakan berbagai
bentuk komunikasi untuk meyakinkan bahwa Kurikulum 2013 bisa
dilaksanakan. Ini sudah dilakukan oleh Kemdikbud, meskipun hasilnya belum
seperti yang diharapkan. Elemen ketiga, time, inilah yang menjadi kendala
bagi banyak fihak. Berbagai fihak beranggapan bahwa implementasi
Kurikulum terlalu singkat dilihat dari persiapannya. Bulan Juli harus
diimplementasikan, dan para pemangku kepentingan memiliki persepsi terlalu
tergesa gesa untuk melakukan implementasi, meskipun Kemdikbud telah
berhitung dan berencana tidak demikian halnya terkait dengan waktu
implementasi. Rogers memang memberi isyarat bahwa dari proses inovasi
sampai pada keputusan mengadopsi sebuah inovasi ke praktek keseharian
perlu diberi waktu yang cukup karena inovasi selalu berhadapan dengan
resistensi banyak fihak yang bukan karena kelemahan substansi inovasi,
tetapi semata-mata karena persoalan persepsi negatif terhadap inovasi itu
sendiri pada awalnya. Pendek kata faktor waktu ini sangat menentukan
tingkat kecepatan adopsi sebuah inovasi. Kalau saja inovasinya sangat
kompleks, melibatkan banyak unsur dan pemangku kepentingan seperti
pergantian kurikulum, maka para guru, orangtua, masyarakat, memerlukan
kecukupan waktu agar bisa menjadi pengadopsi awal sebuah inovasi
(kurikulum) setelah mereka melewati tahapan-tahapan yang harus dilalui,
3
yang menurut Rogers ada lima, yaitu: (1) knowledge, (2) persuasion, (3)
decision (adopt or reject), (4) implementation, dan (5) conformation.
Elemen terakhir, yaitu social system, mengharuskan inovator mema-
hami bahwa sebuah inovasi sosial (katakan Kurikulum) tidak akan terjadi di
alam yang steril, vakum, dari pengaruh pranata sosial yang saling kait
mengkait untuk mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu aspek sosial
budaya, politik dan ekonomi akan menjadi elemen dan pertimbangan penting
bagi diadopsi atau tidak sebuah inovasi. Itulah sebabnya faktor biaya, ongkos
sosial, entitas budaya, dan bahkan politik telah mengemuka akhir akhir ini
dalam mewacanakan implementasi Kurikulum 2013. Dari aspek anggaran
banyak yang komentar, dan bahkan belum-belum LSM sudah menakut-nakuti
pejabat penanggung jawab kegiatan dengan stigmatisasi Hambalang dalam
hal penggandaan buku. Kurikulum 2013 saat ini juga sudah menjadi tema
wacana politik di dalam masyarakat maupun di parlemen. Ini semua terjadi
karena, sekali lagi inovasi sosial (Kurikulum) memang tidak bisa terjadi di
ruang, waktu, tempat yang steril dan vakum.
Karakteristik Inovasi
Apa kata Rogers tetang karakteristik intrinsik sebuah inovasi agar
masyarakat luas dengan suka rela mengadopsi? Ada lima karakteristik yang
harus kita perhatikan jika Kurikulum 2013 segera diadopsi menjadi sebuah
praksis pendidikan. Lima karakteristik intrinsik itu meliputi: (1) relative
4
advantage; (2) compatibility; (3) complexity or simplicity; (4) trialability; dan (5)
observability. Inovasi yang menawarkan keuntungan relatif (relative
advantage) bagi masyarakat akan cepat diadopsi. Dalam konteks sikap,
keterampilan, dan pengetahuan, apa keuntungannya jika sekolah
mengadopsi Kurikulum 2013? Uji publik sudah menjelaskan hal ini semua.
