2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
11
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
No Nama Keterangan
1. Sampe L. Purba, SE, Ak, M.Com, SH, MH Ketua
2. Drs. Bima Anggara Sena, MH Sekretaris
3. Awaludin Moderator
4. Drs. Ahmad Lumumba, SH Anggota
5. Yuniar Ludfi Anggota
6. Taufiq Suhargo Arif Anggota
7. Anang Dwitono, SE Anggota
8. Drs. Edward Marpaung, MM Anggota
9. Dra. Sri Utami Eka Ningtyas, Apt, MM Anggota
10. Dr. Yurnal, SH, S.PD, M.Hum Anggota
11. Ir. Bennyta Suryo Septano, MT Anggota
12. Benny Susianto, SIP Anggota
13 Badrul Hisam Bin Mohamed Anggota
222
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
Sistematika
Paparan
1) Pendahuluan
 Pola – Pikir & Alur Pikir
 Pokok Masalah
2) Landasan Pemikiran
3) Kondisi saat ini
4) Perkembangan Lingstra
5) Kondisi yang diharapkan
6) Konsepsi : KSU
7) Penutup
33
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
=> peran anggaran (APBN/APBD) dan
Perbankan ->sistem ekonomi b’keadil’an
;>manfaat , kebijakan a/d analisis
MAKSUD & TUJUAN
RUANG LINGKUP
BAB I Pendahuluan
BAB II Landasan Pemikiran
BAB III Kondisi Saat Ini
BAB IV Perkembangan Ling Stra
BAB V Kondisi Yg Diharapkan
BAB VI Konsepsi
BAB VII Penutup
TATA URUT
PENGERTIAN
METODE  Kualitatif yaitu deskriptif analitis
PENDEKATAN  Komprehensif integral melalui
pisau analisa Tannas
METODE
PENDEKATAN
Batasan peran anggaran ;>sistem ekonomi yg adil 
Tannas
44
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
 UU Otonomi Daerah memberikan hak, wewenang dan
kewajiban kpd Pemda utk penyelenggaraan
Pemerintahan, Pembangunan dan Pelayanan Masyarakat
 Terdapat Ketergantungan yang tinggi atas transfer fiskal
dari APBN utk mendukung APBD
 Lembaga Perbankan belum optimal sbg katalisator dan agen
pembangunan utk menggerakkan ekonomi masyarakat
55
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
KETAHANAN
NASIONAL
TANGGUH
PERAN
ANGGARAN
SERTA
PERBANKAN
YANG
DIHARAPKAN
KONSEPSI
Kebijakan
Strategi
Upaya
INSTRUMENTAL INPUTPOKOK-POKOK
PERSOALAN
BLUM OPTIMALNYA
PELAKSANAAN
DESENTRALISASI
FISKAL
Peran
Anggaran
serta
Perbankan
saat ini
SISTEM
EKONOMI DAN
KEUANGAN
YANG
BERKEADILAN
MENINGKAT
• PARADIGMA NASIONAL
• PER-UU
• BANGLINGSTRA
• PELUANG & KENDALA
ENVIRONMENTAL INPUT
RENDAHNYA
KWALITAS APBN
DAN APBD
BLM TRCPTANYA
KEADILAN HUB PUSAT
DAN DAERAH DALAM
PEMBANGUNAN
BELUM OPTIMALNYA
PERBANKAN DAERAH DLM
MEMACU PEREKONOMIAN
DAERAH
6
6
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
KONDISI
APBN & APBD
SERTA
PERBANKAN
SAAT INI
PERAN
ANGGARAN
APBN & APBD
SERTA
PERBANKAN YG
DIHARAPKAN
INSTRUMENTAL INPUT
PARADIGMA NASIONAL
(PANCASILA, UUD 1945,
WASANTARA, TANNAS )
ENVIRONMENTAL INPUT
BANG LINGSTRA
(GLOBAL, REGIONAL,
NASIONAL)
PELUANG & KENDALA
FEED BACK
S O M
› SUPRA
STRUKTUR
› INFRA
STRUKTUR
› SUB
STRUKTUR
› PEMERINTAH Pusat
› PEMDA
› DPR, DPRD
› BPKP
› Perg. Tinggi
› Asosiasi Dunia
Usaha
› REGULASI
› SOSIALISASI
› KERJASAMA
› KOORDINASI
› PENGAWASAN
› PARTISIPASI
PERAN ANGGARAN (APBN DAN APBD) SERTA PERBANKAN GUNA MENINGKATKAN SISTEM
EKONOMI DAN KEUANGAN YANG BERKEADILAN DALAM RANGKA KETAHANAN NASIONAL
KETAHANAN
NASIONAL
TANGGUH
Sistem
Ekonomi dan
Keuangan yang
berkeadilan
meningkat
77
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
 PARADIGMA NASIONAL
PANCASILA UUD NRI 1945 WASANTARA TANNAS
 PERATURAN PER UU-ANUURI No. 7 thn 1992 – 10/1998 ttg Perbankan
UURI No. 25 thn 2004 ttg Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional
UURI No. 32 thn 2004 Ttg Pemerintah Daerah
Perpres RI No. 5 Th 2010 Ttg RPJMN 2010 - 2014
88
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
 LANDASAN TEORI
 Teori Keyness -> campur tangan Pemerintah
diperlukan melalui kebijakan fiskal dan moneter
 Teori Desentralisasi – delegation of authority
 TINJAUAN PUSTAKA
 Andy Ramses – M La Bakry : Pemda di Indonesia
 Kemenko Perekonomian : Dokumen Masterplan
Percepatan dan Perluasan Perekonomian Indonesia
99
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
POKOK P’SOALAN
- SISTEM EK-KEU
- YG BERKEADILAN
- IMPLIKASI NEGATIF THD
TANGGUHNYA TANNAS
KONDISI IMPLIKASI
PERAN ANGGARAN SERTA
PERBANKAN THD SISTEM
EK-KEU YG BERKEADILAN
 Desentralisasi
Fiskal
(kewenangan
spending vs
sumber dana)
 Peran Perbankan
dalam
Perekonomian
Daerah
 Kondisi hubungan
Pusat – daerah
(Pemerintahan –
Pembangunan –
YanMas)
 Postur APBN -
APBD
BELUM OPTIMAL
PELAKSANAAN
DESENTRALISASI FISKAL
BELUM OPTIMALNYA
PERBANKAN DAERAH
DLM MEMACU
PEREKONOMIAN DAERAH
BELUM TERCIPTANYA
KEADILAN HUB. PUSAT
DAN DAERAH DLM
PEMBANGUNAN
RENDAHNYA KUALITAS
APBN DAN APBD
BAB - III
POKOK PERSOALAN
1010
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
Paradoks Otonomi Daerah (1/4)
=> Kewenangan vs Pendanaan
• Pusat =>
dana
besar, kewen
angan kecil
• Daerah =>
dana
kecil, kewena
ngan besar
1111
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
Paradoks Otonomi Daerah (2/4)
Prioritas vs Perencanaan
• Rencana
Kegiatan –
Anggaran tdk
match
• RPJM vs
Program
Pemda –
Musrenbang ?
