COLUMNS
YUSRINA LUTHFIANA (5415153477)
IQBAL ANUGRAH P (5415154092)
ACHMAD RIZCO (5415154805)
MUHAMMAD RYANZA MUBA
OBJECTIVE
 Karakteristik struktur tekan
dalam menerima gaya aksial
dan momen (diagram blok
tegangan dan diagram interaksi
kolom)
 Kontribusi tulangan longitudinal
dalam menerima gaya aksial
dan momen
 Kontribusi tulangan geser dalam
menerima gaya aksial dan
momen
 Klasifikasi kolom
 Model struktur
 Kemampuan kolom dalam
menahan beban bila ada beban
eksentris 30mm
 Analisa kolom alih bangunan
dari gudang tekstil menjadi
daycare
 Perencanaan ulang kolom bulat
(dimensi, tulangan longitudinal,
tulangan geser spiral)
KLASIFIKASI KOLOM: TULANGAN PENGIKAT
 Kolom yang memiliki serangkaian
tulangan pengikat di sekitar
tulangan longitudinal
 Peran:
 Efektif dalam menambah kekuatan
beton
 Mencegah perpindahan tulangan
longitudinal
 Menahan tulangan longitudinal
buckling ke luar
 Kegagalan:
Kegagalan pada beton terjadi secara
tiba-tiba, maka dari itu tulangan
pengikat dipasang dengan jarak
berdekatan.
 Kolom yang memiliki jeruji besi atau
kawat besar yang dililit di sekitar
tulangan longitudinal
 Peran:
 Lebih efektif dalam meningkatan
kekuatan beton
 Lebih tahan dalam mencegah
perpindahan tulangan longitudinal
 Mampu menahan beton inti
 Dapat meningkatkan ketahanan
terhadap gaya aksial
 Kegagalan:
Kegagalan pada beton tidak terjadi secara
tiba tiba, karena pada saat penutup beton
pecah spiral dapat menahan beton inti
dalam menerima beban aksial.
KOLOM DENGAN TULANGAN
PENGIKAT (TIED COLUMNS)
KOLOM DENGAN TULANGAN PENGIKAT
SPIRAL (SPIRAL COLUMNS)
KLASIFIKASI KOLOM:
 Kolom RC gagal karena kegagalan
awal dari materialnya. Beban yang
ditopang dikontrol oleh dimensi (b x h)
dan kekuatan dari materialnya. Kolom
pendek terlihat stocky (kekar, padat
dan pendek) dengan fleksibitas yang
kecil.
 Kolom pendek akan menerima
momen apabila beban eksentrisnya
melebihi batas toleransi. Maka pada
analisis perlu dilakukan pengecekan
terhadap momen akibat beton.
 Ketika kolom menjadi lebih langsing,
deformasi karena bending (tekuk) akan
bertambah, dan akan mengakibatkan
momen sekunder. Ketika momen
sekunder memiliki nilai yang mengurangi
kekuatan axial dari kolom, maka kolom
disebut kolom langsing.
 Apabila kolom langsing menerima
momen, sumbu kolom akan berdefleksi
secara lateral, akibatnya akan ada
beban tambahan yaitu beban kolom
dikalikan defleksi lateral, hal ini disebut
momen sekunder, atau momen P∆.
KOLOM PENDEK (SHORT COLUMNS) KOLOM LANGSING (SLENDER
COLUMNS)
KLASIFIKASI KOLOM: GAMBAR
BEBAN EKSENTRIS
 Kolom akan mengalami pembengkokan akibat momen dan momen
tersebut cenderung akan menghasilkan tekanan pada satu sisi kolom
dan tarik pada sisi lainnya. Tergantung pada besaran momen dan gaya
aksial yang dihasilkan.
 Pada kasus kolom portal, beban eksentris dapat diartikan sebagai
defleksi dari kolom akibat momen dan gaya aksial.
 Apabila beban eksentris ≤ 0.10ℎ (untuk tied columns) dan ≤
0.50ℎ (untuk spiral columns), maka beban eksentris dapat diabaikan.
