Amelia Refiani 
Aniah Wulandari 
Noviani Wiandari 
Tri Suci Ambarwati 
Kelompok 5
Pangeran Dipanegara atau juga sering dieja dengan 
Diponegoro, adalah putra sulung Hamengkubuwono III, 
seorang raja Mataram di Yogyakarta dengan seorang selir 
bernama R.A. Mangkarawati. Pangeran Diponegoro 
bernama kecil Raden Mas Antawirya. Pangeran Diponegoro 
terkenal karena memimpin Perang Diponegoro/Perang 
Jawa/Perang Sabil (1825-1830). Perang tersebut tercatat 
sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah 
Indonesia yang pernah ada.
sebab-sebab 
1. Kaum ulama merasa resah karena 
berkembangnya kebudayaan barat 
yang sangat mengganggu dan 
bertentangan dengan agama Islam. 
2. Belanda merencanakan pembangunan 
jalan yang menerobos tanah Pangeran 
Diponegoro dan makam leluhurnya. 
Pangeran Diponegoro dengan tegas 
menentang rencana itu. Sebagai unjuk 
protes patok-patok untuk pembuatan 
jalan dicabut dan diganti dengan
4. Menegakan negara yang berkeadilan 
berdasarkan syari’at islam. 
5. Kekuasaan raja-raja di Yogyakarta 
semakin sempit karena daerah pantai 
utara Jawa Tengah dikuasai Belanda 
6. Kehidupan rakyat semakin menderita 
karena Belanda melakukan tindakan 
pemerasan
Kemudian Belanda mengutus Pangeran 
Mangkubumi memanggil Pangeran Diponegoro 
untuk datang ke kraton. Akan tetapi Pangeran 
Mangkubumi sendiri tidak mau kembali ke kraton. 
Belanda mengutus lagi pangeran yang lain untuk 
memanggil Pangeran Diponegoro dan Pangeran 
Mangkubumi untuk datang ke kraton. Akan tetapi sebelum 
utusan tersebut kembali, Belanda telah datang ke Tegalrejo 
membakar dan menembaki rumah Pangeran Diponegoro. 
Peristiwa ini terjadi pada tanggal 20 Juli 1825. Kemudian 
Pangeran Diponegoro serta Pangeran Mangkubumi dan 
keluarganya meloloskan diri naik kuda dengan merusak 
pagar tembok yang terletak disebelah barat pendopo 
Tegalrejo menuju Selarong. Dengan demikian mulailah 
perlawanan Pangeran Diponegoro pada tanggal 20 Juli 1825.
Pangeran Diponegoro menjadikan Selarong sebagai pusat 
perjuangan dan mengatur siasat perlawanan. Pengikutnya 
makin bertambah banyak. Para bangsawan, rakyat berduyun-duyun 
datang ke Selarong untuk menggabungkan diri.
Kyai Mojo seorang ulama terkenal dari Surakarta juga 
menggabungkan diri. Demikian juga Sentot Alibasah Prawirodirjo 
ikut membantu perlawanan Diponegoro terhadap Belanda.
Semboyan perang Sabil dikumandangkan ke segenap pengikutnya 
baik yang ada di Selarong maupun yang ada di daerah lain. Bahkan 
seorang Kyai bernama Hasan Basri diutus Pangeran Diponegoro 
untuk 
MENGABARKAN PERANG SABIL DI DAERAH KEDU. 
“Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi 
tekan pati“ 
Sejari kepala sejengkal tanah dibela 
sampai mati.
Mendengar kemenangan pasukan Pangeran 
Diponegoro di Logorok membuat rakyat 
makin bersemangat menentang Belanda. 
Keluarga Keraton Yogyakarta menjadi 
ketakutan lalu berlindung di dalam benteng 
B e l a n d a . B a n y a k u l ama k e r a t o n 
meninggalkan keraton dan ikut berjuang 
dengan pasukan Pangeran Diponegoro.
Selama Pangeran Diponegoro bermarkas di Selarong 
mendapat serangan dari pasukan Belanda sebanyak 3 
kali : 
Pertama 
Tanggal 25 Juli 1825 oleh pasukan yang 
dipimpin Kapten Bouwens. Serangan ini 
merupakan balasan terhadap penyergapan 
yang terjadi di desa Logorok dekat desa 
Pisangan. Serangan ini tidak membawa hasil 
karena Selarong di kosongkan.
Kedua : 
Pada akhir September, serangan besar-besaran dari 
pasukan Belanda ini yang dipimpin oleh Mayor 
Sellewijn dan Letnan Achanbach. Sampai di Selarong 
ternyata Selarong telah dikosongkan. Setelah tahu 
kosong, maka tempat tersebut ditinggalkan oleh 
Belanda. Pada hari berikutnya, tanggal 3 Oktober 
1825, Pangeran Diponegoro dan pasukannya muncul 
lagi di Selarong.