• Perencanaan
vs
Persetujuan
Anggaran
• Program
Pusat vs
Daerah
1212
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
1313
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
APBN RAPBNP APBNP
A. PENDAPATAN NEGARA 1.529,7 1.488,3 1.502,0
I. PENDAPATAN DALAM NEGERI 1.525,2 1.483,8 1.497,5
1. PENERIMAAN PERPAJAKAN 1.193,0 1.139,3 1.148,4
2. PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK 332,2 344,5 349,2
II. PENERIMAAN HIBAH 4,5 4,5 4,5
B. BELANJA NEGARA 1.683,0 1.722,0 1.726,2
I Belanja Pemerintah Pusat 1.154,4 1.193,3 1.196,8
1. Belanja K/L 594,6 587,4 622,0
2. Belanja Non KL 559,8 605,9 574,8
a.l - Subsidi BBM, LPG & BBN 193,8 209,9 199,9
II. TRANSFER KE DAERAH 528,6 528,7 529,4
1. Dana Perimbangan 444,8 444,9 445,5
a.l Dana Bagi Hasil 102,0 102,1 102,7
2. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian 83,8 83,8 83,8
TOTAL ANGGARAN PENDIDIKAN 336.849,0 344.406,1 345.335,1
Rasio Anggaran Pendidikan Total (%) 20,0 20,0 20,0
C. KESEIMBANGAN PRIMER (40,1) (120,8) (111,7)
D. SURPLUS DEFISIT ANGGARAN (A - B) (153,3) (233,7) (224,2)
% Defisit terhadap PDB (1,65) (2,48) (2,38)
E. PEMBIAYAAN (I + II) 153,3 233,7 224,2
I. PEMBIAYAAN DALAM NEGERI 172,8 250,6 241,1
a.l - SAL 10,0 30,0 30,0
- Surat Berharga Negara (neto) 180,4 241,3 231,8
II. PEMBIAYAAN LUAR NEGERI (neto) (19,5) (16,9) (16,9)
a.l - Pinjaman Program 6,5 11,1 11,1
KELEBIHAN/(KEKURANGAN) PEMBIAYAAN (0,0) 0,0 0,0
POSTUR SEMENTARA APBNP 2013
(miliar rupiah)
336,8 (20%) 344,4 (20%) 345,3(20%)
14
14Sumber : presentasi BKF-KemenKeu di Lemhannas 14
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
 PERLAMBATAN EKONOMI
GLOBAL
 PENGANGGURAN
ERA PASAR BEBAS
 komunitas ASEAN
AEC
Akses pasar
Kesenjangan ekonomi
TEKNOLOGI
• GEO, DEMO, SKA
• IPOLEKSOSBUDHANKAM
MENIMBULKAN
Bab IV
1515
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
1. IPTEK dan Global issue -> antisipasi
penyusunan prioritas APBN
2. AEC : akses pasar
, enterpreneurship.
3. SKA sbg modal pembangunan di
daerah.
4. Jaringan Perbankan yang
menyebar di daerah, sbg mitra
pembangunan dan pembimbingan
credit culture
5. Sistem penyusunan APBN/D yg
mengacu pd musrenbang 
transparansi dan partisipasi
masyarakat.
1. Perlambatan pertumbuhan ekonomi
dunia, merembet ke pertumbuhan
nasional, pengaruhi kualitas prioritas
APBN/D
2. Penyebaran geografis dan
keterbatasan infrastruktur, utk
konektivitas dan akses pasar
3. Over eksploitasi SKA, ego
kedaerahan, pragmatisme Kepala
daerah berperspektif periodisasi jk
pendek
4. Masyarakat yang belum bank-
minded, risk-averse perbankan, dan
blm terlibat dlm pembiayaan
menengah
5. Penyusunan anggaran
berjenjang, skala prioritas
berbeda,  birokratis
1616
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
17
KONDISI KONTRIBUSI INDIKASI K’HASIL
Peningkatan sistem
ekonomi
yang berkeadilan
KONTRIBUSI POSITIF
THD Tangguhnya TANNAS
Kontribusi peran
Anggaran serta
Perbankan thdp sistem
ekonomi dan keuangan
 Optimalnya
pelaksanaan
desentralisasi fiskal
 Optimalnya peran
Perbankan daerah
dalam memacu
perekonomian
 Terciptanya
keadilan hubungan
Pusat dan Daerah
dlm Pembangunan
 Meningkatnya
kualitas APBN
dan APBD.
 Terwujudnya
pelaksanaan
desentralisasi fiskal
 Terwujudnya
optimalisasi peran
perbankan daerah dlm
pacu ekonomi
 Terwujudnya prinsip
keadilan hub. Pusat –
Daerah yg berkeadilan
 Terwujudnya
peningkatan kualitas
APBN dan APBD
BAB V
17
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
KEBIJAKAN STRATEGI UPAYA-UPAYA
“MENINGKATNYA
PERAN
ANGGARAN DAN
SERTA
PERBANKAN
DALAM
MEWUJUDKAN
SISTEM EKONOMI
DAN KEUANGAN
YANG
BERKEADILAN ”
STRATEGI-1.