Beban eksentris pada satu kolom Beban eksentris (defleksi) pada portal
BEBAN EKSENTRIS
a) Beban aksial besar dan momen diabaikan.
b) Beban aksial besar dan momen kecil
sehingga seluruh penampang tertekan. Jika
suatu kolom menerima momen lentur kecil
(yaitu jika eksentrisitas kecil).
c) Eksentrisitas lebih besar daripada kasus b
sehingga tarik mulai terjadi pada salah satu
sisi kolom.
d) Kondisi beban seimbang.
e) Momen besar, beban aksial relatif kecil.
f) Momen lentur besar.
DIAGRAM BLOK
TEGANGAN
ststscsccn yFyF
ah
bafM ..
22
....85,0 '










Gsc : titik berat gaya tekan pada tulangan tekan
Gst : titik berat gaya tarik pada tulangan tarik
Fsc : resultan gaya tekan pada tulangan = S As’.fsc
Fst : resultan gaya tarik pada tulangan = S As.fst
DIAGRAM INTERAKSI KOLOM
 Kapasitas penampang beton bertulang untuk menahan kombinasi
gaya aksial dan momen lentur dapat digambarkan dalam suatu
bentuk kurva interaksi antara kedua gaya tersebut, disebut diagram
interaksi P – M kolom.
 Setiap titik dalam kurva tersebut menunjukkan kombinasi kekuatan
gaya nominal Pn (atau f Pn) dan momen nominal Mn (atau f Mn) yang
sesuai dengan lokasi sumbu netralnya.
 Diagram interaksi ini dapat dibagi menjadi dua daerah, yaitu daerah
yang ditentukan oleh keruntuhan tarik dan daerah yang ditentukan
oleh keruntuhan tekan, dengan pembatasnya adalah titik seimbang
(balanced).
DIAGRAM INTERAKSI KOLOM
DIAGRAM INTERAKSI KOLOM
Contoh:
𝑓𝑐′
= 4 𝑘𝑠𝑖
𝑓𝑦 = 60 𝑘𝑠𝑖
𝛾 = 0.7
𝐾𝑛 = 1.0
𝑅𝑛 = 0.05
Maka dari diagram tersebut dapat
diketahui 𝜌 𝑧 = 0.02
Dari hasil perhitungan dengan rumus
MODEL STRUKTUR DAN PEMBEBANAN
TINJAUAN
YANG KITA
LAKUKAN
ANALISA KOLOM LANTAI 3: GUDANG KE DAYCARE
 𝑓𝑐′ = 20 𝑀𝑃𝑎
 𝑓𝑦 = 220 𝑀𝑃𝑎
 Ag lantai 3 = 300x300= 90.000 𝑚𝑚2
 6D12= 678,6 𝑚𝑚2
 Pu lantai 3 (gudang) = 114,93 kN
 Pu lantai 3 (daycare) = 115,42 kN
 ∅𝑷𝒏 𝒎𝒂𝒙 = 𝟎, 𝟖𝟎∅ 𝟎, 𝟖𝟓𝒇𝒄′ 𝑨𝒈 − 𝑨𝒔𝒕 + 𝒇𝒚. 𝑨𝒔𝒕 → ∅ = 𝟎, 𝟔𝟓