Ketiga : 
Serangan ketiga tanggal 4 Oktober setelah pimpinan 
pasukan Belanda diberitahu kalau Pangeran 
Diponegoro kembali ke Selarong. Akan tetapi, 
serangan Belanda ini juga tidak berhasil, gagal, 
karena ketika Belanda menyerang ke Selarong, 
ternyata telah dikosongkan oleh Pangeran 
Diponegoro dan pasukannya yang telah mundur 
kembali ke Yogyakarta.
Akhirnya ,pada bulan Maret1830 Diponegoro bersedia untuk berunding di Magelang. 
Namun setibanya disana dia di tangkap. Pihak Belanda mengasingkanya ke Manado 
dan kemudian ke Makasar, Dimana dia wafat pada tahun 1855. Pemberontakan 
akhirnya berakhir, di pihak Belanda perang ini telah menelan setidaknya 8000 
serdadu Belanda dan di pihak pribumi sekitar 2000.000 tewas sehingga penduduk 
Yogyakarta habis hampir separuhnya.
1. KEAGAMAAN 
2. KEBERANIAN 
Keberanian, itulah sifat seorang Pahlawan 
seperti Pangeran Diponegoro. Keberanian 
untuk mengatakan dan bertindak yang salah 
ada salah dan yang benar adalah benar. 
3. KESABARAN 
Tidak ada keberanian yang sempurna 
tanpa kesabaran. 
Kesabaran untuk berjuang bersama rakyat 
dan tidak tunduk kepada penjajah Belanda 
itulah yang mampu membuat kewalahan 
tentara-tentara Belanda saat itu selama 5 
tahun. Kesabarannya itulah yang tetap mampu 
dipertahankan meski di saat-saat banyak 
ancaman yang diberikan oleh pihak 
pemerintah Belanda pada saat itu.
4. PENGORBANAN 
Sebaik-baik manusia adalah yang 
bermanfaat bagi orang lain. Keinginan 
Pangeran Diponegoro untuk menjadi 
Amirulmukminin Panotogomo Kalifatullah, 
pemimpin yang berjuang untuk rakyat 
sekaligus agamanya mampu mengalahkan 
tawaran ayahnya Sultan Hamengku Buwono III 
untuk menjadi pejabat di Kraton Yogyakarta 
Hadiningrat.
“Jangan menjelekkan orang baik, jangan 
membaikan orang yang jahat, jangan berbuat 
aniaya terhadap rakyat banyak. “ 
~Diponegoro~ 
Pesan 
Pangeran 
Diponegoro
terima kasih

Perlawanan Diponegoro

  • 1.
    Amelia Refiani AniahWulandari Noviani Wiandari Tri Suci Ambarwati Kelompok 5
  • 2.
    Pangeran Dipanegara ataujuga sering dieja dengan Diponegoro, adalah putra sulung Hamengkubuwono III, seorang raja Mataram di Yogyakarta dengan seorang selir bernama R.A. Mangkarawati. Pangeran Diponegoro bernama kecil Raden Mas Antawirya. Pangeran Diponegoro terkenal karena memimpin Perang Diponegoro/Perang Jawa/Perang Sabil (1825-1830). Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia yang pernah ada.
  • 4.
    sebab-sebab 1. Kaumulama merasa resah karena berkembangnya kebudayaan barat yang sangat mengganggu dan bertentangan dengan agama Islam. 2. Belanda merencanakan pembangunan jalan yang menerobos tanah Pangeran Diponegoro dan makam leluhurnya. Pangeran Diponegoro dengan tegas menentang rencana itu. Sebagai unjuk protes patok-patok untuk pembuatan jalan dicabut dan diganti dengan
  • 5.
    4. Menegakan negarayang berkeadilan berdasarkan syari’at islam. 5. Kekuasaan raja-raja di Yogyakarta semakin sempit karena daerah pantai utara Jawa Tengah dikuasai Belanda 6. Kehidupan rakyat semakin menderita karena Belanda melakukan tindakan pemerasan
  • 9.
    Kemudian Belanda mengutusPangeran Mangkubumi memanggil Pangeran Diponegoro untuk datang ke kraton. Akan tetapi Pangeran Mangkubumi sendiri tidak mau kembali ke kraton. Belanda mengutus lagi pangeran yang lain untuk memanggil Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi untuk datang ke kraton. Akan tetapi sebelum utusan tersebut kembali, Belanda telah datang ke Tegalrejo membakar dan menembaki rumah Pangeran Diponegoro. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 20 Juli 1825. Kemudian Pangeran Diponegoro serta Pangeran Mangkubumi dan keluarganya meloloskan diri naik kuda dengan merusak pagar tembok yang terletak disebelah barat pendopo Tegalrejo menuju Selarong. Dengan demikian mulailah perlawanan Pangeran Diponegoro pada tanggal 20 Juli 1825.