Mengoptimalkan pelaks
desentralisasi fiskal : kurangi
ketergantungan fiskal, serap
anggaran, governance
Kemendagri, Bappenas, Kemenkeu, Pemda, Perg.
Tinggi, MenPan, BPKP
Utk FISKAL, Penyerapan anggaran, Governance
Sesuai keahlian, kewenangan dan TuPokSi
Hal. 38-39
STRATEGI-2.
Mengoptimalkan peran
perbankan daerah utk
pacu ekon. Daerah :
alokasi, asistensi, credit culture
Kemendagri, Pemda, DPR, Asosiasi Perbankan,
KemenKeu, Bappenas, Perg. Tinggi
Pokja, kajian, penyuluhan, bimbingan
 sesuai keahlian, kewenangan
 hal. 40-41
STRATEGI-3.
Menciptakan keadilan
hubungan Pusat -
Daerah
Kemendagri, Kemenkeu, PDT, Kemenhub,
Bappenas, PT, Kemenkes subsidi silang,
infrastruktur , kajian
 sesuai keahlian, kewenangan, TuPoksi
 hal. 41-42
STRATEGI-4.
Meningkatkan kualitas
APBN - APBD
Prioritas, keseimbangan,
Bappenas, Kemendagri, Kemenkeu, Pemda,
PT
 sesuai keahlian, kewenangan, TuPoksi
 hal. 42-43 1818
BAB VI
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
 Utk optimalkan desentralisasi fiskal, kemampuan menggali PAD secara cerdas,
perencanaan tepat waktu – sasaran, good governance dan clean goverment
 Bank minded sbg sebuah proses : Memasyarakatkan perbankan dan
memperbankan masyarakat
 Hub. Keuangan Pusat – daerah yang berkeadilan utk dinamisasi pembangunan
termasuk daerah terluar, terdepan dan tertinggal
 Kualitas postur APBN-D, kepercayaan Pusat ke daerah, dlm konteks pembangunan
nasional
 Menko Perekonomian : reformulasi kebij fiskal, dg memperhatikan kemampuan
daerah dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi
 Kemendagri, Kemenkeu, Perbankan, Pemda : Pemberdayaan Perbankan
 Menkeu, Bappenas : Harmonisasi MusrenbangNas-Da dg Perenc Nasional
 MenPan, Mendagri : Mengkaji Postur ideal Struktur Organisasi PemDa
berdasarkan analisis beban kerja, kemampuan daerah utk dukung pembangunan
BAB VII
1919
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
20
Achirul Kalam
•Terima
kasih
•Merdeka
•HorasssMohon masukan dan saran untuk
pengayaan dan penyempurnaan
sampepurba@gmail.com
20
BACK-UP
21
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
Pendahuluan
• Kebijakan Fiskal dan
Moneter adalah ibarat dua
sisi mata uang
• Stabilitas kebijakan makro
diperlukan utk
menggerakkan sektor riel di
masyarakat
• Goals  Sistem ekonomi dan
keuangan yang berkeadilan
APBN – Perbankan
dan Infrastruktur
2222
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
Peraturan Per UU an
• UU 32/2004 ttg Pemda
• UU 33/ 2004 ttg Perimbangan
Keuangan Pusat – daerah
• UU 17 / 2003 ttg Keuangan Negara
• UU 25/ 2004 ttg Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional
• UU 17/ 2007 ttg RPJMN
• UU 7/1992 jo 10/1998 ttg Perbankan
23
24
Diagram Harmonisasi Perencanaan dan
Penganggaran Pemerintah Pusat/Daerah
RPJM
Daerah
RPJP
Daerah
RKP
RPJM
Nasional
RPJP
Nasional
Renstra
KL
Renja -
KL
Renstra
SKPD
Renja -
SKPD
RAPBN
RAPBD
RKA-
KL
RKA -
SKPD
APBN
Keppres
Rincian APBN
APBD
Kep KDH tentang
Rincian APBD
Diacu
Pedoman Dijabarkan
Pedoman
Pedoman
Pedoman
Pedoman
Pedoman
Diacu
Dijabarkan
Pedoman
Pedoman
Pedoman
Pedoman
Diacu
Diacu
Diselaraskan melalui Musrenbang
UU NO. 25/2004
Pemerintah
Pusat
Pemerintah
Daerah
UU NO. 17/2003
RKP
Daerah
Musren-
bangda
Musren-
bangnas
24
25
Sumber Pendanaan
UU No. 33/2004
Pemerintah
Pusat
Pemerintah
Daerah
Belanja
Surplus/Defisit
Pembiayaan
Lain-lain
Pendapatan
yang Sah
Pendapatan
Transfer
PAD
UU No.34/2000
APBN
APBN
Sebagian Urusan
UU No. 32/2004
APBD
Pelaksanaan
Urusan
RUANG LINGKUP KEBIJAKAN FISKAL NASIONAL
DAK
Dana Otsus
DBH
DAU
Dana Penyesuaian
Dana Hibah
Dana Darurat
Tugas
Pembantuan
Pemerintah
Pusat kepada
Daerah
Dekonsentrasi
Desentralisasi K/L melimpahkan wewenang
kepada Gubernur
K/L menugaskan
wewenang kepada
Gubernur/Bupati/
Walikota
(DEPKEU)
(DEPDAGRI)
Hasil Penjualan
Kekayaan Daerah
yang Dipisahkan
Pinjaman Daerah
Penggunaan SILPA
Pencairan Dana
Cadangan
25
26
Belanja
Pemerintah
Pusat
1. Belanja Pegawai
2. Belanja Barang
3. Belanja Modal
4. Pembayaran Bunga Utang
5. Subsidi
6. Belanja Hibah
7. Bantuan Sosial
8. Belanja Lain-lain
Transfer ke
Daerah
K/L
Belanja Pusat
di Pusat
Belanja Pusat
di Daerah
6 Urusan Mutlak
Di luar 6 Urusan
Kanwil di Daerah
Dikerjakan sendiri
Melalui UPT
Dilimpahkan ke
Gubernur
Ditugaskan ke
Gub/Bupati/
Walikota
AP
B
N
PUSAT DAERAH
Dana
Dekonsentrasi
Dana Tugas
Pembantuan
APBD
Hibah
Dana Darurat
1. Dana Perimbangan
2. Dana Otonomi Khusus
3. Dana Penyesuaian
Dana
Desentralisasi
Dana Sektoral di
Daerah
ALUR DANA APBN KE DAERAH