Namun bagi para penerbit juga bertanya apa untungnya implementasi
kurikulum bagi penerbit buku di negeri ini? Pertanyaan terakhir ini tidak harus
dijawab, namun pertanyaan itu tetap saja ada sampai kapanpun. Karakteristik
kedua, compatibility, menjelaskan apakah kurikulum baru itu kompatibel
dengan praktik pendidikan dan pembelajaran saat ini atau tidak, akan
menentukan tingkat kecepatan adopsinya. Kalau saja para guru, kepala
sekolah, orang tua memiliki persepsi bahwa Kurikulum 2013 ini bisa
diasimilasikan dengan praktik yang sedang terjadi, maka adopsinya akan
semakin cepat. Kalau persepsi mereka tidak dimikian, maka adopsinnya akan
lebih lama, dan perlu waktu yang lebih panjang untuk mengubah persepsi
mereka.
Karakteristik ketiga, Complexity or simplicity, menunjukkan bahwa jika
Kurikulum 2013 dipersepsikan oleh calon implementornya sebagai hal yang
sulit, rumit, tidak sederhana, maka sekolah-sekolah yang menjadi target untuk
mengimplementasikannya akan cenderung lambat dan bahkan tidak mau
mengadopsi. Uji publik memberikan penjelasan bahwa Kurikulum 2013 justru
akan memperingan tugas guru dalam mengajar, semua bahan dan tema telah
5
disediakan oleh pemerintah. Di samping itu guru juga akan dilatih dan
didampingi dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013.
Karakteristik intrinsik inovasi yang keempat, Triability, meng-
isyaraatkan sejauh mana sebuah inovasi (Kurikulum 2013) bisa dengan
mudah dilakukan uji coba, dalam cakupan yang relatif terbatas, sehingga para
guru, kepala sekolah dan juga orang tua bisa melihat kehebatan Kurikulum
baru itu. Semakin mudah dilakukan uji coba, tetapi bukan coba-coba, guru
dan juga pemangku kepentingan lainnya akan semakin berpeluang untuk
bersedia mengadopsinya lebih awal.
Karakteristik intrinsik terakhir, observabiliity, menjelaskan sejauh mana
inovasi bisa diamati dengan mudah oleh masyarakat. Jika inovasi itu mudah
diamati, maka akan segera menyebar dari orang ke orang berikutnya,
sehingga akhirnya bisa menjadi gerakan bersama secara massif dan menjadi
tujuan bersama dalam adopsinya. Demikianlah elemen, proses, dan karak-
teristik intrinsik inovasi. Kalau saja semua tahapan Rogers itu bisa dialakukan
niscaya implementasi Kurikulum 2013 akan semakin mudah. Semoga begitu.
Prof. Suyanto, Ph.D
Guru Besar FE Universitas Negeri Yogyakarta.
6
disediakan oleh pemerintah. Di samping itu guru juga akan dilatih dan
didampingi dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013.
Karakteristik intrinsik inovasi yang keempat, Triability, meng-
isyaraatkan sejauh mana sebuah inovasi (Kurikulum 2013) bisa dengan
mudah dilakukan uji coba, dalam cakupan yang relatif terbatas, sehingga para
guru, kepala sekolah dan juga orang tua bisa melihat kehebatan Kurikulum
baru itu. Semakin mudah dilakukan uji coba, tetapi bukan coba-coba, guru
dan juga pemangku kepentingan lainnya akan semakin berpeluang untuk
bersedia mengadopsinya lebih awal.
Karakteristik intrinsik terakhir, observabiliity, menjelaskan sejauh mana
inovasi bisa diamati dengan mudah oleh masyarakat. Jika inovasi itu mudah
diamati, maka akan segera menyebar dari orang ke orang berikutnya,
sehingga akhirnya bisa menjadi gerakan bersama secara massif dan menjadi
tujuan bersama dalam adopsinya. Demikianlah elemen, proses, dan karak-
teristik intrinsik inovasi. Kalau saja semua tahapan Rogers itu bisa dialakukan
niscaya implementasi Kurikulum 2013 akan semakin mudah. Semoga begitu.
