Pembimbing:
dr. Budiman Juniwijaya, Sp.S
Disusun Oleh:
Tiya Amalia Enira, S.Ked
70 2015 059
“VERTIGO”
Referat
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Vertigo adalah
halusinasi gerakan
lingkungan sekitar
serasa berputar
mengelilingi pasien
atau pasien serasa
berputar
mengelilingi
lingkungan sekitar.
Di Indonesia, data
kasus di R.S. Dr
Kariadi Semarang
menyebutkan bahwa
kasus vertigo
menempati urutan ke
5 kasus terbanyak
yang dirawat di
bangsal saraf
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI DAN FISIOLOGI
KESEIMBANGAN
Yang berperan :
 Sistem vestibular (statokinetik)
 Sistem penglihatan (visual/optik)
 Rasa dalam (proprioseptik).
FISIOLOGI ALAT KESEIMBANGAN
TUBUH
1. Reseptor vestibular (hair cells)
2. Reseptor visus
Informasi yang berguna untuk alat
keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh
respetor vestibuler visual dan propioseptik.
FISIOLOGI ALAT KESEIMBANGAN
TUBUH
Propisepti
k
Memberi informasi titik
beban tubuh
Memberi informasi
posisi tubuh
sepanjang waktu
FISIOLOGI KESEIMBANGAN TUBUH
Rangsangan gerakan
membangkitkan
gelombang pada
endolimfe yang
mengandung ion K
Menekuk rambut sel
Kemudian
membuka/menutup
kanal ion K
Timbul influks ion K
dari endolimfe
kedalam hair cells
Akan
mengembangkan
potensial aksi
Kanal ion
Ca(kalsium) terbuka
Ion masuk kedalam
hair cells
Merangsang
pelepasan
neurotransmiter
(glutamat)
Untuk
menghantarkan
transmisi impuls
keneuron berikutnya.
Definisi Vertigo
Vertigo adalah halusinasi gerakan lingkungan
sekitar serasa berputar mengelilingi pasien
atau pasien serasa berputar mengelilingi
lingkungan sekitar
Epidemiologi
 Vertigo merupakan gejala yang sering
didapatkan pada individu dengan prevalensi
sebesar 7 %.
 Pada sebuah studi mengemukakan vertigo
lebih banyak ditemukan pada wanita
disbanding pria (2:1), sekitar 88% pasien
mengalami episode rekuren.2
Etiologi
Penyebab perifer Vertigo
 Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)
 Ménière’s disease
 Vestibular Neuritis
Penyebab Sentral Vertigo
 Migraine
 Vertebrobasilar insufficiency
 Tumor Intrakranial
Klasifikasi
Vertigo dapat berasal dari kelainan di sentral (batang otak, serebelum
atau otak) atau di perifer (telinga – dalam, atau saraf vestibular).7
Sentral diakibatkan oleh kelainan pada batang batang otak atau
cerebellum
Perifer disebabkan oleh kelainan pada telinga dalam atau nervus
cranialis vestibulocochlear (N. VIII)
Medical vertigo dapat diakibatkan oleh penurunan tekanan darah ,
gula darah yang rendah, atau gangguan metabolic karena pengobatan
atau infeksi sistemik.
PERBEDAAN VERTIGO PERIFER DAN
SENTRAL
Ciri-ciri Vertigo perifer Vertigo sentral
Sensasi berputar Melayang
Bangkitan Lebih mendadak Lebih lambat
Tenpo serangan Episodic Kontinyu/ konstan
Beratnya vertigo berat ringan
Mual, muntah,
keringatan
+ -
Gangguan pendengaran + -
Gerakan pencetus Gerakan kepala Tidak ada pengaruh
Masa laten 3-40detik Tidak ada
CIRI-CIRI VERTIGO PERIFER VERTIGO SENTRAL
Penyebab Vertigo posisional
paroksismal jinak
(BPPV), penyakit
meniere, neurionitis
vestibular, labirinitis,
neuroma akustik, trauma
Iskemik batang otak,
vertebrobasiler
insufisiensi, neoplasma,
migren basiler
Gangguan SSP Tidak ada Diplopia, parestesi,
gangguan sensibilitas
dan fungsi motorik,
disartia
Habituasi Ya -
Nistagmus Horizontal atau rotatoar Horizonta, vertical,
rotatoar
PATOFISIOLOGI VERTIGO
Reseptor Pengelola data Efektor
• Mata
• Vestibuler
• Propioseptik
Saraf Pusat • Otot skelet
• Mata
• Leher
• Badan
• Anggota gerak
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis
pasien dengan dizziness
dan vertigo dapat
berupa gejala primer,
sekunder ataupun
gejala non spesifik.