26
Pembagian Urusan dan Pembiayaan
27
C
O
N
C
U
R
R
E
N
T
UU NO. 32 /2004
PEMERINTAHAN DAERAH
UU NO. 33/2004
PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA
PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH
PEMBAGIAN URUSAN
PEMERINTAHAN
DESENTRALISASI FISKAL
URUSAN
PEMERINTAH
APBN DANA PERIMBANGAN
URUSAN PEMERINTAH
PROVINSI
DEKONSENTRASI DAN TUGAS
PEMBANTUAN
APBD PROVINSI
URUSAN PEMERINTAH
KABUPATEN / KOTA
DESENTRALISASI APBD KAB/KOTA
TRANSFER DANA
27
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
Perkembangan dan proyeksi transfer ke daerah (RAPBN 2013)
• Ada
kecenderungan
ketergantungan
fiskal yang
tinggi kepada
Pemerintah
Pusat
28
Hubungan Keuangan
Pemerintah Pusat dan Daerah
29
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
Sistem
Ekonomi
Nasional
Pembangunan Daerah B2
Pembangunan Kawasan
A+B
Pembangunan Daerah A1
Pembangunan Daerah dalam Konteks Sistem Ekonomi Nasional
Pembangunan Daerah A2
Pembangunan Daerah B1
Pembangun
an Regional
A
Pembangun
an Regional
B
Pembangunan
Nasional
30Courtesy slide : slamet soedarsono – bappenas - Lemhannas
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
31
Share PDRB Per Pulau di Indonesia
23,54%
58,86%
9,5
5%
1,87%
0,26%
1,33%
4,61%
Sumatera
Jawa - Bali
Kalimantan
Nusa Tenggara
Sulawesi
Maluku
Sumber: Hasil Analisis Dit. Otda Bappenas, 2013
Share PDRB atas Harga Dasar 2011
Papua
Share PDRB masih didominasi oleh Pulau Jawa dan Bali, sementara Share dari Indonesia Timur
masih sangat kecil
Theil Indeks 2005 2010**
T % T %
inequality antarkab/kota 0,246 50,05 0,196 45,64
inequality antarprovinsi 0,208 42,44 0,204 47,54
inequality antarwilayah 0,037 7,51 0,029 6,82
Total inequality 0,491 100,00 0,429 100,00
Sumber: Analisis Kesenjangan Wilayah 2012, Dit. Pengembangan Wilayah, Bappenas
Melalui Uji Theil-T pada data PDRB 2005-
2010, Kesenjangan Antar wilayah di Indonesia dan
kesenjangan antar Kab/Kota mengalami
penurunan, namun kesenjangan antar provinsi
meningkat.
Courtesy slide : slamet soedarsono – bappenas - Lemhannas
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
32
Ketimpangan Investasi Antar pulau
15,18
%
55,61%
13,06
%
5,03%
0,402%
4,59%
6,13%
Sumatera
Jawa
Kalimantan
Bali dan Nusa Tenggara
Sulawesi
Maluku
Sumber: BKPM, 2012
Realisasi Investasi PMA menurut Lokasi
Papua
Courtesy slide : slamet soedarsono – bappenas - Lemhannas
Peran t
33
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
• Nilai transfer
jadi belanja
pegawai
• = organisasi
baru
• Pemekaran
34
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
MP3EI
35
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
TATA CARA MUSRENBANG NASIONAL
TOP-DOWNBOTTOM-UP
Renja K/LRKPD Provinsi
Kode Program/Kegi
atan
Sasaran Lokasi
(Provinsi)
Kode Program/Kegi
atan
Sasaran Sumber dana
Bukan Prioritas
Buku II
PrioritasPrioritas
Kesepakatan
Kesepakatan
Rancangan Akhir RKP
Buku I
Bukan Prioritas
Buku III
3636
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
APBN RAPBNP APBNP
A. PENDAPATAN NEGARA 1.529,7 1.488,3 1.502,0
I. PENDAPATAN DALAM NEGERI 1.525,2 1.483,8 1.497,5
1. PENERIMAAN PERPAJAKAN 1.193,0 1.139,3 1.148,4
2. PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK 332,2 344,5 349,2
II. PENERIMAAN HIBAH 4,5 4,5 4,5
B. BELANJA NEGARA 1.683,0 1.722,0 1.726,2
I Belanja Pemerintah Pusat 1.154,4 1.193,3 1.196,8
1. Belanja K/L 594,6 587,4 622,0
2. Belanja Non KL 559,8 605,9 574,8
a.l - Subsidi BBM, LPG & BBN 193,8 209,9 199,9
II. TRANSFER KE DAERAH 528,6 528,7 529,4
1. Dana Perimbangan 444,8 444,9 445,5
a.l Dana Bagi Hasil 102,0 102,1 102,7
2. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian 83,8 83,8 83,8
TOTAL ANGGARAN PENDIDIKAN 336.849,0 344.406,1 345.335,1
Rasio Anggaran Pendidikan Total (%) 20,0 20,0 20,0
C. KESEIMBANGAN PRIMER (40,1) (120,8) (111,7)
D. SURPLUS DEFISIT ANGGARAN (A - B) (153,3) (233,7) (224,2)
% Defisit terhadap PDB (1,65) (2,48) (2,38)
E. PEMBIAYAAN (I + II) 153,3 233,7 224,2
I. PEMBIAYAAN DALAM NEGERI 172,8 250,6 241,1
a.l - SAL 10,0 30,0 30,0
- Surat Berharga Negara (neto) 180,4 241,3 231,8
II. PEMBIAYAAN LUAR NEGERI (neto) (19,5) (16,9) (16,9)
a.l - Pinjaman Program 6,5 11,1 11,1
KELEBIHAN/(KEKURANGAN) PEMBIAYAAN (0,0) 0,0 0,0
POSTUR SEMENTARA APBNP 2013
(miliar rupiah)
336,8 (20%) 344,4 (20%) 345,3(20%)
37
37Sumber : presentasi BKF-KemenKeu di Lemhannas 37
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
38
2009©BPMIGAS–Allrightsreserved
39

Presentasi kkk dak 10 - ekonomi - published

  • 1.