Prof. Suyanto, Ph.D
Guru Besar FE Universitas Negeri Yogyakarta.
6

Ada yang menolak kurikulum

  • 1.
    MENGAPA ADA YANGMENOLAK KURIKULUM 2013 ? Oleh: Prof. Suyanto, Ph.D Kurikulum 2013 telah dikembangkan dan kemudian juga telah dilakukan uji publik secara terus menerus oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dengan menggunakan berbagai media dan modalitas. Hasilnya? Ada yang faham dan mendukng implementasinya di bulan Juli nanti, dan ada juga yang tidak faham dan dengan demikian tidak mendukung implemen- tasinya di bulan Juli nanti. Saya ketika masih bertugas di Ditjen Pendidikan dasar juga sering ikut Menteri melakukan uji publik ke berbagai daerah, ke redaktur media cetak, talk show di TV, dsb. Rasanya kerja Kementrian sudah begitu serius dan sistematis dalam upaya mengimplementasikan Kurikulum 2013. Tetapi saya juga heran, mengapa selalu saja ada fihak yang bersikukuh untuk menolak Kurikulum 2013? Berkali kali-kali KOMPAS menurunkan laporan mengenai penolakan implementasi Kurikulum 2013 di bulan Juli nanti. Untuk menyebut beberapa saja baca KOMPAS edisi 9 dan 10 April 2013, Halaman 12). Mengapa ada yang ingin menolak dan/atau menunda pelaksanaan Kurikulum 2013? Mengapa saya juga tidak berhasil meyakinkan mereka dan semua pemangku kepentingan pendidikan dasar agar mereka semua bersedia mendukung implementasi Kurikulum 2013? Akhirnya saya berserah diri pada teori difusi inovasi agar tidak memasuki alam pikir yang mengarah pada kepanikan dan frustrasi begitu selesai menjabat sebagai Plt. 1
  • 2.
    Dirjen Pendidikan DasarKemdikbud sejak 1 April lalu. Kurikulum 2013 merupakan hal yang baru bagi guru dan juga bagi masyarakat. Isi, tujuan, struktur, metodenya benar benar baru dibandingkan dengan praktik kurikulum selama ini. Karena merupakan hal yang baru, maka implementasi Kurikulum 2013 masuk dalam kategori inovasi pendidikan. Banyak teori terkait dengan sebuah oinovasi. Salah satu yang sangat tersohor adalah teorinya Everett Rogers (1962): Diffusion of Innovations. Memang betul teori itu sudah lama dicetuskan, tetapi teori baru yang munculpun juga tetap mengacu pada buku yang monumental itu. Elemen Penting Inovasi Menurut Teori Difusi Inovasi Rogers, ada empat elemen kunci yang menen- tukan apakah sebuah inovasi bisa diimplementasikan atau disebar-luaskan ke dalam masyarakat secara menyeluruh. Empat elemen itu meliputi: (1) innovation, (2) communication channels, (3) time, dan (4) social system. Dalam konteks Kurikulum 2013, yang menjadi elemen inovasi, ya Kurikulum itu sendiri. Mengapa dianggap sebagai inovasi, karena kurikulum 2013 merupakan gagasan, program, tujuan, dan praksis pendidikan yang dipersepsikan atau dipandang sebagai suatu hal yang baru oleh unit sekolah, satuan pendidikan, guru, kepala sekolah, siswa, dan bahkan orangtua. Oleh karena itu jika Kurikulum 2013 ingin dengan mudah diadopsi oleh sekolah, maka perlu ada penjelasan yang bisa memastikan bahwa para target yang 2
  • 3.