 ∅𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑥 = 0,80 . 0,75 [0,85 . 20 90.000 − 678,6 + 220 . 678,6
=1000,65 kN > 114,93 kN …ok
 ∅𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑥 = 0,80.0,75 [0,85 . 20 90.000 − 678,6 + 220 . 678,6
=1000,65 kN > 115,42 kN …ok
 Kesimpulan: pengalihan fungsi bangunan tidak merugikan karena gaya aksial
dari beton mampu menahan gaya aksial dari luar, baik saat masih menjadi
gudang maupun daycare
DETAIL PENULANGAN
LANTAI 3
ANALISA KOLOM LANTAI 2: GUDANG KE DAYCARE
 𝑓𝑐′
= 20 𝑀𝑃𝑎
 𝑓𝑦 = 220 𝑀𝑃𝑎
 Ag lantai 2 : 350x350 = 122.500 𝑚𝑚2
 6D12= 678,6 𝑚𝑚2
 Pu lantai 2 (gudang) = 324,96 kN
 Pu lantai 2 (daycare) = 269,11 kN
 ∅𝑷𝒏 𝒎𝒂𝒙 = 𝟎, 𝟖𝟎∅ 𝟎, 𝟖𝟓𝒇𝒄′
𝑨𝒈 − 𝑨𝒔𝒕 + 𝒇𝒚. 𝑨𝒔𝒕 → ∅ = 0,65
 ∅𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑥 = 0,80.0,75 [0,85.20 122500 − 678,6 + 220 . 678,6
=1333,2153 kN > 324,96 kN … ok
 ∅𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑥 = 0,80.0,75 [0,85.20 122500 − 678,6 + 220 . 678,6
=1333,2153 kN > 269,11 kN … ok
 Kesimpulan: pengalihan fungsi bangunan tidak merugikan karena gaya aksial
dari beton mampu menahan gaya aksial dari luar, baik saat masih menjadi
gudang maupun daycare
DETAIL PENULANGAN
LANTAI 2
ANALISA KOLOM LANTAI 1: GUDANG DAN DAYCARE
 𝑓𝑐′ = 20 𝑀𝑃𝑎
 𝑓𝑦 = 220 𝑀𝑃𝑎
 Ag lantai 1 : 350x400 = 140.000 𝑚𝑚2
 6D12= 678,6 𝑚𝑚2
 Pu lantai 1 (gudang) = 548,77 kN
 Pu lantai 1 (daycare) = 437,03 kN
 ∅𝑷𝒏 𝒎𝒂𝒙 = 𝟎, 𝟖𝟎∅ 𝟎, 𝟖𝟓𝒇𝒄′
𝑨𝒈 − 𝑨𝒔𝒕 + 𝒇𝒚. 𝑨𝒔𝒕 → ∅ = 0,65
 ∅𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑥 = 0,80.0,75 [0,85 . 20 140000 − 678,6 + 220 . 678,6
=1510,653 kN > 548,77 kN … ok
 ∅𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑥 = 0,80.0,75 [0,85 . 20 140000 − 678,6 + 220 . 678,6
=1510,653 kN > 437,03 kN … ok
 Kesimpulan: pengalihan fungsi bangunan tidak merugikan karena gaya aksial
dari beton mampu menahan gaya aksial dari luar, baik saat masih menjadi
gudang maupun daycare
DETAIL PENULANGAN
LANTAI 1
PERENCANAAN ULANG KOLOM LANTAI 3
 𝑃𝑢 = 115,42 𝑘𝑁