  • 2.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved No Nama Keterangan 1.Sampe L. Purba, SE, Ak, M.Com, SH, MH Ketua 2. Drs. Bima Anggara Sena, MH Sekretaris 3. Awaludin Moderator 4. Drs. Ahmad Lumumba, SH Anggota 5. Yuniar Ludfi Anggota 6. Taufiq Suhargo Arif Anggota 7. Anang Dwitono, SE Anggota 8. Drs. Edward Marpaung, MM Anggota 9. Dra. Sri Utami Eka Ningtyas, Apt, MM Anggota 10. Dr. Yurnal, SH, S.PD, M.Hum Anggota 11. Ir. Bennyta Suryo Septano, MT Anggota 12. Benny Susianto, SIP Anggota 13 Badrul Hisam Bin Mohamed Anggota 222
  • 3.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved Sistematika Paparan 1) Pendahuluan  Pola– Pikir & Alur Pikir  Pokok Masalah 2) Landasan Pemikiran 3) Kondisi saat ini 4) Perkembangan Lingstra 5) Kondisi yang diharapkan 6) Konsepsi : KSU 7) Penutup 33
  • 4.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved => peran anggaran(APBN/APBD) dan Perbankan ->sistem ekonomi b’keadil’an ;>manfaat , kebijakan a/d analisis MAKSUD & TUJUAN RUANG LINGKUP BAB I Pendahuluan BAB II Landasan Pemikiran BAB III Kondisi Saat Ini BAB IV Perkembangan Ling Stra BAB V Kondisi Yg Diharapkan BAB VI Konsepsi BAB VII Penutup TATA URUT PENGERTIAN METODE  Kualitatif yaitu deskriptif analitis PENDEKATAN  Komprehensif integral melalui pisau analisa Tannas METODE PENDEKATAN Batasan peran anggaran ;>sistem ekonomi yg adil  Tannas 44
  • 5.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved  UU OtonomiDaerah memberikan hak, wewenang dan kewajiban kpd Pemda utk penyelenggaraan Pemerintahan, Pembangunan dan Pelayanan Masyarakat  Terdapat Ketergantungan yang tinggi atas transfer fiskal dari APBN utk mendukung APBD  Lembaga Perbankan belum optimal sbg katalisator dan agen pembangunan utk menggerakkan ekonomi masyarakat 55
  • 6.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved KETAHANAN NASIONAL TANGGUH PERAN ANGGARAN SERTA PERBANKAN YANG DIHARAPKAN KONSEPSI Kebijakan Strategi Upaya INSTRUMENTAL INPUTPOKOK-POKOK PERSOALAN BLUM OPTIMALNYA PELAKSANAAN DESENTRALISASI FISKAL Peran Anggaran serta Perbankan saatini SISTEM EKONOMI DAN KEUANGAN YANG BERKEADILAN MENINGKAT • PARADIGMA NASIONAL • PER-UU • BANGLINGSTRA • PELUANG & KENDALA ENVIRONMENTAL INPUT RENDAHNYA KWALITAS APBN DAN APBD BLM TRCPTANYA KEADILAN HUB PUSAT DAN DAERAH DALAM PEMBANGUNAN BELUM OPTIMALNYA PERBANKAN DAERAH DLM MEMACU PEREKONOMIAN DAERAH 6 6
  • 7.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved KONDISI APBN & APBD SERTA PERBANKAN SAATINI PERAN ANGGARAN APBN & APBD SERTA PERBANKAN YG DIHARAPKAN INSTRUMENTAL INPUT PARADIGMA NASIONAL (PANCASILA, UUD 1945, WASANTARA, TANNAS ) ENVIRONMENTAL INPUT BANG LINGSTRA (GLOBAL, REGIONAL, NASIONAL) PELUANG & KENDALA FEED BACK S O M › SUPRA STRUKTUR › INFRA STRUKTUR › SUB STRUKTUR › PEMERINTAH Pusat › PEMDA › DPR, DPRD › BPKP › Perg. Tinggi › Asosiasi Dunia Usaha › REGULASI › SOSIALISASI › KERJASAMA › KOORDINASI › PENGAWASAN › PARTISIPASI PERAN ANGGARAN (APBN DAN APBD) SERTA PERBANKAN GUNA MENINGKATKAN SISTEM EKONOMI DAN KEUANGAN YANG BERKEADILAN DALAM RANGKA KETAHANAN NASIONAL KETAHANAN NASIONAL TANGGUH Sistem Ekonomi dan Keuangan yang berkeadilan meningkat 77
  • 8.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved  PARADIGMA NASIONAL PANCASILAUUD NRI 1945 WASANTARA TANNAS  PERATURAN PER UU-ANUURI No. 7 thn 1992 – 10/1998 ttg Perbankan UURI No. 25 thn 2004 ttg Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional UURI No. 32 thn 2004 Ttg Pemerintah Daerah Perpres RI No. 5 Th 2010 Ttg RPJMN 2010 - 2014 88
  • 9.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved  LANDASAN TEORI Teori Keyness -> campur tangan Pemerintah diperlukan melalui kebijakan fiskal dan moneter  Teori Desentralisasi – delegation of authority  TINJAUAN PUSTAKA  Andy Ramses – M La Bakry : Pemda di Indonesia  Kemenko Perekonomian : Dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Perekonomian Indonesia 99
  • 10.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved POKOK P’SOALAN - SISTEMEK-KEU - YG BERKEADILAN - IMPLIKASI NEGATIF THD TANGGUHNYA TANNAS KONDISI IMPLIKASI PERAN ANGGARAN SERTA PERBANKAN THD SISTEM EK-KEU YG BERKEADILAN  Desentralisasi Fiskal (kewenangan spending vs sumber dana)  Peran Perbankan dalam Perekonomian Daerah  Kondisi hubungan Pusat – daerah (Pemerintahan – Pembangunan – YanMas)  Postur APBN - APBD BELUM OPTIMAL PELAKSANAAN DESENTRALISASI FISKAL BELUM OPTIMALNYA PERBANKAN DAERAH DLM MEMACU PEREKONOMIAN DAERAH BELUM TERCIPTANYA KEADILAN HUB. PUSAT DAN DAERAH DLM PEMBANGUNAN RENDAHNYA KUALITAS APBN DAN APBD BAB - III POKOK PERSOALAN 1010
  • 11.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved Paradoks Otonomi Daerah(1/4) => Kewenangan vs Pendanaan • Pusat => dana besar, kewen angan kecil • Daerah => dana kecil, kewena ngan besar 1111
  • 12.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved Paradoks Otonomi Daerah(2/4) Prioritas vs Perencanaan • Rencana Kegiatan – Anggaran tdk match • RPJM vs Program Pemda – Musrenbang ? • Perencanaan vs Persetujuan Anggaran • Program Pusat vs Daerah 1212
  • 13.