Gejala primer
diakibatkan oleh
gangguan pada
sensorium.
Gejala primer berupa
vertigo, impulsion,
oscilopsia, ataxia,
gejala pendengaran
LAMANYA EPISODE BERLANGSUNG
BEBERAPA DETIK
Benign paroxymal
positional vertigo
(BPPV) dicetuskan
oleh perubahan
posisi kepala
Berlangsung
beberapa
detik (10-30
detik) dan
kemudian
mereda
Penyebabnya
idiopatik
LAMANYA EPISODE BERLANGSUNG
BEBERAPA MENIT ATAU BEBERAPA JAM
Penyakit
meniere adalah
suatu gangguan
kronis dalam
telinga
Berlangsung
beberapa menit
atau beberapa
jam
Tuli, vertigo,
tinitus, telinga
terasa penuh
PEMERIKSAAN VERTIGO
ANAMNESIS
 Suruh penderita melukiskan keluhannya dengan
kata-katanya sendiri apa yang ia maksudkan
dengan pusing tersebut.
 Anamnesis khusus mengenai vertigonya :
 Adakah kekhususan sifat vertigo yang timbul,
keparahan vertigonya.
 Rasa gerakan palsu dari tubuh atau sekitarnya (rasa
berputar)
 Rasa tidak enak di kepala : kepala ringan, hubungannya
dengan penglihatan dan kesadaran.
 Kecenderungan untuk jatuh.
ANAMNESIS
Intensitas timbulnya vertigo bersangkutan dengan
perjalanan waktu, bagaimana vertigo itu dimulai timbul
dan bagaimana ia berakhir :
 Berapa detik, hari, minggu atau bulan ?
 Apakah di antara serangan itu penderita bebas
sama sekali dari keluhan ?
ANAMNESIS
Pengaruh lingkungan atau situasi :
 Adakah suatu posisi perubahan posisi tubuh
dan atau kepala menyebabkan timbulnya
serangan atau meningkatkan keluhan ?
 Apakah stres psikis mengawali timbulnya
serangan ?
 Keluhan dari telinga?
TES ROMBERG
Pada kelainan vestibuler hanya
pada mata tertutup badan
penderita akan bergoyang
menjauhi garis tengah
kemudian kembali lagi, pada
mata terbuka badan penderita
tetap tegak. Sedangkan pada
kelainan serebellar badan
penderita akan bergoyang baik
pada mata terbuka maupun
mata tertutup
Past-pointing test (Uji Tunjuk
Barany)
Pada kelainan
vestibular ketika
mata tertutup
maka jari pasien
akan deviasi
kearah lesi.
Demikian juga
pada kelainan
sereberal
PEMERIKSAAN NISTAGMUS
 Pasien diminta mengikuti jari pemeriksa kekiri
atau kekanan 30 derajat untuk melihat adanya
nistagmus horizontal
 Pasien diminta mengikuti jari pemeriksa
kearah atas dan bawah untuk melihat adanya
nistagmus vertikal
 Nistagmus disebutkan berdasarkan komponen
cepat sedangkan komponen lambat
menunjukkan lokasi lesi
Pemeriksaan nistagumus (Maneuver
Nylen – Barany atau Manuver Hallpike)
Pada kelainan perifer:
lamanya nistagmus
10-30 detik atau <1
menit, disertai gejala
vertigo yang berat.
