Anggota Kelompok :
Ardella Aswieri
Gabrielle Jesischa
Donal Andartama
 Perang Padri -> Sumatera Barat -> Abad 19
Perang antara Kaum
Padri melawan Kaum adat
(1803-1821)
Perang antara kaum
padri melawan
Belanda ( 1821-1837)
(Minangkabau)
Perang saudara, yaitu perang antara sesama
rakyat minangkabau
Karena adanya perbedaan pendapat mengenai
ajaran agama islam
Abad ke – 19, Minangkabau kedatangan penyebar
aliran wahabi , yaitu:
- Haji Miskin
- Haji Sumanik
- Haji Piabang
Menamakan dirinya Golongan Paderi
KAUM ADAT
Ternyata aliran
wahabi ini ditentang
oleh Kaum Adat
Awalnya pertentangan
akan diselesaikan secara
damai
Namun tidak bisa dan akhirnya
Tuanku Nan Renceh
menyelesaikan dengan kekerasan
Sehingga terjadilah perang
saudara dengan nama perang
Padri ( 1803-1821)
Perang antara kaum Padri Melawan
Belanda
TAHUN 1821
PERIODE I
( TAHUN 1821 – 1825)
PERIODE II
( TAHUN 1830-1837)
Belanda Mendirikan dua
benteng
Fort Van den Capellen
Fort de Kock
Daerah luar benteng
masih tetap dikuasai oleh
kaum Pidari. Sehingga
Belanda mengalami
kekalahaan di mana- mana
Karena mengalami
berbagai kekalahan
Belanda mengadakan
perdamaian dengan
kaum Pidari di Masang
Belanda tidak mau
menaati perjanjian maka
terjadi pertempuran
Sementara di
Sumatera Barat
berkobar perang
Padri,
Di Jawa Tengah
meletus perang
Diponegoro
Belanda terpaksa mengirimkan pasukan ke Jawa
untuk menghadapi Perang Diponegoro.
Belanda mencari akal agar dapat berdamai dengan
kaum Padri. Tanggal 15 November 1825 Belanda
berhasil mengadakan perdamaian dengan kaum
padri di Padang.
Perang Diponegoro di Jawa tengah telah
dapat diselesaikan Belanda dengan tipu
muslihatnya.
Perhatiannya lalu dipusatkan ke
Minangkabau, Maka berkobarlah perang
Padri periode kedua karena Belanda
memungkiri perjanjian di Padang
Pertempuran mulai berkobar di Naras
daerah Pariaman. Naras yang
dipertahankan oleh Tuanku Nan
Cerdik di serang oleh Belanda sampai
2x tetapi tidak berhasil
Setelah Belanda menggunakan
senjata yang lebih di bawah
pimpinan Letnan Kolonel Elout
yang dibantu Mayor Michiels ,
Naras dapat di rebut oleh
Belanda
Tuanku Nan Cerdik menyingkir
ke Bonjol , daerah-daerah kaum
pidari dapat direbut oleh
Belanda Pada tahun 1832, Tuanku
Imam Bonjol berdamai dengan
Belanda.
Akan tetapi ketentraman itu tidak lama , karena rakyat diharuskan :
- Membayar cukai pasar dan cukai mengadu ayam
- Kerja Rodi untuk kepentingan Belanda
Dengan hal tersebut sadarlah kaum
adat dan kaum pidari bahwa
sebenarnya mereka itu hanya diperalat
oleh Belanda.
Perasaan Nasionalisme mulai timbul dan
menjiwai mereka , selanjutnya terjadilah
perang nasional melawan Belanda. Pada
tahun 1833 seluruh rakyat Sumatera Barat
serentak menghalau Belanda
Bonjol dapat direbut kembali dan
semua pasukan Belanda di dalamnya
di binasakan.
Karena itu Belanda mulai mempergunakan siasat adu
domba.
Dikirmkan lah Sentot beserta pasukannya yang menyerah
kepada Belanda waktu perang Diponegoro Sumatera
barat untuk berperang melawan orang-orang sebangsanya
sendiri.
Untuk mengakhiri perang Padri itu , Belanda berusaha
menarik hati para Raja Minangkabau dengan cara
mengeluarkan Plakat Panjang (1833)yang isinya :
-Penduduk dibebaskan dari pembayaran pajak berat dan
kerja rodi
- Perdagangan hanya dilakukan dengan Belanda saja
Belanda tetap berusaha untuk memperluas daerahnya ,
Belanda dapat menundukkan pertahanan kaum pidari
termasuk pertahanan pidari di Bonjol (1837) , tetapi
Tuanku ImamBonjol beserta pengikutnya dapat meloloskan
diri dan meneruskan perjuangannya
Daerah Belanda makin meluas , dan daerah Kaum
Pidari makin menyempit
Akhirnya Belanda mengirimkan
utusan untuk menyampaikan janji
janji kepada Tuanku Imam Bonjol
Tuanku Imam Bonjol ketika menjumpai panglima pasukan
Belanda ditangkap dan dipenjarakan di Cianjur , lalu dibuang
ke Ambon , akhirnya dipindahkan ke Menadodan wafat pada
tanggal 6 November 1864. Dengan tipu muslihatnya , Belanda
akhirnya dapat menghentikan Perang Padri dan menguasai
Sumatera Barat
Perang padri