  • 14.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved APBN RAPBNP APBNP A.PENDAPATAN NEGARA 1.529,7 1.488,3 1.502,0 I. PENDAPATAN DALAM NEGERI 1.525,2 1.483,8 1.497,5 1. PENERIMAAN PERPAJAKAN 1.193,0 1.139,3 1.148,4 2. PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK 332,2 344,5 349,2 II. PENERIMAAN HIBAH 4,5 4,5 4,5 B. BELANJA NEGARA 1.683,0 1.722,0 1.726,2 I Belanja Pemerintah Pusat 1.154,4 1.193,3 1.196,8 1. Belanja K/L 594,6 587,4 622,0 2. Belanja Non KL 559,8 605,9 574,8 a.l - Subsidi BBM, LPG & BBN 193,8 209,9 199,9 II. TRANSFER KE DAERAH 528,6 528,7 529,4 1. Dana Perimbangan 444,8 444,9 445,5 a.l Dana Bagi Hasil 102,0 102,1 102,7 2. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian 83,8 83,8 83,8 TOTAL ANGGARAN PENDIDIKAN 336.849,0 344.406,1 345.335,1 Rasio Anggaran Pendidikan Total (%) 20,0 20,0 20,0 C. KESEIMBANGAN PRIMER (40,1) (120,8) (111,7) D. SURPLUS DEFISIT ANGGARAN (A - B) (153,3) (233,7) (224,2) % Defisit terhadap PDB (1,65) (2,48) (2,38) E. PEMBIAYAAN (I + II) 153,3 233,7 224,2 I. PEMBIAYAAN DALAM NEGERI 172,8 250,6 241,1 a.l - SAL 10,0 30,0 30,0 - Surat Berharga Negara (neto) 180,4 241,3 231,8 II. PEMBIAYAAN LUAR NEGERI (neto) (19,5) (16,9) (16,9) a.l - Pinjaman Program 6,5 11,1 11,1 KELEBIHAN/(KEKURANGAN) PEMBIAYAAN (0,0) 0,0 0,0 POSTUR SEMENTARA APBNP 2013 (miliar rupiah) 336,8 (20%) 344,4 (20%) 345,3(20%) 14 14Sumber : presentasi BKF-KemenKeu di Lemhannas 14
  • 15.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved  PERLAMBATAN EKONOMI GLOBAL PENGANGGURAN ERA PASAR BEBAS  komunitas ASEAN AEC Akses pasar Kesenjangan ekonomi TEKNOLOGI • GEO, DEMO, SKA • IPOLEKSOSBUDHANKAM MENIMBULKAN Bab IV 1515
  • 16.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved 1. IPTEK danGlobal issue -> antisipasi penyusunan prioritas APBN 2. AEC : akses pasar , enterpreneurship. 3. SKA sbg modal pembangunan di daerah. 4. Jaringan Perbankan yang menyebar di daerah, sbg mitra pembangunan dan pembimbingan credit culture 5. Sistem penyusunan APBN/D yg mengacu pd musrenbang  transparansi dan partisipasi masyarakat. 1. Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, merembet ke pertumbuhan nasional, pengaruhi kualitas prioritas APBN/D 2. Penyebaran geografis dan keterbatasan infrastruktur, utk konektivitas dan akses pasar 3. Over eksploitasi SKA, ego kedaerahan, pragmatisme Kepala daerah berperspektif periodisasi jk pendek 4. Masyarakat yang belum bank- minded, risk-averse perbankan, dan blm terlibat dlm pembiayaan menengah 5. Penyusunan anggaran berjenjang, skala prioritas berbeda,  birokratis 1616
  • 17.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved 17 KONDISI KONTRIBUSI INDIKASIK’HASIL Peningkatan sistem ekonomi yang berkeadilan KONTRIBUSI POSITIF THD Tangguhnya TANNAS Kontribusi peran Anggaran serta Perbankan thdp sistem ekonomi dan keuangan  Optimalnya pelaksanaan desentralisasi fiskal  Optimalnya peran Perbankan daerah dalam memacu perekonomian  Terciptanya keadilan hubungan Pusat dan Daerah dlm Pembangunan  Meningkatnya kualitas APBN dan APBD.  Terwujudnya pelaksanaan desentralisasi fiskal  Terwujudnya optimalisasi peran perbankan daerah dlm pacu ekonomi  Terwujudnya prinsip keadilan hub. Pusat – Daerah yg berkeadilan  Terwujudnya peningkatan kualitas APBN dan APBD BAB V 17
  • 18.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved KEBIJAKAN STRATEGI UPAYA-UPAYA “MENINGKATNYA PERAN ANGGARANDAN SERTA PERBANKAN DALAM MEWUJUDKAN SISTEM EKONOMI DAN KEUANGAN YANG BERKEADILAN ” STRATEGI-1. Mengoptimalkan pelaks desentralisasi fiskal : kurangi ketergantungan fiskal, serap anggaran, governance Kemendagri, Bappenas, Kemenkeu, Pemda, Perg. Tinggi, MenPan, BPKP Utk FISKAL, Penyerapan anggaran, Governance Sesuai keahlian, kewenangan dan TuPokSi Hal. 38-39 STRATEGI-2. Mengoptimalkan peran perbankan daerah utk pacu ekon. Daerah : alokasi, asistensi, credit culture Kemendagri, Pemda, DPR, Asosiasi Perbankan, KemenKeu, Bappenas, Perg. Tinggi Pokja, kajian, penyuluhan, bimbingan  sesuai keahlian, kewenangan  hal. 40-41 STRATEGI-3. Menciptakan keadilan hubungan Pusat - Daerah Kemendagri, Kemenkeu, PDT, Kemenhub, Bappenas, PT, Kemenkes subsidi silang, infrastruktur , kajian  sesuai keahlian, kewenangan, TuPoksi  hal. 41-42 STRATEGI-4. Meningkatkan kualitas APBN - APBD Prioritas, keseimbangan, Bappenas, Kemendagri, Kemenkeu, Pemda, PT  sesuai keahlian, kewenangan, TuPoksi  hal. 42-43 1818 BAB VI