Pada kelainan sentral:
nistagmus langsung
muncul, gejala vertigo
bisa ada atau tidak
Pemeriksaan nistagmus (Tes
Kalori)
Kepala penderita dibuat menegagadah agar
bejana lateral dilabirin dalam posisi vertikal
tabung suntikan berukuran 20ml dengan ujung
jarum dilindungi pleh karet ukuran no 15 diisi
dengan air bersuhu 30 derajat air
disemprotkan keliang telinga dengan
kecepatan 1ml/dtkamati bola matanya
terhadap adanya nistagmus
Pemeriksaan nistagmus (Tes
Kalori)
Catat arah, lama dan frekuensi
nistagmusnyaistirahat 5 menittetes telinga
ke 2bandingkan lamanya nistagmus dike2
sisibila tidak muncul nistagmus dapat
disuntikan air es 20ml selama 30dtkbila tidak
muncul jugamaka dapat dianggap labirin
tidak berfungsi
Diagnosis Banding
Diagnosis Banding Vertigo
Vertigo dengan tuli Vertigo tanpa tuli Vertigo dengan tanda intracranial
Ménière’s disease Vestibular neuritis Tumor Cerebellopontine angle
Labyrinthitis Benign positional vertigo Vertebrobasilar insufficiency dan
thromboembolism
Labyrinthine trauma Acute vestiblar dysfunction Tumor otak
a. Misalnya, epyndimoma atau
metastasis pada ventrikel keempat
Acoustic neuroma Medication induced vertigo e.g
aminoglycosides
Migraine
Acutecochleovestibular
dysfunction
Cervical spondylosis Multiple sklerosis
Syphilis (rare) Following flexion-extension
injury
Aura epileptic attack-terutama temporal
lobe epilepsy
Obat-obatan- misalnya, phenytoin,
barbiturate
Syringobulosa
PENATALAKSANAAN VERTIGO
1. ANTIHISTAMIN
 Bentahistin
 Betahistin mesylate (MERISLON)
dapat diberikan dengan dosisi 6mg (1tablet)-12mg, 3
kali sehari peroral
 Betahistin di HCL (BETASERC)
diberikan 8mg (1tab) 3 kali sehari
 Dimenhidrinat (bramamine)
dengan dosis 25mg-50mg, 4 kali sehari
 Difhenhidramin (benadryl)
dosis 25mg-50mg, 4 kali sehari
PENATALAKSAAN VERTIGO
2. ANTAGONIS KALSIUM
 Cinnarizine (STUGERON)
Dosis biasanya ialah 15 – 30 mg, 3 kali sehari
atau 1 x 75 mg sehari. Efek samping ialah rasa
mengantuk (sedasi), rasa cape, diare atau
konstipasi, mulut rasa kering dan “rash” di
kulit.
PENATALAKSANAAN VERTIGO
ANTAGONIS KALSIUM:
 Fenotiazine
 Promethazine (PHENERGAN)
dosis 12,5 mg – 25 mg, 4 kali sehari per oral atau
parenteral (suntikan intramuscular atau intravena). Efek
samping yang sering dijumpai ialah sedasi (mengantuk),
 Khlorpromazine (LARGACTIL)
Dosis yang lazim ialah 25 mg (1 tablet) – 50 mg, 3 – 4 kali
sehari. Efek samping ialah sedasi (mengantuk).
PENATALAKSANAAN VERTIGO
3. OBAT SIMPATOMIMETIK
 Efedrin
Dosis dapat diberikan 10 -25 mg, 4 kali sehari.
Khasiat obat ini dapat sinergistik bila
dikombinasi dengan obat anti vertigo lainnya.
PENATALSANAAN VERTIGO
4. OBAT PENENANG MINOR
 Dapat diberikan kepada penderita vertigo
untuk mengurangi kecemasan yang diderita
yang sering menyertai gejala vertigo.
 LORAZEPAM
 Dosis dapat diberikan 0,5 mg – 1 mg
 DIAZEPAM
 Dosis dapat diberikan 2 mg – 5 mg.
PENATALAKSANAAN VERTIGO
5. OBAT ANTI KHOLINERGIK
 Obat antikolinergik yang aktif di sentral dapat
menekan aktivitas sistem vestibular dan dapat
mengurangi gejala vertigo.