    akan melaksanakan kurikulumitu baik langsung maupun yang hanya bersifat mendukung harus benar benar akhirnya memahami hakikat inovasi itu sendiri. Elemen kedua, communication channels, merupakan berbagai bentuk komunikasi untuk meyakinkan bahwa Kurikulum 2013 bisa dilaksanakan. Ini sudah dilakukan oleh Kemdikbud, meskipun hasilnya belum seperti yang diharapkan. Elemen ketiga, time, inilah yang menjadi kendala bagi banyak fihak. Berbagai fihak beranggapan bahwa implementasi Kurikulum terlalu singkat dilihat dari persiapannya. Bulan Juli harus diimplementasikan, dan para pemangku kepentingan memiliki persepsi terlalu tergesa gesa untuk melakukan implementasi, meskipun Kemdikbud telah berhitung dan berencana tidak demikian halnya terkait dengan waktu implementasi. Rogers memang memberi isyarat bahwa dari proses inovasi sampai pada keputusan mengadopsi sebuah inovasi ke praktek keseharian perlu diberi waktu yang cukup karena inovasi selalu berhadapan dengan resistensi banyak fihak yang bukan karena kelemahan substansi inovasi, tetapi semata-mata karena persoalan persepsi negatif terhadap inovasi itu sendiri pada awalnya. Pendek kata faktor waktu ini sangat menentukan tingkat kecepatan adopsi sebuah inovasi. Kalau saja inovasinya sangat kompleks, melibatkan banyak unsur dan pemangku kepentingan seperti pergantian kurikulum, maka para guru, orangtua, masyarakat, memerlukan kecukupan waktu agar bisa menjadi pengadopsi awal sebuah inovasi (kurikulum) setelah mereka melewati tahapan-tahapan yang harus dilalui, 3
  • 4.
    yang menurut Rogersada lima, yaitu: (1) knowledge, (2) persuasion, (3) decision (adopt or reject), (4) implementation, dan (5) conformation. Elemen terakhir, yaitu social system, mengharuskan inovator mema- hami bahwa sebuah inovasi sosial (katakan Kurikulum) tidak akan terjadi di alam yang steril, vakum, dari pengaruh pranata sosial yang saling kait mengkait untuk mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu aspek sosial budaya, politik dan ekonomi akan menjadi elemen dan pertimbangan penting bagi diadopsi atau tidak sebuah inovasi. Itulah sebabnya faktor biaya, ongkos sosial, entitas budaya, dan bahkan politik telah mengemuka akhir akhir ini dalam mewacanakan implementasi Kurikulum 2013. Dari aspek anggaran banyak yang komentar, dan bahkan belum-belum LSM sudah menakut-nakuti pejabat penanggung jawab kegiatan dengan stigmatisasi Hambalang dalam hal penggandaan buku. Kurikulum 2013 saat ini juga sudah menjadi tema wacana politik di dalam masyarakat maupun di parlemen. Ini semua terjadi karena, sekali lagi inovasi sosial (Kurikulum) memang tidak bisa terjadi di ruang, waktu, tempat yang steril dan vakum. Karakteristik Inovasi Apa kata Rogers tetang karakteristik intrinsik sebuah inovasi agar masyarakat luas dengan suka rela mengadopsi? Ada lima karakteristik yang harus kita perhatikan jika Kurikulum 2013 segera diadopsi menjadi sebuah praksis pendidikan. Lima karakteristik intrinsik itu meliputi: (1) relative 4
  • 5.