 𝑓𝑐
′
= 20 𝑀𝑃𝑎
 𝑓𝑦 = 220 𝑀𝑃𝑎
 𝐴 𝑠𝑡 = 0,03𝐴 𝑔
𝑃𝑢 = 0,85∅ 0,85 𝑓𝑐
′
𝐴 𝑔 − 𝐴 𝑠𝑡 +𝑓𝑦 𝐴 𝑠𝑡 ; ∅ = 0,75
115,45 . 103
= 14,72 𝐴 𝑔
𝐴 𝑔 = 7841,03𝑚𝑚2
𝐷 =
4𝐴 𝑔
𝜋
= 99,9 𝑚𝑚; 𝑑𝑖𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 340 𝑚𝑚 (𝐴 𝑔 =
90792,03𝑚𝑚)
𝐴 𝑠𝑡 = 0,03𝐴 𝑔 = 2723,76 𝑚𝑚2
(9𝐷20; 𝐴𝑔 =
2827,4 𝑚𝑚2
)
Core diameter (Dc) = 342 - (2 . 40) =
260 mm
Area of the core = 53092,92 𝑚𝑚2
Spiral ratio = 𝜌𝑠 = 0,45
𝐴𝑔
𝐴𝑐
− 1
𝑓𝑐′
𝑓𝑦
=
0,03
Tulangan spiral D12
𝑠 =
4𝑎𝑠(𝐷𝑐−𝑑𝑏)
𝜌 𝑠 𝐷2 = 33 𝑚𝑚 > 25𝑚𝑚 (oke)
Main bars
spacing=
𝜋(340− 2 .40 − 2 .12 −20)
9
= 77 𝑚𝑚
Check:
𝐴𝑠𝑡
𝐴𝑔
= 0,03 … 𝑜𝑘
DETAIL PENULANGAN
LANTAI 3
PERENCANAAN ULANG KOLOM LANTAI 2
 𝑃𝑢 = 269,11 𝑘𝑁
 𝑓𝑐
′
= 20 𝑀𝑃𝑎
 𝑓𝑦 = 220 𝑀𝑃𝑎
 𝐴 𝑠𝑡 = 0,03𝐴 𝑔
𝑃𝑢 = 0,85∅ 0,85 𝑓𝑐
′
𝐴 𝑔 − 𝐴 𝑠𝑡 +𝑓𝑦 𝐴 𝑠𝑡 ; ∅ = 0,75
269,11 . 103
= 14,72 𝐴 𝑔
𝐴 𝑔 = 18281,93𝑚𝑚2
𝐷 =
4𝐴 𝑔
𝜋
= 152,57 𝑚𝑚; 𝑑𝑖𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 340 𝑚𝑚 (𝐴 𝑔 =
90792,03𝑚𝑚)
𝐴 𝑠𝑡 = 0,03𝐴 𝑔 = 548,45 𝑚𝑚2
(6𝐷12; 𝐴𝑔 = 678,6 𝑚𝑚2
)
Core diameter (Dc) = 342 - (2 . 40) = 260
mm
Area of the core = 53092,92 𝑚𝑚2
Spiral ratio = 𝜌𝑠 = 0,45
𝐴𝑔
𝐴𝑐
− 1
𝑓𝑐′
𝑓𝑦
= 0,03
Tulangan spiral D12
𝑠 =
4𝑎𝑠(𝐷𝑐 − 𝑑𝑏)
𝜌𝑠 𝐷2
= 33 𝑚𝑚 > 25𝑚𝑚 (oke)
Main bars spacing=
𝜋(340− 2 .40 − 2 .12 −12)
6
=
119 𝑚𝑚
Check:
𝐴𝑠𝑡
𝐴𝑔
= 0,03 … 𝑜𝑘
DETAIL PENULANGAN
LANTAI 2
PERENCANAAN ULANG KOLOM LANTAI 1
 𝑃𝑢 = 437,03 𝑘𝑁
 𝑓𝑐
′
= 20 𝑀𝑃𝑎
 𝑓𝑦 = 220 𝑀𝑃𝑎
 𝐴 𝑠𝑡 = 0,03𝐴 𝑔
𝑃𝑢 = 0,85∅ 0,85 𝑓𝑐
′
𝐴 𝑔 − 𝐴 𝑠𝑡 +𝑓𝑦 𝐴 𝑠𝑡 ; ∅ = 0,75
437,03 . 103
= 14,72 𝐴 𝑔
𝐴 𝑔 = 29689,54𝑚𝑚2
𝐷 =
4𝐴 𝑔
𝜋
= 194,42 𝑚𝑚; 𝑑𝑖𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 340 𝑚𝑚 (𝐴 𝑔 =
90792,03𝑚𝑚)
𝐴 𝑠𝑡 = 0,03𝐴 𝑔 = 890,69 𝑚𝑚2
(6𝐷14; 𝐴𝑔 = 924,0 𝑚𝑚2
)
Core diameter (Dc) = 342 - (2 . 40) = 260
mm
Area of the core = 53092,92 𝑚𝑚2
Spiral ratio = 𝜌𝑠 = 0,45
𝐴𝑔
𝐴𝑐
− 1
𝑓𝑐′
𝑓𝑦
= 0,03
Tulangan spiral D12
𝑠 =
4𝑎𝑠(𝐷𝑐 − 𝑑𝑏)
𝜌𝑠 𝐷2
= 33 𝑚𝑚 > 25𝑚𝑚 (oke)
Main bars spacing=
𝜋(340− 2 .40 − 2 .12 −14)
6
=
118 𝑚𝑚
Check:
𝐴𝑠𝑡
𝐴𝑔
= 0,03 … 𝑜𝑘
DETAIL PENULANGAN
LANTAI 1

Perencanaan Kolom

  • 1.