 SKOPOLAMIN
Skopolamin dapat pula dikombinasi dengan
fenotiazine atau efedrin dan mempunyai
khasiat sinergistik. Dosis skopolamin ialah 0,3
mg – 0,6 mg, 3 – 4 kali sehari
REHABILITASI VESTIBULAR
Tujuan rehabilitasi vestibular adalah untuk:
 Meningkatkan keseimbangan
 Meminimalkan jatuh
 Menurunkan sensasi subyektif pusing
 Meningkatkan stabilitas selama pergerakan
Brand-Darrof
 Ambil posisi duduk
 Arahkan kepala ke kiri,
kemudian balik posisi duduk
 Arahkan kepala kekanan,
kemudian balik keposisi
duduk
 Latihan ini dilakukan 3 kali
perhari
 Manuver dilakukan sebanyak
5 kali setiap set
 Pada umumnya perbaikan
diperoleh setelah 30 set atau
sekitar 10hari.
Daftar Pustaka
 Sura, DJ, Newell, S. 2010. Vertigo- Diagnosis and management in primary
care, BJMP 2010;3(4):a351.
 Lempert, T, Neuhauser, H. 2009. Epidemiology of vertigo, migraine and
vestibular migraine in Journal Nerology 2009:25:333-338.
 Labuguen, RH. 2006. Initial Evaluation of Vertigo ini Journal American
Family Physician January 15, 2006;Volume 73, Number 2.
 Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat;
2008.
 Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat;
2008.
 Marril KA. Central Vertigo [Internet]. WebMD LLC. 21 Januari 2011.
Diunduh tanggal 30 Januari 2017. Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/794789-clinical#a0217.
 Turner, B, Lewis, NE. 2010. Symposium Neurology :Systematic Approach that
Needed for establish of Vetigo. The Practitioner September 2010 - 254 (1732):
19-23.
 Mark, A. 2008. Symposium on Clinical Emergencies: Vertigo
Clinical Assesment and Diagnosis. British Journal of Hospital
Medicine, June 2008, Vol 69, No 6
 Kovar, M, Jepson, T, Jones, S. 2006. Diagnosing and Treating:
Benign Paroxysmal Positional Vertigo in Journal
Gerontological of Nursing. December:2006
 Swartz, R, Longwell, P. 2005. Treatment of Vertigo in Journal
of American Family Physician March 15,2005:71:6.
 Chain, TC.2009. Practical Neurology 3rd
edition: Approach
to the Patient with Dizziness and Vertigo. Illnois:wolter
kluwerlippincot William and wilkins)
 Antunes MB. CNS Causes of Vertigo [Internet]. WebMD
LLC. 10 September 2009. Diunduh tanggal 30 Januari 2017.
Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/884048-overview#
a0104
Terima
Kasih
Wassalamualaikum

PPT referrat VERTIGO dan penanganan.pptx

  • 1.
    Pembimbing: dr. Budiman Juniwijaya,Sp.S Disusun Oleh: Tiya Amalia Enira, S.Ked 70 2015 059 “VERTIGO” Referat
  • 2.
  • 3.
    Latar Belakang Vertigo adalah halusinasigerakan lingkungan sekitar serasa berputar mengelilingi pasien atau pasien serasa berputar mengelilingi lingkungan sekitar. Di Indonesia, data kasus di R.S. Dr Kariadi Semarang menyebutkan bahwa kasus vertigo menempati urutan ke 5 kasus terbanyak yang dirawat di bangsal saraf
  • 4.
  • 5.
    ANATOMI DAN FISIOLOGI KESEIMBANGAN Yangberperan :  Sistem vestibular (statokinetik)  Sistem penglihatan (visual/optik)  Rasa dalam (proprioseptik).
  • 7.
    FISIOLOGI ALAT KESEIMBANGAN TUBUH 1.Reseptor vestibular (hair cells) 2. Reseptor visus Informasi yang berguna untuk alat keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh respetor vestibuler visual dan propioseptik.
  • 8.
    FISIOLOGI ALAT KESEIMBANGAN TUBUH Propisepti k Memberiinformasi titik beban tubuh Memberi informasi posisi tubuh sepanjang waktu
  • 9.
    FISIOLOGI KESEIMBANGAN TUBUH Rangsangangerakan membangkitkan gelombang pada endolimfe yang mengandung ion K Menekuk rambut sel Kemudian membuka/menutup kanal ion K Timbul influks ion K dari endolimfe kedalam hair cells Akan mengembangkan potensial aksi Kanal ion Ca(kalsium) terbuka Ion masuk kedalam hair cells Merangsang pelepasan neurotransmiter (glutamat) Untuk menghantarkan transmisi impuls keneuron berikutnya.
  • 10.