Perang padri

  • 1.
    Anggota Kelompok : ArdellaAswieri Gabrielle Jesischa Donal Andartama
  • 2.
     Perang Padri-> Sumatera Barat -> Abad 19 Perang antara Kaum Padri melawan Kaum adat (1803-1821) Perang antara kaum padri melawan Belanda ( 1821-1837) (Minangkabau)
  • 4.
    Perang saudara, yaituperang antara sesama rakyat minangkabau Karena adanya perbedaan pendapat mengenai ajaran agama islam
  • 5.
    Abad ke –19, Minangkabau kedatangan penyebar aliran wahabi , yaitu: - Haji Miskin - Haji Sumanik - Haji Piabang Menamakan dirinya Golongan Paderi KAUM ADAT
  • 6.
    Ternyata aliran wahabi iniditentang oleh Kaum Adat Awalnya pertentangan akan diselesaikan secara damai Namun tidak bisa dan akhirnya Tuanku Nan Renceh menyelesaikan dengan kekerasan Sehingga terjadilah perang saudara dengan nama perang Padri ( 1803-1821)
  • 7.
    Perang antara kaumPadri Melawan Belanda TAHUN 1821 PERIODE I ( TAHUN 1821 – 1825) PERIODE II ( TAHUN 1830-1837)
  • 8.
    Belanda Mendirikan dua benteng FortVan den Capellen Fort de Kock Daerah luar benteng masih tetap dikuasai oleh kaum Pidari. Sehingga Belanda mengalami kekalahaan di mana- mana Karena mengalami berbagai kekalahan Belanda mengadakan perdamaian dengan kaum Pidari di Masang
  • 9.
    Belanda tidak mau menaatiperjanjian maka terjadi pertempuran Sementara di Sumatera Barat berkobar perang Padri, Di Jawa Tengah meletus perang Diponegoro Belanda terpaksa mengirimkan pasukan ke Jawa untuk menghadapi Perang Diponegoro. Belanda mencari akal agar dapat berdamai dengan kaum Padri. Tanggal 15 November 1825 Belanda berhasil mengadakan perdamaian dengan kaum padri di Padang.
  • 10.
    Perang Diponegoro diJawa tengah telah dapat diselesaikan Belanda dengan tipu muslihatnya. Perhatiannya lalu dipusatkan ke Minangkabau, Maka berkobarlah perang Padri periode kedua karena Belanda memungkiri perjanjian di Padang Pertempuran mulai berkobar di Naras daerah Pariaman. Naras yang dipertahankan oleh Tuanku Nan Cerdik di serang oleh Belanda sampai 2x tetapi tidak berhasil Setelah Belanda menggunakan senjata yang lebih di bawah pimpinan Letnan Kolonel Elout yang dibantu Mayor Michiels , Naras dapat di rebut oleh Belanda
  • 11.
    Tuanku Nan Cerdikmenyingkir ke Bonjol , daerah-daerah kaum pidari dapat direbut oleh Belanda Pada tahun 1832, Tuanku Imam Bonjol berdamai dengan Belanda. Akan tetapi ketentraman itu tidak lama , karena rakyat diharuskan : - Membayar cukai pasar dan cukai mengadu ayam - Kerja Rodi untuk kepentingan Belanda Dengan hal tersebut sadarlah kaum adat dan kaum pidari bahwa sebenarnya mereka itu hanya diperalat oleh Belanda. Perasaan Nasionalisme mulai timbul dan menjiwai mereka , selanjutnya terjadilah perang nasional melawan Belanda. Pada tahun 1833 seluruh rakyat Sumatera Barat serentak menghalau Belanda
  • 12.
    Bonjol dapat direbutkembali dan semua pasukan Belanda di dalamnya di binasakan. Karena itu Belanda mulai mempergunakan siasat adu domba. Dikirmkan lah Sentot beserta pasukannya yang menyerah kepada Belanda waktu perang Diponegoro Sumatera barat untuk berperang melawan orang-orang sebangsanya sendiri. Untuk mengakhiri perang Padri itu , Belanda berusaha menarik hati para Raja Minangkabau dengan cara mengeluarkan Plakat Panjang (1833)yang isinya : -Penduduk dibebaskan dari pembayaran pajak berat dan kerja rodi - Perdagangan hanya dilakukan dengan Belanda saja
  • 13.
    Belanda tetap berusahauntuk memperluas daerahnya , Belanda dapat menundukkan pertahanan kaum pidari termasuk pertahanan pidari di Bonjol (1837) , tetapi Tuanku ImamBonjol beserta pengikutnya dapat meloloskan diri dan meneruskan perjuangannya Daerah Belanda makin meluas , dan daerah Kaum Pidari makin menyempit Akhirnya Belanda mengirimkan utusan untuk menyampaikan janji janji kepada Tuanku Imam Bonjol Tuanku Imam Bonjol ketika menjumpai panglima pasukan Belanda ditangkap dan dipenjarakan di Cianjur , lalu dibuang ke Ambon , akhirnya dipindahkan ke Menadodan wafat pada tanggal 6 November 1864. Dengan tipu muslihatnya , Belanda akhirnya dapat menghentikan Perang Padri dan menguasai Sumatera Barat

Editor's Notes

  • #5 tokoh tokoh agama/ ulama). Tujuan gerakan ini adalah memperbaiki masyarakat Minangkabau dan mengembalikan mereka pada jalan yang sesuai dengan ajaran ajaran islam yang benar.
  • #7 Wahabi (gerakan yang menghendaki agama islam dilaksanakan secara murni sesuai dengan Al Quran dan alhadist)