    COLUMNS YUSRINA LUTHFIANA (5415153477) IQBALANUGRAH P (5415154092) ACHMAD RIZCO (5415154805) MUHAMMAD RYANZA MUBA
  • 2.
    OBJECTIVE  Karakteristik strukturtekan dalam menerima gaya aksial dan momen (diagram blok tegangan dan diagram interaksi kolom)  Kontribusi tulangan longitudinal dalam menerima gaya aksial dan momen  Kontribusi tulangan geser dalam menerima gaya aksial dan momen  Klasifikasi kolom  Model struktur  Kemampuan kolom dalam menahan beban bila ada beban eksentris 30mm  Analisa kolom alih bangunan dari gudang tekstil menjadi daycare  Perencanaan ulang kolom bulat (dimensi, tulangan longitudinal, tulangan geser spiral)
  • 3.
    KLASIFIKASI KOLOM: TULANGANPENGIKAT  Kolom yang memiliki serangkaian tulangan pengikat di sekitar tulangan longitudinal  Peran:  Efektif dalam menambah kekuatan beton  Mencegah perpindahan tulangan longitudinal  Menahan tulangan longitudinal buckling ke luar  Kegagalan: Kegagalan pada beton terjadi secara tiba-tiba, maka dari itu tulangan pengikat dipasang dengan jarak berdekatan.  Kolom yang memiliki jeruji besi atau kawat besar yang dililit di sekitar tulangan longitudinal  Peran:  Lebih efektif dalam meningkatan kekuatan beton  Lebih tahan dalam mencegah perpindahan tulangan longitudinal  Mampu menahan beton inti  Dapat meningkatkan ketahanan terhadap gaya aksial  Kegagalan: Kegagalan pada beton tidak terjadi secara tiba tiba, karena pada saat penutup beton pecah spiral dapat menahan beton inti dalam menerima beban aksial. KOLOM DENGAN TULANGAN PENGIKAT (TIED COLUMNS) KOLOM DENGAN TULANGAN PENGIKAT SPIRAL (SPIRAL COLUMNS)
  • 4.
    KLASIFIKASI KOLOM:  KolomRC gagal karena kegagalan awal dari materialnya. Beban yang ditopang dikontrol oleh dimensi (b x h) dan kekuatan dari materialnya. Kolom pendek terlihat stocky (kekar, padat dan pendek) dengan fleksibitas yang kecil.  Kolom pendek akan menerima momen apabila beban eksentrisnya melebihi batas toleransi. Maka pada analisis perlu dilakukan pengecekan terhadap momen akibat beton.  Ketika kolom menjadi lebih langsing, deformasi karena bending (tekuk) akan bertambah, dan akan mengakibatkan momen sekunder. Ketika momen sekunder memiliki nilai yang mengurangi kekuatan axial dari kolom, maka kolom disebut kolom langsing.  Apabila kolom langsing menerima momen, sumbu kolom akan berdefleksi secara lateral, akibatnya akan ada beban tambahan yaitu beban kolom dikalikan defleksi lateral, hal ini disebut momen sekunder, atau momen P∆. KOLOM PENDEK (SHORT COLUMNS) KOLOM LANGSING (SLENDER COLUMNS)
  • 5.
  • 6.
    BEBAN EKSENTRIS  Kolomakan mengalami pembengkokan akibat momen dan momen tersebut cenderung akan menghasilkan tekanan pada satu sisi kolom dan tarik pada sisi lainnya. Tergantung pada besaran momen dan gaya aksial yang dihasilkan.  Pada kasus kolom portal, beban eksentris dapat diartikan sebagai defleksi dari kolom akibat momen dan gaya aksial.  Apabila beban eksentris ≤ 0.10ℎ (untuk tied columns) dan ≤ 0.50ℎ (untuk spiral columns), maka beban eksentris dapat diabaikan. Beban eksentris pada satu kolom Beban eksentris (defleksi) pada portal
  • 7.