    Definisi Vertigo Vertigo adalahhalusinasi gerakan lingkungan sekitar serasa berputar mengelilingi pasien atau pasien serasa berputar mengelilingi lingkungan sekitar
  • 11.
    Epidemiologi  Vertigo merupakangejala yang sering didapatkan pada individu dengan prevalensi sebesar 7 %.  Pada sebuah studi mengemukakan vertigo lebih banyak ditemukan pada wanita disbanding pria (2:1), sekitar 88% pasien mengalami episode rekuren.2
  • 12.
    Etiologi Penyebab perifer Vertigo Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)  Ménière’s disease  Vestibular Neuritis Penyebab Sentral Vertigo  Migraine  Vertebrobasilar insufficiency  Tumor Intrakranial
  • 13.
    Klasifikasi Vertigo dapat berasaldari kelainan di sentral (batang otak, serebelum atau otak) atau di perifer (telinga – dalam, atau saraf vestibular).7 Sentral diakibatkan oleh kelainan pada batang batang otak atau cerebellum Perifer disebabkan oleh kelainan pada telinga dalam atau nervus cranialis vestibulocochlear (N. VIII) Medical vertigo dapat diakibatkan oleh penurunan tekanan darah , gula darah yang rendah, atau gangguan metabolic karena pengobatan atau infeksi sistemik.
  • 14.
    PERBEDAAN VERTIGO PERIFERDAN SENTRAL Ciri-ciri Vertigo perifer Vertigo sentral Sensasi berputar Melayang Bangkitan Lebih mendadak Lebih lambat Tenpo serangan Episodic Kontinyu/ konstan Beratnya vertigo berat ringan Mual, muntah, keringatan + - Gangguan pendengaran + - Gerakan pencetus Gerakan kepala Tidak ada pengaruh Masa laten 3-40detik Tidak ada
  • 15.
    CIRI-CIRI VERTIGO PERIFERVERTIGO SENTRAL Penyebab Vertigo posisional paroksismal jinak (BPPV), penyakit meniere, neurionitis vestibular, labirinitis, neuroma akustik, trauma Iskemik batang otak, vertebrobasiler insufisiensi, neoplasma, migren basiler Gangguan SSP Tidak ada Diplopia, parestesi, gangguan sensibilitas dan fungsi motorik, disartia Habituasi Ya - Nistagmus Horizontal atau rotatoar Horizonta, vertical, rotatoar
  • 16.
    PATOFISIOLOGI VERTIGO Reseptor Pengeloladata Efektor • Mata • Vestibuler • Propioseptik Saraf Pusat • Otot skelet • Mata • Leher • Badan • Anggota gerak
  • 17.
    Manifestasi Klinis Manifestasi klinis pasiendengan dizziness dan vertigo dapat berupa gejala primer, sekunder ataupun gejala non spesifik. Gejala primer diakibatkan oleh gangguan pada sensorium. Gejala primer berupa vertigo, impulsion, oscilopsia, ataxia, gejala pendengaran
  • 18.
    LAMANYA EPISODE BERLANGSUNG BEBERAPADETIK Benign paroxymal positional vertigo (BPPV) dicetuskan oleh perubahan posisi kepala Berlangsung beberapa detik (10-30 detik) dan kemudian mereda Penyebabnya idiopatik
  • 19.
    LAMANYA EPISODE BERLANGSUNG BEBERAPAMENIT ATAU BEBERAPA JAM Penyakit meniere adalah suatu gangguan kronis dalam telinga Berlangsung beberapa menit atau beberapa jam Tuli, vertigo, tinitus, telinga terasa penuh
  • 20.
    PEMERIKSAAN VERTIGO ANAMNESIS  Suruhpenderita melukiskan keluhannya dengan kata-katanya sendiri apa yang ia maksudkan dengan pusing tersebut.  Anamnesis khusus mengenai vertigonya :  Adakah kekhususan sifat vertigo yang timbul, keparahan vertigonya.  Rasa gerakan palsu dari tubuh atau sekitarnya (rasa berputar)  Rasa tidak enak di kepala : kepala ringan, hubungannya dengan penglihatan dan kesadaran.  Kecenderungan untuk jatuh.
  • 21.