  • 19.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved  Utk optimalkandesentralisasi fiskal, kemampuan menggali PAD secara cerdas, perencanaan tepat waktu – sasaran, good governance dan clean goverment  Bank minded sbg sebuah proses : Memasyarakatkan perbankan dan memperbankan masyarakat  Hub. Keuangan Pusat – daerah yang berkeadilan utk dinamisasi pembangunan termasuk daerah terluar, terdepan dan tertinggal  Kualitas postur APBN-D, kepercayaan Pusat ke daerah, dlm konteks pembangunan nasional  Menko Perekonomian : reformulasi kebij fiskal, dg memperhatikan kemampuan daerah dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi  Kemendagri, Kemenkeu, Perbankan, Pemda : Pemberdayaan Perbankan  Menkeu, Bappenas : Harmonisasi MusrenbangNas-Da dg Perenc Nasional  MenPan, Mendagri : Mengkaji Postur ideal Struktur Organisasi PemDa berdasarkan analisis beban kerja, kemampuan daerah utk dukung pembangunan BAB VII 1919
  • 20.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved 20 Achirul Kalam •Terima kasih •Merdeka •HorasssMohon masukandan saran untuk pengayaan dan penyempurnaan sampepurba@gmail.com 20
  • 21.
  • 22.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved Pendahuluan • Kebijakan Fiskaldan Moneter adalah ibarat dua sisi mata uang • Stabilitas kebijakan makro diperlukan utk menggerakkan sektor riel di masyarakat • Goals  Sistem ekonomi dan keuangan yang berkeadilan APBN – Perbankan dan Infrastruktur 2222
  • 23.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved Peraturan Per UUan • UU 32/2004 ttg Pemda • UU 33/ 2004 ttg Perimbangan Keuangan Pusat – daerah • UU 17 / 2003 ttg Keuangan Negara • UU 25/ 2004 ttg Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional • UU 17/ 2007 ttg RPJMN • UU 7/1992 jo 10/1998 ttg Perbankan 23
  • 24.
    24 Diagram Harmonisasi Perencanaandan Penganggaran Pemerintah Pusat/Daerah RPJM Daerah RPJP Daerah RKP RPJM Nasional RPJP Nasional Renstra KL Renja - KL Renstra SKPD Renja - SKPD RAPBN RAPBD RKA- KL RKA - SKPD APBN Keppres Rincian APBN APBD Kep KDH tentang Rincian APBD Diacu Pedoman Dijabarkan Pedoman Pedoman Pedoman Pedoman Pedoman Diacu Dijabarkan Pedoman Pedoman Pedoman Pedoman Diacu Diacu Diselaraskan melalui Musrenbang UU NO. 25/2004 Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah UU NO. 17/2003 RKP Daerah Musren- bangda Musren- bangnas 24
  • 25.
    25 Sumber Pendanaan UU No.33/2004 Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah Belanja Surplus/Defisit Pembiayaan Lain-lain Pendapatan yang Sah Pendapatan Transfer PAD UU No.34/2000 APBN APBN Sebagian Urusan UU No. 32/2004 APBD Pelaksanaan Urusan RUANG LINGKUP KEBIJAKAN FISKAL NASIONAL DAK Dana Otsus DBH DAU Dana Penyesuaian Dana Hibah Dana Darurat Tugas Pembantuan Pemerintah Pusat kepada Daerah Dekonsentrasi Desentralisasi K/L melimpahkan wewenang kepada Gubernur K/L menugaskan wewenang kepada Gubernur/Bupati/ Walikota (DEPKEU) (DEPDAGRI) Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Daerah Penggunaan SILPA Pencairan Dana Cadangan 25
  • 26.
    26 Belanja Pemerintah Pusat 1. Belanja Pegawai 2.Belanja Barang 3. Belanja Modal 4. Pembayaran Bunga Utang 5. Subsidi 6. Belanja Hibah 7. Bantuan Sosial 8. Belanja Lain-lain Transfer ke Daerah K/L Belanja Pusat di Pusat Belanja Pusat di Daerah 6 Urusan Mutlak Di luar 6 Urusan Kanwil di Daerah Dikerjakan sendiri Melalui UPT Dilimpahkan ke Gubernur Ditugaskan ke Gub/Bupati/ Walikota AP B N PUSAT DAERAH Dana Dekonsentrasi Dana Tugas Pembantuan APBD Hibah Dana Darurat 1. Dana Perimbangan 2. Dana Otonomi Khusus 3. Dana Penyesuaian Dana Desentralisasi Dana Sektoral di Daerah ALUR DANA APBN KE DAERAH 26
  • 27.
    Pembagian Urusan danPembiayaan 27 C O N C U R R E N T UU NO. 32 /2004 PEMERINTAHAN DAERAH UU NO. 33/2004 PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN DESENTRALISASI FISKAL URUSAN PEMERINTAH APBN DANA PERIMBANGAN URUSAN PEMERINTAH PROVINSI DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN APBD PROVINSI URUSAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA DESENTRALISASI APBD KAB/KOTA TRANSFER DANA 27
  • 28.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved Perkembangan dan proyeksitransfer ke daerah (RAPBN 2013) • Ada kecenderungan ketergantungan fiskal yang tinggi kepada Pemerintah Pusat 28
  • 29.