    BEBAN EKSENTRIS a) Bebanaksial besar dan momen diabaikan. b) Beban aksial besar dan momen kecil sehingga seluruh penampang tertekan. Jika suatu kolom menerima momen lentur kecil (yaitu jika eksentrisitas kecil). c) Eksentrisitas lebih besar daripada kasus b sehingga tarik mulai terjadi pada salah satu sisi kolom. d) Kondisi beban seimbang. e) Momen besar, beban aksial relatif kecil. f) Momen lentur besar.
  • 8.
    DIAGRAM BLOK TEGANGAN ststscsccn yFyF ah bafM.. 22 ....85,0 '           Gsc : titik berat gaya tekan pada tulangan tekan Gst : titik berat gaya tarik pada tulangan tarik Fsc : resultan gaya tekan pada tulangan = S As’.fsc Fst : resultan gaya tarik pada tulangan = S As.fst
  • 9.
    DIAGRAM INTERAKSI KOLOM Kapasitas penampang beton bertulang untuk menahan kombinasi gaya aksial dan momen lentur dapat digambarkan dalam suatu bentuk kurva interaksi antara kedua gaya tersebut, disebut diagram interaksi P – M kolom.  Setiap titik dalam kurva tersebut menunjukkan kombinasi kekuatan gaya nominal Pn (atau f Pn) dan momen nominal Mn (atau f Mn) yang sesuai dengan lokasi sumbu netralnya.  Diagram interaksi ini dapat dibagi menjadi dua daerah, yaitu daerah yang ditentukan oleh keruntuhan tarik dan daerah yang ditentukan oleh keruntuhan tekan, dengan pembatasnya adalah titik seimbang (balanced).
  • 10.
  • 11.
    DIAGRAM INTERAKSI KOLOM Contoh: 𝑓𝑐′ =4 𝑘𝑠𝑖 𝑓𝑦 = 60 𝑘𝑠𝑖 𝛾 = 0.7 𝐾𝑛 = 1.0 𝑅𝑛 = 0.05 Maka dari diagram tersebut dapat diketahui 𝜌 𝑧 = 0.02 Dari hasil perhitungan dengan rumus
  • 12.
  • 13.
  • 14.
    ANALISA KOLOM LANTAI3: GUDANG KE DAYCARE  𝑓𝑐′ = 20 𝑀𝑃𝑎  𝑓𝑦 = 220 𝑀𝑃𝑎  Ag lantai 3 = 300x300= 90.000 𝑚𝑚2  6D12= 678,6 𝑚𝑚2  Pu lantai 3 (gudang) = 114,93 kN  Pu lantai 3 (daycare) = 115,42 kN  ∅𝑷𝒏 𝒎𝒂𝒙 = 𝟎, 𝟖𝟎∅ 𝟎, 𝟖𝟓𝒇𝒄′ 𝑨𝒈 − 𝑨𝒔𝒕 + 𝒇𝒚. 𝑨𝒔𝒕 → ∅ = 𝟎, 𝟔𝟓  ∅𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑥 = 0,80 . 0,75 [0,85 . 20 90.000 − 678,6 + 220 . 678,6 =1000,65 kN > 114,93 kN …ok  ∅𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑥 = 0,80.0,75 [0,85 . 20 90.000 − 678,6 + 220 . 678,6 =1000,65 kN > 115,42 kN …ok  Kesimpulan: pengalihan fungsi bangunan tidak merugikan karena gaya aksial dari beton mampu menahan gaya aksial dari luar, baik saat masih menjadi gudang maupun daycare
  • 15.
  • 16.