    ANAMNESIS Intensitas timbulnya vertigobersangkutan dengan perjalanan waktu, bagaimana vertigo itu dimulai timbul dan bagaimana ia berakhir :  Berapa detik, hari, minggu atau bulan ?  Apakah di antara serangan itu penderita bebas sama sekali dari keluhan ?
  • 22.
    ANAMNESIS Pengaruh lingkungan atausituasi :  Adakah suatu posisi perubahan posisi tubuh dan atau kepala menyebabkan timbulnya serangan atau meningkatkan keluhan ?  Apakah stres psikis mengawali timbulnya serangan ?  Keluhan dari telinga?
  • 23.
    TES ROMBERG Pada kelainanvestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi, pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. Sedangkan pada kelainan serebellar badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun mata tertutup
  • 24.
    Past-pointing test (UjiTunjuk Barany) Pada kelainan vestibular ketika mata tertutup maka jari pasien akan deviasi kearah lesi. Demikian juga pada kelainan sereberal
  • 25.
    PEMERIKSAAN NISTAGMUS  Pasiendiminta mengikuti jari pemeriksa kekiri atau kekanan 30 derajat untuk melihat adanya nistagmus horizontal  Pasien diminta mengikuti jari pemeriksa kearah atas dan bawah untuk melihat adanya nistagmus vertikal  Nistagmus disebutkan berdasarkan komponen cepat sedangkan komponen lambat menunjukkan lokasi lesi
  • 26.
    Pemeriksaan nistagumus (Maneuver Nylen– Barany atau Manuver Hallpike) Pada kelainan perifer: lamanya nistagmus 10-30 detik atau <1 menit, disertai gejala vertigo yang berat. Pada kelainan sentral: nistagmus langsung muncul, gejala vertigo bisa ada atau tidak
  • 27.
    Pemeriksaan nistagmus (Tes Kalori) Kepalapenderita dibuat menegagadah agar bejana lateral dilabirin dalam posisi vertikal tabung suntikan berukuran 20ml dengan ujung jarum dilindungi pleh karet ukuran no 15 diisi dengan air bersuhu 30 derajat air disemprotkan keliang telinga dengan kecepatan 1ml/dtkamati bola matanya terhadap adanya nistagmus
  • 28.
    Pemeriksaan nistagmus (Tes Kalori) Catatarah, lama dan frekuensi nistagmusnyaistirahat 5 menittetes telinga ke 2bandingkan lamanya nistagmus dike2 sisibila tidak muncul nistagmus dapat disuntikan air es 20ml selama 30dtkbila tidak muncul jugamaka dapat dianggap labirin tidak berfungsi
  • 29.
    Diagnosis Banding Diagnosis BandingVertigo Vertigo dengan tuli Vertigo tanpa tuli Vertigo dengan tanda intracranial Ménière’s disease Vestibular neuritis Tumor Cerebellopontine angle Labyrinthitis Benign positional vertigo Vertebrobasilar insufficiency dan thromboembolism Labyrinthine trauma Acute vestiblar dysfunction Tumor otak a. Misalnya, epyndimoma atau metastasis pada ventrikel keempat Acoustic neuroma Medication induced vertigo e.g aminoglycosides Migraine Acutecochleovestibular dysfunction Cervical spondylosis Multiple sklerosis Syphilis (rare) Following flexion-extension injury Aura epileptic attack-terutama temporal lobe epilepsy Obat-obatan- misalnya, phenytoin, barbiturate Syringobulosa
  • 30.
    PENATALAKSANAAN VERTIGO 1. ANTIHISTAMIN Bentahistin  Betahistin mesylate (MERISLON) dapat diberikan dengan dosisi 6mg (1tablet)-12mg, 3 kali sehari peroral  Betahistin di HCL (BETASERC) diberikan 8mg (1tab) 3 kali sehari  Dimenhidrinat (bramamine) dengan dosis 25mg-50mg, 4 kali sehari  Difhenhidramin (benadryl) dosis 25mg-50mg, 4 kali sehari
  • 31.
    PENATALAKSAAN VERTIGO 2. ANTAGONISKALSIUM  Cinnarizine (STUGERON) Dosis biasanya ialah 15 – 30 mg, 3 kali sehari atau 1 x 75 mg sehari. Efek samping ialah rasa mengantuk (sedasi), rasa cape, diare atau konstipasi, mulut rasa kering dan “rash” di kulit.