  • 30.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved Sistem Ekonomi Nasional Pembangunan Daerah B2 PembangunanKawasan A+B Pembangunan Daerah A1 Pembangunan Daerah dalam Konteks Sistem Ekonomi Nasional Pembangunan Daerah A2 Pembangunan Daerah B1 Pembangun an Regional A Pembangun an Regional B Pembangunan Nasional 30Courtesy slide : slamet soedarsono – bappenas - Lemhannas
  • 31.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved 31 Share PDRB PerPulau di Indonesia 23,54% 58,86% 9,5 5% 1,87% 0,26% 1,33% 4,61% Sumatera Jawa - Bali Kalimantan Nusa Tenggara Sulawesi Maluku Sumber: Hasil Analisis Dit. Otda Bappenas, 2013 Share PDRB atas Harga Dasar 2011 Papua Share PDRB masih didominasi oleh Pulau Jawa dan Bali, sementara Share dari Indonesia Timur masih sangat kecil Theil Indeks 2005 2010** T % T % inequality antarkab/kota 0,246 50,05 0,196 45,64 inequality antarprovinsi 0,208 42,44 0,204 47,54 inequality antarwilayah 0,037 7,51 0,029 6,82 Total inequality 0,491 100,00 0,429 100,00 Sumber: Analisis Kesenjangan Wilayah 2012, Dit. Pengembangan Wilayah, Bappenas Melalui Uji Theil-T pada data PDRB 2005- 2010, Kesenjangan Antar wilayah di Indonesia dan kesenjangan antar Kab/Kota mengalami penurunan, namun kesenjangan antar provinsi meningkat. Courtesy slide : slamet soedarsono – bappenas - Lemhannas
  • 32.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved 32 Ketimpangan Investasi Antarpulau 15,18 % 55,61% 13,06 % 5,03% 0,402% 4,59% 6,13% Sumatera Jawa Kalimantan Bali dan Nusa Tenggara Sulawesi Maluku Sumber: BKPM, 2012 Realisasi Investasi PMA menurut Lokasi Papua Courtesy slide : slamet soedarsono – bappenas - Lemhannas
  • 33.
  • 34.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved • Nilai transfer jadibelanja pegawai • = organisasi baru • Pemekaran 34
  • 35.
  • 36.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved TATA CARA MUSRENBANGNASIONAL TOP-DOWNBOTTOM-UP Renja K/LRKPD Provinsi Kode Program/Kegi atan Sasaran Lokasi (Provinsi) Kode Program/Kegi atan Sasaran Sumber dana Bukan Prioritas Buku II PrioritasPrioritas Kesepakatan Kesepakatan Rancangan Akhir RKP Buku I Bukan Prioritas Buku III 3636
  • 37.
    2009©BPMIGAS–Allrightsreserved APBN RAPBNP APBNP A.PENDAPATAN NEGARA 1.529,7 1.488,3 1.502,0 I. PENDAPATAN DALAM NEGERI 1.525,2 1.483,8 1.497,5 1. PENERIMAAN PERPAJAKAN 1.193,0 1.139,3 1.148,4 2. PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK 332,2 344,5 349,2 II. PENERIMAAN HIBAH 4,5 4,5 4,5 B. BELANJA NEGARA 1.683,0 1.722,0 1.726,2 I Belanja Pemerintah Pusat 1.154,4 1.193,3 1.196,8 1. Belanja K/L 594,6 587,4 622,0 2. Belanja Non KL 559,8 605,9 574,8 a.l - Subsidi BBM, LPG & BBN 193,8 209,9 199,9 II. TRANSFER KE DAERAH 528,6 528,7 529,4 1. Dana Perimbangan 444,8 444,9 445,5 a.l Dana Bagi Hasil 102,0 102,1 102,7 2. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian 83,8 83,8 83,8 TOTAL ANGGARAN PENDIDIKAN 336.849,0 344.406,1 345.335,1 Rasio Anggaran Pendidikan Total (%) 20,0 20,0 20,0 C. KESEIMBANGAN PRIMER (40,1) (120,8) (111,7) D. SURPLUS DEFISIT ANGGARAN (A - B) (153,3) (233,7) (224,2) % Defisit terhadap PDB (1,65) (2,48) (2,38) E. PEMBIAYAAN (I + II) 153,3 233,7 224,2 I. PEMBIAYAAN DALAM NEGERI 172,8 250,6 241,1 a.l - SAL 10,0 30,0 30,0 - Surat Berharga Negara (neto) 180,4 241,3 231,8 II. PEMBIAYAAN LUAR NEGERI (neto) (19,5) (16,9) (16,9) a.l - Pinjaman Program 6,5 11,1 11,1 KELEBIHAN/(KEKURANGAN) PEMBIAYAAN (0,0) 0,0 0,0 POSTUR SEMENTARA APBNP 2013 (miliar rupiah) 336,8 (20%) 344,4 (20%) 345,3(20%) 37 37Sumber : presentasi BKF-KemenKeu di Lemhannas 37
  • 38.
  • 39.

Editor's Notes

  • #21 Bapak-ibu Nara sumber, dan rekan-rekan sekalian, kami cukupkan sampai disini dulu uraian ini. Mohon maafjika ada kesalahan atau kata-kata yang kurang berkenan. Berbilang slide kami hantarkan, saran masukan sudilah khidmadkan. Atas perhatian Bapak-ibu sekalian, kami ucapkan terima kasih. Wabillahi taufiq wal hidayah, AWW
  • #23 APBN/APBD – Perbankan dan infrastruktur adalah seperti arsitektur dan anatomi tubuh manusia, di mana diperlukan makanan/ minuman dalam hal ini Anggaran Negara untuk menggerakkan Perekonomian, seperti jantung yang memompakannya ke seluruh jaringan tubuh melalui infrastruktur yang ada dengan regulasi dan hukum-hukum yang pas