    ANALISA KOLOM LANTAI2: GUDANG KE DAYCARE  𝑓𝑐′ = 20 𝑀𝑃𝑎  𝑓𝑦 = 220 𝑀𝑃𝑎  Ag lantai 2 : 350x350 = 122.500 𝑚𝑚2  6D12= 678,6 𝑚𝑚2  Pu lantai 2 (gudang) = 324,96 kN  Pu lantai 2 (daycare) = 269,11 kN  ∅𝑷𝒏 𝒎𝒂𝒙 = 𝟎, 𝟖𝟎∅ 𝟎, 𝟖𝟓𝒇𝒄′ 𝑨𝒈 − 𝑨𝒔𝒕 + 𝒇𝒚. 𝑨𝒔𝒕 → ∅ = 0,65  ∅𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑥 = 0,80.0,75 [0,85.20 122500 − 678,6 + 220 . 678,6 =1333,2153 kN > 324,96 kN … ok  ∅𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑥 = 0,80.0,75 [0,85.20 122500 − 678,6 + 220 . 678,6 =1333,2153 kN > 269,11 kN … ok  Kesimpulan: pengalihan fungsi bangunan tidak merugikan karena gaya aksial dari beton mampu menahan gaya aksial dari luar, baik saat masih menjadi gudang maupun daycare
  • 17.
  • 18.
    ANALISA KOLOM LANTAI1: GUDANG DAN DAYCARE  𝑓𝑐′ = 20 𝑀𝑃𝑎  𝑓𝑦 = 220 𝑀𝑃𝑎  Ag lantai 1 : 350x400 = 140.000 𝑚𝑚2  6D12= 678,6 𝑚𝑚2  Pu lantai 1 (gudang) = 548,77 kN  Pu lantai 1 (daycare) = 437,03 kN  ∅𝑷𝒏 𝒎𝒂𝒙 = 𝟎, 𝟖𝟎∅ 𝟎, 𝟖𝟓𝒇𝒄′ 𝑨𝒈 − 𝑨𝒔𝒕 + 𝒇𝒚. 𝑨𝒔𝒕 → ∅ = 0,65  ∅𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑥 = 0,80.0,75 [0,85 . 20 140000 − 678,6 + 220 . 678,6 =1510,653 kN > 548,77 kN … ok  ∅𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑥 = 0,80.0,75 [0,85 . 20 140000 − 678,6 + 220 . 678,6 =1510,653 kN > 437,03 kN … ok  Kesimpulan: pengalihan fungsi bangunan tidak merugikan karena gaya aksial dari beton mampu menahan gaya aksial dari luar, baik saat masih menjadi gudang maupun daycare
  • 19.
  • 20.
    PERENCANAAN ULANG KOLOMLANTAI 3  𝑃𝑢 = 115,42 𝑘𝑁  𝑓𝑐 ′ = 20 𝑀𝑃𝑎  𝑓𝑦 = 220 𝑀𝑃𝑎  𝐴 𝑠𝑡 = 0,03𝐴 𝑔 𝑃𝑢 = 0,85∅ 0,85 𝑓𝑐 ′ 𝐴 𝑔 − 𝐴 𝑠𝑡 +𝑓𝑦 𝐴 𝑠𝑡 ; ∅ = 0,75 115,45 . 103 = 14,72 𝐴 𝑔 𝐴 𝑔 = 7841,03𝑚𝑚2 𝐷 = 4𝐴 𝑔 𝜋 = 99,9 𝑚𝑚; 𝑑𝑖𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 340 𝑚𝑚 (𝐴 𝑔 = 90792,03𝑚𝑚) 𝐴 𝑠𝑡 = 0,03𝐴 𝑔 = 2723,76 𝑚𝑚2 (9𝐷20; 𝐴𝑔 = 2827,4 𝑚𝑚2 ) Core diameter (Dc) = 342 - (2 . 40) = 260 mm Area of the core = 53092,92 𝑚𝑚2 Spiral ratio = 𝜌𝑠 = 0,45 𝐴𝑔 𝐴𝑐 − 1 𝑓𝑐′ 𝑓𝑦 = 0,03 Tulangan spiral D12 𝑠 = 4𝑎𝑠(𝐷𝑐−𝑑𝑏) 𝜌 𝑠 𝐷2 = 33 𝑚𝑚 > 25𝑚𝑚 (oke) Main bars spacing= 𝜋(340− 2 .40 − 2 .12 −20) 9 = 77 𝑚𝑚 Check: 𝐴𝑠𝑡 𝐴𝑔 = 0,03 … 𝑜𝑘
  • 21.