  • 10.
    Pangeran Diponegoro menjadikanSelarong sebagai pusat perjuangan dan mengatur siasat perlawanan. Pengikutnya makin bertambah banyak. Para bangsawan, rakyat berduyun-duyun datang ke Selarong untuk menggabungkan diri.
  • 11.
    Kyai Mojo seorangulama terkenal dari Surakarta juga menggabungkan diri. Demikian juga Sentot Alibasah Prawirodirjo ikut membantu perlawanan Diponegoro terhadap Belanda.
  • 12.
    Semboyan perang Sabildikumandangkan ke segenap pengikutnya baik yang ada di Selarong maupun yang ada di daerah lain. Bahkan seorang Kyai bernama Hasan Basri diutus Pangeran Diponegoro untuk MENGABARKAN PERANG SABIL DI DAERAH KEDU. “Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati“ Sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati.
  • 15.
    Mendengar kemenangan pasukanPangeran Diponegoro di Logorok membuat rakyat makin bersemangat menentang Belanda. Keluarga Keraton Yogyakarta menjadi ketakutan lalu berlindung di dalam benteng B e l a n d a . B a n y a k u l ama k e r a t o n meninggalkan keraton dan ikut berjuang dengan pasukan Pangeran Diponegoro.
  • 16.
    Selama Pangeran Diponegorobermarkas di Selarong mendapat serangan dari pasukan Belanda sebanyak 3 kali : Pertama Tanggal 25 Juli 1825 oleh pasukan yang dipimpin Kapten Bouwens. Serangan ini merupakan balasan terhadap penyergapan yang terjadi di desa Logorok dekat desa Pisangan. Serangan ini tidak membawa hasil karena Selarong di kosongkan.
  • 17.
    Kedua : Padaakhir September, serangan besar-besaran dari pasukan Belanda ini yang dipimpin oleh Mayor Sellewijn dan Letnan Achanbach. Sampai di Selarong ternyata Selarong telah dikosongkan. Setelah tahu kosong, maka tempat tersebut ditinggalkan oleh Belanda. Pada hari berikutnya, tanggal 3 Oktober 1825, Pangeran Diponegoro dan pasukannya muncul lagi di Selarong.
  • 18.
    Ketiga : Seranganketiga tanggal 4 Oktober setelah pimpinan pasukan Belanda diberitahu kalau Pangeran Diponegoro kembali ke Selarong. Akan tetapi, serangan Belanda ini juga tidak berhasil, gagal, karena ketika Belanda menyerang ke Selarong, ternyata telah dikosongkan oleh Pangeran Diponegoro dan pasukannya yang telah mundur kembali ke Yogyakarta.
  • 22.
    Akhirnya ,pada bulanMaret1830 Diponegoro bersedia untuk berunding di Magelang. Namun setibanya disana dia di tangkap. Pihak Belanda mengasingkanya ke Manado dan kemudian ke Makasar, Dimana dia wafat pada tahun 1855. Pemberontakan akhirnya berakhir, di pihak Belanda perang ini telah menelan setidaknya 8000 serdadu Belanda dan di pihak pribumi sekitar 2000.000 tewas sehingga penduduk Yogyakarta habis hampir separuhnya.
  • 23.
    1. KEAGAMAAN 2.KEBERANIAN Keberanian, itulah sifat seorang Pahlawan seperti Pangeran Diponegoro. Keberanian untuk mengatakan dan bertindak yang salah ada salah dan yang benar adalah benar. 3. KESABARAN Tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Kesabaran untuk berjuang bersama rakyat dan tidak tunduk kepada penjajah Belanda itulah yang mampu membuat kewalahan tentara-tentara Belanda saat itu selama 5 tahun. Kesabarannya itulah yang tetap mampu dipertahankan meski di saat-saat banyak ancaman yang diberikan oleh pihak pemerintah Belanda pada saat itu.
  • 24.
    4. PENGORBANAN Sebaik-baikmanusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Keinginan Pangeran Diponegoro untuk menjadi Amirulmukminin Panotogomo Kalifatullah, pemimpin yang berjuang untuk rakyat sekaligus agamanya mampu mengalahkan tawaran ayahnya Sultan Hamengku Buwono III untuk menjadi pejabat di Kraton Yogyakarta Hadiningrat.
  • 25.
    “Jangan menjelekkan orangbaik, jangan membaikan orang yang jahat, jangan berbuat aniaya terhadap rakyat banyak. “ ~Diponegoro~ Pesan Pangeran Diponegoro
  • 26.