  • 32.
    PENATALAKSANAAN VERTIGO ANTAGONIS KALSIUM: Fenotiazine  Promethazine (PHENERGAN) dosis 12,5 mg – 25 mg, 4 kali sehari per oral atau parenteral (suntikan intramuscular atau intravena). Efek samping yang sering dijumpai ialah sedasi (mengantuk),  Khlorpromazine (LARGACTIL) Dosis yang lazim ialah 25 mg (1 tablet) – 50 mg, 3 – 4 kali sehari. Efek samping ialah sedasi (mengantuk).
  • 33.
    PENATALAKSANAAN VERTIGO 3. OBATSIMPATOMIMETIK  Efedrin Dosis dapat diberikan 10 -25 mg, 4 kali sehari. Khasiat obat ini dapat sinergistik bila dikombinasi dengan obat anti vertigo lainnya.
  • 34.
    PENATALSANAAN VERTIGO 4. OBATPENENANG MINOR  Dapat diberikan kepada penderita vertigo untuk mengurangi kecemasan yang diderita yang sering menyertai gejala vertigo.  LORAZEPAM  Dosis dapat diberikan 0,5 mg – 1 mg  DIAZEPAM  Dosis dapat diberikan 2 mg – 5 mg.
  • 35.
    PENATALAKSANAAN VERTIGO 5. OBATANTI KHOLINERGIK  Obat antikolinergik yang aktif di sentral dapat menekan aktivitas sistem vestibular dan dapat mengurangi gejala vertigo.  SKOPOLAMIN Skopolamin dapat pula dikombinasi dengan fenotiazine atau efedrin dan mempunyai khasiat sinergistik. Dosis skopolamin ialah 0,3 mg – 0,6 mg, 3 – 4 kali sehari
  • 36.
    REHABILITASI VESTIBULAR Tujuan rehabilitasivestibular adalah untuk:  Meningkatkan keseimbangan  Meminimalkan jatuh  Menurunkan sensasi subyektif pusing  Meningkatkan stabilitas selama pergerakan
  • 37.
    Brand-Darrof  Ambil posisiduduk  Arahkan kepala ke kiri, kemudian balik posisi duduk  Arahkan kepala kekanan, kemudian balik keposisi duduk  Latihan ini dilakukan 3 kali perhari  Manuver dilakukan sebanyak 5 kali setiap set  Pada umumnya perbaikan diperoleh setelah 30 set atau sekitar 10hari.
  • 38.
    Daftar Pustaka  Sura,DJ, Newell, S. 2010. Vertigo- Diagnosis and management in primary care, BJMP 2010;3(4):a351.  Lempert, T, Neuhauser, H. 2009. Epidemiology of vertigo, migraine and vestibular migraine in Journal Nerology 2009:25:333-338.  Labuguen, RH. 2006. Initial Evaluation of Vertigo ini Journal American Family Physician January 15, 2006;Volume 73, Number 2.  Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat; 2008.  Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat; 2008.  Marril KA. Central Vertigo [Internet]. WebMD LLC. 21 Januari 2011. Diunduh tanggal 30 Januari 2017. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/794789-clinical#a0217.  Turner, B, Lewis, NE. 2010. Symposium Neurology :Systematic Approach that Needed for establish of Vetigo. The Practitioner September 2010 - 254 (1732): 19-23.
  • 39.
     Mark, A.2008. Symposium on Clinical Emergencies: Vertigo Clinical Assesment and Diagnosis. British Journal of Hospital Medicine, June 2008, Vol 69, No 6  Kovar, M, Jepson, T, Jones, S. 2006. Diagnosing and Treating: Benign Paroxysmal Positional Vertigo in Journal Gerontological of Nursing. December:2006  Swartz, R, Longwell, P. 2005. Treatment of Vertigo in Journal of American Family Physician March 15,2005:71:6.  Chain, TC.2009. Practical Neurology 3rd edition: Approach to the Patient with Dizziness and Vertigo. Illnois:wolter kluwerlippincot William and wilkins)  Antunes MB. CNS Causes of Vertigo [Internet]. WebMD LLC. 10 September 2009. Diunduh tanggal 30 Januari 2017. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/884048-overview# a0104
  • 40.