  • 22.
    PERENCANAAN ULANG KOLOMLANTAI 2  𝑃𝑢 = 269,11 𝑘𝑁  𝑓𝑐 ′ = 20 𝑀𝑃𝑎  𝑓𝑦 = 220 𝑀𝑃𝑎  𝐴 𝑠𝑡 = 0,03𝐴 𝑔 𝑃𝑢 = 0,85∅ 0,85 𝑓𝑐 ′ 𝐴 𝑔 − 𝐴 𝑠𝑡 +𝑓𝑦 𝐴 𝑠𝑡 ; ∅ = 0,75 269,11 . 103 = 14,72 𝐴 𝑔 𝐴 𝑔 = 18281,93𝑚𝑚2 𝐷 = 4𝐴 𝑔 𝜋 = 152,57 𝑚𝑚; 𝑑𝑖𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 340 𝑚𝑚 (𝐴 𝑔 = 90792,03𝑚𝑚) 𝐴 𝑠𝑡 = 0,03𝐴 𝑔 = 548,45 𝑚𝑚2 (6𝐷12; 𝐴𝑔 = 678,6 𝑚𝑚2 ) Core diameter (Dc) = 342 - (2 . 40) = 260 mm Area of the core = 53092,92 𝑚𝑚2 Spiral ratio = 𝜌𝑠 = 0,45 𝐴𝑔 𝐴𝑐 − 1 𝑓𝑐′ 𝑓𝑦 = 0,03 Tulangan spiral D12 𝑠 = 4𝑎𝑠(𝐷𝑐 − 𝑑𝑏) 𝜌𝑠 𝐷2 = 33 𝑚𝑚 > 25𝑚𝑚 (oke) Main bars spacing= 𝜋(340− 2 .40 − 2 .12 −12) 6 = 119 𝑚𝑚 Check: 𝐴𝑠𝑡 𝐴𝑔 = 0,03 … 𝑜𝑘
  • 23.
  • 24.
    PERENCANAAN ULANG KOLOMLANTAI 1  𝑃𝑢 = 437,03 𝑘𝑁  𝑓𝑐 ′ = 20 𝑀𝑃𝑎  𝑓𝑦 = 220 𝑀𝑃𝑎  𝐴 𝑠𝑡 = 0,03𝐴 𝑔 𝑃𝑢 = 0,85∅ 0,85 𝑓𝑐 ′ 𝐴 𝑔 − 𝐴 𝑠𝑡 +𝑓𝑦 𝐴 𝑠𝑡 ; ∅ = 0,75 437,03 . 103 = 14,72 𝐴 𝑔 𝐴 𝑔 = 29689,54𝑚𝑚2 𝐷 = 4𝐴 𝑔 𝜋 = 194,42 𝑚𝑚; 𝑑𝑖𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 340 𝑚𝑚 (𝐴 𝑔 = 90792,03𝑚𝑚) 𝐴 𝑠𝑡 = 0,03𝐴 𝑔 = 890,69 𝑚𝑚2 (6𝐷14; 𝐴𝑔 = 924,0 𝑚𝑚2 ) Core diameter (Dc) = 342 - (2 . 40) = 260 mm Area of the core = 53092,92 𝑚𝑚2 Spiral ratio = 𝜌𝑠 = 0,45 𝐴𝑔 𝐴𝑐 − 1 𝑓𝑐′ 𝑓𝑦 = 0,03 Tulangan spiral D12 𝑠 = 4𝑎𝑠(𝐷𝑐 − 𝑑𝑏) 𝜌𝑠 𝐷2 = 33 𝑚𝑚 > 25𝑚𝑚 (oke) Main bars spacing= 𝜋(340− 2 .40 − 2 .12 −14) 6 = 118 𝑚𝑚 Check: 𝐴𝑠𝑡 𝐴𝑔 = 0,03 … 𝑜𝑘
  • 25.