    advantage; (2) compatibility;(3) complexity or simplicity; (4) trialability; dan (5) observability. Inovasi yang menawarkan keuntungan relatif (relative advantage) bagi masyarakat akan cepat diadopsi. Dalam konteks sikap, keterampilan, dan pengetahuan, apa keuntungannya jika sekolah mengadopsi Kurikulum 2013? Uji publik sudah menjelaskan hal ini semua. Namun bagi para penerbit juga bertanya apa untungnya implementasi kurikulum bagi penerbit buku di negeri ini? Pertanyaan terakhir ini tidak harus dijawab, namun pertanyaan itu tetap saja ada sampai kapanpun. Karakteristik kedua, compatibility, menjelaskan apakah kurikulum baru itu kompatibel dengan praktik pendidikan dan pembelajaran saat ini atau tidak, akan menentukan tingkat kecepatan adopsinya. Kalau saja para guru, kepala sekolah, orang tua memiliki persepsi bahwa Kurikulum 2013 ini bisa diasimilasikan dengan praktik yang sedang terjadi, maka adopsinya akan semakin cepat. Kalau persepsi mereka tidak dimikian, maka adopsinnya akan lebih lama, dan perlu waktu yang lebih panjang untuk mengubah persepsi mereka. Karakteristik ketiga, Complexity or simplicity, menunjukkan bahwa jika Kurikulum 2013 dipersepsikan oleh calon implementornya sebagai hal yang sulit, rumit, tidak sederhana, maka sekolah-sekolah yang menjadi target untuk mengimplementasikannya akan cenderung lambat dan bahkan tidak mau mengadopsi. Uji publik memberikan penjelasan bahwa Kurikulum 2013 justru akan memperingan tugas guru dalam mengajar, semua bahan dan tema telah 5
  • 6.
    disediakan oleh pemerintah.Di samping itu guru juga akan dilatih dan didampingi dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013. Karakteristik intrinsik inovasi yang keempat, Triability, meng- isyaraatkan sejauh mana sebuah inovasi (Kurikulum 2013) bisa dengan mudah dilakukan uji coba, dalam cakupan yang relatif terbatas, sehingga para guru, kepala sekolah dan juga orang tua bisa melihat kehebatan Kurikulum baru itu. Semakin mudah dilakukan uji coba, tetapi bukan coba-coba, guru dan juga pemangku kepentingan lainnya akan semakin berpeluang untuk bersedia mengadopsinya lebih awal. Karakteristik intrinsik terakhir, observabiliity, menjelaskan sejauh mana inovasi bisa diamati dengan mudah oleh masyarakat. Jika inovasi itu mudah diamati, maka akan segera menyebar dari orang ke orang berikutnya, sehingga akhirnya bisa menjadi gerakan bersama secara massif dan menjadi tujuan bersama dalam adopsinya. Demikianlah elemen, proses, dan karak- teristik intrinsik inovasi. Kalau saja semua tahapan Rogers itu bisa dialakukan niscaya implementasi Kurikulum 2013 akan semakin mudah. Semoga begitu. Prof. Suyanto, Ph.D Guru Besar FE Universitas Negeri Yogyakarta. 6
  • 7.
    disediakan oleh pemerintah.Di samping itu guru juga akan dilatih dan didampingi dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013. Karakteristik intrinsik inovasi yang keempat, Triability, meng- isyaraatkan sejauh mana sebuah inovasi (Kurikulum 2013) bisa dengan mudah dilakukan uji coba, dalam cakupan yang relatif terbatas, sehingga para guru, kepala sekolah dan juga orang tua bisa melihat kehebatan Kurikulum baru itu. Semakin mudah dilakukan uji coba, tetapi bukan coba-coba, guru dan juga pemangku kepentingan lainnya akan semakin berpeluang untuk bersedia mengadopsinya lebih awal. Karakteristik intrinsik terakhir, observabiliity, menjelaskan sejauh mana inovasi bisa diamati dengan mudah oleh masyarakat. Jika inovasi itu mudah diamati, maka akan segera menyebar dari orang ke orang berikutnya, sehingga akhirnya bisa menjadi gerakan bersama secara massif dan menjadi tujuan bersama dalam adopsinya. Demikianlah elemen, proses, dan karak- teristik intrinsik inovasi. Kalau saja semua tahapan Rogers itu bisa dialakukan niscaya implementasi Kurikulum 2013 akan semakin mudah. Semoga begitu. Prof. Suyanto, Ph.D Guru Besar FE Universitas Negeri Yogyakarta. 6